Hipster Lokal dalam Paradoks Selera Musik dan Fashion ‘Anti-Mainstream’ 10 5621

Tulisan silat bagian kedua oleh: M. Ricky Sabastian*

Hipster lokal ini aneh, mereka tidak meletakkan indikator-indikator jelas yang bisa dirujuk untuk menilai seberapa ‘hip’ musik yang mereka dengarkan. Sebagai contoh, terdapat sebuah record label indie di Indonesia yang didirikan Daffa Andika, yaitu Kolibri Rekords. Dapur rekaman yang sudah beroperasi sejak 2013 ini, setidaknya memiliki 4 band dan 3 penyanyi solo yang magrok dibawah naungannya, sebut saja Flowr Pit, Grrrl Gang, ATSEA, Low Pink, Gizpel, Bedchamber, dan Seahorse.

Deretan nama band maupun solo artist tersebut merupakan idola baru dalam belantika permusikan di tanah air, terutama kalangan hipster. Tak bisa dipungkiri, para talent yang digaet oleh Kolibri Rekords agaknya sedikit beragam dalam hal genre musikal, ada yang agak-agak shoegazing, ada pula yang membawa dream pop, namun disisi lain, hal yang serupa justru tampak dalam hal style pakaian dari para talent. Celakanya—atau beruntungnya (saya belum bisa memastikan)—mereka semua sama-sama ber-fashion hipster!

Penulis makin tidak seberapa paham bagaimana tren musik yang sedang beredar di kalangan hipster, apa yang ‘dijual’ semakin bias antara fashion mereka atau murni musik mereka. Apakah karya mereka cukup otentik? Tentu tidak! Pengaruh eksternal memanglah sesuatu yang enggan untuk dihindari. Berbagai lagu yang didengar, literatur yang dibaca, film yang ditonton, semuanya hasil internalisasi pengaruh karya seniman sebelumnya, yang secara tidak sadar akan merasuk dalam alam bawah sadar. Mereka biasanya menolak untuk disama-samakan, tapi ya karya mereka sendiri yang menjawab.

Menurut Adi Renaldi (2017) dalam tulisan sarkastiknya yang dimuat di Vice Indonesia, band Rock N Roll kebanggan ‘anak indie’ seperti The S.I.G.I.T-pun melakukan copycat terhadap band luar negeri seperti The Shrine dan Wolfmother. Selain itu ia juga memaparkan band-band semacam Hurt ‘Em yang menjiplak Trap Them, Bedchamber yang menjiplak Beach Fossils, Rusa Militan yang menjiplak Fleet Foxes, ataupun Bangkutaman yang juga menjiplak semua rilisan Sarah Records.

Ter-influence? Toh mereka tidak menjelaskan dengan gamblang influence mereka siapa.

Pure copycat? Lebih menjurus kesana memang (mau bilang langsung “iya memang” kok kek gimana gitu, duh!).

Hipster itu arogan! Bagaimana tidak?

Mereka sengaja membuat adanya keberjarakan sosial. Coba kalian amati gaya berpakaian mereka yang sok anti-mainstream, padahal terkadang malah terlihat seperti fashion terrorists, namun ironisnya bagi mereka itulah hip/keren. Jika diamati lebih jauh, mereka terlihat serupa. Memakai celana jeans yang bawahnya dilipat sebanyak 3-4 kali supaya kaos kaki warna-warni mereka terlihat, memakai kaus dengan tulisan-tulisan yang terkadang menohok mata seperti “I have daddy issues” dan sebagainya.

Satu kunci gaya para hipster adalah sikap laid back dan elemen vintage. “Seragam” wajib para hipster biasanya kaus retro hasil belanja di pasar loak, tight jeans, sneakers tua, kemeja flanel kotak-kotak dan kacamata Wayfarer ala Bob Dylan. Beberapa selebriti yang sering disebut hipster antara lain adalah Chloe Sevigny, Ellen Page, Kirsten Dunst, dan Michelle Williams yang kerap terlihat mengenakan kaos vintage dengan jeans, sneaker dan tidak ketinggalan topi dan kacamata wayfarer.

Tidak usah bertele-tele, intinya terdapat beberapa pertanyaan yang bisa diajukan mengenai fenomena ini. Sebenarnya hal ini juga tidak akan berpengaruh banyak terhadap sistem sosial masyarakat Indonesia, toh mereka (Hipster lokal) juga merasa eksklusif meskipun beli baju masih di thrift store, sok-sok’an-nya tetap saja dan sama saja dari waktu ke waktu, mereka berkata “buat apa beli baru, belanja preloved stuffs itu mengasyikkan dan membutuhkan seni memilah memilih tahu!” Ya, sudahlah, kita tahu apa soal keren-kerenan, bedanya, kalau kere-kerean, kita paling apa adanya daripada para hipster lokal itu.

Oh ya, pertanyaan-pertanyaan itu adalah:

  1. Mengapa terjadi fenomena tersebut di Indonesia yang notabene sudah memiliki budaya luhur berabad-abad?
  2. Mengapa hipster lokal memilih sikap untuk menjadi berbeda dari kebanyakan? Bukankah hipster juga merupakan fenomena global?
  3. Komodifikasi seperti apa yang dilakukan industri kreatif dalam mengeksploitasi para hipster?
  4. Apakah hipster adalah maniak gaya baru yang perlu dijadikan common enemy? Mengapa?
  5. Apa beda hipster di Indonesia dan di luar negeri?
  6. Apakah dampak (positif maupun negatif) yang terjadi akibat ekspansi budaya hipster ke Indonesia?
  7. Apakah hipster sama sekali tidak membuat antitesa dari tren arus utama, melainkan hanya pseudo-alternatif?
  8. Apa fase yang telah dilalui para hipster sehingga mereka menjadi elitis dan menganggap yang tidak sama dengan mereka adalah sebuah bentuk ke-alay-an atau cringe?
  9. Benarkah para hipster mengerti secara mendalam mengenai seni dan absurditas? Dalam kasus ini, apakah video klip – video klip Zeke Khaseli merupakan seni absurd atau malah sampah?
  10. Apakah hipster harus musnah dari muka bumi?

 

Udah, jawab aja sendiri, tapi simpan sendiri juga jawaban kalian ya. Maaf kalo nyinyir. Eh bukannya Kalikata emang gudangnya nyinyiran ya?

(Disclaimer dari Editor: Andai tulisan ini menyakiti anda, silakan geruduk langsung penulis yang bersangkutan di kandangnya. Ia biasa ditemukan telah tergeletak tak berdaya. Silakan diringkus!).

Previous ArticleNext Article

10 Comments

  1. yah saya kira di tulisan babak kedua kamu bakal membahas lebih ekstensif ternyata terminologi hipster yang kamu bedah masih sebatas identitas. jangan2 ini politik identitas dalam perspektif budaya tanding yang sedang kamu bangun yah?

    atau memang menurut kamu hipster murni masalah identitas bukan dampak yg lebih sistematis?

    oiya perihal otentik? masih relevan gitu dibicarakan? kalau kamu bedah seluruh bangunan partitur yg ada di fear of black planet ternyata cuma hasil sampling yg terlalu mahsyur dan kaya?

    oiya kalau kamu tidak terlalu tertarik dengan musik kita bergerak ke literasi deh….. gimana nasib eka kurniawan yg ternyata terpengaruh dengan gabriel garcia marquez? atau sepuvelda mungkin

    jadi yg otentik seperti apa ini? kalau ternyata gamelan juga terpengaruh budaya india?

    salam
    masih dari orang yang sama
    Ganesha Patria
    penulis di kemarinsore.club
    pernah terlibat di beberapa pergerakan mahasiwa dan sempat punya band crust punk bernama PisauxNalar

  2. hallo semua
    ahirnya ada yang menulis tentang ini,ini menjadi keresahan gw jg slama ini.untungnya ada yang nulis jd gw tinggal jawab pertanyaannya aja.

    1.karena mereka cuma ingin terlihat keren,dan yang keren menurut mreka ya dari amerika atau negara lainnya asal jangan indonesia,karena indonesia itu gak keren.manabisa batik dan wayang jadi keren kalau digabungkan dengan musik electronic pop atau shoegazerock?? padahal Barasuara melakukan hal terssebut(iga massardi pakai batik kalau manggung dan mereka sangat keren.membawa keindonesiaan keranah garage rock.salut buat BS.

    2.ya karena intinya hipster ingin terlihat berbeda.ketika semua orang berlaku berbeda,ya pada akhirnya sama semua. sama sama terlihat konyol.

    3.gw kurang tau apa artinya komodifikasi

    4.bukan enemy,justru mereka harus kita ajarin bahwa yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos.

    5.bedanya hipster indonesia tidak menghargai budaya yang mereka punya mereka cenderung meniru gaya hipster luar ngeri,amerika.mereka diamerika mengadaptasi gaya gaya berpakaian orang dulu di negara mereka dan mendegarkan musik” zaman dulu dr negara mereka spt jazz funk blues.kalau memang seharusnya seperti itu gw fikir hipster indo harusnya mendengarkan kroncong atau gambang kromong,ya logisnya lebih mendengarkan barasuara,ttatw,asteriska,fourtwnty or float yang masih ada nuansa kelokalannya bukan malah mendengarkan arctic monkeys or band shoegazepop yang enggak ada hubungannya sama budaya kita

    6.beda beda,kalau gw tulis disini bisa panjang banget

    7.ya,mreka tidak berseragam bersama sama diantara yang berseragam dan menjadikan mereka berseragam karena mereka tidak berseragam bersama sama,anehnya

    8.mereka pasti dulu alay dan sekarang enggak ingin terjebak difase yang sama,yang mana menurut mereka bergaya hipster adalah keren

    9.mereka mencoba untuk mengerti tapi padahal enggak,gw sudah lihat dan cek kolibri records yang penulis sebutkan diatas.melihat videoklip mereka gw setuju mereka hipster bgt,videonya ada yang diluar negeri dan tempat” yang tidak diketahui,tp tetep gak jelas dan gak ada maksudnya ya supaya keren aja tapi tidak memiliki nilai lebih.bandingkan dengan videoklip scaller yang the youth yang mereka berjalan dipegunungan dan hutan indonesia.hipster sepertinya kurang bangga dengan apa yang indonesia punya.mungkin mereka malu dan merasa situs” diindonesia enggak keren

    10.tidak,mereka adalah orang orang yang kita harus ajarin musik musik indie yang keren tuh gimana, gak selalu musik indie hipster yang keren justru banyak loh yang keren.seperti beberapa band yang gw sebutin diatas tadi.

    sekian maaf kalau kepanjangan gw rasa ini keresahan yang sebagaian besar orang rasakan juga.jadi gue hanya mewakili pendapat mereka mereka yang enggan berpendapat karena takut diteror oleh netizen hipster

    terima kasih,tabik

    #nowplaying Danilla – Telisik

    1. ngomong opoo masnya nih..

      anw menanggapi komentar orang2 yg mas Teddy Abas bilang

      “mereka ingin cuman terlihat keren”
      “mereka harus kita ajarin bahwa yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos”
      “mereka pasti dulu alay dan sekarang enggak ingin terjebak difase yang sama,yang mana menurut mereka bergaya hipster adalah keren”

      keknya mereka dressed juga bukan buat ngimpress situ deh pak. they looked ‘belaga keren’ ya karna mereka suka sama apa yg mereka pake. dan pede. susah sih emang. biasanya org kalo gapede trus gayanya gak nyampe. ngomelnya gitu ngejudge orang.

      Dan justru yg bapak Teddy Abas bilang anak hipster “yang keren tuh gak cuma gaya lu doang,bos” aslinya justru gak pedulian. lo lo gue gue. mo gayak lo pake sempak jadi sweater. mereka juga bodo amat.dan gak akan ngerasa they feel superior wit their style. duh

      alay? gue curiga sih malah bapak tedi Abas ini yg mungkin dulunya alay, dan mungkin juga masih sampai saat ini.

      “tidak,mereka adalah orang orang yang kita harus ajarin musik musik indie yang keren tuh gimana, gak selalu musik indie hipster yang keren justru banyak loh yang keren.seperti beberapa band yang gw sebutin diatas tadi”

      siaaaap bos, paling paham bgt nih sama dunia permusikan.. pokoknya selain musik ato band favorit kesukaan abang Teddy Abbas jelek lah intinya. musti diajarin lagi .
      luar biasa…

      jadi orang nerima dikit ngapa. emang kudu wajib sama banget sama situ.

      Budi
      tinggal di goa, kalo mejeng cuman sendal jepit. iye bugil.
      daripada pake baju dikatein hipster, sok keren

  3. udah sifatnya budaya populer, termasuk musik populer, kalau mereka reproduksi produk budaya ya dari melihat siapa yang dianggap mentornya di industri tersebut. Semua berlomba – lomba menjadi yang paling stand out atau bahkan yang paling familiar biar laku, toh siapa yang mau beli kalau barangnya sama dengan yang lain? tastemaker udah lewat udah ga ada inovasi yang benar – benar murni dari scratch ada, hampir semua produk kolase. Tapi itu yang membuat roda industri kultur berputar, karena regenerasi dan reproduksi, membosankan memang, tapi kita manusia gampang amnesia kok dan gampang kangen. So chill out, and nikmati saja. Hipster yang punya mental sombong dan memandang rendah orang yang beda taste biarin aja, mereka bakal belajar dari pengalaman kalau gajian ga cuma datang dari selera budaya, well kecuali jurnalis musik dan kurator seni. Mau hipster, mau plebs, di kedua lingkaran tersebut masing – masing punya tribal assholes sendiri2. Nah tuh aku udah nambah jumlah reader artikel ini.

  4. dan memang hipster ada dari follow up orang – orang yang bosan dengan budaya massa yang monoton dan massal, akhirnya membuat alternatif, tapi karena mulai banyak yang menyentuh permukaan saja/drifter dan replikasi mulai tiada henti, subgenre pun mulai gak henti – henti muncul murni untuk keluar dari keseragaman, sampai nanti ketemu titik jenuh, dilupakan sampai akhirnya dirayakan lagi saat orang – orang mulai kangen atau yang kelewatan momen baru nemu.

    oiya satu lagi ketika menyebut kata keren, itu udah terkesan menyisir permukaan saja, paling netral ya “bagus” , flashy/mentereng tanpa isi ya ga bagus, cuma memang sih keren, berisi tapi tidak keren pun ya tetap bagus, contoh; lagu – lagu akustik iwan fals, untuk ukuran jaman sekarang secara kulit luar tidak keren, tapi masih bagus, karena masih relevan.

    komodifikasi: hal yang umumnya tidak dianggap, akhirnya bisa laku dijual. Atau yang biasanya diproduksi dan dijual terbatas karena alat produksi tidak masif dan buatan tangan, dengan harga terjangkau, jadinya mahal karena langka dan punya value “keren” atau malah jadi produksi massal karena punya value populer dan diproduksi secara cepat dan massal. Komodifikasi bisa membuat suatu komoditas jadi turun value/nilanya dari nilai aslinya atau mungkin malah naik kelas daripada nilai aslinya tentunya dengan harga yang mahal.

  5. intinya, mau anti keren, juga paradoks, walhasil maunya dianggap beda dari “the new mainstream” yaitu jargon “gue anti-mainstream” yang udah mulai ubiquitous atau mainstream. Mau anti mainstream pun juga paradoks karena udah banyak yang pengen jadi “anti-mainstream”

    intinya, kalo ga ditulis dengan gaya begini, orang juga ga bakal terpelatuk untuk baca wkwkwkwk

  6. oh iya, satu lagi, memilih dandanan vintage bukan murni karena approval masyarakat, saya sudah lama menggemari dekade 80an, karena apa, penuh warna dan warna – warnanya hangat, dan cerah bahkan yang warna gelap sekalipun, dari musiknya sampai fashionnya, dari yang ribet sampai yang simple sekalipun. Murni karena kebutuhan nostalgia dan penyangkalan atas wajah dunia yang makin reot dan penuh konflik ini.

  7. Hipster itu fase kok, nanti juga ilang sendiri pas udah punya anak.

    yah, kalo masalah celana, nanti juga ada masanya ketika celananya masih digulung 3-4 kali, plus berjenggot.. tapi datengnya ke pengajian..

    *mantan hipster masa lampau, yhaa… beyond hipster lah, saya mah protohipster…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 232

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Terlanjur Mencinta pada Artis Korea 0 174

 

Pada awal Maret ini, ada yang mengejutkan di jagat Youtube. Ryeowook personil grup boyband kenamaan asal Korea Selatan, Super Junior, merilis video clip cover lagu dalam bahasa Indonesia: Terlanjur Mencinta.

Lagu ini sebenarnya sudah keluar setahun silam, dinyanyikan dengan 3 versi yang berbeda oleh penyanyi jebolan Indonesian Idol: Tiara Andini, Lyodra Ginting, dan Ziva Magnolya. Walaupun dengan 3 gaya berbeda, lirik lagu ciptaan Yovie Widianto ini dipersatukan dalam satu prinsip: kehandalannya dalam mengiris hati.

Cover lagu oleh idol Kpop yang satu ini lantas langsung melesat ke puncak perbincangan dunia maya dan nyata. Hingga tulisan ini sedang dibuat, video “Ryeowook #TerlanjurMencinta” menempati urutan ke-8 trending Youtube dan ditonton lebih dari 900 ribu kali.

Videonya juga langsung mendapat komen dari penyanyi pertamanya, Tiara, dan tentu saja ribuan komen fans berat Kpop dari Indonesia.

Dengan mengesampingkan berbagai nilai yang Anda percayai tentang  Kpop idol, mari kita mengapresiasi pelafalan dan artikulasi yang hampir sempurna dari Ryeowook dalam menyanyikan lagu berbahasa Indonesia. Yah, paling agak terpeleset di kata “bertemu”, apalagi “mencinta”. Wajar dan sangat bisa diampuni.

Pun teknik pengambilan gambar yang banyak meng-close-up wajah Ryeowook menunjukkan penghayatan yang sungguh-sungguh. Tandanya, si penyanyi tahu betul makna lirik dan tujuan utama lagu.

Cover Ryeowook juga menjadi pegangan bahwa lagu yang emang dari sananya enak ini, cocok dinyanyikan semua gender, termasuk (ehemm) laki-laki. Jujur saja, sebagai mantan penggemar Kpop, ini pertama kalinya saya mendengarkan teknik vokal yang ciamik dari salah satu personil boyband. Biasanya sih, saya salah fokus sama tarian dan pakaiannya (ups).

Belakangan, salah satu Youtuber keluarga favorit saya juga melakukan kolaborasi dengan idol Kpop. Kimbab Family, keluarga campuran Indonesia-Korea dengan 3 anak mereka yang biasanya menampilkan kehidupan sehari-hari sebagai keluarga multi-kultural, dan bahkan menerbitkan buku dengan sub-judul “bukan (drama) Korea”, akhirnya “jatuh” juga. Mereka bahkan membuat 2 video yang menampilkan si idol Kpop yang mereka temui, alias 2 personil Shinee. Ini belum termasuk story Instagram mereka ya.

Mundur ke belakang lagi, kita juga sempat dihebohkan dengan “keberhasilan” dara asli Indonesia, Dita Karang, menjadi anggota girlband Kpop Secret Number.

Jangan lupa juga Siwon Super Junior yang wajahnya nampak di mana-mana, memakan mie instan produk Indonesia dengan rasa ke-Korea-korea-an. Pun BTS dan Blackpink yang dipakai sebagai brand ambassador dari platform jual-beli digital Indonesia.

Jadi, sebenarnya ada apa dengan idol Kpop dan Indonesia?

Mungkin, ini berita bahagia bagi kalian para penggemar Kpop. Ini artinya, mereka, sang artis, idola, dan junjungan kalian semua, tertarik terhadap Indonesia, berikut orang-orang dan budayanya.

Tapi, sadar gak, sebenarnya manajemen para idol Kpop itu paham betul, betapa empuknya rakyat Indonesia Raya ini menjadi sasaran pasar. Kita adalah pasar yang sangat potensial bagi para penjaja hiburan, dan rela mengais kocek berapa saja asal bisa membeli tiket konser, album, merchandise, dan poster foto mereka untuk dipajang di kamar.

Dalam psikologis endek-endekan, perilaku ngefans berat ini tergolong dalam kelainan mental. Bukan saya yang ngomong ya, ini saya dapet di… website-website kesehatan.

Dalam bahasa kerennya, perilaku ini disebut celebrity worship syndrome, alias memuja berlebihan dan punya ikatan secara emosional dengan sang idola. Dengan bahasa yang lebih kekinian, sebut saja bucin.

Tahu sendiri kan, kalau terlalu mencintai seseorang, kita tidak akan rela jika sang idola sakit hati, atau dihina orang lain. Inilah alasan betapa militannya penggemar Kpop saat melakukan twit-war. Dalam versi yang lebih ekstrem karena halusinasi yang berlebihan, beberapa penggemar Kpop ada yang rela melakukan percobaan bunuh diri hanya karena idola memilih keluar dari grup boyband mereka.

Semakin sakit jiwanya kita membela sang idola, semakin banyak pula pundi-pundi uang yang dihasilkan manajemen artis di negeri jauh sana.

“Loh tapi Bund, saya cuma sekadar ngefans. Gak pernah beli album apalagi tiket konsernya mereka”

Betul. Mereka memang tidak sepenuhnya berhasil membuat kita jadi budak konsumtif produk-produk mereka. Tapi paling tidak, mereka berhasil menambah jumlah klik dan share, melumpuhkan algoritma media sosial, dan merajai trending topic.

Kita tahu kan betapa ributnya konten Korea memenuhi hashtag-hashtag trending yang sebenarnya tak ada hubungannya dengan substansi utama? Yang justru menjauhkan kita dari informasi sesungguhnya?

Jangan-jangan, Korea-koreaan ini tak hanya menutup mata dan hati kita pada idola lain, tapi juga menutup kesempatan dan kepercayaan kita, bahwa media digital mencerdaskan kita dengan berbagai alternatif wawasan.

Ya tapi mau gimana lagi. Tak ada yang bisa mengalahkan cinta fans kepada idolanya. Mereka betul-betul sudah terlanjur mencinta.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks