Barang Diskonan dan Dendam Akhir Tahun 0 644

Akan terlalu sederhana apabila kita memaknai tahun baru hanya sekedar sebagai momentum berlibur. Banyak perihal hidup yang perlu pertimbangan untuk diusaikan atau diteruskan. Adapun yang butuh diistirahatkan pada tahun ini ialah dendam. Istirahatlah dendam-dendam. Kita sepakat kurang lebih dua tahun terakhir banyak situasi yang memaksa kita menjadi pendendam – ada pula sekelompok orang yang menawarkan dirinya dalam ingatan kita untuk diletakkan sebagai objek dendam.

Bahkan mungkin beberapa dari mereka memaksa kita membuat agenda untuk pembalasan di tahun selanjutnya. Boleh dibilang itu kurang baik. Dunia semakin purba, bahasa-bahasa semakin sulit dimengerti, pengetahuan semakin banyak melahirkan teknologi, teknologi semakin banyak membatasi pengetahuan: hidup semakin rumit meski pada titik tertentu kerap memaksa kita menyederhanakannya – dan menanam dendam akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Pengecualian untuk para pendendam Ria Ricis, pertahankan.

Jadi Begini

Tahun lalu ketika mendekati perayaan 2017, di kota saya – Mataram, gencar sekali pertokoan membuka diskon besar-besaran untuk setiap produknya. Bahkan untuk barang-barang yang selalu hilang ketika dibutuhkan: Lem, Centong, Potongan Kuku, Kaos Kaki, dsb. Seorang teman, mendapatkan sepatu seharga hanya tiga ratus ribu dari yang semulanya sejumlah besar sembilan ratus ribu. Selain berjudul diskon akhir tahun, ada pula para pedagang yang menggunakan dalih cuci gudang sebagai nilai tawar pada konsumen; Semua produk di bawah sepuluh ribu; Kami cuci gudang, Anda mengisi gudang. Sungguh mantra-mantra yang menggiurkan.

Di kemudian hari – kita sebut saja Wahyu – Wahyu gemar sekali memamerkan barang baru yang ia miliki, termasuk hasil perburuannya selama diskon akhir tahun. Sikap ryak dari Wahyu ini lah yang akhirnya menjadi muara perselisihannya dengan Irfan – teman saya yang lain. Irfan memang tidak terlalu gemar mengoleksi produk-produk berupa properti kekinian. Namun karena tekanan dari sikap Wahyu yang berlebihan, Irfan pun berniat untuk berbelanja habis-habisan untuk tahun selanjutnya. Untuk itu pula sejak setengah tahun yang lalu ia mulai rajin menabung.

Pada tanggal 29 Desember 2017, dua hari sebelum tahun baru tiba, kami bertemu di sebuah mal di Mataram – sekaligus mengklarifikasi bahwa Mataram, Nusa Tenggara Barat memiliki pusat perbelanjaan modern. Mengingat dendamnya yang tertanam sejak tahun lalu, Irfan, setelah beberapa lama, mengajak kami berbelanja: membeli apa saja yang sedang banting harga. Mendengar ajakan tersebut, Wahyu meminta izin untuk pergi ke ATM Center, “saya ambil duit dulu, sebentar…”, katanya.

Tidak lama setelahnya, kami pergi dan memasuki setiap toko pakaian yang ada di mal. Saya pun menyaksikan bagaimana Irfan dan Wahyu sama-sama memiliki gengsi yang tinggi untuk tidak menawar. Dan sikap mereka ini sangat disukai para pedagang. Jika jadi pedagang mungkin saya akan berdoa agar orang-orang seperti mereka lahir setiap hari ke dunia. Minimal sepuluh. Supaya bisa mengguncang mal dan mencabut harga dari barangnya .

Jam-tangan, sepatu, baju, celana, ikat-pinggang, parfum, mulai memasuki kantung belanja mereka. Sedangkan saya berada di antara keduanya sebagai juri yang menilai siapa paling dermawan malam itu. Singkat cerita, Wahyu memenangkan perlombaan. Ia mengalahkan Irfan dengan total belanja yang hanya selisih beberapa puluh ribu. Masing-masing mereka mengeluarkan uang sebanyak tiga juta pada malam itu.

Di akhir pertemuan, Irfan berkata jujur, bahwa ia sudah lama menanam dendam pada Wahyu karena kesombongannya. Dan hal tersebut menjadi alasannya mengajak berbelanja untuk membuktikan kepada Wahyu bahwa Irfan juga mampu menyombongkan diri. Walau akhirnya Wahyu tetap menjadi pemenang dan berhasil mempertahankan status-quo sebagai manusia paling konsumtif pada malam tahun baru.

Sejujurnya saya sendiri mengalami kesulitan dalam mencari hikmah dari cerita mereka, kecuali kekonyolan belaka. Tapi sedikit pelajaran yang bisa kita petik, sesungguhnya dendam itu tidak baik, anak muda. Dan tidak perlu dibayar tuntas. Dendam membuatmu merasa tidak berkecukupan. Kalau semisal ada yang mengalami kejadian yang sama seperti Irfan dan Wahyu, selesaikanlah segera. Berlombalah dengan cara yang lain. Berlomba-lombalah menuju kebaikan-Nya, niscaya semua barang diskonan itu adalah kefanaan duniawi.

Di tahun baru 2018 ini, mari bersama kita menciptakan cara hidup yang baik, yang sederhana saja, kurangi bermewah-mewahan supaya tidak dicontoh oleh orang lain. Jaga perasaan saudara kita yang melihat mal sama takutnya seperti melihat penjara. Kalaupun ingin merayakan tahun baru, isi dengan hal-hal positif. Mungkin berkumpul bersama keluarga atau mengungkapkan cinta pada doi masih menjadi pilihan yang bagus. Memperpanjang barisan diskonan tidak mengubah apa-apa dari masalah-masalah kita selain kemenangan telak pasar bebas.

Selamat Tahun baru untuk para pembaca yang budiman, semoga kembang api pada awal tahun ini sama indahnya dengan hari-hari baru yang akan kita jalani nanti – aamiin.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 102

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Editor Picks