Segala Bentuk Maaf untuk Mereka yang Introvert 5 6596

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Sebagai makhluk bumi dengan strata tertinggi yang dikaruniai akal budi, kita hendaknya punya sikap pemaaf layaknya Sang Pencipta. Jika disakiti sesama, jangan cepat marah, maafkanlah! Jika dikhianati pacar, maafkanlah! Jika bertemu orang introvert, maafkanlah!

Untuk yang terakhir, sungguh tiada perilaku lain yang lebih patut ketimbang memaklumi dan memaafkan. Menghadapi orang introvert sama rumitnya dengan kesialan kita bertemu emak-emak naik motor matic di jalanan ruwet Surabaya. Sebab, we never walked in their shoes. Kan, kita tidak akan pernah bisa memahami orang introvert untuk SELAMANYA.

Pun fenomena introvert setelah ditemukan paparan teorinya oleh psikolog Carl Gustav Jung asal Swiss, mendadak jadi pengampunan bagi mereka yang merasa bagian dari squad ini. Secara ringkas, introvert adalah sikap atau karakter seseorang yang secara dominan berorientasi subjektif dalam menjalani kehidupan. Pendeknya, kelompok manusia dalam kategori ini umumnya menyukai suasana sepi yang dapat membuat mereka lebih tenang dan dapat berkontemplasi. Secara sempit pula, introvert adalah manusia-manusia yang lemah letih lesu akan keramaian dan kerumunan orang banyak.

Seperti sebuah sabda dari papa Setnov, orang-orang yang merasa serupa dengan ciri-ciri ini keroyokan mengklaim dirinya sebagai introvert. Mereka yang tak percaya diri tampil di depan, berkenalan dengan orang baru, mencoba hal menantang, pun bersosialisasi secara pendek pikir mengamini dirinya tergolong introvert, tanpa membantah sedikit pun.

Parahnya, kelompok ini merasa diakuisi dan diwadahi, mendadak jadi gerakan besar kepada seluruh dunia “Hei, aku ini introvert. Tolong pahami aku!” sebagai radikalisme mirip aksi 212 yang sungguh hebat. Membuat semua orang harus mundur selangkah dan membungkuk, demi memaklumi orang introvert agar tidak dipaksa bereksplorasi atau masuk dalam lingkungan pertemanan baru.

Dalam versi yang lebih akut, netijen yang anti-sosial dan pemalu ikut-ikutan mengantre dalam daftar orang introvert. Introvert mendadak jadi elite yang dihargai. Introvert tiba-tiba jadi idola yang dianggap idealis: mencari inspirasi dalam keheningan. Intovert menjadi puja-puja yang diakui setingkat lebih mulia ketimbang dua karakter lainnya: ektrovert dan ambivert.

Dalam penjelasan lebih lanjut, introvert yang dimaksudkan tidak seartifisial yang dianut kids jaman now. Introvert memang menyukai kesendirian, dengan tujuan refleksi diri dan produktivitas tak terkira. Dalam kesepian itu, si introvert cenderung suka pekerjaan-pekerjaan analisa dan pemecahan masalah yang rumit.

Si pemalu dan orang yang mapan dengan comfort zone adalah tipe-tipe yang justru ditendang dari agama introvert. Walau tak suka bersosialisasi, bukan berarti introvert anti terhadap interaksi. Ia tetap suka bepergian dalam kelompok kecil, berkenalan dengan orang-orang baru, bahkan berdiskusi secara substantif. Mereka justru benci pembicaraan basa-basi yang ringan.

Dalam kesendiriannya, bisa jadi para introvert selangkah lebih maju dari Anda sekalian. Mereka mengolah pengetahuan dan mencari jalan keluarnya, bukan mendhem sampe gendheng. Mengatakan introvert tak mau berkembang adalah kesalahan fatal. Berkebalikan dengan si ekstrovert yang suka mencari pengatahuan baru lewat jejaringnya, introvert menggali pembelajaran itu dalam kesendiriannya.

Dalam segala kebisuannya, jangan pernah khawatir introvert akan kerasukan makhluk halus. Ia memang jadi minoritas dalam interaksi kelompok ramai, tetapi ia menjadi pengamat keadaan. Mendadak, hasil observasinya jadi karya tulis, lirik lagu, atau naskah film pendek yang tidak Anda duga-duga.

Begitu ideal dan susahnya manusia hingga benar-benar dapat diwisuda sebagai introvert. Ironisnya, begitu mudah kawan-kawan sejawat kita mencap dirinya sebagai introvert. Jika introvert adalah sebuah kapal pesiar, sudah barang pasti banyak penumpang gelapnya.

Selain itu, adapun tesis yang dibangun C.G. Jung dengan susah payah ini kini menjelma jadi pengkotak-kotakan manusia. Dalam menilai seseorang, kita secara suka rela menjadi eksekutor teori ini, dalam sukma bicara sendiri “Orang ini termasuk introvert, ekstrovert, atau ambivert ya?”.

Di saat yang bersamaan pula, secara bodoh dan dengan kerelaan hati yang polos, kita menaati hukum alam tentang pengelompokan tiga kategori ini. Kita lebih banyak percaya menjadi bagian dari salah satu kategori saja, tanpa pernah berusaha keluar dari kotak tersebut. Sekali introvert, tetap introvert!

Padahal, dalam perkembangan psikologis manusia, seseorang tak hanya dipengaruhi oleh faktor personal, namun juga situasional. Bagaimana kita bersikap dipengaruhi oleh lawan bicara. Kita sebagai manusia dengan otak cerdas secara mudah mampu menghadapkan diri dalam berbagai situasi. Kita secara cair dapat mengubah diri menjadi introvert, lalu ekstrovert, lalu ambivert sesuai dengan kebutuhan.

Sayangnya, kita seringkali mudah percaya dan menelan bulat-bulat sebuah teori sebagai kebenaran mutlak. Kesempitan dalam melihat suatu fenomena hanya dari satu sudut pandang membuat kita terus menerus dibodohi oleh penggolongan introvert-ekstrovert-ambivert yang kaku ini.

Tapi, di luar ini semua, buat yang beneran introvert, mari beramai-ramai kita berikan maaf. Apalagi bagi mereka yang sok-sokan introvert…. ah, sudahlah.

Previous ArticleNext Article

5 Comments

  1. Hell… Bill Gates introvert, Lincoln introvert, Einstein introvert, Gandhi introvert… Walaupun itu nggak ngegambarin apa pun, seengaknya bisa jadi inspirasi, bahan merenung soal pentingnya ketenangan pikiran, introvert nggak butuh bullshit, kalo mau deep talk yha monggo yg penting kan soal pemahaman hidup bukan cuma hal2 superfisial belaka.
    Buat point yg ‘bisa berubah sesuai kondisi’ yakali bunglon?!
    Kita ini sebenarnya perlu hati2 soal dikotomi, karena dikotomi yg salah efeknya adalah cara berpikir yg salah.

    1. Halo, terima kasih sudah membaca Kalikata!

      Pertama, terima kasih sudah turut memberi contoh orang-orang yang (katanya) termasuk introvert. Sekaligus juga terima kasih sudah mengafirmasi pendapat penulis yang sudah dituliskan pada paragraf 8 “Mereka justru benci pembicaraan basa-basi yang ringan”.

      Kedua, sebagai makhluk sosial yang dinamis, kita tentu saja berubah. (Apalagi kids jaman now yang suka moody hehe). Karakter seseorang tentu berubah dari masa kecil hingga dewasa akibat interaksi dengan orang yang berbeda-beda. Every good public speakers used to be shy and quiet person. Apakah tega selalu judge seseorang sebagai introvert sampai akhir hayat dan tak mendoakan semoga dia jadi ekstrovert suatu hari nanti?

      Ketiga, dikotomi sesungguhnya dalam konteks ini adalah jurang pemaknaan antara penulis dengan pembaca. Hal ini tentu lumrah dan diperbolehkan, lah wong frame of reference dan field of experience kita berbeda. Pandangan “cara berpikir yang salah” dalam perspektif ilmu sosial hendaknya tidak dibenarkan hanya gara-gara perbedaan point of view dan titik penekanan suatu teks.

  2. Tulisan yang sangat laur biasa sebagai manusia biasa saya juga punya rasa malu , marah , bahagia ,senang , sedih.. Dan orang orang memandang saya aneh dan banyak yang bilang saya sombong tapi semua emosi saya simpan dalam hati ketika ada seseorang yang berbicara “dirimu sangat aneh” tapi apalah daya saya INTROVERT yang gak mau terlihat lebih bodoh dengan marah marah di depan umum…
    Sungguh blog yang bermanfaat bagi ku

  3. saya setuju pada bagian introvert yang diibaratkan sebagai kapal pesiar maka akan banyak penumpang gelap didalam nya. Menurut beberapa research yg sy dapati di web psikologi ,bahwa penghuni intro hanya ada beberapa persen didunia. Dan sy justeru terkejut karena banyak nya orang yang mengaku dirinya introvert hanya karena merasa cocok. Sy membaca artikel sekaligus bbrp komentar disini dan sy hanya ingin mengeluarkan isi pikiran sy yg diniatkan akan panjang. Didunia ini tdk ada kepribadian yang ‘lebih baik’ dr kepribadian yg lain. Karena masing² pribadi seseorang punya kadar intro dan ekstro nya, hanya saja kita perlu memastikan mana yg lebih besar. Jadi tak perlu kita mendoakan orang intro agar menjadi ekstro, kesan nya intro itu tidak lebih baik dr ekstro dan merupakan sebuah keburukan yg hrs diubah begitupan sebaliknya.Toh, di dunia ini tak ada manusia yg 100% intro dan ekstro.Masalah sifat,karakter,dan kepribadian sendiri saya mendapati bahwa hal diatas ‘cenderung’tak bisa diubah kecuali dgn perubahan yg berakibat besar dlm hidup seseorang . Kita mengakui bahwa es itu dingin, maka kita sepakat bahwa yang sesifat dengan es kita sebut itu dingin. . tp yg dingin tidak selalu es.Begitu juga dgn api yang sifat nya panas (kecuali api yg membakar nabi Ibrahim🤔) maka apapun yang sesifat dgn api kita sebut panas, tapi yg panas tidak melulu api. Begitu juga pada qualifikasi intro dan ekstro. Fyi, tdk sengaja saya pernah membaca bahwa seseorang dikatakan intro dan ekstro terletak pada cara me-recharge energy dan cara kerja otak yang berbeda pd seseorang(sy pikir readers sekalian jg sdh tau) Orang intro bukan nya tdk bisa spt ekstro, mereka bisa public speaking , mereka bisa bergaul di tempat ramai walau hanya sekedar tuntutan lingkungan kerja. Mereka bisa! Hanya saja energy dan kinerja otak para introverts yg berbeda dgn ekstro yg terkadang harus menarik para introverts ke tempat dimana seharusnya ia berada. Pada akhirnya keheningan dan ‘ me time’ lah yg jadi favorit bagi para introverts. Jika melihat teori kepribadian MBTI introvert dan ekstrovert sangat luas. Baik intro atau ekstro nyatanya bisa saling melakukan kebiasaan antara keduanya, tp ini bukan berarti sebuah keberhasilan merubah kepribadian diantara mereka.

  4. Aku dulunya sangat ekstrovert, mendadak menjadi introvert ketika masuk di perguruan tinggi swasta yg mahasiswanya kaya dan penuh dengan drama. Tapi aku nyaman menjadi introvert disini. Berbeda lagi kalau diluar kuliah, ditempat yg berbeda, dikomunitas yg berbeda aku bisa jadi ekstrovert lagi.. Karena aku merasa tidak menjadi minoritas dan tidak terintimidasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kebiasaan Aneh Peserta Webinar (dan Berikut Panitianya) 0 270

Di suatu akhir pekan, pagi hari, saya mengikuti sebuah webinar karena tuntutan pekerjaan. Saya diwajibkan meliput berdasarkan suatu topik yang masih ada hubungannya dengan Covid-19, yang mana pekerjaan ini tentu sudah menjadi sangat jamak di masa pandemi ini.

Dari satu ruang ke ruang lain, dari satu bahasan ke bahasan lain, ada sejumlah kebiasaan peserta onlen yang saya perhatikan selalu bisa ditemui di seluruh webinar. Walau tak seperti pertemuan seminar tatap muka, kolom live chat yang disajikan di platform online sangat memungkinkan peserta saling berinteraksi  dan mengajukan pernyataan kepada admin pembuat pertemuan. Nah, di sanalah, lahir beberapa pola aktivitas yang setidaknya ingin digambarkan penulis sebagai berikut.

Pertama, dalam webinar dalam skala partisipan yang luas, tingkat nasional misalnya, akan banyak sekali peserta yang bergabung. Mereka biasanya dengan sukarela melakukan absen tanpa diminta panitia. Biasanya formatnya akan berupa: nama lengkap – kalau bisa diikuti dengan serenteng gelar dan jabatan, nama instansi yang dicantumkan dengan penuh rasa bangga, lalu diakhiri dengan kata “hadir” atau “izin menyimak”.

Penulis habis pikir sebenarnya apa maksud dan tujuan absensi ini. Mungkin secara teknis, panitia acara butuh melakukan pengukuran terhadap segmentasi peserta yang hadir, demi urusan administrasi dan cairnya uang negara – jika webinar adalah acara pemerintahan dengan anggaran negara yang harus dipertanggungjawabkan. Tapi, ada beberapa webinar yang sesungguhnya tak mengharuskan partisipan melakukan absensi.

Mungkin, Mbah Abraham Maslow benar soal teorinya hierarchy of needs. Dalam dua kebutuhan manusia yang terakhir, setelah kebutuhan pokoknya terpenuhi, adalah pentingnya pengakuan dari orang lain. Menunjukkan eksistensi, dengan kebanggaan jabatan dan nama besar instansi yang diwakili, mungkin digunakan untuk membayar gengsi dan harga diri di kolom live chat.

Mungkin hal ini tak bisa dipenuhi oleh mereka yang suka “pamer” di seminar tatap muka. Mereka yang punya kebiasaan bertanya, berpendapat di muka umum, mencari muka di depan narasumber, tak dapat melakukannya lagi di kala pandemi menghalangi pertemuan-pertemuan. Kolom live chat inilah yang barangkali memenuhi kehausan mereka ini.

Harapannya sih, kebutuhan mendapat pengakuan ini tak hanya berhenti di sini. Ada baiknya, penyebutan nama dan gelar serta nama lembaga itu menjadi awal mula diskusi sehat di kolom chat. Inilah kebutuhan tertinggi manusia menurut Maslow: aktualisasi diri. Ia bukan sekadar menunjukkan diri, tapi berusaha mengembangkan potensi, sehingga nantinya mencapai pemenuhan karakter, kepekaan terhadap kebenaran, keindahan, keadilan, dan sebagainya secara paripurna.

Kedua, yang tak kalah mengherankannya adalah jika gelar dan jabatan dalam instansi tempat bekerja tak bisa jadi kebangaan, paling tidak peserta biasanya menyebut “salam dari…” diikuti kota asal. Nah, yang satu ini juga tak tahu apa juntrungannya. Apa mungkin ini adalah buah dari etnosentrisme yang ada dalam habitus bangsa ini? Yang walaupun disatukan oleh Pancasila dan Sumpah Pemuda, tapi tetap ada suatu kebanggaan berlebih akan daerah asal atau kota kelahiran. Muaranya, tak jarang adalah “reuni” himpunan-himpunan perantau secara virtual.

Atau bisa jadi absensi nama dan kota asal ini justru memberi makan harga diri panitia penggelar webinar. Seakan-akan webinar dan berikut manfaat dari materi yang dibawakannya, telah didengar seluruh perwakilan dari Sabang sampai Merauke. Padahal, pun satu-dua orang yang mengaku berasal dari daerah tertentu, belum tentu bisa menjadi perwakilan karakteristik dan suara daerah yang bersangkutan.

Ketiga, jarang sekali ada komentar mengapresiasi konten atau penggelar acara yang sudah bersusah-payah memungkinkan webinar terjadi di dunia maya. Kalaupun ada, biasanya paling banter ya mek “Alhamdulillah, materinya keren sekali. Terima kasih pemateri dan panitia!”

Padahal, webinar seharusnya sama marwahnya seperti seminar tatap muka. Peserta seharusnya tak sekadar hadir, tapi terlibat dalam diskusi aktif agar materi yang disampaikan bukan hanya deklarasi yang cukup di telinga saja. Materi dalam webinar adalah wacana yang masih bisa diperdebatkan.

Namun, karena keterbatasan durasi dan sempitnya ruang diskusi yang disediakan para penggelar webinar, atau mungkin hanya formalitas “pokoknya ada acara buat ngabisin anggaran 2020”, kolom chat adalah tempat yang kering ilmu dan dinamika.

Katanya, teknologi komunikasi kita, media sosial kita ini, adalah wadah member kesempatan mereka yang selama ini tak punya akses bicara. Nyatanya, webinar tak ubahnya seminar dan media mainstream kita. Hanya mereka yang punya nama, jabatan, keahlian, dan modal, yang bisa bicara sebagai narasumber. Sisanya, kita-kita para netijen budiman cuma bisa numpang “absen” di kolom live chat.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

 

Ruwetnya Kerja dengan Orang Jawa 0 528

Jika pembaca sedang melamar pekerjaan dan mengetahui bos Anda adalah orang Jawa, atau Anda sebagai atasan dan seorang pelamar kerja imut-imut bau kencur yang akan jadi bawahan adalah orang Jawa, sebaiknya mengambil ancang-ancang 10 ribu kali. Jika perlu, berpuasalah 3 siang-malam untuk mendapat ilham cara bertahan hidup ke depannya.

Bekerjasama dengan orang Jawa itu ruwet. Ini adalah keniscayaan.

Sebab, (kami) orang Jawa adalah suatu suku di muka bumi ini yang diberi kelebihan oleh Sang Kuasa sebagai orang-orang perasa.

Kami sarankan kepada para bos, mohon kalau bicara atau memberi perintah jangan sambil berteriak. Usahakan volume suara Anda tetap dalam tataran normal ke sedang, tidak terlalu pelan untuk bisa didengar, namun juga tidak terlalu kencang sampai membuat jantung copot. Sebab mendengar suara bos membentak-bentak membuat hati kami ciut, terlepas dari karakter vokal dan kebiasaan sehari-hari sang pemilik suara.

Selain berteriak, bos-bos yang hobi bicara lembut tapi nyelekit juga suatu tantangan bagi kami. Walau mungkin konteks pembicaraan adalah dalam lingkup profesionalitas kerja, tanpa menyinggung persona, kami akan menyimpannya dalam hati dan kepikiran sampai berhari-hari. Secuil kesalahan kami yang dikoreksi atasan dengan kritikan pedas, rasanya seperti telah memporak-porandakan seluruh imej dan karir.

Kami peringatkan juga untuk para bos agar cukup tegar hatinya. Karena kami, para pegawai kelas menengah akan kerap ngrasani di belakang. Kami tak punya cukup nyali untuk berargumen di depan bos. Alasannya, tentu karena kami sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh bersikap dengan atasan. Sebaliknya, kami terbiasa mbendol mburi. Cacat-cela – sekecil apapun – akan menjadi bahan rasan-rasan kami ketika ngopi bareng.

Sesungguhnya, selain dengan bos, keruwetan itu juga terjadi dalam hubungan yang sederajat. Dalam berbagai proyek, kami dituduh klemar-klemer. Kalian perlu tahu, wahai fellow buruh bayaran, ini bukan karena kami tak tangkas bekerja, tapi karena mengutamakan kehati-hatian. Kami berpikir sebelum bicara, bukannya gamang. Penuh perhitungan sebelum bertindak, bukan bimbang.

Persoalan pelik lain dengan sesama karyawan, tentu saja perihal penggunaan bahasa. Padahal komunikasi yang baik adalah koentji kekompakan dalam lingkungan kerja. Namun, tak jarang kami kesulitan menerjemahkan maksud kami ke dalam bahasa Indonesia atau bahasa gaul lain yang bisa dipahami secara nasional.

Terkadang yang ada di otak maunya melontarkan satu kalimat utuh atau pendeskripsian situasi dalam bahasa Jawa, tapi sadar betul bahwa lawan bicara kemungkinan besar tak akan mengerti. Butuh setidaknya 5 detik supaya otak dapat meng-google-translate­-kannya. Jangan heran bila dalam percakapan sehari-hari, ada jeda waktu yang tercipta dari antara jawaban-ke-jawaban yang keluar dari mulut kami. Tentu, proses internal kami memakan waktu dan tenaga yang tak sedikit.

Lha wong buat ngobrol biasa saja kami ngos-ngosan beradaptasi, apalagi mau bercanda.

Beberapa permasalahan yang telah dijabarkan di atas, belum termasuk fakta-fakta di lapangan bagi kami yang bekerja di ibu kota. Mendengar logat kami yang khas, dengan penekanan huruf mati yang muanteb (baca: medhok), sesama karyawan biasanya akan bertanya “Asalnya dari mana? Dari Jawa ya?”

Entah apa maksud pertanyaan ini, benar ingin tahu atau menertawakan logat kami yang unik. Pun pertanyaan ini sungguh lucu dan menampik kenyataan bahwa ia, yang bertanya, dan tempat kami berdiri ini, juga namanya Pulau Jawa.

Tapi tak mengapa. Pengalaman yang terakhir itu wajar adanya. Sama seperti gaya bicara ke-Jakarta-jakarta-an yang terdengar di tongkrongan tempat asal saya, yang terdengar asing dan menggemaskan.

Oh iya, di Pulau Jawa yang maha-sempit namun sok-sokan menjadi pusat dunia ini, ada beragam variasi orang Jawa dengan segala kelakuannya di tempat kerja. Barangkali, yang tertulis di sini adalah kisah satu jenis orang Jawa saja.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks