Mengutuki Leha-leha yang Salah Kaprah 0 593

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Pembaca yang budiman dan budiwoman, jika Anda termasuk dalam tipe orang perhatian, Anda pasti menyadari bahwa beberapa hari belakangan Kalikata.id sepi kabar.

Maaf. Tiada bermaksud para penulis ‘tuk gantungkan kesetiaan Anda. Semata-mata, para penulis hanya ingin beristirahat (mbuh, koyokane seh).

Sebenarnya, ini juga menjadi salah satu keprihatinan penulis. Betapa kata ‘istirahat’ semakin ngglambyar pengertiannya seiring dengan semakin padatnya kegiatan urban.

Bagi manusia-manusia sok sibuk, istirahat seolah menjadi kubangan maut yang harus dihindari. Kalau istirahat sekarang, nanti tugas enggak selesai. Kalau istirahat sekarang, nanti target kerjaan enggak tercapai. Kalau istirahat sekarang, besok bisa terlambat kasih laporan ke bos. ‘Sleep is for the weak!’ jadi jargon kebanggaan kaum ini.

Manusia belum bisa disebut makhluk berakal budi kalau tidak ada kontra pikirnya. Jika ada yang menganggap istirahat sebagai momok kesuksesan, ada pula yang merasa bahwa istirahat ialah bagian dari keseharian. Istirahat bukan lagi hak, melainkan naik pangkat jadi kewajiban. Wajib diperoleh dan dilakukan sebagai reward dari jerih payah menuntaskan sebuah pekerjaan berat.

Tidak tanggung-tanggung, penganut aliran ini acap kali terciduk koleganya sedang bersantai terlampau ria di tengah kejaran deadline laporan, atau kerja kelompok untuk kalangan mahasiswa. Merasa pusing dan sumpek lantaran habis berjuang menulis dua paragraf penuh kutipan, melengganglah ia ke Setarbak, lengkap dengan alibi galibnya, “Sek, sek. Istirahat dulu ya.”

 

Kembali ke Hakikat Istirahat

Sesungguhnya, apa itu istirahat?

Kata istirahat berasal dari gabungan kata isti dan rahat yang masing-masing tidak ada artinya. Hehe. Yang pasti, pengertian istirahat tidak pernah jauh dari tujuan dilakukannya, yaitu melepas lelah.

Sebagai sesuatu yang boleh dilakukan andaikata seseorang sudah merasa butuh istirahat, baiknya kita menilik terlebih dahulu, apakah ia memang sedang lelah atau tidak. Demi menghindari maramara kala memergoki rekan sejawat sedang bermukim di tempat tidurnya, sementara kita gupuh dengan tugas, baiknya kita tetapkan dulu indikator kelelahan itu sendiri.

Pertama, kalau rekan Anda betina, cek dulu apakah ia tengah didatangi bulan atau tidak. Ini penting lho ya, mengingat cengkraman kram perut sangat mampu memorakporandakan pikiran, bahkan pekerjaan wanita sekaliber Nella Kharisma sekalipun. Masa’ sih Anda tega mengejar-ngejar kaum hawa untuk menyelesaikan tanggungan kala ia menderita kesakitan?

Yang perlu Anda waspadai adalah mereka yang mengaku sedang PMS padahal tidak. Tapi kalau sudah begitu mengakunya, susah juga sih untuk dipastikan. Ya percaya saja lah. Toh, wanita selalu benar.

Kedua, perhatikan perkembangan media sosial rekan Anda. Terlebih dulu, Anda harus punya banyak akun di media sosial. Kalau perlu, buat akun stalking. Itu lho, akun-akun palsu dengan nama alay macam ‘roseeee4569’ tanpa gambar profil selain si muka rata, untuk mengatasi kemungkinan si doi nge-block Anda.

Dengan demikian, Anda bisa membuktikan apakah izin absen si doi via WhatsApp selaras dengan kiriman insta-story terbarunya. Jika dibutuhkan, stalk juga teman-teman terdekatnya. Siapa tahu, tetiba muncul wajah rekan Anda sedang girang habis rebutan sepatu limited edition, padahal bilangnya pingin istirahat karena sakit. Mungkin memang sakit kali ya. Sakit jee-wah.

Ketiga, ingat-ingat kapan terakhir kali rekan Anda “beristirahat” sebelum membolehkannya istirahat lagi. Kalau dinilai tidak mendesak, tidak usahlah beristirahat dulu. Kalau doi masih ngeles lagi, katakan dengan tatapan serius nan tajam menusuk batin, “Kenapa sih? Kamu capek sama aku? Aku cuma butuh komitmenmu, loch”.

Walhasil, kejujuran yang berdasar pada kebutuhan Anda akan kinerja sang rekan bakal tembus menyentuh sukmanya. Jika perlu, bumbui dengan ekspresi mbrabak dan setitik air mata. Sadarkan kembali si doi akan esensi dari teamwork. Tunjukkan bahwa pekerjaan Anda patut diprioritaskan hingga sanggup menggeser hasratnya ‘tuk beristirahat.

Karena bagaimanapun, hanya mereka yang benar-benar sanggup menggenggam komitmen yang mampu menolak jilatan menggoda sang istirahat. Hanya mereka yang sungguh-sungguh idealis yang bisa terus-menerus bekerja, menghadapi rintangan dengan dengan akal-akalan, bukan malah kabur darinya.

Termasuk contoh figur-figur teladan macam ini ialah para politisi top nusantara. Betapa keras perjuangan mereka, melawan deras arus serangan dari politisi-politisi lain yang berseberangan kepentingan, menampik tekanan dan tuntutan hukum demi membela idealisme kelompoknya masing-masing.

Di saat rakyat mempersiapkan liburan, mereka mempersiapkan musyawarah nasional luar biasa. Di saat rakyat leha-leha sambil menyedot jus mangga, mereka melobi sana-sini guna mengunci erat rahasia gelap partai dan kader-kadernya, seefektif mungkin sambil membuka kunci lawan sebanyak-banyaknya. Licin, cerdik, dan pintar! Tak kenal lelah, tak kenal istirahat! Semangat, politisi Endonesah!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 224

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Solusi untuk Kekecewaan Netijen atas Debat Pilpres 2019 0 298

Tak perlulah menunggu 24 jam berlalu untuk menyimpulkan ketidakpuasan khalayak masyarakat Endonesa dengan jalannya Debat Capres-Cawapres 2019 seri pertama tempo hari. Wong belum dimulai saja netijen sudah berebut saling menuduh kok! (Persis seperti performa kedua paslon di panggung debat kemarin.)

Indikator ‘mboseni’ jadi tajuk utama pidato-pidato tertulis rakyat dunia maya di kanal media sosial masing-masing. Maka, tidak heran jika para moderator debat kini kudu banget menyapa mereka dengan sebutan ‘warganet’ secara spesifik. Sebab, nonton netijen tonjok-tonjokan via live chat bisa jadi lebih seru ketimbang debat berkisi-kisi kemarin.

Penulis mengamati lalu lintas online dan menemukan minimal tiga tipe penonton debat Endonesa. Satu, warganet fanatik. Tipe ini bersorak kapan saja paslon dukungannya berbicara. Tidak peduli omongan bodoh kekanakan atau tidak, mereka merayakan argumen paslon tersebut dan mendiskreditkan argumen paslon lawan, meskipun kadang-kadang sing diomong sakjane podho intine.

Dua, warganet semi-teredukasi. Ini adalah golongan unik yang punya kesantunan cukup dan kesadaran mumpuni bahwa sebenarnya kedua paslon pancene podho wae. Meski demikian, spesies satu ini umumya sudah menetapkan jagoan pribadinya dan hanya menonton debat untuk mengonfirmasi bahwa pilihannya sudah tepat. Kemampuan mereka untuk nyelimur  tidak diragukan di kala paslon jagoannya kelihatan nggak menguasai topik. Caranya, mencari cocokologi supaya bisa membela paslonnya di hadapan warganet kubu satunya.

Tiga, warganet super-teredukasi. Nama lain golongan ini adalah golongan plegmatis-utopis. Didominasi oleh mereka yang doyan banget nonton tontonan luar negeri, golongan ini gemar sekali memuja dan mengonsumsi apa-apa yang dari luar Indonesia—biasa, dengan merujuk negara-negara “maju” saja—dan memicingkan mata untuk persoalan-persoalan genting di negaranya sendiri. Boro-boro mencari tahu dan mengomparasi keabsahan data argumen para paslon, umumnya ketertarikan politik mereka berhenti seraya mengucap kalimat, “Tuh kan. Ya gini ini Indonesia, politiknya kotor. Capres nggak ada yang bener. Mending gue tinggal di negara XXX daripada disalahin karena golput.

Padahal, dengan mayoritas kaum milenial-belum-cukup-dewasa, tipe terakhir ini cukup banyak jumlahnya. Sumbangan suaranya tidak bisa dianggap kecil, apalagi sumbangan partisipasi politiknya di masa depan. Sungguh eman bahwa justru tipe inilah yang memiliki keberjarakan paling lebar dengan persoalan politik dan hukum Indonesia.

Tapi di sisi lain, mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga. Dari debat kemarin saja, kedua paslon terang-terangan kalah telak untuk mengelaborasi visi-misi mereka secara konseptual dan rinci seperti yang dilakukan Nurhadi-Aldo, hehe. Alhasil, performa kedua pasangan bukan hanya mengecewakan bagi mereka yang teredukasi secara politik, melainkan juga para pendukung, tim sukses, dan tim kampanye masing-masing.

Penulis juga paham, andaikata memang kedua paslon tampil all out dan argumennya “saling terkam”, bisa-bisa bacok-bacokan kedua kubu jadi lebih panas. Skak mat emang jadi capres-cawapres 2019 – yang senantiasa harus diingatkan lagi dan lagi untuk kampanye damai.

 

Ya Sudah Begini Saja

Di tahun 2016 lalu, penulis menemukan fenomena internet yang lucu bin ajaib, unik bin geli, sekaligus mampu jadi solusi mujarab. Ditemukan di sebuah dimensi yang biasa dieksplorasi warganet super-teredukasi, penulis menyimpulkan bahwa ini pastilah sesuatu yang bisa banget menarik hati (dan suara) para netijen plegmatis-utopis. Temuan ini berjudul “Anies x Sandi Fanfiction”, sebuah naskah bromance.

Sebagian pembaca mungkin sudah familiar dengan istilah ini, namun sebagian lain mungkin tidak. Bromance, atau yang merupakan singkatan dari brother dan romance, adalah sebuah genre kultur populer yang merayakan dan mengomersilkan kemesraan antara lelaki dengan lelaki lainnya.

Bukti-bukti nyata lain dari keberadaan fenomena ini adalah berkembangnya fanfiction atau fiksi fantasi di situs-situs online penggemar. Mulai dari tayangan televisi, anime, grup idola, hingga selebriti, para fans ini memasang-masangkan dua atau lebih tokoh laki-laki dalam satu cerita, umumnya dengan tema asmara. Skalanya sangat lebar, mulai dari cinta vanila hingga hardcore romance, yang tentunya demi kepuasan fantasi para penggemar semata.

Bukti selanjutnya adalah membludaknya video bromance moments yang mengompilasikan momen-momen kedekatan selebriti laki-laki K-Pop di Yutub. Mulai dari yang rangkul-rangkulan sampai yang—yah apa aja ada lah ya. Video-video tersebut ditonton ratusan ribu bahkan jutaan orang, dengan kolom komentar didominasi pujian dan ekspresi gemes. Berani taruhan, nyaris separuh dari total penonton itu adalah fans dari Indonesia, yang hobi cekikikan di atas kasur tengah malam menyaksikan para idolanya bertingkah mesra satu sama lain.

Mungkin di sinilah keunggulan Sandi-Prabowo dibanding Jokowi-Ma’ruf. Segelintir rakjat berhasil dibuat jerit-jerit dengan aksi mesra mereka kemarin, lengkap dengan setelan jas necis ala oppa-oppa kaya dari drama Korea. Sepertinya, salah satu alasan keberadaan sejumlah fiksi fan macam ‘Anies x Sandi’ adalah karena Sandiaga Uno memang orang yang boyfriend goal bingits. Lihat saja, dengan pasangan barunya—ehem—Sandi bahkan berani pijet-pijetan di depan umum! Apalagi setelah Prabowo mencuit kalau doi bisa tidur nyenyak setelahnya… Kyah! Mana bisa otak-otak fangirl tidak berfantasi?!

Begini lho maksudnya. Janganlah hal-hal seperti bromance ini lalu dilihat sebagai penistaan budaya bangsa, apalagi degradasi moral para milenial, sebagaimana kerap diujar para orang tua (dan polisi moral). Lihatlah ini sebagai sebuah ekspresi kedekatan antara satu pribadi dengan pribadi lain. Lihatlah ini sebagai sebuah cara baru saling mencintai dan mengapresiasi sesama manusia, yang sesuai dengan cita-cita bangsa untuk hidup rukun tanpa banyak masalah.

Bromance, sebagai ekspresi baru cinta dan kedamaian, juga bisa jadi jalan tengah bagi persoalan capres-cawapres 2019 saat ini. Tim kampanye yang buntu jalan bisa banget mengeksplorasi cara ini untuk mem-branding paslonnya. Siapa sih, yang nggak suka menyaksikan dua orang yang berkomitmen menggenggam negara selama bertahun-tahun bisa dekat dan mesra satu sama lain? Sama seperti sejoli yang cubit-cubitan, dorong-dorongan, rangkul-rangkulan, sambil memandang mata satu sama lain dengan senyum mengembang.

Minimal, bromance ini seenggaknya bisa lah menarik mata dan hati dan suara tipe warganet ketiga tadi. Lumayan kan untuk memerbaiki image paslon pasca-debat pertama dan mencairkan ketegangan hari-hari ini? Sudah menarik, kyuti, damai pula. Komplit!

Editor Picks