Posisi Duduk Sejoli dan Rasan-rasan Atasnya 0 2295

Musim libur telah tiba. Entah lebih baik mengambil pilihan untuk beristirahat dari riuh redam kesibukan, atau justru kekasih adalah setepat-tepatnya jawaban. Semoga karena alasan liburan, bahasan kali ini menjadi relevan. Walaupun pembaca barangkali suka bicara cinta setiap saat tak kenal tempat.

Karena barangkali, akhir pekan justru menjadi hinaan bagi mereka yang terpisahkan jarak. Di saat inilah, di masa liburan, segala kerinduan antara dua insan terjawab. Untuk itu, Kawan, jangan heran bila di taman ria, di bus-bus kota, di restoran-restoran, dua sejoli di musim libur panjang nampak tidak peduli dunia. Dunia ini milik berdua, yang lain ngekos.

Sesungguhnya cerita memadu kasih yang rumitnya hampir sama dengan daftar panjang nama tersangka yang terlibat kasus korupsi e-ktp, tidak terlalu rumit jika dimulai dari bilik-bilik restoran. Jauh sebelum kita membahas fenomena yang terjadi di bilik warnet, alangkah baiknya kita membahas gaya pacaran dari yang ‘kelihatan’ dan tanpa sembunyi-sembunyi terlebih dahulu.

Ini dimulai dari pengalaman penulis. Pada suatu pengamatan, penulis mendapati pasangan laki-laki dan perempuan yang duduk di meja restoran dengan kapasitas 6 orang. Anggap saja meja lain yang sesuai dengan porsi 2 orang sudah penuh. Mereka duduk berdampingan dan barangkali hanya maut yang dapat memisahkan, atau kecuali manajer restoran mengusir mereka gara-gara si pria tidak bawa dompet.

Sepasang itu duduk berdua bersebelahan di kursi di bagian ujung meja, menatap pemandangan sama: lalu-lalang pengunjung lain. Mereka duduk berdua dalam kesunyian, menyantap makanan masing-masing. Barangkali, pepatah “cinta tak butuh bicara” adalah semboyan hidup keduanya.

Di lain kesempatan, ada pula pasangan lain yang memilih duduk berhadap-hadapan. Ini adalah antitesis dari kondisi sebelumnya. Bagaimana pun aturan tata letak meja restorannya, keduanya memilih menjaga jarak, barangkali untuk menjaga sebijak-bijaknya kalimat ‘bukan muhrim’.

Mengapa sebagian makhluk berpasangan memilih duduk berdampingan, dan sisanya mengambil duduk berhadapan sebagai pilihan? Sekiranya, pertanyaan ini tidak perlu dibuktikan dengan instrumen kuesioner dibagikan kepada 100 orang responden. Karena pun, tidak ada yang peduli dengan dikotomi yang sangat krusial ini.

Tulisan ini adalah demi melanggengkan budaya ‘tim bubur diaduk’ dan ‘tim oreo dicelup’. Barangkali, setelah tulisan ini dirampungkan, pembaca akan terbelah menjadi ‘tim duduk berhadapan’ dan ‘tim duduk berdampingan’ secara revolusioner. Antara keduanya saling beradu pendapat bagaimana cara duduk paling mesrah untuk menjalin hubungan romantis.

 

Duduk Berdampingan

Tim ini layaknya bangga. Sebab beberapa tulisan dari internet dengan judul yang tidak jauh dari kalimat ‘Pacarmu Benar-benar Sayang Padamu? Kenali 5 Tanda Ini’, tim ‘duduk berdampingan’ adalah mereka yang sudah memadu kasih cukup lama.

Berhati-hatilah ketika duduk dengan pasangan! Ini artinya, agar pasangan tidak tersinggung setelah melalui pahit-manis kehidupan bertahun-tahun dengan Anda, maka duduklah di sampingnya!

Ini adalah perkara wajah kehidupan romantis Anda di mata dunia. Soal berhasil tidaknya posisi duduk ini membuat Anda merasa lebih nyaman dan lebih intim, itu urusan belakang. Karena kita memang hidup pada era ‘apa kata orang’, jadi turuti sajalah!

 

Duduk Berhadapan

Tim ini tentu mencibir tim sebelah karena tidak bisa saling menatap dengan lega. Menurut netizen, posisi duduk ini adalah jarak aman pasangan yang baru akan memulai bahteranya. Sikap hati-hati, mengamati dengan teliti, mengambil langkah dengan pasti, adalah ciri khas posisi duduk ini.

Sekali lagi, ini adalah kata orang. Jadi, agar Anda tidak dibilang ‘anak kemarin sore’, jangan mengambil posisi duduk ini! Bukankah seisi restoran akan mengejek Anda dalam hati “Hmm deloken pacar anyar!”.

***

Kedua posisi duduk ini seyogyanya adalah cerminan persepsi masyarakat. Karena apa yang kita lakukan pada orang terdekat dibangun oleh konstruksi sosial yang terus-menerus ditularkan pada kita sejak jabang bayi. Bahwa berpacaran yang baik dan benar adalah ‘duduk berdampingan’ atau ‘duduk bersebelahan’ adalah budaya dan kepercayaan masing-masing keluarga.

Yang lebih menyeramkan, orang lain ternyata dapat menakar seberapa lama Anda menjalin hubungan dengan pasangan hanya dari posisi duduk Anda dan pasangan. Anda tidak pernah tahu, ada berapa juta pasang mata yang mengamati Anda. Kalau tidak terlalu lama, berarti tidak terlampau susah untuk ditikung. Kalau hubungan sudah ‘duduk berdampingan’, handai taulan kudu mengeluarkan jurus ‘jaran goyang’.

Posisi duduk ini nyatanya juga tidak memperbanyak dirinya sendiri dengan berbagai varian. Dari zaman ayah-ibu hingga anak-cucu kita nanti, rupanya dua posisi ini masih saja jadi tradisi. Rakyat ini hanya akan terbelah menjadi dua kutub tanpa ada kreativitas.

Toh ketika sajian hadir di atas meja, mau apapun posisi duduknya, kedua manusia sama-sama menyantapnya sampai tiada bersisa. Seharusnya, masyarakat bisa menciptakan mitos baru, ‘barangsiapa yang menghabiskan makanan terlebih dahulu dengan ekspresi paling lega, dialah yang dibayari’.

Pun rumusan posisi duduk pasangan ini barangkali berlaku sama hukumnya pada pasangan calon kepala daerah, calon mitra bisnis, calon menantu, dan calon mahasiswa yang meminta kursi duluan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasib Pegawai KPK Kritis dan Doa untuk Mereka 0 159

Kemarin 1.271 pegawai KPK yang lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) akhirnya sudah dilantik. Kini mereka resmi jadi abdi negara, meninggalkan 75 yang tak lolos.

Tim dokumenter dengan jejaring sangar macam Watchdoc dan kesayangan kita semua, Najwa Shihab, sudah mewawancarai mereka, mengungkap kejanggalan TWK. Pertanyaan-pertanyaan aneh macam urusan rumah tangga, perceraian, gaya pacaran, hingga aliran agama muncul selama sesi tes seleksi wawancara.

Masalahnya, 75 orang yang tidak lolos ini bukan sembarangan personil. Dari antara 75 orang itu, 13 di antaranya adalah penyidik yang berperan penting sebagai lokomotif penggerak berjalannya KPK selama ini. Sebut saja Novel Baswedan, yang kita semua tahu telah berhasil mengungkap kasus besar macam korupsi e-KTP dengan dalang Setya Novanto. Ada pula Rizka Anungnata, penyidik kasus benih lobster yang menyeret mantan Menteri KKP, Edhy Prabowo. Sampai Ronal Paul, yang tengah menangani kasus buron yang ghosting satu negeri ini, Harun Masiku.

Orang-orang ini kini tak bisa melanjutkan kasusnya, dinonaktifkan karena tak lolos tes, bahkan terancam termasuk dari 51 orang yang katanya tak lagi bisa dibina. Dalam kata lain yang lebih mudah namun kasar, sama saja dengan orang bebal.

Orang-orang berprestasi ini mungkin cerminan dari orang kritis. Di satu sisi, Indonesia ini sangat butuh orang-orang kritis agar bisa maju memperbaiki sistem dan mentalitas yang terlanjur bobrok. Tapi atas nama kestabilan, orang-orang macam inilah yang dianggap sebagai penghancur dan pembangkang. Termasuk dalam logika bisnis korporasi, pegawai yang ndablek atau berani melawan pemimpinnya pasti ditendang.

Susah dong ya jadi orang kritis di negara ini? Ya memang bakal susah kalau kamu terlalu radikal, berani bicara dan melawan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kalau kata pepatah, diam adalah emas. Itu mungkin akan sangat berlaku buat kalian-lalian yang punya pemikiran revolusioner. Jangan keburu emosi dulu! Diam memang tak selamanya baik, dan malah berujung malapetaka karena mendiamkan sesuatu yang salah. Kalau kata mantan komisioner KPK dan pengurus PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas: “membiarkan kejahatan itu sama artinya dengan melakukan kejahatan”.

Saya jadi teringat suatu kisah penyebaran dan perjalanan agama Kristen di Jepang. Alkisah, agama Katolik disebarkan pertama kali oleh misionaris Jesuit dari Portugal tahun 1560-an. Lambat laun, jumlah penganut Kristen bertambah banyak dan pesat. Penguasa politik Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk menumpas mereka.

Larangan beribadah ditetapkan. Bahkan memerintahkan semua umat Kristiani menginjak fumie, lempengan tembaga bergambar Yesus disalib pada papan kayu. Tujuannya jelas, untuk mematahkan kepercayaan mereka. Sejarah mengatakan ada sekitar 2 ribu orang meninggal menjadi martirkarena menolak menginjak fumie, tetap setia pada imannya.  Which is (cielah gaya bahasa jaksel), keren.

Tapi, tak sedikit pula yang memilih ingkar, mereka injak fumie, dan tetap hidup. Mereka berpura-pura meninggalkan agamanya, tapi tetap beribadah secara diam-diam. Mereka lah yang membuat penganut Kristiani masih ada di Jepang sampai sekarang. Coba bayangin kalau semua memilih jadi “pahlawan” dan rela mati, mungkin agama Katolik akan benar-benar punah.

Kisah ini saya lihat hampir sama dengan yang terjadi di KPK hari ini. Harapannya, ada beberapa dari 1200 yang lolos TWK itu, adalah orang-orang yang diam-diam “nurut”, menjawab dengan cara aman tes-tes wawancara yang diajukan asesor. Mereka menyembunyikan jati diri kritis, demi bertahan hidup, tetap berada dalam sistem lembaga pemberantas korupsi, dan membawa integritas ke depan. Jika benar demikian, kita tak perlu khawatir KPK akan ambruk.

Lalu bagaimana dengan 51 pegawai yang tak lagi bisa dibina itu? Perjuangan di luar KPK untuk memberantas korupsi masih panjang. Bisa melalui organisasi, lembaga bantuan hukum, dan bertindak sebagai pengamat atau penasehat. Sebab, berlian tetap bisa bersinar di mana saja walaupun ditempa sedemikian rupa. Semoga.

 

*)Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 209

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks