Masih Ada Amerika di Wakanda 0 896

Tulisan ini adalah untuk mengulas bagaimana buah pikir penulis terhadap Wakanda land yang (baju kokonya) jadi gandrungan baru masyarakat dunia pecinta film. Tulisan ini sengaja dituliskan justru setelah euforia sudah berlalu, supaya ulasan ini tidak jadi spoiler bagi kawan-kawan pembaca nan budiman (alasan tok, ngomong wae gak mood nulis).

Kemunculan people colored dalam berbagai karakter film jebolan negeri Paman Sam akhir-akhir ini memberi kita harapan baru bahwa keterbukaan serta kesetaraan semakin nyata. Marvel yang seluruh pahlawannya berkulit putih, rambut pirang, hidung mancung, dan mata biru – atau gampangnya disebut orang Indonesia sebagai bule – kini berani menampilkan T’Challa alias Black Panther sebagai pahlawan asal Afrika.

Tentu usaha mengangkat harkat martabat dunia ketiga ke permukaan layar lebar ini mengundang sambutan baik dari umat manusia (mboh umat seng endi). Terutama dalam film dengan rate 7.8/10 IMDb dan menguasai Box Office Amerika Serikat ini, unsur Afrika dan figur orang kulit hitam dengan segala kebudayaannya sungguh terasa kental. Mulai dari seluruh aktornya – pun masih menyisakan satu lakon Amerika yang jadi pupuk bawang – latar tempat, pakaian, bahasa, musik, hingga font yang digunakan sepanjang film. Semuanya membawa kita seakan-akan percaya dibawa tenggelam dalam budaya asli benua yang dicap termiskin di dunia itu.

Sepintas, kita tentu memuji-muji Amerika atas keberaniannya mengekspos Afrika ke media, suatu tindakan yang selama ini mustahil. Kita dimanjakan dengan tayangan yang berbeda sama sekali, mengentaskan kita atas tuduhan film Amerika yang monoton. Kita puas dan tak mampu beranjak dari kursi penonton hingga dua trailer setelah credit title usai ditampilkan di bioskop – membuat mas-mas petugas bioskop menunggui kita dengan tatapan harap untuk segera angkat kaki. Tapi, who the hell is America sehingga kita pantas untuk memuja-muja atas sukses besarnya dalam Black Panther?

Michael O’Shaughnessy (1951) memberi penjelasan tentang ideologi dominan dan hegemoni dalam kaitannya dengan media. Ideologi sebagai nilai dan kepercayaan seperti dikutip dari Althusser (dengan pijakan pemikiran Mbah Marx tentu saja) diciptakan dan disebarluaskan oleh kelompok berkuasa dalam sebuah tatanan sosial. Ideologi ini kemudian diterima dan dipercaya oleh banyak orang, terutama kelompok yang dianggap sebagai kelas bawah. Ideologi ini bukan suatu standar ideal untuk kemaslahatan umat tentu saja. Ideologi dominan digelar untuk merawat kekuasaan ‘ruling class’.

Sementara Antonio Gramsci menjabarkan konsensus sebagai cara agar orang menyetujui suatu nilai, termasuk ideologi dominan. Inilah yang disebut hegemoni, sebuah proses negosiasi untuk mempertahankan kekuasaan. Hegemoni adalah suatu bentuk penjajahan baru, dengan memberikan kesempatan bagi warga seakan-akan mereka mendapat kebebasan. Memberi ‘hadiah’ kepada kelompok bawahan, dengan syarat kelompok dominan tetap berkuasa.

Saudara-saudara, sayangnya, peran penanaman ideologi dominan sebagai bentuk hegemoni diambil alih oleh kekuatan terbesar sepanjang sejarah: MEDIA. Media yang diawali dari peradaban kelas atas akan terus dan selamanya mendukung ideologi kaum dominan. Kaum dominan di sini bisa diartikan beraneka ragam seperti kultur orang kulit putih, kelas ekonomi menengah-atas, laki-laki, dan sebagainya.

Dalam tulisan ini, khususnya Amerika sebagai negara demokrasi terbesar di dunia – yang oonnya kita agungkan sebagai kiblat membangun negara demokrasi – adalah aktor utama penyebar ideologi dominan yang kini kita yakini bagai agama. Bahwa Amerika adalah negara besar, negara kuat, negara yang tak terkalahkan, sumber segala kehidupan.

Bagaimana bisa wacana ini merasuk dalam film Black Panther padahal ia justru menampilkan kaum terbelakang? Kawan, sayangnya, seperti disebutkan O’Shaughnessy, media justru memberi kesempatan bagi kaum kelas bawah untuk muncul dan dielu-elukan, memberikan kebebasan sebagian agar mereka muncul, tetapi “will never allow power to be completely taken away from them” (O’Shaughnessy 1951, 189).

Hal ini nampak dari penggambaran negeri Wakanda sebagai kerjaaan antah-berantah yang barbar, hidup tertutup, tidak pernah membangun diplomasi dengan dunia. Bahkan, secara kejam Amerika membuat posisi Afrika yang kaya sumber daya alam itu sebagai SERAKAH, hanya menyimpan kekuatan untuk kesejahteraan mereka sendiri: tidak mau vibranium disebarkan ke seluruh dunia.

Wakanda sebagai representasi Afrika kemudian disindir hanya ‘jago kandang’, nampak jelas dari sabda T’Challa “I am the King of Wakanda, not the King of every people” (maaf kalau quotenya salah ya). Mungkin, dalam hal ini Amerika juga tengah menyindir negara-negara lain yang dianggap ‘tidak mau berbagi rezeki’, melalui Afrika sebagai ‘kambing hitam’, hiks kasian bingits. Atau semata-mata hanya ‘gertakan sambel’nya Amerika untuk menutupi ketakutan berlebihan mereka akan negara-negara superpower lainnya.

Pun Wakanda di akhir cerita yang digambarkan membuka diri pada dunia, tergambar dengan adegan pidatonya di PBB – yang oh lagi-lagi produk Amerika dan bermarkas di Amerika. Itu pun, lagi-lagi Wakanda mengambil langkah diplomasi karena diberi stimulus serangan N’Jadaka a.k.a Killmonger, seakan-akan mereka tidak secara sadar dan memiliki kematangan berpikir tanpa gertakan. Maaf ya, sepertinya penulis dalam nyinyiran hari ini sedang sensi dengan Amerika, selain sama doi.

Sesungguhnya, masih banyak diskursus lain yang menarik untuk dibahas. Misal, Nakiya dan Okoye sebagai jenderal beserta anak buahnya yang butak-butak sebagai ksatria wanita tangguh. Biarlah para pejuang kesetaraan gender dan pencadu feminisme akut yang akan membahasnya.

Yang pasti, kawan-kawan masih akan dibujuki Marvel sepanjang tahun ini. Masih ada Infinity War, Ant Man, dan hegemoni-hegemoni lainnya yang siap sedia ditanamkan pada benak Anda sekalian. Masih ada 35 hingga 60 ribu duit ping sewu (ini harga tiket nonton normal di mall-mall beken Surabaya) dihamburkan demi melihat Amerika masih, akan, dan selamanya menguasai dunia. Hehe.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Omelan-omelan Baru Berkat ‘Aquaman’ 0 443

Kemarin akhirnya penulis menaati sihir-sihir netizen untuk segera menonton film terbaik sepanjang sejarah DC Comics, Aquaman. Nyatanya, dalam 143 menit kita disajikan paduan gambar serba apik garapan Warner Bross Pictures di tangan sutradara yang tepat, James Wan. Petualangan bersama manusia amfibi nan gondrong ini tidak langsung dihadirkan lewat adegan berantem pake ototnya, yang serba bikin hati mbak-mbak gemes dagdigdug gak karuan. Bahkan jauh sebelum itu, cerita dimulai dari Arthur Curry, si tokoh utama, dalam tahapan belum sama sekali terencana di benak kedua orang tuanya.

Kali ini, penulis tidak punya cukup amunisi untuk ngomeli film ini. Pertama, karena penulis takut dihajar fans berat DC Extended Universe. Kedua, karena nyatanya film ini menghibur banget, walaupun mudah dilupakan sepulang keluar dari pintu Exit gedung bioskop lantaran formulasi film hero yang ya-gitu-itu (loh kok sidone ngomel?).

Penulis cukup memberikan satu alasan besar mengapa kamu harus nonton film ini. Tidak lain tidak bukan, adalah supaya cukup menampar kamu dengan kebiasaan yang acuh tak acuh dengan kondisi bumi dan lingkungan. Hehe.

Alkisah Arthur Curry adalah putra sulung Atlanna, Ratu Atlantis, hasil dari perkawinan silang dengan manusia biasa akibat kabur dari perjodohan. Tapi pada akhirnya laut tetap menjemput dan pernikahan yang semestinya tetap terjadi. Lahirlah putra kedua, Orm, yang pada masa mendatang berambisi menjadi penguasa lautan, menyatukan berbagai kerajaan untuk melawan manusia daratan. Alasannya satu, karena bangsa manusia yang terus-terusan mencemari laut. Hmm kon. Ya opo gak kesindir awakmu?

Untuk menyegarkan ingatan kita bersama, Indonesia sebagai negara mayoritas lautan digadang-gadang sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Cina. Bahkan Indonesia sudah dapat berbagai macam sempritan kecaman dari mana-mana.

Sebuah penelitian oleh Indonesia, Amerika Serikat, Australia, dan Kanada menunjukkan 26 bagian per 100 meter persegi terumbu karang Indonesia tercemar limbah plastik. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sampah plastik yang dihasilkan rakjat mencapai 24.500 ton per hari.Sampeyan semua tahu kan, kalau sampah plastik butuh lebih dari 20 tahun untuk akhirnya benar-benar terurai? 79% dari jumlah itu hanya berakhir di TPA. 80% ikan terkontaminasi sekitar 8-9 biji kecil-kecil plastik. Plastik-plastik itu kemudian turut memercepat kematian penyu sebesar 50%.

Pertanyaannya, kok bisa sampai separah ini kondisi persampahan di laut Indonesia?

Jawabnya sederhana, karena konsumsi produk berkemasan plastik, terutama dari food and beverage–karena orang kita suka makan kali ya–yang terlalu buanyak di daratan ini. Kedua, karena ya begonya kita aja suka buang sampah di kali, pantai, atau laut.

Segala usaha sebenarnya sudah dilakukan pemerintah kita. Pernah ingat kan di awal 2016 ketika keramahan mbak-mbak minimarket berubah menjengkelkan dengan pertanyaan plus-plus ‘Pakai kantong kresek bayar 200 rupiah ya kak?’, selain ‘Nambah pulsanya sekalian?’ atau ‘Kuenya lagi promo beli dua gratis satu’. Peraturan dari KLHK itu bertahan tidak lebih lama dari hubunganmu dengan arek’e, sekitar tiga bulan saja. Pun sama tragisnya dengan pelajaran lingkungan hidup di sekolah, yang membuat sekolah rela beli tiga macam tong sampah supaya siswanya belajar memilah sampah. Ketika sampai di TPA, ya semua nyampur jadi satu.

Sampai akhirnya, muncullah solusi baru, yaitu peniadaan sedotan plastik di berbagai resto fast food. Peluang ini dilihat betul dengan menghadirkan mahakarya stainless steel straw, yang penggunaannya kerap kali dipamerkan arek-arek di story Instagram mereka biar kelihatan kayak aktivis lingkungan. Sedotan logam yang harganya bervariasi mulai dari belasan hingga puluhan ribu rupiah itu katanya tidak mengandung BisphenoIA (BPA) yang biasa terkandung di sedotan plastik, sehingga mengurangi resiko kegagalan reproduksi, diabetes, dan serangan jantung.

Selain menawarkan kesehatan dan reuseable-ness, sedotan logam ini akhirnya mulai mewabah, menjelma jadi tren kekinian. Jika pembaca adalah penggemar berat sedotan ini lantaran cinta pada Fishermen, Trench, Brine, dan kawan-kawannya, penulis hargai betul. Yang patut dicurigai adalah yang punya motif-motif lain. Misalnya, karena rasa terpaksa akibat setarbak dan mekdi mengeluarkan produk gelas langsung cucup. Ya sudah kan, akhirnya berpasrah lagi kita pada produk-produk kapitalis ini.Penulis juga makin curiga, film Aquaman ini pada akhirnya bisa dimanfaatkan untuk soft selling buat stainless straw, meningkatkan awareness dan menyasar conviction konsumen. Sayangnya, kita terjebak dengan perasaan seakan-akan telah turut berpartisipasi dalam kampanye ‘say no to plastic’ di balik gelas-gelas teh cantik dan kopi manja dengan paduan elemen stainless straw dan sedikit effort untuk menjadikannya Instagramable. Ya, penulis berdoa semoga tidak.

Anyway, film Aquaman ini menurut hemat penulis setidaknya turut melanggengkan plot favorit perfilman yang kudu banget pakai formula konflik cinta terlarang. Film ini turut menghidupkan imajinasi jombloers di luar sana, berharap bujang lapuk yang kesepian di tepian ombak tiba-tiba dapet rejeki wanita cantik yang terdampar. Doa baik penulis untukmu, semoga scene serupa terjadi atas kita semua, dan tidak ada lagi diksi ‘cinta terlarang’, baik di dunia manusia darat maupun perairan, hiks.

Mengapa ‘Bohemian Rhapsody’ Harus Berterimakasih pada Freddie Mercury 0 1020

Kita perlu sangat berterimakasih pada Freddie Mercury. Peringatan ini diberikan penulis sedini mungkin, karena memang itulah hakikat hajat hidup tulisan ini dan jawaban atas hobimu yang kudu banget nontonin semua film hits di bioskop.

Sejak rilis 24 Oktober di kota kelahiran Queen dan 31 Oktober di Indonesia, Bohemian Rhapsody menjadi buah bibir tua-muda bahkan dipakai sebagai modus terkini ngajak areké nge-date. Jadi, semoga tulisan ini tidak menjadikan kawan-kawan pembaca urung menonton.

Teriring dalam tulisan ini, penulis ingin berbagi pengalaman menonton selama lebih kurang 130 menit. Penulis datang dengan ekspetasi tinggi akan dipuaskan betul oleh film ini. Setiap menitnya harus mencengangkan dan setiap adegannya harus mengagumkan. Ekspetasi ini tidak terlalu tinggi untuk biopik band sekelas Queen kan?

Namun, sayang seribu sayang, penulis harus rangkum Bohemian Rhapsody sebagai: remaja galau yang bingung mau bercerita tentang apa. Di awal, kental sekali keinginan pembuat film untuk mengangkat kisah bagaimana Queen terbentuk. Bermula dari band Smile di sebuah klub kecil yang sedang frustasi karena ditinggal vokalisnya. Lalu bergabunglah Farrokh Bulsara alias Freddie Mercury mengisi posisi vokalis utama, ditambah bassist John Deacon, lengkap dengan Brian May pada gitar dan Roger Taylor pada drum.

Perjalanan mereka dilanjutkan dengan penampilan dari panggung ke panggung, hingga kisah menjual van untuk rekaman lagu di studio yang singkat cerita membuat mereka meneken kontrak dengan EMI Records. Tapi, saudara-saudara sekalian perlu dicatat bahwa perjalanan sakral band kelas kakap ini akan sangat diganggu oleh fokus kisah pada Freddie.

Barangkali, Freddie sebagai vokalis utama memang layak untuk diberi porsi cerita lebih banyak daripada personil lainnya. Selain karena dirinya cerdas, perfeksionis, dan flamboyan setidaknya ada tiga unsur yang membuat kepribadian Freddie menjadi ramuan yang sangat seksi untuk diangkat menjadi premis utama.

Pertama, identitas Freddie yang adalah keturunan Persia penganut kepercayaan Zoroastian dan tinggal menetap di Inggris. Kedua, konflik interaksi keluarga bagaimana Freddie sebagai anak laki-laki yang tidak bisa memenuhi ekspetasi orang tuanya untuk tidak berkarir di musik melainkan bekerja ‘normal’. Ketiga, pencarian jati diri Freddie akan identitas gendernya.

Yang ketiga itu kontroversial dan jadi bahan ampuh untuk mengulik pergolakan batinnya. Memang digambarkan bagaimana Freddie awal mulanya menjalin kisah dengan Mary Austin, memenuhi ideologi dominan tentang hubungan heteroseksual.

Namun, perlahan pergeseran Freddie yang mulai menjalin kasih dengan kaum brewok dijelentrehkan secara simbolis, yang puncaknya pada pertengkarannya dengan Mary. Pada adegan itulah, klise layaknya formula film bergenre drama sekadar dipenuhi. Adegan dipercepat sampai perubahan penampilan Freddie untuk memotong rambut dan menumbuhkan kumis, simbol-simbol pengakuan diri sebagai homoseksual.

Jika saja adegan sebelumnya tidak loncat-loncat ke tur-tur Queen dan lebih berani menguliti konflik internal Freddie atas konstruksi identitasnya sebagai gay, tentu emosi penonton bisa lebih maksimal dibangkitkan. Adegan-adegan Freddie yang tenggelam dalam rasa kesepian di balik aksi panggungnya yang mampu menyihir penonton itu, sayangnya digambarkan terlalu singkat.

Baru saja penonton disuruh bersimpati pada sosok Freddie yang frustasi, eh adegan dilempar lagi pada penampilan Queen. Baru saja penonton diajak menikmati peluh Queen menggarap Bohemian Rhapsody, eh adegan berpetualang lagi kembali ke Freddie.

Jika benar film ini berniat menyajikan perjalanan karir Queen, rupanya penulis naskah tergoda imannya oleh pesona Freddie. Padahal, kalau boleh jujur, bahkan tidak butuh Queen atau embel-embel Bohemian Rhapsody untuk membuat film ini menjadi a great success. Tapi jika benar film ini adalah biopik Queen, mana kisah tentang pribadi personil-personil lainnya? Apa memang benar, ‘your majesty’dari Queen hanya Freddie seorang?

Kalau pun Freddie dituhankan di film ini, selayaknya ia dihantar sebagai otak utama di balik ke-gendheng-an Bohemian Rhapsody agar dapat menjawab judul film. Jika direnungkan, bukankah film yang judulnya Bohemian Rhapsody hendaknya menggali proses kreatif penulisan lagu. Atau paling tidak menjawab spekulasi nyinyir citizen (karena di tahun 1975 belum tercipta makhluk namanya netijen) mengenai makna misterius di balik Mamamia, Scaramouce, Fandango, Figaro, dan Bismillah dan nada serba opera.

Atau penceritaan yang komprehensif bagaimana 24 trek pita kaset aus karena berkali-kali merekam bagian lirik ‘Galileo’ agar mendapat pitch sempurna seperti yang dimau Freddie. Adegan ini hadir, tapi persentasenya dalam cerita menduduki kasta sudra.

Atau lanjutkan juga dengan bagaimana perjalanan lagu ini menolak habis-habisan status quo format komersil durasi 3 menit, lompatan nada yang easy listening, dan mengandung refren. Bagaimana perjalanan lagu ini lantas mampu mendobrak selera pasar dan menjadi karya magis yang lestari hingga puluhan tahun. Bohemian Rhapsody yang magis nyatanya tidak terlalu dielu-elukan sebagaimana ia dijadikan judul film.

Lagu edan berdurasi hampir 6 menit yang awalnya ditolak mentah-mentah dan kemudian berhasil bertahan di 10 besar tangga lagu Amerika rupanya lebih penting diceritakan sebagai prestasi Queen daripada misteri dan ritual yang terjadi di studio di Wales selama 70 jam pembuatan lagu tersebut.

Pada akhirnya, film ini tidak lebih dari kisah sukses sebuah band rock asal Inggris dan wahana karaoke para penggemar akut lagu-lagu Queen yang tidak-bisa-tidak sing along ‘Bohemian Rhapsody’, ‘Radio Gaga’, dan‘We are the Champion’ saat adegan Live Aid 1985. Gara-gara itulah, katanya film ini tetap layak ditonton. Bagi penulis, Anda tetap bisa nonton film ini supaya film garapan 20th Century Fox yang memakan drama selama 10 tahun produksi ini bisa balik modal.

Bagi penulis, satu-satunya yang menyelamatkan film ini adalah Freddie Mercury dengan segala pergolakan batin, keluarga, identitas, dan orientasi seksualnya. Kalau bukan karena Freddie, penulis kesulitan benar mengidentifikasi motivasi dan tingkat kepuasan terhadap film ini.

Penghormatan dan terima kasih harus diberikan sebesar-besarnya pada si jenius, Freddie Mercury. Kalau bukan karena beliau, Bohemian Rhapsody sebagai lagu maupun film adalah karya biasa-biasa saja yang mungkin tidak layak dikenang lintas generasi.

 

(Catatan tambahan: Penulis harus banget menghabiskan waktu 1×24 jam disertai doa dan puasa demi menyelesaikan tulisan ini saking mindernya dengan Queen beserta jajaran fansnya.)

Editor Picks