Natal yang Bermewah-mewah dan Utopia Kesederhanaannya 0 313

Oleh: Benediktus Andre Setyawan*

Kita semua tahu, 25 Desember menjadi agenda tahunan bagi orang-orang Kristen (baca: mereka yang menjadikan ajaran Yesus Kristus sebagai jalan hidup, perihal sebutan lebih spesifik seperti Katolik dan Protestan adalah urusan belakangan) untuk memperingati Hari Raya Natal. Dalam perayaan tersebut, mereka memperingati kelahiran Yesus Kristus yang diimani sebagai Juruselamat, penebus dosa umat manusia yang diakibatkan oleh dosa Adam dan Hawa di masa awal penciptaan.

Sudah menjadi hal yang lazim pula, perayaan Natal diikuti dengan tren lain bermotif ekonomi dibaliknya. Umumnya, hal tersebut bisa ditemukan manakala kita tengah berada di tengah pasar swalayan, mulai dari potongan harga yang dikenakan pada beraneka barang kebutuhan dengan angka yang tidak tanggung-tanggung, atau mungkin beraneka jenis pakaian  yang dijual dengan embel-embel  Edisi Spesial Hari Raya Natal. Semuanya didesain sedemikian rupa dengan satu tujuan yang sama, yakni untuk mematikan akal sehat khalayak yang melintas di lorong-lorong swalayan, yang kemudian membuat mereka rela menukar isi dompet yang dijejali dengan barisan rupiah bergambar Ir. Soekarno dengan sekantung plastik berisi pakaian bertajuk Baju Natal. Tidak berhenti sampai di situ, perayaan Natal akan diramaikan pula dengan bermacam-macam dekorasi yang hadir dalam beraneka ragam bentuk, entah pohon cemara berhias lampu warna-warni, bisa juga dengan tumpukan kotak kado lengkap dengan beberapa orang yang mengenakan pakaian Santa Claus. Ketika hal-hal di atas terjadi secara berulang tiap tahunnya dan seolah menjadi sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh kita semua, ada satu pertanyaan yang secara rutin mampir di kepala saya: bisakah kita merayakan Natal dengan sederhana?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, izinkan saya bercerita tentang apa yang diyakini oleh orang-orang Kristen mengenai peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Singkat cerita, Yesus secara beruntung (atau  mungkin sengaja) lahir di suatu kandang ternak di Bethlehem yang saat ini merupakan bagian dari Yerusalem Selatan di wilayah Tepi Barat Palestina. Ingat, kandang ternak! Ia tidak lahir di penginapan, atau bahkan Rumah Sakit Bersalin. Jangankan tidur di kasur yang empuk dan nyaman, Yesus hanya dibungkus dengan lampin yang dialasi dengan gundukan jerami. Perihal tamu yang datang berkunjung, jangan harap ada sanak saudara yang hadir, karena yang ada hanyalah sekawanan sapi dan domba yang harus digusur sementara waktu akibat kelahiran tersebut, lengkap dengan para gembala yang berjaga di sekitarnya. Jangan pula berharap bahwa akan ada hadiah berupa kereta dorong, atau mungkin susu formula demi kesehatan si jabang bayi, karena faktanya hanya ada damar, mur dan kemenyan yang merupakan hadiah dari tiga orang majus dari timur. Tidak dijelaskan kemudian perihal apa yang dilakukan orangtua Yesus atas hadiah  tersebut. Selebihnya, mengenai metode kelahiran kemungkinan terjadi secara normal, bukan melalui operasi caesar atau bahkan water birth. Besar kemungkinan pula Ia dilahirkan secara otodidak, tanpa bantuan dukun bayi ataupun tabib yang beredar jamak pada zamannya.

Bagi saya, fakta-fakta di atas menjadi pukulan telak, setidaknya bagi saya dan orang-orang Kristen yang acapkali merayakan Natal dengan penuh gegap gempita. Bagaimana tidak, untuk urusan kelahiran saja, saya jauh lebih beruntung dibandingkan Tuhan saya sendiri. Tidur di kasur empuk, dihangatkan dengan inkubator, pun kesehatan saya diawasi dengan cermat oleh perawat. Sedangkan Yesus sebagai sosok dengan lebih dari dua miliar pengikut se-antero bumi datang dengan segala kesederhanaan-Nya. Padahal dengan predikatnya sebagai Tuhan, Ia bisa saja memilih untuk lahir dalam keadaan yang lebih baik, dengan keluarga yang lebih mapan, dengan segala pernak-pernik yang semarak dan sepadan dengan derajat-Nya. Namun, toh pada akhirnya ia jauh lebih memilih untuk mengambil rupa manusia biasa yang lahir sebagai anak tukang kayu di kota kecil Nazaret.

Fakta-fakta di atas kiranya dapat menjadi alternatif bagi para pembaca untuk memutuskan jawaban yang paling selaras dengan isi hati dan kehendak kita masing-masing. Bagi penulis, sudah terang dan gamblang bahwa merayakan natal adalah merayakan kesederhanaan yang dihadirkan oleh Yesus Kristus sendiri tatkala lahir di bumi ini. Namun, mengingat ukuran sederhana tiap orang tentu saja berbeda, menjadi penting bagi kita untuk melakukan refleksi atas diri kita masing-masing. Yang terpenting, semoga Natal membawa damai dan sukacita bagi kita semua, baik yang merayakan dan tidak merayakan. Yang merayakan bisa bersukacita karena boleh kembali merayakan kelahiran Sang Juruselamat, yang tidak merayakan bersukacita karena dapat jatah long weekend di akhir tahun. Penulis akhiri saja tulisan ini sebelum berubah menjadi naskah khotbah Hari Raya Natal. Tabik!

*Seorang penulis partikelir musiman yang harapan hidupnya bergantung pada tarif sebungkus nasi bebek di warung terdekat. Aktif pula sebagai politisi di kampusnya. Sempat terdengar mendaku diri sebagai bakal calon Bupati Ngawi tahun 2030.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 137

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Menulis Kondisi Penulis dan Membaca Kondisi Pembaca 0 276

Banyak penulis—kita sebut saja begitu—terpangkas semangat menulisnya akibat kesulitan membagi porsi antara kapan harus bekerja untuk yang abadi dan kapan harus bekerja untuk yang fana. Menulis dalam definisi puitisnya, adalah bekerja untuk keabadian (selebihnya akan kita temukan sendiri). Jenis-jenis penulis pun tidak sedikit. Penulis puisi, penulis cerpen, penulis berita, penulis maya, penulis skripsi, penulis miskin, penulis kaya, dan sebagainya.

Dalam diskusi di forum-forum literasi, sering disebutkan bahwa minat membaca buku semakin menurun, sejak minat membaca visual dianggap lebih dominan. Anggapan yang tidak hanya mematahkan semangat para penulis dalam proses produktifnya ini, juga mematahkan semangat penerbit buku dalam mencari tulisan-tulisan yang berkualitas.

Gejolak di atas memang pernah terasa nyata ketika toko-toko buku ternama memamerkan buku-buku yang berasal dari penulis dengan kualitas karya yang kurang serius. Contoh kasus, seorang penulis dituntut oleh penerbitnya agar menghasilkan minimal dua buku dalam waktu singkat. Padahal hal ini bisa berdampak pada tenaga penulis tersebut saat melakukan proses kreatif dan berdampak pula pada tulisan yang dihasilkannya. Atau penulis yang melahirkan buku dengan tema-tema ala kadarnya, semata-mata untuk memuaskan selera pasar hiburan.

Akan tetapi, tidak lama ini, dunia literasi kita menemukan angin segar. Dengan munculannya penerbit-penerbit independen yang berdiri di luar arus pasar hiburan mainstream. Tidak sedikit dari mereka memasarkan produknya hanya melalui internet atau media sosial. Keberadaan mereka membuka ruang yang lebih lebar bagi para penulis baru dengan tema yang kemungkinan lebih inovatif. Artinya, selain memberi ruang yang lebih lebar bagi para penulis, penerbit independen juga berpotensi memberi kesempatan bagi buku-buku marxis kiri yang mana peredarannya diawasi oleh negara ormas. Hehehe…

Namun, dilemanya adalah: bolehkah kita menyebut gerakan kiri atau ide-ide progresif yang dimanifestasikan ke dalam sebuah karya literasi sebagai bentuk komodifikasi. Ketika banyak buku bernuansa kiri mempunyai harga yang fantastis. Harga-harga yang bahkan sulit dijangkau oleh pelaku revolusioner itu sendiri. Tidak hanya melalui buku, kaos, topi, tas kecil, dan berbagai jenis atribut lainnya, mengandung semacam upaya pembentukan identitas yang berlebihan. Sedang di sisi lain, banyak rakjat kecil dengan terpaksa mengenakan kaos pemberian partai demi keberlangsungan hidup mereka yang mulai kehilangan esensi.

Fenomena ini kemudian direspon oleh media-media alternatif yang menyebar di internet. Media yang menghadirkan tulisan-tulisan dengan biaya cetak dan ongkos akses Rp 0 bagi siapa saja. Termasuk media alternatif yang sedang anda baca sekarang ini.

Media yang coba menjadi jawaban lain atas, ketidaksembarangan orang dapat berkarya, karya dapat diterbitkan, dan harga dapat dibayar. Dengan demikian, kita pun tidak boleh menyalahkan keadaan ketika masyarakat lebih tertarik mengkonsumsi media online ketimbang media cetak.

Sekarang, penulis dan pembaca perlu saling memberi pengertian satu sama lain. Bahwa, visi kedua pekerjaan ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup atau memenuhi gaya hidup. Kedua pekerjaan ini adalah usaha merawat kesadaran yang perlahan mulai tergerus oleh hal-hal trivial yang sedang mendominasi isi pikiran kita. Pertanyaan selanjutnya: kesadaran seperti apa yang perlu kita bela sebagai penulis atau pembaca? Tentu saja adalah kesadaran bahwa di dunia ini kita hidup bukan untuk diri sendiri.

Jadi ini salahnya siapa? Salahnya remaja yang memperlakukan Marxis sebagai budaya populer, bukan budaya kritis.

Editor Picks