#JusticeForAsifa dan Menguapnya Nurani 0 1089

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Homo homini lupus. Dunia sedang menawarkan peristiwa manusia memangsa sesama, yang kini disajikan dalam sebuah paket lengkap berisi kekejian, ketidakadilan, dan ketumpulan akal dan nurani dalam sekali gigit.

Bentuk materialisasi makna secara nyata konkret, terliar, dan kelewat biadab “paket lengkap” itu sedang terjadi di India. Dengan penuh simpati dan kemarahan pada ketidakadilan, inilah simbol perlawanan pada ketidakadilan, Asifa Bano

 

Mengulang Kisah Dua Ribu Tahun Lalu

“Siapa yang sebaiknya dibebaskan, Yesus atau Barnabas?”, tanya Pilatus di depan ribuan penduduk Yerusalem.

Mereka sontak memalingkan pandangan dari Yesus, mencemoohnya, lantas dengan mantap memilih membebaskan Barnabas. Seorang pembunuh, pemerkosa, dan pencuri yang tak sedikitpun tampak menyesali secuilpun kejahatannya.

Setelahnya, siapapun sudah tahu akhir kisah ini. Jadilah hari itu, ketidakadilan terbesar dalam sejarah manusia terjadi. Kuasa kehakiman dikalahkan desakan dan amukan massa. Seorang pendosa didukung dan dibebaskan atas dasar aklamasi warga, alih-alih rasionalitas. Tak lupa, orang tak bersalah yang harus mati dan menanggung segala penderitaan sampai ajalnya.

Pada dunia sekarang, dalam kasus Asifa, ia bukan dilahirkan sebagai juruselamat. Bukan. Asifa hadir ke dunia dengan “tujuan” lain. Nama Asifa kini dikenang, bersama dengan kebiadaban (dan entah kata lain apalagi yang lebih mantap dan penuh) yang diperbuat padanya di kuil Hindu di Kathua, tempatnya disekap, diperkosa, dan dicekik hingga tewas. Asifa lantas diangkat menjadi simbol antitesis terhadap penyakit ketidakadilan dan kemerosotan moral yang menjangkiti dan menggerogoti manusia begitu parahnya, sampai hilang nurani dan akal.

 

Asifa Bano dan yang Terjadi Padanya

Singkatnya, Asifa diculik dan disekap di sebuah kuil Hindu berjarak hanya beberapa kilo dari rumahnya. Terhitung ada delapan orang yang terlibat. Paling menyesakkan, tercatat empat orang polisi menjadi pelaku. Ditambah seorang pensiunan birokrat, Sanji Ram, yang terkenal anti-Muslim. Di kuil itu, mereka secara bergantian menggilir Asifa, memperkosa gadis 8 tahun yang tak sadarkan diri karena dibius.

Selama empat hari kebejatan itu berlangsung, Asifa dicekik hingga tidak lagi bernafas. Untuk memastikan is benar telah mati, kepalanya dipukul dengan batu dua kali. Sudah yakin, gerombolan sampah masyarakat itu membuang mayat Asifa di tengah hutan. Tergeletak begitu saja, hingga pada hari kelima setelah menghilang, Asifa baru ditemukan keluarganya. Kukunya biru dan sekujur tubuhnya kaku. Matanya setengah terpejam, menjadi tanda ia berusaha melawan dan menambah kekuatan pesan pada ketidakadilan yang Asifa bawa hingga sampai ajalnya tiba.

Tragisnya, Asifa tidak bisa dimakamkan di tanah tempat ia dibesarkan. Penduduk sekitar menolak kehadirannya yang bahkan tinggal tubuh tanpa nyawa. Kebacut!

 

Ketidakpercayaan Pada Birokrat dan Sesat Pikir Massa

Kasus Asifa membuka tabir kebusukan kepolisian India. Ada tiga perilaku bajingan (maaf editor, kata ini akan sering muncul. Dimaafkan kok kak :)—ttd editor) yang hadir dalam kasus ini, yakni; menerima suap, pembunuhan, dan pemerkosaan. Antitesis dari segala yang seharusnya dilakukan polisi, yang seharusnya menjadi garda depan melawan kejahatan.

Seorang polisi yang ikut terseret namanya sebagai pelaku, menerima suap USD 6.000 untuk menutupi kasus ini sampai ke media. Tiga polisi lain patuh menjalankan skema pembunuhan dan pemerkosaan atas arahan Sanji Ram, seorang pensiunan birokrat lokal Kathua yang mendalangi kasus ini. Sanji terkenal menaruh sentimen negatif pada komunitas nomaden Bakarwal. Terhitung ada 8 orang pelaku dalam kasus ini. Semuanya beragama Hindu. Motifnya, mengancam dan meneror komunitas Bakarwal untuk secepatnya minggat dari Kathua, takut Bakarwal menetap dan mengklaim tanah yang mereka yakini milik mereka.

Miris dan mengenaskan, penulis hanya bisa misuh dan marah ketika membaca berita soal Asifa. Bentuk paling nyata dukunganku pun hanya membagi cerita lewat instastory soal kasus ini, agar teman-teman tahu ada kasus sing kebacut dan asu banget sedang terjadi. Sisanya, aku terus merenung dan mendorong batinku untuk menuliskannya di Kalikata.

Sungguh, dunia rasanya begitu suram dan menakutkan, mengetahui bahwa di belahan lain dunia ini, ada aparat yang senyata-nyatanya tidak lagi berniat melindungi rakyat. Malahan, mereka dengan sadar dan sengaja menjelma kriminal, peran yang persis sama sekali keterbalikan dari fungsinya sebagai aparat! Mereka sendiri menjadi penjahat yang seharusnya mereka tangkap. Mereka memborgol tangan mereka sendiri dan memenjarakan diri mereka dalam bui yang mereka jaga.

Kebusukan dan kebejatan tidak berhenti di situ. Bahkan bereskalasi hingga tidak masuk akal, anarkis, dan menodai nurani paling sakral manusia (entah apa mereka masih punya nurani atau tidak, yang jelas sudah tidak punya akal). Setelah kasus ini dibawa ke persidangan, timbul aksi massa dari kalangan jaksa beragama Hindu yang menuntut pembebasan pelaku. Ya, Anda tidak sedang salah baca. MENUNTUT PEMBEBASAN PELAKU!

Karena semua pelakunya Hindu sementara perangkat penyidiknya Muslim, timbul ketidakpercayaan di kalangan mayoritas Hindu, terutama para jaksa yang berdemo itu. Mereka percaya ada persengkongkolan jahat di belakang proses peradilan para pelaku. Lantas, seakan dunia ini masih bisa bobrok dan bajingan lagi, dua menteri India turun ke jalan, mendukung aksi yang menuntut pembebasan pelaku! Lagi-lagi, Anda tidak sedang salah baca! DUA MENTERI TURUN KE JALAN! Huh! Dunia apa sih yang sedang kita hadapi saat ini? Sampai menteri turun ke jalan dan mendukung kebejatan?

 

Lalu Apa?

Setelah marah-marah dengan keadaan, penulis merenungi apa yang terjadi. Jelasnya dan yang paling terasa, pesimisme penulis pada dunia bertambah. Kita hidup di dunia yang sebagian (karena tidak baik mengeneralisasi apalagi memberi stereotipe) aparatnya sadar dan tanpa paksaan, mempraktekkan kejahatan, satu-satunya hal yang secara alamiah harus mereka  basmi.

Kemudian, soal kepemilikan tanah. Topik ini perlu disadari sebagai soal yang tenyata, biang kebangsatan bahkan selama ribuan tahun. Berkaca dari kasus Palestina dan Israel, penyerobotan lahan untuk kelapa sawit di Kalimantan, dan lain-lain yang serupa. Kesemua soal itu merujuk pada klaim-klaim penuh kepentingan dan selalu memakan korban. Dalam tiap kesempatan, mempertahankan tanah begitu pentingnya hingga mengalahkan rasa kemanusiaan.

Tidak ada solusi yang bisa ditawarkan penulis selain anjuran mendengarkan nurani. Lalu, beri kesempatan hukum menjalankan tugasnya, mengadili kejahatan dan menyata-tegakkan keadilan di atas bumi. Jika tak adil juga, teruskan melawan. Meminjam kredo SanggarBambu, tetap hidup hingga hayat anggota terakhir. Sampai musnah tak bersisa satu orang pun yang tidak nyaman pada ketidakadilan, sampai waktu itu pula perjuangan menuntut keadilan dikobarkan.

Soal Asifa, semoga dari kejauhan ia bisa melihat dunia yang sedang dibentuk setelah kematiannya. Betapa gelombang massa yang mendukung keadilan ditegakkan untuknya datang dari seluruh penjuru dunia, pun dari sekalian pembaca.

Soal tindak kejahatan atas dasar dikotomi agama, semoga tidak terjadi di Indonesia. Sejak Ahok, isu agama dan ras selalu menjadi bumbu politik yang tak lupa ditaburkan dalam tiap kesempatan menyerang lawan politik. Berbeda latar belakang kesukuan, ras, dan agama adalah takdir yang tidak bisa diubah, dikompromi, apalagi ditawar pada semesta. Perbedaan adalah keniscayaan, tetapi bagaimana kita menghargai dan menjunjung perbedaan itu dengan segenap akal dan nurani adalah yang utama. Percuma saja beragama kalau pada sesama manusia tidak punya rasa kemanusiaan. “Agamaku adalah kemanusiaan”, begitu kata seorang kenalan yang begitu melekat di ingatan.

Akhir kata, semoga pembaca Kalikata yang baik mampu bersimpati pada Asifa dan apa yang terjadi padanya. Lebih jauh, penulis berharap pembaca berkaca dan belajar dari kasus Asifa dan ikut memantau perkembangan kasus kemanusiaan ini. Karena walaupun kita disekat agama, ras, dan segala batas-batas budaya dan jarak, bukankah kita tetap satu dalam kemanusiaan?

Semoga akal dan nurani yang hilang itu segera ditemukan!

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Alasan untuk Jangan Keburu Alergi terhadap Soal Hitungan di Tes Seleksi Kerja 0 184

Mengapa musti sulit belajar matematika dari TK sampai SMA? Sedang di kehidupan nyata cuma untuk menghitung uang kembalian, itupun sekarang sudah ada kalkulator? Telanjur capek-capek belajar dari bilangan eksponen, matriks, trigonometri, sampai geometri, gak bakalan dipakai buat bekal hidup!

Barangkali banyak dari Pembaca budiman yang beranggapan demikian. Apalagi kalau Pembaca bekerja atau berkuliah di luar jalur sains, pasti setuju kalau belajar matematika sampai muntah cecek ternyata tak berguna. Ada juga yang kesal dengan sistem seleksi calon karyawan yang menggunakan soal matematika (dalam TPA), sehingga kembali bertemu angka-angka brengsek itu.

Terlanjur move on dari matematika saat kuliah, banyak teman saya yang kaget harus kembali belajar matematika untuk kerja, sebal harus kembali berhadapan dengan musuhnya saat sekolah dulu. Dan itu termasuk saya. Namun, seorang pelanggan toko mengirim wahyu yang mengubah (dengan radikal dan revolusioner) pandangan-pandangan saya.

Suatu hari, seorang laki-laki tambun datang ke toko saya untuk membeli kaca untuk dekorasi kafenya. Ia minta dipotongkan kaca berbentuk segitiga sama kaki dengan alas 1 meter dan panjang kaki sebesar 20 cm. Sontak saya dan orang tua saya kaget dengan kompak.

“Mana bisa, Mas? Kan alasnya semeter, kalau sisinya 20 cm dong jadinya gini?” Jelas Mama saya sambil menunjukkan bentuk sisi segitiga yang tidak bisa menyatu. Ya, mirip pacaran berda agama.

Orang itupun nampak bingung.  “Berapa bisanya? Kalau 30 cm bisa gak?” Tanya orang tersebut.

“Ya gak bisa, Mas. Paling nggak sisi-sisinya semeter, nanti jadinya segitiga sama sisi,” jawab Papa saya.

Bukannya merasa tercerahkan, orang tersebut masih nampak bingung dengan urusan segitiganya. Padahal, selama sekolah, kita sudah mati-matian dihajar oleh segitiga. Dari yang paling sederhana, mencari keliling, hingga utak-atik sisi dan sudut menggunakan trigonometri. Kalaupun semisal mas-mas tersebut hanya lulusan SD, seharusnya ia sudah pernah belajar jenis-jenis segitiga, sifat-sifat segitiga, dan triple pythagoras.

Untuk mencari sisi yang pas untuk segitiga mas-mas tersebut sendiri cukup mudah. Yang paling gampang bisa menyamakan sisi kaki dengan sisi alasnya. Atau, kalau mas-mas tersebut kekeuh dengan bentuk segitiga sama kaki, bisa menggunakan angka triple pythagoras dan hasilnya adalah 130 cm.

Kejadian ini menunjukkan saya bahwa problem matematika di kehidupan sehari-hari tidak melulu soal uang. Selain masalah logika sederhana seperti tadi, pengetahuan matematis juga akan dijuji saat Anda mengerjakan tes IQ atau tes potensi akademik (TPA). Tes-tes itu, pembaca tahu, banyak diajukan dalam tes seleksi kerja atau CPNS.

“Lho, kan tidak semua orang dikaruniai kecerdasan numerikal?”

Yak, benar memang. Tes IQ sendiri juga banyak menuai kontra karena dianggap hanya melihat kecerdasan numerikal, linguistik, dan spasial. Tapi, bukan berarti Anda memilih untuk alergi apalagi fobia dengan urusan angka.

Saya sendiri menyarankan Anda untuk sesekali mengerjakan soal matematika sederhana seperti soal-soal TPA tatkala menganggur. Tenang, ini bukan rekomendasi abal-abal seperti inpluenser lokal (Baca: Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi). Tersebab, saya sudah melakukan riset kecil-kecilan mengenai kecerdasan.

Banyak teman saya yang lesu putus asa saat harus kembali belajar matematika untuk bisa mengerjakan TPA saat melamar pekerjaan. Sifat alergi itu datang lantaran pikiran mereka hanya dibayangi oleh bejibun angka-angka, tanpa tahu tujuan dari tes tersebut.

Secara sains, mengerjakan soal seperti ini terbukti meningkatkan IQ Anda. Dengan mengulas lagi pelajaran yang sudah usang, ikatan antar saraf otak Anda akan kembali terjalin dan menguat. Hubungan antar syaraf (sinapsis) pada otak inilah yang menentukan kecerdasan manusia.

Peningkatan IQ ini tidak hanya terkait kecerdasan numerikal saja. Setidaknya menurut pengalaman saya, mengerjakan soal TPA meningkatkan kemampuan menganalisis pola-pola dalam sebuah masalah, dan kemudian mencari solusinya. Mungkin, inilah mengapa banyak sekali perusahaan dan instansi yang menggunakan soal TPA untuk menyeleksi calon karyawan. Sekali lagi, bukan melihat kecerdasan numerikal namun identifikasi pola dalam masalah dan mencari solusinya.

Selain meningkatkan kecerdasan, belajar matematika juga melatih ketelitian. Saya rasa untuk poin ini, Anda sudah mengerti. Hal ini karena hasil yang benar tidak akan didapatkan apabila terdapat kesalahan dalam menghitung.

Di samping menguji ketelitian, mengerjakan soal matematika juga menguji kesabaran.  Tak jarang kita harus menghitung ulang saat tidak menemukan jawaban kita di pilihan jawaban…

Dan yang terakhir itu adalah manfaat tak terelakan, minimal meningkatkan kapasitas imej Anda di mata anak-anak kelak. Bayangkan bila suatu hari nanti anak-anak Anda meminta bantuan mengerjakan soal matematika sederhana, tetapi Anda tidak bisa mengerjakannya….

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Ibadah yang Tertinggal di Ramadhan: Refleksi Diri Bagi Golongan Sok Sibuk 0 268

Oleh: Edeliya Relanika*

 

*Peringatan: Ini bukan artikel dakwah, jadi jangan cari petunjuk religi di bacaan ini

 

Yah, tak terasa Ramadhan di tahun 2021 sudah berlalu. Lebaran bahkan sudah lewat lebih dari seminggu lalu. Tapi kok hidup tetep gini-gini aja, gak ada fitri-fitrinya. Sedih rasanya harus melewatkan Ramadhan dengan begitu cepat—yang tentu saja masih digandeng mesra sama si COVID-19.

Selama Ramadhan kemarin, aku telah tertimbun oleh beratnya tugas kuliah dan proyek kepenulisan. Bukan karena aku jadi materialis dan sekonyong-konyong berorientasi pada pencapaian duniawi, aku juga banyak mulai memikirkan hal yang bahkan belum disadari pada Ramadhan beberapa tahun ke belakang:

Kehilangan kesempatan beribadah Ramadhan saat kita beranjak dewasa, akibat disibukkan dengan pencapaian duniawi yang paradoksal.

Menjadi lebih tua nyatanya bisa membuat kita jadi lebih sibuk pada hal-hal profan. Jika diputar ke sisi lainnya, pencapaian duniawi itu toh juga akan berhenti saat kita meninggal dunia. Mungkin warisan pencapaian itu masih akan tersimpan dan dinikmati oleh keturunan kita. Namun, apakah pencapaian duniawi itu akan menina bobokkan kita di alam kubur?

Mudah saja bagi orang dewasa muda hingga tua untuk memafhumkan pelewatan beberapa ritual ibadah Ramadhan—yang biasa rutin dijalankan ketika waktu lebih muda dahulu. Sebelum aku menjadi lebih tua dan semakin malas beribadah (karena sok sibuk banyak kerjaan), ada beberapa poin catatan pribadi yang mungkin bisa relate dengan para pembaca Kalikata, dan mungkin bisa diterapkan di Ramadhan tahun depan: (karena sesungguhnya Ramadhan tiap tahun harusnya membuat kita manusia yang lebih baik khan, azeq)

Tidak skip ibadah lima waktu salat fardu saat di tengah hari berpuasa.

Dengan alasan banyak tugas dan pekerjaan lainnya (masih yang bersifat duniawi), banyak dari golongan sok sibuk (((seperti aku dan kamu))) yang seringkali lalai untuk melaksanakan salat fardu lima waktu secara full time. Nah, itu ibadah wajib jangan sampai kalian skip kayak iklan di YouTube yang masih belum premium.

 

Kalau tugas ber-deadline tengah malam, mending coba salat Tarawih dulu saja.

Kalau kalian memiliki waktu luang sekitar pukul 7 hingga 9 malam, sempatkanlah untuk salat Tarawih. Bukannya malah latihan joget Tiktok biar masuk fyp. Kalau masih ada tanggungan tugas gimana dong, kak? Coba saja tugas tersebut diselesaikan di pagi, siang, atau sore harinya.

 

Jangan suka begadang nugas atau kerja hingga waktu sahur, lalu jadi kelelawar dan bobok hingga waktu berbuka puasa.

Ini sih dilema para pelajar (apalagi mahasiswa) dan pekerja lainnya. Udah skip banyak ibadah Ramadan dengan alasan kecapaian, eh tapi malah kuat begadang kerja hingga sahur. Kalau kasusnya seperti itu, cobalah kalian pikir ulang. Untuk nugas saja kuat; mengapa untuk ibadah sebentar saja malah banyak alasan? Xixixi.

 

Coba mendaras ayat-ayat Alquran secara konsisten, walau tak sampai puluhan ayat jumlahnya.

Bagi kalian yang berniat untuk membaca Alquran walau pun tidak khatam, tidak apa-apa. Belajarlah konsisten untuk tak luput memaknai isi Alquran. Kalau bisa khatam Alquran di bulan Ramadhan, tentu lebih baik lagi! Biar tiap tahun ada faedahnya Ramadhan kita.

 

Jangan lupa banyak beramal dan bersabar.

Kemenangan Hari Raya nanti akan menjadi lebih bermakna, apabila Ramadan ini dapat kita jalankan dengan beban yang diringankan bersama ikhtiar serta qonaah.

 

Catatan refleksi ini kuharap akan terus berakar dan bertumbuh; dalam menyadarkan kekhilafan kita yang suka skip berbagai ritual ibadah di bulan Ramadhan. Semangat berubah untuk lebih baik boleh-boleh saja berkembang, namun jangan dengan kemalasan diri pada golongan sok sibuk seperti kita hehehe.

Tumben banget Kalikata serius.

 

*) Mahasiswi Ilmu Komunikasi, Universitas Brawijaya. Tinggal di Gresik, dan menghasilkan karya dari hobi menulis, salah satunya “Antroposen” di Gramedia Writing Project (Instagram: @edeliyarerelala).

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks