Mengutuki Leha-leha yang Salah Kaprah 0 498

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Pembaca yang budiman dan budiwoman, jika Anda termasuk dalam tipe orang perhatian, Anda pasti menyadari bahwa beberapa hari belakangan Kalikata.id sepi kabar.

Maaf. Tiada bermaksud para penulis ‘tuk gantungkan kesetiaan Anda. Semata-mata, para penulis hanya ingin beristirahat (mbuh, koyokane seh).

Sebenarnya, ini juga menjadi salah satu keprihatinan penulis. Betapa kata ‘istirahat’ semakin ngglambyar pengertiannya seiring dengan semakin padatnya kegiatan urban.

Bagi manusia-manusia sok sibuk, istirahat seolah menjadi kubangan maut yang harus dihindari. Kalau istirahat sekarang, nanti tugas enggak selesai. Kalau istirahat sekarang, nanti target kerjaan enggak tercapai. Kalau istirahat sekarang, besok bisa terlambat kasih laporan ke bos. ‘Sleep is for the weak!’ jadi jargon kebanggaan kaum ini.

Manusia belum bisa disebut makhluk berakal budi kalau tidak ada kontra pikirnya. Jika ada yang menganggap istirahat sebagai momok kesuksesan, ada pula yang merasa bahwa istirahat ialah bagian dari keseharian. Istirahat bukan lagi hak, melainkan naik pangkat jadi kewajiban. Wajib diperoleh dan dilakukan sebagai reward dari jerih payah menuntaskan sebuah pekerjaan berat.

Tidak tanggung-tanggung, penganut aliran ini acap kali terciduk koleganya sedang bersantai terlampau ria di tengah kejaran deadline laporan, atau kerja kelompok untuk kalangan mahasiswa. Merasa pusing dan sumpek lantaran habis berjuang menulis dua paragraf penuh kutipan, melengganglah ia ke Setarbak, lengkap dengan alibi galibnya, “Sek, sek. Istirahat dulu ya.”

 

Kembali ke Hakikat Istirahat

Sesungguhnya, apa itu istirahat?

Kata istirahat berasal dari gabungan kata isti dan rahat yang masing-masing tidak ada artinya. Hehe. Yang pasti, pengertian istirahat tidak pernah jauh dari tujuan dilakukannya, yaitu melepas lelah.

Sebagai sesuatu yang boleh dilakukan andaikata seseorang sudah merasa butuh istirahat, baiknya kita menilik terlebih dahulu, apakah ia memang sedang lelah atau tidak. Demi menghindari maramara kala memergoki rekan sejawat sedang bermukim di tempat tidurnya, sementara kita gupuh dengan tugas, baiknya kita tetapkan dulu indikator kelelahan itu sendiri.

Pertama, kalau rekan Anda betina, cek dulu apakah ia tengah didatangi bulan atau tidak. Ini penting lho ya, mengingat cengkraman kram perut sangat mampu memorakporandakan pikiran, bahkan pekerjaan wanita sekaliber Nella Kharisma sekalipun. Masa’ sih Anda tega mengejar-ngejar kaum hawa untuk menyelesaikan tanggungan kala ia menderita kesakitan?

Yang perlu Anda waspadai adalah mereka yang mengaku sedang PMS padahal tidak. Tapi kalau sudah begitu mengakunya, susah juga sih untuk dipastikan. Ya percaya saja lah. Toh, wanita selalu benar.

Kedua, perhatikan perkembangan media sosial rekan Anda. Terlebih dulu, Anda harus punya banyak akun di media sosial. Kalau perlu, buat akun stalking. Itu lho, akun-akun palsu dengan nama alay macam ‘roseeee4569’ tanpa gambar profil selain si muka rata, untuk mengatasi kemungkinan si doi nge-block Anda.

Dengan demikian, Anda bisa membuktikan apakah izin absen si doi via WhatsApp selaras dengan kiriman insta-story terbarunya. Jika dibutuhkan, stalk juga teman-teman terdekatnya. Siapa tahu, tetiba muncul wajah rekan Anda sedang girang habis rebutan sepatu limited edition, padahal bilangnya pingin istirahat karena sakit. Mungkin memang sakit kali ya. Sakit jee-wah.

Ketiga, ingat-ingat kapan terakhir kali rekan Anda “beristirahat” sebelum membolehkannya istirahat lagi. Kalau dinilai tidak mendesak, tidak usahlah beristirahat dulu. Kalau doi masih ngeles lagi, katakan dengan tatapan serius nan tajam menusuk batin, “Kenapa sih? Kamu capek sama aku? Aku cuma butuh komitmenmu, loch”.

Walhasil, kejujuran yang berdasar pada kebutuhan Anda akan kinerja sang rekan bakal tembus menyentuh sukmanya. Jika perlu, bumbui dengan ekspresi mbrabak dan setitik air mata. Sadarkan kembali si doi akan esensi dari teamwork. Tunjukkan bahwa pekerjaan Anda patut diprioritaskan hingga sanggup menggeser hasratnya ‘tuk beristirahat.

Karena bagaimanapun, hanya mereka yang benar-benar sanggup menggenggam komitmen yang mampu menolak jilatan menggoda sang istirahat. Hanya mereka yang sungguh-sungguh idealis yang bisa terus-menerus bekerja, menghadapi rintangan dengan dengan akal-akalan, bukan malah kabur darinya.

Termasuk contoh figur-figur teladan macam ini ialah para politisi top nusantara. Betapa keras perjuangan mereka, melawan deras arus serangan dari politisi-politisi lain yang berseberangan kepentingan, menampik tekanan dan tuntutan hukum demi membela idealisme kelompoknya masing-masing.

Di saat rakyat mempersiapkan liburan, mereka mempersiapkan musyawarah nasional luar biasa. Di saat rakyat leha-leha sambil menyedot jus mangga, mereka melobi sana-sini guna mengunci erat rahasia gelap partai dan kader-kadernya, seefektif mungkin sambil membuka kunci lawan sebanyak-banyaknya. Licin, cerdik, dan pintar! Tak kenal lelah, tak kenal istirahat! Semangat, politisi Endonesah!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasib Naas Jerman yang Dilibas KorSel 0 185

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Per 27 Juni, tepatnya sejak Panser Jerman keok dilibas Oppa Korea Selatan di Piala Dunia, ada beberapa perubahan besar dalam persepakbolaan – dan mungkin juga – sejarah dunia.

Bagaimana tidak? Jerman adalah petahana Piala Dunia 2014. Kualitas pemain teruji dan track record merumput di Piala Dunia tidak perlu diragukan lagi. Sang langganan semifinal sejak 1938. Setidak-tidaknya kita berharap tinggi musti lolos 16 besar. Boleh dibilang wonder team. Uber alles deh pokoknya. Sedang lawannya, Taeguk Warriors asal Korea Selatan sama sekali antitesis semua itu. No offense loh, Oppa 🙁

Akal sehat jelas memprediksi kemenangan mudah Die Mannschaft atas Taeguk Warriors. Lah ndalah, njeketek, eng ing eng… Kenyataannya Jerman keok, plonga-plongo dihabisi Korea Selatan. Skor telak, 2-0. Gak mashookkk!

Dari awal sebenarnya posisi Jerman terbaca. Tiket melaju ke babak lanjutan dipertaruhkan, maka mereka menyerang terus. Kemungkinan tipis untuk lolos perlu dikejar. Sedang Korsel oleh karena dua kekalahan sebelumnya kontra Swedia dan Meksiko, sudah pasti angkat kaki meski menang atau kalah lawan Jerman malam itu. Tapi toh Korsel tetap on-fire, sampai peluit panjang mereka solid bertahan terus. Dari sini, kita mudah membaca siapa yang ngoyo dan siapa yang got nothing to lose.

Sepanjang pertandingan, Jerman betul menyerang tapi meleset melulu. Entah tidak cocok dengan angin di Rusia apa bagaimana. Melelahkan melihat permainan Jerman, gol tidak kunjung dibuat. Peluang banyak terbuang.

Apa karena ekspektasi penonton yang terlalu tinggi? Apa karena Jerman terlalu percaya diri?? Atau apakah memang mitos kutukan petahana pildun itu nyata adanya? Apakah Jerman memang ditakdirkan bernasib sama seperti Italia, Belanda, dan Spanyol? Sukses angkat trofi juara dunia lalu gagal mempertahankannya gelarnya? Saking mengerikannya kutukan itu, petahana bisa tersepak bahkan saat masih fase penyisihan grup.

Salam saya untuk kiper Korea yang telah bolak-balik menyelamatkan gawang. Juga pada pemain Korea sekalian yang dengan ciamik menghalau bola masuk jaring. Sampai paruh pertama, telur belum juga pecah. Pertahanan Korea Selatan belum bisa dikoyak. Menit ke-60 sekian, keadaan makin genting. Jerman tidak kunjung membuat angka, tiket lanjut dan mempertahankan gelar jadi terasa jauh. (Sebentar, nasib buruk ini apakah karena Jerman bermain di tanah Rusia? Saat Perang Dunia Kedua mereka kan…. *mulai cocoklogi).

Ritme permainan semakin terasa berat dan mendebarkan saat memasuki waktu tambahan. Jerman sudah kepayahan dan putus asa, permainan makin kacau. Korea Selatan konsisten dan merebut momentum lalu berhasil memecah kebuntuan. Skor satu untuk Korea Selatan. Rekaman Video Assistant Referees (VAR) dipakai untuk memutuskan apa gol itu sah atau tidak, sebab awalnya dikira off-side oleh wasit. Selebrasi Korsel bikin Jerman makin kalang kabut. Padahal pemain bintangnya turun. Mueller, Gomez, Oezil, dan Khedira dikerahkan agar segera cetak skor.

Tembakan banyak yang meleset. Terasa moril Jerman sudah merosot. Sampai-sampai, kiper Jerman, Neuer, meninggalkan pos jaganya. Mungkin karena sumpek rekan satu timnya tidak kunjung mencetak skor. Dirinya ikut merumput sampai begitu dekat dengan gawang Korea Selatan. Waktu tambahan sisa satu menit. Korea Selatan kembali mengoyak gawang Jerman yang ditinggalkan tak dijaga itu. Gol kembali dibuat.

Remek dan nelangsa lah Jerman diinjak Korea Selatan. Sisa waktu tidak cukup untuk membuat keajaiban. Panser kita angkat kaki. Kutukan telah tuntas terlaksana. Taeguk Warriors kalah, tapi bakal pulang ke negeranya dan disambut bak pahlawan.

Oppa dan Hyung telah menindas habis bule-bule Eropa itu. Sejarah telah mencatat itu. Daebak! Kemenangan atas Jerman juga berarti telah terjadi kemajuan pada persepakbolaan Korea Selatan di kancah dunia. Mereka telah jadi simbol untuk persebakbolaan Asia. Kini, mereka tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Terbukti pertahanan Korea jelas rapi dan mampu mengimbangi Jerman yang terus menyerang. Tidak kalah kualitas dengan si Panser.

Saya sendiri pendukung Jerman, tapi jujur diam-diam menantikan Korea Selatan menjebol gawang Jerman. Mungkin karena saya merasa terwakili sebagai sesama Asia. Sebab kan selama ini sepak bola rasa-rasanya hanya milik Eropa dan Amerika Latin. Ya kan, tim-tim itu saja toh yang menang. Tim-tim itu lagi yang dijagokan.

Boleh jadi, ini pecut untuk Indonesia agar empat tahun lagi bisa lolos kualifikasi Piala Dunia, lalu mungkin mampu menang telak 2-0 atas Inggris atau Spanyol. Siapa tahu?

Tanpa muluk-muluk, mungkin uji coba dulu dengan sapu bersih kemenangan di Asian Games tahun ini?

*Penulis adalah mahasiswi salah satu Perguruan Tinggi Surabaya. Doyan nonton dan traktiran.

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Editor Picks