Tenang Mbak Lala, Masyarakat Kita Masyarakat Pelupa! 0 939

Oleh: Muhajir Dono Husodo*

 

Manusia memang tempatnya salah serta lupa.

Sepotong kalimat di atas jadi dalil kala nyangkruk di warkop dan mbok kalau sudah habis gorengan empat biji tapi mengaku cuma tiga. Namun, dalil itu ternyata tidak selalu tepat guna jika diterapkan pada kasus dan situasi berbeda. Terutama relationship cowok dan cewek. Di mata cowok, cewek selalu salah. E-eh! Kebalik yach?

Manusia juga sepertinya dibuat amnesia massal jika dikaitkan dengan banyaknya misteri purbakala berbagai situs dunia. Semisal, peninggalan Machu Picchu dari suku Inca, Nasca Line yang juga di Peru Selatan, reruntuhan candi Pumapunku di Bolivia dan banyak lagi. Berbagai teori mencoba menjawab misteri-misteri tersebut. Mulai dari campur tangan alien, serangan epidemik yang memusnahkan masyarakat dengan singkat, mesin waktu, dan sebagainya.

Namun saya secara personal lebih ngeh dengan teori amnesia massal. Pasalnya, teori ini lebih familiar dan representatif merakyat. Setuju tidak? Sebagai masyarakat Indonesia yang pelupa, setuju sajalah!

Berikut adalah beberapa bukti dari wabah penyakit itu.

 

Aksara Hanacaraka

Dengan kondisi saat ini, tanpa ada upaya yang sungguh dari pemerintah untuk melestarikannya, entah sampai kapan kita akan mengingat bahwa kita punya aksara baca tulis sendiri. Oke lah, ini memang bisa dikatakan jawasentris, berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

Namun, di sisi lain, banyak negara luar yang mampu mengelola kearifan bahasa lokal mereka. Ambil contoh Jepang atau Cina. Aksara Kanji, Katakana, ataupun Hiragana, sangat eksis di banyak tempat dan situasi. Huruf-huruf tersebut bahkan sangat populer di negara kita. Sudah terdengar konyol?

 

Krisis Kepemimpinan

Setiap kali kita mengeluh akan lambannya penyelesaian masalah negara, mengumpat akan bobroknya sistem, merasa putus asa karena negara-negara tetangga sudah begitu maju dan kita terus saja jalan di tempat, ending-nya kita akan menyalahkan pemimpin: menggoblok-goblokkan wakil pilihan kita di parlemen. Namun anehnya, setiap kali ada peluang untuk memperbaiki situasi, kita selalu lupa, lupa dan lupa.

“Coblos ini ya!”

“Nggak mau!”

“Ini cepek buat kamu.”

“Siappp!”

 

Janji Manis Politisi

Daftarnya harus banget ditulis, ya?

 

Persatuan Itu Penting

Hampir dua dekade lalu, kita pernah kecolongan. Timor Timur lepas dari pelukan kita. Kita menyesalinya, namun sayang, kembali lupa bahwa persatuan amatlah penting. Kesadaran untuk membina hidup rukun lewat toleransi antarumat beragama, antarsuku, ras dan sebagainya tidak benar-benar kita jaga.

Buktinya, kita sampai sekarang begitu gemar bertikai. Lihat saja prototype kita, para netizen yang tiada hari tanpa berantem. Soal politik, bertikai. Soal artis cerai, saling olok. Soal agama, kafir-mengkafirkan. Sesama agama bid’ah-mem-bid’ah-kan. Soal sepak bola, saling bully. Satu hal yang bisa menjadikan netizen rukun dan bersatu kok ya cuma soal link video porno. Hemmm… begitu membanggakan!

Kak Seto, tolong ini anak-anak, disleding aja kepalanya satu-satu!

 

Jessica dan Kopi Sianida

Sampai sekarang saya sebetulnya masih geli. Betapa konyolnya kita dua tahun yang lalu, saat menonton live di televisi sidang cucu dari Presiden RI keempat yakni Wayan Mirna Salihin yang dibunuh secara terencana oleh sahabatnya, Jessica Kumala Wongso, yang ternyata anak dari salah satu Hakim Ketua Mahkama Konstitusi, dengan saksi kunci Agus putra sulung Bapak SBY yang mengantarkan es kopi Vietnam di meja nomer 54.

Sebentar. Ada yang salah sepertinya.

Betul sekali sodara-sodara, ada yang salah dari fakta di atas. Tapi yang paling salah sebenarnya kita sendiri. Bisa-bisanya kasus sederhana semacam itu bisa menjadi isu nasional, yang sidangnya disiarkan secara live dan bertahan menjadi topik panas selama berbulan-bulan. Belum lagi jadi tema obrolan ibu-ibu, bapak-bapak, di mana saja.

Kok bisa, ya? Padahal di luar sana, kasus yang lebih layak diikuti banyak. Lain hal misalnya Jessica itu mantu Presiden Jokowi dan Mirna adalah anaknya Pak Prabowo Subiyanto. Atau terungkap bahwa Jessica ternyata dulunya seorang Muslim taat yang kemudian lepas hijab dan berpindah “tuhan”. Masyarakat geger dan antusias mengikuti jalannya sidang wajar. Nobar di televisi pun saya siap kalau ini mah!

Menariknya, seperti suara musik yang terlampau gaduh dan berisik, bersumber dari sound system yang kemudian dimatikan tombol powernya, kasus itu pun tiba-tiba saja senyap. Suasana kembali hening dan lengang. Tidak ada lagi yang tetap peduli menyimak kelanjutan persidangan dan hasil akhirnya. Mirna berhasil hidup kembali pun, semuanya sudah tidak peduli.

 

Akhirnya

Pola semacam ini terus berulang. Ibarat siklus, heboh se-Indonesia, meledak dan tenar di mana-mana, lantas senyap seketika.

Masih ingat betapa kita tergila-gila dengan fenomena batu akik yang demamnya bertahan berbulan-bulan lalu mereda? Masihkah kita ingat fenomena lipsync ‘Chayya Chayya’ Norman Kamaru yang hebohnya seantero Nusantara? Jangan ditanya. Sudah tentu lupa. Belum lagi fenomena ‘Om Telolet Om’, humor Mukidi, dan seterusnya, dan seterusnya.

Apa seperti demikian salah?

Sebenarnya bukan masalah benar dan salah, saya hanya ingin menegaskan betapa pelupanya kita.

Oh, iya, terkhusus untuk Mbak Marion Jola, jangan khawatir, Mbak! Kita ini masyarakat pelupa kok. Tetap fokus saja pada tujuan, pada karir Mbak! Buatlah juri-juri Indonesian Idol yang sok nganu itu terpesona dengan suara desahan Mbak yang aduhai! Buatlah warga NTT bangga dengan prestasi Mbak!

Saya yakin video aksi Mbak yang katanya Daniel Mananta sudah dapat 16 juta viewers di YouTube itu akan semakin banyak yang melihat. Video aksi ‘Jaran Goyang’ Nella Kharisma saja bisa tembus 125 juta viewers kok. Apalagi goyang beneran.

Oh iya, Mbak Lala, sekedar usul saja. Mohon dipertimbangkan usulan Bunda Maia Estianti untuk mengganti nama “Jola” dengan panggilan “Lala”! Biar enak aja nyingkatnya.

Semoga jadi Indonesian Idol tahun ini, Mbak Lala! Saya di belakangmu!

 

Gresik, 22 Januari 2018

 

*Penulis adalah guru swasta di kampungnya, manusia yang percaya keajaiban. Bisa disapa melalui Facebook Muhajir Dono Husodo, Twitter @MuhajirDeHa, WA 085770441441.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keterancaman Klepon yang Tak Islami 0 267

Kejutan deklaratif dari satu akun media sosial tentang pengumuman penting, bahwa klepon adalah jajanan “tak Islami”, menggegerkan orang banyak. Sebagian besarnya tentu saja mempertanyakan dengan nada nyinyir tapi juga was-was: apakah kita sepengangguran itu hingga menyoal sebuah objek tak penting dengan klaim biner Islami dan tak Islami? Apa kehabisan alternatip membahas yang lain, yang important-important aja gitu?

Eittsss. Maap, sekadar mengingatkan. Klepon adalah subjek maha-penting. Ia berdiri mewarisi ingatan kolektif populasi, mengantarai kenangan-kenangan bertetangga dan pulang kampung. Ia barang sederhana yang ditumpangi oleh bejibun kepentingan pertemuan, kenduren, rapat-rapat, dan bingkisan hangat — itu sebabnya, klepon juga bagian penting dari peristiwa kebudayaan. Singkatnya, klepon adalah pantulan diri kita sendiri. Menyebutnya sebagai tidak penting tentu adalah penyederhanaan dan ketakpahaman tentang hakikat rasa dan ikatan peristiwa.

