Hari Ibu dan Kecerewetan Ini-Itu 0 674

Semasa SD, adalah yang paling saya senangi ketika mendapat tugas menulis puisi. Terlebih dengan tema kasih sayang, yang dengan kata lain puisi tersebut nantinya akan berjudul, “Doa Ibu”, atau “Surat untuk Ibu”, isinya sudah pasti tak lepas dari “telapak kaki” dan “surga”. Setelahnya, kertas puisi itu saya simpan dalam toples kaca, sedang teman lain ada juga yang menyelipkannya pada bagian terakhir binder dengan warna terbaik.

Beberapa hari lalu, ramai sekali netijen merefleksikan cerita mereka bersama ibu. Hampir seluruh situasi yang diceritakan membawa kesan haru bagi pembaca, kalau boleh saya juga berbagi cerita, saya mau menceritakan ibu saya dari perspektif berbeda.

 

Jadi Begini

Ibu saya, umurnya tidak lebih dari enam puluh tahun, dan tidak kurang dari lima puluh tahun. Ibu tidak pernah memaksa saya beribadah, tidak pernah mengatur jalan hidup saya, bahkan ibu tidak mau ambil pusing ketika saya coba membawa seorang gadis pulang ke rumah. Bagi saya, apa yang ia lakukan adalah suatu bentuk kepercayaan.

“…kamu berpendidikan, sudah tau mana yang baik, sudah tau mana yang beresiko”, ucapnya ketika saya bangun di umur 18 tahun. Entah karena alasan apa, seingat saya, ibu jarang sekali menggunakan kata “salah” terhadap suatu hal yang dianggapnya keliru. Ibu lebih sering memperingati bahwa apa yang tidak baik akan beresiko.

Namun, sejak ibu mengetahui saya terlibat dalam beberapa aktivitas politik, ibu mulai sering menggunakan kata “salah”. Bagai diksi purba yang lama tenggelam dan muncul kembali di tengah arus perpolitikan yang deras, ibu membekukan niatan saya untuk menjadi politisi. Padahal saya cukup rasional untuk membantah argumen bahwa apa yang ibu pikirkan terhadap politik itu tidak sepenuhnya benar.

Politik, barangkali bagi ibu telah melewati batas kekeliruan. Atau mungkin kekhawatiran ibu terhadap politik tidak lebih dari akibat warisan perpolitikan Orde Baru yang ia terima selama remaja. Sekarang ibu mulai sering membuka internet dan berkunjung ke halaman berita yang sumbernya masih bisa diperdebatkan. Untuk sekedar informasi, Ibu sangat mengagumi Ustad Abdul Somad. Ustad Somad, bagi ibu, yakni representasi ideal yang dapat menjadi panutan generasi sekarang.

Semenjak  sering menggunakan internet, pengetahuan ibu atas kondisi saat ini mulai terperbaharui. Ibu mulai mengerti bahwa 22 desember menjadi waktu ditetapkannya Hari Ibu. Paginya, ibu menanyakan perihal Hari Ibu tersebut, “kalau ada hari ibu, ibu harus ngapain?” tanyanya. Selanjutnya perbincangan kami terpelanting ke masa ketika hari ibu tak perlu dirayakan seperti sekarang.

Meski hari ibu telah ditetapkan sejak 22 desember 1959 melalui Dekrit Presiden RI No. 316 Tahun 1959, tetapi ibu mulai mengetahui bahwa ada seremonial semacam itu dua hari yang lalu. Ibu bercerita bahwa selama remaja, nenek (ibunya) tidak pernah menuntut apapun pada anaknya, sebaliknya, anak-anak nenek lah yang sebisa mungkin harus mencari tahu apa yang sebenarnya nenek butuhkan. Tentunya tanpa menunggu perayaan Hari Ibu atau sejenisnya.

Saya mulai mengingat beberapa ibu dari teman saya yang sering menuntut sesuatu dari anaknya melalui hal-hal sederhana. Contoh, harus berpakaian seperti ini-itu, pulang di bawah jam sepuluh malam, kuliah ambil jurusan ini, jangan ikut organisasi itu, potong rambut jangan gondrong, ponimu taruh ke samping. Bisa dikata bahwa tuntutan semacam ini menjadi perwujudan keegoisan orangtua yang belum pernah disepakati oleh sang anak.

Betulkah kelahiran seorang anak di bumi ialah utuh untuk kesejahteraan orang tua? Hal yang sama saya tanyakan pada ibu saya, dan beliau mengatakan, tidak. Baginya, orang tua tidak perlu mengarahkan jalan hidup anaknya apabila ia memang merasa khawatir dengan sebuah masa depan. Untuk alasan moralitas, kata ibu, orangtua tidak wajib memberlakukan aturan-aturan yang membatasi pengetahuan anaknya, cukup representasikan dari laku kehidupan orang tua itu sendiri. Sebab tindakan yang dilakukan seorang anak diakibatkan oleh dua faktor wilayah, pertama konstruksi keluarga, kedua konstruksi masyarakat.

Bagi ibu, orangtua memiliki kesempatan untuk mendidik anaknya melalui wilayah kecil bernama keluarga. Terlepas dari itu adalah biarkan kebebasannya untuk memilih. Entah ia mau menjadi seniman atau politisi, yang terpenting, mereka hanya cukup mengerti jika segala tindakan yang keliru akan beresiko, dan segala tindakan yang benar tidak selamanya benar. Dan untuk kenapa ibu tiba-tiba menyatakan bahwa tindakan saya dalam melakukan aktivitas politik adalah salah, biarkan itu menjadi kado rahasia yang saya dapatkan pada Hari Ibu.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Memilih Pekerjaan Pertama: Antara Idealisme dan Berpikir Realistis 0 66

Setelah sekian lama tidak menoreh sesuatu di Kalikata dan tidak ikut hura-hura aksi tolak RKUHP, sebenarnya penulis sungkan karena maunya langsung ngomel dan curcol. Penulis lain baru-baru ini membagi kegundahannya. Ternyata saya sadar, saya pun memiliki kegundahan yang hampir sama, tidak jauh-jauh dari pekerjaan pertama.

Sebagai generasi muda harapan bangsa, barang tentu kami bakal beroleh pertanyaan semacam: ‘Habis lulus, kerja di mana?’ Seolah berdosa, kami mentok menjawab setengah tertawa, ‘Lagi proses ngelamar,’ atau ‘Belum dulu deh, hehe,’ atau ‘Belum ada yang menerima.’

Syukur-syukur jika si penanya tadi hanya membalas dengan satu suku kata ‘Oh…’, meski kadang dengan nada yang bisa buat kami mati gaya. Kalau kurang bejo, bisa jadi kami bakal dicecar seperangkat pertanyaan yang hendak menganalisis: sakjane opo toh masalahe sampek awakmu iki gak ndang ketrimo kerjo?

Beruntungnya saya tidak sempat dibegitukan. Sebabnya, sebelum wisuda saya sudah dapat pekerjaan. Hanya saja, begitu orang sekitar tahu bahwa saya bekerja di perusahaan majalah cetak berbahasa Jawa (suer gak niat spoiler, tapi inisialnya ‘PS’), berkerutlah dahi mereka. Tak tanggung-tanggung, keluarga besar juga ikutan nyinyir. Semua serempak bertanya: ngapaiiiiiin toh milih kerja kok di perusahaan tua yang otw bangkrut? Emang majalahnya masih ada yang baca?

Oke. Saya paham, kebanyakan dari nyinyirers itu seyogyanya hanya merasa eman saja. Sebab mereka tahu, saya lulus dengan predikat cukup sangat memuaskan. Sehingga wajar jika terbangun ekspektasi: pemuda berpresta-shit macam saya sudah pasti diterima seandainya melamar ke perusahaan besar. Padahal yo gak mesthi… ‘Ente saha?’ tanya perusahaan.

 

Jawaban Pertama Saya

Kepada handai tolan yang meng-eman-kan pilihan saya, melalui tulisan ini dengan tegas saya sampaikan bahwa dengan bekerja di perusahaan majalah cetak ini, saya TIDAK membuang-buang waktu. Bahkan, mewakili siapapun di luar sana, yang kini tengah bekerja di bidang yang tidak disetujui oleh orang tua maupun tetangga-tetingginya, saya menyatakan bahwa TIDAK ADA waktu dan tenaga mereka yang terbuang, selama mereka mencintai pekerjaan mereka.

Percayalah sodara-sodara, tidak semua orang punya rasio kesuksesan seperti sebagian besar orang di dunia: uang… dan kekuasaan. Ada orang-orang yang dibanding berlari sekuat tenaga untuk jadi yang terbaik, ia justru membiarkan dirinya mengalir dalam arus yang dianggapnya tak mungkin bisa ia kuasai, dan malah bahagia berada di dalamnya. Selama pilihan hidup itu tak menenggelamkannya dan takmencekat napas orang lain, tentunya sah-sah saja bukan?

Justru dengan mendakwa mereka sebagai golongan yang tak layak berkompetisi, sesungguhnya kitalah yang gagal melihat sisi mengagumkan dalam diri mereka. Merasa berkecukupan itu tidak syaratnya tidak muluk-muluk kok, gengs. Merasalah cukup, beres.

Kemudian jika menggunakan standar umum itu untuk melihat milenial yang baru jadi sarjana atau diploma, mungkin kebanyakan orang lupa bahwa selalu ada opsi untuk menjadi optimis, dengan cara percaya bahwa hidup kami ini sakjane jek panjaaaang perjalanannya.

Tentu tak masalah jika di tahun-tahun pertama setelah kelulusan, kami mencicip lingkungan pekerjaan yang beraneka rupa; tidak mesti langsung nyemplung di perusahaan “bonafide”. Pengalaman-pengalaman unik, apapun itu, akan selalu jadi referensi berharga di masa mendatang. Tapi memang tak mungkin disangkal, dunia makin kompetitif. Selagi mampu dan tersedia, segera rebut semua kesempatan yang terbuka. Semakin muda, semakin bagus.

Lantas, jika kembali pada pilihan saya memilih pekerjaan pertama ini, saya ibaratkan fase ini sebagai masa belajar sekaligus masa refreshing. Menjadi—sombong syek—lulusan baru yang langganan terganjar prestasi akademik sejak SD, saya dituntut untuk selalu menjadi yang terbaik, meraih juara, tralala trilili… Sempat ketika dahulu saya mulai menunjukkan gelagat “lelah ambis” saat sekolah menengah, saya ingat betul salah satu guru mbelani bertanya ke ibu saya, “Anak ibu kenapa sekarang seperti terjun ke bawah meja?”

Jujur saja setelah itu, saya justru jadi lebih tertarik dan memutuskan menjajal dunia di luar akademik. Menjalani keputusan itu mempertemukan saya dengan berbagai hal yang membuat saya lebih mudah merasa bahagia. Semua tanpa perlu menjadi yang terbaik di dalamnya. Ternyata, kalau sudah bahagia, segala tugas sekolah hingga kuliah rasanya semakin mudah dijalani. Malahan, prestasi akademik jadinya tak pernah benar-benar lepas dari tangan saya, selalu saja didapat tanpa harus diekspektasikan.

Sama seperti pekerjaan, sesekali berada di lingkungan yang tidak terlalu kompetitif itu tak masalah. Bekerja di perusahaan dengan cuan tak seberapa, bahkan di perusahaan atau lembaga pengabdian nirlaba sekalipun, sama sekali bukan soal. Justru semakin untunglah mereka yang demikian. Sebab selagi memenuhi kepuasan batin, mereka juga sedang mengerem ambisi prestis-materialis, sembari menambah pengalaman dan koneksi.

Bekal-bekal ini bisa jadi berguna, sekiranya mereka ingin melanjutkan perjalananke lingkungan baru. Hati dan pikiran yang sudah fresh setelah cukup “berlibur” dari hentakan-hentakan kompetisi dan stabilnya roda rutinitas nantinya pasti mampu memberi inovasi-inovasi yang tak kalah segar.

Amin.

 

Jawaban Saya yang Kedua

Nantikan di tulisan saya selanjutnya.

 

Foto: Kaique Rocha (Pexels)

Kegundahan Sederhana yang Disebabkan Kartu Nama 1 104

Jika Mas Robbyan Abel sudah bercerita tentang pergulatan mahasiswa tingkat akhir yang nggak tahan kudu mentas, kali ini izinkan hamba bercerita tentang satu tahap di atasnya: pengalaman kerja.

Beberapa waktu yang lalu, saya adalah job seeker, melamar sana-sini dan dipanggil untuk wawancara di perusahaan impian. Di tiap wawancara itu, saya tentu bertemu dengan pelamar lainnya. Di situ, terjadi perkenalan dan perbincangan basa-basi, khas warga Endonesah. Tujuannya jelas, siapa tahu jadi teman kantor saat kami sama-sama diterima. Kalaupun salah satu dari kami tidak beruntung, paling tidak sudah memperluas relasi.

Dalam perkenalan singkat itu, supaya tetap berkawan hingga kemudian hari, saya biasanya yang lebih duluan meminta kontak. Bukan nomor handphone, apalagi alamat rumah.

Saya tanyakan nama akun Instagram-nya.

Pada sebuah tes wawancara kerja, saya bertemu seorang pelamar lain yang ketika saya tanyai akun Instagram-nya, mengaku tidak punya. Saya lantas kaget. Hari gini, gak main Instagram? Padahal, menurut survei awur-awuran versi penulis, anak milenial macam kita ini paling suka menggunakan media sosial Instagram.

Perlu bukti? Kini kebutuhan hidup anak-anak muda adalah mencari tempat nongkrong dan liburan yang Instagram-able. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah itu. Sama seperti munculnya sebutan selebgram, jabatan yang patut diberikan pada mereka yang punya eksposur tinggi di jagad aplikasi berlogo kamera warna pelangi ini. Lantas berikutnya, jumlah followers, like, dan comment kemudian jadi komoditas dan kebutuhan hidup, selain uang tentunya (yang lagi-lagi untuk beli minum di tempat nongkrong yang Instagram-able).

Akibat kenalan baru saya ini tadi nggak punya Instagram, pilihan terakhir bagi saya adalah bertanya media sosial lain apa yang dia mainkan. Ternyata ia punya Twitter, syukurlah. Walau tentu meninggalkan pertanyaan dalam benak, bagaimana kawan saya ini bisa survive di antara teman se-gengnya ketika yang lain sedang ngumpul dan update story di Instagram, sementara dia nggak?

Cerita lain, setelah sebulan bekerja, saya bertemu banyak narasumber yang usianya beragam. Pengalaman lain lagi saya alami. Saat berkenalan dan meminta nomor HP narasumber, mereka menyodorkan barang yang tentu sama sekali asing bagi arek-arek lahiran tahun 2010-an ke atas: kartu nama.

Peristiwa ini membuat saya canggung. Sudah menyiapkan HP, membuat kontak baru di buku telepon HP, bersiap mengetikkan nomor si narasumber, eh dia nyodorin kartu nama. Bahkan, saking lumrahnya barang ini di era hidup si narasumber, mereka bertanya balik apa saya ada kartu nama yang bisa dipertukarkan. Entah harus malu atau bangga, mengaku di hadapan narasumber kalau saya anak milenial: generasi yang sudah tidak punya atau bahkan tidak tahu apa urgensi membuat kartu nama pribadi.

Tapi, saya bukan generasi yang sama sekali nggak kenal kartu nama. Sependek ingatan, saya pernah saling bertukar kartu nama dengan teman-teman di bangku SD. Kala itu, kami suka membuat kartu nama dengan warna dan gambar kartun favorit. Kartu nama di zaman itu jadi sebuah artefak penanda prestis, sangat ikonik, butuh dipamerkan dan dipertukarkan, layaknya kertas binder.

Lambat laun, kartu nama bagi anak seusia saya mulai ditinggalkan. Lantas, peristiwa kartu nama dengan narasumber itu membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: apakah memang sudah sejauh itu ketimpangan zaman milenial dengan generasi yang lahir sebelumnya? Kalau saya yang hampir 23 tahun ini saja sudah merasa ada gap gara-gara kartu nama, ndaniyo anake Raditya Dika karo Raisa?

Pertanyaan selanjutnya, salahkah bila kami tak punya kartu nama, dan punya cara berbeda dalam berkenalan dan berkorespondensi? Toh, perkenalan via dunia digital tidak mengurangi substansi dan etika.

Selain jadi komoditas pasar dan target kampanye politik, nasib milenial memang senantiasa jadi kambing hitam atas tuduhan-tuduhan “anak zaman sekarang mana ngerti…”atau “let’s confuse kids nowadays”.

Oalah Gusti, salah ta aku lahire saiki?

Foto: Deedee86 (Pixabay)

Editor Picks