Kegelisahanku pada NU 2 1494

*oleh: Safara Akmaliah

Halo! Tulisan ini adalah hasil dari kebingunganku, bangun pagi harus melakukan apa di tengah waktu libur kuliah yang sangat panjang. Satu setengah bulan lamanya, dan aku mengingat kejadian sepekan lalu, ketika aku diajak bapak untuk ikut dalam pelantikan Anshor di daerahku, yang kurasa perlu untuk diceritakan disini, “ini katanya acaranya jam 8, sekarang sudah setengah 9, ayo coba lewat kesana nduk, udah mulai belum ya… soalnya panggungnya sudah ada” bapak menunjuk jalan menuju tempat pelantikan, karena kebetulan aku yang memegang kemudi. Kita mengintari kawasan pelantikan, dan menakjubkannya hanya ada teknisi sedang melakukan check sound, “oh belum mulai, ya sudah kita pulang dulu saja” kata bapak.

Sepanjang perjalanan aku berfikir keras sampai melebihi kata keras itu sendiri, bagaimana bisa, setiap kegiatan bergenre NU yang kuhadiri hampir semua mengalami hal yang sama: tidak tepat waktu. Semoga ini belum menjadi kebiasaan yang membudaya. Aku orang NU, NU biologis malah. Ijo kaet cilik. Aku mengakuinya dengan bangga bahwa NU adalah ormas terbesar di Indonesia, jumlah jamaahnya puluhan juta orang. Amaliyahnya yang mix dengan budaya nusantara selalu menjadi daya tarik tersendiri buatku, meski aku pribadi bukan orang dengan basic pesantren, apalagi berani mendaku diri sebagai seseorang yang nasionalis, entahlah, ndak kiri tapi juga ndak kanan, mboh wah, pokoknya aku sangat mengagumi orang-orang ‘jebolan’ pondok pesantren NU. Khususnya salamku pada Gus Fayyadl.

Mereka fleksibel, open minded dan paham betul dalam menganalisis kondisi Islam Indonesia yang saat ini sedang carut marutnya. Disamping itu aku sangat mengagumi para santri karena jasa mereka dalam proses kemerdekaan Indonesia amat besar. Kuakui memang, jasa NU sangatlah besar dan tidak bisa dibandingkan dengan ormas lain. Tapi disamping keunggulan-keunggulan yang sudah kusebutkan tadi, NU juga memiliki kekurangan hingga berada pada tataran pemudanya, aku mengalaminya langsung karena aku masuk dalam salahasatu organisasi kepemudaan NU.

Yang sangat kusayangkan adalah perilaku warga NU yang sering ngaret. Bahkan aku berani secara ekstrem mengambil kesimpulan jika, ‘semakin tinggi jabatanmu maka kamu harus semakin terlambat bergerak’. Unique. Mengapa aku berkata sedemikian? Karena pada momen-momen tertentu, entah dalam acara pengajian, atau acara-acara lain, kyai selalu datang terlambat (ketika acara sudah berlangsung), lalu di sumanggakno oleh para hadirin sehingga menjadi pusat perhatian kemudian dicarikan tempat duduk yang kosong dan depan sendiri.  Atau tidak usah kyai, petinggi atau sekedar memiliki jabatan saja di NU pasti akan mendapat perlakuan yang kurang lebih sama. Betul atau tidak? Atau aku yang terlalu menggeneralisasi?

Persoalan tentang meghargai waktu dengan benar ini juga terjadi dalam organisasi kepemudaan NU yang molornya bisa sampai 3-4 jam dari waktu yang sudah di tentukan. Sayang sekali, padahal mereka semua adalah insan intelektual berkualitas tinggi yang disiapkan untuk memimpin bangsa pada nantinya. pemimpinbukanwakil

Kemudian tentang administrasi. Di daerah yang kutinggali, banyak gedung-gedung milik Muhammadiyah, mulai dari bidang pendidikan yang dasar hingga perguruan tinggi, Rumah Sakit serta layanan sosial lainnya. Sedangkan NU? Kalau di daerahku sih lembaga-lembaga NU cenderung terlambat, padahal masyarakat di sini mayoritas NU. Lalu aku mencoba mencari titik permasalahan dengan melihat sekolah-sekolah yang berhaluan NU di daerah lain, seperti berbagai macam pondok pesantren yang ada di Jombang, Kediri, Mojokerto, yang ternyata adalah milik pribadi dari sang kyai, bukan milik NU.

Berbeda dengan Muhammadiyah yang memang berniat untuk nggedekno Muhammadiyah, mungkin semangat mereka terbakar oleh perkataan Mbah Dahlan yang pernah bilang, “jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah, tapi hidupilah Muhammadiyah”, kemudian salahsatu perwujudannya adalah dengan  membangun fasilitas-fasilitas kemasyarakatan yang beratasnamakan Muhammadiyah, sehingga nama Muhammadiyah dikenang dalam masyarakat banyak. Tapi NU, yang terkenang adalah pemilik lembaga atau yayasannya, bukan NU-nya.

Cukup itu dulu hal-hal yang menjadi kegelisahanku. Walau kritikku barangkali kurang substansial, tapi beginilah, aku mencintai NU dari sesuatu-sesuatunya yang sederhana. Aku tidak berani terlalu larut dalam kekecewaan. Sebab yang berlebihan tidak baik. Aku menulis artikel ini tentunya untuk kebaikan NU kedepan, karena aku juga sudah nyemplung di dalam banom NU, marilah kita membenahinya bersama-sama, seperti kalimat yang ada dalam mars NU, “al muhafadhotu ‘ala qadimi al shalih wa al akhdzu bi al jadid al ashlah”, menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

*Safara Akmaliah, sering menyebut dirinya sebagai anugrah reformasi karena lahir pada tanggal 16 mei 1998. Tidak kiri juga tidak kanan. hobi beli baju baru dan datang ke diskonan.

Previous ArticleNext Article

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tentang Banjir, Kita Belajar dari Mbak Judi Bari 0 192

Oleh: Julian Sadam*

Seorang sarjana kehutanan njeplak bahwa curah hujan tinggi adalah penyebab utama banjir yang menerjang Kalimantan Selatan diawal tahun 2021. Padahal, ada faktor lain yang lebih krusial selain cuma menyoal curah hujan tinggi: kerusakan lingkungan di hulu akibat lubang galian tambang dan alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit. Dua hal ini, sulitnya, mendapat legitimasi izin oleh pemerintah.

Seorang penganggur yang awam mulai berpikir, bagaimana tidak banjir jika daerah serapan air makin berkurang karena alih fungsi lahan yang begitu masif tanpa mempertimbangkan keseimbangan alam. Banjir yang menenggelamkan 10 kabupaten dan kota, misalnya, adalah efek langsung dari ekploitasi lahan.

Penganggur itu sepintas teringat seikat merch yang baru ia beli, yang memberikan bonus bacaan menarik berjudul Ekologi Revolusioner karya Judi Bari. Seikat merch itu dijual demi mengumpulkan dana untuk sebuah kolektif tani di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah yang sedang menggarap lahan demi mengelola ketersediaan pangan secara otonom.

Judi bari adalah seorang aktivis ekologi Amerika Serikat yang semasa hidupnya giat melakukan berbagai macam aksi bersama organisasi Earth First! menentang pengrusakan alam oleh korporasi besar dan pemerintah. Orang yang pada masanya barangkali dianggap terlalu berbahaya hingga seseorang harus menaruh bom di mobilnya pada 1989.

Dalam Ekologi Revolusioner, mbak Judi Bari menabrak habis kekakuan yang membatasi ruang gerak ekologi melalui pendekatan deep ecology atau biosentrisme; sebuah kearifan lokal sejak zaman purba yang termaktub dalam pepatah “Bumi bukan milik kita. Kita adalah bagian dari bumi.” Justru manusia adalah bagian dari alam, sepotong spesies di antara banyak spesies lainnya.

Penganggur itu menenggak vodka dingin dan mulai menangkap bahwa biosentrisme adalah hukum alam yang hadir secara independen, tak peduli manusia menerimanya atau tidak. Namun dalam konteks masyarakat industri masa kini, biosentrisme benar-benar sangat revolusioner. Ia menentang sistem hingga ke dasar-dasarnya.

Gagasan mbak Judi Bari menyoroti kontradiksi biosentrisme dengan kapitalisme. Nilai lebih (seperti profit) tak hanya dicuri dari para pekerja, tetapi juga dicuri dari bumi. Penggundulan hutan adalah contoh sempurna dari pemerasan nilai lebih bumi. Bahkan, perusahaan-perusahaan global saat ini melampaui pemerintah atau negara.

Justru, negara melayani perusahaan dengan produk undang-undang yang berlabel neoliberalisme untuk melegitimasi kapitalisme, dengan bantuan sepasukan infrastruktur dan aparat. Mbak Judi Bari menegaskan tak ada yang namanya kapitalisme hijau, tak ada perjuangan abu-abu, dan bahwa orang-orang yang berkecimpung di bidang ekologi haruslah revolusioner.

Biner kanan-kiri yang diamini oleh kebanyakan orang dengan menawarkan Marxisme sebagai implementasi untuk menggantikan kapitalisme nyatanya belum memberikan jawaban. Mbak Judi mengkritik ideologi-ideologi kiri hanya berbicara tentang bagaimana cara mendistribusikan ulang barang rampasan dari hasil memerkosa bumi secara lebih merata di antara kelas-kelas manusia. Walau ketidakseimbangan alam dibawah sosialisme tidak separah dibawah kapitalisme, namun itu tak pernah menjawab kontradiksi masyarakat industri dan bumi, selain kontradiksi modal dan tenaga kerja.

Kesamaan masyarakat hari ini dalam memperlakukan perempuan dan alam (seperti ungkapan-ungkapan “hutan perawan” atau “ibu bumi”) menjadi premis untuk menjabarkan biosentrisme yang juga bertentangan dengan patriarki. Mbak Judi menggugat inti keyakinan terhadap sistem ilmu pengetahuan yang maskulin. Dimana “sifat-sifat maskulin” sebagai penaklukan dan dominasi digambarkan dalam ilmu pengetahuan oleh penemunya sebagai sistem yang mensyaratkan pemisahan manusia dari alam dengan gagasan “reduksionalisme ilmiah”; yang berarti menerapkan dominasi kita atas alam.

Metode ilmiah yang maskulin ini muncul pada periode yang sama dengan masa-masa penindasan yang sangat kejam terhadap pengetahuan perempuan tentang bumi yang diturunkan dari generasi ke generasi, cara-cara herbal, dan lain sebagainya yang dengan gampang saja disebut sebagai “takhayul”.

Oleh karena itu, menganut biosentrisme berarti menentang sistem pengetahuan maskulin yang mendasari kerusakan bumi dan yang mendasari justifikasi atas struktur masyarakat kita. Alih-alih mencari cara untuk mendominasi pria seperti wanita didominasi di bawah patriarki, maskulin dan feminin harus ada dalam keseimbangan. Tanpa keseimbangan antara keduanya, rasanya sulit membuat perubahan yang kita butuhkan untuk kembali kepada keseimbangan dengan alam.

Kita tidak bisa dengan serius mengatasi masalah banjir yang menenggelamkan sepuluh kabupaten dan kota tanpa membahas dan mengatasi masalah masyarakat yang menghancurkannya, menjadi fakta bahwa boisentrisme adalah sebuah filsafat revolusioner. Sebuah gerakan ekologi revolusioner juga harus terorganisasi di kalangan pekerja dan orang miskin.

Bagaimana mungkin kita memiliki gerakan yang berfokus pada pembuangan limbah beracun, misalnya, tetapi kita tidak memiliki gerakan pekerja untuk menghentikan produksi racun? Hanya ketika karyawan penebangan menolak untuk menebang pohon-pohon tua, menggunduli hutan, atau membakarnya, baru kita bisa berharap untuk perubahan nyata dan bertahan lama. Satu-satunya cara yang dapat Mbak Judi bayangkan untuk menghentikannya adalah dengan ketidakpatuhan yang dilakukan secara besar-besaran.

Tak terasa sudah tenggakan kelima bagi si penganggur, sementara sarjana kehutanan masih membual tentang curah hujan tinggi. Mungkin sesekali mereka perlu nongkrong berdua melahap gagasan Judi Bari di satu meja sembari mahasiswa-mahasiswa progresif menggugat instansi pendidikan berlabel neoliberal agar tak ada lagi sarjana kehutanan macam itu.

 

*) Akrab dipanggil Adam. Lahir di Karanganyar pada malam Selasa menjelang lailatul qadar. Aktif mengisi konten di berbagai laman dan baru saja menerbitkan buku pertamanya berjudul “Satu Kosong; Satu untuk Tuhan”.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Akankah Ada Demo Aksi Bela Amerika Serikat Yang Berjilid Juga? 0 300

Oleh: Rizal I. Surur*

Drama Pemilu Amerika Serikat 2020 ini, kalau ada filmmaker atau scriptwriter yang mau mengadopsi sebagai momongan mereka, niscaya bakal tembus box office worldwide deh!

Coba kita tilik debat antara Presiden Trump dengan Mantan Wakil Presiden Joe yang dipimpin oleh wasit andalan, Chris Wallace. Trump seringkali memotong sesi tanya jawab dari Chris ke Biden. Saking sebelnya, Chris dan Biden sampe mengingatkan Trump untuk diam.

Contohnya ketika Biden ngomong soal smart president, tiba-tiba tuh Trump langsung nyela dan ngejek, kalo Biden cuma lulusan sekolah biasa dan ranking rendah di kelasnya. Kontan Biden tidak terima dan balas kalo Trump adalah “President screwing things up, You are the worst president ever”.

Nah, lucunya lagi, mungkin mirip sama negara kita ya, yang deklarasi kemenangan duluan, ditanyain tuh. Trump jawab kalo bakal mengajak pendukungnya, untuk jalan ke TPS dan mengawasi jalannya coblosan. Soalnya kenapa, karena Trump ngerasa kalo coblosan kali ini bakal ga fair, atau fraudulent elections. Trump bilang kalo salah satu pendukungnya nemu adanya kertas suara yang dibuang di tempat sampah.

Kalo Biden jawabnya, mengajak pendukungnya untuk tetap sabar menunggu hasil penghitungan resmi dan kudu optimis. Biden juga mencontohkan kalo dulu sejak akhir Perang Dunia 1, militer tuh udah milih lewat mail-in ballots (kirim lewat pos gitu kertas suaranya). Nah kok dulu ga dikatain juga kalo ga fair?

Lanjut yuk, di Nashville debat sengit kedua mereka digelar. Trump ditanya soal Covid-19. Dia membalas bahwa itu tuh salahnya Cina yang ga bisa ngurusin virus dan akhirnya kesebar deh ke mana-mana. Kalo ditanya soal vaksin, Trump ga yakin tuh, dia cuman janji kalo akhir tahun bakal tersedia.

Biden membalas kalo si Trump ini cuman janji tapi tanpa aksi. Biden bilang kalo dapet tanggung jawab, Dia bakal shutdown the virus, bukannya the whole country kayak Trump. Biden nekanin kalo vaksin kudunya sih transparan dan prospek jelas.

Prediksi Bung Bernie Sanders soal pemilu, Late Tonight Show with Jimmy Fallon bikin interview dengan Bernie Sanders. Bung Bernie ini prediksi kalo Trump bakal ga terima. Bung Bernie minta untuk setiap suara harus dihitung, dan ternyata yang mail-in ballots, diprediksi bisa jutaan, kayak di Pennsylvania, Michigan, dan Wisconsin. Potensi flipped (perubahan hitungan awal ke akhir) dari antar negara bagian bakal gede. Nah, kok bener, besoknya banyak yang flipped.

Ada ulasan menarik nih tentang gimana kondisi setelah pilihan, dari pengamat politik dan mantan orang dalam, Van Jones. Dia bilang kalo di Undang-undang Amerika Serikat tuh ada celah atau legal loopholes yang bisa dimainkan. Gimana tuh?

Jadi, secara singkatnya gini, guys. Ada kandidat yang bisa kalah popular vote, gagal di electoral college, dan dia menolak untuk kalah. Caranya gimana biar yang kalah itu tetap bisa jadi Presiden? Nah bisa jadi yang kalah melakukan negosiasi tersembunyi di pemerintahan, ending-nya Dia tetap bisa dilantik, hehe seram ya.

Soalnya, selama ini, Pemilu di Amerika Serikat tuh seringnya berbasis dengan tradisi, kebudayan, dan gestur suka rela. Jadi belum diatur secara rigid, gimana alur hukumnya. Bahayanya gini, ketika yang kalah ga terima dan dia ga bikin concession speech, ini kan bisa jadi bola panas.

Karena, dari segi inaugurasi sendiri, butuh waktu 2,5 bulan setelah coblosan kelar diitung sama KPU-nya sana. Nah, masalah opini publik ini kalo ga diatur bisa berkembang menjadi bola liar nih.

Kalo kebanyakan dulu, kandidat yang kalah tuh biasanya dia mengaku kalah dan bikin concession speech, “God Bless the United States of America”. Dampaknya gimana? Ya pendukung yang kalah itu akhirnya legowo. Mungkin pendukung yang legowo itu masih tidak terima dengan hasil kalo Calon-nya kalah, tetapi kan mereka menerima pemerintah yang sekarang.

Skenario Trump gimana? Trump bakal ngelakuin apapun untuk tetap bisa mempertahankan posisinya sebagai Presiden. Inget ga sih? Kalo Trump ini adalah Presiden ketiga yang dapat impeachment atau pelengseran, tapi nyatanya tidak berhasil. Bisa jadi, Trump mengirimkan tuntutan hukum dengan masif dan meminta untuk menghentikan penghitungan dari jutaan mail-in ballots.

Akhirnya negara menganulir pemilu karena kecurangan. Negara juga tidak mau melantik Presiden hasil pemilu ini. Alasannya ya itu, kecurangan dan dugaan ada unsur campur tangan asing. Bahkan, Donald Trump ini sampe ngirim e-mail ke pendukungnya bilang gini “The Democrats Will Try to Steal This Election! Just like I predicted from the start, …”. Hayoo, kalian dapet juga ga?

Nah terus konsekuensi yang menang dan kalo dilantik gimana? Biden dulu deh. Biden pasti bakal berurusan dengan pandemi Covid-19. Tantangan buat Presiden Amerika Serikat yang baru sih dari transparansi pemerintahan, proteksi minoritas, dan anggaran yang kurang soal infrastruktur. Perlu inisiatif baru sih! Kalo Trump menang atau kalah, dia tetap aja dengan model Trumpism atau ngelola negara ala Trump aja. Trumpism bakal susah sih buat Biden, hehe.

Apapun hasilnya, ini tuh ujian terberat buat Amerika Serikat. Bisa jadi ada demo berjilid tuh di bawah patung Liberty. Eh, tapi susah sih haha. Demokrasi diambang ancaman kalo kata para ahli. Trus gimana? Ya kita doakan saja yang terbaik.

 

*) Mas-mas biasa yang suka nonton Hollywood dan konser musik indie biar dikata edgy

Editor Picks