Sesat Pikir Oleh-oleh Kekinian 0 1126

Apa hubungan antara selebriti dan oleh-oleh? Apa urusannya dunia gegap-gempita yang penuh lenggak-lenggok di layar kaca itu masuk ke wilayah kuliner bingkisan khas?

Pembaca tahu bahwa kita tiba pada era dimana puluhan selebriti mengadu jualan oleh-oleh yang merentang dari berbagai kota. Teuku Wisnu (yang kini jenggotnya bertumbuh seperti selesai dioles minyak firdaus) mula-mula muncul dengan bisnis Malang Strudel. Zaskia Sungkar menyusul dengan Surabaya Snowcake—sejak kapan Surabaya punya kue salju?—diikuti pula duet bersaudara Ria Ricis dan Oki Setianadewi dengan Surabaya Patata. MC kondang Irfan Hakim mencelat jauh ke Sulawesi Selatan untuk menjual Makassar Baklave. Laudya Chintya Bella dengan Bandung Makuta juga tak ketinggalan. Daftar ini masih bisa diperpanjang hingga belasan nama artis lainnya, tapi mosok kita seboros itu mbahas satu per satu (uhuk).

Kesemua dagangan itu dijual dengan harga mantab jiwa, puluhan ribu hingga ratusan ribu. Tau apa lagi kesamaannya? Semuanya menggunakan pola dasar adonan cake pastry dan berbasis gula. Dominan dengan rasa manis. Dengan modifikasi sedikit-sedikit, mereka membedakan diri dengan stempel nama lokasi. Hubungan kota keras Surabaya terhadap Surabaya Patata—berbahan dasar kentang, “patata”, nama latin Filipino untuk kentang—tak pernah bisa dilacak. Lha piye, di pasar-pasar Surabaya saja kentang “diimpor” dari wilayah lain kok.

Makassar Baklave sebelas dua belas. Baklave sendiri cemilan khas Turki pada masa Ottoman, dengan komposisi kacang walnut, madu dan roti. Jadi dimana unsur khasnya? Apakah raja Makassar pernah kimpoi dengan Ratu Ottoman? Atau kapal-kapal Bugis sering andok warung Turki? Warga-warganya doyan ngemut madu? Kita yang kere di sini paling mentok njajan kebab Turki.

Lebih gilanya, Bandung Makuta mbak Bella yang mestinya berbasis di kota kembang, juga dijual di Surabaya! Jadi yang dinamai sebagai “khas” sesungguhnya sekedar tempelan belaka untuk memberi warna lokalitas. Semacam menggugurkan kewajiban.

Semua kembali pada konsep apa dan bagaimana itu “kekinian”. Pakem bisa dimodifikasi atau ditabrak. Satu hal bisa dihubung-hubungkan dengan hal lain, tak perduli apakah ada persambungannya atau tidak. Artis-artis itu tak perlu punya pemahaman menyejarah ihwal kuliner. Sebab dalam konotasi kekinian, tak diperlukan penelusuran historis. Persetan saja dengan muasal komponen bahan, filosofi, atau kaidah komposisi dan hubungannya dengan lokasi atau sejarah kota. Bisnis memang mempersetankan filosofi bukan?

Tentu saja tiap-tiap orang, seleb atau jelata, boleh berjualan apa saja dengan teknik apa saja. Artis berkantong tebal bisa menggelar dagangannya, sebagaimana orang-orang dengan nasib Senin-Kemis menjual juga jajanannya. Nasib mereka ditentukan oleh pasar. Dan kitalah pasar itu.

Jadi, andai suatu saat pembaca tak lagi melihat kue cucur, jajan usus ayam, bikang, talam jagung, klanting, kerupuk ikan dan sederet bingkisan lawas lain yang pernah disemati kata “khas”, maka sesungguhnya kitalah yang membunuh mereka. Artis-artis itu hanya berjualan.

Peran kita cuma melongo ngaplo atau membeli.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Penobatan untuk Jentelmen Pemilu 2019 0 168

Pemilu sudah lewat hampir seminggu. Hasil hitung resmi dari KPU masih ditunggu. Tapi hasil hitung cepat yang muncul dan dibahas secara berlebihan di tipi-tipi sudah bisa bikin sebagian bersorak atau sebagian lain menangis tergugu.

Kontestasi boleh selesai, tapi kadang rakyat kita susah lepas dari polarisasi. Di tengah pertengkaran dan tuduh-tuduhan, kita tidak boleh lupa bahwa di balik Pemilu 2019, terdapat sosok-sosok keren yang patut kita beri penghargaan. Berikut ini adalah daftar nominasi penobatan gelar “gentleman” pada Pemilu 2019

 

Sandiaga “Ganteng” Salahuddin Uno

Bagaimana tidak? Sebanyak 1.550 titik kampanye di Indonesia sudah ia kunjungi. Publik harus mencatat effort menyapa dan menjadi idola emak-emak ini pencapaian luar biasa. Ia juga telah menjual saham dan merugi banyak demi membiayai kampanye. Bahkan di puncak akhir perjuangannya, ia terkena serangan cegukan persis setelah hasil survei hitung cepat menunjukkan dirinya dan Prabski kalah.

Walau demikian, ia adalah orang paling kuat se-Indonesia. Dari sekian banyak penderitaan yang menimpanya, dia tetap saja ganteng, kaya, beristri cantik, dan terkenal. Dia adalah inspirasi para proletar agar senantiasa pantang menyerah dalam berjuang. Atau barangkali kemujurannya adalah takdir dari Sang Kuasa.

 

Agus Harimurti Yudhoyono alias AHaYe

Penerus trah eSBeYe ini citranya sempat hancur di Pilkada DKI 2017. Namun ini semata-mata karena ibu-bapake sing melok ae. Idenya untuk bikin rumah apung masih jadi catatan visi paling terkenang sepanjang sejarah Pilkada. Tapi harus diakui, usahanya untuk bangkit dan membangun kembali serpihan citra dirinya yang tercecer itu harus diacungi jempol.

Kini, ia mulai merintis dan membangun citra baik sebagai sosok yang berwibawa, dan ini yang paling penting: ganteng. Jawaban-jawabannya bijak dan santun saat dihadapkan pada fakta lembaga survei, yang (katanya) menyatakan koalisinya kalah berperang. Pengalaman militer dan beberapa tahun kejeblos di politik menjadi guru yang berharga buatnya.

Selain dinobatkan sebagai “gentleman” Pemilu 2019, mari kita nobatkan dia sebagai lawan paling menyeramkan di 2024 kelak. Kita tunggu performamu Mas!

 

Nicholas Saputra

Sosok ini adalah yang paling unggul dari pria-pria lainnya. Elektabilitasnya di 17 April melebihi lembaga-lembaga survei quick count manapun. Walau terkenal sebagai pebinor sejak “AADC” hingga “Adu Rayu”, gak ngurus, yang penting dia tetep ganteng lagi tepat janji.

Dia menghapus foto selfie pertama sepanjang hidupnya di Instagram dalam waktu 1×24 jam. Janji itu ia tepati sesuai caption foto yang ia tuliskan sendiri.

Tapi yang pasti, momen itu jadi 24 jam terindah dan susah dilupakan dalam hidup wanita-wanita bangsa ini. Maka jadilah hari itu dikenang sebagai hari “gerakan screenshoot foto Nicholas” tingkat nasional.

 

Demikianlah deretan laki-laki pengisi nominasi penobatan “gentleman” Pemilu 2019. Pengumuman pemenang telah dilakukan dan berlaku sampai selama-lamanya. Adapun jika pembaca memiliki deretan pria ganteng dan gagah lainnya, bisa ditambahkan melalui kolom komentar.

“Hepi Ending” Drama Pilpres 2019 1 249

Oleh: Michelle Florencia*

Akhirnya, drama panjang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nan panas—tidak, tidak sepanas hawa Surabaya—dan menguras emosi serta energi ini sudah memasuki babak akhir. Akhirnya saat-saat yang begitu dinanti datang juga. Pada tanggal 17 April 2019, rakyat Indonesia Raya akhirnya menyumbangkan partisipasi dan suaranya di TPS.

Sedikit trobek, kisah drama “Jokowi vs. Prabowo Jilid 2” ini memiliki konflik yang rumit. Permusuhan diwarnai dengan saling adu kritik, manuver para aktor politik, saling lempar hoaks, dan hingga para pendukung kedua paslon, Cebong dan Kampret ikutan ribut di sosial media. Belum lagi media milik politisi terus-terusan mengompori situasi ini. Tak heran, kisah panjang ini membuat segelintir orang begitu penat, lebih penat daripada menonton kisah dua sejoli fenomenal Fitri dan Farrel.

Bak kisah drama lainnya, Pilpres 2019 ini berakhir dengan bahagia. Bagaimana tidak? Kedua paslon yang berseteru itu menang! Luar biasa sekali, barangkali hanya Indonesia yang bisa punya dua pemenang untuk kursi nomor satu di pemerintahannya

Tidak sia-sia keduanya melakukan effort yang luar biasa. Keliling Indonesia Raya, meninggalkan jabatan (Ma’ruf Amin meninggalkan jabatan ketua MUI dan Sandiaga Uno meninggalkan jabatan Wagub DKI Jekardah) untuk PDKT ke partai sana-sini, belusukan ke pasar-pasar sambil wawancara emak-emak, hingga yang terberat: abang ganteng Sandiaga Uno mengikhlaskan rekeningnya terkuras hingga puluhan miliar demi amanah rakyat. Alhamdulillah. Sungguh terbayar usaha Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi.

Jokowi-Ma’ruf Amin dinyatakan menang dalam perhitungan cepat dari enam lembaga survei di Indonesia, yaitu Litbang Kompas, Indo Barometer, LSI Denny JA, CSIS-Cyrus, Charta Pollitika, dan Konsepindo. Dari survei-survei ini, banyak yang menanggap Jokowi-Ma’ruf Amin menjadi pemenang tunggal dalam kontestasi ini. Media interneisyenel seperti CNN sudah memberitakan bahwa Jokowi-Ma’ruf akan menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden selanjutnya.

Haduh, sungguh kasihan mereka hanya mengetahui kebenaran setengah-setengah. Padahal, pemenangnya kan ada dua!

Prabowo-Sandi juga mendeklarasikan kemenangannya dalam Pemilu tahun ini. Tak main-main, deklarasi itu dilakukan sebanyak tiga kali! Mohon maaf, Cebong jangan sok mencibir presiden kita! Beliau menang berdasarkan REAL COUNT yang dilakukan oleh tim internal Badan Pemenangan Nasional. Sekali lagi, REAL COUNT! Jokowi mah apa atuh, cuma menang berdasarkan quick count.

Dari real count dari BPN yang disebut Mbah Amien Rais sebagai “survey diam-diam itu”, Prabowo-Sandi mendapat suara sebesar 62%. Mungkin kita tahunya real count itu hanya dilakukan oleh KPU, ya? Yasudahlah, presiden mah bebas! Tapi sayang sekali, belum satupun pemimpin negara lain yang menelpon Pak Prabowo untuk mengucapkan selamat meski sudah tiga kali mendeklarasikan kemenangannya. Mungkin PR Prabowo-Sandi sekarang adalah menjadi lebih gercep mengabarkan kemenangan ini kepada media luar.

Karena ada dua pemenang, mari kita beri saran bagaimana baiknya mereka harus memimpin. Kedua kubu kelompok baiknya bergantian shift seperti penjaga toko di mol. Jokowi-Ma’ruf Amin shift pagi, Prabowo-Sandi shift malam. Biar adil. Selain itu, Jokowi-Ma’ruf Amin baiknya mengurusi perihal infrastruktur, agama, dan revolusi mental, sementara Prabowo-Sandi akan mengurusi perekonomian, pertahanan, dan pertambangan. (Ini mimpin negara kenapa kayak kerja kelompok, sih?!)

Bayangkan bila hal di atas terjadi beneran! Seperti slogan kita, yakni gotong royong, ini Jokowi bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan mudah dengan bantuan Prabowo. Pokoknya tetap harus menjaga ketertiban, perdamaian, dan tak terpancing provokasi! Okurrr!

 

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Editor Picks