Politik Libido dalam ‘The Taste of Fences’

Kecuali mereka yang benar-benar sudah berdiam di tingkatan ma’rifat, (mungkin) manusia tetaplah makhluk sederhana, masih merasa kekurangan jauh lebih banyak daripada kelebihannya. Memangnya siapa di muka bumi ini yang berhak menentukan kekurangan serta kelebihan tiap-tiap individu? Apakah kerang ajaib?

Bahkan, sampai sekarang tak ada satupun pedoman rasional guna menilai kekurangan serta kelebihan—ya kecuali kalau mau sok-sokan normatif. Apalagi untuk urusan paling tabu di dunia: seks. Konstruksi sosial mana yang harus kita ambil sebagai pedoman untuk menggelar ritus alamiah tersebut?

Seks merupakan ‘panasea temporer’ bagi keterburu-buruan manusia dalam menjalani hidup. Sejarah juga telah permisif dalam membentuk perilaku seks masyarakat. Ada yang  cisgender ataupun sebaliknya, membolehkan bestiality, homoseksual, dan sebagainya. Pertanyaannya, siapkah kita menoleransi berbagai orientasi tersebut dalam konteks kebhinnekaan?

Sinung Winahyoko agaknya berhasil dalam membawa penonton terhambat dalam simulakra yang ia ciptakan. Karya filmnya, The Taste of Fences, dimulai dari seorang pria bernama Bagus yang sedang makan siang di dapur rumahnya. Keasyikannya mbadok sambil memandangi langit-langit terusik dengan panggilan sang ibu dari luar rumah, “Gus, Bagus! Hei! Onok dayo!”

Cepat-cepat menyelesaikan makannya, Bagus kemudian menutup matanya dengan kain hitam dan menuju ke sebuah bilik. Di sana terdapat seorang wanita berumur 40-an berbaju hijau yang sedang merokok. Bagus meraba-raba, mencari keberadaan wanita yang telah menunggunya, dengan hanya berbekal siulan sang wanita sebagai pengarah langkahnya. Jengkal demi jengkal ia susuri, hingga ia dapati kepala sang wanita berada dalam belaiannya. Tak butuh waktu lama, Bagus langsung menjamahi tubuh wanita tersebut mulai dari kepala, leher, hingga menjilati bagian paling vital dari wanita itu.

Adegan dilanjutkan saat Bagus telah selesai memberikan kepuasan seksual kepada sang wanita. Wanita tersebut sudah berada berdua bersama Ibu (sekaligus mucikari) dari Bagus. Perbincangan basa-basi disematkan dalam percakapan mereka berdua, diakhiri dengan ucapan pamit si tamu. Tidak hanya itu, salam tempel khas Jawa yang penuh hipokrisi juga tersemat dalam adegan, diiringi ujaran si wanita, “Iki sangune  nggo Bagus.

Film keluaran 2015 yang berdurasi 15 menit ini terbilang mind-blowing. Dalam menginterpretasi peran Bagus, penonton tidak digiring pada sebuah konklusi mapan, melainkan dibiarkan dengan eksplorasi masing-masing. Bisa saja, film ini sekadar jadi panduan enaena cara bersenggama yang menantang. Tapi bisa juga, audiens melihat bayang-bayang Tari Sintren, tarian mistis khas daerah Cirebon dan sekitarnya, dalam film ini.

Konklusi lain yang bisa penonton peroleh adalah aksi terselubung Sinung mengangkat isu agalmatophilia, yang pastinya masih dianggap tabu oleh masyarakat mayoritas konservatif. Agalmatophilia sendiri, secara definitif, adalah rasa ketertarikan seksual seseorang pada benda mati seperti boneka, manekin, patung dan benda-benda serupa lainnya.

Maka, menonton karya audio-visual ini membuat penonton tak mampu mengelak dari pemikiran Jean Baudrillard tentang hiperrealitas. Konsep simulasi pun menjadi bahasan seksi jika boleh dihubung-hubungkan, yaitu menyoal penciptaan kenyataan melalui model konseptual yang berhubungan dengan “mitos”, sampai-sampai tidak dapat dilihat kebenarannya dalam kenyataan.

Konsep simulasi menjadi penting karena kemampuannya sebagai faktor penentu perspektif. Segala yang menarik minat manusia—seni, rumah, dan lainnya—acap ditayangkan media menggunakan model-model ideal. Di sinilah terjadi campur aduk antara simulasi dan kenyataan hiperrealitas, di mana yang nyata dan yang tidak nyata menjadi rancu.

Terlepas dari berbagai konklusi yang bisa kita kontemplasikan, atau betapa mind-blowing-nya film ini, atau juga betapa brengseknya peran sang Ibu yang tega menjajakan anak lelakinya demi uang, The Taste of Fences merupakan karya eksperimental yang mempermainkan libido penonton.