Menanti Drama Om Fredrich 0 572

Sepandai-pandainya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Semewah-mewahnya hidup pengacara, akhirnya dipenjara juga. Ups.

Media lagi-lagi ‘dihibur’ oleh wajah Fredrich Yunadi yang kembali ke permukaan. Alih-alih melindungi klien, kini giliran dirinya yang harus mencari perlindungan. Tanggal 10 Januari kemarin telah dicatat sebagai hari bersejarah: passca drama berdarah-darah kasus korupsi e-KTP yang digarapnya, Fredrich akhirnya ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan ini adalah jawaban yang dirindukan publik setelah dugaan (yang tiada perlu disangkal) menghalang-halangi proses penyidikan Papa Setnov.

Pembaca tentu tahu sekuat apa Fredrich melindungi pucuk pimpinan tertinggi DPR RI ini untuk berkelit dari penghakiman. Dari penetapan pertamanya sebagai tersangka Juli 2017, pengacara handal nun kelas kakap tersebut berhasil meloloskannya. Drama semakin seru sebab KPK berhasil menyeret lagi nama Setya Novanto ke bursa tersangka Oktober 2017.

KPK memang sedang garang-garangnya, macam ibu tiri. Barangkali, keberhasilan lembaga anti-rasuah ini yang tiada ampun pada Setya Novanto adalah berkat doa, pantang, dan puasa segenap rakyat Indonesia.

Kisah kasih Setya Novanto pada penetapan kedua kali sebagai tersangka selalu jadi highlight paling mukhtahir sepanjang 2017 lalu. Setingkat dengan pemberitaan Raffi-Nagita, si pengacara Fredrich belakangan ikut-ikutan makin terdongkrak popularitasnya. Apalagi setelah namanya santer disebut di warung-warung kopi dan gossip ibu-ibu yang njajan sayur ke pasar, Fredrich memilih jadi mantan terindah dalam pembelaan Setnov terhadap KPK.

Terlepas dari segala kasus besar yang piece of cake baginya – macam kasus Bank EXIM, PT Inter World Steel Mills Indonesia, hingga Budi Gunawan – gaya bahasa dan gesture membuatnya ikutan jadi media genic. Termasuk, kelamnya catatan Setya Novanto sebagai tantangan dunia advokat membuat nama Fredrich makin ‘cemerlang’ saja di berbagai media.

Lantas, pembaca pasti bertanya-tanya bagaimana jika kelak Fredrich harus mendekam di baik jeruji? Bagaimana ia dapat bertahan? Bagaimana nasib si penyuka KEMEWAHAN ini? Mau dilarikan ke mana uang 3-5 M hasil jerih payahnya itu?

Sekaligus, pembaca tak perlu khawatir. Sambil tersenyum getir, kita harus kembali ingat bagaimana hukum Indonesia tak ubahnya mirip sirkus yang bisa diplintir. Menjadi ‘juru selamat’ klien saja mahir, apalagi menolong nyawa diri sendiri.

Tak mengapa pula bila KPK makin saja bertangan besi dan berhasil menjebloskannya ke bui. Bukankah ada kamar tipe deluxe dan suite di penjara negeri kita? Bukankah fitur-fitur di dalamnya dapat di-upgrade sedemikian rupa sesuai selera? Membawa televisi, kipas angin, laptop, HP berikut pulsanya tak jadi soal dalam penjara.

Tetapi, sebelum lebih jauh membayangkan Fredrich mendekam bak napi, kiranya kita hanya perlu berdiam diri di depan televisi. Bersiaplah untuk segala drama yang berikut terjadi. Barangkali setelah tiang listrik, bak sampah, gerobak bakso, tukang jual martabak manis, penjaga parkir masjid, papan nama TPU, atau baling-baling bambu Doraemon akan jadi kambing hitam berikutnya.

Jika media sudah mengambil rupanya menggunakan rompi oranye, pembaca harus berhati-hati. Barangkali, ini hanyalah permulaan dari kisah panjang romansa pemBUMIHANGUSan. Ini hanyalah penjemputan pertama KPK di rumah sakit (kok kayak pernah tahu cerita serupa ya?). Nantikan saja penjemputan-penjemputan FredRICH lainnya!

 

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Kamuh yang Anti Incess Syahrini 0 266

Sebagai tim pembela Syahrini yang fanatik, akhirnya saya toh harus angkat bicara. Saya tak punya kalimat pembuka yang paling kuat selain manifesto ini: kamuh-kamuh yang dibeking Luna Maya itu sudah melakukan penistaan kelas berat kepada Princess kami!

Bagaimana mungkin cinta Princess diatur-atur? Bukankah Aa Reino Barack sudah memberi komitmennya kepada Incess kami dan bukan Luna Maya[k]?

Sini, kuberitahu pelajaran berharga dan prinsip nomor satu: manusia tak punya kekuatan barang sedikitpun untuk menyetir cinta sesamanya. Tak pernah ada agama yang berani memasang badan untuk sebuah keyakinan atas Tuhan yang melepaskan diri dari tanggung jawab atas perasaan dan hati umatnya. Bahkan Habibana Rizieq saja, di masa belio masih sehat dan bebas (ehem), tak pernah menggugat soal ini.

Oh ya, lupa, tapi ini dengan asumsi bahwa ikatan Syahrini-Reino sungguh karena cinta loh yaa. Dan tentu saja saya harus yakin bahwa cinta mereka sungguhlah ada dan bukan sekadar rupiah belaka. BUKAN SEKADAR.

Sudahlah, mending situ kembali ke habitat nggak mutu dan ekosistem receh yang sudah situ hidupi bertahun-tahun. Dari orang-orang macam ini, yang hidupnya Senin-Kemis itu, apa kapasitasnya mengomentari—apalagi menista—junjungan kami Fatimah Syahrini Jaelani yang termasyhur? Hidupnya berantakan kok berani-berani menakar kadar cinta idola? Apakah mereka tak pernah menghayati lagu “Sesuatuuuuu” yang sungguh populer di kalangan [k]anak muda itu?

Telah terpampang nyata dalam khatulistiwa perasaan seluruh umat Indonesia bahwa Incess adalah salah seorang yang amat berpengaruh. Dan pengaruh itu merentang sampai pada bagaimana kita menyibukkan diri dalam menolak atau membelanya. Merepotkan diri dalam nyinyir dan puja-puji. Seperti surat terbuka ini…

(Surat ini dibuka dengan gairah menyala tapi ditutup dengan loyo… Sudahlah, namanya juga hidup: antara pesona dan derita kadang beda tipis bingit).

 

Salam hangat,

dari pemuja Syahrini di suatu sore yang murungnya mewakili hati Luna Maya. (Bingung yo ben.)

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 225

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Editor Picks