Hipster Lokal dalam Paradoks Selera Musik dan Fashion ‘Anti-Mainstream’ 10 4329

Tulisan silat bagian kedua oleh: M. Ricky Sabastian*

Hipster lokal ini aneh, mereka tidak meletakkan indikator-indikator jelas yang bisa dirujuk untuk menilai seberapa ‘hip’ musik yang mereka dengarkan. Sebagai contoh, terdapat sebuah record label indie di Indonesia yang didirikan Daffa Andika, yaitu Kolibri Rekords. Dapur rekaman yang sudah beroperasi sejak 2013 ini, setidaknya memiliki 4 band dan 3 penyanyi solo yang magrok dibawah naungannya, sebut saja Flowr Pit, Grrrl Gang, ATSEA, Low Pink, Gizpel, Bedchamber, dan Seahorse.

Deretan nama band maupun solo artist tersebut merupakan idola baru dalam belantika permusikan di tanah air, terutama kalangan hipster. Tak bisa dipungkiri, para talent yang digaet oleh Kolibri Rekords agaknya sedikit beragam dalam hal genre musikal, ada yang agak-agak shoegazing, ada pula yang membawa dream pop, namun disisi lain, hal yang serupa justru tampak dalam hal style pakaian dari para talent. Celakanya—atau beruntungnya (saya belum bisa memastikan)—mereka semua sama-sama ber-fashion hipster!

Penulis makin tidak seberapa paham bagaimana tren musik yang sedang beredar di kalangan hipster, apa yang ‘dijual’ semakin bias antara fashion mereka atau murni musik mereka. Apakah karya mereka cukup otentik? Tentu tidak! Pengaruh eksternal memanglah sesuatu yang enggan untuk dihindari. Berbagai lagu yang didengar, literatur yang dibaca, film yang ditonton, semuanya hasil internalisasi pengaruh karya seniman sebelumnya, yang secara tidak sadar akan merasuk dalam alam bawah sadar. Mereka biasanya menolak untuk disama-samakan, tapi ya karya mereka sendiri yang menjawab.

Menurut Adi Renaldi (2017) dalam tulisan sarkastiknya yang dimuat di Vice Indonesia, band Rock N Roll kebanggan ‘anak indie’ seperti The S.I.G.I.T-pun melakukan copycat terhadap band luar negeri seperti The Shrine dan Wolfmother. Selain itu ia juga memaparkan band-band semacam Hurt ‘Em yang menjiplak Trap Them, Bedchamber yang menjiplak Beach Fossils, Rusa Militan yang menjiplak Fleet Foxes, ataupun Bangkutaman yang juga menjiplak semua rilisan Sarah Records.

Ter-influence? Toh mereka tidak menjelaskan dengan gamblang influence mereka siapa.

Pure copycat? Lebih menjurus kesana memang (mau bilang langsung “iya memang” kok kek gimana gitu, duh!).

Hipster itu arogan! Bagaimana tidak?

Mereka sengaja membuat adanya keberjarakan sosial. Coba kalian amati gaya berpakaian mereka yang sok anti-mainstream, padahal terkadang malah terlihat seperti fashion terrorists, namun ironisnya bagi mereka itulah hip/keren. Jika diamati lebih jauh, mereka terlihat serupa. Memakai celana jeans yang bawahnya dilipat sebanyak 3-4 kali supaya kaos kaki warna-warni mereka terlihat, memakai kaus dengan tulisan-tulisan yang terkadang menohok mata seperti “I have daddy issues” dan sebagainya.

Satu kunci gaya para hipster adalah sikap laid back dan elemen vintage. “Seragam” wajib para hipster biasanya kaus retro hasil belanja di pasar loak, tight jeans, sneakers tua, kemeja flanel kotak-kotak dan kacamata Wayfarer ala Bob Dylan. Beberapa selebriti yang sering disebut hipster antara lain adalah Chloe Sevigny, Ellen Page, Kirsten Dunst, dan Michelle Williams yang kerap terlihat mengenakan kaos vintage dengan jeans, sneaker dan tidak ketinggalan topi dan kacamata wayfarer.

Tidak usah bertele-tele, intinya terdapat beberapa pertanyaan yang bisa diajukan mengenai fenomena ini. Sebenarnya hal ini juga tidak akan berpengaruh banyak terhadap sistem sosial masyarakat Indonesia, toh mereka (Hipster lokal) juga merasa eksklusif meskipun beli baju masih di thrift store, sok-sok’an-nya tetap saja dan sama saja dari waktu ke waktu, mereka berkata “buat apa beli baru, belanja preloved stuffs itu mengasyikkan dan membutuhkan seni memilah memilih tahu!” Ya, sudahlah, kita tahu apa soal keren-kerenan, bedanya, kalau kere-kerean, kita paling apa adanya daripada para hipster lokal itu.

Oh ya, pertanyaan-pertanyaan itu adalah:

  1. Mengapa terjadi fenomena tersebut di Indonesia yang notabene sudah memiliki budaya luhur berabad-abad?
  2. Mengapa hipster lokal memilih sikap untuk menjadi berbeda dari kebanyakan? Bukankah hipster juga merupakan fenomena global?
  3. Komodifikasi seperti apa yang dilakukan industri kreatif dalam mengeksploitasi para hipster?
  4. Apakah hipster adalah maniak gaya baru yang perlu dijadikan common enemy? Mengapa?
  5. Apa beda hipster di Indonesia dan di luar negeri?
  6. Apakah dampak (positif maupun negatif) yang terjadi akibat ekspansi budaya hipster ke Indonesia?
  7. Apakah hipster sama sekali tidak membuat antitesa dari tren arus utama, melainkan hanya pseudo-alternatif?
  8. Apa fase yang telah dilalui para hipster sehingga mereka menjadi elitis dan menganggap yang tidak sama dengan mereka adalah sebuah bentuk ke-alay-an atau cringe?
  9. Benarkah para hipster mengerti secara mendalam mengenai seni dan absurditas? Dalam kasus ini, apakah video klip – video klip Zeke Khaseli merupakan seni absurd atau malah sampah?
  10. Apakah hipster harus musnah dari muka bumi?

 

Udah, jawab aja sendiri, tapi simpan sendiri juga jawaban kalian ya. Maaf kalo nyinyir. Eh bukannya Kalikata emang gudangnya nyinyiran ya?

(Disclaimer dari Editor: Andai tulisan ini menyakiti anda, silakan geruduk langsung penulis yang bersangkutan di kandangnya. Ia biasa ditemukan telah tergeletak tak berdaya. Silakan diringkus!).

Previous ArticleNext Article

10 Comments

  1. yah saya kira di tulisan babak kedua kamu bakal membahas lebih ekstensif ternyata terminologi hipster yang kamu bedah masih sebatas identitas. jangan2 ini politik identitas dalam perspektif budaya tanding yang sedang kamu bangun yah?

    atau memang menurut kamu hipster murni masalah identitas bukan dampak yg lebih sistematis?

    oiya perihal otentik? masih relevan gitu dibicarakan? kalau kamu bedah seluruh bangunan partitur yg ada di fear of black planet ternyata cuma hasil sampling yg terlalu mahsyur dan kaya?

    oiya kalau kamu tidak terlalu tertarik dengan musik kita bergerak ke literasi deh….. gimana nasib eka kurniawan yg ternyata terpengaruh dengan gabriel garcia marquez? atau sepuvelda mungkin

    jadi yg otentik seperti apa ini? kalau ternyata gamelan juga terpengaruh budaya india?

    salam
    masih dari orang yang sama
    Ganesha Patria
    penulis di kemarinsore.club
    pernah terlibat di beberapa pergerakan mahasiwa dan sempat punya band crust punk bernama PisauxNalar

  2. hallo semua
    ahirnya ada yang menulis tentang ini,ini menjadi keresahan gw jg slama ini.untungnya ada yang nulis jd gw tinggal jawab pertanyaannya aja.

    1.karena mereka cuma ingin terlihat keren,dan yang keren menurut mreka ya dari amerika atau negara lainnya asal jangan indonesia,karena indonesia itu gak keren.manabisa batik dan wayang jadi keren kalau digabungkan dengan musik electronic pop atau shoegazerock?? padahal Barasuara melakukan hal terssebut(iga massardi pakai batik kalau manggung dan mereka sangat keren.membawa keindonesiaan keranah garage rock.salut buat BS.

    2.ya karena intinya hipster ingin terlihat berbeda.ketika semua orang berlaku berbeda,ya pada akhirnya sama semua. sama sama terlihat konyol.

    3.gw kurang tau apa artinya komodifikasi

    4.bukan enemy,justru mereka harus kita ajarin bahwa yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos.

    5.bedanya hipster indonesia tidak menghargai budaya yang mereka punya mereka cenderung meniru gaya hipster luar ngeri,amerika.mereka diamerika mengadaptasi gaya gaya berpakaian orang dulu di negara mereka dan mendegarkan musik” zaman dulu dr negara mereka spt jazz funk blues.kalau memang seharusnya seperti itu gw fikir hipster indo harusnya mendengarkan kroncong atau gambang kromong,ya logisnya lebih mendengarkan barasuara,ttatw,asteriska,fourtwnty or float yang masih ada nuansa kelokalannya bukan malah mendengarkan arctic monkeys or band shoegazepop yang enggak ada hubungannya sama budaya kita

    6.beda beda,kalau gw tulis disini bisa panjang banget

    7.ya,mreka tidak berseragam bersama sama diantara yang berseragam dan menjadikan mereka berseragam karena mereka tidak berseragam bersama sama,anehnya

    8.mereka pasti dulu alay dan sekarang enggak ingin terjebak difase yang sama,yang mana menurut mereka bergaya hipster adalah keren

    9.mereka mencoba untuk mengerti tapi padahal enggak,gw sudah lihat dan cek kolibri records yang penulis sebutkan diatas.melihat videoklip mereka gw setuju mereka hipster bgt,videonya ada yang diluar negeri dan tempat” yang tidak diketahui,tp tetep gak jelas dan gak ada maksudnya ya supaya keren aja tapi tidak memiliki nilai lebih.bandingkan dengan videoklip scaller yang the youth yang mereka berjalan dipegunungan dan hutan indonesia.hipster sepertinya kurang bangga dengan apa yang indonesia punya.mungkin mereka malu dan merasa situs” diindonesia enggak keren

    10.tidak,mereka adalah orang orang yang kita harus ajarin musik musik indie yang keren tuh gimana, gak selalu musik indie hipster yang keren justru banyak loh yang keren.seperti beberapa band yang gw sebutin diatas tadi.

    sekian maaf kalau kepanjangan gw rasa ini keresahan yang sebagaian besar orang rasakan juga.jadi gue hanya mewakili pendapat mereka mereka yang enggan berpendapat karena takut diteror oleh netizen hipster

    terima kasih,tabik

    #nowplaying Danilla – Telisik

    1. ngomong opoo masnya nih..

      anw menanggapi komentar orang2 yg mas Teddy Abas bilang

      “mereka ingin cuman terlihat keren”
      “mereka harus kita ajarin bahwa yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos”
      “mereka pasti dulu alay dan sekarang enggak ingin terjebak difase yang sama,yang mana menurut mereka bergaya hipster adalah keren”

      keknya mereka dressed juga bukan buat ngimpress situ deh pak. they looked ‘belaga keren’ ya karna mereka suka sama apa yg mereka pake. dan pede. susah sih emang. biasanya org kalo gapede trus gayanya gak nyampe. ngomelnya gitu ngejudge orang.

      Dan justru yg bapak Teddy Abas bilang anak hipster “yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos” aslinya justru gak pedulian. lo lo gue gue. mo gayak lo pake sempak jadi sweater. mereka juga bodo amat.dan gak akan ngerasa they feel superior wit their style. duh

      alay? gue curiga sih malah bapak tedi Abas ini yg mungkin dulunya alay, dan mungkin juga masih sampai saat ini.

      “tidak,mereka adalah orang orang yang kita harus ajarin musik musik indie yang keren tuh gimana, gak selalu musik indie hipster yang keren justru banyak loh yang keren.seperti beberapa band yang gw sebutin diatas tadi”

      siaaaap bos, paling paham bgt nih sama dunia permusikan.. pokoknya selain musik ato band favorit kesukaan abang Teddy Abbas jelek lah intinya. musti diajarin lagi .
      luar biasa…

      jadi orang nerima dikit ngapa. emang kudu wajib sama banget sama situ.

      Budi
      tinggal di goa, kalo mejeng cuman sendal jepit. iye bugil.
      daripada pake baju dikatein hipster, sok keren

  3. udah sifatnya budaya populer, termasuk musik populer, kalau mereka reproduksi produk budaya ya dari melihat siapa yang dianggap mentornya di industri tersebut. Semua berlomba – lomba menjadi yang paling stand out atau bahkan yang paling familiar biar laku, toh siapa yang mau beli kalau barangnya sama dengan yang lain? tastemaker udah lewat udah ga ada inovasi yang benar – benar murni dari scratch ada, hampir semua produk kolase. Tapi itu yang membuat roda industri kultur berputar, karena regenerasi dan reproduksi, membosankan memang, tapi kita manusia gampang amnesia kok dan gampang kangen. So chill out, and nikmati saja. Hipster yang punya mental sombong dan memandang rendah orang yang beda taste biarin aja, mereka bakal belajar dari pengalaman kalau gajian ga cuma datang dari selera budaya, well kecuali jurnalis musik dan kurator seni. Mau hipster, mau plebs, di kedua lingkaran tersebut masing – masing punya tribal assholes sendiri2. Nah tuh aku udah nambah jumlah reader artikel ini.

  4. dan memang hipster ada dari follow up orang – orang yang bosan dengan budaya massa yang monoton dan massal, akhirnya membuat alternatif, tapi karena mulai banyak yang menyentuh permukaan saja/drifter dan replikasi mulai tiada henti, subgenre pun mulai gak henti – henti muncul murni untuk keluar dari keseragaman, sampai nanti ketemu titik jenuh, dilupakan sampai akhirnya dirayakan lagi saat orang – orang mulai kangen atau yang kelewatan momen baru nemu.

    oiya satu lagi ketika menyebut kata keren, itu udah terkesan menyisir permukaan saja, paling netral ya “bagus” , flashy/mentereng tanpa isi ya ga bagus, cuma memang sih keren, berisi tapi tidak keren pun ya tetap bagus, contoh; lagu – lagu akustik iwan fals, untuk ukuran jaman sekarang secara kulit luar tidak keren, tapi masih bagus, karena masih relevan.

    komodifikasi: hal yang umumnya tidak dianggap, akhirnya bisa laku dijual. Atau yang biasanya diproduksi dan dijual terbatas karena alat produksi tidak masif dan buatan tangan, dengan harga terjangkau, jadinya mahal karena langka dan punya value “keren” atau malah jadi produksi massal karena punya value populer dan diproduksi secara cepat dan massal. Komodifikasi bisa membuat suatu komoditas jadi turun value/nilanya dari nilai aslinya atau mungkin malah naik kelas daripada nilai aslinya tentunya dengan harga yang mahal.

  5. intinya, mau anti keren, juga paradoks, walhasil maunya dianggap beda dari “the new mainstream” yaitu jargon “gue anti-mainstream” yang udah mulai ubiquitous atau mainstream. Mau anti mainstream pun juga paradoks karena udah banyak yang pengen jadi “anti-mainstream”

    intinya, kalo ga ditulis dengan gaya begini, orang juga ga bakal terpelatuk untuk baca wkwkwkwk

  6. oh iya, satu lagi, memilih dandanan vintage bukan murni karena approval masyarakat, saya sudah lama menggemari dekade 80an, karena apa, penuh warna dan warna – warnanya hangat, dan cerah bahkan yang warna gelap sekalipun, dari musiknya sampai fashionnya, dari yang ribet sampai yang simple sekalipun. Murni karena kebutuhan nostalgia dan penyangkalan atas wajah dunia yang makin reot dan penuh konflik ini.

  7. Hipster itu fase kok, nanti juga ilang sendiri pas udah punya anak.

    yah, kalo masalah celana, nanti juga ada masanya ketika celananya masih digulung 3-4 kali, plus berjenggot.. tapi datengnya ke pengajian..

    *mantan hipster masa lampau, yhaa… beyond hipster lah, saya mah protohipster…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Surat untuk Bu Pemred dan Semua Anak Jakarte 0 124

Jokowi yang baru-baru saja melempar isu ibukota baru harus bertanggung jawab pada banyak hal. Mula-mula, ehm, ya tentang tuduhan bahwa “Jakarta baru” di Borneo sana adalah semacam pembelokan isu. Tapi tuduhan macam ini biasanya diselesaikan oleh buzzer-buzzer aktip kreatip, jadi kita skip untuk sementara.

Soal serius dari ini: siapa yang mengobati sakit hati Bu Demes yang sudah telanjur tinggal di Jakarta, dan ketika lagi sayang-sayangnya malah ditinggal minggat status ke-ibukota-annya? Berlaku pula teruntuk pesohor-pesohor yang menjadi besar nyali artisnya lantaran status ibukota.

Saya pernah suatu ketika menyimak obrolan superior mahasiswa “lo-gue” yang di telinga bikin geli tapi menarik. Mereka membahas mengapa hidup di Jakarta “ngangenin”, kendati macetnya sungguh luar bioskop, belum lagi polutan-polutan yang biadab. Kata salah satu tokoh dalam obrolan itu (tampaknya ia salah satu selebgram, dilihat dari alis mata dan warna semir rambutnya yang, ehm, keluar lintasan): “..yaa gimana2 jakarta tuh pusat. Lo mo ngomong macet kek, tapi semua-mua dari sana”.

Asoi betul logikanya. Dan dalam beberapa hal betul.

Tapi apa yang ditawarkan Jokowi dari perpindahan Ibukota? Atau sebetulnya tak perlu resep penawar apa-apa bagi mereka yang sudah telanjur sayang? Bagi mereka yang sudah kepalang mengadu nasib di Jakarta? Atau, yang paling gaswat, jangan-jangan tak perlu solusi apapun tentang ini karena perpindahan itu ada atau tiadanya tak punya dampak apapun?

Apa mau syahrini pindah ke Kaltim dan menjadi artis bau tambang? Atau sinetron-sinetron menjadi belepotan dan pada akhirnya membuat semacam reality show “apa dan bagaimana hidup di tengah tambang”?

Jika pada akhirnya perpindahan ibukota Cuma soal pindah status, yaa lalu yang berpindah apanya. Apakah tak ada cara lain yang lebih elegan untuk bakar duit?

Skian dan terima gadis.

 

Joni Locke

Belajar filsahwat, merantau ke negeri jauh.

Editor Picks