Jokowi: Kharisma atau Dimabuk Citra? 0 999

Disclaimer: Sumpah, ini adalah tulisan kalikata terakhir yang memuat anekdot Dilan.

Jaket jins biru muda bergambar peta Indonesia diurai. Helm tanpa kaca penutup siap terpasang. Sarung tangan ala bikers juga melengkapi. Tak ketinggalan, senyuman karismatik pun digantung. Dengan mantap menjajal chopper baru, berangkatlah “Jokowi and The Gangs” touringan mengitari Sukabumi.

Penulis merasa legowo karena Jokowi memilih kota itu sebagai lintasan. Andaikan saja, andaai sekali, Jokowi mampir ke Surabaya, motor seharga 140 juta itu bisa melepuh seketika. Bahkan, mungkin bentuk helm tanpa kaca dan sarung tangan bolong-bolong itu tak akan masuk daftar aksesoris. Panas kota ini terlalu jahanam, pak…kamu tak akan kuat. (lak dibaleni maneh)

Dibelinya motor jenis Golden Chopperland itu seolah memberi teladan pada masyarakat dunia bahwa, pemimpin harus bisa menghargai produk-produk dalam negeri. Motor itu aslinya diproduksi oleh Royal Enfield yang kemudian dimodifikasi oleh Elders Garage, sebuah bengkel yang digerakkan oleh beberapa anak bangsa. Apalagi, Jokowi membawa motor itu saat blusukan ke titik pengerjaan proyek Padat Karya Tunai Desa (PKTD) agar pencitraan masyarakat bisa melihatnya lebih dekat.

Tentu saja, mulai dari anak kecil, mas-mas, mbak-mbak, sampai ibu-ibu, bergerumbul di sepanjang jalan. Mereka melambai-lambaikan tangan sambil berteriak, presidenkuuu! Apa mereka mengira dengan begitu bisa membuat Jokowi lantas ngebut tanpa mampir ke pit buat ngisi bensin? Bahkan, ada satu pria yang saking ngidol-nya, rela mengejar rombongan itu demi memegang tangan sang presiden. Tanpa baju dan sendal, lho, gak gendeng a! Untung ndak diculik di tempat sampeyan.

Kalau mengaca pada gelagat Jokowi yang mulai sering ‘mendekat’ kawula muda, seperti nge-vlog, mengunjungi We The Fest, suka musik metal, dan membeli jaket bomber, harusnya beliau juga mempertimbangkan produk dalam negeri yang lain yang tak kalah bagus. Bagaimana dengan mobil esemka yang digadang-gadang mampu memandirikan industri otomotif Indonesia itu? Atau mobil listrik ITS? Atau beli sepeda polygon, kek?

Untuk urusan elektronik rumah, mungkin bapak bisa memakai produk dari Maspion. Di rumah penulis, kipas anginnya tak berdampak signifikan mengingat udara Sidoarjo yang sebelas dua belas dengan suhu abab (baca: nafas). Tentu, buat urusan telekomunikasi, bapak bisa memakai Mito sepaket sama Limbad yang tahan bantingnya bukan main itu.

Sayang sekali, pemilihan artis untuk hajatan kedua anak Jokowi tak jatuh pada Via Vallen atau Nella Kharisma. Padahal, reputasi keduanya sungguh sudah menancap betul sejak dalam pikiran rakjat cilik. Para fanboy akan memadati gedung pernikahan jauh sebelum mereka menyanyi. Bila mereka diundang, sumpah, Jokowi tak perlu repot-repot kampanye lagi untuk Pilpres 2019. Sikat wae lah, bor!

Namun, terlepas dari agenda touring Jokowi yang dinilai adalah upaya menyelamatkan suara Jawa Barat—dan sederet aktivitasnya yang suka dicap pencitraan, beliau tetaplah pemimpin yang cerdik. Saat ini, politik tak lagi bisa dimainkan dengan program-program kerja yang cerdas ataupun berbekal kharisma sosok pemimpin saja. Para tokoh politik musti pintar mencari celah pada rutinitas masyarakat, setidaknya, selemah-lemahnya iman, ialah yang dilakukan oleh Fadli Zon atau Fahri Hamzah di twitter. Masyarakat kita saat ini telah menjelma masyarakat yang internet-based sehingga segala kebutuhan musti berpusat padanya.

Langkah-langkah Jokowi itu terbukti inovatif dan segar, sehingga masyarakat cenderung mengurangi asumsi bahwa politik tak lebih dari gerobak sampah. Tapi sekurang-kurangnya, langkah cerdas Jokowi bisa dilihat dari pemilihan kendaraannya pada motor gede dan bukannya jaran tumpangan capres kubu sebelah……

Wuuusss, Brrrmmmm, Brrrakkkkk

Cuuuuk

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 144

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 279

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks