Nana yang Malu-malu Pergi, Kini Malu-malu Kembali 0 1056

Sesungguhnya judul ini tidak benar-benar untuk menyambut insan yang lama menghilang. Judul ini dibuat agar bernada penyambutan bagi yang (katanya) kembali dari jedanya, jurnalis senior kecintaan Indonesia, Najwa Shihab. Pun sesungguhnya jeda itu adalah kepindahannya dari media mapan milik Pak Brewok, ke media bebas di awang-awang: media online. Faktanya, jeda itu tidak pernah ada, karena pemirsa masih bisa melihat sosoknya melanglang buana.

Untuk membuka kembali khasanah ingatan pembaca, hampir 4 bulan lalu, tepatnya 30 Agustus, adalah episode pamungkas Mata Najwa setelah 7 tahun menyebar ‘mantra layar kaca’. Program yang didapuk sebagai talkshow terbaik itu undur diri dari hadapan penonton setia televisi swasta berlambang rajawali. Sejak itu, penggemar yang terlanjur tergila-gila menangisi kepergiannya. Namun, entah harus disyukuri atau ditertawai, air mata penggemar terhenti seketika.

Mengisi kekosongan 4 bulan terakhir, sosok Najwa secara ajeg nampang di layar gadget, rajin menggelar wawancara dengan berbagai public figure mulai dari pengacara fenomenal, Fredrich Yunadi, hingga lagi-lagi B.J. Habibie. Rupanya, tiada kerinduan khalayak yang perlu dijawab atas kabar kembalinya Mata Najwa ke layar kaca yang disiarkan meluas melalui akun Instagram 27 Desember lalu.

Kali ini, CT Group kebagian undian berhadiahnya. Si primadona akhirnya melenggang bebas di media Trans Corp. Alasannya antara dua alternatif berikut. Pertama, karena CT Group lebih menjamin perkara kantong. Atau barangkali, kita akan mendengar jawaban diplomatis macam “karena independensi pemilik media juga penting”, sejak ‘si anak singkong’ (sepertinya) tidak (akan) terlibat politik praktis. Pernyataan Najwa ke media-media lain yang sibuk meliput sesama kanca barangkali sama persis dengan kepindahannya dari rajawali satu ke rajawali lainnya: demi menjawab kehausan pengalaman jurnalismenya.

Jika benar Mbak Nana bermaksud hati menjadi kuli tinta pembela rakyat, bukankah lembaga penyiaran publik macam TVRI yang (semestinya) milik segenap bangsa Indonesia jadi ranah yang pas? Sayangnya, harkat martabat penyiaran publik kita masih saja terjebak nostalgia macam lagu Raisa.

Tentu media publik yang tidak beken ini akan dilangkahi Nana kapan-kapan, kalau matahari terbit dari barat, kalau-kalau pemerintah segera sadar apa arti kata ‘lembaga penyiaran publik’ yang sebenarnya. Kalau saja kita juga punya kesadaran untuk menekan lembaga penyiaran publik agar tak lekat di benak sebagai ‘corong pemerintah’ sejak rezim Mbah Harto. Kalau saja pekerja media di dalamnya banyak diisi anak muda, jadi rebutan inovator dan pebisnis hebat keluaran kampus-kampus keren seantero Indonesia, dan bekerja secara profesional di bawah anggaran dana hasil jerih parah RAKJAT. Kalau saja ini benar terjadi. Kalau dan kalau, independensi jurnalisme memang benar-benar nyata bukan hanya di dunia Cinderella.

Di antara ketidaksabaran fans akut Mbak Nana, bagi sebagian manusia yang ngefans parsial, atau tidak ngefans sama sekali, barangkali harus ikut mengawal. Berapa tahun lagi CT mampu ngopeni jurnalis kawakan anak kiai ini? Sampai akhirnya ‘si pendongkrak rating and share’ ini tak mampu ditekuk dan disetir lagi, lalu lagi-lagi pindah ke media online dan beralasan jeda lagi.

Lagi-lagi, kita perlu angkat topi pada kelihaian Najwa. Tidak hanya politisi yang mampu dibungkam olehnya, rupanya waktu – yang adalah musuh bebuyutuan semesta – pun dibuat megap-megap. Berita kembalinya si primadona ke layar kaca mengambil momen akhir tahun. Biarlah jadi hadiah dan kejutan manis untuk 2018. Membuka lembaran baru, membuka tahun baru, membuka omset baru bagi si pemilik media.

Jika ‘mantra layar kaca’ adalah benar adanya seperti sebuah sabda, maka sihir itu adalah pada ‘panggung’ tempat Nana bernaung. Mereka cermat memberi tawaran, namun juga suatu hari licik melepas pergi ‘buruh-buruh’nya yang tak lagi memberi keuntungan.

Apapun bentuknya, seisi alam raya masih berharap Nana tetap menyajikan hiburan yang sama bobotnya senantiasa. Individu-individu yang katanya merindu tayangan berkualitas semoga dipenuhi kembali. Entah rindu yang dari dalam hati, entah ‘dipaksa’ rindu oleh logika bisnis media.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Apakah Kekeyi Pernah Menggoreskan Luka pada Kita? 0 393

Saya tak tahu apa yang membuat Kekeyi (dengan nama panjang Rahmawati Kekeyi Putri Cantika) banyak dibicarakan—dan sebagian besarnya dihina—di media.

Tentu saja orang bisa dengan sangat mudah melempar tai kucing ke media sosial, menyumpahserapahi dengan bebas tanpa khawatir diciduk, bersembunyi dalam nama samar. Tapi saya tak bisa memahami mengapa orang demikian bernafsu untuk mencibiri apa saja yang ada pada Kekeyi.

Berdomisili di Nganjuk dan dikenal karena mula-mula memanfaatkan perangkat make-up sederhana untuk memoles wajah, popularitas Kekeyi melesat ke mana-mana.

Ia bukan saja terlibat dalam kisah cinta yang pilu (dan dituding settingan tapi menguras emosi dan air mata), tapi juga bicara ngawur dalam banyak acara, dilukiskan sebagai perempuan rakus dalam tayangan-tayangan review kuliner, dan sejenisnya.

Tapi lalu justru di sini kita baru tiba pada soal sesungguhnya: mengapa kita punya energi untuk memasak kalimat-kalimat pahit untuk disemburkan padanya?

Jika pun tak ada faedah yang didapat dari apapun yang ia lakukan, sedangkah ia pernah menggores luka dan sakit hati yang demikian dalam pada kita? Hingga yang tersisa adalah makian tak berbatas, hingga pada suatu wawancara, ia katakan sendiri betapa pedihnya hidupnya meratapi kepungan makian?

Dan beberapa hari lalu, dengan suara yang pas-pasan (tak terlalu buruk disandingkan dengan mutu pengisi suara konser amal para pejabat tempo hari), video musik Kekeyi mengguncang jagad Youtube. Ia torehkan namanya sebagai yang teratas, sebagai yang paling banyak ditonton. Ia singkirkan pesohor lain.

Dan justru sebab itulah, angin cibiran berlipat-lipat. Bahkan videonya sempat dihapus oleh Youtube, menyoal duit yang berbalut hak cipta, sampai akhirnya dikembalikan lagi.

Saya menduga kuat, bahwa kita memang tak pernah mau menerima sebuah kenyataan bahwa siapapun orang yang kita sangka gagal, pada akhirnya sangat mungkin membuktikan sebaliknya. Kita tak bisa menerima fakta bahwa mengapa ‘yang begitu saja’ dapat melesat.

Ada sejurus dengki yang menuntut kompensasi bahwa kesuksesan dan keterkenalan yang tak pantas, harus diganjar dengan sebuah hukuman lain: digempur serapah dan hina-dina.

Dan gejala semacam ini adalah gejala yang mengendap dalam batin kita semua yang memang tak pernah bisa keluar dari kebuntuan nasib hidup. Kita merengek dan diam-diam protes keras pada mereka yang kita kira tak pernah pantas dibanding mutu kita sendiri.

Bukankah ini pertanda betapa kita sendiri adalah kumpulan orang-orang yang telah begitu lama kalah? Begitu lama haus pada kemenangan, hingga tak sanggup merelakan sebuah citra kemenangan itu diraih oleh orang yang ‘jauh lebih kalah’ ketimbang kita.

Mungkin itu pula sebabnya mengapa kita hobi sekali memandang-mandangi Youtuber membeli sebuah mobil miliaran seperti memborong kerupuk kalengan di warkop. Sangat tergila-gila pada acara kunjungan ke rumah-rumah mewah selebriti.

Kita suka dan memuja itu semua semata-mata karena ‘mereka lebih pantas dari kita’. Tidak peduli sebermutu apa nasihat dan obrolan di sana.

Tapi kita tak pernah bisa menerima kepantasan itu disematkan pada Kekeyi, yang demikian anomali, begitu berbeda, begitu kampung.

Mungkin di sanalah peluang satu-satunya Kekeyi: bahwa daya jual utamanya adalah kelemahan-kelemahannya—sebuah resep dahulu kala yang pernah sukses dipakai oleh politisi kita. Dengan jargon ‘dia adalah kita’, dan kini menjadi ‘dia adalah segala-galanya yang harus dibela’.

Tak Ada Kejutan di Comeback Tonight Show 0 220

“Tonight’s mania??? Mantap!!”

Slogan begini sudah bisa ditemui lagi di layar kaca, ya? Bukannya kemarin sedih-sedihan setelah 7 tahun beracara dan malah berpamitan?

1 Juni kemarin acara Tonight Show di stasiun televisi yang mengklaim dirinya sebagai “masa kini” sudah bisa kembali dinikmati pemirsa. Memenuhi keinginan penonton garis kerasnya yang minta ditayangkan lagi barangkali menjadi salah satu alasan.

Sebelum wajah barunya yang sekarang, Tonight Show versi Indonesia – kita semua tahu kan, ada Tonight Show with Jimmy Fallon versi NBC – ini sudah berkali-kali ganti formasi. Sempat dibawakan oleh Arie Untung, juga diisi Aurellie sebagai co-host. Hingga akhirnya formasi yang empat orang sekarang ini – Vincent, Desta, Heti, Enzy – menjadi yang katanya paling difavoritkan penonton.

Perlu diakui memang, kemistri di antara mereka seakan nampak nyata di depan kamera. Kata netijen “ketawanya nular”. Tipikal host rame-an yang banyak melempar joke internal, namun mampu dipahami se-Indonesia raya.

Saat mengaku pamit 25 April lalu, mereka sebetulnya tidak benar-benar hilang dari peredaran dunia hiburan. Mereka membangun platform online, menghelat channel Youtube, yang belum ada kontennya saja sudah meraup 500 ribu lebih subscribers. Beda jauh kan sama kalian yang sudah tahunan juga subscribernya segitu-segitu aja. Thanks to nama besar dan popularitas.

Selama bulan puasa kemarin, mereka rajin menggelar live streaming dengan maksud menyapa para fans yang terkenal militan. Fans-nya bukanlah sebuah fandom biasa. Mereka bukan hanya yang setia menonton dan menunggu live Youtube, tapi bahkan telah berkumpul, saling bertemu, dan menggelar aksi penggalangan dana dalam rangka penanggulangan dampak pandemi.

Keempat figur publik ini sadar, bahwa televisi bukanlah satu-satunya yang bisa diandalkan di hari-hari ini. Bahwa semua saja harus mulai merayu pengguna dunia maya, memperkenalkan diri, membangun kerajaan bisnis di dalamnya.

Jika dulu “waktu” adalah musuh paling kuat di dunia, kini ia disubstitusi oleh “netijen”. Sebab netijen lah yang punya kemerdekaan menentukan jenis tayangan apa yang hendak ditonton, kapan dan di mana akan menyaksikannya. Konsekuensinya tentu pula menentukan nasib hajat hidup pekerja dunia hiburan.

Hal ini pun sudah disadari perusahaan media televisi. Pemilihan jam tayang di pukul 7 malam alias prime time, mengadu domba penonton sinetron dan acara dengan penonton bayaran di channel sebelah, bukan tanpa alasan. Mereka sadar betul, segmentasi penonton mereka adalah masyarakat urban penggemar on demand, TV kabel atau Youtube.

Tenang. Mereka tahu betul strategi apa yang harus diambil dalam perang ini. Bintang tamu dipilih dengan seksama.  Nassar saat tayangan edisi lebaran dan Rina Nose di pembukaan Juni. Merekalah yang punya daya tarik, yang mampu menggoda penonton untuk mengambil remot TV, yang membuat penonton mengganti channel demi seorang idola.

Selamat datang Iis Dahlia, Soimah, Raffi Ahmad, Ruben Onsu, dan Vicky Prasetyo! Bukan tidak mungkin kan, mereka adalah alternatif bintang tamu selanjutnya?

Dalam peperangan ini, musuh program-program televisi adalah mereka yang jatuh dalam dunia streaming dan anti-FTA (free to air). Sesungguhnya segala ragam games atau pertaruhan menggelar gimmick akan sia-sia belaka di hadapan kuasa netijen.

Musuh media mainstream kini adalah media online, sang adikuasa yang tak masuk hitungan rating and share Nielsen. Pilihannya ada dua: adaptasi atau mati.

Pada akhirnya, Tonight Show adalah satu lagi catatan tentang media kita yang berdilema antara bisnis dan idealis. Tidak ada yang baru bukan? Tak ada yang mengejutkan.

Editor Picks