Tenang Mbak Lala, Masyarakat Kita Masyarakat Pelupa! 0 524

Oleh: Muhajir Dono Husodo*

 

Manusia memang tempatnya salah serta lupa.

Sepotong kalimat di atas jadi dalil kala nyangkruk di warkop dan mbok kalau sudah habis gorengan empat biji tapi mengaku cuma tiga. Namun, dalil itu ternyata tidak selalu tepat guna jika diterapkan pada kasus dan situasi berbeda. Terutama relationship cowok dan cewek. Di mata cowok, cewek selalu salah. E-eh! Kebalik yach?

Manusia juga sepertinya dibuat amnesia massal jika dikaitkan dengan banyaknya misteri purbakala berbagai situs dunia. Semisal, peninggalan Machu Picchu dari suku Inca, Nasca Line yang juga di Peru Selatan, reruntuhan candi Pumapunku di Bolivia dan banyak lagi. Berbagai teori mencoba menjawab misteri-misteri tersebut. Mulai dari campur tangan alien, serangan epidemik yang memusnahkan masyarakat dengan singkat, mesin waktu, dan sebagainya.

Namun saya secara personal lebih ngeh dengan teori amnesia massal. Pasalnya, teori ini lebih familiar dan representatif merakyat. Setuju tidak? Sebagai masyarakat Indonesia yang pelupa, setuju sajalah!

Berikut adalah beberapa bukti dari wabah penyakit itu.

 

Aksara Hanacaraka

Dengan kondisi saat ini, tanpa ada upaya yang sungguh dari pemerintah untuk melestarikannya, entah sampai kapan kita akan mengingat bahwa kita punya aksara baca tulis sendiri. Oke lah, ini memang bisa dikatakan jawasentris, berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

Namun, di sisi lain, banyak negara luar yang mampu mengelola kearifan bahasa lokal mereka. Ambil contoh Jepang atau Cina. Aksara Kanji, Katakana, ataupun Hiragana, sangat eksis di banyak tempat dan situasi. Huruf-huruf tersebut bahkan sangat populer di negara kita. Sudah terdengar konyol?

 

Krisis Kepemimpinan

Setiap kali kita mengeluh akan lambannya penyelesaian masalah negara, mengumpat akan bobroknya sistem, merasa putus asa karena negara-negara tetangga sudah begitu maju dan kita terus saja jalan di tempat, ending-nya kita akan menyalahkan pemimpin: menggoblok-goblokkan wakil pilihan kita di parlemen. Namun anehnya, setiap kali ada peluang untuk memperbaiki situasi, kita selalu lupa, lupa dan lupa.

“Coblos ini ya!”

“Nggak mau!”

“Ini cepek buat kamu.”

“Siappp!”

 

Janji Manis Politisi

Daftarnya harus banget ditulis, ya?

 

Persatuan Itu Penting

Hampir dua dekade lalu, kita pernah kecolongan. Timor Timur lepas dari pelukan kita. Kita menyesalinya, namun sayang, kembali lupa bahwa persatuan amatlah penting. Kesadaran untuk membina hidup rukun lewat toleransi antarumat beragama, antarsuku, ras dan sebagainya tidak benar-benar kita jaga.

Buktinya, kita sampai sekarang begitu gemar bertikai. Lihat saja prototype kita, para netizen yang tiada hari tanpa berantem. Soal politik, bertikai. Soal artis cerai, saling olok. Soal agama, kafir-mengkafirkan. Sesama agama bid’ah-mem-bid’ah-kan. Soal sepak bola, saling bully. Satu hal yang bisa menjadikan netizen rukun dan bersatu kok ya cuma soal link video porno. Hemmm… begitu membanggakan!

Kak Seto, tolong ini anak-anak, disleding aja kepalanya satu-satu!

 

Jessica dan Kopi Sianida

Sampai sekarang saya sebetulnya masih geli. Betapa konyolnya kita dua tahun yang lalu, saat menonton live di televisi sidang cucu dari Presiden RI keempat yakni Wayan Mirna Salihin yang dibunuh secara terencana oleh sahabatnya, Jessica Kumala Wongso, yang ternyata anak dari salah satu Hakim Ketua Mahkama Konstitusi, dengan saksi kunci Agus putra sulung Bapak SBY yang mengantarkan es kopi Vietnam di meja nomer 54.

Sebentar. Ada yang salah sepertinya.

Betul sekali sodara-sodara, ada yang salah dari fakta di atas. Tapi yang paling salah sebenarnya kita sendiri. Bisa-bisanya kasus sederhana semacam itu bisa menjadi isu nasional, yang sidangnya disiarkan secara live dan bertahan menjadi topik panas selama berbulan-bulan. Belum lagi jadi tema obrolan ibu-ibu, bapak-bapak, di mana saja.

Kok bisa, ya? Padahal di luar sana, kasus yang lebih layak diikuti banyak. Lain hal misalnya Jessica itu mantu Presiden Jokowi dan Mirna adalah anaknya Pak Prabowo Subiyanto. Atau terungkap bahwa Jessica ternyata dulunya seorang Muslim taat yang kemudian lepas hijab dan berpindah “tuhan”. Masyarakat geger dan antusias mengikuti jalannya sidang wajar. Nobar di televisi pun saya siap kalau ini mah!

Menariknya, seperti suara musik yang terlampau gaduh dan berisik, bersumber dari sound system yang kemudian dimatikan tombol powernya, kasus itu pun tiba-tiba saja senyap. Suasana kembali hening dan lengang. Tidak ada lagi yang tetap peduli menyimak kelanjutan persidangan dan hasil akhirnya. Mirna berhasil hidup kembali pun, semuanya sudah tidak peduli.

 

Akhirnya

Pola semacam ini terus berulang. Ibarat siklus, heboh se-Indonesia, meledak dan tenar di mana-mana, lantas senyap seketika.

Masih ingat betapa kita tergila-gila dengan fenomena batu akik yang demamnya bertahan berbulan-bulan lalu mereda? Masihkah kita ingat fenomena lipsync ‘Chayya Chayya’ Norman Kamaru yang hebohnya seantero Nusantara? Jangan ditanya. Sudah tentu lupa. Belum lagi fenomena ‘Om Telolet Om’, humor Mukidi, dan seterusnya, dan seterusnya.

Apa seperti demikian salah?

Sebenarnya bukan masalah benar dan salah, saya hanya ingin menegaskan betapa pelupanya kita.

Oh, iya, terkhusus untuk Mbak Marion Jola, jangan khawatir, Mbak! Kita ini masyarakat pelupa kok. Tetap fokus saja pada tujuan, pada karir Mbak! Buatlah juri-juri Indonesian Idol yang sok nganu itu terpesona dengan suara desahan Mbak yang aduhai! Buatlah warga NTT bangga dengan prestasi Mbak!

Saya yakin video aksi Mbak yang katanya Daniel Mananta sudah dapat 16 juta viewers di YouTube itu akan semakin banyak yang melihat. Video aksi ‘Jaran Goyang’ Nella Kharisma saja bisa tembus 125 juta viewers kok. Apalagi goyang beneran.

Oh iya, Mbak Lala, sekedar usul saja. Mohon dipertimbangkan usulan Bunda Maia Estianti untuk mengganti nama “Jola” dengan panggilan “Lala”! Biar enak aja nyingkatnya.

Semoga jadi Indonesian Idol tahun ini, Mbak Lala! Saya di belakangmu!

 

Gresik, 22 Januari 2018

 

*Penulis adalah guru swasta di kampungnya, manusia yang percaya keajaiban. Bisa disapa melalui Facebook Muhajir Dono Husodo, Twitter @MuhajirDeHa, WA 085770441441.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Kamuh yang Anti Incess Syahrini 0 265

Sebagai tim pembela Syahrini yang fanatik, akhirnya saya toh harus angkat bicara. Saya tak punya kalimat pembuka yang paling kuat selain manifesto ini: kamuh-kamuh yang dibeking Luna Maya itu sudah melakukan penistaan kelas berat kepada Princess kami!

Bagaimana mungkin cinta Princess diatur-atur? Bukankah Aa Reino Barack sudah memberi komitmennya kepada Incess kami dan bukan Luna Maya[k]?

Sini, kuberitahu pelajaran berharga dan prinsip nomor satu: manusia tak punya kekuatan barang sedikitpun untuk menyetir cinta sesamanya. Tak pernah ada agama yang berani memasang badan untuk sebuah keyakinan atas Tuhan yang melepaskan diri dari tanggung jawab atas perasaan dan hati umatnya. Bahkan Habibana Rizieq saja, di masa belio masih sehat dan bebas (ehem), tak pernah menggugat soal ini.

Oh ya, lupa, tapi ini dengan asumsi bahwa ikatan Syahrini-Reino sungguh karena cinta loh yaa. Dan tentu saja saya harus yakin bahwa cinta mereka sungguhlah ada dan bukan sekadar rupiah belaka. BUKAN SEKADAR.

Sudahlah, mending situ kembali ke habitat nggak mutu dan ekosistem receh yang sudah situ hidupi bertahun-tahun. Dari orang-orang macam ini, yang hidupnya Senin-Kemis itu, apa kapasitasnya mengomentari—apalagi menista—junjungan kami Fatimah Syahrini Jaelani yang termasyhur? Hidupnya berantakan kok berani-berani menakar kadar cinta idola? Apakah mereka tak pernah menghayati lagu “Sesuatuuuuu” yang sungguh populer di kalangan [k]anak muda itu?

Telah terpampang nyata dalam khatulistiwa perasaan seluruh umat Indonesia bahwa Incess adalah salah seorang yang amat berpengaruh. Dan pengaruh itu merentang sampai pada bagaimana kita menyibukkan diri dalam menolak atau membelanya. Merepotkan diri dalam nyinyir dan puja-puji. Seperti surat terbuka ini…

(Surat ini dibuka dengan gairah menyala tapi ditutup dengan loyo… Sudahlah, namanya juga hidup: antara pesona dan derita kadang beda tipis bingit).

 

Salam hangat,

dari pemuja Syahrini di suatu sore yang murungnya mewakili hati Luna Maya. (Bingung yo ben.)

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 224

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Editor Picks