‘Mesin Tanah’ dan Melacurnya Kota 0 1345

Film ‘Mesin Tanah’ (Terra Machine) karya Sutradara Wimar Herdanto, masuk dalam 28th Singapore International Film Festival, tahun ini—sebuah event yang bergengsi.

***

Ketika Moyo bangkit dari tidurnya—selepas perjalanan panjang, diangkut oleh truk di bak belakang—tampaklah di sana imej yang amat purba tentang kota: sebuah individu yang dilekati oleh bejibun perlambang dari apa yang kerap disepakati bersama sebagai “modernitas”.

Dengan ransel, setelan kemeja, dan topi, demikianlah Moyo, tokoh utama film pendek ini, diperkenalkan. Ia menginapi rumah Pak RT, yang juga selain administrator juga berperan sebagai guide Moyo yang memandunya ke mana pun ia pergi. Moyo yang tambun dan sok bos itu, memerintah sana sini Pak RT dan Pak Kepala Dusun untuk membantunya beraktifitas—mulai dari menjepret gambar, menemani kunjungannya di kuburan, hingga menolongnya mengelilingi desa untuk merekam video.

Ini cerita yang teramat klasik tentang kekotaan yang melacur ke desa. Tapi Terra Machine (Mesin Tanah), film pendek karya Wimar Herdanto, mencoba memberi kejutan: bahwa manusia kota yang mirip mesin itu bisa rusak, pupus, somplak. Ia tak tahan di desa dan sebagaimana mesin, ia pun tak tahan air. Dan sekali diguyur air: matilah ia.

***

Suatu hari Wimar Herdanto, dengan mata setengah ngantuk setengah nyalang seperti biasa, mendatangi penulis dan mengisahkan residensinya di desa Leuweung Gede, Jatiwangi, Jawa Barat.  Ini residensi singkat, dan tiap-tiap seniman (artist—kata cinta laura) menggunakan apa saja yang ada di sana untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku seni. Wimar, jejaka yang juga pandai membikin film itu, bercerita betapa Leuweung Gede menghidupi seni yang mengurat hingga ke leher masing-masing warganya. Ini sudah tentu barang langka: bagaimana bisa kita membayangkan aura yang bisa membawa semua warga desa itu untuk kooperatif dalam keterlibatannya dengan seni, dan film, salah satunya. Lalu dari sana lahirlah Mesin Tanah.

Mesin Tanah dibikin dengan melibatkan sumber daya lokal, dalam pengertian harfiah. Seluruh tim teknis yang mendukung sutradara diambil dari muda-mudi lokal, termasuk juga aktor yang bermain. Hal besar dari situasi ini sekurangnya merentang dalam tiga hal.

Pertama, ini menunjukkan kemandirian yang manunggal dengan akar rumput—sebuah angan-angan yang hampir-hampir tak terpikir lagi untuk bisa diwujudkan. Kita tahu bagaimana cengkeraman industri film yang mencekik, sekaligus bagaimana segala skema ekonomi raksasa itu meludahi inisiatif lokal, dan menggantinya dengan yang lebih gemuk secara modal, dan seksi secara pasar.

Kedua, lokalitas-nir modal ini tak dapat dilihat sebagai kelemahan; melainkan justru energi yang mampu memberi pukulan balik dengan kemerdekaan tema—termasuk dalam melempar granat kritik atas dimensi modernitas dan kota yang makin mengalami defisit maknawi. Orang lupa bahwa predikat “urban” yang sepintas keren (hingga digunakan sebagai nama mata kuliah, pusat studi, atau bahkan judul kafe), menyimpan dilema besar dalam dirinya. Mesin Tanah menghardik dengan melampirkan montase Moyo yang sok urban dan somplak itu.

Ketiga, hal ini juga memberi nafas bagi kita untuk rehat dari tema-tema besar macam cinta-cinta di Jakarta atau narasi-narasi menyejarah yang kacaunya bukan main (bayangkan Dian Sastro memerankan Kartini, atau Reza Rahadian dengan Tjokroaminoto, atau entah siapa lagi aktor aktris ganteng cantik bahenol yang kebagian peran “sejarah”, dengan mutu akting yang nyuwun sewu, kualitasnya senin-kemis).

***

Relasi manusia dan tanah telah dipatenkan dalam diktum agama, dan sudah berlama-lama diyakini demikian. Tapi bahwa “tanah” yang mewakili dimensi profan dalam kondisi manusia di dunia ini rupanya masih ditambah dengan hal lain yang menjadi racun dan mematikan humanisme: mesin. Orang dan isi kepalanya menjadi demikian mekanis, bergantung pada teknologi, dan mempersepsi dirinya sendiri dalam logika otomasi dan rutinitas—yang menikam segala dinamika.

Adegan Moyo merekam dan membaca Al-Fatihah di kuburan sesungguhnya menyisakan tragedi  yang jenaka tetapi menyakitkan. Di sana meruap sebuah hasrat dalam meng-ekspose agama dan kematian, dan merekamnya sebagai sebuah memento. Segala tindak dari Moyo menggambarkan mekanisasi itu. Ia menyembunyikan kelacurannya sebagai mesin, di balik alasan-alasan produksi karya yang amat estetis dan dipuja dan puji itu.

Atau, jangan-jangan Wimar sedang bermaksud lebih jauh lagi: ngrasani kegenitan para seniman film yang makin lama makin mirip mesin itu? Yang juga terbuat dari tanah itu?

Pada akhirnya Moyo, sang artis kota itu, “rusak” (ini memang istilah yang dipakai oleh tokoh Pak RT) dan harus diangkut pulang, dibungkus dan dimasukkan ke bak truk—seperti kita, yang nyaris tiap hari sudah rusak berkali-kali.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sinetron Absurd ala Indonesia dan Khasiat Mujarabnya 0 241

Menahun sudah segenap rakjat bertanya-tanya, sebagaimanapun kami juga (lihat tulisan: ‘Logika Hello Kitty Rebus vs Drama Korea’), kenapa sinetron Indonesia kok modelannya begitu-begitu terus? Bukannya semakin waktu semakin baik, malah semakin absurd. Adegan-adegannya super duper konyol out of the box. Mulai dari boneka Hello Kitty direbus sampai seorang wanita yang berteriak panik dikerubutin buaya CGI.

Tak mau kalah, latar tempat pun ikut jadi bahan humor tersendiri. Bagaimana ceritanya istana kahyangan seorang dewi kepercayaan Jawa berhiaskan patung-patung megah bergaya Yunani, lengkap dengan pose-pose melankolis seraya menutup sebagian anggota tubuh? Atau bagaimana bisa yang dikata para tokoh sebagai “diskotik top” adalah ruangan yang dindingnya cuma berbalut kain hitam dan lampu kerlap-kerlip macam hiasan pohon natal?

Sebelum kita melanjutkan protas-protes ria ini, mungkin ada baiknya kita hening sejenak dan berpikir ulang. Apa betul keadaaan sinetron Indonesia yang seperti ini nih sungguh-sungguh jelek dan mutlak pol negatifnya? Apa benar akar masalahnya hanya ada pada masalah kejar tayang dan keterbatasan proses produksinya, sehingga pilihan-pilihan adegan sedemikian “progresif nan alternatif” boleh langsung diambil gambar?

Memang, jika dilihat dari sisi lain, di zaman penuh kehausan akan aktualisasi brand dan bacok-bacokan antar-netijen, semakin aneh sebuah adegan berarti semakin tinggi kemungkinannya untuk bisa viral. Itu juga bisa jadi salah satu “reward” bagi tim produser yang mungkin harus senantiasa kalang-kabut di balik penayangan tiap episode.

Tapi toh kita kerap mendapati situasi di mana sebuah keluarga berkumpul dengan tatapan tanpa kedipan, melekat kuat di layar TV, menonton adegan-adegan “konyol” tersebut dengan mata berkaca-kaca atau bibir yang mewek-mewek.

Sebuah adegan yang bagi kita langsung bikin tepok jidat, ternyata sebegitu serius bagi mereka. Sebuah adegan yang bagi kita hanya pantas dlirik satu kali, untuk langsung divonis sebagai ‘tayangan tak bermutu’, ternyata sanggup membikin orang lain nangis kejer atau berok-berok sambil lempar piring karena saking gumush-nya sama si tokoh jahat. Lalu reaksi mereka itu membuat kita tertawa karena lucunya, atau bagi yang lebih keji lagi, karena gobloknya.

Kita sendiri bisa dengan sombong bangga mengumumkan pada jagad raya, “Sori, ya. Aku cuma mau pakai merk ini, ini, dan ini karena value perusahaannya sesuai sama value aku”. Atau, “Selera aku tuh yang begini, nih. Kalau yang kayak gitu, em… nggak sesuai lah sama karakter aku”.

Maka boleh juga dong kita mengakui bahwa sinetron Indonesia, sejungkirbalik apapun logika yang ada di dalamnya, amatlah nggathuk sama pasarnya. Jangan-jangan, nilai dalam sinetron lucu-lucu ini sungguh mencerminkan nilai yang sama dalam kehidupan penggemarnya sehari-hari?

Bolehlah kita bilang adegan jenazah yang sudah dipocong kemudian terlempar dalam mesin molen itu kejadian ajaib. Tapi jika kemudian kita lihat keseharian mereka, bukankah hal-hal tak kalah ajaib juga sering terjadi?

Diiming-imingi kerjaan “enak”, tanpa perlu syarat ijazah dan pengalaman kerja, menggiring mereka pada situasi banting-tulang, pagi sampai tengah malam 7 hari seminggu. Beberapa di antara mereka sampai bertaruh keamanan diri, ketika terpaksa harus melakukan tindakan ilegal atau melawan hukum demi menjalankan apa kata bos. Ketika digaji cuma dapat sekian repes, nominal upah yang saking super ajaibnya sampai tak masuk akal dan nurani. Bekerja tanpa kontrak resmi, dan ketika terjadi kecelakaan kerja atau bahkan sampai meninggal, tidak mendapat pertanggungjawaban yang pantas.

Belum lagi jika masih ditambah kasak-kusuk, “Salah sendiri, dia mau sih kerja nggak bener begitu”. Kalau sudah begini, bukankah bibir-bibir yang demikian berujar sama saja durjananya dengan molen yang menggiling si pocong nahas?

Sama halnya dengan persoalan plot. Dalam sinetron ‘serial istri tersakiti’ misalnya. Banyak yang jadi gatal gara-gara kisahnya selalu dan melulu tentang suami yang “direbut” perempuan lain. Apa tidak bisa menemukan alur cerita lain? Kita senantiasa berharap seri selanjutnya akan hadir dengan penyajian yang berbeda. Ternyata memang berbeda… pemainnya, busananya, dan setting lokasinya. Plotnya sama.

Demikian pula dengan kehidupan para penonton setianya. Dalam setiap hari, minggu, dan bulan, mereka bekerjakeras berusaha meningkatkan derajat hidup. Atau minimal, supaya bisa sedikit menabung. Senangnya bukan main jika dapat lebihan pendapatan harian. Tapi penyakit yang muncul karena kelelahan bekerja membuat cuan ekstra itu harus direlakan demi pengobatan. Atau kalau sekarang, anaknya tiba-tiba butuh dibelikan kuota bejibun buat sekolah online. Tabungan amblas. Hidup akhirnya segitu-segitu aja.

Oke. Ada yang bilang kalau kualitas plot yang stagnan dalam sinetron adalah buah dari episode yang mulur-mulur macam keju pizza masih anget. Bisa jadi benar. Namun bukankah kehidupan mereka rasanya juga seperti itu? Berpanjang-panjang dan tak menentu. Seiring datangnya hari, bukannya semakin besar harapan dalam hati mereka, hidup justru makin bikin angkat tangan.

Ya sudahlah… Terserah dunia ini mau seperti apa. Apapun yang terjadi besok ya dihadapi saja. Kalau bagus ya syukur. Kalau nggak ya sudah… pasrah saja.’

Maka, dalam perkara stagnansi opera sabun negara zamrud khatulistiwa ini, sesungguhnya siapa yang akhirnya menginspirasi siapa?

Apakah tim produser selalu bertolak dari kehidupan nyata para pemirsanya, yang secerdas mungkin ditangkap dan diterjemahkan dalam bahasa layar kaca dengan segala keterbatasan yang menghadang? Atau stagnansi ini akhirnya dibentuk terbentuk demi mengobati perih luka dalam hati pemirsanya?

Supaya kalau hidup mereka gitu-gitu aja, tak kunjung menemui solusi, sering dibuat kalah-kalahan, serta nampak seperti benang membundel yang rumit dan tak berujung… ya sudah, tidak masalah.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

JOKER: Film Biasa Saja yang Menerima Apresiasi Berlebihan 0 730

Seminggu yang lalu, saya datang ke bioskop, menerima ajakan seseorang untuk menonton Joker. Kata banyak teman sebelum kami memasuki gedung bioskop, film ini uwapik. Tak ada duanya bila dikompetisikan ke Oscar. Saya pun menjadi agak skeptis, apa benar memang begitu nantinya. Dan seseorang yang bersama saya turut merasakan hal yang sama.

Saya mempertaruhkan malam itu dengan dua tiket seharga sembilan puluh ribu. Angka yang cukup tinggi bagi saya yang hobinya ngopa-ngopi tiap hari di warkop pinggir kali rendahan. Tapi toh tak ada salahnya untuk melihat sebuah aksi dari seorang Joaquin Phoenix, pikir saya. Meski saya tak berharap banyak pada sutradaranya.

Film dibuka dengan memperlihatkan biografi tubuh Arthur, yang kelak menjadi Joker. Arthur punya tubuh yang kurus. Penonton akan sangat mudah melihat bagaimana tulang-tulang yang berada di balik lapis kulitnya menjadi mencolok ketika Arthur sedang bergerak. Atau ketika dirinya berjalan dengan agak membungkukkan punggung atau saat sedang menari.

Arthur adalah seorang lelaki yang dibesarkan oleh janda miskin, Penny. Kondisi atas kemiskinan ini kemudian membuat Penny mengirim surat kepada mantan kekasihnya yang sukses menjadi tokoh terpandang di Gotham, Thomas Wayne, untuk memberi perhatian padanya dan dapat memudahkan hidup Penny dan Arthur melalui bantuan ekonomi. Walau Penny sudah sekarat, Thomas Wayne tak kunjung menemui Penny karena menurut cerita, Penny hanyalah orang yang memiliki riwayat gangguan jiwa dan kisah-kisahnya dengan Thomas Wayne adalah rekayasa belaka.

Hingga akhirnya Arthur membuka surat itu diam-diam ketika ibunya tak sengaja meninggalkannya di atas meja. Semestinya ini bisa saja dilakukan oleh Arthur jauh-jauh hari, mengingat sudah tak terhitung jumlah surat yang dikirim ibunya melalui Arthur, dan mengingat mereka tinggal berdua sudah cukup lama. Terlebih ketika membuka surat itu, wajah Arthur tak menampilkan ketegangan sama sekali. Selain seperti anak kecil yang kebetulan menemukan cokelat di lantai rumahnya. Artinya, Arthur memang sejak semula tak memiliki kekhawatiran apa pun tentang isi surat. Dengan demikian Arthur bisa membacanya kapan saja.

Adegan dibukanya isi surat tersebut oleh Arthur, sama mudahnya saat menebak ketika Arthur mengejar segerombolan anak kecil yang mencuri papan badutnya. Lalu pada saat pengejaran tersebut Arthur menyeberang jalan dan karena tak berhati-hati dirinya pun harus ditabrak oleh kendaraan yang sedang melintas. Klise. Semata-mata untuk membuka nuansa getir ke dalam film.

Dan yang lebih aneh lagi, tentang proses transisi ketika Arthur menjadi Joker. Apa hanya karena dia memiliki pistol, dan menyadari tak ada lagi yang ia punya maka tak ada lagi yang menyakitinya, lantas membuat dirinya harus menjadi seorang kriminal? Bahkan dialog yang begitu lama terbayang di benak para penonton itu (orang jahat adalah orang baik yang dikelilingi oligarki disakiti, red.), tak ada korelasinya sama sekali dengan keputusannya menjadi seorang kriminal.

Di samping karena film ini minim dialog-dialog mantab bila dibandingkan dengan pendahulunya, trilogi The Dark Night, tidak ada dialog substansial yang memberi kesan bahwa Joker adalah orang paling menderita (atau paling bernas) di kotanya. Kalaupun Joker dianggap sedang merepresentasikan karakter manusia yang mengalami depresi, gangguan jiwa, atau apapun lah itu, maka nyaris sepenuhnya Joker telah gagal.

Joker mengamuk karena dimarahi oleh bosnya, bersedih ketika ibunya sakit, membunuh orang lain ketika terancam, dan melakukan perbuatan praktis lain yang umum dilakukan manusia “normal”. Daftar perilaku itu justru tak mencerminkan apa pun yang berada di wilayah lian dari gangguan kejiwaan, selain memang Joker adalah lelaki miskin yang berasal dari keluarga kelas bawah, dan sedang mengalami ketakutan karena menembak sejumlah orang kelas atas di kotanya.

Kemudian, bagian mana yang perlu didengarkan dari film Joker, ketika kebanyakan penonton yang mengeuforiakan film ini berkata: orang-orang seperti Joker hanya butuh didengar? Dan, bukankah terlalu cepat juga kita mengambil kesimpulan tentang Joker adalah orang baik yang tersakiti, hanya karena film ini menyodorkan pesan-pesan moral yang memabukkan? Atau jangan-jangan, apa yang kita bicarakan sekarang ini menjadi topik diskusi yang sudah matang dipersiapkan oleh tim pemasaran dari tangan-tangan DC supaya film Joker terus mengundang penasaran?

Akan tetapi, terlepas dari semua itu, kalaupun film ini boleh dikatakan berhasil, dan dirinya benar telah mewakili orang-orang asing yang butuh pengakuan di penghujung keterpurukan hidupnya, maka kita adalah orang-orang jahat yang terlambat menyadari itu. Kita adalah orang-orang yang sibuk memikirkan diri sendiri ketimbang memerhatikan orang-orang seperti Arthur yang selama ini berada di sekitar kita.

Kita terlalu sibuk mengobati kesedihan sendiri, sehingga lupa untuk berbagi kebahagiaan pada orang lain yang juga membutuhkan itu. Kita berkompetisi untuk terlihat baik saat bekerja di depan pemilik modal, namun kita lupa, Arthur harus membeli obat untuk ibunya yang sedang sakit di rumah.

Bukan Joker atau Arthur yang sedang mengalami gangguan kejiwaan, melainkan kita: yang sudah terlalu lama hanyut dalan arus individualitas dan jauh dari kepedulian sosial. Kita lah orang-orang yang sepantasnya masuk ke dalam kulkas sambil menertawakan diri sendiri. Karena kita adalah orang jahat yang berpura-pura tersakiti.

 

Foto: variety.com

Editor Picks