Hipster Lokal dan Realitas Menyedihkan dari Mereka yang Merasa Paling Artsy 14 7700

Oleh: M. Ricky Sabastian*

Mungkin ketika mendengar kata hipster, yang orang pikirkan adalah sebuah gambaran seorang anak muda yang ‘katanya’ keren, memakai totebag kemana-mana, menyukai seni rupa dan desain grafis, minum kopi di Café, berkumpul di butik streetwear, sok idealis kekiri-kirian padahal baru membaca satu-dua buku, tak pernah mau turun aksi ke jalan (yaiyalah, mentok-mentok jadi SJW di medsos), membaca literatur pos-modernisme lalu koar-koar di media sosial tentang simulakra (setelah membaca “Baudrillard for Dummies”, meskipun membaca Baudrillard bukan berarti tidak bagus dan tidak menarik), juga yang sok paling Albert Camus karena menganggap sesuatu yang absurd adalah sebuah hal yang ‘nyeni’ atau artsy kalau boleh meminjam terma kekiniannya. Meskipun penjabarannya terkesan judgemental, namun mungkin itulah gambaran paling konkret yang dapat menjawab realitas ini (dalam skala lokal), yaitu penyakit sosial (kalau boleh sedikit kasar) ‘merasa paling hipster dan anti-mainstream’.

Menurut Pradja (2015) dalam bukunya “Before It Was Cool”, hipster merupakan sekumpulan masyarakat subkultur yang memiliki kesukaan akan hal yang dianggap memiliki jiwa seni, intelektual, dan berbeda atau tidak mengikuti selera pasar bahkan jauh terkenal sebelum mencapai masa ketenaran. Hipster merupakan salah satu produk subkultur yang secara umum disepakati sebagai kelompok yang menolak arus utama (mainstream) terutama dalam hal selera busana, musik, film, dan produk kesenian lainnya. Hipster dikenal secara umum untuk gaya estetika mereka yang ironis dan pemujaan berlebih terhadap produk seni budaya serta muncul dalam media terkini sebagai target rutin kritikan serta satir (Henke, 2013). Secara etimologi, istilah hipster menurut Schiermer (2013), berawal dari penyebutan untuk penggemar kesenian yang turun martabatnya dan penyimpangan dari kebudayaan akhir jazz kulit hitam yang ditulis di dalam esai terkenal dari kritikus sastra, Anatole Broyard. Selain itu, istilah hipster di dalam referensi subkultur kontemporer memiliki makna luas yang mencakup arti dari identifikasi (penanda) kelompok tertentu dan ejekan khas.

Pada 1950-an, Norman Mailer menulis artikel berjudul The White Negro di mana artikel tersebut membahas mengenai kelompok kaum kulit putih yang mengadopsi gaya musisi jazz kulit hitam tersebut dan menyematkan kalimat “hipster”, menganggap bahwa kaum hipster adalah golongan orang yang mencoba menjadi existensialis atau berusaha untuk menonjolkan diri. Selain itu, sumber hipster sendiri memang berasal dari Negro dikarenakan kaum kulit hitam telah hidup di dalam batasan di antara masyarakat totalitarian dan demokrasi selama lebih dari dua dekade. Kemunculan hipster sebagai filosofi hidup pada sub-kultur gaya hidup Amerika, menurut Mailer, disebabkan oleh jazz dan penetrasinya ke dalam kebudayaan bagaikan tancapan pisau serta pengaruh penetrasi yang halus dari generasi avant-garde.

Mengacu pada pernyataan-pernyataan tersebut, maka mari kita sepakati bahwa hal ini adalah sebuah fenomena dalam ranah budaya, maka dari itu, hipster pun merupakan sebuah produk budaya, yang mana itu juga merupakan sebuah bentuk komunikasi massa yang menjangkit pada sebuah kelompok tertentu. Ada sistem pemaknaan yang coba dibangun dalam kelompok-kelompok budaya yang bertebaran dalam masyarakat, kalangan hipster-pun memiliki kecondongannya sendiri untuk menentukan simbol-simbol, yang bisa mereka pakai dalam ‘pergaulannya’ menjadi hipster itu sendiri. Seperti yang telah dijelaskan diatas, mereka yang berada di Indonesia acapkali ditemukan bergaya anti-mainstream (kata mereka aja sih) dengan menggunakan pakaian-pakaian dari sebuah komunitas tertentu, atau dari merek-merek yang secara sepihak didaku mereka sebagai merek yang menolak arus utama.

Selain itu, mereka para hipster, juga dapat ditemui pada acara-acara musik indie (huwek, kenapa kata ini harus ada sih!?) yang diadakan perusahaan-perusahaan rokok maupun bir lokal. Selera musik mereka-pun tentunya ‘harus’ berbeda dari khalayak umum dong, mendengarkan musik seperti karya Zeke Khaseli ataupun yang paling ekstrem (karena saking ngototnya ingin digolongkan menjadi hipster, tapi hati tetap menye-menye), mendengarkan karya-karya musikal dari Payung Teduh. Cinta, cinta, cinta. Tetapi pernyataan barusan adalah sangat subjektif, bisa jadi penulis sudah tepat menggambarkan, namun bisa jadi pula penulis agak keliru menggambarkannya, karena siapa tahu karena sudah saking merasa ter-komodifikasi-nya mereka dalam tulisan ini, nongkrong di bawah jembatan sambil minum anggur merah Cap Orang Tua yang dimasukkan plastik, malah menjadi gaya hidup mereka saat ini.

Hipster menjadi menarik diteliti dalam konteks ke-Indonesia-an, karena ternyata dalam konteks masyarakat yang sudah berabad-abad memiliki kebudayaan luhur ini, terdapat sebuah anomali yaitu kelompok hipster lokalan. Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa ketika kita sedang berjalan-jalan ke daerah Jalan Dr.Soetomo Surabaya, lalu masuk ke gang-gang perumahan disana, akan banyak kita temui tempat-tempat dimana para hipster berkumpul dan melakukan aktifitas-aktifitas ke-hipster-an mereka. Sebut saja c2o Library yang sering mengakomodir kegiatan literasi berbau kekiri-kirian nan kadang cenderung menjadi feminazi (oke, maaf apabila keterlaluan bagi yang bersangkutan), Newton dan Other Rag Enterprises yang mana penuh dengan sekumpulan anak muda menggunakan sepatu Vans nan berjaket Fila, atau yang paling baru adalah Qubicle Center, sebuah Co-Working Space yang beberapa kali mengakomodir acara-acara seperti workshop Shibori, pameran karya fotografi dari kamera analog, atau semacam creative talk yang mendatangkan influencer-influencer dari platform Web 2.0 dimana sangat mudah diakses di era New Media ini (saya ingat beberapa pekan lalu mereka mengundang Flux Cup, creator yang katanya kreatif tapi menurut saya sama sekali ndak kreatif, gak percoyo? Lihat aja Instagram atau yuchub-nya).

Hipster di Indonesia masih sangat abstrak untuk dijelaskan dalam ranah akademis, hal ini didasari oleh banyaknya gegar budaya yang terjadi, serta budaya hipster barat yang mana terpaksa dipenetrasikan dalam konteks lokal. Hal tersebut semata-mata untuk membentuk suatu eksklusifitas dalam kelompok kecil hipster lokal. Ini menjadi sebuah kebodohan yang dilakukan oleh para hipster lokal, dimana sebenarnya mereka tidak sedang menjadi anti arus utama, karena fenomena hipster sendiri adalah fenomena global, bukan lagi menjadi langkah alternatif penolakan terhadap arus utama. Apakah ini yang dinamakan sebagai pseudo-alternatif?

Bisa jadi.

Dalam masyarakat New Media dimana kita dihadapkan dengan berbagai macam bentuk kebenaran, maka sebenarnya kita sedang berada dalam sebuah kungkungan atau kerangkeng raksasa dari informasi-informasi yang bertebaran (penjara informasi), maka dari itu para akademisi kekninian sering menggunakan istilah post-truth untuk menandai masa ini: dimana kebenaran tidak ada lagi yang memiliki legitimasi penuh, semua punya legitimasinya sendiri dan berhak menentukan sumber atau rujukan yang menurut kelompoknya masing-masing ‘paling mencerahkan’. Sama seperti hipster era Web 2.0, asal mereka mendengarkan musik yang views-nya tidak terlampau jutaan, maka ia sudah berhak melabeli dirinya menjadi hipster. Tunggu sebentar, bukannya hipster menolak labelling? Eh.

(Bersambung–mirip cerita silat).

*Jejaka tanggung sekaligus mahasiswa terkenal di kampusnya. Berminat pada kajian-kajian kritis budaya.

 

Previous ArticleNext Article

14 Comments

  1. menarik,tapi ada pertanyaan besar yang mungkin menarik untuk dijadikan bahan diskusi. Saya akan memulai premis, bahwa segala dinamika di lingkungan sosial berada dalam perspektif dialiektika,tesa,antitesa,lalu sintesa maka begitu pula perlakuannya terhadap budaya. Akan ada budaya konserfatif yang dihantam budaya tanding,begitu pun seterusnya. Pada posisi pergolakan berhenti pada budaya tandingan dan sialnya kapitalisme berhasil mengkooptasi budaya tandingan lalu kemudian menjadi budaya massa disitulah hipster lahir (menurut saya).

    yang ingin saya ajukan sebagai bahan diskusi adalah,bagaimana pengaruh tatanan ekonomi global serta perilaku masyarakatnya terhadap aktivitas kooptasi budaya tandingan ini? jangan2 hipster adalah korban dari minimnya pengetahuan mereka bahwa sebenarnya mereka sedang diakali dan sayangnya mereka yg kritis berusaha menjauhi diskursus itu namun justru berdiri diluar untuk terus mengkritisi perilaku ini

    salam
    Ganesha Patria
    penulis di kemarin sore.club,mantan aktivis pergerakan mahasiswa,dan salah satu hipster yang sempat punya band crust punk bernama PisauxNalar

  2. Hey, douchebag, saya tahu opinions are like asshole, everybody has one, hence say what you want, tapi apa salahnya apabila sekelompok orang ingin berkumpul untuk berdiskusi, bertukar pikiran atau sederhananya bersenang senang bersama sama?

    Dan apa haramnya menggunakan/membeli produk fashion dengan brand yang kamu sebutkan di atas?

    Dan apa kelirunya untuk menggunakan ruang ruang publik tersebut?

    Apakah kamu pernah sakit hati mungkin karena karyamu/keberadaanmu tidak diterima/tidak ketara oleh lingkup golongan yang kamu sebutkan dalam tulisanmu?

    Apakah kamu juga tidak menikmati apa yang kami nikmati?

    Atau mungkin kamu se-desperate itu untuk mendapatkan sebutan yang kamu sematkan pada kami?

    Atau kamu hanya menginginkan atensi?

    Insecure much?

    Either way, you look pathetic.

    To end my comment of this “public section”,

    You offended a lot of good people in Surabaya dude, most of them are my good friends,

    Good people who just want to do their things without any intentions of being whatever you say they are.

    Check yourself before you wreck yourself,

    Take care,

  3. Suatu hari, tersebutlah seorang mahasiswa yang gemar bertanya-tanya. Apa saja yang tertangkap inderanya dan kemudian dilintaskan di otaknya memuntahkan keheranan. Namun sayang, oleh sebab umur yang baru tuntas remaja, ia sering menahan kejujuran jiwa anak kecil dalam dirinya yang gatal ‘tuk mengucap, ‘tuk bertanya.

    Ditemukanlah olehnya sebuah media ramah perspektif yang menawarkan ruang untuk menjadi kurang ajar (Kalikata.id, halaman Tentang, 2017). *admin berdehem* Ucap sang mahasiswa dengan lega, “Ah… Inilah ruang publik yang telah lama kuimpi-damba.”

    Siapa sangka, bahwa ia lantas bermain dalam media tersebut ‘tuk mengujar, dalam sebuah artikel, segala apa-mengapa-bagaimana tentang dirinya sendiri (baca: tentang ke-hipster-annya sendiri)?

    Penasaran, admin kemudian menyewa Roi Keyoseh buat menerawang maksud si mahasiswa. Kata Roi, isi batinnya berkata, ‘Lah iyo ini kan yang dimau banyak bibir, yang baru kemarin kusak-kusuk di warung-warung kopi. Sesudut tempat buat menampung roso lan suarane ati. Namanya suara hati memang sudah nalurinya nabrak-nabrak sama suara hati lain, sama kayak hakikat kebebasan. Tapi toh, mereka bilang pengen punya ruang publik, ruang yang isinya orang-orang yang boleh jujur.’

    Karena tersentuh hatinya, admin lalu menitikkan air mata seraya dengan sesenggukan mendaraskan pesan moral dari pengalaman haru-biru ini, “Mari yang lain, semuanya, jangan sampai lupa bikin artikel balasan ‘tuk sampaikan argumen masing-masing! Mari sama-sama wujudkan impian si mahasiswa tentang ruang publik kaya perspektif!”

    Tanpa lupa, admin kemudian mengajak pembaca sekalian yang budiman untuk berkumpul dan bertapa, memanggil jiwa si mahasiswa untuk turut menanggapi komentar khalayak yang ribut dibuatnya.

    1. Saya yakin fabula dalam adagium ulasan ini menjadikan arsis terhadap kuin dan epifora pada setiap paragraf yang Mas Ricky Sabastian jewantahkan. Sayangnya parameter yang dilihat merupakan analogi enjambemen dengan nuansa fiksi yang gemawan.

      Untung saja terjadi dialog yang progresif dalam membina kakofoni heptameter tulisan itu sendiri. Kalau tidak, peran larik dan distikon yang banal tak terjadi dalam tulisan ini. Yang diharapkan akan adanya dekontekstualisasi malah jadi ironi.

      Mas Ricky Sabastian, tulisan ini mengandung prosenium tipis yang seharusnya dapat lebih menuju ke titik karmina. Sayangnya, kenadiran kilas balik pada jarak estetik tidak menghadirkan kesinambungan rima yang membentang.

      Semoga komentar saya ini menjadi monodi bagi semua pembaca yang mengharapkan asonansi dan kematraan estetika mendalam dari tulisan Mas Ricky Sabastian.

  4. kalau bisa netral sih sebagai media yang menuliskan opininya. bisa kalikali di kurasi lagi untuk tulisannya (tidak urus masalah perhipsteran/perindie-an)

  5. Kalo gue dibilang hipster, yauds.

    orang lain juga gak masalah dibilang K-Popers atau Dangdut-ers.

    Biarkan saja si Mas Author ini, Salam.

  6. Hipster mah riil. Orang2 kaya semua. Ada bagusnya sih tulisan model begini, bikin melek orang2. Hipster maramara pada tersinggung 😀

  7. hehe rame ya kalo bahas hipster. udah bahas hipster2an dan sub kultur lainnya aja, gausah bahas politik..sepi. hipster lebih galak daripada politisi dan kebijakannya yg kalian nyinyiri.

    oiya btw penulisnya kok ilang ya ? apa udah dipetrus hipster ?

  8. Halo, maaf aku masih bocah yang sok-sokan paham tentang beginian dan baru belajar ngomong, menurut aku nih,

    kebanyakan temen-temen aku yang begitu rata-rata malah pada golongan kanan kebanyakan, rata-rata mereka dari golongan menengah keatas (yang menurut aku) ingin dipandang ‘beda’ dari orang-orang yang lain (mungkin inilah yang disebut merujuk pada eksklusifitas)

    aku setuju sama komentarnya Mas Ganesha Patria yang bagian “Pada posisi pergolakan berhenti pada budaya tandingan dan sialnya kapitalisme berhasil mengkooptasi budaya tandingan lalu kemudian menjadi budaya massa disitulah hipster lahir (menurut saya)”

