Mengutuki Leha-leha yang Salah Kaprah 0 1305

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Pembaca yang budiman dan budiwoman, jika Anda termasuk dalam tipe orang perhatian, Anda pasti menyadari bahwa beberapa hari belakangan Kalikata.id sepi kabar.

Maaf. Tiada bermaksud para penulis ‘tuk gantungkan kesetiaan Anda. Semata-mata, para penulis hanya ingin beristirahat (mbuh, koyokane seh).

Sebenarnya, ini juga menjadi salah satu keprihatinan penulis. Betapa kata ‘istirahat’ semakin ngglambyar pengertiannya seiring dengan semakin padatnya kegiatan urban.

Bagi manusia-manusia sok sibuk, istirahat seolah menjadi kubangan maut yang harus dihindari. Kalau istirahat sekarang, nanti tugas enggak selesai. Kalau istirahat sekarang, nanti target kerjaan enggak tercapai. Kalau istirahat sekarang, besok bisa terlambat kasih laporan ke bos. ‘Sleep is for the weak!’ jadi jargon kebanggaan kaum ini.

Manusia belum bisa disebut makhluk berakal budi kalau tidak ada kontra pikirnya. Jika ada yang menganggap istirahat sebagai momok kesuksesan, ada pula yang merasa bahwa istirahat ialah bagian dari keseharian. Istirahat bukan lagi hak, melainkan naik pangkat jadi kewajiban. Wajib diperoleh dan dilakukan sebagai reward dari jerih payah menuntaskan sebuah pekerjaan berat.

Tidak tanggung-tanggung, penganut aliran ini acap kali terciduk koleganya sedang bersantai terlampau ria di tengah kejaran deadline laporan, atau kerja kelompok untuk kalangan mahasiswa. Merasa pusing dan sumpek lantaran habis berjuang menulis dua paragraf penuh kutipan, melengganglah ia ke Setarbak, lengkap dengan alibi galibnya, “Sek, sek. Istirahat dulu ya.”

 

Kembali ke Hakikat Istirahat

Sesungguhnya, apa itu istirahat?

Kata istirahat berasal dari gabungan kata isti dan rahat yang masing-masing tidak ada artinya. Hehe. Yang pasti, pengertian istirahat tidak pernah jauh dari tujuan dilakukannya, yaitu melepas lelah.

Sebagai sesuatu yang boleh dilakukan andaikata seseorang sudah merasa butuh istirahat, baiknya kita menilik terlebih dahulu, apakah ia memang sedang lelah atau tidak. Demi menghindari maramara kala memergoki rekan sejawat sedang bermukim di tempat tidurnya, sementara kita gupuh dengan tugas, baiknya kita tetapkan dulu indikator kelelahan itu sendiri.

Pertama, kalau rekan Anda betina, cek dulu apakah ia tengah didatangi bulan atau tidak. Ini penting lho ya, mengingat cengkraman kram perut sangat mampu memorakporandakan pikiran, bahkan pekerjaan wanita sekaliber Nella Kharisma sekalipun. Masa’ sih Anda tega mengejar-ngejar kaum hawa untuk menyelesaikan tanggungan kala ia menderita kesakitan?

Yang perlu Anda waspadai adalah mereka yang mengaku sedang PMS padahal tidak. Tapi kalau sudah begitu mengakunya, susah juga sih untuk dipastikan. Ya percaya saja lah. Toh, wanita selalu benar.

Kedua, perhatikan perkembangan media sosial rekan Anda. Terlebih dulu, Anda harus punya banyak akun di media sosial. Kalau perlu, buat akun stalking. Itu lho, akun-akun palsu dengan nama alay macam ‘roseeee4569’ tanpa gambar profil selain si muka rata, untuk mengatasi kemungkinan si doi nge-block Anda.

Dengan demikian, Anda bisa membuktikan apakah izin absen si doi via WhatsApp selaras dengan kiriman insta-story terbarunya. Jika dibutuhkan, stalk juga teman-teman terdekatnya. Siapa tahu, tetiba muncul wajah rekan Anda sedang girang habis rebutan sepatu limited edition, padahal bilangnya pingin istirahat karena sakit. Mungkin memang sakit kali ya. Sakit jee-wah.

Ketiga, ingat-ingat kapan terakhir kali rekan Anda “beristirahat” sebelum membolehkannya istirahat lagi. Kalau dinilai tidak mendesak, tidak usahlah beristirahat dulu. Kalau doi masih ngeles lagi, katakan dengan tatapan serius nan tajam menusuk batin, “Kenapa sih? Kamu capek sama aku? Aku cuma butuh komitmenmu, loch”.

Walhasil, kejujuran yang berdasar pada kebutuhan Anda akan kinerja sang rekan bakal tembus menyentuh sukmanya. Jika perlu, bumbui dengan ekspresi mbrabak dan setitik air mata. Sadarkan kembali si doi akan esensi dari teamwork. Tunjukkan bahwa pekerjaan Anda patut diprioritaskan hingga sanggup menggeser hasratnya ‘tuk beristirahat.

Karena bagaimanapun, hanya mereka yang benar-benar sanggup menggenggam komitmen yang mampu menolak jilatan menggoda sang istirahat. Hanya mereka yang sungguh-sungguh idealis yang bisa terus-menerus bekerja, menghadapi rintangan dengan dengan akal-akalan, bukan malah kabur darinya.

Termasuk contoh figur-figur teladan macam ini ialah para politisi top nusantara. Betapa keras perjuangan mereka, melawan deras arus serangan dari politisi-politisi lain yang berseberangan kepentingan, menampik tekanan dan tuntutan hukum demi membela idealisme kelompoknya masing-masing.

Di saat rakyat mempersiapkan liburan, mereka mempersiapkan musyawarah nasional luar biasa. Di saat rakyat leha-leha sambil menyedot jus mangga, mereka melobi sana-sini guna mengunci erat rahasia gelap partai dan kader-kadernya, seefektif mungkin sambil membuka kunci lawan sebanyak-banyaknya. Licin, cerdik, dan pintar! Tak kenal lelah, tak kenal istirahat! Semangat, politisi Endonesah!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sejumlah Alasan Mengapa Aldi Taher Adalah Artis Paling Berprestasi Abad Ini 0 257

Sebelumnya, Penulis menahan diri dan mencoba melihat fenomena ketenaran Aldi Taher lebih jauh. Agar yang dituliskan nantinya (dan yang kalian baca saat ini) adalah kata-kata terbijak yang Penulis mampu tuliskan.

Rahmat Aldiansyah atau dikenal dengan Aldi Taher adalah selebritis generasi lama. Sejak 2000-an ia sudah familiar dengan dunia entertainment. Anda-Anda yang seumuran saya pasti sering melihat ia dulu mondar-mandir di sinetron dan ftv layar kaca, ataupun film horror layar lebar.

Tapi, ini semua berubah sejak Aldi Taher rekam posting baca al-Quran di Instagram. Belum ditambah beragam gimmick tag-tag akun Instagram seluruh artis terkenal dan media, mengaku ingin jadi wakil gubernur DKI Jakarta, hingga berambisi melaju di Pilpres Amerika Serikat.

Kita memang menganggap Aldi Taher kini mungkin aneh. Kita bertanya-tanya apa yang mendasarinya berperilaku tak masuk akal. Tapi, justru di situlah nilai jualnya.

Dalam kaidah berita, keunikan adalah salah satu unsur penting berita. Suatu peristiwa tidak akan diliput dan ditayangkan dalam berita jika tidak unik atau berbeda. Ini teori dasar jurnalistik ya, yang dipelajari anak-anak komunikasi di kampus-kampus beken, hingga kami terapkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Aldi Taher adalah perwujudan sempurna dari unsur keunikan ini. Ia bangun dari hibernasinya di dunia hiburan dengan suatu persona yang berbeda, stand out from the rest. Ia menjadi ustadz dadakan yang pandai mengaji. Atau sebagai pencipta lagu serba bisa.

Usahanya berhasil bukan? Buktinya, kita semua membicarakannya, dan bahkan tulisan ini lahir menjawab betapa sering namanya menduduki trending topic.

Barangkali, sebagian besar netijen menganggap Aldi Taher adalah artis tukang cari sensasi. Kita beranggapan bahwa artis yang ingin terkenal harus berkarya dan mencetak prestasi. Lagipula, sejak kapan ada pakem seperti ini?

Bukankah apa yang diciptakan Aldi kini adalah karya seni juga? Rekam posting itu sebuah konten dan perlu diakui sebagai karya dalam konteks kebebasan berekspresi. Demikian pula dengan lagi “NISSA SABYAAANN~ I LOVE YOUUU SO MUCH” yang ia ciptakan. Apalagi, liriknya bisa diganti-ganti sesuai dengan kebutuhan dan rikues khalayak. Sungguh inovatif, bukan?

Keseluruhan usaha membuat sensasi ini justru membuat Aldi Taher mencetak prestasi: membuat namanya menjadi top of mind kita. Lirik dan nada lagunya sangat menempel di benak kita, dan diam-diam kita senandungkan ketika sedang masak mie instan, atau sedang menunggu bis datang di halte. Dan lagi, paling tidak ketika ditanya “siapa artis paling aneh di dunia” kita akan menyebut nama Aldi Taher bukan?

Perlu juga diakui, bahwa Aldi Taher cerdas membaca situasi. Ia tahu cara bertahan di industri hiburan hari ini. Bisnis media kita kan memang demikian, siapa yang viral dan sensasional, dialah yang akan bertahan lama.

Dari seorang Aldi Taher yang mencetak prestasi dengan kemampuan modelling, akting, dan menyanyinya yang sungguh-sungguh di masa silam. Kini ia bertransformasi menjadi Aldi Taher yang absurd. Nyatanya, ia kini berhasil jadi rebutan bintang tamu televisi dan Youtube.

Tentu, soal substansi konten dan gagasan pribadi yang sering ia lontarkan tentang beramal, poligami, hingga maksiat tak perlu kita bahas. Sebab penulis tentu tak punya kapasitas di bidang itu.

Yang jelas, prestasi Aldi Taher adalah mampu menciptakan sensasi atas dirinya sendiri, dan mampu beradaptasi di kerasnya situasi era ini. Kitalah yang seharusnya banyak belajar darinya.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Nasib Pegawai KPK Kritis dan Doa untuk Mereka 0 159

Kemarin 1.271 pegawai KPK yang lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) akhirnya sudah dilantik. Kini mereka resmi jadi abdi negara, meninggalkan 75 yang tak lolos.

Tim dokumenter dengan jejaring sangar macam Watchdoc dan kesayangan kita semua, Najwa Shihab, sudah mewawancarai mereka, mengungkap kejanggalan TWK. Pertanyaan-pertanyaan aneh macam urusan rumah tangga, perceraian, gaya pacaran, hingga aliran agama muncul selama sesi tes seleksi wawancara.

Masalahnya, 75 orang yang tidak lolos ini bukan sembarangan personil. Dari antara 75 orang itu, 13 di antaranya adalah penyidik yang berperan penting sebagai lokomotif penggerak berjalannya KPK selama ini. Sebut saja Novel Baswedan, yang kita semua tahu telah berhasil mengungkap kasus besar macam korupsi e-KTP dengan dalang Setya Novanto. Ada pula Rizka Anungnata, penyidik kasus benih lobster yang menyeret mantan Menteri KKP, Edhy Prabowo. Sampai Ronal Paul, yang tengah menangani kasus buron yang ghosting satu negeri ini, Harun Masiku.

Orang-orang ini kini tak bisa melanjutkan kasusnya, dinonaktifkan karena tak lolos tes, bahkan terancam termasuk dari 51 orang yang katanya tak lagi bisa dibina. Dalam kata lain yang lebih mudah namun kasar, sama saja dengan orang bebal.

Orang-orang berprestasi ini mungkin cerminan dari orang kritis. Di satu sisi, Indonesia ini sangat butuh orang-orang kritis agar bisa maju memperbaiki sistem dan mentalitas yang terlanjur bobrok. Tapi atas nama kestabilan, orang-orang macam inilah yang dianggap sebagai penghancur dan pembangkang. Termasuk dalam logika bisnis korporasi, pegawai yang ndablek atau berani melawan pemimpinnya pasti ditendang.

Susah dong ya jadi orang kritis di negara ini? Ya memang bakal susah kalau kamu terlalu radikal, berani bicara dan melawan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kalau kata pepatah, diam adalah emas. Itu mungkin akan sangat berlaku buat kalian-lalian yang punya pemikiran revolusioner. Jangan keburu emosi dulu! Diam memang tak selamanya baik, dan malah berujung malapetaka karena mendiamkan sesuatu yang salah. Kalau kata mantan komisioner KPK dan pengurus PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas: “membiarkan kejahatan itu sama artinya dengan melakukan kejahatan”.

Saya jadi teringat suatu kisah penyebaran dan perjalanan agama Kristen di Jepang. Alkisah, agama Katolik disebarkan pertama kali oleh misionaris Jesuit dari Portugal tahun 1560-an. Lambat laun, jumlah penganut Kristen bertambah banyak dan pesat. Penguasa politik Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk menumpas mereka.

Larangan beribadah ditetapkan. Bahkan memerintahkan semua umat Kristiani menginjak fumie, lempengan tembaga bergambar Yesus disalib pada papan kayu. Tujuannya jelas, untuk mematahkan kepercayaan mereka. Sejarah mengatakan ada sekitar 2 ribu orang meninggal menjadi martirkarena menolak menginjak fumie, tetap setia pada imannya.  Which is (cielah gaya bahasa jaksel), keren.

Tapi, tak sedikit pula yang memilih ingkar, mereka injak fumie, dan tetap hidup. Mereka berpura-pura meninggalkan agamanya, tapi tetap beribadah secara diam-diam. Mereka lah yang membuat penganut Kristiani masih ada di Jepang sampai sekarang. Coba bayangin kalau semua memilih jadi “pahlawan” dan rela mati, mungkin agama Katolik akan benar-benar punah.

Kisah ini saya lihat hampir sama dengan yang terjadi di KPK hari ini. Harapannya, ada beberapa dari 1200 yang lolos TWK itu, adalah orang-orang yang diam-diam “nurut”, menjawab dengan cara aman tes-tes wawancara yang diajukan asesor. Mereka menyembunyikan jati diri kritis, demi bertahan hidup, tetap berada dalam sistem lembaga pemberantas korupsi, dan membawa integritas ke depan. Jika benar demikian, kita tak perlu khawatir KPK akan ambruk.

Lalu bagaimana dengan 51 pegawai yang tak lagi bisa dibina itu? Perjuangan di luar KPK untuk memberantas korupsi masih panjang. Bisa melalui organisasi, lembaga bantuan hukum, dan bertindak sebagai pengamat atau penasehat. Sebab, berlian tetap bisa bersinar di mana saja walaupun ditempa sedemikian rupa. Semoga.

 

*)Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Editor Picks