Prinsip Mengunggah Nomor Satu: Nyinyir Boleh, Goblok Jangan! 0 1226

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Sebagai pembukaan, penulis akan menggambarkan satu kisah soal pembunuh—atau pahlawan versi penguasa, yang sempat membuat geger publik di tahun 2012 lalu. Dalam dokumenter kontroversial The Act of Killing, Anwar Congo diceritakan memimpin pembantaian pada para anggota dan yang diduga terlibat dalam Partai Komunis Indonesia. Singkat cerita, ia dengan bangganya mengakui pembunuhan itu dan rela memperagakan kronologisnya—keseluruhan film berkutat pada dirinya.

Beberapa tahun setelah film dirilis, seorang wartawan Al-Jazeera mendatanginya dan mempertemukannya dengan sutradara Joshua Oppenheimer via Skype. Terjadi dialog antar keduanya hingga akhirnya Anwar mengungkapkan bahwa bagaimanapun, film itu telah menempatkannya dalam posisi sulit. Sosok sadisnya di masa lampau telah merasuk ke dalam persepsi banyak masyarakat. Meski ia sudah menyesali perbuatannya melalui pernyataan di film, namun toh pada akhirnya masyarakat telah benar-benar mengutuk perilaku kejinya itu.

Anwar Congo tak punya pertolongan apapun, saat menyadari sutradara dan para krunya ialah warga negara asing. Mereka aman di luar sana, meninggalkan sang tokoh film yang dihakimi tanpa ampun oleh berbagai media.

Tak jauh berbeda dengan berbagai konten amatir yang lantas viral, disukai netijen karena bisa panen meme membangun kesadaran, atau hanya sebagai bahan guyonan. Terkadang konten itu berisi peringatan yang berisi foto pelaku pelecehan seksual, sejoli yang ketahuan mengadu kasih (entah apapun bentuknya), sampai ihwal paling iseng sekalipun.

Dalam situasi ini, maka ‘digebuki massa’ adalah peristiwa yang mutlak dan tak ada satupun aparat mampu mencegahnya. Ada yang ikut-ikutan menghujat, mengutuk, bahkan sampai menggunakan ayat tertentu; ada pula yang bijak menanggapi. Padahal, belum tentu unggahan itu akan diketahui oleh pelaku—atau siapapun yang mampang disana, atau siapapun orang terdekat mereka. Bisa jadi, tujuan dari konten itu melenceng sedari awal: dari menyadarkan menjadi menghakimi pihak bersangkutan.

Jika sudah seperti itu, bukankah ia termasuk penyerangan kesan secara ghoib dan naif?

Seorang pelaku dengan kekhilafan tertentu mungkin saja sudah menyadari kesalahannya saat itu. Namun melalui unggahan—yang telah disebar ribuan kali—boleh jadi kasusnya tidak berhenti di sana. Ia makin menimbulkan umpatan dan olok-olok dari para netijen yang umumnya tak suka membaca dengan baik. Kesan negatif yang massif berhasil dibangun hanya oleh satu perkara yang juga tidak berbuntut solusi bagi pelaku. (Lalu mereka masih membicarakan keadilan?)

Kasus pertama masih bisa dimaklumi bila pelaku memang terbukti merugikan, itu pun harus diuji dengan beragam perspektif. Tetapi, apakah berpacaran di bangku taman layaknya adegan drama Korea adalah tindakan yang imoril, sehingga musti dihakimi via online? Apakah ada indikator yang menyatakan suatu tindakan disebut asusila?

Pun bila memang keduanya terbukti, sependek itukah garis nafsu kita untuk sampai melarang hak orang lain?

Ini bukan soal pembelaan pada kekhilafan orang-orang. Hanya saja, akal sehat kita nampaknya perlu dirawat agar tak ikut-ikutan menghujat orang lain. Tentu, mengingatkan secara langsung terlihat lebih bijaksana ketimbang membuat kesan mereka hancur di tangan netijen.

Selain menghujat, selera humor masyarakat kita juga butuh rehabilitasi. Beragam foto maupun video yang bertebaran di internet sering memanfaatkan kekonyolan dan ketidaktahuan seseorang. Saking kreatifnya, para netijen dengan sigap akan menghasilkannya sebagai sebuah meme. Ini merupakan satu upaya untuk menyelamatkan iklim internet yang demokratis, namun di sisi lain berpotensi membumihanguskan citra seseorang.

Sebagai penutup, penulis ingin sok bijaksana dengan memberi ajakan: mari kita menutup tahun ini beserta segala kependekan akal sehat dalam berpendapat; namun jangan berhenti berpendapat.

Nyinyir boleh, goblok jangan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tak Ada Kejutan di Comeback Tonight Show 0 220

“Tonight’s mania??? Mantap!!”

Slogan begini sudah bisa ditemui lagi di layar kaca, ya? Bukannya kemarin sedih-sedihan setelah 7 tahun beracara dan malah berpamitan?

1 Juni kemarin acara Tonight Show di stasiun televisi yang mengklaim dirinya sebagai “masa kini” sudah bisa kembali dinikmati pemirsa. Memenuhi keinginan penonton garis kerasnya yang minta ditayangkan lagi barangkali menjadi salah satu alasan.

Sebelum wajah barunya yang sekarang, Tonight Show versi Indonesia – kita semua tahu kan, ada Tonight Show with Jimmy Fallon versi NBC – ini sudah berkali-kali ganti formasi. Sempat dibawakan oleh Arie Untung, juga diisi Aurellie sebagai co-host. Hingga akhirnya formasi yang empat orang sekarang ini – Vincent, Desta, Heti, Enzy – menjadi yang katanya paling difavoritkan penonton.

Perlu diakui memang, kemistri di antara mereka seakan nampak nyata di depan kamera. Kata netijen “ketawanya nular”. Tipikal host rame-an yang banyak melempar joke internal, namun mampu dipahami se-Indonesia raya.

Saat mengaku pamit 25 April lalu, mereka sebetulnya tidak benar-benar hilang dari peredaran dunia hiburan. Mereka membangun platform online, menghelat channel Youtube, yang belum ada kontennya saja sudah meraup 500 ribu lebih subscribers. Beda jauh kan sama kalian yang sudah tahunan juga subscribernya segitu-segitu aja. Thanks to nama besar dan popularitas.

Selama bulan puasa kemarin, mereka rajin menggelar live streaming dengan maksud menyapa para fans yang terkenal militan. Fans-nya bukanlah sebuah fandom biasa. Mereka bukan hanya yang setia menonton dan menunggu live Youtube, tapi bahkan telah berkumpul, saling bertemu, dan menggelar aksi penggalangan dana dalam rangka penanggulangan dampak pandemi.

Keempat figur publik ini sadar, bahwa televisi bukanlah satu-satunya yang bisa diandalkan di hari-hari ini. Bahwa semua saja harus mulai merayu pengguna dunia maya, memperkenalkan diri, membangun kerajaan bisnis di dalamnya.

Jika dulu “waktu” adalah musuh paling kuat di dunia, kini ia disubstitusi oleh “netijen”. Sebab netijen lah yang punya kemerdekaan menentukan jenis tayangan apa yang hendak ditonton, kapan dan di mana akan menyaksikannya. Konsekuensinya tentu pula menentukan nasib hajat hidup pekerja dunia hiburan.

Hal ini pun sudah disadari perusahaan media televisi. Pemilihan jam tayang di pukul 7 malam alias prime time, mengadu domba penonton sinetron dan acara dengan penonton bayaran di channel sebelah, bukan tanpa alasan. Mereka sadar betul, segmentasi penonton mereka adalah masyarakat urban penggemar on demand, TV kabel atau Youtube.

Tenang. Mereka tahu betul strategi apa yang harus diambil dalam perang ini. Bintang tamu dipilih dengan seksama.  Nassar saat tayangan edisi lebaran dan Rina Nose di pembukaan Juni. Merekalah yang punya daya tarik, yang mampu menggoda penonton untuk mengambil remot TV, yang membuat penonton mengganti channel demi seorang idola.

Selamat datang Iis Dahlia, Soimah, Raffi Ahmad, Ruben Onsu, dan Vicky Prasetyo! Bukan tidak mungkin kan, mereka adalah alternatif bintang tamu selanjutnya?

Dalam peperangan ini, musuh program-program televisi adalah mereka yang jatuh dalam dunia streaming dan anti-FTA (free to air). Sesungguhnya segala ragam games atau pertaruhan menggelar gimmick akan sia-sia belaka di hadapan kuasa netijen.

Musuh media mainstream kini adalah media online, sang adikuasa yang tak masuk hitungan rating and share Nielsen. Pilihannya ada dua: adaptasi atau mati.

Pada akhirnya, Tonight Show adalah satu lagi catatan tentang media kita yang berdilema antara bisnis dan idealis. Tidak ada yang baru bukan? Tak ada yang mengejutkan.

Bagaimana Seharusnya Kita Tanggapi Pelantikan Menteri 0 296

Kita semua setuju 2 hal ini sebagai persoalan utama bangsa:
1. Mau keluar dari grup Whatsapp, tapi sungkan, akhirnya di-mute aja
2. Pilpres-pilpresan nan sangat melelahkan

Bagaimana tidak? Proses dari penentuan capres-cawapres, kampanye, pemilu, sampai finalisasi kabinet memakan waktu lebih dari 1 tahun, terlama sepanjang sejarah. Pemilu periode ini memang yang terbesar korbannya, yang harus dicatat dalam sejarah.

Pun harus dicatat pula bahwa kali ini, baik eksekutif maupun legislatif pilihan kalean semuah, diisi orang-orang dari partai sama di pucuk pimpinannya. Kecuali MPR, yang yaaah… ketuanya juga dari kubu koalisi.

Beli 01, gratis 02. Begitu katanya arek-arek di social media. Prabowo, capres 2 periode berturut-turut yang sangat macho dan mantap jadi oposisi selama ini, kini “ciut”, memilih “bertahan hidup”, naik satu “gerbong (MRT)” yang sama dengan lawannya, Jokowi, di Kabinet Indonesia Maju.

Keputusan petinggi Gerindra tersebut, yang jelas menyuratkan sikap politik partai ini, menghasilkan reaksi dari rakyat. Ada yang kecewa berat, ada pula yang kecewa sangat berat.

Yang kecewa-kecewa itu kebanyakan mengimpikan Prabowo, pahlawan junjungannya itu, tetap jadi oposisi saja. Tentu tetap dengan semangat mempertahankan check and balances agar tetap berjalan di pemerintahan. Eh, tapi ujung-ujungnya si doi luluh juga, merapat ke sisi istana.

Walau begitu, Prabowo dan kawan-kawan Gerindra-nya berjanji untuk tetap kritis walau mendukung pemerintahan. Sungguh sebuah semangat dan prinsip yang patriotik. Walau kita tak tahu, apa dan bagaimana definisi serta batasan “sikap kritis” itu.

Tak hanya Prabowo, sejumlah deretan menteri yang diumumkan 3 hari sesudah pelantikan Jokowi-Ma’ruf ini, membuat netijen kaget… dan nyinyir.

Nadiem Makarim, yang tak punya bekgron tersertifikasi di bidang pendidikan dan kebudayaan itu, justru jadi Mendikbud. Zainudin Amali, yang suka jalan pagi dan berenang itu, ditunjuk jadi Menpora. Bu Susi, putri laut kebanggaan rakjat itu, tak melaju lagi dan alih-alih kursinya diisi Edhy Prabowo, waketum Gerindra.

Hal paling memuakkan bagi saya bukanlah soal masih banyak deretan nama lain yang mengejutkan. Tapi, karena kita semua merasa tiba-tiba paling mahir menganalisa wawasan dan kapabilitas bapak-ibu menteri ini. Kita tiba-tiba menjadi paling ahli di antara yang ahli.

Seluruh warga dunia maya kini merasa punya kekuatan untuk mengemukakan pendapatnya. Nge-twit, bikin status, bikin video klarifikasi, membuat daftar nama ideal yang seharusnya dipilih Jokowi. Tak peduli itu masih bursa calon, atau bahkan setelah pelantikan sekalipun.

Kenapa kok yang ini gak dipertahankan dan malah didepak? Padahal bagus banget loh kerjanya.”

“Kenapa Jokowi tetep milih si ini sih?

Ocehan-ocehan kayak begini bahkan tak hanya muncul di linimasa media sosial, atau bertengger di grup Whatsapp yang kita sungkan buat keluarnya.

Masih mending kalau argumen yang disampaikan didasari analisis track record dan tantangan bidang yang bersangkutan dalam kondisi terkini. Lah wong kadang penilaiannya sangat subjektif. Bahkan terkesam memendam dendam kesumat pada sebagian orang yang sempat dikenal secara personal.

Seberapa jauh sih kalian kenal mereka dan pemetaan kursi menteri? Seberapa jauh pengamatan kalian pada latar belakang situasi kondisi, persoalan, dan tantangan bidang-bidang kementerian?

Mereka yang hari ini telah dilantik telah menunjukkan performa terbaiknya. Entah berhasil berprestasi di periode sebelumnya, hingga dipinang jadi menteri lagi. Entah karena telah bertekun dalam bidang profesinya. Atau karena pandai memanfaatkan resources dan lobi-lobian politik.

Satu-satunya cara untuk bisa menilai menteri sesungguhnya hanya dari hasil karyanya nanti. Pun reshuffle-reshuffle-an tak bisa jadi ukuran. Siapa yang pernah tahu kalau reshuffle bukan semata-mata karena “kemandulan” produktivitas menteri? Bisa jadi kan karena konsensus dan sikut-menyikut koalisi-oposisi parpol?

Lantas apa yang bisa kita lakukan sebagai bangsa? Apakah diam saja dan tak boleh proaktif mengawal pemerintah?

Demokratis boleh, sok tahu jangan. Ati-ati aja. Negara mana sih yang suka rakyatnya terlalu pinter? Apa-apa yang ‘terlalu’ itu gak baik bagi kesehatan.

Pada akhirnya, hidup bernegara ini memang harus dihadapi dengan santuy. Jangan terlalu banyak mikiri! Apa gak capek 1 tahun belakangan ini ngurusi Jokowi terooooos?

Mari kita senderkan punggung, nonton sertijab menteri-menteri ini dari layar kaca! Sembari menikmati buah salak yang dikupas Nia Ramadhani.

 

Foto: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia (setneg.go.id)

Editor Picks