‘Saman’: Mencium Harumnya Sastra Wangi bersama Ayu Utami 0 1093

Oleh: Celine Christina*

“Hayo, kok mesum”, ucapan itu terlontar dari teman laki-laki saya pada  perempuan yang dianggap sedang mendiskusikan topik tak senonoh. Namun sebaliknya, ketika teman laki-laki saya mengomentari lekuk badan seorang perempuan secara teliti, “Mata keranjang”, ucap perempuan muda tersebut. Teman lelaki saya menimpali, “Bodoh kamu, itu namanya mengapresiasi ciptaan Tuhan”. Ketahuilah, mayoritas dari mereka akan memiliki cara berpikir yang sama.

Hal diatas seolah-olah sangatlah alamiah—wanita baiknya tampil polos, tidak mengerti apapun mengenai seksualitas, apalagi mengenai birahi. Layaknya mahkluk aseksual, perempuan lebih baik diam sambil mengupayakan body gitar agar dapat diapresiasi kaum adam. Tetapi bukankah ‘hal-hal tak senonoh’ itu hanyalah sekedar informasi semata? Apabila kaum adam boleh dengan bebas melahap informasi ini-itu semenjak akil baligh, mengapa kaum hawa tidak?

Saman adalah novel pertama Ayu Utami yang bercerita tentang lika-liku kehidupan mantan pastur bernama Saman dengan empat perempuan bernama Yasmin, Shakuntala, Cokorda, dan Laila. Novel ini memiliki latar belakang rezim Orde Baru dengan bumbu spiritualitas agama Katolik yang kental, di samping karena sang penulis memang pemeluk agama Katolik. Berfokus pada perspektif wanita, memang beberapa bagian novel Saman dianggap tidak pantas oleh umum. Namun, perlu diketahui bahwa novel ini merupakan pelopor genre sastra wangi, dimana penulis wanita bebas mengeksplorasi seksualitasnya dengan balutan ideologi apapun, tak terkecuali feminisme. Sastra wangi mengizinkan wanita untuk menyuarakan hak dan otoritas atas tubuhnya sendiri, sambil mendobrak paham konservatif mengenai konsep hubungan pra-nikah, keperawanan, serta budaya partiarki.

Perlu diakui bahwa membaca Saman tak bisa diselingi dengan tiduran di sofa ataupun interupsi oleh perbincangan kecil lewat aplikasi milenial. Semua itu saya lakukan dan hati pun membatin, “Cerita apa ini kok gak nyambung sama sekali?”, sehingga saya harus membaca ulang sampai tiga kali. Saman seafdolnya dibaca dengan konsentrasi penuh tanpa pemikiran insecure. “Si Japri suka sama aku apa ndak, ya?” (padahal mungkin si Japri asyik  nge-chat dengan 3 cewek lainnya, disambi nonton Pornhub.com).

Novel diawali dengan “Central Park, 28 Mei 1996”, dimana tokoh bersudut  pandang orang  pertama sedang mengumpamakan dirinya sebagai seekor burung:

“Di taman ini, saya adalah seekor burung. Terbang beribu-ribu mil dari sebuah negeri yang tak mengenal musim, bermigrasi mencari semi, tempat harum rumput bisa tercium…”

“Burung” itu tidak lain yang dimaksud adalah perumpamaan Laila Gagarina akan dirinya sendiri yang tengah menunggu kekasihnya di Central Park, New York, beribu-ribu kilometer jauhnya dari Indonesia, untuk melepas keperawanannya. Menggunakan alur flashback, tokoh Laila diceritakan sebagai seseorang yang pemikir, polos, dan sangat tulus ketika mencintai kekasihnya. Awal mula Laila bertemu kekasihnya yang telah beristri, Sihar Situmorang, ia sedang mengunjungi proyek pertambangan minyak Seismoclypse. Terpikat pada pandangan pertama, Laila memproyeksikan harapannya kepada pria beristri tersebut, menganggap tiap gerak-gerik Sihar sebagai sesuatu yang istimewa.

“Barang kali saya terobsesi pada dia, yang bayangannya selalu datang dan jarang pergi”.

Karakter lain yang banyak dibahas di novel ini ialah Shakuntala. Ayahnya selalu memberi wejangan bahwa hanya lelaki yang boleh menghampiri perempuan; perempuan yang mengejar-ngejar lelaki pastilah sundal — selain itu, perempuan hanya boleh memberikan tubuhnya saat ia telah menikah. Wejangan ayahnya tersebut dianggap Shakuntala sebagai persundalan yang hipokrit. Ia tetap mengoposisi pandangan ayahnya dengan menjadi individu yang sexually-liberated.

Mulai halaman 41, latarbelakang tokoh Saman terkuak. Nama sebenarnya ialah Athanasius Wisanggeni, seorang frater yang ditugaskan di kota minyak Perabumulih. Wisanggeni (Wis) terlibat dengan para petani karet di daerah terpencil bernama Lubuk rantau, yang hidupnya tidak seberapa namun teraniaya oleh pihak otoriter. Ia tahu betul bahwa sebagai frater, Wis dapat terus tinggal di gereja bersama ibu-ibu paroki yang merawatnya dan memberi makanan lezat. Ia pun hanya perlu ikut bimbingan retret di sekolah Katolik, yang tentunya jauh lebih nyaman daripada membantu minoritas memperoleh kembali hak mereka. Namun, Wis merasa berdosa apabila hanya berdoa, sehingga ia turuntangan membantu komunitas para petani tersebut.

Meringkas topik penindasan HAM dan seksualitas perempuan, Ayu tak lupa menyisipkan opininya mengenai marital rape yang selama ini dianggap hanya sebagai persoalan personal. Walaupun seorang wanita telah menikah, masih ada kemungkinan dirinya diperkosa oleh suaminya sendiri, dipaksa untuk melakukan hubungan seksual tanpa consent atau persetujuan. Selain topik marital rape, Ayu juga menyindir bagaimana masyarakat memandang poligami sebagai hal yang wajar, namun mengucilkan seorang wanita yang sexually-liberated. Beliau juga menyindir bagaimana penduduk lokal menganggap budaya Barat sebagai sesuatu hal yang negatif, dan seks ialah milik orang dewasa melalui pernikahan. Namun, di pedalaman Indonesia masih banyak anak di bawah umur yang telah dikawinkan oleh orangtuanya sendiri. Bukankah itu suatu ironi?

—-

*Manusia yang benar-benar biasa, paras dan perawakannya juga biasa saja. Kadang menulis, kadang membaca, kadang melamun. Sudah terbiasa sendiri, ia lupa cara berkompromi dengan lawan jenis.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Nonton ‘Mantan Manten’ 0 510

Sebagai film Indonesia yang lagi-lagi bercerita tentang perempuan, Mantan Manten karya Visinema Pictures menjadi salah satu yang ditunggu-tunggu umat feminis. Apalagi, film ini bakal mengangkat adat Jawa, yang walaupun sudah mendominasi media kita, tapi tetap menarik jika ada produser film yang mau mengupasnya lebih dalam.

Untuk itu, penulis yang baik hati ini tidak akan membocorkan alur cerita apalagi endingnya kepada pembaca yang berniat menonton (toh trailer sudah mengambil bagian ini hehe). Alih-alih, penulis justru bakal membagi panduan menonton bagi pembaca sekalian.

 

  1. Gak usah sedia tisu

Karena bercerita tentang mantan yang manten, tidak membuat film ini lantas membuat kita teraduk-aduk emosinya, air mata mengucur deras tak henti. Siapa sih yang gak pernah ditinggal nikah sama mantannya? Ini adalah kasus yang paling jamak didapati dalam kisah romansa remaja bangsa yang labil ini :(.

Tapi, barang sebentar kita mau mengarungi gejolak perasaan Mbak Yasnina—yang diperankan Atiqah Hasiholan—ditinggal tunangannya menikah dengan orang lain, adegan nangis-nangisan malah cepat sekali berganti ke adegan lainnya. Baru saja ingin menyelami perasaan serba bingung dan gak enaknya Surya antara memilih Yasnina atau keputusan bapaknya, kita dihadapkan pada sikap kekanakannya dan cenderung menyebalkan.

Penulis juga kesulitan betul menghargai peran Budhe Marjanti yang dihormati sebagai dukun manten itu. Kesakralan hidupnya menjalani puasa dan semedi tidak sempat dihadirkan, diburu dengan durasi film 1 jam 42 menit itu. Pun film ini absen menampilkan adegan pertengkaran batin bapaknya Surya, Iskandar, yang akhirnya menelan pil pahit karena gengsi meminta Yasnina jadi dukun manten buat anaknya.

Emosi dilempar ke sana kemari. Diakhiri tanpa permisi. Diminta ganti ketika kita sedang menikmati. Padahal sudah tersedia 1 pak tisu di tas penulis, berjaga-jaga siapa tahu scene-scene tertentu menguras air mata. Baru mau nangis, eh sudah ganti scene lagi. Haduuuh!

 

  1. Gak usah berharap tinggi-tinggi

Ingat sodara-sodara, tidak semua film bertujuan mendidik! Gak usah berekspektasi tinggi pula bahwa paes dan adat nikah mantenan ala Jawa bakal dikupas tuntas di film ini. Malahan, posisinya menjadi trivial.

Sungguh hebat, Yasnina yang hidup tanpa latar belakang tradisi yang jelas di panti asuhan, bisa belajar paes Jawa dan bahkan jadi dukun manten keluarga keraton Solo dalam kurun waktu 3 bulan. Lebih hebat lagi, Yasnina berani merias istri mantannya, padahal emosinya masih belum stabil untuk menerima fakta pahit itu. Dikisahkan ia juga masih emosi meledak-ledak ketika tahu mantannya akan menikah dengan orang lain. Lah kok njelalah, Nina tiba-tiba berubah jadi sosok yang tenang waktu membetulkan beskap Surya yang kekecilan itu. Kapan berubahnya, cah ayu?

Jangan-jangan, Mbak Nina—panggilan sayang Yasnina—ini lagi pansos. Kisah hidup dan cinta dia kalau diunggah netijen tamu undangan mantenan Surya ke media sosial dengan hestek #JusticeForNina pasti laku keras, menuai simpati di mana-mana. Tiba-tiba Nina terkenal, jadi influencer dan motivator dadakan, serta mendapat banyak orderan endorse online shop abal-abal.

Oh ya, Iskandar, si bapaknya Surya, ceritanya memegang teguh adat Jawa. Dia hanya percaya Budhe Marjanti sebagai dukun manten maha-sakti sak Indonesia raya. Saking taatnya pada tradisi, dia rela lo menerima Nina sebagai orang yang diwarisi tugas paes manten anaknya, walaupun awalnya menyimpan dendam kesumat padanya, entah karena apa. Tapi kalau-kalau dia pemegang teguh adat dan memiliki spiritualitas yang baik, kok sampai hati betul Iskandar demi bisnis mengkhianati calon mantunya sendiri? Apakah berkhianat termasuk jihad? Sungguh janggal.

 

  1. Gak perlu nonton sampai habis

Bukankah judul sudah menceritakan semuanya? Pokoknya ini cerita tentang mantan yang manten. Namanya juga mantan, berarti dia mantennya bukan dengan si pemeran utama. Dari scene pertama, ketika Surya melamar Nina, kita sudah tahu bahwa di akhir nanti mereka gak akan bersama. Bodo amat dengan nasibnya yang kelak akan ditipu calon mertua sendiri.

Pun kalau dia adalah wanita karir hebat, bisa-bisanya harta habis tanpa sedikit pun bersisa. Katanya lulusan amerika, bangun karir dari nol, dapat banyak penghargaan (sebagaimana dikisahkan di dinding panti asuhan), bisa-bisanya teledor dan tidak punya aset sama sekali, kalaupun punya belum balik nama lagi. Masak iya sih, manajer investasi terkenal tidak punya tim pengacara pribadi dan tidak tahu cara investasi bagi dirinya sendiri?

Nina boleh deal dengan banyak  klien perusahaan raksasa, tapi kalah dengan ibu-ibu dukun manten di pegunungan Temanggung. Kalah pula dengan akal-akalan bapak tua yang menipu karir dan jalan cintanya. Di mana Nina yang pintar lobi-lobian itu ketika berhadapan dengan budhe dan Pak Iskandar? Mangkane to Mbak, keseimbangan IQ, EQ, dan SQ itu penting!

 

Demikian panduan nonton ini telah dibuat. Semoga bermanfaat bagi kawan-kawan pembaca sekalian karena film Mantan Manten masih bisa ditemui di bioskop-bioskop kesayangan Anda!

 

Salam hangat, penggemar arwah suami Budhe Marjanti; bapak tua yang dibayar cuma buat senyum dan manggut-manggut sepanjang filem.

‘Yowis Ben 2’: Film Band-band-an yang Yowislah 0 995

Setamat Bayu dan kawan-kawan menempuh masa sekolah, tibalah mereka pada tantangan hidup berikutnya: lanjut kuliah atau kerja.

Belum sempat daftar kuliah bersama gadis kecintaan, boneka Susan, Bayu keburu disalip Roy yang—dengan mudahnya—mengajak Susan melanjutkan pendidikan di Jerman. Tak cukup dibuat jatuh oleh kandasnya hubungan, ia terancam masa kontrak rumah yang hampir habis. Bayu dibuat pusing. Satu-satunya jalan keluar ialah dengan membesarkan band-nya, Yowis Ben.

Jika ingin jujur berbicara film tentang band di Indonesia, apalagi yang berformat komedi, bisa dikatakan ada dua hal yang tidak mampu dilepaskan: persoalan wanita dan pertarungan idealisme. Plot pertama, tokoh utama berusaha mengejar gadis idaman lalu tanpa sengaja melupakan band; sedang di lain sisi, ada personil lain yang ketimpa masalah sehingga harus meninggalkan band. Atau plot kedua, band butuh panggung untuk berkembang, sedangkan realitanya, tak semua band mampu membawa semangat idealisnya, hingga harus berkongsi dengan pasar; personil lain ada yang setuju ada pula yang tidak.

Film Yowis Ben 2 tetap terjebak pola semacam itu. Melanjutkan kesuksesan dari film pertama, Fajar Nugros dan Bayu Skak mendamba lebih. Maka jadilah mereka merekrut nama-nama besar macam Anya Geraldine, Andovi dan Jovial da Lopez, serta sederet artis lain. Demi pasar yang lebih luas, mereka pun memaksakan memadukan bahasa Jawa dan Sunda, meski tak paham juga mengapa sebenarnya mereka harus ke Bandung (sekalian aja ke Jakarta, cuk).

Dua puluh menit pertama menonton, film ini masih terasa masuk akal. Beragam problem muncul, dari masalah galau remaja hingga persoalan finansial, juga ketidakbecusan Cak Jon mengurus Yowis Ben. Sampailah mereka bertemu Cak Jim, seorang manajer artis profesional yang mengaku sudah mengorbitkan banyak band dan berniat membesarkan Yowis Ben.

Bagaimana caranya? Dengan mengirim mereka ke Bandung! Alasannya, karena dari sana—dan seolah-olah hanya dari sana saja—banyak band bisa terkenal. Sementara Jawa Timur, latar belakang yang awalnya mengangkat betapa idealisnya film ini, iklimnya ternyata nggak bagus buat ngartis.

Memasuki setengah film, kacau. Banyak logika cerita yang tumpang tindih. Bagaimana mungkin para orang tua personil band ini bisa percaya lulusan SMA bisa bertahan hidup di kota orang—mek bondho percoyo ke Cak Jim yang bahkan belum pernah mereka temui?

Bagaimana juga Mia, istri Yayan, bisa menyusul ke Bandung tanpa sepengetahuan si suami? Sedangkan di awal film, Yayan mengaku kesulitan secara finansial karena pendapatan dari band tak sebesar yang diharapkan. Oh… mungkin karena Mia—ternyata si suami cukup bodoh sampai nggak tahu—adalah anak tentara yang asli Bandung. (Cuuk, serius?)

Ke-mbulet-an ditambah lagi dengan kehadiran Stevie di Bandung, yang juga tak memerbaiki masalah apapun, selain demi kontrak Devina Aurel yang belum habis di film ini. Apa cuma biar bisa pegang-pegangan sama Nando?

Kalaupun ingin menunjukkan sisi Islam yang syar’i melalui pernikahan muda Mia-Yayan, justru penggambaran dalam film ini bisa jadi bumerang. Baik Mia maupun Yayan masing-masing tak mampu menjalani kedewasaan, selain dengan memarahi Yowis Ben karena nggak bangun shubuhan. Atau, saat Mia memilih tidur berdua dengan suami ketimbang dengan Stevie, sehingga tak tersisa lagi kamar buat Bayu dkk.

Karakter kekanak-kanakan ini diperparah dengan kondisi Yayan yang belum mapan secara finansial namun nekat menikah. Bisa jadi, pernikahan muda, yang selama ini sering digaungkan berpotensi rapuh oleh karena manten yang belum matang secara usia, memang benar berbahaya.

Kemunculan Asih juga jadi pertanyaan besar. Bagi orang-orang selevel pengusaha Markobar martabak yang ramai dan laris manis, Asih harusnya tak perlu lagi kuliah jauh di Malang, apalagi mendaftar di IKIP yang notabene nggak nyambung dengan usahanya. Bahkan bagi perempuan se-geulis dan setajir dia, lelaki macam Bayu normalnya cuma seliweran depan mata. Tapi toh film ini punya Bayu sehingga, mau tak mau, Anya harus bersedia mesra-mesraan sama anak band yang nggak jelas juntrungannya (jiancuk tenan).

Bayu pun, yang awalnya digambarkan megap-megap lantaran kondisi ibunya yang jualan pecel, dihimpit hutang kontrakan selama tiga tahun, biaya kuliah, dan masalah finansial sampai bikin nekat ke Bandung, ternyata masih sempat kencan dengan pengusaha martabak! Ada baiknya, bapaknya Asih menambah jam workout supaya akal sehatnya makin segar. Maksudnya, biar nggak langsung menerima orang asing yang datang di waktu-waktu tak wajar. Apa coba yang pembaca lakukan jika melihat seorang lelaki main ke rumah malam-malam, melompati tembok, ngaku ingin beli martabak, namun ternyata cuma modus biar bisa colek-colekan tepung sama Anya Geraldine?

Selain beragam logika cerita yang aneh, kemunculan figur wanita kurang lebih hanya dimanfaatkan sebagai gimmick semata. Seolah-olah benar kata Stevie, “Arek band-band-an iku lak mesti wedhokan ae”. Kalau di film pertama dengan cewek yang ini, di film kedua pasti cewek ini pergi dan diganti cewek lain. Siklus yang sama bakal terjadi pula di film ketiga.

The Tarix Jabrix (2008, 2009, 2011) dengan band The Changcuters, sama-sama menggunakan formula tersebut. Hanya saja, Yowis Ben menambah perbendaharaan bahasa lokal sebagai fondasi cerita maupun aksentuasi guyonan. Tanpa bahasa Jawa, film ini bagaikan Real Madrid tanpa Zidane soto tanpa kunyit; jadinya akan lain cerita.

Di luar kesia-siaan itu, rasanya sinema Indonesia masih dan tetap perlu diperkaya dengan tontonan dengan yang memadukan penggunaan bahasa lokal—yang tentunya tanpa dibumbui stereotip aneh. Biar filem kita isinya tak melulu lu gua lu gua lu gua lu gua lu gua…

Ciuuukk, ajur tenan.

Editor Picks