‘Saman’: Mencium Harumnya Sastra Wangi bersama Ayu Utami 0 471

Oleh: Celine Christina*

“Hayo, kok mesum”, ucapan itu terlontar dari teman laki-laki saya pada  perempuan yang dianggap sedang mendiskusikan topik tak senonoh. Namun sebaliknya, ketika teman laki-laki saya mengomentari lekuk badan seorang perempuan secara teliti, “Mata keranjang”, ucap perempuan muda tersebut. Teman lelaki saya menimpali, “Bodoh kamu, itu namanya mengapresiasi ciptaan Tuhan”. Ketahuilah, mayoritas dari mereka akan memiliki cara berpikir yang sama.

Hal diatas seolah-olah sangatlah alamiah—wanita baiknya tampil polos, tidak mengerti apapun mengenai seksualitas, apalagi mengenai birahi. Layaknya mahkluk aseksual, perempuan lebih baik diam sambil mengupayakan body gitar agar dapat diapresiasi kaum adam. Tetapi bukankah ‘hal-hal tak senonoh’ itu hanyalah sekedar informasi semata? Apabila kaum adam boleh dengan bebas melahap informasi ini-itu semenjak akil baligh, mengapa kaum hawa tidak?

Saman adalah novel pertama Ayu Utami yang bercerita tentang lika-liku kehidupan mantan pastur bernama Saman dengan empat perempuan bernama Yasmin, Shakuntala, Cokorda, dan Laila. Novel ini memiliki latar belakang rezim Orde Baru dengan bumbu spiritualitas agama Katolik yang kental, di samping karena sang penulis memang pemeluk agama Katolik. Berfokus pada perspektif wanita, memang beberapa bagian novel Saman dianggap tidak pantas oleh umum. Namun, perlu diketahui bahwa novel ini merupakan pelopor genre sastra wangi, dimana penulis wanita bebas mengeksplorasi seksualitasnya dengan balutan ideologi apapun, tak terkecuali feminisme. Sastra wangi mengizinkan wanita untuk menyuarakan hak dan otoritas atas tubuhnya sendiri, sambil mendobrak paham konservatif mengenai konsep hubungan pra-nikah, keperawanan, serta budaya partiarki.

Perlu diakui bahwa membaca Saman tak bisa diselingi dengan tiduran di sofa ataupun interupsi oleh perbincangan kecil lewat aplikasi milenial. Semua itu saya lakukan dan hati pun membatin, “Cerita apa ini kok gak nyambung sama sekali?”, sehingga saya harus membaca ulang sampai tiga kali. Saman seafdolnya dibaca dengan konsentrasi penuh tanpa pemikiran insecure. “Si Japri suka sama aku apa ndak, ya?” (padahal mungkin si Japri asyik  nge-chat dengan 3 cewek lainnya, disambi nonton Pornhub.com).

Novel diawali dengan “Central Park, 28 Mei 1996”, dimana tokoh bersudut  pandang orang  pertama sedang mengumpamakan dirinya sebagai seekor burung:

“Di taman ini, saya adalah seekor burung. Terbang beribu-ribu mil dari sebuah negeri yang tak mengenal musim, bermigrasi mencari semi, tempat harum rumput bisa tercium…”

“Burung” itu tidak lain yang dimaksud adalah perumpamaan Laila Gagarina akan dirinya sendiri yang tengah menunggu kekasihnya di Central Park, New York, beribu-ribu kilometer jauhnya dari Indonesia, untuk melepas keperawanannya. Menggunakan alur flashback, tokoh Laila diceritakan sebagai seseorang yang pemikir, polos, dan sangat tulus ketika mencintai kekasihnya. Awal mula Laila bertemu kekasihnya yang telah beristri, Sihar Situmorang, ia sedang mengunjungi proyek pertambangan minyak Seismoclypse. Terpikat pada pandangan pertama, Laila memproyeksikan harapannya kepada pria beristri tersebut, menganggap tiap gerak-gerik Sihar sebagai sesuatu yang istimewa.

“Barang kali saya terobsesi pada dia, yang bayangannya selalu datang dan jarang pergi”.

Karakter lain yang banyak dibahas di novel ini ialah Shakuntala. Ayahnya selalu memberi wejangan bahwa hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan; perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal — selain itu, perempuan hanya boleh memberikan tubuhnya saat ia telah menikah. Wejangan ayahnya tersebut dianggap Shakuntala sebagai persundalan yang hipokrit. Ia tetap mengoposisi pandangan ayahnya dengan menjadi individu yang sexually-liberated.

Mulai halaman 41, latarbelakang tokoh Saman terkuak. Nama sebenarnya ialah Athanasius Wisanggeni, seorang frater yang ditugaskan di kota minyak Perabumulih. Wisanggeni (Wis) terlibat dengan para petani karet di daerah terpencil bernama Lubuk rantau, yang hidupnya tidak seberapa namun teraniaya oleh pihak otoriter. Ia tahu betul bahwa sebagai frater, Wis dapat terus tinggal di gereja bersama ibu-ibu paroki yang merawatnya dan memberi makanan lezat. Ia pun hanya perlu ikut bimbingan retret di sekolah Katolik, yang tentunya jauh lebih nyaman daripada membantu minoritas memperoleh kembali hak mereka. Namun, Wis merasa berdosa apabila hanya berdoa, sehingga ia turuntangan membantu komunitas para petani tersebut.

Meringkas topik penindasan HAM dan seksualitas perempuan, Ayu tak lupa menyisipkan opininya mengenai marital rape yang selama ini dianggap hanya sebagai persoalan personal. Walaupun seorang wanita telah menikah, masih ada kemungkinan dirinya diperkosa oleh suaminya sendiri, dipaksa untuk melakukan hubungan seksual tanpa consent atau persetujuan. Selain topik marital rape, Ayu juga menyindir bagaimana masyarakat memandang poligami sebagai hal yang wajar, namun mengucilkan seorang wanita yang sexually-liberated. Beliau juga menyindir bagaimana penduduk lokal menganggap budaya Barat sebagai sesuatu hal yang negatif, dan seks ialah milik orang dewasa melalui pernikahan. Namun, di pedalaman Indonesia masih banyak anak di bawah umur yang telah dikawinkan oleh orangtuanya sendiri. Bukankah itu suatu ironi?

—-

*Manusia yang benar-benar biasa, paras dan perawakannya juga biasa saja. Kadang menulis, kadang membaca, kadang melamun. Sudah terbiasa sendiri, ia lupa cara berkompromi dengan lawan jenis.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengapa ‘Bohemian Rhapsody’ Harus Berterimakasih pada Freddie Mercury 0 509

Kita perlu sangat berterimakasih pada Freddie Mercury. Peringatan ini diberikan penulis sedini mungkin, karena memang itulah hakikat hajat hidup tulisan ini dan jawaban atas hobimu yang kudu banget nontonin semua film hits di bioskop.

Sejak rilis 24 Oktober di kota kelahiran Queen dan 31 Oktober di Indonesia, Bohemian Rhapsody menjadi buah bibir tua-muda bahkan dipakai sebagai modus terkini ngajak areké nge-date. Jadi, semoga tulisan ini tidak menjadikan kawan-kawan pembaca urung menonton.

Teriring dalam tulisan ini, penulis ingin berbagi pengalaman menonton selama lebih kurang 130 menit. Penulis datang dengan ekspetasi tinggi akan dipuaskan betul oleh film ini. Setiap menitnya harus mencengangkan dan setiap adegannya harus mengagumkan. Ekspetasi ini tidak terlalu tinggi untuk biopik band sekelas Queen kan?

Namun, sayang seribu sayang, penulis harus rangkum Bohemian Rhapsody sebagai: remaja galau yang bingung mau bercerita tentang apa. Di awal, kental sekali keinginan pembuat film untuk mengangkat kisah bagaimana Queen terbentuk. Bermula dari band Smile di sebuah klub kecil yang sedang frustasi karena ditinggal vokalisnya. Lalu bergabunglah Farrokh Bulsara alias Freddie Mercury mengisi posisi vokalis utama, ditambah bassist John Deacon, lengkap dengan Brian May pada gitar dan Roger Taylor pada drum.

Perjalanan mereka dilanjutkan dengan penampilan dari panggung ke panggung, hingga kisah menjual van untuk rekaman lagu di studio yang singkat cerita membuat mereka meneken kontrak dengan EMI Records. Tapi, saudara-saudara sekalian perlu dicatat bahwa perjalanan sakral band kelas kakap ini akan sangat diganggu oleh fokus kisah pada Freddie.

Barangkali, Freddie sebagai vokalis utama memang layak untuk diberi porsi cerita lebih banyak daripada personil lainnya. Selain karena dirinya cerdas, perfeksionis, dan flamboyan setidaknya ada tiga unsur yang membuat kepribadian Freddie menjadi ramuan yang sangat seksi untuk diangkat menjadi premis utama.

Pertama, identitas Freddie yang adalah keturunan Persia penganut kepercayaan Zoroastian dan tinggal menetap di Inggris. Kedua, konflik interaksi keluarga bagaimana Freddie sebagai anak laki-laki yang tidak bisa memenuhi ekspetasi orang tuanya untuk tidak berkarir di musik melainkan bekerja ‘normal’. Ketiga, pencarian jati diri Freddie akan identitas gendernya.

Yang ketiga itu kontroversial dan jadi bahan ampuh untuk mengulik pergolakan batinnya. Memang digambarkan bagaimana Freddie awal mulanya menjalin kisah dengan Mary Austin, memenuhi ideologi dominan tentang hubungan heteroseksual.

Namun, perlahan pergeseran Freddie yang mulai menjalin kasih dengan kaum brewok dijelentrehkan secara simbolis, yang puncaknya pada pertengkarannya dengan Mary. Pada adegan itulah, klise layaknya formula film bergenre drama sekadar dipenuhi. Adegan dipercepat sampai perubahan penampilan Freddie untuk memotong rambut dan menumbuhkan kumis, simbol-simbol pengakuan diri sebagai homoseksual.

Jika saja adegan sebelumnya tidak loncat-loncat ke tur-tur Queen dan lebih berani menguliti konflik internal Freddie atas konstruksi identitasnya sebagai gay, tentu emosi penonton bisa lebih maksimal dibangkitkan. Adegan-adegan Freddie yang tenggelam dalam rasa kesepian di balik aksi panggungnya yang mampu menyihir penonton itu, sayangnya digambarkan terlalu singkat.

Baru saja penonton disuruh bersimpati pada sosok Freddie yang frustasi, eh adegan dilempar lagi pada penampilan Queen. Baru saja penonton diajak menikmati peluh Queen menggarap Bohemian Rhapsody, eh adegan berpetualang lagi kembali ke Freddie.

Jika benar film ini berniat menyajikan perjalanan karir Queen, rupanya penulis naskah tergoda imannya oleh pesona Freddie. Padahal, kalau boleh jujur, bahkan tidak butuh Queen atau embel-embel Bohemian Rhapsody untuk membuat film ini menjadi a great success. Tapi jika benar film ini adalah biopik Queen, mana kisah tentang pribadi personil-personil lainnya? Apa memang benar, ‘your majesty’dari Queen hanya Freddie seorang?

Kalau pun Freddie dituhankan di film ini, selayaknya ia dihantar sebagai otak utama di balik ke-gendheng-an Bohemian Rhapsody agar dapat menjawab judul film. Jika direnungkan, bukankah film yang judulnya Bohemian Rhapsody hendaknya menggali proses kreatif penulisan lagu. Atau paling tidak menjawab spekulasi nyinyir citizen (karena di tahun 1975 belum tercipta makhluk namanya netijen) mengenai makna misterius di balik Mamamia, Scaramouce, Fandango, Figaro, dan Bismillah dan nada serba opera.

Atau penceritaan yang komprehensif bagaimana 24 trek pita kaset aus karena berkali-kali merekam bagian lirik ‘Galileo’ agar mendapat pitch sempurna seperti yang dimau Freddie. Adegan ini hadir, tapi persentasenya dalam cerita menduduki kasta sudra.

Atau lanjutkan juga dengan bagaimana perjalanan lagu ini menolak habis-habisan status quo format komersil durasi 3 menit, lompatan nada yang easy listening, dan mengandung refren. Bagaimana perjalanan lagu ini lantas mampu mendobrak selera pasar dan menjadi karya magis yang lestari hingga puluhan tahun. Bohemian Rhapsody yang magis nyatanya tidak terlalu dielu-elukan sebagaimana ia dijadikan judul film.

Lagu edan berdurasi hampir 6 menit yang awalnya ditolak mentah-mentah dan kemudian berhasil bertahan di 10 besar tangga lagu Amerika rupanya lebih penting diceritakan sebagai prestasi Queen daripada misteri dan ritual yang terjadi di studio di Wales selama 70 jam pembuatan lagu tersebut.

Pada akhirnya, film ini tidak lebih dari kisah sukses sebuah band rock asal Inggris dan wahana karaoke para penggemar akut lagu-lagu Queen yang tidak-bisa-tidak sing along ‘Bohemian Rhapsody’, ‘Radio Gaga’, dan‘We are the Champion’ saat adegan Live Aid 1985. Gara-gara itulah, katanya film ini tetap layak ditonton. Bagi penulis, Anda tetap bisa nonton film ini supaya film garapan 20th Century Fox yang memakan drama selama 10 tahun produksi ini bisa balik modal.

Bagi penulis, satu-satunya yang menyelamatkan film ini adalah Freddie Mercury dengan segala pergolakan batin, keluarga, identitas, dan orientasi seksualnya. Kalau bukan karena Freddie, penulis kesulitan benar mengidentifikasi motivasi dan tingkat kepuasan terhadap film ini.

Penghormatan dan terima kasih harus diberikan sebesar-besarnya pada si jenius, Freddie Mercury. Kalau bukan karena beliau, Bohemian Rhapsody sebagai lagu maupun film adalah karya biasa-biasa saja yang mungkin tidak layak dikenang lintas generasi.

 

(Catatan tambahan: Penulis harus banget menghabiskan waktu 1×24 jam disertai doa dan puasa demi menyelesaikan tulisan ini saking mindernya dengan Queen beserta jajaran fansnya.)

‘The Incredibles 2’ dan Kesetaraan Jender 0 343

Oleh: Michelle Florencia*

Yak, akhirnya setelah sekian lama, The Incredibles 2 telah tayang di bioskop terdekat! Sudah pasti anak-anak generasi 90-an yang kini sudah bukan anak-anak lagi atau bahkan sudah punya anak bernostalgia massal. Pasalnya, akhirnya Disney merilis sekuel dari The Incredibles (14/6) setelah 14 tahun!

Film animasi tiga dimensi ini bercerita tentang Helen, yang awalnya bersikeras hidup normal setelah adanya larangan bagi superhero mendapat misi untuk melanjutkan pekerjaannya itu. Sementara, Bob  harus menggantikan peran Helen sebagai ibu rumah tangga. Keluarga super tersebut akhirnya “terpaksa” menanggalkan status masyarakat normal mereka ketika Helen berada dalam ancaman. Ya kira-kira seperti itulah isinya. Saya tidak mau banyak cerita, takut dibilang spoiler.

Dari sinopsis yang saya paparkan di atas, barangkali pembaca telah menemukan perbedaannya dengan The Incredibles? Ya! Helen atau Elastigirl lebih mendominasi. Selain itu, Disney memilih wanita sebagai musuh utama dari keluarga manusia super ini. Peran wanita begitu mendominasi. Disney rupanya menyuntikkan kampanye kesetaraan jender pada anak-anak zaman now dan zaman 90-an.

Kemampuan Elastigirl dalam caruk tak diragukan lagi, bahkan dikatakan bahwa ia lebih teliti dan lebih “bersih” ketimbang Mr. Incredible dan Frozone. Apabila kita bandingkan aksi Mr. Incredible di The Incredibles dan Elastigirl di The Incredibles 2, ibu dari tiga anak ini memang lebih smart dan lebih berhati-hati.

Berbeda dengan film superheroes seperti The Avengers, The Justice League, The Dark Knight Rises, dan lain-lain di mana peran superhero wanita tidak begitu signifikan. Superhero wanita juga banyak diekspose kecantikan dan keseksiannya – contohnya Wonder Woman yang selalu tukaran pakai rok mini atau Catwoman yang menyempatkan diri catokan dan gincuan padahal beberapa jam lagi bom atom bakal meledakkan Gotham.

Nggak salah sih, tapi itulah persepsi superhero yang tertanam oleh sineas Hollywood kebanyakan. Disney mendobrak pemikiran orang pada umumnya mengenai superhero wanita di film-film superheroes: cantik, bodi bohay, belum kawin, sekadar membantu, dan buat seger-segeran. The Incredibles 2 mengajak kita mengganti paradigma tersebut dan membuktikan bahwa wanita bisa berperan besar seperti pria.

Pun begitu dengan pemilihan villain wanita. Wanita yang dianggap sosok halus, penurut, dan lemah ternyata mampu menjadi sosok yang keras, ambisius, bahkan jahanam sekalipun kalau ia mau. Wanita adalah manusia seperti halnya laki-laki, ia bisa menjadi apapun yang ia inginkan bahkan kriminal kelas kakap sekalipun.

Lalu, diceritakan bagaimana Bob keteteran menjalani peran ibu. Mulai dari menyiapkan sarapan untuk Violet dan Dash, membuat bubur, nyuapin, ngudang, sampai membuat Jack Jack tidur – apalagi dia bukan bayi biasa – hingga berurusan dengan matematika dan persoalan percintaan Violet yang membuat putri satu-satunya tersebut nesu padanya. Bahkan, Bob tidak tidur ketika menjalankan peran gandanya itu.

Film ini ingin menyadarkan mereka yang suka memandang sebelah mata ibu-ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Mengurus anak seolah-olah dianggap sebagai kerjaan enteng. Ternyata, sangat susah. Yangg dilakukan Bob hanyalah seupil dari kompleksnya kerjaan ibu rumah tanga. Belum bersih-bersih rumah, merumuskan anggaran, beli barang-barang rumah tangga yang habis, melerai anak-anak yang bertengkar, dan sebagainya.

Selain itu, film ini juga mengingatkan bahwa mendidik dan mengurusi perkembangan anak bukan hanya tugas ibu. Sering kali pria mengira perannya  hanya bekerja, mengantar anak, dan mengajak bermain. Mengajari anak saat mengerjakan PR, menyiapkan sarapan, dan soal cinta-cintaan anak itu tugas ibu saja karena seharian di rumah. Padahal, ayah juga harus mengambil peran tersebut.

Saya menanti-nantikan kapan sineas Indonesia berani menggebrak film anak-anak yang hanya berisikan mimpi, persahabatan dan kekeluargaan belaka. Sesekali disisipi isu-isu sosial seperti kesetaraan jender.

Isu kesetaraan jender bukan hanya terjadi pada orang dewasa saja, namun semua kalangan. Saya ingat ketika SD selalu anak laki-laki yang menjadi ketua kelas. Lalu, saat SMP selalu kaum Adam yang menjadi ketua OSIS dan wanita sebagai wakilnya. Alasannya? Karena sudah jadi tradisi laki-laki pemimpinnya, perempuan jadi wakilnya. Bahkan, jawaban teman saya ketika saya menanyakan hal ini lebih biadab. Katanya kalau cewek jadi ketua terus cowok jadi wakilnya, nanti wakilnya nggak kerja. Makanya, cowok yang jadi ketua. Kalau gitu, dari awal pilih yang rajin, enak banget ya karena jendernya, malas dianggap wajar. Modyar akal sehatnya.

Nilai-nilai seperti ini harus kita rombak. Penting bagi anak tahu tentang kesetaraan jender, karena pada hakikatnya manusia diciptakan setara.  Penanaman akan hal ini kepada anak dari dini jauh lebih mudah ketimbang ketika mereka dewasa. Film animasi bisa menjadi pilihan tepat bagi Pembaca untuk mengajari anak-anak tentang kesetaraan jender karena semua anak pasti suka film animasi.

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Editor Picks