Hipster Lokal dalam Paradoks Selera Musik dan Fashion ‘Anti-Mainstream’ 10 6030

Tulisan silat bagian kedua oleh: M. Ricky Sabastian*

Hipster lokal ini aneh, mereka tidak meletakkan indikator-indikator jelas yang bisa dirujuk untuk menilai seberapa ‘hip’ musik yang mereka dengarkan. Sebagai contoh, terdapat sebuah record label indie di Indonesia yang didirikan Daffa Andika, yaitu Kolibri Rekords. Dapur rekaman yang sudah beroperasi sejak 2013 ini, setidaknya memiliki 4 band dan 3 penyanyi solo yang magrok dibawah naungannya, sebut saja Flowr Pit, Grrrl Gang, ATSEA, Low Pink, Gizpel, Bedchamber, dan Seahorse.

Deretan nama band maupun solo artist tersebut merupakan idola baru dalam belantika permusikan di tanah air, terutama kalangan hipster. Tak bisa dipungkiri, para talent yang digaet oleh Kolibri Rekords agaknya sedikit beragam dalam hal genre musikal, ada yang agak-agak shoegazing, ada pula yang membawa dream pop, namun disisi lain, hal yang serupa justru tampak dalam hal style pakaian dari para talent. Celakanya—atau beruntungnya (saya belum bisa memastikan)—mereka semua sama-sama ber-fashion hipster!

Penulis makin tidak seberapa paham bagaimana tren musik yang sedang beredar di kalangan hipster, apa yang ‘dijual’ semakin bias antara fashion mereka atau murni musik mereka. Apakah karya mereka cukup otentik? Tentu tidak! Pengaruh eksternal memanglah sesuatu yang enggan untuk dihindari. Berbagai lagu yang didengar, literatur yang dibaca, film yang ditonton, semuanya hasil internalisasi pengaruh karya seniman sebelumnya, yang secara tidak sadar akan merasuk dalam alam bawah sadar. Mereka biasanya menolak untuk disama-samakan, tapi ya karya mereka sendiri yang menjawab.

Menurut Adi Renaldi (2017) dalam tulisan sarkastiknya yang dimuat di Vice Indonesia, band Rock N Roll kebanggan ‘anak indie’ seperti The S.I.G.I.T-pun melakukan copycat terhadap band luar negeri seperti The Shrine dan Wolfmother. Selain itu ia juga memaparkan band-band semacam Hurt ‘Em yang menjiplak Trap Them, Bedchamber yang menjiplak Beach Fossils, Rusa Militan yang menjiplak Fleet Foxes, ataupun Bangkutaman yang juga menjiplak semua rilisan Sarah Records.

Ter-influence? Toh mereka tidak menjelaskan dengan gamblang influence mereka siapa.

Pure copycat? Lebih menjurus kesana memang (mau bilang langsung “iya memang” kok kek gimana gitu, duh!).

Hipster itu arogan! Bagaimana tidak?

Mereka sengaja membuat adanya keberjarakan sosial. Coba kalian amati gaya berpakaian mereka yang sok anti-mainstream, padahal terkadang malah terlihat seperti fashion terrorists, namun ironisnya bagi mereka itulah hip/keren. Jika diamati lebih jauh, mereka terlihat serupa. Memakai celana jeans yang bawahnya dilipat sebanyak 3-4 kali supaya kaos kaki warna-warni mereka terlihat, memakai kaus dengan tulisan-tulisan yang terkadang menohok mata seperti “I have daddy issues” dan sebagainya.

Satu kunci gaya para hipster adalah sikap laid back dan elemen vintage. “Seragam” wajib para hipster biasanya kaus retro hasil belanja di pasar loak, tight jeans, sneakers tua, kemeja flanel kotak-kotak dan kacamata Wayfarer ala Bob Dylan. Beberapa selebriti yang sering disebut hipster antara lain adalah Chloe Sevigny, Ellen Page, Kirsten Dunst, dan Michelle Williams yang kerap terlihat mengenakan kaos vintage dengan jeans, sneaker dan tidak ketinggalan topi dan kacamata wayfarer.

Tidak usah bertele-tele, intinya terdapat beberapa pertanyaan yang bisa diajukan mengenai fenomena ini. Sebenarnya hal ini juga tidak akan berpengaruh banyak terhadap sistem sosial masyarakat Indonesia, toh mereka (Hipster lokal) juga merasa eksklusif meskipun beli baju masih di thrift store, sok-sok’an-nya tetap saja dan sama saja dari waktu ke waktu, mereka berkata “buat apa beli baru, belanja preloved stuffs itu mengasyikkan dan membutuhkan seni memilah memilih tahu!” Ya, sudahlah, kita tahu apa soal keren-kerenan, bedanya, kalau kere-kerean, kita paling apa adanya daripada para hipster lokal itu.

Oh ya, pertanyaan-pertanyaan itu adalah:

  1. Mengapa terjadi fenomena tersebut di Indonesia yang notabene sudah memiliki budaya luhur berabad-abad?
  2. Mengapa hipster lokal memilih sikap untuk menjadi berbeda dari kebanyakan? Bukankah hipster juga merupakan fenomena global?
  3. Komodifikasi seperti apa yang dilakukan industri kreatif dalam mengeksploitasi para hipster?
  4. Apakah hipster adalah maniak gaya baru yang perlu dijadikan common enemy? Mengapa?
  5. Apa beda hipster di Indonesia dan di luar negeri?
  6. Apakah dampak (positif maupun negatif) yang terjadi akibat ekspansi budaya hipster ke Indonesia?
  7. Apakah hipster sama sekali tidak membuat antitesa dari tren arus utama, melainkan hanya pseudo-alternatif?
  8. Apa fase yang telah dilalui para hipster sehingga mereka menjadi elitis dan menganggap yang tidak sama dengan mereka adalah sebuah bentuk ke-alay-an atau cringe?
  9. Benarkah para hipster mengerti secara mendalam mengenai seni dan absurditas? Dalam kasus ini, apakah video klip – video klip Zeke Khaseli merupakan seni absurd atau malah sampah?
  10. Apakah hipster harus musnah dari muka bumi?

 

Udah, jawab aja sendiri, tapi simpan sendiri juga jawaban kalian ya. Maaf kalo nyinyir. Eh bukannya Kalikata emang gudangnya nyinyiran ya?

(Disclaimer dari Editor: Andai tulisan ini menyakiti anda, silakan geruduk langsung penulis yang bersangkutan di kandangnya. Ia biasa ditemukan telah tergeletak tak berdaya. Silakan diringkus!).

Previous ArticleNext Article

10 Comments

  1. yah saya kira di tulisan babak kedua kamu bakal membahas lebih ekstensif ternyata terminologi hipster yang kamu bedah masih sebatas identitas. jangan2 ini politik identitas dalam perspektif budaya tanding yang sedang kamu bangun yah?

    atau memang menurut kamu hipster murni masalah identitas bukan dampak yg lebih sistematis?

    oiya perihal otentik? masih relevan gitu dibicarakan? kalau kamu bedah seluruh bangunan partitur yg ada di fear of black planet ternyata cuma hasil sampling yg terlalu mahsyur dan kaya?

    oiya kalau kamu tidak terlalu tertarik dengan musik kita bergerak ke literasi deh….. gimana nasib eka kurniawan yg ternyata terpengaruh dengan gabriel garcia marquez? atau sepuvelda mungkin

    jadi yg otentik seperti apa ini? kalau ternyata gamelan juga terpengaruh budaya india?

    salam
    masih dari orang yang sama
    Ganesha Patria
    penulis di kemarinsore.club
    pernah terlibat di beberapa pergerakan mahasiwa dan sempat punya band crust punk bernama PisauxNalar

  2. hallo semua
    ahirnya ada yang menulis tentang ini,ini menjadi keresahan gw jg slama ini.untungnya ada yang nulis jd gw tinggal jawab pertanyaannya aja.

    1.karena mereka cuma ingin terlihat keren,dan yang keren menurut mreka ya dari amerika atau negara lainnya asal jangan indonesia,karena indonesia itu gak keren.manabisa batik dan wayang jadi keren kalau digabungkan dengan musik electronic pop atau shoegazerock?? padahal Barasuara melakukan hal terssebut(iga massardi pakai batik kalau manggung dan mereka sangat keren.membawa keindonesiaan keranah garage rock.salut buat BS.

    2.ya karena intinya hipster ingin terlihat berbeda.ketika semua orang berlaku berbeda,ya pada akhirnya sama semua. sama sama terlihat konyol.

    3.gw kurang tau apa artinya komodifikasi

    4.bukan enemy,justru mereka harus kita ajarin bahwa yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos.

    5.bedanya hipster indonesia tidak menghargai budaya yang mereka punya mereka cenderung meniru gaya hipster luar ngeri,amerika.mereka diamerika mengadaptasi gaya gaya berpakaian orang dulu di negara mereka dan mendegarkan musik” zaman dulu dr negara mereka spt jazz funk blues.kalau memang seharusnya seperti itu gw fikir hipster indo harusnya mendengarkan kroncong atau gambang kromong,ya logisnya lebih mendengarkan barasuara,ttatw,asteriska,fourtwnty or float yang masih ada nuansa kelokalannya bukan malah mendengarkan arctic monkeys or band shoegazepop yang enggak ada hubungannya sama budaya kita

    6.beda beda,kalau gw tulis disini bisa panjang banget

    7.ya,mreka tidak berseragam bersama sama diantara yang berseragam dan menjadikan mereka berseragam karena mereka tidak berseragam bersama sama,anehnya

    8.mereka pasti dulu alay dan sekarang enggak ingin terjebak difase yang sama,yang mana menurut mereka bergaya hipster adalah keren

    9.mereka mencoba untuk mengerti tapi padahal enggak,gw sudah lihat dan cek kolibri records yang penulis sebutkan diatas.melihat videoklip mereka gw setuju mereka hipster bgt,videonya ada yang diluar negeri dan tempat” yang tidak diketahui,tp tetep gak jelas dan gak ada maksudnya ya supaya keren aja tapi tidak memiliki nilai lebih.bandingkan dengan videoklip scaller yang the youth yang mereka berjalan dipegunungan dan hutan indonesia.hipster sepertinya kurang bangga dengan apa yang indonesia punya.mungkin mereka malu dan merasa situs” diindonesia enggak keren

    10.tidak,mereka adalah orang orang yang kita harus ajarin musik musik indie yang keren tuh gimana, gak selalu musik indie hipster yang keren justru banyak loh yang keren.seperti beberapa band yang gw sebutin diatas tadi.

    sekian maaf kalau kepanjangan gw rasa ini keresahan yang sebagaian besar orang rasakan juga.jadi gue hanya mewakili pendapat mereka mereka yang enggan berpendapat karena takut diteror oleh netizen hipster

    terima kasih,tabik

    #nowplaying Danilla – Telisik

    1. ngomong opoo masnya nih..

      anw menanggapi komentar orang2 yg mas Teddy Abas bilang

      “mereka ingin cuman terlihat keren”
      “mereka harus kita ajarin bahwa yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos”
      “mereka pasti dulu alay dan sekarang enggak ingin terjebak difase yang sama,yang mana menurut mereka bergaya hipster adalah keren”

      keknya mereka dressed juga bukan buat ngimpress situ deh pak. they looked ‘belaga keren’ ya karna mereka suka sama apa yg mereka pake. dan pede. susah sih emang. biasanya org kalo gapede trus gayanya gak nyampe. ngomelnya gitu ngejudge orang.

      Dan justru yg bapak Teddy Abas bilang anak hipster “yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos” aslinya justru gak pedulian. lo lo gue gue. mo gayak lo pake sempak jadi sweater. mereka juga bodo amat.dan gak akan ngerasa they feel superior wit their style. duh

      alay? gue curiga sih malah bapak tedi Abas ini yg mungkin dulunya alay, dan mungkin juga masih sampai saat ini.

      “tidak,mereka adalah orang orang yang kita harus ajarin musik musik indie yang keren tuh gimana, gak selalu musik indie hipster yang keren justru banyak loh yang keren.seperti beberapa band yang gw sebutin diatas tadi”

      siaaaap bos, paling paham bgt nih sama dunia permusikan.. pokoknya selain musik ato band favorit kesukaan abang Teddy Abbas jelek lah intinya. musti diajarin lagi .
      luar biasa…

      jadi orang nerima dikit ngapa. emang kudu wajib sama banget sama situ.

      Budi
      tinggal di goa, kalo mejeng cuman sendal jepit. iye bugil.
      daripada pake baju dikatein hipster, sok keren

  3. udah sifatnya budaya populer, termasuk musik populer, kalau mereka reproduksi produk budaya ya dari melihat siapa yang dianggap mentornya di industri tersebut. Semua berlomba – lomba menjadi yang paling stand out atau bahkan yang paling familiar biar laku, toh siapa yang mau beli kalau barangnya sama dengan yang lain? tastemaker udah lewat udah ga ada inovasi yang benar – benar murni dari scratch ada, hampir semua produk kolase. Tapi itu yang membuat roda industri kultur berputar, karena regenerasi dan reproduksi, membosankan memang, tapi kita manusia gampang amnesia kok dan gampang kangen. So chill out, and nikmati saja. Hipster yang punya mental sombong dan memandang rendah orang yang beda taste biarin aja, mereka bakal belajar dari pengalaman kalau gajian ga cuma datang dari selera budaya, well kecuali jurnalis musik dan kurator seni. Mau hipster, mau plebs, di kedua lingkaran tersebut masing – masing punya tribal assholes sendiri2. Nah tuh aku udah nambah jumlah reader artikel ini.

  4. dan memang hipster ada dari follow up orang – orang yang bosan dengan budaya massa yang monoton dan massal, akhirnya membuat alternatif, tapi karena mulai banyak yang menyentuh permukaan saja/drifter dan replikasi mulai tiada henti, subgenre pun mulai gak henti – henti muncul murni untuk keluar dari keseragaman, sampai nanti ketemu titik jenuh, dilupakan sampai akhirnya dirayakan lagi saat orang – orang mulai kangen atau yang kelewatan momen baru nemu.

    oiya satu lagi ketika menyebut kata keren, itu udah terkesan menyisir permukaan saja, paling netral ya “bagus” , flashy/mentereng tanpa isi ya ga bagus, cuma memang sih keren, berisi tapi tidak keren pun ya tetap bagus, contoh; lagu – lagu akustik iwan fals, untuk ukuran jaman sekarang secara kulit luar tidak keren, tapi masih bagus, karena masih relevan.

    komodifikasi: hal yang umumnya tidak dianggap, akhirnya bisa laku dijual. Atau yang biasanya diproduksi dan dijual terbatas karena alat produksi tidak masif dan buatan tangan, dengan harga terjangkau, jadinya mahal karena langka dan punya value “keren” atau malah jadi produksi massal karena punya value populer dan diproduksi secara cepat dan massal. Komodifikasi bisa membuat suatu komoditas jadi turun value/nilanya dari nilai aslinya atau mungkin malah naik kelas daripada nilai aslinya tentunya dengan harga yang mahal.

  5. intinya, mau anti keren, juga paradoks, walhasil maunya dianggap beda dari “the new mainstream” yaitu jargon “gue anti-mainstream” yang udah mulai ubiquitous atau mainstream. Mau anti mainstream pun juga paradoks karena udah banyak yang pengen jadi “anti-mainstream”

    intinya, kalo ga ditulis dengan gaya begini, orang juga ga bakal terpelatuk untuk baca wkwkwkwk

  6. oh iya, satu lagi, memilih dandanan vintage bukan murni karena approval masyarakat, saya sudah lama menggemari dekade 80an, karena apa, penuh warna dan warna – warnanya hangat, dan cerah bahkan yang warna gelap sekalipun, dari musiknya sampai fashionnya, dari yang ribet sampai yang simple sekalipun. Murni karena kebutuhan nostalgia dan penyangkalan atas wajah dunia yang makin reot dan penuh konflik ini.

  7. Hipster itu fase kok, nanti juga ilang sendiri pas udah punya anak.

    yah, kalo masalah celana, nanti juga ada masanya ketika celananya masih digulung 3-4 kali, plus berjenggot.. tapi datengnya ke pengajian..

    *mantan hipster masa lampau, yhaa… beyond hipster lah, saya mah protohipster…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Semua Akan Korea Pada Waktunya, Tapi Gak Gini Juga 0 158

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

 

“Semua akan Korea pada waktunya”, begitulah kalimat yang dapat mewakili kondisi masyarakat negara +62.

Sempat menghina K-pop-ers dengan sebutan alay karena dianggap mengidolakan artis-artis negeri ginseng, kini wajah mulus tak bercela para artis Korea ramai kita jumpai di iklan-iklan merek lokal. Bisa dibilang para artis Korea tersebut dijadikan koentji dalam marketing produk dan jasa.

Kapan hari, internet diguncang berita aktris Felicya Angelista yang diwujudkan ngidamnya oleh sang suami untuk video call bersama pemeran Mas Mafia Vincenzo, Song Joong Ki (baca lagi: Wajah Ganteng Song Joong Ki dan Tabiat Penonton Drama Korea).

Usai viral karena dianggap fan yang beruntung, muncullah berita aktor “Space Sweepers” tersebut didapuk sebagai brand ambassador skinker milik Felicya, Scarlett Whitening. Hancik, cuma marketing ternyata. Hampir bersamaan, muncul lagi berita yang menyebutkan bahwa boy group TREASURE akan menjadi brand ambassador bimbingan belajar online “penguasa” stasiun televisi kita, Ruangguru.

Pemilihan artis Korea sebagai brand ambassador merek lokal bukanlah hal baru.  Tahun 2016 silam, aktor “The Heirs” Lee Min Ho didapuk jadi brand ambassador Luwak White Koffie. Kemudian, cara ini diikuti oleh Mie Sedap yang menjadikan Siwon “Super Junior” sebagai brand ambassador-nya untuk mempromosikan mie rasa ayam pedas korea. Lalu, disusul Tokopedia yang membuat kita ter-kamcagiya (kaget) dengan menggandeng boy group terpopuler segalaksi bima sakti dalam promosinya.

Memang menggandeng artis Korea bisa menjadi jalan ninja untuk mempopulerkan merek produk atau jasa. Merek tersebut akan seketika menjadi buah bibir para fans artis Korea, baik membicarakan artis idola mereka atau sangking tajir melintirnya perusahaan tersebut.

Buktinya, permen Kopiko selalu menjadi buah bibir dan viral setiap permen rasa kopi tersebut muncul di adegan-adegan drama Vincenzo dan Mine. Benar-benar tidak rugi setelah menggelontorkan miliyaran rupiah!

Selain menjadi populer, produk atau jasa dijamin akan laris manis setelah memilih artis Korea sebagai bintang iklan mereka. Itu karena kesetiaan para fans artis Korea untuk mendukung artis idola mereka yang tidak dapat diragukan lagi.

Masih ingat kan dengan kasus antre menu BTS Meal dari McDonald’s? Jangankan dijadikan bintang iklan, lha wong barang yang “nampil” di siaran langsung artis Korea saja bisa ludes dibeli para fans.

Mungkin Korean celebrity endorsement bisa menjadi marketing tool yang sangat efektif, tapi mbok ya artisnya disesuaikan dengan mereknya. Misalnya, pemilihan boy group TREASURE sebagai brand ambassador Ruangguru. Jujurly, menurut saya sangat aneh karena boy group ini tidak memiliki sangkut paut dengan dunia pendidikan.

Masih banyak artis yang terkenal memiliki prestasi akademik semasa sekolah seperti Cha Eun Woo “ASTRO” atau Giselle “aespa” yang lebih bisa merepresentasikan merek tersebut.

Dan anehnya lagi, produk dan jasa yang memakai artis Korea tersebut tidak merambah pasar Koerea Selatan. Saya bisa memaklumi Kopiko yang mengeluarkan uang miliyaran rupiah untuk menjadi sponsor beberapa drama korea, karena mereka memang memasarkan kopi tersebut ke sana.

Tapi, bagaimana dengan Scarlett Whitening? Apakah Anda yakin wajah putih mulus Song Joong Ki didapat dari memakai produk tersebut, lha wong produknya aja tidak ada di sana.

Meski menjadi marketing tool yang efektif, saya berharap Korean celebrity endorsement ini tidak dijadikan tren yang “wajib” diikuti. Masih banyak, kok artis Indonesia yang mampu merepresentasikan sebuah merek, apalagi untuk menjadikan iklan menjadi viral.

Contohnya  pemilihan komika Babe Cabita sebagai brand ambassador menjadikan iklan MS Glow menjadi viral. Meski banyak yang sewot karena Babe Cabita kurang ganteng, tapi menurut iklan tersebut sangat realistis dan relatable. Karena, wajah Babe Cabita yang lebih glowing seusai menggunakan produk MS Glow jauh lebih bisa dipercaya dari pada wajah mulus Song Joongki usai menggunakan skinker lokal, hehe.

 

 

Panduan Killing Time 12 Tahun untuk yang Terkasih, Pak Juliari 0 152

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

 

Majelis hakim Pengadilan Tipikor sudah ketok palu vonis terhadap mantan Mensos Juliari Peter Batubara 12 tahun penjara dan denda 500 juta subsidair 6 bulan kurungan. Juliari terbukti sah menerima suap 10 ribu rupiah per bansos alias 32,4 M kalo dikumpulin.

Kami gak mau membuli seperti yang mahabenar tuan dan nyonya netijen. Kami tahu, betapa tersiksa batin Pak Juliari yang kami kasihi. Kalo katanya arek-arek saiki: sudah kena mental.

Apalagi, Bapak sempat memohon belas kasih buat meringankan hukuman, karena tak bisa membayangkan akan meninggalkan anak istri di rumah. Sungguh sebuah teladan family man bagi kaum penerus bangsa. Poin ini lebih membuat kami tak tega menambah-nambahi beban Bapak dengan sumpah serapah (karena porsi itu sudah diamalkan netijen dengan sebaik-baiknya).

Untuk itu, pada kesempatan ini, kami justru ingin memberi sejumlah saran: panduan mengisi waktu selama nanti di kurungan. Tujuannya tentu agar Bapak tidak cepat bosan.

Panduan ini kami rasa manjur buat Bapak. Karena, sebagian besarnya sudah kami lakukan selama 1,5 tahun ke belakang, yang harus banyak-banyak di rumah karena terdampak pandemi (dan terdampak dapet bansos kualitas jelek gara-gara anggarannya dipotong).

Ini yang pertama, Pak. Bapak tentu ingat kopi dalgona yang sempat tenar itu. Sudah lama sekali tren membuatnya ditinggalkan dengan begitu cepat. Ada baiknya tren ini dihidupkan kembali.

Ikuti panduannya ya, Pak! Campurkan kopi hitam sachet pahitnya kehidupan dengan air panasnya neraka bagi koruptor. Kemudian aduk terus menerus dengan rasa ego sampai berbusa dan meluapkan keserakahan. Terakhir, letakkan buih kopi itu di atas segelas susu Bear Brand yang masih aja 15 ribu sampe sekarang. Selamat menikmati!

Cara ini cukup mudah Pak. Kami rasa, meminta kopi dan susu ke sipir penjara bukan suatu hal yang neko-neko kok. Pasti dikabulkan. Wong minta kamar VIP aja (udah pasti) dilayani kan, hehehehe.

Kedua, era pandemi ini eranya webinar, Pak. Hidup ini gak afdol kalo belum ikut webinar, minimal sekali seminggu. Tentu posisi Bapak bukan sebagai peserta yang cuma nunut “izin nyimak”. Pak Juliari mah pantesnya narasumber utama, keynote speaker.

Tema yang cocok tentu: “Say No to Korupsi!”. Masyarakat di Indonesia kita tercinta ini Pak, lebih percaya testimoni daripada hasil riset, soalnya mereka males baca. Kita lebih suka motivasi dari mereka yang telah berpengalaman dan sukses, ya seperti Bapak ini.

Materinya sederhana, Pak. Boleh dilengkapi power point yang eye-catching biar keliatan berkredibel. Inti pembicaraannya cuma ini: “Sumpah gais, dipenjara itu gak enak. Plis jangan korupsi! Ini gak di-endorse ya. Real testi”

Sasaran peserta buat webinar ini luas banget, Pak. Mulai dari pejabat rt-rw, sampai lingkaran pertama kayak jabatan terdahulu Bapak. Materinya bakal relateable. Dan semoga mampu menyadarkan mereka biar kapok korupsi. Yah, meskipun kalimat terakhir ini kayaknya utopis hehe.

Ketiga, coba deh, Pak, mulai nonton drama korea. Atau kalau langkah itu masih terlalu ekstrem buat Bapak, minimal nonton video klip boyband dan girlband korea. Saya jamin sih nagih, pengen lagi, pengen terus.

Bapak juga harus ingat, sebagian dari netijen kita ini penggemar apa-apa yang berbau Korea, Pak. Apapun yang trending nomer 1 di Twitter sudah pasti adalah hasil cuitan akun berfoto idol Kpop yang substansinya gak nyambung sama sekali sama topik yang lagi dibicarakan. Itu sudah pertanda seberapa menguasainya populasi mereka di alam dunia maya.

Artinya, ini bisa jadi langkah strategis Bapak untuk menguasai mereka. Mulai dengan menyukai apa yang mereka sukai, dekati, rayu, dan jadi akrab sama mereka. Bila perlu, kita bisa bikin ruang diskusi di Clubhouse yang bahas soal drakor terbaru, Pak.

Hukuman Bapak cuma empat tahun untuk tidak dipilih dalam jabatan publik. Empat tahun itu cuma kurang dari 1 periode presiden, Pak. Bentar itu, mah. Selanjutnya, netijen Korean wave yang sudah mencintai Bapak, tetap bisa menghantarkan Bapak ke kursi tertinggi di dunya ini.

Yah kalo impian ini sulit terwujud, setidaknya Bapak nanti tinggal ganti nama jadi JPB, bikin Youtube, dan bismillah komisaris BUMN.

Demikian panduan ini dibuat dengan sepenuh hati Pak. Kami percaya Bapak pasti bisa melalui cobaan ini semua dengan kepala tegak dan kebanggaan di dada. Kalo kami aja bisa melakukan hal-hal ini selama setahun di rumah aja, Bapak juga pasti bisa, tinggal dikaliin 12.

Editor Picks