‘Saman’: Mencium Harumnya Sastra Wangi bersama Ayu Utami 0 1418

Oleh: Celine Christina*

“Hayo, kok mesum”, ucapan itu terlontar dari teman laki-laki saya pada  perempuan yang dianggap sedang mendiskusikan topik tak senonoh. Namun sebaliknya, ketika teman laki-laki saya mengomentari lekuk badan seorang perempuan secara teliti, “Mata keranjang”, ucap perempuan muda tersebut. Teman lelaki saya menimpali, “Bodoh kamu, itu namanya mengapresiasi ciptaan Tuhan”. Ketahuilah, mayoritas dari mereka akan memiliki cara berpikir yang sama.

Hal diatas seolah-olah sangatlah alamiah—wanita baiknya tampil polos, tidak mengerti apapun mengenai seksualitas, apalagi mengenai birahi. Layaknya mahkluk aseksual, perempuan lebih baik diam sambil mengupayakan body gitar agar dapat diapresiasi kaum adam. Tetapi bukankah ‘hal-hal tak senonoh’ itu hanyalah sekedar informasi semata? Apabila kaum adam boleh dengan bebas melahap informasi ini-itu semenjak akil baligh, mengapa kaum hawa tidak?

Saman adalah novel pertama Ayu Utami yang bercerita tentang lika-liku kehidupan mantan pastur bernama Saman dengan empat perempuan bernama Yasmin, Shakuntala, Cokorda, dan Laila. Novel ini memiliki latar belakang rezim Orde Baru dengan bumbu spiritualitas agama Katolik yang kental, di samping karena sang penulis memang pemeluk agama Katolik. Berfokus pada perspektif wanita, memang beberapa bagian novel Saman dianggap tidak pantas oleh umum. Namun, perlu diketahui bahwa novel ini merupakan pelopor genre sastra wangi, dimana penulis wanita bebas mengeksplorasi seksualitasnya dengan balutan ideologi apapun, tak terkecuali feminisme. Sastra wangi mengizinkan wanita untuk menyuarakan hak dan otoritas atas tubuhnya sendiri, sambil mendobrak paham konservatif mengenai konsep hubungan pra-nikah, keperawanan, serta budaya partiarki.

Perlu diakui bahwa membaca Saman tak bisa diselingi dengan tiduran di sofa ataupun interupsi oleh perbincangan kecil lewat aplikasi milenial. Semua itu saya lakukan dan hati pun membatin, “Cerita apa ini kok gak nyambung sama sekali?”, sehingga saya harus membaca ulang sampai tiga kali. Saman seafdolnya dibaca dengan konsentrasi penuh tanpa pemikiran insecure. “Si Japri suka sama aku apa ndak, ya?” (padahal mungkin si Japri asyik  nge-chat dengan 3 cewek lainnya, disambi nonton Pornhub.com).

Novel diawali dengan “Central Park, 28 Mei 1996”, dimana tokoh bersudut  pandang orang  pertama sedang mengumpamakan dirinya sebagai seekor burung:

“Di taman ini, saya adalah seekor burung. Terbang beribu-ribu mil dari sebuah negeri yang tak mengenal musim, bermigrasi mencari semi, tempat harum rumput bisa tercium…”

“Burung” itu tidak lain yang dimaksud adalah perumpamaan Laila Gagarina akan dirinya sendiri yang tengah menunggu kekasihnya di Central Park, New York, beribu-ribu kilometer jauhnya dari Indonesia, untuk melepas keperawanannya. Menggunakan alur flashback, tokoh Laila diceritakan sebagai seseorang yang pemikir, polos, dan sangat tulus ketika mencintai kekasihnya. Awal mula Laila bertemu kekasihnya yang telah beristri, Sihar Situmorang, ia sedang mengunjungi proyek pertambangan minyak Seismoclypse. Terpikat pada pandangan pertama, Laila memproyeksikan harapannya kepada pria beristri tersebut, menganggap tiap gerak-gerik Sihar sebagai sesuatu yang istimewa.

“Barang kali saya terobsesi pada dia, yang bayangannya selalu datang dan jarang pergi”.

Karakter lain yang banyak dibahas di novel ini ialah Shakuntala. Ayahnya selalu memberi wejangan bahwa hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan; perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal — selain itu, perempuan hanya boleh memberikan tubuhnya saat ia telah menikah. Wejangan ayahnya tersebut dianggap Shakuntala sebagai persundalan yang hipokrit. Ia tetap mengoposisi pandangan ayahnya dengan menjadi individu yang sexually-liberated.

Mulai halaman 41, latarbelakang tokoh Saman terkuak. Nama sebenarnya ialah Athanasius Wisanggeni, seorang frater yang ditugaskan di kota minyak Perabumulih. Wisanggeni (Wis) terlibat dengan para petani karet di daerah terpencil bernama Lubuk rantau, yang hidupnya tidak seberapa namun teraniaya oleh pihak otoriter. Ia tahu betul bahwa sebagai frater, Wis dapat terus tinggal di gereja bersama ibu-ibu paroki yang merawatnya dan memberi makanan lezat. Ia pun hanya perlu ikut bimbingan retret di sekolah Katolik, yang tentunya jauh lebih nyaman daripada membantu minoritas memperoleh kembali hak mereka. Namun, Wis merasa berdosa apabila hanya berdoa, sehingga ia turuntangan membantu komunitas para petani tersebut.

Meringkas topik penindasan HAM dan seksualitas perempuan, Ayu tak lupa menyisipkan opininya mengenai marital rape yang selama ini dianggap hanya sebagai persoalan personal. Walaupun seorang wanita telah menikah, masih ada kemungkinan dirinya diperkosa oleh suaminya sendiri, dipaksa untuk melakukan hubungan seksual tanpa consent atau persetujuan. Selain topik marital rape, Ayu juga menyindir bagaimana masyarakat memandang poligami sebagai hal yang wajar, namun mengucilkan seorang wanita yang sexually-liberated. Beliau juga menyindir bagaimana penduduk lokal menganggap budaya Barat sebagai sesuatu hal yang negatif, dan seks ialah milik orang dewasa melalui pernikahan. Namun, di pedalaman Indonesia masih banyak anak di bawah umur yang telah dikawinkan oleh orangtuanya sendiri. Bukankah itu suatu ironi?

—-

*Manusia yang benar-benar biasa, paras dan perawakannya juga biasa saja. Kadang menulis, kadang membaca, kadang melamun. Sudah terbiasa sendiri, ia lupa cara berkompromi dengan lawan jenis.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pesan Moral Film Tilik Buat Repotnya Hidup Kita 0 1273

Oleh: Novirene Tania*

Apresiasi setinggi-tingginya untuk industri per-film-an yang mampu membangkitkan kembali gairah masyarakat untuk tetap anteng selama di rumah aja. Hadirnya Film Tilik berdurasi 32 menit 34 detik yang bisa disaksikan lewat Yutup, mampu membangunkan kembali netijen beserta dengan perannya: berkomentar sana-sini.

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk teman-teman yang telah mendorong saya dengan gigih untuk menonton Film Tilik. Review ini adalah bentuk apresiasi saya untuk kalian!

Sebagai pembukaan untuk kalian yang mungkin sama seperti saya – telat menonton Film Tilik – saya akan berikan sedikit overview tentang gambaran garis besar film. Film Tilik merupakan film yang mengangkat narasi tentang “gibahan” sekelompok ibu-ibu di di truk dalam perjalanan menjenguk Bu Lurah. Menampilkan perdebatan antara sosok Bu Tejo yang super nyinyir dan Yu Ning yang juga tidak mau kalah, film ini berhasil menggambarkan dengan jelas sosok yang bahkan tidak ada di dalam truk yaitu Dian yang kabarnya tengah dekat dengan putra Bu Lurah. Untuk lebih lanjutnya, saksikan sendiri ya! Gak begitu gede kok MB nya wkwk.

Oke, sekarang kita berlanjut pada pembahasan, bagaimana respons masyarakat terhadap Film Tilik?

Persis sama seperti overview saya di awal, begitu pula pembahasan yang paling banyak disorot oleh netijen: sosok Bu Tejo. Netijen pun jadi merentetkan gelar Bu Tejo pada sejumlah orang dalam hidup mereka yang memiliki karakter sama seperti tokohnya, suka mengomentari banyak hal sampe ke ubun-ubun dalam-dalam. Sorotan netijen yang begitu luar biasa bahkan membuat Siti Fauziah Saekhoni sebagai pemeran asli Bu Tejo sempat menangis. Begitu kurang lebih pengakuannya di beberapa berita.

Film Tilik adalah film yang biasa-biasa saja. Ini menjadi respons kedua netijen yang pemberitaannya juga cukup banyak di media. Memang benar sih. Secara technical, masih lebih banyak film di luar sana yang bisa membuat penontonnya berdecak kagum. Mulai dari alasan efek yang keren, animasi yang warbyasah, atau adegan yang variatif dan memicu adrenalin. Berbeda dengan Film Tilik, kalau Bu Tejo dan gerombolannya tidak se-fasih itu untuk membawakan dialog yang hidup dan menguras emosi, mungkin Film Tilik tidak se-booming sekarang ini.

Memang bukan orang Indonesia namanya kalau tidak banyak perspektif. Ada juga segelintir orang yang menyoroti Film Tilik dari sisi kajian feminisme dan bahkan tentang “kebodohan” orang desa. Dan masih banyak lagi perspektif lain yang mungkin belum sempat tertangkap mata saya saat scroll pemberitaan tentang Film Tilik.

Nah, melihat berbagai respons di atas, apa yang sejatinya kita tangkap dari Film Tilik? Betulkah film itu hanya sekadar menyajikan bahwa kemenangan justru dirasakan oleh penyebar gosip tingkat ulung? Atau ada banyak pesan moral yang ternyata bisa diambil?

Mempertontonkan hampir keseluruhan adegan berupa ibu-ibu yang berada dalam Gotrek, Film Tilik nyatanya menjadi representasi atas hidup kita yang sama repotnya. Itu pesan pertama. Ibaratnya Gotrek itu adalah lingkungan masyarakat dan ibu-ibu di dalamnya adalah keanekaragaman orang-orang yang hidup di sekitar kita. Mulai dari yang selalu berkomentar seperti Bu Tejo, atau orang yang kontra dengan nyinyinyers seperti Yu Ning, dan tidak lupa juga ibu-ibu yang memilih pasif, “Wong hidupku sendiri dah repot. Diem aja wes.” Dan kita pribadi bisa saja memainkan peran salah satunya, dua diantaranya, atau bisa jadi ketiganya adalah pilihan opsi peran bagi kita tergantung pada siapa lawan bicara kita.

Kedua, belajar jadi “pendamai” dalam lingkungan yang memanas. Penggosip ulung seperti Bu Tejo juga perlu antek-antek. Jika kita bisa menahan diri untuk tidak meruncingkan gosip yang belum tentu kebenarannya, mereka juga pasti diam. Hal ini bisa ditangkap langsung dari seluruh scene bahwa omongan Bu Tejo semakin merepet bak kereta api tidak pernah kehabisan bahan bakar karena selalu ada saja yang menyahuti.

Ketiga, menempatkan posisi yang seimbang dalam pergaulan. Jangan terlalu condong kiri ataupun condong kanan. Saya yakin kita lumrah menemui orang-orang seperti ibu-ibu dalam Film Tilik. Gosip yang belum menjadi fakta gak bisa kita hindari. Bila sudah begitu kondisinya, sebaiknya jangan terlalu banyak angkat bicara jika itu malah memperkeruh suasana. Jangankan yang belum pasti kebenarannya, sesuatu yang kita tau itu benar pun – yang jika digelontorkan malah membuat percekcokan, apalagi sampai membawa-bawa nama baik orang lain –sebaiknya jangan dibahas. Ibu-ibu yang memilih diam selama berada di truk jadi teladan untuk kita.

Pesan terakhir, harus selalu siap dengan kemungkinan terburuk. Jika Bu Tejo dijadikan pusat perhatian seperti tidak ada nilai lebihnya, kali ini saya mau memberitahu bahwa Bu Tejo termasuk orang yang adaptif. Ketika ternyata usaha mereka untuk menjenguk Bu Lurah gagal, Bu Tejo dengan pemikiran visionernya mengajak Gotrek untuk mengantar mereka ke Pasar Beringharjo. Hal ini adalah sesuatu yang baik jika dilihat dari konteks efisiensi daya dan usaha ketika melakukan perjalanan. Mungkin ini satu pelajaran yang bisa kita ambil dari Bu Tejo: dadi wong ki sing solutip!

 

*)Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Film Tilik dan Perdebatan Eksistensi Wanita 0 639

Film ini sebetulnya sederhana saja. Dalam 32 menit, alur ceritanya adalah dialog ibu-ibu di atas truk dalam perjalanan dari desa ke kota. Tujuan truk itu juga sederhana: tilik atau menjenguk Bu Lurah yang sedang sakit keras di rumah sakit.

Bu Tejo, tokoh sentral dalam cerita itu, mendadak jadi idola arek-arek. Namanya disebut di banyak percakapan baik di dunia maya maupun dunia nyata. Kemunculannya di film “Tilik” viral dan ada banyak influencer yang mempromosikannya di media sosial. Padahal karya garapan Ravacana Films ini sudah diproduksi 2018 lalu.

Bagaimana tidak, kemampuan akting Siti Fauziah sebagai pemeran utama Bu Tejo ini memang sangat memukau. Ekspresi wajah dan gestur tubuhnya sangat mewakili betapa nyinyire emak-emak kampung, yang tidak pernah lelah membahas A-Z urusan orang lain.

Film ini lantas mengulik emosi penonton, akibat tema ceritanya yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Perjalanan itu mungkin jauh dan menyusahkan. Harus berdiri di atas truk, tergoncang karena jalanan yang tidak rata, masuk angin, sampai harus menunduk ketika melewati pos polisi biar tidak ditilang. Tapi, perjalanan yang melelahkan itu tak sebanding dengan betapa asyiknya gibah rumah tangga tetangga.

Mungkin, premis cerita inilah yang kemudian berhasil menyihir penonton dan khalayak ramai, sampai mengeluarkan quote yg kini makin lacur penggunaannya: “kita semua adalah Bu Tejo ketika lagi gibah”. Artinya, akting Bu Tejo sebagai tokoh sentral dan keseluruhan jalan cerita Tilik ini mampu membuat penonton melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Membuat penonton merasa “aku juga kayak gitu kalau gosip, mulutnya jahat banget”.

Menurut hemat penulis, sineas sudah berhasil mencapai tujuan terwahid dari penciptaan karya: membuat penikmatnya merenung, berpikir, dan berfantasi dalam batinnya.

Tapi, sebagaimana karya, kan gak semuanya mengilhami cerita seperti yang saya tanggapi. Tak selamanya film Tilik banjir pujian. Lah wong pada dasarnya kita ini berasal dari beragam latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda-beda. Tentu cara memandang dan menikmati karya juga beda selera.

Baru-baru ini, ada seorang mas-mas yang berkomentar atas buruknya kualitas ending film Tilik. Ia menganggap film Tilik gagal mengajarkan moral value, malah mendukung stigma perempuan tukang gosip, dan abai memberi solusi.

Bukan media sosial namanya kalau pendapat seperti mas ini tidak di-counter. Pendapat yang “lain” dari arus yang memuja-muja kemampuan sinematik dan konten cerita Tilik, langsung dibalasi netijen secara kompak.

Bagi netijen yang kontra dengan pendapat si mas-mas dengan akun Twitter @RoryAsyari ini mengatakan, bukan tugas film untuk mengajarkan nilai moral. Ada yang menghujat mungkin Mas Rory gak ngerti gaya bercerita satire. Ada pula yang menyuruh sebaiknya Mas Rory ini nonton film azab Ind*siar yang pesan moral agama dan sosialnya jelas.

Kali ini, saya, penulis, harus agak setuju dengan kebanyakan netijen itu. Mas Rory perlu tahu, bahwa Wahyu Agung Prasetyo sebagai sutradara hanya bercita-cita sederhana, menampilkan tradisi tilik di pedesaan. Warga perkampungan layaknya begitu, kerjasama menyewa kendaraan apapun –sekalipun truk pengangkut pasir – yang penting slamet sampai tujuan.

Mas Rory perlu tahu, kalau sekelompok ibu-ibu yang melakukan perjalanan dengan truk itu ibaratnya juga jalan hidup kita. Kadang suka, kadang duka. Kadang bisa bekerjasama antar-wanita, saling mengumpulkan uang, dijadikan satu amplop, agar ada “cindera mata” yang bisa dibawa untuk meringankan beban orang yang sedang ditiliki. Kadang gosip bareng, di mana bahan pembicaraan itu bisa menyatukan, tapi bisa juga bikin baper dan bikin gontok-gontokan.

Realita-realita ini ditangkap, diterjemahkan, dan digambarkan melalui serangkaian karya audio visual. Apa adanya, dengan sedikit sentuhan hiperbola tentu saja demi kebutuhan dramatisasi.

Mas Rory perlu tahu, memang ada sejuta sudut pandang yang bisa digambarkan pekerja seni untuk menggambarkan wanita. Mulai dari lukisan tubuh wanita karya pelukis-pelukis handal dunia, sampai karya film pendek festival macem Tilik.

Di Tilik, ada beragam perempuan yang coba digambarkan. Perempuan single dan punya jabatan macam Bu Lurah, yang dianggap hidupnya tak proporsional, yang dipandang penyebab penyakitnya adalah karena ulah suaminya ataupun ketidakmampuannya sebagai seorang wanita menjalani hidup.

Atau perempuan single, muda, pandai, dan memiliki karir baik, yang tak segera kunjung menikah dan kepergok jalan-jalan dengan om-om, pria yang jauh lebih tua. Yang otomatis dipandang sebelah mata, dianggap perempuan gak bener, atau pelakor macem drama koriyah yang populer itu.

Ada pilihan-pilihan hidup wanita yang dikenai standar ganda. Perempuan harus kuat, berkarya, punya karir baik, tapi juga harus santun, mengurusi keluarga, dan tak bebas dari stigma masyarakat atas kemerdekaan pilihan hidupnya sendiri.

Masih ada buanyak hal yang bisa diangkat dari sisi hidup wanita. Belum lagi sisi perempuan yang diberi kemampuan psikologis tersendiri oleh Tuhan: perhatian akan hal-hal detil.

Nih contoh aja ya, warung kelontong di sebelah kos saya dulu pegawainya mas-mas, barangnya gak pernah lengkap. Mau nyari margarin, habis. Nyari telur, kosong. Nyari air mineral dengan merek selain Aq*a biar gak mahal, dibilang belum dikirim sama distributor. Ada saja alasannya. Tapi sekarang, begitu ada mbak-mbak yang jadi penjaga toko, barang di warung selalu lengkap, bahkan bertambah variasinya. Kulkas isi minuman dingin sekarang jauh lebih bewarna. Dan aneka menu es krim Aic* juga lengkap tersedia di freezer.

Cerita kecil yang nyata dan ada di kehidupan sekitar kita tentang wanita. Kalau segi wanita yang ini, sepertinya belum ada yang bikin filmnya. Mungkin ada sineas yang tertarik? Saya volunteer jadi penyumbang ide cerita nih!

Hal lain yang mungkin terlewat diulas: film ini didanai Dinas Kebudayaan DIY. Ini adalah salah satu pertanda bahwa pemerintah mulai mendukung pekerja seni dengan segala idealismenya. Pekerja seni gak perlu jadi toa, melulu memerankan juru bicara prestasi yang mendanainya, tapi justru menyajikan kritik keras.

Ingat kan scene Bu Tejo ngasih uang ke Gotrek, driver truk, dengan sepik-sepik biar suaminya “direwangi” jadi lurah? Bahwa untuk jadi pemimpin, mungkin perlu “pemulus”. Ini kritik pada budaya pemerintah, yang juga dimasukkan secara mulus ke adegan cerita, tanpa merusak pula intisari tema hoax yang hendak diangkat di dalamnya.

Dan untuk gejala soal suap-menyuap ini, sudah akut dan menyerang siapa saja, mau pria ataupun wanita.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks