Haruskah Berbelasungkawa untuk Uber? 0 761

Jika nasib hubunganmu dengan arek’e terasa tidak pasti, antara kawin lari tanpa restu orang tua atau putus sekarang kemudian bunuh diri, tenang saja. Nasib Anda sama gamangnya dengan para calon mantan pengemudi Uber.

Sejak diakuisisi oleh Grab per 26 Maret lalu, tiada keputusan terang bagi para pengemudi perusahaan transportasi asal Amerika itu akan otomatis diboyong. Tiada kepastian apakah setelah 8 April besok, mereka akan ganti perilaku, yang awalnya memberi penumpang dengan helm oranye, kemudian jadi helm ijo royo-royo.

Satu hal yang jelas dalam kasus ini adalah angka persentase pembagian saham, dan hitung-hitungan ahli ekonomi tentang berapa keuntungan yang berhasil direngkuh saingannya lord Nadiem Makarim itu. Sisanya, apalagi bagi nasib pengemudinya serta sanak-keluarganya tentu saja buram.

Hari ini, penulis mencoba melalui masa megap-megap bersama Uber dengan bolak-balik memecah jalanan Surabaya yang super padat itu tiga kali (edyan, wes koyok ngombe obat ae).

Benarlah kata orang jika manusia cenderung bertobat ketika mendekati ajal, demikian pula dengan para driver ini. Ketiganya manis – ucapan dan pelayanannya tentu saja – tidak peduli yang roda dua ataupun setir bunder. Semoga tiga driver yang menghantar penulis kali ini bisa jadi sampel yang representatif. Untuk melindungi keamanan bangsa dan negara, identitas driver akan disamarkan, karena toh penulis juga lupa namanya apalagi wajahnya hehe (lali jenenge eling rasane).

Jika biasanya pengemudi ini bertanya lokasi penjemputan dan tujuan dengan sewot tapi minta bintang lima, kini mereka berbeda. Hari ini, ketika hidup mereka tinggal hitungan jam, mereka berusaha jadi teman ngobrol yang asik. Jika penumpang diam, mereka mulai gelisah, posisi duduknya diubah ke kiri dan kanan, badannya condong ke depan, balik lagi ke belakang, berusaha merawat obrolan agar tetap langgeng, persis gebetanmu ketika pdkt.

Mbak kuliah di mana?”

“Kampus x”

“Jauh ya Mbak kalau ke kampus”

“Iya”

“Biasanya naik Uber juga?”

“Iya”

“Besok udah gak bisa lagi, Mbak. Mbak bisanya naik helikopter atau odong-odong”

Mereka sudah tiada mampu ngomel lagi jika kita dapat promo besar-besaran dan tetap minta kita bayar sesuai tarif asli, karena ya buat apa. Mereka juga tiada mengejar lagi prestasi bintang lima atau tambahan komentar seperti ‘good service’ atau ‘good conversation’, karena ya pada akhirnya hanya tinggal kenangan. Penulis menyarankan, jika para driver itu punya predikat expert sebagai penampung keluh kesah penumpang, pernyataan pada aplikasinya harap di-screenshoot, dicetak, dilaminating, dan dipigurakan.

Eits, tapi ini berlaku hanya bagi driverdriver jujur yang tiada pernah kepikiran untuk mendua atau berselingkuh. Kalau Uber, ya Uber thok. Pembaca kan pasti tahu, bahwa penumpang yang Anda temui di jalan pakai helmnya hijau tapi ternyata pesan pakai aplikasi sebelah adalah hal lumrah. Mereka mengaku, bahwa ikut satu aplikasi saja tidak dapat memberi laba signifikan untuk mengganti uang bensin, uang servis kendaraan yang MILIK PRIBADI itu, dan sedikit penghargaan karena panas-panasan dan macet di jalan.

Para pengemudi ini lantas curhat pada penulis. Mereka hanya diSARANkan berpindah ke aplikasi Grab. Selain itu, pendapat lain muncul seperti ‘Baru saja nyemplung 6 bulan, eh Uber sudah tinggal kenangan’. Pendapat yang terakhir ini memang sedih, sama seperti kamu yang ditinggal doi ketika lagi sayang-sayangnya.

Menyoal Uber dan kawan-kawannya memang tidak pernah mencapai garis akhir di belantara Indonesia. Tiada lagi kecocokan konsep driver sebagai mitra dengan keadaan di lapangan. Apalagi jika ditarik kepada konsep relasi kuasa buruh-majikan, proletar-borjuis ala-ala Marx dan sekte-sektenya. Jika memungkinkan, mereka bisa saja bangkit dari kubur untuk mengkaji ulang polemik transportasi online yang ruwet ini.

Belum usai perkara SPM dan regulasi transportasi beserta tetek-bengeknya, sudah muncul kegaduhan baru lainnya. Dan semua muaranya adalah teriak protes keparnoan netijen Indonesia pada pengangguran.

Tapi tidak apa, fenomena ini akan membuat para pekerja media tetap bisa berkarya. Lah wong ada saja persekutuan driver yang berdemo, macam safari dari satu kota ke kota lainnya, muatan berita jadi tetap variatif dan lestari sebagai kolom permanen kalau-kalau tidak ada politisi yang bikin ulah yang bisa diberitakan.

Namun, bagi pengguna loyal macam penulis ini, hilangnya Uber dari gawai kita merupakan suatu peristiwa yang menguras emosi kesedihan. Padahal, rasanya seperti baru kemarin menggunakan aplikasi Uber untuk pertama kalinya, merasakan canggungnya, bolak-balik melihat indikator posisi driver yang akan menjemput kita sambil deg-deg-an macam dijemput pacar. Fitur Uber Eats saja belum sempat kita cicipi nikmatnya, eh keburu dipek Grab. Mereka ini gak mikir apa, bahwa sebagian pelanggan kan bisa jadi sensi atau phobia warna hijau, bisa jadi mengingatkan mereka pada simbol institusi atau kenangan tertentu yang menyakitkan.

Tapi, yang pasti, kepada umat sekalian, para driver ini menyampaikan kata-kata terakhirnya. Bersiaplah beralih ke aplikasi yang lain! Mbok ya, kalau bisa, berpindah hati ke yang produk lokal Indonesia saja. Biar mahal dikit tak apa, yang penting gak banyak promonya, hehe.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 154

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 177

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks