Barang Diskonan dan Dendam Akhir Tahun 0 502

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Akan terlalu sederhana apabila kita memaknai tahun baru hanya sekedar sebagai momentum berlibur. Banyak perihal hidup yang perlu pertimbangan untuk diusaikan atau diteruskan. Adapun yang butuh diistirahatkan pada tahun ini ialah dendam. Istirahatlah dendam-dendam. Kita sepakat kurang lebih dua tahun terakhir banyak situasi yang memaksa kita menjadi pendendam – ada pula sekelompok orang yang menawarkan dirinya dalam ingatan kita untuk diletakkan sebagai objek dendam.

Bahkan mungkin beberapa dari mereka memaksa kita membuat agenda untuk pembalasan di tahun selanjutnya. Boleh dibilang itu kurang baik. Dunia semakin purba, bahasa-bahasa semakin sulit dimengerti, pengetahuan semakin banyak melahirkan teknologi, teknologi semakin banyak membatasi pengetahuan: hidup semakin rumit meski pada titik tertentu kerap memaksa kita menyederhanakannya – dan menanam dendam akan menjadi pekerjaan yang sia-sia. Pengecualian untuk para pendendam Ria Ricis, pertahankan.

Jadi Begini

Tahun lalu ketika mendekati perayaan 2017, di kota saya – Mataram, gencar sekali pertokoan membuka diskon besar-besaran untuk setiap produknya. Bahkan untuk barang-barang yang selalu hilang ketika dibutuhkan: Lem, Centong, Potongan Kuku, Kaos Kaki, dsb. Seorang teman, mendapatkan sepatu seharga hanya tiga ratus ribu dari yang semulanya sejumlah besar sembilan ratus ribu. Selain berjudul diskon akhir tahun, ada pula para pedagang yang menggunakan dalih cuci gudang sebagai nilai tawar pada konsumen; Semua produk di bawah sepuluh ribu; Kami cuci gudang, Anda mengisi gudang. Sungguh mantra-mantra yang menggiurkan.

Di kemudian hari – kita sebut saja Wahyu – Wahyu gemar sekali memamerkan barang baru yang ia miliki, termasuk hasil perburuannya selama diskon akhir tahun. Sikap ryak dari Wahyu ini lah yang akhirnya menjadi muara perselisihannya dengan Irfan – teman saya yang lain. Irfan memang tidak terlalu gemar mengoleksi produk-produk berupa properti kekinian. Namun karena tekanan dari sikap Wahyu yang berlebihan, Irfan pun berniat untuk berbelanja habis-habisan untuk tahun selanjutnya. Untuk itu pula sejak setengah tahun yang lalu ia mulai rajin menabung.

Pada tanggal 29 Desember 2017, dua hari sebelum tahun baru tiba, kami bertemu di sebuah mal di Mataram – sekaligus mengklarifikasi bahwa Mataram, Nusa Tenggara Barat memiliki pusat perbelanjaan modern. Mengingat dendamnya yang tertanam sejak tahun lalu, Irfan, setelah beberapa lama, mengajak kami berbelanja: membeli apa saja yang sedang banting harga. Mendengar ajakan tersebut, Wahyu meminta izin untuk pergi ke ATM Center, “saya ambil duit dulu, sebentar…”, katanya.

Tidak lama setelahnya, kami pergi dan memasuki setiap toko pakaian yang ada di mal. Saya pun menyaksikan bagaimana Irfan dan Wahyu sama-sama memiliki gengsi yang tinggi untuk tidak menawar. Dan sikap mereka ini sangat disukai para pedagang. Jika jadi pedagang mungkin saya akan berdoa agar orang-orang seperti mereka lahir setiap hari ke dunia. Minimal sepuluh. Supaya bisa mengguncang mal dan mencabut harga dari barangnya .

Jam-tangan, sepatu, baju, celana, ikat-pinggang, parfum, mulai memasuki kantung belanja mereka. Sedangkan saya berada di antara keduanya sebagai juri yang menilai siapa paling dermawan malam itu. Singkat cerita, Wahyu memenangkan perlombaan. Ia mengalahkan Irfan dengan total belanja yang hanya selisih beberapa puluh ribu. Masing-masing mereka mengeluarkan uang sebanyak tiga juta pada malam itu.

Di akhir pertemuan, Irfan berkata jujur, bahwa ia sudah lama menanam dendam pada Wahyu karena kesombongannya. Dan hal tersebut menjadi alasannya mengajak berbelanja untuk membuktikan kepada Wahyu bahwa Irfan juga mampu menyombongkan diri. Walau akhirnya Wahyu tetap menjadi pemenang dan berhasil mempertahankan status-quo sebagai manusia paling konsumtif pada malam tahun baru.

Sejujurnya saya sendiri mengalami kesulitan dalam mencari hikmah dari cerita mereka, kecuali kekonyolan belaka. Tapi sedikit pelajaran yang bisa kita petik, sesungguhnya dendam itu tidak baik, anak muda. Dan tidak perlu dibayar tuntas. Dendam membuatmu merasa tidak berkecukupan. Kalau semisal ada yang mengalami kejadian yang sama seperti Irfan dan Wahyu, selesaikanlah segera. Berlombalah dengan cara yang lain. Berlomba-lombalah menuju kebaikan-Nya, niscaya semua barang diskonan itu adalah kefanaan duniawi.

Di tahun baru 2018 ini, mari bersama kita menciptakan cara hidup yang baik, yang sederhana saja, kurangi bermewah-mewahan supaya tidak dicontoh oleh orang lain. Jaga perasaan saudara kita yang melihat mal sama takutnya seperti melihat penjara. Kalaupun ingin merayakan tahun baru, isi dengan hal-hal positif. Mungkin berkumpul bersama keluarga atau mengungkapkan cinta pada doi masih menjadi pilihan yang bagus. Memperpanjang barisan diskonan tidak mengubah apa-apa dari masalah-masalah kita selain kemenangan telak pasar bebas.

Selamat Tahun baru untuk para pembaca yang budiman, semoga kembang api pada awal tahun ini sama indahnya dengan hari-hari baru yang akan kita jalani nanti – aamiin.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 270

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks