Tiga Cara Menyambut Habibana Rizieq 0 334

Setelah dicari seperti Bang Thoyib yang tak jelas rimbanya, Rizieq Shihab Habibana kita semua, akhirnya dikabarkan segera pulang. Beberapa waktu lalu beredar foto Rizieq berpamitan, yang ditengarai masih berada di Jeddah, Arab Saudi.

Tentu pembaca terharu dengan ini semua bukan?

Kita sudah memendam kangen dan rindu yang ditahan mati-matian agar tak meledak, pada sang Habibana. Yaa, kita kangen segalanya darinya: mulai celetukan dan komennya yang unyu-unyu nyerempet kontroversial, sampai  kisah pengembaraannya mencari dirinya sendiri nun jauh di sana.

Banyak memang yang menanti beliau—para pengikutnya yang milyaran itu, analis politik, Firza, Fadli Zon, Polisi, hingga para jurnalis—yang haus atas riwayat perjalanan di negeri Unta dan manuver dakwah apa lagi yang akan dikeluarkan oleh Habibana.

Bayangkan saja, dibenci dan disumpahserapahi bagaimanapun juga, Rzieq adalah manusia pertama yang dituding mendalangi demonstrasi paling massif dalam sejarah Indonesia pasca Orde Baru tumbang. Ia menggalang gerakan 212 demi memprotes pernyataan Ahok, dengan jumlah massa yang tak ada bandingannya dengan demonstrasi mana pun.

Maka dengan derajat VVIP yang tersemat dalam diri Habibana, akan ada tiga skenario cara penyambutannya di tanah air:

  1. Puja-puji heroik. Masih ingat ribuan orang menggotong jasad the smiling bomber Bali, Amrozi, ke pemakamannya di Lamongan beberapa tahun lalu? Betapapun orang benci atas aksi bom Amrozi, tetapi selalu ada orang-orang lain dengan perspektif unik—kadang-kadang mlengse—dan kapasitas otak yang berbeda yang memutuskan untuk mendukung sehabis-habisnya. Begitupun dengan Habibana: para pengikutnya sudah bersiap dengan tabligh akbar yang menjanjikan ratusan ribu hadirin untuk menyambut Habibana—sebuah pagelaran luar biasa bin istimewa.
  2. Demam nyinyir di media sosial. Begitulah, selalu saja ada cabe-cabean netijen yang nyinyir pada Habibana. Mereka bocah kemarin sore! Tak tahu betapa susah payahnya junjungan besar kita ini berpuasa dan berjuang demi amar makruf nahi munkar, yaaa, meski hotel surgawi Alexis tak pernah beliau tertibkan, tapi tak mengapa. Twitter—tempat dimana bocah-bocah sok ngerti politik itu tinggal—akan segera menjadi tempat sampah paling besar yang mencibir Habibana. Begitu juga di facebook dan tempat lain, yang sudah barang tentu mengejek Habibana dan sudah pasti pula auto-kafir.
  3. Dijemput polisi. Hiks. Ini skenario paling buruk, pembaca sekalian. Kita yang amat rindu Habibana ini ternyata masih kalah derajat dibanding rindunya pak pulisi pada idola kita. Alih-alih jumpa fans dalam tabligh akbar, Rizieq bisa jadi disergap begitu saja selepas turun dari pesawat. Kita tak ingin itu terjadi bukan?

Kalau antum yang baca ini masih percaya keajaiban mukjizat Tuhan, plis beri doa paling tulus untuk Habibana. Bukan saja karena kita rindu kehadirannya, tetapi karena Indonesia perlu juga eksistensi orang semacam ini untuk memberi pembelajaran politik . Bahwa agama bisa lho diolah secara kreatif untuk menggalang massa politik. Bahwa rupanya orang bisa terhipnotis oleh orasi bergelora asal mengandung rumus agama. Bahwa intoleransi di tubuh Indonesia ini masih berkerumuk dan dipelihara.

Bukankah, Tuhan sekalipun bersabda, bahwa segala yang ada di dunia dicipta untuk berpasangan dan berparadoks, termasuk yang suci dan sok suci?

Hehehehehe.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 343

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 274

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks