#HoaxMembangun Sesungguhnya untuk Membangun Apa? 0 743

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Tak bisa dibantah, sampai digit terakhir hitungan tahun bertambah, masih ada saja milisi netijen yang doyan memakan informasi simpang siur—dan menyebarkannya. Informasi yang lumrah disebut hoax itu memiliki banyak penggemar, tidak peduli remaja usia tanggung atau ayah ibu kita yang kerap kewalahan dalam bersikap di dunia siber. Sebagai pengguna media yang apa adanya, kapasitas untuk mengoreksi keabsahan berita belum diasah dengan baik—jadilah klik share sana-sini. Celah inilah yang lantas diperdayakan untuk menyemai bibit-bibit kebencian; atau bisa jadi “membangun” menurut Djoko Setiadi.

Segera setelah dilantik sebagai Ketua Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Djoko langsung memberi pernyataan heboh soal hoax. Ia tak mempermasalahkan adanya kabar bohong, selama itu bersifat positif dan membangun. Malah, Djoko memberi ajakan bagi putra-putri bangsa agar, “…mari sebenarnya kalau hoax itu hoax membangun ya silahkan saja. Tapi jangan terlalu memprotes lah, menjelek-jelekkan lah, ujaran-ujaran yang tidak pantas disampaikan, saya rasa pelan-pelan dikurangi”.

Sontak kebingungan pun mendera umat sosial media, bikin mereka mikir kalimat itu berulang-ulang sambil ngempet ngguyu. Keesokan harinya tagar #HoaxMembangun melesat jadi trending topic nomor satu di Indonesia, yang merupakan pencapaian pertama netijen di 2018. Met yha!

Ada cuitan yang memasang sikap serius, serta ada lebih banyak guyonan receh yang diunggah. Masing-masing menertawakan kalimat-kalimat jitu yang sudah dianggap basi dan klise, sehingga menganggapnya “palsu” atau setara dengan hoax adalah selemah-lemahnya upaya untuk menghindar. Asumsi ini didasarkan pada kolektivitas kepemilikan perasaan bila tiba-tiba pasangan kita mulai ngomong, “kamu terlalu baik buat aku.”

Tingkat kejujuran dalam kalimat yang disampaikan nampak benar-benar ditelanjangi melalui beragam cuitan ini. Bagaimana tidak, masihkah para pembaca budiman percaya dengan terma “terlalu baik”, “kita cuma temen kok”, atau “sunat itu kayak digigit semut, kok”? Atau soal visi next year will be our year dari suporter salah satu klub sepakbola Inggris, yang susah dipercayai? Bagaimana pula dengan janji manis bapak yang suka nongol di televisi? (mbuh bapak sing endi)

Barangkali, fenomena ini bisa menjadi antitesis atas berbagai sosial media yang kerap kali kebanjiran hoaxapalagi di grup WA keluarga. Bahwasanya informasi palsu beserta kurangnya usaha verifikasi kebenaran sudah mendarah daging, sehingga masyarakat selalu kesusahan dalam mencari jalan keluar. Daripada selalu terjebak dalam lingkaran kepalsuan itu, akhirnya dengan segenap niat lahirbatin, masyarakat memilih untuk menertawakannya saja.

Bahwasanya kebohongan dan konspirasi selalu ditanamkan pada tiap inci otak melalui berbagai pamali yang seringkali kosong, hanya demi melindungi rasa takut anak-anak mereka. Disalahkanlah semut, atas gigitannya yang kurang lebih subjektif, padahal bius obat tidak melulu berdampak efektif pada tiap anak. Larangan makan atau sekedar duduk di depan pintu juga mujarab dari waktu ke waktu demi menyelamatkan diri atas absennya jodoh di hari tua. Mereka menuturkan, menularkan pada anak cucunya hal-hal yang belum pasti benar—antara mitos dan hoax memang beda tipis.

Di saat yang sama, mereka percaya Tuhan dengan segala kekuasaanNya yang tak terbantahkan.

Akhirnya, masyarakat tidak perlu kuatir jika suatu saat benih-benih pamali itu akan tumbuh menjadi ketidakjujuran, simpang-siur, dan kepalsuan. Alih-alih menjadikannya sebuah kesalahan, eksistensi hoax lama-lama akan dipahami sebagai suatu kenyataan. Benar bahwa hoax bisa digunakan untuk “membangun” kritik—atau apapun, namun jangan takut apabila ia kembali kepada kita di masa mendatang dalam keadaan fakta dan sejarah. Lantas, dengan informasi macam itu, kita membangun segala realitas yang ada?

Maka, hoax pun menjelma sebagai fundamen bangunan ‘kehidupan’ yang hanya akan menghasilkan hoax-hoax lain—terus mengular tanpa akhir.

Oh, iya, bahwasanya #HoaxMembangun memang sudah diwariskan negara ini sejak lama sekali, sehingga para warga yang mati sebagai korban sejarah, aktivis yang hilang, kampung yang berubah bandara, dan sekian catatan hitam lain merupakan fenomena yang saaaangat wajar. Wallahu’alam.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keterancaman Klepon yang Tak Islami 0 251

Kejutan deklaratif dari satu akun media sosial tentang pengumuman penting, bahwa klepon adalah jajanan “tak Islami”, menggegerkan orang banyak. Sebagian besarnya tentu saja mempertanyakan dengan nada nyinyir tapi juga was-was: apakah kita sepengangguran itu hingga menyoal sebuah objek tak penting dengan klaim biner Islami dan tak Islami? Apa kehabisan alternatip membahas yang lain, yang important-important aja gitu?

Eittsss. Maap, sekadar mengingatkan. Klepon adalah subjek maha-penting. Ia berdiri mewarisi ingatan kolektif populasi, mengantarai kenangan-kenangan bertetangga dan pulang kampung. Ia barang sederhana yang ditumpangi oleh bejibun kepentingan pertemuan, kenduren, rapat-rapat, dan bingkisan hangat — itu sebabnya, klepon juga bagian penting dari peristiwa kebudayaan. Singkatnya, klepon adalah pantulan diri kita sendiri. Menyebutnya sebagai tidak penting tentu adalah penyederhanaan dan ketakpahaman tentang hakikat rasa dan ikatan peristiwa.

Lalu, tentang klaim tak Islami. Kau tahu, resep berjualan praktis dan taktis kini sering mengawinkan apapun dengan agama: hotel Syariah, pariwisata Islami, bank Syariah, kredit umat (sebuah peristilahan yang sangat membingungkan), gadai Syariah dan tentu saja termasuk jajanan Islami.

Maka, kemegahan klepon sebagai barang maha-penting hanya bisa dikalahkan secara ekonomi dengan melabelinya sebagai yang lain, yang asing, yang ‘bukan Islam’. Seolah-olah kompetisi melawan klepon — seperti halnya politik — hanya dapat dimenangkan dengan jurus agama. Masih ingat dengan Inul Daratista? Ia harus dihajar dengan ‘goyang ngebor tak bermoral’ sekadar untuk menghabisinya dari puncak daftar lagu paling laku saat itu.

Tapi lalu tatkala dilacak muasal geger ini, tak ditemukan akun yang tersemat dalam gambar provokatif iklan klepon. Antara lenyap atau palsu. Dan, sebagaimana biasanya, segera muncul spekulasi bahwa ini adalah cara-cara licik untuk mendiskreditkan umat Islam. Sebuah pemikiran yang dapat saja diterima, meski tak kalah ganjilnya.

Keanehan terbesarnya adalah mengapa kita menjadi begitu mendarahdagingkan corak berpikir Islam dan bukan Islam, kelompok sana dan kelompok sini. Seolah-olah Islam senantiasa berada dalam keterancaman dari luar yang gawat, yang sangat genting dan berisiko membinasakan. Semua hal yang tak sesuai, berbeda, apalagi melawan, akan segera masuk kotak sebagai “mereka yang mengancam”, hal-hal yang nista dan patut diberi pelajaran.

Pada saat yang sama, ada semacam kesadaran bahwa kita mempersepsi diri sebagai kelompok yang sangat rapuh ringkih, yang mudah goyah oleh sesuatu yang berbeda. Kita paranoid dengan apa saja yang dikemas dengan agama. Kita ketakutan pada manipulasi postingan klepon hingga mengancam pelakunya sebagai mendiskreditkan Islam!

Kau kenal PKI? Yang katanya ateis itu? Berpuluh-puluh tahun punah, terlarang, dan dibunuh, tapi ada orang percaya bahwa 60 juta PKI masih hidup di Indonesia. Kita dibentuk dan dibesarkan oleh keyakinan politis bahwa eksistensi kita akan selalu rentan. Terhadap apapun yang diyakini berbahaya.

Mungkin saja ada benarnya, bahwa ada bahaya di luar sana. Bahwa ada upaya sistematis kebangkitan PKI, bahwa ada strategi rapi untuk melemahkan umat. Tapi, kita perlahan lupa hidup untuk apa. Terlampau sibuk mengutuki (hantu?) apa-apa saja yang dirasa tajam mengancam.

Dan yang jauh lebih gawat dari itu: kita larut pada bentukan-bentukan arah politik para elite nun jauh di sana. Kau tahu, mereka-mereka ini rajin sekali membentuk opini. Mereka harus membuatmu yakin terhadap musuh tertentu, agar kau menyatu bersama kau-kau yang lain, membentuk sekumpulan yang solid dan akan segera diklaim sebagai “dukungan politik” bagi elite yang memulai isu tersebut.

Kita seolah-olah dipersatukan sebagai umat yang melawan hal-hal tak “Islami”, tapi pada akhirnya, kita dilihat sebagai sekumpulan pemilik suara, digembalakan oleh pemandu yang mahir mengawin-ngawinkan apapun dengan agama. Untuk dukungan politik. Untuk pemilu lalu dan nanti tentu saja.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Lawakan Jerome Polin yang Melawan Stigma Ilmu Eksak 0 203

Ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita tertawa. Percaya atau tidak, salah satunya adalah matematika. Bukan, bukan menertawakan nilai matematika kita saat sekolah. Namun, matematika – monster dalam kehidupan banyak orang – juga bisa dijadikan bahan lawakan untuk menghibur manusia lain.

Jerome Polin, seorang laki-laki muda dengan kelebihan sel otak bagian menghitung, adalah tersangka dari lawakan yang saya maksud. Mahasiswa Wasenda University ini mampu mengubah “wajah” matematika yang menyeramkan menjadi lucu, hingga membuat saya tertawa sendiri (eh wong gendheng lak an).

Youtuber satu ini berkali-kali membuat lawakan dengan matematika di Twitter dan Instagram, salah satunya adalah pantun maut dari Story-nya berikut ini:

Sumber: Instagram @jeromepolin

Sumber: Instagram story @jeromepolin

 

Sederhana, tapi berhasil membuat saya tertawa kecil. Bahkan, saya sampai lupa pernah berkonflik dengan trigonometri. Bahkan, saya pernah sampai mencari-cari blogspot untuk belajar matematika (lagi) usai membaca lawakan-lawakan cerdasnya (literally cerdas).

Pemilik jargon “mantappu jiwa” ini memang bukanlah satu-satunya orang yang membuat matematika menjadi guyonan segar. 9gag misalnya, situs humor asal Amerika, juga beberapa kali memposting meme matematika yang mampu mengocok perut.

 

 

Sumber: 9gag.com

 

Akan tetapi, di Indonesia sendiri masih sedikit yang menjadikan pelajaran eksak menjadi bahan guyonan. Selain itu, yang terkenal memainkan matematika jadi humor di Indonesia memang Jerome Polin.

Mungkin Jerome Polin tidak memiliki intensi untuk mengubah stigma dari ilmu eksak. Tapi, sedikit banyak pandangan kita terhadap ilmu eksak dan orang-orangnya jadi berubah. Ya, seketika matematika yang merupakan ilmu eksak acap kali dicap sebagai mata pelajaran yang kaku abis, jadi terlihat seru dan fun.

Matematika, salah satu cabang ilmu eksak, tak jauh beda dengan teman-temannya, yakni fisika, biologi, dan kimia, dicap sebagai ilmu yang kaku. Hal ini dikarenakan tidak terbukanya jawaban lain atas suatu permasalahan. Misal, 2+2=4 merupakan aksioma, sehingga tidak mungkin ada jawaban lain selain itu.

Selain saklek, kekakuan ilmu eksak juga disebabkan oleh kecenderungan untuk mengeneralisasi. Misal, alasan jerapah berleher pendek sudah tidak ada karena (semua) hewan jenis ini tidak memiliki kemampuan adaptasi yang baik.

Beda halnya dengan ilmu sosial yang memberi kesempatan orang untuk menemukan jawaban lainnya. Contoh, alasan seseorang menyukai permen kaki tak hanya karena rasanya, akan tetapi juga karena bentuk, warna, dan memori masa lalu yang mengingatkannya akan permen tersebut.

Stigma kaku mengenai ilmu eksak sendiri tak hanya ditujukan pada pelajarannya sendiri, tapi juga pada mereka yang mendalami ilmu eksak. Contohnya, pada saat SMA, kelas IPA di sekolah saya mendapat stereotip sebagai kelas yang anak-anaknya pendiam, suka belajar, dan serius. Padahal, kebisingan kami dan mesin pesawat boleh diadu.

Selain itu, sering juga saya dengar orang-orang berkata, “anak FK (Fakultas Kedokteran) orangnya kaku-kaku”, “kelas di FK itu hening sangking seriusnya kalau belajar”, “anak sains gak asik, terlalu serius”, dan lain sebagainya.

Dari lawakan-lawakan berbau matematika Jerome Polin, kita bisa belajar tiga hal. Pertama, yang terlihat kaku bukan berarti  tidak bisa menjadi fun. Jerome membuktikan ilmu sesaklek matematika juga bisa dibecandain, bahkan membuat orang jadi tertarik belajar matematika.

Kedua, tidak semua orang yang mendalami ilmu eksak juga orang yang serius, kaku, dan tidak bisa bercanda. Banyak yang berpikir paradigma positvistik dalam ilmu eksak menyetir mereka yang mendalaminya, menjadikan mereka sama kakunya dengan ilmu eksak. Padahal tidak juga.

Ada yang memang dari lahir bawaannya sudah kaku, ada yang kesulitan bercanda karena beban pelajaran yang terlalu berat sehingga tidak sempat untuk “main-main”. Buktinya ada kok yang mendalami ilmu eksak tapi pencicilan dan humoris seperti Jerome Polin dan saya.

Ketiga, lucu gak harus menyinggung orang lain kok. Kalau mau ngelawak, bisa kan pakai pelajaran – mungkin setelah ini pembaca mau mencoba melawak pakai teori stimulus-respons dari Ivan Pavlov, monggo. Jadi gak harus menghina orang lain, apalagi fisik.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks