Natal yang Bermewah-mewah dan Utopia Kesederhanaannya 0 1012

Oleh: Benediktus Andre Setyawan*

Kita semua tahu, 25 Desember menjadi agenda tahunan bagi orang-orang Kristen (baca: mereka yang menjadikan ajaran Yesus Kristus sebagai jalan hidup, perihal sebutan lebih spesifik seperti Katolik dan Protestan adalah urusan belakangan) untuk memperingati Hari Raya Natal. Dalam perayaan tersebut, mereka memperingati kelahiran Yesus Kristus yang diimani sebagai Juruselamat, penebus dosa umat manusia yang diakibatkan oleh dosa Adam dan Hawa di masa awal penciptaan.

Sudah menjadi hal yang lazim pula, perayaan Natal diikuti dengan tren lain bermotif ekonomi dibaliknya. Umumnya, hal tersebut bisa ditemukan manakala kita tengah berada di tengah pasar swalayan, mulai dari potongan harga yang dikenakan pada beraneka barang kebutuhan dengan angka yang tidak tanggung-tanggung, atau mungkin beraneka jenis pakaian  yang dijual dengan embel-embel  Edisi Spesial Hari Raya Natal. Semuanya didesain sedemikian rupa dengan satu tujuan yang sama, yakni untuk mematikan akal sehat khalayak yang melintas di lorong-lorong swalayan, yang kemudian membuat mereka rela menukar isi dompet yang dijejali dengan barisan rupiah bergambar Ir. Soekarno dengan sekantung plastik berisi pakaian bertajuk Baju Natal. Tidak berhenti sampai di situ, perayaan Natal akan diramaikan pula dengan bermacam-macam dekorasi yang hadir dalam beraneka ragam bentuk, entah pohon cemara berhias lampu warna-warni, bisa juga dengan tumpukan kotak kado lengkap dengan beberapa orang yang mengenakan pakaian Santa Claus. Ketika hal-hal di atas terjadi secara berulang tiap tahunnya dan seolah menjadi sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh kita semua, ada satu pertanyaan yang secara rutin mampir di kepala saya: bisakah kita merayakan Natal dengan sederhana?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, izinkan saya bercerita tentang apa yang diyakini oleh orang-orang Kristen mengenai peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Singkat cerita, Yesus secara beruntung (atau  mungkin sengaja) lahir di suatu kandang ternak di Bethlehem yang saat ini merupakan bagian dari Yerusalem Selatan di wilayah Tepi Barat Palestina. Ingat, kandang ternak! Ia tidak lahir di penginapan, atau bahkan Rumah Sakit Bersalin. Jangankan tidur di kasur yang empuk dan nyaman, Yesus hanya dibungkus dengan lampin yang dialasi dengan gundukan jerami. Perihal tamu yang datang berkunjung, jangan harap ada sanak saudara yang hadir, karena yang ada hanyalah sekawanan sapi dan domba yang harus digusur sementara waktu akibat kelahiran tersebut, lengkap dengan para gembala yang berjaga di sekitarnya. Jangan pula berharap bahwa akan ada hadiah berupa kereta dorong, atau mungkin susu formula demi kesehatan si jabang bayi, karena faktanya hanya ada damar, mur dan kemenyan yang merupakan hadiah dari tiga orang majus dari timur. Tidak dijelaskan kemudian perihal apa yang dilakukan orangtua Yesus atas hadiah  tersebut. Selebihnya, mengenai metode kelahiran kemungkinan terjadi secara normal, bukan melalui operasi caesar atau bahkan water birth. Besar kemungkinan pula Ia dilahirkan secara otodidak, tanpa bantuan dukun bayi ataupun tabib yang beredar jamak pada zamannya.

Bagi saya, fakta-fakta di atas menjadi pukulan telak, setidaknya bagi saya dan orang-orang Kristen yang acapkali merayakan Natal dengan penuh gegap gempita. Bagaimana tidak, untuk urusan kelahiran saja, saya jauh lebih beruntung dibandingkan Tuhan saya sendiri. Tidur di kasur empuk, dihangatkan dengan inkubator, pun kesehatan saya diawasi dengan cermat oleh perawat. Sedangkan Yesus sebagai sosok dengan lebih dari dua miliar pengikut se-antero bumi datang dengan segala kesederhanaan-Nya. Padahal dengan predikatnya sebagai Tuhan, Ia bisa saja memilih untuk lahir dalam keadaan yang lebih baik, dengan keluarga yang lebih mapan, dengan segala pernak-pernik yang semarak dan sepadan dengan derajat-Nya. Namun, toh pada akhirnya ia jauh lebih memilih untuk mengambil rupa manusia biasa yang lahir sebagai anak tukang kayu di kota kecil Nazaret.

Fakta-fakta di atas kiranya dapat menjadi alternatif bagi para pembaca untuk memutuskan jawaban yang paling selaras dengan isi hati dan kehendak kita masing-masing. Bagi penulis, sudah terang dan gamblang bahwa merayakan natal adalah merayakan kesederhanaan yang dihadirkan oleh Yesus Kristus sendiri tatkala lahir di bumi ini. Namun, mengingat ukuran sederhana tiap orang tentu saja berbeda, menjadi penting bagi kita untuk melakukan refleksi atas diri kita masing-masing. Yang terpenting, semoga Natal membawa damai dan sukacita bagi kita semua, baik yang merayakan dan tidak merayakan. Yang merayakan bisa bersukacita karena boleh kembali merayakan kelahiran Sang Juruselamat, yang tidak merayakan bersukacita karena dapat jatah long weekend di akhir tahun. Penulis akhiri saja tulisan ini sebelum berubah menjadi naskah khotbah Hari Raya Natal. Tabik!

*Seorang penulis partikelir musiman yang harapan hidupnya bergantung pada tarif sebungkus nasi bebek di warung terdekat. Aktif pula sebagai politisi di kampusnya. Sempat terdengar mendaku diri sebagai bakal calon Bupati Ngawi tahun 2030.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 123

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Ibadah yang Tertinggal di Ramadhan: Refleksi Diri Bagi Golongan Sok Sibuk 0 184

Oleh: Edeliya Relanika*

 

*Peringatan: Ini bukan artikel dakwah, jadi jangan cari petunjuk religi di bacaan ini

 

Yah, tak terasa Ramadhan di tahun 2021 sudah berlalu. Lebaran bahkan sudah lewat lebih dari seminggu lalu. Tapi kok hidup tetep gini-gini aja, gak ada fitri-fitrinya. Sedih rasanya harus melewatkan Ramadhan dengan begitu cepat—yang tentu saja masih digandeng mesra sama si COVID-19.

Selama Ramadhan kemarin, aku telah tertimbun oleh beratnya tugas kuliah dan proyek kepenulisan. Bukan karena aku jadi materialis dan sekonyong-konyong berorientasi pada pencapaian duniawi, aku juga banyak mulai memikirkan hal yang bahkan belum disadari pada Ramadhan beberapa tahun ke belakang:

Kehilangan kesempatan beribadah Ramadhan saat kita beranjak dewasa, akibat disibukkan dengan pencapaian duniawi yang paradoksal.

Menjadi lebih tua nyatanya bisa membuat kita jadi lebih sibuk pada hal-hal profan. Jika diputar ke sisi lainnya, pencapaian duniawi itu toh juga akan berhenti saat kita meninggal dunia. Mungkin warisan pencapaian itu masih akan tersimpan dan dinikmati oleh keturunan kita. Namun, apakah pencapaian duniawi itu akan menina bobokkan kita di alam kubur?

Mudah saja bagi orang dewasa muda hingga tua untuk memafhumkan pelewatan beberapa ritual ibadah Ramadhan—yang biasa rutin dijalankan ketika waktu lebih muda dahulu. Sebelum aku menjadi lebih tua dan semakin malas beribadah (karena sok sibuk banyak kerjaan), ada beberapa poin catatan pribadi yang mungkin bisa relate dengan para pembaca Kalikata, dan mungkin bisa diterapkan di Ramadhan tahun depan: (karena sesungguhnya Ramadhan tiap tahun harusnya membuat kita manusia yang lebih baik khan, azeq)

Tidak skip ibadah lima waktu salat fardu saat di tengah hari berpuasa.

Dengan alasan banyak tugas dan pekerjaan lainnya (masih yang bersifat duniawi), banyak dari golongan sok sibuk (((seperti aku dan kamu))) yang seringkali lalai untuk melaksanakan salat fardu lima waktu secara full time. Nah, itu ibadah wajib jangan sampai kalian skip kayak iklan di YouTube yang masih belum premium.

 

Kalau tugas ber-deadline tengah malam, mending coba salat Tarawih dulu saja.

Kalau kalian memiliki waktu luang sekitar pukul 7 hingga 9 malam, sempatkanlah untuk salat Tarawih. Bukannya malah latihan joget Tiktok biar masuk fyp. Kalau masih ada tanggungan tugas gimana dong, kak? Coba saja tugas tersebut diselesaikan di pagi, siang, atau sore harinya.

 

Jangan suka begadang nugas atau kerja hingga waktu sahur, lalu jadi kelelawar dan bobok hingga waktu berbuka puasa.

Ini sih dilema para pelajar (apalagi mahasiswa) dan pekerja lainnya. Udah skip banyak ibadah Ramadan dengan alasan kecapaian, eh tapi malah kuat begadang kerja hingga sahur. Kalau kasusnya seperti itu, cobalah kalian pikir ulang. Untuk nugas saja kuat; mengapa untuk ibadah sebentar saja malah banyak alasan? Xixixi.

 

Coba mendaras ayat-ayat Alquran secara konsisten, walau tak sampai puluhan ayat jumlahnya.

Bagi kalian yang berniat untuk membaca Alquran walau pun tidak khatam, tidak apa-apa. Belajarlah konsisten untuk tak luput memaknai isi Alquran. Kalau bisa khatam Alquran di bulan Ramadhan, tentu lebih baik lagi! Biar tiap tahun ada faedahnya Ramadhan kita.

 

Jangan lupa banyak beramal dan bersabar.

Kemenangan Hari Raya nanti akan menjadi lebih bermakna, apabila Ramadan ini dapat kita jalankan dengan beban yang diringankan bersama ikhtiar serta qonaah.

 

Catatan refleksi ini kuharap akan terus berakar dan bertumbuh; dalam menyadarkan kekhilafan kita yang suka skip berbagai ritual ibadah di bulan Ramadhan. Semangat berubah untuk lebih baik boleh-boleh saja berkembang, namun jangan dengan kemalasan diri pada golongan sok sibuk seperti kita hehehe.

Tumben banget Kalikata serius.

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks