Siapa Bunga dan Tembok dalam Puisi Wiji Thukul? 0 2213

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)


Bunga dan Tembok

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kauhendaki tumbuh

Engkau lebih suka membangun

Rumah dan merampas tanah

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kaukehendaki adanya

Engkau lebih suka membangun

Jalan raya dan pagar besi

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang dirontokkan

di bumi kami sendiri

 

Jika kami bunga

Engkau adalah tembok

Tapi di tubuh tembok itu

Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama

Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Di dalam keyakinan kami

Di mana pun – tiran harus tumbang!

 

(Wiji Thukul)

 

Saya tidak sedang dalam romantisme 98toh saya kelahiran 98 yang auto millenial, atau berhenti memburu musuh baru karena alasan musuh lama belum usai meminta maaf. Saya hanya ingin menyenggol alarm yang terkandung dalam puisi seorang aktivis, sastrawan, pembela hak asasi manusia, anak seorang penarik becak, kerikil yang mengganggu langkah mbah Harto: Wiji Thukul.

Barangkali puisi Thukul sedang bertanya, “sudah sejauh mana tumbuh-kembang kalian, wahai bunga di tembok?”. Sebab, kesadaran sosial mulai bergeser jalur.

Kesadaran sosial ini adalah kesadaran dimana seseorang musti memerankan dirinya sebagai penyambung rantai pergerakan untuk mereka (rakyat) yang membutuhkan. Bukan kesadaran sosial yang melihat setiap aktivitas masyarakat menjadi peluang bisnis yang berpotensi. Bukan!

Saya pikir sekarang tembok baru telah terbangun, cor-corannya berlapis-lapis. Jangankan mau tumbuh di sana, menanam pun akan menjadi pekerjaan repot. Kadang tanah tempat menanamnya sudah habis. Tembok kini pakai semen semua—sementara di kampung saya dulu temboknya dibangun dengan tanah basah. Andai pemilik rumah ingin menanam bunga di tembok, bijinya cukup disuntikkan ke dalam.

Kembali – Thukul, saya kira sudah tuntas dengan temboknya. Namun bagaimana dengan tembok-tembok baru yang sekarang ini semakin kokoh mengelilingi kita–keadaan petani kendeng, penjajahan di Papua, reklamasi, penggusuran, korupsi, dan seterusnya. Masihkah kita menjelma biji yang ragu-ragu meledakkan kelopak? Atau bunga-bunga itu sebenarnya telah mekar, hanya saja menolak untuk mengakar, meruntuhkan—mereka memilih untuk cuma menjadi kiasan yang estetik macam tempelan kulkas.

Apalagi kurang dari setahun terakhir kita masih saja  sibuk memperbincangkan agama beserta hal-hal yang membuat kita malah menyerupai tembok itu sendiri: saling membatasi bagai benteng perang. Jelas, jelas dalam puisi itu diserukan, “suatu saat kami akan tumbuh bersama”. Ya, senyatanya hari ini kita memang tumbuh! Namun tidak bersama.

Dalam rangka hari pahlawan, sudah bisa ditebak, peringatan ini akan berakhir sebatas seremonial diiringi perlombaan yang kadang memudarkan substansi dari tujuan sesungguhnya. Boleh diakui gambaran dari semua keadaan di atas terkesan pesimis. Pembaca yang budiman, kesadaran yang paling sedikit porsinya dalam rasio manusia ialah pesimisme. Berawal dari kepesimisan lah serikat akan terbentuk, semangat akan dibungkus, tujuan akan terwujud.

Bukan apa-apa, boleh kan sekali-kali mencuri kesempatan untuk serius. Kalau perlu semangat kita harus markobar berkobar selayaknya pahlawan yang berjuang di tengah panas Surabaya pada 10 November berpuluh tahun lalu. Lha kok mereka yang cuma diminta berjalan kaki di trotoar jika tujuannya tak jauh-jauh amat ngeluhnya minta ampun. Tapi diajak aksi ke Monas mau. Menengok ke sawah untuk melihat keadaan petani pun musti nunggu momen politik. Ya Tuhan, perlukah kami mengeluarkan biaya supaya mereka ingin menyempatkan diri mengakui kenyataan sosial, seperti para calon pemimpin yang rela bayar banyak buat jadi pembicara di kampus. Hehehe…

Sebentar, kok kesimpulannya melebar jadi sindir-sindiran. Pembaca yang budiman, kita semua adalah bunga yang dimaksudkan Thukul. Saya memahami semangat zaman sudah berbeda, bahkan, tembok pada konteks sekarang warnanya lebih jernih. Dalam artian semakin sulit kelihatan. Tapi tidak berarti hal ini membuat kita berhenti memburu kekeliruan. Tembok-tembok baru mulai kokoh berdiri mengelilingi kita.

Atau, apakah sebenarnya masing-masing kita adalah tembok itu?

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 154

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 176

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks