Natal yang Bermewah-mewah dan Utopia Kesederhanaannya 0 553

Oleh: Benediktus Andre Setyawan*

Kita semua tahu, 25 Desember menjadi agenda tahunan bagi orang-orang Kristen (baca: mereka yang menjadikan ajaran Yesus Kristus sebagai jalan hidup, perihal sebutan lebih spesifik seperti Katolik dan Protestan adalah urusan belakangan) untuk memperingati Hari Raya Natal. Dalam perayaan tersebut, mereka memperingati kelahiran Yesus Kristus yang diimani sebagai Juruselamat, penebus dosa umat manusia yang diakibatkan oleh dosa Adam dan Hawa di masa awal penciptaan.

Sudah menjadi hal yang lazim pula, perayaan Natal diikuti dengan tren lain bermotif ekonomi dibaliknya. Umumnya, hal tersebut bisa ditemukan manakala kita tengah berada di tengah pasar swalayan, mulai dari potongan harga yang dikenakan pada beraneka barang kebutuhan dengan angka yang tidak tanggung-tanggung, atau mungkin beraneka jenis pakaian  yang dijual dengan embel-embel  Edisi Spesial Hari Raya Natal. Semuanya didesain sedemikian rupa dengan satu tujuan yang sama, yakni untuk mematikan akal sehat khalayak yang melintas di lorong-lorong swalayan, yang kemudian membuat mereka rela menukar isi dompet yang dijejali dengan barisan rupiah bergambar Ir. Soekarno dengan sekantung plastik berisi pakaian bertajuk Baju Natal. Tidak berhenti sampai di situ, perayaan Natal akan diramaikan pula dengan bermacam-macam dekorasi yang hadir dalam beraneka ragam bentuk, entah pohon cemara berhias lampu warna-warni, bisa juga dengan tumpukan kotak kado lengkap dengan beberapa orang yang mengenakan pakaian Santa Claus. Ketika hal-hal di atas terjadi secara berulang tiap tahunnya dan seolah menjadi sebuah kewajiban yang harus ditunaikan oleh kita semua, ada satu pertanyaan yang secara rutin mampir di kepala saya: bisakah kita merayakan Natal dengan sederhana?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, izinkan saya bercerita tentang apa yang diyakini oleh orang-orang Kristen mengenai peristiwa kelahiran Yesus Kristus. Singkat cerita, Yesus secara beruntung (atau  mungkin sengaja) lahir di suatu kandang ternak di Bethlehem yang saat ini merupakan bagian dari Yerusalem Selatan di wilayah Tepi Barat Palestina. Ingat, kandang ternak! Ia tidak lahir di penginapan, atau bahkan Rumah Sakit Bersalin. Jangankan tidur di kasur yang empuk dan nyaman, Yesus hanya dibungkus dengan lampin yang dialasi dengan gundukan jerami. Perihal tamu yang datang berkunjung, jangan harap ada sanak saudara yang hadir, karena yang ada hanyalah sekawanan sapi dan domba yang harus digusur sementara waktu akibat kelahiran tersebut, lengkap dengan para gembala yang berjaga di sekitarnya. Jangan pula berharap bahwa akan ada hadiah berupa kereta dorong, atau mungkin susu formula demi kesehatan si jabang bayi, karena faktanya hanya ada damar, mur dan kemenyan yang merupakan hadiah dari tiga orang majus dari timur. Tidak dijelaskan kemudian perihal apa yang dilakukan orangtua Yesus atas hadiah  tersebut. Selebihnya, mengenai metode kelahiran kemungkinan terjadi secara normal, bukan melalui operasi caesar atau bahkan water birth. Besar kemungkinan pula Ia dilahirkan secara otodidak, tanpa bantuan dukun bayi ataupun tabib yang beredar jamak pada zamannya.

Bagi saya, fakta-fakta di atas menjadi pukulan telak, setidaknya bagi saya dan orang-orang Kristen yang acapkali merayakan Natal dengan penuh gegap gempita. Bagaimana tidak, untuk urusan kelahiran saja, saya jauh lebih beruntung dibandingkan Tuhan saya sendiri. Tidur di kasur empuk, dihangatkan dengan inkubator, pun kesehatan saya diawasi dengan cermat oleh perawat. Sedangkan Yesus sebagai sosok dengan lebih dari dua miliar pengikut se-antero bumi datang dengan segala kesederhanaan-Nya. Padahal dengan predikatnya sebagai Tuhan, Ia bisa saja memilih untuk lahir dalam keadaan yang lebih baik, dengan keluarga yang lebih mapan, dengan segala pernak-pernik yang semarak dan sepadan dengan derajat-Nya. Namun, toh pada akhirnya ia jauh lebih memilih untuk mengambil rupa manusia biasa yang lahir sebagai anak tukang kayu di kota kecil Nazaret.

Fakta-fakta di atas kiranya dapat menjadi alternatif bagi para pembaca untuk memutuskan jawaban yang paling selaras dengan isi hati dan kehendak kita masing-masing. Bagi penulis, sudah terang dan gamblang bahwa merayakan natal adalah merayakan kesederhanaan yang dihadirkan oleh Yesus Kristus sendiri tatkala lahir di bumi ini. Namun, mengingat ukuran sederhana tiap orang tentu saja berbeda, menjadi penting bagi kita untuk melakukan refleksi atas diri kita masing-masing. Yang terpenting, semoga Natal membawa damai dan sukacita bagi kita semua, baik yang merayakan dan tidak merayakan. Yang merayakan bisa bersukacita karena boleh kembali merayakan kelahiran Sang Juruselamat, yang tidak merayakan bersukacita karena dapat jatah long weekend di akhir tahun. Penulis akhiri saja tulisan ini sebelum berubah menjadi naskah khotbah Hari Raya Natal. Tabik!

*Seorang penulis partikelir musiman yang harapan hidupnya bergantung pada tarif sebungkus nasi bebek di warung terdekat. Aktif pula sebagai politisi di kampusnya. Sempat terdengar mendaku diri sebagai bakal calon Bupati Ngawi tahun 2030.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kegundahan Sederhana yang Disebabkan Kartu Nama 1 181

Jika Mas Robbyan Abel sudah bercerita tentang pergulatan mahasiswa tingkat akhir yang nggak tahan kudu mentas, kali ini izinkan hamba bercerita tentang satu tahap di atasnya: pengalaman kerja.

Beberapa waktu yang lalu, saya adalah job seeker, melamar sana-sini dan dipanggil untuk wawancara di perusahaan impian. Di tiap wawancara itu, saya tentu bertemu dengan pelamar lainnya. Di situ, terjadi perkenalan dan perbincangan basa-basi, khas warga Endonesah. Tujuannya jelas, siapa tahu jadi teman kantor saat kami sama-sama diterima. Kalaupun salah satu dari kami tidak beruntung, paling tidak sudah memperluas relasi.

Dalam perkenalan singkat itu, supaya tetap berkawan hingga kemudian hari, saya biasanya yang lebih duluan meminta kontak. Bukan nomor handphone, apalagi alamat rumah.

Saya tanyakan nama akun Instagram-nya.

Pada sebuah tes wawancara kerja, saya bertemu seorang pelamar lain yang ketika saya tanyai akun Instagram-nya, mengaku tidak punya. Saya lantas kaget. Hari gini, gak main Instagram? Padahal, menurut survei awur-awuran versi penulis, anak milenial macam kita ini paling suka menggunakan media sosial Instagram.

Perlu bukti? Kini kebutuhan hidup anak-anak muda adalah mencari tempat nongkrong dan liburan yang Instagram-able. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah itu. Sama seperti munculnya sebutan selebgram, jabatan yang patut diberikan pada mereka yang punya eksposur tinggi di jagad aplikasi berlogo kamera warna pelangi ini. Lantas berikutnya, jumlah followers, like, dan comment kemudian jadi komoditas dan kebutuhan hidup, selain uang tentunya (yang lagi-lagi untuk beli minum di tempat nongkrong yang Instagram-able).

Akibat kenalan baru saya ini tadi nggak punya Instagram, pilihan terakhir bagi saya adalah bertanya media sosial lain apa yang dia mainkan. Ternyata ia punya Twitter, syukurlah. Walau tentu meninggalkan pertanyaan dalam benak, bagaimana kawan saya ini bisa survive di antara teman se-gengnya ketika yang lain sedang ngumpul dan update story di Instagram, sementara dia nggak?

Cerita lain, setelah sebulan bekerja, saya bertemu banyak narasumber yang usianya beragam. Pengalaman lain lagi saya alami. Saat berkenalan dan meminta nomor HP narasumber, mereka menyodorkan barang yang tentu sama sekali asing bagi arek-arek lahiran tahun 2010-an ke atas: kartu nama.

Peristiwa ini membuat saya canggung. Sudah menyiapkan HP, membuat kontak baru di buku telepon HP, bersiap mengetikkan nomor si narasumber, eh dia nyodorin kartu nama. Bahkan, saking lumrahnya barang ini di era hidup si narasumber, mereka bertanya balik apa saya ada kartu nama yang bisa dipertukarkan. Entah harus malu atau bangga, mengaku di hadapan narasumber kalau saya anak milenial: generasi yang sudah tidak punya atau bahkan tidak tahu apa urgensi membuat kartu nama pribadi.

Tapi, saya bukan generasi yang sama sekali nggak kenal kartu nama. Sependek ingatan, saya pernah saling bertukar kartu nama dengan teman-teman di bangku SD. Kala itu, kami suka membuat kartu nama dengan warna dan gambar kartun favorit. Kartu nama di zaman itu jadi sebuah artefak penanda prestis, sangat ikonik, butuh dipamerkan dan dipertukarkan, layaknya kertas binder.

Lambat laun, kartu nama bagi anak seusia saya mulai ditinggalkan. Lantas, peristiwa kartu nama dengan narasumber itu membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: apakah memang sudah sejauh itu ketimpangan zaman milenial dengan generasi yang lahir sebelumnya? Kalau saya yang hampir 23 tahun ini saja sudah merasa ada gap gara-gara kartu nama, ndaniyo anake Raditya Dika karo Raisa?

Pertanyaan selanjutnya, salahkah bila kami tak punya kartu nama, dan punya cara berbeda dalam berkenalan dan berkorespondensi? Toh, perkenalan via dunia digital tidak mengurangi substansi dan etika.

Selain jadi komoditas pasar dan target kampanye politik, nasib milenial memang senantiasa jadi kambing hitam atas tuduhan-tuduhan “anak zaman sekarang mana ngerti…”atau “let’s confuse kids nowadays”.

Oalah Gusti, salah ta aku lahire saiki?

Foto: Deedee86 (Pixabay)

(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 135

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Editor Picks