Kemana Perginya Rasisme, Ketika Kevin-Marcus Juara? 0 1228

Siapa yang masih bisa mengendalikan akal sehat ketika rasisme masih berseliweran? Apakah pembaca termasuk dalam golongan mereka yang terbakar ketika provokasi berdasar warna kulit dipekikkan? Atau pembaca adalah tipikal manungsa yang nrimo dan mencoba berdamai dengan perbedaan, lantas memilih hidup bersama?

Apapun jawabannya, Kevin Sanjaya dan Marcus Gideon—duet ganda putra bulutangkis peringkat satu dunia asal Indonesia—menutup tahun dengan gelar ke-tujuh di super series. Semua bersorak: warung-warung giras kopi-kopinya bergetar karena sorai, di rumah-rumah penghuninya gemas melihat duo minion ini. Belum lagi media kita—nyaris semuanya memuja-muji Kevin-Marcus. Semua haru-biru dan langit Indonesia penuh bejibun apresiasi.

Padahal kita tahu Kevin-Marcus keturunan Tionghoa—satu penggolongan yang mengirim Ahok mencelat dari lingkaran kompetisi gubernur, juga membuat bangsa ini disekat oleh jurang primordial dan kecurigaan menahun.

Tapi lalu kemana perginya kebencian itu? Kemana larinya semua ekspresi muak atas satu ras yang amat dibenci itu? Kemana orang-orang alumni aksi damai demonstrasi berjilid-jilid yang memuntahkan semua benci atas ras ini?

Apakah mereka ikut bersorak, seperti kita, bahagia atas kemenangan Kevin-Marcus?

Kita ini bangsa yang sungguh tak punya pilihan banyak.

Kita tak punya pilihan selain gembira atas kemenangan ganda putera kita, karena memang hanya mereka semata wayang yang mewakili Indonesia ke panggung juara.

Tak juga pernah ada rasisme untuk el Loco Christian Gonzales, striker Arema Malang yang dinaturalisasi Indonesia. Sebab, karena kehebatannya membuat kita tak punya pilihan kecuali turut mendoakannya mencipta gol ke gawang lawan. Belum lagi orang-orang yang ter-gendeng-gendeng dengan Gaston Castanyo, penakluk hati Julia Perez, atau Irfan Bachdim, blasteran Eropa yang juga membela Indonesia karena naturalisasi PSSI.

Kita tak punya pilihan kecuali berduka atas perginya idola sejuta muda-mudi, Jonghyun Shinee, yang pesonanya demikian membius. Kita tak punya selebriti yang mantap dalam bernyanyi, menari, dan tak punya event yang mampu mengemas demikian baik industri budaya. Sehingga, kita akhirnya berpaling kepada K-Pop, dengan segala hingar-bingarnya, mulai meletakkan simpati dan berduka sebesar-besarnya atas kemalangan yang menimpa idola.

Bukankah itu artinya kita bisa saja mengesampingkan rasisme dan segala kebencian? Bahwa ini bukanlah makanan pokok kita dan kita bisa hidup tanpanya?

Tapi, yaa itu, kondisinya hanya dimungkinkan jika kita sudah tak punya pilihan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 106

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Penobatan untuk Jentelmen Pemilu 2019 0 168

Pemilu sudah lewat hampir seminggu. Hasil hitung resmi dari KPU masih ditunggu. Tapi hasil hitung cepat yang muncul dan dibahas secara berlebihan di tipi-tipi sudah bisa bikin sebagian bersorak atau sebagian lain menangis tergugu.

Kontestasi boleh selesai, tapi kadang rakyat kita susah lepas dari polarisasi. Di tengah pertengkaran dan tuduh-tuduhan, kita tidak boleh lupa bahwa di balik Pemilu 2019, terdapat sosok-sosok keren yang patut kita beri penghargaan. Berikut ini adalah daftar nominasi penobatan gelar “gentleman” pada Pemilu 2019

 

Sandiaga “Ganteng” Salahuddin Uno

Bagaimana tidak? Sebanyak 1.550 titik kampanye di Indonesia sudah ia kunjungi. Publik harus mencatat effort menyapa dan menjadi idola emak-emak ini pencapaian luar biasa. Ia juga telah menjual saham dan merugi banyak demi membiayai kampanye. Bahkan di puncak akhir perjuangannya, ia terkena serangan cegukan persis setelah hasil survei hitung cepat menunjukkan dirinya dan Prabski kalah.

Walau demikian, ia adalah orang paling kuat se-Indonesia. Dari sekian banyak penderitaan yang menimpanya, dia tetap saja ganteng, kaya, beristri cantik, dan terkenal. Dia adalah inspirasi para proletar agar senantiasa pantang menyerah dalam berjuang. Atau barangkali kemujurannya adalah takdir dari Sang Kuasa.

 

Agus Harimurti Yudhoyono alias AHaYe

Penerus trah eSBeYe ini citranya sempat hancur di Pilkada DKI 2017. Namun ini semata-mata karena ibu-bapake sing melok ae. Idenya untuk bikin rumah apung masih jadi catatan visi paling terkenang sepanjang sejarah Pilkada. Tapi harus diakui, usahanya untuk bangkit dan membangun kembali serpihan citra dirinya yang tercecer itu harus diacungi jempol.

Kini, ia mulai merintis dan membangun citra baik sebagai sosok yang berwibawa, dan ini yang paling penting: ganteng. Jawaban-jawabannya bijak dan santun saat dihadapkan pada fakta lembaga survei, yang (katanya) menyatakan koalisinya kalah berperang. Pengalaman militer dan beberapa tahun kejeblos di politik menjadi guru yang berharga buatnya.

Selain dinobatkan sebagai “gentleman” Pemilu 2019, mari kita nobatkan dia sebagai lawan paling menyeramkan di 2024 kelak. Kita tunggu performamu Mas!

 

Nicholas Saputra

Sosok ini adalah yang paling unggul dari pria-pria lainnya. Elektabilitasnya di 17 April melebihi lembaga-lembaga survei quick count manapun. Walau terkenal sebagai pebinor sejak “AADC” hingga “Adu Rayu”, gak ngurus, yang penting dia tetep ganteng lagi tepat janji.

Dia menghapus foto selfie pertama sepanjang hidupnya di Instagram dalam waktu 1×24 jam. Janji itu ia tepati sesuai caption foto yang ia tuliskan sendiri.

Tapi yang pasti, momen itu jadi 24 jam terindah dan susah dilupakan dalam hidup wanita-wanita bangsa ini. Maka jadilah hari itu dikenang sebagai hari “gerakan screenshoot foto Nicholas” tingkat nasional.

 

Demikianlah deretan laki-laki pengisi nominasi penobatan “gentleman” Pemilu 2019. Pengumuman pemenang telah dilakukan dan berlaku sampai selama-lamanya. Adapun jika pembaca memiliki deretan pria ganteng dan gagah lainnya, bisa ditambahkan melalui kolom komentar.

Editor Picks