Pendidikan Gaya Bank dan Hapalan Titik Koma 0 991

Oleh: Angeline Anggalimea*

Tulisan ini terinspirasi dari kisah nyata yang dialami adik perempuan saya. Saya memiliki adik berusia 17 tahun yang saat ini sedang menempuh pendidikan akhir di salah satu SMA berbasis agama yang terkenal di Surabaya. Sekolah tempat adik saya menggali ilmu bisa dibilang mumpuni dengan fasilitas ruang kelas yang nyaman (tidak pernah kebanjiran), tiga buah AC terpasang di dalam kelas yang dihuni sekitar 20 murid saja, lingkungan sekolah yang bersih, jumlah guru yang cukup (tidak seperti di pedalaman luar Jawa), dan tentu saja memiliki atap yang kokoh (menggunakan genteng). Intinya sekolah dimana adik saya menghabiskan 10 jam hidupnya tidak mungkin muncul di headline berita nasional dengan judul “Atap SMA Roboh, Puluhan Siswa Luka-Luka.”

Beberapa waktu ini hampir setiap hari ia akan mengeluh kepada saya tentang betapa sulitnya pelajaran di sekolahnya. Dia tertekan. Kata “tertekan” keluar dari mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Sebagai kakak, tentu saya ingin tahu apa masalah yang dihadapinya.

Setidaknya saya merangkumnya menjadi 3 pokok masalah yang ia hadapi. Pertama, ia mengeluh tentang gaya mengajar gurunya yang “semena-mena”: ada guru yang hobi sekali menunjuk siswa untuk mengerjakan soal matematika di papan tulis. Terdengar biasa saja bukan? Yang jadi masalah ketika si siswa tidak bisa mengerjakan soal, lalu si guru “menghukumnya” untuk tetap berdiri hingga bisa menemukan jawaban atas soal tersebut. Secara psikologis, siswa tentu tertekan dan merasa takut setiap kali ditunjuk untuk mengerjakan soal.

Kedua, adik saya selalu mengeluh dengan daftar panjang materi yang akan diujikan dalam ujian harian, ujian tengah semester maupun ujian akhir semester. Adik saya berkata bahwa ia harus hapal titik koma dari setiap bacaan yang ada di buku paketnya. Ia juga menceritakan menjawab soal menggunakan bahasa diluar paket merupakan dosa. Ketika saya tanya balik, “apakah kamu paham apa yang diajarkan?” Ia hanya menggeleng. Sungguh ironis.

Ketiga, ia merasa frustasi karena beberapa gurunya suka mengabaikan pertanyaan yang ia ajukan. Misalnya begini, adik saya tidak paham bagaimana mengerjakan soal matematika kemudian ia bertanya pada gurunya. Dengan nada ketus gurunya akan mejawab “cari saja sendiri di buku paket!” Akhirnya seisi kelas tak seorangpun yang berani bertanya. Mereka larut dalam ketidaktahuan.

Kisah adik saya membuat ingatan saya kembali pada buku yang berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas” karya Paulo Freire. Freire mengkritik sistem pendidikan Brasilia yang menjadikan pikiran siswa layaknya bank yang diisi uang (informasi atau pengetahuan) oleh guru. Siswa tidak lagi dilihat sebagai subjek namun menjadi objek yang perlu dididik dan diajar oleh guru yang maha segala-galanya. Ironisnya siswa tidak paham apa yang dipelajarinya. Freire memandang pendidikan gaya bank ini merupakan penindasan yang membisukan pikiran. Hingga akhirnya Freire menawarkan sistem pendidikan alternatif yang disebut pendidikan hadap masalah.

Kemudian, saya membandingkan potret pendidikan yang ada di Indonesia setelah membaca buku tersebut. Saya tahu pemerintah tengah berusaha menetapkan solusi atas sekian banyak masalah pendidikan di negara ini. Misalnya dengan mewajibkan belajar 12 tahun, membuat progam beasiswa agar siswa dari golongan tak mampu agar tetap sekolah, pemerataan tenaga pendidik di wilayar luar Jawa dan sebagainya.

Namun yang menjadi pertanyaan besarnya adalah apakah solusi tersebut mampu memperbaiki sistem pengajaran yang ramah dan aktif antara guru dan siswa? Masihkah siswa dianggap objek yang pasif? Kedua, apakah kurikulum penilaian hanya berfokus pada hasil ujian semata mengingat fenomena “hapal titik koma” masih dialami adik saya? Jika sudah dibuat, bagimana implementasinya? Jika belum, harus ada yang dibenahi.

Jika potret ini masih dijumpai pada sekolah yang notabene ada di kota-kota besar, lantas apa kabar sekolah di luar kota besar maupun diluar Pulau Jawa? Jika fenomena ini terus berlanjut, bolehkah saya menyebut sistem pendidikan di Indonesia masih bergaya bank?

*Penulis adalah mahasiswa, tinggal di Surabaya, dan lahir 21 tahun lampau. Dapat dihubungi di angel18line@gmail.com

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 123

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 144

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks