‘Mesin Tanah’ dan Melacurnya Kota 0 1914

Film ‘Mesin Tanah’ (Terra Machine) karya Sutradara Wimar Herdanto, masuk dalam 28th Singapore International Film Festival, tahun ini—sebuah event yang bergengsi.

***

Ketika Moyo bangkit dari tidurnya—selepas perjalanan panjang, diangkut oleh truk di bak belakang—tampaklah di sana imej yang amat purba tentang kota: sebuah individu yang dilekati oleh bejibun perlambang dari apa yang kerap disepakati bersama sebagai “modernitas”.

Dengan ransel, setelan kemeja, dan topi, demikianlah Moyo, tokoh utama film pendek ini, diperkenalkan. Ia menginapi rumah Pak RT, yang juga selain administrator juga berperan sebagai guide Moyo yang memandunya ke mana pun ia pergi. Moyo yang tambun dan sok bos itu, memerintah sana sini Pak RT dan Pak Kepala Dusun untuk membantunya beraktifitas—mulai dari menjepret gambar, menemani kunjungannya di kuburan, hingga menolongnya mengelilingi desa untuk merekam video.

Ini cerita yang teramat klasik tentang kekotaan yang melacur ke desa. Tapi Terra Machine (Mesin Tanah), film pendek karya Wimar Herdanto, mencoba memberi kejutan: bahwa manusia kota yang mirip mesin itu bisa rusak, pupus, somplak. Ia tak tahan di desa dan sebagaimana mesin, ia pun tak tahan air. Dan sekali diguyur air: matilah ia.

***

Suatu hari Wimar Herdanto, dengan mata setengah ngantuk setengah nyalang seperti biasa, mendatangi penulis dan mengisahkan residensinya di desa Leuweung Gede, Jatiwangi, Jawa Barat.  Ini residensi singkat, dan tiap-tiap seniman (artist—kata cinta laura) menggunakan apa saja yang ada di sana untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku seni. Wimar, jejaka yang juga pandai membikin film itu, bercerita betapa Leuweung Gede menghidupi seni yang mengurat hingga ke leher masing-masing warganya. Ini sudah tentu barang langka: bagaimana bisa kita membayangkan aura yang bisa membawa semua warga desa itu untuk kooperatif dalam keterlibatannya dengan seni, dan film, salah satunya. Lalu dari sana lahirlah Mesin Tanah.

Mesin Tanah dibikin dengan melibatkan sumber daya lokal, dalam pengertian harfiah. Seluruh tim teknis yang mendukung sutradara diambil dari muda-mudi lokal, termasuk juga aktor yang bermain. Hal besar dari situasi ini sekurangnya merentang dalam tiga hal.

Pertama, ini menunjukkan kemandirian yang manunggal dengan akar rumput—sebuah angan-angan yang hampir-hampir tak terpikir lagi untuk bisa diwujudkan. Kita tahu bagaimana cengkeraman industri film yang mencekik, sekaligus bagaimana segala skema ekonomi raksasa itu meludahi inisiatif lokal, dan menggantinya dengan yang lebih gemuk secara modal, dan seksi secara pasar.

Kedua, lokalitas-nir modal ini tak dapat dilihat sebagai kelemahan; melainkan justru energi yang mampu memberi pukulan balik dengan kemerdekaan tema—termasuk dalam melempar granat kritik atas dimensi modernitas dan kota yang makin mengalami defisit maknawi. Orang lupa bahwa predikat “urban” yang sepintas keren (hingga digunakan sebagai nama mata kuliah, pusat studi, atau bahkan judul kafe), menyimpan dilema besar dalam dirinya. Mesin Tanah menghardik dengan melampirkan montase Moyo yang sok urban dan somplak itu.

Ketiga, hal ini juga memberi nafas bagi kita untuk rehat dari tema-tema besar macam cinta-cinta di Jakarta atau narasi-narasi menyejarah yang kacaunya bukan main (bayangkan Dian Sastro memerankan Kartini, atau Reza Rahadian dengan Tjokroaminoto, atau entah siapa lagi aktor aktris ganteng cantik bahenol yang kebagian peran “sejarah”, dengan mutu akting yang nyuwun sewu, kualitasnya senin-kemis).

***

Relasi manusia dan tanah telah dipatenkan dalam diktum agama, dan sudah berlama-lama diyakini demikian. Tapi bahwa “tanah” yang mewakili dimensi profan dalam kondisi manusia di dunia ini rupanya masih ditambah dengan hal lain yang menjadi racun dan mematikan humanisme: mesin. Orang dan isi kepalanya menjadi demikian mekanis, bergantung pada teknologi, dan mempersepsi dirinya sendiri dalam logika otomasi dan rutinitas—yang menikam segala dinamika.

Adegan Moyo merekam dan membaca Al-Fatihah di kuburan sesungguhnya menyisakan tragedi  yang jenaka tetapi menyakitkan. Di sana meruap sebuah hasrat dalam meng-ekspose agama dan kematian, dan merekamnya sebagai sebuah memento. Segala tindak dari Moyo menggambarkan mekanisasi itu. Ia menyembunyikan kelacurannya sebagai mesin, di balik alasan-alasan produksi karya yang amat estetis dan dipuja dan puji itu.

Atau, jangan-jangan Wimar sedang bermaksud lebih jauh lagi: ngrasani kegenitan para seniman film yang makin lama makin mirip mesin itu? Yang juga terbuat dari tanah itu?

Pada akhirnya Moyo, sang artis kota itu, “rusak” (ini memang istilah yang dipakai oleh tokoh Pak RT) dan harus diangkut pulang, dibungkus dan dimasukkan ke bak truk—seperti kita, yang nyaris tiap hari sudah rusak berkali-kali.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea 0 595

Vincenzo, drama Korea yang tayang pada setiap hari Sabtu di TVN dan Netflix ini, menyajikan alur yang menarik untuk ditonton. Dibintangi oleh Song Joong Ki, Jeon Yeo Bin, dan Taecyeon, drama ini seolah mengolok-olok kebobrokan penegakan hukum di Korea Selatan.

Penegakan hukum yang lemah di Korea Selatan sudah menjadi rahasia umum. Tak jauh berbeda dengan Indonesia, keadilan sosial hanya milik mereka yang memiliki harta, tahta, dan koneksi ordal (orang dalam). Misalnya kabar kencan Jennie Blackpink dan G-Dragon Bigbang yang diunggah Dispatch disinyalir dijadikan pengalihan isu politik.

Lalu, yang paling menggegerkan, Seungri eks Bigbang bisa lepas dari semua tuduhan atas skandal Burning Sun. Padahal, salah satu saluran televisi Korea Selatan telah melakukan investigasi (dan disertai bukti) bahwa Seungri telah melakukan penganiayaan, pelecehan seksual, prostitusi, dan lima tuduhan lainnya. Namun, hukum menyatakan Seungri tidak terbukti bersalah. Kzl!

Kembali ke Vincenzo, drama dengan 20 episode ini menceritakan tentang Vincenzo Cassano (Song Joong Ki), seorang pengacara mafia di Milan yang kembali ke negara asalnya, Korea Selatan.

Kembalinya Vincenzo ke negeri ginseng itu didasari atas keinginannya untuk mengambil emas milik seorang pengusaha besar asal Tiongkok yang telah meninggal. Tanpa disangka, Vincenzo harus berurusan dengan Babel Group, sebuah perusahaan korup yang juga dibantu firma hukum beken, Wusang.

Sementara itu, Hong Cha Young (Jeon Yeo Bin) juga ingin membalas dendamnya atas kematian ayahnya yang didalangi oleh Babel Group dan Wusang, mantan firma hukum tempatnya bekerja. Akhirnya, Vincenzo dan Hong Cha Young merencanakan balas dendam yang “tidak biasa” kepada Babel Group dan Wusang dengan cara-cara mafia.

Dikemas dalam genre kriminal dan dark comedy, drama ini tak hanya membuat kita penasaran, namun juga tertawa terbahak-bahak, dan penasaran (tak jarang juga sampai jadi overthinking). Banyak sindiran kepada penegakan hukum Korea Selatan yang disampaikan lewat alur, dialog, serta karakter-karakter dalam dramanya.

Sindiran ini menjadi lebih lucu karena tanpa disengaja juga ikut menyindir penegakan hukum di Indonesia. Misalnya, bagaimana hukum, aparat polisi, serta media dengan mudah “dibeli” oleh pengusaha yang sangat berkuasa untuk melindunginya.

Meski sudah jelas bahwa pabrik farmasi Babel akan memproduksi obat analgesik (pereda nyeri) dengan narkoba dosis tinggi, Babel Group tetap dapat mengantongi izin produksi. Sedangkan, mereka yang memperjuangkan keadilan dan kebenaran pasti akan meregang nyawa di tangan Babel Group dan Wusang.

Selain itu, terdapat dialog-dialog sarkastik yang sangat mewakili keadaan Korea Selatan dan Indonesia. Misalnya, Hong Cha Young pernah mengatakan bahwa penjahat di Korea Selatan bukan hanya mafia, namun semua pihak merupakan mafia dan melakukan kartel.

Lalu, Vincenzo juga pernah mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa melawan monster. Hanya monster yang bisa melawan monster. Selain itu, Vincenzo juga berkata, keadilan hanya terjadi bila dijalankan secara sempurna. Atau dengan kata lain, menegakkan keadilan dan melawan penguasa dengan jalur halal hanyalah mimpi di siang bolong.

Meski drama ini membawa wacana yang menarik didiskusikan, penulis belum menemukan adanya diskusi berbobot mengenai pesan utama drama ini. Pembicaraan di internet mengenai drama ini hanyalah sebatas membahas ketampanan wajah Song Joong Ki belaka. Bahkan, sampai menyelip-nyelipkan status duda sang aktor.

Kalau pembaca mantengin di Instagram, obrolan tentang karamnya bahtera rumah tangga aktor 35 tahun ini dengan Song Hye Kyo lebih banyak dari pada yang membahas alur ceritanya.

Kalaupun tidak membahas kehidupan pribadi Song Joong Ki, diskusi yang ada hanyalah sebatas kisah cinta samar-samar antara Vincenzo dan Hong Cha Young. “Ih gemes banget sentil-sentilan,” “mau dong peluk Vincenzo juga,” “inilah keuwuwan badass couple.” Lho, bukannya tipis-tipisnya kisah romansa mereka ini menjadi kode bahwa kisah cinta mereka bukanlah poin utama dari ceritanya?

Padahal masih banyak yang bisa dibahas. Misal,  ironi yang ditampilkan lewat dark humour drama Vincenzo, krisis kepercayaan masyarakat Korea Selatan kepada hukum yang diwakili drama ini, atau sarkasme drama Vincenzo apakah harus ada orang-orang “gila” seperti Vincenzo dan Hong Cha Young agar orang miskin dan tidak berdaya bisa mengecap keadilan? Ceileh….

Tidak heran bila masih banyak yang memandang drama Korea sebagai drama menye-menye yang feminin. Apapun genrenya dan seberat apapun ceritanya, ujung-ujungnya juga mbahas penampilan aktor-aktris dan kisah cinta antara tokoh utama. Paling mentok bahas teori-teori untuk menebak episode berikutnya.

Sayang sekali, padahal pembuat drama sudah sangat matang dalam menggodok dan mengeksekusi drama. Capek-capek bikin drama bagus, yaelah yang diliat mukanya Song Joong Ki doang. Namaste.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Rayu Sang Raya pada Asia Tenggara 0 444

(Diingatkan kepada pembaca sekalian untuk berhati-hati, karena tulisan ini tentu mengandung spoiler)

 

Disney kembali muncul tanpa premis klasik kisah percintaan putri dan pangeran. Sejak Brave dengan latar Skotlandia bertemakan cinta ibu-anak dan Frozen dari Denmark yang menceritakan cinta terhadap saudara perempuan. Kali ini, “Raya and The Last Dragon” hadir dengan sesuatu yang lebih kompleks: mencintai persatuan dalam perbedaan.

Kisah dimulai dari negeri fiktif bernama Kumandra. Semua hidup damai bersama para naga, sampai negara api menyerang, eh, sampai makhluk jahat bernama Druun menyerang, mengubah semua orang dan naga menjadi batu. Kemudian para naga terakhir membuat batu permata sihir dan menyerahkannya pada Sisu, sang naga air, untuk menyelamatkan manusia.

Alih-alih menjadi damai, Kumandra malah terpecah menjadi 5 negara: Fang, Heart, Spine,Talon, dan Tail, untuk saling memperebutkan batu permata itu. Raya dari negara Heart berusaha mencari naga terakhir untuk menyatukan perbedaan 5 negara dan mengembalikan Kumandra.

Tidak semudah itu ya memperoleh kepercayaan dan persatuan di dunia yang fana ini. Kedua nilai ini tentu terlalu klise dan harus ditambahkan sentuhan tantangan dong.

Tantangan pertama ditunjukkan dengan sikap dan pendirian Raya yang tak mudah percaya dengan orang lain. Pengalaman yang mengajarinya, ketika Namaari, kawan masa kecilnya malah menusuknya dari belakang.

Nilai dan kondisi cerita ini sangat relevan bukan untuk hidup kita sekarang. Era post-truth, di mana dengan media sosial, semua punya kebenaran dengan masing-masing perspektif, sampai kita tak tahu lagi mana yang harus dipercaya.

Era ini juga adalah era di mana teman makan teman, atau teman menyelengkat mantan. Banyak problematikanya jika soal percaya. Apalagi sejak kejadian Mbak Felicia, ah laki-laki semua sama saja.

Kedua, kebencian diajarkan dan dipupuk turun-menurun. Ini ditunjukkan di bagian awal cerita, bagaimana Raya kecil menceritakan kejamnya 4 negara lain. Tidak ada hal positif yang diceritakannya. Untuk anak sekecil itu yang polos, kebencian dan keinginan melindungi negaranya sendiri adalah nilai yang diajarkan leluhurnya berabad-abad lamanya. Kebencian yang tertanam di diri anak-anak ditunjukkan juga oleh Namaari, tokoh antagonis kawan Raya yang nampak diberi mandat oleh ibunya untuk mempertahankan tahta negeri Taring atau Fang.

Konflik cerita yang berupa kepercayaan versus kecurigaan dan persatuan lawan kebencian, berakhir sangat klise: Namaari sebagai survivor akhir dari Druun yang menyerang manusia tiba-tiba memiliki rasa kepercayaan dan menyatukan batu permata sihir negara. Setelah itu, batu permata menunjukkan kekuatannya dan mengusir pergi Druun dari dunia. Semua keadaan kembali normal, semua naga hidup dan kelima negara tiba-tiba saja bersatu kembali. Padahal sebelum menjadi batu, mereka kan saling berperang.

Apakah ini karena semata-mata rasa saling percaya? Apa yang membuat mereka tiba-tiba saling percaya?

Disney merepresentasikan Asia Tenggara sebagai negara-negara berkembang yang percaya kekuatan The Almighty atau supranatural. Ya, Kumandra percaya bahwa hanya naga yang bisa menyatukan mereka.  Raya saja bela-belain mencari Sisu, sang naga terakhir selama 6 tahun ke setiap ujung sungai penjuru negeri. Selain itu, banyak ritual kepercayaan yang dijalankan, menghormati naga ketika bertemu, hingga berdoa dengan sesajian.

Cerita ini juga ingin menegaskan, bahwa dunia Asia Tenggara dalam konteks ini, bersatu kembali bukan semata-mata karena memahami indahnya nilai persatuan dalam perbedaan, tapi karena kesamaan kepercayaan mereka akan makhluk mitologi.

Mereka juga tiba-tiba berdamai satu sama lain, karena telah menerima cobaan dari Druun. Sekali lagi, perlu kekuatan metafisika untuk memberi pelajaran. Sama persis dengan sinetron azab di tipi.

Pesan moral indah yang dibangun susah payah sejak awal cerita, dipatahkan dengan nilai bahwa kita ini adalah bangsa-bangsa yang menggantungkan hidup pada kekuatan di luar diri kita.

Menurut banyak pendapat sih, nilai supranatural yang dianut kebanyakan masyarakat Asia Tenggara memang menjadi wacana yang seksi bagi orang Barat, mereka para kreator film ini. Mungkin, hanya spiritualitas lah, nilai unggul yang membedakan kita dari bangsa mereka.

Pun, people of color, semua princess selain kulit putih: Pocahontas, Mulan, Moana, hingga yang terakhir Raya, adalah perempuan yang harus berjuang keras sampai lusuh hingga menunjukkan prestasi sebagai pembuktian agar bisa dipercaya oleh dunia.

Tapi secara garis besar, film ini sangat menghibur. Tidak terlalu kompleks untuk dipahami anak-anak 13 tahun ke atas (ya gimana lagi, film kartun yang satu ini cuma lulus sensor Indonesia di umur segitu).

Dari segi scoring atau musik pengiring sepanjang film memang banyak mengangkat unsur entik Asia Tenggara dan membawa suasana cerita. Gambar animasi Disney juga tak perlu diragukan, semakin dewasa kian harinya, dengan semakin bertambah canggihnya peralatan untuk membuat film kartun. Semakin menakjubkan dengan menambahkan fakta bahwa semua pengerjaan film ini dilakukan 400 orang kru secara work from home.

Beberapa item seperti jenis bela diri, senjata, bahasa, bahkan pemilihan nama “Raya” yang berarti besar atau pemimpin dalam beberapa bahasa, menunjukkan budaya YANG TERINSPIRASI dari Asia Tenggara. Ingat ya, film ini hanya terinspirasi dari Asia Tenggara, bukan murni mengadaptasi folklore atau fairy tale sama seperti Sleeping Beauty atau Snow White and The Seven Dwarfs.

Namun, nyatanya banyak orang-orang Asia Tenggara menyambut baik film ini. Hal ini nampak dari komentar mereka di berbagai platform media sosial. Kebangaan ini wajar sebagai reaksi atas aksi Disney yang akhirnya mengklaim diri terinspirasi dari Asia Tenggara setelah 90 tahun berkarya.

Iya, negara-negara berkembang kayak kita ini, memang harus menunggu selama itu sampai akhirnya dunia melirik tempat tinggal kita yang kumuh dan miskin ini. Karena toh, kita tak punya rumah produksi yang bisa mendunia menandingi Disney.

Atau, setelah 9 dekade lamanya, akhirnya dunia mulai melihat bahwa kita ini adalah potensi pasar yang empuk. Negara dengan penduduk terbanyak dunia yang konsumtif. Mereka merayu kita untuk membeli tiket bioskop, berlangganan Disney+, membeli lagu OST di akun musik, serta merchandise lainnya.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks