Siapa Bunga dan Tembok dalam Puisi Wiji Thukul? 0 1886

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)


Bunga dan Tembok

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kauhendaki tumbuh

Engkau lebih suka membangun

Rumah dan merampas tanah

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kaukehendaki adanya

Engkau lebih suka membangun

Jalan raya dan pagar besi

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang dirontokkan

di bumi kami sendiri

 

Jika kami bunga

Engkau adalah tembok

Tapi di tubuh tembok itu

Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama

Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Di dalam keyakinan kami

Di mana pun – tiran harus tumbang!

 

(Wiji Thukul)

 

Saya tidak sedang dalam romantisme 98toh saya kelahiran 98 yang auto millenial, atau berhenti memburu musuh baru karena alasan musuh lama belum usai meminta maaf. Saya hanya ingin menyenggol alarm yang terkandung dalam puisi seorang aktivis, sastrawan, pembela hak asasi manusia, anak seorang penarik becak, kerikil yang mengganggu langkah mbah Harto: Wiji Thukul.

Barangkali puisi Thukul sedang bertanya, “sudah sejauh mana tumbuh-kembang kalian, wahai bunga di tembok?”. Sebab, kesadaran sosial mulai bergeser jalur.

Kesadaran sosial ini adalah kesadaran dimana seseorang musti memerankan dirinya sebagai penyambung rantai pergerakan untuk mereka (rakyat) yang membutuhkan. Bukan kesadaran sosial yang melihat setiap aktivitas masyarakat menjadi peluang bisnis yang berpotensi. Bukan!

Saya pikir sekarang tembok baru telah terbangun, cor-corannya berlapis-lapis. Jangankan mau tumbuh di sana, menanam pun akan menjadi pekerjaan repot. Kadang tanah tempat menanamnya sudah habis. Tembok kini pakai semen semua—sementara di kampung saya dulu temboknya dibangun dengan tanah basah. Andai pemilik rumah ingin menanam bunga di tembok, bijinya cukup disuntikkan ke dalam.

Kembali – Thukul, saya kira sudah tuntas dengan temboknya. Namun bagaimana dengan tembok-tembok baru yang sekarang ini semakin kokoh mengelilingi kita–keadaan petani kendeng, penjajahan di Papua, reklamasi, penggusuran, korupsi, dan seterusnya. Masihkah kita menjelma biji yang ragu-ragu meledakkan kelopak? Atau bunga-bunga itu sebenarnya telah mekar, hanya saja menolak untuk mengakar, meruntuhkan—mereka memilih untuk cuma menjadi kiasan yang estetik macam tempelan kulkas.

Apalagi kurang dari setahun terakhir kita masih saja  sibuk memperbincangkan agama beserta hal-hal yang membuat kita malah menyerupai tembok itu sendiri: saling membatasi bagai benteng perang. Jelas, jelas dalam puisi itu diserukan, “suatu saat kami akan tumbuh bersama”. Ya, senyatanya hari ini kita memang tumbuh! Namun tidak bersama.

Dalam rangka hari pahlawan, sudah bisa ditebak, peringatan ini akan berakhir sebatas seremonial diiringi perlombaan yang kadang memudarkan substansi dari tujuan sesungguhnya. Boleh diakui gambaran dari semua keadaan di atas terkesan pesimis. Pembaca yang budiman, kesadaran yang paling sedikit porsinya dalam rasio manusia ialah pesimisme. Berawal dari kepesimisan lah serikat akan terbentuk, semangat akan dibungkus, tujuan akan terwujud.

Bukan apa-apa, boleh kan sekali-kali mencuri kesempatan untuk serius. Kalau perlu semangat kita harus markobar berkobar selayaknya pahlawan yang berjuang di tengah panas Surabaya pada 10 November berpuluh tahun lalu. Lha kok mereka yang cuma diminta berjalan kaki di trotoar jika tujuannya tak jauh-jauh amat ngeluhnya minta ampun. Tapi diajak aksi ke Monas mau. Menengok ke sawah untuk melihat keadaan petani pun musti nunggu momen politik. Ya Tuhan, perlukah kami mengeluarkan biaya supaya mereka ingin menyempatkan diri mengakui kenyataan sosial, seperti para calon pemimpin yang rela bayar banyak buat jadi pembicara di kampus. Hehehe…

Sebentar, kok kesimpulannya melebar jadi sindir-sindiran. Pembaca yang budiman, kita semua adalah bunga yang dimaksudkan Thukul. Saya memahami semangat zaman sudah berbeda, bahkan, tembok pada konteks sekarang warnanya lebih jernih. Dalam artian semakin sulit kelihatan. Tapi tidak berarti hal ini membuat kita berhenti memburu kekeliruan. Tembok-tembok baru mulai kokoh berdiri mengelilingi kita.

Atau, apakah sebenarnya masing-masing kita adalah tembok itu?

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 157

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 74

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks