Hanya Duet Inul-DePe yang Bisa Goyang Via-Nella 2 1059

Pembaca tahu berita hot minggu ini yang membakar semangat muda-mudi? Dikontraknya Via Vallen dan Nella Kharisma sebagai artis pendamping dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018!

Tentu ini berita besar dan menggegerkan karena untuk kali pertama dua mazhab besar dangdut kontemporer yang terbelah tajam, dapat dipersatukan.  Kelompok Vallen School dan Nella Thoughts telah lama mengidentifikasi diri sebagai berbeda, mirip dengan kontestasi tajam antara Isyana Sarasvati versus Raisa, atau Nobita versus Jayen atau pentol Kabul melawan pentol Ubaya.

Tentu bukan tempatnya disini untuk menduga-duga apakah mahar jumbo bin mahal yang mampu mendamaikan mereka, mengingat pilkada yang sudah barang tentu menjadi peristiwa mahal lima tahunan. Juga bukan waktunya untuk menganalisis apakah Via-Nella dipilih untuk menutup kekurangan calon gubernur dan mencoba mengalihkan kebosanan publik terhadap kampanye visi misi atau panggung membosankan dari kampanye terbuka.

Satu hal yang pasti, berpadunya Via-Nella akan menarik massa dalam jumlah jumbo, dengan fanatisme luar biasa, dan mengalihkan tenaga sebesar itu sebagai “mesin” politik yang baru. Tulisan ini ingin mengajukan satu tesis untuk merumuskan siapa yang bisa mengimbangi duet mematikan Via-Nella ini.

Daaannnn, setelah redaksi merapatkan situasi genting, dengan belasan kategori dan variabel yang konkret maupun abstrak, juga menimbang bisikan-bisikan langit, surga, sampai jahannam, maka muncul dua nama nyaris legendaries yang dianggap mampu mengimbangi cahaya asia Via-Nella:

 

  1. Bunda Inul Daratista

Inilah doi yang dulu menggoyang wilayah Pasuruan, menggetarkan seluruh Jawa Timur, sebelum kemudian memorakporandakan peta musik dangdut nasional pada medio tahun 2000an. Saking beringasnya penetrasi Inul, sang singa tua berkuasa Rhoma Irama sampai turun gelanggang “mendisiplinkan” ngebor Inul yang intimidatif itu.

Inul besar tidak mula-mula dari media; melainkan secara harfiah dari panggung-panggung kampung di Jatim. Di pelosok-pelosok itu Ainurr Rochimah (nama aslinya yang Islami bingits) menghajar panggung sampai bolong karena ngebor.

Dengan citarasa lokal dan karakter joged yang berbeda inilah, Inul melesat sampai ke pentas nasional. Ia membintangi banyak iklan, memiliki jaringan karaoke premium, dan mengisi banyak acara kelas atas. Satu hal yang sangat penting: ia pandai juga bicara. Maka jam terbang tinggi ditambah skill bicara mumpuni, akan sangat menolong dalam kampanye nanti. Ia mampu menjadi buzzer dominan yang akan didengar oleh masyarakat Jatim.

 

  1. Mami Dewi Persik.

Tak ada yang meragukan barang satu orang pun betapa terkenalnya DePe. Rentetan kontroversi dan cerita yang mengiringi karirnya adalah bahan bakar popularitas yang kini mengantarkan namanya ke panggung nasional. Bernama asli Dewi Muria Agung, DePe memiliki jangkar amat kuat di wilayah tapal kuda Jawa Timur. Sebab, ia memulai karirnya dengan berkeliling di Jember, Banyuwangi, dan sekitarnya.

Meski dikepung oleh banyak kontroversi, tapi basis pendengarnya tak pernah surut, malah meningkat. Imej dan lagunya masih mengiang di telinga, dan ini menjadi modal besar dalam memancing keluar romantisisme penikmat dangdut Jawa Timuran.

 

Dua nama ini dinilai pas menantang Via-Nella. Senioritas akan menjadi senjata utama, terutama karena yang dilawan adalah artis baru yang menanjak tajam dalam beberapa tahun terakhir. Urusan suara juga tak kalah. Inul-DePe cukup jagoan dalam cengkok dan vibrasi, dan masih terkenang bagaimana lagu-lagunya di masa lampau.

Akankah Inul-DePe diusung? Ya mbuh. Lha wong La Nyalla yang udah dapat surat tugas dan kadung tekor miliaran aja bisa batal kok, apalagi ini.

Hehehehe.

Previous ArticleNext Article

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Beberapa Masalah Super Penting dalam Hidup Kita 1 470

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

Kurang lebih sebulan lalu, kita ditimpa musibah berupa ledakan bom yang terjadi di Surabaya. Berjenis-jenis analisis termuntahkan di atasnya. Mulai dari kecurigaan terhadap agenda politik sampai saling menyalahkan antar kelompok beragama. Sadarkah kita, bahwa diskusi tersebut menjauhkan substansi dari kandungan peristiwa yang sebenar-benarnya adalah masalah besar tentang kemanusiaan. Bukan sekadar agenda politik atau kesempatan menampakkan citra melalui modus belasungkawa.

Tidak lama setelah itu, kita dihebohkan kembali karena seorang penyanyi dangdut perempuan mendapat perlakuan tidak sopan dari seorang pemain sepak bola klub nasional. Menurut berita yang beredar, atlet tersebut meminta doi agar datang ke tempat peristirahatannya dengan pakaian serba terbuka. Tidak terima dengan permintaan itu karena merasa direndahkan, si penyanyi dangdut pun membagikan pengalamannya di media sosial sebagai bentuk pembelajaran bagi siapapun agar kelak lebih bersikap sopan pada orang yang baru dikenalnya.

Tidak juga berhenti sampai di situ, masalah ini menimbulkan pro-kontra. Ada yang mendukung reaksi penyanyi dangdut tersebut sebagai bentuk perlawanan kaum perempuan, ada yang tidak menerima karena dianggap terlalu berlebihan dan memang sewajarnya penyanyi dangdut mendapat perlakuan begitu.

Selanjutnya, kita berdebat tentang ‘aplikasi goblok’ berisi video-video aneh dari netijen. Banyak yang mengatakan bahwa generasi yang menghidupi aplikasi ini sudah kehilangan akal mencari hiburan, tidak seperti generasi lama yang membuat tawa tidak perlu pakai aplikasi atau kuota internet. Apalagi mengorbankan akal sehat. Tolong, semangat perdebatan antara kedua kelompok ini tidak bisa dipertemukan. Selera dan kebahagiaan sama-sama tak terukur.

Pernahkah kelompok yang membenci ‘aplikasi goblok’ itu berpikir, bahwa, para anak-anak kecil, dan remaja, yang membuat video kreatif di dalamnya sedang berusaha mengasah kemampuan mereka, sedang berusaha berkarya dalam bidang yang mereka sukai. Video-video mereka nyaris selalu mengundang tawa, dan proses produksinya membutuhkan niat serta kreatifitas tinggi. Hanya karena perbedaan selera humor, kalian merasa mampu menguasai apa-apa yang benar? Apa-apa yang lucu dan apa-apa yang menyedihkan? Tahan sebentar.

Terakhir. Belum lama ini, ya, belum lama ini, hilangnya sebuah foto di Instagram menandingi diskusi hilangnya aktivis ‘98 maupun para korban ‘65. Adalah bapak reformasi kita, Amien Rais, yang tetiba mendadak girly setelah mengetahui bahwa unggahan fotonya yang memerlihatkan kebersamaan beliau dengan sahabat Prabowo dan Rizieq hilang tanpa musabab. Sempat ada rencana jika peristiwa penghilangan paksa oleh Instagram ini akan didudukkan ke Mahkamah Internasional. Luar biasa.

Kita patut menyanjung daya kritis yang dimiliki oleh bapak Amien dan kawan-kawannya. Kecurigaan beliau pada penguasa tidak butuh diuji lagi. Sudah terbukti, beliau berhasil menjadi bagian dari sejarah tumbangnya Orde Baru. Dan hingga saat ini, beliau terus memerjuangkan cita-cita reformasi yang telah dititipkan padanya duapuluh tahun lalu. Sekali lagi, kita tetap perlu memuji konsistensinya dalam hal mencurigai kekuasaan, betapapun ganjilnya itu. Suatu kemampuan yang sukar ditemukan pada waktu sekarang.

Kita sudah kenyang dengan isu-isu trivia, bahkan untuk lebaran kesekian kalinya, semestinya kita sudah paham harus berbuat bagaimana, apalagi menjelang pilpres yang mengakibatkan arus propaganda semakin meruncing. Kita juga sudah bosan dengan isu-isu berbalut agama. Sudah saatnya kita mengistirahatkan semuanya. Rebahkan sebentar sikap politik kita, tidak peduli golongan kecebong atau golongan kampret. Pokoknya semua harus menikmati ketupat dengan tentram.

Antara seluruh peristiwa yang mengurai di sekitar kita, manakah yang paling berpengaruh terhadap cara berpikir kita? Adakah peristiwa yang menentukan nasib baik dan buruk kita kedepannya? Atau sebenarnya kita sudah tidak mampu membedakan, mana peristiwa yang memang perlu disikapi dengan serius dan mana peristiwa tak penting yang hanya perlu direspon sekadarnya saja? Atau kita sudah terbiasa berdebat karena kondisi-kondisi di atas terus menghantam kesabaran kita untuk bersuara, sehingga secara naluriah saja setiap munculnya fenomena, kita langsung saja menempatkan diri sebagai kelompok Pro/Kontra? Mbohlah.

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Editor Picks