Masih Tabu Juga, Itu yang Namanya Politik? 0 1726

Dewasa ini – meski sempat berpikir untuk tidak mengawali tulisan dengan dua kata fenomenal tersebut – masih banyak kok orang yang memandang politik secara kekanak-kanakan. Misalnya, politik dianggap sebagai koridor yang cuma berorientasi pada ekonomi (sebenarnya ini juga kekanak-kanakan). Oleh karenanya, kekuasaan yang dihasilkan melalui politik, dibutuhkan untuk menyamarkan niat buruk tersebut.

Celakanya, gelagat para politisi yang berniat buruk ini selalu mudah terendus. Selain karena ada “orang dalam” yang sengaja membeberkan niat buruk koleganya – biasanya begini: Si Melati mau mencalonkan diri sebagai Presiden, di dalamnya terdapat Mawar dan Kaktus yang berperan sebagai Tim Sukses, biasanya begini (sengaja diulang supaya memperkuat gambaran pembaca), Si Mawar dan Si kaktus akan bersaing merebut perhatian si Melati dengan harapan salah satu dari mereka dinilai sebagai yang terbaik, hingga kelak, saat dilakukannya kegiatan timbal balik  apabila Si Melati terpilih, dia yang terbaik itulah yang akan mendapatkan posisi terbaik dalam perbirokrasian – terlebih rasa sensitif masyarakat kita juga mudah sekali tersentuh. Rapuh.

Bayangkan saja, sewaktu seorang tokoh politik cerai dengan pasangannya, ternyata di luar sana ada orang-orang yang menangis karena mendengar kabar buruk ini, seolah-olah hanya itu yang dapat mereka lakukan untuk bersimpati pada tokoh idolanya tersebut. Ada. Sungguh ada. Makanya, generasi milenial diharapkan bisa memiliki akal sehat supaya tetap menjaga diri, agar tidak terjerumus secara lacur pada hal-hal yang mempunyai cita-cita merugikan rakjat. Apalagi dengan membuat tipuan drama yang bagai ingin menampilkan betapa nestapanya keadaan aktor kita(?) sekarang.

Tapi kok, ya, generasi milenial ini sering disalah-salahkan, padahal justru tindakan semacam meremehkan itu yang membuat kami, generasi milenial ini, semakin apatis. Serupa senior yang memarahi juniornya saat sedang menggelar acara di kampus, tapi acaranya kacau, lalu mengakibatkan mereka bermusuhan dan menyebabkan keapatisan berkelanjutan pada segala aktivitas kampus. Eh, Si Senior komen pula, “ternyata, nyali kalian tidak seberapa dibandingken kami dulu.” Yaudah, sekalian aja bilang, “buat event itu berat, biar aku saja.” (ternyata seniornya beneran Dilan).

Terus ada juga, mahasiswa, pas lagi ngobrol di kampus, bilang begini: agak males saya kalau terlibat di dalam politik, ngeri. Lha, emang politik itu rumah hantu? Atau sejenis lumpur yang bila dikunjungi akan membuat kita dekil? Bukan begitu yang diharapkan politik kita. Kalau kata Prof. Ramlan, politik itu dihadirkan untuk rakjat guna mencapai kemaslahatan bersama. Pengertian rakjat dalam tataran ideal lho, ya, bukan rakjat yang jadi rakjat hanya ketika momentum kampanye. Bukan. Bukan. Bukan. Bukan. 33x.

Kenapa generasi milenial yang sering di-kambing hitam-kan ini sangat diharapkan peranannya untuk mengubah sejarah politik yang bentukannya sudah terlanjur kotor di hadapan masyarakat itu? Karena, generasi kita ini adalah generasi yang kaya.

Jadi Begini, buku sudah banyak di mana-mana, informasi apapun sudah bisa diakses dengan cara yang paling mudah, kalau mau berpendapat ndak perlu ngirim ke koran lantas harus ditolak berulang-ulang, kan bisa langsung update status di media sosial, terus kasi colek itu pejabat yang dikritik, atau paling tidak kalau mau agak elit, kirim ke kalikata. Insyaallah, sedikit banyak keberanian akan memberi kontribusi terhadap perubahan yang lebih sejahtera-makmur baik.

Kenapa tidak menyertakan generasi yang tua-tua itu? Sejujurnya, tidak banyak dari mereka yang mengetahui tentang perkembangan teknologi komunikasi, apalagi bisa menggunakannya dengan baik. Nah, akibatnya, mereka mengalami kesulitan dalam memperbaharui pengetahuan atas berbagai informasi mutakhir.

Paling-paling segelintir dari mereka yang mengetahui cara mengakses informasi menggunakan teknologi komunikasi, mentok-mentok, buat grup WA yang fungsinya untuk menyebarkan informasi warisan dengan sumber tidak jelas. Niatnya menyebarkan juga ndak jelas. Isinya juga ndak jelas. Grupnya juga ndak jelas: grup yang berisi kumpulan orang tua sedang sibuk menyalahkan generasi milenial. Coba sesekali evaluasi diri, berhenti dulu beri kami cercaan, yang kami butuhkan adalah motivasi: bagaimana caranya mengubah negara ini menjadi lebih….(lanjutkan sendiri).

Btw, saya tidak sedang kampanye mewakili partai yang memelihara generasi milenial lho. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. 33x.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 249

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Panduan Killing Time 12 Tahun untuk yang Terkasih, Pak Juliari 0 252

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Majelis hakim Pengadilan Tipikor sudah ketok palu vonis terhadap mantan Mensos Juliari Peter Batubara 12 tahun penjara dan denda 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Juliari terbukti sah menerima suap 10 ribu rupiah per bansos alias 32,4 M kalo dikumpulin.

Kami gak mau membuli seperti yang mahabenar tuan dan nyonya netijen. Kami tahu, betapa tersiksa batin Pak Juliari yang kami kasihi. Kalo katanya arek-arek saiki: sudah kena mental.

Apalagi, Bapak sempat memohon belas kasih buat meringankan hukuman, karena tak bisa membayangkan akan meninggalkan anak istri di rumah. Sungguh sebuah teladan family man bagi kaum penerus bangsa. Poin ini lebih membuat kami tak tega menambah-nambahi beban Bapak dengan sumpah serapah (karena porsi itu sudah diamalkan netijen dengan sebaik-baiknya).

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami justru ingin memberi sejumlah saran: panduan mengisi waktu selama nanti di kurungan. Tujuannya tentu agar Bapak tidak cepat bosan.

Panduan ini kami rasa manjur buat Bapak. Karena, sebagian besarnya sudah kami lakukan selama 1,5 tahun ke belakang, yang harus banyak-banyak di rumah karena terdampak pandemi (dan terdampak dapet bansos kualitas jelek gara-gara anggarannya dipotong).

Ini yang pertama, Pak. Bapak tentu ingat kopi dalgona yang sempat tenar itu. Sudah lama sekali tren membuatnya ditinggalkan dengan begitu cepat. Ada baiknya tren ini dihidupkan kembali.

Ikuti panduannya ya, Pak! Campurkan kopi hitam sachet pahitnya kehidupan dengan air panasnya neraka bagi koruptor. Kemudian aduk terus menerus dengan rasa ego sampai berbusa dan meluapkan keserakahan. Terakhir, letakkan buih kopi itu di atas segelas susu Bear Brand yang masih aja 15 ribu sampe sekarang. Selamat menikmati!

Cara ini cukup mudah Pak. Kami rasa, meminta kopi dan susu ke sipir penjara bukan suatu hal yang neko-neko kok. Pasti dikabulkan. Wong minta kamar VIP aja (udah pasti) dilayani kan, hehehehe.

Kedua, era pandemi ini eranya webinar, Pak. Hidup ini gak afdol kalo belum ikut webinar, minimal sekali seminggu. Tentu posisi Bapak bukan sebagai peserta yang cuma nunut “izin nyimak”. Pak Juliari mah pantesnya narasumber utama, keynote speaker.

Tema yang cocok tentu: “Say No to Korupsi!”. Masyarakat di Indonesia kita tercinta ini Pak, lebih percaya testimoni daripada hasil riset, soalnya mereka males baca. Kita lebih suka motivasi dari mereka yang telah berpengalaman dan sukses, ya seperti Bapak ini.

Materinya sederhana, Pak. Boleh dilengkapi power point yang eye-catching biar keliatan berkredibel. Inti pembicaraannya cuma ini: “Sumpah gais, dipenjara itu gak enak. Plis jangan korupsi! Ini gak di-endorse ya. Real testi”

Sasaran peserta buat webinar ini luas banget, Pak. Mulai dari pejabat rt-rw, sampai lingkaran pertama kayak jabatan terdahulu Bapak. Materinya bakal relateable. Dan semoga mampu menyadarkan mereka biar kapok korupsi. Yah, meskipun kalimat terakhir ini kayaknya utopis hehe.

Ketiga, coba deh, Pak, mulai nonton drama korea. Atau kalau langkah itu masih terlalu ekstrem buat Bapak, minimal nonton video klip boyband dan girlband korea. Saya jamin sih nagih, pengen lagi, pengen terus.

Bapak juga harus ingat, sebagian dari netijen kita ini penggemar apa-apa yang berbau Korea, Pak. Apapun yang trending nomer 1 di Twitter sudah pasti adalah hasil cuitan akun berfoto idol Kpop yang substansinya gak nyambung sama sekali sama topik yang lagi dibicarakan. Itu sudah pertanda seberapa menguasainya populasi mereka di alam dunia maya.

Artinya, ini bisa jadi langkah strategis Bapak untuk menguasai mereka. Mulai dengan menyukai apa yang mereka sukai, dekati, rayu, dan jadi akrab sama mereka. Bila perlu, kita bisa bikin ruang diskusi di Clubhouse yang bahas soal drakor terbaru, Pak.

Hukuman Bapak cuma empat tahun untuk tidak dipilih dalam jabatan publik. Empat tahun itu cuma kurang dari 1 periode presiden, Pak. Bentar itu, mah. Selanjutnya, netijen Korean wave yang sudah mencintai Bapak, tetap bisa menghantarkan Bapak ke kursi tertinggi di dunya ini.

Yah kalo impian ini sulit terwujud, setidaknya Bapak nanti tinggal ganti nama jadi JPB, bikin Youtube, dan bismillah komisaris BUMN.

Demikian panduan ini dibuat dengan sepenuh hati Pak. Kami percaya Bapak pasti bisa melalui cobaan ini semua dengan kepala tegak dan kebanggaan di dada. Kalo kami aja bisa melakukan hal-hal ini selama setahun di rumah aja, Bapak juga pasti bisa, tinggal dikaliin 12.

Editor Picks