Pendidikan Gaya Bank dan Hapalan Titik Koma 0 350

Oleh: Angeline Anggalimea*

Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata yang dialami adik perempuan saya. Saya memiliki adik berusia 17 tahun yang saat ini sedang menempuh pendidikan akhir di salah satu SMA berbasis agama yang terkenal di Surabaya. Sekolah tempat adik saya menggali ilmu bisa dibilang mumpuni dengan fasilitas ruang kelas yang nyaman (tidak pernah kebanjiran), tiga buah AC terpasang di dalam kelas yang dihuni sekitar 20 murid saja, lingkungan sekolah yang bersih, jumlah guru yang cukup (tidak seperti di pedalaman luar Jawa), dan tentu saja memiliki atap yang kokoh (menggunakan genteng). Intinya sekolah dimana adik saya menghabiskan 10 jam hidupnya tidak mungkin muncul di headline berita nasional dengan judul “Atap SMA Roboh, Puluhan Siswa Luka-Luka.”

Beberapa waktu ini hampir setiap hari ia akan mengeluh kepada saya tentang betapa sulitnya pelajaran di sekolahnya. Dia tertekan. Kata “tertekan” keluar dari mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Sebagai kakak, tentu saya ingin tahu apa masalah yang dihadapinya.

Setidaknya saya merangkumnya menjadi 3 pokok masalah yang ia hadapi. Pertama, ia mengeluh tentang gaya mengajar gurunya yang “semena-mena”: ada guru yang hobi sekali menunjuk siswa untuk mengerjakan soal matematika di papan tulis. Terdengar biasa saja bukan? Yang jadi masalah ketika si siswa tidak bisa mengerjakan soal, lalu si guru “menghukumnya” untuk tetap berdiri hingga bisa menemukan jawaban atas soal tersebut. Secara psikologis, siswa tentu tertekan dan merasa takut setiap kali ditunjuk untuk mengerjakan soal.

Kedua, adik saya selalu mengeluh dengan daftar panjang materi yang akan diujikan dalam ujian harian, ujian tengah semester maupun ujian akhir semester. Adik saya berkata bahwa ia harus hapal titik koma dari setiap bacaan yang ada di buku paketnya. Ia juga menceritakan menjawab soal menggunakan bahasa diluar paket merupakan dosa. Ketika saya tanya balik, “apakah kamu paham apa yang diajarkan?” Ia hanya menggeleng. Sungguh ironis.

Ketiga, ia merasa frustasi karena beberapa gurunya suka mengabaikan pertanyaan yang ia ajukan. Misalnya begini, adik saya tidak paham bagaimana mengerjakan soal matematika kemudian ia bertanya pada gurunya. Dengan nada ketus gurunya akan mejawab “cari saja sendiri di buku paket!” Akhirnya seisi kelas tak seorangpun yang berani bertanya. Mereka larut dalam ketidaktahuan.

Kisah adik saya membuat ingatan saya kembali pada buku yang berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paulo Freire. Freire mengkritik sistem pendidikan Brasilia yang menjadikan pikiran siswa layaknya bank yang diisi uang (informasi atau pengetahuan) oleh guru. Siswa tidak lagi dilihat sebagai subjek namun menjadi objek yang perlu dididik dan diajar oleh guru yang maha segala-galanya. Ironisnya siswa tidak paham apa yang dipelajarinya. Freire memandang pendidikan gaya bank ini merupakan penindasan yang membisukan pikiran. Hingga akhirnya Freire menawarkan sistem pendidikan alternatif yang disebut pendidikan hadap masalah.

Kemudian, saya membandingkan potret pendidikan yang ada di Indonesia setelah membaca buku tersebut. Saya tahu pemerintah tengah berusaha menetapkan solusi atas sekian banyak masalah pendidikan di negara ini. Misalnya dengan mewajibkan belajar 12 tahun, membuat progam beasiswa agar siswa dari golongan tak mampu agar tetap sekolah, pemerataan tenaga pendidik di wilayar luar Jawa dan sebagainya.

Namun yang menjadi pertanyaan besarnya adalah apakah solusi tersebut mampu memperbaiki sistem pengajaran yang ramah dan aktif antara guru dan siswa? Masihkah siswa dianggap objek yang pasif? Kedua, apakah kurikulum penilaian hanya berfokus pada hasil ujian semata mengingat fenomena “hapal titik koma” masih dialami adik saya? Jika sudah dibuat, bagimana implementasinya? Jika belum, harus ada yang dibenahi.

Jika potret ini masih dijumpai pada sekolah yang notabene ada di kota-kota besar, lantas apa kabar sekolah di luar kota besar maupun diluar Pulau Jawa? Jika fenomena ini terus berlanjut, bolehkah saya menyebut sistem pendidikan di Indonesia masih bergaya bank?

*Penulis adalah mahasiswa, tinggal di Surabaya, dan lahir 21 tahun lampau. Dapat dihubungi di angel18line@gmail.com

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 137

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Menulis Kondisi Penulis dan Membaca Kondisi Pembaca 0 276

Banyak penulis—kita sebut saja begitu—terpangkas semangat menulisnya akibat kesulitan membagi porsi antara kapan harus bekerja untuk yang abadi dan kapan harus bekerja untuk yang fana. Menulis dalam definisi puitisnya, adalah bekerja untuk keabadian (selebihnya akan kita temukan sendiri). Jenis-jenis penulis pun tidak sedikit. Penulis puisi, penulis cerpen, penulis berita, penulis maya, penulis skripsi, penulis miskin, penulis kaya, dan sebagainya.

Dalam diskusi di forum-forum literasi, sering disebutkan bahwa minat membaca buku semakin menurun, sejak minat membaca visual dianggap lebih dominan. Anggapan yang tidak hanya mematahkan semangat para penulis dalam proses produktifnya ini, juga mematahkan semangat penerbit buku dalam mencari tulisan-tulisan yang berkualitas.

Gejolak di atas memang pernah terasa nyata ketika toko-toko buku ternama memamerkan buku-buku yang berasal dari penulis dengan kualitas karya yang kurang serius. Contoh kasus, seorang penulis dituntut oleh penerbitnya agar menghasilkan minimal dua buku dalam waktu singkat. Padahal hal ini bisa berdampak pada tenaga penulis tersebut saat melakukan proses kreatif dan berdampak pula pada tulisan yang dihasilkannya. Atau penulis yang melahirkan buku dengan tema-tema ala kadarnya, semata-mata untuk memuaskan selera pasar hiburan.

Akan tetapi, tidak lama ini, dunia literasi kita menemukan angin segar. Dengan munculannya penerbit-penerbit independen yang berdiri di luar arus pasar hiburan mainstream. Tidak sedikit dari mereka memasarkan produknya hanya melalui internet atau media sosial. Keberadaan mereka membuka ruang yang lebih lebar bagi para penulis baru dengan tema yang kemungkinan lebih inovatif. Artinya, selain memberi ruang yang lebih lebar bagi para penulis, penerbit independen juga berpotensi memberi kesempatan bagi buku-buku marxis kiri yang mana peredarannya diawasi oleh negara ormas. Hehehe…

Namun, dilemanya adalah: bolehkah kita menyebut gerakan kiri atau ide-ide progresif yang dimanifestasikan ke dalam sebuah karya literasi sebagai bentuk komodifikasi. Ketika banyak buku bernuansa kiri mempunyai harga yang fantastis. Harga-harga yang bahkan sulit dijangkau oleh pelaku revolusioner itu sendiri. Tidak hanya melalui buku, kaos, topi, tas kecil, dan berbagai jenis atribut lainnya, mengandung semacam upaya pembentukan identitas yang berlebihan. Sedang di sisi lain, banyak rakjat kecil dengan terpaksa mengenakan kaos pemberian partai demi keberlangsungan hidup mereka yang mulai kehilangan esensi.

Fenomena ini kemudian direspon oleh media-media alternatif yang menyebar di internet. Media yang menghadirkan tulisan-tulisan dengan biaya cetak dan ongkos akses Rp 0 bagi siapa saja. Termasuk media alternatif yang sedang anda baca sekarang ini.

Media yang coba menjadi jawaban lain atas, ketidaksembarangan orang dapat berkarya, karya dapat diterbitkan, dan harga dapat dibayar. Dengan demikian, kita pun tidak boleh menyalahkan keadaan ketika masyarakat lebih tertarik mengkonsumsi media online ketimbang media cetak.

Sekarang, penulis dan pembaca perlu saling memberi pengertian satu sama lain. Bahwa, visi kedua pekerjaan ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup atau memenuhi gaya hidup. Kedua pekerjaan ini adalah usaha merawat kesadaran yang perlahan mulai tergerus oleh hal-hal trivial yang sedang mendominasi isi pikiran kita. Pertanyaan selanjutnya: kesadaran seperti apa yang perlu kita bela sebagai penulis atau pembaca? Tentu saja adalah kesadaran bahwa di dunia ini kita hidup bukan untuk diri sendiri.

Jadi ini salahnya siapa? Salahnya remaja yang memperlakukan Marxis sebagai budaya populer, bukan budaya kritis.

Editor Picks