Patah Hati Juga Perlu Ancang-ancang 0 1480

Manusia hampir seluruhnya sudah meramal diri mereka akan patah hati. Namun jeratan keterpurukan seolah selalu sulit untuk dielakkan. Malahan ada yang sengaja membiarkan diri mereka tersiksa, seperti menikmati betul bagaimana proses melankoli melanda setiap larut malam: membayangkan diri adalah bulan yang walau ditemani banyak bintang tetap merasa kesepian.

Seminggu lalu, seorang teman mendatangi saya. Ia bercerita sedang mencintai sahabat lamanya: cerita usang yang diputar terus-menerus. Bagaimanapun juga, perasaan ingin memiliki lebih jauh dari sekedar sahabat menjadi urutan teratas cita-cita hidupnya saat ini. Meski sering mendaku sebagai feminis, selalu saja, rasa gengsi menyatakan cinta terlebih dahulu menjadi pertimbangan. Ada bayangan martabatnya sebagai perempuan yang selama ini dibangun sedemikian kokoh bisa roboh dengan sejurus harapan.

Sebelum jatuh hati, ia kerap menghardik betapa bebalnya orang yang mencintai dengan membabibuta. Setiap berpapasan dengan sepasang kekasih, tak jarang ia berhenti sejenak untuk hanya menarik nafas dan berkata, “Rasa-rasanya aku mau meneriaki mereka”. Seandainya ia tahu, bahwa, tidak ada manusia yang mampu mengarahkan jalannya cinta, sebab cinta lah yang akan mengarahkan jalannya manusia. Seperti yang menimpanya sekarang, jika diandaikan sebagai kendaraan dengan kecepatan tinggi di atas jembatan satu arah, ia sedang berputar balik dan melanggar peraturan.

Terlepas dari masalah idealisme dan prinsip-prinsip yang disusuinya, ada persiapan lain yang terabaikan oleh teman saya, yakni persiapan patah hati. Jatuh cinta jangan ditanya butuh persiapan atau tidak, cinta datangnya tiba-tiba – Jatuh cinta seperti disambar petir; ketiba-tibaannya adalah keniscayaan. Walau sesungguhnya petir dapat dibaca kedatangannya melalui suasana langit (hati).

Persiapan patah hati bukan melulu mengunduh satu album Banda Neira, atau membaca hanya beberapa bagian buku untuk diburu kutipannya guna diunggah ke media sosial dan mendapat pengakuan netijen jika manusia ini sedang butuh perhatian. Sedangkan, sekarang mulai muncul penulis yang murka bila tulisannya dikutip sembarangan. Padahal buku yang jatuh tak pernah membenci pemungutnya.

Kembali, persiapan patah hati ialah seberapa sanggup kita mengevaluasi diri. Dari segelintir kasus yang terjadi, rata-rata korban patah hati kerap tidak mau disalahkan. Tentu saja tidak menutup kemungkinan apabila kita memandang dari kacamata moderat dan sesungguhnya korban terindikasi bersalah pula.

Di era post-truth sekarang, masyarakat akan berkecenderungan mencari ‘pembenaran’ daripada ‘kebenaran’. Dalam hal ini fenomena patah hati dapat merupakan contoh seseorang yang mencari pembenaran bahwa ia tidak sepenuhnya bersalah atas musibah yang menimpanya. Untuk itu, kita mungkin perlu memaklumi apabila korban patah hati sering mengungkapkan hal-hal yang mampu membuat banyak orang merasa iba.

Saat mengalami keterpurukan karena cinta, kita tak diperkenankan ‘melihat bahwa’ diri adalah korban. Namun yang terpenting ialah ‘berpikir mengapa’ diri menjadi korban. Terkadang cara ini dihindari sebab pembelaan merasa paling banyak berkorban akan menghambat proses penalaran. Dan senyatanya, paling banyak berkorban belum berarti paling banyak benar. Situasi janggal ketika patah hati memang patut dimaklumi, emosi sedang menjajah tubuh kita, akibatnya logika terletakkan di tempat yang jauh.

Patah hati, mau atau tidak akan turut menjadi bagian dari merintis hubungan. Maka amat penting jika kita mempersiapkannya sedari sekarang. Semisal dengan melihat keadaan sosial yang sedang terjadi: penggusuran, nepotisme, korupsi, kasus kemanusiaan yang belum jua selesai, hutan menjelma apartemen. Coba, coba berlatihlah patah hati dengan melihat realita tersebut. Niscaya akan tumbuh kesadaran untuk mengevaluasi diri. (sungguh kesimpulan yang tidak nyambung).

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 150

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 173

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks