Tiga Cara Menyambut Habibana Rizieq

Setelah dicari seperti Bang Thoyib yang tak jelas rimbanya, Rizieq Shihab Habibana kita semua, akhirnya dikabarkan segera pulang. Beberapa waktu lalu beredar foto Rizieq berpamitan, yang ditengarai masih berada di Jeddah, Arab Saudi.

Tentu pembaca terharu dengan ini semua bukan?

Kita sudah memendam kangen dan rindu yang ditahan mati-matian agar tak meledak, pada sang Habibana. Yaa, kita kangen segalanya darinya: mulai celetukan dan komennya yang unyu-unyu nyerempet kontroversial, sampai  kisah pengembaraannya mencari dirinya sendiri nun jauh di sana.

Banyak memang yang menanti beliau—para pengikutnya yang milyaran itu, analis politik, Firza, Fadli Zon, Polisi, hingga para jurnalis—yang haus atas riwayat perjalanan di negeri Unta dan manuver dakwah apa lagi yang akan dikeluarkan oleh Habibana.

Bayangkan saja, dibenci dan disumpahserapahi bagaimanapun juga, Rzieq adalah manusia pertama yang dituding mendalangi demonstrasi paling massif dalam sejarah Indonesia pasca Orde Baru tumbang. Ia menggalang gerakan 212 demi memprotes pernyataan Ahok, dengan jumlah massa yang tak ada bandingannya dengan demonstrasi mana pun.

Maka dengan derajat VVIP yang tersemat dalam diri Habibana, akan ada tiga skenario cara penyambutannya di tanah air:

  1. Puja-puji heroik. Masih ingat ribuan orang menggotong jasad the smiling bomber Bali, Amrozi, ke pemakamannya di Lamongan beberapa tahun lalu? Betapapun orang benci atas aksi bom Amrozi, tetapi selalu ada orang-orang lain dengan perspektif unik—kadang-kadang mlengse—dan kapasitas otak yang berbeda yang memutuskan untuk mendukung sehabis-habisnya. Begitupun dengan Habibana: para pengikutnya sudah bersiap dengan tabligh akbar yang menjanjikan ratusan ribu hadirin untuk menyambut Habibana—sebuah pagelaran luar biasa bin istimewa.
  2. Demam nyinyir di media sosial. Begitulah, selalu saja ada cabe-cabean netijen yang nyinyir pada Habibana. Mereka bocah kemarin sore! Tak tahu betapa susah payahnya junjungan besar kita ini berpuasa dan berjuang demi amar makruf nahi munkar, yaaa, meski hotel surgawi Alexis tak pernah beliau tertibkan, tapi tak mengapa. Twitter—tempat dimana bocah-bocah sok ngerti politik itu tinggal—akan segera menjadi tempat sampah paling besar yang mencibir Habibana. Begitu juga di facebook dan tempat lain, yang sudah barang tentu mengejek Habibana dan sudah pasti pula auto-kafir.
  3. Dijemput polisi. Hiks. Ini skenario paling buruk, pembaca sekalian. Kita yang amat rindu Habibana ini ternyata masih kalah derajat dibanding rindunya pak pulisi pada idola kita. Alih-alih jumpa fans dalam tabligh akbar, Rizieq bisa jadi disergap begitu saja selepas turun dari pesawat. Kita tak ingin itu terjadi bukan?

Kalau antum yang baca ini masih percaya keajaiban mukjizat Tuhan, plis beri doa paling tulus untuk Habibana. Bukan saja karena kita rindu kehadirannya, tetapi karena Indonesia perlu juga eksistensi orang semacam ini untuk memberi pembelajaran politik . Bahwa agama bisa lho diolah secara kreatif untuk menggalang massa politik. Bahwa rupanya orang bisa terhipnotis oleh orasi bergelora asal mengandung rumus agama. Bahwa intoleransi di tubuh Indonesia ini masih berkerumuk dan dipelihara.

Bukankah, Tuhan sekalipun bersabda, bahwa segala yang ada di dunia dicipta untuk berpasangan dan berparadoks, termasuk yang suci dan sok suci?

Hehehehehe.