Hipster Lokal dan Realitas Menyedihkan dari Mereka yang Merasa Paling Artsy 14 10289

Oleh: M. Ricky Sabastian*

Mungkin ketika mendengar kata hipster, yang orang pikirkan adalah sebuah gambaran seorang anak muda yang ‘katanya’ keren, memakai totebag kemana-mana, menyukai seni rupa dan desain grafis, minum kopi di Café, berkumpul di butik streetwear, sok idealis kekiri-kirian padahal baru membaca satu-dua buku, tak pernah mau turun aksi ke jalan (yaiyalah, mentok-mentok jadi SJW di medsos), membaca literatur pos-modernisme lalu koar-koar di media sosial tentang simulakra (setelah membaca “Baudrillard for Dummies”, meskipun membaca Baudrillard bukan berarti tidak bagus dan tidak menarik), juga yang sok paling Albert Camus karena menganggap sesuatu yang absurd adalah sebuah hal yang ‘nyeni’ atau artsy kalau boleh meminjam terma kekiniannya. Meskipun penjabarannya terkesan judgemental, namun mungkin itulah gambaran paling konkret yang dapat menjawab realitas ini (dalam skala lokal), yaitu penyakit sosial (kalau boleh sedikit kasar) ‘merasa paling hipster dan anti-mainstream’.

Menurut Pradja (2015) dalam bukunya “Before It Was Cool”, hipster merupakan sekumpulan masyarakat subkultur yang memiliki kesukaan akan hal yang dianggap memiliki jiwa seni, intelektual, dan berbeda atau tidak mengikuti selera pasar bahkan jauh terkenal sebelum mencapai masa ketenaran. Hipster merupakan salah satu produk subkultur yang secara umum disepakati sebagai kelompok yang menolak arus utama (mainstream) terutama dalam hal selera busana, musik, film, dan produk kesenian lainnya. Hipster dikenal secara umum untuk gaya estetika mereka yang ironis dan pemujaan berlebih terhadap produk seni budaya serta muncul dalam media terkini sebagai target rutin kritikan serta satir (Henke, 2013). Secara etimologi, istilah hipster menurut Schiermer (2013), berawal dari penyebutan untuk penggemar kesenian yang turun martabatnya dan penyimpangan dari kebudayaan akhir jazz kulit hitam yang ditulis di dalam esai terkenal dari kritikus sastra, Anatole Broyard. Selain itu, istilah hipster di dalam referensi subkultur kontemporer memiliki makna luas yang mencakup arti dari identifikasi (penanda) kelompok tertentu dan ejekan khas.

Pada 1950-an, Norman Mailer menulis artikel berjudul The White Negro di mana artikel tersebut membahas mengenai kelompok kaum kulit putih yang mengadopsi gaya musisi jazz kulit hitam tersebut dan menyematkan kalimat “hipster”, menganggap bahwa kaum hipster adalah golongan orang yang mencoba menjadi existensialis atau berusaha untuk menonjolkan diri. Selain itu, sumber hipster sendiri memang berasal dari Negro dikarenakan kaum kulit hitam telah hidup di dalam batasan di antara masyarakat totalitarian dan demokrasi selama lebih dari dua dekade. Kemunculan hipster sebagai filosofi hidup pada sub-kultur gaya hidup Amerika, menurut Mailer, disebabkan oleh jazz dan penetrasinya ke dalam kebudayaan bagaikan tancapan pisau serta pengaruh penetrasi yang halus dari generasi avant-garde.

Mengacu pada pernyataan-pernyataan tersebut, maka mari kita sepakati bahwa hal ini adalah sebuah fenomena dalam ranah budaya, maka dari itu, hipster pun merupakan sebuah produk budaya, yang mana itu juga merupakan sebuah bentuk komunikasi massa yang menjangkit pada sebuah kelompok tertentu. Ada sistem pemaknaan yang coba dibangun dalam kelompok-kelompok budaya yang bertebaran dalam masyarakat, kalangan hipster-pun memiliki kecondongannya sendiri untuk menentukan simbol-simbol, yang bisa mereka pakai dalam ‘pergaulannya’ menjadi hipster itu sendiri. Seperti yang telah dijelaskan diatas, mereka yang berada di Indonesia acapkali ditemukan bergaya anti-mainstream (kata mereka aja sih) dengan menggunakan pakaian-pakaian dari sebuah komunitas tertentu, atau dari merek-merek yang secara sepihak didaku mereka sebagai merek yang menolak arus utama.

Selain itu, mereka para hipster, juga dapat ditemui pada acara-acara musik indie (huwek, kenapa kata ini harus ada sih!?) yang diadakan perusahaan-perusahaan rokok maupun bir lokal. Selera musik mereka-pun tentunya ‘harus’ berbeda dari khalayak umum dong, mendengarkan musik seperti karya Zeke Khaseli ataupun yang paling ekstrem (karena saking ngototnya ingin digolongkan menjadi hipster, tapi hati tetap menye-menye), mendengarkan karya-karya musikal dari Payung Teduh. Cinta, cinta, cinta. Tetapi pernyataan barusan adalah sangat subjektif, bisa jadi penulis sudah tepat menggambarkan, namun bisa jadi pula penulis agak keliru menggambarkannya, karena siapa tahu karena sudah saking merasa ter-komodifikasi-nya mereka dalam tulisan ini, nongkrong di bawah jembatan sambil minum anggur merah Cap Orang Tua yang dimasukkan plastik, malah menjadi gaya hidup mereka saat ini.

Hipster menjadi menarik diteliti dalam konteks ke-Indonesia-an, karena ternyata dalam konteks masyarakat yang sudah berabad-abad memiliki kebudayaan luhur ini, terdapat sebuah anomali yaitu kelompok hipster lokalan. Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa ketika kita sedang berjalan-jalan ke daerah Jalan Dr.Soetomo Surabaya, lalu masuk ke gang-gang perumahan disana, akan banyak kita temui tempat-tempat dimana para hipster berkumpul dan melakukan aktifitas-aktifitas ke-hipster-an mereka. Sebut saja c2o Library yang sering mengakomodir kegiatan literasi berbau kekiri-kirian nan kadang cenderung menjadi feminazi (oke, maaf apabila keterlaluan bagi yang bersangkutan), Newton dan Other Rag Enterprises yang mana penuh dengan sekumpulan anak muda menggunakan sepatu Vans nan berjaket Fila, atau yang paling baru adalah Qubicle Center, sebuah Co-Working Space yang beberapa kali mengakomodir acara-acara seperti workshop Shibori, pameran karya fotografi dari kamera analog, atau semacam creative talk yang mendatangkan influencer-influencer dari platform Web 2.0 dimana sangat mudah diakses di era New Media ini (saya ingat beberapa pekan lalu mereka mengundang Flux Cup, creator yang katanya kreatif tapi menurut saya sama sekali ndak kreatif, gak percoyo? Lihat aja Instagram atau yuchub-nya).

Hipster di Indonesia masih sangat abstrak untuk dijelaskan dalam ranah akademis, hal ini didasari oleh banyaknya gegar budaya yang terjadi, serta budaya hipster barat yang mana terpaksa dipenetrasikan dalam konteks lokal. Hal tersebut semata-mata untuk membentuk suatu eksklusifitas dalam kelompok kecil hipster lokal. Ini menjadi sebuah kebodohan yang dilakukan oleh para hipster lokal, dimana sebenarnya mereka tidak sedang menjadi anti arus utama, karena fenomena hipster sendiri adalah fenomena global, bukan lagi menjadi langkah alternatif penolakan terhadap arus utama. Apakah ini yang dinamakan sebagai pseudo-alternatif?

Bisa jadi.

Dalam masyarakat New Media dimana kita dihadapkan dengan berbagai macam bentuk kebenaran, maka sebenarnya kita sedang berada dalam sebuah kungkungan atau kerangkeng raksasa dari informasi-informasi yang bertebaran (penjara informasi), maka dari itu para akademisi kekninian sering menggunakan istilah post-truth untuk menandai masa ini: dimana kebenaran tidak ada lagi yang memiliki legitimasi penuh, semua punya legitimasinya sendiri dan berhak menentukan sumber atau rujukan yang menurut kelompoknya masing-masing ‘paling mencerahkan’. Sama seperti hipster era Web 2.0, asal mereka mendengarkan musik yang views-nya tidak terlampau jutaan, maka ia sudah berhak melabeli dirinya menjadi hipster. Tunggu sebentar, bukannya hipster menolak labelling? Eh.

(Bersambung–mirip cerita silat).

*Jejaka tanggung sekaligus mahasiswa terkenal di kampusnya. Berminat pada kajian-kajian kritis budaya.

 

Previous ArticleNext Article

14 Comments

  1. menarik,tapi ada pertanyaan besar yang mungkin menarik untuk dijadikan bahan diskusi. Saya akan memulai premis, bahwa segala dinamika di lingkungan sosial berada dalam perspektif dialiektika,tesa,antitesa,lalu sintesa maka begitu pula perlakuannya terhadap budaya. Akan ada budaya konserfatif yang dihantam budaya tanding,begitu pun seterusnya. Pada posisi pergolakan berhenti pada budaya tandingan dan sialnya kapitalisme berhasil mengkooptasi budaya tandingan lalu kemudian menjadi budaya massa disitulah hipster lahir (menurut saya).

    yang ingin saya ajukan sebagai bahan diskusi adalah,bagaimana pengaruh tatanan ekonomi global serta perilaku masyarakatnya terhadap aktivitas kooptasi budaya tandingan ini? jangan2 hipster adalah korban dari minimnya pengetahuan mereka bahwa sebenarnya mereka sedang diakali dan sayangnya mereka yg kritis berusaha menjauhi diskursus itu namun justru berdiri diluar untuk terus mengkritisi perilaku ini

    salam
    Ganesha Patria
    penulis di kemarin sore.club,mantan aktivis pergerakan mahasiswa,dan salah satu hipster yang sempat punya band crust punk bernama PisauxNalar

  2. Hey, douchebag, saya tahu opinions are like asshole, everybody has one, hence say what you want, tapi apa salahnya apabila sekelompok orang ingin berkumpul untuk berdiskusi, bertukar pikiran atau sederhananya bersenang senang bersama sama?

    Dan apa haramnya menggunakan/membeli produk fashion dengan brand yang kamu sebutkan di atas?

    Dan apa kelirunya untuk menggunakan ruang ruang publik tersebut?

    Apakah kamu pernah sakit hati mungkin karena karyamu/keberadaanmu tidak diterima/tidak ketara oleh lingkup golongan yang kamu sebutkan dalam tulisanmu?

    Apakah kamu juga tidak menikmati apa yang kami nikmati?

    Atau mungkin kamu se-desperate itu untuk mendapatkan sebutan yang kamu sematkan pada kami?

    Atau kamu hanya menginginkan atensi?

    Insecure much?

    Either way, you look pathetic.

    To end my comment of this “public section”,

    You offended a lot of good people in Surabaya dude, most of them are my good friends,

    Good people who just want to do their things without any intentions of being whatever you say they are.

    Check yourself before you wreck yourself,

    Take care,

  3. Suatu hari, tersebutlah seorang mahasiswa yang gemar bertanya-tanya. Apa saja yang tertangkap inderanya dan kemudian dilintaskan di otaknya memuntahkan keheranan. Namun sayang, oleh sebab umur yang baru tuntas remaja, ia sering menahan kejujuran jiwa anak kecil dalam dirinya yang gatal ‘tuk mengucap, ‘tuk bertanya.

    Ditemukanlah olehnya sebuah media ramah perspektif yang menawarkan ruang untuk menjadi kurang ajar (Kalikata.id, halaman Tentang, 2017). *admin berdehem* Ucap sang mahasiswa dengan lega, “Ah… Inilah ruang publik yang telah lama kuimpi-damba.”

    Siapa sangka, bahwa ia lantas bermain dalam media tersebut ‘tuk mengujar, dalam sebuah artikel, segala apa-mengapa-bagaimana tentang dirinya sendiri (baca: tentang ke-hipster-annya sendiri)?

    Penasaran, admin kemudian menyewa Roi Keyoseh buat menerawang maksud si mahasiswa. Kata Roi, isi batinnya berkata, ‘Lah iyo ini kan yang dimau banyak bibir, yang baru kemarin kusak-kusuk di warung-warung kopi. Sesudut tempat buat menampung roso lan suarane ati. Namanya suara hati memang sudah nalurinya nabrak-nabrak sama suara hati lain, sama kayak hakikat kebebasan. Tapi toh, mereka bilang pengen punya ruang publik, ruang yang isinya orang-orang yang boleh jujur.’

    Karena tersentuh hatinya, admin lalu menitikkan air mata seraya dengan sesenggukan mendaraskan pesan moral dari pengalaman haru-biru ini, “Mari yang lain, semuanya, jangan sampai lupa bikin artikel balasan ‘tuk sampaikan argumen masing-masing! Mari sama-sama wujudkan impian si mahasiswa tentang ruang publik kaya perspektif!”

    Tanpa lupa, admin kemudian mengajak pembaca sekalian yang budiman untuk berkumpul dan bertapa, memanggil jiwa si mahasiswa untuk turut menanggapi komentar khalayak yang ribut dibuatnya.

    1. Saya yakin fabula dalam adagium ulasan ini menjadikan arsis terhadap kuin dan epifora pada setiap paragraf yang Mas Ricky Sabastian jewantahkan. Sayangnya parameter yang dilihat merupakan analogi enjambemen dengan nuansa fiksi yang gemawan.

      Untung saja terjadi dialog yang progresif dalam membina kakofoni heptameter tulisan itu sendiri. Kalau tidak, peran larik dan distikon yang banal tak terjadi dalam tulisan ini. Yang diharapkan akan adanya dekontekstualisasi malah jadi ironi.

      Mas Ricky Sabastian, tulisan ini mengandung prosenium tipis yang seharusnya dapat lebih menuju ke titik karmina. Sayangnya, kenadiran kilas balik pada jarak estetik tidak menghadirkan kesinambungan rima yang membentang.

      Semoga komentar saya ini menjadi monodi bagi semua pembaca yang mengharapkan asonansi dan kematraan estetika mendalam dari tulisan Mas Ricky Sabastian.

  4. kalau bisa netral sih sebagai media yang menuliskan opininya. bisa kalikali di kurasi lagi untuk tulisannya (tidak urus masalah perhipsteran/perindie-an)

  5. Kalo gue dibilang hipster, yauds.

    orang lain juga gak masalah dibilang K-Popers atau Dangdut-ers.

    Biarkan saja si Mas Author ini, Salam.

  6. Hipster mah riil. Orang2 kaya semua. Ada bagusnya sih tulisan model begini, bikin melek orang2. Hipster maramara pada tersinggung 😀

  7. hehe rame ya kalo bahas hipster. udah bahas hipster2an dan sub kultur lainnya aja, gausah bahas politik..sepi. hipster lebih galak daripada politisi dan kebijakannya yg kalian nyinyiri.

    oiya btw penulisnya kok ilang ya ? apa udah dipetrus hipster ?

  8. Halo, maaf aku masih bocah yang sok-sokan paham tentang beginian dan baru belajar ngomong, menurut aku nih,

    kebanyakan temen-temen aku yang begitu rata-rata malah pada golongan kanan kebanyakan, rata-rata mereka dari golongan menengah keatas (yang menurut aku) ingin dipandang ‘beda’ dari orang-orang yang lain (mungkin inilah yang disebut merujuk pada eksklusifitas)

    aku setuju sama komentarnya Mas Ganesha Patria yang bagian “Pada posisi pergolakan berhenti pada budaya tandingan dan sialnya kapitalisme berhasil mengkooptasi budaya tandingan lalu kemudian menjadi budaya massa disitulah hipster lahir (menurut saya)”

    terus, aku rasa Authornya, nulis tulisan bagian “Mungkin ketika mendengar kata hipster, yang orang pikirkan adalah sebuah gambaran seorang anak muda yang ‘katanya’ keren, memakai totebag kemana-mana, menyukai seni rupa dan desain grafis, minum kopi di Café, berkumpul di butik streetwear, sok idealis kekiri-kirian padahal baru membaca satu-dua buku, tak pernah mau turun aksi ke jalan (yaiyalah, mentok-mentok jadi SJW di medsos), membaca literatur pos-modernisme lalu koar-koar di media sosial tentang simulakra (setelah membaca “Baudrillard for Dummies”, meskipun membaca Baudrillard bukan berarti tidak bagus dan tidak menarik), juga yang sok paling Albert Camus karena menganggap sesuatu yang absurd adalah sebuah hal yang ‘nyeni’ atau artsy kalau boleh meminjam terma kekiniannya. Meskipun penjabarannya terkesan judgemental, namun mungkin itulah gambaran paling konkret yang dapat menjawab realitas ini (dalam skala lokal), yaitu penyakit sosial (kalau boleh sedikit kasar) ‘merasa paling hipster dan anti-mainstream’.” itu mungkin si author ngerasain hal yang sama yang kaya aku rasain dan emang kebanyakan begitu hehehehe 😀 *peace*

    intinya : yaudah, mau kita hipster, kpopers, wibu, dll tetep jadi dirimu sendiri:). Setiap orang berhak mengomentari dan diberi komentar. Menurut aku, authornya ga memojokan kok, author hanya ingin menulis tentang sesuatu yang nyata yang hadir di tengah-tengah budaya kita sekarang ini.

  9. Halo, maaf aku masih bocah yang sok-sokan paham tentang beginian dan baru belajar ngomong, menurut aku nih,

    kebanyakan temen-temen aku yang begitu rata-rata malah pada golongan kanan kebanyakan, rata-rata mereka dari golongan menengah keatas (yang menurut aku) ingin dipandang ‘beda’ dari orang-orang yang lain (mungkin inilah yang disebut merujuk pada eksklusifitas)

    aku setuju sama komentarnya Mas Ganesha Patria yang bagian “Pada posisi pergolakan berhenti pada budaya tandingan dan sialnya kapitalisme berhasil mengkooptasi budaya tandingan lalu kemudian menjadi budaya massa disitulah hipster lahir (menurut saya)”

    terus, aku rasa Authornya, nulis tulisan bagian “Mungkin ketika mendengar kata hipster, yang orang pikirkan adalah sebuah gambaran seorang anak muda yang ‘katanya’ keren, memakai totebag kemana-mana, menyukai seni rupa dan desain grafis, minum kopi di Café, berkumpul di butik streetwear, sok idealis kekiri-kirian padahal baru membaca satu-dua buku, tak pernah mau turun aksi ke jalan (yaiyalah, mentok-mentok jadi SJW di medsos), membaca literatur pos-modernisme lalu koar-koar di media sosial tentang simulakra (setelah membaca “Baudrillard for Dummies”, meskipun membaca Baudrillard bukan berarti tidak bagus dan tidak menarik), juga yang sok paling Albert Camus karena menganggap sesuatu yang absurd adalah sebuah hal yang ‘nyeni’ atau artsy kalau boleh meminjam terma kekiniannya. Meskipun penjabarannya terkesan judgemental, namun mungkin itulah gambaran paling konkret yang dapat menjawab realitas ini (dalam skala lokal), yaitu penyakit sosial (kalau boleh sedikit kasar) ‘merasa paling hipster dan anti-mainstream’.” itu mungkin si author ngerasain hal yang sama yang kaya aku rasain dan emang kebanyakan begitu hehehehe 😀 *peace*

    intinya : yaudah, mau kita hipster, kpopers, wibu, dll tetep jadi dirimu sendiri:). Setiap orang berhak mengomentari dan diberi komentar, karena ini adalah kebebasan untuk menyuarakan pendapat. Menurut aku, authornya ga memojokan kok, author hanya ingin menulis pendapat pribadinya tentang sesuatu yang nyata yang hadir di tengah-tengah budaya kita sekarang ini. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 85

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi 0 114

Apakah hanya saya saja di sini yang sudah sulit percaya ulasan influencer Indonesia? Sudah bukan sekali dua kali saya kemakan omongan influencer Indonesia. Sumpah jujur, guys, beneran gak bohong, aku udah kapok cari rekomendasi dari influencer negeri +62.

Entah kenapa influencer Indonesia suka melebih-lebihkan fakta kalau mengulas suatu produk. Apa yang dikatakan mereka rupanya tak sesuai fakta dan kenyataan yang ada.

Belakangan ini saya tertarik mempelajari parfum-parfuman di internet. Lalu, saya mencari ulasan tentang eau de parfum yang agak terjangkau lewat video seorang youtuber. Bisa dibilang youtuber ini masih micro influencer. Menurut jurnal yang saya baca, micro influencer merupakan opinion leader yang baik untuk mempengaruhi keputusan pembelian. Apalagi, dalam mengulas produk tersebut, youtuber ini tidak dibayar, melainkan membeli dengan uangnya sendiri. Jadi, saya rasa, lambenya masih kredibel lah.

Saat ia mengulas sebuah parfum, tertariklah saya untuk membeli parfum tersebut. Youtuber tersebut dapat mendeskripsikan aroma dari notes parfum tersebut dengan cukup baik dan meyakinkan.

“Hmm yang ini ada vanilla-vanillanya. Lama-lama wanginya enak, soft, elegant gitu, katanya sambil mencium pergelangan tangannya yang sudah disemprot parfum.

Sebagai pecinta vanilla, gourmand, dan oriental notes, saya tertarik untuk membeli parfum tersebut seketika. Apalagi katanya wangi vanillanya kuat. Tanpa pikir panjang akhirnya saya membeli parfum yang katanya bau vanilla banget itu.

Setelah saya beli dan semprot ke tangan saya, saya endus-endus baunya, hmm…. Ini kan bau Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya). Dari top notes hingga base notes-nya membentuk aroma bunga sedap malam yang mulai kecoklatan alias sudah tidak segar. Alhasil, bau badan saya mirip karangan bunga ucapan duka cita yang sudah tiga hari bertengger di rumah duka. Bahkan meski sudah tersisa base notes, masih tidak tercium aroma vanilla sama sekali.

Ini bukan yang pertama. Sebelumnya ada youtuber yang mengulas eau de parfum lokal dengan berkata, “sungguan ini enak banget, wanginya mirip permen tapi yang mewah gitu, guys. Kalian pasti suka.” Setelah saya cium, baunya sangat identik dengan aroma permen Alpenlibe rasa susu dan stroberi. Ya sudah, mungkin Mbak Youtuber tersebut merasa permen yang ada di Indomaret ini sangat mewah.

Selanjutnya, saya pernah membeli masker wajah karena kena “racun” selebgram. Saya tertarik setelah melihat wajahnya jadi lebih cerah dan bersih.

Tuh, lihat muka aku jadi bersih banget, OMG!” Katanya sambil mendekatkan wajahnya ke kamera.

Setelah saya coba, memang wajah saya langsung seputih Song Hye Kyo. Namun, bukan karena sel-sel kulit mati yang terangkat, melainkan sisa-sisa masker clay tersebut tidak bisa hilang dari muka saya meski sudah dibilas berkali-kali.

Tapi setidaknya, saya masih mengapresiasi influencer yang menjerumuskan saya tadi. Setidaknya, ia bisa mendeskripsikan barang tersebut dengan “baik”.

Lain halnya dengan influencer G yang mendeskripsikan parfum seperti ini “kalau yang ini baunya kayak bau cewek-cewek kaya yang baru keluar dari toko baju mewah, ngerti kan, ya, lo maksud gue?” Ya gimana kita bisa ngerti kalau Anda menjelaskan seperti ini, Maemunah?!

Dari sini saya menarik kesimpulan bahwa banyak dari influencer Indonesia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sebagai influencer dalam bidang tersebut. Padahal dalam kelas public speaking, mempresentasikan topik di luar kemampuan kita adalah BIG NO. Akibatnya ya begini ini, jadi misleading dan menyesatkan audiens.

Selain kesal dengan ulasan yang tak sesuai fakta, saya juga heran kenapa gaya mengulas para influencer ini sama. Dengan mata mendelik, nada naik, dan penekanan di semua kata, seakan berusaha keras membuat audiens tertarik. Ditambah template, “ih beneran, guys ini enak banget,” “gak bohong kalian harus coba,” “sumpah gak bohong, kalian pasti suka“, dan semacamnya.

Joe Navarro, seorang ahli body language asal America Serikat mengatakan bahwa orang yang tidak jujur akan berusaha “keras” untuk membuat Anda percaya. Usaha seperti apa? Bisa dalam bentuk ekspresi yang berlebihan, mengulang kata, dan menambahkan bumbu penyedap pada kalimat.

Contohnya influencer kuliner yang bilang enak aja harus pake “sumpah sumpah, enak banget gak bohong, serius gue mau mati,” sambil melotot dan dengan penekatan di setiap huruf. Harusnya dijelaskan yang bikin enak apa, rasanya seperti apa, bumbunya apa saja. Kalau memang enak beneran, masa tidak bisa mendeskripsikan? Apalagi sudah menyandang title sebagai influencer yang harusnya punya pengetahuan lebih tentang kuliner dari orang awam.

Mungkin secuil ilmu dari Navarro ini bisa jadi guideline kita untuk memilah mana ulasan yang valid dan tidak dengan melihat cara influencer tersebut berbicara.

Selain itu, sebisa mungkin jangan hanya mengandalkan satu influencer, apalagi kalau influencer tersebut bekerja sama dalam paid partnership, endorsement, apalagi kalau sudah didapuk jadi brand ambassador. Biasanya ulasan sudah tidak objektif lagi.

Carilah video ulasan sebanyak-banyaknya dari influencer berbeda! Kalau bisa, influencer yang memang memiliki pengetahuan mumpuni dalam bidang tersebut.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks