Mesin Tanah dan Melacurnya Kota 0 664

Film Mesin Tanah (Terra Machine) karya Sutradara Wimar Herdanto, masuk dalam 28th Singapore International Film Festival, tahun ini—sebuah event yang bergengsi.

***

Ketika Moyo bangkit dari tidurnya—selepas perjalanan panjang, diangkut oleh truk di bak belakang—tampaklah di sana imej yang amat purba tentang kota: sebuah individu yang dilekati oleh bejibun perlambang dari apa yang kerap disepakati bersama sebagai “modernitas”.

Dengan ransel, setelan kemeja, dan topi, demikianlah Moyo, tokoh utama film pendek ini, diperkenalkan. Ia menginapi rumah Pak RT, yang juga selain administrator juga berperan sebagai guide Moyo yang memandunya ke mana pun ia pergi. Moyo yang tambun dan sok bos itu, memerintah sana sini Pak RT dan Pak Kepala Dusun untuk membantunya beraktifitas—mulai dari menjepret gambar, menemani kunjungannya di kuburan, hingga menolongnya mengelilingi desa untuk merekam video.

Ini cerita yang teramat klasik tentang kekotaan yang melacur ke desa. Tapi Terra Machine (Mesin Tanah), film pendek karya Wimar Herdanto, mencoba memberi kejutan: bahwa manusia kota yang mirip mesin itu bisa rusak, pupus, somplak. Ia tak tahan di desa dan sebagaimana mesin, ia pun tak tahan air. Dan sekali diguyur air: matilah ia.

***

Suatu hari Wimar Herdanto, dengan mata setengah ngantuk setengah nyalang seperti biasa, mendatangi penulis dan mengisahkan residensinya di desa Leuweung Gede, Jatiwangi, Jawa Barat.  Ini residensi singkat, dan tiap-tiap seniman (artist—kata cinta laura) menggunakan apa saja yang ada di sana untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku seni. Wimar, jejaka yang juga pandai membikin film itu, bercerita betapa Leuweung Gede menghidupi seni yang mengurat hingga ke leher masing-masing warganya. Ini sudah tentu barang langka: bagaimana bisa kita membayangkan aura yang bisa membawa semua warga desa itu untuk kooperatif dalam keterlibatannya dengan seni, dan film, salah satunya. Lalu dari sana lahirlah Mesin Tanah.

Mesin Tanah dibikin dengan melibatkan sumber daya lokal, dalam pengertian harfiah. Seluruh tim teknis yang mendukung sutradara diambil dari muda-mudi lokal, termasuk juga aktor yang bermain. Hal besar dari situasi ini sekurangnya merentang dalam tiga hal.

Pertama, ini menunjukkan kemandirian yang manunggal dengan akar rumput—sebuah angan-angan yang hampir-hampir tak terpikir lagi untuk bisa diwujudkan. Kita tahu bagaimana cengkeraman industri film yang mencekik, sekaligus bagaimana segala skema ekonomi raksasa itu meludahi inisiatif lokal, dan menggantinya dengan yang lebih gemuk secara modal, dan seksi secara pasar.

Kedua, lokalitas-nir modal ini tak dapat dilihat sebagai kelemahan; melainkan justru energi yang mampu memberi pukulan balik dengan kemerdekaan tema—termasuk dalam melempar granat kritik atas dimensi modernitas dan kota yang makin mengalami defisit maknawi. Orang lupa bahwa predikat “urban” yang sepintas keren (hingga digunakan sebagai nama mata kuliah, pusat studi, atau bahkan judul kafe), menyimpan dilema besar dalam dirinya. Mesin Tanah menghardik dengan melampirkan montase Moyo yang sok urban dan somplak itu.

Ketiga, hal ini juga memberi nafas bagi kita untuk rehat dari tema-tema besar macam cinta-cinta di Jakarta atau narasi-narasi menyejarah yang kacaunya bukan main (bayangkan Dian Sastro memerankan Kartini, atau Reza Rahadian dengan Tjokroaminoto, atau entah siapa lagi aktor aktris ganteng cantik bahenol yang kebagian peran “sejarah”, dengan mutu akting yang nyuwun sewu, kualitasnya senin-kemis).

***

Relasi manusia dan tanah telah dipatenkan dalam diktum agama, dan sudah berlama-lama diyakini demikian. Tapi bahwa “tanah” yang mewakili dimensi profan dalam kondisi manusia di dunia ini rupanya masih ditambah dengan hal lain yang menjadi racun dan mematikan humanisme: mesin. Orang dan isi kepalanya menjadi demikian mekanis, bergantung pada teknologi, dan mempersepsi dirinya sendiri dalam logika otomasi dan rutinitas—yang menikam segala dinamika.

