Sesat Pikir Oleh-oleh Kekinian 0 993

Apa hubungan antara selebriti dan oleh-oleh? Apa urusannya dunia gegap-gempita yang penuh lenggak-lenggok di layar kaca itu masuk ke wilayah kuliner bingkisan khas?

Pembaca tahu bahwa kita tiba pada era dimana puluhan selebriti mengadu jualan oleh-oleh yang merentang dari berbagai kota. Teuku Wisnu (yang kini jenggotnya bertumbuh seperti selesai dioles minyak firdaus) mula-mula muncul dengan bisnis Malang Strudel. Zaskia Sungkar menyusul dengan Surabaya Snowcake—sejak kapan Surabaya punya kue salju?—diikuti pula duet bersaudara Ria Ricis dan Oki Setianadewi dengan Surabaya Patata. MC kondang Irfan Hakim mencelat jauh ke Sulawesi Selatan untuk menjual Makassar Baklave. Laudya Chintya Bella dengan Bandung Makuta juga tak ketinggalan. Daftar ini masih bisa diperpanjang hingga belasan nama artis lainnya, tapi mosok kita seboros itu mbahas satu per satu (uhuk).

Kesemua dagangan itu dijual dengan harga mantab jiwa, puluhan ribu hingga ratusan ribu. Tau apa lagi kesamaannya? Semuanya menggunakan pola dasar adonan cake pastry dan berbasis gula. Dominan dengan rasa manis. Dengan modifikasi sedikit-sedikit, mereka membedakan diri dengan stempel nama lokasi. Hubungan kota keras Surabaya terhadap Surabaya Patata—berbahan dasar kentang, “patata”, nama latin Filipino untuk kentang—tak pernah bisa dilacak. Lha piye, di pasar-pasar Surabaya saja kentang “diimpor” dari wilayah lain kok.

Makassar Baklave sebelas dua belas. Baklave sendiri cemilan khas Turki pada masa Ottoman, dengan komposisi kacang walnut, madu dan roti. Jadi dimana unsur khasnya? Apakah raja Makassar pernah kimpoi dengan Ratu Ottoman? Atau kapal-kapal Bugis sering andok warung Turki? Warga-warganya doyan ngemut madu? Kita yang kere di sini paling mentok njajan kebab Turki.

Lebih gilanya, Bandung Makuta mbak Bella yang mestinya berbasis di kota kembang, juga dijual di Surabaya! Jadi yang dinamai sebagai “khas” sesungguhnya sekedar tempelan belaka untuk memberi warna lokalitas. Semacam menggugurkan kewajiban.

Semua kembali pada konsep apa dan bagaimana itu “kekinian”. Pakem bisa dimodifikasi atau ditabrak. Satu hal bisa dihubung-hubungkan dengan hal lain, tak perduli apakah ada persambungannya atau tidak. Artis-artis itu tak perlu punya pemahaman menyejarah ihwal kuliner. Sebab dalam konotasi kekinian, tak diperlukan penelusuran historis. Persetan saja dengan muasal komponen bahan, filosofi, atau kaidah komposisi dan hubungannya dengan lokasi atau sejarah kota. Bisnis memang mempersetankan filosofi bukan?

Tentu saja tiap-tiap orang, seleb atau jelata, boleh berjualan apa saja dengan teknik apa saja. Artis berkantong tebal bisa menggelar dagangannya, sebagaimana orang-orang dengan nasib Senin-Kemis menjual juga jajanannya. Nasib mereka ditentukan oleh pasar. Dan kitalah pasar itu.

Jadi, andai suatu saat pembaca tak lagi melihat kue cucur, jajan usus ayam, bikang, talam jagung, klanting, kerupuk ikan dan sederet bingkisan lawas lain yang pernah disemati kata “khas”, maka sesungguhnya kitalah yang membunuh mereka. Artis-artis itu hanya berjualan.

Peran kita cuma melongo ngaplo atau membeli.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 343

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 274

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks