‘Mesin Tanah’ dan Melacurnya Kota 0 1030

Film ‘Mesin Tanah’ (Terra Machine) karya Sutradara Wimar Herdanto, masuk dalam 28th Singapore International Film Festival, tahun ini—sebuah event yang bergengsi.

***

Ketika Moyo bangkit dari tidurnya—selepas perjalanan panjang, diangkut oleh truk di bak belakang—tampaklah di sana imej yang amat purba tentang kota: sebuah individu yang dilekati oleh bejibun perlambang dari apa yang kerap disepakati bersama sebagai “modernitas”.

Dengan ransel, setelan kemeja, dan topi, demikianlah Moyo, tokoh utama film pendek ini, diperkenalkan. Ia menginapi rumah Pak RT, yang juga selain administrator juga berperan sebagai guide Moyo yang memandunya ke mana pun ia pergi. Moyo yang tambun dan sok bos itu, memerintah sana sini Pak RT dan Pak Kepala Dusun untuk membantunya beraktifitas—mulai dari menjepret gambar, menemani kunjungannya di kuburan, hingga menolongnya mengelilingi desa untuk merekam video.

Ini cerita yang teramat klasik tentang kekotaan yang melacur ke desa. Tapi Terra Machine (Mesin Tanah), film pendek karya Wimar Herdanto, mencoba memberi kejutan: bahwa manusia kota yang mirip mesin itu bisa rusak, pupus, somplak. Ia tak tahan di desa dan sebagaimana mesin, ia pun tak tahan air. Dan sekali diguyur air: matilah ia.

***

Suatu hari Wimar Herdanto, dengan mata setengah ngantuk setengah nyalang seperti biasa, mendatangi penulis dan mengisahkan residensinya di desa Leuweung Gede, Jatiwangi, Jawa Barat.  Ini residensi singkat, dan tiap-tiap seniman (artist—kata cinta laura) menggunakan apa saja yang ada di sana untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku seni. Wimar, jejaka yang juga pandai membikin film itu, bercerita betapa Leuweung Gede menghidupi seni yang mengurat hingga ke leher masing-masing warganya. Ini sudah tentu barang langka: bagaimana bisa kita membayangkan aura yang bisa membawa semua warga desa itu untuk kooperatif dalam keterlibatannya dengan seni, dan film, salah satunya. Lalu dari sana lahirlah Mesin Tanah.

Mesin Tanah dibikin dengan melibatkan sumber daya lokal, dalam pengertian harfiah. Seluruh tim teknis yang mendukung sutradara diambil dari muda-mudi lokal, termasuk juga aktor yang bermain. Hal besar dari situasi ini sekurangnya merentang dalam tiga hal.

Pertama, ini menunjukkan kemandirian yang manunggal dengan akar rumput—sebuah angan-angan yang hampir-hampir tak terpikir lagi untuk bisa diwujudkan. Kita tahu bagaimana cengkeraman industri film yang mencekik, sekaligus bagaimana segala skema ekonomi raksasa itu meludahi inisiatif lokal, dan menggantinya dengan yang lebih gemuk secara modal, dan seksi secara pasar.

Kedua, lokalitas-nir modal ini tak dapat dilihat sebagai kelemahan; melainkan justru energi yang mampu memberi pukulan balik dengan kemerdekaan tema—termasuk dalam melempar granat kritik atas dimensi modernitas dan kota yang makin mengalami defisit maknawi. Orang lupa bahwa predikat “urban” yang sepintas keren (hingga digunakan sebagai nama mata kuliah, pusat studi, atau bahkan judul kafe), menyimpan dilema besar dalam dirinya. Mesin Tanah menghardik dengan melampirkan montase Moyo yang sok urban dan somplak itu.

Ketiga, hal ini juga memberi nafas bagi kita untuk rehat dari tema-tema besar macam cinta-cinta di Jakarta atau narasi-narasi menyejarah yang kacaunya bukan main (bayangkan Dian Sastro memerankan Kartini, atau Reza Rahadian dengan Tjokroaminoto, atau entah siapa lagi aktor aktris ganteng cantik bahenol yang kebagian peran “sejarah”, dengan mutu akting yang nyuwun sewu, kualitasnya senin-kemis).

***

Relasi manusia dan tanah telah dipatenkan dalam diktum agama, dan sudah berlama-lama diyakini demikian. Tapi bahwa “tanah” yang mewakili dimensi profan dalam kondisi manusia di dunia ini rupanya masih ditambah dengan hal lain yang menjadi racun dan mematikan humanisme: mesin. Orang dan isi kepalanya menjadi demikian mekanis, bergantung pada teknologi, dan mempersepsi dirinya sendiri dalam logika otomasi dan rutinitas—yang menikam segala dinamika.

Adegan Moyo merekam dan membaca Al-Fatihah di kuburan sesungguhnya menyisakan tragedi  yang jenaka tetapi menyakitkan. Di sana meruap sebuah hasrat dalam meng-ekspose agama dan kematian, dan merekamnya sebagai sebuah memento. Segala tindak dari Moyo menggambarkan mekanisasi itu. Ia menyembunyikan kelacurannya sebagai mesin, di balik alasan-alasan produksi karya yang amat estetis dan dipuja dan puji itu.

Atau, jangan-jangan Wimar sedang bermaksud lebih jauh lagi: ngrasani kegenitan para seniman film yang makin lama makin mirip mesin itu? Yang juga terbuat dari tanah itu?

Pada akhirnya Moyo, sang artis kota itu, “rusak” (ini memang istilah yang dipakai oleh tokoh Pak RT) dan harus diangkut pulang, dibungkus dan dimasukkan ke bak truk—seperti kita, yang nyaris tiap hari sudah rusak berkali-kali.

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan Mengapa Dilan dan Milea Memang Harus Putus 0 804

PERINGATAN: Analisis quasi-baper ini sedikit-banyak memuat sepoiler!

Baru hari pertama rilis, film Dilan 1991 sudah diserbu 800 ribu penonton. Dari pengamatan penulis, rasio penggemar Dilan ini merata di semua kalangan. Mulai dari pasangan kasmaran yang ingin madakno rupo, siswi-siswi gemes berseragam pramuka, segerombol pria dewasa yang diduga ingin berguru gombalan cinta dari Dilan, hingga mahasiswa proletar yang cari promo diskonan tiket bioskop seperti saya.

Eits, di tulisan kali ini, tenang aja, penulis tidak akan menghujat film seperti yang lalu (Baca: Jangan Nonton Dilan, Berat!). Toh sebenarnya kami sebagai tim redaksi Kalikata ini suangat suayang sama Dilan. Kami kagum betul dengan frasa “rindu itu berat” ala pemimpin geng motor itu, menjadikannya panutan dan referensi di kala buntu mau nulis kalimat apa lagi hehe.

Sesungguhnya, film Dilan 1991 ini sepintas memang terlihat remeh-temeh, menceritakan kisah cinta anak remaja yang tidak peduli berapa banyak uang rakyat yang dimakan Mbah Harto maupun pemberontakan Somalia yang tengah membara. Maklum, anak milenial seperti kita begini mana ngerti masa pacaran via telepon. Namun, jika kita mau, film ini sesungguhnya bisa jadi bahan diskusi yang menarik.

Selepas menonton, penulis mencoba membuka diskusi dengan pertanyaan: Jadi siapa yang bener, Milea atau Dilan? Ada yang menjawab Milea, tapi belum ada yang jadi #teamDilan. Berikut ini jabarannya.

Film ini bermula dengan kondisi seusai Dilan memproklamasikan hari jadiannya dengan Milea, sebagaimana diceritakan pada pilem pertama dengan latar tempat warung Bi E’em. Adegan-adegan boncengan motor hujan-hujanan tanpa helm, bincang malu-malu lewat sambungan telepon, hingga kejadian penuh pertengkaran dan cucuran air mata semua ada. Lengkap bin komplit.

Bandelnya Dilan dengan geng motornya juga masih tidak beranjak dari tubuhnya. Hal inilah yang kemudian menimbulkan konflik antara dua sejoli ini.

Kita pasti setuju Milea berlaku benar rasional dengan tindakannya melarang Dilan terlibat dalam geng motor. Sebab tidak hanya nongkrong di pinggir jalan dengan mogenya, geng Dilan ini termasuk yang aktif melakukan balas dendam dan suka perkelahian layaknya netizen di linimasa. Sebagai pacar yang baik dan lembut hatinya, sudah barang pasti melindungi keselamatan jiwa sang kekasih. Apalagi Dilan sampai dua kali tertangkap polisi, dan seorang teman gengnya bahkan meninggal dunia karena dikeyorok.

Namun, Dilan juga dalam posisi yang menang ketika ia memilih tidak lagi menjalin kasih dengan Milea karena merasa dikekang. Geng motor adalah passion, hobi sehidup semati yang harus dan tetap melekat dengan Dilan, baik dengan atau tanpa Milea. Pacar mana yang mau dijauhkan dari hal-hal yang disukainya?

Lantas, siapa yang patut dipersalahkan di antara mereka berdua?

Menurut hemat penulis, Dilan dan Milea memang sebaiknya putus saja. Apa yang terjadi di film Dilan 1991 ini seharusnya jadi teladan bagi kita semua. Milea memang sebaiknya memilih laki-laki seperti Mas Herdin: pria gagah, pekerja kantoran dengan gaji yang menjanjikan, berpenampilan rapi, sopan santun dan beretika, serta bukan anggota geng motor yang terancam hilang dan tertembak secara misterius. Sementara Dilan memang tidak pantas mendapatkan Milea yang tidak bisa diajak beradu gombal atau melempar kalimat lucu-lucu ketika suasana per-geng-motor-an sedang genting.

Kita adalah Milea ketika tidak mau dengar pendapat orang sekitar tentang pacar kita. Dilan itu cowok terbaik di dunia, cerdas walau cadas, setia walau jahil adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kita adalah Dilan ketika kita lebih sibuk jatuh cinta dengan fisik dan mudah mengumbar puisi janji ketimbang menguji keyakinan diri terhadap pasangan.

Dilan dan Milea adalah kita semua. Kadang kita jatuh cinta setengah mati hingga tidak bisa menyebutkan alasan mengapa kita mencintai pasangan. Kadang kita terlalu kesemsem dengan kondisi yang sudah serba nyaman. Kita lengah hanya gara-gara kondisi latar belakang keluarga yang sama agama, suku, budaya, dan ekonominya. Padahal, yang tidak kalah penting adalah keserasian pemikiran dan visi-misi di antara berdua yang menjalani hubungan. Kesamaan frame of reference dan field of experience hendaknya jadi pertimbangan utama.

Jadi, alasan mengapa Dilan dan Milea harus putus adalah karena mereka tidak saling cocok. Hendaknya kita semua berhenti meminta mereka berdua rujuk, apalagi mengajukan kampanye #saveDilanMilea.

Omelan-omelan Baru Berkat ‘Aquaman’ 0 301

Kemarin akhirnya penulis menaati sihir-sihir netizen untuk segera menonton film terbaik sepanjang sejarah DC Comics, Aquaman. Nyatanya, dalam 143 menit kita disajikan paduan gambar serba apik garapan Warner Bross Pictures di tangan sutradara yang tepat, James Wan. Petualangan bersama manusia amfibi nan gondrong ini tidak langsung dihadirkan lewat adegan berantem pake ototnya, yang serba bikin hati mbak-mbak gemes dagdigdug gak karuan. Bahkan jauh sebelum itu, cerita dimulai dari Arthur Curry, si tokoh utama, dalam tahapan belum sama sekali terencana di benak kedua orang tuanya.

Kali ini, penulis tidak punya cukup amunisi untuk ngomeli film ini. Pertama, karena penulis takut dihajar fans berat DC Extended Universe. Kedua, karena nyatanya film ini menghibur banget, walaupun mudah dilupakan sepulang keluar dari pintu Exit gedung bioskop lantaran formulasi film hero yang ya-gitu-itu (loh kok sidone ngomel?).

Penulis cukup memberikan satu alasan besar mengapa kamu harus nonton film ini. Tidak lain tidak bukan, adalah supaya cukup menampar kamu dengan kebiasaan yang acuh tak acuh dengan kondisi bumi dan lingkungan. Hehe.

Alkisah Arthur Curry adalah putra sulung Atlanna, Ratu Atlantis, hasil dari perkawinan silang dengan manusia biasa akibat kabur dari perjodohan. Tapi pada akhirnya laut tetap menjemput dan pernikahan yang semestinya tetap terjadi. Lahirlah putra kedua, Orm, yang pada masa mendatang berambisi menjadi penguasa lautan, menyatukan berbagai kerajaan untuk melawan manusia daratan. Alasannya satu, karena bangsa manusia yang terus-terusan mencemari laut. Hmm kon. Ya opo gak kesindir awakmu?

Untuk menyegarkan ingatan kita bersama, Indonesia sebagai negara mayoritas lautan digadang-gadang sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Bahkan Indonesia sudah dapat berbagai macam sempritan kecaman dari mana-mana.

Sebuah penelitian oleh Indonesia, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada menunjukkan 26 bagian per 100 meter persegi terumbu karang Indonesia tercemar limbah plastik. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sampah plastik yang dihasilkan rakjat mencapai 24.500 ton per hari.Sampeyan semua tahu kan, kalau sampah plastik butuh lebih dari 20 tahun untuk akhirnya benar-benar terurai? 79% dari jumlah itu hanya berakhir di TPA. 80% ikan terkontaminasi sekitar 8-9 biji kecil-kecil plastik. Plastik-plastik itu kemudian turut memercepat kematian penyu sebesar 50%.

Pertanyaannya, kok bisa sampai separah ini kondisi persampahan di laut Indonesia?

Jawabnya sederhana, karena konsumsi produk berkemasan plastik, terutama dari food and beverage–karena orang kita suka makan kali ya–yang terlalu buanyak di daratan ini. Kedua, karena ya begonya kita aja suka buang sampah di kali, pantai, atau laut.

Segala usaha sebenarnya sudah dilakukan pemerintah kita. Pernah ingat kan di awal 2016 ketika keramahan mbak-mbak minimarket berubah menjengkelkan dengan pertanyaan plus-plus ‘Pakai kantong kresek bayar 200 rupiah ya kak?’, selain ‘Nambah pulsanya sekalian?’ atau ‘Kuenya lagi promo beli dua gratis satu’. Peraturan dari KLHK itu bertahan tidak lebih lama dari hubunganmu dengan arek’e, sekitar tiga bulan saja. Pun sama tragisnya dengan pelajaran lingkungan hidup di sekolah, yang membuat sekolah rela beli tiga macam tong sampah supaya siswanya belajar memilah sampah. Ketika sampai di TPA, ya semua nyampur jadi satu.

Sampai akhirnya, muncullah solusi baru, yaitu peniadaan sedotan plastik di berbagai resto fast food. Peluang ini dilihat betul dengan menghadirkan mahakarya stainless steel straw, yang penggunaannya kerap kali dipamerkan arek-arek di story Instagram mereka biar kelihatan kayak aktivis lingkungan. Sedotan logam yang harganya bervariasi mulai dari belasan hingga puluhan ribu rupiah itu katanya tidak mengandung BisphenoIA (BPA) yang biasa terkandung di sedotan plastik, sehingga mengurangi resiko kegagalan reproduksi, diabetes, dan serangan jantung.

Selain menawarkan kesehatan dan reuseable-ness, sedotan logam ini akhirnya mulai mewabah, menjelma jadi tren kekinian. Jika pembaca adalah penggemar berat sedotan ini lantaran cinta pada Fishermen, Trench, Brine, dan kawan-kawannya, penulis hargai betul. Yang patut dicurigai adalah yang punya motif-motif lain. Misalnya, karena rasa terpaksa akibat setarbak dan mekdi mengeluarkan produk gelas langsung cucup. Ya sudah kan, akhirnya berpasrah lagi kita pada produk-produk kapitalis ini.Penulis juga makin curiga, film Aquaman ini pada akhirnya bisa dimanfaatkan untuk soft selling buat stainless straw, meningkatkan awareness dan menyasar conviction konsumen. Sayangnya, kita terjebak dengan perasaan seakan-akan telah turut berpartisipasi dalam kampanye ‘say no to plastic’ di balik gelas-gelas teh cantik dan kopi manja dengan paduan elemen stainless straw dan sedikit effort untuk menjadikannya Instagramable. Ya, penulis berdoa semoga tidak.

Anyway, film Aquaman ini menurut hemat penulis setidaknya turut melanggengkan plot favorit perfilman yang kudu banget pakai formula konflik cinta terlarang. Film ini turut menghidupkan imajinasi jombloers di luar sana, berharap bujang lapuk yang kesepian di tepian ombak tiba-tiba dapet rejeki wanita cantik yang terdampar. Doa baik penulis untukmu, semoga scene serupa terjadi atas kita semua, dan tidak ada lagi diksi ‘cinta terlarang’, baik di dunia manusia darat maupun perairan, hiks.

Editor Picks