Hipster Lokal dalam Paradoks Selera Musik dan Fashion ‘Anti-Mainstream’ 10 3266

Tulisan silat bagian kedua oleh: M. Ricky Sabastian*

Hipster lokal ini aneh, mereka tidak meletakkan indikator-indikator jelas yang bisa dirujuk untuk menilai seberapa ‘hip’ musik yang mereka dengarkan. Sebagai contoh, terdapat sebuah record label indie di Indonesia yang didirikan Daffa Andika, yaitu Kolibri Rekords. Dapur rekaman yang sudah beroperasi sejak 2013 ini, setidaknya memiliki 4 band dan 3 penyanyi solo yang magrok dibawah naungannya, sebut saja Flowr Pit, Grrrl Gang, ATSEA, Low Pink, Gizpel, Bedchamber, dan Seahorse.

Deretan nama band maupun solo artist tersebut merupakan idola baru dalam belantika permusikan di tanah air, terutama kalangan hipster. Tak bisa dipungkiri, para talent yang digaet oleh Kolibri Rekords agaknya sedikit beragam dalam hal genre musikal, ada yang agak-agak shoegazing, ada pula yang membawa dream pop, namun disisi lain, hal yang serupa justru tampak dalam hal style pakaian dari para talent. Celakanya—atau beruntungnya (saya belum bisa memastikan)—mereka semua sama-sama ber-fashion hipster!

Penulis makin tidak seberapa paham bagaimana tren musik yang sedang beredar di kalangan hipster, apa yang ‘dijual’ semakin bias antara fashion mereka atau murni musik mereka. Apakah karya mereka cukup otentik? Tentu tidak! Pengaruh eksternal memanglah sesuatu yang enggan untuk dihindari. Berbagai lagu yang didengar, literatur yang dibaca, film yang ditonton, semuanya hasil internalisasi pengaruh karya seniman sebelumnya, yang secara tidak sadar akan merasuk dalam alam bawah sadar. Mereka biasanya menolak untuk disama-samakan, tapi ya karya mereka sendiri yang menjawab.

Menurut Adi Renaldi (2017) dalam tulisan sarkastiknya yang dimuat di Vice Indonesia, band Rock N Roll kebanggan ‘anak indie’ seperti The S.I.G.I.T-pun melakukan copycat terhadap band luar negeri seperti The Shrine dan Wolfmother. Selain itu ia juga memaparkan band-band semacam Hurt ‘Em yang menjiplak Trap Them, Bedchamber yang menjiplak Beach Fossils, Rusa Militan yang menjiplak Fleet Foxes, ataupun Bangkutaman yang juga menjiplak semua rilisan Sarah Records.

Ter-influence? Toh mereka tidak menjelaskan dengan gamblang influence mereka siapa.

Pure copycat? Lebih menjurus kesana memang (mau bilang langsung “iya memang” kok kek gimana gitu, duh!).

Hipster itu arogan! Bagaimana tidak?

Mereka sengaja membuat adanya keberjarakan sosial. Coba kalian amati gaya berpakaian mereka yang sok anti-mainstream, padahal terkadang malah terlihat seperti fashion terrorists, namun ironisnya bagi mereka itulah hip/keren. Jika diamati lebih jauh, mereka terlihat serupa. Memakai celana jeans yang bawahnya dilipat sebanyak 3-4 kali supaya kaos kaki warna-warni mereka terlihat, memakai kaus dengan tulisan-tulisan yang terkadang menohok mata seperti “I have daddy issues” dan sebagainya.

Satu kunci gaya para hipster adalah sikap laid back dan elemen vintage. “Seragam” wajib para hipster biasanya kaus retro hasil belanja di pasar loak, tight jeans, sneakers tua, kemeja flanel kotak-kotak dan kacamata Wayfarer ala Bob Dylan. Beberapa selebriti yang sering disebut hipster antara lain adalah Chloe Sevigny, Ellen Page, Kirsten Dunst, dan Michelle Williams yang kerap terlihat mengenakan kaos vintage dengan jeans, sneaker dan tidak ketinggalan topi dan kacamata wayfarer.

Tidak usah bertele-tele, intinya terdapat beberapa pertanyaan yang bisa diajukan mengenai fenomena ini. Sebenarnya hal ini juga tidak akan berpengaruh banyak terhadap sistem sosial masyarakat Indonesia, toh mereka (Hipster lokal) juga merasa eksklusif meskipun beli baju masih di thrift store, sok-sok’an-nya tetap saja dan sama saja dari waktu ke waktu, mereka berkata “buat apa beli baru, belanja preloved stuffs itu mengasyikkan dan membutuhkan seni memilah memilih tahu!” Ya, sudahlah, kita tahu apa soal keren-kerenan, bedanya, kalau kere-kerean, kita paling apa adanya daripada para hipster lokal itu.

Oh ya, pertanyaan-pertanyaan itu adalah:

  1. Mengapa terjadi fenomena tersebut di Indonesia yang notabene sudah memiliki budaya luhur berabad-abad?
  2. Mengapa hipster lokal memilih sikap untuk menjadi berbeda dari kebanyakan? Bukankah hipster juga merupakan fenomena global?
  3. Komodifikasi seperti apa yang dilakukan industri kreatif dalam mengeksploitasi para hipster?
  4. Apakah hipster adalah maniak gaya baru yang perlu dijadikan common enemy? Mengapa?
  5. Apa beda hipster di Indonesia dan di luar negeri?
  6. Apakah dampak (positif maupun negatif) yang terjadi akibat ekspansi budaya hipster ke Indonesia?
  7. Apakah hipster sama sekali tidak membuat antitesa dari tren arus utama, melainkan hanya pseudo-alternatif?
  8. Apa fase yang telah dilalui para hipster sehingga mereka menjadi elitis dan menganggap yang tidak sama dengan mereka adalah sebuah bentuk ke-alay-an atau cringe?
  9. Benarkah para hipster mengerti secara mendalam mengenai seni dan absurditas? Dalam kasus ini, apakah video klip – video klip Zeke Khaseli merupakan seni absurd atau malah sampah?
  10. Apakah hipster harus musnah dari muka bumi?

 

Udah, jawab aja sendiri, tapi simpan sendiri juga jawaban kalian ya. Maaf kalo nyinyir. Eh bukannya Kalikata emang gudangnya nyinyiran ya?

(Disclaimer dari Editor: Andai tulisan ini menyakiti anda, silakan geruduk langsung penulis yang bersangkutan di kandangnya. Ia biasa ditemukan telah tergeletak tak berdaya. Silakan diringkus!).

Previous ArticleNext Article

10 Comments

  1. yah saya kira di tulisan babak kedua kamu bakal membahas lebih ekstensif ternyata terminologi hipster yang kamu bedah masih sebatas identitas. jangan2 ini politik identitas dalam perspektif budaya tanding yang sedang kamu bangun yah?

    atau memang menurut kamu hipster murni masalah identitas bukan dampak yg lebih sistematis?

    oiya perihal otentik? masih relevan gitu dibicarakan? kalau kamu bedah seluruh bangunan partitur yg ada di fear of black planet ternyata cuma hasil sampling yg terlalu mahsyur dan kaya?

    oiya kalau kamu tidak terlalu tertarik dengan musik kita bergerak ke literasi deh….. gimana nasib eka kurniawan yg ternyata terpengaruh dengan gabriel garcia marquez? atau sepuvelda mungkin

    jadi yg otentik seperti apa ini? kalau ternyata gamelan juga terpengaruh budaya india?

    salam
    masih dari orang yang sama
    Ganesha Patria
    penulis di kemarinsore.club
    pernah terlibat di beberapa pergerakan mahasiwa dan sempat punya band crust punk bernama PisauxNalar

  2. hallo semua
    ahirnya ada yang menulis tentang ini,ini menjadi keresahan gw jg slama ini.untungnya ada yang nulis jd gw tinggal jawab pertanyaannya aja.

    1.karena mereka cuma ingin terlihat keren,dan yang keren menurut mreka ya dari amerika atau negara lainnya asal jangan indonesia,karena indonesia itu gak keren.manabisa batik dan wayang jadi keren kalau digabungkan dengan musik electronic pop atau shoegazerock?? padahal Barasuara melakukan hal terssebut(iga massardi pakai batik kalau manggung dan mereka sangat keren.membawa keindonesiaan keranah garage rock.salut buat BS.

    2.ya karena intinya hipster ingin terlihat berbeda.ketika semua orang berlaku berbeda,ya pada akhirnya sama semua. sama sama terlihat konyol.

    3.gw kurang tau apa artinya komodifikasi

    4.bukan enemy,justru mereka harus kita ajarin bahwa yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos.

    5.bedanya hipster indonesia tidak menghargai budaya yang mereka punya mereka cenderung meniru gaya hipster luar ngeri,amerika.mereka diamerika mengadaptasi gaya gaya berpakaian orang dulu di negara mereka dan mendegarkan musik” zaman dulu dr negara mereka spt jazz funk blues.kalau memang seharusnya seperti itu gw fikir hipster indo harusnya mendengarkan kroncong atau gambang kromong,ya logisnya lebih mendengarkan barasuara,ttatw,asteriska,fourtwnty or float yang masih ada nuansa kelokalannya bukan malah mendengarkan arctic monkeys or band shoegazepop yang enggak ada hubungannya sama budaya kita

    6.beda beda,kalau gw tulis disini bisa panjang banget

    7.ya,mreka tidak berseragam bersama sama diantara yang berseragam dan menjadikan mereka berseragam karena mereka tidak berseragam bersama sama,anehnya

    8.mereka pasti dulu alay dan sekarang enggak ingin terjebak difase yang sama,yang mana menurut mereka bergaya hipster adalah keren

    9.mereka mencoba untuk mengerti tapi padahal enggak,gw sudah lihat dan cek kolibri records yang penulis sebutkan diatas.melihat videoklip mereka gw setuju mereka hipster bgt,videonya ada yang diluar negeri dan tempat” yang tidak diketahui,tp tetep gak jelas dan gak ada maksudnya ya supaya keren aja tapi tidak memiliki nilai lebih.bandingkan dengan videoklip scaller yang the youth yang mereka berjalan dipegunungan dan hutan indonesia.hipster sepertinya kurang bangga dengan apa yang indonesia punya.mungkin mereka malu dan merasa situs” diindonesia enggak keren

    10.tidak,mereka adalah orang orang yang kita harus ajarin musik musik indie yang keren tuh gimana, gak selalu musik indie hipster yang keren justru banyak loh yang keren.seperti beberapa band yang gw sebutin diatas tadi.

    sekian maaf kalau kepanjangan gw rasa ini keresahan yang sebagaian besar orang rasakan juga.jadi gue hanya mewakili pendapat mereka mereka yang enggan berpendapat karena takut diteror oleh netizen hipster

    terima kasih,tabik

    #nowplaying Danilla – Telisik

    1. ngomong opoo masnya nih..

      anw menanggapi komentar orang2 yg mas Teddy Abas bilang

      “mereka ingin cuman terlihat keren”
      “mereka harus kita ajarin bahwa yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos”
      “mereka pasti dulu alay dan sekarang enggak ingin terjebak difase yang sama,yang mana menurut mereka bergaya hipster adalah keren”

      keknya mereka dressed juga bukan buat ngimpress situ deh pak. they looked ‘belaga keren’ ya karna mereka suka sama apa yg mereka pake. dan pede. susah sih emang. biasanya org kalo gapede trus gayanya gak nyampe. ngomelnya gitu ngejudge orang.

      Dan justru yg bapak Teddy Abas bilang anak hipster “yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos” aslinya justru gak pedulian. lo lo gue gue. mo gayak lo pake sempak jadi sweater. mereka juga bodo amat.dan gak akan ngerasa they feel superior wit their style. duh

      alay? gue curiga sih malah bapak tedi Abas ini yg mungkin dulunya alay, dan mungkin juga masih sampai saat ini.

      “tidak,mereka adalah orang orang yang kita harus ajarin musik musik indie yang keren tuh gimana, gak selalu musik indie hipster yang keren justru banyak loh yang keren.seperti beberapa band yang gw sebutin diatas tadi”

      siaaaap bos, paling paham bgt nih sama dunia permusikan.. pokoknya selain musik ato band favorit kesukaan abang Teddy Abbas jelek lah intinya. musti diajarin lagi .
      luar biasa…

      jadi orang nerima dikit ngapa. emang kudu wajib sama banget sama situ.

      Budi
      tinggal di goa, kalo mejeng cuman sendal jepit. iye bugil.
      daripada pake baju dikatein hipster, sok keren

  3. udah sifatnya budaya populer, termasuk musik populer, kalau mereka reproduksi produk budaya ya dari melihat siapa yang dianggap mentornya di industri tersebut. Semua berlomba – lomba menjadi yang paling stand out atau bahkan yang paling familiar biar laku, toh siapa yang mau beli kalau barangnya sama dengan yang lain? tastemaker udah lewat udah ga ada inovasi yang benar – benar murni dari scratch ada, hampir semua produk kolase. Tapi itu yang membuat roda industri kultur berputar, karena regenerasi dan reproduksi, membosankan memang, tapi kita manusia gampang amnesia kok dan gampang kangen. So chill out, and nikmati saja. Hipster yang punya mental sombong dan memandang rendah orang yang beda taste biarin aja, mereka bakal belajar dari pengalaman kalau gajian ga cuma datang dari selera budaya, well kecuali jurnalis musik dan kurator seni. Mau hipster, mau plebs, di kedua lingkaran tersebut masing – masing punya tribal assholes sendiri2. Nah tuh aku udah nambah jumlah reader artikel ini.

  4. dan memang hipster ada dari follow up orang – orang yang bosan dengan budaya massa yang monoton dan massal, akhirnya membuat alternatif, tapi karena mulai banyak yang menyentuh permukaan saja/drifter dan replikasi mulai tiada henti, subgenre pun mulai gak henti – henti muncul murni untuk keluar dari keseragaman, sampai nanti ketemu titik jenuh, dilupakan sampai akhirnya dirayakan lagi saat orang – orang mulai kangen atau yang kelewatan momen baru nemu.

    oiya satu lagi ketika menyebut kata keren, itu udah terkesan menyisir permukaan saja, paling netral ya “bagus” , flashy/mentereng tanpa isi ya ga bagus, cuma memang sih keren, berisi tapi tidak keren pun ya tetap bagus, contoh; lagu – lagu akustik iwan fals, untuk ukuran jaman sekarang secara kulit luar tidak keren, tapi masih bagus, karena masih relevan.

    komodifikasi: hal yang umumnya tidak dianggap, akhirnya bisa laku dijual. Atau yang biasanya diproduksi dan dijual terbatas karena alat produksi tidak masif dan buatan tangan, dengan harga terjangkau, jadinya mahal karena langka dan punya value “keren” atau malah jadi produksi massal karena punya value populer dan diproduksi secara cepat dan massal. Komodifikasi bisa membuat suatu komoditas jadi turun value/nilanya dari nilai aslinya atau mungkin malah naik kelas daripada nilai aslinya tentunya dengan harga yang mahal.

  5. intinya, mau anti keren, juga paradoks, walhasil maunya dianggap beda dari “the new mainstream” yaitu jargon “gue anti-mainstream” yang udah mulai ubiquitous atau mainstream. Mau anti mainstream pun juga paradoks karena udah banyak yang pengen jadi “anti-mainstream”

    intinya, kalo ga ditulis dengan gaya begini, orang juga ga bakal terpelatuk untuk baca wkwkwkwk

  6. oh iya, satu lagi, memilih dandanan vintage bukan murni karena approval masyarakat, saya sudah lama menggemari dekade 80an, karena apa, penuh warna dan warna – warnanya hangat, dan cerah bahkan yang warna gelap sekalipun, dari musiknya sampai fashionnya, dari yang ribet sampai yang simple sekalipun. Murni karena kebutuhan nostalgia dan penyangkalan atas wajah dunia yang makin reot dan penuh konflik ini.

  7. Hipster itu fase kok, nanti juga ilang sendiri pas udah punya anak.

    yah, kalo masalah celana, nanti juga ada masanya ketika celananya masih digulung 3-4 kali, plus berjenggot.. tapi datengnya ke pengajian..

    *mantan hipster masa lampau, yhaa… beyond hipster lah, saya mah protohipster…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Met Gala 2018 dan Kegilaan-kegilaannya 0 408

Oleh: Michelle Florencia*

Met Gala adalah salah satu acara tahunan yang paling dinanti-nantikan insan fesyen dunia. Bagaimana tidak? Acara yang yang sudah 70 tahun terakhir diselenggarakan ini bertabur bintang-bintang Hollywood yang mengenakan kostum super wow rancangan desainer kelas dunia.

Acara yang diinisiasi oleh Eleanor Lambert ini sebenarnya merupakan acara penggalangan dana untuk The Costume Institute dan pameran kostum di Metropolitan Museum of Art (Met), New York. Namun, tidak ada yang tahu pasti – selain tamu undangan pastinya – bagaimana suasana acara Met Gala sendiri dikarenakan acara ini tertutup bagi media dan para undangan juga tidak diperbolehkan mengunggah foto maupun video seputar acara Met Gala untuk menjaga ekslusifitasnya.

Di tahun 2018, Met Gala diselenggarakan pada Seni n (7/5) di New York Metropolitan Museum of Art. Met Gala kali ini merupakan pembuka pameran terbesar yang pernah dibuat The Costume Institute. Mengangkat tema Heavenly Bodies: Fashion and The Catholic Imagination, ekshibisi ini begitu menarik karena bekerjasama dengan keuskupan Vatikan untuk memamerkan benda-benda gereja Vatikan. Tak hanya itu, para desainer kenamaan seperti Jeanne Lanvin, Karl Lagerfeld, John Galliano, Jean Paul Gaultier, dan nama-nama besar lainnya turut serta memamerkan rancangan mereka yang terinspirasi dari simbol-simbol Katolik.

Penulis menilai Met Gala merupakan salah satu acara yang paling gila, terutama Met Gala 2018. Bagaimana tidak? Pertama, harga tiket acara ini adalah USD 30.000/tamu atau Rp 405.000.000 (dengan asumsi kurs Rp 13.500/USD). Itu untuk teko thok, gurung nek mesen mejo. Apabila ingin memesan satu meja, maka tamu tersebut harus membayar USD 275.000 hingga USD 500.000. Kalau dirupiahkan, sekitar Rp 3.712.500.000 hingga Rp 6.750.000.000—jumlah yang cukup untuk beli pisang naget dan ayam geprek seumur hidup!

Apabila Pembaca merasa punya uang segitu, jangan kepedean dulu bisa datang ke acara ini! Yang diundang hanyalah selebritis top Hollywood, donatur acara, para desainer tersohor dunia, super model kenamaan, dan perwakilan label busana atau aksesoris mewah yang bersedia menyumbang dana. Tak hanya itu, semua tamu undangan harus disetujui oleh Nyah Anna Wintour, pemimpin redaksi majalah Vogue dan juga ketua acara Met Gala. Kalau Pembaca masih seorang mahasiswa yang tinggal di kos-kosan yang hanya bisa ngadem dan numpang wifi di perpus kampus (gratisan), barangkali bisa tidur dulu untuk datang ke acara ini dalam mimpi.

Beauty is pain menjadi selogan bagi para undangan, terutama tamu undangan wanita. Lihat saja Blake Lively  dengan gaun Versace-nya yang super panjang , rawan keselimpet, nyeret-nyeret, dan mau nggak mau rela “mengepel” lantai museum bisa dibilang jadi cleaning service dadakan. Penulis juga sangat mengapresiasi kekuatan dan kekekaran punggung Katy Perry yang memikul sayap dengan ukuran buto. Belum lagi Rihanna yang mampu tetap tegak berdiri saat mengenakan dress, cape, dan topi ala paus yang penuh dengan borci-borci (kosakata ala emak-emak Pasar Atum untuk menyebut payet) rancangan Maison Margiela yang kalau ditotal  barangkali bisa sampai belasan kilogram. Tak kalah hebat, Sarah Jessica Parker mampu menahan beban dari pajangan rumah yang dijadikan bando oleh Dolce and Gabbana itu demi mengalihkan fokus agar tidak terpaku pada wajahnya yang botox-nya tidak merata itu. Penulis saja sudah ngomel-ngomel karena bahu suka salah urat kalau bawa laptop di tas. Luar biasa memang kekuatan para wanita di Met Gala 2018!

Kegilaan selanjutnya ialah keberanian Andrew Bolton, kurator The Costume Institute dan sesosok pencetus tema-tema Met Gala dalam beberapa tahun terakhir, dalam menentukan tema Met Gala tahun ini, yaitu Heavenly Bodies: Fashion and Catholic Imagination. Presiden Kebudayaan Vatikan, Gianfranco Ravasi sendiri bersyukur atas diangkatnya tema ini, sebab artinya simbol Katolik masih bisa menyentuh orang lain.

Tapi, akibat mencetuskan ide kontroversial ini, ia harus bolak-balik New York-Vatikan sebanyak 10 kali dalam satu tahun terakhir! Dikutip dari Tirto, Bolton menjalin relasi dengan lima orang pastur pejabat gereja dan menteri kebudayaan Vatikan untuk bisa meminjam busana pastur, mahkota yang dikenakan Paus, dan benda-benda gereja lainnya. Total ada lebih dari 40 benda yang biasa tersimpan di dalam tempat penyimpanan perlengkapan ekaristi (sakristi) di sebuah gereja di Vatikan. Berani buat ide gila, harus berani kerja gila!

Tak hanya membuat Bolton bolak-balik New York-Vatikan sampai mbulak, tema yang menyentuh ranah keagamaan ini juga menimbulkan kontroversi. Penulis paparkan terakhir karena merupakan klimaks dari kegilaan acara ini. Ide suangar nun gendeng ini  rupanya tidak disambut baik oleh beberapa selebritis, dan bahkan ingin memboikot Met Gala 2018. Dikutip dari Vogue, tema ini jadi kontroversi karena fesyen dinilai tak pantas disandingkan dengan hal-hal yang dianggap sakral atau suci. Tapi, menurut Bolton hal itu lumrah saja, “Ini menegaskan kesetiaan pada agama, eksistensi, dan perbedaan agama,” tukasnya.

Yang jelas, apabila ingin mengangkat tema keagamaan, harusnya pihak Met Gala tetap menjaga kesucian agama itu sendiri. Tak pantas rasanya apabila mengenakan pakaian bertema agamis, tapi dibuat seperti pakaian yang kekurangan kain dan bikin orang salah fokus. Entah bagaimana jadinya kalau acara semacam ini diselenggarakan di Indonesia. Gurung diselenggarakno wes dicekal disek. Hehehe….

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. Tak diketahui ihwal single-tidaknya. “Er Ha Es kak”, tukasnya.

Sembilan Dosa Bocah Milenial 2 353

Redaksi kali ini memuat hal menarik: panduan ringkas memahami karakteristik masyarakat milenial! Barangsiapa hendak mengikuti tren yang terjadi (juga mungkin keganjilan-keganjilannya), bolehlah disimak:

1. Raimu ketulung mobilmu.

Begitulah kira-kira perumpaan paling sahih untuk menggambarkan skala prioritas para milenial. Mereka menghidupi nilai dimana penampilan adalah segalanya. Sebetulnya tak cuma dandanan luar, tapi juga keseluruhan atribut yang dapat dilekatkan dan dapat meningkatkan status sosial. Pengeluaran per bulan untuk mendandani diri adalah prioritas nomor satu. Pomade, baju branded (preloved rapopo sing penting Zara), sepatu, lipstick (musti matte biar kalo mimik di gelas tanpa bekas), mobil (kredit dijabani pokoke pantes, minimal Agya Ayla) dan seterusnya.

2. Hape apel krowak sebagai sekte agama

Milenial melihat ponsel sebagai ritus baru beragama. Rutin dihayati dan disayang-sayang. Coba periksa dimanapun mereka berada, ponsel tak pernah absen dipelukan. Mulai bobo cantik sampai menjelang cawik, hape tak lepas di genggaman. Merek didominasi apel krowak, tapi isi aplikasi paling melip hanya game, youtube atau instant messenger (karena memang mampunya mengoperasikan itu, mohon dimaklumi). Sesekali diisi fasilitas editing foto, biar aduhai kalau selfie diunggah ke media sosial.

3. Nongkrong sampe mbulak

Kapanpun harus disisakan waktu luang. Ini ciri yang sangat kentara, sebab milenial senantiasa mencari sekeras-kerasnya waktu luang, sekalipun di tengah kesibukan maha padat. Nongki-nongki sambil isep Vape biasanya menjadi pilihan. Sekedar di kafe kelas menengah, atau sampai kelas atas, yang menunya punya prinsip ra enak ra popo sing penting instagrammable. Kadang karena ingin dinilai memahami selera elite, pergilah mereka ke Setarbak—yang andai kopinya dituker dengan kapal api 2.500 rupiah pun milenial tak sadar beda rasanya. Pokoke nggaya!

 4. My trip my adventure, mak crit mak plekentur

Banyak milenial ababil yang tega menabung banyak untuk dihabiskan seluruhnya demi vakansi. Liburan ini konon adalah pelarian semi-intelektual: kembali pada alam, menghayati ciptaan Tuhan, menepi ke pantai, kontemplasi ke pegunungan, dan segudang alasan-alasan gombal mbelgedhes. Intine kepingin hura-hura kok harus repot mencari alasan filosofis. Tiket kereta api atau pesawat bisa di-booking jauh-jauh hari. Kalau perlu sampai ke luar negeri, biar kaffah liburannya, Havana o nana. Singapore gakpapalah, lumayan bisa poto-poto di depan singa muntah. Atau negeri-negeri eksotis lainnya, agar bisa wisata kuliner unik-unik, lalu bikin vlog, atau story. Tujuannya jelas: mari dipamerkan ke handai-taulan ngenes yang melas  di media sosial.

5. Isolasi sosyel

Milenial acapkali mengisolasi dirinya atau kumpulan gengnya dari orang lain. Asyik-asyik sendiri, galo-galo sendiri dan kalau berkumpul, menu utama selalu ghibah. Jarang bertemu atau sulit membuka diri dari kelompok lain. Akibatnya, tak ada tradisi dalam diri mereka untuk merekat secara sosial, saling tegur sapa, memahami secara intens dunia sosialnya. Mungkin sudah terlalu lelah masturbasi dengan identitasnya sendiri.

6. Susah setia
Para millenial ini senang hidup tanpa pilihan, jadi nihilis ben filosofis. Tiada kuasa mereka bertahan lebih dari 2 jam hanya mengerjakan satu kegiatan. Bosenan. Sebentar buka Line, beberapa menit kemudian pindah ke instagram, lalu twitteran. Bentar-bentar buka pintu dapur, buka kulkas, gak ada apa-apa, dikit-dikit mie instan lagi. Ini dapat dipahami kerena mereka hanya menunggang tren yang amat sementara. Setelah tren gaya itu perlahan mereda, berpindahlah mereka ke wilayah lain. Milenial adalah orang-orang yang nomaden dalam bergaya.

7. Antologi quotes berjalan
Kutap-kutip kalimat indah antologi biar keliatan sentimentil. Kalau bisa jangan hanya jadi antologi berjalan; jadilah kamus, atau perpustakaan sekalian. Ini demi perbendaharaan kata-kata mutiara yang jitu untuk melengkapi caption foto instagram selfie di bawah pohon rindang yang korelasinya tentu bernilai nol. Atau jadi senjata mutakhir untuk merayu mbak’e, berjajarlah amunisi gombalan Dilan sampai Ditto, tinggal dipilih sesuai situasi. Tentu yang diutamakan bukan quotes berbau masalah politik-ekonomi-sosial, apalagi religi. Semua berputar pada ranah romansa, satu-satunya aspek kehidupan yang paling dikuasai millenials. Cinta-cintaan, menghindar dari mantan. Ncen kakehan gaya. Mbayar iuran kas kelas ae sek kredit.

8. Cenayang Nirkabel

Hanya bermodalkan kuota internet, itu pun kadang numpang tethering, milenial bisa tahu aktifitas terbaru dari teman-temannya (baca: following dan follower). Milenial mengumpulkan pundi-pundi informasi itu dari story, postingan, tweet, dan seabrek fitur medsos lain. Jelas sekali, nuansa nongki cantik jadi tidak diwarnai dengan saling menanyakan kabar, tapi sekedar klarifikasi. Kondisi ini menuntut milenial untuk selaluup to date. Asu tenan.

9. Ra ngurus dapuranmu

“Situ sapah kok ngurusi hidup eike?” Begitulah filosofi hidup milenial. Maksudnya ingin tampil independen dan mandiri, tapi sering tersesat pada apatisme. Maksudnya berupaya mendobrak konservatisme nilai-nilai, tapi meleset ke kebodohan. Sangat sensitif pada privasi, dan menjadi paranoid agar hidupnya tak diinterupsi oleh orang lain. Sebaliknya, karena terlalu berkonsentrasi pada diri sendiri, individu milenial mengabaikan dunia lain. Orang lain adalah antah berantah. Yang penting urusan diri sendiri beres, situ mau jumpalitan juga terserah. Sangat cuek dan masa bodoh.

Itu tadi sembilan ulasan dari kami. Jika ada bantahan atau tambahan, bolehlah dikirimkan pada kami. Siapa tau juru bicara milenial tersinggung. Hehehe

 

 

Editor Picks