Ketika Bumi Berjoged Goyang Itik

Bagi orang Indonesia Dangdut adalah musik yang paling merakyat. Hampir semua kalangan suka dengan musik yang satu ini: tak muda-tak tua, tak miskin-tak kaya, tak pejabat-tak rakyat, hampir semuanya. Alasannya sederhana, pertama, mudah sekali bagi Rakyat Indonesia untuk memanjakan telinga tanpa harus menghabiskan kuota internet untuk mendownloadnya, tanpa harus menghabiskan baterai hape kalau mereka memang sudah punya banyak koleksinya, apalagi harus membeli tiket untuk nonton konsernya. Ya tanpa itu semua mereka masih bisa menikmatinya dengan mudah. Cukup nunggu tetangga hajatan saja, Dangdut pasti bergema.

Kedua, inilah mungkin alasan yang paling “nggeh” dan masuk akal: karena goyangannya, ya karena jogetnya. Bahkan sampai muncul “kata mutiara” yang amat masyhur dikalangan para penikmat Dangdut: Dangdut tanpa goyangan ibarat masakan tanpa garam, hambar tak ada rasanya. Sebut saja Inul Daratista dengan goyang ngebor-nya, Dewi Persik dengan goyang gergaji-nyadan Zazkia Gotik dengan goyang itik-nya, dan para penikmatpun mengigau girang: krungu swarane gendang, tung mbokmu tung mbomu, penontone jingkrak-jingkrak, goyang-goyang, krungu swarane suling penak ono neng kuping, penontone joget nganti ora iling, pokoke, pokoke joget, pokoke joget, pokoke joget. 

Goyang berarti bergerak berayun-ayun, dari kegiatan bergoyang akan dihasilkan guncangan, guncangan ini akan terasa nikmat minimal dengan dua syarat: guncangan itu muncul bukan karena paksaan alias atas kehendak sendiri, dan diiringi musik. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kalau goyangan yang berevolusi menjadi guncangan tersebut datang dengan memaksa dan tanpa iringan satu alunan musik apapun? Tentunya bukan kenikmatan yang terasa, akan tetapi ketakutan.

Seperti halnya gempa Bumi, lho apa hubungannya goyang Dangdut dengan gempa Bumi? Dengerin baik-baik ya kawan, disamping karena adanya penggeseran magma di dalam gunung berapi, gempa Bumi yang kita rasakan dipermukaan Bumi ini merupakan manifestasi dari terjadinya gangguan pada lempeng-lempeng Bumi. Ketahuilah, Bumi yang kita huni ini tersusun atas empat lapisan utama, lapisan terluar namanya lithosphere, lapisan yang merupakan tempat dimana kita menginjakkan kaki, berlari, dan melakukan aktivitas lainnya seperti beribadah atau merokok sambil minum secangkir kopi. Setelah itu ada lapisan mantel, inti luar, dan yang paling dalam dinamakan inti dalam. Lapisan lithosphere yang menjadi pijakan kita ini tersusun atas bagian-bagian, dan setiap bagian lapisan itu senantiasa bergerak. Bagian lapisan lithosphere ini dikenal juga sebagai lempeng tektonik dan setiap lempeng tektonik memiliki ujung yang saling berbatasan yang disebut lipatan. Nah, gempa bumi terjadi disebabkan adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak, baik lempeng-lempeng tersebut bergerak saling menjauh atau saling mendekat, yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sagat besar. Gampangnya, gempa Bumi terjadi karena lempeng-lempeng tektonik bergoyang. Nah, saat satu lempeng tektonik itu bergoyang, menjauh-mendekat, maka lempeng yang lain akan terpengaruh, terutama pada bagian lipatannya, saat itulah gempa Bumi terjadi, gempa itulah yang kemudian kita rasakan dipermukaan Bumi ini.

Trus hubungannya dengan goyang dangdut apaan? Cermati baik-baik pertanyaan balik ini ya, kenapa orang ingin menikmati musik Dangdut (atau musik lainnya)? Dan bahkan sambil bergoyang pula?

Mungkin kita punya banyak jawaban untuk pertanyaan di atas, kalau memang kita punya jawaban, simpan saja baik-baik jawaban yang ada di benak kita itu di laci meja atau di saku celana, mari simak satu jawaban berikut: Karena jenuh. Akhirnya, dengan menikmati musik Dangdut, apalagi sambil bergoyang, sejenak jenuh itu akan meluap meskipun mungkin akan datang lagi.

Bumi yang kita pijak adalah Makhluk ciptaan Allah, sama seperti kita, kalau kita bisa jenuh dan bosan, maka bumipun bisa merasakan jenuh dan bosan pula. Apalagi kalau setiap saat dia (bumi kita tercinta) disuguhi dengan berbagai hiburan, berbagai musik dengan alunannya, dangdut dengan goyangnya. Apa dia tidak tergoda untuk menikmatinya dan kemudian joget bersama biduannya? Coba bayangkan, saat kamu pada puncak kejenuhan, boring tidak karuan, tiba-tiba saja Via Vallen datang menghampirimu dan melantunkan lagu-lagu manis bin galau dihadapanmu: sayaangg, opo kowe krungu.. jerite Asuku.

Kawan, bumi ini sudah terlalu jenuh dengan kerusakan yang kita buat, dengan kejahatan yang kita sebarkan, dengan keburukan yang kita tanam, dengan kejelekan yang kita ciptakan, dengan kenakalan-kenakalan kita. Ditambah lagi, kita mengiming-iminginya dengan berbagai goyangan. Siapa yang salah saat bumi tergoda kemudian ikut bergoyang dengan goyang itiknya Zaskia Gotik? Lalu terjadi gunjangan yang menakutkan kita, bahkan menakutkan mereka yang tidak pernah bergoyang sama sekalipun. Beruntung dia hanya meniru si Gotik, bagaimana kalau dia tidak mau pulang, tidak mau berhenti berteriak: “pokoke njoget, lalu menirukan Inul Daratista dengan goyang ngebornya atau Dewi Persik dengan goyang gergajinya???