Barang Diskonan dan Dendam Akhir Tahun 0 1108

Akan terlalu sederhana apabila kita memaknai tahun baru hanya sekedar sebagai momentum berlibur. Banyak perihal hidup yang perlu pertimbangan untuk diusaikan atau diteruskan. Adapun yang butuh diistirahatkan pada tahun ini ialah dendam. Istirahatlah dendam-dendam. Kita sepakat kurang lebih dua tahun terakhir banyak situasi yang memaksa kita menjadi pendendam – ada pula sekelompok orang yang menawarkan dirinya dalam ingatan kita untuk diletakkan sebagai objek dendam.

Bahkan mungkin beberapa dari mereka memaksa kita membuat agenda untuk pembalasan di tahun selanjutnya. Boleh dibilang itu kurang baik. Dunia semakin purba, bahasa-bahasa semakin sulit dimengerti, pengetahuan semakin banyak melahirkan teknologi, teknologi semakin banyak membatasi pengetahuan: hidup semakin rumit meski pada titik tertentu kerap memaksa kita menyederhanakannya – dan menanam dendam akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Pengecualian untuk para pendendam Ria Ricis, pertahankan.

Jadi Begini

Tahun lalu ketika mendekati perayaan 2017, di kota saya – Mataram, gencar sekali pertokoan membuka diskon besar-besaran untuk setiap produknya. Bahkan untuk barang-barang yang selalu hilang ketika dibutuhkan: Lem, Centong, Potongan Kuku, Kaos Kaki, dsb. Seorang teman, mendapatkan sepatu seharga hanya tiga ratus ribu dari yang semulanya sejumlah besar sembilan ratus ribu. Selain berjudul diskon akhir tahun, ada pula para pedagang yang menggunakan dalih cuci gudang sebagai nilai tawar pada konsumen; Semua produk di bawah sepuluh ribu; Kami cuci gudang, Anda mengisi gudang. Sungguh mantra-mantra yang menggiurkan.

Di kemudian hari – kita sebut saja Wahyu – Wahyu gemar sekali memamerkan barang baru yang ia miliki, termasuk hasil perburuannya selama diskon akhir tahun. Sikap ryak dari Wahyu ini lah yang akhirnya menjadi muara perselisihannya dengan Irfan – teman saya yang lain. Irfan memang tidak terlalu gemar mengoleksi produk-produk berupa properti kekinian. Namun karena tekanan dari sikap Wahyu yang berlebihan, Irfan pun berniat untuk berbelanja habis-habisan untuk tahun selanjutnya. Untuk itu pula sejak setengah tahun yang lalu ia mulai rajin menabung.

Pada tanggal 29 Desember 2017, dua hari sebelum tahun baru tiba, kami bertemu di sebuah mal di Mataram – sekaligus mengklarifikasi bahwa Mataram, Nusa Tenggara Barat memiliki pusat perbelanjaan modern. Mengingat dendamnya yang tertanam sejak tahun lalu, Irfan, setelah beberapa lama, mengajak kami berbelanja: membeli apa saja yang sedang banting harga. Mendengar ajakan tersebut, Wahyu meminta izin untuk pergi ke ATM Center, “saya ambil duit dulu, sebentar…”, katanya.

Tidak lama setelahnya, kami pergi dan memasuki setiap toko pakaian yang ada di mal. Saya pun menyaksikan bagaimana Irfan dan Wahyu sama-sama memiliki gengsi yang tinggi untuk tidak menawar. Dan sikap mereka ini sangat disukai para pedagang. Jika jadi pedagang mungkin saya akan berdoa agar orang-orang seperti mereka lahir setiap hari ke dunia. Minimal sepuluh. Supaya bisa mengguncang mal dan mencabut harga dari barangnya .

Jam-tangan, sepatu, baju, celana, ikat-pinggang, parfum, mulai memasuki kantung belanja mereka. Sedangkan saya berada di antara keduanya sebagai juri yang menilai siapa paling dermawan malam itu. Singkat cerita, Wahyu memenangkan perlombaan. Ia mengalahkan Irfan dengan total belanja yang hanya selisih beberapa puluh ribu. Masing-masing mereka mengeluarkan uang sebanyak tiga juta pada malam itu.

Di akhir pertemuan, Irfan berkata jujur, bahwa ia sudah lama menanam dendam pada Wahyu karena kesombongannya. Dan hal tersebut menjadi alasannya mengajak berbelanja untuk membuktikan kepada Wahyu bahwa Irfan juga mampu menyombongkan diri. Walau akhirnya Wahyu tetap menjadi pemenang dan berhasil mempertahankan status-quo sebagai manusia paling konsumtif pada malam tahun baru.

Sejujurnya saya sendiri mengalami kesulitan dalam mencari hikmah dari cerita mereka, kecuali kekonyolan belaka. Tapi sedikit pelajaran yang bisa kita petik, sesungguhnya dendam itu tidak baik, anak muda. Dan tidak perlu dibayar tuntas. Dendam membuatmu merasa tidak berkecukupan. Kalau semisal ada yang mengalami kejadian yang sama seperti Irfan dan Wahyu, selesaikanlah segera. Berlombalah dengan cara yang lain. Berlomba-lombalah menuju kebaikan-Nya, niscaya semua barang diskonan itu adalah kefanaan duniawi.

Di tahun baru 2018 ini, mari bersama kita menciptakan cara hidup yang baik, yang sederhana saja, kurangi bermewah-mewahan supaya tidak dicontoh oleh orang lain. Jaga perasaan saudara kita yang melihat mal sama takutnya seperti melihat penjara. Kalaupun ingin merayakan tahun baru, isi dengan hal-hal positif. Mungkin berkumpul bersama keluarga atau mengungkapkan cinta pada doi masih menjadi pilihan yang bagus. Memperpanjang barisan diskonan tidak mengubah apa-apa dari masalah-masalah kita selain kemenangan telak pasar bebas.

Selamat Tahun baru untuk para pembaca yang budiman, semoga kembang api pada awal tahun ini sama indahnya dengan hari-hari baru yang akan kita jalani nanti – aamiin.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 144

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 279

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks