Natal yang Bermewah-mewah dan Utopia Kesederhanaannya 0 805

Oleh: Benediktus Andre Setyawan*

Kita semua tahu, 25 Desember menjadi agenda tahunan bagi orang-orang Kristen (baca: mereka yang menjadikan ajaran Yesus Kristus sebagai jalan hidup, perihal sebutan lebih spesifik seperti Katolik dan Protestan adalah urusan belakangan) untuk memperingati Hari Raya Natal. Dalam perayaan tersebut, mereka memperingati kelahiran Yesus Kristus yang diimani sebagai Juruselamat, penebus dosa umat manusia yang diakibatkan oleh dosa Adam dan Hawa di masa awal penciptaan.

Sudah menjadi hal yang lazim pula, perayaan Natal diikuti dengan tren lain bermotif ekonomi dibaliknya. Umumnya, hal tersebut bisa ditemukan manakala kita tengah berada di tengah pasar swalayan, mulai dari potongan harga yang dikenakan pada beraneka barang kebutuhan dengan angka yang tidak tanggung-tanggung, atau mungkin beraneka jenis pakaian  yang dijual dengan embel-embel  Edisi Spesial Hari Raya Natal. Semuanya didesain sedemikian rupa dengan satu tujuan yang sama, yakni untuk mematikan akal sehat khalayak yang melintas di lorong-lorong swalayan, yang kemudian membuat mereka rela menukar isi dompet yang dijejali dengan barisan rupiah bergambar Ir. Soekarno dengan sekantung plastik berisi pakaian bertajuk Baju Natal. Tidak berhenti sampai di situ, perayaan Natal akan diramaikan pula dengan bermacam-macam dekorasi yang hadir dalam beraneka ragam bentuk, entah pohon cemara berhias lampu warna-warni, bisa juga dengan tumpukan kotak kado lengkap dengan beberapa orang yang mengenakan pakaian Santa Claus. Ketika hal-hal di atas terjadi secara berulang tiap tahunnya dan seolah menjadi sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh kita semua, ada satu pertanyaan yang secara rutin mampir di kepala saya: bisakah kita merayakan Natal dengan sederhana?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, izinkan saya bercerita tentang apa yang diyakini oleh orang-orang Kristen mengenai peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Singkat cerita, Yesus secara beruntung (atau  mungkin sengaja) lahir di suatu kandang ternak di Bethlehem yang saat ini merupakan bagian dari Yerusalem Selatan di wilayah Tepi Barat Palestina. Ingat, kandang ternak! Ia tidak lahir di penginapan, atau bahkan Rumah Sakit Bersalin. Jangankan tidur di kasur yang empuk dan nyaman, Yesus hanya dibungkus dengan lampin yang dialasi dengan gundukan jerami. Perihal tamu yang datang berkunjung, jangan harap ada sanak saudara yang hadir, karena yang ada hanyalah sekawanan sapi dan domba yang harus digusur sementara waktu akibat kelahiran tersebut, lengkap dengan para gembala yang berjaga di sekitarnya. Jangan pula berharap bahwa akan ada hadiah berupa kereta dorong, atau mungkin susu formula demi kesehatan si jabang bayi, karena faktanya hanya ada damar, mur dan kemenyan yang merupakan hadiah dari tiga orang majus dari timur. Tidak dijelaskan kemudian perihal apa yang dilakukan orangtua Yesus atas hadiah  tersebut. Selebihnya, mengenai metode kelahiran kemungkinan terjadi secara normal, bukan melalui operasi caesar atau bahkan water birth. Besar kemungkinan pula Ia dilahirkan secara otodidak, tanpa bantuan dukun bayi ataupun tabib yang beredar jamak pada zamannya.

Bagi saya, fakta-fakta di atas menjadi pukulan telak, setidaknya bagi saya dan orang-orang Kristen yang acapkali merayakan Natal dengan penuh gegap gempita. Bagaimana tidak, untuk urusan kelahiran saja, saya jauh lebih beruntung dibandingkan Tuhan saya sendiri. Tidur di kasur empuk, dihangatkan dengan inkubator, pun kesehatan saya diawasi dengan cermat oleh perawat. Sedangkan Yesus sebagai sosok dengan lebih dari dua miliar pengikut se-antero bumi datang dengan segala kesederhanaan-Nya. Padahal dengan predikatnya sebagai Tuhan, Ia bisa saja memilih untuk lahir dalam keadaan yang lebih baik, dengan keluarga yang lebih mapan, dengan segala pernak-pernik yang semarak dan sepadan dengan derajat-Nya. Namun, toh pada akhirnya ia jauh lebih memilih untuk mengambil rupa manusia biasa yang lahir sebagai anak tukang kayu di kota kecil Nazaret.

Fakta-fakta di atas kiranya dapat menjadi alternatif bagi para pembaca untuk memutuskan jawaban yang paling selaras dengan isi hati dan kehendak kita masing-masing. Bagi penulis, sudah terang dan gamblang bahwa merayakan natal adalah merayakan kesederhanaan yang dihadirkan oleh Yesus Kristus sendiri tatkala lahir di bumi ini. Namun, mengingat ukuran sederhana tiap orang tentu saja berbeda, menjadi penting bagi kita untuk melakukan refleksi atas diri kita masing-masing. Yang terpenting, semoga Natal membawa damai dan sukacita bagi kita semua, baik yang merayakan dan tidak merayakan. Yang merayakan bisa bersukacita karena boleh kembali merayakan kelahiran Sang Juruselamat, yang tidak merayakan bersukacita karena dapat jatah long weekend di akhir tahun. Penulis akhiri saja tulisan ini sebelum berubah menjadi naskah khotbah Hari Raya Natal. Tabik!

*Seorang penulis partikelir musiman yang harapan hidupnya bergantung pada tarif sebungkus nasi bebek di warung terdekat. Aktif pula sebagai politisi di kampusnya. Sempat terdengar mendaku diri sebagai bakal calon Bupati Ngawi tahun 2030.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 154

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 176

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks