Nana yang Malu-malu Pergi, Kini Malu-malu Kembali 0 1403

Sesungguhnya judul ini tidak benar-benar untuk menyambut insan yang lama menghilang. Judul ini dibuat agar bernada penyambutan bagi yang (katanya) kembali dari jedanya, jurnalis senior kecintaan Indonesia, Najwa Shihab. Pun sesungguhnya jeda itu adalah kepindahannya dari media mapan milik Pak Brewok, ke media bebas di awang-awang: media online. Faktanya, jeda itu tidak pernah ada, karena pemirsa masih bisa melihat sosoknya melanglang buana.

Untuk membuka kembali khasanah ingatan pembaca, hampir 4 bulan lalu, tepatnya 30 Agustus, adalah episode pamungkas Mata Najwa setelah 7 tahun menyebar ‘mantra layar kaca’. Program yang didapuk sebagai talkshow terbaik itu undur diri dari hadapan penonton setia televisi swasta berlambang rajawali. Sejak itu, penggemar yang terlanjur tergila-gila menangisi kepergiannya. Namun, entah harus disyukuri atau ditertawai, air mata penggemar terhenti seketika.

Mengisi kekosongan 4 bulan terakhir, sosok Najwa secara ajeg nampang di layar gadget, rajin menggelar wawancara dengan berbagai public figure mulai dari pengacara fenomenal, Fredrich Yunadi, hingga lagi-lagi B.J. Habibie. Rupanya, tiada kerinduan khalayak yang perlu dijawab atas kabar kembalinya Mata Najwa ke layar kaca yang disiarkan meluas melalui akun Instagram 27 Desember lalu.

Kali ini, CT Group kebagian undian berhadiahnya. Si primadona akhirnya melenggang bebas di media Trans Corp. Alasannya antara dua alternatif berikut. Pertama, karena CT Group lebih menjamin perkara kantong. Atau barangkali, kita akan mendengar jawaban diplomatis macam “karena independensi pemilik media juga penting”, sejak ‘si anak singkong’ (sepertinya) tidak (akan) terlibat politik praktis. Pernyataan Najwa ke media-media lain yang sibuk meliput sesama kanca barangkali sama persis dengan kepindahannya dari rajawali satu ke rajawali lainnya: demi menjawab kehausan pengalaman jurnalismenya.

Jika benar Mbak Nana bermaksud hati menjadi kuli tinta pembela rakyat, bukankah lembaga penyiaran publik macam TVRI yang (semestinya) milik segenap bangsa Indonesia jadi ranah yang pas? Sayangnya, harkat martabat penyiaran publik kita masih saja terjebak nostalgia macam lagu Raisa.

Tentu media publik yang tidak beken ini akan dilangkahi Nana kapan-kapan, kalau matahari terbit dari barat, kalau-kalau pemerintah segera sadar apa arti kata ‘lembaga penyiaran publik’ yang sebenarnya. Kalau saja kita juga punya kesadaran untuk menekan lembaga penyiaran publik agar tak lekat di benak sebagai ‘corong pemerintah’ sejak rezim Mbah Harto. Kalau saja pekerja media di dalamnya banyak diisi anak muda, jadi rebutan inovator dan pebisnis hebat keluaran kampus-kampus keren seantero Indonesia, dan bekerja secara profesional di bawah anggaran dana hasil jerih parah RAKJAT. Kalau saja ini benar terjadi. Kalau dan kalau, independensi jurnalisme memang benar-benar nyata bukan hanya di dunia Cinderella.

Di antara ketidaksabaran fans akut Mbak Nana, bagi sebagian manusia yang ngefans parsial, atau tidak ngefans sama sekali, barangkali harus ikut mengawal. Berapa tahun lagi CT mampu ngopeni jurnalis kawakan anak kiai ini? Sampai akhirnya ‘si pendongkrak rating and share’ ini tak mampu ditekuk dan disetir lagi, lalu lagi-lagi pindah ke media online dan beralasan jeda lagi.

Lagi-lagi, kita perlu angkat topi pada kelihaian Najwa. Tidak hanya politisi yang mampu dibungkam olehnya, rupanya waktu – yang adalah musuh bebuyutuan semesta – pun dibuat megap-megap. Berita kembalinya si primadona ke layar kaca mengambil momen akhir tahun. Biarlah jadi hadiah dan kejutan manis untuk 2018. Membuka lembaran baru, membuka tahun baru, membuka omset baru bagi si pemilik media.

Jika ‘mantra layar kaca’ adalah benar adanya seperti sebuah sabda, maka sihir itu adalah pada ‘panggung’ tempat Nana bernaung. Mereka cermat memberi tawaran, namun juga suatu hari licik melepas pergi ‘buruh-buruh’nya yang tak lagi memberi keuntungan.

Apapun bentuknya, seisi alam raya masih berharap Nana tetap menyajikan hiburan yang sama bobotnya senantiasa. Individu-individu yang katanya merindu tayangan berkualitas semoga dipenuhi kembali. Entah rindu yang dari dalam hati, entah ‘dipaksa’ rindu oleh logika bisnis media.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sejumlah Alasan Mengapa Aldi Taher Adalah Artis Paling Berprestasi Abad Ini 0 257

Sebelumnya, Penulis menahan diri dan mencoba melihat fenomena ketenaran Aldi Taher lebih jauh. Agar yang dituliskan nantinya (dan yang kalian baca saat ini) adalah kata-kata terbijak yang Penulis mampu tuliskan.

Rahmat Aldiansyah atau dikenal dengan Aldi Taher adalah selebritis generasi lama. Sejak 2000-an ia sudah familiar dengan dunia entertainment. Anda-Anda yang seumuran saya pasti sering melihat ia dulu mondar-mandir di sinetron dan ftv layar kaca, ataupun film horror layar lebar.

Tapi, ini semua berubah sejak Aldi Taher rekam posting baca al-Quran di Instagram. Belum ditambah beragam gimmick tag-tag akun Instagram seluruh artis terkenal dan media, mengaku ingin jadi wakil gubernur DKI Jakarta, hingga berambisi melaju di Pilpres Amerika Serikat.

Kita memang menganggap Aldi Taher kini mungkin aneh. Kita bertanya-tanya apa yang mendasarinya berperilaku tak masuk akal. Tapi, justru di situlah nilai jualnya.

Dalam kaidah berita, keunikan adalah salah satu unsur penting berita. Suatu peristiwa tidak akan diliput dan ditayangkan dalam berita jika tidak unik atau berbeda. Ini teori dasar jurnalistik ya, yang dipelajari anak-anak komunikasi di kampus-kampus beken, hingga kami terapkan dalam pekerjaan sehari-hari.

Aldi Taher adalah perwujudan sempurna dari unsur keunikan ini. Ia bangun dari hibernasinya di dunia hiburan dengan suatu persona yang berbeda, stand out from the rest. Ia menjadi ustadz dadakan yang pandai mengaji. Atau sebagai pencipta lagu serba bisa.

Usahanya berhasil bukan? Buktinya, kita semua membicarakannya, dan bahkan tulisan ini lahir menjawab betapa sering namanya menduduki trending topic.

Barangkali, sebagian besar netijen menganggap Aldi Taher adalah artis tukang cari sensasi. Kita beranggapan bahwa artis yang ingin terkenal harus berkarya dan mencetak prestasi. Lagipula, sejak kapan ada pakem seperti ini?

Bukankah apa yang diciptakan Aldi kini adalah karya seni juga? Rekam posting itu sebuah konten dan perlu diakui sebagai karya dalam konteks kebebasan berekspresi. Demikian pula dengan lagi “NISSA SABYAAANN~ I LOVE YOUUU SO MUCH” yang ia ciptakan. Apalagi, liriknya bisa diganti-ganti sesuai dengan kebutuhan dan rikues khalayak. Sungguh inovatif, bukan?

Keseluruhan usaha membuat sensasi ini justru membuat Aldi Taher mencetak prestasi: membuat namanya menjadi top of mind kita. Lirik dan nada lagunya sangat menempel di benak kita, dan diam-diam kita senandungkan ketika sedang masak mie instan, atau sedang menunggu bis datang di halte. Dan lagi, paling tidak ketika ditanya “siapa artis paling aneh di dunia” kita akan menyebut nama Aldi Taher bukan?

Perlu juga diakui, bahwa Aldi Taher cerdas membaca situasi. Ia tahu cara bertahan di industri hiburan hari ini. Bisnis media kita kan memang demikian, siapa yang viral dan sensasional, dialah yang akan bertahan lama.

Dari seorang Aldi Taher yang mencetak prestasi dengan kemampuan modelling, akting, dan menyanyinya yang sungguh-sungguh di masa silam. Kini ia bertransformasi menjadi Aldi Taher yang absurd. Nyatanya, ia kini berhasil jadi rebutan bintang tamu televisi dan Youtube.

Tentu, soal substansi konten dan gagasan pribadi yang sering ia lontarkan tentang beramal, poligami, hingga maksiat tak perlu kita bahas. Sebab penulis tentu tak punya kapasitas di bidang itu.

Yang jelas, prestasi Aldi Taher adalah mampu menciptakan sensasi atas dirinya sendiri, dan mampu beradaptasi di kerasnya situasi era ini. Kitalah yang seharusnya banyak belajar darinya.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Nasib Pegawai KPK Kritis dan Doa untuk Mereka 0 159

Kemarin 1.271 pegawai KPK yang lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) akhirnya sudah dilantik. Kini mereka resmi jadi abdi negara, meninggalkan 75 yang tak lolos.

Tim dokumenter dengan jejaring sangar macam Watchdoc dan kesayangan kita semua, Najwa Shihab, sudah mewawancarai mereka, mengungkap kejanggalan TWK. Pertanyaan-pertanyaan aneh macam urusan rumah tangga, perceraian, gaya pacaran, hingga aliran agama muncul selama sesi tes seleksi wawancara.

Masalahnya, 75 orang yang tidak lolos ini bukan sembarangan personil. Dari antara 75 orang itu, 13 di antaranya adalah penyidik yang berperan penting sebagai lokomotif penggerak berjalannya KPK selama ini. Sebut saja Novel Baswedan, yang kita semua tahu telah berhasil mengungkap kasus besar macam korupsi e-KTP dengan dalang Setya Novanto. Ada pula Rizka Anungnata, penyidik kasus benih lobster yang menyeret mantan Menteri KKP, Edhy Prabowo. Sampai Ronal Paul, yang tengah menangani kasus buron yang ghosting satu negeri ini, Harun Masiku.

Orang-orang ini kini tak bisa melanjutkan kasusnya, dinonaktifkan karena tak lolos tes, bahkan terancam termasuk dari 51 orang yang katanya tak lagi bisa dibina. Dalam kata lain yang lebih mudah namun kasar, sama saja dengan orang bebal.

Orang-orang berprestasi ini mungkin cerminan dari orang kritis. Di satu sisi, Indonesia ini sangat butuh orang-orang kritis agar bisa maju memperbaiki sistem dan mentalitas yang terlanjur bobrok. Tapi atas nama kestabilan, orang-orang macam inilah yang dianggap sebagai penghancur dan pembangkang. Termasuk dalam logika bisnis korporasi, pegawai yang ndablek atau berani melawan pemimpinnya pasti ditendang.

Susah dong ya jadi orang kritis di negara ini? Ya memang bakal susah kalau kamu terlalu radikal, berani bicara dan melawan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kalau kata pepatah, diam adalah emas. Itu mungkin akan sangat berlaku buat kalian-lalian yang punya pemikiran revolusioner. Jangan keburu emosi dulu! Diam memang tak selamanya baik, dan malah berujung malapetaka karena mendiamkan sesuatu yang salah. Kalau kata mantan komisioner KPK dan pengurus PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas: “membiarkan kejahatan itu sama artinya dengan melakukan kejahatan”.

Saya jadi teringat suatu kisah penyebaran dan perjalanan agama Kristen di Jepang. Alkisah, agama Katolik disebarkan pertama kali oleh misionaris Jesuit dari Portugal tahun 1560-an. Lambat laun, jumlah penganut Kristen bertambah banyak dan pesat. Penguasa politik Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk menumpas mereka.

Larangan beribadah ditetapkan. Bahkan memerintahkan semua umat Kristiani menginjak fumie, lempengan tembaga bergambar Yesus disalib pada papan kayu. Tujuannya jelas, untuk mematahkan kepercayaan mereka. Sejarah mengatakan ada sekitar 2 ribu orang meninggal menjadi martirkarena menolak menginjak fumie, tetap setia pada imannya.  Which is (cielah gaya bahasa jaksel), keren.

Tapi, tak sedikit pula yang memilih ingkar, mereka injak fumie, dan tetap hidup. Mereka berpura-pura meninggalkan agamanya, tapi tetap beribadah secara diam-diam. Mereka lah yang membuat penganut Kristiani masih ada di Jepang sampai sekarang. Coba bayangin kalau semua memilih jadi “pahlawan” dan rela mati, mungkin agama Katolik akan benar-benar punah.

Kisah ini saya lihat hampir sama dengan yang terjadi di KPK hari ini. Harapannya, ada beberapa dari 1200 yang lolos TWK itu, adalah orang-orang yang diam-diam “nurut”, menjawab dengan cara aman tes-tes wawancara yang diajukan asesor. Mereka menyembunyikan jati diri kritis, demi bertahan hidup, tetap berada dalam sistem lembaga pemberantas korupsi, dan membawa integritas ke depan. Jika benar demikian, kita tak perlu khawatir KPK akan ambruk.

Lalu bagaimana dengan 51 pegawai yang tak lagi bisa dibina itu? Perjuangan di luar KPK untuk memberantas korupsi masih panjang. Bisa melalui organisasi, lembaga bantuan hukum, dan bertindak sebagai pengamat atau penasehat. Sebab, berlian tetap bisa bersinar di mana saja walaupun ditempa sedemikian rupa. Semoga.

 

*)Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Editor Picks