Adegan Moyo merekam dan membaca Al-Fatihah di kuburan sesungguhnya menyisakan tragedi  yang jenaka tetapi menyakitkan. Di sana meruap sebuah hasrat dalam meng-ekspose agama dan kematian, dan merekamnya sebagai sebuah memento. Segala tindak dari Moyo menggambarkan mekanisasi itu. Ia menyembunyikan kelacurannya sebagai mesin, di balik alasan-alasan produksi karya yang amat estetis dan dipuja dan puji itu.

Atau, jangan-jangan Wimar sedang bermaksud lebih jauh lagi: ngrasani kegenitan para seniman film yang makin lama makin mirip mesin itu? Yang juga terbuat dari tanah itu?

Pada akhirnya Moyo, sang artis kota itu, “rusak” (ini memang istilah yang dipakai oleh tokoh Pak RT) dan harus diangkut pulang, dibungkus dan dimasukkan ke bak truk—seperti kita, yang nyaris tiap hari sudah rusak berkali-kali.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mencari Wewangian di Muka Bumi: Review Aroma Karsa Dewi Lestari 0 230

Oleh: Polikarpus Ivan*

Tulisan ini dibuat atas subyektifitas penulis menelaah rentetan kalimat yang kaya akan aroma buku. Novel ke-12 karya Dewi Lestari, Aroma Karsa, ini berhasil membius sebagian besar pembaca dan sejawat penulis dengan keterpaduan imajinasi dan realitas. Keberhasilan Dee itu direngkuh dari proses riset selama 4 tahun. Salah satunya dengan cara membuat sebuah akun digital tribe di Facebook.

Dee memberikan pendekatan dengan mengirimkan cerbung setiap part-nya ke pembaca yang tergabung dalam akun media sosial tersebut. Komentar yang diberikan oleh netizen inilah yang menjadi salah satu alasan untuk selalu merevisi novel Aroma Karsa hingga mencapai cita-rasa yang sempurna. Pola cerita sekuel yang dihadirkan ini disatukan dalam novel cetaknya yang dirilis pada bulan Maret tahun 2018. Dee memang dikenal sebagai penulis yang inspiratif dan tabah dalam berproses. Ketabahannya mampu merealisasikan imajinasi yang liar namun tetap terasa akrab bagi para pembaca.

Ini cerita tentang tokoh unik Jati Wesi, seorang pemulung yang terampil dengan hidung tikus yang dimilikinya. Segala aroma datang menghardik hidung Jati tanpa pernah minta izin. Akibat kekuatan yang dimilikinya itu, Jati merasa berbeda dengan teman-teman pemulung yang lain di TPA Bantar Gebang. Perbedaan itu membawanya untuk memulai untaian perjalanan hidup yang besar dalam pencarian jati diri Jati Wesi.

Sensitifitas Hidung Tikus milik Jati, membuatnya mudah mengenali dan memilah macam-macam aroma. Mulai dari yang paling menakutkan seperti bangkai bayi hingga yang menyejukkan seperti parfum-parfum terpopuler yang ia produksi ulang di toko parfum Attarwalla. Syahdan, ia lantas diberi tugas oleh Raras Prayagung: menemukan bunga wangi Puspa Karsa sekaligus mencari ‘rumah’.

Dee menarasikan 2 ruang yang berbeda antara di TPA Bantar gebang dan rumah mewah milik Raras Prayagung, pemilik produk parfum Kemara. Kedua ruang ini memiliki tempo kehidupan yang berbeda jika dibandingkan dengan tayangan opera sabun yang digandrungi sebagian besar ibu rumah tangga. Tidak seperti opera sabun Indonesia yang mempertemukan mereka dengan suatu kebetulan yang dipaksakan, ruang ini berjalan berirama hingga mencapai keterpaduan ketika Jati menjadi bagian dari keluarga Raras Prayagung. Jurang kelas itu luntur dengan settingan logis yang menjadi grand design antara masing-masing karakter yang ada. Jati juga menemukan cinta kepada makhluk yang masih ‘satu jenis’ dengannya. Kepekaan mereka terhadap bau membawa romansa tersendiri yang tentu dengan tujuan akhir mencari ‘rumah’. Macam aroma yang dihadirkan Dee seakan merangsek masuk kehidupan pembaca dengan berhasil membaui tubuh kita, parfum kita atau jati diri kita. Aroma itu menyerahkan diri dalam setiap kelikir kehidupan Jati.

Penekanan spiritual diceriterakan pada bagian pencarian bunga Puspa Karsa. Dee menarasikan obsesi Raras untuk mencari bunga itu dengan melakukan segala cara, salah satunya memaksa orang terdekatnya. Menjadi seorang Presiden Direktur Kemara tidak lagi menarik bagi Raras, seolah itu hanya batu loncatan untuk memenuhi ambisinya yang lain. Ambisi pencarian Puspa Karsa untuk direproduksi dalam botol kaca diyakini sebagai denyut terakhir yang akan melanggengkan Kemara sepanjang masa. Berdasar lontar kuno milik Janirah, neneknya, dan penemuan prasasti di Planggatan, Raras yakin bahwa Puspa Karsa bukanlah sebuah legenda. Data-data lain menunjukkan bahwa Puspa Karsa terletak pada jalan pendakian tengah Gunung Lawu, yang konon katanya sebagai tempat pertama turunnya dewa-dewi di pulau Jawa. Dee menggambarkan sosok Raras yang serba ada, kaya luar biasa masih bisa terpengaruh oleh hal klenik yang digaungkan oleh nenek moyangnya. Seakan menjadi penanda bagi orang-orang kaya yang mungkin masih mengandalkan pesugihan untuk melanggengkan harta mereka. Fenomena itu masih sering dijumpai di beberapa gunung keramat di Jawa seperti Gunung Lawu atau Gunung Kawi. Di dunia modern seperti sekarang ini, masih banyak lumbung-lumbung aliran animisme dan dinamisme bagi para pengikutnya yang setia.

Setiap awal, akhir, titik, jeda memberikan ruang reflektifitas akan relevansi yang dapat ditarik dari imajinasi dan realitas novel Aroma Karsa. Kekuatan dalam membangun cerita menjadi tolak ukur Dee untuk tidak memberikan celah irasional kepada para pembaca ketika mewacanakan hal yang berbau legenda. Entah, memang bakat ini anugerah atau perlu latihan yang cukup lama. Dee telah berhasil menjadi legenda baru dalam dunia penulisan yang menyeimbangkan antara yang khayalan dan kenyataan.

*Selain sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi Surabaya, Poli–begitu jejaka ini biasa disapa–juga aktif dalam kajian dan produksi sinema. 

Masih Ada Amerika di Wakanda 0 341

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Tulisan ini adalah untuk mengulas bagaimana buah pikir penulis terhadap Wakanda land yang (baju kokonya) jadi gandrungan baru masyarakat dunia pecinta film. Tulisan ini sengaja dituliskan justru setelah euforia sudah berlalu, supaya ulasan ini tidak jadi spoiler bagi kawan-kawan pembaca nan budiman (alasan tok, ngomong wae gak mood nulis).

Kemunculan people colored dalam berbagai karakter film jebolan negeri Paman Sam akhir-akhir ini memberi kita harapan baru bahwa keterbukaan serta kesetaraan semakin nyata. Marvel yang seluruh pahlawannya berkulit putih, rambut pirang, hidung mancung, dan mata biru – atau gampangnya disebut orang Indonesia sebagai bule – kini berani menampilkan T’Challa alias Black Panther sebagai pahlawan asal Afrika.

Tentu usaha mengangkat harkat martabat dunia ketiga ke permukaan layar lebar ini mengundang sambutan baik dari umat manusia (mboh umat seng endi). Terutama dalam film dengan rate 7.8/10 IMDb dan menguasai Box Office Amerika Serikat ini, unsur Afrika dan figur orang kulit hitam dengan segala kebudayaannya sungguh terasa kental. Mulai dari seluruh aktornya – pun masih menyisakan satu lakon Amerika yang jadi pupuk bawang – latar tempat, pakaian, bahasa, musik, hingga font yang digunakan sepanjang film. Semuanya membawa kita seakan-akan percaya dibawa tenggelam dalam budaya asli benua yang dicap termiskin di dunia itu.

Sepintas, kita tentu memuji-muji Amerika atas keberaniannya mengekspos Afrika ke media, suatu tindakan yang selama ini mustahil. Kita dimanjakan dengan tayangan yang berbeda sama sekali, mengentaskan kita atas tuduhan film Amerika yang monoton. Kita puas dan tak mampu beranjak dari kursi penonton hingga dua trailer setelah credit title usai ditampilkan di bioskop – membuat mas-mas petugas bioskop menunggui kita dengan tatapan harap untuk segera angkat kaki. Tapi, who the hell is America sehingga kita pantas untuk memuja-muja atas sukses besarnya dalam Black Panther?

Michael O’Shaughnessy (1951) memberi penjelasan tentang ideologi dominan dan hegemoni dalam kaitannya dengan media. Ideologi sebagai nilai dan kepercayaan seperti dikutip dari Althusser (dengan pijakan pemikiran Mbah Marx tentu saja) diciptakan dan disebarluaskan oleh kelompok berkuasa dalam sebuah tatanan sosial. Ideologi ini kemudian diterima dan dipercaya oleh banyak orang, terutama kelompok yang dianggap sebagai kelas bawah. Ideologi ini bukan suatu standar ideal untuk kemaslahatan umat tentu saja. Ideologi dominan digelar untuk merawat kekuasaan ‘ruling class’.

Sementara Antonio Gramsci menjabarkan konsensus sebagai cara agar orang menyetujui suatu nilai, termasuk ideologi dominan. Inilah yang disebut hegemoni, sebuah proses negosiasi untuk mempertahankan kekuasaan. Hegemoni adalah suatu bentuk penjajahan baru, dengan memberikan kesempatan bagi warga seakan-akan mereka mendapat kebebasan. Memberi ‘hadiah’ kepada kelompok bawahan, dengan syarat kelompok dominan tetap berkuasa.

Saudara-saudara, sayangnya, peran penanaman ideologi dominan sebagai bentuk hegemoni diambil alih oleh kekuatan terbesar sepanjang sejarah: MEDIA. Media yang diawali dari peradaban kelas atas akan terus dan selamanya mendukung ideologi kaum dominan. Kaum dominan di sini bisa diartikan beraneka ragam seperti kultur orang kulit putih, kelas ekonomi menengah-atas, laki-laki, dan sebagainya.

Dalam tulisan ini, khususnya Amerika sebagai negara demokrasi terbesar di dunia – yang oonnya kita agungkan sebagai kiblat membangun negara demokrasi – adalah aktor utama penyebar ideologi dominan yang kini kita yakini bagai agama. Bahwa Amerika adalah negara besar, negara kuat, negara yang tak terkalahkan, sumber segala kehidupan.

Bagaimana bisa wacana ini merasuk dalam film Black Panther padahal ia justru menampilkan kaum terbelakang? Kawan, sayangnya, seperti disebutkan O’Shaughnessy, media justru memberi kesempatan bagi kaum kelas bawah untuk muncul dan dielu-elukan, memberikan kebebasan sebagian agar mereka muncul, tetapi “will never allow power to be completely taken away from them” (O’Shaughnessy 1951, 189).

Hal ini nampak dari penggambaran negeri Wakanda sebagai kerjaaan antah-berantah yang barbar, hidup tertutup, tidak pernah membangun diplomasi dengan dunia. Bahkan, secara kejam Amerika membuat posisi Afrika yang kaya sumber daya alam itu sebagai SERAKAH, hanya menyimpan kekuatan untuk kesejahteraan mereka sendiri: tidak mau vibranium disebarkan ke seluruh dunia.

Wakanda sebagai representasi Afrika kemudian disindir hanya ‘jago kandang’, nampak jelas dari sabda T’Challa “I am the King of Wakanda, not the King of every people” (maaf kalau quotenya salah ya). Mungkin, dalam hal ini Amerika juga tengah menyindir negara-negara lain yang dianggap ‘tidak mau berbagi rezeki’, melalui Afrika sebagai ‘kambing hitam’, hiks kasian bingits. Atau semata-mata hanya ‘gertakan sambel’nya Amerika untuk menutupi ketakutan berlebihan mereka akan negara-negara superpower lainnya.

Pun Wakanda di akhir cerita yang digambarkan membuka diri pada dunia, tergambar dengan adegan pidatonya di PBB – yang oh lagi-lagi produk Amerika dan bermarkas di Amerika. Itu pun, lagi-lagi Wakanda mengambil langkah diplomasi karena diberi stimulus serangan N’Jadaka a.k.a Killmonger, seakan-akan mereka tidak secara sadar dan memiliki kematangan berpikir tanpa gertakan. Maaf ya, sepertinya penulis dalam nyinyiran hari ini sedang sensi dengan Amerika, selain sama doi.

Sesungguhnya, masih banyak diskursus lain yang menarik untuk dibahas. Misal, Nakiya dan Okoye sebagai jenderal beserta anak buahnya yang butak-butak sebagai ksatria wanita tangguh. Biarlah para pejuang kesetaraan gender dan pencadu feminisme akut yang akan membahasnya.

Yang pasti, kawan-kawan masih akan dibujuki Marvel sepanjang tahun ini. Masih ada Infinity War, Ant Man, dan hegemoni-hegemoni lainnya yang siap sedia ditanamkan pada benak Anda sekalian. Masih ada 35 hingga 60 ribu duit ping sewu (ini harga tiket nonton normal di mall-mall beken Surabaya) dihamburkan demi melihat Amerika masih, akan, dan selamanya menguasai dunia. Hehe.

Editor Picks