Menanti Drama Om Fredrich 0 984

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Semewah-mewahnya hidup pengacara, akhirnya dipenjara juga. Ups.

Media lagi-lagi ‘dihibur’ oleh wajah Fredrich Yunadi yang kembali ke permukaan. Alih-alih melindungi klien, kini giliran dirinya yang harus mencari perlindungan. Tanggal 10 Januari kemarin telah dicatat sebagai hari bersejarah: passca drama berdarah-darah kasus korupsi e-KTP yang digarapnya, Fredrich akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan ini adalah jawaban yang dirindukan publik setelah dugaan (yang tiada perlu disangkal) menghalang-halangi proses penyidikan Papa Setnov.

Pembaca tentu tahu sekuat apa Fredrich melindungi pucuk pimpinan tertinggi DPR RI ini untuk berkelit dari penghakiman. Dari penetapan pertamanya sebagai tersangka Juli 2017, pengacara handal nun kelas kakap tersebut berhasil meloloskannya. Drama semakin seru sebab KPK berhasil menyeret lagi nama Setya Novanto ke bursa tersangka Oktober 2017.

KPK memang sedang garang-garangnya, macam ibu tiri. Barangkali, keberhasilan lembaga anti-rasuah ini yang tiada ampun pada Setya Novanto adalah berkat doa, pantang, dan puasa segenap rakyat Indonesia.

Kisah kasih Setya Novanto pada penetapan kedua kali sebagai tersangka selalu jadi highlight paling mukhtahir sepanjang 2017 lalu. Setingkat dengan pemberitaan Raffi-Nagita, si pengacara Fredrich belakangan ikut-ikutan makin terdongkrak popularitasnya. Apalagi setelah namanya santer disebut di warung-warung kopi dan gossip ibu-ibu yang njajan sayur ke pasar, Fredrich memilih jadi mantan terindah dalam pembelaan Setnov terhadap KPK.

Terlepas dari segala kasus besar yang piece of cake baginya – macam kasus Bank EXIM, PT Inter World Steel Mills Indonesia, hingga Budi Gunawan – gaya bahasa dan gesture membuatnya ikutan jadi media genic. Termasuk, kelamnya catatan Setya Novanto sebagai tantangan dunia advokat membuat nama Fredrich makin ‘cemerlang’ saja di berbagai media.

Lantas, pembaca pasti bertanya-tanya bagaimana jika kelak Fredrich harus mendekam di baik jeruji? Bagaimana ia dapat bertahan? Bagaimana nasib si penyuka KEMEWAHAN ini? Mau dilarikan ke mana uang 3-5 M hasil jerih payahnya itu?

Sekaligus, pembaca tak perlu khawatir. Sambil tersenyum getir, kita harus kembali ingat bagaimana hukum Indonesia tak ubahnya mirip sirkus yang bisa diplintir. Menjadi ‘juru selamat’ klien saja mahir, apalagi menolong nyawa diri sendiri.

Tak mengapa pula bila KPK makin saja bertangan besi dan berhasil menjebloskannya ke bui. Bukankah ada kamar tipe deluxe dan suite di penjara negeri kita? Bukankah fitur-fitur di dalamnya dapat di-upgrade sedemikian rupa sesuai selera? Membawa televisi, kipas angin, laptop, HP berikut pulsanya tak jadi soal dalam penjara.

Tetapi, sebelum lebih jauh membayangkan Fredrich mendekam bak napi, kiranya kita hanya perlu berdiam diri di depan televisi. Bersiaplah untuk segala drama yang berikut terjadi. Barangkali setelah tiang listrik, bak sampah, gerobak bakso, tukang jual martabak manis, penjaga parkir masjid, papan nama TPU, atau baling-baling bambu Doraemon akan jadi kambing hitam berikutnya.

Jika media sudah mengambil rupanya menggunakan rompi oranye, pembaca harus berhati-hati. Barangkali, ini hanyalah permulaan dari kisah panjang romansa pemBUMIHANGUSan. Ini hanyalah penjemputan pertama KPK di rumah sakit (kok kayak pernah tahu cerita serupa ya?). Nantikan saja penjemputan-penjemputan FredRICH lainnya!

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 475

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Menangisi Gagalnya Nobar di Bioskop 0 286

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia, sudah fix menunda pembukaan bioskop yang seharusnya terjadwal 29 Juli ini, sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu saja niatnya baik: demi memutus mata rantai penularan COVID-19, yang makin hari angkanya makin naik gak karu-karuan.

Di kolom ini tentu saja kita tidak perlu membahas efektivitas kebijakan menahan pembukaan sejumlah tempat hiburan malam dan bioskop, namun membiarkan tempat wisata lain (yang lebih banyak digunakan untuk pesepeda dadakan) tetap beroperasi.

Yang jelas, sebagian dari kita tentu mengeluh dalam hati. Rasanya bak diberi harapan tapi diputus tiba-tiba. Setelah lebih dari seribu bioskop di 52 kota di Indonesia tutup sejak 26 Maret 2020, mengurung jiwa-jiwa hedon kita. Berbulan-bulan loh gak nonton bioskop! Rasanya mau mati, kalau katanya influencer review makanan. Se-introvert-introvert-nya saya (maaf ngaku-ngaku), saya pun sama dengan kalian: rindu nonton bioskop.

Saya paham betul anyep-nya ketawa sendirian sepanjang nonton film genre komedi, dan sepinya menangis sendiri saat nonton adegan yang mengharukan. Saya sadar betul betapa gak mbois-nya nonton film di layar kecil HP, atau paling banter di layar laptop 14 inci. Saya juga gak bisa merasakan sensasi spiker D*lby all around you, apalagi layar Imax yang segede lapangan futsal itu.

Kita tentu rindu rasa-rasa ketika baru masuk gedung bioskop, mendengar teriakan mas-mas penjual popcorn supaya kita tertarik beli dagangannya, berasa artis yang disoraki fans. Kita tentu kangen sekali perjuangan mencari promo tiket melalui platform daring. Kita mungkin rindu rasa balap-balapan pre-order booking kursi untuk penayangan premiere film kesayangan yang sudah kita tunggu-tunggu serialnya.

Sudah lama juga ya rasanya gak makan popcorn, yang gara-gara saking asyiknya sampai habis duluan sebelum filmnya mulai. Sampai lupa rasanya pamer foto tiket nobar bioskop film yang sedang hype di Instagram Story—yang kalau teman-teman kita kebetulan sudah nonton duluan, kita wajib ancam mereka dengan segenap kekuatan jiwa-raga supaya mereka tidak spoiler.

Tentu jadi kerinduan bersama pula buat pegangan tangan dengan kekasih sepanjang film berlangsung—apalagi kalau filmnya horor (wes ngakuo ae, aku yo eruh modusmu!)—untuk saling menyalurkan rasa hangat tubuh, meminimalisir begitu br*ngs*knya dinginnya AC gedung teater. Hal sesederhana tertawa bersama penonton lain di adegan-adegan konyol, atau berteriak bersama ketika ada jumpscare, semua itu bikin kangen.

Kita semua memang bersedih dan tak kunjung kelar mengeluh dengan tertundanya pembukaan bioskop ini. Mengutuki dalam hati: koronah gatheeeel! Walau sebenarnya sudah ada Netflix yang sudah dibuka blokirnya oleh Indihome, atau aplikasi lain (dan website streaming ilegal yang belum diblokir pemerintah) yang bisa diakses, menambal kerinduan-kerinduan kita akan nobar di bioskop.

Tapi mungkin gara-gara kita sibuk berduka, kita sampai lupa ada yang nasibnya lebih terkatung-katung.

Ketua Umum Asosisasi Produser Film Indonesia menyebut, ada sekitar 15 proyek film yang gagal produksi tahun ini. Hal ini tentu berdampak pula bagi para sutradara dan kisah produksi mereka. Mulai dari Joko Anwar sampai Livi Zheng, semua gigit jari.

Para aktor dan aktris, walau setenar Reza Rahadian dan Tara Basro sekalipun, di masa begini, pupus sudah seluruh jadwal syuting yang telah tersusun rapi sepanjang tahun 2020. Jangan lupa keseluruhan kru film, yang dalam sekali pembuatan film, bisa ada 80-100 orang bahkan lebih. Bisa jadi, side job supir G*jek sempat melintas di benak mereka (atau bahkan ada yang sudah merealisasikannya) demi menyambung hidup.

“Loh kan filmnya bisa tayang secara onlen”. Mulut gampang bicara. Tapi bagaimana menggaji kru film dan biaya produksi yang bermiliar-miliar hanya dengan online streaming? Bagaimana caranya menutup kekurangan biaya 80-90 persen yang selama ini didapatnya dari bioskop?

Juga mereka, para reviewer atau kritikus film, tak lagi punya bahan untuk dikomentari. Tak lagi mereka mengirim tulisan untuk media, di mana juga berarti hilangnya sebagian besar penghasilan (dan passion) mereka.

Mbak-mbak penyobek tiket nontonmu, mereka yang membersihkan sampah bekas popcorn yang kamu tinggalkan begitu saja di kursi, tukang pel kamar mandi eks-eks-wan, mereka semua juga ingin kembali ke bioskop. Mereka yang harus dirumahkan, kena pengurangan gaji, atau bahkan PHK, semua sama kangennya dengan bioskop seperti kita, gaes!

Tapi, berbeda dengan kamu semua yang rindu mencari hiburan di tengah kebosanan, mereka ingin kembali ke bioskop karena rindu kembali bekerja.

Kata Kakak Anji: “Corona gak semengerikan itu kok”. Mungkin benar bagi sebagian orang, tapi tidak bagi mereka, para pejuang seni garda terdepan dan pekerja kreatif, yang sama sekali kehilangan pekerjaannya gara-gara Corona.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks