Demam Proyek Sosial, Cuma Gejala atau Sudah Kronis? 2 1129

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Mengapa mahasiswa butuh KKN?

Pertanyaan ini barangkali menguras tenaga dan sukma pembaca sekalian untuk menemukan jawabnya. KKN tentu saja bukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (walau mahasiswa sering melakukannya, misalnya korupsi absen kuliah). Ini tentang Kuliah Kerja Nyata, yang katanya mampu membuat mahasiswa terjun ke masyarakat dan peduli pada ‘mereka yang membutuhkan’.

Terlepas dari cita-cita yang teramat mulia dan untuk sekadar memenuhi tri dharma perguruan tinggi, KKN dan segala kisahnya mengandung unsur-unsur lawakan yang setidaknya bisa membuat kita tertawa.

Yang satu ini bisa jadi bonus manis yang paling dinanti. Cinta lokasi tidak bisa terhindar apabila dua insan dipaksa tinggal dalam satu atap selama hampir sebulan. Ada banyak drama mulai dari yang bertemu jodoh, selingkuhan, hingga pacar orang gara-gara KKN.

KKN ini juga barangkali harus didukung penuh terutama oleh kebijakan yang menjanjikan nikah massal gratis macam rezim Ridwan Kamil, atau yang baru gress macam si ganteng Sandiaga Uno. Bertemunya pasangan-pasangan baru di KKN (dengan plot mirip FTV) turut menyukseskan tidak tergantinya mereka dalam nominasi ‘kepala daerah gaul’.

Mengikuti perkembangan zaman, ada-ada saja cara KKN untuk unjuk diri. Pun kegiatan sosial ini harus dipublikasikan secara luas agar dunia tahu bahwa kampus tak hanya mementingkan teori mbelgedhes, melainkan juga turut mendukung soft skills anak didiknya. Cara ini ditempuh dengan kewajiban posting di dunia maya terhadap berbagai kegiatan yang sifatnya sangat artifisial.

Para kampus beken sering pula mewajibkan setiap kelompok KKN membuat video kompilasi dan diunggah ke Youtube. Tentu dengan kata kunci tertentu dalam konten video, nama universitas melambung secara tiba-tiba berkat kerja relawan gratisan pembuat konten kreatif. Mahasiswa yang disuruh memikirkan program, mahasiswa yang disuruh merekam gambar dan menghabiskan kuota super mahal untuk upload, eh lha kok kampusnya yang dapat reputasi webometric baik hehe.

Jika dalih peningkatan kualitas dan martabat adalah senjata akhir yang dikeluarkan kampus kece ini, ada baiknya kita hanya perlu mengamini. Semoga semakin meningkatnya webometrics dan ranking Qs berbanding lurus dengan bertambah kencangnya wifi kampus dan berkurangnya intensitas dosen terlambat mengajar.

Mengintip lebih jauh, kegiatan sosial ini kini berubah hanya mendapuk image. Dilaksanakan dari tahun ke tahun, sensitivitas emosional dan kepedulian sosial yang berusaha dibangun itu sudah pupus sejak tiang listrik berdiri. Proyek sosial hanya berupa variasi pembelajaran, kewajiban institusi, dan rutinitas belaka. Pun fokus motivasi mahasiswa ber-KKN adalah demi tuntasnya kewajiban. Segera, semuanya akan terlupakan dari benak para akademisi ini (gatau lagi kalau soal bayangan mantan).

Adapun fenomena reunian kelompok KKN yang sering dicap sebagai ‘kangen KKN’ menjadi identifikasi persoalan yang salah. Rindu barangkali hanya pada teman-temannya, bukan susahnya membuat proposal dan perizinan. Rindu hanya pada personal orang-orang desa yang ramah menyambut, bukan sakitnya menghadapi resistensi warga atas kedatangan orang-orang asing dengan dandanan menor (pakai jas almamater).

Selain proyek sosial ekstrim macam KKN—yang memakan banyak uang—berbagai kampus sebagai tempat beranak pinaknya agen perubahan kemudian mulai keranjingan menggarap kegiatan serupa. Muncullah KKN-KKN junior, proyek sosial dalam bentuk lebih sederhana. Tujuan mengembangkan kepekaan sosial lagi-lagi tertera pada proposal dan berbagai indikator ndakik terpampang sok diplomatis.

Para elite kampus kemudian memasang kacamata kuda, tidak ingin terlampau banyak dikuliti pada sesi evaluasi. Program berjalan dan goal dipaksa tercapai. Padahal, ada begitu banyak pihak yang terpapar dampak atas kepura-puraan ini. Pertama, mahasiswa sebagai korban representasi kampus yang sok peduli pada masyarakat. Kedua, pihak sasaran program proyek sosial yaitu masyarakat.

Dalam prakteknya, tentu saja masyarakat yang disasar dilabeli dengan nama ‘kurang beruntung’ atau ‘mereka yang membutuhkan’. Masyarakat desa dengan pekerjaan utama bertani, beternak, nelayan serta-merta dikategorikan masyarakat kelas sosial-ekonomi rendah. Masyarakat ini kemudian dianggap perlu dimodernisasi karena kehidupan yang terisolasi dalam kondisi geografis jauh dari pusat pemerintahan. Pemikiran semacam inilah yang salah kaprah, definisi modernisasi yang tentu dipaksakan.

Akibatnya, program yang dirancang diatur sesuai dengan tema yang mendukung kepentingan kampus, apalagi harus dipublikasikan secara online agar seakan telah mengabdi. Padahal program yang digelar belum tentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pun penetapan masyarakat desa sebagai ‘yang perlu dikucuri bantuan’ adalah pemikiran secupet benjolan bakpao.

Masyarakat yang disasar diekspos dalam media online semakin mendukung eksploitasi kemiskinan. Justru bukti foto atau video dengan judul ‘Social Project’ yang menampilkan pelaku (mahasiswa) dan sasaran masyarakat yang dianggap ‘terbelakang’ ini semakin menunjukkan adanya gap di antara kedua aktor.

Padahal, sejak kapan masyarakat desa adalah mereka yang terbelakang dan perlu dibantu? Sejak kapan konsep ini muncul dan dijadikan doktrin mengakar pada para ilmuwan kita? Masyarakat tidak dilihat sebagai fenomena penelitian, melainkan suatu objek yang harus diubah.

Kesalahan turun-temurun ini sayangnya sudah terlanjur jadi budaya dan demam akut. Tiada celah bagi kita untuk makar dari proyek sosial sok-sokan ini. Satu-satunya cara adalah terus berdoa semoga kita tetap waras di tengah kegendhengan style pendidikan negeri ini.

Previous ArticleNext Article

2 Comments

  1. Penggunaan kata-kata yang disajikan author sangat ringan sehingga pembaca mudah memahami dan antusian membaca tulisan author, dan cara pandang author terhadap KKN sungguh menarik, karena author memiliki sudut pandang yang berbeda yang mana biasanya KKN adalah moment yang ditunggu sebagian besar Mahasiswa karena terhipnotis dengan cerita -cerita kebanyakan tentang KKN yang dianggap sebagai moment untuk mengekspresikan diri dari segala kejenuhan yang ditimbulkan oleh aktivitas kuliah tetapi author bisa mengungkapkan curahan hati sebagian mahasiswa yang mungkin tidak pernah disampaikan secara terbuka kepada pihak-pihak terkait KKN ini. Saya berharap author bisa semakin banyak menemukan hal-hal menarik terkait aktifitas perkuliahan yang mainstrem namum bisa diangkat dari sudut pandang yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 156

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 179

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks