#JusticeForAsifa dan Menguapnya Nurani 0 706

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Homo homini lupus. Dunia sedang menawarkan peristiwa manusia memangsa sesama, yang kini disajikan dalam sebuah paket lengkap berisi kekejian, ketidakadilan, dan ketumpulan akal dan nurani dalam sekali gigit.

Bentuk materialisasi makna secara nyata konkret, terliar, dan kelewat biadab “paket lengkap” itu sedang terjadi di India. Dengan penuh simpati dan kemarahan pada ketidakadilan, inilah simbol perlawanan pada ketidakadilan, Asifa Bano

 

Mengulang Kisah Dua Ribu Tahun Lalu

“Siapa yang sebaiknya dibebaskan, Yesus atau Barnabas?”, tanya Pilatus di depan ribuan penduduk Yerusalem.

Mereka sontak memalingkan pandangan dari Yesus, mencemoohnya, lantas dengan mantap memilih membebaskan Barnabas. Seorang pembunuh, pemerkosa, dan pencuri yang tak sedikitpun tampak menyesali secuilpun kejahatannya.

Setelahnya, siapapun sudah tahu akhir kisah ini. Jadilah hari itu, ketidakadilan terbesar dalam sejarah manusia terjadi. Kuasa kehakiman dikalahkan desakan dan amukan massa. Seorang pendosa didukung dan dibebaskan atas dasar aklamasi warga, alih-alih rasionalitas. Tak lupa, orang tak bersalah yang harus mati dan menanggung segala penderitaan sampai ajalnya.

Pada dunia sekarang, dalam kasus Asifa, ia bukan dilahirkan sebagai juruselamat. Bukan. Asifa hadir ke dunia dengan “tujuan” lain. Nama Asifa kini dikenang, bersama dengan kebiadaban (dan entah kata lain apalagi yang lebih mantap dan penuh) yang diperbuat padanya di kuil Hindu di Kathua, tempatnya disekap, diperkosa, dan dicekik hingga tewas. Asifa lantas diangkat menjadi simbol antitesis terhadap penyakit ketidakadilan dan kemerosotan moral yang menjangkiti dan menggerogoti manusia begitu parahnya, sampai hilang nurani dan akal.

 

Asifa Bano dan yang Terjadi Padanya

Singkatnya, Asifa diculik dan disekap di sebuah kuil Hindu berjarak hanya beberapa kilo dari rumahnya. Terhitung ada delapan orang yang terlibat. Paling menyesakkan, tercatat empat orang polisi menjadi pelaku. Ditambah seorang pensiunan birokrat, Sanji Ram, yang terkenal anti-Muslim. Di kuil itu, mereka secara bergantian menggilir Asifa, memperkosa gadis 8 tahun yang tak sadarkan diri karena dibius.

Selama empat hari kebejatan itu berlangsung, Asifa dicekik hingga tidak lagi bernafas. Untuk memastikan is benar telah mati, kepalanya dipukul dengan batu dua kali. Sudah yakin, gerombolan sampah masyarakat itu membuang mayat Asifa di tengah hutan. Tergeletak begitu saja, hingga pada hari kelima setelah menghilang, Asifa baru ditemukan keluarganya. Kukunya biru dan sekujur tubuhnya kaku. Matanya setengah terpejam, menjadi tanda ia berusaha melawan dan menambah kekuatan pesan pada ketidakadilan yang Asifa bawa hingga sampai ajalnya tiba.

Tragisnya, Asifa tidak bisa dimakamkan di tanah tempat ia dibesarkan. Penduduk sekitar menolak kehadirannya yang bahkan tinggal tubuh tanpa nyawa. Kebacut!

 

Ketidakpercayaan Pada Birokrat dan Sesat Pikir Massa

Kasus Asifa membuka tabir kebusukan kepolisian India. Ada tiga perilaku bajingan (maaf editor, kata ini akan sering muncul. Dimaafkan kok kak :)—ttd editor) yang hadir dalam kasus ini, yakni; menerima suap, pembunuhan, dan pemerkosaan. Antitesis dari segala yang seharusnya dilakukan polisi, yang seharusnya menjadi garda depan melawan kejahatan.

Seorang polisi yang ikut terseret namanya sebagai pelaku, menerima suap USD 6.000 untuk menutupi kasus ini sampai ke media. Tiga polisi lain patuh menjalankan skema pembunuhan dan pemerkosaan atas arahan Sanji Ram, seorang pensiunan birokrat lokal Kathua yang mendalangi kasus ini. Sanji terkenal menaruh sentimen negatif pada komunitas nomaden Bakarwal. Terhitung ada 8 orang pelaku dalam kasus ini. Semuanya beragama Hindu. Motifnya, mengancam dan meneror komunitas Bakarwal untuk secepatnya minggat dari Kathua, takut Bakarwal menetap dan mengklaim tanah yang mereka yakini milik mereka.

Miris dan mengenaskan, penulis hanya bisa misuh dan marah ketika membaca berita soal Asifa. Bentuk paling nyata dukunganku pun hanya membagi cerita lewat instastory soal kasus ini, agar teman-teman tahu ada kasus sing kebacut dan asu banget sedang terjadi. Sisanya, aku terus merenung dan mendorong batinku untuk menuliskannya di Kalikata.

Sungguh, dunia rasanya begitu suram dan menakutkan, mengetahui bahwa di belahan lain dunia ini, ada aparat yang senyata-nyatanya tidak lagi berniat melindungi rakyat. Malahan, mereka dengan sadar dan sengaja menjelma kriminal, peran yang persis sama sekali keterbalikan dari fungsinya sebagai aparat! Mereka sendiri menjadi penjahat yang seharusnya mereka tangkap. Mereka memborgol tangan mereka sendiri dan memenjarakan diri mereka dalam bui yang mereka jaga.

Kebusukan dan kebejatan tidak berhenti di situ. Bahkan bereskalasi hingga tidak masuk akal, anarkis, dan menodai nurani paling sakral manusia (entah apa mereka masih punya nurani atau tidak, yang jelas sudah tidak punya akal). Setelah kasus ini dibawa ke persidangan, timbul aksi massa dari kalangan jaksa beragama Hindu yang menuntut pembebasan pelaku. Ya, Anda tidak sedang salah baca. MENUNTUT PEMBEBASAN PELAKU!

Karena semua pelakunya Hindu sementara perangkat penyidiknya Muslim, timbul ketidakpercayaan di kalangan mayoritas Hindu, terutama para jaksa yang berdemo itu. Mereka percaya ada persengkongkolan jahat di belakang proses peradilan para pelaku. Lantas, seakan dunia ini masih bisa bobrok dan bajingan lagi, dua menteri India turun ke jalan, mendukung aksi yang menuntut pembebasan pelaku! Lagi-lagi, Anda tidak sedang salah baca! DUA MENTERI TURUN KE JALAN! Huh! Dunia apa sih yang sedang kita hadapi saat ini? Sampai menteri turun ke jalan dan mendukung kebejatan?

 

Lalu Apa?

Setelah marah-marah dengan keadaan, penulis merenungi apa yang terjadi. Jelasnya dan yang paling terasa, pesimisme penulis pada dunia bertambah. Kita hidup di dunia yang sebagian (karena tidak baik mengeneralisasi apalagi memberi stereotipe) aparatnya sadar dan tanpa paksaan, mempraktekkan kejahatan, satu-satunya hal yang secara alamiah harus mereka  basmi.

Kemudian, soal kepemilikan tanah. Topik ini perlu disadari sebagai soal yang tenyata, biang kebangsatan bahkan selama ribuan tahun. Berkaca dari kasus Palestina dan Israel, penyerobotan lahan untuk kelapa sawit di Kalimantan, dan lain-lain yang serupa. Kesemua soal itu merujuk pada klaim-klaim penuh kepentingan dan selalu memakan korban. Dalam tiap kesempatan, mempertahankan tanah begitu pentingnya hingga mengalahkan rasa kemanusiaan.

Tidak ada solusi yang bisa ditawarkan penulis selain anjuran mendengarkan nurani. Lalu, beri kesempatan hukum menjalankan tugasnya, mengadili kejahatan dan menyata-tegakkan keadilan di atas bumi. Jika tak adil juga, teruskan melawan. Meminjam kredo SanggarBambu, tetap hidup hingga hayat anggota terakhir. Sampai musnah tak bersisa satu orang pun yang tidak nyaman pada ketidakadilan, sampai waktu itu pula perjuangan menuntut keadilan dikobarkan.

Soal Asifa, semoga dari kejauhan ia bisa melihat dunia yang sedang dibentuk setelah kematiannya. Betapa gelombang massa yang mendukung keadilan ditegakkan untuknya datang dari seluruh penjuru dunia, pun dari sekalian pembaca.

Soal tindak kejahatan atas dasar dikotomi agama, semoga tidak terjadi di Indonesia. Sejak Ahok, isu agama dan ras selalu menjadi bumbu politik yang tak lupa ditaburkan dalam tiap kesempatan menyerang lawan politik. Berbeda latar belakang kesukuan, ras, dan agama adalah takdir yang tidak bisa diubah, dikompromi, apalagi ditawar pada semesta. Perbedaan adalah keniscayaan, tetapi bagaimana kita menghargai dan menjunjung perbedaan itu dengan segenap akal dan nurani adalah yang utama. Percuma saja beragama kalau pada sesama manusia tidak punya rasa kemanusiaan. “Agamaku adalah kemanusiaan”, begitu kata seorang kenalan yang begitu melekat di ingatan.

Akhir kata, semoga pembaca Kalikata yang baik mampu bersimpati pada Asifa dan apa yang terjadi padanya. Lebih jauh, penulis berharap pembaca berkaca dan belajar dari kasus Asifa dan ikut memantau perkembangan kasus kemanusiaan ini. Karena walaupun kita disekat agama, ras, dan segala batas-batas budaya dan jarak, bukankah kita tetap satu dalam kemanusiaan?

Semoga akal dan nurani yang hilang itu segera ditemukan!

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 151

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 66

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks