Politik Kampus & Obsesi-obsesi 0 1817

Saking banalnya kata ‘politik’ (dengan p kecil) mendominasi pikiran masyarakat, hingga-hingga tak jarang para aktornya melenakan diri menggunakan cara yang jauh dari etis saat mengartikulasikan tujuan. Kelakuan ini yang sering mengarahkan pandangan masyarakat pada persepsi purba: politik itu kotor—mohon dibaca dengan nada girly agar tak terkesan murung.

Para elite biasanya akan menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang lumrah dalam perpolitikan. Karena barangkali “politik itu kotor” hanya akan menjadi redaksi yang naif. Apalagi berpolitik dengan goals perebutan wilayah kekuasaan yang lebih luas, rupanya bukan tidak mungkin lebih “kotor” dari kata “kotor” itu sendiri.

Nah, pembaca yang budiman, terkhusus sampeyan yang pernah jadi mahasiswa (dengan m kecil), mari kita mengenang-ngenang masa ketika suara mahasiswa hanya diperhatikan dalam penentuan jabatan macam pemilihan ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Mudah-mudahan perpolitikan kampus mampu menyamai keseruan perpolitikan nasional.

 

Jadi Begini

Menciptakan iklim demokrasi dalam tradisi pemilihan ketua BEM seringkali dihadirkan sebagai bentuk terwujudnya sistem politik yang membuat semua manusia di hadapannya adalah sama. Simbah Abraham Lincoln dalam pidato Gettybungnya, mengucap kalimat termasyur demokrasi merupakan suatu sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Jika dibungkus dalam sebuah definisi singkat, maka, kepentingan rakyat yakni nomor wahid.

Bisa ditebak, pertanyaan warisan dari definisi tersebut yaitu, rakyat yang mana, jhe? Mengingat rakyat terdiri dari latar belakang golongan yang beragam, secara otomatis aturan hidupnya pun demikian. Ada yang mau dipimpin, ada yang masih mikir-mikir.

Hal serupalah yang sering terjadi di kampus. Segelintir golongan yang mewarnai identitas mahasiswa kerap menimbulkan persaingan. Alasan gengsi dipimpin oleh golongan dari yang bukan golongannya pun menjadi muara persaingan antar mahasiswa. Yang kita sadari, mustinya mahasiswa itu bersolidaritas. Bukan saling tikung. Sebab ini bukan peristiwa asmara dan tak ada hubungannya dengan adegan romantis. Ndak baper kok

Dalam perpolitikan kampus, maba (mahasiswa baru) dianggap sebagai individu yang idealismenya masih lunak. Mainnya kurang jauh, ditambah pulangnya sebelum maghrib. Dengan (khawatir) daya pikir tidak cukup cemerlang, segala bentuk paham—dari yang malu-malu, sopan hingga yang paling kurang ajar—sangat rawan merasuki mereka. Dan menyesal kemudian. Situasi ini lah yang mengharuskan edukasi politik itu penting.

Ketika misalnya partai politik nasional terlalu sibuk dalam aktivitas elitis hingga luput dari kewajiban memberi edukasi politik pada masyarakat, dibutuhkan lah peran organisasi mahasiswa dalam hal ini: PMII, GMNI, KAMMI, HMI, dsb. Sehingga, apabila generasi muda telah memasuki dunia perkampusan sampai dunia yang lebih dewasa lainnya, mereka tak perlu kagok jika dihadapkan pada sembarangkalir instrumen politik.

Ndak tau lagi kalau organisasi ini pun juga ikut-ikutan macak elite. Karena bukan rahasia umum jika mereka juga yang memberi sponsor besar dalam pemenangan politik kampus. Atau jangan-jangan yang muda-muda itu sengaja dibiarkan memilih tanpa edukasi serta pemahaman yang jelas. Mengingat kata teman saya, bung Tatit Pandji, “dalam politik, isi kepala tidak penting, yang terpenting ialah jumlah kepala”. Jadi,andaikan kepala maba itu pintar duluan, agaknya akan sulit diajak kompromi. Padahal tantangan saat proses penjaringan suara tersebut lah yang menjadi pusat estetika politik. Begitu.

Lucunya, tradisi kampusan memilih ketua BEM ini seringkali mendapat porsi lebih sibuk oleh mahasiswa. Dibanding turun ke jalan membela kaum tertindas: buruh, tani, rakyat miskin kota—semua kelompok yang hanya indah dan menggetarkan tatkala dinyanyi-nyayikan lewat lagu wajib perjuangan mahasiswa. Ironis memang ketika mahasiswa malah hanya mengerjakan hal-hal trivia seperti perebutan kekuasaan hingga saling menjatuhkan. Jauh dari solidaritas. Padahal selain tradisi politik praktis nan seremonial itu, tradisi penindasan oleh penguasa masi mapan di luar sana.

Saya tidak cukup berani memberi kesimpulan, bilamana keadaan mahasiswa seringkali terkesan mengamankan status-quo, sehingga tugas pokoknya memberi perlindungan pada bangsa terpinggirkan. Namun, apakah pekerjaan politik kampus oleh mahasiswa, sudah cukup merepresentasikan situasi politik nasional kita sekarang? Mungkin.

NB: Oh ya, sebab mengapa dan harus ditulis kecil, silakan klarifikasi editor tulisan ini. Katanya: “biar misterius”.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kursi Kosong Najwa Shihab dan Kita yang Sibuk Menghakimi 0 348

Lagi-lagi Najwa Shihab menggemparkan dunia persilatan!

Sebagai jurnalis terbaik di Indonesia saat ini, ia merupakan bukti bagaimana membuat karya tak hanya menyuarakan kepentingan publik dan mengkritisi penguasa, tapi juga bisa diterima khalayak dan berdampak.

Dampak yang penulis maksud ini, gak selalu harus positif lho, ya!

Wawancaranya dengan kursi kosong beberapa hari lalu lantas menuai pro dan kontra. Kursi kosong itu seharusnya diisi oleh Menteri Kesehatan era Kabinet Indonesia Maju, Terawan Agus Putranto. Namun, menurut keterangan Mbak Nana (selanjutnya saya akan menyebutnya demikian biar kelihatan akrab) di video berdurasi tak sampai 5 menit ini, tim Mata Najwa – talk show bergenre politik besutan Najwa Shihab – telah mengundang yang bersangkutan berulang kali, tapi berulang kali itu pula ia menunjukkan batang hidungnya.

Sebagian yang pro memuji dan memuja karya Nana. Baru hitungan 24 jam diunggah ke Youtube, sudah ada lebih dari 1 juta penonton, belum ditambah jumlah penonton di akun medsos pribadi, Narasi, dan jutaan komentar yang timbul karenanya.

Mereka yang pro ini, setuju dan menggantungkan kepercayaannya pada jurnalis kawakan sekelas Nana. Tentu saja mengajukan pertanyaan di hadapan kursi kosong ini sudah berdasarkan riset dan mewakili keresahan hati umat. Hal ini juga dikonfirmasi kemudian di caption Instagram Najwa Shihab.

Pun, teknik ini juga sudah banyak dilakukan di luar negeri, demikian pula Nana menyebutnya. Di Inggris misalnya, wawancara Kay Burley di Sky News kepada Ketua Partai Konservatif Inggris, James Cleverly. Atau yang dilakukan Andrew Neil kepada Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson sebelum pemilu.

Selain itu, satire menjadi sastra yang berhak pula dimasukkan ke dalam karya jurnalistik, demi kian sebagian orang menilai karya #MataNajwaMenantiTerawanini.

Tapi, yang kontra tak kalah banyaknya. Ada yang kaku sekali soal prinsip jurnalisme. Pada tahapan seorang Nana yang belasan tahun menjadi jurnalis, seharusnya ia tahu betul bahwa karya jurnalistik harus mengutamakan asas keberimbangan. Setiap orang yang menjadi narasumber dari berbagai sisi dan kubu harus mendapat porsi menjawab yang sama. Dalam hal ini, ia dinilai sengaja mencecar Terawan dengan sejumlah pertanyaan tanpa berusaha menghadirkan pembelaan darinya.

Ada pula yang berkomentar Nana hanya mencari sensasi. Sebagai fans gak terlalu garis keras, menurut saya, Nana sudah selesai dengan apa yang dinamakan popularitas.  Ia sudah memilikinya sejak reportase fenomenalnya, menangis di tsunami Aceh, apalagi  latar belakangnya sebagai anak cendekiawan dan mantan Menteri Agama di era Soeharto, Quraish Shihab.

Ia pun dituding melakukan bullying. Padahal, karya ini bisa jadi bukan hanya menggugah hati menkes seorang. Ini adalah kritik terhadap keseluruhan sistem kementerian, dan bahkan kabinet berkuasa yang memilih bungkam pada keadaan super genting.

Nana ingin mengingatkan kita, rakyat yang berleha-leha di rumah sembari bikin TikTok ini, soal peran besar Menteri Terawan, yang seharusnya paling bertanggung jawab selama tujuh bulan pandemi ini. Ironisnya, yang selama ini kita kenal dari sang menteri hanyalah jargon “nanti juga sembuh sendiri”.

Sedangkan presiden sibuk membuat beragam komite. Nama Doni Monardo selaku ketua Satgas Covid, Airlangga Hartarto sebagai ketua Komite Corona dan Pemulihan Ekonomi Nasional, dan tentu saja Lord Luhut Binsar, menteri segala urusan, kini lebih populer.

Pertanyaan “kemana Menteri Terawan?” seharusnya memang diajukan kembali kepada Pak Presiden Jokowi tercinta. Pertanyaan genit macam “Terawan disuruh diam biar gak blunder terus ya?” seharusnya sangat sah kita ajukan bersama di negara demokras iini.

Di luar ini semua, Nana memang pantas digelari jurnalis terbaik negeri ini. Inget ya, penulis gak di-endorse!

Ia tahu betul siapa segmentasi audiensnya. Ia selama ini telah rajin membangun brand image melalui gaya fesyen misalnya. Nana tak hanya dikenal sebagai jurnalis perempuan yang powerful dan duta baca nasional, tapi akhir-akhir ini juga duta sepatu sneakers. Terlihat dari postingannya semenjak menjadi bos Narasi, tak pernah lepas dari sepatu-sepatu kekinian yang harganya bikin melongo kaum proletar.

Gaya  kekinian dan serba muda yang terus dianut Nana adalah tanda kesadarannya, bahwa acaranya Mata Najwa, dan konten Narasi-nya banyak ditonton remaja dan kaum muda. Pada poin ini, ia juga berhasil mendekatkan topik politik pada adek-adek gemes. Kita, kaum muda ini lantas dibuat terpikat, tertambat, dan setia mengapresiasinya.

Proses panjang menjadikan audiensnya loyal dan mendukung karya jurnalistiknya, semakin terwujud nyata dari aksinya mewawancarai kursi kosong ini. Ia tahu bahwa konten ini akan menjadi ramai diperbincangkan. Entah menjadi meme dan menjajaki trending topic, atau yang kelewat serius karena tersinggung. Ia tahu betul bahwa kursi kosong itu akan membuat petinggi kebakaran jenggot, sementara kita, netijen yang selama ini tertidur dan mengeluh bosan karena PSBB, menjadi geram dibuatnya.

Jadi, sudah patutkah wawancara kursi kosong ini dari segi etika? Siapalah saya dan Anda ini yang berhak mengadili? Selagi kita berdebat menjawabi pertanyaan ini dengan sok-sokan membawa teori dan harga diri, Nana sedang menikmati buaian kemenangan algoritma media sosial yang membuatnya semakin populer.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Ruwetnya Kerja dengan Orang Jawa 0 419

Jika pembaca sedang melamar pekerjaan dan mengetahui bos Anda adalah orang Jawa, atau Anda sebagai atasan dan seorang pelamar kerja imut-imut bau kencur yang akan jadi bawahan adalah orang Jawa, sebaiknya mengambil ancang-ancang 10 ribu kali. Jika perlu, berpuasalah 3 siang-malam untuk mendapat ilham cara bertahan hidup ke depannya.

Bekerjasama dengan orang Jawa itu ruwet. Ini adalah keniscayaan.

Sebab, (kami) orang Jawa adalah suatu suku di muka bumi ini yang diberi kelebihan oleh Sang Kuasa sebagai orang-orang perasa.

Kami sarankan kepada para bos, mohon kalau bicara atau memberi perintah jangan sambil berteriak. Usahakan volume suara Anda tetap dalam tataran normal ke sedang, tidak terlalu pelan untuk bisa didengar, namun juga tidak terlalu kencang sampai membuat jantung copot. Sebab mendengar suara bos membentak-bentak membuat hati kami ciut, terlepas dari karakter vokal dan kebiasaan sehari-hari sang pemilik suara.

Selain berteriak, bos-bos yang hobi bicara lembut tapi nyelekit juga suatu tantangan bagi kami. Walau mungkin konteks pembicaraan adalah dalam lingkup profesionalitas kerja, tanpa menyinggung persona, kami akan menyimpannya dalam hati dan kepikiran sampai berhari-hari. Secuil kesalahan kami yang dikoreksi atasan dengan kritikan pedas, rasanya seperti telah memporak-porandakan seluruh imej dan karir.

Kami peringatkan juga untuk para bos agar cukup tegar hatinya. Karena kami, para pegawai kelas menengah akan kerap ngrasani di belakang. Kami tak punya cukup nyali untuk berargumen di depan bos. Alasannya, tentu karena kami sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh bersikap dengan atasan. Sebaliknya, kami terbiasa mbendol mburi. Cacat-cela – sekecil apapun – akan menjadi bahan rasan-rasan kami ketika ngopi bareng.

Sesungguhnya, selain dengan bos, keruwetan itu juga terjadi dalam hubungan yang sederajat. Dalam berbagai proyek, kami dituduh klemar-klemer. Kalian perlu tahu, wahai fellow buruh bayaran, ini bukan karena kami tak tangkas bekerja, tapi karena mengutamakan kehati-hatian. Kami berpikir sebelum bicara, bukannya gamang. Penuh perhitungan sebelum bertindak, bukan bimbang.

Persoalan pelik lain dengan sesama karyawan, tentu saja perihal penggunaan bahasa. Padahal komunikasi yang baik adalah koentji kekompakan dalam lingkungan kerja. Namun, tak jarang kami kesulitan menerjemahkan maksud kami ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa gaul lain yang bisa dipahami secara nasional.

Terkadang yang ada di otak maunya melontarkan satu kalimat utuh atau pendeskripsian situasi dalam bahasa Jawa, tapi sadar betul bahwa lawan bicara kemungkinan besar tak akan mengerti. Butuh setidaknya 5 detik supaya otak dapat meng-google-translate­-kannya. Jangan heran bila dalam percakapan sehari-hari, ada jeda waktu yang tercipta dari antara jawaban-ke-jawaban yang keluar dari mulut kami. Tentu, proses internal kami memakan waktu dan tenaga yang tak sedikit.

Lha wong buat ngobrol biasa saja kami ngos-ngosan beradaptasi, apalagi mau bercanda.

Beberapa permasalahan yang telah dijabarkan di atas, belum termasuk fakta-fakta di lapangan bagi kami yang bekerja di ibu kota. Mendengar logat kami yang khas, dengan penekanan huruf mati yang muanteb (baca: medhok), sesama karyawan biasanya akan bertanya “Asalnya dari mana? Dari Jawa ya?”

Entah apa maksud pertanyaan ini, benar ingin tahu atau menertawakan logat kami yang unik. Pun pertanyaan ini sungguh lucu dan menampik kenyataan bahwa ia, yang bertanya, dan tempat kami berdiri ini, juga namanya Pulau Jawa.

Tapi tak mengapa. Pengalaman yang terakhir itu wajar adanya. Sama seperti gaya bicara ke-Jakarta-jakarta-an yang terdengar di tongkrongan tempat asal saya, yang terdengar asing dan menggemaskan.

Oh iya, di Pulau Jawa yang maha-sempit namun sok-sokan menjadi pusat dunia ini, ada beragam variasi orang Jawa dengan segala kelakuannya di tempat kerja. Barangkali, yang tertulis di sini adalah kisah satu jenis orang Jawa saja.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks