Jangan Nonton ‘Dilan’, Berat! 3 1512

Jangan nonton Dilan! Berat. Biar aku saja!

Kalimat ini diletakkan di awal tulisan dengan kesengajaan dan kecentilan luar biasa. Namun, penulis pun tahu kalau kalimat ini sama sekali tidak mengurungkan niatan warga sekalian untuk berbondong-bondong menyerbu tiket nonton Dilan walau harus duduk di baris kedua dari depan. Kalimat tersebut barang tentu kalah telak dari kesaktian pesona Iqbaal Ramadhan didampingi Vanesha Prescilla yang menghiasi layar lebar seantero bioskop Indonesia saat ini.

Walau larangan sudah disematkan pada hulu tulisan ini, sudah tentu percuma sama sekali. Persis seperti kalimat peringatan pada bungkus rokok, gak mempan.

Pada suatu kesempatan, penulis memberanikan diri menguji ketahanan mulut agar tidak misuh-misuh menemui Dilan dalam bentuk visual. Selama ini, sosok – yang sudah pasti FIKSI – ini hanya bisa digilai remaja tanah air dalam bentuk tulisan kalimat-kalimat sakti Pidi Baiq belaka.

Setelah menonton, penulis kemudian menyimpulkan: tiada kejutan di film Dilan 1990. Semoga ulasan ini tidak menyebabkan fans Dilan menyerbu penulis.

Yang pertama, karakter dan alur cerita yang sangat mudah ditebak. Tiada pengembangan, apalagi plot twist sejauh 110 menit mata memandang. Cerita akan bermula dari Milea dewasa yang melakukan flashback, terlempar jauh ke tahun 1990  saat pertama kali bertemu Dilan. Segala kutipan-kutipan nun gombal Dilan seperti di novel lengkap sudah.

Karakter Rani, Wati, Nandan, Piyan, Anhar, Ibu, Ayah, Bunda, beserta jajarannya hadir full team. Barangkali, Fajar Bustomi juga takut masuk dalam lingkaran cyber-bullying kalau-kalau satu bagian saja menodai alur rangkaian yang sudah susah payah dibangun Pidi Baiq sebagai novelist dengan karya best seller.

Akibatnya, penonton jadi tahu persis setiap jahitan adegan, apa yang mesti terjadi dari satu scene ke scene lain. Jika adegan masih berhenti di Kang Adi, berarti filmnya masih lama, dan pantat saya makin gatal untuk segera beranjak dari bangku penonton.

Hal ini menjadi makin berbahaya bagi sebuah pembuatan karya film dalam sejarah. Penulis memprediksi terjadi peningkatan jumlah penonton yang nyinyir, sok tahu, dan spoiler akut di dalam bioskop. Mengingat jumlah pembaca novel Dilan yang hafal tiap adegan dalam tiap lembarnya sudah setara jumlah kerugian negara kasus korupsi e-ktp. Kalau jumlah penonton yang suka meninggalkan sampah sembarangan seusai pemutaran jangan ditanya, pancet wakeh.

Kedua, bahwa film Dilan 1990 akan memiliki sekuel selanjutnya yaitu Dilan 1991 tentu tidak mengejutkan bagi penulis. Sama seperti Marvell yang tiada henti berproduksi, pasar remaja imut-imut Indonesia yang sudah terlanjut gandrung dan bahkan memimpikan seorang Dilan ada di kehidupan nyata jadi sasaran empuk. Selama Pidi Baiq yang digandeng Max Pictures masih waras, membuat sekuel lanjutan adalah keputusan maha tepat dan SANGAT WAJAR.

By the way, sesungguhnya Dilan 1990 yang kalian banggakan bersama tidak seburuk itu. Bukannya tak ada kejutan sama sekali. Dalam beberapa bagian, toh film ini mampu membuat penonton dalam bioskop berseru-seru gemas sama personil CJR itu.

Pertama, performa Iqbaal sebagai Dilan hadir menggemaskan. Sudah cukup membuat para remaja putri yang belum sama sekali ranum tersipu-sipu malu. Perannya ketika menjadi panglima tempur geng motor cukup berhasil merepresentasikan gesture dan ekspresi bad boy.

Walaupun sesungguhnya Iqbaal masih terlalu rapi untuk merepresentasikan Dilan yang seharusnya lebih lusuh dan lebih urak’an, kita harus mengapresiasi usahanya untuk keluar dari zona nyaman, dari anak manis yang suka belajar berperan jadi anak nakal dan suka tawuran. Tapi, siapa ya yang mengasumsikan bahwa Iqbaal adalah anak baik-baik yang sangat jauh dari karakter Dilan yang diperankannya? Apakah media kita? Apakah kalimat pembawa acara infotaiment kita? Entahlah. Oh ya, agar netizen tidak marah, gambaran ini hanya katanya penulis kok. Pembaca berhak tidak setuju dan memberi balasan pada tulisan selanjutnya, hehe.

Kedua, penulis juga cukup kecewa nih dengan perawakan Warung Bi Eem yang nampak sekelas dengan Warung Oen di Malang yang menjajakan es krim harga super mahal. Tebak-tebak berhadiah, Bi Eem tidak jual es teh tapi ice tea, tidak sedia kopi hitam tapi luwak white coffee (eh maaf kok sebut merk).

Mungkin untuk mengurangi resiko terjadi tawuran sungguhan, dan resiko para aktor yang jijik menginjakkan kaki di tempat kumuh, didesainlah Warung Bi Eem yang terlalu mewah ini. Untuk ukuran tempat nongkrong berandalan yang sering dijadikan tempat merokok dan berjudi, munculnya bangunan mapan yang melatari adegan Dilan seperi ini tentu mengejutkan.

Ketiga, kehadiran Ridwan Kamil. Ini barangkali sebagai konsensus paling menguntungkan baginya setelah membantu menutup jalanan Bandung yang super padat untuk kepentingan syuting. Kemunculan ini tentu demi memenuhi amanah rakyat agar Kang Emil tetap jadi sosok kepala daerah ganteng nan gaul favorit kita semua. Plus, untuk menambah popularitasnya dalam survei-survei Pilkada.

Keempat, sebagian dari penonton yang kebetulan satu studio dengan penulis kemarin adalah para mamud (baca: mama muda). Selain jadi serbuan remaja-remaja berseragam biru putih, para ibu-ibu sosialita tiada mau ketinggalan ketenaran Dilan. Apapun motivasinya, para mama muda ini berpesan pada sekalian warga Indonesia, jangan pertontonkan Dilan pada anak di bawah umur. “Nanti dewasa sebelum waktunya,” begitu ujar seorang ibu muda dengan fashion OOTD di toilet bioskop sebuah mall beken di Surabaya (pesan ini bisa dituliskan karena penulis habis nguping obrolan mereka).

Kejutan keempat adalah bahwa saya pun jadi manusia yang bersedia menghabiskan waktu dan materi untuk ikut jadi saksi film selera rakyat ini. Tapi pengalaman ini menjadi berarti sebab alasan mengapa Dilan tidak sesuai dengan usia dan pola pikir saya terjawab sudah.

Oya, film ini juga semakin memberi konfirmasi kepada kita bahwa sebentar lagi, drama cinta monyet di bangku sekolah yang diperbuat anak dan keponakan Anda akan semakin menjamur akibat didukung secara moril oleh Dilan 1990.

Jangan baca tulisan ini! Berat, banyak spoilernya. Biar Pidi Baiq saja yang baca!

Oh maaf, peringatannya kok baru di akhir tulisan ya, hehe.

(Oh iya, ada lagi yang terlewat, wajah Milea yang campuran orang Bandung dan Sumatera Barat kok sepertinya malah hadir keindo-indoan ya? Atau ini hanya perasaan penulis? Ya udah deh, penulis sepertinya salah lihat. Jadi tidak usah dibahas ya, hehe)

 

Previous ArticleNext Article

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Seharusnya Kita Sikapi RKUHP 1 268

 

Saya tahu, masih banyak yang dirundung duka atas wafatnya KPK (lihat tulisan sebelumnya: ‘Polemik Hubungan Asmara KPK‘). Tapi, karena hidup ini terus berjalan, mari kita move on… menuju kesedihan berikutnya!

Perlu diingat, 24 September besok, rencananya petinggi senayan akan membawa RKUHP ke rapat paripurna. Satu set produk hukum bawaan kolonial itu akan diperbarui.

Yang perlu menjadi poin keprihatinan bukanlah karena banyaknya pasal bermasalah. Namun ada yang jauh lebih penting: riuh redamnya media kita atas perdebatan pro-kontra pengesahan RKUHP ini.

Dari sisi pemerintah yang mengajukan undang-undang, tiada pernah ada penjelasan gamblang yang mudah diakses oleh masyarakat. Mengapa pasal ini dan itu ditambahkan, dipaksa ada, dikurangi, dan atau dihilangkan. Mengapa begitu genting dan terburu-buru sekali revisi di masa akhir jabatan DPR periode ini. Minim sekali layar untuk menjelaskan ini.

Sementara itu, koalisi masyarakat yang mengkritik keras aksi DPR ini, berusaha mencari celah untuk bicara. Mulai dari long march dan orasi besar-besaran yang mengundang peliputan di depan gedung DPR, sampai yang kecil-kecilan di CFD ibukota.

Pun, kelompok ini mencoba menyuarakan pendapatnya secara lebih luas. Satu-satunya akses yang mudah dan cepat adalah media sosial. Ketika media massa punya limit dan filter ketat untuk menyeleksi pendapat mana yang bisa masuk.

Fungsi edukasi hukum pada masyarakat, justru diambil oleh kelompok-kelompok kecil ini. Kita tidak pernah tahu apa itu RKUHP dan beberapa jumlah pengubahan pasalnya, kalau jurnalis dan netijen tidak koar-koar di media online. Hal ini tentu berimplikasi baik dalam meningkatkan kesadaran publik tentang isu RKUHP.

Tapi di sisi lain, penjelasan tentang pasal-pasal yang dianggap bermasalah itu tidak menyeluruh. Siapapun yang punya akun dan pengikut di media sosial mengungkap pendapatnya, disukai dan dibagikan. Begitu seterusnya, sehingga tidak tahu harus percaya yang mana, karena kredibilitas dan tingkat akurasi yang semu di dunia digital ini. Duh Gusti, aku ngelu.

Pasal-pasal yang dianggap bermasalah, dibahas sebagian dengan cara masing-masing orang. Semua berlomba-lomba membenarkan pendapatnya di media sosial. Sebagian digital content creator mungkin berhasil secara jeli mengupas dari segi ilmu hukum dan implikasinya bagi masyarakat. Tapi sekali lagi, sudahkah pendapat netijen itu juga didasari riset literatur dan wawasan atas histori keputusan hukum di Indonesia?

Suara mereka mengatakan, sejumlah pasal akan mengkriminalisasi perzinaan, pornografi, LGBT, gelandangan, hingga penyebaran ajaran marxisme-komunisme. Mereka menyebut pasal-pasal RKUHP akan menghalangi kebebasan berpendapat dan merampas privasi bangsa. Lebih-lebih, mereka mengklaim RKUHP adalah bentuk kemunduran dan bahkan matinya demokrasi.

Opini telah tergiring ke satu sudut pandang. Kita dibuat bersedih hati karena percaya RKUHP yang disahkan akan membuat satu Indonesia runtuh. Kita diminta percaya oleh media sosial hari ini, bahwa RKUHP gak ada bagus-bagusnya. Benarkah?

Penulis yakin, seburuk-buruknya DPR, paling tidak mereka sekolah tinggi dan sadar hukum, mahir analisa dan berpolitik. Tentu RKUHP hadir bukan tanpa alasan. Entah karena demi kebaikan dan penyesuaian hukum dengan perubahan zaman. Atau hanya sekadar politik lobi-lobian dan semata para penguasa yang lagi hajatan.

Pokoknya, penulis ‘percaya’ RKUHP bukan proyek iseng dan tiba-tiba muncul lah. Pasti ada pasal-pasal yang menunjukkan kemajuan demokrasi negeri ini! Eh, ya gak sih? Kuamini saja, deh. Karena Tuhan bersabda: “Berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya”. Hehe.

Rakyat bagian demonstrasi ini berteriak menuduh DPR punya kepentingan untuk mempermudah koruptor, baik di RKUHP maupun UU Permasyarakatan yang baru disahkan (walau kenyataannya jelas ae iyo lah). Tapi, bukankah kelompok yang menolak ini juga punya kepentingan?

Secara alamiah, kebebasan yang dibatasi itu tentu membuat tidak nyaman. Waktu sekolah dulu, kita tentu gelisah karena harus berseragam rapi, lengkap dengan dasi dan sabuk.

Barangkali, mereka yang menolak adalah yang merasa tidak bisa lagi ena-ena dengan bebas, tidak bisa bikin meme-meme lucu tentang presiden, tidak bisa lagi asik nongkrong baca Daskapital di warung kopi sambil bersabda “agama itu candu, mending jadi agnostik”.

Kita tiba-tiba membandingkan hukuman bagi koruptor yang diberi pembebasan bersyarat, sementara pemilik dan penyebar pornografi dihukum 10 tahun. Menurut kita, ini tidak adil.

Sujiwo Tejo pernah bersua “tiap ada pejabat korup yang di-OTT, tiba-tiba kita mencibir dan merasa paling suci, hanya karena bentuk dosa yang kita lakukan berbeda dari mereka”. Kira-kira demikian kita-kita ini. Sok memaki DPR sebagai tukang bohong, padahal hingga dini hari mereka masih berjuang arisan di ruang rapat. Sementara itu, kita lupa kalau kegiatan memaki, juga tidak kalah berdosanya.

Yang jelas, masyarakat kita ini pelupa. Seperti lupa kalau dulu batu akik pernah berjaya, demikian pula akan alpa bahwa DPR di hari-hari akhirnya dengan sangat sakti mengesahkan sejumlah undang-undang yang katanya bakal merobohkan Indonesia. Ketika ibukota nanti sudah di Kalimantan, masyarakat bakal lupa kalau pernah mengolok Jokowi atas ide gilanya.

Mungkin besok-besok, masyarakat kita akan banyak-banyak bersyukur, bahwa kebijakan hari-hari terakhir ini pernah dibuat.

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 345

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Editor Picks