Tenang Mbak Lala, Masyarakat Kita Masyarakat Pelupa! 0 835

Oleh: Muhajir Dono Husodo*

 

Manusia memang tempatnya salah serta lupa.

Sepotong kalimat di atas jadi dalil kala nyangkruk di warkop dan mbok kalau sudah habis gorengan empat biji tapi mengaku cuma tiga. Namun, dalil itu ternyata tidak selalu tepat guna jika diterapkan pada kasus dan situasi berbeda. Terutama relationship cowok dan cewek. Di mata cowok, cewek selalu salah. E-eh! Kebalik yach?

Manusia juga sepertinya dibuat amnesia massal jika dikaitkan dengan banyaknya misteri purbakala berbagai situs dunia. Semisal, peninggalan Machu Picchu dari suku Inca, Nasca Line yang juga di Peru Selatan, reruntuhan candi Pumapunku di Bolivia dan banyak lagi. Berbagai teori mencoba menjawab misteri-misteri tersebut. Mulai dari campur tangan alien, serangan epidemik yang memusnahkan masyarakat dengan singkat, mesin waktu, dan sebagainya.

Namun saya secara personal lebih ngeh dengan teori amnesia massal. Pasalnya, teori ini lebih familiar dan representatif merakyat. Setuju tidak? Sebagai masyarakat Indonesia yang pelupa, setuju sajalah!

Berikut adalah beberapa bukti dari wabah penyakit itu.

 

Aksara Hanacaraka

Dengan kondisi saat ini, tanpa ada upaya yang sungguh dari pemerintah untuk melestarikannya, entah sampai kapan kita akan mengingat bahwa kita punya aksara baca tulis sendiri. Oke lah, ini memang bisa dikatakan jawasentris, berpotensi memecah belah persatuan bangsa.

Namun, di sisi lain, banyak negara luar yang mampu mengelola kearifan bahasa lokal mereka. Ambil contoh Jepang atau Cina. Aksara Kanji, Katakana, ataupun Hiragana, sangat eksis di banyak tempat dan situasi. Huruf-huruf tersebut bahkan sangat populer di negara kita. Sudah terdengar konyol?

 

Krisis Kepemimpinan

Setiap kali kita mengeluh akan lambannya penyelesaian masalah negara, mengumpat akan bobroknya sistem, merasa putus asa karena negara-negara tetangga sudah begitu maju dan kita terus saja jalan di tempat, ending-nya kita akan menyalahkan pemimpin: menggoblok-goblokkan wakil pilihan kita di parlemen. Namun anehnya, setiap kali ada peluang untuk memperbaiki situasi, kita selalu lupa, lupa dan lupa.

“Coblos ini ya!”

“Nggak mau!”

“Ini cepek buat kamu.”

“Siappp!”

 

Janji Manis Politisi

Daftarnya harus banget ditulis, ya?

 

Persatuan Itu Penting

Hampir dua dekade lalu, kita pernah kecolongan. Timor Timur lepas dari pelukan kita. Kita menyesalinya, namun sayang, kembali lupa bahwa persatuan amatlah penting. Kesadaran untuk membina hidup rukun lewat toleransi antarumat beragama, antarsuku, ras dan sebagainya tidak benar-benar kita jaga.

Buktinya, kita sampai sekarang begitu gemar bertikai. Lihat saja prototype kita, para netizen yang tiada hari tanpa berantem. Soal politik, bertikai. Soal artis cerai, saling olok. Soal agama, kafir-mengkafirkan. Sesama agama bid’ah-mem-bid’ah-kan. Soal sepak bola, saling bully. Satu hal yang bisa menjadikan netizen rukun dan bersatu kok ya cuma soal link video porno. Hemmm… begitu membanggakan!

Kak Seto, tolong ini anak-anak, disleding aja kepalanya satu-satu!

 

Jessica dan Kopi Sianida

Sampai sekarang saya sebetulnya masih geli. Betapa konyolnya kita dua tahun yang lalu, saat menonton live di televisi sidang cucu dari Presiden RI keempat yakni Wayan Mirna Salihin yang dibunuh secara terencana oleh sahabatnya, Jessica Kumala Wongso, yang ternyata anak dari salah satu Hakim Ketua Mahkama Konstitusi, dengan saksi kunci Agus putra sulung Bapak SBY yang mengantarkan es kopi Vietnam di meja nomer 54.

Sebentar. Ada yang salah sepertinya.

Betul sekali sodara-sodara, ada yang salah dari fakta di atas. Tapi yang paling salah sebenarnya kita sendiri. Bisa-bisanya kasus sederhana semacam itu bisa menjadi isu nasional, yang sidangnya disiarkan secara live dan bertahan menjadi topik panas selama berbulan-bulan. Belum lagi jadi tema obrolan ibu-ibu, bapak-bapak, di mana saja.

Kok bisa, ya? Padahal di luar sana, kasus yang lebih layak diikuti banyak. Lain hal misalnya Jessica itu mantu Presiden Jokowi dan Mirna adalah anaknya Pak Prabowo Subiyanto. Atau terungkap bahwa Jessica ternyata dulunya seorang Muslim taat yang kemudian lepas hijab dan berpindah “tuhan”. Masyarakat geger dan antusias mengikuti jalannya sidang wajar. Nobar di televisi pun saya siap kalau ini mah!

Menariknya, seperti suara musik yang terlampau gaduh dan berisik, bersumber dari sound system yang kemudian dimatikan tombol powernya, kasus itu pun tiba-tiba saja senyap. Suasana kembali hening dan lengang. Tidak ada lagi yang tetap peduli menyimak kelanjutan persidangan dan hasil akhirnya. Mirna berhasil hidup kembali pun, semuanya sudah tidak peduli.

 

Akhirnya

Pola semacam ini terus berulang. Ibarat siklus, heboh se-Indonesia, meledak dan tenar di mana-mana, lantas senyap seketika.

Masih ingat betapa kita tergila-gila dengan fenomena batu akik yang demamnya bertahan berbulan-bulan lalu mereda? Masihkah kita ingat fenomena lipsync ‘Chayya Chayya’ Norman Kamaru yang hebohnya seantero Nusantara? Jangan ditanya. Sudah tentu lupa. Belum lagi fenomena ‘Om Telolet Om’, humor Mukidi, dan seterusnya, dan seterusnya.

Apa seperti demikian salah?

Sebenarnya bukan masalah benar dan salah, saya hanya ingin menegaskan betapa pelupanya kita.

Oh, iya, terkhusus untuk Mbak Marion Jola, jangan khawatir, Mbak! Kita ini masyarakat pelupa kok. Tetap fokus saja pada tujuan, pada karir Mbak! Buatlah juri-juri Indonesian Idol yang sok nganu itu terpesona dengan suara desahan Mbak yang aduhai! Buatlah warga NTT bangga dengan prestasi Mbak!

Saya yakin video aksi Mbak yang katanya Daniel Mananta sudah dapat 16 juta viewers di YouTube itu akan semakin banyak yang melihat. Video aksi ‘Jaran Goyang’ Nella Kharisma saja bisa tembus 125 juta viewers kok. Apalagi goyang beneran.

Oh iya, Mbak Lala, sekedar usul saja. Mohon dipertimbangkan usulan Bunda Maia Estianti untuk mengganti nama “Jola” dengan panggilan “Lala”! Biar enak aja nyingkatnya.

Semoga jadi Indonesian Idol tahun ini, Mbak Lala! Saya di belakangmu!

 

Gresik, 22 Januari 2018

 

*Penulis adalah guru swasta di kampungnya, manusia yang percaya keajaiban. Bisa disapa melalui Facebook Muhajir Dono Husodo, Twitter @MuhajirDeHa, WA 085770441441.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

“Gak Sengaja”, Hukum Indonesia, dan Pelakor di Drama Koriyah 0 139

Mau ngumpulin orang-orang yang kecewa dengan hukuman satu tahun para terdakwa penyiram air keras Novel Baswedan, sambil memperingatkan bahwa tulisan ini mengandung sedikit sepoiler drama.

(Penulis masih nggak tahu apa faedah ngumpulin orang-orang secara virtual begini. Nggak tahu lagi ada Corona apa?!)

Beberapa hari lalu, jaksa penuntut umum mengajukan hukuman kurungan 12 bulan bagi Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis. Mereka disebut melakukan penganiayaan berat dengan menyiram cairan asam sulfat kepada penyidik senior KPK, Novel Baswedan, sepulang sholat subuh 3 tahun silam. Kita tentu tidak bisa lupa, bahwa kejadian itu menyebabkan Novel kehilangan sebagian indra penglihatannya.

Dari pengajuan hukuman jaksa itu, banyak warga negeri ini yang meradang. Caci maki terhadap hukum Indonesia diajukan melalui laman media sosial, satu-satunya media yang dapat digunakan untuk nyampah aktualisasi diri. Kita semua lantas kecewa dengan sistem hukum Indonesia yang sudah sejak lama memihak pada sang empunya jabatan dan materi.

Tak lupa kita bernostalgia, mengenang betapa heroiknya KPK sebagai lembaga antirasuah, penghapus noda korupsi membandel negeri ini. Kita bersimpatik sungguh pada Novel, seorang yang bahkan ketemu apalagi nraktir semangkuk bakso buat kita aja gak pernah.

Pernyataan “ketidaksengajaan” yang muncul di persidangan dan akhirnya diduga kuat meringankan tuntutan hukum terdakwa itu, dijadikan konten oleh yang mengaku influencer. Betapa kata “gak sengaja” kini ramai dijual, menduduki trending topic. Kita menertawai kata tersebut. Hukum negara ini kita anggap jenaka.

Peristiwa ini memang menjadi pertanda bahwa masyarakat kita, walau nampak di taraf hanya peduli bikin TikTok dan challenge-challenge sembarang kalir di medsos, rupanya juga menaruh perhatian pada persoalan hukum dan politik negeri. Tentu ini kemajuan di satu sisi.

Kemudahan informasi dan akses yang diberikan teknologi membuat kita bisa membaca, menelaah, dan menganalisa kronologi perjalanan kasus Novel. Semua mendadak menjadi pengamat politik dan sarjana hukum jalur Twitter dengan diktat hukumonline.com.

Kita merasa menjadi makhluk paling suci jika ada yang mengusik kehidupan serdadu utama pemberantas korupsi. Kita merasa menjadi kaum yang paling berhak menentukan bahwa 1 tahun saja tak cukup. Kita ingin terdakwa dan otak di balik rencana jahat ini hidup menderita, berharap hakim memvonis hukuman seumur hidup.

Sama seperti kelakuan kita pada tokoh fiksi Yeo Da Kyung, karakter pelakor di drama Korea terlaris tahun ini: The World of Married. Penonton Indonesia ingin sang pelakor hidup menderita atas segala dosa yang diperbuat. Segenap mereka tidak terima melihat ending cerita Da Kyung yang tetap baik-baik saja, hidup dalam gelimang harta.

Kalau bisa, tak hanya meneror akun Instagram sang aktris, netijen gemas ingin menyurati sutradara, agar dibuatkan satu saja scene memuat adegan penyiraman air keras pada sang pelakor. Mungkin dengan berakhirnya wajah Da Kyung yang rusak, baru penonton bisa benar-benar puas (lha kok jadi kayak plot sinetron Endonesah?!).

Yang penonton lupa, Yeo Da Kyung, seorang gadis usia 20-an yang hamil di luar nikah dengan suami orang, telah menghabiskan masa mudanya, tak sempat mengejar cita-citanya, hanya karena nuruti mangan cinta dan janji manis bojone wong liyo.

Dari drama ini, kita lupa belajar tentang kehidupan. Hanya terfokus untuk belajar mengawasi suami ketika keluar rumah agar ia tak selingkuh. Kita lupa belajar bahwa apapun keputusan yang kita buat, telah menemui konsekuensinya masing-masing. Tak ada yang paling berhak menilai apakah ganjaran perbuatan sudah cukup memberatkan atau tidak.

Demikianlah kacamata kita yang sempit. Gak sengaja menertawai kebodohan orang lain, tanpa sadar bahwa perlakuan kita pun tak jauh lebih baik. Kita sengaja memilih satu-dua fakta kesalahan orang lain. Tapi juga sengaja mengabaikan nilai-nilai yang sebaiknya kita petik dan pelajari, agar kesalahan yang sama tak terulang pada hidup kita.

Lha wong menilai drama yang fiktif saja kita sengaja memilih poin yang hanya mau kita dengar, apalagi dalam kehidupan nyata. Hehe.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Apakah Kekeyi Pernah Menggoreskan Luka pada Kita? 0 399

Saya tak tahu apa yang membuat Kekeyi (dengan nama panjang Rahmawati Kekeyi Putri Cantika) banyak dibicarakan—dan sebagian besarnya dihina—di media.

Tentu saja orang bisa dengan sangat mudah melempar tai kucing ke media sosial, menyumpahserapahi dengan bebas tanpa khawatir diciduk, bersembunyi dalam nama samar. Tapi saya tak bisa memahami mengapa orang demikian bernafsu untuk mencibiri apa saja yang ada pada Kekeyi.

Berdomisili di Nganjuk dan dikenal karena mula-mula memanfaatkan perangkat make-up sederhana untuk memoles wajah, popularitas Kekeyi melesat ke mana-mana.

Ia bukan saja terlibat dalam kisah cinta yang pilu (dan dituding settingan tapi menguras emosi dan air mata), tapi juga bicara ngawur dalam banyak acara, dilukiskan sebagai perempuan rakus dalam tayangan-tayangan review kuliner, dan sejenisnya.

Tapi lalu justru di sini kita baru tiba pada soal sesungguhnya: mengapa kita punya energi untuk memasak kalimat-kalimat pahit untuk disemburkan padanya?

Jika pun tak ada faedah yang didapat dari apapun yang ia lakukan, sedangkah ia pernah menggores luka dan sakit hati yang demikian dalam pada kita? Hingga yang tersisa adalah makian tak berbatas, hingga pada suatu wawancara, ia katakan sendiri betapa pedihnya hidupnya meratapi kepungan makian?

Dan beberapa hari lalu, dengan suara yang pas-pasan (tak terlalu buruk disandingkan dengan mutu pengisi suara konser amal para pejabat tempo hari), video musik Kekeyi mengguncang jagad Youtube. Ia torehkan namanya sebagai yang teratas, sebagai yang paling banyak ditonton. Ia singkirkan pesohor lain.

Dan justru sebab itulah, angin cibiran berlipat-lipat. Bahkan videonya sempat dihapus oleh Youtube, menyoal duit yang berbalut hak cipta, sampai akhirnya dikembalikan lagi.

Saya menduga kuat, bahwa kita memang tak pernah mau menerima sebuah kenyataan bahwa siapapun orang yang kita sangka gagal, pada akhirnya sangat mungkin membuktikan sebaliknya. Kita tak bisa menerima fakta bahwa mengapa ‘yang begitu saja’ dapat melesat.

Ada sejurus dengki yang menuntut kompensasi bahwa kesuksesan dan keterkenalan yang tak pantas, harus diganjar dengan sebuah hukuman lain: digempur serapah dan hina-dina.

Dan gejala semacam ini adalah gejala yang mengendap dalam batin kita semua yang memang tak pernah bisa keluar dari kebuntuan nasib hidup. Kita merengek dan diam-diam protes keras pada mereka yang kita kira tak pernah pantas dibanding mutu kita sendiri.

Bukankah ini pertanda betapa kita sendiri adalah kumpulan orang-orang yang telah begitu lama kalah? Begitu lama haus pada kemenangan, hingga tak sanggup merelakan sebuah citra kemenangan itu diraih oleh orang yang ‘jauh lebih kalah’ ketimbang kita.

Mungkin itu pula sebabnya mengapa kita hobi sekali memandang-mandangi Youtuber membeli sebuah mobil miliaran seperti memborong kerupuk kalengan di warkop. Sangat tergila-gila pada acara kunjungan ke rumah-rumah mewah selebriti.

Kita suka dan memuja itu semua semata-mata karena ‘mereka lebih pantas dari kita’. Tidak peduli sebermutu apa nasihat dan obrolan di sana.

Tapi kita tak pernah bisa menerima kepantasan itu disematkan pada Kekeyi, yang demikian anomali, begitu berbeda, begitu kampung.

Mungkin di sanalah peluang satu-satunya Kekeyi: bahwa daya jual utamanya adalah kelemahan-kelemahannya—sebuah resep dahulu kala yang pernah sukses dipakai oleh politisi kita. Dengan jargon ‘dia adalah kita’, dan kini menjadi ‘dia adalah segala-galanya yang harus dibela’.

Editor Picks