Posisi Duduk Sejoli dan Rasan-rasan Atasnya

Musim libur telah tiba. Entah lebih baik mengambil pilihan untuk beristirahat dari riuh redam kesibukan, atau justru kekasih adalah setepat-tepatnya jawaban. Semoga karena alasan liburan, bahasan kali ini menjadi relevan. Walaupun pembaca barangkali suka bicara cinta setiap saat tak kenal tempat.

Karena barangkali, akhir pekan justru menjadi hinaan bagi mereka yang terpisahkan jarak. Di saat inilah, di masa liburan, segala kerinduan antara dua insan terjawab. Untuk itu, Kawan, jangan heran bila di taman ria, di bus-bus kota, di restoran-restoran, dua sejoli di musim libur panjang nampak tidak peduli dunia. Dunia ini milik berdua, yang lain ngekos.

Sesungguhnya cerita memadu kasih yang rumitnya hampir sama dengan daftar panjang nama tersangka yang terlibat kasus korupsi e-ktp, tidak terlalu rumit jika dimulai dari bilik-bilik restoran. Jauh sebelum kita membahas fenomena yang terjadi di bilik warnet, alangkah baiknya kita membahas gaya pacaran dari yang ‘kelihatan’ dan tanpa sembunyi-sembunyi terlebih dahulu.

Ini dimulai dari pengalaman penulis. Pada suatu pengamatan, penulis mendapati pasangan laki-laki dan perempuan yang duduk di meja restoran dengan kapasitas 6 orang. Anggap saja meja lain yang sesuai dengan porsi 2 orang sudah penuh. Mereka duduk berdampingan dan barangkali hanya maut yang dapat memisahkan, atau kecuali manajer restoran mengusir mereka gara-gara si pria tidak bawa dompet.

Sepasang itu duduk berdua bersebelahan di kursi di bagian ujung meja, menatap pemandangan sama: lalu-lalang pengunjung lain. Mereka duduk berdua dalam kesunyian, menyantap makanan masing-masing. Barangkali, pepatah “cinta tak butuh bicara” adalah semboyan hidup keduanya.

Di lain kesempatan, ada pula pasangan lain yang memilih duduk berhadap-hadapan. Ini adalah antitesis dari kondisi sebelumnya. Bagaimana pun aturan tata letak meja restorannya, keduanya memilih menjaga jarak, barangkali untuk menjaga sebijak-bijaknya kalimat ‘bukan muhrim’.

Mengapa sebagian makhluk berpasangan memilih duduk berdampingan, dan sisanya mengambil duduk berhadapan sebagai pilihan? Sekiranya, pertanyaan ini tidak perlu dibuktikan dengan instrumen kuesioner dibagikan kepada 100 orang responden. Karena pun, tidak ada yang peduli dengan dikotomi yang sangat krusial ini.

Tulisan ini adalah demi melanggengkan budaya ‘tim bubur diaduk’ dan ‘tim oreo dicelup’. Barangkali, setelah tulisan ini dirampungkan, pembaca akan terbelah menjadi ‘tim duduk berhadapan’ dan ‘tim duduk berdampingan’ secara revolusioner. Antara keduanya saling beradu pendapat bagaimana cara duduk paling mesrah untuk menjalin hubungan romantis.

 

Duduk Berdampingan

Tim ini layaknya bangga. Sebab beberapa tulisan dari internet dengan judul yang tidak jauh dari kalimat ‘Pacarmu Benar-benar Sayang Padamu? Kenali 5 Tanda Ini’, tim ‘duduk berdampingan’ adalah mereka yang sudah memadu kasih cukup lama.

Berhati-hatilah ketika duduk dengan pasangan! Ini artinya, agar pasangan tidak tersinggung setelah melalui pahit-manis kehidupan bertahun-tahun dengan Anda, maka duduklah di sampingnya!

Ini adalah perkara wajah kehidupan romantis Anda di mata dunia. Soal berhasil tidaknya posisi duduk ini membuat Anda merasa lebih nyaman dan lebih intim, itu urusan belakang. Karena kita memang hidup pada era ‘apa kata orang’, jadi turuti sajalah!

 

Duduk Berhadapan

Tim ini tentu mencibir tim sebelah karena tidak bisa saling menatap dengan lega. Menurut netizen, posisi duduk ini adalah jarak aman pasangan yang baru akan memulai bahteranya. Sikap hati-hati, mengamati dengan teliti, mengambil langkah dengan pasti, adalah ciri khas posisi duduk ini.

Sekali lagi, ini adalah kata orang. Jadi, agar Anda tidak dibilang ‘anak kemarin sore’, jangan mengambil posisi duduk ini! Bukankah seisi restoran akan mengejek Anda dalam hati “Hmm deloken pacar anyar!”.

***

Kedua posisi duduk ini seyogyanya adalah cerminan persepsi masyarakat. Karena apa yang kita lakukan pada orang terdekat dibangun oleh konstruksi sosial yang terus-menerus ditularkan pada kita sejak jabang bayi. Bahwa berpacaran yang baik dan benar adalah ‘duduk berdampingan’ atau ‘duduk bersebelahan’ adalah budaya dan kepercayaan masing-masing keluarga.

Yang lebih menyeramkan, orang lain ternyata dapat menakar seberapa lama Anda menjalin hubungan dengan pasangan hanya dari posisi duduk Anda dan pasangan. Anda tidak pernah tahu, ada berapa juta pasang mata yang mengamati Anda. Kalau tidak terlalu lama, berarti tidak terlampau susah untuk ditikung. Kalau hubungan sudah ‘duduk berdampingan’, handai taulan kudu mengeluarkan jurus ‘jaran goyang’.

Posisi duduk ini nyatanya juga tidak memperbanyak dirinya sendiri dengan berbagai varian. Dari zaman ayah-ibu hingga anak-cucu kita nanti, rupanya dua posisi ini masih saja jadi tradisi. Rakyat ini hanya akan terbelah menjadi dua kutub tanpa ada kreativitas.

Toh ketika sajian hadir di atas meja, mau apapun posisi duduknya, kedua manusia sama-sama menyantapnya sampai tiada bersisa. Seharusnya, masyarakat bisa menciptakan mitos baru, ‘barangsiapa yang menghabiskan makanan terlebih dahulu dengan ekspresi paling lega, dialah yang dibayari’.

Pun rumusan posisi duduk pasangan ini barangkali berlaku sama hukumnya pada pasangan calon kepala daerah, calon mitra bisnis, calon menantu, dan calon mahasiswa yang meminta kursi duluan.