Jangan Nonton ‘Dilan’, Berat! 2 1076

Jangan nonton Dilan! Berat. Biar aku saja!

Kalimat ini diletakkan di awal tulisan dengan kesengajaan dan kecentilan luar biasa. Namun, penulis pun tahu kalau kalimat ini sama sekali tidak mengurungkan niatan warga sekalian untuk berbondong-bondong menyerbu tiket nonton Dilan walau harus duduk di baris kedua dari depan. Kalimat tersebut barang tentu kalah telak dari kesaktian pesona Iqbaal Ramadhan didampingi Vanesha Prescilla yang menghiasi layar lebar seantero bioskop Indonesia saat ini.

Walau larangan sudah disematkan pada hulu tulisan ini, sudah tentu percuma sama sekali. Persis seperti kalimat peringatan pada bungkus rokok, gak mempan.

Pada suatu kesempatan, penulis memberanikan diri menguji ketahanan mulut agar tidak misuh-misuh menemui Dilan dalam bentuk visual. Selama ini, sosok – yang sudah pasti FIKSI – ini hanya bisa digilai remaja tanah air dalam bentuk tulisan kalimat-kalimat sakti Pidi Baiq belaka.

Setelah menonton, penulis kemudian menyimpulkan: tiada kejutan di film Dilan 1990. Semoga ulasan ini tidak menyebabkan fans Dilan menyerbu penulis.

Yang pertama, karakter dan alur cerita yang sangat mudah ditebak. Tiada pengembangan, apalagi plot twist sejauh 110 menit mata memandang. Cerita akan bermula dari Milea dewasa yang melakukan flashback, terlempar jauh ke tahun 1990  saat pertama kali bertemu Dilan. Segala kutipan-kutipan nun gombal Dilan seperti di novel lengkap sudah.

Karakter Rani, Wati, Nandan, Piyan, Anhar, Ibu, Ayah, Bunda, beserta jajarannya hadir full team. Barangkali, Fajar Bustomi juga takut masuk dalam lingkaran cyber-bullying kalau-kalau satu bagian saja menodai alur rangkaian yang sudah susah payah dibangun Pidi Baiq sebagai novelist dengan karya best seller.

Akibatnya, penonton jadi tahu persis setiap jahitan adegan, apa yang mesti terjadi dari satu scene ke scene lain. Jika adegan masih berhenti di Kang Adi, berarti filmnya masih lama, dan pantat saya makin gatal untuk segera beranjak dari bangku penonton.

Hal ini menjadi makin berbahaya bagi sebuah pembuatan karya film dalam sejarah. Penulis memprediksi terjadi peningkatan jumlah penonton yang nyinyir, sok tahu, dan spoiler akut di dalam bioskop. Mengingat jumlah pembaca novel Dilan yang hafal tiap adegan dalam tiap lembarnya sudah setara jumlah kerugian negara kasus korupsi e-ktp. Kalau jumlah penonton yang suka meninggalkan sampah sembarangan seusai pemutaran jangan ditanya, pancet wakeh.

Kedua, bahwa film Dilan 1990 akan memiliki sekuel selanjutnya yaitu Dilan 1991 tentu tidak mengejutkan bagi penulis. Sama seperti Marvell yang tiada henti berproduksi, pasar remaja imut-imut Indonesia yang sudah terlanjut gandrung dan bahkan memimpikan seorang Dilan ada di kehidupan nyata jadi sasaran empuk. Selama Pidi Baiq yang digandeng Max Pictures masih waras, membuat sekuel lanjutan adalah keputusan maha tepat dan SANGAT WAJAR.

By the way, sesungguhnya Dilan 1990 yang kalian banggakan bersama tidak seburuk itu. Bukannya tak ada kejutan sama sekali. Dalam beberapa bagian, toh film ini mampu membuat penonton dalam bioskop berseru-seru gemas sama personil CJR itu.

Pertama, performa Iqbaal sebagai Dilan hadir menggemaskan. Sudah cukup membuat para remaja putri yang belum sama sekali ranum tersipu-sipu malu. Perannya ketika menjadi panglima tempur geng motor cukup berhasil merepresentasikan gesture dan ekspresi bad boy.

Walaupun sesungguhnya Iqbaal masih terlalu rapi untuk merepresentasikan Dilan yang seharusnya lebih lusuh dan lebih urak’an, kita harus mengapresiasi usahanya untuk keluar dari zona nyaman, dari anak manis yang suka belajar berperan jadi anak nakal dan suka tawuran. Tapi, siapa ya yang mengasumsikan bahwa Iqbaal adalah anak baik-baik yang sangat jauh dari karakter Dilan yang diperankannya? Apakah media kita? Apakah kalimat pembawa acara infotaiment kita? Entahlah. Oh ya, agar netizen tidak marah, gambaran ini hanya katanya penulis kok. Pembaca berhak tidak setuju dan memberi balasan pada tulisan selanjutnya, hehe.

Kedua, penulis juga cukup kecewa nih dengan perawakan Warung Bi Eem yang nampak sekelas dengan Warung Oen di Malang yang menjajakan es krim harga super mahal. Tebak-tebak berhadiah, Bi Eem tidak jual es teh tapi ice tea, tidak sedia kopi hitam tapi luwak white coffee (eh maaf kok sebut merk).

Mungkin untuk mengurangi resiko terjadi tawuran sungguhan, dan resiko para aktor yang jijik menginjakkan kaki di tempat kumuh, didesainlah Warung Bi Eem yang terlalu mewah ini. Untuk ukuran tempat nongkrong berandalan yang sering dijadikan tempat merokok dan berjudi, munculnya bangunan mapan yang melatari adegan Dilan seperi ini tentu mengejutkan.

Ketiga, kehadiran Ridwan Kamil. Ini barangkali sebagai konsensus paling menguntungkan baginya setelah membantu menutup jalanan Bandung yang super padat untuk kepentingan syuting. Kemunculan ini tentu demi memenuhi amanah rakyat agar Kang Emil tetap jadi sosok kepala daerah ganteng nan gaul favorit kita semua. Plus, untuk menambah popularitasnya dalam survei-survei Pilkada.

Keempat, sebagian dari penonton yang kebetulan satu studio dengan penulis kemarin adalah para mamud (baca: mama muda). Selain jadi serbuan remaja-remaja berseragam biru putih, para ibu-ibu sosialita tiada mau ketinggalan ketenaran Dilan. Apapun motivasinya, para mama muda ini berpesan pada sekalian warga Indonesia, jangan pertontonkan Dilan pada anak di bawah umur. “Nanti dewasa sebelum waktunya,” begitu ujar seorang ibu muda dengan fashion OOTD di toilet bioskop sebuah mall beken di Surabaya (pesan ini bisa dituliskan karena penulis habis nguping obrolan mereka).

Kejutan keempat adalah bahwa saya pun jadi manusia yang bersedia menghabiskan waktu dan materi untuk ikut jadi saksi film selera rakyat ini. Tapi pengalaman ini menjadi berarti sebab alasan mengapa Dilan tidak sesuai dengan usia dan pola pikir saya terjawab sudah.

Oya, film ini juga semakin memberi konfirmasi kepada kita bahwa sebentar lagi, drama cinta monyet di bangku sekolah yang diperbuat anak dan keponakan Anda akan semakin menjamur akibat didukung secara moril oleh Dilan 1990.

Jangan baca tulisan ini! Berat, banyak spoilernya. Biar Pidi Baiq saja yang baca!

Oh maaf, peringatannya kok baru di akhir tulisan ya, hehe.

(Oh iya, ada lagi yang terlewat, wajah Milea yang campuran orang Bandung dan Sumatera Barat kok sepertinya malah hadir keindo-indoan ya? Atau ini hanya perasaan penulis? Ya udah deh, penulis sepertinya salah lihat. Jadi tidak usah dibahas ya, hehe)

 

Previous ArticleNext Article

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 171

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Omelan-omelan Baru Berkat ‘Aquaman’ 0 163

Kemarin akhirnya penulis menaati sihir-sihir netizen untuk segera menonton film terbaik sepanjang sejarah DC Comics, Aquaman. Nyatanya, dalam 143 menit kita disajikan paduan gambar serba apik garapan Warner Bross Pictures di tangan sutradara yang tepat, James Wan. Petualangan bersama manusia amfibi nan gondrong ini tidak langsung dihadirkan lewat adegan berantem pake ototnya, yang serba bikin hati mbak-mbak gemes dagdigdug gak karuan. Bahkan jauh sebelum itu, cerita dimulai dari Arthur Curry, si tokoh utama, dalam tahapan belum sama sekali terencana di benak kedua orang tuanya.

Kali ini, penulis tidak punya cukup amunisi untuk ngomeli film ini. Pertama, karena penulis takut dihajar fans berat DC Extended Universe. Kedua, karena nyatanya film ini menghibur banget, walaupun mudah dilupakan sepulang keluar dari pintu Exit gedung bioskop lantaran formulasi film hero yang ya-gitu-itu (loh kok sidone ngomel?).

Penulis cukup memberikan satu alasan besar mengapa kamu harus nonton film ini. Tidak lain tidak bukan, adalah supaya cukup menampar kamu dengan kebiasaan yang acuh tak acuh dengan kondisi bumi dan lingkungan. Hehe.

Alkisah Arthur Curry adalah putra sulung Atlanna, Ratu Atlantis, hasil dari perkawinan silang dengan manusia biasa akibat kabur dari perjodohan. Tapi pada akhirnya laut tetap menjemput dan pernikahan yang semestinya tetap terjadi. Lahirlah putra kedua, Orm, yang pada masa mendatang berambisi menjadi penguasa lautan, menyatukan berbagai kerajaan untuk melawan manusia daratan. Alasannya satu, karena bangsa manusia yang terus-terusan mencemari laut. Hmm kon. Ya opo gak kesindir awakmu?

Untuk menyegarkan ingatan kita bersama, Indonesia sebagai negara mayoritas lautan digadang-gadang sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Bahkan Indonesia sudah dapat berbagai macam sempritan kecaman dari mana-mana.

Sebuah penelitian oleh Indonesia, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada menunjukkan 26 bagian per 100 meter persegi terumbu karang Indonesia tercemar limbah plastik. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sampah plastik yang dihasilkan rakjat mencapai 24.500 ton per hari.Sampeyan semua tahu kan, kalau sampah plastik butuh lebih dari 20 tahun untuk akhirnya benar-benar terurai? 79% dari jumlah itu hanya berakhir di TPA. 80% ikan terkontaminasi sekitar 8-9 biji kecil-kecil plastik. Plastik-plastik itu kemudian turut memercepat kematian penyu sebesar 50%.

Pertanyaannya, kok bisa sampai separah ini kondisi persampahan di laut Indonesia?

Jawabnya sederhana, karena konsumsi produk berkemasan plastik, terutama dari food and beverage–karena orang kita suka makan kali ya–yang terlalu buanyak di daratan ini. Kedua, karena ya begonya kita aja suka buang sampah di kali, pantai, atau laut.

Segala usaha sebenarnya sudah dilakukan pemerintah kita. Pernah ingat kan di awal 2016 ketika keramahan mbak-mbak minimarket berubah menjengkelkan dengan pertanyaan plus-plus ‘Pakai kantong kresek bayar 200 rupiah ya kak?’, selain ‘Nambah pulsanya sekalian?’ atau ‘Kuenya lagi promo beli dua gratis satu’. Peraturan dari KLHK itu bertahan tidak lebih lama dari hubunganmu dengan arek’e, sekitar tiga bulan saja. Pun sama tragisnya dengan pelajaran lingkungan hidup di sekolah, yang membuat sekolah rela beli tiga macam tong sampah supaya siswanya belajar memilah sampah. Ketika sampai di TPA, ya semua nyampur jadi satu.

Sampai akhirnya, muncullah solusi baru, yaitu peniadaan sedotan plastik di berbagai resto fast food. Peluang ini dilihat betul dengan menghadirkan mahakarya stainless steel straw, yang penggunaannya kerap kali dipamerkan arek-arek di story Instagram mereka biar kelihatan kayak aktivis lingkungan. Sedotan logam yang harganya bervariasi mulai dari belasan hingga puluhan ribu rupiah itu katanya tidak mengandung BisphenoIA (BPA) yang biasa terkandung di sedotan plastik, sehingga mengurangi resiko kegagalan reproduksi, diabetes, dan serangan jantung.

Selain menawarkan kesehatan dan reuseable-ness, sedotan logam ini akhirnya mulai mewabah, menjelma jadi tren kekinian. Jika pembaca adalah penggemar berat sedotan ini lantaran cinta pada Fishermen, Trench, Brine, dan kawan-kawannya, penulis hargai betul. Yang patut dicurigai adalah yang punya motif-motif lain. Misalnya, karena rasa terpaksa akibat setarbak dan mekdi mengeluarkan produk gelas langsung cucup. Ya sudah kan, akhirnya berpasrah lagi kita pada produk-produk kapitalis ini.Penulis juga makin curiga, film Aquaman ini pada akhirnya bisa dimanfaatkan untuk soft selling buat stainless straw, meningkatkan awareness dan menyasar conviction konsumen. Sayangnya, kita terjebak dengan perasaan seakan-akan telah turut berpartisipasi dalam kampanye ‘say no to plastic’ di balik gelas-gelas teh cantik dan kopi manja dengan paduan elemen stainless straw dan sedikit effort untuk menjadikannya Instagramable. Ya, penulis berdoa semoga tidak.

Anyway, film Aquaman ini menurut hemat penulis setidaknya turut melanggengkan plot favorit perfilman yang kudu banget pakai formula konflik cinta terlarang. Film ini turut menghidupkan imajinasi jombloers di luar sana, berharap bujang lapuk yang kesepian di tepian ombak tiba-tiba dapet rejeki wanita cantik yang terdampar. Doa baik penulis untukmu, semoga scene serupa terjadi atas kita semua, dan tidak ada lagi diksi ‘cinta terlarang’, baik di dunia manusia darat maupun perairan, hiks.

Editor Picks