Ketika Bumi Berjoged Goyang Itik 0 470

Oleh: Abi Salim Syatiri*

Bagi orang Indonesia Dangdut adalah musik yang paling merakyat. Hampir semua kalangan suka dengan musik yang satu ini: tak muda-tak tua, tak miskin-tak kaya, tak pejabat-tak rakyat, hampir semuanya. Alasannya sederhana, pertama, mudah sekali bagi Rakyat Indonesia untuk memanjakan telinga tanpa harus menghabiskan kuota internet untuk mendownloadnya, tanpa harus menghabiskan baterai hape kalau mereka memang sudah punya banyak koleksinya, apalagi harus membeli tiket untuk nonton konsernya. Ya tanpa itu semua mereka masih bisa menikmatinya dengan mudah. Cukup nunggu tetangga hajatan saja, Dangdut pasti bergema.

Kedua, inilah mungkin alasan yang paling “nggeh” dan masuk akal: karena goyangannya, ya karena jogetnya. Bahkan sampai muncul “kata mutiara” yang amat masyhur dikalangan para penikmat Dangdut: Dangdut tanpa goyangan ibarat masakan tanpa garam, hambar tak ada rasanya. Sebut saja Inul Daratista dengan goyang ngebor-nya, Dewi Persik dengan goyang gergaji-nya, dan Zazkia Gotik dengan goyang itik-nya, dan para penikmatpun mengigau girang: krungu swarane gendang, tung mbokmu tung mbomu, penontone jingkrak-jingkrak, goyang-goyang, krungu swarane suling penak ono neng kuping, penontone joget nganti ora iling, pokoke, pokoke joget, pokoke joget, pokoke joget. 

Goyang berarti bergerak berayun-ayun, dari kegiatan bergoyang akan dihasilkan guncangan, guncangan ini akan terasa nikmat minimal dengan dua syarat: guncangan itu muncul bukan karena paksaan alias atas kehendak sendiri, dan diiringi musik. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kalau goyangan yang berevolusi menjadi guncangan tersebut datang dengan memaksa dan tanpa iringan satu alunan musik apapun? Tentunya bukan kenikmatan yang terasa, akan tetapi ketakutan.

Seperti halnya gempa Bumi, lho apa hubungannya goyang Dangdut dengan gempa Bumi? Dengerin baik-baik ya kawan, disamping karena adanya penggeseran magma di dalam gunung berapi, gempa Bumi yang kita rasakan dipermukaan Bumi ini merupakan manifestasi dari terjadinya gangguan pada lempeng-lempeng Bumi. Ketahuilah, Bumi yang kita huni ini tersusun atas empat lapisan utama, lapisan terluar namanya lithosphere, lapisan yang merupakan tempat dimana kita menginjakkan kaki, berlari, dan melakukan aktivitas lainnya seperti beribadah atau merokok sambil minum secangkir kopi. Setelah itu ada lapisan mantel, inti luar, dan yang paling dalam dinamakan inti dalam. Lapisan lithosphere yang menjadi pijakan kita ini tersusun atas bagian-bagian, dan setiap bagian lapisan itu senantiasa bergerak. Bagian lapisan lithosphere ini dikenal juga sebagai lempeng tektonik dan setiap lempeng tektonik memiliki ujung yang saling berbatasan yang disebut lipatan. Nah, gempa bumi terjadi disebabkan adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak, baik lempeng-lempeng tersebut bergerak saling menjauh atau saling mendekat, yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sagat besar. Gampangnya, gempa Bumi terjadi karena lempeng-lempeng tektonik bergoyang. Nah, saat satu lempeng tektonik itu bergoyang, menjauh-mendekat, maka lempeng yang lain akan terpengaruh, terutama pada bagian lipatannya, saat itulah gempa Bumi terjadi, gempa itulah yang kemudian kita rasakan dipermukaan Bumi ini.

Trus hubungannya dengan goyang dangdut apaan? Cermati baik-baik pertanyaan balik ini ya, kenapa orang ingin menikmati musik Dangdut (atau musik lainnya)? Dan bahkan sambil bergoyang pula?

Mungkin kita punya banyak jawaban untuk pertanyaan di atas, kalau memang kita punya jawaban, simpan saja baik-baik jawaban yang ada di benak kita itu di laci meja atau di saku celana, mari simak satu jawaban berikut: Karena jenuh. Akhirnya, dengan menikmati musik Dangdut, apalagi sambil bergoyang, sejenak jenuh itu akan meluap meskipun mungkin akan datang lagi.

Bumi yang kita pijak adalah Makhluk ciptaan Allah, sama seperti kita, kalau kita bisa jenuh dan bosan, maka bumipun bisa merasakan jenuh dan bosan pula. Apalagi kalau setiap saat dia (bumi kita tercinta) disuguhi dengan berbagai hiburan, berbagai musik dengan alunannya, dangdut dengan goyangnya. Apa dia tidak tergoda untuk menikmatinya dan kemudian joget bersama biduannya? Coba bayangkan, saat kamu pada puncak kejenuhan, boring tidak karuan, tiba-tiba saja Via Vallen datang menghampirimu dan melantunkan lagu-lagu manis bin galau dihadapanmu: sayaangg, opo kowe krungu.. jerite Asuku.

Kawan, bumi ini sudah terlalu jenuh dengan kerusakan yang kita buat, dengan kejahatan yang kita sebarkan, dengan keburukan yang kita tanam, dengan kejelekan yang kita ciptakan, dengan kenakalan-kenakalan kita. Ditambah lagi, kita mengiming-iminginya dengan berbagai goyangan. Siapa yang salah saat bumi tergoda kemudian ikut bergoyang dengan goyang itiknya Zaskia Gotik? Lalu terjadi gunjangan yang menakutkan kita, bahkan menakutkan mereka yang tidak pernah bergoyang sama sekalipun. Beruntung dia hanya meniru si Gotik, bagaimana kalau dia tidak mau pulang, tidak mau berhenti berteriak: “pokoke njoget, lalu menirukan Inul Daratista dengan goyang ngebornya atau Dewi Persik dengan goyang gergajinya???

*Penulis lahir di Gresik dan kini tinggal di Wonosobo Jawa Tengah. Punya hobi beragam, dari membaca. menulis, hingga diam. 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 136

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Menulis Kondisi Penulis dan Membaca Kondisi Pembaca 0 276

Banyak penulis—kita sebut saja begitu—terpangkas semangat menulisnya akibat kesulitan membagi porsi antara kapan harus bekerja untuk yang abadi dan kapan harus bekerja untuk yang fana. Menulis dalam definisi puitisnya, adalah bekerja untuk keabadian (selebihnya akan kita temukan sendiri). Jenis-jenis penulis pun tidak sedikit. Penulis puisi, penulis cerpen, penulis berita, penulis maya, penulis skripsi, penulis miskin, penulis kaya, dan sebagainya.

Dalam diskusi di forum-forum literasi, sering disebutkan bahwa minat membaca buku semakin menurun, sejak minat membaca visual dianggap lebih dominan. Anggapan yang tidak hanya mematahkan semangat para penulis dalam proses produktifnya ini, juga mematahkan semangat penerbit buku dalam mencari tulisan-tulisan yang berkualitas.

Gejolak di atas memang pernah terasa nyata ketika toko-toko buku ternama memamerkan buku-buku yang berasal dari penulis dengan kualitas karya yang kurang serius. Contoh kasus, seorang penulis dituntut oleh penerbitnya agar menghasilkan minimal dua buku dalam waktu singkat. Padahal hal ini bisa berdampak pada tenaga penulis tersebut saat melakukan proses kreatif dan berdampak pula pada tulisan yang dihasilkannya. Atau penulis yang melahirkan buku dengan tema-tema ala kadarnya, semata-mata untuk memuaskan selera pasar hiburan.

Akan tetapi, tidak lama ini, dunia literasi kita menemukan angin segar. Dengan munculannya penerbit-penerbit independen yang berdiri di luar arus pasar hiburan mainstream. Tidak sedikit dari mereka memasarkan produknya hanya melalui internet atau media sosial. Keberadaan mereka membuka ruang yang lebih lebar bagi para penulis baru dengan tema yang kemungkinan lebih inovatif. Artinya, selain memberi ruang yang lebih lebar bagi para penulis, penerbit independen juga berpotensi memberi kesempatan bagi buku-buku marxis kiri yang mana peredarannya diawasi oleh negara ormas. Hehehe…

Namun, dilemanya adalah: bolehkah kita menyebut gerakan kiri atau ide-ide progresif yang dimanifestasikan ke dalam sebuah karya literasi sebagai bentuk komodifikasi. Ketika banyak buku bernuansa kiri mempunyai harga yang fantastis. Harga-harga yang bahkan sulit dijangkau oleh pelaku revolusioner itu sendiri. Tidak hanya melalui buku, kaos, topi, tas kecil, dan berbagai jenis atribut lainnya, mengandung semacam upaya pembentukan identitas yang berlebihan. Sedang di sisi lain, banyak rakjat kecil dengan terpaksa mengenakan kaos pemberian partai demi keberlangsungan hidup mereka yang mulai kehilangan esensi.

Fenomena ini kemudian direspon oleh media-media alternatif yang menyebar di internet. Media yang menghadirkan tulisan-tulisan dengan biaya cetak dan ongkos akses Rp 0 bagi siapa saja. Termasuk media alternatif yang sedang anda baca sekarang ini.

Media yang coba menjadi jawaban lain atas, ketidaksembarangan orang dapat berkarya, karya dapat diterbitkan, dan harga dapat dibayar. Dengan demikian, kita pun tidak boleh menyalahkan keadaan ketika masyarakat lebih tertarik mengkonsumsi media online ketimbang media cetak.

Sekarang, penulis dan pembaca perlu saling memberi pengertian satu sama lain. Bahwa, visi kedua pekerjaan ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup atau memenuhi gaya hidup. Kedua pekerjaan ini adalah usaha merawat kesadaran yang perlahan mulai tergerus oleh hal-hal trivial yang sedang mendominasi isi pikiran kita. Pertanyaan selanjutnya: kesadaran seperti apa yang perlu kita bela sebagai penulis atau pembaca? Tentu saja adalah kesadaran bahwa di dunia ini kita hidup bukan untuk diri sendiri.

Jadi ini salahnya siapa? Salahnya remaja yang memperlakukan Marxis sebagai budaya populer, bukan budaya kritis.

Editor Picks