Mutu Skripsi di Persimpangan Maut 0 3014

Beberapa waktu lalu, terjadi peristiwa yang cukup mengundang keributan di kalangan mahasiswa sekitar penulis.

Seorang kakak tingkat dinyatakan tidak lulus dalam sidang skripsi yang diikutinya. Sehingga mau tak mau, ia harus mengulang lagi proses pembuatan skripsi dari awal hingga akhir. Dengan kata lain, ia terpaksa pula harus menambah paling tidak satu tahun masa kuliah yang mboseni itu.

Kejadian ini menjadi menarik kala penulis ceritakan pada salah satu anggota keluarga. Sebuah respon terlontar: “Lho, kok bisa? Bukannya tidak lulus itu lebih susah daripada lulus?”

Pertanyaan tersebut, lucu tidak lucu, perlu diakui kebenarannya apabila direnungkan pun disandingkan dengan kenyataan yang ada pada saat ini. Menjadi tidak lulus sidang skripsi itu sungguh asli benar mengherankan serta sangat jarang dialami mahasiswa dalam sejarah bangsa ini. Hampir tidak mungkin. Pun sama dengan dedek-dedek nyimut yang tengah duduk di bangku sekolah. Bagi mereka, tinggal kelas itu jauh lebih sukar dialami daripada naik kelas.

Terkait kakak tingkat penulis yang “malang” tadi, para kawannya yang mengetahui kabar unik tersebut lantas jadi geram bukan main. Demi apapun, bagaimana bisa para penguji sebegitu teganya, sampai tak sedikitpun mengapresiasi beratus lembar karya ilmiah hasil tangis—dan mungkin keringat darah—itu? Kalau sudah demikian, kambing hitamnya tak lain dan tak bukan ialah dosen pembimbing.

‘Bagaimana sih selama bimbingan kok sampai banyak bagian yang disalahkan?’

‘Wah, dosennya kurang kuat nih waktu belain bimbingannya.’

‘Jangan-jangan pembimbingnya diam saja ya, selama sidang?’

Dan sebagainya dan sebagainya.

Padahal, jika mau mengingat kembali hakikat penelitian, adalah suatu kelaziman apabila seorang peneliti beroleh kritik, pembenahan, bahkan penolakan terhadap karya ilmiah yang disusunnya. Karena toh salah satu prinsip penelitian ialah kebolehannya untuk dipublikasikan, setidaknya di kalangan peneliti dengan bidang sama atau terkait.

Kan siapa tahu skripsi yang telah rampung, yang seharusnya jadi karya kebanggaan mahasiswa dalam rangka mengabdi keilmuan, ternyata kurang cocok disebut sebagai karya pengembangan pengetahuan. Mengingat saat ini negara kita cukup kebanjiran “skripsi” yang cuma punya dua fungsi: sebagai syarat kelulusan dan sebagai pelengkap data alias pendukung narasi penelitian mahasiswa yang rupanya sudah konklusif sejak awal. Eh.

Memang, patut diakui bahwa mahasiswa penyusun skripsi settingan semacam itu telah memberikan usaha yang jauh lebih pantas diapresiasi dibandingkan mereka dengan karakteristik “no worries”. Maksudnya, no worries itu mereka yang mampunya hanya mbandani orang lain untuk ganti garap skripsinya. Maksudnya lagi, beli skripsi. (Walau sebenarnya lumayan juga sih buat latihan jadi permodal sukses Endonesah.)

Tipe seperti ini bakal ketemu jodoh klop-nya kalau sudah dapat dosen penguji yang memegang erat prinsip ‘sing penting bocahe wis ngumpulno’. Skripsi abal-abal sekalipun, dengan bumbu belas kasihan, pasti tembus lah, setidak-tidaknya dapat vitamin C. Boleh juga toh, penguji khawatir akan reputasinya, karena harus membimbing kembali mahasiswa yang sama, atau mungkin ditodong universitas karena tak segera meluluskan mereka yang sudah layak depak.

Kalau sudah begitu, pelaku utama, yang menggiring tradisi skripsi ini menjauhi hakikatnya, jadi cukup sulit diidentifikasikan.

 

(Kemungkinan) Sebabnya

Tak luput menyoal per-skripsi-an ini, tiap individu pasti memiliki motivasi dalam melakukan sesuatu. “Paksaan” akan keharusan menjalankan kewajiban tak dapat dipungkiri saat seseorang tetap melakukan suatu hal walaupun dia sebenarnya tak suka.

Sama seperti hal skripsi. Lebih banyak mahasiswa yang mengeluh daripada tidak jika sudah dihadapkan dengan pengerjaan skripsi, bahkan baru proposalnya sekalipun. Entah lewat status Line, Instagram Story, bahkan terucap langsung dari bibir. Seolah mereka tak suka menjadi peneliti, tak ingin jadi pengembang ilmu pengetahuan.

Padahal sesungguhnya, mendaftar jadi sarjana itu sama dengan menyatakan siap berkutat dengan teori. Jadi sarjana sama dengan jadi peneliti. Dengan demikian, jurusan vokasi pantas jadi jawaban bagi mereka-mereka yang lebih siap jika langsung belajar kerja praktik.

  • Lalu, kenapa banyak perusahaan yang masih mewajibkan gelar sarjana dan bukan diploma, meskipun pekerjaan yang akan dilakukan justru lebih banyak praktik teknisnya?

Wah, kalau itu penulis tidak tahu.

  • Dan kalau hakikat sarjana itu untuk meneliti, kenapa banyak promosi universitas yang gembar-gembor kalau jurusan sarjana mereka penuh kegiatan praktik?

Apalagi soal itu. Penulis mah apa atuh?

  • Lantas, kenapa banyak mahasiswa masih ngotot jadi sarjana kalau emoh banget kerja skripsi?

Sudahlah. Tidak bijak menilai bagi orang lain. Mungkin keinginan mereka cuma satu: cepat lulus, sehingga cepat juga dapat gelar. Kalau sudah lulus, daftar bahan omelan orang tua kan jadi berkurang satu. Eh. (Habis itu, diomelin supaya cepat nikah.)

Yah, dianggap simpel saja lah. Kalau seorang mahasiswa gagal lulus ujian skripsi, kasian dong teman-temannya yang sudah menyiapkan surprise di luar ruang sidang. Kalau selempang sarjana sama balonnya mubazir, kan eman.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 249

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Panduan Killing Time 12 Tahun untuk yang Terkasih, Pak Juliari 0 252

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Majelis hakim Pengadilan Tipikor sudah ketok palu vonis terhadap mantan Mensos Juliari Peter Batubara 12 tahun penjara dan denda 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Juliari terbukti sah menerima suap 10 ribu rupiah per bansos alias 32,4 M kalo dikumpulin.

Kami gak mau membuli seperti yang mahabenar tuan dan nyonya netijen. Kami tahu, betapa tersiksa batin Pak Juliari yang kami kasihi. Kalo katanya arek-arek saiki: sudah kena mental.

Apalagi, Bapak sempat memohon belas kasih buat meringankan hukuman, karena tak bisa membayangkan akan meninggalkan anak istri di rumah. Sungguh sebuah teladan family man bagi kaum penerus bangsa. Poin ini lebih membuat kami tak tega menambah-nambahi beban Bapak dengan sumpah serapah (karena porsi itu sudah diamalkan netijen dengan sebaik-baiknya).

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami justru ingin memberi sejumlah saran: panduan mengisi waktu selama nanti di kurungan. Tujuannya tentu agar Bapak tidak cepat bosan.

Panduan ini kami rasa manjur buat Bapak. Karena, sebagian besarnya sudah kami lakukan selama 1,5 tahun ke belakang, yang harus banyak-banyak di rumah karena terdampak pandemi (dan terdampak dapet bansos kualitas jelek gara-gara anggarannya dipotong).

Ini yang pertama, Pak. Bapak tentu ingat kopi dalgona yang sempat tenar itu. Sudah lama sekali tren membuatnya ditinggalkan dengan begitu cepat. Ada baiknya tren ini dihidupkan kembali.

Ikuti panduannya ya, Pak! Campurkan kopi hitam sachet pahitnya kehidupan dengan air panasnya neraka bagi koruptor. Kemudian aduk terus menerus dengan rasa ego sampai berbusa dan meluapkan keserakahan. Terakhir, letakkan buih kopi itu di atas segelas susu Bear Brand yang masih aja 15 ribu sampe sekarang. Selamat menikmati!

Cara ini cukup mudah Pak. Kami rasa, meminta kopi dan susu ke sipir penjara bukan suatu hal yang neko-neko kok. Pasti dikabulkan. Wong minta kamar VIP aja (udah pasti) dilayani kan, hehehehe.

Kedua, era pandemi ini eranya webinar, Pak. Hidup ini gak afdol kalo belum ikut webinar, minimal sekali seminggu. Tentu posisi Bapak bukan sebagai peserta yang cuma nunut “izin nyimak”. Pak Juliari mah pantesnya narasumber utama, keynote speaker.

Tema yang cocok tentu: “Say No to Korupsi!”. Masyarakat di Indonesia kita tercinta ini Pak, lebih percaya testimoni daripada hasil riset, soalnya mereka males baca. Kita lebih suka motivasi dari mereka yang telah berpengalaman dan sukses, ya seperti Bapak ini.

Materinya sederhana, Pak. Boleh dilengkapi power point yang eye-catching biar keliatan berkredibel. Inti pembicaraannya cuma ini: “Sumpah gais, dipenjara itu gak enak. Plis jangan korupsi! Ini gak di-endorse ya. Real testi”

Sasaran peserta buat webinar ini luas banget, Pak. Mulai dari pejabat rt-rw, sampai lingkaran pertama kayak jabatan terdahulu Bapak. Materinya bakal relateable. Dan semoga mampu menyadarkan mereka biar kapok korupsi. Yah, meskipun kalimat terakhir ini kayaknya utopis hehe.

Ketiga, coba deh, Pak, mulai nonton drama korea. Atau kalau langkah itu masih terlalu ekstrem buat Bapak, minimal nonton video klip boyband dan girlband korea. Saya jamin sih nagih, pengen lagi, pengen terus.

Bapak juga harus ingat, sebagian dari netijen kita ini penggemar apa-apa yang berbau Korea, Pak. Apapun yang trending nomer 1 di Twitter sudah pasti adalah hasil cuitan akun berfoto idol Kpop yang substansinya gak nyambung sama sekali sama topik yang lagi dibicarakan. Itu sudah pertanda seberapa menguasainya populasi mereka di alam dunia maya.

Artinya, ini bisa jadi langkah strategis Bapak untuk menguasai mereka. Mulai dengan menyukai apa yang mereka sukai, dekati, rayu, dan jadi akrab sama mereka. Bila perlu, kita bisa bikin ruang diskusi di Clubhouse yang bahas soal drakor terbaru, Pak.

Hukuman Bapak cuma empat tahun untuk tidak dipilih dalam jabatan publik. Empat tahun itu cuma kurang dari 1 periode presiden, Pak. Bentar itu, mah. Selanjutnya, netijen Korean wave yang sudah mencintai Bapak, tetap bisa menghantarkan Bapak ke kursi tertinggi di dunya ini.

Yah kalo impian ini sulit terwujud, setidaknya Bapak nanti tinggal ganti nama jadi JPB, bikin Youtube, dan bismillah komisaris BUMN.

Demikian panduan ini dibuat dengan sepenuh hati Pak. Kami percaya Bapak pasti bisa melalui cobaan ini semua dengan kepala tegak dan kebanggaan di dada. Kalo kami aja bisa melakukan hal-hal ini selama setahun di rumah aja, Bapak juga pasti bisa, tinggal dikaliin 12.

Editor Picks