Nana yang Malu-malu Pergi, Kini Malu-malu Kembali 0 1137

Sesungguhnya judul ini tidak benar-benar untuk menyambut insan yang lama menghilang. Judul ini dibuat agar bernada penyambutan bagi yang (katanya) kembali dari jedanya, jurnalis senior kecintaan Indonesia, Najwa Shihab. Pun sesungguhnya jeda itu adalah kepindahannya dari media mapan milik Pak Brewok, ke media bebas di awang-awang: media online. Faktanya, jeda itu tidak pernah ada, karena pemirsa masih bisa melihat sosoknya melanglang buana.

Untuk membuka kembali khasanah ingatan pembaca, hampir 4 bulan lalu, tepatnya 30 Agustus, adalah episode pamungkas Mata Najwa setelah 7 tahun menyebar ‘mantra layar kaca’. Program yang didapuk sebagai talkshow terbaik itu undur diri dari hadapan penonton setia televisi swasta berlambang rajawali. Sejak itu, penggemar yang terlanjur tergila-gila menangisi kepergiannya. Namun, entah harus disyukuri atau ditertawai, air mata penggemar terhenti seketika.

Mengisi kekosongan 4 bulan terakhir, sosok Najwa secara ajeg nampang di layar gadget, rajin menggelar wawancara dengan berbagai public figure mulai dari pengacara fenomenal, Fredrich Yunadi, hingga lagi-lagi B.J. Habibie. Rupanya, tiada kerinduan khalayak yang perlu dijawab atas kabar kembalinya Mata Najwa ke layar kaca yang disiarkan meluas melalui akun Instagram 27 Desember lalu.

Kali ini, CT Group kebagian undian berhadiahnya. Si primadona akhirnya melenggang bebas di media Trans Corp. Alasannya antara dua alternatif berikut. Pertama, karena CT Group lebih menjamin perkara kantong. Atau barangkali, kita akan mendengar jawaban diplomatis macam “karena independensi pemilik media juga penting”, sejak ‘si anak singkong’ (sepertinya) tidak (akan) terlibat politik praktis. Pernyataan Najwa ke media-media lain yang sibuk meliput sesama kanca barangkali sama persis dengan kepindahannya dari rajawali satu ke rajawali lainnya: demi menjawab kehausan pengalaman jurnalismenya.

Jika benar Mbak Nana bermaksud hati menjadi kuli tinta pembela rakyat, bukankah lembaga penyiaran publik macam TVRI yang (semestinya) milik segenap bangsa Indonesia jadi ranah yang pas? Sayangnya, harkat martabat penyiaran publik kita masih saja terjebak nostalgia macam lagu Raisa.

Tentu media publik yang tidak beken ini akan dilangkahi Nana kapan-kapan, kalau matahari terbit dari barat, kalau-kalau pemerintah segera sadar apa arti kata ‘lembaga penyiaran publik’ yang sebenarnya. Kalau saja kita juga punya kesadaran untuk menekan lembaga penyiaran publik agar tak lekat di benak sebagai ‘corong pemerintah’ sejak rezim Mbah Harto. Kalau saja pekerja media di dalamnya banyak diisi anak muda, jadi rebutan inovator dan pebisnis hebat keluaran kampus-kampus keren seantero Indonesia, dan bekerja secara profesional di bawah anggaran dana hasil jerih parah RAKJAT. Kalau saja ini benar terjadi. Kalau dan kalau, independensi jurnalisme memang benar-benar nyata bukan hanya di dunia Cinderella.

Di antara ketidaksabaran fans akut Mbak Nana, bagi sebagian manusia yang ngefans parsial, atau tidak ngefans sama sekali, barangkali harus ikut mengawal. Berapa tahun lagi CT mampu ngopeni jurnalis kawakan anak kiai ini? Sampai akhirnya ‘si pendongkrak rating and share’ ini tak mampu ditekuk dan disetir lagi, lalu lagi-lagi pindah ke media online dan beralasan jeda lagi.

Lagi-lagi, kita perlu angkat topi pada kelihaian Najwa. Tidak hanya politisi yang mampu dibungkam olehnya, rupanya waktu – yang adalah musuh bebuyutuan semesta – pun dibuat megap-megap. Berita kembalinya si primadona ke layar kaca mengambil momen akhir tahun. Biarlah jadi hadiah dan kejutan manis untuk 2018. Membuka lembaran baru, membuka tahun baru, membuka omset baru bagi si pemilik media.

Jika ‘mantra layar kaca’ adalah benar adanya seperti sebuah sabda, maka sihir itu adalah pada ‘panggung’ tempat Nana bernaung. Mereka cermat memberi tawaran, namun juga suatu hari licik melepas pergi ‘buruh-buruh’nya yang tak lagi memberi keuntungan.

Apapun bentuknya, seisi alam raya masih berharap Nana tetap menyajikan hiburan yang sama bobotnya senantiasa. Individu-individu yang katanya merindu tayangan berkualitas semoga dipenuhi kembali. Entah rindu yang dari dalam hati, entah ‘dipaksa’ rindu oleh logika bisnis media.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menangisi Gagalnya Nobar di Bioskop 0 194

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia, sudah fix menunda pembukaan bioskop yang seharusnya terjadwal 29 Juli ini, sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu saja niatnya baik: demi memutus mata rantai penularan COVID-19, yang makin hari angkanya makin naik gak karu-karuan.

Di kolom ini tentu saja kita tidak perlu membahas efektivitas kebijakan menahan pembukaan sejumlah tempat hiburan malam dan bioskop, namun membiarkan tempat wisata lain (yang lebih banyak digunakan untuk pesepeda dadakan) tetap beroperasi.

Yang jelas, sebagian dari kita tentu mengeluh dalam hati. Rasanya bak diberi harapan tapi diputus tiba-tiba. Setelah lebih dari seribu bioskop di 52 kota di Indonesia tutup sejak 26 Maret 2020, mengurung jiwa-jiwa hedon kita. Berbulan-bulan loh gak nonton bioskop! Rasanya mau mati, kalau katanya influencer review makanan. Se-introvert-introvert-nya saya (maaf ngaku-ngaku), saya pun sama dengan kalian: rindu nonton bioskop.

Saya paham betul anyep-nya ketawa sendirian sepanjang nonton film genre komedi, dan sepinya menangis sendiri saat nonton adegan yang mengharukan. Saya sadar betul betapa gak mbois-nya nonton film di layar kecil HP, atau paling banter di layar laptop 14 inci. Saya juga gak bisa merasakan sensasi spiker D*lby all around you, apalagi layar Imax yang segede lapangan futsal itu.

Kita tentu rindu rasa-rasa ketika baru masuk gedung bioskop, mendengar teriakan mas-mas penjual popcorn supaya kita tertarik beli dagangannya, berasa artis yang disoraki fans. Kita tentu kangen sekali perjuangan mencari promo tiket melalui platform daring. Kita mungkin rindu rasa balap-balapan pre-order booking kursi untuk penayangan premiere film kesayangan yang sudah kita tunggu-tunggu serialnya.

Sudah lama juga ya rasanya gak makan popcorn, yang gara-gara saking asyiknya sampai habis duluan sebelum filmnya mulai. Sampai lupa rasanya pamer foto tiket nobar bioskop film yang sedang hype di Instagram Story—yang kalau teman-teman kita kebetulan sudah nonton duluan, kita wajib ancam mereka dengan segenap kekuatan jiwa-raga supaya mereka tidak spoiler.

Tentu jadi kerinduan bersama pula buat pegangan tangan dengan kekasih sepanjang film berlangsung—apalagi kalau filmnya horor (wes ngakuo ae, aku yo eruh modusmu!)—untuk saling menyalurkan rasa hangat tubuh, meminimalisir begitu br*ngs*knya dinginnya AC gedung teater. Hal sesederhana tertawa bersama penonton lain di adegan-adegan konyol, atau berteriak bersama ketika ada jumpscare, semua itu bikin kangen.

Kita semua memang bersedih dan tak kunjung kelar mengeluh dengan tertundanya pembukaan bioskop ini. Mengutuki dalam hati: koronah gatheeeel! Walau sebenarnya sudah ada Netflix yang sudah dibuka blokirnya oleh Indihome, atau aplikasi lain (dan website streaming ilegal yang belum diblokir pemerintah) yang bisa diakses, menambal kerinduan-kerinduan kita akan nobar di bioskop.

Tapi mungkin gara-gara kita sibuk berduka, kita sampai lupa ada yang nasibnya lebih terkatung-katung.

Ketua Umum Asosisasi Produser Film Indonesia menyebut, ada sekitar 15 proyek film yang gagal produksi tahun ini. Hal ini tentu berdampak pula bagi para sutradara dan kisah produksi mereka. Mulai dari Joko Anwar sampai Livi Zheng, semua gigit jari.

Para aktor dan aktris, walau setenar Reza Rahadian dan Tara Basro sekalipun, di masa begini, pupus sudah seluruh jadwal syuting yang telah tersusun rapi sepanjang tahun 2020. Jangan lupa keseluruhan kru film, yang dalam sekali pembuatan film, bisa ada 80-100 orang bahkan lebih. Bisa jadi, side job supir G*jek sempat melintas di benak mereka (atau bahkan ada yang sudah merealisasikannya) demi menyambung hidup.

“Loh kan filmnya bisa tayang secara onlen”. Mulut gampang bicara. Tapi bagaimana menggaji kru film dan biaya produksi yang bermiliar-miliar hanya dengan online streaming? Bagaimana caranya menutup kekurangan biaya 80-90 persen yang selama ini didapatnya dari bioskop?

Juga mereka, para reviewer atau kritikus film, tak lagi punya bahan untuk dikomentari. Tak lagi mereka mengirim tulisan untuk media, di mana juga berarti hilangnya sebagian besar penghasilan (dan passion) mereka.

Mbak-mbak penyobek tiket nontonmu, mereka yang membersihkan sampah bekas popcorn yang kamu tinggalkan begitu saja di kursi, tukang pel kamar mandi eks-eks-wan, mereka semua juga ingin kembali ke bioskop. Mereka yang harus dirumahkan, kena pengurangan gaji, atau bahkan PHK, semua sama kangennya dengan bioskop seperti kita, gaes!

Tapi, berbeda dengan kamu semua yang rindu mencari hiburan di tengah kebosanan, mereka ingin kembali ke bioskop karena rindu kembali bekerja.

Kata Kakak Anji: “Corona gak semengerikan itu kok”. Mungkin benar bagi sebagian orang, tapi tidak bagi mereka, para pejuang seni garda terdepan dan pekerja kreatif, yang sama sekali kehilangan pekerjaannya gara-gara Corona.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Keterancaman Klepon yang Tak Islami 0 251

Kejutan deklaratif dari satu akun media sosial tentang pengumuman penting, bahwa klepon adalah jajanan “tak Islami”, menggegerkan orang banyak. Sebagian besarnya tentu saja mempertanyakan dengan nada nyinyir tapi juga was-was: apakah kita sepengangguran itu hingga menyoal sebuah objek tak penting dengan klaim biner Islami dan tak Islami? Apa kehabisan alternatip membahas yang lain, yang important-important aja gitu?

Eittsss. Maap, sekadar mengingatkan. Klepon adalah subjek maha-penting. Ia berdiri mewarisi ingatan kolektif populasi, mengantarai kenangan-kenangan bertetangga dan pulang kampung. Ia barang sederhana yang ditumpangi oleh bejibun kepentingan pertemuan, kenduren, rapat-rapat, dan bingkisan hangat — itu sebabnya, klepon juga bagian penting dari peristiwa kebudayaan. Singkatnya, klepon adalah pantulan diri kita sendiri. Menyebutnya sebagai tidak penting tentu adalah penyederhanaan dan ketakpahaman tentang hakikat rasa dan ikatan peristiwa.

Lalu, tentang klaim tak Islami. Kau tahu, resep berjualan praktis dan taktis kini sering mengawinkan apapun dengan agama: hotel Syariah, pariwisata Islami, bank Syariah, kredit umat (sebuah peristilahan yang sangat membingungkan), gadai Syariah dan tentu saja termasuk jajanan Islami.

Maka, kemegahan klepon sebagai barang maha-penting hanya bisa dikalahkan secara ekonomi dengan melabelinya sebagai yang lain, yang asing, yang ‘bukan Islam’. Seolah-olah kompetisi melawan klepon — seperti halnya politik — hanya dapat dimenangkan dengan jurus agama. Masih ingat dengan Inul Daratista? Ia harus dihajar dengan ‘goyang ngebor tak bermoral’ sekadar untuk menghabisinya dari puncak daftar lagu paling laku saat itu.

Tapi lalu tatkala dilacak muasal geger ini, tak ditemukan akun yang tersemat dalam gambar provokatif iklan klepon. Antara lenyap atau palsu. Dan, sebagaimana biasanya, segera muncul spekulasi bahwa ini adalah cara-cara licik untuk mendiskreditkan umat Islam. Sebuah pemikiran yang dapat saja diterima, meski tak kalah ganjilnya.

Keanehan terbesarnya adalah mengapa kita menjadi begitu mendarahdagingkan corak berpikir Islam dan bukan Islam, kelompok sana dan kelompok sini. Seolah-olah Islam senantiasa berada dalam keterancaman dari luar yang gawat, yang sangat genting dan berisiko membinasakan. Semua hal yang tak sesuai, berbeda, apalagi melawan, akan segera masuk kotak sebagai “mereka yang mengancam”, hal-hal yang nista dan patut diberi pelajaran.

Pada saat yang sama, ada semacam kesadaran bahwa kita mempersepsi diri sebagai kelompok yang sangat rapuh ringkih, yang mudah goyah oleh sesuatu yang berbeda. Kita paranoid dengan apa saja yang dikemas dengan agama. Kita ketakutan pada manipulasi postingan klepon hingga mengancam pelakunya sebagai mendiskreditkan Islam!

Kau kenal PKI? Yang katanya ateis itu? Berpuluh-puluh tahun punah, terlarang, dan dibunuh, tapi ada orang percaya bahwa 60 juta PKI masih hidup di Indonesia. Kita dibentuk dan dibesarkan oleh keyakinan politis bahwa eksistensi kita akan selalu rentan. Terhadap apapun yang diyakini berbahaya.

Mungkin saja ada benarnya, bahwa ada bahaya di luar sana. Bahwa ada upaya sistematis kebangkitan PKI, bahwa ada strategi rapi untuk melemahkan umat. Tapi, kita perlahan lupa hidup untuk apa. Terlampau sibuk mengutuki (hantu?) apa-apa saja yang dirasa tajam mengancam.

Dan yang jauh lebih gawat dari itu: kita larut pada bentukan-bentukan arah politik para elite nun jauh di sana. Kau tahu, mereka-mereka ini rajin sekali membentuk opini. Mereka harus membuatmu yakin terhadap musuh tertentu, agar kau menyatu bersama kau-kau yang lain, membentuk sekumpulan yang solid dan akan segera diklaim sebagai “dukungan politik” bagi elite yang memulai isu tersebut.

Kita seolah-olah dipersatukan sebagai umat yang melawan hal-hal tak “Islami”, tapi pada akhirnya, kita dilihat sebagai sekumpulan pemilik suara, digembalakan oleh pemandu yang mahir mengawin-ngawinkan apapun dengan agama. Untuk dukungan politik. Untuk pemilu lalu dan nanti tentu saja.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks