Posisi Duduk Sejoli dan Rasan-rasan Atasnya 0 1804

Musim libur telah tiba. Entah lebih baik mengambil pilihan untuk beristirahat dari riuh redam kesibukan, atau justru kekasih adalah setepat-tepatnya jawaban. Semoga karena alasan liburan, bahasan kali ini menjadi relevan. Walaupun pembaca barangkali suka bicara cinta setiap saat tak kenal tempat.

Karena barangkali, akhir pekan justru menjadi hinaan bagi mereka yang terpisahkan jarak. Di saat inilah, di masa liburan, segala kerinduan antara dua insan terjawab. Untuk itu, Kawan, jangan heran bila di taman ria, di bus-bus kota, di restoran-restoran, dua sejoli di musim libur panjang nampak tidak peduli dunia. Dunia ini milik berdua, yang lain ngekos.

Sesungguhnya cerita memadu kasih yang rumitnya hampir sama dengan daftar panjang nama tersangka yang terlibat kasus korupsi e-ktp, tidak terlalu rumit jika dimulai dari bilik-bilik restoran. Jauh sebelum kita membahas fenomena yang terjadi di bilik warnet, alangkah baiknya kita membahas gaya pacaran dari yang ‘kelihatan’ dan tanpa sembunyi-sembunyi terlebih dahulu.

Ini dimulai dari pengalaman penulis. Pada suatu pengamatan, penulis mendapati pasangan laki-laki dan perempuan yang duduk di meja restoran dengan kapasitas 6 orang. Anggap saja meja lain yang sesuai dengan porsi 2 orang sudah penuh. Mereka duduk berdampingan dan barangkali hanya maut yang dapat memisahkan, atau kecuali manajer restoran mengusir mereka gara-gara si pria tidak bawa dompet.

Sepasang itu duduk berdua bersebelahan di kursi di bagian ujung meja, menatap pemandangan sama: lalu-lalang pengunjung lain. Mereka duduk berdua dalam kesunyian, menyantap makanan masing-masing. Barangkali, pepatah “cinta tak butuh bicara” adalah semboyan hidup keduanya.

Di lain kesempatan, ada pula pasangan lain yang memilih duduk berhadap-hadapan. Ini adalah antitesis dari kondisi sebelumnya. Bagaimana pun aturan tata letak meja restorannya, keduanya memilih menjaga jarak, barangkali untuk menjaga sebijak-bijaknya kalimat ‘bukan muhrim’.

Mengapa sebagian makhluk berpasangan memilih duduk berdampingan, dan sisanya mengambil duduk berhadapan sebagai pilihan? Sekiranya, pertanyaan ini tidak perlu dibuktikan dengan instrumen kuesioner dibagikan kepada 100 orang responden. Karena pun, tidak ada yang peduli dengan dikotomi yang sangat krusial ini.

Tulisan ini adalah demi melanggengkan budaya ‘tim bubur diaduk’ dan ‘tim oreo dicelup’. Barangkali, setelah tulisan ini dirampungkan, pembaca akan terbelah menjadi ‘tim duduk berhadapan’ dan ‘tim duduk berdampingan’ secara revolusioner. Antara keduanya saling beradu pendapat bagaimana cara duduk paling mesrah untuk menjalin hubungan romantis.

 

Duduk Berdampingan

Tim ini layaknya bangga. Sebab beberapa tulisan dari internet dengan judul yang tidak jauh dari kalimat ‘Pacarmu Benar-benar Sayang Padamu? Kenali 5 Tanda Ini’, tim ‘duduk berdampingan’ adalah mereka yang sudah memadu kasih cukup lama.

Berhati-hatilah ketika duduk dengan pasangan! Ini artinya, agar pasangan tidak tersinggung setelah melalui pahit-manis kehidupan bertahun-tahun dengan Anda, maka duduklah di sampingnya!

Ini adalah perkara wajah kehidupan romantis Anda di mata dunia. Soal berhasil tidaknya posisi duduk ini membuat Anda merasa lebih nyaman dan lebih intim, itu urusan belakang. Karena kita memang hidup pada era ‘apa kata orang’, jadi turuti sajalah!

 

Duduk Berhadapan

Tim ini tentu mencibir tim sebelah karena tidak bisa saling menatap dengan lega. Menurut netizen, posisi duduk ini adalah jarak aman pasangan yang baru akan memulai bahteranya. Sikap hati-hati, mengamati dengan teliti, mengambil langkah dengan pasti, adalah ciri khas posisi duduk ini.

Sekali lagi, ini adalah kata orang. Jadi, agar Anda tidak dibilang ‘anak kemarin sore’, jangan mengambil posisi duduk ini! Bukankah seisi restoran akan mengejek Anda dalam hati “Hmm deloken pacar anyar!”.

***

Kedua posisi duduk ini seyogyanya adalah cerminan persepsi masyarakat. Karena apa yang kita lakukan pada orang terdekat dibangun oleh konstruksi sosial yang terus-menerus ditularkan pada kita sejak jabang bayi. Bahwa berpacaran yang baik dan benar adalah ‘duduk berdampingan’ atau ‘duduk bersebelahan’ adalah budaya dan kepercayaan masing-masing keluarga.

Yang lebih menyeramkan, orang lain ternyata dapat menakar seberapa lama Anda menjalin hubungan dengan pasangan hanya dari posisi duduk Anda dan pasangan. Anda tidak pernah tahu, ada berapa juta pasang mata yang mengamati Anda. Kalau tidak terlalu lama, berarti tidak terlampau susah untuk ditikung. Kalau hubungan sudah ‘duduk berdampingan’, handai taulan kudu mengeluarkan jurus ‘jaran goyang’.

Posisi duduk ini nyatanya juga tidak memperbanyak dirinya sendiri dengan berbagai varian. Dari zaman ayah-ibu hingga anak-cucu kita nanti, rupanya dua posisi ini masih saja jadi tradisi. Rakyat ini hanya akan terbelah menjadi dua kutub tanpa ada kreativitas.

Toh ketika sajian hadir di atas meja, mau apapun posisi duduknya, kedua manusia sama-sama menyantapnya sampai tiada bersisa. Seharusnya, masyarakat bisa menciptakan mitos baru, ‘barangsiapa yang menghabiskan makanan terlebih dahulu dengan ekspresi paling lega, dialah yang dibayari’.

Pun rumusan posisi duduk pasangan ini barangkali berlaku sama hukumnya pada pasangan calon kepala daerah, calon mitra bisnis, calon menantu, dan calon mahasiswa yang meminta kursi duluan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keterancaman Klepon yang Tak Islami 0 250

Kejutan deklaratif dari satu akun media sosial tentang pengumuman penting, bahwa klepon adalah jajanan “tak Islami”, menggegerkan orang banyak. Sebagian besarnya tentu saja mempertanyakan dengan nada nyinyir tapi juga was-was: apakah kita sepengangguran itu hingga menyoal sebuah objek tak penting dengan klaim biner Islami dan tak Islami? Apa kehabisan alternatip membahas yang lain, yang important-important aja gitu?

Eittsss. Maap, sekadar mengingatkan. Klepon adalah subjek maha-penting. Ia berdiri mewarisi ingatan kolektif populasi, mengantarai kenangan-kenangan bertetangga dan pulang kampung. Ia barang sederhana yang ditumpangi oleh bejibun kepentingan pertemuan, kenduren, rapat-rapat, dan bingkisan hangat — itu sebabnya, klepon juga bagian penting dari peristiwa kebudayaan. Singkatnya, klepon adalah pantulan diri kita sendiri. Menyebutnya sebagai tidak penting tentu adalah penyederhanaan dan ketakpahaman tentang hakikat rasa dan ikatan peristiwa.

Lalu, tentang klaim tak Islami. Kau tahu, resep berjualan praktis dan taktis kini sering mengawinkan apapun dengan agama: hotel Syariah, pariwisata Islami, bank Syariah, kredit umat (sebuah peristilahan yang sangat membingungkan), gadai Syariah dan tentu saja termasuk jajanan Islami.

Maka, kemegahan klepon sebagai barang maha-penting hanya bisa dikalahkan secara ekonomi dengan melabelinya sebagai yang lain, yang asing, yang ‘bukan Islam’. Seolah-olah kompetisi melawan klepon — seperti halnya politik — hanya dapat dimenangkan dengan jurus agama. Masih ingat dengan Inul Daratista? Ia harus dihajar dengan ‘goyang ngebor tak bermoral’ sekadar untuk menghabisinya dari puncak daftar lagu paling laku saat itu.

Tapi lalu tatkala dilacak muasal geger ini, tak ditemukan akun yang tersemat dalam gambar provokatif iklan klepon. Antara lenyap atau palsu. Dan, sebagaimana biasanya, segera muncul spekulasi bahwa ini adalah cara-cara licik untuk mendiskreditkan umat Islam. Sebuah pemikiran yang dapat saja diterima, meski tak kalah ganjilnya.

Keanehan terbesarnya adalah mengapa kita menjadi begitu mendarahdagingkan corak berpikir Islam dan bukan Islam, kelompok sana dan kelompok sini. Seolah-olah Islam senantiasa berada dalam keterancaman dari luar yang gawat, yang sangat genting dan berisiko membinasakan. Semua hal yang tak sesuai, berbeda, apalagi melawan, akan segera masuk kotak sebagai “mereka yang mengancam”, hal-hal yang nista dan patut diberi pelajaran.

Pada saat yang sama, ada semacam kesadaran bahwa kita mempersepsi diri sebagai kelompok yang sangat rapuh ringkih, yang mudah goyah oleh sesuatu yang berbeda. Kita paranoid dengan apa saja yang dikemas dengan agama. Kita ketakutan pada manipulasi postingan klepon hingga mengancam pelakunya sebagai mendiskreditkan Islam!

Kau kenal PKI? Yang katanya ateis itu? Berpuluh-puluh tahun punah, terlarang, dan dibunuh, tapi ada orang percaya bahwa 60 juta PKI masih hidup di Indonesia. Kita dibentuk dan dibesarkan oleh keyakinan politis bahwa eksistensi kita akan selalu rentan. Terhadap apapun yang diyakini berbahaya.

Mungkin saja ada benarnya, bahwa ada bahaya di luar sana. Bahwa ada upaya sistematis kebangkitan PKI, bahwa ada strategi rapi untuk melemahkan umat. Tapi, kita perlahan lupa hidup untuk apa. Terlampau sibuk mengutuki (hantu?) apa-apa saja yang dirasa tajam mengancam.

Dan yang jauh lebih gawat dari itu: kita larut pada bentukan-bentukan arah politik para elite nun jauh di sana. Kau tahu, mereka-mereka ini rajin sekali membentuk opini. Mereka harus membuatmu yakin terhadap musuh tertentu, agar kau menyatu bersama kau-kau yang lain, membentuk sekumpulan yang solid dan akan segera diklaim sebagai “dukungan politik” bagi elite yang memulai isu tersebut.

Kita seolah-olah dipersatukan sebagai umat yang melawan hal-hal tak “Islami”, tapi pada akhirnya, kita dilihat sebagai sekumpulan pemilik suara, digembalakan oleh pemandu yang mahir mengawin-ngawinkan apapun dengan agama. Untuk dukungan politik. Untuk pemilu lalu dan nanti tentu saja.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Lawakan Jerome Polin yang Melawan Stigma Ilmu Eksak 0 203

Ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita tertawa. Percaya atau tidak, salah satunya adalah matematika. Bukan, bukan menertawakan nilai matematika kita saat sekolah. Namun, matematika – monster dalam kehidupan banyak orang – juga bisa dijadikan bahan lawakan untuk menghibur manusia lain.

Jerome Polin, seorang laki-laki muda dengan kelebihan sel otak bagian menghitung, adalah tersangka dari lawakan yang saya maksud. Mahasiswa Wasenda University ini mampu mengubah “wajah” matematika yang menyeramkan menjadi lucu, hingga membuat saya tertawa sendiri (eh wong gendheng lak an).

Youtuber satu ini berkali-kali membuat lawakan dengan matematika di Twitter dan Instagram, salah satunya adalah pantun maut dari Story-nya berikut ini:

Sumber: Instagram @jeromepolin

Sumber: Instagram story @jeromepolin

 

Sederhana, tapi berhasil membuat saya tertawa kecil. Bahkan, saya sampai lupa pernah berkonflik dengan trigonometri. Bahkan, saya pernah sampai mencari-cari blogspot untuk belajar matematika (lagi) usai membaca lawakan-lawakan cerdasnya (literally cerdas).

Pemilik jargon “mantappu jiwa” ini memang bukanlah satu-satunya orang yang membuat matematika menjadi guyonan segar. 9gag misalnya, situs humor asal Amerika, juga beberapa kali memposting meme matematika yang mampu mengocok perut.

 

 

Sumber: 9gag.com

 

Akan tetapi, di Indonesia sendiri masih sedikit yang menjadikan pelajaran eksak menjadi bahan guyonan. Selain itu, yang terkenal memainkan matematika jadi humor di Indonesia memang Jerome Polin.

Mungkin Jerome Polin tidak memiliki intensi untuk mengubah stigma dari ilmu eksak. Tapi, sedikit banyak pandangan kita terhadap ilmu eksak dan orang-orangnya jadi berubah. Ya, seketika matematika yang merupakan ilmu eksak acap kali dicap sebagai mata pelajaran yang kaku abis, jadi terlihat seru dan fun.

Matematika, salah satu cabang ilmu eksak, tak jauh beda dengan teman-temannya, yakni fisika, biologi, dan kimia, dicap sebagai ilmu yang kaku. Hal ini dikarenakan tidak terbukanya jawaban lain atas suatu permasalahan. Misal, 2+2=4 merupakan aksioma, sehingga tidak mungkin ada jawaban lain selain itu.

Selain saklek, kekakuan ilmu eksak juga disebabkan oleh kecenderungan untuk mengeneralisasi. Misal, alasan jerapah berleher pendek sudah tidak ada karena (semua) hewan jenis ini tidak memiliki kemampuan adaptasi yang baik.

Beda halnya dengan ilmu sosial yang memberi kesempatan orang untuk menemukan jawaban lainnya. Contoh, alasan seseorang menyukai permen kaki tak hanya karena rasanya, akan tetapi juga karena bentuk, warna, dan memori masa lalu yang mengingatkannya akan permen tersebut.

Stigma kaku mengenai ilmu eksak sendiri tak hanya ditujukan pada pelajarannya sendiri, tapi juga pada mereka yang mendalami ilmu eksak. Contohnya, pada saat SMA, kelas IPA di sekolah saya mendapat stereotip sebagai kelas yang anak-anaknya pendiam, suka belajar, dan serius. Padahal, kebisingan kami dan mesin pesawat boleh diadu.

Selain itu, sering juga saya dengar orang-orang berkata, “anak FK (Fakultas Kedokteran) orangnya kaku-kaku”, “kelas di FK itu hening sangking seriusnya kalau belajar”, “anak sains gak asik, terlalu serius”, dan lain sebagainya.

Dari lawakan-lawakan berbau matematika Jerome Polin, kita bisa belajar tiga hal. Pertama, yang terlihat kaku bukan berarti  tidak bisa menjadi fun. Jerome membuktikan ilmu sesaklek matematika juga bisa dibecandain, bahkan membuat orang jadi tertarik belajar matematika.

Kedua, tidak semua orang yang mendalami ilmu eksak juga orang yang serius, kaku, dan tidak bisa bercanda. Banyak yang berpikir paradigma positvistik dalam ilmu eksak menyetir mereka yang mendalaminya, menjadikan mereka sama kakunya dengan ilmu eksak. Padahal tidak juga.

Ada yang memang dari lahir bawaannya sudah kaku, ada yang kesulitan bercanda karena beban pelajaran yang terlalu berat sehingga tidak sempat untuk “main-main”. Buktinya ada kok yang mendalami ilmu eksak tapi pencicilan dan humoris seperti Jerome Polin dan saya.

Ketiga, lucu gak harus menyinggung orang lain kok. Kalau mau ngelawak, bisa kan pakai pelajaran – mungkin setelah ini pembaca mau mencoba melawak pakai teori stimulus-respons dari Ivan Pavlov, monggo. Jadi gak harus menghina orang lain, apalagi fisik.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks