Kegelisahanku pada NU 1 722

*oleh: Safara Akmaliah

Halo! Tulisan ini adalah hasil dari kebingunganku, bangun pagi harus melakukan apa di tengah waktu libur kuliah yang sangat panjang. Satu setengah bulan lamanya, dan aku mengingat kejadian sepekan lalu, ketika aku diajak bapak untuk ikut dalam pelantikan Anshor di daerahku, yang kurasa perlu untuk diceritakan disini, “ini katanya acaranya jam 8, sekarang sudah setengah 9, ayo coba lewat kesana nduk, udah mulai belum ya… soalnya panggungnya sudah ada” bapak menunjuk jalan menuju tempat pelantikan, karena kebetulan aku yang memegang kemudi. Kita mengintari kawasan pelantikan, dan menakjubkannya hanya ada teknisi sedang melakukan check sound, “oh belum mulai, ya sudah kita pulang dulu saja” kata bapak.

Sepanjang perjalanan aku berfikir keras sampai melebihi kata keras itu sendiri, bagaimana bisa, setiap kegiatan bergenre NU yang kuhadiri hampir semua mengalami hal yang sama: tidak tepat waktu. Semoga ini belum menjadi kebiasaan yang membudaya. Aku orang NU, NU biologis malah. Ijo kaet cilik. Aku mengakuinya dengan bangga bahwa NU adalah ormas terbesar di Indonesia, jumlah jamaahnya puluhan juta orang. Amaliyahnya yang mix dengan budaya nusantara selalu menjadi daya tarik tersendiri buatku, meski aku pribadi bukan orang dengan basic pesantren, apalagi berani mendaku diri sebagai seseorang yang nasionalis, entahlah, ndak kiri tapi juga ndak kanan, mboh wah, pokoknya aku sangat mengagumi orang-orang ‘jebolan’ pondok pesantren NU. Khususnya salamku pada Gus Fayyadl.

Mereka fleksibel, open minded dan paham betul dalam menganalisis kondisi Islam Indonesia yang saat ini sedang carut marutnya. Disamping itu aku sangat mengagumi para santri karena jasa mereka dalam proses kemerdekaan Indonesia amat besar. Kuakui memang, jasa NU sangatlah besar dan tidak bisa dibandingkan dengan ormas lain. Tapi disamping keunggulan-keunggulan yang sudah kusebutkan tadi, NU juga memiliki kekurangan hingga berada pada tataran pemudanya, aku mengalaminya langsung karena aku masuk dalam salahasatu organisasi kepemudaan NU.

Yang sangat kusayangkan adalah perilaku warga NU yang sering ngaret. Bahkan aku berani secara ekstrem mengambil kesimpulan jika, ‘semakin tinggi jabatanmu maka kamu harus semakin terlambat bergerak’. Unique. Mengapa aku berkata sedemikian? Karena pada momen-momen tertentu, entah dalam acara pengajian, atau acara-acara lain, kyai selalu datang terlambat (ketika acara sudah berlangsung), lalu di sumanggakno oleh para hadirin sehingga menjadi pusat perhatian kemudian dicarikan tempat duduk yang kosong dan depan sendiri.  Atau tidak usah kyai, petinggi atau sekedar memiliki jabatan saja di NU pasti akan mendapat perlakuan yang kurang lebih sama. Betul atau tidak? Atau aku yang terlalu menggeneralisasi?

Persoalan tentang meghargai waktu dengan benar ini juga terjadi dalam organisasi kepemudaan NU yang molornya bisa sampai 3-4 jam dari waktu yang sudah di tentukan. Sayang sekali, padahal mereka semua adalah insan intelektual berkualitas tinggi yang disiapkan untuk memimpin bangsa pada nantinya. pemimpinbukanwakil

Kemudian tentang administrasi. Di daerah yang kutinggali, banyak gedung-gedung milik Muhammadiyah, mulai dari bidang pendidikan yang dasar hingga perguruan tinggi, Rumah Sakit serta layanan sosial lainnya. Sedangkan NU? Kalau di daerahku sih lembaga-lembaga NU cenderung terlambat, padahal masyarakat di sini mayoritas NU. Lalu aku mencoba mencari titik permasalahan dengan melihat sekolah-sekolah yang berhaluan NU di daerah lain, seperti berbagai macam pondok pesantren yang ada di Jombang, Kediri, Mojokerto, yang ternyata adalah milik pribadi dari sang kyai, bukan milik NU.

Berbeda dengan Muhammadiyah yang memang berniat untuk nggedekno Muhammadiyah, mungkin semangat mereka terbakar oleh perkataan Mbah Dahlan yang pernah bilang, “jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah, tapi hidupilah Muhammadiyah”, kemudian salahsatu perwujudannya adalah dengan  membangun fasilitas-fasilitas kemasyarakatan yang beratasnamakan Muhammadiyah, sehingga nama Muhammadiyah dikenang dalam masyarakat banyak. Tapi NU, yang terkenang adalah pemilik lembaga atau yayasannya, bukan NU-nya.

Cukup itu dulu hal-hal yang menjadi kegelisahanku. Walau kritikku barangkali kurang substansial, tapi beginilah, aku mencintai NU dari sesuatu-sesuatunya yang sederhana. Aku tidak berani terlalu larut dalam kekecewaan. Sebab yang berlebihan tidak baik. Aku menulis artikel ini tentunya untuk kebaikan NU kedepan, karena aku juga sudah nyemplung di dalam banom NU, marilah kita membenahinya bersama-sama, seperti kalimat yang ada dalam mars NU, “al muhafadhotu ‘ala qadimi al shalih wa al akhdzu bi al jadid al ashlah”, menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

*Safara Akmaliah, sering menyebut dirinya sebagai anugrah reformasi karena lahir pada tanggal 16 mei 1998. Tidak kiri juga tidak kanan. hobi beli baju baru dan datang ke diskonan.

Previous ArticleNext Article

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 137

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Menulis Kondisi Penulis dan Membaca Kondisi Pembaca 0 276

Banyak penulis—kita sebut saja begitu—terpangkas semangat menulisnya akibat kesulitan membagi porsi antara kapan harus bekerja untuk yang abadi dan kapan harus bekerja untuk yang fana. Menulis dalam definisi puitisnya, adalah bekerja untuk keabadian (selebihnya akan kita temukan sendiri). Jenis-jenis penulis pun tidak sedikit. Penulis puisi, penulis cerpen, penulis berita, penulis maya, penulis skripsi, penulis miskin, penulis kaya, dan sebagainya.

Dalam diskusi di forum-forum literasi, sering disebutkan bahwa minat membaca buku semakin menurun, sejak minat membaca visual dianggap lebih dominan. Anggapan yang tidak hanya mematahkan semangat para penulis dalam proses produktifnya ini, juga mematahkan semangat penerbit buku dalam mencari tulisan-tulisan yang berkualitas.

Gejolak di atas memang pernah terasa nyata ketika toko-toko buku ternama memamerkan buku-buku yang berasal dari penulis dengan kualitas karya yang kurang serius. Contoh kasus, seorang penulis dituntut oleh penerbitnya agar menghasilkan minimal dua buku dalam waktu singkat. Padahal hal ini bisa berdampak pada tenaga penulis tersebut saat melakukan proses kreatif dan berdampak pula pada tulisan yang dihasilkannya. Atau penulis yang melahirkan buku dengan tema-tema ala kadarnya, semata-mata untuk memuaskan selera pasar hiburan.

Akan tetapi, tidak lama ini, dunia literasi kita menemukan angin segar. Dengan munculannya penerbit-penerbit independen yang berdiri di luar arus pasar hiburan mainstream. Tidak sedikit dari mereka memasarkan produknya hanya melalui internet atau media sosial. Keberadaan mereka membuka ruang yang lebih lebar bagi para penulis baru dengan tema yang kemungkinan lebih inovatif. Artinya, selain memberi ruang yang lebih lebar bagi para penulis, penerbit independen juga berpotensi memberi kesempatan bagi buku-buku marxis kiri yang mana peredarannya diawasi oleh negara ormas. Hehehe…

Namun, dilemanya adalah: bolehkah kita menyebut gerakan kiri atau ide-ide progresif yang dimanifestasikan ke dalam sebuah karya literasi sebagai bentuk komodifikasi. Ketika banyak buku bernuansa kiri mempunyai harga yang fantastis. Harga-harga yang bahkan sulit dijangkau oleh pelaku revolusioner itu sendiri. Tidak hanya melalui buku, kaos, topi, tas kecil, dan berbagai jenis atribut lainnya, mengandung semacam upaya pembentukan identitas yang berlebihan. Sedang di sisi lain, banyak rakjat kecil dengan terpaksa mengenakan kaos pemberian partai demi keberlangsungan hidup mereka yang mulai kehilangan esensi.

Fenomena ini kemudian direspon oleh media-media alternatif yang menyebar di internet. Media yang menghadirkan tulisan-tulisan dengan biaya cetak dan ongkos akses Rp 0 bagi siapa saja. Termasuk media alternatif yang sedang anda baca sekarang ini.

Media yang coba menjadi jawaban lain atas, ketidaksembarangan orang dapat berkarya, karya dapat diterbitkan, dan harga dapat dibayar. Dengan demikian, kita pun tidak boleh menyalahkan keadaan ketika masyarakat lebih tertarik mengkonsumsi media online ketimbang media cetak.

Sekarang, penulis dan pembaca perlu saling memberi pengertian satu sama lain. Bahwa, visi kedua pekerjaan ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup atau memenuhi gaya hidup. Kedua pekerjaan ini adalah usaha merawat kesadaran yang perlahan mulai tergerus oleh hal-hal trivial yang sedang mendominasi isi pikiran kita. Pertanyaan selanjutnya: kesadaran seperti apa yang perlu kita bela sebagai penulis atau pembaca? Tentu saja adalah kesadaran bahwa di dunia ini kita hidup bukan untuk diri sendiri.

Jadi ini salahnya siapa? Salahnya remaja yang memperlakukan Marxis sebagai budaya populer, bukan budaya kritis.

Editor Picks