Mengutuki Leha-leha yang Salah Kaprah 0 1204

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Pembaca yang budiman dan budiwoman, jika Anda termasuk dalam tipe orang perhatian, Anda pasti menyadari bahwa beberapa hari belakangan Kalikata.id sepi kabar.

Maaf. Tiada bermaksud para penulis ‘tuk gantungkan kesetiaan Anda. Semata-mata, para penulis hanya ingin beristirahat (mbuh, koyokane seh).

Sebenarnya, ini juga menjadi salah satu keprihatinan penulis. Betapa kata ‘istirahat’ semakin ngglambyar pengertiannya seiring dengan semakin padatnya kegiatan urban.

Bagi manusia-manusia sok sibuk, istirahat seolah menjadi kubangan maut yang harus dihindari. Kalau istirahat sekarang, nanti tugas enggak selesai. Kalau istirahat sekarang, nanti target kerjaan enggak tercapai. Kalau istirahat sekarang, besok bisa terlambat kasih laporan ke bos. ‘Sleep is for the weak!’ jadi jargon kebanggaan kaum ini.

Manusia belum bisa disebut makhluk berakal budi kalau tidak ada kontra pikirnya. Jika ada yang menganggap istirahat sebagai momok kesuksesan, ada pula yang merasa bahwa istirahat ialah bagian dari keseharian. Istirahat bukan lagi hak, melainkan naik pangkat jadi kewajiban. Wajib diperoleh dan dilakukan sebagai reward dari jerih payah menuntaskan sebuah pekerjaan berat.

Tidak tanggung-tanggung, penganut aliran ini acap kali terciduk koleganya sedang bersantai terlampau ria di tengah kejaran deadline laporan, atau kerja kelompok untuk kalangan mahasiswa. Merasa pusing dan sumpek lantaran habis berjuang menulis dua paragraf penuh kutipan, melengganglah ia ke Setarbak, lengkap dengan alibi galibnya, “Sek, sek. Istirahat dulu ya.”

 

Kembali ke Hakikat Istirahat

Sesungguhnya, apa itu istirahat?

Kata istirahat berasal dari gabungan kata isti dan rahat yang masing-masing tidak ada artinya. Hehe. Yang pasti, pengertian istirahat tidak pernah jauh dari tujuan dilakukannya, yaitu melepas lelah.

Sebagai sesuatu yang boleh dilakukan andaikata seseorang sudah merasa butuh istirahat, baiknya kita menilik terlebih dahulu, apakah ia memang sedang lelah atau tidak. Demi menghindari maramara kala memergoki rekan sejawat sedang bermukim di tempat tidurnya, sementara kita gupuh dengan tugas, baiknya kita tetapkan dulu indikator kelelahan itu sendiri.

Pertama, kalau rekan Anda betina, cek dulu apakah ia tengah didatangi bulan atau tidak. Ini penting lho ya, mengingat cengkraman kram perut sangat mampu memorakporandakan pikiran, bahkan pekerjaan wanita sekaliber Nella Kharisma sekalipun. Masa’ sih Anda tega mengejar-ngejar kaum hawa untuk menyelesaikan tanggungan kala ia menderita kesakitan?

Yang perlu Anda waspadai adalah mereka yang mengaku sedang PMS padahal tidak. Tapi kalau sudah begitu mengakunya, susah juga sih untuk dipastikan. Ya percaya saja lah. Toh, wanita selalu benar.

Kedua, perhatikan perkembangan media sosial rekan Anda. Terlebih dulu, Anda harus punya banyak akun di media sosial. Kalau perlu, buat akun stalking. Itu lho, akun-akun palsu dengan nama alay macam ‘roseeee4569’ tanpa gambar profil selain si muka rata, untuk mengatasi kemungkinan si doi nge-block Anda.

Dengan demikian, Anda bisa membuktikan apakah izin absen si doi via WhatsApp selaras dengan kiriman insta-story terbarunya. Jika dibutuhkan, stalk juga teman-teman terdekatnya. Siapa tahu, tetiba muncul wajah rekan Anda sedang girang habis rebutan sepatu limited edition, padahal bilangnya pingin istirahat karena sakit. Mungkin memang sakit kali ya. Sakit jee-wah.

Ketiga, ingat-ingat kapan terakhir kali rekan Anda “beristirahat” sebelum membolehkannya istirahat lagi. Kalau dinilai tidak mendesak, tidak usahlah beristirahat dulu. Kalau doi masih ngeles lagi, katakan dengan tatapan serius nan tajam menusuk batin, “Kenapa sih? Kamu capek sama aku? Aku cuma butuh komitmenmu, loch”.

Walhasil, kejujuran yang berdasar pada kebutuhan Anda akan kinerja sang rekan bakal tembus menyentuh sukmanya. Jika perlu, bumbui dengan ekspresi mbrabak dan setitik air mata. Sadarkan kembali si doi akan esensi dari teamwork. Tunjukkan bahwa pekerjaan Anda patut diprioritaskan hingga sanggup menggeser hasratnya ‘tuk beristirahat.

Karena bagaimanapun, hanya mereka yang benar-benar sanggup menggenggam komitmen yang mampu menolak jilatan menggoda sang istirahat. Hanya mereka yang sungguh-sungguh idealis yang bisa terus-menerus bekerja, menghadapi rintangan dengan dengan akal-akalan, bukan malah kabur darinya.

Termasuk contoh figur-figur teladan macam ini ialah para politisi top nusantara. Betapa keras perjuangan mereka, melawan deras arus serangan dari politisi-politisi lain yang berseberangan kepentingan, menampik tekanan dan tuntutan hukum demi membela idealisme kelompoknya masing-masing.

Di saat rakyat mempersiapkan liburan, mereka mempersiapkan musyawarah nasional luar biasa. Di saat rakyat leha-leha sambil menyedot jus mangga, mereka melobi sana-sini guna mengunci erat rahasia gelap partai dan kader-kadernya, seefektif mungkin sambil membuka kunci lawan sebanyak-banyaknya. Licin, cerdik, dan pintar! Tak kenal lelah, tak kenal istirahat! Semangat, politisi Endonesah!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 94

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 232

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks