Cacing Kaleng Makarel dan Gizi Buruk Kontingen Kos-kosan 0 349

Bagi kontingen daerah yang hidupnya bergantung di bilik sempit kos-kosan, makanan kaleng makarel dan sardine adalah penyelamat dalam menyambung nyawa, secara harfiah. Tapi malang, seperti geledek di siang yang biadab di jalanan Surabaya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merilis daftar 27 merk kaleng makarel yang mengandung cacing!

Ini berita besar, bukan karena melibatkan investigasi lanjutan terhadap para importir. Bukan juga lantaran ancaman pemidanaan terhadap produk-produk tersebut yang lalai dalam menjaga quality control. Tapi karena satu hal: bagaimana mungkin sodara tega dengan nasib mbulet para kontingen daerah itu, yang sudah melarat secara harfiah masih disuruh nenggak cacing? Bagaimana bisa mereka disuruh menerima takdir bahwa selama ini mereka sedang menikmati lezatnya makarel yang ditumpangi penumpang gelap para cacing-cacing brutal itu?

Sudah ketiban apes sebegitu payah, bu Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mencoba menghibur kontingen-kontingen ndramus itu dengan fakta ilmiah: bahwa cacing itu banyak proteinnya lho. Jadi sebetulnya tak ada soal sama sekali dengan cacing-cacing yang mendiami kaleng-kaleng makarel itu, lha wong justru itu yang menambah mutu gizi. Mungkin bu Menteri tahu betul, bahwa ini terobosan brilian dalam menyelesaikan wabah gizi buruk yang kerap menimpa kos-kosan.

Bagi pembaca yang hidupnya kembang-kempis sekaligus bagian dari kategori kelompok kos-kosan ini, jangan sok nggaya, sok protes atas nama kemanusiaan bahwa Negara lalai melindungi warga Negara kos-kosan. Ra usah kakean cangkem menyumpahi bu Menteri yang sebetulnya bermaksud baik itu. Situ aja yang gagal paham menyelami arti sesungguhnya di palung batin bu Menteri—yang memang sungguh berliku itu.

Teruntuk kontingen kos-kosan, pejuang penakluk belantara metropolitan, sebaiknya ente-ente bercermin dulu. Cacing protein tinggi itulah yang mencipta semangat ente-ente begitu ia nongkrong dan dicerna di lambung. Kendati barangkali produsen kaleng ikan makarel ini lalai dalam menguji mutu produknya, tapi Tuhan punya jalan lain untuk menyelamatkan kita semua dari kemiskinan protein. Ini jalan hidup yang jauh lebih lumayan lho dibanding jalan hidup indomie—yang melanggengkan rezim kemiskinan protein.

Teruntuk bu Menteri, tahan dan kuatlah bu dalam menghadapi dera bully para kontingen ini. Penikmat setia kaleng ikan makarel dan PCMI (Paguyuban Cacing Makarel Indonesia) khusus akan mengundang bu Menteri untuk makan bareng 27 produk kaleng ikan makarel itu. Musti dimakan sampe habis bis bis ya bu.

Sebab, kata Tuhan: nikmat protein tinggi mana lagi yang engkau dustakan? Kapokmu kapan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks