Hanya Duet Inul-DePe yang Bisa Goyang Via-Nella 2 2118

Pembaca tahu berita hot minggu ini yang membakar semangat muda-mudi? Dikontraknya Via Vallen dan Nella Kharisma sebagai artis pendamping dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018!

Tentu ini berita besar dan menggegerkan karena untuk kali pertama dua mazhab besar dangdut kontemporer yang terbelah tajam, dapat dipersatukan.  Kelompok Vallen School dan Nella Thoughts telah lama mengidentifikasi diri sebagai berbeda, mirip dengan kontestasi tajam antara Isyana Sarasvati versus Raisa, atau Nobita versus Jayen atau pentol Kabul melawan pentol Ubaya.

Tentu bukan tempatnya disini untuk menduga-duga apakah mahar jumbo bin mahal yang mampu mendamaikan mereka, mengingat pilkada yang sudah barang tentu menjadi peristiwa mahal lima tahunan. Juga bukan waktunya untuk menganalisis apakah Via-Nella dipilih untuk menutup kekurangan calon gubernur dan mencoba mengalihkan kebosanan publik terhadap kampanye visi misi atau panggung membosankan dari kampanye terbuka.

Satu hal yang pasti, berpadunya Via-Nella akan menarik massa dalam jumlah jumbo, dengan fanatisme luar biasa, dan mengalihkan tenaga sebesar itu sebagai “mesin” politik yang baru. Tulisan ini ingin mengajukan satu tesis untuk merumuskan siapa yang bisa mengimbangi duet mematikan Via-Nella ini.

Daaannnn, setelah redaksi merapatkan situasi genting, dengan belasan kategori dan variabel yang konkret maupun abstrak, juga menimbang bisikan-bisikan langit, surga, sampai jahannam, maka muncul dua nama nyaris legendaries yang dianggap mampu mengimbangi cahaya asia Via-Nella:

 

  1. Bunda Inul Daratista

Inilah doi yang dulu menggoyang wilayah Pasuruan, menggetarkan seluruh Jawa Timur, sebelum kemudian memorakporandakan peta musik dangdut nasional pada medio tahun 2000an. Saking beringasnya penetrasi Inul, sang singa tua berkuasa Rhoma Irama sampai turun gelanggang “mendisiplinkan” ngebor Inul yang intimidatif itu.

Inul besar tidak mula-mula dari media; melainkan secara harfiah dari panggung-panggung kampung di Jatim. Di pelosok-pelosok itu Ainurr Rochimah (nama aslinya yang Islami bingits) menghajar panggung sampai bolong karena ngebor.

Dengan citarasa lokal dan karakter joged yang berbeda inilah, Inul melesat sampai ke pentas nasional. Ia membintangi banyak iklan, memiliki jaringan karaoke premium, dan mengisi banyak acara kelas atas. Satu hal yang sangat penting: ia pandai juga bicara. Maka jam terbang tinggi ditambah skill bicara mumpuni, akan sangat menolong dalam kampanye nanti. Ia mampu menjadi buzzer dominan yang akan didengar oleh masyarakat Jatim.

 

  1. Mami Dewi Persik.

Tak ada yang meragukan barang satu orang pun betapa terkenalnya DePe. Rentetan kontroversi dan cerita yang mengiringi karirnya adalah bahan bakar popularitas yang kini mengantarkan namanya ke panggung nasional. Bernama asli Dewi Muria Agung, DePe memiliki jangkar amat kuat di wilayah tapal kuda Jawa Timur. Sebab, ia memulai karirnya dengan berkeliling di Jember, Banyuwangi, dan sekitarnya.

Meski dikepung oleh banyak kontroversi, tapi basis pendengarnya tak pernah surut, malah meningkat. Imej dan lagunya masih mengiang di telinga, dan ini menjadi modal besar dalam memancing keluar romantisisme penikmat dangdut Jawa Timuran.

 

Dua nama ini dinilai pas menantang Via-Nella. Senioritas akan menjadi senjata utama, terutama karena yang dilawan adalah artis baru yang menanjak tajam dalam beberapa tahun terakhir. Urusan suara juga tak kalah. Inul-DePe cukup jagoan dalam cengkok dan vibrasi, dan masih terkenang bagaimana lagu-lagunya di masa lampau.

Akankah Inul-DePe diusung? Ya mbuh. Lha wong La Nyalla yang udah dapat surat tugas dan kadung tekor miliaran aja bisa batal kok, apalagi ini.

Hehehehe.

Previous ArticleNext Article

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nasib Pegawai KPK Kritis dan Doa untuk Mereka 0 159

Kemarin 1.271 pegawai KPK yang lolos Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) akhirnya sudah dilantik. Kini mereka resmi jadi abdi negara, meninggalkan 75 yang tak lolos.

Tim dokumenter dengan jejaring sangar macam Watchdoc dan kesayangan kita semua, Najwa Shihab, sudah mewawancarai mereka, mengungkap kejanggalan TWK. Pertanyaan-pertanyaan aneh macam urusan rumah tangga, perceraian, gaya pacaran, hingga aliran agama muncul selama sesi tes seleksi wawancara.

Masalahnya, 75 orang yang tidak lolos ini bukan sembarangan personil. Dari antara 75 orang itu, 13 di antaranya adalah penyidik yang berperan penting sebagai lokomotif penggerak berjalannya KPK selama ini. Sebut saja Novel Baswedan, yang kita semua tahu telah berhasil mengungkap kasus besar macam korupsi e-KTP dengan dalang Setya Novanto. Ada pula Rizka Anungnata, penyidik kasus benih lobster yang menyeret mantan Menteri KKP, Edhy Prabowo. Sampai Ronal Paul, yang tengah menangani kasus buron yang ghosting satu negeri ini, Harun Masiku.

Orang-orang ini kini tak bisa melanjutkan kasusnya, dinonaktifkan karena tak lolos tes, bahkan terancam termasuk dari 51 orang yang katanya tak lagi bisa dibina. Dalam kata lain yang lebih mudah namun kasar, sama saja dengan orang bebal.

Orang-orang berprestasi ini mungkin cerminan dari orang kritis. Di satu sisi, Indonesia ini sangat butuh orang-orang kritis agar bisa maju memperbaiki sistem dan mentalitas yang terlanjur bobrok. Tapi atas nama kestabilan, orang-orang macam inilah yang dianggap sebagai penghancur dan pembangkang. Termasuk dalam logika bisnis korporasi, pegawai yang ndablek atau berani melawan pemimpinnya pasti ditendang.

Susah dong ya jadi orang kritis di negara ini? Ya memang bakal susah kalau kamu terlalu radikal, berani bicara dan melawan yang salah. Lantas apa yang harus dilakukan?

Kalau kata pepatah, diam adalah emas. Itu mungkin akan sangat berlaku buat kalian-lalian yang punya pemikiran revolusioner. Jangan keburu emosi dulu! Diam memang tak selamanya baik, dan malah berujung malapetaka karena mendiamkan sesuatu yang salah. Kalau kata mantan komisioner KPK dan pengurus PP Muhammadiyah Busyro Muqoddas: “membiarkan kejahatan itu sama artinya dengan melakukan kejahatan”.

Saya jadi teringat suatu kisah penyebaran dan perjalanan agama Kristen di Jepang. Alkisah, agama Katolik disebarkan pertama kali oleh misionaris Jesuit dari Portugal tahun 1560-an. Lambat laun, jumlah penganut Kristen bertambah banyak dan pesat. Penguasa politik Jepang merasa terancam dan memutuskan untuk menumpas mereka.

Larangan beribadah ditetapkan. Bahkan memerintahkan semua umat Kristiani menginjak fumie, lempengan tembaga bergambar Yesus disalib pada papan kayu. Tujuannya jelas, untuk mematahkan kepercayaan mereka. Sejarah mengatakan ada sekitar 2 ribu orang meninggal menjadi martirkarena menolak menginjak fumie, tetap setia pada imannya.  Which is (cielah gaya bahasa jaksel), keren.

Tapi, tak sedikit pula yang memilih ingkar, mereka injak fumie, dan tetap hidup. Mereka berpura-pura meninggalkan agamanya, tapi tetap beribadah secara diam-diam. Mereka lah yang membuat penganut Kristiani masih ada di Jepang sampai sekarang. Coba bayangin kalau semua memilih jadi “pahlawan” dan rela mati, mungkin agama Katolik akan benar-benar punah.

Kisah ini saya lihat hampir sama dengan yang terjadi di KPK hari ini. Harapannya, ada beberapa dari 1200 yang lolos TWK itu, adalah orang-orang yang diam-diam “nurut”, menjawab dengan cara aman tes-tes wawancara yang diajukan asesor. Mereka menyembunyikan jati diri kritis, demi bertahan hidup, tetap berada dalam sistem lembaga pemberantas korupsi, dan membawa integritas ke depan. Jika benar demikian, kita tak perlu khawatir KPK akan ambruk.

Lalu bagaimana dengan 51 pegawai yang tak lagi bisa dibina itu? Perjuangan di luar KPK untuk memberantas korupsi masih panjang. Bisa melalui organisasi, lembaga bantuan hukum, dan bertindak sebagai pengamat atau penasehat. Sebab, berlian tetap bisa bersinar di mana saja walaupun ditempa sedemikian rupa. Semoga.

 

*)Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 209

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Editor Picks