Hanya Novel yang Jadi Pulang 0 339

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Bisa kita rasakan bersama bahwa ada perbedaan yang sangat kentara pada atmosfer penyambutan kedatangan dua tokoh ini. Seminggu kemarin, santer terdengar isu kepulangan Habib Rizieq dari Arab Saudi. Bahkan sebelum ia sendiri keluar omongan akan pulang, pendukungnya sudah kepalang rindu ingin Sang Habib segera wangsul.

Netijen pun ramai membicarakan Rizieq, mulai dari menyinggung soal skandal chat mesumnya dengan Firza Husein yang “tenggelam” sejak kepergiannya, panggilan reuni akbar 212, dan masih banyak lagi hal nyeleneh yang beliau lakukan. Kesimpulannya, kepulangan Sang Habib (walau tidak jadi) sangat dinanti-nanti baik oleh pendukung dan pembencinya.

Di minggu yang sama, kabar pulang juga muncul dari Novel Baswedan. Tidak seperti Rizieq Novel akhirnya mendarat ke tanah air setelah hampir setahun harus berobat di Singapura. Tentu khalayak tidak lupa siapa sosok tersebut. Jika lupa—karena banyak yang suka lupa—mari kita sejenak mengingatnya kembali.

Kejadiannya pada April 2017 lalu. Sepulang shalat subuh di masjid dekat rumahnya, Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal pada area wajah. Nahas, kedua mata Novel terkena dampak paling parah, bahkan hampir dinyatakan buta. Sampai sekarang, mata kirinya belum sembuh total. April nanti, ia akan kembali bertolak ke Singapura untuk melakukan operasi besar tahap kedua. Insyaallah, beliau akan kembali sembuh.

Tentu bukan kebetulan bahwa Novel Baswedan disiram air keras. Kebetulan tidak mungkin seajaib itu. Masyarakat tidak polos lagi.  Jelas ada oknum yang menarget dirinya, mengingat beliau ialah penyidik KPK, musuh besar anggota DPR para koruptor. Intinya, Novel harus ‘dibuat’ berhenti menyidik karena akan sangat membahayakan.

Kalau kata Mahfud MD pada Freiderich Yunadi, pengacara kita yang kece itu, ini adalah tindakan obstruction of justice. Tidak bisa disangkal lagi kalau ini kesengajaan. Tapi masalahnya sekarang, siapa pelakunya? Pihak polisi juga masih bingung. Hingga hampir setahun, belum jelas tangan siapa yang menyiramkan air keras pada Novel hingga hampir buta. Bisa jadi, pelaku tidak jauh-jauh dari mereka yang main belakang dan terendus radar KPK.

Kedatangan Novel ke tanah air secara semiotik banyak membawa makna: beliau ialah perlambang nyata usaha menghilangkan kebenaran. Sekaligus, beliau juga menunjukkan bahwa harapan untuk menegakkan kebenaran tidak mampu untuk dipadamkan. Dua sisi yang saling bertolakan dalam diri Novel  Baswedan.

Sekarang, sehari sejak kedatangan Novel, siaran berita televisi dan halaman surat kabar mengangkat kisahnya dalam pemberitaan. Utamanya adalah ucapan terimakasih Novel pada para penyambutnya—kawan seperjuangan di KPK dan para relawan, meski tak sampai berjuta orang, serta ajakan agar kasusnya digunakan sebagai dorongan sesama penyidik agar tetap bekerja maksimal dalam menumpas korupsi. Tak ketinggalan, desakan agar Jokowi membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) juga disampaikan oleh Wakil Ketua WP KPK, Harun Al-Rasyid dalam momen itu. Tujuannya agar kasus Novel tidak dibiarkan berlarut-larut bahkan sampai terulang kembali.

Penulis bersikap pesimis dalam kasus ini: sebenarnya percuma saja menangkap pelakunya. Mereka pastilah penjahat bayaran, yang dibayar berpuluh juta untuk sekedar menyiram Novel. Penjahat sesungguhnya adalah mereka yang tidak menghilang, malah mungkin saja sekarang sedang  tersenyum diantara kerumunan orang-orang berdasi sambil meringis melihat usul pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta. Hihi.

*Penulis adalah mahasiswi Universitas Airlangga. Berkonsentrasi pada banyak isu sosial, terutama keperempuanan dan gender.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks