Siapa Bunga dan Tembok dalam Puisi Wiji Thukul?

Bunga dan Tembok

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kauhendaki tumbuh

Engkau lebih suka membangun

Rumah dan merampas tanah

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kaukehendaki adanya

Engkau lebih suka membangun

Jalan raya dan pagar besi

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang dirontokkan

di bumi kami sendiri

 

Jika kami bunga

Engkau adalah tembok

Tapi di tubuh tembok itu

Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama

Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Di dalam keyakinan kami

Di mana pun – tiran harus tumbang!

(Wiji Thukul)

Saya tidak sedang dalam romantisme 98toh saya kelahiran 98 yang auto millenial, atau berhenti memburu musuh baru karena alasan musuh lama belum usai meminta maaf.

Saya hanya ingin menyenggol alarm yang terkandung dalam puisi seorang aktivis, sastrawan, pembela hak asasi manusia, anak seorang penarik becak, kerikil yang mengganggu langkah mbah Harto: Wiji Thukul.

Barangkali puisi Thukul sedang bertanya, “sudah sejauh mana tumbuh-kembang kalian, wahai bunga di tembok?”. Sebab, kesadaran sosial mulai bergeser jalur.

Kesadaran sosial ini adalah kesadaran dimana seseorang musti memerankan dirinya sebagai penyambung rantai pergerakan untuk mereka (rakyat) yang membutuhkan. Bukan kesadaran sosial yang melihat setiap aktivitas masyarakat menjadi peluang bisnis yang berpotensi. Bukan!

Saya pikir sekarang tembok baru telah terbangun, cor-corannya berlapis-lapis. Jangankan mau tumbuh di sana, menanam pun akan menjadi pekerjaan repot. Kadang tanah tempat menanamnya sudah habis.

Tembok kini pakai semen semua—sementara di kampung saya dulu temboknya dibangun dengan tanah basah. Andai pemilik rumah ingin menanam bunga di tembok, bijinya cukup disuntikkan ke dalam.

Kembali – Thukul, saya kira sudah tuntas dengan temboknya. Namun bagaimana dengan tembok-tembok baru yang sekarang ini semakin kokoh mengelilingi kita–keadaan petani kendeng, penjajahan di Papua, reklamasi, penggusuran, korupsi, dan seterusnya.

Masihkah kita menjelma biji yang ragu-ragu meledakkan kelopak? Atau bunga-bunga itu sebenarnya telah mekar, hanya saja menolak untuk mengakar, meruntuhkan—mereka memilih untuk cuma menjadi kiasan yang estetik macam tempelan kulkas.

Apalagi kurang dari setahun terakhir kita masih saja  sibuk memperbincangkan agama beserta hal-hal yang membuat kita malah menyerupai tembok itu sendiri: saling membatasi bagai benteng perang.

Jelas, jelas dalam puisi itu diserukan, “suatu saat kami akan tumbuh bersama”. Ya, senyatanya hari ini kita memang tumbuh! Namun tidak bersama.

Dalam rangka hari pahlawan, sudah bisa ditebak, peringatan ini akan berakhir sebatas seremonial diiringi perlombaan yang kadang memudarkan substansi dari tujuan sesungguhnya. Boleh diakui gambaran dari semua keadaan di atas terkesan pesimis.

Pembaca yang budiman, kesadaran yang paling sedikit porsinya dalam rasio manusia ialah pesimisme. Berawal dari kepesimisan lah serikat akan terbentuk, semangat akan dibungkus, tujuan akan terwujud.

Bukan apa-apa, boleh kan sekali-kali mencuri kesempatan untuk serius. Kalau perlu semangat kita harus markobar berkobar selayaknya pahlawan yang berjuang di tengah panas Surabaya pada 10 November berpuluh tahun lalu. Lha kok mereka yang cuma diminta berjalan kaki di trotoar jika tujuannya tak jauh-jauh amat ngeluhnya minta ampun. Tapi diajak aksi ke Monas mau.

Menengok ke sawah untuk melihat keadaan petani pun musti nunggu momen politik. Ya Tuhan, perlukah kami mengeluarkan biaya supaya mereka ingin menyempatkan diri mengakui kenyataan sosial, seperti para calon pemimpin yang rela bayar banyak buat jadi pembicara di kampus. Hehehe…

Sebentar, kok kesimpulannya melebar jadi sindir-sindiran. Pembaca yang budiman, kita semua adalah bunga yang dimaksudkan Thukul. Saya memahami semangat zaman sudah berbeda, bahkan, tembok pada konteks sekarang warnanya lebih jernih.

Dalam artian semakin sulit kelihatan. Tapi tidak berarti hal ini membuat kita berhenti memburu kekeliruan. Tembok-tembok baru mulai kokoh berdiri mengelilingi kita.

Atau, apakah sebenarnya masing-masing kita adalah tembok itu?