Lalu, tentang klaim tak Islami. Kau tahu, resep berjualan praktis dan taktis kini sering mengawinkan apapun dengan agama: hotel Syariah, pariwisata Islami, bank Syariah, kredit umat (sebuah peristilahan yang sangat membingungkan), gadai Syariah dan tentu saja termasuk jajanan Islami.

Maka, kemegahan klepon sebagai barang maha-penting hanya bisa dikalahkan secara ekonomi dengan melabelinya sebagai yang lain, yang asing, yang ‘bukan Islam’. Seolah-olah kompetisi melawan klepon — seperti halnya politik — hanya dapat dimenangkan dengan jurus agama. Masih ingat dengan Inul Daratista? Ia harus dihajar dengan ‘goyang ngebor tak bermoral’ sekadar untuk menghabisinya dari puncak daftar lagu paling laku saat itu.

Tapi lalu tatkala dilacak muasal geger ini, tak ditemukan akun yang tersemat dalam gambar provokatif iklan klepon. Antara lenyap atau palsu. Dan, sebagaimana biasanya, segera muncul spekulasi bahwa ini adalah cara-cara licik untuk mendiskreditkan umat Islam. Sebuah pemikiran yang dapat saja diterima, meski tak kalah ganjilnya.

Keanehan terbesarnya adalah mengapa kita menjadi begitu mendarahdagingkan corak berpikir Islam dan bukan Islam, kelompok sana dan kelompok sini. Seolah-olah Islam senantiasa berada dalam keterancaman dari luar yang gawat, yang sangat genting dan berisiko membinasakan. Semua hal yang tak sesuai, berbeda, apalagi melawan, akan segera masuk kotak sebagai “mereka yang mengancam”, hal-hal yang nista dan patut diberi pelajaran.

Pada saat yang sama, ada semacam kesadaran bahwa kita mempersepsi diri sebagai kelompok yang sangat rapuh ringkih, yang mudah goyah oleh sesuatu yang berbeda. Kita paranoid dengan apa saja yang dikemas dengan agama. Kita ketakutan pada manipulasi postingan klepon hingga mengancam pelakunya sebagai mendiskreditkan Islam!

Kau kenal PKI? Yang katanya ateis itu? Berpuluh-puluh tahun punah, terlarang, dan dibunuh, tapi ada orang percaya bahwa 60 juta PKI masih hidup di Indonesia. Kita dibentuk dan dibesarkan oleh keyakinan politis bahwa eksistensi kita akan selalu rentan. Terhadap apapun yang diyakini berbahaya.

Mungkin saja ada benarnya, bahwa ada bahaya di luar sana. Bahwa ada upaya sistematis kebangkitan PKI, bahwa ada strategi rapi untuk melemahkan umat. Tapi, kita perlahan lupa hidup untuk apa. Terlampau sibuk mengutuki (hantu?) apa-apa saja yang dirasa tajam mengancam.

Dan yang jauh lebih gawat dari itu: kita larut pada bentukan-bentukan arah politik para elite nun jauh di sana. Kau tahu, mereka-mereka ini rajin sekali membentuk opini. Mereka harus membuatmu yakin terhadap musuh tertentu, agar kau menyatu bersama kau-kau yang lain, membentuk sekumpulan yang solid dan akan segera diklaim sebagai “dukungan politik” bagi elite yang memulai isu tersebut.

Kita seolah-olah dipersatukan sebagai umat yang melawan hal-hal tak “Islami”, tapi pada akhirnya, kita dilihat sebagai sekumpulan pemilik suara, digembalakan oleh pemandu yang mahir mengawin-ngawinkan apapun dengan agama. Untuk dukungan politik. Untuk pemilu lalu dan nanti tentu saja.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Lawakan Jerome Polin yang Melawan Stigma Ilmu Eksak 0 224

Ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuat kita tertawa. Percaya atau tidak, salah satunya adalah matematika. Bukan, bukan menertawakan nilai matematika kita saat sekolah. Namun, matematika – monster dalam kehidupan banyak orang – juga bisa dijadikan bahan lawakan untuk menghibur manusia lain.

Jerome Polin, seorang laki-laki muda dengan kelebihan sel otak bagian menghitung, adalah tersangka dari lawakan yang saya maksud. Mahasiswa Wasenda University ini mampu mengubah “wajah” matematika yang menyeramkan menjadi lucu, hingga membuat saya tertawa sendiri (eh wong gendheng lak an).

Youtuber satu ini berkali-kali membuat lawakan dengan matematika di Twitter dan Instagram, salah satunya adalah pantun maut dari Story-nya berikut ini:

Sumber: Instagram @jeromepolin

Sumber: Instagram story @jeromepolin

 

Sederhana, tapi berhasil membuat saya tertawa kecil. Bahkan, saya sampai lupa pernah berkonflik dengan trigonometri. Bahkan, saya pernah sampai mencari-cari blogspot untuk belajar matematika (lagi) usai membaca lawakan-lawakan cerdasnya (literally cerdas).

Pemilik jargon “mantappu jiwa” ini memang bukanlah satu-satunya orang yang membuat matematika menjadi guyonan segar. 9gag misalnya, situs humor asal Amerika, juga beberapa kali memposting meme matematika yang mampu mengocok perut.

 

 

Sumber: 9gag.com

 

Akan tetapi, di Indonesia sendiri masih sedikit yang menjadikan pelajaran eksak menjadi bahan guyonan. Selain itu, yang terkenal memainkan matematika jadi humor di Indonesia memang Jerome Polin.

Mungkin Jerome Polin tidak memiliki intensi untuk mengubah stigma dari ilmu eksak. Tapi, sedikit banyak pandangan kita terhadap ilmu eksak dan orang-orangnya jadi berubah. Ya, seketika matematika yang merupakan ilmu eksak acap kali dicap sebagai mata pelajaran yang kaku abis, jadi terlihat seru dan fun.

Matematika, salah satu cabang ilmu eksak, tak jauh beda dengan teman-temannya, yakni fisika, biologi, dan kimia, dicap sebagai ilmu yang kaku. Hal ini dikarenakan tidak terbukanya jawaban lain atas suatu permasalahan. Misal, 2+2=4 merupakan aksioma, sehingga tidak mungkin ada jawaban lain selain itu.

Selain saklek, kekakuan ilmu eksak juga disebabkan oleh kecenderungan untuk mengeneralisasi. Misal, alasan jerapah berleher pendek sudah tidak ada karena (semua) hewan jenis ini tidak memiliki kemampuan adaptasi yang baik.

Beda halnya dengan ilmu sosial yang memberi kesempatan orang untuk menemukan jawaban lainnya. Contoh, alasan seseorang menyukai permen kaki tak hanya karena rasanya, akan tetapi juga karena bentuk, warna, dan memori masa lalu yang mengingatkannya akan permen tersebut.

Stigma kaku mengenai ilmu eksak sendiri tak hanya ditujukan pada pelajarannya sendiri, tapi juga pada mereka yang mendalami ilmu eksak. Contohnya, pada saat SMA, kelas IPA di sekolah saya mendapat stereotip sebagai kelas yang anak-anaknya pendiam, suka belajar, dan serius. Padahal, kebisingan kami dan mesin pesawat boleh diadu.

Selain itu, sering juga saya dengar orang-orang berkata, “anak FK (Fakultas Kedokteran) orangnya kaku-kaku”, “kelas di FK itu hening sangking seriusnya kalau belajar”, “anak sains gak asik, terlalu serius”, dan lain sebagainya.

Dari lawakan-lawakan berbau matematika Jerome Polin, kita bisa belajar tiga hal. Pertama, yang terlihat kaku bukan berarti  tidak bisa menjadi fun. Jerome membuktikan ilmu sesaklek matematika juga bisa dibecandain, bahkan membuat orang jadi tertarik belajar matematika.

Kedua, tidak semua orang yang mendalami ilmu eksak juga orang yang serius, kaku, dan tidak bisa bercanda. Banyak yang berpikir paradigma positvistik dalam ilmu eksak menyetir mereka yang mendalaminya, menjadikan mereka sama kakunya dengan ilmu eksak. Padahal tidak juga.

Ada yang memang dari lahir bawaannya sudah kaku, ada yang kesulitan bercanda karena beban pelajaran yang terlalu berat sehingga tidak sempat untuk “main-main”. Buktinya ada kok yang mendalami ilmu eksak tapi pencicilan dan humoris seperti Jerome Polin dan saya.

Ketiga, lucu gak harus menyinggung orang lain kok. Kalau mau ngelawak, bisa kan pakai pelajaran – mungkin setelah ini pembaca mau mencoba melawak pakai teori stimulus-respons dari Ivan Pavlov, monggo. Jadi gak harus menghina orang lain, apalagi fisik.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks