Nana yang Malu-malu Pergi, Kini Malu-malu Kembali 0 1186

Sesungguhnya judul ini tidak benar-benar untuk menyambut insan yang lama menghilang. Judul ini dibuat agar bernada penyambutan bagi yang (katanya) kembali dari jedanya, jurnalis senior kecintaan Indonesia, Najwa Shihab. Pun sesungguhnya jeda itu adalah kepindahannya dari media mapan milik Pak Brewok, ke media bebas di awang-awang: media online. Faktanya, jeda itu tidak pernah ada, karena pemirsa masih bisa melihat sosoknya melanglang buana.

Untuk membuka kembali khasanah ingatan pembaca, hampir 4 bulan lalu, tepatnya 30 Agustus, adalah episode pamungkas Mata Najwa setelah 7 tahun menyebar ‘mantra layar kaca’. Program yang didapuk sebagai talkshow terbaik itu undur diri dari hadapan penonton setia televisi swasta berlambang rajawali. Sejak itu, penggemar yang terlanjur tergila-gila menangisi kepergiannya. Namun, entah harus disyukuri atau ditertawai, air mata penggemar terhenti seketika.

Mengisi kekosongan 4 bulan terakhir, sosok Najwa secara ajeg nampang di layar gadget, rajin menggelar wawancara dengan berbagai public figure mulai dari pengacara fenomenal, Fredrich Yunadi, hingga lagi-lagi B.J. Habibie. Rupanya, tiada kerinduan khalayak yang perlu dijawab atas kabar kembalinya Mata Najwa ke layar kaca yang disiarkan meluas melalui akun Instagram 27 Desember lalu.

Kali ini, CT Group kebagian undian berhadiahnya. Si primadona akhirnya melenggang bebas di media Trans Corp. Alasannya antara dua alternatif berikut. Pertama, karena CT Group lebih menjamin perkara kantong. Atau barangkali, kita akan mendengar jawaban diplomatis macam “karena independensi pemilik media juga penting”, sejak ‘si anak singkong’ (sepertinya) tidak (akan) terlibat politik praktis. Pernyataan Najwa ke media-media lain yang sibuk meliput sesama kanca barangkali sama persis dengan kepindahannya dari rajawali satu ke rajawali lainnya: demi menjawab kehausan pengalaman jurnalismenya.

Jika benar Mbak Nana bermaksud hati menjadi kuli tinta pembela rakyat, bukankah lembaga penyiaran publik macam TVRI yang (semestinya) milik segenap bangsa Indonesia jadi ranah yang pas? Sayangnya, harkat martabat penyiaran publik kita masih saja terjebak nostalgia macam lagu Raisa.

Tentu media publik yang tidak beken ini akan dilangkahi Nana kapan-kapan, kalau matahari terbit dari barat, kalau-kalau pemerintah segera sadar apa arti kata ‘lembaga penyiaran publik’ yang sebenarnya. Kalau saja kita juga punya kesadaran untuk menekan lembaga penyiaran publik agar tak lekat di benak sebagai ‘corong pemerintah’ sejak rezim Mbah Harto. Kalau saja pekerja media di dalamnya banyak diisi anak muda, jadi rebutan inovator dan pebisnis hebat keluaran kampus-kampus keren seantero Indonesia, dan bekerja secara profesional di bawah anggaran dana hasil jerih parah RAKJAT. Kalau saja ini benar terjadi. Kalau dan kalau, independensi jurnalisme memang benar-benar nyata bukan hanya di dunia Cinderella.

Di antara ketidaksabaran fans akut Mbak Nana, bagi sebagian manusia yang ngefans parsial, atau tidak ngefans sama sekali, barangkali harus ikut mengawal. Berapa tahun lagi CT mampu ngopeni jurnalis kawakan anak kiai ini? Sampai akhirnya ‘si pendongkrak rating and share’ ini tak mampu ditekuk dan disetir lagi, lalu lagi-lagi pindah ke media online dan beralasan jeda lagi.

Lagi-lagi, kita perlu angkat topi pada kelihaian Najwa. Tidak hanya politisi yang mampu dibungkam olehnya, rupanya waktu – yang adalah musuh bebuyutuan semesta – pun dibuat megap-megap. Berita kembalinya si primadona ke layar kaca mengambil momen akhir tahun. Biarlah jadi hadiah dan kejutan manis untuk 2018. Membuka lembaran baru, membuka tahun baru, membuka omset baru bagi si pemilik media.

Jika ‘mantra layar kaca’ adalah benar adanya seperti sebuah sabda, maka sihir itu adalah pada ‘panggung’ tempat Nana bernaung. Mereka cermat memberi tawaran, namun juga suatu hari licik melepas pergi ‘buruh-buruh’nya yang tak lagi memberi keuntungan.

Apapun bentuknya, seisi alam raya masih berharap Nana tetap menyajikan hiburan yang sama bobotnya senantiasa. Individu-individu yang katanya merindu tayangan berkualitas semoga dipenuhi kembali. Entah rindu yang dari dalam hati, entah ‘dipaksa’ rindu oleh logika bisnis media.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sejumlah Alasan Mengapa Sebaiknya Menunda Niatan Kerja di TV 0 178

(Tulisan ini mengandung sedikit curhat pribadi penulisnya)

 “Enak ya kerja di TV! Orangnya cantik-cantik, ganteng-ganteng.”

Demikian barang satu-dua pernyataan netijen di kolom komentar akun media sosial sebuah media nasional. Memang sih, pekerja media khususnya televisi, karena karakteristiknya yang mengandalkan visual, sangat memperhatikan penampilan reporter-reporter on-cam-nya.

Tapi, saya takut sitgma ini jadi alasan anak-anak fresh grad pengen kerja di TV. Sebab ini kan lapangan pekerjaan, bukan biro jodoh. Sebagaimana hakikat hidup, setiap jalan karir yang diambil seseorang tentu tak lepas dari risiko, termasuk jurnalis TV. Kalian gak tahu kan ribetnya hidup jadi jurnalis TV?

Pertama, anak TV sangat menggantungkan hidup pada alat-alat mereka. Gak ada kamera berikut tripodnya, hand mic, dan seperangkat alat yang membantu live report di lokasi kejadian, ya gak akan bisa jalan liputan. Alat-alat ini banyak ragamnya dan lumayan berat dibawa. Tak lupa, kami juga menjaganya seperti menjaga hati agar tak tersakiti. Semata-mata karena semua peralatan itu mahal, pun bukan punya sendiri alias punya kantor.

Kedua, seluruh wawancara membutuhkan audio visual. Otomatis, narasumber harus didatangi secara langsung. Atau paling banter di masa new normal ini, narasumber ditemui melalui panggilan video. Beda banget sama anak berita cetak atau online yang bisa menelepon narasumber, melakukan wawancara sambil nguleni adonan bakso atau korah-korah di rumah.

Plus, tak semua narasumber mau wajahnya tampil di layar kaca. Gak pede atau takut ada salah bicara katanya. Belum lagi mereka-mereka yang statement-nya lebih bagus ketika off the record, tapi malah demam layar. Ketika tombol record kamera dinyalakan, mereka lantas terbata-bata, grogi seperti pertama kali kencan bareng kekasih.

Ketiga, jurnalis TV harus tampil prima di depan layar, NO DEBAT. Gak peduli kita lelah karena seharian di jalanan nan berdebu, berkeringat, pusing menentukan angle berita dan menulis naskah. Ketika naik tayang untuk laporan langsung, baju, rambut, dan make-up harus on point.

Mau di belakang ada gunung runtuh, kebakaran, corona, kalau bisa kiamat diliput juga neh, wawancara malaikat pencabut nyawa. Mau kaki dilewatin tikus atau digodain abang-abang yang tiba-tiba dadah-dadah di kamera, ketika anchor sudah mempersilakan durasi untuk kita kuasai, ngomong harus lancar. Kebanyakan e-e-e, ngeblank dikit, kepleset penggunaan kata, tak akan diampuni netijen di medsos.

Keempat, risiko diusir dan ditolak. Karena penampilan anak TV selalu sedemikian heboh, dengan cube mic bertuliskan stasiun media, terkadang warga sudah emoh duluan bahkan saat kita baru saja mendekat (dalam tahap ini, terkadang saya merasa kami-kami ini dianggap kuman, harus dijauhi).

Belum lagi mereka-mereka yang tak tahu sistem kerja pertelevisian. Di suatu momen, saya berhadapan dengan mereka yang asal menangkap layar dan menyebarkan gambar e grup-grup WA keluarga dengan bumbu-bumbu kepsyen memancing amarah, tanpa menonton tayangannya. Padahal CG (tulisan yang tampil di bawah layar) yang tertangkap di capture hanya berperan sebagai pelengkap dari laporan langsung. Kaum-kaum ini memang tak jauh dari mereka yang hanya capture judul berita online, lalu berucap “Astagfirullah… media cebong ini sudah menyebar hoax”.

Dalam momen itu, kadang warga tak tahu menahu sistem kerja jurnalistik, bahwa apa yang disampaikan reporter di layar kaca saat live, adalah hasil wawancara narasumber dari berbagai sisi dan riset data.  Alhasil saya sempat dirundung berjam-jam, diomeli, walau mulut telah berbusa menjelaskan etik kerja kami. Saya dituduh tak becus menyampaikan fakta, sesuatu yang sudah saya sampaikan dalam durasi live 3-6 menitan.

Mereka, kelas menengah, tak pernah paham dunia profesi jurnalistik TV, tak begitu paham konteks ketika menonton live report reporter di layar kaca. Yang mereka tahu harga-harga bahan dapur terus naik, dan tunggakan uang kontrakan harus segera dibayar, tak peduli ada atau tidaknya corona.

Lebih jauh, pula banyak masyarakat melakukan perundungan di media sosial atas kerja jurnalistik yang sudah berdasar fakta. Tak jarang bullying mengganggu privasi dan identitas personal jurnalis, yang tak ada hubungannya sama sekali dengan sumber persoalan.

Jangan-jangan ketidaktahuan masyarakat akan banyak hal, salah satunya prinsip jurnalistik, adalah tanda bahwa pemerintah dengan segala tetek-bengek sistem pendidikannya, hanya mengajari kita teori, bukan praktik hidup yang konkrit.

Tak heran, persinggungan ras dan agama akan membuat orang cepat marah serta urusan perut membuat gampang tersulut. Kita tak pernah diajari bahwa ada persoalan di luar diri kita yang lebih jauh dan lebih kompleks daripada persoalan-persoalan pribadi.

Jangan heran bila warga masih banyak yang tak tahu mengapa napas mereka dibatasi dengan pemakaian masker, kegiatan mereka harus berlogo ‘protokol kesehatan’. Tak pernah sampai ke telinga mereka soal menyoal penanganan pasien COVID-19, istilah klaster, apalagi vaksin yang hingga kini tak tahu di mana arwahnya.

Dalam hal ini, negara mungkin telah gagal melakukan pendekatan personal, edukasi tentang prinsip-prinsip mendasar untuk hidup: berpikir, bernalar, dan berperikemanusiaan: nilai-nilai yang selama ini hanya disebut karena wajib menghapal Pancasila di sekolah. Padahal, bukankah mereka selalu berhasil menggaet hati rakyat secara personal –  bahkan ada yang sampai fanatik kronis –  ketika pemilu menjelang?

Loh kan, tadinya mau curhat aja rasanya jadi jurnalis TV, kok jebule bahas negoro?! Ya gini ini, kerjaan kami gak cuma semudah tampil di layar seperti yang kalian bayangkan. Di baliknya ada beragam dinamika, sampai mikiri betapa runyamnya persoalan negeri ini. Gimana, masih mau jadi anak TV?

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 479

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks