Hipster Lokal dan Realitas Menyedihkan dari Mereka yang Merasa Paling Artsy 14 9839

Oleh: M. Ricky Sabastian*

Mungkin ketika mendengar kata hipster, yang orang pikirkan adalah sebuah gambaran seorang anak muda yang ‘katanya’ keren, memakai totebag kemana-mana, menyukai seni rupa dan desain grafis, minum kopi di Café, berkumpul di butik streetwear, sok idealis kekiri-kirian padahal baru membaca satu-dua buku, tak pernah mau turun aksi ke jalan (yaiyalah, mentok-mentok jadi SJW di medsos), membaca literatur pos-modernisme lalu koar-koar di media sosial tentang simulakra (setelah membaca “Baudrillard for Dummies”, meskipun membaca Baudrillard bukan berarti tidak bagus dan tidak menarik), juga yang sok paling Albert Camus karena menganggap sesuatu yang absurd adalah sebuah hal yang ‘nyeni’ atau artsy kalau boleh meminjam terma kekiniannya. Meskipun penjabarannya terkesan judgemental, namun mungkin itulah gambaran paling konkret yang dapat menjawab realitas ini (dalam skala lokal), yaitu penyakit sosial (kalau boleh sedikit kasar) ‘merasa paling hipster dan anti-mainstream’.

Menurut Pradja (2015) dalam bukunya “Before It Was Cool”, hipster merupakan sekumpulan masyarakat subkultur yang memiliki kesukaan akan hal yang dianggap memiliki jiwa seni, intelektual, dan berbeda atau tidak mengikuti selera pasar bahkan jauh terkenal sebelum mencapai masa ketenaran. Hipster merupakan salah satu produk subkultur yang secara umum disepakati sebagai kelompok yang menolak arus utama (mainstream) terutama dalam hal selera busana, musik, film, dan produk kesenian lainnya. Hipster dikenal secara umum untuk gaya estetika mereka yang ironis dan pemujaan berlebih terhadap produk seni budaya serta muncul dalam media terkini sebagai target rutin kritikan serta satir (Henke, 2013). Secara etimologi, istilah hipster menurut Schiermer (2013), berawal dari penyebutan untuk penggemar kesenian yang turun martabatnya dan penyimpangan dari kebudayaan akhir jazz kulit hitam yang ditulis di dalam esai terkenal dari kritikus sastra, Anatole Broyard. Selain itu, istilah hipster di dalam referensi subkultur kontemporer memiliki makna luas yang mencakup arti dari identifikasi (penanda) kelompok tertentu dan ejekan khas.

Pada 1950-an, Norman Mailer menulis artikel berjudul The White Negro di mana artikel tersebut membahas mengenai kelompok kaum kulit putih yang mengadopsi gaya musisi jazz kulit hitam tersebut dan menyematkan kalimat “hipster”, menganggap bahwa kaum hipster adalah golongan orang yang mencoba menjadi existensialis atau berusaha untuk menonjolkan diri. Selain itu, sumber hipster sendiri memang berasal dari Negro dikarenakan kaum kulit hitam telah hidup di dalam batasan di antara masyarakat totalitarian dan demokrasi selama lebih dari dua dekade. Kemunculan hipster sebagai filosofi hidup pada sub-kultur gaya hidup Amerika, menurut Mailer, disebabkan oleh jazz dan penetrasinya ke dalam kebudayaan bagaikan tancapan pisau serta pengaruh penetrasi yang halus dari generasi avant-garde.

Mengacu pada pernyataan-pernyataan tersebut, maka mari kita sepakati bahwa hal ini adalah sebuah fenomena dalam ranah budaya, maka dari itu, hipster pun merupakan sebuah produk budaya, yang mana itu juga merupakan sebuah bentuk komunikasi massa yang menjangkit pada sebuah kelompok tertentu. Ada sistem pemaknaan yang coba dibangun dalam kelompok-kelompok budaya yang bertebaran dalam masyarakat, kalangan hipster-pun memiliki kecondongannya sendiri untuk menentukan simbol-simbol, yang bisa mereka pakai dalam ‘pergaulannya’ menjadi hipster itu sendiri. Seperti yang telah dijelaskan diatas, mereka yang berada di Indonesia acapkali ditemukan bergaya anti-mainstream (kata mereka aja sih) dengan menggunakan pakaian-pakaian dari sebuah komunitas tertentu, atau dari merek-merek yang secara sepihak didaku mereka sebagai merek yang menolak arus utama.

Selain itu, mereka para hipster, juga dapat ditemui pada acara-acara musik indie (huwek, kenapa kata ini harus ada sih!?) yang diadakan perusahaan-perusahaan rokok maupun bir lokal. Selera musik mereka-pun tentunya ‘harus’ berbeda dari khalayak umum dong, mendengarkan musik seperti karya Zeke Khaseli ataupun yang paling ekstrem (karena saking ngototnya ingin digolongkan menjadi hipster, tapi hati tetap menye-menye), mendengarkan karya-karya musikal dari Payung Teduh. Cinta, cinta, cinta. Tetapi pernyataan barusan adalah sangat subjektif, bisa jadi penulis sudah tepat menggambarkan, namun bisa jadi pula penulis agak keliru menggambarkannya, karena siapa tahu karena sudah saking merasa ter-komodifikasi-nya mereka dalam tulisan ini, nongkrong di bawah jembatan sambil minum anggur merah Cap Orang Tua yang dimasukkan plastik, malah menjadi gaya hidup mereka saat ini.

Hipster menjadi menarik diteliti dalam konteks ke-Indonesia-an, karena ternyata dalam konteks masyarakat yang sudah berabad-abad memiliki kebudayaan luhur ini, terdapat sebuah anomali yaitu kelompok hipster lokalan. Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa ketika kita sedang berjalan-jalan ke daerah Jalan Dr.Soetomo Surabaya, lalu masuk ke gang-gang perumahan disana, akan banyak kita temui tempat-tempat dimana para hipster berkumpul dan melakukan aktifitas-aktifitas ke-hipster-an mereka. Sebut saja c2o Library yang sering mengakomodir kegiatan literasi berbau kekiri-kirian nan kadang cenderung menjadi feminazi (oke, maaf apabila keterlaluan bagi yang bersangkutan), Newton dan Other Rag Enterprises yang mana penuh dengan sekumpulan anak muda menggunakan sepatu Vans nan berjaket Fila, atau yang paling baru adalah Qubicle Center, sebuah Co-Working Space yang beberapa kali mengakomodir acara-acara seperti workshop Shibori, pameran karya fotografi dari kamera analog, atau semacam creative talk yang mendatangkan influencer-influencer dari platform Web 2.0 dimana sangat mudah diakses di era New Media ini (saya ingat beberapa pekan lalu mereka mengundang Flux Cup, creator yang katanya kreatif tapi menurut saya sama sekali ndak kreatif, gak percoyo? Lihat aja Instagram atau yuchub-nya).

Hipster di Indonesia masih sangat abstrak untuk dijelaskan dalam ranah akademis, hal ini didasari oleh banyaknya gegar budaya yang terjadi, serta budaya hipster barat yang mana terpaksa dipenetrasikan dalam konteks lokal. Hal tersebut semata-mata untuk membentuk suatu eksklusifitas dalam kelompok kecil hipster lokal. Ini menjadi sebuah kebodohan yang dilakukan oleh para hipster lokal, dimana sebenarnya mereka tidak sedang menjadi anti arus utama, karena fenomena hipster sendiri adalah fenomena global, bukan lagi menjadi langkah alternatif penolakan terhadap arus utama. Apakah ini yang dinamakan sebagai pseudo-alternatif?

Bisa jadi.

Dalam masyarakat New Media dimana kita dihadapkan dengan berbagai macam bentuk kebenaran, maka sebenarnya kita sedang berada dalam sebuah kungkungan atau kerangkeng raksasa dari informasi-informasi yang bertebaran (penjara informasi), maka dari itu para akademisi kekninian sering menggunakan istilah post-truth untuk menandai masa ini: dimana kebenaran tidak ada lagi yang memiliki legitimasi penuh, semua punya legitimasinya sendiri dan berhak menentukan sumber atau rujukan yang menurut kelompoknya masing-masing ‘paling mencerahkan’. Sama seperti hipster era Web 2.0, asal mereka mendengarkan musik yang views-nya tidak terlampau jutaan, maka ia sudah berhak melabeli dirinya menjadi hipster. Tunggu sebentar, bukannya hipster menolak labelling? Eh.

(Bersambung–mirip cerita silat).

*Jejaka tanggung sekaligus mahasiswa terkenal di kampusnya. Berminat pada kajian-kajian kritis budaya.

 

Previous ArticleNext Article

14 Comments

  1. menarik,tapi ada pertanyaan besar yang mungkin menarik untuk dijadikan bahan diskusi. Saya akan memulai premis, bahwa segala dinamika di lingkungan sosial berada dalam perspektif dialiektika,tesa,antitesa,lalu sintesa maka begitu pula perlakuannya terhadap budaya. Akan ada budaya konserfatif yang dihantam budaya tanding,begitu pun seterusnya. Pada posisi pergolakan berhenti pada budaya tandingan dan sialnya kapitalisme berhasil mengkooptasi budaya tandingan lalu kemudian menjadi budaya massa disitulah hipster lahir (menurut saya).

    yang ingin saya ajukan sebagai bahan diskusi adalah,bagaimana pengaruh tatanan ekonomi global serta perilaku masyarakatnya terhadap aktivitas kooptasi budaya tandingan ini? jangan2 hipster adalah korban dari minimnya pengetahuan mereka bahwa sebenarnya mereka sedang diakali dan sayangnya mereka yg kritis berusaha menjauhi diskursus itu namun justru berdiri diluar untuk terus mengkritisi perilaku ini

    salam
    Ganesha Patria
    penulis di kemarin sore.club,mantan aktivis pergerakan mahasiswa,dan salah satu hipster yang sempat punya band crust punk bernama PisauxNalar

  2. Hey, douchebag, saya tahu opinions are like asshole, everybody has one, hence say what you want, tapi apa salahnya apabila sekelompok orang ingin berkumpul untuk berdiskusi, bertukar pikiran atau sederhananya bersenang senang bersama sama?

    Dan apa haramnya menggunakan/membeli produk fashion dengan brand yang kamu sebutkan di atas?

    Dan apa kelirunya untuk menggunakan ruang ruang publik tersebut?

    Apakah kamu pernah sakit hati mungkin karena karyamu/keberadaanmu tidak diterima/tidak ketara oleh lingkup golongan yang kamu sebutkan dalam tulisanmu?

    Apakah kamu juga tidak menikmati apa yang kami nikmati?

    Atau mungkin kamu se-desperate itu untuk mendapatkan sebutan yang kamu sematkan pada kami?

    Atau kamu hanya menginginkan atensi?

    Insecure much?

    Either way, you look pathetic.

    To end my comment of this “public section”,

    You offended a lot of good people in Surabaya dude, most of them are my good friends,

    Good people who just want to do their things without any intentions of being whatever you say they are.

    Check yourself before you wreck yourself,

    Take care,

  3. Suatu hari, tersebutlah seorang mahasiswa yang gemar bertanya-tanya. Apa saja yang tertangkap inderanya dan kemudian dilintaskan di otaknya memuntahkan keheranan. Namun sayang, oleh sebab umur yang baru tuntas remaja, ia sering menahan kejujuran jiwa anak kecil dalam dirinya yang gatal ‘tuk mengucap, ‘tuk bertanya.

    Ditemukanlah olehnya sebuah media ramah perspektif yang menawarkan ruang untuk menjadi kurang ajar (Kalikata.id, halaman Tentang, 2017). *admin berdehem* Ucap sang mahasiswa dengan lega, “Ah… Inilah ruang publik yang telah lama kuimpi-damba.”

    Siapa sangka, bahwa ia lantas bermain dalam media tersebut ‘tuk mengujar, dalam sebuah artikel, segala apa-mengapa-bagaimana tentang dirinya sendiri (baca: tentang ke-hipster-annya sendiri)?

    Penasaran, admin kemudian menyewa Roi Keyoseh buat menerawang maksud si mahasiswa. Kata Roi, isi batinnya berkata, ‘Lah iyo ini kan yang dimau banyak bibir, yang baru kemarin kusak-kusuk di warung-warung kopi. Sesudut tempat buat menampung roso lan suarane ati. Namanya suara hati memang sudah nalurinya nabrak-nabrak sama suara hati lain, sama kayak hakikat kebebasan. Tapi toh, mereka bilang pengen punya ruang publik, ruang yang isinya orang-orang yang boleh jujur.’

    Karena tersentuh hatinya, admin lalu menitikkan air mata seraya dengan sesenggukan mendaraskan pesan moral dari pengalaman haru-biru ini, “Mari yang lain, semuanya, jangan sampai lupa bikin artikel balasan ‘tuk sampaikan argumen masing-masing! Mari sama-sama wujudkan impian si mahasiswa tentang ruang publik kaya perspektif!”

    Tanpa lupa, admin kemudian mengajak pembaca sekalian yang budiman untuk berkumpul dan bertapa, memanggil jiwa si mahasiswa untuk turut menanggapi komentar khalayak yang ribut dibuatnya.

    1. Saya yakin fabula dalam adagium ulasan ini menjadikan arsis terhadap kuin dan epifora pada setiap paragraf yang Mas Ricky Sabastian jewantahkan. Sayangnya parameter yang dilihat merupakan analogi enjambemen dengan nuansa fiksi yang gemawan.

      Untung saja terjadi dialog yang progresif dalam membina kakofoni heptameter tulisan itu sendiri. Kalau tidak, peran larik dan distikon yang banal tak terjadi dalam tulisan ini. Yang diharapkan akan adanya dekontekstualisasi malah jadi ironi.

      Mas Ricky Sabastian, tulisan ini mengandung prosenium tipis yang seharusnya dapat lebih menuju ke titik karmina. Sayangnya, kenadiran kilas balik pada jarak estetik tidak menghadirkan kesinambungan rima yang membentang.

      Semoga komentar saya ini menjadi monodi bagi semua pembaca yang mengharapkan asonansi dan kematraan estetika mendalam dari tulisan Mas Ricky Sabastian.

  4. kalau bisa netral sih sebagai media yang menuliskan opininya. bisa kalikali di kurasi lagi untuk tulisannya (tidak urus masalah perhipsteran/perindie-an)

  5. Kalo gue dibilang hipster, yauds.

    orang lain juga gak masalah dibilang K-Popers atau Dangdut-ers.

    Biarkan saja si Mas Author ini, Salam.

  6. Hipster mah riil. Orang2 kaya semua. Ada bagusnya sih tulisan model begini, bikin melek orang2. Hipster maramara pada tersinggung 😀

  7. hehe rame ya kalo bahas hipster. udah bahas hipster2an dan sub kultur lainnya aja, gausah bahas politik..sepi. hipster lebih galak daripada politisi dan kebijakannya yg kalian nyinyiri.

    oiya btw penulisnya kok ilang ya ? apa udah dipetrus hipster ?

  8. Halo, maaf aku masih bocah yang sok-sokan paham tentang beginian dan baru belajar ngomong, menurut aku nih,

    kebanyakan temen-temen aku yang begitu rata-rata malah pada golongan kanan kebanyakan, rata-rata mereka dari golongan menengah keatas (yang menurut aku) ingin dipandang ‘beda’ dari orang-orang yang lain (mungkin inilah yang disebut merujuk pada eksklusifitas)

    aku setuju sama komentarnya Mas Ganesha Patria yang bagian “Pada posisi pergolakan berhenti pada budaya tandingan dan sialnya kapitalisme berhasil mengkooptasi budaya tandingan lalu kemudian menjadi budaya massa disitulah hipster lahir (menurut saya)”

    terus, aku rasa Authornya, nulis tulisan bagian “Mungkin ketika mendengar kata hipster, yang orang pikirkan adalah sebuah gambaran seorang anak muda yang ‘katanya’ keren, memakai totebag kemana-mana, menyukai seni rupa dan desain grafis, minum kopi di Café, berkumpul di butik streetwear, sok idealis kekiri-kirian padahal baru membaca satu-dua buku, tak pernah mau turun aksi ke jalan (yaiyalah, mentok-mentok jadi SJW di medsos), membaca literatur pos-modernisme lalu koar-koar di media sosial tentang simulakra (setelah membaca “Baudrillard for Dummies”, meskipun membaca Baudrillard bukan berarti tidak bagus dan tidak menarik), juga yang sok paling Albert Camus karena menganggap sesuatu yang absurd adalah sebuah hal yang ‘nyeni’ atau artsy kalau boleh meminjam terma kekiniannya. Meskipun penjabarannya terkesan judgemental, namun mungkin itulah gambaran paling konkret yang dapat menjawab realitas ini (dalam skala lokal), yaitu penyakit sosial (kalau boleh sedikit kasar) ‘merasa paling hipster dan anti-mainstream’.” itu mungkin si author ngerasain hal yang sama yang kaya aku rasain dan emang kebanyakan begitu hehehehe 😀 *peace*

    intinya : yaudah, mau kita hipster, kpopers, wibu, dll tetep jadi dirimu sendiri:). Setiap orang berhak mengomentari dan diberi komentar. Menurut aku, authornya ga memojokan kok, author hanya ingin menulis tentang sesuatu yang nyata yang hadir di tengah-tengah budaya kita sekarang ini.

  9. Halo, maaf aku masih bocah yang sok-sokan paham tentang beginian dan baru belajar ngomong, menurut aku nih,

    kebanyakan temen-temen aku yang begitu rata-rata malah pada golongan kanan kebanyakan, rata-rata mereka dari golongan menengah keatas (yang menurut aku) ingin dipandang ‘beda’ dari orang-orang yang lain (mungkin inilah yang disebut merujuk pada eksklusifitas)

    aku setuju sama komentarnya Mas Ganesha Patria yang bagian “Pada posisi pergolakan berhenti pada budaya tandingan dan sialnya kapitalisme berhasil mengkooptasi budaya tandingan lalu kemudian menjadi budaya massa disitulah hipster lahir (menurut saya)”

    terus, aku rasa Authornya, nulis tulisan bagian “Mungkin ketika mendengar kata hipster, yang orang pikirkan adalah sebuah gambaran seorang anak muda yang ‘katanya’ keren, memakai totebag kemana-mana, menyukai seni rupa dan desain grafis, minum kopi di Café, berkumpul di butik streetwear, sok idealis kekiri-kirian padahal baru membaca satu-dua buku, tak pernah mau turun aksi ke jalan (yaiyalah, mentok-mentok jadi SJW di medsos), membaca literatur pos-modernisme lalu koar-koar di media sosial tentang simulakra (setelah membaca “Baudrillard for Dummies”, meskipun membaca Baudrillard bukan berarti tidak bagus dan tidak menarik), juga yang sok paling Albert Camus karena menganggap sesuatu yang absurd adalah sebuah hal yang ‘nyeni’ atau artsy kalau boleh meminjam terma kekiniannya. Meskipun penjabarannya terkesan judgemental, namun mungkin itulah gambaran paling konkret yang dapat menjawab realitas ini (dalam skala lokal), yaitu penyakit sosial (kalau boleh sedikit kasar) ‘merasa paling hipster dan anti-mainstream’.” itu mungkin si author ngerasain hal yang sama yang kaya aku rasain dan emang kebanyakan begitu hehehehe 😀 *peace*

    intinya : yaudah, mau kita hipster, kpopers, wibu, dll tetep jadi dirimu sendiri:). Setiap orang berhak mengomentari dan diberi komentar, karena ini adalah kebebasan untuk menyuarakan pendapat. Menurut aku, authornya ga memojokan kok, author hanya ingin menulis pendapat pribadinya tentang sesuatu yang nyata yang hadir di tengah-tengah budaya kita sekarang ini. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 199

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 222

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks