Posisi Duduk Sejoli dan Rasan-rasan Atasnya 0 940

Musim libur telah tiba. Entah lebih baik mengambil pilihan untuk beristirahat dari riuh redam kesibukan, atau justru kekasih adalah setepat-tepatnya jawaban. Semoga karena alasan liburan, bahasan kali ini menjadi relevan. Walaupun pembaca barangkali suka bicara cinta setiap saat tak kenal tempat.

Karena barangkali, akhir pekan justru menjadi hinaan bagi mereka yang terpisahkan jarak. Di saat inilah, di masa liburan, segala kerinduan antara dua insan terjawab. Untuk itu, Kawan, jangan heran bila di taman ria, di bus-bus kota, di restoran-restoran, dua sejoli di musim libur panjang nampak tidak peduli dunia. Dunia ini milik berdua, yang lain ngekos.

Sesungguhnya cerita memadu kasih yang rumitnya hampir sama dengan daftar panjang nama tersangka yang terlibat kasus korupsi e-ktp, tidak terlalu rumit jika dimulai dari bilik-bilik restoran. Jauh sebelum kita membahas fenomena yang terjadi di bilik warnet, alangkah baiknya kita membahas gaya pacaran dari yang ‘kelihatan’ dan tanpa sembunyi-sembunyi terlebih dahulu.

Ini dimulai dari pengalaman penulis. Pada suatu pengamatan, penulis mendapati pasangan laki-laki dan perempuan yang duduk di meja restoran dengan kapasitas 6 orang. Anggap saja meja lain yang sesuai dengan porsi 2 orang sudah penuh. Mereka duduk berdampingan dan barangkali hanya maut yang dapat memisahkan, atau kecuali manajer restoran mengusir mereka gara-gara si pria tidak bawa dompet.

Sepasang itu duduk berdua bersebelahan di kursi di bagian ujung meja, menatap pemandangan sama: lalu-lalang pengunjung lain. Mereka duduk berdua dalam kesunyian, menyantap makanan masing-masing. Barangkali, pepatah “cinta tak butuh bicara” adalah semboyan hidup keduanya.

Di lain kesempatan, ada pula pasangan lain yang memilih duduk berhadap-hadapan. Ini adalah antitesis dari kondisi sebelumnya. Bagaimana pun aturan tata letak meja restorannya, keduanya memilih menjaga jarak, barangkali untuk menjaga sebijak-bijaknya kalimat ‘bukan muhrim’.

Mengapa sebagian makhluk berpasangan memilih duduk berdampingan, dan sisanya mengambil duduk berhadapan sebagai pilihan? Sekiranya, pertanyaan ini tidak perlu dibuktikan dengan instrumen kuesioner dibagikan kepada 100 orang responden. Karena pun, tidak ada yang peduli dengan dikotomi yang sangat krusial ini.

Tulisan ini adalah demi melanggengkan budaya ‘tim bubur diaduk’ dan ‘tim oreo dicelup’. Barangkali, setelah tulisan ini dirampungkan, pembaca akan terbelah menjadi ‘tim duduk berhadapan’ dan ‘tim duduk berdampingan’ secara revolusioner. Antara keduanya saling beradu pendapat bagaimana cara duduk paling mesrah untuk menjalin hubungan romantis.

 

Duduk Berdampingan

Tim ini layaknya bangga. Sebab beberapa tulisan dari internet dengan judul yang tidak jauh dari kalimat ‘Pacarmu Benar-benar Sayang Padamu? Kenali 5 Tanda Ini’, tim ‘duduk berdampingan’ adalah mereka yang sudah memadu kasih cukup lama.

Berhati-hatilah ketika duduk dengan pasangan! Ini artinya, agar pasangan tidak tersinggung setelah melalui pahit-manis kehidupan bertahun-tahun dengan Anda, maka duduklah di sampingnya!

Ini adalah perkara wajah kehidupan romantis Anda di mata dunia. Soal berhasil tidaknya posisi duduk ini membuat Anda merasa lebih nyaman dan lebih intim, itu urusan belakang. Karena kita memang hidup pada era ‘apa kata orang’, jadi turuti sajalah!

 

Duduk Berhadapan

Tim ini tentu mencibir tim sebelah karena tidak bisa saling menatap dengan lega. Menurut netizen, posisi duduk ini adalah jarak aman pasangan yang baru akan memulai bahteranya. Sikap hati-hati, mengamati dengan teliti, mengambil langkah dengan pasti, adalah ciri khas posisi duduk ini.

Sekali lagi, ini adalah kata orang. Jadi, agar Anda tidak dibilang ‘anak kemarin sore’, jangan mengambil posisi duduk ini! Bukankah seisi restoran akan mengejek Anda dalam hati “Hmm deloken pacar anyar!”.

***

Kedua posisi duduk ini seyogyanya adalah cerminan persepsi masyarakat. Karena apa yang kita lakukan pada orang terdekat dibangun oleh konstruksi sosial yang terus-menerus ditularkan pada kita sejak jabang bayi. Bahwa berpacaran yang baik dan benar adalah ‘duduk berdampingan’ atau ‘duduk bersebelahan’ adalah budaya dan kepercayaan masing-masing keluarga.

Yang lebih menyeramkan, orang lain ternyata dapat menakar seberapa lama Anda menjalin hubungan dengan pasangan hanya dari posisi duduk Anda dan pasangan. Anda tidak pernah tahu, ada berapa juta pasang mata yang mengamati Anda. Kalau tidak terlalu lama, berarti tidak terlampau susah untuk ditikung. Kalau hubungan sudah ‘duduk berdampingan’, handai taulan kudu mengeluarkan jurus ‘jaran goyang’.

Posisi duduk ini nyatanya juga tidak memperbanyak dirinya sendiri dengan berbagai varian. Dari zaman ayah-ibu hingga anak-cucu kita nanti, rupanya dua posisi ini masih saja jadi tradisi. Rakyat ini hanya akan terbelah menjadi dua kutub tanpa ada kreativitas.

Toh ketika sajian hadir di atas meja, mau apapun posisi duduknya, kedua manusia sama-sama menyantapnya sampai tiada bersisa. Seharusnya, masyarakat bisa menciptakan mitos baru, ‘barangsiapa yang menghabiskan makanan terlebih dahulu dengan ekspresi paling lega, dialah yang dibayari’.

Pun rumusan posisi duduk pasangan ini barangkali berlaku sama hukumnya pada pasangan calon kepala daerah, calon mitra bisnis, calon menantu, dan calon mahasiswa yang meminta kursi duluan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Kamuh yang Anti Incess Syahrini 0 266

Sebagai tim pembela Syahrini yang fanatik, akhirnya saya toh harus angkat bicara. Saya tak punya kalimat pembuka yang paling kuat selain manifesto ini: kamuh-kamuh yang dibeking Luna Maya itu sudah melakukan penistaan kelas berat kepada Princess kami!

Bagaimana mungkin cinta Princess diatur-atur? Bukankah Aa Reino Barack sudah memberi komitmennya kepada Incess kami dan bukan Luna Maya[k]?

Sini, kuberitahu pelajaran berharga dan prinsip nomor satu: manusia tak punya kekuatan barang sedikitpun untuk menyetir cinta sesamanya. Tak pernah ada agama yang berani memasang badan untuk sebuah keyakinan atas Tuhan yang melepaskan diri dari tanggung jawab atas perasaan dan hati umatnya. Bahkan Habibana Rizieq saja, di masa belio masih sehat dan bebas (ehem), tak pernah menggugat soal ini.

Oh ya, lupa, tapi ini dengan asumsi bahwa ikatan Syahrini-Reino sungguh karena cinta loh yaa. Dan tentu saja saya harus yakin bahwa cinta mereka sungguhlah ada dan bukan sekadar rupiah belaka. BUKAN SEKADAR.

Sudahlah, mending situ kembali ke habitat nggak mutu dan ekosistem receh yang sudah situ hidupi bertahun-tahun. Dari orang-orang macam ini, yang hidupnya Senin-Kemis itu, apa kapasitasnya mengomentari—apalagi menista—junjungan kami Fatimah Syahrini Jaelani yang termasyhur? Hidupnya berantakan kok berani-berani menakar kadar cinta idola? Apakah mereka tak pernah menghayati lagu “Sesuatuuuuu” yang sungguh populer di kalangan [k]anak muda itu?

Telah terpampang nyata dalam khatulistiwa perasaan seluruh umat Indonesia bahwa Incess adalah salah seorang yang amat berpengaruh. Dan pengaruh itu merentang sampai pada bagaimana kita menyibukkan diri dalam menolak atau membelanya. Merepotkan diri dalam nyinyir dan puja-puji. Seperti surat terbuka ini…

(Surat ini dibuka dengan gairah menyala tapi ditutup dengan loyo… Sudahlah, namanya juga hidup: antara pesona dan derita kadang beda tipis bingit).

 

Salam hangat,

dari pemuja Syahrini di suatu sore yang murungnya mewakili hati Luna Maya. (Bingung yo ben.)

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 225

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Editor Picks