Hipster Lokal dalam Paradoks Selera Musik dan Fashion ‘Anti-Mainstream’ 10 5135

Tulisan silat bagian kedua oleh: M. Ricky Sabastian*

Hipster lokal ini aneh, mereka tidak meletakkan indikator-indikator jelas yang bisa dirujuk untuk menilai seberapa ‘hip’ musik yang mereka dengarkan. Sebagai contoh, terdapat sebuah record label indie di Indonesia yang didirikan Daffa Andika, yaitu Kolibri Rekords. Dapur rekaman yang sudah beroperasi sejak 2013 ini, setidaknya memiliki 4 band dan 3 penyanyi solo yang magrok dibawah naungannya, sebut saja Flowr Pit, Grrrl Gang, ATSEA, Low Pink, Gizpel, Bedchamber, dan Seahorse.

Deretan nama band maupun solo artist tersebut merupakan idola baru dalam belantika permusikan di tanah air, terutama kalangan hipster. Tak bisa dipungkiri, para talent yang digaet oleh Kolibri Rekords agaknya sedikit beragam dalam hal genre musikal, ada yang agak-agak shoegazing, ada pula yang membawa dream pop, namun disisi lain, hal yang serupa justru tampak dalam hal style pakaian dari para talent. Celakanya—atau beruntungnya (saya belum bisa memastikan)—mereka semua sama-sama ber-fashion hipster!

Penulis makin tidak seberapa paham bagaimana tren musik yang sedang beredar di kalangan hipster, apa yang ‘dijual’ semakin bias antara fashion mereka atau murni musik mereka. Apakah karya mereka cukup otentik? Tentu tidak! Pengaruh eksternal memanglah sesuatu yang enggan untuk dihindari. Berbagai lagu yang didengar, literatur yang dibaca, film yang ditonton, semuanya hasil internalisasi pengaruh karya seniman sebelumnya, yang secara tidak sadar akan merasuk dalam alam bawah sadar. Mereka biasanya menolak untuk disama-samakan, tapi ya karya mereka sendiri yang menjawab.

Menurut Adi Renaldi (2017) dalam tulisan sarkastiknya yang dimuat di Vice Indonesia, band Rock N Roll kebanggan ‘anak indie’ seperti The S.I.G.I.T-pun melakukan copycat terhadap band luar negeri seperti The Shrine dan Wolfmother. Selain itu ia juga memaparkan band-band semacam Hurt ‘Em yang menjiplak Trap Them, Bedchamber yang menjiplak Beach Fossils, Rusa Militan yang menjiplak Fleet Foxes, ataupun Bangkutaman yang juga menjiplak semua rilisan Sarah Records.

Ter-influence? Toh mereka tidak menjelaskan dengan gamblang influence mereka siapa.

Pure copycat? Lebih menjurus kesana memang (mau bilang langsung “iya memang” kok kek gimana gitu, duh!).

Hipster itu arogan! Bagaimana tidak?

Mereka sengaja membuat adanya keberjarakan sosial. Coba kalian amati gaya berpakaian mereka yang sok anti-mainstream, padahal terkadang malah terlihat seperti fashion terrorists, namun ironisnya bagi mereka itulah hip/keren. Jika diamati lebih jauh, mereka terlihat serupa. Memakai celana jeans yang bawahnya dilipat sebanyak 3-4 kali supaya kaos kaki warna-warni mereka terlihat, memakai kaus dengan tulisan-tulisan yang terkadang menohok mata seperti “I have daddy issues” dan sebagainya.

Satu kunci gaya para hipster adalah sikap laid back dan elemen vintage. “Seragam” wajib para hipster biasanya kaus retro hasil belanja di pasar loak, tight jeans, sneakers tua, kemeja flanel kotak-kotak dan kacamata Wayfarer ala Bob Dylan. Beberapa selebriti yang sering disebut hipster antara lain adalah Chloe Sevigny, Ellen Page, Kirsten Dunst, dan Michelle Williams yang kerap terlihat mengenakan kaos vintage dengan jeans, sneaker dan tidak ketinggalan topi dan kacamata wayfarer.

Tidak usah bertele-tele, intinya terdapat beberapa pertanyaan yang bisa diajukan mengenai fenomena ini. Sebenarnya hal ini juga tidak akan berpengaruh banyak terhadap sistem sosial masyarakat Indonesia, toh mereka (Hipster lokal) juga merasa eksklusif meskipun beli baju masih di thrift store, sok-sok’an-nya tetap saja dan sama saja dari waktu ke waktu, mereka berkata “buat apa beli baru, belanja preloved stuffs itu mengasyikkan dan membutuhkan seni memilah memilih tahu!” Ya, sudahlah, kita tahu apa soal keren-kerenan, bedanya, kalau kere-kerean, kita paling apa adanya daripada para hipster lokal itu.

Oh ya, pertanyaan-pertanyaan itu adalah:

  1. Mengapa terjadi fenomena tersebut di Indonesia yang notabene sudah memiliki budaya luhur berabad-abad?
  2. Mengapa hipster lokal memilih sikap untuk menjadi berbeda dari kebanyakan? Bukankah hipster juga merupakan fenomena global?
  3. Komodifikasi seperti apa yang dilakukan industri kreatif dalam mengeksploitasi para hipster?
  4. Apakah hipster adalah maniak gaya baru yang perlu dijadikan common enemy? Mengapa?
  5. Apa beda hipster di Indonesia dan di luar negeri?
  6. Apakah dampak (positif maupun negatif) yang terjadi akibat ekspansi budaya hipster ke Indonesia?
  7. Apakah hipster sama sekali tidak membuat antitesa dari tren arus utama, melainkan hanya pseudo-alternatif?
  8. Apa fase yang telah dilalui para hipster sehingga mereka menjadi elitis dan menganggap yang tidak sama dengan mereka adalah sebuah bentuk ke-alay-an atau cringe?
  9. Benarkah para hipster mengerti secara mendalam mengenai seni dan absurditas? Dalam kasus ini, apakah video klip – video klip Zeke Khaseli merupakan seni absurd atau malah sampah?
  10. Apakah hipster harus musnah dari muka bumi?

 

Udah, jawab aja sendiri, tapi simpan sendiri juga jawaban kalian ya. Maaf kalo nyinyir. Eh bukannya Kalikata emang gudangnya nyinyiran ya?

(Disclaimer dari Editor: Andai tulisan ini menyakiti anda, silakan geruduk langsung penulis yang bersangkutan di kandangnya. Ia biasa ditemukan telah tergeletak tak berdaya. Silakan diringkus!).

Previous ArticleNext Article

10 Comments

  1. yah saya kira di tulisan babak kedua kamu bakal membahas lebih ekstensif ternyata terminologi hipster yang kamu bedah masih sebatas identitas. jangan2 ini politik identitas dalam perspektif budaya tanding yang sedang kamu bangun yah?

    atau memang menurut kamu hipster murni masalah identitas bukan dampak yg lebih sistematis?

    oiya perihal otentik? masih relevan gitu dibicarakan? kalau kamu bedah seluruh bangunan partitur yg ada di fear of black planet ternyata cuma hasil sampling yg terlalu mahsyur dan kaya?

    oiya kalau kamu tidak terlalu tertarik dengan musik kita bergerak ke literasi deh….. gimana nasib eka kurniawan yg ternyata terpengaruh dengan gabriel garcia marquez? atau sepuvelda mungkin

    jadi yg otentik seperti apa ini? kalau ternyata gamelan juga terpengaruh budaya india?

    salam
    masih dari orang yang sama
    Ganesha Patria
    penulis di kemarinsore.club
    pernah terlibat di beberapa pergerakan mahasiwa dan sempat punya band crust punk bernama PisauxNalar

  2. hallo semua
    ahirnya ada yang menulis tentang ini,ini menjadi keresahan gw jg slama ini.untungnya ada yang nulis jd gw tinggal jawab pertanyaannya aja.

    1.karena mereka cuma ingin terlihat keren,dan yang keren menurut mreka ya dari amerika atau negara lainnya asal jangan indonesia,karena indonesia itu gak keren.manabisa batik dan wayang jadi keren kalau digabungkan dengan musik electronic pop atau shoegazerock?? padahal Barasuara melakukan hal terssebut(iga massardi pakai batik kalau manggung dan mereka sangat keren.membawa keindonesiaan keranah garage rock.salut buat BS.

    2.ya karena intinya hipster ingin terlihat berbeda.ketika semua orang berlaku berbeda,ya pada akhirnya sama semua. sama sama terlihat konyol.

    3.gw kurang tau apa artinya komodifikasi

    4.bukan enemy,justru mereka harus kita ajarin bahwa yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos.

    5.bedanya hipster indonesia tidak menghargai budaya yang mereka punya mereka cenderung meniru gaya hipster luar ngeri,amerika.mereka diamerika mengadaptasi gaya gaya berpakaian orang dulu di negara mereka dan mendegarkan musik” zaman dulu dr negara mereka spt jazz funk blues.kalau memang seharusnya seperti itu gw fikir hipster indo harusnya mendengarkan kroncong atau gambang kromong,ya logisnya lebih mendengarkan barasuara,ttatw,asteriska,fourtwnty or float yang masih ada nuansa kelokalannya bukan malah mendengarkan arctic monkeys or band shoegazepop yang enggak ada hubungannya sama budaya kita

    6.beda beda,kalau gw tulis disini bisa panjang banget

    7.ya,mreka tidak berseragam bersama sama diantara yang berseragam dan menjadikan mereka berseragam karena mereka tidak berseragam bersama sama,anehnya

    8.mereka pasti dulu alay dan sekarang enggak ingin terjebak difase yang sama,yang mana menurut mereka bergaya hipster adalah keren

    9.mereka mencoba untuk mengerti tapi padahal enggak,gw sudah lihat dan cek kolibri records yang penulis sebutkan diatas.melihat videoklip mereka gw setuju mereka hipster bgt,videonya ada yang diluar negeri dan tempat” yang tidak diketahui,tp tetep gak jelas dan gak ada maksudnya ya supaya keren aja tapi tidak memiliki nilai lebih.bandingkan dengan videoklip scaller yang the youth yang mereka berjalan dipegunungan dan hutan indonesia.hipster sepertinya kurang bangga dengan apa yang indonesia punya.mungkin mereka malu dan merasa situs” diindonesia enggak keren

    10.tidak,mereka adalah orang orang yang kita harus ajarin musik musik indie yang keren tuh gimana, gak selalu musik indie hipster yang keren justru banyak loh yang keren.seperti beberapa band yang gw sebutin diatas tadi.

    sekian maaf kalau kepanjangan gw rasa ini keresahan yang sebagaian besar orang rasakan juga.jadi gue hanya mewakili pendapat mereka mereka yang enggan berpendapat karena takut diteror oleh netizen hipster

    terima kasih,tabik

    #nowplaying Danilla – Telisik

    1. ngomong opoo masnya nih..

      anw menanggapi komentar orang2 yg mas Teddy Abas bilang

      “mereka ingin cuman terlihat keren”
      “mereka harus kita ajarin bahwa yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos”
      “mereka pasti dulu alay dan sekarang enggak ingin terjebak difase yang sama,yang mana menurut mereka bergaya hipster adalah keren”

      keknya mereka dressed juga bukan buat ngimpress situ deh pak. they looked ‘belaga keren’ ya karna mereka suka sama apa yg mereka pake. dan pede. susah sih emang. biasanya org kalo gapede trus gayanya gak nyampe. ngomelnya gitu ngejudge orang.

      Dan justru yg bapak Teddy Abas bilang anak hipster “yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos” aslinya justru gak pedulian. lo lo gue gue. mo gayak lo pake sempak jadi sweater. mereka juga bodo amat.dan gak akan ngerasa they feel superior wit their style. duh

      alay? gue curiga sih malah bapak tedi Abas ini yg mungkin dulunya alay, dan mungkin juga masih sampai saat ini.

      “tidak,mereka adalah orang orang yang kita harus ajarin musik musik indie yang keren tuh gimana, gak selalu musik indie hipster yang keren justru banyak loh yang keren.seperti beberapa band yang gw sebutin diatas tadi”

      siaaaap bos, paling paham bgt nih sama dunia permusikan.. pokoknya selain musik ato band favorit kesukaan abang Teddy Abbas jelek lah intinya. musti diajarin lagi .
      luar biasa…

      jadi orang nerima dikit ngapa. emang kudu wajib sama banget sama situ.

      Budi
      tinggal di goa, kalo mejeng cuman sendal jepit. iye bugil.
      daripada pake baju dikatein hipster, sok keren

  3. udah sifatnya budaya populer, termasuk musik populer, kalau mereka reproduksi produk budaya ya dari melihat siapa yang dianggap mentornya di industri tersebut. Semua berlomba – lomba menjadi yang paling stand out atau bahkan yang paling familiar biar laku, toh siapa yang mau beli kalau barangnya sama dengan yang lain? tastemaker udah lewat udah ga ada inovasi yang benar – benar murni dari scratch ada, hampir semua produk kolase. Tapi itu yang membuat roda industri kultur berputar, karena regenerasi dan reproduksi, membosankan memang, tapi kita manusia gampang amnesia kok dan gampang kangen. So chill out, and nikmati saja. Hipster yang punya mental sombong dan memandang rendah orang yang beda taste biarin aja, mereka bakal belajar dari pengalaman kalau gajian ga cuma datang dari selera budaya, well kecuali jurnalis musik dan kurator seni. Mau hipster, mau plebs, di kedua lingkaran tersebut masing – masing punya tribal assholes sendiri2. Nah tuh aku udah nambah jumlah reader artikel ini.

  4. dan memang hipster ada dari follow up orang – orang yang bosan dengan budaya massa yang monoton dan massal, akhirnya membuat alternatif, tapi karena mulai banyak yang menyentuh permukaan saja/drifter dan replikasi mulai tiada henti, subgenre pun mulai gak henti – henti muncul murni untuk keluar dari keseragaman, sampai nanti ketemu titik jenuh, dilupakan sampai akhirnya dirayakan lagi saat orang – orang mulai kangen atau yang kelewatan momen baru nemu.

    oiya satu lagi ketika menyebut kata keren, itu udah terkesan menyisir permukaan saja, paling netral ya “bagus” , flashy/mentereng tanpa isi ya ga bagus, cuma memang sih keren, berisi tapi tidak keren pun ya tetap bagus, contoh; lagu – lagu akustik iwan fals, untuk ukuran jaman sekarang secara kulit luar tidak keren, tapi masih bagus, karena masih relevan.

    komodifikasi: hal yang umumnya tidak dianggap, akhirnya bisa laku dijual. Atau yang biasanya diproduksi dan dijual terbatas karena alat produksi tidak masif dan buatan tangan, dengan harga terjangkau, jadinya mahal karena langka dan punya value “keren” atau malah jadi produksi massal karena punya value populer dan diproduksi secara cepat dan massal. Komodifikasi bisa membuat suatu komoditas jadi turun value/nilanya dari nilai aslinya atau mungkin malah naik kelas daripada nilai aslinya tentunya dengan harga yang mahal.

  5. intinya, mau anti keren, juga paradoks, walhasil maunya dianggap beda dari “the new mainstream” yaitu jargon “gue anti-mainstream” yang udah mulai ubiquitous atau mainstream. Mau anti mainstream pun juga paradoks karena udah banyak yang pengen jadi “anti-mainstream”

    intinya, kalo ga ditulis dengan gaya begini, orang juga ga bakal terpelatuk untuk baca wkwkwkwk

  6. oh iya, satu lagi, memilih dandanan vintage bukan murni karena approval masyarakat, saya sudah lama menggemari dekade 80an, karena apa, penuh warna dan warna – warnanya hangat, dan cerah bahkan yang warna gelap sekalipun, dari musiknya sampai fashionnya, dari yang ribet sampai yang simple sekalipun. Murni karena kebutuhan nostalgia dan penyangkalan atas wajah dunia yang makin reot dan penuh konflik ini.

  7. Hipster itu fase kok, nanti juga ilang sendiri pas udah punya anak.

    yah, kalo masalah celana, nanti juga ada masanya ketika celananya masih digulung 3-4 kali, plus berjenggot.. tapi datengnya ke pengajian..

    *mantan hipster masa lampau, yhaa… beyond hipster lah, saya mah protohipster…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Menangisi Gagalnya Nobar di Bioskop 0 207

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Cucu Ahmad Kurnia, sudah fix menunda pembukaan bioskop yang seharusnya terjadwal 29 Juli ini, sampai waktu yang belum ditentukan. Tentu saja niatnya baik: demi memutus mata rantai penularan COVID-19, yang makin hari angkanya makin naik gak karu-karuan.

Di kolom ini tentu saja kita tidak perlu membahas efektivitas kebijakan menahan pembukaan sejumlah tempat hiburan malam dan bioskop, namun membiarkan tempat wisata lain (yang lebih banyak digunakan untuk pesepeda dadakan) tetap beroperasi.

Yang jelas, sebagian dari kita tentu mengeluh dalam hati. Rasanya bak diberi harapan tapi diputus tiba-tiba. Setelah lebih dari seribu bioskop di 52 kota di Indonesia tutup sejak 26 Maret 2020, mengurung jiwa-jiwa hedon kita. Berbulan-bulan loh gak nonton bioskop! Rasanya mau mati, kalau katanya influencer review makanan. Se-introvert-introvert-nya saya (maaf ngaku-ngaku), saya pun sama dengan kalian: rindu nonton bioskop.

Saya paham betul anyep-nya ketawa sendirian sepanjang nonton film genre komedi, dan sepinya menangis sendiri saat nonton adegan yang mengharukan. Saya sadar betul betapa gak mbois-nya nonton film di layar kecil HP, atau paling banter di layar laptop 14 inci. Saya juga gak bisa merasakan sensasi spiker D*lby all around you, apalagi layar Imax yang segede lapangan futsal itu.

Kita tentu rindu rasa-rasa ketika baru masuk gedung bioskop, mendengar teriakan mas-mas penjual popcorn supaya kita tertarik beli dagangannya, berasa artis yang disoraki fans. Kita tentu kangen sekali perjuangan mencari promo tiket melalui platform daring. Kita mungkin rindu rasa balap-balapan pre-order booking kursi untuk penayangan premiere film kesayangan yang sudah kita tunggu-tunggu serialnya.

Sudah lama juga ya rasanya gak makan popcorn, yang gara-gara saking asyiknya sampai habis duluan sebelum filmnya mulai. Sampai lupa rasanya pamer foto tiket nobar bioskop film yang sedang hype di Instagram Story—yang kalau teman-teman kita kebetulan sudah nonton duluan, kita wajib ancam mereka dengan segenap kekuatan jiwa-raga supaya mereka tidak spoiler.

Tentu jadi kerinduan bersama pula buat pegangan tangan dengan kekasih sepanjang film berlangsung—apalagi kalau filmnya horor (wes ngakuo ae, aku yo eruh modusmu!)—untuk saling menyalurkan rasa hangat tubuh, meminimalisir begitu br*ngs*knya dinginnya AC gedung teater. Hal sesederhana tertawa bersama penonton lain di adegan-adegan konyol, atau berteriak bersama ketika ada jumpscare, semua itu bikin kangen.

Kita semua memang bersedih dan tak kunjung kelar mengeluh dengan tertundanya pembukaan bioskop ini. Mengutuki dalam hati: koronah gatheeeel! Walau sebenarnya sudah ada Netflix yang sudah dibuka blokirnya oleh Indihome, atau aplikasi lain (dan website streaming ilegal yang belum diblokir pemerintah) yang bisa diakses, menambal kerinduan-kerinduan kita akan nobar di bioskop.

Tapi mungkin gara-gara kita sibuk berduka, kita sampai lupa ada yang nasibnya lebih terkatung-katung.

Ketua Umum Asosisasi Produser Film Indonesia menyebut, ada sekitar 15 proyek film yang gagal produksi tahun ini. Hal ini tentu berdampak pula bagi para sutradara dan kisah produksi mereka. Mulai dari Joko Anwar sampai Livi Zheng, semua gigit jari.

Para aktor dan aktris, walau setenar Reza Rahadian dan Tara Basro sekalipun, di masa begini, pupus sudah seluruh jadwal syuting yang telah tersusun rapi sepanjang tahun 2020. Jangan lupa keseluruhan kru film, yang dalam sekali pembuatan film, bisa ada 80-100 orang bahkan lebih. Bisa jadi, side job supir G*jek sempat melintas di benak mereka (atau bahkan ada yang sudah merealisasikannya) demi menyambung hidup.

“Loh kan filmnya bisa tayang secara onlen”. Mulut gampang bicara. Tapi bagaimana menggaji kru film dan biaya produksi yang bermiliar-miliar hanya dengan online streaming? Bagaimana caranya menutup kekurangan biaya 80-90 persen yang selama ini didapatnya dari bioskop?

Juga mereka, para reviewer atau kritikus film, tak lagi punya bahan untuk dikomentari. Tak lagi mereka mengirim tulisan untuk media, di mana juga berarti hilangnya sebagian besar penghasilan (dan passion) mereka.

Mbak-mbak penyobek tiket nontonmu, mereka yang membersihkan sampah bekas popcorn yang kamu tinggalkan begitu saja di kursi, tukang pel kamar mandi eks-eks-wan, mereka semua juga ingin kembali ke bioskop. Mereka yang harus dirumahkan, kena pengurangan gaji, atau bahkan PHK, semua sama kangennya dengan bioskop seperti kita, gaes!

Tapi, berbeda dengan kamu semua yang rindu mencari hiburan di tengah kebosanan, mereka ingin kembali ke bioskop karena rindu kembali bekerja.

Kata Kakak Anji: “Corona gak semengerikan itu kok”. Mungkin benar bagi sebagian orang, tapi tidak bagi mereka, para pejuang seni garda terdepan dan pekerja kreatif, yang sama sekali kehilangan pekerjaannya gara-gara Corona.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Keterancaman Klepon yang Tak Islami 0 262

Kejutan deklaratif dari satu akun media sosial tentang pengumuman penting, bahwa klepon adalah jajanan “tak Islami”, menggegerkan orang banyak. Sebagian besarnya tentu saja mempertanyakan dengan nada nyinyir tapi juga was-was: apakah kita sepengangguran itu hingga menyoal sebuah objek tak penting dengan klaim biner Islami dan tak Islami? Apa kehabisan alternatip membahas yang lain, yang important-important aja gitu?

Eittsss. Maap, sekadar mengingatkan. Klepon adalah subjek maha-penting. Ia berdiri mewarisi ingatan kolektif populasi, mengantarai kenangan-kenangan bertetangga dan pulang kampung. Ia barang sederhana yang ditumpangi oleh bejibun kepentingan pertemuan, kenduren, rapat-rapat, dan bingkisan hangat — itu sebabnya, klepon juga bagian penting dari peristiwa kebudayaan. Singkatnya, klepon adalah pantulan diri kita sendiri. Menyebutnya sebagai tidak penting tentu adalah penyederhanaan dan ketakpahaman tentang hakikat rasa dan ikatan peristiwa.

Lalu, tentang klaim tak Islami. Kau tahu, resep berjualan praktis dan taktis kini sering mengawinkan apapun dengan agama: hotel Syariah, pariwisata Islami, bank Syariah, kredit umat (sebuah peristilahan yang sangat membingungkan), gadai Syariah dan tentu saja termasuk jajanan Islami.

Maka, kemegahan klepon sebagai barang maha-penting hanya bisa dikalahkan secara ekonomi dengan melabelinya sebagai yang lain, yang asing, yang ‘bukan Islam’. Seolah-olah kompetisi melawan klepon — seperti halnya politik — hanya dapat dimenangkan dengan jurus agama. Masih ingat dengan Inul Daratista? Ia harus dihajar dengan ‘goyang ngebor tak bermoral’ sekadar untuk menghabisinya dari puncak daftar lagu paling laku saat itu.

Tapi lalu tatkala dilacak muasal geger ini, tak ditemukan akun yang tersemat dalam gambar provokatif iklan klepon. Antara lenyap atau palsu. Dan, sebagaimana biasanya, segera muncul spekulasi bahwa ini adalah cara-cara licik untuk mendiskreditkan umat Islam. Sebuah pemikiran yang dapat saja diterima, meski tak kalah ganjilnya.

Keanehan terbesarnya adalah mengapa kita menjadi begitu mendarahdagingkan corak berpikir Islam dan bukan Islam, kelompok sana dan kelompok sini. Seolah-olah Islam senantiasa berada dalam keterancaman dari luar yang gawat, yang sangat genting dan berisiko membinasakan. Semua hal yang tak sesuai, berbeda, apalagi melawan, akan segera masuk kotak sebagai “mereka yang mengancam”, hal-hal yang nista dan patut diberi pelajaran.

Pada saat yang sama, ada semacam kesadaran bahwa kita mempersepsi diri sebagai kelompok yang sangat rapuh ringkih, yang mudah goyah oleh sesuatu yang berbeda. Kita paranoid dengan apa saja yang dikemas dengan agama. Kita ketakutan pada manipulasi postingan klepon hingga mengancam pelakunya sebagai mendiskreditkan Islam!

Kau kenal PKI? Yang katanya ateis itu? Berpuluh-puluh tahun punah, terlarang, dan dibunuh, tapi ada orang percaya bahwa 60 juta PKI masih hidup di Indonesia. Kita dibentuk dan dibesarkan oleh keyakinan politis bahwa eksistensi kita akan selalu rentan. Terhadap apapun yang diyakini berbahaya.

Mungkin saja ada benarnya, bahwa ada bahaya di luar sana. Bahwa ada upaya sistematis kebangkitan PKI, bahwa ada strategi rapi untuk melemahkan umat. Tapi, kita perlahan lupa hidup untuk apa. Terlampau sibuk mengutuki (hantu?) apa-apa saja yang dirasa tajam mengancam.

Dan yang jauh lebih gawat dari itu: kita larut pada bentukan-bentukan arah politik para elite nun jauh di sana. Kau tahu, mereka-mereka ini rajin sekali membentuk opini. Mereka harus membuatmu yakin terhadap musuh tertentu, agar kau menyatu bersama kau-kau yang lain, membentuk sekumpulan yang solid dan akan segera diklaim sebagai “dukungan politik” bagi elite yang memulai isu tersebut.

Kita seolah-olah dipersatukan sebagai umat yang melawan hal-hal tak “Islami”, tapi pada akhirnya, kita dilihat sebagai sekumpulan pemilik suara, digembalakan oleh pemandu yang mahir mengawin-ngawinkan apapun dengan agama. Untuk dukungan politik. Untuk pemilu lalu dan nanti tentu saja.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks