#HoaxMembangun Sesungguhnya untuk Membangun Apa? 0 348

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

Tak bisa dibantah, sampai digit terakhir hitungan tahun bertambah, masih ada saja milisi netijen yang doyan memakan informasi simpang siur—dan menyebarkannya. Informasi yang lumrah disebut hoax itu memiliki banyak penggemar, tidak peduli remaja usia tanggung atau ayah ibu kita yang kerap kewalahan dalam bersikap di dunia siber. Sebagai pengguna media yang apa adanya, kapasitas untuk mengoreksi keabsahan berita belum diasah dengan baik—jadilah klik share sana-sini. Celah inilah yang lantas diperdayakan untuk menyemai bibit-bibit kebencian; atau bisa jadi “membangun” menurut Djoko Setiadi.

Segera setelah dilantik sebagai Ketua Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Djoko langsung memberi pernyataan heboh soal hoax. Ia tak mempermasalahkan adanya kabar bohong, selama itu bersifat positif dan membangun. Malah, Djoko memberi ajakan bagi putra-putri bangsa agar, “…mari sebenarnya kalau hoax itu hoax membangun ya silahkan saja. Tapi jangan terlalu memprotes lah, menjelek-jelekkan lah, ujaran-ujaran yang tidak pantas disampaikan, saya rasa pelan-pelan dikurangi”.

Sontak kebingungan pun mendera umat sosial media, bikin mereka mikir kalimat itu berulang-ulang sambil ngempet ngguyu. Keesokan harinya tagar #HoaxMembangun melesat jadi trending topic nomor satu di Indonesia, yang merupakan pencapaian pertama netijen di 2018. Met yha!

Ada cuitan yang memasang sikap serius, serta ada lebih banyak guyonan receh yang diunggah. Masing-masing menertawakan kalimat-kalimat jitu yang sudah dianggap basi dan klise, sehingga menganggapnya “palsu” atau setara dengan hoax adalah selemah-lemahnya upaya untuk menghindar. Asumsi ini didasarkan pada kolektivitas kepemilikan perasaan bila tiba-tiba pasangan kita mulai ngomong, “kamu terlalu baik buat aku.”

Tingkat kejujuran dalam kalimat yang disampaikan nampak benar-benar ditelanjangi melalui beragam cuitan ini. Bagaimana tidak, masihkah para pembaca budiman percaya dengan terma “terlalu baik”, “kita cuma temen kok”, atau “sunat itu kayak digigit semut, kok”? Atau soal visi next year will be our year dari suporter salah satu klub sepakbola Inggris, yang susah dipercayai? Bagaimana pula dengan janji manis bapak yang suka nongol di televisi? (mbuh bapak sing endi)

Barangkali, fenomena ini bisa menjadi antitesis atas berbagai sosial media yang kerap kali kebanjiran hoaxapalagi di grup WA keluarga. Bahwasanya informasi palsu beserta kurangnya usaha verifikasi kebenaran sudah mendarah daging, sehingga masyarakat selalu kesusahan dalam mencari jalan keluar. Daripada selalu terjebak dalam lingkaran kepalsuan itu, akhirnya dengan segenap niat lahirbatin, masyarakat memilih untuk menertawakannya saja.

Bahwasanya kebohongan dan konspirasi selalu ditanamkan pada tiap inci otak melalui berbagai pamali yang seringkali kosong, hanya demi melindungi rasa takut anak-anak mereka. Disalahkanlah semut, atas gigitannya yang kurang lebih subjektif, padahal bius obat tidak melulu berdampak efektif pada tiap anak. Larangan makan atau sekedar duduk di depan pintu juga mujarab dari waktu ke waktu demi menyelamatkan diri atas absennya jodoh di hari tua. Mereka menuturkan, menularkan pada anak cucunya hal-hal yang belum pasti benar—antara mitos dan hoax memang beda tipis.

Di saat yang sama, mereka percaya Tuhan dengan segala kekuasaanNya yang tak terbantahkan.

Akhirnya, masyarakat tidak perlu kuatir jika suatu saat benih-benih pamali itu akan tumbuh menjadi ketidakjujuran, simpang-siur, dan kepalsuan. Alih-alih menjadikannya sebuah kesalahan, eksistensi hoax lama-lama akan dipahami sebagai suatu kenyataan. Benar bahwa hoax bisa digunakan untuk “membangun” kritik—atau apapun, namun jangan takut apabila ia kembali kepada kita di masa mendatang dalam keadaan fakta dan sejarah. Lantas, dengan informasi macam itu, kita membangun segala realitas yang ada?

Maka, hoax pun menjelma sebagai fundamen bangunan ‘kehidupan’ yang hanya akan menghasilkan hoax-hoax lain—terus mengular tanpa akhir.

Oh, iya, bahwasanya #HoaxMembangun memang sudah diwariskan negara ini sejak lama sekali, sehingga para warga yang mati sebagai korban sejarah, aktivis yang hilang, kampung yang berubah bandara, dan sekian catatan hitam lain merupakan fenomena yang saaaangat wajar. Wallahu’alam.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks