Liku dan Luka Homoseksualitas dalam ‘Pria’ 0 4833

Satu bulan belum genap semenjak rilisnya sebuah film independen karya sutradara Yudho Aditya yang cukup menggemparkan khalayak fujoshi youtubers di Indonesia Desember lalu. Sesuai dengan trailer yang dirilis dua bulan sebelumnya, film pendek bertitel Pria ini mengangkat satu dari sekian banyak ‘tema sensitip nasional’, yakni homoseksualitas.

(Oh ya. Mohon maaf kalau tulisan ini bakal mengumbar spoiler di antara paragraf-paragraf indahnya.)

Mengangkat kisah “fiktif” seorang pemuda bernama Aris (Chicco Kurniawan), film Pria mengikuti lika-liku pun luka-luka kehidupan sang tokoh utama lantaran menemukan dirinya ternyata ‘tidak seberapa pria’. Vonis tersebut patut dijatuhkan atas Aris—atau lebih tepatnya, disimpulkan—melalui beban perundungan yang harus ia pikul, baik yang nampak secara eksplisit melalui dialog masyarakat di desanya, maupun implisit dengan penggunaan simbolisme.

Kriteria makhluk apa yang pantas disebut pria dalam konteks latar tempat film ini tentu saja ‘pria’ sebagaimana sesuai dengan konvensi sosial yang merakyat di Indonesia. Dengan kata lain, ‘pria’ di sini dapat dijadikan payung definisi bagi sifat macho, tak kenal takut, tegas, berani, model rambut pendek, dan kesanggupan menjadi tulang punggung keluarga. Menjadi cukup menggelitik kala kita juga sama-sama tahu, bahwa kesemua sifat itu sebenarnya hanya mampu menjabarkan salah satu gender, sebuah peran manusia secara sosial, dan bukan jenis kelamin, sebuah karakteristik biologis yang justru lebih hakiki.

Tak cukup dengan adegan Aris melenggak-lenggok di depan cermin kamar layaknya penari wanita lemah gemulai, Pria menampilkan pula tokoh Mr. Peter (Jacob McCarthy), seorang guru Bahasa Inggris sekaligus love interest bagi Aris. Tanda tanya besar muncul akan mengapa Mr. Peter—yang pada akhirnya bersentuh bibir dengan Aris (hore!)—harus diperankan aktor asing berkulit putih dan berambut pirang. Apakah tokoh Aris di sini cukup termakan dengan stereotipe ‘jika bule maka ganteng’? Ataukah Yudho, meskipun pada awal film mengapresiasi keberanian kaum pelangi, ingin menyiratkan bahwa homoseksualitas tetaplah pengaruh dari bangsa barat? Entahlah.

Biar demikian, meskipun hanya mampu tayang melalui YouTube, Yudho cukup berani melabel karya audio-visualnya ini sebagai sebuah ‘Gay Indonesian Short Film’, mengingat Indonesia adalah salah satu negara ter-homofobik di dunia. Tidak hanya dalam perkara homoseksualitas, namun juga seksualitas secara menyeluruh. Nampak dalam kolom komentar di tautan YouTube film Pria segala kecam dalam berbagai varian bahasa dan kesantunan, baik untuk para pembuat film maupun bagi kaum LGBTQ+ yang sedang jadi ujub representasi Pria.

Penulis jadi gatal sendiri dan akhirnya sibuk bertanya dalam hati: kenapa siiich mereka bisa benci banget sama kaum pelangi?

Padahal, apabila dikatakan bahwa LGBTQ+ tidak sesuai dengan budaya Indonesia—ini alasan paling umum, iya nggak?—pernyataan tersebut dapat dinyatakan TIDAK VALID.

Mengapa?

Karena, LGBTQ+ sesungguhnya ada dalam warisan kesenian, filosofi, sekaligus adat dalam sejarah lawas bangsa Indonesia. Dengan kata lain, Indonesia asli sebenarnya punya budaya LGBTQ+.

Pembuktian

Di Cilacap, Jawa Tengah, misalnya, tempat di mana Lengger Banyumasan seharusnya melestari. Pertunjukan kesenian di daerah ini pada dasarnya menampilkan kaum laki-laki yang berdandan dan menari layaknya wanita Jawa, membuatnya lebih sering disebut ‘Lengger Lanang’. Wujud filosofi transeksualisme sebagai ritual pemujaan terhadap Dewi Kesuburan ini bisa saja musnah jika tidak digandoli dengan gigihnya oleh Mbah Dariah, sang penerima penghargaan Maestro Seniman Tradisional dari Presiden RI di tahun 2011.

Beralih sedikit ke timur ada Ludruk, pertunjukan panggung khas Jawa Timur yang populer di Surabaya, Jombang, Malang, dan sekitarnya. Media cerita lawak sekaligus perenungan ala rakyat dalam empat babak ini juga tak luput dari sentuhan transeksualisme. Tampilan wedokan, yang juga ajang bagi para pria untuk menyanyi dengan riasan plus kostum perempuan, jadi senjata pengundang tawa di babak keduanya. Belum lagi menyoal Tari Gandrung, yang saat ini jadi ciri khas kabupaten festival Banyuwangi. Sangat sedikit orang mengenal bahwa Tari Gandrung sebenarnya diawali dengan keberadaan Gandrung Marsan, pertunjukan tari oleh pria yang, lagi-lagi, berdandan perempuan.

Meloncat ke luar pulau, masih ada lagi tradisi Bissu di Sulawesi Selatan. Bissu ialah pendeta sekaligus dukun penyembuh suku Bugis kuno yang menjalankan keseharian sebagai seorang transvertis. Menurut kepercayaan, saat sebuah raga manusia dimasuki roh dengan jenis kelamin berbeda dengannya, saat itulah ia harus memulai hidup sebagai entitas berjenis kelamin berbeda pula. Jika laki-laki, ia akan berubah jadi perempuan. Sebaliknya jika perempuan, ia akan berubah jadi laki-laki.

Jadi, kalau sampai sekarang anak perempuan masih tidak boleh main mobil-mobilan, dan anak lelaki tidak boleh main boneka… itu kenapa ya?

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Solusi untuk Kekecewaan Netijen atas Debat Pilpres 2019 0 484

Tak perlulah menunggu 24 jam berlalu untuk menyimpulkan ketidakpuasan khalayak masyarakat Endonesa dengan jalannya Debat Capres-Cawapres 2019 seri pertama tempo hari. Wong belum dimulai saja netijen sudah berebut saling menuduh kok! (Persis seperti performa kedua paslon di panggung debat kemarin.)

Indikator ‘mboseni’ jadi tajuk utama pidato-pidato tertulis rakyat dunia maya di kanal media sosial masing-masing. Maka, tidak heran jika para moderator debat kini kudu banget menyapa mereka dengan sebutan ‘warganet’ secara spesifik. Sebab, nonton netijen tonjok-tonjokan via live chat bisa jadi lebih seru ketimbang debat berkisi-kisi kemarin.

Penulis mengamati lalu lintas online dan menemukan minimal tiga tipe penonton debat Endonesa. Satu, warganet fanatik. Tipe ini bersorak kapan saja paslon dukungannya berbicara. Tidak peduli omongan bodoh kekanakan atau tidak, mereka merayakan argumen paslon tersebut dan mendiskreditkan argumen paslon lawan, meskipun kadang-kadang sing diomong sakjane podho intine.

Dua, warganet semi-teredukasi. Ini adalah golongan unik yang punya kesantunan cukup dan kesadaran mumpuni bahwa sebenarnya kedua paslon pancene podho wae. Meski demikian, spesies satu ini umumya sudah menetapkan jagoan pribadinya dan hanya menonton debat untuk mengonfirmasi bahwa pilihannya sudah tepat. Kemampuan mereka untuk nyelimur  tidak diragukan di kala paslon jagoannya kelihatan nggak menguasai topik. Caranya, mencari cocokologi supaya bisa membela paslonnya di hadapan warganet kubu satunya.

Tiga, warganet super-teredukasi. Nama lain golongan ini adalah golongan plegmatis-utopis. Didominasi oleh mereka yang doyan banget nonton tontonan luar negeri, golongan ini gemar sekali memuja dan mengonsumsi apa-apa yang dari luar Indonesia—biasa, dengan merujuk negara-negara “maju” saja—dan memicingkan mata untuk persoalan-persoalan genting di negaranya sendiri. Boro-boro mencari tahu dan mengomparasi keabsahan data argumen para paslon, umumnya ketertarikan politik mereka berhenti seraya mengucap kalimat, “Tuh kan. Ya gini ini Indonesia, politiknya kotor. Capres nggak ada yang bener. Mending gue tinggal di negara XXX daripada disalahin karena golput.

Padahal, dengan mayoritas kaum milenial-belum-cukup-dewasa, tipe terakhir ini cukup banyak jumlahnya. Sumbangan suaranya tidak bisa dianggap kecil, apalagi sumbangan partisipasi politiknya di masa depan. Sungguh eman bahwa justru tipe inilah yang memiliki keberjarakan paling lebar dengan persoalan politik dan hukum Indonesia.

Tapi di sisi lain, mereka tidak bisa sepenuhnya disalahkan juga. Dari debat kemarin saja, kedua paslon terang-terangan kalah telak untuk mengelaborasi visi-misi mereka secara konseptual dan rinci seperti yang dilakukan Nurhadi-Aldo, hehe. Alhasil, performa kedua pasangan bukan hanya mengecewakan bagi mereka yang teredukasi secara politik, melainkan juga para pendukung, tim sukses, dan tim kampanye masing-masing.

Penulis juga paham, andaikata memang kedua paslon tampil all out dan argumennya “saling terkam”, bisa-bisa bacok-bacokan kedua kubu jadi lebih panas. Skak mat emang jadi capres-cawapres 2019 – yang senantiasa harus diingatkan lagi dan lagi untuk kampanye damai.

 

Ya Sudah Begini Saja

Di tahun 2016 lalu, penulis menemukan fenomena internet yang lucu bin ajaib, unik bin geli, sekaligus mampu jadi solusi mujarab. Ditemukan di sebuah dimensi yang biasa dieksplorasi warganet super-teredukasi, penulis menyimpulkan bahwa ini pastilah sesuatu yang bisa banget menarik hati (dan suara) para netijen plegmatis-utopis. Temuan ini berjudul “Anies x Sandi Fanfiction”, sebuah naskah bromance.

Sebagian pembaca mungkin sudah familiar dengan istilah ini, namun sebagian lain mungkin tidak. Bromance, atau yang merupakan singkatan dari brother dan romance, adalah sebuah genre kultur populer yang merayakan dan mengomersilkan kemesraan antara lelaki dengan lelaki lainnya.

Bukti-bukti nyata lain dari keberadaan fenomena ini adalah berkembangnya fanfiction atau fiksi fantasi di situs-situs online penggemar. Mulai dari tayangan televisi, anime, grup idola, hingga selebriti, para fans ini memasang-masangkan dua atau lebih tokoh laki-laki dalam satu cerita, umumnya dengan tema asmara. Skalanya sangat lebar, mulai dari cinta vanila hingga hardcore romance, yang tentunya demi kepuasan fantasi para penggemar semata.

Bukti selanjutnya adalah membludaknya video bromance moments yang mengompilasikan momen-momen kedekatan selebriti laki-laki K-Pop di Yutub. Mulai dari yang rangkul-rangkulan sampai yang—yah apa aja ada lah ya. Video-video tersebut ditonton ratusan ribu bahkan jutaan orang, dengan kolom komentar didominasi pujian dan ekspresi gemes. Berani taruhan, nyaris separuh dari total penonton itu adalah fans dari Indonesia, yang hobi cekikikan di atas kasur tengah malam menyaksikan para idolanya bertingkah mesra satu sama lain.

Mungkin di sinilah keunggulan Sandi-Prabowo dibanding Jokowi-Ma’ruf. Segelintir rakjat berhasil dibuat jerit-jerit dengan aksi mesra mereka kemarin, lengkap dengan setelan jas necis ala oppa-oppa kaya dari drama Korea. Sepertinya, salah satu alasan keberadaan sejumlah fiksi fan macam ‘Anies x Sandi’ adalah karena Sandiaga Uno memang orang yang boyfriend goal bingits. Lihat saja, dengan pasangan barunya—ehem—Sandi bahkan berani pijet-pijetan di depan umum! Apalagi setelah Prabowo mencuit kalau doi bisa tidur nyenyak setelahnya… Kyah! Mana bisa otak-otak fangirl tidak berfantasi?!

Begini lho maksudnya. Janganlah hal-hal seperti bromance ini lalu dilihat sebagai penistaan budaya bangsa, apalagi degradasi moral para milenial, sebagaimana kerap diujar para orang tua (dan polisi moral). Lihatlah ini sebagai sebuah ekspresi kedekatan antara satu pribadi dengan pribadi lain. Lihatlah ini sebagai sebuah cara baru saling mencintai dan mengapresiasi sesama manusia, yang sesuai dengan cita-cita bangsa untuk hidup rukun tanpa banyak masalah.

Bromance, sebagai ekspresi baru cinta dan kedamaian, juga bisa jadi jalan tengah bagi persoalan capres-cawapres 2019 saat ini. Tim kampanye yang buntu jalan bisa banget mengeksplorasi cara ini untuk mem-branding paslonnya. Siapa sih, yang nggak suka menyaksikan dua orang yang berkomitmen menggenggam negara selama bertahun-tahun bisa dekat dan mesra satu sama lain? Sama seperti sejoli yang cubit-cubitan, dorong-dorongan, rangkul-rangkulan, sambil memandang mata satu sama lain dengan senyum mengembang.

Minimal, bromance ini seenggaknya bisa lah menarik mata dan hati dan suara tipe warganet ketiga tadi. Lumayan kan untuk memerbaiki image paslon pasca-debat pertama dan mencairkan ketegangan hari-hari ini? Sudah menarik, kyuti, damai pula. Komplit!

Omelan-omelan Baru Berkat ‘Aquaman’ 0 271

Kemarin akhirnya penulis menaati sihir-sihir netizen untuk segera menonton film terbaik sepanjang sejarah DC Comics, Aquaman. Nyatanya, dalam 143 menit kita disajikan paduan gambar serba apik garapan Warner Bross Pictures di tangan sutradara yang tepat, James Wan. Petualangan bersama manusia amfibi nan gondrong ini tidak langsung dihadirkan lewat adegan berantem pake ototnya, yang serba bikin hati mbak-mbak gemes dagdigdug gak karuan. Bahkan jauh sebelum itu, cerita dimulai dari Arthur Curry, si tokoh utama, dalam tahapan belum sama sekali terencana di benak kedua orang tuanya.

Kali ini, penulis tidak punya cukup amunisi untuk ngomeli film ini. Pertama, karena penulis takut dihajar fans berat DC Extended Universe. Kedua, karena nyatanya film ini menghibur banget, walaupun mudah dilupakan sepulang keluar dari pintu Exit gedung bioskop lantaran formulasi film hero yang ya-gitu-itu (loh kok sidone ngomel?).

Penulis cukup memberikan satu alasan besar mengapa kamu harus nonton film ini. Tidak lain tidak bukan, adalah supaya cukup menampar kamu dengan kebiasaan yang acuh tak acuh dengan kondisi bumi dan lingkungan. Hehe.

Alkisah Arthur Curry adalah putra sulung Atlanna, Ratu Atlantis, hasil dari perkawinan silang dengan manusia biasa akibat kabur dari perjodohan. Tapi pada akhirnya laut tetap menjemput dan pernikahan yang semestinya tetap terjadi. Lahirlah putra kedua, Orm, yang pada masa mendatang berambisi menjadi penguasa lautan, menyatukan berbagai kerajaan untuk melawan manusia daratan. Alasannya satu, karena bangsa manusia yang terus-terusan mencemari laut. Hmm kon. Ya opo gak kesindir awakmu?

Untuk menyegarkan ingatan kita bersama, Indonesia sebagai negara mayoritas lautan digadang-gadang sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Bahkan Indonesia sudah dapat berbagai macam sempritan kecaman dari mana-mana.

Sebuah penelitian oleh Indonesia, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada menunjukkan 26 bagian per 100 meter persegi terumbu karang Indonesia tercemar limbah plastik. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sampah plastik yang dihasilkan rakjat mencapai 24.500 ton per hari.Sampeyan semua tahu kan, kalau sampah plastik butuh lebih dari 20 tahun untuk akhirnya benar-benar terurai? 79% dari jumlah itu hanya berakhir di TPA. 80% ikan terkontaminasi sekitar 8-9 biji kecil-kecil plastik. Plastik-plastik itu kemudian turut memercepat kematian penyu sebesar 50%.

Pertanyaannya, kok bisa sampai separah ini kondisi persampahan di laut Indonesia?

Jawabnya sederhana, karena konsumsi produk berkemasan plastik, terutama dari food and beverage–karena orang kita suka makan kali ya–yang terlalu buanyak di daratan ini. Kedua, karena ya begonya kita aja suka buang sampah di kali, pantai, atau laut.

Segala usaha sebenarnya sudah dilakukan pemerintah kita. Pernah ingat kan di awal 2016 ketika keramahan mbak-mbak minimarket berubah menjengkelkan dengan pertanyaan plus-plus ‘Pakai kantong kresek bayar 200 rupiah ya kak?’, selain ‘Nambah pulsanya sekalian?’ atau ‘Kuenya lagi promo beli dua gratis satu’. Peraturan dari KLHK itu bertahan tidak lebih lama dari hubunganmu dengan arek’e, sekitar tiga bulan saja. Pun sama tragisnya dengan pelajaran lingkungan hidup di sekolah, yang membuat sekolah rela beli tiga macam tong sampah supaya siswanya belajar memilah sampah. Ketika sampai di TPA, ya semua nyampur jadi satu.

Sampai akhirnya, muncullah solusi baru, yaitu peniadaan sedotan plastik di berbagai resto fast food. Peluang ini dilihat betul dengan menghadirkan mahakarya stainless steel straw, yang penggunaannya kerap kali dipamerkan arek-arek di story Instagram mereka biar kelihatan kayak aktivis lingkungan. Sedotan logam yang harganya bervariasi mulai dari belasan hingga puluhan ribu rupiah itu katanya tidak mengandung BisphenoIA (BPA) yang biasa terkandung di sedotan plastik, sehingga mengurangi resiko kegagalan reproduksi, diabetes, dan serangan jantung.

Selain menawarkan kesehatan dan reuseable-ness, sedotan logam ini akhirnya mulai mewabah, menjelma jadi tren kekinian. Jika pembaca adalah penggemar berat sedotan ini lantaran cinta pada Fishermen, Trench, Brine, dan kawan-kawannya, penulis hargai betul. Yang patut dicurigai adalah yang punya motif-motif lain. Misalnya, karena rasa terpaksa akibat setarbak dan mekdi mengeluarkan produk gelas langsung cucup. Ya sudah kan, akhirnya berpasrah lagi kita pada produk-produk kapitalis ini.Penulis juga makin curiga, film Aquaman ini pada akhirnya bisa dimanfaatkan untuk soft selling buat stainless straw, meningkatkan awareness dan menyasar conviction konsumen. Sayangnya, kita terjebak dengan perasaan seakan-akan telah turut berpartisipasi dalam kampanye ‘say no to plastic’ di balik gelas-gelas teh cantik dan kopi manja dengan paduan elemen stainless straw dan sedikit effort untuk menjadikannya Instagramable. Ya, penulis berdoa semoga tidak.

Anyway, film Aquaman ini menurut hemat penulis setidaknya turut melanggengkan plot favorit perfilman yang kudu banget pakai formula konflik cinta terlarang. Film ini turut menghidupkan imajinasi jombloers di luar sana, berharap bujang lapuk yang kesepian di tepian ombak tiba-tiba dapet rejeki wanita cantik yang terdampar. Doa baik penulis untukmu, semoga scene serupa terjadi atas kita semua, dan tidak ada lagi diksi ‘cinta terlarang’, baik di dunia manusia darat maupun perairan, hiks.

Editor Picks