Hipster Lokal dan Realitas Menyedihkan dari Mereka yang Merasa Paling Artsy 12 4252

Oleh: M. Ricky Sabastian*

Mungkin ketika mendengar kata hipster, yang orang pikirkan adalah sebuah gambaran seorang anak muda yang ‘katanya’ keren, memakai totebag kemana-mana, menyukai seni rupa dan desain grafis, minum kopi di Café, berkumpul di butik streetwear, sok idealis kekiri-kirian padahal baru membaca satu-dua buku, tak pernah mau turun aksi ke jalan (yaiyalah, mentok-mentok jadi SJW di medsos), membaca literatur pos-modernisme lalu koar-koar di media sosial tentang simulakra (setelah membaca “Baudrillard for Dummies”, meskipun membaca Baudrillard bukan berarti tidak bagus dan tidak menarik), juga yang sok paling Albert Camus karena menganggap sesuatu yang absurd adalah sebuah hal yang ‘nyeni’ atau artsy kalau boleh meminjam terma kekiniannya. Meskipun penjabarannya terkesan judgemental, namun mungkin itulah gambaran paling konkret yang dapat menjawab realitas ini (dalam skala lokal), yaitu penyakit sosial (kalau boleh sedikit kasar) ‘merasa paling hipster dan anti-mainstream’.

Menurut Pradja (2015) dalam bukunya “Before It Was Cool”, hipster merupakan sekumpulan masyarakat subkultur yang memiliki kesukaan akan hal yang dianggap memiliki jiwa seni, intelektual, dan berbeda atau tidak mengikuti selera pasar bahkan jauh terkenal sebelum mencapai masa ketenaran. Hipster merupakan salah satu produk subkultur yang secara umum disepakati sebagai kelompok yang menolak arus utama (mainstream) terutama dalam hal selera busana, musik, film, dan produk kesenian lainnya. Hipster dikenal secara umum untuk gaya estetika mereka yang ironis dan pemujaan berlebih terhadap produk seni budaya serta muncul dalam media terkini sebagai target rutin kritikan serta satir (Henke, 2013). Secara etimologi, istilah hipster menurut Schiermer (2013), berawal dari penyebutan untuk penggemar kesenian yang turun martabatnya dan penyimpangan dari kebudayaan akhir jazz kulit hitam yang ditulis di dalam esai terkenal dari kritikus sastra, Anatole Broyard. Selain itu, istilah hipster di dalam referensi subkultur kontemporer memiliki makna luas yang mencakup arti dari identifikasi (penanda) kelompok tertentu dan ejekan khas.

Pada 1950-an, Norman Mailer menulis artikel berjudul The White Negro di mana artikel tersebut membahas mengenai kelompok kaum kulit putih yang mengadopsi gaya musisi jazz kulit hitam tersebut dan menyematkan kalimat “hipster”, menganggap bahwa kaum hipster adalah golongan orang yang mencoba menjadi existensialis atau berusaha untuk menonjolkan diri. Selain itu, sumber hipster sendiri memang berasal dari Negro dikarenakan kaum kulit hitam telah hidup di dalam batasan di antara masyarakat totalitarian dan demokrasi selama lebih dari dua dekade. Kemunculan hipster sebagai filosofi hidup pada sub-kultur gaya hidup Amerika, menurut Mailer, disebabkan oleh jazz dan penetrasinya ke dalam kebudayaan bagaikan tancapan pisau serta pengaruh penetrasi yang halus dari generasi avant-garde.

Mengacu pada pernyataan-pernyataan tersebut, maka mari kita sepakati bahwa hal ini adalah sebuah fenomena dalam ranah budaya, maka dari itu, hipster pun merupakan sebuah produk budaya, yang mana itu juga merupakan sebuah bentuk komunikasi massa yang menjangkit pada sebuah kelompok tertentu. Ada sistem pemaknaan yang coba dibangun dalam kelompok-kelompok budaya yang bertebaran dalam masyarakat, kalangan hipster-pun memiliki kecondongannya sendiri untuk menentukan simbol-simbol, yang bisa mereka pakai dalam ‘pergaulannya’ menjadi hipster itu sendiri. Seperti yang telah dijelaskan diatas, mereka yang berada di Indonesia acapkali ditemukan bergaya anti-mainstream (kata mereka aja sih) dengan menggunakan pakaian-pakaian dari sebuah komunitas tertentu, atau dari merek-merek yang secara sepihak didaku mereka sebagai merek yang menolak arus utama.

