Segala Bentuk Maaf untuk Mereka yang Introvert 5 7174

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Sebagai makhluk bumi dengan strata tertinggi yang dikaruniai akal budi, kita hendaknya punya sikap pemaaf layaknya Sang Pencipta. Jika disakiti sesama, jangan cepat marah, maafkanlah! Jika dikhianati pacar, maafkanlah! Jika bertemu orang introvert, maafkanlah!

Untuk yang terakhir, sungguh tiada perilaku lain yang lebih patut ketimbang memaklumi dan memaafkan. Menghadapi orang introvert sama rumitnya dengan kesialan kita bertemu emak-emak naik motor matic di jalanan ruwet Surabaya. Sebab, we never walked in their shoes. Kan, kita tidak akan pernah bisa memahami orang introvert untuk SELAMANYA.

Pun fenomena introvert setelah ditemukan paparan teorinya oleh psikolog Carl Gustav Jung asal Swiss, mendadak jadi pengampunan bagi mereka yang merasa bagian dari squad ini. Secara ringkas, introvert adalah sikap atau karakter seseorang yang secara dominan berorientasi subjektif dalam menjalani kehidupan. Pendeknya, kelompok manusia dalam kategori ini umumnya menyukai suasana sepi yang dapat membuat mereka lebih tenang dan dapat berkontemplasi. Secara sempit pula, introvert adalah manusia-manusia yang lemah letih lesu akan keramaian dan kerumunan orang banyak.

Seperti sebuah sabda dari papa Setnov, orang-orang yang merasa serupa dengan ciri-ciri ini keroyokan mengklaim dirinya sebagai introvert. Mereka yang tak percaya diri tampil di depan, berkenalan dengan orang baru, mencoba hal menantang, pun bersosialisasi secara pendek pikir mengamini dirinya tergolong introvert, tanpa membantah sedikit pun.

Parahnya, kelompok ini merasa diakuisi dan diwadahi, mendadak jadi gerakan besar kepada seluruh dunia “Hei, aku ini introvert. Tolong pahami aku!” sebagai radikalisme mirip aksi 212 yang sungguh hebat. Membuat semua orang harus mundur selangkah dan membungkuk, demi memaklumi orang introvert agar tidak dipaksa bereksplorasi atau masuk dalam lingkungan pertemanan baru.

Dalam versi yang lebih akut, netijen yang anti-sosial dan pemalu ikut-ikutan mengantre dalam daftar orang introvert. Introvert mendadak jadi elite yang dihargai. Introvert tiba-tiba jadi idola yang dianggap idealis: mencari inspirasi dalam keheningan. Intovert menjadi puja-puja yang diakui setingkat lebih mulia ketimbang dua karakter lainnya: ektrovert dan ambivert.

Dalam penjelasan lebih lanjut, introvert yang dimaksudkan tidak seartifisial yang dianut kids jaman now. Introvert memang menyukai kesendirian, dengan tujuan refleksi diri dan produktivitas tak terkira. Dalam kesepian itu, si introvert cenderung suka pekerjaan-pekerjaan analisa dan pemecahan masalah yang rumit.

Si pemalu dan orang yang mapan dengan comfort zone adalah tipe-tipe yang justru ditendang dari agama introvert. Walau tak suka bersosialisasi, bukan berarti introvert anti terhadap interaksi. Ia tetap suka bepergian dalam kelompok kecil, berkenalan dengan orang-orang baru, bahkan berdiskusi secara substantif. Mereka justru benci pembicaraan basa-basi yang ringan.

Dalam kesendiriannya, bisa jadi para introvert selangkah lebih maju dari Anda sekalian. Mereka mengolah pengetahuan dan mencari jalan keluarnya, bukan mendhem sampe gendheng. Mengatakan introvert tak mau berkembang adalah kesalahan fatal. Berkebalikan dengan si ekstrovert yang suka mencari pengatahuan baru lewat jejaringnya, introvert menggali pembelajaran itu dalam kesendiriannya.

Dalam segala kebisuannya, jangan pernah khawatir introvert akan kerasukan makhluk halus. Ia memang jadi minoritas dalam interaksi kelompok ramai, tetapi ia menjadi pengamat keadaan. Mendadak, hasil observasinya jadi karya tulis, lirik lagu, atau naskah film pendek yang tidak Anda duga-duga.

Begitu ideal dan susahnya manusia hingga benar-benar dapat diwisuda sebagai introvert. Ironisnya, begitu mudah kawan-kawan sejawat kita mencap dirinya sebagai introvert. Jika introvert adalah sebuah kapal pesiar, sudah barang pasti banyak penumpang gelapnya.

Selain itu, adapun tesis yang dibangun C.G. Jung dengan susah payah ini kini menjelma jadi pengkotak-kotakan manusia. Dalam menilai seseorang, kita secara suka rela menjadi eksekutor teori ini, dalam sukma bicara sendiri “Orang ini termasuk introvert, ekstrovert, atau ambivert ya?”.

Di saat yang bersamaan pula, secara bodoh dan dengan kerelaan hati yang polos, kita menaati hukum alam tentang pengelompokan tiga kategori ini. Kita lebih banyak percaya menjadi bagian dari salah satu kategori saja, tanpa pernah berusaha keluar dari kotak tersebut. Sekali introvert, tetap introvert!

Padahal, dalam perkembangan psikologis manusia, seseorang tak hanya dipengaruhi oleh faktor personal, namun juga situasional. Bagaimana kita bersikap dipengaruhi oleh lawan bicara. Kita sebagai manusia dengan otak cerdas secara mudah mampu menghadapkan diri dalam berbagai situasi. Kita secara cair dapat mengubah diri menjadi introvert, lalu ekstrovert, lalu ambivert sesuai dengan kebutuhan.

Sayangnya, kita seringkali mudah percaya dan menelan bulat-bulat sebuah teori sebagai kebenaran mutlak. Kesempitan dalam melihat suatu fenomena hanya dari satu sudut pandang membuat kita terus menerus dibodohi oleh penggolongan introvert-ekstrovert-ambivert yang kaku ini.

Tapi, di luar ini semua, buat yang beneran introvert, mari beramai-ramai kita berikan maaf. Apalagi bagi mereka yang sok-sokan introvert…. ah, sudahlah.

Previous ArticleNext Article

5 Comments

  1. Hell… Bill Gates introvert, Lincoln introvert, Einstein introvert, Gandhi introvert… Walaupun itu nggak ngegambarin apa pun, seengaknya bisa jadi inspirasi, bahan merenung soal pentingnya ketenangan pikiran, introvert nggak butuh bullshit, kalo mau deep talk yha monggo yg penting kan soal pemahaman hidup bukan cuma hal2 superfisial belaka.
    Buat point yg ‘bisa berubah sesuai kondisi’ yakali bunglon?!
    Kita ini sebenarnya perlu hati2 soal dikotomi, karena dikotomi yg salah efeknya adalah cara berpikir yg salah.

    1. Halo, terima kasih sudah membaca Kalikata!

      Pertama, terima kasih sudah turut memberi contoh orang-orang yang (katanya) termasuk introvert. Sekaligus juga terima kasih sudah mengafirmasi pendapat penulis yang sudah dituliskan pada paragraf 8 “Mereka justru benci pembicaraan basa-basi yang ringan”.

      Kedua, sebagai makhluk sosial yang dinamis, kita tentu saja berubah. (Apalagi kids jaman now yang suka moody hehe). Karakter seseorang tentu berubah dari masa kecil hingga dewasa akibat interaksi dengan orang yang berbeda-beda. Every good public speakers used to be shy and quiet person. Apakah tega selalu judge seseorang sebagai introvert sampai akhir hayat dan tak mendoakan semoga dia jadi ekstrovert suatu hari nanti?

      Ketiga, dikotomi sesungguhnya dalam konteks ini adalah jurang pemaknaan antara penulis dengan pembaca. Hal ini tentu lumrah dan diperbolehkan, lah wong frame of reference dan field of experience kita berbeda. Pandangan “cara berpikir yang salah” dalam perspektif ilmu sosial hendaknya tidak dibenarkan hanya gara-gara perbedaan point of view dan titik penekanan suatu teks.

  2. Tulisan yang sangat laur biasa sebagai manusia biasa saya juga punya rasa malu , marah , bahagia ,senang , sedih.. Dan orang orang memandang saya aneh dan banyak yang bilang saya sombong tapi semua emosi saya simpan dalam hati ketika ada seseorang yang berbicara “dirimu sangat aneh” tapi apalah daya saya INTROVERT yang gak mau terlihat lebih bodoh dengan marah marah di depan umum…
    Sungguh blog yang bermanfaat bagi ku

  3. saya setuju pada bagian introvert yang diibaratkan sebagai kapal pesiar maka akan banyak penumpang gelap didalam nya. Menurut beberapa research yg sy dapati di web psikologi ,bahwa penghuni intro hanya ada beberapa persen didunia. Dan sy justeru terkejut karena banyak nya orang yang mengaku dirinya introvert hanya karena merasa cocok. Sy membaca artikel sekaligus bbrp komentar disini dan sy hanya ingin mengeluarkan isi pikiran sy yg diniatkan akan panjang. Didunia ini tdk ada kepribadian yang ‘lebih baik’ dr kepribadian yg lain. Karena masing² pribadi seseorang punya kadar intro dan ekstro nya, hanya saja kita perlu memastikan mana yg lebih besar. Jadi tak perlu kita mendoakan orang intro agar menjadi ekstro, kesan nya intro itu tidak lebih baik dr ekstro dan merupakan sebuah keburukan yg hrs diubah begitupan sebaliknya.Toh, di dunia ini tak ada manusia yg 100% intro dan ekstro.Masalah sifat,karakter,dan kepribadian sendiri saya mendapati bahwa hal diatas ‘cenderung’tak bisa diubah kecuali dgn perubahan yg berakibat besar dlm hidup seseorang . Kita mengakui bahwa es itu dingin, maka kita sepakat bahwa yang sesifat dengan es kita sebut itu dingin. . tp yg dingin tidak selalu es.Begitu juga dgn api yang sifat nya panas (kecuali api yg membakar nabi Ibrahim🤔) maka apapun yang sesifat dgn api kita sebut panas, tapi yg panas tidak melulu api. Begitu juga pada qualifikasi intro dan ekstro. Fyi, tdk sengaja saya pernah membaca bahwa seseorang dikatakan intro dan ekstro terletak pada cara me-recharge energy dan cara kerja otak yang berbeda pd seseorang(sy pikir readers sekalian jg sdh tau) Orang intro bukan nya tdk bisa spt ekstro, mereka bisa public speaking , mereka bisa bergaul di tempat ramai walau hanya sekedar tuntutan lingkungan kerja. Mereka bisa! Hanya saja energy dan kinerja otak para introverts yg berbeda dgn ekstro yg terkadang harus menarik para introverts ke tempat dimana seharusnya ia berada. Pada akhirnya keheningan dan ‘ me time’ lah yg jadi favorit bagi para introverts. Jika melihat teori kepribadian MBTI introvert dan ekstrovert sangat luas. Baik intro atau ekstro nyatanya bisa saling melakukan kebiasaan antara keduanya, tp ini bukan berarti sebuah keberhasilan merubah kepribadian diantara mereka.

  4. Aku dulunya sangat ekstrovert, mendadak menjadi introvert ketika masuk di perguruan tinggi swasta yg mahasiswanya kaya dan penuh dengan drama. Tapi aku nyaman menjadi introvert disini. Berbeda lagi kalau diluar kuliah, ditempat yg berbeda, dikomunitas yg berbeda aku bisa jadi ekstrovert lagi.. Karena aku merasa tidak menjadi minoritas dan tidak terintimidasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 184

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 210

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks