Nana yang Malu-malu Pergi, Kini Malu-malu Kembali 0 1326

Sesungguhnya judul ini tidak benar-benar untuk menyambut insan yang lama menghilang. Judul ini dibuat agar bernada penyambutan bagi yang (katanya) kembali dari jedanya, jurnalis senior kecintaan Indonesia, Najwa Shihab. Pun sesungguhnya jeda itu adalah kepindahannya dari media mapan milik Pak Brewok, ke media bebas di awang-awang: media online. Faktanya, jeda itu tidak pernah ada, karena pemirsa masih bisa melihat sosoknya melanglang buana.

Untuk membuka kembali khasanah ingatan pembaca, hampir 4 bulan lalu, tepatnya 30 Agustus, adalah episode pamungkas Mata Najwa setelah 7 tahun menyebar ‘mantra layar kaca’. Program yang didapuk sebagai talkshow terbaik itu undur diri dari hadapan penonton setia televisi swasta berlambang rajawali. Sejak itu, penggemar yang terlanjur tergila-gila menangisi kepergiannya. Namun, entah harus disyukuri atau ditertawai, air mata penggemar terhenti seketika.

Mengisi kekosongan 4 bulan terakhir, sosok Najwa secara ajeg nampang di layar gadget, rajin menggelar wawancara dengan berbagai public figure mulai dari pengacara fenomenal, Fredrich Yunadi, hingga lagi-lagi B.J. Habibie. Rupanya, tiada kerinduan khalayak yang perlu dijawab atas kabar kembalinya Mata Najwa ke layar kaca yang disiarkan meluas melalui akun Instagram 27 Desember lalu.

Kali ini, CT Group kebagian undian berhadiahnya. Si primadona akhirnya melenggang bebas di media Trans Corp. Alasannya antara dua alternatif berikut. Pertama, karena CT Group lebih menjamin perkara kantong. Atau barangkali, kita akan mendengar jawaban diplomatis macam “karena independensi pemilik media juga penting”, sejak ‘si anak singkong’ (sepertinya) tidak (akan) terlibat politik praktis. Pernyataan Najwa ke media-media lain yang sibuk meliput sesama kanca barangkali sama persis dengan kepindahannya dari rajawali satu ke rajawali lainnya: demi menjawab kehausan pengalaman jurnalismenya.

Jika benar Mbak Nana bermaksud hati menjadi kuli tinta pembela rakyat, bukankah lembaga penyiaran publik macam TVRI yang (semestinya) milik segenap bangsa Indonesia jadi ranah yang pas? Sayangnya, harkat martabat penyiaran publik kita masih saja terjebak nostalgia macam lagu Raisa.

Tentu media publik yang tidak beken ini akan dilangkahi Nana kapan-kapan, kalau matahari terbit dari barat, kalau-kalau pemerintah segera sadar apa arti kata ‘lembaga penyiaran publik’ yang sebenarnya. Kalau saja kita juga punya kesadaran untuk menekan lembaga penyiaran publik agar tak lekat di benak sebagai ‘corong pemerintah’ sejak rezim Mbah Harto. Kalau saja pekerja media di dalamnya banyak diisi anak muda, jadi rebutan inovator dan pebisnis hebat keluaran kampus-kampus keren seantero Indonesia, dan bekerja secara profesional di bawah anggaran dana hasil jerih parah RAKJAT. Kalau saja ini benar terjadi. Kalau dan kalau, independensi jurnalisme memang benar-benar nyata bukan hanya di dunia Cinderella.

Di antara ketidaksabaran fans akut Mbak Nana, bagi sebagian manusia yang ngefans parsial, atau tidak ngefans sama sekali, barangkali harus ikut mengawal. Berapa tahun lagi CT mampu ngopeni jurnalis kawakan anak kiai ini? Sampai akhirnya ‘si pendongkrak rating and share’ ini tak mampu ditekuk dan disetir lagi, lalu lagi-lagi pindah ke media online dan beralasan jeda lagi.

Lagi-lagi, kita perlu angkat topi pada kelihaian Najwa. Tidak hanya politisi yang mampu dibungkam olehnya, rupanya waktu – yang adalah musuh bebuyutuan semesta – pun dibuat megap-megap. Berita kembalinya si primadona ke layar kaca mengambil momen akhir tahun. Biarlah jadi hadiah dan kejutan manis untuk 2018. Membuka lembaran baru, membuka tahun baru, membuka omset baru bagi si pemilik media.

Jika ‘mantra layar kaca’ adalah benar adanya seperti sebuah sabda, maka sihir itu adalah pada ‘panggung’ tempat Nana bernaung. Mereka cermat memberi tawaran, namun juga suatu hari licik melepas pergi ‘buruh-buruh’nya yang tak lagi memberi keuntungan.

Apapun bentuknya, seisi alam raya masih berharap Nana tetap menyajikan hiburan yang sama bobotnya senantiasa. Individu-individu yang katanya merindu tayangan berkualitas semoga dipenuhi kembali. Entah rindu yang dari dalam hati, entah ‘dipaksa’ rindu oleh logika bisnis media.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kebiasaan Aparat Saat Masuk Tipi: Sebuah Rangkuman 0 130

Setelah berkutat dengan dunia media televisi selama beberapa caturwulan terakhir, saya dan sejumlah teman sepermainan menyadari dan bersepakat, orang-orang berseragam (bukan seragam OSIS tentu saja) punya mentalitas solidaritas yang kuat. Dedikasinya untuk mengabdi pada negara memang harus kita akui jempol. Selain menjaga stabilitas dan keamanan negara, mereka juga sangat loyal pada lembaga tempat mereka bernaung.

Saking solidnya, baik bawahan pada atasan, maupun sebaliknya, mereka segan jika hanya namanya atau wajahnya yang nampang di layar kaca. Maka, inilah kebiasaan yang pertama: perwakilan petugas yang kami wawancara biasanya tak mau hanya sendirian nampak di frame kamera. Mereka akan mengajak sejumlah pasukannya, atau pasukan dari satuan lain yang bekerja sama (sebut saja misal TNI dan Polri), untuk berdiri di belakangnya.

“Sini, sini semua ikut mengawal”, begitu si bapak yang hendak diwawancara berseru.

“Semua kelihatan kan ya Mas?”, begitu tanya si bapak pada juru kamera. Memastikan bahwa semua anggotanya terlihat di layar kaca, dan bisa menyampaikan kabar pada sanak saudara di rumah kalau dirinya masuk tipi.

Sebanyak mungkin anggota harus diajak, sampai satu layar tivi Anda akan dipenuhi oleh tubuh dan wajah manusia berseragam dari berbagai warna. Walau tak ikut bicara, yang penting mejeng.

Setelah itu, biasanya tanpa si reporter mengajukan pertanyaan, si bapak yang berlaku sebagai narasumber akan berinisiatif melontarkan kalimat-kalimat yang akan kami kutip. Inilah kebiasaan kedua:

Hari ini, kami dari satuan blablabla bekerjasama dengan blabla dan blabla melakukan giat blablabla”, begitu tutur si bapak sesaat setelah kami menyodorkan mic dan kamera telah merekam.

Format kalimat ini hampir sama. Percaya deh! Mau siapapun yang bicara, atau dari satuan mana ia berasal, si bapak berseragam akan memulai kalimat penjelasannya seperti tertulis di atas. Kalimat ini juga pasti akan kalian temui sebentar lagi, saat mereka menjaga penyekatan larangan mudik Mei mendatang.

Eits, tidak selesai sampai di sini ya, kebiasaan ketiga masih erat kaitannya dengan solidaritas: jika ada bapak pimpinan dengan status jabatan dan pangkat yang lebih tinggi, maka pasukannya harus mengurungkan niat dan menyimpan suara dari media.

“Nanti saja Mbak ada pimpinan saya sebentar lagi ke sini. Jangan saya yang diwawancara,” begitu kata bapak-bapak pasukan terbawah. Mereka hanya mau menyajikan data tertulis, tapi tak mau nampak di layar. Sebab porsi itu hanyalah milik “kepala-kepala” mereka.

Lantas, walau berjam-jam hingga mungkin hitungan hari atau minggu, kami para awak media akan rela menunggu jawaban sang bapak pimpinan. Walaupun kalimat utamanya akan dimulai seperti kalimat kedua tadi. Sangat bisa ditebak. Kami bahkan bisa menulis naskah perkiraan sebelum wawancara dilakukan.

Bapak-bapak berseragam ini memang cukup menyenangkan dan mudah diajak bekerjasama, sangat bisa ditebak gaya komunikasinya pada kami para wartawan. Mereka juga bisa ngopi dan ngerokok bareng kami, bahkan tak segan-segan menraktir jajan di kantin polda bila mereka merasa senang (karena sudah masuk tipi).

Pembaca yang terhormat, rangkuman ini sepertinya harus berhenti di sini. Sebab, pertanyaan dalam sukma terdalam kita sebagai rakyat jelata mengenai: “bagaimana sifat represif aparat pada media di berbagai kesempatan” tak perlu dibahas di sini. Hehehe.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 238

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks