Hanya Novel yang Jadi Pulang 0 449

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Bisa kita rasakan bersama bahwa ada perbedaan yang sangat kentara pada atmosfer penyambutan kedatangan dua tokoh ini. Seminggu kemarin, santer terdengar isu kepulangan Habib Rizieq dari Arab Saudi. Bahkan sebelum ia sendiri keluar omongan akan pulang, pendukungnya sudah kepalang rindu ingin Sang Habib segera wangsul.

Netijen pun ramai membicarakan Rizieq, mulai dari menyinggung soal skandal chat mesumnya dengan Firza Husein yang “tenggelam” sejak kepergiannya, panggilan reuni akbar 212, dan masih banyak lagi hal nyeleneh yang beliau lakukan. Kesimpulannya, kepulangan Sang Habib (walau tidak jadi) sangat dinanti-nanti baik oleh pendukung dan pembencinya.

Di minggu yang sama, kabar pulang juga muncul dari Novel Baswedan. Tidak seperti Rizieq Novel akhirnya mendarat ke tanah air setelah hampir setahun harus berobat di Singapura. Tentu khalayak tidak lupa siapa sosok tersebut. Jika lupa—karena banyak yang suka lupa—mari kita sejenak mengingatnya kembali.

Kejadiannya pada April 2017 lalu. Sepulang shalat subuh di masjid dekat rumahnya, Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal pada area wajah. Nahas, kedua mata Novel terkena dampak paling parah, bahkan hampir dinyatakan buta. Sampai sekarang, mata kirinya belum sembuh total. April nanti, ia akan kembali bertolak ke Singapura untuk melakukan operasi besar tahap kedua. Insyaallah, beliau akan kembali sembuh.

Tentu bukan kebetulan bahwa Novel Baswedan disiram air keras. Kebetulan tidak mungkin seajaib itu. Masyarakat tidak polos lagi.  Jelas ada oknum yang menarget dirinya, mengingat beliau ialah penyidik KPK, musuh besar anggota DPR para koruptor. Intinya, Novel harus ‘dibuat’ berhenti menyidik karena akan sangat membahayakan.

Kalau kata Mahfud MD pada Freiderich Yunadi, pengacara kita yang kece itu, ini adalah tindakan obstruction of justice. Tidak bisa disangkal lagi kalau ini kesengajaan. Tapi masalahnya sekarang, siapa pelakunya? Pihak polisi juga masih bingung. Hingga hampir setahun, belum jelas tangan siapa yang menyiramkan air keras pada Novel hingga hampir buta. Bisa jadi, pelaku tidak jauh-jauh dari mereka yang main belakang dan terendus radar KPK.

Kedatangan Novel ke tanah air secara semiotik banyak membawa makna: beliau ialah perlambang nyata usaha menghilangkan kebenaran. Sekaligus, beliau juga menunjukkan bahwa harapan untuk menegakkan kebenaran tidak mampu untuk dipadamkan. Dua sisi yang saling bertolakan dalam diri Novel  Baswedan.

Sekarang, sehari sejak kedatangan Novel, siaran berita televisi dan halaman surat kabar mengangkat kisahnya dalam pemberitaan. Utamanya adalah ucapan terimakasih Novel pada para penyambutnya—kawan seperjuangan di KPK dan para relawan, meski tak sampai berjuta orang, serta ajakan agar kasusnya digunakan sebagai dorongan sesama penyidik agar tetap bekerja maksimal dalam menumpas korupsi. Tak ketinggalan, desakan agar Jokowi membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) juga disampaikan oleh Wakil Ketua WP KPK, Harun Al-Rasyid dalam momen itu. Tujuannya agar kasus Novel tidak dibiarkan berlarut-larut bahkan sampai terulang kembali.

Penulis bersikap pesimis dalam kasus ini: sebenarnya percuma saja menangkap pelakunya. Mereka pastilah penjahat bayaran, yang dibayar berpuluh juta untuk sekedar menyiram Novel. Penjahat sesungguhnya adalah mereka yang tidak menghilang, malah mungkin saja sekarang sedang  tersenyum diantara kerumunan orang-orang berdasi sambil meringis melihat usul pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta. Hihi.

*Penulis adalah mahasiswi Universitas Airlangga. Berkonsentrasi pada banyak isu sosial, terutama keperempuanan dan gender.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 124

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Editor Picks