Masih Tabu Juga, Itu yang Namanya Politik? 0 1488

Dewasa ini – meski sempat berpikir untuk tidak mengawali tulisan dengan dua kata fenomenal tersebut – masih banyak kok orang yang memandang politik secara kekanak-kanakan. Misalnya, politik dianggap sebagai koridor yang cuma berorientasi pada ekonomi (sebenarnya ini juga kekanak-kanakan). Oleh karenanya, kekuasaan yang dihasilkan melalui politik, dibutuhkan untuk menyamarkan niat buruk tersebut.

Celakanya, gelagat para politisi yang berniat buruk ini selalu mudah terendus. Selain karena ada “orang dalam” yang sengaja membeberkan niat buruk koleganya – biasanya begini: Si Melati mau mencalonkan diri sebagai Presiden, di dalamnya terdapat Mawar dan Kaktus yang berperan sebagai Tim Sukses, biasanya begini (sengaja diulang supaya memperkuat gambaran pembaca), Si Mawar dan Si kaktus akan bersaing merebut perhatian si Melati dengan harapan salah satu dari mereka dinilai sebagai yang terbaik, hingga kelak, saat dilakukannya kegiatan timbal balik  apabila Si Melati terpilih, dia yang terbaik itulah yang akan mendapatkan posisi terbaik dalam perbirokrasian – terlebih rasa sensitif masyarakat kita juga mudah sekali tersentuh. Rapuh.

Bayangkan saja, sewaktu seorang tokoh politik cerai dengan pasangannya, ternyata di luar sana ada orang-orang yang menangis karena mendengar kabar buruk ini, seolah-olah hanya itu yang dapat mereka lakukan untuk bersimpati pada tokoh idolanya tersebut. Ada. Sungguh ada. Makanya, generasi milenial diharapkan bisa memiliki akal sehat supaya tetap menjaga diri, agar tidak terjerumus secara lacur pada hal-hal yang mempunyai cita-cita merugikan rakjat. Apalagi dengan membuat tipuan drama yang bagai ingin menampilkan betapa nestapanya keadaan aktor kita(?) sekarang.

Tapi kok, ya, generasi milenial ini sering disalah-salahkan, padahal justru tindakan semacam meremehkan itu yang membuat kami, generasi milenial ini, semakin apatis. Serupa senior yang memarahi juniornya saat sedang menggelar acara di kampus, tapi acaranya kacau, lalu mengakibatkan mereka bermusuhan dan menyebabkan keapatisan berkelanjutan pada segala aktivitas kampus. Eh, Si Senior komen pula, “ternyata, nyali kalian tidak seberapa dibandingken kami dulu.” Yaudah, sekalian aja bilang, “buat event itu berat, biar aku saja.” (ternyata seniornya beneran Dilan).

Terus ada juga, mahasiswa, pas lagi ngobrol di kampus, bilang begini: agak males saya kalau terlibat di dalam politik, ngeri. Lha, emang politik itu rumah hantu? Atau sejenis lumpur yang bila dikunjungi akan membuat kita dekil? Bukan begitu yang diharapkan politik kita. Kalau kata Prof. Ramlan, politik itu dihadirkan untuk rakjat guna mencapai kemaslahatan bersama. Pengertian rakjat dalam tataran ideal lho, ya, bukan rakjat yang jadi rakjat hanya ketika momentum kampanye. Bukan. Bukan. Bukan. Bukan. 33x.

Kenapa generasi milenial yang sering di-kambing hitam-kan ini sangat diharapkan peranannya untuk mengubah sejarah politik yang bentukannya sudah terlanjur kotor di hadapan masyarakat itu? Karena, generasi kita ini adalah generasi yang kaya.

Jadi Begini, buku sudah banyak di mana-mana, informasi apapun sudah bisa diakses dengan cara yang paling mudah, kalau mau berpendapat ndak perlu ngirim ke koran lantas harus ditolak berulang-ulang, kan bisa langsung update status di media sosial, terus kasi colek itu pejabat yang dikritik, atau paling tidak kalau mau agak elit, kirim ke kalikata. Insyaallah, sedikit banyak keberanian akan memberi kontribusi terhadap perubahan yang lebih sejahtera-makmur baik.

Kenapa tidak menyertakan generasi yang tua-tua itu? Sejujurnya, tidak banyak dari mereka yang mengetahui tentang perkembangan teknologi komunikasi, apalagi bisa menggunakannya dengan baik. Nah, akibatnya, mereka mengalami kesulitan dalam memperbaharui pengetahuan atas berbagai informasi mutakhir.

Paling-paling segelintir dari mereka yang mengetahui cara mengakses informasi menggunakan teknologi komunikasi, mentok-mentok, buat grup WA yang fungsinya untuk menyebarkan informasi warisan dengan sumber tidak jelas. Niatnya menyebarkan juga ndak jelas. Isinya juga ndak jelas. Grupnya juga ndak jelas: grup yang berisi kumpulan orang tua sedang sibuk menyalahkan generasi milenial. Coba sesekali evaluasi diri, berhenti dulu beri kami cercaan, yang kami butuhkan adalah motivasi: bagaimana caranya mengubah negara ini menjadi lebih….(lanjutkan sendiri).

Btw, saya tidak sedang kampanye mewakili partai yang memelihara generasi milenial lho. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. 33x.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 153

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 290

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks