Kegelisahanku pada NU 0 588

*oleh: Safara Akmaliah

Halo! Tulisan ini adalah hasil dari kebingunganku, bangun pagi harus melakukan apa di tengah waktu libur kuliah yang sangat panjang. Satu setengah bulan lamanya, dan aku mengingat kejadian sepekan lalu, ketika aku diajak bapak untuk ikut dalam pelantikan Anshor di daerahku, yang kurasa perlu untuk diceritakan disini, “ini katanya acaranya jam 8, sekarang sudah setengah 9, ayo coba lewat kesana nduk, udah mulai belum ya… soalnya panggungnya sudah ada” bapak menunjuk jalan menuju tempat pelantikan, karena kebetulan aku yang memegang kemudi. Kita mengintari kawasan pelantikan, dan menakjubkannya hanya ada teknisi sedang melakukan check sound, “oh belum mulai, ya sudah kita pulang dulu saja” kata bapak.

Sepanjang perjalanan aku berfikir keras sampai melebihi kata keras itu sendiri, bagaimana bisa, setiap kegiatan bergenre NU yang kuhadiri hampir semua mengalami hal yang sama: tidak tepat waktu. Semoga ini belum menjadi kebiasaan yang membudaya. Aku orang NU, NU biologis malah. Ijo kaet cilik. Aku mengakuinya dengan bangga bahwa NU adalah ormas terbesar di Indonesia, jumlah jamaahnya puluhan juta orang. Amaliyahnya yang mix dengan budaya nusantara selalu menjadi daya tarik tersendiri buatku, meski aku pribadi bukan orang dengan basic pesantren, apalagi berani mendaku diri sebagai seseorang yang nasionalis, entahlah, ndak kiri tapi juga ndak kanan, mboh wah, pokoknya aku sangat mengagumi orang-orang ‘jebolan’ pondok pesantren NU. Khususnya salamku pada Gus Fayyadl.

Mereka fleksibel, open minded dan paham betul dalam menganalisis kondisi Islam Indonesia yang saat ini sedang carut marutnya. Disamping itu aku sangat mengagumi para santri karena jasa mereka dalam proses kemerdekaan Indonesia amat besar. Kuakui memang, jasa NU sangatlah besar dan tidak bisa dibandingkan dengan ormas lain. Tapi disamping keunggulan-keunggulan yang sudah kusebutkan tadi, NU juga memiliki kekurangan hingga berada pada tataran pemudanya, aku mengalaminya langsung karena aku masuk dalam salahasatu organisasi kepemudaan NU.

Yang sangat kusayangkan adalah perilaku warga NU yang sering ngaret. Bahkan aku berani secara ekstrem mengambil kesimpulan jika, ‘semakin tinggi jabatanmu maka kamu harus semakin terlambat bergerak’. Unique. Mengapa aku berkata sedemikian? Karena pada momen-momen tertentu, entah dalam acara pengajian, atau acara-acara lain, kyai selalu datang terlambat (ketika acara sudah berlangsung), lalu di sumanggakno oleh para hadirin sehingga menjadi pusat perhatian kemudian dicarikan tempat duduk yang kosong dan depan sendiri.  Atau tidak usah kyai, petinggi atau sekedar memiliki jabatan saja di NU pasti akan mendapat perlakuan yang kurang lebih sama. Betul atau tidak? Atau aku yang terlalu menggeneralisasi?

Persoalan tentang meghargai waktu dengan benar ini juga terjadi dalam organisasi kepemudaan NU yang molornya bisa sampai 3-4 jam dari waktu yang sudah di tentukan. Sayang sekali, padahal mereka semua adalah insan intelektual berkualitas tinggi yang disiapkan untuk memimpin bangsa pada nantinya. pemimpinbukanwakil

Kemudian tentang administrasi. Di daerah yang kutinggali, banyak gedung-gedung milik Muhammadiyah, mulai dari bidang pendidikan yang dasar hingga perguruan tinggi, Rumah Sakit serta layanan sosial lainnya. Sedangkan NU? Kalau di daerahku sih lembaga-lembaga NU cenderung terlambat, padahal masyarakat di sini mayoritas NU. Lalu aku mencoba mencari titik permasalahan dengan melihat sekolah-sekolah yang berhaluan NU di daerah lain, seperti berbagai macam pondok pesantren yang ada di Jombang, Kediri, Mojokerto, yang ternyata adalah milik pribadi dari sang kyai, bukan milik NU.

Berbeda dengan Muhammadiyah yang memang berniat untuk nggedekno Muhammadiyah, mungkin semangat mereka terbakar oleh perkataan Mbah Dahlan yang pernah bilang, “jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah, tapi hidupilah Muhammadiyah”, kemudian salahsatu perwujudannya adalah dengan  membangun fasilitas-fasilitas kemasyarakatan yang beratasnamakan Muhammadiyah, sehingga nama Muhammadiyah dikenang dalam masyarakat banyak. Tapi NU, yang terkenang adalah pemilik lembaga atau yayasannya, bukan NU-nya.

Cukup itu dulu hal-hal yang menjadi kegelisahanku. Walau kritikku barangkali kurang substansial, tapi beginilah, aku mencintai NU dari sesuatu-sesuatunya yang sederhana. Aku tidak berani terlalu larut dalam kekecewaan. Sebab yang berlebihan tidak baik. Aku menulis artikel ini tentunya untuk kebaikan NU kedepan, karena aku juga sudah nyemplung di dalam banom NU, marilah kita membenahinya bersama-sama, seperti kalimat yang ada dalam mars NU, “al muhafadhotu ‘ala qadimi al shalih wa al akhdzu bi al jadid al ashlah”, menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit tharieq assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

*Safara Akmaliah, sering menyebut dirinya sebagai anugrah reformasi karena lahir pada tanggal 16 mei 1998. Tidak kiri juga tidak kanan. hobi beli baju baru dan datang ke diskonan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terorisme dan Mabuk Konspirasi 0 318

Riuh bom di kota Surabaya (dan beberapa jam setelahnya, merembet ke Sidoarjo) mengagetkan siapapun, termasuk Kalikata. Tak pernah hadir dalam bayangan kami sebuah keganasan ideologis yang mewujud ke dalam kekerasan teror, yang secara ganjil dilakukan satu keluarga, bisa mengguncang Surabaya–sebuah kota yang diklaim relatif aman.Tapi cukup mengherankan juga bagaimana publik bisa demikian terbelah: antara yang bersimpati, juga yang antipati.

Terorisme sebagai magnet peristiwa telah membuat netijen-netijen hebat itu memuntahkan prediksi-prediksi: bahwa ini semua ada pengalihan isu, bahwa segalanya settingan, dan bahwa ini kesengajaan intelijen dalam membiarkan teror terjadi. Hebat bukan prediksi-prediksi itu?

Ditopang keleluasaan teknologi komunikasi yang terbuka bagi semua orang, maka lalu lintas prediksi tidak saja meruap banyak, melainkan juga liar. Apa yang menonjol dari itu semua adalah perlombaan prediksi atas suasana konspiratif yang melingkungi terorisme. Di media sosial internet, perlombaan ini makin terang dengan narasi konspirasi yang berbeda-beda. Prinsip utama narasi itu satu: bahwa terorisme tidak lebih rekaan dan manipulasi Negara yang sama sekali nisbi, palsu, dan penuh tipu daya. Bahwa korban dengan kondisi hancur dan tergeletak di jalan adalah buah dari settingan.

Karena kebanyakan nonton Avengers (yang spoiler-nya saja ditakuti melebihi ketakutan kepada spoiler Tuhan tentang neraka), sedangkah kita dimabuk teori-teori konspirasi?

 

Saat kepungan teknologi komunikasi telah diterima sebagai nasib, kita barangkali harus mulai terbiasa dengan semangat menggebu dari tiap orang untuk bercerita. Tapi prediksi atas konspirasi teror itu juga menunjukkan betapa kita tak punya modal sama sekali kecuali bondo cangkem. Tanpa memperdulikan akal sehat, lewat teknologi komunikasi, terorisme diciutkan dari kompleksitasnya sekaligus disederhanakan dengan kedunguan prediksi sok hebat.

Ada beberapa hal yang dapat ditarik sebagai soal lebih jauh. Pertama, di sisi lain mabuk teori konspirasi ini adalah pertanda paling jelas dari ketaktersediaan informasi yang relevan dan sepadan guna menjelaskan apa dan bagaimana peristiwa terorisme itu terjadi. Media televisi yang tampak bekerja keras lewat siaran-siaran live, terbukti kedodoran dalam hal kelengkapan informasi dan hanya mementingkan aspek visual. Lebih-lebih, sedikit sekali publikasi atau keterangan resmi dari pemerintah yang dapat diandalkan, sehingga memperlihatkan kelemahan dokumentasi Negara dan kecakapan komunikasi dalam situasi yang membutuhkan kecepatan pesan.

Kedua, publik secara psikis menuntut keterlibatan dalam memikirkan dan menganalisis sebuah peristiwa. Kecerewetan mereka membutuhkan pelarian untuk digubris. Netijen-netijen itu sebetulnya juga orang biasa saja, hanya berkelebihan dalam soal semangat.

Ketiga, bahwa ini menjadi pertanda betapa rentannya kita menjelang hajatan-hajatan penting: momen politik (pilkada 2018 dan pilpres 2019). Keterampilan intelijen mustinya bisa lebih baik dalam mengantisipasi.

Keempat, rupanya harus dicamkan betul-betul, bahwa dalam masyarakat kita sungguh hidup orang-orang dengan pikiran yang ganjil, yang hanya dihidupi oleh dan dari fanatisme. Orang macam begini tidak memedulikan lagi diskusi dan akal sehat, karena di depan matanya segalanya dapat menjadi demikian hitam dan putih.

 

Kewaspadaan bersama adalah kabar baik yang mengimbangi seliweran narasi-narasi konspirasi. Publik menyadari bahwa ia punya sumber daya informasi yang ditempatkan sebagai suplai utama untuk mengatasi kondisi nir-data. Bahaya terorisme, dan juga isu-isu kekerasan lainnya, direspons secara sadar dan serentak sebagai masalah bersama.

Kolektifitas ini dapat dihitung dengan kekompakan gerakan viral media sosial kita atas isu terorisme Surabaya yang mampu membetot perhatian dan simpati dunia internasional. Muncul himbauan untuk tidak menyebar foto-foto korban peristiwa teror di tiga gereja. Sebelumnya, foto-foto ini disebar dengan brutal–sesuatu yang justru diingini oleh teroris itu sendiri dalam mengondisikan situasi mencekam secara visual. Beberapa kelompok masyarakat juga menggelar aksi simpatik untuk mendesak negara turun tangan dan mengecam.

Meski lalu lintas isu konspirasi masih muncul di sana-sini, tetapi bentuk kreatif dari kebersamaan virtual ini harus dipuji bukan hanya sebagai bukti dari partisipasi Indonesia dalam gerakan anti-terorisme, tetapi juga sebagai pengukuhan atas keterlibatan kreatif-simpatik yang terus-terang dan mandiri, tanpa lagi harus mengandalkan Negara sebagai jembatan. Kemandirian ini poin penting yang harus diterima sebagai bagian vital pemulihan kesadaran bersama sebagai bangsa atas ancaman-ancaman yang muncul.

Lagipula, kita tak selalu perlu nuansa sentimentil dan sedramatis konspirasi guna menumbuhkan simpati.

Turut berduka untuk para korban. Semoga damai dan guyub berlimpah di Surabaya.

Lagu Mahasiswa: Buruh Tani, Demokrasi, dan Dinamika Semangat Zaman 0 206

Oleh: Aria Mahatamtama*

Sebelumnya, tulisan ini berusaha merefleksikan semangat zaman tentang isu buruh, masyarakat miskin, dan mahasiswa. Mengingat bulan Mei adalah bulan yang diawali dengan semangat revolusi, iya revolusi buruh, dengan merebut alat produksi, dan menyetarakan tiap lapisan masyarakat. Aliansi mahasiswa kerap berdekatan dengan isu-isu wong cilik (buruh, dan masyarakat yang mengalami penggusuran secara paksa dan masih banyak lagi) karena itu semangat ini harus dikaji secara serius. Mengapa kajian ini harus dilakukan?

Hal mendasar yang menjadi keresahan penulis adalah “Lagu Mahasiswa: Buruh Tani”. Lagu tersebut kerap dinyanyikan oleh mahasiswa, akan tetapi, celakanya semangat zaman yang ada melalui lirik-lirik tersebut yang harus dikaji lebih dalam, kalau perlu diadakan diskusi yang membedah secara serius dampak dari lirik tersebut untuk dikontekstualisasikan dengan semangat zaman masa kini. Sebelum itu, kata “semangat zaman” ini diartikan dengan zaman yang didalamnya memuat pergejolakan pendidikan/pengetahuan, sosial, ekonomi, politik dan budaya yang sedang terjadi. Fokus penulis hanya sampai pada dua baris lirik (lihat gambar).

Sekarang bila diperbolehkan, penulis mengajak pembaca untuk memproyeksikan lagu ini bila dinyanyikan mahasiswa dalam aksi, tetapi anda (pembaca) menjadi pendengar nyanyian tersebut dengan semangat zaman masa kini. Nanti akan terlihat perbedaan semangat zaman yang terjadi.

Pada lirik awal “Buruh tani, Mahasiswa, Rakyat Miskin kota” akan terlihat jelas bahwa anda akan melihat mereka (yang terlibat aksi dan sedang bernyanyi) memberikan gambaran identitas diri mereka. Hanya memberikan gambaran dalam lirik yang dituangkan menjadi nyanyian, bukan diri mereka seutuhnya! Tetapi hanya gambaran. Lalu dilanjutkan “bersatu padu rebut demokrasi”, pada lirik ini akan terlihat ideologi rezim yang berkembang pada semangat zaman lagu ini tercipta, dengan sistem yang otoriter. Otomatis perlakuan yang paling radikal adalah meruntuhkan otoritarian dengan merebut hak-hak kebebasan individu dalam pola demokrasi. Lirik ketiga dan keempat pada baris pertama mengikuti pola lirik pertama dan kedua.

Nah, pada lirik baris kedua akan terlihat sedikit kekacauan “hari-hari esok adalah milik kita”, jika ditilik secara serius “milik kita” ini hanya terjadi, tetapi besok-besok, bukan sekarang! Jadi sekarang masih usaha, belum memiliki, akan–memiliki itu besok-besok lho. Dan “terciptanya masyarakat sejahtera” otomatis pengartian lirik ini bila mengacu pada perihal “milik kita” akan nampak jelas bahwa “masyarakat sejahtera”  ini akan didapat setelah menjadi “milik kita”  yang terjadi pada hari-hari esok. Lalu lirik ketiga pada baris kedua “terbentuknya tatanan masyarakat” ini harus dilihat jika berkaitan pada masyarakat, maka makna “tatanan” ini berbicara mengenai struktur, yaitu struktur masyarakat. Jika berbicara struktur masyarakat, otomatis terdapat dinamika atau pergejolakan yang terjadi di masyarakat dimana terdapat si kaya dan si miskin. Maka–singkatnya tatanan yang dimuat di lirik tersebut malah melanggengkan otonomi kelas borjuis yang memang dia adalah si kaya. Lirik keempat pada baris kedua memperlihatkan keajegan bahwa “Indonesia baru tanpa Orba” syarat tersebut memberikan identitas baru bagi Indonesia. Yaitu perebutan demokrasi, dengan meninggalkan “Orde Baru”.

Akan tetapi pertanyaan nyaadalah ketika demokrasi dan hak-hak kebebasan sudah didapat, lalu apakah demokrasi tidak memiliki sifat tirani; atau gampangnya, apakah demokrasi itu bebas atau tidak? Ini yang harus dikaji lebih dalam. Sebelumnya penulis sudah mengijinkan anda (pembaca) untuk boleh tidak lagi memproyeksikan menjadi pendengar nyanyian aksi tersebut, tetapi berpikir ulang untuk mengoptimalkan semangat zaman masa kini. Yaitu dengan memikirkan ulang, apakah demokrasi itu bebas atau tetap kejam akan tetapi bentuk kekejamannya lebih halus sehalus pipi doi kalau dicubit.

Kebebasan berpendapat selalu terdengar cukup memuaskan bagi kita dalam pola masyarakat demokrasi dewasa ini, tetapi jika kebebasan berpendapat ini hadir, otomatis kebebasan mendengar pun juga masuk dalam sistem demokrasi, lebih-lebih kebebasan mengonsumsi juga menjadi acuan juga dong. Lah kok boleh banyak mengonsumsi… ya iya kan Indonesia sebagai negara Dunia Ketiga dalam pola kapitalisme global bergerak dalam pola demokrasi. Maka dari itu kenapa kita selalu resah dengan jalanan Ahmad Yani yang macet karena kepadatan kendaraan atau tulisan mengenai hipster lokal bahkan tulisan tandingannya. Ya karena pola demokrasi yang bebas ini, membolehkan banyak pemilik modal melakukan ekspansinya untuk meraup banyak keuntungan yang akhirnya kalian-kalian dan pembaca ini loh boleh banyak beraspirasi untuk mengonsumsi. Ya tho? Diem-diem wae, ngopi brow.

Inilah yang menjadi titik tekan, penulis tidak menyalahkan kehadiran lagu tersebut, sama sekali tidak menyalahkan. Penulis memiliki letak asumsi yang optimis (cie) bahwa subjek, atau masyarakat dengan semangat zaman masa kini harus lebih sadar, buruh dan budaya pop tentang musik dangdut dan kepentingan panggung politik praktis harus dipisahkan. Kalau perlu buruh harus disadarkan dulu! Karena yang menjadi gejolak era kontemporer adalah relung-relung ideologi yang menggerakan kita secara halus, relung-relung ideologi itu bekerja tanpa disadari, yang memusat pada pola kapitalisme.

Ilmu itu harus diberikan sebanyak-banyaknya agar kesadaran untuk perubahan dapat terjadi.

*Hormat penulis, yang sedang menunggu film produksinya sendiri rilis dan berdoa agar petani di Aceh tidak dibakar ladangnya secara cuma-cuma.

Editor Picks