Prinsip Mengunggah Nomor Satu: Nyinyir Boleh, Goblok Jangan! 0 991

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Sebagai pembukaan, penulis akan menggambarkan satu kisah soal pembunuh—atau pahlawan versi penguasa, yang sempat membuat geger publik di tahun 2012 lalu. Dalam dokumenter kontroversial The Act of Killing, Anwar Congo diceritakan memimpin pembantaian pada para anggota dan yang diduga terlibat dalam Partai Komunis Indonesia. Singkat cerita, ia dengan bangganya mengakui pembunuhan itu dan rela memperagakan kronologisnya—keseluruhan film berkutat pada dirinya.

Beberapa tahun setelah film dirilis, seorang wartawan Al-Jazeera mendatanginya dan mempertemukannya dengan sutradara Joshua Oppenheimer via Skype. Terjadi dialog antar keduanya hingga akhirnya Anwar mengungkapkan bahwa bagaimanapun, film itu telah menempatkannya dalam posisi sulit. Sosok sadisnya di masa lampau telah merasuk ke dalam persepsi banyak masyarakat. Meski ia sudah menyesali perbuatannya melalui pernyataan di film, namun toh pada akhirnya masyarakat telah benar-benar mengutuk perilaku kejinya itu.

Anwar Congo tak punya pertolongan apapun, saat menyadari sutradara dan para krunya ialah warga negara asing. Mereka aman di luar sana, meninggalkan sang tokoh film yang dihakimi tanpa ampun oleh berbagai media.

Tak jauh berbeda dengan berbagai konten amatir yang lantas viral, disukai netijen karena bisa panen meme membangun kesadaran, atau hanya sebagai bahan guyonan. Terkadang konten itu berisi peringatan yang berisi foto pelaku pelecehan seksual, sejoli yang ketahuan mengadu kasih (entah apapun bentuknya), sampai ihwal paling iseng sekalipun.

Dalam situasi ini, maka ‘digebuki massa’ adalah peristiwa yang mutlak dan tak ada satupun aparat mampu mencegahnya. Ada yang ikut-ikutan menghujat, mengutuk, bahkan sampai menggunakan ayat tertentu; ada pula yang bijak menanggapi. Padahal, belum tentu unggahan itu akan diketahui oleh pelaku—atau siapapun yang mampang disana, atau siapapun orang terdekat mereka. Bisa jadi, tujuan dari konten itu melenceng sedari awal: dari menyadarkan menjadi menghakimi pihak bersangkutan.

Jika sudah seperti itu, bukankah ia termasuk penyerangan kesan secara ghoib dan naif?

Seorang pelaku dengan kekhilafan tertentu mungkin saja sudah menyadari kesalahannya saat itu. Namun melalui unggahan—yang telah disebar ribuan kali—boleh jadi kasusnya tidak berhenti di sana. Ia makin menimbulkan umpatan dan olok-olok dari para netijen yang umumnya tak suka membaca dengan baik. Kesan negatif yang massif berhasil dibangun hanya oleh satu perkara yang juga tidak berbuntut solusi bagi pelaku. (Lalu mereka masih membicarakan keadilan?)

Kasus pertama masih bisa dimaklumi bila pelaku memang terbukti merugikan, itu pun harus diuji dengan beragam perspektif. Tetapi, apakah berpacaran di bangku taman layaknya adegan drama Korea adalah tindakan yang imoril, sehingga musti dihakimi via online? Apakah ada indikator yang menyatakan suatu tindakan disebut asusila?

Pun bila memang keduanya terbukti, sependek itukah garis nafsu kita untuk sampai melarang hak orang lain?

Ini bukan soal pembelaan pada kekhilafan orang-orang. Hanya saja, akal sehat kita nampaknya perlu dirawat agar tak ikut-ikutan menghujat orang lain. Tentu, mengingatkan secara langsung terlihat lebih bijaksana ketimbang membuat kesan mereka hancur di tangan netijen.

Selain menghujat, selera humor masyarakat kita juga butuh rehabilitasi. Beragam foto maupun video yang bertebaran di internet sering memanfaatkan kekonyolan dan ketidaktahuan seseorang. Saking kreatifnya, para netijen dengan sigap akan menghasilkannya sebagai sebuah meme. Ini merupakan satu upaya untuk menyelamatkan iklim internet yang demokratis, namun di sisi lain berpotensi membumihanguskan citra seseorang.

Sebagai penutup, penulis ingin sok bijaksana dengan memberi ajakan: mari kita menutup tahun ini beserta segala kependekan akal sehat dalam berpendapat; namun jangan berhenti berpendapat.

Nyinyir boleh, goblok jangan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Perlunya Studi Banding dengan Oppa Seungri 0 310

Oleh: Michelle Florencia*

Sebelumnya, tulisan ini bukan untuk membela Seungri ‘BIGBANG’. #sekadarmengingatkan.

Sekitar tiga atau dua bulan terakhir ini, K-Popers generasi dua (sing wis rodok tuek) pasti sedang sibuk menonton the real-life Korean drama yang sungguh membikin syok sekaligus miris. Apalagi kalau bukan drama skandal salah satu personel boygroup ‘BIGBANG’, Seungri?

Member termuda ini terlibat dalam skandal suap, peredaran narkoba di dalam klub malam Burning Sun, kekerasan, pelecehan seksual, lobi investor dengan jasa escorts, hingga kabarnya ia juga nyambih jadi germo.

Pada awalnya, masih banyak fans yang memberi dukungan pada Seungri untuk tetap kuat kala menghadapi masalah ini (termasuk saya). Apalagi, Seungri berjanji akan kooperatif menjalani pemeriksaan. Namun, semakin dikupas, semakin terlihat boroknya. Rupanya kasus ini tak sesepele yang saya kira.

Kalau pembaca yang budiman membaca isi grup chat Seungri dan kawan-kawan di Kakao Talk, sungguh biadab apa yang mereka lakukan kepada para perempuan muda yang dijadikan alat pemuas hasrat seksual mereka. Tak heran bila saat ini, Seungri menjadi manusia paling dibenci di Korea Selatan dan di-bully habis-habisan oleh netijen, terutama netijen Korea yang terkenal jahanamnya.

Seperti sewajarnya manusia normal yang terkena masalah–apalagi menjadi pemberitaan di seantero bumi–Seungri tampil di publik dengan wajah pucat dan terlihat ketakutan. Seungri yang biasanya cerewet, kini hanya berbicara seadanya. Saat pria yang dijuluki ‘Panda’ ini berada di kantor polisi untuk menjalani pemeriksaan, ia meminta maaf atas keributan yang ia buat. Meski secara implisit ia membela dirinya tak bersalah, ia mengatakan akan kooperatif untuk membantu polisi menyelesaikan kasus ini.

Terlepas tulus tidaknya, setidaknya Seungri masih tahu diri. Sesuai dengan judul yang diharapkan click-bait ini, mari kita bandingkan Seungri dengan para manusia kulit tebal berrompi oranye, alias tersangka KPK.

Janganlah ngarep mereka mengatakan mau kooperatif dalam penyidikan, malu saja tidak! Eh, malah cengengesan dan ngaku-ngaku dizolimi. Yang paling ekstrem, ada yang sampai produksi drama nabrak tiang listrik dengan benjol segede bakpao Chik-Yen (iku benjol opo tumor?). Saya rasa tak usah disebut namanya, toh para pembaca pasti otomatis tahu yang saya maksud ini Setya Novanto.

Kalau Seungri, beberapa minggu setelah kemunculannya di kantor polisi, dikeluarkannyalah sebuah berita yang mengguncang cakrawala dunia maya. Lewat akun Instagram pribadinya, ia mengumumkan mundur dari industri hiburan. Alasannya pensiun dari dunia yang membesarkan namanya itu tak lain, tak bukan, dan memang benar karena mega-skandalnya. Bahkan, rumor yang beredar, ia bukan secara sukarelawan keluar dari dunia hiburan, namun dikeluarkan oleh agensinya, YG Entertainment. Terlepas sukarela atau dipecat, setidaknya Seungri menampilkan dirinya di depan publik sebagai sosok yang tahu diri.

Sungguh mahaironis dengan yang terjadi di negara kita yang masih ber-flower alias berkembang ini. Apabila Seungri cabut dari karirnya sebagai artis lantaran sadar bahwa dosanya tak terampuni, eh lah kok mantan napi korupsi Endonesah malah dengan pedenya nyaleg? Ditandatangani pula oleh ketua partai.

Bahkan, meskipun ICW (Indonesia Corruption Watch) sudah mengumumkan daftar nama para mantan napi, dan netijen juga sudah bereaksi—perlu diingat, netijen Indonesia hampir sama jahanamnya dengan netijen Korea—tak satupun dari mereka ada yang malu dan mundur nyaleg! Alemong!

Memang KPU tidak membuat peraturan yang melarang mantan napi nyaleg, tapi ini masalah malu dan tahu diri, coy! Kalau Prabowo and the gang teriaknya Indonesia krisis keuangan, sesungguhnya, yang lebih darurat kita hadapi ini krisis malu dan tahu diri!

Bayangkan, bagaimana bisa mereka tahu tugas sebagai anggota legislatif kalau diri saja tidak tahu? Apa ‘malu’ dan ‘tahu diri’ sudah digadaikan untuk mencari modal politik? Mohon presiden berikutnya mengimpor malu, jika berkenan, karena realitanya pejabat kita masih banyak yang kekurangan stok malu.

Asu-dahlah, saya akhiri saja ke-julid-an ini. Sebab kalau dilanjutkan, eyke takut tercyduq polisi dengan bekal tuduhan UU ITE. Gitu, shay

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Surat Terbuka untuk Kamuh yang Anti Incess Syahrini 0 325

Sebagai tim pembela Syahrini yang fanatik, akhirnya saya toh harus angkat bicara. Saya tak punya kalimat pembuka yang paling kuat selain manifesto ini: kamuh-kamuh yang dibeking Luna Maya itu sudah melakukan penistaan kelas berat kepada Princess kami!

Bagaimana mungkin cinta Princess diatur-atur? Bukankah Aa Reino Barack sudah memberi komitmennya kepada Incess kami dan bukan Luna Maya[k]?

Sini, kuberitahu pelajaran berharga dan prinsip nomor satu: manusia tak punya kekuatan barang sedikitpun untuk menyetir cinta sesamanya. Tak pernah ada agama yang berani memasang badan untuk sebuah keyakinan atas Tuhan yang melepaskan diri dari tanggung jawab atas perasaan dan hati umatnya. Bahkan Habibana Rizieq saja, di masa belio masih sehat dan bebas (ehem), tak pernah menggugat soal ini.

Oh ya, lupa, tapi ini dengan asumsi bahwa ikatan Syahrini-Reino sungguh karena cinta loh yaa. Dan tentu saja saya harus yakin bahwa cinta mereka sungguhlah ada dan bukan sekadar rupiah belaka. BUKAN SEKADAR.

Sudahlah, mending situ kembali ke habitat nggak mutu dan ekosistem receh yang sudah situ hidupi bertahun-tahun. Dari orang-orang macam ini, yang hidupnya Senin-Kemis itu, apa kapasitasnya mengomentari—apalagi menista—junjungan kami Fatimah Syahrini Jaelani yang termasyhur? Hidupnya berantakan kok berani-berani menakar kadar cinta idola? Apakah mereka tak pernah menghayati lagu “Sesuatuuuuu” yang sungguh populer di kalangan [k]anak muda itu?

Telah terpampang nyata dalam khatulistiwa perasaan seluruh umat Indonesia bahwa Incess adalah salah seorang yang amat berpengaruh. Dan pengaruh itu merentang sampai pada bagaimana kita menyibukkan diri dalam menolak atau membelanya. Merepotkan diri dalam nyinyir dan puja-puji. Seperti surat terbuka ini…

(Surat ini dibuka dengan gairah menyala tapi ditutup dengan loyo… Sudahlah, namanya juga hidup: antara pesona dan derita kadang beda tipis bingit).

 

Salam hangat,

dari pemuja Syahrini di suatu sore yang murungnya mewakili hati Luna Maya. (Bingung yo ben.)

Editor Picks