Jokowi: Kharisma atau Dimabuk Citra? 0 527

Disclaimer: Sumpah, ini adalah tulisan kalikata terakhir yang memuat anekdot Dilan.

Jaket jins biru muda bergambar peta Indonesia diurai. Helm tanpa kaca penutup siap terpasang. Sarung tangan ala bikers juga melengkapi. Tak ketinggalan, senyuman karismatik pun digantung. Dengan mantap menjajal chopper baru, berangkatlah “Jokowi and The Gangs” touringan mengitari Sukabumi.

Penulis merasa legowo karena Jokowi memilih kota itu sebagai lintasan. Andaikan saja, andaai sekali, Jokowi mampir ke Surabaya, motor seharga 140 juta itu bisa melepuh seketika. Bahkan, mungkin bentuk helm tanpa kaca dan sarung tangan bolong-bolong itu tak akan masuk daftar aksesoris. Panas kota ini terlalu jahanam, pak…kamu tak akan kuat. (lak dibaleni maneh)

Dibelinya motor jenis Golden Chopperland itu seolah memberi teladan pada masyarakat dunia bahwa, pemimpin harus bisa menghargai produk-produk dalam negeri. Motor itu aslinya diproduksi oleh Royal Enfield yang kemudian dimodifikasi oleh Elders Garage, sebuah bengkel yang digerakkan oleh beberapa anak bangsa. Apalagi, Jokowi membawa motor itu saat blusukan ke titik pengerjaan proyek Padat Karya Tunai Desa (PKTD) agar pencitraan masyarakat bisa melihatnya lebih dekat.

Tentu saja, mulai dari anak kecil, mas-mas, mbak-mbak, sampai ibu-ibu, bergerumbul di sepanjang jalan. Mereka melambai-lambaikan tangan sambil berteriak, presidenkuuu! Apa mereka mengira dengan begitu bisa membuat Jokowi lantas ngebut tanpa mampir ke pit buat ngisi bensin? Bahkan, ada satu pria yang saking ngidol-nya, rela mengejar rombongan itu demi memegang tangan sang presiden. Tanpa baju dan sendal, lho, gak gendeng a! Untung ndak diculik di tempat sampeyan.

Kalau mengaca pada gelagat Jokowi yang mulai sering ‘mendekat’ kawula muda, seperti nge-vlog, mengunjungi We The Fest, suka musik metal, dan membeli jaket bomber, harusnya beliau juga mempertimbangkan produk dalam negeri yang lain yang tak kalah bagus. Bagaimana dengan mobil esemka yang digadang-gadang mampu memandirikan industri otomotif Indonesia itu? Atau mobil listrik ITS? Atau beli sepeda polygon, kek?

Untuk urusan elektronik rumah, mungkin bapak bisa memakai produk dari Maspion. Di rumah penulis, kipas anginnya tak berdampak signifikan mengingat udara Sidoarjo yang sebelas dua belas dengan suhu abab (baca: nafas). Tentu, buat urusan telekomunikasi, bapak bisa memakai Mito sepaket sama Limbad yang tahan bantingnya bukan main itu.

Sayang sekali, pemilihan artis untuk hajatan kedua anak Jokowi tak jatuh pada Via Vallen atau Nella Kharisma. Padahal, reputasi keduanya sungguh sudah menancap betul sejak dalam pikiran rakjat cilik. Para fanboy akan memadati gedung pernikahan jauh sebelum mereka menyanyi. Bila mereka diundang, sumpah, Jokowi tak perlu repot-repot kampanye lagi untuk Pilpres 2019. Sikat wae lah, bor!

Namun, terlepas dari agenda touring Jokowi yang dinilai adalah upaya menyelamatkan suara Jawa Barat—dan sederet aktivitasnya yang suka dicap pencitraan, beliau tetaplah pemimpin yang cerdik. Saat ini, politik tak lagi bisa dimainkan dengan program-program kerja yang cerdas ataupun berbekal kharisma sosok pemimpin saja. Para tokoh politik musti pintar mencari celah pada rutinitas masyarakat, setidaknya, selemah-lemahnya iman, ialah yang dilakukan oleh Fadli Zon atau Fahri Hamzah di twitter. Masyarakat kita saat ini telah menjelma masyarakat yang internet-based sehingga segala kebutuhan musti berpusat padanya.

Langkah-langkah Jokowi itu terbukti inovatif dan segar, sehingga masyarakat cenderung mengurangi asumsi bahwa politik tak lebih dari gerobak sampah. Tapi sekurang-kurangnya, langkah cerdas Jokowi bisa dilihat dari pemilihan kendaraannya pada motor gede dan bukannya jaran tumpangan capres kubu sebelah……

Wuuusss, Brrrmmmm, Brrrakkkkk

Cuuuuk

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Parade Isu Seksi Jelang Peringatan G30S 0 70

Helloh gess, September telah tiba. Ini bulannya hura-hura tentang trauma. Pasti kamu sudah hapal: sebentar lagi kita akan menyimak debat seolah-olah tentang peristiwa 1965. Tapi sedihnya, tulisan ini bukan ke sana.

Kita akan mencoba merunut isu-isu apa yang hadir, coba dihadirkan, atau dipaksa dihadirkan, menjelang peringatan G30S. Isu-isu yang, yaaa, sesuai tradisi, akan memanas dan sering setiap tahunnya merepotkan rejim. Berikut isunya:

  • Perpindahan Ibukota
  • Livi Zheng
  • Djarum yang disetop audisinya oleh KPAI
  • Jokowi main sama putunya
  • Iuran BPJS naik
  • Esemka diresmikan

Apalagi gess?

Ohya, ini penting karena beberapa sebab. Pertama, mengamati isu-isu “tak penting” justru menjadi sangat penting hari ini untuk melihat bagaimana strategi kekuasaan memainkan lalu-lintas diskusi dan menginterupsi tiap isu. Kalau ente jeli, akan tampak bagaimana pengendalian atas persepsi kita dimainkan dan dikonsentrasikan pada hal-hal tertentu, agar hal-hal lain dapat diminimalkan dampaknya.

Tentu saja arahnya dapat ditebak: mendebat Livi Zheng jauh lebih aman ketimbang ente didatangi Kivlan Zen untuk membeberkan rencana kebangkitan PKI. Atau bicara memindah ibukota lebih asyik daripada memperdebatkan jumlah korban sebetulnya pada genosida 65 duluuu sekali.

Kedua, dari isu-isu tersebut, kesemuanya saksess menjadi tren perbincangan. Esemka, BPJS, dan Ibukota berkaitan langsung dengan agenda pemerintah. Perpindahan ibukota yang terparah, terlalu kentara digunakan sebagai “umpan peluru”, seolah-olah ide ini dilempar untuk dihabisi. BPJS dan Esemka sebelas dua belas, memancing sekaligus mengepung orang dengan kontroversi agar terus-menerus diperdebatkan.

Jadi, mari nanti kita tengok menjelang tumbangnya waktu dan mendekatnya tanggal 30, barang sampah apa saja yang akan dihamburkan oleh media kita.

Tapi toh dibawa santai saja! Kadang-kadang terlalu serius juga tak baik bagi kesehatan jiwa.

 

Annabelle Rukhiyat

Selain menekuni permakelaran tanah, penulis juga magang sebagai penjaga ponten.

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 102

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Editor Picks