Aku Fans Igun, Koen Kate Lapo? 0 636

Sebagai salah satu selebriti dengan sinar bintang paling terang sekaligus konsisten, Ivan Gunawan terus menggempur televisi emak-emak dan digilai banyak fans. Maestro kosmetik dan fashion dan MC dan komedi dan film yang serba bisa ini hadir lewat beragam program, mulai Brownis, Obrowlan Manis (ini acara top markotop yang tayang sampai dua kali—pagi dan petang, mirip Liputan 6) hingga audisi Kilau DMD Show di MNCTV, mengomentari pendatang baru di musik dangdut dengan kecerewetannya yang sedikit kemayu tapi kritis bangets itu.

Apa boleh buat, saya harus berbagi dengan jutaan pemirsa sebagai fans kak Igun, harus berbagi dengan emak sendiri, yang bisa mendadak arogan di depan televisi sambil memeluk remote. Sebagai artis dengan banyak talenta, sudah jelas Igun dapat merangkap peran dalam satu acara. Situasi ini menguntungkannya karena secara tidak langsung Igun selalu tampak dominan: pandai mengomentari, pedas mengkritik make up peserta audisi, pintar berpura-pura tolol ketika melawak.

Maka sangat bisa dipahami jika suatu ketika, di akun pribadi instagramnya, kak Igun yang agak lelah dan lesu membalasi komentar-komentar followers, agak sewot ketika ditanya mengapa ia suka melempar gimmick ketika tampil di TV. Jawabannya menggemparkan: “Nggapapa fans kayak loe kan gampang dibegoin…jadi seru liatnya… hahaha…”.

Bajilak, bajinguk, bajigur! Reaksi awal saya tentulah tercekat.

Saya sebagai fans Igun mengelus dada. Lha mosok hamba selama ini “dibegoin”, ketika pada saat yang sama hamba justru menaruh simpati pada legenda MC Indonesia kak Igun? Dimana hati nuranimu Gun? Apa ini gara-gara kamu patah hati Gun tersebab Ayu Ting-Ting yang tidak ting-ting itu?? Astaghfirullah….

Tapi toh kesal ada batasnya. Esok hari aku toh kembali normal kembali, terus menontonmu program-programmu Gun. Rating acaramu tinggi juga karena aku lho Gun.

Aku tetap suka gimmick-mu, tetap rindu menonton apapun yang kak Igun semburkan—dari pujian sampai hinaan. Menonton betapa televisi, seperti kata Neil Postman puluhan tahun lalu, bisa menyeret tawuran dan hinaan hadir seolah-olah di rumah kita. Virusmu sudah telanjur menjangkitiku Gun, sehingga aku hanya bisa berada dalam posisi “apa boleh buat”.

Tak ada gunanya juga mendengarkan nyinyir orang lain yang sok aktipis itu. Mereka menyarankan agar tayanganmu dilarang. Bahkan lebih radikal lagi menghimbau untuk tak lagi menonton. Woei, beraninya prejenganmu melarang ane nonton di tipi digitech ane yang tercinta (minggu lalu IC soak tersambar petir saja dengan rela hati hamba masukkan doi ke rumah sakit khusus tipi!).

Ketika hidup begitu sulit, kerja begitu beringas, dan tuntutan sehari-hari makin brutal, televisi adalah hiburan murah. Kak Igun dengan seluruh amunisinya, mengepung kita yang miskin hiburan. Dari sudut pandang ini, kak Igun hanyalah menjalankan fungsinya sebagai penghibur kita-kita yang melarat dan papa, yang mau mampir ke emol aja musti mikir dulu. Yang tak pernah dengar Stradivarius itu dinosaurus apa, atau salah paham bahwa Executive adalah jenis tiket kereta api eksklusif yang buka di emol dan kebetulan juga menjual pakaian mahal.

Ahh,  asu tenan. Pokoke mati urip Igun.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Parade Isu Seksi Jelang Peringatan G30S 0 146

Helloh gess, September telah tiba. Ini bulannya hura-hura tentang trauma. Pasti kamu sudah hapal: sebentar lagi kita akan menyimak debat seolah-olah tentang peristiwa 1965. Tapi sedihnya, tulisan ini bukan ke sana.

Kita akan mencoba merunut isu-isu apa yang hadir, coba dihadirkan, atau dipaksa dihadirkan, menjelang peringatan G30S. Isu-isu yang, yaaa, sesuai tradisi, akan memanas dan sering setiap tahunnya merepotkan rejim. Berikut isunya:

  • Perpindahan Ibukota
  • Livi Zheng
  • Djarum yang disetop audisinya oleh KPAI
  • Jokowi main sama putunya
  • Iuran BPJS naik
  • Esemka diresmikan

Apalagi gess?

Ohya, ini penting karena beberapa sebab. Pertama, mengamati isu-isu “tak penting” justru menjadi sangat penting hari ini untuk melihat bagaimana strategi kekuasaan memainkan lalu-lintas diskusi dan menginterupsi tiap isu. Kalau ente jeli, akan tampak bagaimana pengendalian atas persepsi kita dimainkan dan dikonsentrasikan pada hal-hal tertentu, agar hal-hal lain dapat diminimalkan dampaknya.

Tentu saja arahnya dapat ditebak: mendebat Livi Zheng jauh lebih aman ketimbang ente didatangi Kivlan Zen untuk membeberkan rencana kebangkitan PKI. Atau bicara memindah ibukota lebih asyik daripada memperdebatkan jumlah korban sebetulnya pada genosida 65 duluuu sekali.

Kedua, dari isu-isu tersebut, kesemuanya saksess menjadi tren perbincangan. Esemka, BPJS, dan Ibukota berkaitan langsung dengan agenda pemerintah. Perpindahan ibukota yang terparah, terlalu kentara digunakan sebagai “umpan peluru”, seolah-olah ide ini dilempar untuk dihabisi. BPJS dan Esemka sebelas dua belas, memancing sekaligus mengepung orang dengan kontroversi agar terus-menerus diperdebatkan.

Jadi, mari nanti kita tengok menjelang tumbangnya waktu dan mendekatnya tanggal 30, barang sampah apa saja yang akan dihamburkan oleh media kita.

Tapi toh dibawa santai saja! Kadang-kadang terlalu serius juga tak baik bagi kesehatan jiwa.

 

Annabelle Rukhiyat

Selain menekuni permakelaran tanah, penulis juga magang sebagai penjaga ponten.

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 189

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Editor Picks