Barang Diskonan dan Dendam Akhir Tahun 0 192

Akan terlalu sederhana apabila kita memaknai tahun baru hanya sekedar sebagai momentum berlibur. Banyak perihal hidup yang perlu pertimbangan untuk diusaikan atau diteruskan. Adapun yang butuh diistirahatkan pada tahun ini ialah dendam. Istirahatlah dendam-dendam. Kita sepakat kurang lebih dua tahun terakhir banyak situasi yang memaksa kita menjadi pendendam – ada pula sekelompok orang yang menawarkan dirinya dalam ingatan kita untuk diletakkan sebagai objek dendam.

Bahkan mungkin beberapa dari mereka memaksa kita membuat agenda untuk pembalasan di tahun selanjutnya. Boleh dibilang itu kurang baik. Dunia semakin purba, bahasa-bahasa semakin sulit dimengerti, pengetahuan semakin banyak melahirkan teknologi, teknologi semakin banyak membatasi pengetahuan: hidup semakin rumit meski pada titik tertentu kerap memaksa kita menyederhanakannya – dan menanam dendam akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Pengecualian untuk para pendendam Ria Ricis, pertahankan.

Jadi Begini

Tahun lalu ketika mendekati perayaan 2017, di kota saya – Mataram, gencar sekali pertokoan membuka diskon besar-besaran untuk setiap produknya. Bahkan untuk barang-barang yang selalu hilang ketika dibutuhkan: Lem, Centong, Potongan Kuku, Kaos Kaki, dsb. Seorang teman, mendapatkan sepatu seharga hanya tiga ratus ribu dari yang semulanya sejumlah besar sembilan ratus ribu. Selain berjudul diskon akhir tahun, ada pula para pedagang yang menggunakan dalih cuci gudang sebagai nilai tawar pada konsumen; Semua produk di bawah sepuluh ribu; Kami cuci gudang, Anda mengisi gudang. Sungguh mantra-mantra yang menggiurkan.

Di kemudian hari – kita sebut saja Wahyu – Wahyu gemar sekali memamerkan barang baru yang ia miliki, termasuk hasil perburuannya selama diskon akhir tahun. Sikap ryak dari Wahyu ini lah yang akhirnya menjadi muara perselisihannya dengan Irfan – teman saya yang lain. Irfan memang tidak terlalu gemar mengoleksi produk-produk berupa properti kekinian. Namun karena tekanan dari sikap Wahyu yang berlebihan, Irfan pun berniat untuk berbelanja habis-habisan untuk tahun selanjutnya. Untuk itu pula sejak setengah tahun yang lalu ia mulai rajin menabung.

Pada tanggal 29 Desember 2017, dua hari sebelum tahun baru tiba, kami bertemu di sebuah mal di Mataram – sekaligus mengklarifikasi bahwa Mataram, Nusa Tenggara Barat memiliki pusat perbelanjaan modern. Mengingat dendamnya yang tertanam sejak tahun lalu, Irfan, setelah beberapa lama, mengajak kami berbelanja: membeli apa saja yang sedang banting harga. Mendengar ajakan tersebut, Wahyu meminta izin untuk pergi ke ATM Center, “saya ambil duit dulu, sebentar…”, katanya.

Tidak lama setelahnya, kami pergi dan memasuki setiap toko pakaian yang ada di mal. Saya pun menyaksikan bagaimana Irfan dan Wahyu sama-sama memiliki gengsi yang tinggi untuk tidak menawar. Dan sikap mereka ini sangat disukai para pedagang. Jika jadi pedagang mungkin saya akan berdoa agar orang-orang seperti mereka lahir setiap hari ke dunia. Minimal sepuluh. Supaya bisa mengguncang mal dan mencabut harga dari barangnya .

Jam-tangan, sepatu, baju, celana, ikat-pinggang, parfum, mulai memasuki kantung belanja mereka. Sedangkan saya berada di antara keduanya sebagai juri yang menilai siapa paling dermawan malam itu. Singkat cerita, Wahyu memenangkan perlombaan. Ia mengalahkan Irfan dengan total belanja yang hanya selisih beberapa puluh ribu. Masing-masing mereka mengeluarkan uang sebanyak tiga juta pada malam itu.

Di akhir pertemuan, Irfan berkata jujur, bahwa ia sudah lama menanam dendam pada Wahyu karena kesombongannya. Dan hal tersebut menjadi alasannya mengajak berbelanja untuk membuktikan kepada Wahyu bahwa Irfan juga mampu menyombongkan diri. Walau akhirnya Wahyu tetap menjadi pemenang dan berhasil mempertahankan status-quo sebagai manusia paling konsumtif pada malam tahun baru.

Sejujurnya saya sendiri mengalami kesulitan dalam mencari hikmah dari cerita mereka, kecuali kekonyolan belaka. Tapi sedikit pelajaran yang bisa kita petik, sesungguhnya dendam itu tidak baik, anak muda. Dan tidak perlu dibayar tuntas. Dendam membuatmu merasa tidak berkecukupan. Kalau semisal ada yang mengalami kejadian yang sama seperti Irfan dan Wahyu, selesaikanlah segera. Berlombalah dengan cara yang lain. Berlomba-lombalah menuju kebaikan-Nya, niscaya semua barang diskonan itu adalah kefanaan duniawi.

Di tahun baru 2018 ini, mari bersama kita menciptakan cara hidup yang baik, yang sederhana saja, kurangi bermewah-mewahan supaya tidak dicontoh oleh orang lain. Jaga perasaan saudara kita yang melihat mal sama takutnya seperti melihat penjara. Kalaupun ingin merayakan tahun baru, isi dengan hal-hal positif. Mungkin berkumpul bersama keluarga atau mengungkapkan cinta pada doi masih menjadi pilihan yang bagus. Memperpanjang barisan diskonan tidak mengubah apa-apa dari masalah-masalah kita selain kemenangan telak pasar bebas.

Selamat Tahun baru untuk para pembaca yang budiman, semoga kembang api pada awal tahun ini sama indahnya dengan hari-hari baru yang akan kita jalani nanti – aamiin.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Met Gala 2018 dan Kegilaan-kegilaannya 0 339

Oleh: Michelle Florencia*

Met Gala adalah salah satu acara tahunan yang paling dinanti-nantikan insan fesyen dunia. Bagaimana tidak? Acara yang yang sudah 70 tahun terakhir diselenggarakan ini bertabur bintang-bintang Hollywood yang mengenakan kostum super wow rancangan desainer kelas dunia.

Acara yang diinisiasi oleh Eleanor Lambert ini sebenarnya merupakan acara penggalangan dana untuk The Costume Institute dan pameran kostum di Metropolitan Museum of Art (Met), New York. Namun, tidak ada yang tahu pasti – selain tamu undangan pastinya – bagaimana suasana acara Met Gala sendiri dikarenakan acara ini tertutup bagi media dan para undangan juga tidak diperbolehkan mengunggah foto maupun video seputar acara Met Gala untuk menjaga ekslusifitasnya.

Di tahun 2018, Met Gala diselenggarakan pada Seni n (7/5) di New York Metropolitan Museum of Art. Met Gala kali ini merupakan pembuka pameran terbesar yang pernah dibuat The Costume Institute. Mengangkat tema Heavenly Bodies: Fashion and The Catholic Imagination, ekshibisi ini begitu menarik karena bekerjasama dengan keuskupan Vatikan untuk memamerkan benda-benda gereja Vatikan. Tak hanya itu, para desainer kenamaan seperti Jeanne Lanvin, Karl Lagerfeld, John Galliano, Jean Paul Gaultier, dan nama-nama besar lainnya turut serta memamerkan rancangan mereka yang terinspirasi dari simbol-simbol Katolik.

Penulis menilai Met Gala merupakan salah satu acara yang paling gila, terutama Met Gala 2018. Bagaimana tidak? Pertama, harga tiket acara ini adalah USD 30.000/tamu atau Rp 405.000.000 (dengan asumsi kurs Rp 13.500/USD). Itu untuk teko thok, gurung nek mesen mejo. Apabila ingin memesan satu meja, maka tamu tersebut harus membayar USD 275.000 hingga USD 500.000. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp 3.712.500.000 hingga Rp 6.750.000.000—jumlah yang cukup untuk beli pisang naget dan ayam geprek seumur hidup!

Apabila Pembaca merasa punya uang segitu, jangan kepedean dulu bisa datang ke acara ini! Yang diundang hanyalah selebritis top Hollywood, donatur acara, para desainer tersohor dunia, super model kenamaan, dan perwakilan label busana atau aksesoris mewah yang bersedia menyumbang dana. Tak hanya itu, semua tamu undangan harus disetujui oleh Nyah Anna Wintour, pemimpin redaksi majalah Vogue dan juga ketua acara Met Gala. Kalau Pembaca masih seorang mahasiswa yang tinggal di kos-kosan yang hanya bisa ngadem dan numpang wifi di perpus kampus (gratisan), barangkali bisa tidur dulu untuk datang ke acara ini dalam mimpi.

Beauty is pain menjadi selogan bagi para undangan, terutama tamu undangan wanita. Lihat saja Blake Lively  dengan gaun Versace-nya yang super panjang , rawan keselimpet, nyeret-nyeret, dan mau nggak mau rela “mengepel” lantai museum bisa dibilang jadi cleaning service dadakan. Penulis juga sangat mengapresiasi kekuatan dan kekekaran punggung Katy Perry yang memikul sayap dengan ukuran buto. Belum lagi Rihanna yang mampu tetap tegak berdiri saat mengenakan dress, cape, dan topi ala paus yang penuh dengan borci-borci (kosakata ala emak-emak Pasar Atum untuk menyebut payet) rancangan Maison Margiela yang kalau ditotal  barangkali bisa sampai belasan kilogram. Tak kalah hebat, Sarah Jessica Parker mampu menahan beban dari pajangan rumah yang dijadikan bando oleh Dolce and Gabbana itu demi mengalihkan fokus agar tidak terpaku pada wajahnya yang botox-nya tidak merata itu. Penulis saja sudah ngomel-ngomel karena bahu suka salah urat kalau bawa laptop di tas. Luar biasa memang kekuatan para wanita di Met Gala 2018!

Kegilaan selanjutnya ialah keberanian Andrew Bolton, kurator The Costume Institute dan sesosok pencetus tema-tema Met Gala dalam beberapa tahun terakhir, dalam menentukan tema Met Gala tahun ini, yaitu Heavenly Bodies: Fashion and Catholic Imagination. Presiden Kebudayaan Vatikan, Gianfranco Ravasi sendiri bersyukur atas diangkatnya tema ini, sebab artinya simbol Katolik masih bisa menyentuh orang lain.

Tapi, akibat mencetuskan ide kontroversial ini, ia harus bolak-balik New York-Vatikan sebanyak 10 kali dalam satu tahun terakhir! Dikutip dari Tirto, Bolton menjalin relasi dengan lima orang pastur pejabat gereja dan menteri kebudayaan Vatikan untuk bisa meminjam busana pastur, mahkota yang dikenakan Paus, dan benda-benda gereja lainnya. Total ada lebih dari 40 benda yang biasa tersimpan di dalam tempat penyimpanan perlengkapan ekaristi (sakristi) di sebuah gereja di Vatikan. Berani buat ide gila, harus berani kerja gila!

Tak hanya membuat Bolton bolak-balik New York-Vatikan sampai mbulak, tema yang menyentuh ranah keagamaan ini juga menimbulkan kontroversi. Penulis paparkan terakhir karena merupakan klimaks dari kegilaan acara ini. Ide suangar nun gendeng ini  rupanya tidak disambut baik oleh beberapa selebritis, dan bahkan ingin memboikot Met Gala 2018. Dikutip dari Vogue, tema ini jadi kontroversi karena fesyen dinilai tak pantas disandingkan dengan hal-hal yang dianggap sakral atau suci. Tapi, menurut Bolton hal itu lumrah saja, “Ini menegaskan kesetiaan pada agama, eksistensi, dan perbedaan agama,” tukasnya.

Yang jelas, apabila ingin mengangkat tema keagamaan, harusnya pihak Met Gala tetap menjaga kesucian agama itu sendiri. Tak pantas rasanya apabila mengenakan pakaian bertema agamis, tapi dibuat seperti pakaian yang kekurangan kain dan bikin orang salah fokus. Entah bagaimana jadinya kalau acara semacam ini diselenggarakan di Indonesia. Gurung diselenggarakno wes dicekal disek. Hehehe….

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Sembilan Dosa Bocah Milenial 1 320

Redaksi kali ini memuat hal menarik: panduan ringkas memahami karakteristik masyarakat milenial! Barangsiapa hendak mengikuti tren yang terjadi (juga mungkin keganjilan-keganjilannya), bolehlah disimak:

1. Raimu ketulung mobilmu.

Begitulah kira-kira perumpaan paling sahih untuk menggambarkan skala prioritas para milenial. Mereka menghidupi nilai dimana penampilan adalah segalanya. Sebetulnya tak cuma dandanan luar, tapi juga keseluruhan atribut yang dapat dilekatkan dan dapat meningkatkan status sosial. Pengeluaran per bulan untuk mendandani diri adalah prioritas nomor satu. Pomade, baju branded (preloved rapopo sing penting Zara), sepatu, lipstick (musti matte biar kalo mimik di gelas tanpa bekas), mobil (kredit dijabani pokoke pantes, minimal Agya Ayla) dan seterusnya.

2. Hape apel krowak sebagai sekte agama

Milenial melihat ponsel sebagai ritus baru beragama. Rutin dihayati dan disayang-sayang. Coba periksa dimanapun mereka berada, ponsel tak pernah absen dipelukan. Mulai bobo cantik sampai menjelang cawik, hape tak lepas di genggaman. Merek didominasi apel krowak, tapi isi aplikasi paling melip hanya game, youtube atau instant messenger (karena memang mampunya mengoperasikan itu, mohon dimaklumi). Sesekali diisi fasilitas editing foto, biar aduhai kalau selfie diunggah ke media sosial.

3. Nongkrong sampe mbulak

Kapanpun harus disisakan waktu luang. Ini ciri yang sangat kentara, sebab milenial senantiasa mencari sekeras-kerasnya waktu luang, sekalipun di tengah kesibukan maha padat. Nongki-nongki sambil isep Vape biasanya menjadi pilihan. Sekedar di kafe kelas menengah, atau sampai kelas atas, yang menunya punya prinsip ra enak ra popo sing penting instagrammable. Kadang karena ingin dinilai memahami selera elite, pergilah mereka ke Setarbak—yang andai kopinya dituker dengan kapal api 2.500 rupiah pun milenial tak sadar beda rasanya. Pokoke nggaya!

 4. My trip my adventure, mak crit mak plekentur

Banyak milenial ababil yang tega menabung banyak untuk dihabiskan seluruhnya demi vakansi. Liburan ini konon adalah pelarian semi-intelektual: kembali pada alam, menghayati ciptaan Tuhan, menepi ke pantai, kontemplasi ke pegunungan, dan segudang alasan-alasan gombal mbelgedhes. Intine kepingin hura-hura kok harus repot mencari alasan filosofis. Tiket kereta api atau pesawat bisa di-booking jauh-jauh hari. Kalau perlu sampai ke luar negeri, biar kaffah liburannya, Havana o nana. Singapore gakpapalah, lumayan bisa poto-poto di depan singa muntah. Atau negeri-negeri eksotis lainnya, agar bisa wisata kuliner unik-unik, lalu bikin vlog, atau story. Tujuannya jelas: mari dipamerkan ke handai-taulan ngenes yang melas  di media sosial.

5. Isolasi sosyel

Milenial acapkali mengisolasi dirinya atau kumpulan gengnya dari orang lain. Asyik-asyik sendiri, galo-galo sendiri dan kalau berkumpul, menu utama selalu ghibah. Jarang bertemu atau sulit membuka diri dari kelompok lain. Akibatnya, tak ada tradisi dalam diri mereka untuk merekat secara sosial, saling tegur sapa, memahami secara intens dunia sosialnya. Mungkin sudah terlalu lelah masturbasi dengan identitasnya sendiri.

6. Susah setia
Para millenial ini senang hidup tanpa pilihan, jadi nihilis ben filosofis. Tiada kuasa mereka bertahan lebih dari 2 jam hanya mengerjakan satu kegiatan. Bosenan. Sebentar buka Line, beberapa menit kemudian pindah ke instagram, lalu twitteran. Bentar-bentar buka pintu dapur, buka kulkas, gak ada apa-apa, dikit-dikit mie instan lagi. Ini dapat dipahami kerena mereka hanya menunggang tren yang amat sementara. Setelah tren gaya itu perlahan mereda, berpindahlah mereka ke wilayah lain. Milenial adalah orang-orang yang nomaden dalam bergaya.

7. Antologi quotes berjalan
Kutap-kutip kalimat indah antologi biar keliatan sentimentil. Kalau bisa jangan hanya jadi antologi berjalan; jadilah kamus, atau perpustakaan sekalian. Ini demi perbendaharaan kata-kata mutiara yang jitu untuk melengkapi caption foto instagram selfie di bawah pohon rindang yang korelasinya tentu bernilai nol. Atau jadi senjata mutakhir untuk merayu mbak’e, berjajarlah amunisi gombalan Dilan sampai Ditto, tinggal dipilih sesuai situasi. Tentu yang diutamakan bukan quotes berbau masalah politik-ekonomi-sosial, apalagi religi. Semua berputar pada ranah romansa, satu-satunya aspek kehidupan yang paling dikuasai millenials. Cinta-cintaan, menghindar dari mantan. Ncen kakehan gaya. Mbayar iuran kas kelas ae sek kredit.

8. Cenayang Nirkabel

Hanya bermodalkan kuota internet, itu pun kadang numpang tethering, milenial bisa tahu aktifitas terbaru dari teman-temannya (baca: following dan follower). Milenial mengumpulkan pundi-pundi informasi itu dari story, postingan, tweet, dan seabrek fitur medsos lain. Jelas sekali, nuansa nongki cantik jadi tidak diwarnai dengan saling menanyakan kabar, tapi sekedar klarifikasi. Kondisi ini menuntut milenial untuk selaluup to date. Asu tenan.

9. Ra ngurus dapuranmu

“Situ sapah kok ngurusi hidup eike?” Begitulah filosofi hidup milenial. Maksudnya ingin tampil independen dan mandiri, tapi sering tersesat pada apatisme. Maksudnya berupaya mendobrak konservatisme nilai-nilai, tapi meleset ke kebodohan. Sangat sensitif pada privasi, dan menjadi paranoid agar hidupnya tak diinterupsi oleh orang lain. Sebaliknya, karena terlalu berkonsentrasi pada diri sendiri, individu milenial mengabaikan dunia lain. Orang lain adalah antah berantah. Yang penting urusan diri sendiri beres, situ mau jumpalitan juga terserah. Sangat cuek dan masa bodoh.

Itu tadi sembilan ulasan dari kami. Jika ada bantahan atau tambahan, bolehlah dikirimkan pada kami. Siapa tau juru bicara milenial tersinggung. Hehehe

 

 

Editor Picks