Menanti Drama Om Fredrich 0 654

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Semewah-mewahnya hidup pengacara, akhirnya dipenjara juga. Ups.

Media lagi-lagi ‘dihibur’ oleh wajah Fredrich Yunadi yang kembali ke permukaan. Alih-alih melindungi klien, kini giliran dirinya yang harus mencari perlindungan. Tanggal 10 Januari kemarin telah dicatat sebagai hari bersejarah: passca drama berdarah-darah kasus korupsi e-KTP yang digarapnya, Fredrich akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan ini adalah jawaban yang dirindukan publik setelah dugaan (yang tiada perlu disangkal) menghalang-halangi proses penyidikan Papa Setnov.

Pembaca tentu tahu sekuat apa Fredrich melindungi pucuk pimpinan tertinggi DPR RI ini untuk berkelit dari penghakiman. Dari penetapan pertamanya sebagai tersangka Juli 2017, pengacara handal nun kelas kakap tersebut berhasil meloloskannya. Drama semakin seru sebab KPK berhasil menyeret lagi nama Setya Novanto ke bursa tersangka Oktober 2017.

KPK memang sedang garang-garangnya, macam ibu tiri. Barangkali, keberhasilan lembaga anti-rasuah ini yang tiada ampun pada Setya Novanto adalah berkat doa, pantang, dan puasa segenap rakyat Indonesia.

Kisah kasih Setya Novanto pada penetapan kedua kali sebagai tersangka selalu jadi highlight paling mukhtahir sepanjang 2017 lalu. Setingkat dengan pemberitaan Raffi-Nagita, si pengacara Fredrich belakangan ikut-ikutan makin terdongkrak popularitasnya. Apalagi setelah namanya santer disebut di warung-warung kopi dan gossip ibu-ibu yang njajan sayur ke pasar, Fredrich memilih jadi mantan terindah dalam pembelaan Setnov terhadap KPK.

Terlepas dari segala kasus besar yang piece of cake baginya – macam kasus Bank EXIM, PT Inter World Steel Mills Indonesia, hingga Budi Gunawan – gaya bahasa dan gesture membuatnya ikutan jadi media genic. Termasuk, kelamnya catatan Setya Novanto sebagai tantangan dunia advokat membuat nama Fredrich makin ‘cemerlang’ saja di berbagai media.

Lantas, pembaca pasti bertanya-tanya bagaimana jika kelak Fredrich harus mendekam di baik jeruji? Bagaimana ia dapat bertahan? Bagaimana nasib si penyuka KEMEWAHAN ini? Mau dilarikan ke mana uang 3-5 M hasil jerih payahnya itu?

Sekaligus, pembaca tak perlu khawatir. Sambil tersenyum getir, kita harus kembali ingat bagaimana hukum Indonesia tak ubahnya mirip sirkus yang bisa diplintir. Menjadi ‘juru selamat’ klien saja mahir, apalagi menolong nyawa diri sendiri.

Tak mengapa pula bila KPK makin saja bertangan besi dan berhasil menjebloskannya ke bui. Bukankah ada kamar tipe deluxe dan suite di penjara negeri kita? Bukankah fitur-fitur di dalamnya dapat di-upgrade sedemikian rupa sesuai selera? Membawa televisi, kipas angin, laptop, HP berikut pulsanya tak jadi soal dalam penjara.

Tetapi, sebelum lebih jauh membayangkan Fredrich mendekam bak napi, kiranya kita hanya perlu berdiam diri di depan televisi. Bersiaplah untuk segala drama yang berikut terjadi. Barangkali setelah tiang listrik, bak sampah, gerobak bakso, tukang jual martabak manis, penjaga parkir masjid, papan nama TPU, atau baling-baling bambu Doraemon akan jadi kambing hitam berikutnya.

Jika media sudah mengambil rupanya menggunakan rompi oranye, pembaca harus berhati-hati. Barangkali, ini hanyalah permulaan dari kisah panjang romansa pemBUMIHANGUSan. Ini hanyalah penjemputan pertama KPK di rumah sakit (kok kayak pernah tahu cerita serupa ya?). Nantikan saja penjemputan-penjemputan FredRICH lainnya!

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Parade Isu Seksi Jelang Peringatan G30S 0 70

Helloh gess, September telah tiba. Ini bulannya hura-hura tentang trauma. Pasti kamu sudah hapal: sebentar lagi kita akan menyimak debat seolah-olah tentang peristiwa 1965. Tapi sedihnya, tulisan ini bukan ke sana.

Kita akan mencoba merunut isu-isu apa yang hadir, coba dihadirkan, atau dipaksa dihadirkan, menjelang peringatan G30S. Isu-isu yang, yaaa, sesuai tradisi, akan memanas dan sering setiap tahunnya merepotkan rejim. Berikut isunya:

  • Perpindahan Ibukota
  • Livi Zheng
  • Djarum yang disetop audisinya oleh KPAI
  • Jokowi main sama putunya
  • Iuran BPJS naik
  • Esemka diresmikan

Apalagi gess?

Ohya, ini penting karena beberapa sebab. Pertama, mengamati isu-isu “tak penting” justru menjadi sangat penting hari ini untuk melihat bagaimana strategi kekuasaan memainkan lalu-lintas diskusi dan menginterupsi tiap isu. Kalau ente jeli, akan tampak bagaimana pengendalian atas persepsi kita dimainkan dan dikonsentrasikan pada hal-hal tertentu, agar hal-hal lain dapat diminimalkan dampaknya.

Tentu saja arahnya dapat ditebak: mendebat Livi Zheng jauh lebih aman ketimbang ente didatangi Kivlan Zen untuk membeberkan rencana kebangkitan PKI. Atau bicara memindah ibukota lebih asyik daripada memperdebatkan jumlah korban sebetulnya pada genosida 65 duluuu sekali.

Kedua, dari isu-isu tersebut, kesemuanya saksess menjadi tren perbincangan. Esemka, BPJS, dan Ibukota berkaitan langsung dengan agenda pemerintah. Perpindahan ibukota yang terparah, terlalu kentara digunakan sebagai “umpan peluru”, seolah-olah ide ini dilempar untuk dihabisi. BPJS dan Esemka sebelas dua belas, memancing sekaligus mengepung orang dengan kontroversi agar terus-menerus diperdebatkan.

Jadi, mari nanti kita tengok menjelang tumbangnya waktu dan mendekatnya tanggal 30, barang sampah apa saja yang akan dihamburkan oleh media kita.

Tapi toh dibawa santai saja! Kadang-kadang terlalu serius juga tak baik bagi kesehatan jiwa.

 

Annabelle Rukhiyat

Selain menekuni permakelaran tanah, penulis juga magang sebagai penjaga ponten.

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 103

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Editor Picks