Masih Tabu Juga, Itu yang Namanya Politik? 0 1292

Dewasa ini – meski sempat berpikir untuk tidak mengawali tulisan dengan dua kata fenomenal tersebut – masih banyak kok orang yang memandang politik secara kekanak-kanakan. Misalnya, politik dianggap sebagai koridor yang cuma berorientasi pada ekonomi (sebenarnya ini juga kekanak-kanakan). Oleh karenanya, kekuasaan yang dihasilkan melalui politik, dibutuhkan untuk menyamarkan niat buruk tersebut.

Celakanya, gelagat para politisi yang berniat buruk ini selalu mudah terendus. Selain karena ada “orang dalam” yang sengaja membeberkan niat buruk koleganya – biasanya begini: Si Melati mau mencalonkan diri sebagai Presiden, di dalamnya terdapat Mawar dan Kaktus yang berperan sebagai Tim Sukses, biasanya begini (sengaja diulang supaya memperkuat gambaran pembaca), Si Mawar dan Si kaktus akan bersaing merebut perhatian si Melati dengan harapan salah satu dari mereka dinilai sebagai yang terbaik, hingga kelak, saat dilakukannya kegiatan timbal balik  apabila Si Melati terpilih, dia yang terbaik itulah yang akan mendapatkan posisi terbaik dalam perbirokrasian – terlebih rasa sensitif masyarakat kita juga mudah sekali tersentuh. Rapuh.

Bayangkan saja, sewaktu seorang tokoh politik cerai dengan pasangannya, ternyata di luar sana ada orang-orang yang menangis karena mendengar kabar buruk ini, seolah-olah hanya itu yang dapat mereka lakukan untuk bersimpati pada tokoh idolanya tersebut. Ada. Sungguh ada. Makanya, generasi milenial diharapkan bisa memiliki akal sehat supaya tetap menjaga diri, agar tidak terjerumus secara lacur pada hal-hal yang mempunyai cita-cita merugikan rakjat. Apalagi dengan membuat tipuan drama yang bagai ingin menampilkan betapa nestapanya keadaan aktor kita(?) sekarang.

Tapi kok, ya, generasi milenial ini sering disalah-salahkan, padahal justru tindakan semacam meremehkan itu yang membuat kami, generasi milenial ini, semakin apatis. Serupa senior yang memarahi juniornya saat sedang menggelar acara di kampus, tapi acaranya kacau, lalu mengakibatkan mereka bermusuhan dan menyebabkan keapatisan berkelanjutan pada segala aktivitas kampus. Eh, Si Senior komen pula, “ternyata, nyali kalian tidak seberapa dibandingken kami dulu.” Yaudah, sekalian aja bilang, “buat event itu berat, biar aku saja.” (ternyata seniornya beneran Dilan).

Terus ada juga, mahasiswa, pas lagi ngobrol di kampus, bilang begini: agak males saya kalau terlibat di dalam politik, ngeri. Lha, emang politik itu rumah hantu? Atau sejenis lumpur yang bila dikunjungi akan membuat kita dekil? Bukan begitu yang diharapkan politik kita. Kalau kata Prof. Ramlan, politik itu dihadirkan untuk rakjat guna mencapai kemaslahatan bersama. Pengertian rakjat dalam tataran ideal lho, ya, bukan rakjat yang jadi rakjat hanya ketika momentum kampanye. Bukan. Bukan. Bukan. Bukan. 33x.

Kenapa generasi milenial yang sering di-kambing hitam-kan ini sangat diharapkan peranannya untuk mengubah sejarah politik yang bentukannya sudah terlanjur kotor di hadapan masyarakat itu? Karena, generasi kita ini adalah generasi yang kaya.

Jadi Begini, buku sudah banyak di mana-mana, informasi apapun sudah bisa diakses dengan cara yang paling mudah, kalau mau berpendapat ndak perlu ngirim ke koran lantas harus ditolak berulang-ulang, kan bisa langsung update status di media sosial, terus kasi colek itu pejabat yang dikritik, atau paling tidak kalau mau agak elit, kirim ke kalikata. Insyaallah, sedikit banyak keberanian akan memberi kontribusi terhadap perubahan yang lebih sejahtera-makmur baik.

Kenapa tidak menyertakan generasi yang tua-tua itu? Sejujurnya, tidak banyak dari mereka yang mengetahui tentang perkembangan teknologi komunikasi, apalagi bisa menggunakannya dengan baik. Nah, akibatnya, mereka mengalami kesulitan dalam memperbaharui pengetahuan atas berbagai informasi mutakhir.

Paling-paling segelintir dari mereka yang mengetahui cara mengakses informasi menggunakan teknologi komunikasi, mentok-mentok, buat grup WA yang fungsinya untuk menyebarkan informasi warisan dengan sumber tidak jelas. Niatnya menyebarkan juga ndak jelas. Isinya juga ndak jelas. Grupnya juga ndak jelas: grup yang berisi kumpulan orang tua sedang sibuk menyalahkan generasi milenial. Coba sesekali evaluasi diri, berhenti dulu beri kami cercaan, yang kami butuhkan adalah motivasi: bagaimana caranya mengubah negara ini menjadi lebih….(lanjutkan sendiri).

Btw, saya tidak sedang kampanye mewakili partai yang memelihara generasi milenial lho. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. 33x.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 475

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Menangisi Gagalnya Nobar di Bioskop 0 286

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia, sudah fix menunda pembukaan bioskop yang seharusnya terjadwal 29 Juli ini, sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu saja niatnya baik: demi memutus mata rantai penularan COVID-19, yang makin hari angkanya makin naik gak karu-karuan.

Di kolom ini tentu saja kita tidak perlu membahas efektivitas kebijakan menahan pembukaan sejumlah tempat hiburan malam dan bioskop, namun membiarkan tempat wisata lain (yang lebih banyak digunakan untuk pesepeda dadakan) tetap beroperasi.

Yang jelas, sebagian dari kita tentu mengeluh dalam hati. Rasanya bak diberi harapan tapi diputus tiba-tiba. Setelah lebih dari seribu bioskop di 52 kota di Indonesia tutup sejak 26 Maret 2020, mengurung jiwa-jiwa hedon kita. Berbulan-bulan loh gak nonton bioskop! Rasanya mau mati, kalau katanya influencer review makanan. Se-introvert-introvert-nya saya (maaf ngaku-ngaku), saya pun sama dengan kalian: rindu nonton bioskop.

Saya paham betul anyep-nya ketawa sendirian sepanjang nonton film genre komedi, dan sepinya menangis sendiri saat nonton adegan yang mengharukan. Saya sadar betul betapa gak mbois-nya nonton film di layar kecil HP, atau paling banter di layar laptop 14 inci. Saya juga gak bisa merasakan sensasi spiker D*lby all around you, apalagi layar Imax yang segede lapangan futsal itu.

Kita tentu rindu rasa-rasa ketika baru masuk gedung bioskop, mendengar teriakan mas-mas penjual popcorn supaya kita tertarik beli dagangannya, berasa artis yang disoraki fans. Kita tentu kangen sekali perjuangan mencari promo tiket melalui platform daring. Kita mungkin rindu rasa balap-balapan pre-order booking kursi untuk penayangan premiere film kesayangan yang sudah kita tunggu-tunggu serialnya.

Sudah lama juga ya rasanya gak makan popcorn, yang gara-gara saking asyiknya sampai habis duluan sebelum filmnya mulai. Sampai lupa rasanya pamer foto tiket nobar bioskop film yang sedang hype di Instagram Story—yang kalau teman-teman kita kebetulan sudah nonton duluan, kita wajib ancam mereka dengan segenap kekuatan jiwa-raga supaya mereka tidak spoiler.

Tentu jadi kerinduan bersama pula buat pegangan tangan dengan kekasih sepanjang film berlangsung—apalagi kalau filmnya horor (wes ngakuo ae, aku yo eruh modusmu!)—untuk saling menyalurkan rasa hangat tubuh, meminimalisir begitu br*ngs*knya dinginnya AC gedung teater. Hal sesederhana tertawa bersama penonton lain di adegan-adegan konyol, atau berteriak bersama ketika ada jumpscare, semua itu bikin kangen.

Kita semua memang bersedih dan tak kunjung kelar mengeluh dengan tertundanya pembukaan bioskop ini. Mengutuki dalam hati: koronah gatheeeel! Walau sebenarnya sudah ada Netflix yang sudah dibuka blokirnya oleh Indihome, atau aplikasi lain (dan website streaming ilegal yang belum diblokir pemerintah) yang bisa diakses, menambal kerinduan-kerinduan kita akan nobar di bioskop.

Tapi mungkin gara-gara kita sibuk berduka, kita sampai lupa ada yang nasibnya lebih terkatung-katung.

Ketua Umum Asosisasi Produser Film Indonesia menyebut, ada sekitar 15 proyek film yang gagal produksi tahun ini. Hal ini tentu berdampak pula bagi para sutradara dan kisah produksi mereka. Mulai dari Joko Anwar sampai Livi Zheng, semua gigit jari.

Para aktor dan aktris, walau setenar Reza Rahadian dan Tara Basro sekalipun, di masa begini, pupus sudah seluruh jadwal syuting yang telah tersusun rapi sepanjang tahun 2020. Jangan lupa keseluruhan kru film, yang dalam sekali pembuatan film, bisa ada 80-100 orang bahkan lebih. Bisa jadi, side job supir G*jek sempat melintas di benak mereka (atau bahkan ada yang sudah merealisasikannya) demi menyambung hidup.

“Loh kan filmnya bisa tayang secara onlen”. Mulut gampang bicara. Tapi bagaimana menggaji kru film dan biaya produksi yang bermiliar-miliar hanya dengan online streaming? Bagaimana caranya menutup kekurangan biaya 80-90 persen yang selama ini didapatnya dari bioskop?

Juga mereka, para reviewer atau kritikus film, tak lagi punya bahan untuk dikomentari. Tak lagi mereka mengirim tulisan untuk media, di mana juga berarti hilangnya sebagian besar penghasilan (dan passion) mereka.

Mbak-mbak penyobek tiket nontonmu, mereka yang membersihkan sampah bekas popcorn yang kamu tinggalkan begitu saja di kursi, tukang pel kamar mandi eks-eks-wan, mereka semua juga ingin kembali ke bioskop. Mereka yang harus dirumahkan, kena pengurangan gaji, atau bahkan PHK, semua sama kangennya dengan bioskop seperti kita, gaes!

Tapi, berbeda dengan kamu semua yang rindu mencari hiburan di tengah kebosanan, mereka ingin kembali ke bioskop karena rindu kembali bekerja.

Kata Kakak Anji: “Corona gak semengerikan itu kok”. Mungkin benar bagi sebagian orang, tapi tidak bagi mereka, para pejuang seni garda terdepan dan pekerja kreatif, yang sama sekali kehilangan pekerjaannya gara-gara Corona.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks