Segala Bentuk Maaf untuk Mereka yang Introvert 3 3258

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Sebagai makhluk bumi dengan strata tertinggi yang dikaruniai akal budi, kita hendaknya punya sikap pemaaf layaknya Sang Pencipta. Jika disakiti sesama, jangan cepat marah, maafkanlah! Jika dikhianati pacar, maafkanlah! Jika bertemu orang introvert, maafkanlah!

Untuk yang terakhir, sungguh tiada perilaku lain yang lebih patut ketimbang memaklumi dan memaafkan. Menghadapi orang introvert sama rumitnya dengan kesialan kita bertemu emak-emak naik motor matic di jalanan ruwet Surabaya. Sebab, we never walked in their shoes. Kan, kita tidak akan pernah bisa memahami orang introvert untuk SELAMANYA.

Pun fenomena introvert setelah ditemukan paparan teorinya oleh psikolog Carl Gustav Jung asal Swiss, mendadak jadi pengampunan bagi mereka yang merasa bagian dari squad ini. Secara ringkas, introvert adalah sikap atau karakter seseorang yang secara dominan berorientasi subjektif dalam menjalani kehidupan. Pendeknya, kelompok manusia dalam kategori ini umumnya menyukai suasana sepi yang dapat membuat mereka lebih tenang dan dapat berkontemplasi. Secara sempit pula, introvert adalah manusia-manusia yang lemah letih lesu akan keramaian dan kerumunan orang banyak.

Seperti sebuah sabda dari papa Setnov, orang-orang yang merasa serupa dengan ciri-ciri ini keroyokan mengklaim dirinya sebagai introvert. Mereka yang tak percaya diri tampil di depan, berkenalan dengan orang baru, mencoba hal menantang, pun bersosialisasi secara pendek pikir mengamini dirinya tergolong introvert, tanpa membantah sedikit pun.

Parahnya, kelompok ini merasa diakuisi dan diwadahi, mendadak jadi gerakan besar kepada seluruh dunia “Hei, aku ini introvert. Tolong pahami aku!” sebagai radikalisme mirip aksi 212 yang sungguh hebat. Membuat semua orang harus mundur selangkah dan membungkuk, demi memaklumi orang introvert agar tidak dipaksa bereksplorasi atau masuk dalam lingkungan pertemanan baru.

Dalam versi yang lebih akut, netijen yang anti-sosial dan pemalu ikut-ikutan mengantre dalam daftar orang introvert. Introvert mendadak jadi elite yang dihargai. Introvert tiba-tiba jadi idola yang dianggap idealis: mencari inspirasi dalam keheningan. Intovert menjadi puja-puja yang diakui setingkat lebih mulia ketimbang dua karakter lainnya: ektrovert dan ambivert.

Dalam penjelasan lebih lanjut, introvert yang dimaksudkan tidak seartifisial yang dianut kids jaman now. Introvert memang menyukai kesendirian, dengan tujuan refleksi diri dan produktivitas tak terkira. Dalam kesepian itu, si introvert cenderung suka pekerjaan-pekerjaan analisa dan pemecahan masalah yang rumit.

Si pemalu dan orang yang mapan dengan comfort zone adalah tipe-tipe yang justru ditendang dari agama introvert. Walau tak suka bersosialisasi, bukan berarti introvert anti terhadap interaksi. Ia tetap suka bepergian dalam kelompok kecil, berkenalan dengan orang-orang baru, bahkan berdiskusi secara substantif. Mereka justru benci pembicaraan basa-basi yang ringan.

Dalam kesendiriannya, bisa jadi para introvert selangkah lebih maju dari Anda sekalian. Mereka mengolah pengetahuan dan mencari jalan keluarnya, bukan mendhem sampe gendheng. Mengatakan introvert tak mau berkembang adalah kesalahan fatal. Berkebalikan dengan si ekstrovert yang suka mencari pengatahuan baru lewat jejaringnya, introvert menggali pembelajaran itu dalam kesendiriannya.

Dalam segala kebisuannya, jangan pernah khawatir introvert akan kerasukan makhluk halus. Ia memang jadi minoritas dalam interaksi kelompok ramai, tetapi ia menjadi pengamat keadaan. Mendadak, hasil observasinya jadi karya tulis, lirik lagu, atau naskah film pendek yang tidak Anda duga-duga.

Begitu ideal dan susahnya manusia hingga benar-benar dapat diwisuda sebagai introvert. Ironisnya, begitu mudah kawan-kawan sejawat kita mencap dirinya sebagai introvert. Jika introvert adalah sebuah kapal pesiar, sudah barang pasti banyak penumpang gelapnya.

Selain itu, adapun tesis yang dibangun C.G. Jung dengan susah payah ini kini menjelma jadi pengkotak-kotakan manusia. Dalam menilai seseorang, kita secara suka rela menjadi eksekutor teori ini, dalam sukma bicara sendiri “Orang ini termasuk introvert, ekstrovert, atau ambivert ya?”.

Di saat yang bersamaan pula, secara bodoh dan dengan kerelaan hati yang polos, kita menaati hukum alam tentang pengelompokan tiga kategori ini. Kita lebih banyak percaya menjadi bagian dari salah satu kategori saja, tanpa pernah berusaha keluar dari kotak tersebut. Sekali introvert, tetap introvert!

Padahal, dalam perkembangan psikologis manusia, seseorang tak hanya dipengaruhi oleh faktor personal, namun juga situasional. Bagaimana kita bersikap dipengaruhi oleh lawan bicara. Kita sebagai manusia dengan otak cerdas secara mudah mampu menghadapkan diri dalam berbagai situasi. Kita secara cair dapat mengubah diri menjadi introvert, lalu ekstrovert, lalu ambivert sesuai dengan kebutuhan.

Sayangnya, kita seringkali mudah percaya dan menelan bulat-bulat sebuah teori sebagai kebenaran mutlak. Kesempitan dalam melihat suatu fenomena hanya dari satu sudut pandang membuat kita terus menerus dibodohi oleh penggolongan introvert-ekstrovert-ambivert yang kaku ini.

Tapi, di luar ini semua, buat yang beneran introvert, mari beramai-ramai kita berikan maaf. Apalagi bagi mereka yang sok-sokan introvert…. ah, sudahlah.

Previous ArticleNext Article

3 Comments

  1. Hell… Bill Gates introvert, Lincoln introvert, Einstein introvert, Gandhi introvert… Walaupun itu nggak ngegambarin apa pun, seengaknya bisa jadi inspirasi, bahan merenung soal pentingnya ketenangan pikiran, introvert nggak butuh bullshit, kalo mau deep talk yha monggo yg penting kan soal pemahaman hidup bukan cuma hal2 superfisial belaka.
    Buat point yg ‘bisa berubah sesuai kondisi’ yakali bunglon?!
    Kita ini sebenarnya perlu hati2 soal dikotomi, karena dikotomi yg salah efeknya adalah cara berpikir yg salah.

    1. Halo, terima kasih sudah membaca Kalikata!

      Pertama, terima kasih sudah turut memberi contoh orang-orang yang (katanya) termasuk introvert. Sekaligus juga terima kasih sudah mengafirmasi pendapat penulis yang sudah dituliskan pada paragraf 8 “Mereka justru benci pembicaraan basa-basi yang ringan”.

      Kedua, sebagai makhluk sosial yang dinamis, kita tentu saja berubah. (Apalagi kids jaman now yang suka moody hehe). Karakter seseorang tentu berubah dari masa kecil hingga dewasa akibat interaksi dengan orang yang berbeda-beda. Every good public speakers used to be shy and quiet person. Apakah tega selalu judge seseorang sebagai introvert sampai akhir hayat dan tak mendoakan semoga dia jadi ekstrovert suatu hari nanti?

      Ketiga, dikotomi sesungguhnya dalam konteks ini adalah jurang pemaknaan antara penulis dengan pembaca. Hal ini tentu lumrah dan diperbolehkan, lah wong frame of reference dan field of experience kita berbeda. Pandangan “cara berpikir yang salah” dalam perspektif ilmu sosial hendaknya tidak dibenarkan hanya gara-gara perbedaan point of view dan titik penekanan suatu teks.

  2. Tulisan yang sangat laur biasa sebagai manusia biasa saya juga punya rasa malu , marah , bahagia ,senang , sedih.. Dan orang orang memandang saya aneh dan banyak yang bilang saya sombong tapi semua emosi saya simpan dalam hati ketika ada seseorang yang berbicara “dirimu sangat aneh” tapi apalah daya saya INTROVERT yang gak mau terlihat lebih bodoh dengan marah marah di depan umum…
    Sungguh blog yang bermanfaat bagi ku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Renungan atas Dinginnya SBY (Surabaya, maksudnya..) 0 472

Surabaya sedang dingin beberapa hari belakangan. Jika kita menuntut BMKG untuk menjelaskan fenomena ini, katanya masa-masa ini adalah ketika musim kemarau mencapai klimaksnya. Lha kok malah udaranya dingin?

Dalam istilah astronomis yang lebih teknis, udara yang bikin kita tak mau beranjak dari selimut ini konon berasal muasal dari fenomena aphelion. Terjadi satu kali dalam setahun pada kisaran Juli-Agustus gara-gara massa udara dari benua kangguru yang dingin dan kering berhembus menuju Indonesia. Pembaca sekalian tidak hanya akan dihajar hawa dingin yang bikin pengen kelonan, tapi juga hujan lebat yang akan mengguyur di beberapa kota pada bulan Juli ini.

Pedagang bakso atau wedhang ronde di Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan daerah-daerah lain di Indonesia bagian selatan mengalami nasib sama mujurnya pada masa-masa suhu rata-rata 26-27 derajat celcius ini. Sementara lapak es kepal milo – yang sempat sangat lacur itu – terpantau sepi pengunjung.

Yang paling penting dalam perubahan cuaca ini adalah menjaga kesehatan baik fisik maupun mental. Sebab pada masa ini pun, mulut kita tetap tidak bisa direm untuk sambat: “kok adhem?”. Mau diberi panas terik ngomel, katanya Surabaya adalah tempat training neraka. Pun diparingi Gusti dengan hujan yang dingin pun ngedumel.

Bukankah itu hakikat kita sebagai manusia? Terbiasa menjadi oposisi atas kemapanan apapun yang bertahta, menjadi komentator ulung, dan/atau kritikus handal – termasuk pada masalah seremeh cuaca. Kesadaran kita untuk selalu mengomentari dan tak mudah menerima keadaan sesungguhnya adalah baik. Pola berpikir kita terbiasa merespon stimulus di lingkungan sosial kita, berusaha bertahan pada posisi kehidupan yang stabil dan tenang bagai ombak di laut, atau dalam istilah arek-arek: comfort zone.

Tanpa sadar, kepusingan kita melihat politikus yang saling sepak terjang dalam mempertahankan kekuasaan adalah refleksi atas diri kita sendiri yang selalu tidak terima (atau dalam kamus-kamus agama disebut kurang bersyukur). Sebagai makhluk yang didesain tidak pernah puas, kita menciptakan dikotomi hitam-putih, baik-buruk, panas-dingin. Tetapi sekaligus melanggarnya dengan mengatakan ada range di antara setiap dua kutub: seberapa hitam-seberapa putih, seberapa baik-seberapa buruk, seberapa panas-seberapa dingin.

Pokoknya, jangan heran mengapa Rocky Gerung dan kawan-kawannya mati-matian menolak presidential threshold yang diduga diotaki barisan pendukung pemerintah. Jangan geleng-geleng kepala melihat aksi ibu mertuanya Rio Dewanto marah-marah di posko tim pencarian KM Sinar Bangun. Pun ketika rombongan Gus Ipul membubuhkan label ‘curang’ pada hasil hitung KPU yang resmi memenangkan kompetitornya, BPOM yang menolak eksistensi susu kental manis sebagai susu, atau aksi Menkominfo yang memblokir Bowo Alpenliebe dan para umat TikToknya, adalah serangkaian reaksi kita sebagai manusia.

Sudah sepatutnya kita sebagai manusia yang hidup harus selalu berkomentar, mengeluh, semata-mata untuk merawat hadirnya diskusi dan alternatif pemikiran. Terhadap segala hal yang menimpa kita, hendaknya kita selalu siap sedia menyusun argumen, menandingi kemapanan, menolak narasi yang berlaku di masyarakat, tidak tinggal diam.

Jika udara dingin yang menyelimuti Surabaya sekarang adalah suatu bentuk kemapanan, maka rakyat harus mulai menyusun amunisi, menghadirkan antitesis berharap panas datang kembali. Karena Surabaya dingin adalah sesuatu yang asing. Surabaya dan panas adalah suatu yang tiada bisa terpisahkan. Surabaya tanpa panas ibarat Jokowi tanpa sepeda, Suarez tanpa Cavani, film Indonesia tanpa Reza Rahadian, sendok tanpa garpu, ataupun aku tanpa kamu (halah).

Akhir kata, refleksi ini akan ditutup dengan motto: “Cukup udara Surabaya saja yang dingin, hatimu jangan”.

Lidah Bahasa Lokal pada Pilgub Jatim 0 246

Pada 27 Juni, segala pertarungan di 171 daerah di Indonesia telah mengalami puncaknya. Segenap mesin partai hanya tinggal berdoa dan berjaga di tiap TPS, sementara si ‘tokoh utama’ (maksudnya para calon pemimpin daerah) justru siap menghadapi pertarungan selanjutnya – antara bersiap menduduki puncak pimpinan atau melawan rasa kekecewaan menerima kekalahan.

Penulis ingin sedikit kilas balik ke masa debat Pilgub Jatim digelar untuk terakhir kalinya 23 Juni silam. Dalam debat terbuka pamungkas tersebut, seperti biasa pasangan Khofifah-Emil dan Gus Ipul-Puti saling berseteru, khususnya mengulik habis tata kelola pemerintahan dan pelayanan publik.

Pertarungan yang masih tetap seru seperti debat-debat sebelumnya lantas sempat membuat rakyat menghadapi dilema. Mau menjadi saksi debat calon pemimpinnya atau Belgia vs Tunisia yang berlaga dari lapangan rumput Moskow.

Jika pilihan pembaca jatuh pada tontonan engkel-engkelan pucuk teratas pasukan Wis Wayahe vs Kabeh Sedulur, pembaca tentu turut menyaksikan sesi terakhir debat menggunakan bahasa Jawa. Barangkali, Mbak Brigita Manohara, sang moderator, tak punya masalah dalam membacakan pertanyaan. Lidah doi tentu fasih, apalagi menurut pengakuannya yang pernah membawakan berita berbahasa Jawa Timur-an sebelumnya.

Yang jadi soal tentu bagi para peserta yang sedang berlaga. Bagi Mas ‘Ganteng’ Emil Elestianto Dardak dan Mbak Puti Guntur Soekarno yang tak bisa memungkiri takdir sebagai pendatang dari Jakarta, lebih baik memilih diam seribu bahasa. Percayakan saja kepada para calon gubernur, Khofifah yang asli Surabaya dan Saifullah Yusuf kelahiran Pasuruan. Tentu beliau berdua bagai mobil meluncur di jalan tol jika sudah bersentuhan dengan bahasa lokal Jawa Timur.

Namun, sayang disayang, ekspetasi muluk-muluk yang demikian harus dikurung rapat. Nyatanya Khofifah dan Gus Ipul nampak cukup kesulitan menjelentrehkan ide mereka dengan bahasa lokal yang baik dan benar. Bahasa Indonesia atau ‘gado-gado’ antara krama dan ngoko harus terselip di tengah-tengahnya.

Kita tentu tidak boleh suudzon dan terlalu dini menjatuhkan vonis negatif terhadap mereka. Tentu ada banyak faktor yang membuat pembaca harus mengapresiasi betul segala upaya yang dikeluarkan keduanya ketika menjawab pertanyaan. Banyak penyebab pula yang melatarbelakangi kebingungan keduanya dalam merangkai kata.

Pertama, sudah terlalu lama kemampuan berbahasa lokal disimpan rapat dalam peti harta karun keduanya. Khofifah sendiri sudah mengadu nasib di perpolitikan Jakarta sejak tahun 90an sebagai anggota DPR hingga menteri. Gus Ipul pun tak jauh berbeda. Sebelum menjalani dua periodenya mendampingi Pakde Karwo di JaTim, dirinya juga beradu di Senayan dan mendapuk jabatan menteri.

Selain itu, selalu berkecimpung di ranah formal, rapat kenegaraan, sambutan, pidato, hingga tampil di layar kaca nasional tidak pernah mengasah kembali kemampuan berbahasa lokal ini. Tak apalah jika lupa sedikit-sedikit!

Kedua, para calon gubernur ini barangkali bingung menentukan bahasa Jawa mana yang harus dipergunakan. Apakah dialek Arekan atau Kulonan. Apakah berbahasa yang berkiblat Madura, atau memihak Tengger, Kangean, Osing yang cukup minor penggunanya. Iya, bahasa Jawa Timur sendiri sudah beraneka ragamnya.

Lantas, bahasa mana yang harus digunakan dalam ajang ‘unjuk gigi’ untuk menarik hati 38 juta umat Jawa Timur? Dialek mana yang sekiranya sungguh merepresentasikan Jawa Timur banget dan tidak membuat penutur lainnya iri hati? Sekali salah pilih, netjien yang maha-tahu tentu habis-habisan menghujat. Aih, susah nian mau jadi gubernur!

Di luar itu, yang menjadi perhatian bagi kita semua adalah wacana membawa bahasa lokal dalam debat publik Pilkada. Penulis secara pribadi melihat sesi berbahasa lokal harus selalu dimasukkan sebagai salah satu sesi, seperti yang diawali Pilgub Jatim.

Bagaimana tidak, kemahiran berbahasa lokal juga turut membuktikan apakah benar calon pemimpin yang digadang adalah asli putra daerah. Ah, tapi trennya sekarang kan plotting calon pemimpin berdasarkan kapasitas dan sekenanya partai politik. Jadi, coba kita geser ke alasan berikutnya.

Kemampuan berbahasa lokal yang ditunjukkan dalam debat publik sesungguhnya juga mencerminkan hasil pendekatan calon pemimpin dengan yang akan dipimpinnya 5 tahun ke depan. Bahasa Indonesia formal, apalagi ditambah penjelasan data angka yang njelimet dalam debat barangkali hanya bisa dipahami masyarakat kota dan manusia-manusia berpendidikan. Lalu, pada siapa tanggung jawab harus dilemparkan untuk menjelaskan janji kampanye kepada rakyat kecil di pedesaan yang gak teteh berbahasa Indonesia? Apakah tim sukses kampanye? Apakah Ivan Lanin? Apakah superhero yang mati di Infinity War?

Hanya bahasa lokal lah yang dapat menjembatani apa maunya mbah-mbah di rumah reyot tak berlistrik pelosok desa sana dengan janji manis calon pemimpin daerah. Jika tak pakai bahasa lokal, dengan apakah para calon pemimpin ini mendekati rakyat? Apakah dengan kaos dan stiker? Apakah dengan Via Vallen dan Anang Hermansyah? Apakah dengan ‘uang kaget’ ketika fajar menyingsing?

Dalam hemat penulis, kemampuan bersilat lidah di panggung debat publik memang perlu. Apalagi kemampuan merangkai bunga bahasa dalam barisan visi misi, jangan sampai absen. Tambahkanlah kemampuan menguasai bahasa lokal sebagai bekal. Hati pakdhe dan bulik manakah yang tak berhasil dipanah jika para calon penguasa ini mampu ngopi bareng sambil bertutur bahasa sehari-hari mereka?

Editor Picks