Mutu Skripsi di Persimpangan Maut 0 1804

Beberapa waktu lalu, terjadi peristiwa yang cukup mengundang keributan di kalangan mahasiswa sekitar penulis.

Seorang kakak tingkat dinyatakan tidak lulus dalam sidang skripsi yang diikutinya. Sehingga mau tak mau, ia harus mengulang lagi proses pembuatan skripsi dari awal hingga akhir. Dengan kata lain, ia terpaksa pula harus menambah paling tidak satu tahun masa kuliah yang mboseni itu.

Kejadian ini menjadi menarik kala penulis ceritakan pada salah satu anggota keluarga. Sebuah respon terlontar: “Lho, kok bisa? Bukannya tidak lulus itu lebih susah daripada lulus?”

Pertanyaan tersebut, lucu tidak lucu, perlu diakui kebenarannya apabila direnungkan pun disandingkan dengan kenyataan yang ada pada saat ini. Menjadi tidak lulus sidang skripsi itu sungguh asli benar mengherankan serta sangat jarang dialami mahasiswa dalam sejarah bangsa ini. Hampir tidak mungkin. Pun sama dengan dedek-dedek nyimut yang tengah duduk di bangku sekolah. Bagi mereka, tinggal kelas itu jauh lebih sukar dialami daripada naik kelas.

Terkait kakak tingkat penulis yang “malang” tadi, para kawannya yang mengetahui kabar unik tersebut lantas jadi geram bukan main. Demi apapun, bagaimana bisa para penguji sebegitu teganya, sampai tak sedikitpun mengapresiasi beratus lembar karya ilmiah hasil tangis—dan mungkin keringat darah—itu? Kalau sudah demikian, kambing hitamnya tak lain dan tak bukan ialah dosen pembimbing.

‘Bagaimana sih selama bimbingan kok sampai banyak bagian yang disalahkan?’

‘Wah, dosennya kurang kuat nih waktu belain bimbingannya.’

‘Jangan-jangan pembimbingnya diam saja ya, selama sidang?’

Dan sebagainya dan sebagainya.

Padahal, jika mau mengingat kembali hakikat penelitian, adalah suatu kelaziman apabila seorang peneliti beroleh kritik, pembenahan, bahkan penolakan terhadap karya ilmiah yang disusunnya. Karena toh salah satu prinsip penelitian ialah kebolehannya untuk dipublikasikan, setidaknya di kalangan peneliti dengan bidang sama atau terkait.

Kan siapa tahu skripsi yang telah rampung, yang seharusnya jadi karya kebanggaan mahasiswa dalam rangka mengabdi keilmuan, ternyata kurang cocok disebut sebagai karya pengembangan pengetahuan. Mengingat saat ini negara kita cukup kebanjiran “skripsi” yang cuma punya dua fungsi: sebagai syarat kelulusan dan sebagai pelengkap data alias pendukung narasi penelitian mahasiswa yang rupanya sudah konklusif sejak awal. Eh.

Memang, patut diakui bahwa mahasiswa penyusun skripsi settingan semacam itu telah memberikan usaha yang jauh lebih pantas diapresiasi dibandingkan mereka dengan karakteristik “no worries”. Maksudnya, no worries itu mereka yang mampunya hanya mbandani orang lain untuk ganti garap skripsinya. Maksudnya lagi, beli skripsi. (Walau sebenarnya lumayan juga sih buat latihan jadi permodal sukses Endonesah.)

Tipe seperti ini bakal ketemu jodoh klop-nya kalau sudah dapat dosen penguji yang memegang erat prinsip ‘sing penting bocahe wis ngumpulno’. Skripsi abal-abal sekalipun, dengan bumbu belas kasihan, pasti tembus lah, setidak-tidaknya dapat vitamin C. Boleh juga toh, penguji khawatir akan reputasinya, karena harus membimbing kembali mahasiswa yang sama, atau mungkin ditodong universitas karena tak segera meluluskan mereka yang sudah layak depak.

Kalau sudah begitu, pelaku utama, yang menggiring tradisi skripsi ini menjauhi hakikatnya, jadi cukup sulit diidentifikasikan.

 

(Kemungkinan) Sebabnya

Tak luput menyoal per-skripsi-an ini, tiap individu pasti memiliki motivasi dalam melakukan sesuatu. “Paksaan” akan keharusan menjalankan kewajiban tak dapat dipungkiri saat seseorang tetap melakukan suatu hal walaupun dia sebenarnya tak suka.

Sama seperti hal skripsi. Lebih banyak mahasiswa yang mengeluh daripada tidak jika sudah dihadapkan dengan pengerjaan skripsi, bahkan baru proposalnya sekalipun. Entah lewat status Line, Instagram Story, bahkan terucap langsung dari bibir. Seolah mereka tak suka menjadi peneliti, tak ingin jadi pengembang ilmu pengetahuan.

Padahal sesungguhnya, mendaftar jadi sarjana itu sama dengan menyatakan siap berkutat dengan teori. Jadi sarjana sama dengan jadi peneliti. Dengan demikian, jurusan vokasi pantas jadi jawaban bagi mereka-mereka yang lebih siap jika langsung belajar kerja praktik.

  • Lalu, kenapa banyak perusahaan yang masih mewajibkan gelar sarjana dan bukan diploma, meskipun pekerjaan yang akan dilakukan justru lebih banyak praktik teknisnya?

Wah, kalau itu penulis tidak tahu.

  • Dan kalau hakikat sarjana itu untuk meneliti, kenapa banyak promosi universitas yang gembar-gembor kalau jurusan sarjana mereka penuh kegiatan praktik?

Apalagi soal itu. Penulis mah apa atuh?

  • Lantas, kenapa banyak mahasiswa masih ngotot jadi sarjana kalau emoh banget kerja skripsi?

Sudahlah. Tidak bijak menilai bagi orang lain. Mungkin keinginan mereka cuma satu: cepat lulus, sehingga cepat juga dapat gelar. Kalau sudah lulus, daftar bahan omelan orang tua kan jadi berkurang satu. Eh. (Habis itu, diomelin supaya cepat nikah.)

Yah, dianggap simpel saja lah. Kalau seorang mahasiswa gagal lulus ujian skripsi, kasian dong teman-temannya yang sudah menyiapkan surprise di luar ruang sidang. Kalau selempang sarjana sama balonnya mubazir, kan eman.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengapa Kita Perlu Belajar Desain dari Warung Penyetan 0 525

Oleh: Rafif Taufani*

 

Salah satu hal yang lumrah dilakukan mahasiswa tingkat akhir tentu saja magang. Saya lantas mencari lowongan magang sebagai desainer di beberapa platform web. Lewat berbagai situs dan aplikasi, saya berselancar melihat berbagai lowongan dengan syarat-syarat yang cukup mengintimidasi.

Saya melihat bahwa kebutuhan industri kreatif kini bukan hanya soal bisa Adobe Photoshop/Illustrator. Tetapi juga perihal branding, dan membuat perencanaan desain dari hulu ke hilir atas permintaan klien.

Seringkali kalau melihat website perusahaan kece ini, saya disuguhkan dengan portofolio brand atau produk yang mereka layani. Sungguh beragam dan dengan capaian yang luar biasa. Salah satu creative agency malah terang-terangan memperlihatkan berapa banyak engagement dan ketertarikan konsumen digital setelah mereka lakukan branding pada produk milik klien.  Seluruh prestasi ini tentu patut diajungi jempol.

Di tengah membuka seluruh profil perusahaan ini, justru pertanyaan tersempil ke benak saya mengenai desain grafis secara keseluruhan dan efek sosialnya. Signifikansi industri kreatif semakin menampakkan taringnya di era digital. Semua orang berbondong-bondong menjajakan produknya di platform digital. Bahkan, warung-warung giras sudah menerima pesanan via online berkat jasa seorang Nadiem Makarim.

Maka di tengah zaman yang serba modern ini, branding bukan hanya jadi urusan platform saja, melainkan harus dipikirkan pemilik warung penyetan sekalipun. Namun optimasi produk dan pemasaran yang tepat nampaknya diabaikan pemilik warung penyetan dan giras.

Tapi, mari bayangkan skenario di mana justru sentuhan ‘modernisasi’ ini mungkin tidak seberapa diperlukan. Toh kalau diperhatikan, penyetan dan giras tetap tidak pernah sepi. Mereka siap sedia menyediakan suguhan makanan yang bisa dikonsumsi dengan harga murah dan ada di mana-mana.

Semua itu terjadi secara natural tanpa harus desain bagus, atau branding, atau laporan riset target. Mereka hanya perlu mencari lokasi strategis dan pelanggan akan dengan mudah datang dan menghampiri.

Kita boleh saja bicara banyak soal branding dan desain grafis. Tetapi bagaimana kalau klien yang datang ke agensi digital bukan merk ternama? Melainkan adalah seorang pedagang warung penyetan yang minta di-branding lagi untuk target pasar masyarakat luas? Mungkin pendekatan kita yang terlampau ‘modern’ ini bisa bisa tidak cocok untuk mereka.

Desain grafis dan dunia agensi selalu digambarkan sebagai pekerja yang dinamis, gaul, dan jauh dari aspek komunal. Padahal desain dan branding selalu ada di setiap lini kehidupan. Usaha warung penyetan dalam mendesain spanduknya adalah contoh yang baik.

Soal branding warung giras dan penyetan, penjual cukup menjadi ramah pada pelanggannya, menyajikan tempat duduk yang pokoknya bisa buat makan berlima saja, sudah bikin orang nyaman. Lalu soal target market, mereka tidak perlu cari-cari lagi. Cukup membuka usaha mereka dekat jalan besar, dan voila, mereka dapat pelanggan dengan demografi cukup luas.

‘Agensi’ desain warung giras dan penyetan adalah contoh nyata yang tidak bisa diremehkan agensi-agensi di Indonesia. Mereka mengembalikan fitrah sebuah produk/jasa pada satuan yang sederhana, yaitu membuat pelanggan nyaman dan kenyang. Mereka tidak menyediakan dekorasi yang wow karna ekspektasi pelangannya juga tidak mengharapkan demikian.

Warung giras dan penyetan juga punya jasa besar untuk menghancurkan dinding pemisah antara pemilik usaha dan pelanggannya. Bila kamu merasa kopimu kemanisan di warung giras, kamu tidak perlu menulis review jelek secara online. Tinggal bilang saja ke penjaga warung dan kemungkinan besar kamu akan dibuatkan kopi lagi atau minimal orangnya minta maaf.

Justru di warung giras dan penyetan lah, kita dapat melihat banyak pelanggan merasa didengar, suatu usaha yang agensi digital perlu waktu berbulan-bulan untuk melakukannya.

Sama halnya dengan desain. Lukisan warung penyetan itu selain iconic juga contoh copy writing yang bagus. Tanpa perlu bertele-tele dengan slogan dan penjelasan keunggulan. Cukup dengan tulisan ‘penyetan’ dan gambar menu saja sudah cukup.

Siapa pula yang tidak kenal lukisan ilustrasi ikan lele, ayam, dan bebek pada warung penyetan? Desain iconic itu sederhana, namun lekat di benak kita.

Untuk promosi? Pelanggan mereka semua adalah brand ambassador gratis yang akan mempromosikan produk secara sukarela. Selain merekomendasikan pada temannya, mereka juga bisa bisa mengajak makan teman dan keluarga mereka ke warung.

Ini sekaligus mengingatkan kita bahwa branding adalah hal yang sudah dilakukan sejak lama. Usaha untuk branding adalah urusan grass root. Kenyataan selalu ada dari unit terkecil dari sebuah produk, yaitu pelanggannya, so listen to them!

 

*Penulis tinggal di Surabaya dan banyak melakukan eksperimentasi terkait seni kolase

 

Foto: Letter warung (letterwarung.blogspot.com)

Bagaimana Seharusnya Kita Tanggapi Pelantikan Menteri 0 294

Kita semua setuju 2 hal ini sebagai persoalan utama bangsa:
1. Mau keluar dari grup Whatsapp, tapi sungkan, akhirnya di-mute aja
2. Pilpres-pilpresan nan sangat melelahkan

Bagaimana tidak? Proses dari penentuan capres-cawapres, kampanye, pemilu, sampai finalisasi kabinet memakan waktu lebih dari 1 tahun, terlama sepanjang sejarah. Pemilu periode ini memang yang terbesar korbannya, yang harus dicatat dalam sejarah.

Pun harus dicatat pula bahwa kali ini, baik eksekutif maupun legislatif pilihan kalean semuah, diisi orang-orang dari partai sama di pucuk pimpinannya. Kecuali MPR, yang yaaah… ketuanya juga dari kubu koalisi.

Beli 01, gratis 02. Begitu katanya arek-arek di social media. Prabowo, capres 2 periode berturut-turut yang sangat macho dan mantap jadi oposisi selama ini, kini “ciut”, memilih “bertahan hidup”, naik satu “gerbong (MRT)” yang sama dengan lawannya, Jokowi, di Kabinet Indonesia Maju.

Keputusan petinggi Gerindra tersebut, yang jelas menyuratkan sikap politik partai ini, menghasilkan reaksi dari rakyat. Ada yang kecewa berat, ada pula yang kecewa sangat berat.

Yang kecewa-kecewa itu kebanyakan mengimpikan Prabowo, pahlawan junjungannya itu, tetap jadi oposisi saja. Tentu tetap dengan semangat mempertahankan check and balances agar tetap berjalan di pemerintahan. Eh, tapi ujung-ujungnya si doi luluh juga, merapat ke sisi istana.

Walau begitu, Prabowo dan kawan-kawan Gerindra-nya berjanji untuk tetap kritis walau mendukung pemerintahan. Sungguh sebuah semangat dan prinsip yang patriotik. Walau kita tak tahu, apa dan bagaimana definisi serta batasan “sikap kritis” itu.

Tak hanya Prabowo, sejumlah deretan menteri yang diumumkan 3 hari sesudah pelantikan Jokowi-Ma’ruf ini, membuat netijen kaget… dan nyinyir.

Nadiem Makarim, yang tak punya bekgron tersertifikasi di bidang pendidikan dan kebudayaan itu, justru jadi Mendikbud. Zainudin Amali, yang suka jalan pagi dan berenang itu, ditunjuk jadi Menpora. Bu Susi, putri laut kebanggaan rakjat itu, tak melaju lagi dan alih-alih kursinya diisi Edhy Prabowo, waketum Gerindra.

Hal paling memuakkan bagi saya bukanlah soal masih banyak deretan nama lain yang mengejutkan. Tapi, karena kita semua merasa tiba-tiba paling mahir menganalisa wawasan dan kapabilitas bapak-ibu menteri ini. Kita tiba-tiba menjadi paling ahli di antara yang ahli.

Seluruh warga dunia maya kini merasa punya kekuatan untuk mengemukakan pendapatnya. Nge-twit, bikin status, bikin video klarifikasi, membuat daftar nama ideal yang seharusnya dipilih Jokowi. Tak peduli itu masih bursa calon, atau bahkan setelah pelantikan sekalipun.

Kenapa kok yang ini gak dipertahankan dan malah didepak? Padahal bagus banget loh kerjanya.”

“Kenapa Jokowi tetep milih si ini sih?

Ocehan-ocehan kayak begini bahkan tak hanya muncul di linimasa media sosial, atau bertengger di grup Whatsapp yang kita sungkan buat keluarnya.

Masih mending kalau argumen yang disampaikan didasari analisis track record dan tantangan bidang yang bersangkutan dalam kondisi terkini. Lah wong kadang penilaiannya sangat subjektif. Bahkan terkesam memendam dendam kesumat pada sebagian orang yang sempat dikenal secara personal.

Seberapa jauh sih kalian kenal mereka dan pemetaan kursi menteri? Seberapa jauh pengamatan kalian pada latar belakang situasi kondisi, persoalan, dan tantangan bidang-bidang kementerian?

Mereka yang hari ini telah dilantik telah menunjukkan performa terbaiknya. Entah berhasil berprestasi di periode sebelumnya, hingga dipinang jadi menteri lagi. Entah karena telah bertekun dalam bidang profesinya. Atau karena pandai memanfaatkan resources dan lobi-lobian politik.

Satu-satunya cara untuk bisa menilai menteri sesungguhnya hanya dari hasil karyanya nanti. Pun reshuffle-reshuffle-an tak bisa jadi ukuran. Siapa yang pernah tahu kalau reshuffle bukan semata-mata karena “kemandulan” produktivitas menteri? Bisa jadi kan karena konsensus dan sikut-menyikut koalisi-oposisi parpol?

Lantas apa yang bisa kita lakukan sebagai bangsa? Apakah diam saja dan tak boleh proaktif mengawal pemerintah?

Demokratis boleh, sok tahu jangan. Ati-ati aja. Negara mana sih yang suka rakyatnya terlalu pinter? Apa-apa yang ‘terlalu’ itu gak baik bagi kesehatan.

Pada akhirnya, hidup bernegara ini memang harus dihadapi dengan santuy. Jangan terlalu banyak mikiri! Apa gak capek 1 tahun belakangan ini ngurusi Jokowi terooooos?

Mari kita senderkan punggung, nonton sertijab menteri-menteri ini dari layar kaca! Sembari menikmati buah salak yang dikupas Nia Ramadhani.

 

Foto: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia (setneg.go.id)

Editor Picks