Siapa Bunga dan Tembok dalam Puisi Wiji Thukul? 0 1241

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)


Bunga dan Tembok

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kauhendaki tumbuh

Engkau lebih suka membangun

Rumah dan merampas tanah

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang tak

Kaukehendaki adanya

Engkau lebih suka membangun

Jalan raya dan pagar besi

 

Seumpama bunga

Kami adalah bunga yang dirontokkan

di bumi kami sendiri

 

Jika kami bunga

Engkau adalah tembok

Tapi di tubuh tembok itu

Telah kami sebar biji-biji

Suatu saat kami akan tumbuh bersama

Dengan keyakinan: engkau harus hancur!

Di dalam keyakinan kami

Di mana pun – tiran harus tumbang!

 

(Wiji Thukul)

 

Saya tidak sedang dalam romantisme 98toh saya kelahiran 98 yang auto millenial, atau berhenti memburu musuh baru karena alasan musuh lama belum usai meminta maaf. Saya hanya ingin menyenggol alarm yang terkandung dalam puisi seorang aktivis, sastrawan, pembela hak asasi manusia, anak seorang penarik becak, kerikil yang mengganggu langkah mbah Harto: Wiji Thukul.

Barangkali puisi Thukul sedang bertanya, “sudah sejauh mana tumbuh-kembang kalian, wahai bunga di tembok?”. Sebab, kesadaran sosial mulai bergeser jalur.

Kesadaran sosial ini adalah kesadaran dimana seseorang musti memerankan dirinya sebagai penyambung rantai pergerakan untuk mereka (rakyat) yang membutuhkan. Bukan kesadaran sosial yang melihat setiap aktivitas masyarakat menjadi peluang bisnis yang berpotensi. Bukan!

Saya pikir sekarang tembok baru telah terbangun, cor-corannya berlapis-lapis. Jangankan mau tumbuh di sana, menanam pun akan menjadi pekerjaan repot. Kadang tanah tempat menanamnya sudah habis. Tembok kini pakai semen semua—sementara di kampung saya dulu temboknya dibangun dengan tanah basah. Andai pemilik rumah ingin menanam bunga di tembok, bijinya cukup disuntikkan ke dalam.

Kembali – Thukul, saya kira sudah tuntas dengan temboknya. Namun bagaimana dengan tembok-tembok baru yang sekarang ini semakin kokoh mengelilingi kita–keadaan petani kendeng, penjajahan di Papua, reklamasi, penggusuran, korupsi, dan seterusnya. Masihkah kita menjelma biji yang ragu-ragu meledakkan kelopak? Atau bunga-bunga itu sebenarnya telah mekar, hanya saja menolak untuk mengakar, meruntuhkan—mereka memilih untuk cuma menjadi kiasan yang estetik macam tempelan kulkas.

Apalagi kurang dari setahun terakhir kita masih saja  sibuk memperbincangkan agama beserta hal-hal yang membuat kita malah menyerupai tembok itu sendiri: saling membatasi bagai benteng perang. Jelas, jelas dalam puisi itu diserukan, “suatu saat kami akan tumbuh bersama”. Ya, senyatanya hari ini kita memang tumbuh! Namun tidak bersama.

Dalam rangka hari pahlawan, sudah bisa ditebak, peringatan ini akan berakhir sebatas seremonial diiringi perlombaan yang kadang memudarkan substansi dari tujuan sesungguhnya. Boleh diakui gambaran dari semua keadaan di atas terkesan pesimis. Pembaca yang budiman, kesadaran yang paling sedikit porsinya dalam rasio manusia ialah pesimisme. Berawal dari kepesimisan lah serikat akan terbentuk, semangat akan dibungkus, tujuan akan terwujud.

Bukan apa-apa, boleh kan sekali-kali mencuri kesempatan untuk serius. Kalau perlu semangat kita harus markobar berkobar selayaknya pahlawan yang berjuang di tengah panas Surabaya pada 10 November berpuluh tahun lalu. Lha kok mereka yang cuma diminta berjalan kaki di trotoar jika tujuannya tak jauh-jauh amat ngeluhnya minta ampun. Tapi diajak aksi ke Monas mau. Menengok ke sawah untuk melihat keadaan petani pun musti nunggu momen politik. Ya Tuhan, perlukah kami mengeluarkan biaya supaya mereka ingin menyempatkan diri mengakui kenyataan sosial, seperti para calon pemimpin yang rela bayar banyak buat jadi pembicara di kampus. Hehehe…

Sebentar, kok kesimpulannya melebar jadi sindir-sindiran. Pembaca yang budiman, kita semua adalah bunga yang dimaksudkan Thukul. Saya memahami semangat zaman sudah berbeda, bahkan, tembok pada konteks sekarang warnanya lebih jernih. Dalam artian semakin sulit kelihatan. Tapi tidak berarti hal ini membuat kita berhenti memburu kekeliruan. Tembok-tembok baru mulai kokoh berdiri mengelilingi kita.

Atau, apakah sebenarnya masing-masing kita adalah tembok itu?

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 75

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Privasi Siapa yang Dibela di RKUHP? 1 79

Saya jurnalis (profesional untuk 2 bulan terakhir). Saya terlibat di dalam peliputan aksi mahasiswa yang berakhir rusuh di hari pertama rapat paripurna, 24 September. Saya saksi mata ketika mereka mulai merapat di gerbang DPR, orasi, bakar ban, sampai akhirnya water canon plus gas air mata menyerang, dan saya sebagai anak pupuk bawang tentu lari menyelamatkan diri.

Selain UU KPK yang sudah disahkan itu, saya mendengar dan membaca semua demonstran menggarisbawahi RKUHP (yang telah saya bahas di tulisan lalu: ‘Bagaimana Seharusnya Kita Sikapi RKUHP‘). Banyak pasal yang dianggap bermasalah (kita harus akui ini). Terutama teriakan privasi kita yang (katanya) semakin dirampas negara.

Di sisi lain, suatu kali saya juga untuk kedua kalinya mewawancarai artis (walau definisi ‘artis’ bagi saya masih sangat debatable). Saya sih sebenarnya males. Kalau gak karena permintaan kantor, kapabilitas ‘orang yang sering nongol di tv’ untuk menjawab angle berita masih jadi pertanyaan besar bagi saya.

Saya berusaha memancing diskusi dengan mbak artis. Melempar pertanyaan reflektif serta menghindari pertanyaan dangkal dan tak bermutu. Berharap jawaban bisa mendalam dan melontarkan ide-ide cemerlang bagi para fans yang nanti menonton hasil wawancara ini.

Ternyata realita tidak seindah ekspetasi, kawan-kawan! Doi menjawab semua pertanyaan umum saya dengan mengasosiakannya pada dirinya seorang. Demikian pula wartawan lain justru menyiram air garam pada luka, nyamber dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggali urusan pribadi dan keluarga mbak artis.

Ketimbang menjawab pertanyaan saya tentang tren berlibur saat ini, destinasi wisata yang ciamik di Indonesia, dan sebagainya; si artis lebih suka menjawab rencana liburannya bersama suami dan anak, preferensinya dalam menggunakan layanan aplikasi penyedia perjalanan, dan kawan-kawan pertanyaan lainnya.

Saya gak tahu, di sini siapa yang salah. Pasalnya, wartawan membutuhkan jawaban bersifat pribadi itu untuk membuat tulisan yang mengundang klik di website medianya. Sebaliknya, jawaban-jawaban yang melulu soal diri dan pribadi si artis mungkin sudah jadi template wajib dalam ekosistem infotainment. Barangkali, justru memang saya yang salah nyemplung ke dunia wawancara dengan orang-orang jenis ini. Salah yang gagal paham dan gagal menaruh harapan.

Demikian pula dengan kelakuan rakyat yang suka sekali mengonsumsi berita-berita macam ini. Tentu lebih ringan ketimbang ikut repot memutar otak tentang persoalan bangsa ini.

Dari sini, mari kita merenungkan lagi. Apakah benar privasi kita terancam karena RKUHP? Apakah kita lupa, bahwa privasi bangsa ini sudah ternodai sejak dulu kala? Sejak kehidupan pribadi bintang layar kaca jadi konsumsi publik. Bahkan, hal ini juga berlaku pada tokoh-tokoh politik kita.

Masyarakat kan lebih ingat kisah cinta dan kehidupan keluarga sejahtera Almarhum B.J. Habibie ketimbang karya N-250 dan perjuangannya merintis BPPT. Kita lebih ingat tato menteri dan menteri loncat pagar. Kita lebih paham sneaker, jaket, sepeda, moge, dan cucu Jokowi.

Gak usah jauh-jauh juga. Ketika nongkrong bersama teman, teman lain yang tidak kelihatan batang hitungnya jadi bahan gosip, kan? Saat bepergian, belanja, minum kopi di kedai dengan nama lucu-lucu, gatal juga tanganmu uptade di Insta Story. Jangan lupa bubuhkan lokasi, biar disangka anak gaul. Lha kok saiki guayamu sak langit, sok memperjuangkan privasi?

Kan tentu ironis, memperjuangkan privasi, orientasi seksual, dunia malam, urusan seks dan percintaan, tapi abai kalau selama ini juga tak punya batasan dalam menjaga rahasia diri ke dunia maya. Jadi privasi siapa yang kalian bela?

Editor Picks