Hari Ibu dan Kecerewetan Ini-Itu 0 1086

Semasa SD, adalah yang paling saya senangi ketika mendapat tugas menulis puisi. Terlebih dengan tema kasih sayang, yang dengan kata lain puisi tersebut nantinya akan berjudul, “Doa Ibu”, atau “Surat untuk Ibu”, isinya sudah pasti tak lepas dari “telapak kaki” dan “surga”. Setelahnya, kertas puisi itu saya simpan dalam toples kaca, sedang teman lain ada juga yang menyelipkannya pada bagian terakhir binder dengan warna terbaik.

Beberapa hari lalu, ramai sekali netijen merefleksikan cerita mereka bersama ibu. Hampir seluruh situasi yang diceritakan membawa kesan haru bagi pembaca, kalau boleh saya juga berbagi cerita, saya mau menceritakan ibu saya dari perspektif berbeda.

 

Jadi Begini

Ibu saya, umurnya tidak lebih dari enam puluh tahun, dan tidak kurang dari lima puluh tahun. Ibu tidak pernah memaksa saya beribadah, tidak pernah mengatur jalan hidup saya, bahkan ibu tidak mau ambil pusing ketika saya coba membawa seorang gadis pulang ke rumah. Bagi saya, apa yang ia lakukan adalah suatu bentuk kepercayaan.

“…kamu berpendidikan, sudah tau mana yang baik, sudah tau mana yang beresiko”, ucapnya ketika saya bangun di umur 18 tahun. Entah karena alasan apa, seingat saya, ibu jarang sekali menggunakan kata “salah” terhadap suatu hal yang dianggapnya keliru. Ibu lebih sering memperingati bahwa apa yang tidak baik akan beresiko.

Namun, sejak ibu mengetahui saya terlibat dalam beberapa aktivitas politik, ibu mulai sering menggunakan kata “salah”. Bagai diksi purba yang lama tenggelam dan muncul kembali di tengah arus perpolitikan yang deras, ibu membekukan niatan saya untuk menjadi politisi. Padahal saya cukup rasional untuk membantah argumen bahwa apa yang ibu pikirkan terhadap politik itu tidak sepenuhnya benar.

Politik, barangkali bagi ibu telah melewati batas kekeliruan. Atau mungkin kekhawatiran ibu terhadap politik tidak lebih dari akibat warisan perpolitikan Orde Baru yang ia terima selama remaja. Sekarang ibu mulai sering membuka internet dan berkunjung ke halaman berita yang sumbernya masih bisa diperdebatkan. Untuk sekedar informasi, Ibu sangat mengagumi Ustad Abdul Somad. Ustad Somad, bagi ibu, yakni representasi ideal yang dapat menjadi panutan generasi sekarang.

Semenjak  sering menggunakan internet, pengetahuan ibu atas kondisi saat ini mulai terperbaharui. Ibu mulai mengerti bahwa 22 desember menjadi waktu ditetapkannya Hari Ibu. Paginya, ibu menanyakan perihal Hari Ibu tersebut, “kalau ada hari ibu, ibu harus ngapain?” tanyanya. Selanjutnya perbincangan kami terpelanting ke masa ketika hari ibu tak perlu dirayakan seperti sekarang.

Meski hari ibu telah ditetapkan sejak 22 desember 1959 melalui Dekrit Presiden RI No. 316 Tahun 1959, tetapi ibu mulai mengetahui bahwa ada seremonial semacam itu dua hari yang lalu. Ibu bercerita bahwa selama remaja, nenek (ibunya) tidak pernah menuntut apapun pada anaknya, sebaliknya, anak-anak nenek lah yang sebisa mungkin harus mencari tahu apa yang sebenarnya nenek butuhkan. Tentunya tanpa menunggu perayaan Hari Ibu atau sejenisnya.

Saya mulai mengingat beberapa ibu dari teman saya yang sering menuntut sesuatu dari anaknya melalui hal-hal sederhana. Contoh, harus berpakaian seperti ini-itu, pulang di bawah jam sepuluh malam, kuliah ambil jurusan ini, jangan ikut organisasi itu, potong rambut jangan gondrong, ponimu taruh ke samping. Bisa dikata bahwa tuntutan semacam ini menjadi perwujudan keegoisan orangtua yang belum pernah disepakati oleh sang anak.

Betulkah kelahiran seorang anak di bumi ialah utuh untuk kesejahteraan orang tua? Hal yang sama saya tanyakan pada ibu saya, dan beliau mengatakan, tidak. Baginya, orang tua tidak perlu mengarahkan jalan hidup anaknya apabila ia memang merasa khawatir dengan sebuah masa depan. Untuk alasan moralitas, kata ibu, orangtua tidak wajib memberlakukan aturan-aturan yang membatasi pengetahuan anaknya, cukup representasikan dari laku kehidupan orang tua itu sendiri. Sebab tindakan yang dilakukan seorang anak diakibatkan oleh dua faktor wilayah, pertama konstruksi keluarga, kedua konstruksi masyarakat.

Bagi ibu, orangtua memiliki kesempatan untuk mendidik anaknya melalui wilayah kecil bernama keluarga. Terlepas dari itu adalah biarkan kebebasannya untuk memilih. Entah ia mau menjadi seniman atau politisi, yang terpenting, mereka hanya cukup mengerti jika segala tindakan yang keliru akan beresiko, dan segala tindakan yang benar tidak selamanya benar. Dan untuk kenapa ibu tiba-tiba menyatakan bahwa tindakan saya dalam melakukan aktivitas politik adalah salah, biarkan itu menjadi kado rahasia yang saya dapatkan pada Hari Ibu.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 150

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 172

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks