Hipster Lokal dan Realitas Menyedihkan dari Mereka yang Merasa Paling Artsy 13 5893

Oleh: M. Ricky Sabastian*

Mungkin ketika mendengar kata hipster, yang orang pikirkan adalah sebuah gambaran seorang anak muda yang ‘katanya’ keren, memakai totebag kemana-mana, menyukai seni rupa dan desain grafis, minum kopi di Café, berkumpul di butik streetwear, sok idealis kekiri-kirian padahal baru membaca satu-dua buku, tak pernah mau turun aksi ke jalan (yaiyalah, mentok-mentok jadi SJW di medsos), membaca literatur pos-modernisme lalu koar-koar di media sosial tentang simulakra (setelah membaca “Baudrillard for Dummies”, meskipun membaca Baudrillard bukan berarti tidak bagus dan tidak menarik), juga yang sok paling Albert Camus karena menganggap sesuatu yang absurd adalah sebuah hal yang ‘nyeni’ atau artsy kalau boleh meminjam terma kekiniannya. Meskipun penjabarannya terkesan judgemental, namun mungkin itulah gambaran paling konkret yang dapat menjawab realitas ini (dalam skala lokal), yaitu penyakit sosial (kalau boleh sedikit kasar) ‘merasa paling hipster dan anti-mainstream’.

Menurut Pradja (2015) dalam bukunya “Before It Was Cool”, hipster merupakan sekumpulan masyarakat subkultur yang memiliki kesukaan akan hal yang dianggap memiliki jiwa seni, intelektual, dan berbeda atau tidak mengikuti selera pasar bahkan jauh terkenal sebelum mencapai masa ketenaran. Hipster merupakan salah satu produk subkultur yang secara umum disepakati sebagai kelompok yang menolak arus utama (mainstream) terutama dalam hal selera busana, musik, film, dan produk kesenian lainnya. Hipster dikenal secara umum untuk gaya estetika mereka yang ironis dan pemujaan berlebih terhadap produk seni budaya serta muncul dalam media terkini sebagai target rutin kritikan serta satir (Henke, 2013). Secara etimologi, istilah hipster menurut Schiermer (2013), berawal dari penyebutan untuk penggemar kesenian yang turun martabatnya dan penyimpangan dari kebudayaan akhir jazz kulit hitam yang ditulis di dalam esai terkenal dari kritikus sastra, Anatole Broyard. Selain itu, istilah hipster di dalam referensi subkultur kontemporer memiliki makna luas yang mencakup arti dari identifikasi (penanda) kelompok tertentu dan ejekan khas.

Pada 1950-an, Norman Mailer menulis artikel berjudul The White Negro di mana artikel tersebut membahas mengenai kelompok kaum kulit putih yang mengadopsi gaya musisi jazz kulit hitam tersebut dan menyematkan kalimat “hipster”, menganggap bahwa kaum hipster adalah golongan orang yang mencoba menjadi existensialis atau berusaha untuk menonjolkan diri. Selain itu, sumber hipster sendiri memang berasal dari Negro dikarenakan kaum kulit hitam telah hidup di dalam batasan di antara masyarakat totalitarian dan demokrasi selama lebih dari dua dekade. Kemunculan hipster sebagai filosofi hidup pada sub-kultur gaya hidup Amerika, menurut Mailer, disebabkan oleh jazz dan penetrasinya ke dalam kebudayaan bagaikan tancapan pisau serta pengaruh penetrasi yang halus dari generasi avant-garde.

Mengacu pada pernyataan-pernyataan tersebut, maka mari kita sepakati bahwa hal ini adalah sebuah fenomena dalam ranah budaya, maka dari itu, hipster pun merupakan sebuah produk budaya, yang mana itu juga merupakan sebuah bentuk komunikasi massa yang menjangkit pada sebuah kelompok tertentu. Ada sistem pemaknaan yang coba dibangun dalam kelompok-kelompok budaya yang bertebaran dalam masyarakat, kalangan hipster-pun memiliki kecondongannya sendiri untuk menentukan simbol-simbol, yang bisa mereka pakai dalam ‘pergaulannya’ menjadi hipster itu sendiri. Seperti yang telah dijelaskan diatas, mereka yang berada di Indonesia acapkali ditemukan bergaya anti-mainstream (kata mereka aja sih) dengan menggunakan pakaian-pakaian dari sebuah komunitas tertentu, atau dari merek-merek yang secara sepihak didaku mereka sebagai merek yang menolak arus utama.

Selain itu, mereka para hipster, juga dapat ditemui pada acara-acara musik indie (huwek, kenapa kata ini harus ada sih!?) yang diadakan perusahaan-perusahaan rokok maupun bir lokal. Selera musik mereka-pun tentunya ‘harus’ berbeda dari khalayak umum dong, mendengarkan musik seperti karya Zeke Khaseli ataupun yang paling ekstrem (karena saking ngototnya ingin digolongkan menjadi hipster, tapi hati tetap menye-menye), mendengarkan karya-karya musikal dari Payung Teduh. Cinta, cinta, cinta. Tetapi pernyataan barusan adalah sangat subjektif, bisa jadi penulis sudah tepat menggambarkan, namun bisa jadi pula penulis agak keliru menggambarkannya, karena siapa tahu karena sudah saking merasa ter-komodifikasi-nya mereka dalam tulisan ini, nongkrong di bawah jembatan sambil minum anggur merah Cap Orang Tua yang dimasukkan plastik, malah menjadi gaya hidup mereka saat ini.

Hipster menjadi menarik diteliti dalam konteks ke-Indonesia-an, karena ternyata dalam konteks masyarakat yang sudah berabad-abad memiliki kebudayaan luhur ini, terdapat sebuah anomali yaitu kelompok hipster lokalan. Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa ketika kita sedang berjalan-jalan ke daerah Jalan Dr.Soetomo Surabaya, lalu masuk ke gang-gang perumahan disana, akan banyak kita temui tempat-tempat dimana para hipster berkumpul dan melakukan aktifitas-aktifitas ke-hipster-an mereka. Sebut saja c2o Library yang sering mengakomodir kegiatan literasi berbau kekiri-kirian nan kadang cenderung menjadi feminazi (oke, maaf apabila keterlaluan bagi yang bersangkutan), Newton dan Other Rag Enterprises yang mana penuh dengan sekumpulan anak muda menggunakan sepatu Vans nan berjaket Fila, atau yang paling baru adalah Qubicle Center, sebuah Co-Working Space yang beberapa kali mengakomodir acara-acara seperti workshop Shibori, pameran karya fotografi dari kamera analog, atau semacam creative talk yang mendatangkan influencer-influencer dari platform Web 2.0 dimana sangat mudah diakses di era New Media ini (saya ingat beberapa pekan lalu mereka mengundang Flux Cup, creator yang katanya kreatif tapi menurut saya sama sekali ndak kreatif, gak percoyo? Lihat aja Instagram atau yuchub-nya).

Hipster di Indonesia masih sangat abstrak untuk dijelaskan dalam ranah akademis, hal ini didasari oleh banyaknya gegar budaya yang terjadi, serta budaya hipster barat yang mana terpaksa dipenetrasikan dalam konteks lokal. Hal tersebut semata-mata untuk membentuk suatu eksklusifitas dalam kelompok kecil hipster lokal. Ini menjadi sebuah kebodohan yang dilakukan oleh para hipster lokal, dimana sebenarnya mereka tidak sedang menjadi anti arus utama, karena fenomena hipster sendiri adalah fenomena global, bukan lagi menjadi langkah alternatif penolakan terhadap arus utama. Apakah ini yang dinamakan sebagai pseudo-alternatif?

Bisa jadi.

Dalam masyarakat New Media dimana kita dihadapkan dengan berbagai macam bentuk kebenaran, maka sebenarnya kita sedang berada dalam sebuah kungkungan atau kerangkeng raksasa dari informasi-informasi yang bertebaran (penjara informasi), maka dari itu para akademisi kekninian sering menggunakan istilah post-truth untuk menandai masa ini: dimana kebenaran tidak ada lagi yang memiliki legitimasi penuh, semua punya legitimasinya sendiri dan berhak menentukan sumber atau rujukan yang menurut kelompoknya masing-masing ‘paling mencerahkan’. Sama seperti hipster era Web 2.0, asal mereka mendengarkan musik yang views-nya tidak terlampau jutaan, maka ia sudah berhak melabeli dirinya menjadi hipster. Tunggu sebentar, bukannya hipster menolak labelling? Eh.

(Bersambung–mirip cerita silat).

*Jejaka tanggung sekaligus mahasiswa terkenal di kampusnya. Berminat pada kajian-kajian kritis budaya.

 

Previous ArticleNext Article

13 Comments

  1. menarik,tapi ada pertanyaan besar yang mungkin menarik untuk dijadikan bahan diskusi. Saya akan memulai premis, bahwa segala dinamika di lingkungan sosial berada dalam perspektif dialiektika,tesa,antitesa,lalu sintesa maka begitu pula perlakuannya terhadap budaya. Akan ada budaya konserfatif yang dihantam budaya tanding,begitu pun seterusnya. Pada posisi pergolakan berhenti pada budaya tandingan dan sialnya kapitalisme berhasil mengkooptasi budaya tandingan lalu kemudian menjadi budaya massa disitulah hipster lahir (menurut saya).

    yang ingin saya ajukan sebagai bahan diskusi adalah,bagaimana pengaruh tatanan ekonomi global serta perilaku masyarakatnya terhadap aktivitas kooptasi budaya tandingan ini? jangan2 hipster adalah korban dari minimnya pengetahuan mereka bahwa sebenarnya mereka sedang diakali dan sayangnya mereka yg kritis berusaha menjauhi diskursus itu namun justru berdiri diluar untuk terus mengkritisi perilaku ini

    salam
    Ganesha Patria
    penulis di kemarin sore.club,mantan aktivis pergerakan mahasiswa,dan salah satu hipster yang sempat punya band crust punk bernama PisauxNalar

  2. Hey, douchebag, saya tahu opinions are like asshole, everybody has one, hence say what you want, tapi apa salahnya apabila sekelompok orang ingin berkumpul untuk berdiskusi, bertukar pikiran atau sederhananya bersenang senang bersama sama?

    Dan apa haramnya menggunakan/membeli produk fashion dengan brand yang kamu sebutkan di atas?

    Dan apa kelirunya untuk menggunakan ruang ruang publik tersebut?

    Apakah kamu pernah sakit hati mungkin karena karyamu/keberadaanmu tidak diterima/tidak ketara oleh lingkup golongan yang kamu sebutkan dalam tulisanmu?

    Apakah kamu juga tidak menikmati apa yang kami nikmati?

    Atau mungkin kamu se-desperate itu untuk mendapatkan sebutan yang kamu sematkan pada kami?

    Atau kamu hanya menginginkan atensi?

    Insecure much?

    Either way, you look pathetic.

    To end my comment of this “public section”,

    You offended a lot of good people in Surabaya dude, most of them are my good friends,

    Good people who just want to do their things without any intentions of being whatever you say they are.

    Check yourself before you wreck yourself,

    Take care,

  3. Suatu hari, tersebutlah seorang mahasiswa yang gemar bertanya-tanya. Apa saja yang tertangkap inderanya dan kemudian dilintaskan di otaknya memuntahkan keheranan. Namun sayang, oleh sebab umur yang baru tuntas remaja, ia sering menahan kejujuran jiwa anak kecil dalam dirinya yang gatal ‘tuk mengucap, ‘tuk bertanya.

    Ditemukanlah olehnya sebuah media ramah perspektif yang menawarkan ruang untuk menjadi kurang ajar (Kalikata.id, halaman Tentang, 2017). *admin berdehem* Ucap sang mahasiswa dengan lega, “Ah… Inilah ruang publik yang telah lama kuimpi-damba.”

    Siapa sangka, bahwa ia lantas bermain dalam media tersebut ‘tuk mengujar, dalam sebuah artikel, segala apa-mengapa-bagaimana tentang dirinya sendiri (baca: tentang ke-hipster-annya sendiri)?

    Penasaran, admin kemudian menyewa Roi Keyoseh buat menerawang maksud si mahasiswa. Kata Roi, isi batinnya berkata, ‘Lah iyo ini kan yang dimau banyak bibir, yang baru kemarin kusak-kusuk di warung-warung kopi. Sesudut tempat buat menampung roso lan suarane ati. Namanya suara hati memang sudah nalurinya nabrak-nabrak sama suara hati lain, sama kayak hakikat kebebasan. Tapi toh, mereka bilang pengen punya ruang publik, ruang yang isinya orang-orang yang boleh jujur.’

    Karena tersentuh hatinya, admin lalu menitikkan air mata seraya dengan sesenggukan mendaraskan pesan moral dari pengalaman haru-biru ini, “Mari yang lain, semuanya, jangan sampai lupa bikin artikel balasan ‘tuk sampaikan argumen masing-masing! Mari sama-sama wujudkan impian si mahasiswa tentang ruang publik kaya perspektif!”

    Tanpa lupa, admin kemudian mengajak pembaca sekalian yang budiman untuk berkumpul dan bertapa, memanggil jiwa si mahasiswa untuk turut menanggapi komentar khalayak yang ribut dibuatnya.

    1. Saya yakin fabula dalam adagium ulasan ini menjadikan arsis terhadap kuin dan epifora pada setiap paragraf yang Mas Ricky Sabastian jewantahkan. Sayangnya parameter yang dilihat merupakan analogi enjambemen dengan nuansa fiksi yang gemawan.

      Untung saja terjadi dialog yang progresif dalam membina kakofoni heptameter tulisan itu sendiri. Kalau tidak, peran larik dan distikon yang banal tak terjadi dalam tulisan ini. Yang diharapkan akan adanya dekontekstualisasi malah jadi ironi.

      Mas Ricky Sabastian, tulisan ini mengandung prosenium tipis yang seharusnya dapat lebih menuju ke titik karmina. Sayangnya, kenadiran kilas balik pada jarak estetik tidak menghadirkan kesinambungan rima yang membentang.

      Semoga komentar saya ini menjadi monodi bagi semua pembaca yang mengharapkan asonansi dan kematraan estetika mendalam dari tulisan Mas Ricky Sabastian.

  4. kalau bisa netral sih sebagai media yang menuliskan opininya. bisa kalikali di kurasi lagi untuk tulisannya (tidak urus masalah perhipsteran/perindie-an)

  5. Kalo gue dibilang hipster, yauds.

    orang lain juga gak masalah dibilang K-Popers atau Dangdut-ers.

    Biarkan saja si Mas Author ini, Salam.

  6. Hipster mah riil. Orang2 kaya semua. Ada bagusnya sih tulisan model begini, bikin melek orang2. Hipster maramara pada tersinggung 😀

  7. hehe rame ya kalo bahas hipster. udah bahas hipster2an dan sub kultur lainnya aja, gausah bahas politik..sepi. hipster lebih galak daripada politisi dan kebijakannya yg kalian nyinyiri.

    oiya btw penulisnya kok ilang ya ? apa udah dipetrus hipster ?

  8. Halo, maaf aku masih bocah yang sok-sokan paham tentang beginian dan baru belajar ngomong, menurut aku nih,

    kebanyakan temen-temen aku yang begitu rata-rata malah pada golongan kanan kebanyakan, rata-rata mereka dari golongan menengah keatas (yang menurut aku) ingin dipandang ‘beda’ dari orang-orang yang lain (mungkin inilah yang disebut merujuk pada eksklusifitas)

    aku setuju sama komentarnya Mas Ganesha Patria yang bagian “Pada posisi pergolakan berhenti pada budaya tandingan dan sialnya kapitalisme berhasil mengkooptasi budaya tandingan lalu kemudian menjadi budaya massa disitulah hipster lahir (menurut saya)”

    terus, aku rasa Authornya, nulis tulisan bagian “Mungkin ketika mendengar kata hipster, yang orang pikirkan adalah sebuah gambaran seorang anak muda yang ‘katanya’ keren, memakai totebag kemana-mana, menyukai seni rupa dan desain grafis, minum kopi di Café, berkumpul di butik streetwear, sok idealis kekiri-kirian padahal baru membaca satu-dua buku, tak pernah mau turun aksi ke jalan (yaiyalah, mentok-mentok jadi SJW di medsos), membaca literatur pos-modernisme lalu koar-koar di media sosial tentang simulakra (setelah membaca “Baudrillard for Dummies”, meskipun membaca Baudrillard bukan berarti tidak bagus dan tidak menarik), juga yang sok paling Albert Camus karena menganggap sesuatu yang absurd adalah sebuah hal yang ‘nyeni’ atau artsy kalau boleh meminjam terma kekiniannya. Meskipun penjabarannya terkesan judgemental, namun mungkin itulah gambaran paling konkret yang dapat menjawab realitas ini (dalam skala lokal), yaitu penyakit sosial (kalau boleh sedikit kasar) ‘merasa paling hipster dan anti-mainstream’.” itu mungkin si author ngerasain hal yang sama yang kaya aku rasain dan emang kebanyakan begitu hehehehe 😀 *peace*

    intinya : yaudah, mau kita hipster, kpopers, wibu, dll tetep jadi dirimu sendiri:). Setiap orang berhak mengomentari dan diberi komentar, karena ini adalah kebebasan untuk menyuarakan pendapat. Menurut aku, authornya ga memojokan kok, author hanya ingin menulis pendapat pribadinya tentang sesuatu yang nyata yang hadir di tengah-tengah budaya kita sekarang ini. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 119

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Menulis Kondisi Penulis dan Membaca Kondisi Pembaca 0 247

Banyak penulis—kita sebut saja begitu—terpangkas semangat menulisnya akibat kesulitan membagi porsi antara kapan harus bekerja untuk yang abadi dan kapan harus bekerja untuk yang fana. Menulis dalam definisi puitisnya, adalah bekerja untuk keabadian (selebihnya akan kita temukan sendiri). Jenis-jenis penulis pun tidak sedikit. Penulis puisi, penulis cerpen, penulis berita, penulis maya, penulis skripsi, penulis miskin, penulis kaya, dan sebagainya.

Dalam diskusi di forum-forum literasi, sering disebutkan bahwa minat membaca buku semakin menurun, sejak minat membaca visual dianggap lebih dominan. Anggapan yang tidak hanya mematahkan semangat para penulis dalam proses produktifnya ini, juga mematahkan semangat penerbit buku dalam mencari tulisan-tulisan yang berkualitas.

Gejolak di atas memang pernah terasa nyata ketika toko-toko buku ternama memamerkan buku-buku yang berasal dari penulis dengan kualitas karya yang kurang serius. Contoh kasus, seorang penulis dituntut oleh penerbitnya agar menghasilkan minimal dua buku dalam waktu singkat. Padahal hal ini bisa berdampak pada tenaga penulis tersebut saat melakukan proses kreatif dan berdampak pula pada tulisan yang dihasilkannya. Atau penulis yang melahirkan buku dengan tema-tema ala kadarnya, semata-mata untuk memuaskan selera pasar hiburan.

Akan tetapi, tidak lama ini, dunia literasi kita menemukan angin segar. Dengan munculannya penerbit-penerbit independen yang berdiri di luar arus pasar hiburan mainstream. Tidak sedikit dari mereka memasarkan produknya hanya melalui internet atau media sosial. Keberadaan mereka membuka ruang yang lebih lebar bagi para penulis baru dengan tema yang kemungkinan lebih inovatif. Artinya, selain memberi ruang yang lebih lebar bagi para penulis, penerbit independen juga berpotensi memberi kesempatan bagi buku-buku marxis kiri yang mana peredarannya diawasi oleh negara ormas. Hehehe…

Namun, dilemanya adalah: bolehkah kita menyebut gerakan kiri atau ide-ide progresif yang dimanifestasikan ke dalam sebuah karya literasi sebagai bentuk komodifikasi. Ketika banyak buku bernuansa kiri mempunyai harga yang fantastis. Harga-harga yang bahkan sulit dijangkau oleh pelaku revolusioner itu sendiri. Tidak hanya melalui buku, kaos, topi, tas kecil, dan berbagai jenis atribut lainnya, mengandung semacam upaya pembentukan identitas yang berlebihan. Sedang di sisi lain, banyak rakjat kecil dengan terpaksa mengenakan kaos pemberian partai demi keberlangsungan hidup mereka yang mulai kehilangan esensi.

Fenomena ini kemudian direspon oleh media-media alternatif yang menyebar di internet. Media yang menghadirkan tulisan-tulisan dengan biaya cetak dan ongkos akses Rp 0 bagi siapa saja. Termasuk media alternatif yang sedang anda baca sekarang ini.

Media yang coba menjadi jawaban lain atas, ketidaksembarangan orang dapat berkarya, karya dapat diterbitkan, dan harga dapat dibayar. Dengan demikian, kita pun tidak boleh menyalahkan keadaan ketika masyarakat lebih tertarik mengkonsumsi media online ketimbang media cetak.

Sekarang, penulis dan pembaca perlu saling memberi pengertian satu sama lain. Bahwa, visi kedua pekerjaan ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup atau memenuhi gaya hidup. Kedua pekerjaan ini adalah usaha merawat kesadaran yang perlahan mulai tergerus oleh hal-hal trivial yang sedang mendominasi isi pikiran kita. Pertanyaan selanjutnya: kesadaran seperti apa yang perlu kita bela sebagai penulis atau pembaca? Tentu saja adalah kesadaran bahwa di dunia ini kita hidup bukan untuk diri sendiri.

Jadi ini salahnya siapa? Salahnya remaja yang memperlakukan Marxis sebagai budaya populer, bukan budaya kritis.

Editor Picks