Ketika Bumi Berjoged Goyang Itik 0 827

Oleh: Abi Salim Syatiri*

Bagi orang Indonesia Dangdut adalah musik yang paling merakyat. Hampir semua kalangan suka dengan musik yang satu ini: tak muda-tak tua, tak miskin-tak kaya, tak pejabat-tak rakyat, hampir semuanya. Alasannya sederhana, pertama, mudah sekali bagi Rakyat Indonesia untuk memanjakan telinga tanpa harus menghabiskan kuota internet untuk mendownloadnya, tanpa harus menghabiskan baterai hape kalau mereka memang sudah punya banyak koleksinya, apalagi harus membeli tiket untuk nonton konsernya. Ya tanpa itu semua mereka masih bisa menikmatinya dengan mudah. Cukup nunggu tetangga hajatan saja, Dangdut pasti bergema.

Kedua, inilah mungkin alasan yang paling “nggeh” dan masuk akal: karena goyangannya, ya karena jogetnya. Bahkan sampai muncul “kata mutiara” yang amat masyhur dikalangan para penikmat Dangdut: Dangdut tanpa goyangan ibarat masakan tanpa garam, hambar tak ada rasanya. Sebut saja Inul Daratista dengan goyang ngebor-nya, Dewi Persik dengan goyang gergaji-nya, dan Zazkia Gotik dengan goyang itik-nya, dan para penikmatpun mengigau girang: krungu swarane gendang, tung mbokmu tung mbomu, penontone jingkrak-jingkrak, goyang-goyang, krungu swarane suling penak ono neng kuping, penontone joget nganti ora iling, pokoke, pokoke joget, pokoke joget, pokoke joget. 

Goyang berarti bergerak berayun-ayun, dari kegiatan bergoyang akan dihasilkan guncangan, guncangan ini akan terasa nikmat minimal dengan dua syarat: guncangan itu muncul bukan karena paksaan alias atas kehendak sendiri, dan diiringi musik. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kalau goyangan yang berevolusi menjadi guncangan tersebut datang dengan memaksa dan tanpa iringan satu alunan musik apapun? Tentunya bukan kenikmatan yang terasa, akan tetapi ketakutan.

Seperti halnya gempa Bumi, lho apa hubungannya goyang Dangdut dengan gempa Bumi? Dengerin baik-baik ya kawan, disamping karena adanya penggeseran magma di dalam gunung berapi, gempa Bumi yang kita rasakan dipermukaan Bumi ini merupakan manifestasi dari terjadinya gangguan pada lempeng-lempeng Bumi. Ketahuilah, Bumi yang kita huni ini tersusun atas empat lapisan utama, lapisan terluar namanya lithosphere, lapisan yang merupakan tempat dimana kita menginjakkan kaki, berlari, dan melakukan aktivitas lainnya seperti beribadah atau merokok sambil minum secangkir kopi. Setelah itu ada lapisan mantel, inti luar, dan yang paling dalam dinamakan inti dalam. Lapisan lithosphere yang menjadi pijakan kita ini tersusun atas bagian-bagian, dan setiap bagian lapisan itu senantiasa bergerak. Bagian lapisan lithosphere ini dikenal juga sebagai lempeng tektonik dan setiap lempeng tektonik memiliki ujung yang saling berbatasan yang disebut lipatan. Nah, gempa bumi terjadi disebabkan adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak, baik lempeng-lempeng tersebut bergerak saling menjauh atau saling mendekat, yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sagat besar. Gampangnya, gempa Bumi terjadi karena lempeng-lempeng tektonik bergoyang. Nah, saat satu lempeng tektonik itu bergoyang, menjauh-mendekat, maka lempeng yang lain akan terpengaruh, terutama pada bagian lipatannya, saat itulah gempa Bumi terjadi, gempa itulah yang kemudian kita rasakan dipermukaan Bumi ini.

Trus hubungannya dengan goyang dangdut apaan? Cermati baik-baik pertanyaan balik ini ya, kenapa orang ingin menikmati musik Dangdut (atau musik lainnya)? Dan bahkan sambil bergoyang pula?

Mungkin kita punya banyak jawaban untuk pertanyaan di atas, kalau memang kita punya jawaban, simpan saja baik-baik jawaban yang ada di benak kita itu di laci meja atau di saku celana, mari simak satu jawaban berikut: Karena jenuh. Akhirnya, dengan menikmati musik Dangdut, apalagi sambil bergoyang, sejenak jenuh itu akan meluap meskipun mungkin akan datang lagi.

Bumi yang kita pijak adalah Makhluk ciptaan Allah, sama seperti kita, kalau kita bisa jenuh dan bosan, maka bumipun bisa merasakan jenuh dan bosan pula. Apalagi kalau setiap saat dia (bumi kita tercinta) disuguhi dengan berbagai hiburan, berbagai musik dengan alunannya, dangdut dengan goyangnya. Apa dia tidak tergoda untuk menikmatinya dan kemudian joget bersama biduannya? Coba bayangkan, saat kamu pada puncak kejenuhan, boring tidak karuan, tiba-tiba saja Via Vallen datang menghampirimu dan melantunkan lagu-lagu manis bin galau dihadapanmu: sayaangg, opo kowe krungu.. jerite Asuku.

Kawan, bumi ini sudah terlalu jenuh dengan kerusakan yang kita buat, dengan kejahatan yang kita sebarkan, dengan keburukan yang kita tanam, dengan kejelekan yang kita ciptakan, dengan kenakalan-kenakalan kita. Ditambah lagi, kita mengiming-iminginya dengan berbagai goyangan. Siapa yang salah saat bumi tergoda kemudian ikut bergoyang dengan goyang itiknya Zaskia Gotik? Lalu terjadi gunjangan yang menakutkan kita, bahkan menakutkan mereka yang tidak pernah bergoyang sama sekalipun. Beruntung dia hanya meniru si Gotik, bagaimana kalau dia tidak mau pulang, tidak mau berhenti berteriak: “pokoke njoget, lalu menirukan Inul Daratista dengan goyang ngebornya atau Dewi Persik dengan goyang gergajinya???

*Penulis lahir di Gresik dan kini tinggal di Wonosobo Jawa Tengah. Punya hobi beragam, dari membaca. menulis, hingga diam. 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kegundahan Sederhana yang Disebabkan Kartu Nama 1 184

Jika Mas Robbyan Abel sudah bercerita tentang pergulatan mahasiswa tingkat akhir yang nggak tahan kudu mentas, kali ini izinkan hamba bercerita tentang satu tahap di atasnya: pengalaman kerja.

Beberapa waktu yang lalu, saya adalah job seeker, melamar sana-sini dan dipanggil untuk wawancara di perusahaan impian. Di tiap wawancara itu, saya tentu bertemu dengan pelamar lainnya. Di situ, terjadi perkenalan dan perbincangan basa-basi, khas warga Endonesah. Tujuannya jelas, siapa tahu jadi teman kantor saat kami sama-sama diterima. Kalaupun salah satu dari kami tidak beruntung, paling tidak sudah memperluas relasi.

Dalam perkenalan singkat itu, supaya tetap berkawan hingga kemudian hari, saya biasanya yang lebih duluan meminta kontak. Bukan nomor handphone, apalagi alamat rumah.

Saya tanyakan nama akun Instagram-nya.

Pada sebuah tes wawancara kerja, saya bertemu seorang pelamar lain yang ketika saya tanyai akun Instagram-nya, mengaku tidak punya. Saya lantas kaget. Hari gini, gak main Instagram? Padahal, menurut survei awur-awuran versi penulis, anak milenial macam kita ini paling suka menggunakan media sosial Instagram.

Perlu bukti? Kini kebutuhan hidup anak-anak muda adalah mencari tempat nongkrong dan liburan yang Instagram-able. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah itu. Sama seperti munculnya sebutan selebgram, jabatan yang patut diberikan pada mereka yang punya eksposur tinggi di jagad aplikasi berlogo kamera warna pelangi ini. Lantas berikutnya, jumlah followers, like, dan comment kemudian jadi komoditas dan kebutuhan hidup, selain uang tentunya (yang lagi-lagi untuk beli minum di tempat nongkrong yang Instagram-able).

Akibat kenalan baru saya ini tadi nggak punya Instagram, pilihan terakhir bagi saya adalah bertanya media sosial lain apa yang dia mainkan. Ternyata ia punya Twitter, syukurlah. Walau tentu meninggalkan pertanyaan dalam benak, bagaimana kawan saya ini bisa survive di antara teman se-gengnya ketika yang lain sedang ngumpul dan update story di Instagram, sementara dia nggak?

Cerita lain, setelah sebulan bekerja, saya bertemu banyak narasumber yang usianya beragam. Pengalaman lain lagi saya alami. Saat berkenalan dan meminta nomor HP narasumber, mereka menyodorkan barang yang tentu sama sekali asing bagi arek-arek lahiran tahun 2010-an ke atas: kartu nama.

Peristiwa ini membuat saya canggung. Sudah menyiapkan HP, membuat kontak baru di buku telepon HP, bersiap mengetikkan nomor si narasumber, eh dia nyodorin kartu nama. Bahkan, saking lumrahnya barang ini di era hidup si narasumber, mereka bertanya balik apa saya ada kartu nama yang bisa dipertukarkan. Entah harus malu atau bangga, mengaku di hadapan narasumber kalau saya anak milenial: generasi yang sudah tidak punya atau bahkan tidak tahu apa urgensi membuat kartu nama pribadi.

Tapi, saya bukan generasi yang sama sekali nggak kenal kartu nama. Sependek ingatan, saya pernah saling bertukar kartu nama dengan teman-teman di bangku SD. Kala itu, kami suka membuat kartu nama dengan warna dan gambar kartun favorit. Kartu nama di zaman itu jadi sebuah artefak penanda prestis, sangat ikonik, butuh dipamerkan dan dipertukarkan, layaknya kertas binder.

Lambat laun, kartu nama bagi anak seusia saya mulai ditinggalkan. Lantas, peristiwa kartu nama dengan narasumber itu membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: apakah memang sudah sejauh itu ketimpangan zaman milenial dengan generasi yang lahir sebelumnya? Kalau saya yang hampir 23 tahun ini saja sudah merasa ada gap gara-gara kartu nama, ndaniyo anake Raditya Dika karo Raisa?

Pertanyaan selanjutnya, salahkah bila kami tak punya kartu nama, dan punya cara berbeda dalam berkenalan dan berkorespondensi? Toh, perkenalan via dunia digital tidak mengurangi substansi dan etika.

Selain jadi komoditas pasar dan target kampanye politik, nasib milenial memang senantiasa jadi kambing hitam atas tuduhan-tuduhan “anak zaman sekarang mana ngerti…”atau “let’s confuse kids nowadays”.

Oalah Gusti, salah ta aku lahire saiki?

Foto: Deedee86 (Pixabay)

(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 139

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Editor Picks