Posisi Duduk Sejoli dan Rasan-rasan Atasnya 0 1165

Musim libur telah tiba. Entah lebih baik mengambil pilihan untuk beristirahat dari riuh redam kesibukan, atau justru kekasih adalah setepat-tepatnya jawaban. Semoga karena alasan liburan, bahasan kali ini menjadi relevan. Walaupun pembaca barangkali suka bicara cinta setiap saat tak kenal tempat.

Karena barangkali, akhir pekan justru menjadi hinaan bagi mereka yang terpisahkan jarak. Di saat inilah, di masa liburan, segala kerinduan antara dua insan terjawab. Untuk itu, Kawan, jangan heran bila di taman ria, di bus-bus kota, di restoran-restoran, dua sejoli di musim libur panjang nampak tidak peduli dunia. Dunia ini milik berdua, yang lain ngekos.

Sesungguhnya cerita memadu kasih yang rumitnya hampir sama dengan daftar panjang nama tersangka yang terlibat kasus korupsi e-ktp, tidak terlalu rumit jika dimulai dari bilik-bilik restoran. Jauh sebelum kita membahas fenomena yang terjadi di bilik warnet, alangkah baiknya kita membahas gaya pacaran dari yang ‘kelihatan’ dan tanpa sembunyi-sembunyi terlebih dahulu.

Ini dimulai dari pengalaman penulis. Pada suatu pengamatan, penulis mendapati pasangan laki-laki dan perempuan yang duduk di meja restoran dengan kapasitas 6 orang. Anggap saja meja lain yang sesuai dengan porsi 2 orang sudah penuh. Mereka duduk berdampingan dan barangkali hanya maut yang dapat memisahkan, atau kecuali manajer restoran mengusir mereka gara-gara si pria tidak bawa dompet.

Sepasang itu duduk berdua bersebelahan di kursi di bagian ujung meja, menatap pemandangan sama: lalu-lalang pengunjung lain. Mereka duduk berdua dalam kesunyian, menyantap makanan masing-masing. Barangkali, pepatah “cinta tak butuh bicara” adalah semboyan hidup keduanya.

Di lain kesempatan, ada pula pasangan lain yang memilih duduk berhadap-hadapan. Ini adalah antitesis dari kondisi sebelumnya. Bagaimana pun aturan tata letak meja restorannya, keduanya memilih menjaga jarak, barangkali untuk menjaga sebijak-bijaknya kalimat ‘bukan muhrim’.

Mengapa sebagian makhluk berpasangan memilih duduk berdampingan, dan sisanya mengambil duduk berhadapan sebagai pilihan? Sekiranya, pertanyaan ini tidak perlu dibuktikan dengan instrumen kuesioner dibagikan kepada 100 orang responden. Karena pun, tidak ada yang peduli dengan dikotomi yang sangat krusial ini.

Tulisan ini adalah demi melanggengkan budaya ‘tim bubur diaduk’ dan ‘tim oreo dicelup’. Barangkali, setelah tulisan ini dirampungkan, pembaca akan terbelah menjadi ‘tim duduk berhadapan’ dan ‘tim duduk berdampingan’ secara revolusioner. Antara keduanya saling beradu pendapat bagaimana cara duduk paling mesrah untuk menjalin hubungan romantis.

 

Duduk Berdampingan

Tim ini layaknya bangga. Sebab beberapa tulisan dari internet dengan judul yang tidak jauh dari kalimat ‘Pacarmu Benar-benar Sayang Padamu? Kenali 5 Tanda Ini’, tim ‘duduk berdampingan’ adalah mereka yang sudah memadu kasih cukup lama.

Berhati-hatilah ketika duduk dengan pasangan! Ini artinya, agar pasangan tidak tersinggung setelah melalui pahit-manis kehidupan bertahun-tahun dengan Anda, maka duduklah di sampingnya!

Ini adalah perkara wajah kehidupan romantis Anda di mata dunia. Soal berhasil tidaknya posisi duduk ini membuat Anda merasa lebih nyaman dan lebih intim, itu urusan belakang. Karena kita memang hidup pada era ‘apa kata orang’, jadi turuti sajalah!

 

Duduk Berhadapan

Tim ini tentu mencibir tim sebelah karena tidak bisa saling menatap dengan lega. Menurut netizen, posisi duduk ini adalah jarak aman pasangan yang baru akan memulai bahteranya. Sikap hati-hati, mengamati dengan teliti, mengambil langkah dengan pasti, adalah ciri khas posisi duduk ini.

Sekali lagi, ini adalah kata orang. Jadi, agar Anda tidak dibilang ‘anak kemarin sore’, jangan mengambil posisi duduk ini! Bukankah seisi restoran akan mengejek Anda dalam hati “Hmm deloken pacar anyar!”.

***

Kedua posisi duduk ini seyogyanya adalah cerminan persepsi masyarakat. Karena apa yang kita lakukan pada orang terdekat dibangun oleh konstruksi sosial yang terus-menerus ditularkan pada kita sejak jabang bayi. Bahwa berpacaran yang baik dan benar adalah ‘duduk berdampingan’ atau ‘duduk bersebelahan’ adalah budaya dan kepercayaan masing-masing keluarga.

Yang lebih menyeramkan, orang lain ternyata dapat menakar seberapa lama Anda menjalin hubungan dengan pasangan hanya dari posisi duduk Anda dan pasangan. Anda tidak pernah tahu, ada berapa juta pasang mata yang mengamati Anda. Kalau tidak terlalu lama, berarti tidak terlampau susah untuk ditikung. Kalau hubungan sudah ‘duduk berdampingan’, handai taulan kudu mengeluarkan jurus ‘jaran goyang’.

Posisi duduk ini nyatanya juga tidak memperbanyak dirinya sendiri dengan berbagai varian. Dari zaman ayah-ibu hingga anak-cucu kita nanti, rupanya dua posisi ini masih saja jadi tradisi. Rakyat ini hanya akan terbelah menjadi dua kutub tanpa ada kreativitas.

Toh ketika sajian hadir di atas meja, mau apapun posisi duduknya, kedua manusia sama-sama menyantapnya sampai tiada bersisa. Seharusnya, masyarakat bisa menciptakan mitos baru, ‘barangsiapa yang menghabiskan makanan terlebih dahulu dengan ekspresi paling lega, dialah yang dibayari’.

Pun rumusan posisi duduk pasangan ini barangkali berlaku sama hukumnya pada pasangan calon kepala daerah, calon mitra bisnis, calon menantu, dan calon mahasiswa yang meminta kursi duluan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Parade Isu Seksi Jelang Peringatan G30S 0 70

Helloh gess, September telah tiba. Ini bulannya hura-hura tentang trauma. Pasti kamu sudah hapal: sebentar lagi kita akan menyimak debat seolah-olah tentang peristiwa 1965. Tapi sedihnya, tulisan ini bukan ke sana.

Kita akan mencoba merunut isu-isu apa yang hadir, coba dihadirkan, atau dipaksa dihadirkan, menjelang peringatan G30S. Isu-isu yang, yaaa, sesuai tradisi, akan memanas dan sering setiap tahunnya merepotkan rejim. Berikut isunya:

  • Perpindahan Ibukota
  • Livi Zheng
  • Djarum yang disetop audisinya oleh KPAI
  • Jokowi main sama putunya
  • Iuran BPJS naik
  • Esemka diresmikan

Apalagi gess?

Ohya, ini penting karena beberapa sebab. Pertama, mengamati isu-isu “tak penting” justru menjadi sangat penting hari ini untuk melihat bagaimana strategi kekuasaan memainkan lalu-lintas diskusi dan menginterupsi tiap isu. Kalau ente jeli, akan tampak bagaimana pengendalian atas persepsi kita dimainkan dan dikonsentrasikan pada hal-hal tertentu, agar hal-hal lain dapat diminimalkan dampaknya.

Tentu saja arahnya dapat ditebak: mendebat Livi Zheng jauh lebih aman ketimbang ente didatangi Kivlan Zen untuk membeberkan rencana kebangkitan PKI. Atau bicara memindah ibukota lebih asyik daripada memperdebatkan jumlah korban sebetulnya pada genosida 65 duluuu sekali.

Kedua, dari isu-isu tersebut, kesemuanya saksess menjadi tren perbincangan. Esemka, BPJS, dan Ibukota berkaitan langsung dengan agenda pemerintah. Perpindahan ibukota yang terparah, terlalu kentara digunakan sebagai “umpan peluru”, seolah-olah ide ini dilempar untuk dihabisi. BPJS dan Esemka sebelas dua belas, memancing sekaligus mengepung orang dengan kontroversi agar terus-menerus diperdebatkan.

Jadi, mari nanti kita tengok menjelang tumbangnya waktu dan mendekatnya tanggal 30, barang sampah apa saja yang akan dihamburkan oleh media kita.

Tapi toh dibawa santai saja! Kadang-kadang terlalu serius juga tak baik bagi kesehatan jiwa.

 

Annabelle Rukhiyat

Selain menekuni permakelaran tanah, penulis juga magang sebagai penjaga ponten.

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 102

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Editor Picks