Segala Bentuk Maaf untuk Mereka yang Introvert 5 4302

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Sebagai makhluk bumi dengan strata tertinggi yang dikaruniai akal budi, kita hendaknya punya sikap pemaaf layaknya Sang Pencipta. Jika disakiti sesama, jangan cepat marah, maafkanlah! Jika dikhianati pacar, maafkanlah! Jika bertemu orang introvert, maafkanlah!

Untuk yang terakhir, sungguh tiada perilaku lain yang lebih patut ketimbang memaklumi dan memaafkan. Menghadapi orang introvert sama rumitnya dengan kesialan kita bertemu emak-emak naik motor matic di jalanan ruwet Surabaya. Sebab, we never walked in their shoes. Kan, kita tidak akan pernah bisa memahami orang introvert untuk SELAMANYA.

Pun fenomena introvert setelah ditemukan paparan teorinya oleh psikolog Carl Gustav Jung asal Swiss, mendadak jadi pengampunan bagi mereka yang merasa bagian dari squad ini. Secara ringkas, introvert adalah sikap atau karakter seseorang yang secara dominan berorientasi subjektif dalam menjalani kehidupan. Pendeknya, kelompok manusia dalam kategori ini umumnya menyukai suasana sepi yang dapat membuat mereka lebih tenang dan dapat berkontemplasi. Secara sempit pula, introvert adalah manusia-manusia yang lemah letih lesu akan keramaian dan kerumunan orang banyak.

Seperti sebuah sabda dari papa Setnov, orang-orang yang merasa serupa dengan ciri-ciri ini keroyokan mengklaim dirinya sebagai introvert. Mereka yang tak percaya diri tampil di depan, berkenalan dengan orang baru, mencoba hal menantang, pun bersosialisasi secara pendek pikir mengamini dirinya tergolong introvert, tanpa membantah sedikit pun.

Parahnya, kelompok ini merasa diakuisi dan diwadahi, mendadak jadi gerakan besar kepada seluruh dunia “Hei, aku ini introvert. Tolong pahami aku!” sebagai radikalisme mirip aksi 212 yang sungguh hebat. Membuat semua orang harus mundur selangkah dan membungkuk, demi memaklumi orang introvert agar tidak dipaksa bereksplorasi atau masuk dalam lingkungan pertemanan baru.

Dalam versi yang lebih akut, netijen yang anti-sosial dan pemalu ikut-ikutan mengantre dalam daftar orang introvert. Introvert mendadak jadi elite yang dihargai. Introvert tiba-tiba jadi idola yang dianggap idealis: mencari inspirasi dalam keheningan. Intovert menjadi puja-puja yang diakui setingkat lebih mulia ketimbang dua karakter lainnya: ektrovert dan ambivert.

Dalam penjelasan lebih lanjut, introvert yang dimaksudkan tidak seartifisial yang dianut kids jaman now. Introvert memang menyukai kesendirian, dengan tujuan refleksi diri dan produktivitas tak terkira. Dalam kesepian itu, si introvert cenderung suka pekerjaan-pekerjaan analisa dan pemecahan masalah yang rumit.

Si pemalu dan orang yang mapan dengan comfort zone adalah tipe-tipe yang justru ditendang dari agama introvert. Walau tak suka bersosialisasi, bukan berarti introvert anti terhadap interaksi. Ia tetap suka bepergian dalam kelompok kecil, berkenalan dengan orang-orang baru, bahkan berdiskusi secara substantif. Mereka justru benci pembicaraan basa-basi yang ringan.

Dalam kesendiriannya, bisa jadi para introvert selangkah lebih maju dari Anda sekalian. Mereka mengolah pengetahuan dan mencari jalan keluarnya, bukan mendhem sampe gendheng. Mengatakan introvert tak mau berkembang adalah kesalahan fatal. Berkebalikan dengan si ekstrovert yang suka mencari pengatahuan baru lewat jejaringnya, introvert menggali pembelajaran itu dalam kesendiriannya.

Dalam segala kebisuannya, jangan pernah khawatir introvert akan kerasukan makhluk halus. Ia memang jadi minoritas dalam interaksi kelompok ramai, tetapi ia menjadi pengamat keadaan. Mendadak, hasil observasinya jadi karya tulis, lirik lagu, atau naskah film pendek yang tidak Anda duga-duga.

Begitu ideal dan susahnya manusia hingga benar-benar dapat diwisuda sebagai introvert. Ironisnya, begitu mudah kawan-kawan sejawat kita mencap dirinya sebagai introvert. Jika introvert adalah sebuah kapal pesiar, sudah barang pasti banyak penumpang gelapnya.

Selain itu, adapun tesis yang dibangun C.G. Jung dengan susah payah ini kini menjelma jadi pengkotak-kotakan manusia. Dalam menilai seseorang, kita secara suka rela menjadi eksekutor teori ini, dalam sukma bicara sendiri “Orang ini termasuk introvert, ekstrovert, atau ambivert ya?”.

Di saat yang bersamaan pula, secara bodoh dan dengan kerelaan hati yang polos, kita menaati hukum alam tentang pengelompokan tiga kategori ini. Kita lebih banyak percaya menjadi bagian dari salah satu kategori saja, tanpa pernah berusaha keluar dari kotak tersebut. Sekali introvert, tetap introvert!

Padahal, dalam perkembangan psikologis manusia, seseorang tak hanya dipengaruhi oleh faktor personal, namun juga situasional. Bagaimana kita bersikap dipengaruhi oleh lawan bicara. Kita sebagai manusia dengan otak cerdas secara mudah mampu menghadapkan diri dalam berbagai situasi. Kita secara cair dapat mengubah diri menjadi introvert, lalu ekstrovert, lalu ambivert sesuai dengan kebutuhan.

Sayangnya, kita seringkali mudah percaya dan menelan bulat-bulat sebuah teori sebagai kebenaran mutlak. Kesempitan dalam melihat suatu fenomena hanya dari satu sudut pandang membuat kita terus menerus dibodohi oleh penggolongan introvert-ekstrovert-ambivert yang kaku ini.

Tapi, di luar ini semua, buat yang beneran introvert, mari beramai-ramai kita berikan maaf. Apalagi bagi mereka yang sok-sokan introvert…. ah, sudahlah.

Previous ArticleNext Article

5 Comments

  1. Hell… Bill Gates introvert, Lincoln introvert, Einstein introvert, Gandhi introvert… Walaupun itu nggak ngegambarin apa pun, seengaknya bisa jadi inspirasi, bahan merenung soal pentingnya ketenangan pikiran, introvert nggak butuh bullshit, kalo mau deep talk yha monggo yg penting kan soal pemahaman hidup bukan cuma hal2 superfisial belaka.
    Buat point yg ‘bisa berubah sesuai kondisi’ yakali bunglon?!
    Kita ini sebenarnya perlu hati2 soal dikotomi, karena dikotomi yg salah efeknya adalah cara berpikir yg salah.

    1. Halo, terima kasih sudah membaca Kalikata!

      Pertama, terima kasih sudah turut memberi contoh orang-orang yang (katanya) termasuk introvert. Sekaligus juga terima kasih sudah mengafirmasi pendapat penulis yang sudah dituliskan pada paragraf 8 “Mereka justru benci pembicaraan basa-basi yang ringan”.

      Kedua, sebagai makhluk sosial yang dinamis, kita tentu saja berubah. (Apalagi kids jaman now yang suka moody hehe). Karakter seseorang tentu berubah dari masa kecil hingga dewasa akibat interaksi dengan orang yang berbeda-beda. Every good public speakers used to be shy and quiet person. Apakah tega selalu judge seseorang sebagai introvert sampai akhir hayat dan tak mendoakan semoga dia jadi ekstrovert suatu hari nanti?

      Ketiga, dikotomi sesungguhnya dalam konteks ini adalah jurang pemaknaan antara penulis dengan pembaca. Hal ini tentu lumrah dan diperbolehkan, lah wong frame of reference dan field of experience kita berbeda. Pandangan “cara berpikir yang salah” dalam perspektif ilmu sosial hendaknya tidak dibenarkan hanya gara-gara perbedaan point of view dan titik penekanan suatu teks.

  2. Tulisan yang sangat laur biasa sebagai manusia biasa saya juga punya rasa malu , marah , bahagia ,senang , sedih.. Dan orang orang memandang saya aneh dan banyak yang bilang saya sombong tapi semua emosi saya simpan dalam hati ketika ada seseorang yang berbicara “dirimu sangat aneh” tapi apalah daya saya INTROVERT yang gak mau terlihat lebih bodoh dengan marah marah di depan umum…
    Sungguh blog yang bermanfaat bagi ku

  3. saya setuju pada bagian introvert yang diibaratkan sebagai kapal pesiar maka akan banyak penumpang gelap didalam nya. Menurut beberapa research yg sy dapati di web psikologi ,bahwa penghuni intro hanya ada beberapa persen didunia. Dan sy justeru terkejut karena banyak nya orang yang mengaku dirinya introvert hanya karena merasa cocok. Sy membaca artikel sekaligus bbrp komentar disini dan sy hanya ingin mengeluarkan isi pikiran sy yg diniatkan akan panjang. Didunia ini tdk ada kepribadian yang ‘lebih baik’ dr kepribadian yg lain. Karena masing² pribadi seseorang punya kadar intro dan ekstro nya, hanya saja kita perlu memastikan mana yg lebih besar. Jadi tak perlu kita mendoakan orang intro agar menjadi ekstro, kesan nya intro itu tidak lebih baik dr ekstro dan merupakan sebuah keburukan yg hrs diubah begitupan sebaliknya.Toh, di dunia ini tak ada manusia yg 100% intro dan ekstro.Masalah sifat,karakter,dan kepribadian sendiri saya mendapati bahwa hal diatas ‘cenderung’tak bisa diubah kecuali dgn perubahan yg berakibat besar dlm hidup seseorang . Kita mengakui bahwa es itu dingin, maka kita sepakat bahwa yang sesifat dengan es kita sebut itu dingin. . tp yg dingin tidak selalu es.Begitu juga dgn api yang sifat nya panas (kecuali api yg membakar nabi Ibrahim🤔) maka apapun yang sesifat dgn api kita sebut panas, tapi yg panas tidak melulu api. Begitu juga pada qualifikasi intro dan ekstro. Fyi, tdk sengaja saya pernah membaca bahwa seseorang dikatakan intro dan ekstro terletak pada cara me-recharge energy dan cara kerja otak yang berbeda pd seseorang(sy pikir readers sekalian jg sdh tau) Orang intro bukan nya tdk bisa spt ekstro, mereka bisa public speaking , mereka bisa bergaul di tempat ramai walau hanya sekedar tuntutan lingkungan kerja. Mereka bisa! Hanya saja energy dan kinerja otak para introverts yg berbeda dgn ekstro yg terkadang harus menarik para introverts ke tempat dimana seharusnya ia berada. Pada akhirnya keheningan dan ‘ me time’ lah yg jadi favorit bagi para introverts. Jika melihat teori kepribadian MBTI introvert dan ekstrovert sangat luas. Baik intro atau ekstro nyatanya bisa saling melakukan kebiasaan antara keduanya, tp ini bukan berarti sebuah keberhasilan merubah kepribadian diantara mereka.

  4. Aku dulunya sangat ekstrovert, mendadak menjadi introvert ketika masuk di perguruan tinggi swasta yg mahasiswanya kaya dan penuh dengan drama. Tapi aku nyaman menjadi introvert disini. Berbeda lagi kalau diluar kuliah, ditempat yg berbeda, dikomunitas yg berbeda aku bisa jadi ekstrovert lagi.. Karena aku merasa tidak menjadi minoritas dan tidak terintimidasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Renungan Jelang Lepas Kampus 0 163

Setidaknya selama empat tahun lebih sedikit saya sudah menghabiskan waktu di kampus. Melewati banyak cerita-cerita romantik nan dramatik. Kesemuanya itu dikemas dalam tema-tema yang beragam; mulai dari modus politik, organisasi, diskusi intelektual, dan sebagainya-dan sebagainya.

Kalau digelar kembali peta kenangan itu, mungkin sudah membentang ke sejauh mata memandang. Tak ada yang belum saya lakukan untuk rampung disebut mahasiswa. Demonstarsi, aduh, dari senang sampai jenuh. Merasakan dapat nilai rendah dalam mata kuliah statistika, tentu saja pernah. Merantau jauh dari keluarga. Betapa beruntungnya saya sebab pernah mengalami ini juga. Setidaknya kesepian akan menempamu menjadi dewasa, begitu orang-orang bilang.

Dalam hitungan akademik, saya boleh dikata terlambat dalam menyelesaikan studi. Banyak faktor yang menyebabkan ini dapat terjadi, dan kalian pasti bisa menebak-nebak salah-duanya. Misal tentang kesibukan berorgansisasi atau niat yang belum tersusun rapi.

Kemudian saya melihat kawan-kawan saya yang lulus “tepat waktu”. Sebagian besar di antara mereka sudah dapat kerja, sisanya masih nyaman dalam kondisi ketenangan yang tiadatara. Kondisi yang tak mengharuskan mereka untuk memikirkan apakah teori-teori marxis kelak akan menjadi kenyataan. Atau cukupkah sudah gaji UMR untuk membayar prasmanan saat nikahan nanti.

Pada suatu malam, yah selalu malam, saya ketemu dengan kawan lama. Walaupun belum lama-lama amat, tapi kami perlu menyebut ini “lama” karena dia datang menggunakan tampilan baru namun dengan sifat yang lapuk. Saya menjadi sangsi ketika dia berbicara ala mahasiswa tapi gayanya bah pegawai bank: santun dan ekonomis.

Di awal perbincangan kami, semua terasa mudah. Seperti yang pernah-pernah. Kami saling bertukar kabar, berbagi cerita tentang pasangan masing-masing. Aduh memuakkannya. Namun selalu saja ini membikin penasaran. Kawan saya bercerita, isinya sama seperti yang pernah-pernah, tapi cara dia menuturkan dan penuhnya bumbu-bumbu heroisme membuat saya geli.

Dia menceritakan kelakuan pacarnya yang terus minta ditemani makan malam. Dia selalu menyalip manakala pacarnya itu mulai berjalan ke arah kasir sambil berkata, “sudah, aku saja yang bayar.” Kalimat ini disampaikannya dengan tegas, lugas. Begitu kira-kira ia memberikan bayangan pada saya.

Setelah purna bercerita, kawan ini balik bertanya pada saya yang sejak tadi terlalu khidmat mendengarkan sampai sesekali menguap: “skripsimu masih jauh?”. Saya diam sebentar. Saya sudah paham mau menjawab apa. Tapi saya kuwatir, perkataan saya selanjutnya akan membuatnya tersinggung.

Saya membenarkan posisi duduk. Laiknya sedang bersiap mengatakan hal yang terkesan serius, “begini” kata saya, “skripsiku sudah nyaris rampung. Tak lama lagi. Butuh barang satu atau dua minggu bagiku. Tapi aku belum yakin…”

Belum selesai saya bicara kawan ini langsung memotong: “belum yakin apa, bung?” Kawan ini menyesap kopinya dengan singkat lalu berkata lanjut, “lapangan kerja sudah benaran lapang buat kamu, aku taulah jaringanmu itu. Pacarmu sudah tunggu pula. Kamu harus segera cari uang. Pikirkan nasibmu sendiri. Butuh apa lagi?”

Saya membatin: “perilaku yang seperti inilah, bung. Yang seperti kau alami sekarang. Membuatku ngeri bertemu dunia luar.”

Saya tak sampai menjawab begitu memang. Namun saya menjelaskan saja sebagaimana wajarnya. Semata-mata untuk merawat suasana supaya tetap akrab.

Saya ingat betul, dulu, sekitar empat tahun yang lalu. Saya dan kawan ini bareng-bareng pergi ke perpus, sekadar melihat-lihat judul buku-buku filsafat yang bikin diri senang. Pengin sekali baca itu semua tapi naas otak tak sampai. Akhirnya kami hanya foto-foto saja. Jadikan wallpaper hape semata-mata supaya merasa “sudah selesai”.

Pernah juga kami berada dalam satu barisan pada sebuah demonstrasi besar. Ketika itu kami saling mempererat gandengan, untuk membentuk pagar bagi para pembawa tuntutan. Agar tuntutan mereka tidak terserang provokator dari luar massa hingga sampai di meja penguasa.

Yah, kisah-kisah itu cuma pleidoi lama yang tak perlu disayangkan atau disesalkan. Berakhir jadi kenangan di setiap mata memandang pun sudahlah cukup.

Menjelang dini hari, dia undur diri. Kawan saya ini. Dia minta maaf kerna harus pulang lebih cepat. “Ada agenda yang perlu diselesaikan besok pagi di kantor,” katanya.

Tubuh kawan saya tenggelam dalam mobil yang disetirnya sendiri. Saat menancapkan gas, ia memencet klakson seolah-olah memberi tanda bahwa kita bisa berjumpa lagi nanti. Dengan cara yang sama. Cerita yang sama. Namun nasib yang lain. Kelak, ketika kami tak lagi dipisahkan oleh jurang yang lebar. Dalam. Sehingga dasarnya tak terlihat akibat terlalu pekat.

Ke Mana Perginya Aspirasi? 0 71

Idealnya, mengelola aspirasi merupakan unsur politik yang paling kudu diutamakan. Aspirasi dapat dimanifestasikan melalui berbagai kebijakan yang memengaruhi keberlanjutan hidup masyarakatnya.

Aspirasi hadir, tentu saja dari hasil pergulatan masyarakat atas kebutuhannya yang sudah terkonsensus secara luas. Beragam aspirasi pun muncul seiring dengan banyaknya komunitas masyarakat yang merasa aspirasinya paling perlu untuk disegerakan.

Pada titik ini, tidak sedikit masyarakat sampai harus bersusah payah “berperang” untuk menjadi prioritas dalam program pemerintah. Hal yang kadang juga membuat para legislatif atau kepala daerah membulatkan tekadnya untuk berkontestasi dalam gelanggang politik membawa cita-cita mulia dari komunitas yang mereka wakili.

Tetapi sebentar, mungkinkah akan ada waktu yang membuat masyarakat kita melakukan kesepakatan bersama tanpa adanya dikotomi yang sarat kontestasi beraspirasi?

Pada masa Orde Baru, mempersempit aspirasi telah menjadi budaya politik yang dibangun negara. Masyarakat hanya perlu duduk manis di rumah, menerima segala bentuk perhatian negara sebagai yang “patut disyukuri”.

Pernah suatu ketika pada masa itu, sekitar tahun 1976, Soeharto membuat program yang pada intinya menggalakkan televisi untuk masuk ke seantero desa di nusantara. Semata-mata untuk menyiarkan berita melalui TVRI tentang betapa bagusnya proses pembangunan yang dilakukan negara di bawah kepemimpinan Presiden.

Padahal saat itu, aspirasi terbesar datang dari korban 65, serta para aktivis pro demokrasi yang hilang entah kemana. Artinya, aspirasi yang terkonsensus secara luas dan masif pernah terjadi, namun kemudian mudah dirubuhkan melalui serangkaian propaganda yang mengepung masyarakat. Tidak hanya di kota, yang notabene dekat dengan akses informasi, melainkan juga di desa yang pelan-pelan dibuat (dipaksa) mengerti bahwa pergulatan politik di Ibu Kota sedang baik-baik saja.

Hingga menjelang reformasi, kesadaran politik mulai muncul dengan spektrum yang lebih luas. Keinginan untuk melawan kekuasaan meluap, dan demokrasi harus ditegakkan secepat mungkin. Orde Baru pun tumbang, Indonesia merasa dirinya lahir kembali dengan wajah baru.

Orang-orang yang sudah paham tentang situasi politik di Jakarta, cepat-cepat mendekatkan diri untuk mengisi kekosongan personil dalam sistem kenegaraan yang sedang diambang kehancuran. Perpindahan pemimpin dari Habibi, Gus Dur, sampai megawati bergulir secara semrawut. Fenomena ini berhasil menunjukkan wajah lugu negara di hadapan kekuasaan Soeharto yang masih bercecer di mana-mana. Umpama burung yang baru dilepas dari sangkar, burung itu akan terbang ke segala tempat yang nyaris tidak pernah dijumpainya. Bahkan ketika burung itu tidak bisa membedakan, mana langit dan mana mulut buaya.

Preode demi preode dilalui. Hasrat politik masyarakat mulai memudar. Hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin santer meluas ke berbagai penjuru negeri. Menurut Tirto.id yang memuat data tentang tingkat golput, serta kenyataan jumlahnya yang semakin meningkat, mencatat setidaknya pada tahun 2004 (29,10%) dan 2014 (29,1%) adalah yang terbesar. Naas – lagi-lagi – kebudayaan politik kita harus masuk ke jurang yang salah.

Politik mulai terbiasa dibicarakan sebatas hitung-hitungan jumlah suara, alih-alih mendengar apa yang disuarakan. Aspirasi pun lambat laun kehilangam tempat. Jurnalis, yang semestinya hadir sebagai kelompok yang memergoki realitas banal ini turut serta hanyut dalam wacana “hitung-hitungan”.

Kata Seno Gumira Ajidarma, ketika Jurnalis dibungkam, Sastra yang mustinya bicara. Sastra wajib maju di barisan terdepan untuk mengambil peran yang menyalurkan aspirasi orang banyak. Namun pada saat yang bersamaan (pasca reformasi), sastra belum juga bangun dari tiarap panjangnya.

Bukan karena bahasa yang dikenakan sastra terlampau berat, sehingga membuat realitas semakin abstrak alih-alih menerangkan realitas itu sendiri bagi para pembacanya. Akan tetapi karena sastra itu sendiri juga sudah kehilangan tempat. Posisi mereka termonopoli oleh Jurnalis.

Momen-momen puitik yang sebenarnya menjadi menu utama sastra, telah direbut oleh jurnalis. Misal tentang kesibukan seorang politisi menggaruk punggung, atau kacamata seorang artis yang hanyut di laut, bahkan cerita tentang seorang petani yang berhasil menyekolahkan anaknya hingga sarjana pun turut diliput. Kesemuanya itu dikemas secara dramatik nan sastrawi.

Ketika Politik, Jurnalis, bahkan Sastra tidak memfasilitasi aspirasi, kemanakah aspirasi itu sekarang?

Akankah ketiadaan aspirasi tersebut dapat dijadikan alasan untuk menuduh bahwa masyarakat sudah tidak kritis?

Rasanya memang sedang terjadi kekeliruan di sini. Dan perlu diluruskan. Dan perlu dipahami kembali. Sebab akan menjadi hal yang mengkhawatirkan ketika aspirasi bukan hanya sekadar tidak lagi disalurkan, tapi saluran itu sendiri sudah tidak bisa lagi menyalurkan.

Sesungguhnya aspirasi mengudara di sembarang tempat. Kemungkinan besar hanya kitalah; yang luput menghirupnya.

Editor Picks