Mutu Skripsi di Persimpangan Maut 0 2096

Beberapa waktu lalu, terjadi peristiwa yang cukup mengundang keributan di kalangan mahasiswa sekitar penulis.

Seorang kakak tingkat dinyatakan tidak lulus dalam sidang skripsi yang diikutinya. Sehingga mau tak mau, ia harus mengulang lagi proses pembuatan skripsi dari awal hingga akhir. Dengan kata lain, ia terpaksa pula harus menambah paling tidak satu tahun masa kuliah yang mboseni itu.

Kejadian ini menjadi menarik kala penulis ceritakan pada salah satu anggota keluarga. Sebuah respon terlontar: “Lho, kok bisa? Bukannya tidak lulus itu lebih susah daripada lulus?”

Pertanyaan tersebut, lucu tidak lucu, perlu diakui kebenarannya apabila direnungkan pun disandingkan dengan kenyataan yang ada pada saat ini. Menjadi tidak lulus sidang skripsi itu sungguh asli benar mengherankan serta sangat jarang dialami mahasiswa dalam sejarah bangsa ini. Hampir tidak mungkin. Pun sama dengan dedek-dedek nyimut yang tengah duduk di bangku sekolah. Bagi mereka, tinggal kelas itu jauh lebih sukar dialami daripada naik kelas.

Terkait kakak tingkat penulis yang “malang” tadi, para kawannya yang mengetahui kabar unik tersebut lantas jadi geram bukan main. Demi apapun, bagaimana bisa para penguji sebegitu teganya, sampai tak sedikitpun mengapresiasi beratus lembar karya ilmiah hasil tangis—dan mungkin keringat darah—itu? Kalau sudah demikian, kambing hitamnya tak lain dan tak bukan ialah dosen pembimbing.

‘Bagaimana sih selama bimbingan kok sampai banyak bagian yang disalahkan?’

‘Wah, dosennya kurang kuat nih waktu belain bimbingannya.’

‘Jangan-jangan pembimbingnya diam saja ya, selama sidang?’

Dan sebagainya dan sebagainya.

Padahal, jika mau mengingat kembali hakikat penelitian, adalah suatu kelaziman apabila seorang peneliti beroleh kritik, pembenahan, bahkan penolakan terhadap karya ilmiah yang disusunnya. Karena toh salah satu prinsip penelitian ialah kebolehannya untuk dipublikasikan, setidaknya di kalangan peneliti dengan bidang sama atau terkait.

Kan siapa tahu skripsi yang telah rampung, yang seharusnya jadi karya kebanggaan mahasiswa dalam rangka mengabdi keilmuan, ternyata kurang cocok disebut sebagai karya pengembangan pengetahuan. Mengingat saat ini negara kita cukup kebanjiran “skripsi” yang cuma punya dua fungsi: sebagai syarat kelulusan dan sebagai pelengkap data alias pendukung narasi penelitian mahasiswa yang rupanya sudah konklusif sejak awal. Eh.

Memang, patut diakui bahwa mahasiswa penyusun skripsi settingan semacam itu telah memberikan usaha yang jauh lebih pantas diapresiasi dibandingkan mereka dengan karakteristik “no worries”. Maksudnya, no worries itu mereka yang mampunya hanya mbandani orang lain untuk ganti garap skripsinya. Maksudnya lagi, beli skripsi. (Walau sebenarnya lumayan juga sih buat latihan jadi permodal sukses Endonesah.)

Tipe seperti ini bakal ketemu jodoh klop-nya kalau sudah dapat dosen penguji yang memegang erat prinsip ‘sing penting bocahe wis ngumpulno’. Skripsi abal-abal sekalipun, dengan bumbu belas kasihan, pasti tembus lah, setidak-tidaknya dapat vitamin C. Boleh juga toh, penguji khawatir akan reputasinya, karena harus membimbing kembali mahasiswa yang sama, atau mungkin ditodong universitas karena tak segera meluluskan mereka yang sudah layak depak.

Kalau sudah begitu, pelaku utama, yang menggiring tradisi skripsi ini menjauhi hakikatnya, jadi cukup sulit diidentifikasikan.

 

(Kemungkinan) Sebabnya

Tak luput menyoal per-skripsi-an ini, tiap individu pasti memiliki motivasi dalam melakukan sesuatu. “Paksaan” akan keharusan menjalankan kewajiban tak dapat dipungkiri saat seseorang tetap melakukan suatu hal walaupun dia sebenarnya tak suka.

Sama seperti hal skripsi. Lebih banyak mahasiswa yang mengeluh daripada tidak jika sudah dihadapkan dengan pengerjaan skripsi, bahkan baru proposalnya sekalipun. Entah lewat status Line, Instagram Story, bahkan terucap langsung dari bibir. Seolah mereka tak suka menjadi peneliti, tak ingin jadi pengembang ilmu pengetahuan.

Padahal sesungguhnya, mendaftar jadi sarjana itu sama dengan menyatakan siap berkutat dengan teori. Jadi sarjana sama dengan jadi peneliti. Dengan demikian, jurusan vokasi pantas jadi jawaban bagi mereka-mereka yang lebih siap jika langsung belajar kerja praktik.

  • Lalu, kenapa banyak perusahaan yang masih mewajibkan gelar sarjana dan bukan diploma, meskipun pekerjaan yang akan dilakukan justru lebih banyak praktik teknisnya?

Wah, kalau itu penulis tidak tahu.

  • Dan kalau hakikat sarjana itu untuk meneliti, kenapa banyak promosi universitas yang gembar-gembor kalau jurusan sarjana mereka penuh kegiatan praktik?

Apalagi soal itu. Penulis mah apa atuh?

  • Lantas, kenapa banyak mahasiswa masih ngotot jadi sarjana kalau emoh banget kerja skripsi?

Sudahlah. Tidak bijak menilai bagi orang lain. Mungkin keinginan mereka cuma satu: cepat lulus, sehingga cepat juga dapat gelar. Kalau sudah lulus, daftar bahan omelan orang tua kan jadi berkurang satu. Eh. (Habis itu, diomelin supaya cepat nikah.)

Yah, dianggap simpel saja lah. Kalau seorang mahasiswa gagal lulus ujian skripsi, kasian dong teman-temannya yang sudah menyiapkan surprise di luar ruang sidang. Kalau selempang sarjana sama balonnya mubazir, kan eman.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menangisi Gagalnya Nobar di Bioskop 0 207

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia, sudah fix menunda pembukaan bioskop yang seharusnya terjadwal 29 Juli ini, sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu saja niatnya baik: demi memutus mata rantai penularan COVID-19, yang makin hari angkanya makin naik gak karu-karuan.

Di kolom ini tentu saja kita tidak perlu membahas efektivitas kebijakan menahan pembukaan sejumlah tempat hiburan malam dan bioskop, namun membiarkan tempat wisata lain (yang lebih banyak digunakan untuk pesepeda dadakan) tetap beroperasi.

Yang jelas, sebagian dari kita tentu mengeluh dalam hati. Rasanya bak diberi harapan tapi diputus tiba-tiba. Setelah lebih dari seribu bioskop di 52 kota di Indonesia tutup sejak 26 Maret 2020, mengurung jiwa-jiwa hedon kita. Berbulan-bulan loh gak nonton bioskop! Rasanya mau mati, kalau katanya influencer review makanan. Se-introvert-introvert-nya saya (maaf ngaku-ngaku), saya pun sama dengan kalian: rindu nonton bioskop.

Saya paham betul anyep-nya ketawa sendirian sepanjang nonton film genre komedi, dan sepinya menangis sendiri saat nonton adegan yang mengharukan. Saya sadar betul betapa gak mbois-nya nonton film di layar kecil HP, atau paling banter di layar laptop 14 inci. Saya juga gak bisa merasakan sensasi spiker D*lby all around you, apalagi layar Imax yang segede lapangan futsal itu.

Kita tentu rindu rasa-rasa ketika baru masuk gedung bioskop, mendengar teriakan mas-mas penjual popcorn supaya kita tertarik beli dagangannya, berasa artis yang disoraki fans. Kita tentu kangen sekali perjuangan mencari promo tiket melalui platform daring. Kita mungkin rindu rasa balap-balapan pre-order booking kursi untuk penayangan premiere film kesayangan yang sudah kita tunggu-tunggu serialnya.

Sudah lama juga ya rasanya gak makan popcorn, yang gara-gara saking asyiknya sampai habis duluan sebelum filmnya mulai. Sampai lupa rasanya pamer foto tiket nobar bioskop film yang sedang hype di Instagram Story—yang kalau teman-teman kita kebetulan sudah nonton duluan, kita wajib ancam mereka dengan segenap kekuatan jiwa-raga supaya mereka tidak spoiler.

Tentu jadi kerinduan bersama pula buat pegangan tangan dengan kekasih sepanjang film berlangsung—apalagi kalau filmnya horor (wes ngakuo ae, aku yo eruh modusmu!)—untuk saling menyalurkan rasa hangat tubuh, meminimalisir begitu br*ngs*knya dinginnya AC gedung teater. Hal sesederhana tertawa bersama penonton lain di adegan-adegan konyol, atau berteriak bersama ketika ada jumpscare, semua itu bikin kangen.

Kita semua memang bersedih dan tak kunjung kelar mengeluh dengan tertundanya pembukaan bioskop ini. Mengutuki dalam hati: koronah gatheeeel! Walau sebenarnya sudah ada Netflix yang sudah dibuka blokirnya oleh Indihome, atau aplikasi lain (dan website streaming ilegal yang belum diblokir pemerintah) yang bisa diakses, menambal kerinduan-kerinduan kita akan nobar di bioskop.

Tapi mungkin gara-gara kita sibuk berduka, kita sampai lupa ada yang nasibnya lebih terkatung-katung.

Ketua Umum Asosisasi Produser Film Indonesia menyebut, ada sekitar 15 proyek film yang gagal produksi tahun ini. Hal ini tentu berdampak pula bagi para sutradara dan kisah produksi mereka. Mulai dari Joko Anwar sampai Livi Zheng, semua gigit jari.

Para aktor dan aktris, walau setenar Reza Rahadian dan Tara Basro sekalipun, di masa begini, pupus sudah seluruh jadwal syuting yang telah tersusun rapi sepanjang tahun 2020. Jangan lupa keseluruhan kru film, yang dalam sekali pembuatan film, bisa ada 80-100 orang bahkan lebih. Bisa jadi, side job supir G*jek sempat melintas di benak mereka (atau bahkan ada yang sudah merealisasikannya) demi menyambung hidup.

“Loh kan filmnya bisa tayang secara onlen”. Mulut gampang bicara. Tapi bagaimana menggaji kru film dan biaya produksi yang bermiliar-miliar hanya dengan online streaming? Bagaimana caranya menutup kekurangan biaya 80-90 persen yang selama ini didapatnya dari bioskop?

Juga mereka, para reviewer atau kritikus film, tak lagi punya bahan untuk dikomentari. Tak lagi mereka mengirim tulisan untuk media, di mana juga berarti hilangnya sebagian besar penghasilan (dan passion) mereka.

Mbak-mbak penyobek tiket nontonmu, mereka yang membersihkan sampah bekas popcorn yang kamu tinggalkan begitu saja di kursi, tukang pel kamar mandi eks-eks-wan, mereka semua juga ingin kembali ke bioskop. Mereka yang harus dirumahkan, kena pengurangan gaji, atau bahkan PHK, semua sama kangennya dengan bioskop seperti kita, gaes!

Tapi, berbeda dengan kamu semua yang rindu mencari hiburan di tengah kebosanan, mereka ingin kembali ke bioskop karena rindu kembali bekerja.

Kata Kakak Anji: “Corona gak semengerikan itu kok”. Mungkin benar bagi sebagian orang, tapi tidak bagi mereka, para pejuang seni garda terdepan dan pekerja kreatif, yang sama sekali kehilangan pekerjaannya gara-gara Corona.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Menyoal Kegalauan Mahasiswa Baru yang Merasa Salah Pilih Jurusan 0 297

Oleh: Jaysen Brian Susanto*

Ketika dulu bekerja sampingan sebagai guru les Fisika untuk mengisi liburan, para camaba (calon mahasiswa baru) sering meminta pendapat saya mengenai perguruan tinggi. Pernah suatu ketika, ada yang berkata seperti ini.

Mas, saya sudah diterima di ***, tapi gak suka sama jurusannya, rasanya pingin ikut tes lagi.”

Saya pun menjawab, “Lah, kalo gak suka sama jurusannya, ngapain daftar di sana?”

Itu sekadar pendahuluan. Mungkin beberapa dari Anda mangkel bacanya (termasuk saya sendiri). Padahal, ia hanya tinggal mendaftar ulang, sedangkan teman-temannya di luar sana masih harus berjuang, bergelut dengan buku-buku  tebal, dan soal-soal yang tiada habisnya. Bagaimanapun, kasus-kasus semacam ini memang sering terjadi pada camaba yang mendaftar perguruan tinggi, baik itu PTN (Perguruan Tinggi Negeri), PTK (Perguruan Tinggi Kedinasan), maupun PTS (Perguruan Tinggi Swasta).

Setiap tahunnya, sekitar 3,5 juta siswa lulus dari SLTA sederajat. Meskipun tidak semuanya melanjutkan kuliah, tetap saja daya tampung universitas masih jauh lebih kecil daripada jumlah pendaftar yang ada. Oleh karena itu, lebih sering kita mendengar “isak tangis” daripada “tangis haru”.

Lalu, bagaimana dengan yang sudah mendapatkan kursi, namun memilih untuk ikut tes masuk di perguruan tinggi lain? Apabila ia diterima (lagi), ia harus memilih salah satu (atau salah banyak) untuk dilepaskan. Kursi tersebut akhirnya menjadi kosong dan akan tetap kosong! Dengan kata lain, pihak universitas tidak mau susah payah mencari penggantinya.

Tentunya banyak pihak yang dirugikan, terutama bagi camaba yang benar-benar menginginkan jurusan tersebut. Beginilah reaksi netizen yang saya temukan baik di Instagram atau Twitter secara umum menanggapi masalah ini:

Ah contoh manusia kurang bersyukur!”

“Manusia emang gak pernah puas, ya!”

Kufur nikmat!”

“Kasih kesempatan buat yang lain, lah! Dasar EGOIS!”

Oke, cukup!

Di sini muncul kata baru “egois” yang artinya tindakan mementingkan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. Sebelum kita membahas apakah tindakan tes PTN lagi termasuk ‘egois’ atau tidak, terdapat beberapa poin penting yang harus diketahui.

Yang pertama, kita sadar bahwa setiap orang memiliki visi hidup. Visi tersebut kemudian dituangkan dalam bentuk life-plan atau rencana hidup, salah satunya berkuliah. Merencanakan kuliah (menentukan jurusan dan kampus) itu bukan perkara mudah.

Butuh pertimbangan yang mendalam. Memahami minat dan bakat, konsultasi dengan orang terdekat, bahkan sampai menelusuri jati diri untuk memastikan jurusan yang dipilih tepat atau tidak. Bukankah kita sudah sering mendengar berita mahasiswa mengakhiri hidup karena tidak sanggup menjalani perkuliahan?

Lalu, pasti ada yang bertanya-tanya, kalau sedari awal sudah mengetahui minat dan bakat, mengapa sampai harus gonta-ganti jurusan? Pada kenyataannya, tidak sesederhana itu! Seperti yang kita ketahui, manusia adalah makhluk yang memiliki akal, budi, dan perasaan!

Misalkan saya ingin masuk ke universitas A, jurusan B. Ada juga orang di luar sana yang mempunyai mimpi serupa. Malah bukan hanya ada, tapi banyak! Itulah persaingan.

Setiap orang menanggapi persaingan dengan sikap yang berbeda. Ada yang optimistis, ambisius, pragmatis dan ada juga yang pesimistis. Dua tipe terakhir ini merasa kurang percaya diri, minder, dan takut gagal. Alih-alih memperjuangkan mimpinya, mereka memilih untuk “berhenti di tengah” dan “cari aman” dengan mendaftar jurusan lain yang tidak sesuai minat. Setelah dinyatakan lolos, mereka kemudian menyesal, lalu kembali mengejar mimpinya yang sudah ‘dikubur’ itu.

Ada juga yang sekadar ingin coba-coba untuk menguji kemampuan, padahal sebenarnya ia tidak benar-benar ingin lolos.

Kemudian terdapat faktor eksternal, salah satunya adalah orang tua. Sungguh bahagia rasanya ketika orang tua mendukung jurusan apapun yang diminati anaknya. Tapi, bagaimana jika sebaliknya? Yang didapat justru bukan dukungan, melainkan cemoohan. Hal ini akan berdampak pada psikis dan mental camaba serta menghancurkan mimpi-mimpi mereka.

Ada juga kasus di mana orang tua sebenarnya mendukung, hanya saja terkendala ekonomi. Pada akhirnya, tidak sedikit yang memutuskan untuk mengundurkan diri dan mengikuti tes di lain tempat.

Lalu, kembali ke topik awal. Tidak etis rasanya jika mereka yang tidak lolos tes menyalahkan secara sepihak karena yang lolos melepaskan kursinya. Bisa saja mereka telah belajar dengan keras, mempersiapkan diri sebaik mungkin, namun tidak jadi mengambilnya karena suatu alasan. Siapa yang lebih siap bersaing, dialah yang akan menang.

Namun, jika pembaca menganggap tindakan ini sebagia egois, penyebabnya ada dua kemungkinan: Anda hanya merasa tidak senang, atau Anda pernah menjadi korban dari ‘ketidakadilan’ ini. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa tindakan ini juga merampas hak dan kesempatan orang lain untuk dapat berkuliah.

Pada akhirnya, persoalan egois atau tidak, semua itu kembali ke sudut pandang dan pola pikir masing-masing. Saya berharap artikel ini dapat memberikan wawasan baru dari sudut pandang yang berbeda, tanpa berusaha untuk mengajak debat atau percekcokan yang tidak perlu.

 

*) Lahir di Mataram pada 29 Oktober 2001, kini Penulis menuntut ilmu di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Mohon maaf bagi para gadis di luar sana, karena Penulis telah mengabdikan cinta matinya kepada Matematika dan Fisika.

*)Tulisan ini juga dimuat di e-Book “Eka-citta Writing Workshop Kamadhis UGM 2020” dan diedit seperlunya oleh tim redaksi.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks