Masih Ada Amerika di Wakanda 0 1064

Tulisan ini adalah untuk mengulas bagaimana buah pikir penulis terhadap Wakanda land yang (baju kokonya) jadi gandrungan baru masyarakat dunia pecinta film. Tulisan ini sengaja dituliskan justru setelah euforia sudah berlalu, supaya ulasan ini tidak jadi spoiler bagi kawan-kawan pembaca nan budiman (alasan tok, ngomong wae gak mood nulis).

Kemunculan people colored dalam berbagai karakter film jebolan negeri Paman Sam akhir-akhir ini memberi kita harapan baru bahwa keterbukaan serta kesetaraan semakin nyata. Marvel yang seluruh pahlawannya berkulit putih, rambut pirang, hidung mancung, dan mata biru – atau gampangnya disebut orang Indonesia sebagai bule – kini berani menampilkan T’Challa alias Black Panther sebagai pahlawan asal Afrika.

Tentu usaha mengangkat harkat martabat dunia ketiga ke permukaan layar lebar ini mengundang sambutan baik dari umat manusia (mboh umat seng endi). Terutama dalam film dengan rate 7.8/10 IMDb dan menguasai Box Office Amerika Serikat ini, unsur Afrika dan figur orang kulit hitam dengan segala kebudayaannya sungguh terasa kental. Mulai dari seluruh aktornya – pun masih menyisakan satu lakon Amerika yang jadi pupuk bawang – latar tempat, pakaian, bahasa, musik, hingga font yang digunakan sepanjang film. Semuanya membawa kita seakan-akan percaya dibawa tenggelam dalam budaya asli benua yang dicap termiskin di dunia itu.

Sepintas, kita tentu memuji-muji Amerika atas keberaniannya mengekspos Afrika ke media, suatu tindakan yang selama ini mustahil. Kita dimanjakan dengan tayangan yang berbeda sama sekali, mengentaskan kita atas tuduhan film Amerika yang monoton. Kita puas dan tak mampu beranjak dari kursi penonton hingga dua trailer setelah credit title usai ditampilkan di bioskop – membuat mas-mas petugas bioskop menunggui kita dengan tatapan harap untuk segera angkat kaki. Tapi, who the hell is America sehingga kita pantas untuk memuja-muja atas sukses besarnya dalam Black Panther?

Michael O’Shaughnessy (1951) memberi penjelasan tentang ideologi dominan dan hegemoni dalam kaitannya dengan media. Ideologi sebagai nilai dan kepercayaan seperti dikutip dari Althusser (dengan pijakan pemikiran Mbah Marx tentu saja) diciptakan dan disebarluaskan oleh kelompok berkuasa dalam sebuah tatanan sosial. Ideologi ini kemudian diterima dan dipercaya oleh banyak orang, terutama kelompok yang dianggap sebagai kelas bawah. Ideologi ini bukan suatu standar ideal untuk kemaslahatan umat tentu saja. Ideologi dominan digelar untuk merawat kekuasaan ‘ruling class’.

Sementara Antonio Gramsci menjabarkan konsensus sebagai cara agar orang menyetujui suatu nilai, termasuk ideologi dominan. Inilah yang disebut hegemoni, sebuah proses negosiasi untuk mempertahankan kekuasaan. Hegemoni adalah suatu bentuk penjajahan baru, dengan memberikan kesempatan bagi warga seakan-akan mereka mendapat kebebasan. Memberi ‘hadiah’ kepada kelompok bawahan, dengan syarat kelompok dominan tetap berkuasa.

Saudara-saudara, sayangnya, peran penanaman ideologi dominan sebagai bentuk hegemoni diambil alih oleh kekuatan terbesar sepanjang sejarah: MEDIA. Media yang diawali dari peradaban kelas atas akan terus dan selamanya mendukung ideologi kaum dominan. Kaum dominan di sini bisa diartikan beraneka ragam seperti kultur orang kulit putih, kelas ekonomi menengah-atas, laki-laki, dan sebagainya.

Dalam tulisan ini, khususnya Amerika sebagai negara demokrasi terbesar di dunia – yang oonnya kita agungkan sebagai kiblat membangun negara demokrasi – adalah aktor utama penyebar ideologi dominan yang kini kita yakini bagai agama. Bahwa Amerika adalah negara besar, negara kuat, negara yang tak terkalahkan, sumber segala kehidupan.

Bagaimana bisa wacana ini merasuk dalam film Black Panther padahal ia justru menampilkan kaum terbelakang? Kawan, sayangnya, seperti disebutkan O’Shaughnessy, media justru memberi kesempatan bagi kaum kelas bawah untuk muncul dan dielu-elukan, memberikan kebebasan sebagian agar mereka muncul, tetapi “will never allow power to be completely taken away from them” (O’Shaughnessy 1951, 189).

Hal ini nampak dari penggambaran negeri Wakanda sebagai kerjaaan antah-berantah yang barbar, hidup tertutup, tidak pernah membangun diplomasi dengan dunia. Bahkan, secara kejam Amerika membuat posisi Afrika yang kaya sumber daya alam itu sebagai SERAKAH, hanya menyimpan kekuatan untuk kesejahteraan mereka sendiri: tidak mau vibranium disebarkan ke seluruh dunia.

Wakanda sebagai representasi Afrika kemudian disindir hanya ‘jago kandang’, nampak jelas dari sabda T’Challa “I am the King of Wakanda, not the King of every people” (maaf kalau quotenya salah ya). Mungkin, dalam hal ini Amerika juga tengah menyindir negara-negara lain yang dianggap ‘tidak mau berbagi rezeki’, melalui Afrika sebagai ‘kambing hitam’, hiks kasian bingits. Atau semata-mata hanya ‘gertakan sambel’nya Amerika untuk menutupi ketakutan berlebihan mereka akan negara-negara superpower lainnya.

Pun Wakanda di akhir cerita yang digambarkan membuka diri pada dunia, tergambar dengan adegan pidatonya di PBB – yang oh lagi-lagi produk Amerika dan bermarkas di Amerika. Itu pun, lagi-lagi Wakanda mengambil langkah diplomasi karena diberi stimulus serangan N’Jadaka a.k.a Killmonger, seakan-akan mereka tidak secara sadar dan memiliki kematangan berpikir tanpa gertakan. Maaf ya, sepertinya penulis dalam nyinyiran hari ini sedang sensi dengan Amerika, selain sama doi.

Sesungguhnya, masih banyak diskursus lain yang menarik untuk dibahas. Misal, Nakiya dan Okoye sebagai jenderal beserta anak buahnya yang butak-butak sebagai ksatria wanita tangguh. Biarlah para pejuang kesetaraan gender dan pencadu feminisme akut yang akan membahasnya.

Yang pasti, kawan-kawan masih akan dibujuki Marvel sepanjang tahun ini. Masih ada Infinity War, Ant Man, dan hegemoni-hegemoni lainnya yang siap sedia ditanamkan pada benak Anda sekalian. Masih ada 35 hingga 60 ribu duit ping sewu (ini harga tiket nonton normal di mall-mall beken Surabaya) dihamburkan demi melihat Amerika masih, akan, dan selamanya menguasai dunia. Hehe.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film Tilik dan Perdebatan Eksistensi Wanita 0 526

Film ini sebetulnya sederhana saja. Dalam 32 menit, alur ceritanya adalah dialog ibu-ibu di atas truk dalam perjalanan dari desa ke kota. Tujuan truk itu juga sederhana: tilik atau menjenguk Bu Lurah yang sedang sakit keras di rumah sakit.

Bu Tejo, tokoh sentral dalam cerita itu, mendadak jadi idola arek-arek. Namanya disebut di banyak percakapan baik di dunia maya maupun dunia nyata. Kemunculannya di film “Tilik” viral dan ada banyak influencer yang mempromosikannya di media sosial. Padahal karya garapan Ravacana Films ini sudah diproduksi 2018 lalu.

Bagaimana tidak, kemampuan akting Siti Fauziah sebagai pemeran utama Bu Tejo ini memang sangat memukau. Ekspresi wajah dan gestur tubuhnya sangat mewakili betapa nyinyire emak-emak kampung, yang tidak pernah lelah membahas A-Z urusan orang lain.

Film ini lantas mengulik emosi penonton, akibat tema ceritanya yang sangat relate dengan kehidupan sehari-hari. Perjalanan itu mungkin jauh dan menyusahkan. Harus berdiri di atas truk, tergoncang karena jalanan yang tidak rata, masuk angin, sampai harus menunduk ketika melewati pos polisi biar tidak ditilang. Tapi, perjalanan yang melelahkan itu tak sebanding dengan betapa asyiknya gibah rumah tangga tetangga.

Mungkin, premis cerita inilah yang kemudian berhasil menyihir penonton dan khalayak ramai, sampai mengeluarkan quote yg kini makin lacur penggunaannya: “kita semua adalah Bu Tejo ketika lagi gibah”. Artinya, akting Bu Tejo sebagai tokoh sentral dan keseluruhan jalan cerita Tilik ini mampu membuat penonton melakukan refleksi terhadap diri sendiri. Membuat penonton merasa “aku juga kayak gitu kalau gosip, mulutnya jahat banget”.

Menurut hemat penulis, sineas sudah berhasil mencapai tujuan terwahid dari penciptaan karya: membuat penikmatnya merenung, berpikir, dan berfantasi dalam batinnya.

Tapi, sebagaimana karya, kan gak semuanya mengilhami cerita seperti yang saya tanggapi. Tak selamanya film Tilik banjir pujian. Lah wong pada dasarnya kita ini berasal dari beragam latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda-beda. Tentu cara memandang dan menikmati karya juga beda selera.

Baru-baru ini, ada seorang mas-mas yang berkomentar atas buruknya kualitas ending film Tilik. Ia menganggap film Tilik gagal mengajarkan moral value, malah mendukung stigma perempuan tukang gosip, dan abai memberi solusi.

Bukan media sosial namanya kalau pendapat seperti mas ini tidak di-counter. Pendapat yang “lain” dari arus yang memuja-muja kemampuan sinematik dan konten cerita Tilik, langsung dibalasi netijen secara kompak.

Bagi netijen yang kontra dengan pendapat si mas-mas dengan akun Twitter @RoryAsyari ini mengatakan, bukan tugas film untuk mengajarkan nilai moral. Ada yang menghujat mungkin Mas Rory gak ngerti gaya bercerita satire. Ada pula yang menyuruh sebaiknya Mas Rory ini nonton film azab Ind*siar yang pesan moral agama dan sosialnya jelas.

Kali ini, saya, penulis, harus agak setuju dengan kebanyakan netijen itu. Mas Rory perlu tahu, bahwa Wahyu Agung Prasetyo sebagai sutradara hanya bercita-cita sederhana, menampilkan tradisi tilik di pedesaan. Warga perkampungan layaknya begitu, kerjasama menyewa kendaraan apapun –sekalipun truk pengangkut pasir – yang penting slamet sampai tujuan.

Mas Rory perlu tahu, kalau sekelompok ibu-ibu yang melakukan perjalanan dengan truk itu ibaratnya juga jalan hidup kita. Kadang suka, kadang duka. Kadang bisa bekerjasama antar-wanita, saling mengumpulkan uang, dijadikan satu amplop, agar ada “cindera mata” yang bisa dibawa untuk meringankan beban orang yang sedang ditiliki. Kadang gosip bareng, di mana bahan pembicaraan itu bisa menyatukan, tapi bisa juga bikin baper dan bikin gontok-gontokan.

Realita-realita ini ditangkap, diterjemahkan, dan digambarkan melalui serangkaian karya audio visual. Apa adanya, dengan sedikit sentuhan hiperbola tentu saja demi kebutuhan dramatisasi.

Mas Rory perlu tahu, memang ada sejuta sudut pandang yang bisa digambarkan pekerja seni untuk menggambarkan wanita. Mulai dari lukisan tubuh wanita karya pelukis-pelukis handal dunia, sampai karya film pendek festival macem Tilik.

Di Tilik, ada beragam perempuan yang coba digambarkan. Perempuan single dan punya jabatan macam Bu Lurah, yang dianggap hidupnya tak proporsional, yang dipandang penyebab penyakitnya adalah karena ulah suaminya ataupun ketidakmampuannya sebagai seorang wanita menjalani hidup.

Atau perempuan single, muda, pandai, dan memiliki karir baik, yang tak segera kunjung menikah dan kepergok jalan-jalan dengan om-om, pria yang jauh lebih tua. Yang otomatis dipandang sebelah mata, dianggap perempuan gak bener, atau pelakor macem drama koriyah yang populer itu.

Ada pilihan-pilihan hidup wanita yang dikenai standar ganda. Perempuan harus kuat, berkarya, punya karir baik, tapi juga harus santun, mengurusi keluarga, dan tak bebas dari stigma masyarakat atas kemerdekaan pilihan hidupnya sendiri.

Masih ada buanyak hal yang bisa diangkat dari sisi hidup wanita. Belum lagi sisi perempuan yang diberi kemampuan psikologis tersendiri oleh Tuhan: perhatian akan hal-hal detil.

Nih contoh aja ya, warung kelontong di sebelah kos saya dulu pegawainya mas-mas, barangnya gak pernah lengkap. Mau nyari margarin, habis. Nyari telur, kosong. Nyari air mineral dengan merek selain Aq*a biar gak mahal, dibilang belum dikirim sama distributor. Ada saja alasannya. Tapi sekarang, begitu ada mbak-mbak yang jadi penjaga toko, barang di warung selalu lengkap, bahkan bertambah variasinya. Kulkas isi minuman dingin sekarang jauh lebih bewarna. Dan aneka menu es krim Aic* juga lengkap tersedia di freezer.

Cerita kecil yang nyata dan ada di kehidupan sekitar kita tentang wanita. Kalau segi wanita yang ini, sepertinya belum ada yang bikin filmnya. Mungkin ada sineas yang tertarik? Saya volunteer jadi penyumbang ide cerita nih!

Hal lain yang mungkin terlewat diulas: film ini didanai Dinas Kebudayaan DIY. Ini adalah salah satu pertanda bahwa pemerintah mulai mendukung pekerja seni dengan segala idealismenya. Pekerja seni gak perlu jadi toa, melulu memerankan juru bicara prestasi yang mendanainya, tapi justru menyajikan kritik keras.

Ingat kan scene Bu Tejo ngasih uang ke Gotrek, driver truk, dengan sepik-sepik biar suaminya “direwangi” jadi lurah? Bahwa untuk jadi pemimpin, mungkin perlu “pemulus”. Ini kritik pada budaya pemerintah, yang juga dimasukkan secara mulus ke adegan cerita, tanpa merusak pula intisari tema hoax yang hendak diangkat di dalamnya.

Dan untuk gejala soal suap-menyuap ini, sudah akut dan menyerang siapa saja, mau pria ataupun wanita.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

JOKER: Film Biasa Saja yang Menerima Apresiasi Berlebihan 0 1023

Seminggu yang lalu, saya datang ke bioskop, menerima ajakan seseorang untuk menonton Joker. Kata banyak teman sebelum kami memasuki gedung bioskop, film ini uwapik. Tak ada duanya bila dikompetisikan ke Oscar. Saya pun menjadi agak skeptis, apa benar memang begitu nantinya. Dan seseorang yang bersama saya turut merasakan hal yang sama.

Saya mempertaruhkan malam itu dengan dua tiket seharga sembilan puluh ribu. Angka yang cukup tinggi bagi saya yang hobinya ngopa-ngopi tiap hari di warkop pinggir kali rendahan. Tapi toh tak ada salahnya untuk melihat sebuah aksi dari seorang Joaquin Phoenix, pikir saya. Meski saya tak berharap banyak pada sutradaranya.

Film dibuka dengan memperlihatkan biografi tubuh Arthur, yang kelak menjadi Joker. Arthur punya tubuh yang kurus. Penonton akan sangat mudah melihat bagaimana tulang-tulang yang berada di balik lapis kulitnya menjadi mencolok ketika Arthur sedang bergerak. Atau ketika dirinya berjalan dengan agak membungkukkan punggung atau saat sedang menari.

Arthur adalah seorang lelaki yang dibesarkan oleh janda miskin, Penny. Kondisi atas kemiskinan ini kemudian membuat Penny mengirim surat kepada mantan kekasihnya yang sukses menjadi tokoh terpandang di Gotham, Thomas Wayne, untuk memberi perhatian padanya dan dapat memudahkan hidup Penny dan Arthur melalui bantuan ekonomi. Walau Penny sudah sekarat, Thomas Wayne tak kunjung menemui Penny karena menurut cerita, Penny hanyalah orang yang memiliki riwayat gangguan jiwa dan kisah-kisahnya dengan Thomas Wayne adalah rekayasa belaka.

Hingga akhirnya Arthur membuka surat itu diam-diam ketika ibunya tak sengaja meninggalkannya di atas meja. Semestinya ini bisa saja dilakukan oleh Arthur jauh-jauh hari, mengingat sudah tak terhitung jumlah surat yang dikirim ibunya melalui Arthur, dan mengingat mereka tinggal berdua sudah cukup lama. Terlebih ketika membuka surat itu, wajah Arthur tak menampilkan ketegangan sama sekali. Selain seperti anak kecil yang kebetulan menemukan cokelat di lantai rumahnya. Artinya, Arthur memang sejak semula tak memiliki kekhawatiran apa pun tentang isi surat. Dengan demikian Arthur bisa membacanya kapan saja.

Adegan dibukanya isi surat tersebut oleh Arthur, sama mudahnya saat menebak ketika Arthur mengejar segerombolan anak kecil yang mencuri papan badutnya. Lalu pada saat pengejaran tersebut Arthur menyeberang jalan dan karena tak berhati-hati dirinya pun harus ditabrak oleh kendaraan yang sedang melintas. Klise. Semata-mata untuk membuka nuansa getir ke dalam film.

Dan yang lebih aneh lagi, tentang proses transisi ketika Arthur menjadi Joker. Apa hanya karena dia memiliki pistol, dan menyadari tak ada lagi yang ia punya maka tak ada lagi yang menyakitinya, lantas membuat dirinya harus menjadi seorang kriminal? Bahkan dialog yang begitu lama terbayang di benak para penonton itu (orang jahat adalah orang baik yang dikelilingi oligarki disakiti, red.), tak ada korelasinya sama sekali dengan keputusannya menjadi seorang kriminal.

Di samping karena film ini minim dialog-dialog mantab bila dibandingkan dengan pendahulunya, trilogi The Dark Night, tidak ada dialog substansial yang memberi kesan bahwa Joker adalah orang paling menderita (atau paling bernas) di kotanya. Kalaupun Joker dianggap sedang merepresentasikan karakter manusia yang mengalami depresi, gangguan jiwa, atau apapun lah itu, maka nyaris sepenuhnya Joker telah gagal.

Joker mengamuk karena dimarahi oleh bosnya, bersedih ketika ibunya sakit, membunuh orang lain ketika terancam, dan melakukan perbuatan praktis lain yang umum dilakukan manusia “normal”. Daftar perilaku itu justru tak mencerminkan apa pun yang berada di wilayah lian dari gangguan kejiwaan, selain memang Joker adalah lelaki miskin yang berasal dari keluarga kelas bawah, dan sedang mengalami ketakutan karena menembak sejumlah orang kelas atas di kotanya.

Kemudian, bagian mana yang perlu didengarkan dari film Joker, ketika kebanyakan penonton yang mengeuforiakan film ini berkata: orang-orang seperti Joker hanya butuh didengar? Dan, bukankah terlalu cepat juga kita mengambil kesimpulan tentang Joker adalah orang baik yang tersakiti, hanya karena film ini menyodorkan pesan-pesan moral yang memabukkan? Atau jangan-jangan, apa yang kita bicarakan sekarang ini menjadi topik diskusi yang sudah matang dipersiapkan oleh tim pemasaran dari tangan-tangan DC supaya film Joker terus mengundang penasaran?

Akan tetapi, terlepas dari semua itu, kalaupun film ini boleh dikatakan berhasil, dan dirinya benar telah mewakili orang-orang asing yang butuh pengakuan di penghujung keterpurukan hidupnya, maka kita adalah orang-orang jahat yang terlambat menyadari itu. Kita adalah orang-orang yang sibuk memikirkan diri sendiri ketimbang memerhatikan orang-orang seperti Arthur yang selama ini berada di sekitar kita.

Kita terlalu sibuk mengobati kesedihan sendiri, sehingga lupa untuk berbagi kebahagiaan pada orang lain yang juga membutuhkan itu. Kita berkompetisi untuk terlihat baik saat bekerja di depan pemilik modal, namun kita lupa, Arthur harus membeli obat untuk ibunya yang sedang sakit di rumah.

Bukan Joker atau Arthur yang sedang mengalami gangguan kejiwaan, melainkan kita: yang sudah terlalu lama hanyut dalan arus individualitas dan jauh dari kepedulian sosial. Kita lah orang-orang yang sepantasnya masuk ke dalam kulkas sambil menertawakan diri sendiri. Karena kita adalah orang jahat yang berpura-pura tersakiti.

 

Foto: variety.com

Editor Picks