Selain itu, mereka para hipster, juga dapat ditemui pada acara-acara musik indie (huwek, kenapa kata ini harus ada sih!?) yang diadakan perusahaan-perusahaan rokok maupun bir lokal. Selera musik mereka-pun tentunya ‘harus’ berbeda dari khalayak umum dong, mendengarkan musik seperti karya Zeke Khaseli ataupun yang paling ekstrem (karena saking ngototnya ingin digolongkan menjadi hipster, tapi hati tetap menye-menye), mendengarkan karya-karya musikal dari Payung Teduh. Cinta, cinta, cinta. Tetapi pernyataan barusan adalah sangat subjektif, bisa jadi penulis sudah tepat menggambarkan, namun bisa jadi pula penulis agak keliru menggambarkannya, karena siapa tahu karena sudah saking merasa ter-komodifikasi-nya mereka dalam tulisan ini, nongkrong di bawah jembatan sambil minum anggur merah Cap Orang Tua yang dimasukkan plastik, malah menjadi gaya hidup mereka saat ini.

Hipster menjadi menarik diteliti dalam konteks ke-Indonesia-an, karena ternyata dalam konteks masyarakat yang sudah berabad-abad memiliki kebudayaan luhur ini, terdapat sebuah anomali yaitu kelompok hipster lokalan. Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa ketika kita sedang berjalan-jalan ke daerah Jalan Dr.Soetomo Surabaya, lalu masuk ke gang-gang perumahan disana, akan banyak kita temui tempat-tempat dimana para hipster berkumpul dan melakukan aktifitas-aktifitas ke-hipster-an mereka. Sebut saja c2o Library yang sering mengakomodir kegiatan literasi berbau kekiri-kirian nan kadang cenderung menjadi feminazi (oke, maaf apabila keterlaluan bagi yang bersangkutan), Newton dan Other Rag Enterprises yang mana penuh dengan sekumpulan anak muda menggunakan sepatu Vans nan berjaket Fila, atau yang paling baru adalah Qubicle Center, sebuah Co-Working Space yang beberapa kali mengakomodir acara-acara seperti workshop Shibori, pameran karya fotografi dari kamera analog, atau semacam creative talk yang mendatangkan influencer-influencer dari platform Web 2.0 dimana sangat mudah diakses di era New Media ini (saya ingat beberapa pekan lalu mereka mengundang Flux Cup, creator yang katanya kreatif tapi menurut saya sama sekali ndak kreatif, gak percoyo? Lihat aja Instagram atau yuchub-nya).

Hipster di Indonesia masih sangat abstrak untuk dijelaskan dalam ranah akademis, hal ini didasari oleh banyaknya gegar budaya yang terjadi, serta budaya hipster barat yang mana terpaksa dipenetrasikan dalam konteks lokal. Hal tersebut semata-mata untuk membentuk suatu eksklusifitas dalam kelompok kecil hipster lokal. Ini menjadi sebuah kebodohan yang dilakukan oleh para hipster lokal, dimana sebenarnya mereka tidak sedang menjadi anti arus utama, karena fenomena hipster sendiri adalah fenomena global, bukan lagi menjadi langkah alternatif penolakan terhadap arus utama. Apakah ini yang dinamakan sebagai pseudo-alternatif?

Bisa jadi.

Dalam masyarakat New Media dimana kita dihadapkan dengan berbagai macam bentuk kebenaran, maka sebenarnya kita sedang berada dalam sebuah kungkungan atau kerangkeng raksasa dari informasi-informasi yang bertebaran (penjara informasi), maka dari itu para akademisi kekninian sering menggunakan istilah post-truth untuk menandai masa ini: dimana kebenaran tidak ada lagi yang memiliki legitimasi penuh, semua punya legitimasinya sendiri dan berhak menentukan sumber atau rujukan yang menurut kelompoknya masing-masing ‘paling mencerahkan’. Sama seperti hipster era Web 2.0, asal mereka mendengarkan musik yang views-nya tidak terlampau jutaan, maka ia sudah berhak melabeli dirinya menjadi hipster. Tunggu sebentar, bukannya hipster menolak labelling? Eh.

(Bersambung–mirip cerita silat).

*Jejaka tanggung sekaligus mahasiswa terkenal di kampusnya. Berminat pada kajian-kajian kritis budaya.

 

Previous ArticleNext Article

12 Comments

  1. menarik,tapi ada pertanyaan besar yang mungkin menarik untuk dijadikan bahan diskusi. Saya akan memulai premis, bahwa segala dinamika di lingkungan sosial berada dalam perspektif dialiektika,tesa,antitesa,lalu sintesa maka begitu pula perlakuannya terhadap budaya. Akan ada budaya konserfatif yang dihantam budaya tanding,begitu pun seterusnya. Pada posisi pergolakan berhenti pada budaya tandingan dan sialnya kapitalisme berhasil mengkooptasi budaya tandingan lalu kemudian menjadi budaya massa disitulah hipster lahir (menurut saya).

    yang ingin saya ajukan sebagai bahan diskusi adalah,bagaimana pengaruh tatanan ekonomi global serta perilaku masyarakatnya terhadap aktivitas kooptasi budaya tandingan ini? jangan2 hipster adalah korban dari minimnya pengetahuan mereka bahwa sebenarnya mereka sedang diakali dan sayangnya mereka yg kritis berusaha menjauhi diskursus itu namun justru berdiri diluar untuk terus mengkritisi perilaku ini

    salam
    Ganesha Patria
    penulis di kemarin sore.club,mantan aktivis pergerakan mahasiswa,dan salah satu hipster yang sempat punya band crust punk bernama PisauxNalar

  2. Hey, douchebag, saya tahu opinions are like asshole, everybody has one, hence say what you want, tapi apa salahnya apabila sekelompok orang ingin berkumpul untuk berdiskusi, bertukar pikiran atau sederhananya bersenang senang bersama sama?

    Dan apa haramnya menggunakan/membeli produk fashion dengan brand yang kamu sebutkan di atas?

    Dan apa kelirunya untuk menggunakan ruang ruang publik tersebut?

    Apakah kamu pernah sakit hati mungkin karena karyamu/keberadaanmu tidak diterima/tidak ketara oleh lingkup golongan yang kamu sebutkan dalam tulisanmu?

    Apakah kamu juga tidak menikmati apa yang kami nikmati?

    Atau mungkin kamu se-desperate itu untuk mendapatkan sebutan yang kamu sematkan pada kami?

    Atau kamu hanya menginginkan atensi?

    Insecure much?

    Either way, you look pathetic.

    To end my comment of this “public section”,

    You offended a lot of good people in Surabaya dude, most of them are my good friends,

    Good people who just want to do their things without any intentions of being whatever you say they are.

    Check yourself before you wreck yourself,

    Take care,

  3. Suatu hari, tersebutlah seorang mahasiswa yang gemar bertanya-tanya. Apa saja yang tertangkap inderanya dan kemudian dilintaskan di otaknya memuntahkan keheranan. Namun sayang, oleh sebab umur yang baru tuntas remaja, ia sering menahan kejujuran jiwa anak kecil dalam dirinya yang gatal ‘tuk mengucap, ‘tuk bertanya.

    Ditemukanlah olehnya sebuah media ramah perspektif yang menawarkan ruang untuk menjadi kurang ajar (Kalikata.id, halaman Tentang, 2017). *admin berdehem* Ucap sang mahasiswa dengan lega, “Ah… Inilah ruang publik yang telah lama kuimpi-damba.”

    Siapa sangka, bahwa ia lantas bermain dalam media tersebut ‘tuk mengujar, dalam sebuah artikel, segala apa-mengapa-bagaimana tentang dirinya sendiri (baca: tentang ke-hipster-annya sendiri)?

    Penasaran, admin kemudian menyewa Roi Keyoseh buat menerawang maksud si mahasiswa. Kata Roi, isi batinnya berkata, ‘Lah iyo ini kan yang dimau banyak bibir, yang baru kemarin kusak-kusuk di warung-warung kopi. Sesudut tempat buat menampung roso lan suarane ati. Namanya suara hati memang sudah nalurinya nabrak-nabrak sama suara hati lain, sama kayak hakikat kebebasan. Tapi toh, mereka bilang pengen punya ruang publik, ruang yang isinya orang-orang yang boleh jujur.’

    Karena tersentuh hatinya, admin lalu menitikkan air mata seraya dengan sesenggukan mendaraskan pesan moral dari pengalaman haru-biru ini, “Mari yang lain, semuanya, jangan sampai lupa bikin artikel balasan ‘tuk sampaikan argumen masing-masing! Mari sama-sama wujudkan impian si mahasiswa tentang ruang publik kaya perspektif!”

    Tanpa lupa, admin kemudian mengajak pembaca sekalian yang budiman untuk berkumpul dan bertapa, memanggil jiwa si mahasiswa untuk turut menanggapi komentar khalayak yang ribut dibuatnya.

    1. Saya yakin fabula dalam adagium ulasan ini menjadikan arsis terhadap kuin dan epifora pada setiap paragraf yang Mas Ricky Sabastian jewantahkan. Sayangnya parameter yang dilihat merupakan analogi enjambemen dengan nuansa fiksi yang gemawan.

      Untung saja terjadi dialog yang progresif dalam membina kakofoni heptameter tulisan itu sendiri. Kalau tidak, peran larik dan distikon yang banal tak terjadi dalam tulisan ini. Yang diharapkan akan adanya dekontekstualisasi malah jadi ironi.

      Mas Ricky Sabastian, tulisan ini mengandung prosenium tipis yang seharusnya dapat lebih menuju ke titik karmina. Sayangnya, kenadiran kilas balik pada jarak estetik tidak menghadirkan kesinambungan rima yang membentang.

      Semoga komentar saya ini menjadi monodi bagi semua pembaca yang mengharapkan asonansi dan kematraan estetika mendalam dari tulisan Mas Ricky Sabastian.

  4. kalau bisa netral sih sebagai media yang menuliskan opininya. bisa kalikali di kurasi lagi untuk tulisannya (tidak urus masalah perhipsteran/perindie-an)

  5. Kalo gue dibilang hipster, yauds.

    orang lain juga gak masalah dibilang K-Popers atau Dangdut-ers.

    Biarkan saja si Mas Author ini, Salam.

  6. Hipster mah riil. Orang2 kaya semua. Ada bagusnya sih tulisan model begini, bikin melek orang2. Hipster maramara pada tersinggung 😀

  7. hehe rame ya kalo bahas hipster. udah bahas hipster2an dan sub kultur lainnya aja, gausah bahas politik..sepi. hipster lebih galak daripada politisi dan kebijakannya yg kalian nyinyiri.

    oiya btw penulisnya kok ilang ya ? apa udah dipetrus hipster ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dosa Besar dan Keleletan Pertamina 0 261

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Sesuai judul, penulis ingin secara terangan-terangan menghujat dan mempersalahkan PT. Pertamina. Bagaimana tidak? Kebocoran pipa di Teluk Balikpapan ini membuat penulis bertanya serius pada PT. Pertamina, “kowe iki becus opo ora toh?”

Sabtu lalu, tajuk utama surat kabar langganan saya mengejutkan sekaligus menyulut emosi. Mulut sudah kebelet mencaci maki dan hati rasanya sakit sekali.

Katanya, ada minyak tumpah di Teluk Balikpapan. Foto tumpahannya, nauudzubilah min zalik!

Isi pemberitaan itu menuding kapal bermuatan batu bara asal Cina, MV Ever Judger membuang limbah minyak bahan bakarnya secara ilegal ke Teluk Balikpapan. Limbah Marine Fuel Oil (MFO) itu kemudian menyebabkan kebakaran hebat di laut. Menurut keterangan saksi mata, terjadi ledakan besar disertai kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi di lokasi. Lima nelayan setempat tewas dilahap api yang tak bisa dikendalikan. Disini, saya sudah habis memaki-maki si Ever Judger ini. Wani-wani ne nyampah nang lautku?  Tenggelamno ae!

Disebutkan pula bahwa kapal MV Ever Judger, yang disangkakan sebagai pelaku, juga ikut-ikutan terbakar. Buritan kapal bagian kiri digilas api, juga sekocinya. Awak kapal dan muatannya bahkan menjerit minta diselamatkan.

Lah katanya mereka yang membuang, kok malah ikutan kebakar? Ganjil? Sangat ganjil.

Makian saya perlahan hilang, seiring akal mengatakan saya sudah salah tuduh. Mohon maaf Ever Judger, saya sudah suudzon berat padamu!

Kemudian disini, aktor amatir kita yang sangat payah mulai tampil bermain.

Sebagai pemilik kilang minyak yang lokasinya berdekatan dengan tumpahan, hari itu juga PT. Pertamina memberi tanggapan. Tanggapan penuh kezaliman.

Mereka menegaskan dengan gagah berani dan percaya diri pada awak media, jelas-jelas yang tumpah itu MFO. Sedangkan, PT Pertamina di Teluk Balikpapan hanya, sekali lagi, hanya memproduksi crude oil atau minyak mentah macam solar atau avtur.

Tolong pikir-pikir lagi lah ya kalau mau menyalahkan Pertamina. Begitulah kira-kira makna klarifikasi itu, bagi mereka yang mampu menangkapnya.

Ever Judger masih tersangka. sedang Pertamina cuci tangan.

Dua hari setelahnya, dengan malu-malu(in), PT Pertamina menjilat kembali ludah yang sudah diinjak dan diesek-esek dengan sepatunya sendiri. Mereka mengaku, minyak yang mengapung di perairan Teluk Balikpapan adalah kesalahan mereka.

Entah bagaimana divisi PR PT. Pertamina ini. Mungkin dulu tidak ambil mata kuliah Dasar-Dasar Public Relations, atau lalai, atau tertekan atasan.

Hasilnya, setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut dengan metode penyelaman dasar laut, didapati temuan mengejutkan sekaligus menampar Pertamina tepat di mukanya (kalau masih punya muka).

Pipa milik PT. Pertamina ditemukan terputus lalu terseret sejauh 100 meter dari asalnya.

Gila! Mau mengelak apa lagi?

Sudah mencla-mencle begitu, mereka pun lamban sekali menangani minyak yang kadung kemana-mana ini. Sampai seminggu sejak minyak mengapung dan mencemari laut, Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) mengeluhkan keleletan Pertamina. Tim yang dikirim Pertamina untuk membantu tindakan pembersihan dan pemulihan bekerja sangat lamban. Pada banyak aspek,  BPBD merasa Pertamina banyak menutup-nutupi perkara ini.

Ini BUMN apa yang bisa-bisanya mencla-mencle memberi pernyataan resmi, lalu berani-beraninya tidak cekatan menangani masalah yang jelas-jelas tanggung jawab dan kesalahannya? Nilai merah untuk Pertamina!

Coba Pembaca bayangkan, tumpahan minyak ini sudah hampir menyentuh Pulau Sulawesi sedangkan Balikpapan itu di Kalimantan! Hal itu disampaikan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Republik Indonesia (LAPAN RI). Lebih jelasnya, tumpahan minyak ini sudah merembes ke Selat Makassar.

Ekosistem laut jelas tercemar berat. Entah berapa barel minyak yang terbuang begitu saja di perairan Teluk Balikpapan. Biota laut pun banyak yang mati dan terancam keberlangsungan hidupnya. Seekor pesut bahkan ususnya sampai terburai, lalu mati dan hanyut ke pantai. Padahal populasi pesut di perairan itu hanya sekitar 60 ekor. Miris! Semoga saja tidak jadi punah karena ulah PT. Pertamina ini.

Lalu, Pembaca tolong bayangkan pohon bakau. Itu, daunnya yang berjarak 1,5 meter dari akarnya menghitam tersebab minyak. Warga dekat teluk pun sudah mulai kena penyakit saluran pernafasan karena bau crude oil yang menyengat dan berbahaya. Keluhan kesehatan lain pastinya makin banyak di sana. Nelayan pun jadi tidak bisa melaut. Lalu lintas perdagangan bahkan lumpuh. Kapal dilarang sama sekali lewat karena minyak yang tumpah mudah sekali terbakar. Bahkan Ever Judger yang sempat difitnah dan dikambinghitamkan pun harus tertahan di sana.

Ini masalah serius! Sangat, sangat serius! Aduh Pertamina, tulung poo seng nggena..

Menurut saya, Pertamina telah melakukan kejahatan lingkungan luar biasa, yang dampaknya tidak main-main. Butuh sanksi tegas dan bentuk pertanggungjawaban konkret yang mampu memperbaiki kerusakan dan pencemaran pada ekosistem Teluk Balikpapan.

Pemerintah pusat harus tegas dan berani memberi sanksi tegas pada BUMN-nya ini. Jangan sampai hanya berdiam diri saja, karena seminggu ini kasus berjalan tanpa ada tanggapan sedikitpun dari Istana. (Padahal katanya di laut kita kuat? Giliran laut tercemar, diam saja. Huh.)

Memalukan bila sampai kasus ini sengaja diabaikan apalagi dilupakan. Karena memang disadari topik lingkungan mesti kalah pamor dengan isu politik ibukota atau penistaan agama. Namun,. ayolah, ini masalah yang jelas amat besar.

Kenapa juga lebih banyak netijen mempermasalahan Sukmawati, cacing makarel, dan Lucinta Luna ketimbang Teluk Balikpapan?  Duh, bikin jengkel saja!

Semoga pembaca Kalikata yang budiman tidak masuk golongan netijen macam itu. Wallahualam.

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Macan karaoke dan penyuka eskrim.

Haruskah Berbelasungkawa untuk Uber? 0 197

Jika nasib hubunganmu dengan arek’e terasa tidak pasti, antara kawin lari tanpa restu orang tua atau putus sekarang kemudian bunuh diri, tenang saja. Nasib Anda sama gamangnya dengan para calon mantan pengemudi Uber.

Sejak diakuisisi oleh Grab per 26 Maret lalu, tiada keputusan terang bagi para pengemudi perusahaan transportasi asal Amerika itu akan otomatis diboyong. Tiada kepastian apakah setelah 8 April besok, mereka akan ganti perilaku, yang awalnya memberi penumpang dengan helm oranye, kemudian jadi helm ijo royo-royo.

Satu hal yang jelas dalam kasus ini adalah angka persentase pembagian saham, dan hitung-hitungan ahli ekonomi tentang berapa keuntungan yang berhasil direngkuh saingannya lord Nadiem Makarim itu. Sisanya, apalagi bagi nasib pengemudinya serta sanak-keluarganya tentu saja buram.

Hari ini, penulis mencoba melalui masa megap-megap bersama Uber dengan bolak-balik memecah jalanan Surabaya yang super padat itu tiga kali (edyan, wes koyok ngombe obat ae).

Benarlah kata orang jika manusia cenderung bertobat ketika mendekati ajal, demikian pula dengan para driver ini. Ketiganya manis – ucapan dan pelayanannya tentu saja – tidak peduli yang roda dua ataupun setir bunder. Semoga tiga driver yang menghantar penulis kali ini bisa jadi sampel yang representatif. Untuk melindungi keamanan bangsa dan negara, identitas driver akan disamarkan, karena toh penulis juga lupa namanya apalagi wajahnya hehe (lali jenenge eling rasane).

Jika biasanya pengemudi ini bertanya lokasi penjemputan dan tujuan dengan sewot tapi minta bintang lima, kini mereka berbeda. Hari ini, ketika hidup mereka tinggal hitungan jam, mereka berusaha jadi teman ngobrol yang asik. Jika penumpang diam, mereka mulai gelisah, posisi duduknya diubah ke kiri dan kanan, badannya condong ke depan, balik lagi ke belakang, berusaha merawat obrolan agar tetap langgeng, persis gebetanmu ketika pdkt.

Mbak kuliah di mana?”

“Kampus x”

“Jauh ya Mbak kalau ke kampus”

“Iya”

“Biasanya naik Uber juga?”

“Iya”

“Besok udah gak bisa lagi, Mbak. Mbak bisanya naik helikopter atau odong-odong”

Mereka sudah tiada mampu ngomel lagi jika kita dapat promo besar-besaran dan tetap minta kita bayar sesuai tarif asli, karena ya buat apa. Mereka juga tiada mengejar lagi prestasi bintang lima atau tambahan komentar seperti ‘good service’ atau ‘good conversation’, karena ya pada akhirnya hanya tinggal kenangan. Penulis menyarankan, jika para driver itu punya predikat expert sebagai penampung keluh kesah penumpang, pernyataan pada aplikasinya harap di-screenshoot, dicetak, dilaminating, dan dipigurakan.

Eits, tapi ini berlaku hanya bagi driverdriver jujur yang tiada pernah kepikiran untuk mendua atau berselingkuh. Kalau Uber, ya Uber thok. Pembaca kan pasti tahu, bahwa penumpang yang Anda temui di jalan pakai helmnya hijau tapi ternyata pesan pakai aplikasi sebelah adalah hal lumrah. Mereka mengaku, bahwa ikut satu aplikasi saja tidak dapat memberi laba signifikan untuk mengganti uang bensin, uang servis kendaraan yang MILIK PRIBADI itu, dan sedikit penghargaan karena panas-panasan dan macet di jalan.

Para pengemudi ini lantas curhat pada penulis. Mereka hanya diSARANkan berpindah ke aplikasi Grab. Selain itu, pendapat lain muncul seperti ‘Baru saja nyemplung 6 bulan, eh Uber sudah tinggal kenangan’. Pendapat yang terakhir ini memang sedih, sama seperti kamu yang ditinggal doi ketika lagi sayang-sayangnya.

Menyoal Uber dan kawan-kawannya memang tidak pernah mencapai garis akhir di belantara Indonesia. Tiada lagi kecocokan konsep driver sebagai mitra dengan keadaan di lapangan. Apalagi jika ditarik kepada konsep relasi kuasa buruh-majikan, proletar-borjuis ala-ala Marx dan sekte-sektenya. Jika memungkinkan, mereka bisa saja bangkit dari kubur untuk mengkaji ulang polemik transportasi online yang ruwet ini.

Belum usai perkara SPM dan regulasi transportasi beserta tetek-bengeknya, sudah muncul kegaduhan baru lainnya. Dan semua muaranya adalah teriak protes keparnoan netijen Indonesia pada pengangguran.

Tapi tidak apa, fenomena ini akan membuat para pekerja media tetap bisa berkarya. Lah wong ada saja persekutuan driver yang berdemo, macam safari dari satu kota ke kota lainnya, muatan berita jadi tetap variatif dan lestari sebagai kolom permanen kalau-kalau tidak ada politisi yang bikin ulah yang bisa diberitakan.

Namun, bagi pengguna loyal macam penulis ini, hilangnya Uber dari gawai kita merupakan suatu peristiwa yang menguras emosi kesedihan. Padahal, rasanya seperti baru kemarin menggunakan aplikasi Uber untuk pertama kalinya, merasakan canggungnya, bolak-balik melihat indikator posisi driver yang akan menjemput kita sambil deg-deg-an macam dijemput pacar. Fitur Uber Eats saja belum sempat kita cicipi nikmatnya, eh keburu dipek Grab. Mereka ini gak mikir apa, bahwa sebagian pelanggan kan bisa jadi sensi atau phobia warna hijau, bisa jadi mengingatkan mereka pada simbol institusi atau kenangan tertentu yang menyakitkan.

Tapi, yang pasti, kepada umat sekalian, para driver ini menyampaikan kata-kata terakhirnya. Bersiaplah beralih ke aplikasi yang lain! Mbok ya, kalau bisa, berpindah hati ke yang produk lokal Indonesia saja. Biar mahal dikit tak apa, yang penting gak banyak promonya, hehe.

Editor Picks