Prinsip Mengunggah Nomor Satu: Nyinyir Boleh, Goblok Jangan! 0 860

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Sebagai pembukaan, penulis akan menggambarkan satu kisah soal pembunuh—atau pahlawan versi penguasa, yang sempat membuat geger publik di tahun 2012 lalu. Dalam dokumenter kontroversial The Act of Killing, Anwar Congo diceritakan memimpin pembantaian pada para anggota dan yang diduga terlibat dalam Partai Komunis Indonesia. Singkat cerita, ia dengan bangganya mengakui pembunuhan itu dan rela memperagakan kronologisnya—keseluruhan film berkutat pada dirinya.

Beberapa tahun setelah film dirilis, seorang wartawan Al-Jazeera mendatanginya dan mempertemukannya dengan sutradara Joshua Oppenheimer via Skype. Terjadi dialog antar keduanya hingga akhirnya Anwar mengungkapkan bahwa bagaimanapun, film itu telah menempatkannya dalam posisi sulit. Sosok sadisnya di masa lampau telah merasuk ke dalam persepsi banyak masyarakat. Meski ia sudah menyesali perbuatannya melalui pernyataan di film, namun toh pada akhirnya masyarakat telah benar-benar mengutuk perilaku kejinya itu.

Anwar Congo tak punya pertolongan apapun, saat menyadari sutradara dan para krunya ialah warga negara asing. Mereka aman di luar sana, meninggalkan sang tokoh film yang dihakimi tanpa ampun oleh berbagai media.

Tak jauh berbeda dengan berbagai konten amatir yang lantas viral, disukai netijen karena bisa panen meme membangun kesadaran, atau hanya sebagai bahan guyonan. Terkadang konten itu berisi peringatan yang berisi foto pelaku pelecehan seksual, sejoli yang ketahuan mengadu kasih (entah apapun bentuknya), sampai ihwal paling iseng sekalipun.

Dalam situasi ini, maka ‘digebuki massa’ adalah peristiwa yang mutlak dan tak ada satupun aparat mampu mencegahnya. Ada yang ikut-ikutan menghujat, mengutuk, bahkan sampai menggunakan ayat tertentu; ada pula yang bijak menanggapi. Padahal, belum tentu unggahan itu akan diketahui oleh pelaku—atau siapapun yang mampang disana, atau siapapun orang terdekat mereka. Bisa jadi, tujuan dari konten itu melenceng sedari awal: dari menyadarkan menjadi menghakimi pihak bersangkutan.

Jika sudah seperti itu, bukankah ia termasuk penyerangan kesan secara ghoib dan naif?

Seorang pelaku dengan kekhilafan tertentu mungkin saja sudah menyadari kesalahannya saat itu. Namun melalui unggahan—yang telah disebar ribuan kali—boleh jadi kasusnya tidak berhenti di sana. Ia makin menimbulkan umpatan dan olok-olok dari para netijen yang umumnya tak suka membaca dengan baik. Kesan negatif yang massif berhasil dibangun hanya oleh satu perkara yang juga tidak berbuntut solusi bagi pelaku. (Lalu mereka masih membicarakan keadilan?)

Kasus pertama masih bisa dimaklumi bila pelaku memang terbukti merugikan, itu pun harus diuji dengan beragam perspektif. Tetapi, apakah berpacaran di bangku taman layaknya adegan drama Korea adalah tindakan yang imoril, sehingga musti dihakimi via online? Apakah ada indikator yang menyatakan suatu tindakan disebut asusila?

Pun bila memang keduanya terbukti, sependek itukah garis nafsu kita untuk sampai melarang hak orang lain?

Ini bukan soal pembelaan pada kekhilafan orang-orang. Hanya saja, akal sehat kita nampaknya perlu dirawat agar tak ikut-ikutan menghujat orang lain. Tentu, mengingatkan secara langsung terlihat lebih bijaksana ketimbang membuat kesan mereka hancur di tangan netijen.

Selain menghujat, selera humor masyarakat kita juga butuh rehabilitasi. Beragam foto maupun video yang bertebaran di internet sering memanfaatkan kekonyolan dan ketidaktahuan seseorang. Saking kreatifnya, para netijen dengan sigap akan menghasilkannya sebagai sebuah meme. Ini merupakan satu upaya untuk menyelamatkan iklim internet yang demokratis, namun di sisi lain berpotensi membumihanguskan citra seseorang.

Sebagai penutup, penulis ingin sok bijaksana dengan memberi ajakan: mari kita menutup tahun ini beserta segala kependekan akal sehat dalam berpendapat; namun jangan berhenti berpendapat.

Nyinyir boleh, goblok jangan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Kamuh yang Anti Incess Syahrini 0 227

Sebagai tim pembela Syahrini yang fanatik, akhirnya saya toh harus angkat bicara. Saya tak punya kalimat pembuka yang paling kuat selain manifesto ini: kamuh-kamuh yang dibeking Luna Maya itu sudah melakukan penistaan kelas berat kepada Princess kami!

Bagaimana mungkin cinta Princess diatur-atur? Bukankah Aa Reino Barack sudah memberi komitmennya kepada Incess kami dan bukan Luna Maya[k]?

Sini, kuberitahu pelajaran berharga dan prinsip nomor satu: manusia tak punya kekuatan barang sedikitpun untuk menyetir cinta sesamanya. Tak pernah ada agama yang berani memasang badan untuk sebuah keyakinan atas Tuhan yang melepaskan diri dari tanggung jawab atas perasaan dan hati umatnya. Bahkan Habibana Rizieq saja, di masa belio masih sehat dan bebas (ehem), tak pernah menggugat soal ini.

Oh ya, lupa, tapi ini dengan asumsi bahwa ikatan Syahrini-Reino sungguh karena cinta loh yaa. Dan tentu saja saya harus yakin bahwa cinta mereka sungguhlah ada dan bukan sekadar rupiah belaka. BUKAN SEKADAR.

Sudahlah, mending situ kembali ke habitat nggak mutu dan ekosistem receh yang sudah situ hidupi bertahun-tahun. Dari orang-orang macam ini, yang hidupnya Senin-Kemis itu, apa kapasitasnya mengomentari—apalagi menista—junjungan kami Fatimah Syahrini Jaelani yang termasyhur? Hidupnya berantakan kok berani-berani menakar kadar cinta idola? Apakah mereka tak pernah menghayati lagu “Sesuatuuuuu” yang sungguh populer di kalangan [k]anak muda itu?

Telah terpampang nyata dalam khatulistiwa perasaan seluruh umat Indonesia bahwa Incess adalah salah seorang yang amat berpengaruh. Dan pengaruh itu merentang sampai pada bagaimana kita menyibukkan diri dalam menolak atau membelanya. Merepotkan diri dalam nyinyir dan puja-puji. Seperti surat terbuka ini…

(Surat ini dibuka dengan gairah menyala tapi ditutup dengan loyo… Sudahlah, namanya juga hidup: antara pesona dan derita kadang beda tipis bingit).

 

Salam hangat,

dari pemuja Syahrini di suatu sore yang murungnya mewakili hati Luna Maya. (Bingung yo ben.)

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 191

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Editor Picks