Ketika Bumi Berjoged Goyang Itik 0 1860

Oleh: Abi Salim Syatiri*

Bagi orang Indonesia Dangdut adalah musik yang paling merakyat. Hampir semua kalangan suka dengan musik yang satu ini: tak muda-tak tua, tak miskin-tak kaya, tak pejabat-tak rakyat, hampir semuanya. Alasannya sederhana, pertama, mudah sekali bagi Rakyat Indonesia untuk memanjakan telinga tanpa harus menghabiskan kuota internet untuk mendownloadnya, tanpa harus menghabiskan baterai hape kalau mereka memang sudah punya banyak koleksinya, apalagi harus membeli tiket untuk nonton konsernya. Ya tanpa itu semua mereka masih bisa menikmatinya dengan mudah. Cukup nunggu tetangga hajatan saja, Dangdut pasti bergema.

Kedua, inilah mungkin alasan yang paling “nggeh” dan masuk akal: karena goyangannya, ya karena jogetnya. Bahkan sampai muncul “kata mutiara” yang amat masyhur dikalangan para penikmat Dangdut: Dangdut tanpa goyangan ibarat masakan tanpa garam, hambar tak ada rasanya. Sebut saja Inul Daratista dengan goyang ngebor-nya, Dewi Persik dengan goyang gergaji-nya, dan Zazkia Gotik dengan goyang itik-nya, dan para penikmatpun mengigau girang: krungu swarane gendang, tung mbokmu tung mbomu, penontone jingkrak-jingkrak, goyang-goyang, krungu swarane suling penak ono neng kuping, penontone joget nganti ora iling, pokoke, pokoke joget, pokoke joget, pokoke joget. 

Goyang berarti bergerak berayun-ayun, dari kegiatan bergoyang akan dihasilkan guncangan, guncangan ini akan terasa nikmat minimal dengan dua syarat: guncangan itu muncul bukan karena paksaan alias atas kehendak sendiri, dan diiringi musik. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kalau goyangan yang berevolusi menjadi guncangan tersebut datang dengan memaksa dan tanpa iringan satu alunan musik apapun? Tentunya bukan kenikmatan yang terasa, akan tetapi ketakutan.

Seperti halnya gempa Bumi, lho apa hubungannya goyang Dangdut dengan gempa Bumi? Dengerin baik-baik ya kawan, disamping karena adanya penggeseran magma di dalam gunung berapi, gempa Bumi yang kita rasakan dipermukaan Bumi ini merupakan manifestasi dari terjadinya gangguan pada lempeng-lempeng Bumi. Ketahuilah, Bumi yang kita huni ini tersusun atas empat lapisan utama, lapisan terluar namanya lithosphere, lapisan yang merupakan tempat dimana kita menginjakkan kaki, berlari, dan melakukan aktivitas lainnya seperti beribadah atau merokok sambil minum secangkir kopi. Setelah itu ada lapisan mantel, inti luar, dan yang paling dalam dinamakan inti dalam. Lapisan lithosphere yang menjadi pijakan kita ini tersusun atas bagian-bagian, dan setiap bagian lapisan itu senantiasa bergerak. Bagian lapisan lithosphere ini dikenal juga sebagai lempeng tektonik dan setiap lempeng tektonik memiliki ujung yang saling berbatasan yang disebut lipatan. Nah, gempa bumi terjadi disebabkan adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak, baik lempeng-lempeng tersebut bergerak saling menjauh atau saling mendekat, yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sagat besar. Gampangnya, gempa Bumi terjadi karena lempeng-lempeng tektonik bergoyang. Nah, saat satu lempeng tektonik itu bergoyang, menjauh-mendekat, maka lempeng yang lain akan terpengaruh, terutama pada bagian lipatannya, saat itulah gempa Bumi terjadi, gempa itulah yang kemudian kita rasakan dipermukaan Bumi ini.

Trus hubungannya dengan goyang dangdut apaan? Cermati baik-baik pertanyaan balik ini ya, kenapa orang ingin menikmati musik Dangdut (atau musik lainnya)? Dan bahkan sambil bergoyang pula?

Mungkin kita punya banyak jawaban untuk pertanyaan di atas, kalau memang kita punya jawaban, simpan saja baik-baik jawaban yang ada di benak kita itu di laci meja atau di saku celana, mari simak satu jawaban berikut: Karena jenuh. Akhirnya, dengan menikmati musik Dangdut, apalagi sambil bergoyang, sejenak jenuh itu akan meluap meskipun mungkin akan datang lagi.

Bumi yang kita pijak adalah Makhluk ciptaan Allah, sama seperti kita, kalau kita bisa jenuh dan bosan, maka bumipun bisa merasakan jenuh dan bosan pula. Apalagi kalau setiap saat dia (bumi kita tercinta) disuguhi dengan berbagai hiburan, berbagai musik dengan alunannya, dangdut dengan goyangnya. Apa dia tidak tergoda untuk menikmatinya dan kemudian joget bersama biduannya? Coba bayangkan, saat kamu pada puncak kejenuhan, boring tidak karuan, tiba-tiba saja Via Vallen datang menghampirimu dan melantunkan lagu-lagu manis bin galau dihadapanmu: sayaangg, opo kowe krungu.. jerite Asuku.

Kawan, bumi ini sudah terlalu jenuh dengan kerusakan yang kita buat, dengan kejahatan yang kita sebarkan, dengan keburukan yang kita tanam, dengan kejelekan yang kita ciptakan, dengan kenakalan-kenakalan kita. Ditambah lagi, kita mengiming-iminginya dengan berbagai goyangan. Siapa yang salah saat bumi tergoda kemudian ikut bergoyang dengan goyang itiknya Zaskia Gotik? Lalu terjadi gunjangan yang menakutkan kita, bahkan menakutkan mereka yang tidak pernah bergoyang sama sekalipun. Beruntung dia hanya meniru si Gotik, bagaimana kalau dia tidak mau pulang, tidak mau berhenti berteriak: “pokoke njoget, lalu menirukan Inul Daratista dengan goyang ngebornya atau Dewi Persik dengan goyang gergajinya???

*Penulis lahir di Gresik dan kini tinggal di Wonosobo Jawa Tengah. Punya hobi beragam, dari membaca. menulis, hingga diam. 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengapa Pejabat Emoh dengan Media dan Memilih Channel Deddy Corbuzier 0 302

Pejabat atau pemerintah atau orang-orang penting seperti selebriti sekalipun, dari dulu takut dengan media. Sebab apapun pernyataan yang muncul dari mulut, tentu akan dikutip dan dijadikan judul berita, dari sudut beragam rupa, tergantung siapa wartawannya dan di media mana ia bekerja. Bahkan ketika si figur publik diam saja, bahasa tubuhnya tetap akan jadi berita, lengkap dengan kutipan narasumber ahli pembaca mimik wajah.

Tapi ada satu rahasia: sampai sekarang mereka-mereka ini masih takut dengan media.

Buktinya, mereka lebih mudah ditemui tampil di Youtube sekarang. Seorang teman wartawan dengar-dengar sempat sebel dengan seorang sosok penting. Katanya berhari-hari mengejarnya demi wawancara tak kunjung digubris. Begitu diundang Om Deddy Corbuzier untuk “wan tu tri klos de dor”, langsung mau ngomong panjang lebar dengan durasi 1 jam.

Pembaca tahu kan, channel Om Deddy itu memang ajaib. Di kursi potkesnya, segala macam menteri mulai dari yang kemudian digotong KPK, sampai Lord Luhut, sudah pernah duduk dan bercengkeramah di sana. Bahkan terakhir, sejumlah media mainstream sampai mengutip omongan Luhut dari Youtube Om Deddy, soal cara penanganan corona di Indonesia.

Beberapa orang yang dulu kita temui tenar sekali di layar kaca, sekarang bahkan membangun kanal Youtube sendiri. Buanyak contohnya. Saya rasa pembaca bahkan salah satu subscribernya. Mulai Raffi Ahmad sampai Bambang Soesatyo Ketua MPR RI, kini bikin channel sendiri.

Setidaknya, penulis membaca fenomena ini sebagai berikut:

Pertama, karena mereka-mereka ini tahu siapa target yang disasarnya. Kaum milenial sampai generasi Z dan Alpha. Mereka yang sudah mulai, bahkan sama sekali, meninggalkan media mainstream. Mereka yang menghabiskan hari-hari berselancar di media sosial. Mereka-mereka ini, terlebih para pejabat publik, berusaha meraih perhatian mereka dengan turut aktif bermedsos. Tentu untuk membangun citra baik.

Sebut saja Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang selalu jadi tempat menumpahkan sumpah serapah penyebab banjir, macet, dan episentrum covid-nya ibu kota. Baru kali ini saya lihat Anies marah-marah (loh kok niru-niru mantan walikotaku seh) pada pemimpin perusahaan non-esensial yang masih buka di kala PPKM Darurat mengharuskan 100 persen WFH.

Aksi itu bukan terekam di layar kaca berita loh ya, tapi di story Instargram-nya. Hal ini terjadi di tengah iritnya humas pemprov membagi agenda harian sidak-sidak gubernur pada awak media.

Belum lagi Khofifah Indar Parawansa, bunda-ne arek-arek, yang baru saja mengunggah foto tak biasa di akun Instagramnya. Bukan program kerja, melainkan tangkapan layar balas-balasan komennya dengan seorang netijen pemuda patah hati. Pendekatan yang sama juga sudah lama dilakukan Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng, dan terlebih Ridwan Kamil, Gubernur Jabar.

Mereka paham betul bagaimana bahasa yang harus digunakan pada para muda, dan topik apa saja yang menarik dibahas. Eh ralat, mungkin merekanya gak paham, setidaknya tim jubir, tim staf khusus ahli komunikasi, atau tim kampanye 2024-nya yang paham strategi memenangkan hati rakjat.

Hal kedua, ya tetap bermuara pada kesimpulan pejabat takut dengan media. Podcast para youtuber bisa menjadi pelarian yang paling tepat. Sebab hanya di medsos-lah, pejabat-pejabat ini bisa dengan bebas ngobrol soal musik favorit, hobi, bahkan love story. Hanya di sana, mereka bisa libur sejenak dari pertanyaan-pertanyaan memuakkan wartawan media mainstream yang tak pernah lelah “menyudutkan” (baca: mengkritisi).

Tapi gak apa-apa. Saya rasa, media mainstream tak perlu ikut-ikutan gaya youtuber agar disukai masyarakat atau membuat pejabat mau diwawancarai. Media cukup menjadi dirinya sendiri. Sebab apapun dalam kue kehidupan di dunya ini punya potongan dan porsinya masing-masing.

Media idealnya memang pilar keempat demokrasi dengan segala kekakuan prinsip, struktur, dan etika profesinya. Sementara medsos harus tetap ada pada pondasinya untuk membuat masyarakat kita berproses.

Masyarakat kita bisa tetap kok memilih media mainstream sebagai jujugan utama, landasan teori dan mewacanakan diskursus, yang kemudian bisa direalisasikan dalam tukar pendapat di medsos yang tak ada ambang batasnya, kecuali UU ITE.

Tapi, hal yang barusan saya bicarakan di atas itu kayaknya ya hanya harapan kita saja. Hari-hari ini, pembaca semua tahu, media mainstream dan media sosial sudah dikapitalisasi, jika tak terlalu kasar kita menyebutnya dimonopoli, oleh mereka yang berduit dan berkuasa saja, tak mampu membuat kita bebas mencerna dan berbagi wawasan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Indonesia Harus Mencetak Lebih Banyak Duta 0 328

Judul tulisan ini bukan sekadar bercanda. Kalimat dalam judul saya tuliskan karena kenyataannya, pada titik ini, Indonesia sudah banyak sekali merekrut duta baru.

Sebut saja dua duta masker dari Bekasi dan Surabaya. Mereka bukan datang dari kalangan orang-orang yang punya wawasan mendalam soal pandemi COVID-19, ataupun influencer yang suka mempromosikan protokol kesehatan.

Alkisah seorang pemuda masjid di Bekasi yang memantik adu mulut karena seorang jamaah pakai masker saat salat. Menurut kepercayaannya, dalam Al-Qur’an tak ada ajaran untuk pakai masker saat menjalankan ibadah.

Sementara itu, dari Surabaya, seorang pemuda di suatu mall dengan bangga memamerkan dirinya yang tak pakai masker, dan justru berteriak mengolok-olok pengunjung lain yang taat prokes.

Pembaca sudah tahu kan, apa kelanjutan kisah dari dua orang itu? Keduanya malah dinobatkan jadi duta masker. Hal inilah yang membuat sebagian dari masyarakat naik pitam.

Dari mana logika para pembuat kebijakan dan yang mengangkat mereka menjadi duta berasal? Bagaimana bisa, seorang pelanggar malah diangkat menjadi duta yang harusnya menjadi contoh bagi orang lain? Begitu paling tidak yang juga dikatakan Om Deddy Corbuzier di salah satu potkes “close the door”-nya.

Eits, tapi cara ini tak sepenuhnya salah, loh! Dalam ilmu psikologi, ada yang namanya reward atau penghargaan, dan punishment atau hukuman. Penelitian menyebut, memberi penghargaan lebih efektif daripada menjatuhi hukuman. Gak percaya? Sini saya jelaskan.

Menurut ilmu neuroscience untuk menjelaskan reward, seseorang akan berusaha keras dan melakukan suatu aksi. Ada sinyal di otak yang dipantik oleh neuron dopaminergik di bagian otak tengah yang bergerak ke motor cortex, dan memengaruhi aksi atau perilaku kita.

Mangkanya waktu kecil, kita diiming-imingi orang tua akan dibelikan es krim kalau nilai matematika bagus. Kita lalu berusaha keras untuk belajar siang-malam, mengerjakan soal ujian dengan sungguh-sungguh, agar meraih penghargaan yang telah dijanjikan orang tua.

Sebaliknya, punishment membuat seseorang berusaha untuk menghindari bahaya dengan cara tidak melakukan suatu aksi. Sinyal di otak yang terjadi hampir sama ketika kita memproses reward. Bedanya, punishment membuat sebuah efek “freeze” di otak, sehingga kita tidak jadi melakukan suatu tindakan.

Misalnya, kita diperingati orang tua untuk tidak suka memanjat pagar agar tidak jatuh. Karena kita tahu jika jatuh menyebabkan sakit, berdarah, dan luka, maka kita tak jadi melakukannya.

Nah, dari kedua reaksi otak dan aksi yang ditimbulkannya, peneliti tersebut menyebut otak lebih mudah menerima informasi positif ketimbang negatif. Artinya, ya manusia normal akan lebih mengejar reward dan menjalankan aksi, ketimbang menghindari aksi untuk tidak mendapat punsihment.

Sudah banyak contohnya kata ilmuan. Misalnya orang akan lebih mudah untuk dimotivasi berolahraga dan makan makanan sehat dengan sejumlah reward kecil berupa hadiah, daripada diingatkan tentang bahaya obesitas dan penyakit. Selain itu, masih buanyak contoh penelitian tentang persoalan ini.

Paling mudah lihat ke diri sendiri saja. Kita lebih suka diberi pujian (reward) oleh bos saat kerjaan kita baik. Kita jadi ingin terus-terusan kerja maksimal agar dipuji lagi. Sebaliknya, kita jadi bekerja makin males-malesan dan setengah hati, ketika terus-terusan diberi punishment oleh atasan. (hehe maaf curhat pengalaman pribadi)

Hal yang sama sebenarnya berlaku pada si duta masker, atau duta-duta lain termasuk Duta Sheila on 7. (sorry iki dicoret wae soale guyonane garing koyok bapack-bapack komplek)

Memberi jabatan sebagai duta sama saja dengan memberi penghargaan baru. Sekaligus justru menjadi tanggung jawab. Sebab, setelah menjadi duta, seseorang akan sadar bahwa dirinya menjadi panutan atau tolok ukur masyarakat.

Seperti pemuda di Bekasi yang bernama Nawir itu. Ia kini mengambil hikmah dari ribut-ribut soal masker dan salat itu. Kini ia jadi aktivis mengingatkan jamaah agar memakai masker sebelum memasuki area masjid. Bahkan ia membagi-bagikan secara gratis masker dan hand sanitizer.

Jika dibina baik-baik, pemuda-pemuda pengikut konspirasi elit global yang tak percaya COVID-19 bisa berubah 180 derajat, justru menjadi pelaku protokol kesehatan yang paling taat.

Jangan-jangan, Indonesia harus mulai memikirkan kembali mengapa rakyatnya sulit sekali memakai masker dan menjaga jarak. Seluruh sanksi sosial dan denda para pelanggar prokes mungkin tak cukup efektif. Justru sebaliknya, sediakan saja dana untuk mengangkat duta-duta baru. Selamat mencoba!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Editor Picks