    terus, aku rasa Authornya, nulis tulisan bagian “Mungkin ketika mendengar kata hipster, yang orang pikirkan adalah sebuah gambaran seorang anak muda yang ‘katanya’ keren, memakai totebag kemana-mana, menyukai seni rupa dan desain grafis, minum kopi di Café, berkumpul di butik streetwear, sok idealis kekiri-kirian padahal baru membaca satu-dua buku, tak pernah mau turun aksi ke jalan (yaiyalah, mentok-mentok jadi SJW di medsos), membaca literatur pos-modernisme lalu koar-koar di media sosial tentang simulakra (setelah membaca “Baudrillard for Dummies”, meskipun membaca Baudrillard bukan berarti tidak bagus dan tidak menarik), juga yang sok paling Albert Camus karena menganggap sesuatu yang absurd adalah sebuah hal yang ‘nyeni’ atau artsy kalau boleh meminjam terma kekiniannya. Meskipun penjabarannya terkesan judgemental, namun mungkin itulah gambaran paling konkret yang dapat menjawab realitas ini (dalam skala lokal), yaitu penyakit sosial (kalau boleh sedikit kasar) ‘merasa paling hipster dan anti-mainstream’.” itu mungkin si author ngerasain hal yang sama yang kaya aku rasain dan emang kebanyakan begitu hehehehe 😀 *peace*

    intinya : yaudah, mau kita hipster, kpopers, wibu, dll tetep jadi dirimu sendiri:). Setiap orang berhak mengomentari dan diberi komentar. Menurut aku, authornya ga memojokan kok, author hanya ingin menulis tentang sesuatu yang nyata yang hadir di tengah-tengah budaya kita sekarang ini.

  9. Halo, maaf aku masih bocah yang sok-sokan paham tentang beginian dan baru belajar ngomong, menurut aku nih,

    kebanyakan temen-temen aku yang begitu rata-rata malah pada golongan kanan kebanyakan, rata-rata mereka dari golongan menengah keatas (yang menurut aku) ingin dipandang ‘beda’ dari orang-orang yang lain (mungkin inilah yang disebut merujuk pada eksklusifitas)

    aku setuju sama komentarnya Mas Ganesha Patria yang bagian “Pada posisi pergolakan berhenti pada budaya tandingan dan sialnya kapitalisme berhasil mengkooptasi budaya tandingan lalu kemudian menjadi budaya massa disitulah hipster lahir (menurut saya)”

    terus, aku rasa Authornya, nulis tulisan bagian “Mungkin ketika mendengar kata hipster, yang orang pikirkan adalah sebuah gambaran seorang anak muda yang ‘katanya’ keren, memakai totebag kemana-mana, menyukai seni rupa dan desain grafis, minum kopi di Café, berkumpul di butik streetwear, sok idealis kekiri-kirian padahal baru membaca satu-dua buku, tak pernah mau turun aksi ke jalan (yaiyalah, mentok-mentok jadi SJW di medsos), membaca literatur pos-modernisme lalu koar-koar di media sosial tentang simulakra (setelah membaca “Baudrillard for Dummies”, meskipun membaca Baudrillard bukan berarti tidak bagus dan tidak menarik), juga yang sok paling Albert Camus karena menganggap sesuatu yang absurd adalah sebuah hal yang ‘nyeni’ atau artsy kalau boleh meminjam terma kekiniannya. Meskipun penjabarannya terkesan judgemental, namun mungkin itulah gambaran paling konkret yang dapat menjawab realitas ini (dalam skala lokal), yaitu penyakit sosial (kalau boleh sedikit kasar) ‘merasa paling hipster dan anti-mainstream’.” itu mungkin si author ngerasain hal yang sama yang kaya aku rasain dan emang kebanyakan begitu hehehehe 😀 *peace*

    intinya : yaudah, mau kita hipster, kpopers, wibu, dll tetep jadi dirimu sendiri:). Setiap orang berhak mengomentari dan diberi komentar, karena ini adalah kebebasan untuk menyuarakan pendapat. Menurut aku, authornya ga memojokan kok, author hanya ingin menulis pendapat pribadinya tentang sesuatu yang nyata yang hadir di tengah-tengah budaya kita sekarang ini. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 74

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Privasi Siapa yang Dibela di RKUHP? 1 79

Saya jurnalis (profesional untuk 2 bulan terakhir). Saya terlibat di dalam peliputan aksi mahasiswa yang berakhir rusuh di hari pertama rapat paripurna, 24 September. Saya saksi mata ketika mereka mulai merapat di gerbang DPR, orasi, bakar ban, sampai akhirnya water canon plus gas air mata menyerang, dan saya sebagai anak pupuk bawang tentu lari menyelamatkan diri.

Selain UU KPK yang sudah disahkan itu, saya mendengar dan membaca semua demonstran menggarisbawahi RKUHP (yang telah saya bahas di tulisan lalu: ‘Bagaimana Seharusnya Kita Sikapi RKUHP‘). Banyak pasal yang dianggap bermasalah (kita harus akui ini). Terutama teriakan privasi kita yang (katanya) semakin dirampas negara.

Di sisi lain, suatu kali saya juga untuk kedua kalinya mewawancarai artis (walau definisi ‘artis’ bagi saya masih sangat debatable). Saya sih sebenarnya males. Kalau gak karena permintaan kantor, kapabilitas ‘orang yang sering nongol di tv’ untuk menjawab angle berita masih jadi pertanyaan besar bagi saya.

Saya berusaha memancing diskusi dengan mbak artis. Melempar pertanyaan reflektif serta menghindari pertanyaan dangkal dan tak bermutu. Berharap jawaban bisa mendalam dan melontarkan ide-ide cemerlang bagi para fans yang nanti menonton hasil wawancara ini.

Ternyata realita tidak seindah ekspetasi, kawan-kawan! Doi menjawab semua pertanyaan umum saya dengan mengasosiakannya pada dirinya seorang. Demikian pula wartawan lain justru menyiram air garam pada luka, nyamber dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggali urusan pribadi dan keluarga mbak artis.

Ketimbang menjawab pertanyaan saya tentang tren berlibur saat ini, destinasi wisata yang ciamik di Indonesia, dan sebagainya; si artis lebih suka menjawab rencana liburannya bersama suami dan anak, preferensinya dalam menggunakan layanan aplikasi penyedia perjalanan, dan kawan-kawan pertanyaan lainnya.

Saya gak tahu, di sini siapa yang salah. Pasalnya, wartawan membutuhkan jawaban bersifat pribadi itu untuk membuat tulisan yang mengundang klik di website medianya. Sebaliknya, jawaban-jawaban yang melulu soal diri dan pribadi si artis mungkin sudah jadi template wajib dalam ekosistem infotainment. Barangkali, justru memang saya yang salah nyemplung ke dunia wawancara dengan orang-orang jenis ini. Salah yang gagal paham dan gagal menaruh harapan.

Demikian pula dengan kelakuan rakyat yang suka sekali mengonsumsi berita-berita macam ini. Tentu lebih ringan ketimbang ikut repot memutar otak tentang persoalan bangsa ini.

Dari sini, mari kita merenungkan lagi. Apakah benar privasi kita terancam karena RKUHP? Apakah kita lupa, bahwa privasi bangsa ini sudah ternodai sejak dulu kala? Sejak kehidupan pribadi bintang layar kaca jadi konsumsi publik. Bahkan, hal ini juga berlaku pada tokoh-tokoh politik kita.

Masyarakat kan lebih ingat kisah cinta dan kehidupan keluarga sejahtera Almarhum B.J. Habibie ketimbang karya N-250 dan perjuangannya merintis BPPT. Kita lebih ingat tato menteri dan menteri loncat pagar. Kita lebih paham sneaker, jaket, sepeda, moge, dan cucu Jokowi.

Gak usah jauh-jauh juga. Ketika nongkrong bersama teman, teman lain yang tidak kelihatan batang hitungnya jadi bahan gosip, kan? Saat bepergian, belanja, minum kopi di kedai dengan nama lucu-lucu, gatal juga tanganmu uptade di Insta Story. Jangan lupa bubuhkan lokasi, biar disangka anak gaul. Lha kok saiki guayamu sak langit, sok memperjuangkan privasi?

Kan tentu ironis, memperjuangkan privasi, orientasi seksual, dunia malam, urusan seks dan percintaan, tapi abai kalau selama ini juga tak punya batasan dalam menjaga rahasia diri ke dunia maya. Jadi privasi siapa yang kalian bela?

Editor Picks