Dosa Besar dan Keleletan Pertamina 0 735

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Sesuai judul, penulis ingin secara terangan-terangan menghujat dan mempersalahkan PT. Pertamina. Bagaimana tidak? Kebocoran pipa di Teluk Balikpapan ini membuat penulis bertanya serius pada PT. Pertamina, “kowe iki becus opo ora toh?”

Sabtu lalu, tajuk utama surat kabar langganan saya mengejutkan sekaligus menyulut emosi. Mulut sudah kebelet mencaci maki dan hati rasanya sakit sekali.

Katanya, ada minyak tumpah di Teluk Balikpapan. Foto tumpahannya, nauudzubilah min zalik!

Isi pemberitaan itu menuding kapal bermuatan batu bara asal Cina, MV Ever Judger membuang limbah minyak bahan bakarnya secara ilegal ke Teluk Balikpapan. Limbah Marine Fuel Oil (MFO) itu kemudian menyebabkan kebakaran hebat di laut. Menurut keterangan saksi mata, terjadi ledakan besar disertai kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi di lokasi. Lima nelayan setempat tewas dilahap api yang tak bisa dikendalikan. Disini, saya sudah habis memaki-maki si Ever Judger ini. Wani-wani ne nyampah nang lautku?  Tenggelamno ae!

Disebutkan pula bahwa kapal MV Ever Judger, yang disangkakan sebagai pelaku, juga ikut-ikutan terbakar. Buritan kapal bagian kiri digilas api, juga sekocinya. Awak kapal dan muatannya bahkan menjerit minta diselamatkan.

Lah katanya mereka yang membuang, kok malah ikutan kebakar? Ganjil? Sangat ganjil.

Makian saya perlahan hilang, seiring akal mengatakan saya sudah salah tuduh. Mohon maaf Ever Judger, saya sudah suudzon berat padamu!

Kemudian disini, aktor amatir kita yang sangat payah mulai tampil bermain.

Sebagai pemilik kilang minyak yang lokasinya berdekatan dengan tumpahan, hari itu juga PT. Pertamina memberi tanggapan. Tanggapan penuh kezaliman.

Mereka menegaskan dengan gagah berani dan percaya diri pada awak media, jelas-jelas yang tumpah itu MFO. Sedangkan, PT Pertamina di Teluk Balikpapan hanya, sekali lagi, hanya memproduksi crude oil atau minyak mentah macam solar atau avtur.

Tolong pikir-pikir lagi lah ya kalau mau menyalahkan Pertamina. Begitulah kira-kira makna klarifikasi itu, bagi mereka yang mampu menangkapnya.

Ever Judger masih tersangka. sedang Pertamina cuci tangan.

Dua hari setelahnya, dengan malu-malu(in), PT Pertamina menjilat kembali ludah yang sudah diinjak dan diesek-esek dengan sepatunya sendiri. Mereka mengaku, minyak yang mengapung di perairan Teluk Balikpapan adalah kesalahan mereka.

Entah bagaimana divisi PR PT. Pertamina ini. Mungkin dulu tidak ambil mata kuliah Dasar-Dasar Public Relations, atau lalai, atau tertekan atasan.

Hasilnya, setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut dengan metode penyelaman dasar laut, didapati temuan mengejutkan sekaligus menampar Pertamina tepat di mukanya (kalau masih punya muka).

Pipa milik PT. Pertamina ditemukan terputus lalu terseret sejauh 100 meter dari asalnya.

Gila! Mau mengelak apa lagi?

Sudah mencla-mencle begitu, mereka pun lamban sekali menangani minyak yang kadung kemana-mana ini. Sampai seminggu sejak minyak mengapung dan mencemari laut, Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) mengeluhkan keleletan Pertamina. Tim yang dikirim Pertamina untuk membantu tindakan pembersihan dan pemulihan bekerja sangat lamban. Pada banyak aspek,  BPBD merasa Pertamina banyak menutup-nutupi perkara ini.

Ini BUMN apa yang bisa-bisanya mencla-mencle memberi pernyataan resmi, lalu berani-beraninya tidak cekatan menangani masalah yang jelas-jelas tanggung jawab dan kesalahannya? Nilai merah untuk Pertamina!

Coba Pembaca bayangkan, tumpahan minyak ini sudah hampir menyentuh Pulau Sulawesi sedangkan Balikpapan itu di Kalimantan! Hal itu disampaikan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Republik Indonesia (LAPAN RI). Lebih jelasnya, tumpahan minyak ini sudah merembes ke Selat Makassar.

Ekosistem laut jelas tercemar berat. Entah berapa barel minyak yang terbuang begitu saja di perairan Teluk Balikpapan. Biota laut pun banyak yang mati dan terancam keberlangsungan hidupnya. Seekor pesut bahkan ususnya sampai terburai, lalu mati dan hanyut ke pantai. Padahal populasi pesut di perairan itu hanya sekitar 60 ekor. Miris! Semoga saja tidak jadi punah karena ulah PT. Pertamina ini.

Lalu, Pembaca tolong bayangkan pohon bakau. Itu, daunnya yang berjarak 1,5 meter dari akarnya menghitam tersebab minyak. Warga dekat teluk pun sudah mulai kena penyakit saluran pernafasan karena bau crude oil yang menyengat dan berbahaya. Keluhan kesehatan lain pastinya makin banyak di sana. Nelayan pun jadi tidak bisa melaut. Lalu lintas perdagangan bahkan lumpuh. Kapal dilarang sama sekali lewat karena minyak yang tumpah mudah sekali terbakar. Bahkan Ever Judger yang sempat difitnah dan dikambinghitamkan pun harus tertahan di sana.

Ini masalah serius! Sangat, sangat serius! Aduh Pertamina, tulung poo seng nggena..

Menurut saya, Pertamina telah melakukan kejahatan lingkungan luar biasa, yang dampaknya tidak main-main. Butuh sanksi tegas dan bentuk pertanggungjawaban konkret yang mampu memperbaiki kerusakan dan pencemaran pada ekosistem Teluk Balikpapan.

Pemerintah pusat harus tegas dan berani memberi sanksi tegas pada BUMN-nya ini. Jangan sampai hanya berdiam diri saja, karena seminggu ini kasus berjalan tanpa ada tanggapan sedikitpun dari Istana. (Padahal katanya di laut kita kuat? Giliran laut tercemar, diam saja. Huh.)

Memalukan bila sampai kasus ini sengaja diabaikan apalagi dilupakan. Karena memang disadari topik lingkungan mesti kalah pamor dengan isu politik ibukota atau penistaan agama. Namun,. ayolah, ini masalah yang jelas amat besar.

Kenapa juga lebih banyak netijen mempermasalahan Sukmawati, cacing makarel, dan Lucinta Luna ketimbang Teluk Balikpapan?  Duh, bikin jengkel saja!

Semoga pembaca Kalikata yang budiman tidak masuk golongan netijen macam itu. Wallahualam.

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Macan karaoke dan penyuka eskrim.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 159

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 77

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks