Ketika Bumi Berjoged Goyang Itik 0 706

Oleh: Abi Salim Syatiri*

Bagi orang Indonesia Dangdut adalah musik yang paling merakyat. Hampir semua kalangan suka dengan musik yang satu ini: tak muda-tak tua, tak miskin-tak kaya, tak pejabat-tak rakyat, hampir semuanya. Alasannya sederhana, pertama, mudah sekali bagi Rakyat Indonesia untuk memanjakan telinga tanpa harus menghabiskan kuota internet untuk mendownloadnya, tanpa harus menghabiskan baterai hape kalau mereka memang sudah punya banyak koleksinya, apalagi harus membeli tiket untuk nonton konsernya. Ya tanpa itu semua mereka masih bisa menikmatinya dengan mudah. Cukup nunggu tetangga hajatan saja, Dangdut pasti bergema.

Kedua, inilah mungkin alasan yang paling “nggeh” dan masuk akal: karena goyangannya, ya karena jogetnya. Bahkan sampai muncul “kata mutiara” yang amat masyhur dikalangan para penikmat Dangdut: Dangdut tanpa goyangan ibarat masakan tanpa garam, hambar tak ada rasanya. Sebut saja Inul Daratista dengan goyang ngebor-nya, Dewi Persik dengan goyang gergaji-nya, dan Zazkia Gotik dengan goyang itik-nya, dan para penikmatpun mengigau girang: krungu swarane gendang, tung mbokmu tung mbomu, penontone jingkrak-jingkrak, goyang-goyang, krungu swarane suling penak ono neng kuping, penontone joget nganti ora iling, pokoke, pokoke joget, pokoke joget, pokoke joget. 

Goyang berarti bergerak berayun-ayun, dari kegiatan bergoyang akan dihasilkan guncangan, guncangan ini akan terasa nikmat minimal dengan dua syarat: guncangan itu muncul bukan karena paksaan alias atas kehendak sendiri, dan diiringi musik. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kalau goyangan yang berevolusi menjadi guncangan tersebut datang dengan memaksa dan tanpa iringan satu alunan musik apapun? Tentunya bukan kenikmatan yang terasa, akan tetapi ketakutan.

Seperti halnya gempa Bumi, lho apa hubungannya goyang Dangdut dengan gempa Bumi? Dengerin baik-baik ya kawan, disamping karena adanya penggeseran magma di dalam gunung berapi, gempa Bumi yang kita rasakan dipermukaan Bumi ini merupakan manifestasi dari terjadinya gangguan pada lempeng-lempeng Bumi. Ketahuilah, Bumi yang kita huni ini tersusun atas empat lapisan utama, lapisan terluar namanya lithosphere, lapisan yang merupakan tempat dimana kita menginjakkan kaki, berlari, dan melakukan aktivitas lainnya seperti beribadah atau merokok sambil minum secangkir kopi. Setelah itu ada lapisan mantel, inti luar, dan yang paling dalam dinamakan inti dalam. Lapisan lithosphere yang menjadi pijakan kita ini tersusun atas bagian-bagian, dan setiap bagian lapisan itu senantiasa bergerak. Bagian lapisan lithosphere ini dikenal juga sebagai lempeng tektonik dan setiap lempeng tektonik memiliki ujung yang saling berbatasan yang disebut lipatan. Nah, gempa bumi terjadi disebabkan adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak, baik lempeng-lempeng tersebut bergerak saling menjauh atau saling mendekat, yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sagat besar. Gampangnya, gempa Bumi terjadi karena lempeng-lempeng tektonik bergoyang. Nah, saat satu lempeng tektonik itu bergoyang, menjauh-mendekat, maka lempeng yang lain akan terpengaruh, terutama pada bagian lipatannya, saat itulah gempa Bumi terjadi, gempa itulah yang kemudian kita rasakan dipermukaan Bumi ini.

Trus hubungannya dengan goyang dangdut apaan? Cermati baik-baik pertanyaan balik ini ya, kenapa orang ingin menikmati musik Dangdut (atau musik lainnya)? Dan bahkan sambil bergoyang pula?

Mungkin kita punya banyak jawaban untuk pertanyaan di atas, kalau memang kita punya jawaban, simpan saja baik-baik jawaban yang ada di benak kita itu di laci meja atau di saku celana, mari simak satu jawaban berikut: Karena jenuh. Akhirnya, dengan menikmati musik Dangdut, apalagi sambil bergoyang, sejenak jenuh itu akan meluap meskipun mungkin akan datang lagi.

Bumi yang kita pijak adalah Makhluk ciptaan Allah, sama seperti kita, kalau kita bisa jenuh dan bosan, maka bumipun bisa merasakan jenuh dan bosan pula. Apalagi kalau setiap saat dia (bumi kita tercinta) disuguhi dengan berbagai hiburan, berbagai musik dengan alunannya, dangdut dengan goyangnya. Apa dia tidak tergoda untuk menikmatinya dan kemudian joget bersama biduannya? Coba bayangkan, saat kamu pada puncak kejenuhan, boring tidak karuan, tiba-tiba saja Via Vallen datang menghampirimu dan melantunkan lagu-lagu manis bin galau dihadapanmu: sayaangg, opo kowe krungu.. jerite Asuku.

Kawan, bumi ini sudah terlalu jenuh dengan kerusakan yang kita buat, dengan kejahatan yang kita sebarkan, dengan keburukan yang kita tanam, dengan kejelekan yang kita ciptakan, dengan kenakalan-kenakalan kita. Ditambah lagi, kita mengiming-iminginya dengan berbagai goyangan. Siapa yang salah saat bumi tergoda kemudian ikut bergoyang dengan goyang itiknya Zaskia Gotik? Lalu terjadi gunjangan yang menakutkan kita, bahkan menakutkan mereka yang tidak pernah bergoyang sama sekalipun. Beruntung dia hanya meniru si Gotik, bagaimana kalau dia tidak mau pulang, tidak mau berhenti berteriak: “pokoke njoget, lalu menirukan Inul Daratista dengan goyang ngebornya atau Dewi Persik dengan goyang gergajinya???

*Penulis lahir di Gresik dan kini tinggal di Wonosobo Jawa Tengah. Punya hobi beragam, dari membaca. menulis, hingga diam. 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 74

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Privasi Siapa yang Dibela di RKUHP? 1 79

Saya jurnalis (profesional untuk 2 bulan terakhir). Saya terlibat di dalam peliputan aksi mahasiswa yang berakhir rusuh di hari pertama rapat paripurna, 24 September. Saya saksi mata ketika mereka mulai merapat di gerbang DPR, orasi, bakar ban, sampai akhirnya water canon plus gas air mata menyerang, dan saya sebagai anak pupuk bawang tentu lari menyelamatkan diri.

Selain UU KPK yang sudah disahkan itu, saya mendengar dan membaca semua demonstran menggarisbawahi RKUHP (yang telah saya bahas di tulisan lalu: ‘Bagaimana Seharusnya Kita Sikapi RKUHP‘). Banyak pasal yang dianggap bermasalah (kita harus akui ini). Terutama teriakan privasi kita yang (katanya) semakin dirampas negara.

Di sisi lain, suatu kali saya juga untuk kedua kalinya mewawancarai artis (walau definisi ‘artis’ bagi saya masih sangat debatable). Saya sih sebenarnya males. Kalau gak karena permintaan kantor, kapabilitas ‘orang yang sering nongol di tv’ untuk menjawab angle berita masih jadi pertanyaan besar bagi saya.

Saya berusaha memancing diskusi dengan mbak artis. Melempar pertanyaan reflektif serta menghindari pertanyaan dangkal dan tak bermutu. Berharap jawaban bisa mendalam dan melontarkan ide-ide cemerlang bagi para fans yang nanti menonton hasil wawancara ini.

Ternyata realita tidak seindah ekspetasi, kawan-kawan! Doi menjawab semua pertanyaan umum saya dengan mengasosiakannya pada dirinya seorang. Demikian pula wartawan lain justru menyiram air garam pada luka, nyamber dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggali urusan pribadi dan keluarga mbak artis.

Ketimbang menjawab pertanyaan saya tentang tren berlibur saat ini, destinasi wisata yang ciamik di Indonesia, dan sebagainya; si artis lebih suka menjawab rencana liburannya bersama suami dan anak, preferensinya dalam menggunakan layanan aplikasi penyedia perjalanan, dan kawan-kawan pertanyaan lainnya.

Saya gak tahu, di sini siapa yang salah. Pasalnya, wartawan membutuhkan jawaban bersifat pribadi itu untuk membuat tulisan yang mengundang klik di website medianya. Sebaliknya, jawaban-jawaban yang melulu soal diri dan pribadi si artis mungkin sudah jadi template wajib dalam ekosistem infotainment. Barangkali, justru memang saya yang salah nyemplung ke dunia wawancara dengan orang-orang jenis ini. Salah yang gagal paham dan gagal menaruh harapan.

Demikian pula dengan kelakuan rakyat yang suka sekali mengonsumsi berita-berita macam ini. Tentu lebih ringan ketimbang ikut repot memutar otak tentang persoalan bangsa ini.

Dari sini, mari kita merenungkan lagi. Apakah benar privasi kita terancam karena RKUHP? Apakah kita lupa, bahwa privasi bangsa ini sudah ternodai sejak dulu kala? Sejak kehidupan pribadi bintang layar kaca jadi konsumsi publik. Bahkan, hal ini juga berlaku pada tokoh-tokoh politik kita.

Masyarakat kan lebih ingat kisah cinta dan kehidupan keluarga sejahtera Almarhum B.J. Habibie ketimbang karya N-250 dan perjuangannya merintis BPPT. Kita lebih ingat tato menteri dan menteri loncat pagar. Kita lebih paham sneaker, jaket, sepeda, moge, dan cucu Jokowi.

Gak usah jauh-jauh juga. Ketika nongkrong bersama teman, teman lain yang tidak kelihatan batang hitungnya jadi bahan gosip, kan? Saat bepergian, belanja, minum kopi di kedai dengan nama lucu-lucu, gatal juga tanganmu uptade di Insta Story. Jangan lupa bubuhkan lokasi, biar disangka anak gaul. Lha kok saiki guayamu sak langit, sok memperjuangkan privasi?

Kan tentu ironis, memperjuangkan privasi, orientasi seksual, dunia malam, urusan seks dan percintaan, tapi abai kalau selama ini juga tak punya batasan dalam menjaga rahasia diri ke dunia maya. Jadi privasi siapa yang kalian bela?

Editor Picks