Senjakala Mobil Bensin dan Kebangkitan Mobil Setrom 0 319

Oleh: Bagus Priyono*

Walaupun saya tak pernah merasakan duduk manis di dalam mobil bensin dan mobil listrik—oleh karena belum punya—yang saya tahu barulah pengertian standar dari mobil: alat transportasi yang umum dan dipakai masyarakat sak ndunyo. Sebagian besar mobil yang beredar di jalanan adalah mobil berbahan bakar bensin, yang konon kurang ramah lingkungan.

Dengan adanya kemajuan zaman dan teknologi modern, saat ini selain mobil bertenaga bensin, ternyata ada juga mobil kekinian bertenaga listrik. Mobil setrom itu menggunakan baterai dan diklaim jauh lebih ramah lingkungan dibanding dengan mobil bensin.

Mobil berbahan bakar bensin atau solar disukai karena bahan bakarnya relatif murah dan mudah didapat—murah karena mendapat subsidi Negara.

Karena sangat populer serta menjadi salah satu kebutuhan hidup banyak orang, tentu saja biaya pembuatan mobil dan reparasi juga menjadi lebih murah–meski ini tak menolong kemampuan saya untuk membeli mobil, hanya bisa membeli jenis BBM-nya.

Mobil berbahan bakar fosil ternyata pertama kali dikembangkan pada tahun 1886. Penemunya adalah Karl Benzwong Jerman. Wong-wong pinter jaman baheula itu membuat mesin untuk bisa mengubah bahan bakar menjadi gaya gerak. Mesin itu dinamakan combustion engine, dan dipakai hingga sekarang pada mobil-mobil bensin pada umumnya. Combustion dalam bahasa maduranya adalah “ledakan/pembakaran”.

Namun, bahan bakar fosil termasuk sumber daya yang sangat sulit diperbaharui. Bensin didapat dari pengambilan fossil fuel, yang tersimpan di bawah lempeng bumi. Fossil fuel ini memerlukan ratusan hingga ribuan tahun untuk dapat terbentuk. Selama beberapa dekade terakhir ini, manusia berlomba-lomba untuk mengambil sumber daya, dengan cara menggali jauh kedalam lempeng tanah. Pada suatu saat tertentu di masa depan pastinya fossil fuel yang ada di bumi ini dapat habis tidak tersisa, dan akan ngeri sekali andai lempeng bumi yang tiada henti digali akan menjadikan bumi gerowong alias ambles.

Mobil berbahan bakar fosil cenderung tidak ramah lingkungan karena mengeluarkan asap yang bisa menyebabkan polusi udara yang bikin sepet mata, serta pemanasan global. Polusi ini seringkali disebut emisi. Kendaraan bertenaga bensin menjadi salah satu sumber emisi global di semua negara.

Sementara itu, mobil listrik atau setrom adalah yang digerakkan dengan listrik, menggunakan energi listrik yang disimpan dalam baterai atau tempat penyimpan energi lainnya. Mobil jenis ini amat populer pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Tapi kemudian meredup karena teknologi mesin pembakaran yang semakin maju dan harga kendaraan berbahan bakar fosil  yang semakin murah. Krisis energi pada tahun 1970-an dan 1980-an pernah membangkitkan sedikit minat pada mobil-mobil listrik. Tapi baru pada tahun 2000-an para produsen kendaraan baru menaruh perhatian yang serius pada kendaraan listrik ini.

Hal tersebut disebabkan karena harga minyak yang melambung tinggi pada tahun 2000-an, serta mulai tumbuhnya kesadaran akan buruknya dampak emisi gas rumah kaca. Hingga tahun 2011, model-model listrik yang tersedia dan dijual di pasaran beberapa negara adalah Tesla Roadster, REVAi, Renault Fluence Z.E., Buddy, Mitsubishi i MiEV, Tazzari Zero, Nissan Leaf, Smart ED, Wheego Whip LiFe, Mia listrik, dan BYD e6. Nissan Leaf, dengan penjualan lebih dari 20.000 unit di seluruh dunia (sampai November 2011), dan Mitsubishi i-MiEV, dengan penjualan global lebih dari 17.000 unit (sampai Oktober 2011), adalah kedua mobil listrik paling laris di dunia.
Pada akhirnya, ketergantungan minyak dari luar negeri pun berkurang, karena bagi beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan banyak negara Eropa, kenaikan harga minyak dapat memukul ekonomi mereka. Bagi negara berkembang, harga minyak yang tinggi semakin memberatkan neraca pembayaran mereka, sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Di Indonesia, pada tanggal 1 April 2012 pemerintah telah kucurkan Rp 100 miliar untuk riset mobil listrik. Lalu pada tanggal 10 Juni 2013 pemerintah tegaskan kendaraan listrik bebas pajak. Kemudian pada tanggal 12 Juni 2013 Zbee dari Swedia resmi membuka pabrik kendaraan listrik dengan nama PT Lundin Industry, yang terletak di Kota Banyuwangi, Jawa Timur, dan target produksi minimal 100.000 unit per tahun.
Angka-angka itu patut ditunggu: adakah ini gejala murni kesadaran perbaikan lingkungan global, atau sekedar pengulangan dari keserakahan kapitalisme yang terus berganti wujud.

 

*Penulis adalah Koordinator Liputan dari salah satu media televisi Jawa Timur, dan Mahasiswa Pascasarjana, Media dan Komunikasi FISIP Unair

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks