Segala Bentuk Maaf untuk Mereka yang Introvert 3 1626

Sebagai makhluk bumi dengan strata tertinggi yang dikaruniai akal budi, kita hendaknya punya sikap pemaaf layaknya Sang Pencipta. Jika disakiti sesama, jangan cepat marah, maafkanlah! Jika dikhianati pacar, maafkanlah! Jika bertemu orang introvert, maafkanlah!

Untuk yang terakhir, sungguh tiada perilaku lain yang lebih patut ketimbang memaklumi dan memaafkan. Menghadapi orang introvert sama rumitnya dengan kesialan kita bertemu emak-emak naik motor matic di jalanan ruwet Surabaya. Sebab, we never walked in their shoes. Kan, kita tidak akan pernah bisa memahami orang introvert untuk SELAMANYA.

Pun fenomena introvert setelah ditemukan paparan teorinya oleh psikolog Carl Gustav Jung asal Swiss, mendadak jadi pengampunan bagi mereka yang merasa bagian dari squad ini. Secara ringkas, introvert adalah sikap atau karakter seseorang yang secara dominan berorientasi subjektif dalam menjalani kehidupan. Pendeknya, kelompok manusia dalam kategori ini umumnya menyukai suasana sepi yang dapat membuat mereka lebih tenang dan dapat berkontemplasi. Secara sempit pula, introvert adalah manusia-manusia yang lemah letih lesu akan keramaian dan kerumunan orang banyak.

Seperti sebuah sabda dari papa Setnov, orang-orang yang merasa serupa dengan ciri-ciri ini keroyokan mengklaim dirinya sebagai introvert. Mereka yang tak percaya diri tampil di depan, berkenalan dengan orang baru, mencoba hal menantang, pun bersosialisasi secara pendek pikir mengamini dirinya tergolong introvert, tanpa membantah sedikit pun.

Parahnya, kelompok ini merasa diakuisi dan diwadahi, mendadak jadi gerakan besar kepada seluruh dunia “Hei, aku ini introvert. Tolong pahami aku!” sebagai radikalisme mirip aksi 212 yang sungguh hebat. Membuat semua orang harus mundur selangkah dan membungkuk, demi memaklumi orang introvert agar tidak dipaksa bereksplorasi atau masuk dalam lingkungan pertemanan baru.

Dalam versi yang lebih akut, netijen yang anti-sosial dan pemalu ikut-ikutan mengantre dalam daftar orang introvert. Introvert mendadak jadi elite yang dihargai. Introvert tiba-tiba jadi idola yang dianggap idealis: mencari inspirasi dalam keheningan. Intovert menjadi puja-puja yang diakui setingkat lebih mulia ketimbang dua karakter lainnya: ektrovert dan ambivert.

Dalam penjelasan lebih lanjut, introvert yang dimaksudkan tidak seartifisial yang dianut kids jaman now. Introvert memang menyukai kesendirian, dengan tujuan refleksi diri dan produktivitas tak terkira. Dalam kesepian itu, si introvert cenderung suka pekerjaan-pekerjaan analisa dan pemecahan masalah yang rumit.

Si pemalu dan orang yang mapan dengan comfort zone adalah tipe-tipe yang justru ditendang dari agama introvert. Walau tak suka bersosialisasi, bukan berarti introvert anti terhadap interaksi. Ia tetap suka bepergian dalam kelompok kecil, berkenalan dengan orang-orang baru, bahkan berdiskusi secara substantif. Mereka justru benci pembicaraan basa-basi yang ringan.

Dalam kesendiriannya, bisa jadi para introvert selangkah lebih maju dari Anda sekalian. Mereka mengolah pengetahuan dan mencari jalan keluarnya, bukan mendhem sampe gendheng. Mengatakan introvert tak mau berkembang adalah kesalahan fatal. Berkebalikan dengan si ekstrovert yang suka mencari pengatahuan baru lewat jejaringnya, introvert menggali pembelajaran itu dalam kesendiriannya.

Dalam segala kebisuannya, jangan pernah khawatir introvert akan kerasukan makhluk halus. Ia memang jadi minoritas dalam interaksi kelompok ramai, tetapi ia menjadi pengamat keadaan. Mendadak, hasil observasinya jadi karya tulis, lirik lagu, atau naskah film pendek yang tidak Anda duga-duga.

Begitu ideal dan susahnya manusia hingga benar-benar dapat diwisuda sebagai introvert. Ironisnya, begitu mudah kawan-kawan sejawat kita mencap dirinya sebagai introvert. Jika introvert adalah sebuah kapal pesiar, sudah barang pasti banyak penumpang gelapnya.

Selain itu, adapun tesis yang dibangun C.G. Jung dengan susah payah ini kini menjelma jadi pengkotak-kotakan manusia. Dalam menilai seseorang, kita secara suka rela menjadi eksekutor teori ini, dalam sukma bicara sendiri “Orang ini termasuk introvert, ekstrovert, atau ambivert ya?”.

Di saat yang bersamaan pula, secara bodoh dan dengan kerelaan hati yang polos, kita menaati hukum alam tentang pengelompokan tiga kategori ini. Kita lebih banyak percaya menjadi bagian dari salah satu kategori saja, tanpa pernah berusaha keluar dari kotak tersebut. Sekali introvert, tetap introvert!

Padahal, dalam perkembangan psikologis manusia, seseorang tak hanya dipengaruhi oleh faktor personal, namun juga situasional. Bagaimana kita bersikap dipengaruhi oleh lawan bicara. Kita sebagai manusia dengan otak cerdas secara mudah mampu menghadapkan diri dalam berbagai situasi. Kita secara cair dapat mengubah diri menjadi introvert, lalu ekstrovert, lalu ambivert sesuai dengan kebutuhan.

Sayangnya, kita seringkali mudah percaya dan menelan bulat-bulat sebuah teori sebagai kebenaran mutlak. Kesempitan dalam melihat suatu fenomena hanya dari satu sudut pandang membuat kita terus menerus dibodohi oleh penggolongan introvert-ekstrovert-ambivert yang kaku ini.

Tapi, di luar ini semua, buat yang beneran introvert, mari beramai-ramai kita berikan maaf. Apalagi bagi mereka yang sok-sokan introvert…. ah, sudahlah.

Previous ArticleNext Article

3 Comments

  1. Hell… Bill Gates introvert, Lincoln introvert, Einstein introvert, Gandhi introvert… Walaupun itu nggak ngegambarin apa pun, seengaknya bisa jadi inspirasi, bahan merenung soal pentingnya ketenangan pikiran, introvert nggak butuh bullshit, kalo mau deep talk yha monggo yg penting kan soal pemahaman hidup bukan cuma hal2 superfisial belaka.
    Buat point yg ‘bisa berubah sesuai kondisi’ yakali bunglon?!
    Kita ini sebenarnya perlu hati2 soal dikotomi, karena dikotomi yg salah efeknya adalah cara berpikir yg salah.

    1. Halo, terima kasih sudah membaca Kalikata!

      Pertama, terima kasih sudah turut memberi contoh orang-orang yang (katanya) termasuk introvert. Sekaligus juga terima kasih sudah mengafirmasi pendapat penulis yang sudah dituliskan pada paragraf 8 “Mereka justru benci pembicaraan basa-basi yang ringan”.

      Kedua, sebagai makhluk sosial yang dinamis, kita tentu saja berubah. (Apalagi kids jaman now yang suka moody hehe). Karakter seseorang tentu berubah dari masa kecil hingga dewasa akibat interaksi dengan orang yang berbeda-beda. Every good public speakers used to be shy and quiet person. Apakah tega selalu judge seseorang sebagai introvert sampai akhir hayat dan tak mendoakan semoga dia jadi ekstrovert suatu hari nanti?

      Ketiga, dikotomi sesungguhnya dalam konteks ini adalah jurang pemaknaan antara penulis dengan pembaca. Hal ini tentu lumrah dan diperbolehkan, lah wong frame of reference dan field of experience kita berbeda. Pandangan “cara berpikir yang salah” dalam perspektif ilmu sosial hendaknya tidak dibenarkan hanya gara-gara perbedaan point of view dan titik penekanan suatu teks.

  2. Tulisan yang sangat laur biasa sebagai manusia biasa saya juga punya rasa malu , marah , bahagia ,senang , sedih.. Dan orang orang memandang saya aneh dan banyak yang bilang saya sombong tapi semua emosi saya simpan dalam hati ketika ada seseorang yang berbicara “dirimu sangat aneh” tapi apalah daya saya INTROVERT yang gak mau terlihat lebih bodoh dengan marah marah di depan umum…
    Sungguh blog yang bermanfaat bagi ku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terorisme dan Mabuk Konspirasi 0 318

Riuh bom di kota Surabaya (dan beberapa jam setelahnya, merembet ke Sidoarjo) mengagetkan siapapun, termasuk Kalikata. Tak pernah hadir dalam bayangan kami sebuah keganasan ideologis yang mewujud ke dalam kekerasan teror, yang secara ganjil dilakukan satu keluarga, bisa mengguncang Surabaya–sebuah kota yang diklaim relatif aman.Tapi cukup mengherankan juga bagaimana publik bisa demikian terbelah: antara yang bersimpati, juga yang antipati.

Terorisme sebagai magnet peristiwa telah membuat netijen-netijen hebat itu memuntahkan prediksi-prediksi: bahwa ini semua ada pengalihan isu, bahwa segalanya settingan, dan bahwa ini kesengajaan intelijen dalam membiarkan teror terjadi. Hebat bukan prediksi-prediksi itu?

Ditopang keleluasaan teknologi komunikasi yang terbuka bagi semua orang, maka lalu lintas prediksi tidak saja meruap banyak, melainkan juga liar. Apa yang menonjol dari itu semua adalah perlombaan prediksi atas suasana konspiratif yang melingkungi terorisme. Di media sosial internet, perlombaan ini makin terang dengan narasi konspirasi yang berbeda-beda. Prinsip utama narasi itu satu: bahwa terorisme tidak lebih rekaan dan manipulasi Negara yang sama sekali nisbi, palsu, dan penuh tipu daya. Bahwa korban dengan kondisi hancur dan tergeletak di jalan adalah buah dari settingan.

Karena kebanyakan nonton Avengers (yang spoiler-nya saja ditakuti melebihi ketakutan kepada spoiler Tuhan tentang neraka), sedangkah kita dimabuk teori-teori konspirasi?

 

Saat kepungan teknologi komunikasi telah diterima sebagai nasib, kita barangkali harus mulai terbiasa dengan semangat menggebu dari tiap orang untuk bercerita. Tapi prediksi atas konspirasi teror itu juga menunjukkan betapa kita tak punya modal sama sekali kecuali bondo cangkem. Tanpa memperdulikan akal sehat, lewat teknologi komunikasi, terorisme diciutkan dari kompleksitasnya sekaligus disederhanakan dengan kedunguan prediksi sok hebat.

Ada beberapa hal yang dapat ditarik sebagai soal lebih jauh. Pertama, di sisi lain mabuk teori konspirasi ini adalah pertanda paling jelas dari ketaktersediaan informasi yang relevan dan sepadan guna menjelaskan apa dan bagaimana peristiwa terorisme itu terjadi. Media televisi yang tampak bekerja keras lewat siaran-siaran live, terbukti kedodoran dalam hal kelengkapan informasi dan hanya mementingkan aspek visual. Lebih-lebih, sedikit sekali publikasi atau keterangan resmi dari pemerintah yang dapat diandalkan, sehingga memperlihatkan kelemahan dokumentasi Negara dan kecakapan komunikasi dalam situasi yang membutuhkan kecepatan pesan.

Kedua, publik secara psikis menuntut keterlibatan dalam memikirkan dan menganalisis sebuah peristiwa. Kecerewetan mereka membutuhkan pelarian untuk digubris. Netijen-netijen itu sebetulnya juga orang biasa saja, hanya berkelebihan dalam soal semangat.

Ketiga, bahwa ini menjadi pertanda betapa rentannya kita menjelang hajatan-hajatan penting: momen politik (pilkada 2018 dan pilpres 2019). Keterampilan intelijen mustinya bisa lebih baik dalam mengantisipasi.

Keempat, rupanya harus dicamkan betul-betul, bahwa dalam masyarakat kita sungguh hidup orang-orang dengan pikiran yang ganjil, yang hanya dihidupi oleh dan dari fanatisme. Orang macam begini tidak memedulikan lagi diskusi dan akal sehat, karena di depan matanya segalanya dapat menjadi demikian hitam dan putih.

 

Kewaspadaan bersama adalah kabar baik yang mengimbangi seliweran narasi-narasi konspirasi. Publik menyadari bahwa ia punya sumber daya informasi yang ditempatkan sebagai suplai utama untuk mengatasi kondisi nir-data. Bahaya terorisme, dan juga isu-isu kekerasan lainnya, direspons secara sadar dan serentak sebagai masalah bersama.

Kolektifitas ini dapat dihitung dengan kekompakan gerakan viral media sosial kita atas isu terorisme Surabaya yang mampu membetot perhatian dan simpati dunia internasional. Muncul himbauan untuk tidak menyebar foto-foto korban peristiwa teror di tiga gereja. Sebelumnya, foto-foto ini disebar dengan brutal–sesuatu yang justru diingini oleh teroris itu sendiri dalam mengondisikan situasi mencekam secara visual. Beberapa kelompok masyarakat juga menggelar aksi simpatik untuk mendesak negara turun tangan dan mengecam.

Meski lalu lintas isu konspirasi masih muncul di sana-sini, tetapi bentuk kreatif dari kebersamaan virtual ini harus dipuji bukan hanya sebagai bukti dari partisipasi Indonesia dalam gerakan anti-terorisme, tetapi juga sebagai pengukuhan atas keterlibatan kreatif-simpatik yang terus-terang dan mandiri, tanpa lagi harus mengandalkan Negara sebagai jembatan. Kemandirian ini poin penting yang harus diterima sebagai bagian vital pemulihan kesadaran bersama sebagai bangsa atas ancaman-ancaman yang muncul.

Lagipula, kita tak selalu perlu nuansa sentimentil dan sedramatis konspirasi guna menumbuhkan simpati.

Turut berduka untuk para korban. Semoga damai dan guyub berlimpah di Surabaya.

Lagu Mahasiswa: Buruh Tani, Demokrasi, dan Dinamika Semangat Zaman 0 206

Oleh: Aria Mahatamtama*

Sebelumnya, tulisan ini berusaha merefleksikan semangat zaman tentang isu buruh, masyarakat miskin, dan mahasiswa. Mengingat bulan Mei adalah bulan yang diawali dengan semangat revolusi, iya revolusi buruh, dengan merebut alat produksi, dan menyetarakan tiap lapisan masyarakat. Aliansi mahasiswa kerap berdekatan dengan isu-isu wong cilik (buruh, dan masyarakat yang mengalami penggusuran secara paksa dan masih banyak lagi) karena itu semangat ini harus dikaji secara serius. Mengapa kajian ini harus dilakukan?

Hal mendasar yang menjadi keresahan penulis adalah “Lagu Mahasiswa: Buruh Tani”. Lagu tersebut kerap dinyanyikan oleh mahasiswa, akan tetapi, celakanya semangat zaman yang ada melalui lirik-lirik tersebut yang harus dikaji lebih dalam, kalau perlu diadakan diskusi yang membedah secara serius dampak dari lirik tersebut untuk dikontekstualisasikan dengan semangat zaman masa kini. Sebelum itu, kata “semangat zaman” ini diartikan dengan zaman yang didalamnya memuat pergejolakan pendidikan/pengetahuan, sosial, ekonomi, politik dan budaya yang sedang terjadi. Fokus penulis hanya sampai pada dua baris lirik (lihat gambar).

Sekarang bila diperbolehkan, penulis mengajak pembaca untuk memproyeksikan lagu ini bila dinyanyikan mahasiswa dalam aksi, tetapi anda (pembaca) menjadi pendengar nyanyian tersebut dengan semangat zaman masa kini. Nanti akan terlihat perbedaan semangat zaman yang terjadi.

Pada lirik awal “Buruh tani, Mahasiswa, Rakyat Miskin kota” akan terlihat jelas bahwa anda akan melihat mereka (yang terlibat aksi dan sedang bernyanyi) memberikan gambaran identitas diri mereka. Hanya memberikan gambaran dalam lirik yang dituangkan menjadi nyanyian, bukan diri mereka seutuhnya! Tetapi hanya gambaran. Lalu dilanjutkan “bersatu padu rebut demokrasi”, pada lirik ini akan terlihat ideologi rezim yang berkembang pada semangat zaman lagu ini tercipta, dengan sistem yang otoriter. Otomatis perlakuan yang paling radikal adalah meruntuhkan otoritarian dengan merebut hak-hak kebebasan individu dalam pola demokrasi. Lirik ketiga dan keempat pada baris pertama mengikuti pola lirik pertama dan kedua.

Nah, pada lirik baris kedua akan terlihat sedikit kekacauan “hari-hari esok adalah milik kita”, jika ditilik secara serius “milik kita” ini hanya terjadi, tetapi besok-besok, bukan sekarang! Jadi sekarang masih usaha, belum memiliki, akan–memiliki itu besok-besok lho. Dan “terciptanya masyarakat sejahtera” otomatis pengartian lirik ini bila mengacu pada perihal “milik kita” akan nampak jelas bahwa “masyarakat sejahtera”  ini akan didapat setelah menjadi “milik kita”  yang terjadi pada hari-hari esok. Lalu lirik ketiga pada baris kedua “terbentuknya tatanan masyarakat” ini harus dilihat jika berkaitan pada masyarakat, maka makna “tatanan” ini berbicara mengenai struktur, yaitu struktur masyarakat. Jika berbicara struktur masyarakat, otomatis terdapat dinamika atau pergejolakan yang terjadi di masyarakat dimana terdapat si kaya dan si miskin. Maka–singkatnya tatanan yang dimuat di lirik tersebut malah melanggengkan otonomi kelas borjuis yang memang dia adalah si kaya. Lirik keempat pada baris kedua memperlihatkan keajegan bahwa “Indonesia baru tanpa Orba” syarat tersebut memberikan identitas baru bagi Indonesia. Yaitu perebutan demokrasi, dengan meninggalkan “Orde Baru”.

Akan tetapi pertanyaan nyaadalah ketika demokrasi dan hak-hak kebebasan sudah didapat, lalu apakah demokrasi tidak memiliki sifat tirani; atau gampangnya, apakah demokrasi itu bebas atau tidak? Ini yang harus dikaji lebih dalam. Sebelumnya penulis sudah mengijinkan anda (pembaca) untuk boleh tidak lagi memproyeksikan menjadi pendengar nyanyian aksi tersebut, tetapi berpikir ulang untuk mengoptimalkan semangat zaman masa kini. Yaitu dengan memikirkan ulang, apakah demokrasi itu bebas atau tetap kejam akan tetapi bentuk kekejamannya lebih halus sehalus pipi doi kalau dicubit.

Kebebasan berpendapat selalu terdengar cukup memuaskan bagi kita dalam pola masyarakat demokrasi dewasa ini, tetapi jika kebebasan berpendapat ini hadir, otomatis kebebasan mendengar pun juga masuk dalam sistem demokrasi, lebih-lebih kebebasan mengonsumsi juga menjadi acuan juga dong. Lah kok boleh banyak mengonsumsi… ya iya kan Indonesia sebagai negara Dunia Ketiga dalam pola kapitalisme global bergerak dalam pola demokrasi. Maka dari itu kenapa kita selalu resah dengan jalanan Ahmad Yani yang macet karena kepadatan kendaraan atau tulisan mengenai hipster lokal bahkan tulisan tandingannya. Ya karena pola demokrasi yang bebas ini, membolehkan banyak pemilik modal melakukan ekspansinya untuk meraup banyak keuntungan yang akhirnya kalian-kalian dan pembaca ini loh boleh banyak beraspirasi untuk mengonsumsi. Ya tho? Diem-diem wae, ngopi brow.

Inilah yang menjadi titik tekan, penulis tidak menyalahkan kehadiran lagu tersebut, sama sekali tidak menyalahkan. Penulis memiliki letak asumsi yang optimis (cie) bahwa subjek, atau masyarakat dengan semangat zaman masa kini harus lebih sadar, buruh dan budaya pop tentang musik dangdut dan kepentingan panggung politik praktis harus dipisahkan. Kalau perlu buruh harus disadarkan dulu! Karena yang menjadi gejolak era kontemporer adalah relung-relung ideologi yang menggerakan kita secara halus, relung-relung ideologi itu bekerja tanpa disadari, yang memusat pada pola kapitalisme.

Ilmu itu harus diberikan sebanyak-banyaknya agar kesadaran untuk perubahan dapat terjadi.

*Hormat penulis, yang sedang menunggu film produksinya sendiri rilis dan berdoa agar petani di Aceh tidak dibakar ladangnya secara cuma-cuma.

Editor Picks