Hanya Duet Inul-DePe yang Bisa Goyang Via-Nella 2 1328

Pembaca tahu berita hot minggu ini yang membakar semangat muda-mudi? Dikontraknya Via Vallen dan Nella Kharisma sebagai artis pendamping dalam Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018!

Tentu ini berita besar dan menggegerkan karena untuk kali pertama dua mazhab besar dangdut kontemporer yang terbelah tajam, dapat dipersatukan.  Kelompok Vallen School dan Nella Thoughts telah lama mengidentifikasi diri sebagai berbeda, mirip dengan kontestasi tajam antara Isyana Sarasvati versus Raisa, atau Nobita versus Jayen atau pentol Kabul melawan pentol Ubaya.

Tentu bukan tempatnya disini untuk menduga-duga apakah mahar jumbo bin mahal yang mampu mendamaikan mereka, mengingat pilkada yang sudah barang tentu menjadi peristiwa mahal lima tahunan. Juga bukan waktunya untuk menganalisis apakah Via-Nella dipilih untuk menutup kekurangan calon gubernur dan mencoba mengalihkan kebosanan publik terhadap kampanye visi misi atau panggung membosankan dari kampanye terbuka.

Satu hal yang pasti, berpadunya Via-Nella akan menarik massa dalam jumlah jumbo, dengan fanatisme luar biasa, dan mengalihkan tenaga sebesar itu sebagai “mesin” politik yang baru. Tulisan ini ingin mengajukan satu tesis untuk merumuskan siapa yang bisa mengimbangi duet mematikan Via-Nella ini.

Daaannnn, setelah redaksi merapatkan situasi genting, dengan belasan kategori dan variabel yang konkret maupun abstrak, juga menimbang bisikan-bisikan langit, surga, sampai jahannam, maka muncul dua nama nyaris legendaries yang dianggap mampu mengimbangi cahaya asia Via-Nella:

 

  1. Bunda Inul Daratista

Inilah doi yang dulu menggoyang wilayah Pasuruan, menggetarkan seluruh Jawa Timur, sebelum kemudian memorakporandakan peta musik dangdut nasional pada medio tahun 2000an. Saking beringasnya penetrasi Inul, sang singa tua berkuasa Rhoma Irama sampai turun gelanggang “mendisiplinkan” ngebor Inul yang intimidatif itu.

Inul besar tidak mula-mula dari media; melainkan secara harfiah dari panggung-panggung kampung di Jatim. Di pelosok-pelosok itu Ainurr Rochimah (nama aslinya yang Islami bingits) menghajar panggung sampai bolong karena ngebor.

Dengan citarasa lokal dan karakter joged yang berbeda inilah, Inul melesat sampai ke pentas nasional. Ia membintangi banyak iklan, memiliki jaringan karaoke premium, dan mengisi banyak acara kelas atas. Satu hal yang sangat penting: ia pandai juga bicara. Maka jam terbang tinggi ditambah skill bicara mumpuni, akan sangat menolong dalam kampanye nanti. Ia mampu menjadi buzzer dominan yang akan didengar oleh masyarakat Jatim.

 

  1. Mami Dewi Persik.

Tak ada yang meragukan barang satu orang pun betapa terkenalnya DePe. Rentetan kontroversi dan cerita yang mengiringi karirnya adalah bahan bakar popularitas yang kini mengantarkan namanya ke panggung nasional. Bernama asli Dewi Muria Agung, DePe memiliki jangkar amat kuat di wilayah tapal kuda Jawa Timur. Sebab, ia memulai karirnya dengan berkeliling di Jember, Banyuwangi, dan sekitarnya.

Meski dikepung oleh banyak kontroversi, tapi basis pendengarnya tak pernah surut, malah meningkat. Imej dan lagunya masih mengiang di telinga, dan ini menjadi modal besar dalam memancing keluar romantisisme penikmat dangdut Jawa Timuran.

 

Dua nama ini dinilai pas menantang Via-Nella. Senioritas akan menjadi senjata utama, terutama karena yang dilawan adalah artis baru yang menanjak tajam dalam beberapa tahun terakhir. Urusan suara juga tak kalah. Inul-DePe cukup jagoan dalam cengkok dan vibrasi, dan masih terkenang bagaimana lagu-lagunya di masa lampau.

Akankah Inul-DePe diusung? Ya mbuh. Lha wong La Nyalla yang udah dapat surat tugas dan kadung tekor miliaran aja bisa batal kok, apalagi ini.

Hehehehe.

Previous ArticleNext Article

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 124

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Editor Picks