Pendidikan Gaya Bank dan Hapalan Titik Koma 0 667

Oleh: Angeline Anggalimea*

Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata yang dialami adik perempuan saya. Saya memiliki adik berusia 17 tahun yang saat ini sedang menempuh pendidikan akhir di salah satu SMA berbasis agama yang terkenal di Surabaya. Sekolah tempat adik saya menggali ilmu bisa dibilang mumpuni dengan fasilitas ruang kelas yang nyaman (tidak pernah kebanjiran), tiga buah AC terpasang di dalam kelas yang dihuni sekitar 20 murid saja, lingkungan sekolah yang bersih, jumlah guru yang cukup (tidak seperti di pedalaman luar Jawa), dan tentu saja memiliki atap yang kokoh (menggunakan genteng). Intinya sekolah dimana adik saya menghabiskan 10 jam hidupnya tidak mungkin muncul di headline berita nasional dengan judul “Atap SMA Roboh, Puluhan Siswa Luka-Luka.”

Beberapa waktu ini hampir setiap hari ia akan mengeluh kepada saya tentang betapa sulitnya pelajaran di sekolahnya. Dia tertekan. Kata “tertekan” keluar dari mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Sebagai kakak, tentu saya ingin tahu apa masalah yang dihadapinya.

Setidaknya saya merangkumnya menjadi 3 pokok masalah yang ia hadapi. Pertama, ia mengeluh tentang gaya mengajar gurunya yang “semena-mena”: ada guru yang hobi sekali menunjuk siswa untuk mengerjakan soal matematika di papan tulis. Terdengar biasa saja bukan? Yang jadi masalah ketika si siswa tidak bisa mengerjakan soal, lalu si guru “menghukumnya” untuk tetap berdiri hingga bisa menemukan jawaban atas soal tersebut. Secara psikologis, siswa tentu tertekan dan merasa takut setiap kali ditunjuk untuk mengerjakan soal.

Kedua, adik saya selalu mengeluh dengan daftar panjang materi yang akan diujikan dalam ujian harian, ujian tengah semester maupun ujian akhir semester. Adik saya berkata bahwa ia harus hapal titik koma dari setiap bacaan yang ada di buku paketnya. Ia juga menceritakan menjawab soal menggunakan bahasa diluar paket merupakan dosa. Ketika saya tanya balik, “apakah kamu paham apa yang diajarkan?” Ia hanya menggeleng. Sungguh ironis.

Ketiga, ia merasa frustasi karena beberapa gurunya suka mengabaikan pertanyaan yang ia ajukan. Misalnya begini, adik saya tidak paham bagaimana mengerjakan soal matematika kemudian ia bertanya pada gurunya. Dengan nada ketus gurunya akan mejawab “cari saja sendiri di buku paket!” Akhirnya seisi kelas tak seorangpun yang berani bertanya. Mereka larut dalam ketidaktahuan.

Kisah adik saya membuat ingatan saya kembali pada buku yang berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paulo Freire. Freire mengkritik sistem pendidikan Brasilia yang menjadikan pikiran siswa layaknya bank yang diisi uang (informasi atau pengetahuan) oleh guru. Siswa tidak lagi dilihat sebagai subjek namun menjadi objek yang perlu dididik dan diajar oleh guru yang maha segala-galanya. Ironisnya siswa tidak paham apa yang dipelajarinya. Freire memandang pendidikan gaya bank ini merupakan penindasan yang membisukan pikiran. Hingga akhirnya Freire menawarkan sistem pendidikan alternatif yang disebut pendidikan hadap masalah.

Kemudian, saya membandingkan potret pendidikan yang ada di Indonesia setelah membaca buku tersebut. Saya tahu pemerintah tengah berusaha menetapkan solusi atas sekian banyak masalah pendidikan di negara ini. Misalnya dengan mewajibkan belajar 12 tahun, membuat progam beasiswa agar siswa dari golongan tak mampu agar tetap sekolah, pemerataan tenaga pendidik di wilayar luar Jawa dan sebagainya.

Namun yang menjadi pertanyaan besarnya adalah apakah solusi tersebut mampu memperbaiki sistem pengajaran yang ramah dan aktif antara guru dan siswa? Masihkah siswa dianggap objek yang pasif? Kedua, apakah kurikulum penilaian hanya berfokus pada hasil ujian semata mengingat fenomena “hapal titik koma” masih dialami adik saya? Jika sudah dibuat, bagimana implementasinya? Jika belum, harus ada yang dibenahi.

Jika potret ini masih dijumpai pada sekolah yang notabene ada di kota-kota besar, lantas apa kabar sekolah di luar kota besar maupun diluar Pulau Jawa? Jika fenomena ini terus berlanjut, bolehkah saya menyebut sistem pendidikan di Indonesia masih bergaya bank?

*Penulis adalah mahasiswa, tinggal di Surabaya, dan lahir 21 tahun lampau. Dapat dihubungi di angel18line@gmail.com

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 157

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 74

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks