Natal yang Bermewah-mewah dan Utopia Kesederhanaannya 0 745

Oleh: Benediktus Andre Setyawan*

Kita semua tahu, 25 Desember menjadi agenda tahunan bagi orang-orang Kristen (baca: mereka yang menjadikan ajaran Yesus Kristus sebagai jalan hidup, perihal sebutan lebih spesifik seperti Katolik dan Protestan adalah urusan belakangan) untuk memperingati Hari Raya Natal. Dalam perayaan tersebut, mereka memperingati kelahiran Yesus Kristus yang diimani sebagai Juruselamat, penebus dosa umat manusia yang diakibatkan oleh dosa Adam dan Hawa di masa awal penciptaan.

Sudah menjadi hal yang lazim pula, perayaan Natal diikuti dengan tren lain bermotif ekonomi dibaliknya. Umumnya, hal tersebut bisa ditemukan manakala kita tengah berada di tengah pasar swalayan, mulai dari potongan harga yang dikenakan pada beraneka barang kebutuhan dengan angka yang tidak tanggung-tanggung, atau mungkin beraneka jenis pakaian  yang dijual dengan embel-embel  Edisi Spesial Hari Raya Natal. Semuanya didesain sedemikian rupa dengan satu tujuan yang sama, yakni untuk mematikan akal sehat khalayak yang melintas di lorong-lorong swalayan, yang kemudian membuat mereka rela menukar isi dompet yang dijejali dengan barisan rupiah bergambar Ir. Soekarno dengan sekantung plastik berisi pakaian bertajuk Baju Natal. Tidak berhenti sampai di situ, perayaan Natal akan diramaikan pula dengan bermacam-macam dekorasi yang hadir dalam beraneka ragam bentuk, entah pohon cemara berhias lampu warna-warni, bisa juga dengan tumpukan kotak kado lengkap dengan beberapa orang yang mengenakan pakaian Santa Claus. Ketika hal-hal di atas terjadi secara berulang tiap tahunnya dan seolah menjadi sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh kita semua, ada satu pertanyaan yang secara rutin mampir di kepala saya: bisakah kita merayakan Natal dengan sederhana?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, izinkan saya bercerita tentang apa yang diyakini oleh orang-orang Kristen mengenai peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Singkat cerita, Yesus secara beruntung (atau  mungkin sengaja) lahir di suatu kandang ternak di Bethlehem yang saat ini merupakan bagian dari Yerusalem Selatan di wilayah Tepi Barat Palestina. Ingat, kandang ternak! Ia tidak lahir di penginapan, atau bahkan Rumah Sakit Bersalin. Jangankan tidur di kasur yang empuk dan nyaman, Yesus hanya dibungkus dengan lampin yang dialasi dengan gundukan jerami. Perihal tamu yang datang berkunjung, jangan harap ada sanak saudara yang hadir, karena yang ada hanyalah sekawanan sapi dan domba yang harus digusur sementara waktu akibat kelahiran tersebut, lengkap dengan para gembala yang berjaga di sekitarnya. Jangan pula berharap bahwa akan ada hadiah berupa kereta dorong, atau mungkin susu formula demi kesehatan si jabang bayi, karena faktanya hanya ada damar, mur dan kemenyan yang merupakan hadiah dari tiga orang majus dari timur. Tidak dijelaskan kemudian perihal apa yang dilakukan orangtua Yesus atas hadiah  tersebut. Selebihnya, mengenai metode kelahiran kemungkinan terjadi secara normal, bukan melalui operasi caesar atau bahkan water birth. Besar kemungkinan pula Ia dilahirkan secara otodidak, tanpa bantuan dukun bayi ataupun tabib yang beredar jamak pada zamannya.

Bagi saya, fakta-fakta di atas menjadi pukulan telak, setidaknya bagi saya dan orang-orang Kristen yang acapkali merayakan Natal dengan penuh gegap gempita. Bagaimana tidak, untuk urusan kelahiran saja, saya jauh lebih beruntung dibandingkan Tuhan saya sendiri. Tidur di kasur empuk, dihangatkan dengan inkubator, pun kesehatan saya diawasi dengan cermat oleh perawat. Sedangkan Yesus sebagai sosok dengan lebih dari dua miliar pengikut se-antero bumi datang dengan segala kesederhanaan-Nya. Padahal dengan predikatnya sebagai Tuhan, Ia bisa saja memilih untuk lahir dalam keadaan yang lebih baik, dengan keluarga yang lebih mapan, dengan segala pernak-pernik yang semarak dan sepadan dengan derajat-Nya. Namun, toh pada akhirnya ia jauh lebih memilih untuk mengambil rupa manusia biasa yang lahir sebagai anak tukang kayu di kota kecil Nazaret.

Fakta-fakta di atas kiranya dapat menjadi alternatif bagi para pembaca untuk memutuskan jawaban yang paling selaras dengan isi hati dan kehendak kita masing-masing. Bagi penulis, sudah terang dan gamblang bahwa merayakan natal adalah merayakan kesederhanaan yang dihadirkan oleh Yesus Kristus sendiri tatkala lahir di bumi ini. Namun, mengingat ukuran sederhana tiap orang tentu saja berbeda, menjadi penting bagi kita untuk melakukan refleksi atas diri kita masing-masing. Yang terpenting, semoga Natal membawa damai dan sukacita bagi kita semua, baik yang merayakan dan tidak merayakan. Yang merayakan bisa bersukacita karena boleh kembali merayakan kelahiran Sang Juruselamat, yang tidak merayakan bersukacita karena dapat jatah long weekend di akhir tahun. Penulis akhiri saja tulisan ini sebelum berubah menjadi naskah khotbah Hari Raya Natal. Tabik!

*Seorang penulis partikelir musiman yang harapan hidupnya bergantung pada tarif sebungkus nasi bebek di warung terdekat. Aktif pula sebagai politisi di kampusnya. Sempat terdengar mendaku diri sebagai bakal calon Bupati Ngawi tahun 2030.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Huru-Hara Anti-masker di Negeri Pak Trump 0 74

Oleh: Deanita Nurkhalisa*

 

Kisah datang dari Amerika Serikat (AS), negeri nun jauh dengan jumlah penderita terkonfirmasi Covid-19 terbanyak di level global mencapai titik tertinggi 3,4 juta kasus, 67 ribu kasus baru dan total kematian sebanyak 136 ribu jiwa. Ketika tak kunjung tampak terobosan signifikan dalam penanganan kasus, pada saat yang sama muncul pula sikap meremehkan yang datang dari berbagai kelompok, dari awam hingga figur berpengaruh. Anjuran dan nasihat kesehatan dimentahkan oleh gerakan anti-masker.

Gerakan anti-masker (anti-mask) menuai perhatian semenjak persyaratan lockdown perlahan diangkat dan fasilitas umum kembali dibuka dengan ketentuan wajib seperti pengenaan masker. Mereka menentang keras pendapat ilmiah, seperti dari Central for Disease Control and Prevention (CDC) yang meyakinkan publik bahwa penggunaan masker mengurangi risiko penularan. Tindakan ini sejalan dengan istilah keren ‘flatten the curve’, merebahkan kurva jumlah penderita dengan menginstruksikan penggunaan masker atau sarana pencegahan lain demi menekan laju Covid-19.

Kerumunan anti-masker mencuri perhatian atas apa yang mereka lakukan di pusat-pusat perbelanjaan, provokasi demonstrasi, maupun menyuarakan aspirasi lewat pertemuan dewan kota. Bentuk protes terhadap mandat penggunaan masker juga ditunjukkan melalui ejekan penggunaan masker berbentuk jaring (mesh mask) yang tentunya tidak melindungi wajah dari partikel berbahaya. Di Roseville, Sacramento, seorang warga mengencingi lantai toko Verizon Store karena menolak diusir meninggalkan toko akibat tidak mengenakan masker.

Di kesempatan tertentu, sekelompok anti-maskers meneriakkan kalimat ‘I can’t breathe’ (‘aku ra isa ambegan’) yang sebelumnya menjadi slogan solidaritas gerakan Black Lives Matter, mengutip kalimat terakhir George Floyd sebelum ia menjadi korban rasisme yang dilakukan aparat kepolisian di AS. Ironisnya, kalimat tersebut diinisiasi oleh anggota dewan kota Scottsdale, Arizona, pada aksi protes pengenaan masker akhir bulan lalu. Fakta-fakta itu menunjukkan egoisme, ketidakpekaan, dan minimnya empati dalam kelompok protes tersebut.

Klaim utama kelompok antimasker adalah bahwa kewajiban penggunaan masker oleh pemerintah ‘merenggut hak asasi dan kebebasan atas tubuh’ atau ‘perbudakan, penundukan, dan penaklukan’ oleh negara atas warga.

Beberapa pernyataan ini mengherankan karena beberapa alasan.

Adanya pandemi global memerlukan pencegahan yang dalam jangka panjang dapat memberikan hasil efektif, apabila dilakukan dengan benar dan secara massal untuk mencegah penularan. Tujuan untuk kebaikan bersama tersebut yang menjadi dasar pemerintah menggalakkan penggunaan masker. Tidak ada yang dapat menjamin seseorang akan dapat terinfeksi atau bahkan menginfeksi orang lain. Namun, tindakan pencegahan dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

Masker bukanlah simbol atas penaklukan, apalagi menempatkan penggunanya sebagai ‘budak’, melainkan hanyalah sebuah alat penghalau partikel berbahaya di udara agar tubuh manusia tidak terinfeksi. Tidak ada anggapan implisit rasis atau misoginis yang ditemukan dari pengenaan masker. Pun bukanlah wujud dari agenda politis pihak oposisi untuk tujuan tertentu.

Tindakan pencegahan di masa pandemi ini tidak seharusnya menjadi isu politis maupun konspiratif yang dapat memecah opini. Dibutuhkan solidaritas, empati dan kebesaran hati untuk bergerak saling melindungi demi berakhirnya pandemi. Hal tersebut juga harus diiringi oleh informasi yang sesuai dan data yang cukup serta kemampuan berdialog secara efektif berdasarkan fakta yang ada. Bukan didasari sentimen apapun seperti pandangan politik, sehingga perdebatan mengenai pengenaan masker setidaknya dapat dilakukan secara substantif dan tidak sewenang-wenang.

Begitu juga dengan figur pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan ke masyarakat. Sudah seharusnya mereka menyediakan edukasi, jaminan dan kepastian yang dibutuhkan oleh masyarakat agar negara tetap utuh dalam menghadapi krisis pandemi global.

 

*)Mahasiswi yang senang puisi, kucing, dan antariksa. Terbuka atas masukan atau cuma basa-basi lewat akun Instagram @ohitsjustdenit.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Tips Buat Para Penganggur di Masa Pandemi 1 169

Oleh: Putu Gadis Arvia Puspa*

Karena tulisan ini terbit sehari setelah hari kemerdekaan, maka penulis hendak mengucapkan: dirgahayu Indonesiaku yang ke tujuh puluh lima! 17 Agustus-an tahun ini terasa sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Indonesia dan dunia sedang menghadapi perang pandemi Covid-19.

Atmosfer orang ketika batuk akan berubah. Perlahan akan timbul rasa cemas kemudian diantisipasi penyebaran virusnya oleh masyarakat dengan mundur beberapa langkah, lengkap dengan masker yang sudah menempel di wajah.

Dari segi ekonomi, tentu ada yang kehilangan pekerjaan. Dari segi hubungan kedekatan, bisa juga kehilangan pasangannya. Yang paling tragis adalah sampai kehilangan orang tua dan keluarga tercinta. Semuanya membekaskan luka dan duka.

Tahun 2020 ini benar-benar menguji kesabaran, kewaspadaan dan kemampuan adaptif kita sebagai mahluk hidup untuk tetap berjuang walau rasanya hidup ini bagai kiamat. Masalah itu akan selalu ada, sehingga menjadi tantangan untuk diri sendiri dan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaannya.

Sama juga seperti artikel ini yang sengaja ditulis H-1 hari kemerdekaan Indonesia biar kerasa vibes-nya kayak lagi mempersiapkan proklamasi di Renglasdengklok bareng Bung Karno. Ihiy. Yaaaa anggap saja ini seperti proklamasi versi saya. Secara ini tulisan pertama saya kalo jadi terbit di Kalikata (red: jadi terbit kok, tapi butuh waktu buat ngeditnya aja, hehe).

Pintu kamar saya tutup rapat. Pertanda saatnya beraksi mencari inspirasi dan pengalaman baru di internet. Saking lamanya di rumah, saya biasanya jadi terlalu dalam menjelajah internet, akhirnya jadi lupa waktu, lupa makan, tapi tetap mandi kok.

Gilak! Rasanya tuh kayak bener-bener pusing sih. Mata kabur, punggung pegal, kaki keram. Tapi, diri ini tetap asyik seharian baca-baca artikel, main gartic bareng teman, typing test, dan nonton TikTok. Pengen sih nonton Netflix, tapi gak punya duit buat langganan. Yaudah, manfaatkan apa yang bisa ditonton saja dulu, di mana lagi kalau bukan di Youtubeee. Karena Youtube Youtube Youtube lebih dari Tv boom! Ea.

Kangen sebenarnya sama lambe-lambe di tongkrongan yang bilang “Udah tau belom, kalo si itu… bla bla bla bla“, nggosip. Tidak ada yang bisa mengalahkan asyiknya bisa bersosialisasi sekaligus diskusi. Kurang lebih sama lah ya kayak Chaerul Saleh dan kawan-kawan yang ngumpul buat diskusi politik di masa itu.

Tapi situasi sekarang kan susah ya kalo mau diskusi seaysik itu. Harus chat dulu, nunggu di-read, share link, saling debat pake paragraph panjang-panjang. Itupun cepet-cepetan ngetik ya kan. Belom lagi urusan sinyal. Story tellingnya kurang dapet gitu loh. Ekspresi dan nada suara teman kita itu ga bisa lagi untuk menendang gejolak emosi jiwa kompetitif dari kaum yang suka keributan ini.

Ada sih alternatif misalnya pake Zoom, Google Meet, dan platform video call lainnya buat ngatasin masalah tadi. Tapi tetep aja rasanya gak afdol gitu kalo ga ketemu langsung. Huhhh..

Ngomongin internet, kasus kan lagi banyak nih yang viralnya bukan main di medsos. Apalagi momentumnya sekarang orang lagi di rumah aja, jadi tingkat fokusnya dalam menyimak berita terkini lebih tinggi, ya walaupun belum tentu tajam.

Ketidakseriusan sejak awal pemerintah dalam menghadapi pandemi akhirnya makin merusak dan membakar emosi dari harapan rakyat. Transparansi selalu dituntut guna mengetahui kenyataan, namun ditahan dengan niat agar tidak menghawatirkan rakyat.

Baru-baru ini, juga ada kabar seorang aktivis pegiat HAM diminta mengembalikan beasiswa senilai 773 juta dari LPDP. Netijen pun berasumsi, hal ini diduga kuat sebagai upaya terbaru untuk menekan Veronica Koman berhenti melakukan advokasi HAM Papua.

Kasus lain lagi, berbagai kekerasan seksual yang mulai terkuak. Ini semua berkat pengakuan para korban yang akhirnya berani speak up di media sosial.

Ada pula kenyataan bahwa politik dinasti yang kian ramai mengisi pilkada Indonesia. Pun, tragedi kecurangan pada seleksi masuk perguruan tinggi negeri hingga sekolah kedinasan. Di sisi lain, dampak buruk akibat Covid-19 di hampir semua sektor secara global, semakin mengancam dan menghantui negara kita untuk resesi ekonomi.

Tidak cukup sampai di situ, saya pun sempat menengok Twitter, yang juga baru-baru ini menjadi tempat ajang demo online oleh mahasiswa Unair dalam menyuarakan isi hati. Isu ini juga jadi trending di media sosial: soal tuntutan penurunan UKT.

Di balik semua masalah yang memaksa otak kita untuk berpikir sok kritis, tentu ada juga banyak hal trending yang bisa membuat kita tetap terhibur, terinspirasi, sampai speechless. Misalnya lalu lintas TikTok yang kini makin populer, karena dianggap lebih seru. Aplikasi yang satu ini bikin auto menggerakan saraf manusia untuk joget ala TikTok (bahkan sudah dianggap cabang tarian). Terkadang, kontennya juga dinilai bermanfaat karena informatif.

Makin banyak orang-orang kreatif yang memamerkan karyanya di tengah pandemic ini. Misalnya Lathi challenge yang hypenya super dimana-mana. Mulai dari jadi backsound time lapse orang gambar animasi baju adat Indonesia lewat ipad, sampai backsound make up oleh Jharnabhagwani. Kalo di Twitter abang Fiersa Besari, terakhir Lathi dipake buat senam sama ibu ibu.

Untungnya, di hari kesekian menghabiskan waktu di rumah, tentu saja saya melakukan berbagai aktivitas yang sudah saya sebutkan tadi. Berbeda dengan video Youtube Sobat Miskin Official dengan konten “2 jam gak ngapa-ngapain” (dan saya pun kena prank nonton videonya sampai habis), yang bikin saya mikir “kok ada-ada aja ya ide orang di tengah pandemi ini”.

Sebagai pengamat Youtube, saya mau sedikit berpesan pada para pembaca. Menghabiskan waktu di rumah aja memang membosankan, tapi ada banyak hal yang bisa dilakukan kok. Kreativitas kita yang tanpa batas masih bisa ditampung dengan konten audio visual, dan dipublikasikan di Youtube atau media sosial lainnya. Tapi, memang harus serba hati-hati dengan derasnya informasi, karena bisa bikin pusing sendiri.

Yang terpenting, jangan sampai gara gara stock anime atau film atau drama korea habis, kalian malah mengisi waktu luang dengan membuat prank aneh-aneh atau video cringe “ara ara”. Mending review film ae lah! Kalo gak, mukbang atau ASMR. Atau nonton Youtube Got Talentnya SkinnyIndonesian24, juga bisa jadi pilihan.

 

*) Penonton setia Youtube, drama korea, kartun, dan anime, tapi ga terlalu. Tujuan utama dalam hidup adalah untuk mencapai moksa. Mata sipit belum tentu Cina, siapa tahu Bali.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks