#JusticeForAsifa dan Menguapnya Nurani 0 1008

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Homo homini lupus. Dunia sedang menawarkan peristiwa manusia memangsa sesama, yang kini disajikan dalam sebuah paket lengkap berisi kekejian, ketidakadilan, dan ketumpulan akal dan nurani dalam sekali gigit.

Bentuk materialisasi makna secara nyata konkret, terliar, dan kelewat biadab “paket lengkap” itu sedang terjadi di India. Dengan penuh simpati dan kemarahan pada ketidakadilan, inilah simbol perlawanan pada ketidakadilan, Asifa Bano

 

Mengulang Kisah Dua Ribu Tahun Lalu

“Siapa yang sebaiknya dibebaskan, Yesus atau Barnabas?”, tanya Pilatus di depan ribuan penduduk Yerusalem.

Mereka sontak memalingkan pandangan dari Yesus, mencemoohnya, lantas dengan mantap memilih membebaskan Barnabas. Seorang pembunuh, pemerkosa, dan pencuri yang tak sedikitpun tampak menyesali secuilpun kejahatannya.

Setelahnya, siapapun sudah tahu akhir kisah ini. Jadilah hari itu, ketidakadilan terbesar dalam sejarah manusia terjadi. Kuasa kehakiman dikalahkan desakan dan amukan massa. Seorang pendosa didukung dan dibebaskan atas dasar aklamasi warga, alih-alih rasionalitas. Tak lupa, orang tak bersalah yang harus mati dan menanggung segala penderitaan sampai ajalnya.

Pada dunia sekarang, dalam kasus Asifa, ia bukan dilahirkan sebagai juruselamat. Bukan. Asifa hadir ke dunia dengan “tujuan” lain. Nama Asifa kini dikenang, bersama dengan kebiadaban (dan entah kata lain apalagi yang lebih mantap dan penuh) yang diperbuat padanya di kuil Hindu di Kathua, tempatnya disekap, diperkosa, dan dicekik hingga tewas. Asifa lantas diangkat menjadi simbol antitesis terhadap penyakit ketidakadilan dan kemerosotan moral yang menjangkiti dan menggerogoti manusia begitu parahnya, sampai hilang nurani dan akal.

 

Asifa Bano dan yang Terjadi Padanya

Singkatnya, Asifa diculik dan disekap di sebuah kuil Hindu berjarak hanya beberapa kilo dari rumahnya. Terhitung ada delapan orang yang terlibat. Paling menyesakkan, tercatat empat orang polisi menjadi pelaku. Ditambah seorang pensiunan birokrat, Sanji Ram, yang terkenal anti-Muslim. Di kuil itu, mereka secara bergantian menggilir Asifa, memperkosa gadis 8 tahun yang tak sadarkan diri karena dibius.

Selama empat hari kebejatan itu berlangsung, Asifa dicekik hingga tidak lagi bernafas. Untuk memastikan is benar telah mati, kepalanya dipukul dengan batu dua kali. Sudah yakin, gerombolan sampah masyarakat itu membuang mayat Asifa di tengah hutan. Tergeletak begitu saja, hingga pada hari kelima setelah menghilang, Asifa baru ditemukan keluarganya. Kukunya biru dan sekujur tubuhnya kaku. Matanya setengah terpejam, menjadi tanda ia berusaha melawan dan menambah kekuatan pesan pada ketidakadilan yang Asifa bawa hingga sampai ajalnya tiba.

Tragisnya, Asifa tidak bisa dimakamkan di tanah tempat ia dibesarkan. Penduduk sekitar menolak kehadirannya yang bahkan tinggal tubuh tanpa nyawa. Kebacut!

 

Ketidakpercayaan Pada Birokrat dan Sesat Pikir Massa

Kasus Asifa membuka tabir kebusukan kepolisian India. Ada tiga perilaku bajingan (maaf editor, kata ini akan sering muncul. Dimaafkan kok kak :)—ttd editor) yang hadir dalam kasus ini, yakni; menerima suap, pembunuhan, dan pemerkosaan. Antitesis dari segala yang seharusnya dilakukan polisi, yang seharusnya menjadi garda depan melawan kejahatan.

Seorang polisi yang ikut terseret namanya sebagai pelaku, menerima suap USD 6.000 untuk menutupi kasus ini sampai ke media. Tiga polisi lain patuh menjalankan skema pembunuhan dan pemerkosaan atas arahan Sanji Ram, seorang pensiunan birokrat lokal Kathua yang mendalangi kasus ini. Sanji terkenal menaruh sentimen negatif pada komunitas nomaden Bakarwal. Terhitung ada 8 orang pelaku dalam kasus ini. Semuanya beragama Hindu. Motifnya, mengancam dan meneror komunitas Bakarwal untuk secepatnya minggat dari Kathua, takut Bakarwal menetap dan mengklaim tanah yang mereka yakini milik mereka.

Miris dan mengenaskan, penulis hanya bisa misuh dan marah ketika membaca berita soal Asifa. Bentuk paling nyata dukunganku pun hanya membagi cerita lewat instastory soal kasus ini, agar teman-teman tahu ada kasus sing kebacut dan asu banget sedang terjadi. Sisanya, aku terus merenung dan mendorong batinku untuk menuliskannya di Kalikata.

Sungguh, dunia rasanya begitu suram dan menakutkan, mengetahui bahwa di belahan lain dunia ini, ada aparat yang senyata-nyatanya tidak lagi berniat melindungi rakyat. Malahan, mereka dengan sadar dan sengaja menjelma kriminal, peran yang persis sama sekali keterbalikan dari fungsinya sebagai aparat! Mereka sendiri menjadi penjahat yang seharusnya mereka tangkap. Mereka memborgol tangan mereka sendiri dan memenjarakan diri mereka dalam bui yang mereka jaga.

Kebusukan dan kebejatan tidak berhenti di situ. Bahkan bereskalasi hingga tidak masuk akal, anarkis, dan menodai nurani paling sakral manusia (entah apa mereka masih punya nurani atau tidak, yang jelas sudah tidak punya akal). Setelah kasus ini dibawa ke persidangan, timbul aksi massa dari kalangan jaksa beragama Hindu yang menuntut pembebasan pelaku. Ya, Anda tidak sedang salah baca. MENUNTUT PEMBEBASAN PELAKU!

Karena semua pelakunya Hindu sementara perangkat penyidiknya Muslim, timbul ketidakpercayaan di kalangan mayoritas Hindu, terutama para jaksa yang berdemo itu. Mereka percaya ada persengkongkolan jahat di belakang proses peradilan para pelaku. Lantas, seakan dunia ini masih bisa bobrok dan bajingan lagi, dua menteri India turun ke jalan, mendukung aksi yang menuntut pembebasan pelaku! Lagi-lagi, Anda tidak sedang salah baca! DUA MENTERI TURUN KE JALAN! Huh! Dunia apa sih yang sedang kita hadapi saat ini? Sampai menteri turun ke jalan dan mendukung kebejatan?

 

Lalu Apa?

Setelah marah-marah dengan keadaan, penulis merenungi apa yang terjadi. Jelasnya dan yang paling terasa, pesimisme penulis pada dunia bertambah. Kita hidup di dunia yang sebagian (karena tidak baik mengeneralisasi apalagi memberi stereotipe) aparatnya sadar dan tanpa paksaan, mempraktekkan kejahatan, satu-satunya hal yang secara alamiah harus mereka  basmi.

Kemudian, soal kepemilikan tanah. Topik ini perlu disadari sebagai soal yang tenyata, biang kebangsatan bahkan selama ribuan tahun. Berkaca dari kasus Palestina dan Israel, penyerobotan lahan untuk kelapa sawit di Kalimantan, dan lain-lain yang serupa. Kesemua soal itu merujuk pada klaim-klaim penuh kepentingan dan selalu memakan korban. Dalam tiap kesempatan, mempertahankan tanah begitu pentingnya hingga mengalahkan rasa kemanusiaan.

Tidak ada solusi yang bisa ditawarkan penulis selain anjuran mendengarkan nurani. Lalu, beri kesempatan hukum menjalankan tugasnya, mengadili kejahatan dan menyata-tegakkan keadilan di atas bumi. Jika tak adil juga, teruskan melawan. Meminjam kredo SanggarBambu, tetap hidup hingga hayat anggota terakhir. Sampai musnah tak bersisa satu orang pun yang tidak nyaman pada ketidakadilan, sampai waktu itu pula perjuangan menuntut keadilan dikobarkan.

Soal Asifa, semoga dari kejauhan ia bisa melihat dunia yang sedang dibentuk setelah kematiannya. Betapa gelombang massa yang mendukung keadilan ditegakkan untuknya datang dari seluruh penjuru dunia, pun dari sekalian pembaca.

Soal tindak kejahatan atas dasar dikotomi agama, semoga tidak terjadi di Indonesia. Sejak Ahok, isu agama dan ras selalu menjadi bumbu politik yang tak lupa ditaburkan dalam tiap kesempatan menyerang lawan politik. Berbeda latar belakang kesukuan, ras, dan agama adalah takdir yang tidak bisa diubah, dikompromi, apalagi ditawar pada semesta. Perbedaan adalah keniscayaan, tetapi bagaimana kita menghargai dan menjunjung perbedaan itu dengan segenap akal dan nurani adalah yang utama. Percuma saja beragama kalau pada sesama manusia tidak punya rasa kemanusiaan. “Agamaku adalah kemanusiaan”, begitu kata seorang kenalan yang begitu melekat di ingatan.

Akhir kata, semoga pembaca Kalikata yang baik mampu bersimpati pada Asifa dan apa yang terjadi padanya. Lebih jauh, penulis berharap pembaca berkaca dan belajar dari kasus Asifa dan ikut memantau perkembangan kasus kemanusiaan ini. Karena walaupun kita disekat agama, ras, dan segala batas-batas budaya dan jarak, bukankah kita tetap satu dalam kemanusiaan?

Semoga akal dan nurani yang hilang itu segera ditemukan!

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengulang Pesan Boedi Oetomo untuk Gak Gampang Insekyur dengan Perbedaan 0 85

Oleh : Novirene Tania*

 

Tepat sudah 113 tahun kita terus mengulang momentum perayaan yang kita sebut “Hari Kebangkitan Nasional”. Buat kalian yang mungkin lupa mengapa hari kemarin penting, yuk mari merapat – kita ulang kembali ceramah guru sejarah kita dari SD sampai SMA!

Hari Kebangkitan Nasional menjadi salah satu hari penting buat bangsa ini, karena di sanalah awal mula perjuangan menghilangkan kubu. Di bawah inisiatif sekelompok pemuda STOVIA – mahasiswa kedokteran yang punya rasa peduli besar bagi sejarah nasional, semua perbedaan yang ada dihimpun dalam satu kesatuan.

Tanpa memandang perbedaan, tidak lagi peduli kamu dan aku darimana dan siapa kita. Jelas ini pesan yang perlu kembali digaungkan, saat dewasa ini isu perbedaan masih hangat jadi pemicu konflik antargolongan.

Gak hanya itu, kalo dipikir-pikir, 20 Mei juga membawa pesan yang tidak kalah penting: jangan gampang insekyur sama perbedaan.

Buat kita yang hidup pasca kemerdekaan dan terbiasa dengar kata “persatuan”, tentu bukan jadi barang asing. Sangat beda kondisinya saat Boedi Oetomo menggagas persatuan di tengah kelompok antarsuku masih dominan membawa semangat perjuangan masing-masing.

Andai saja saat itu dokumen sejarah bisa dengan detail menjelaskan berapa kali Boedi Oetomo rapat dan diskusi sampai sepakat bersatu di bawah bendera “persatuan nasional“, gak kebayang notulennya setebal apa.

Belum lagi dengan drama setuju tidak setuju yang pasti menimbulkan perdebatan alot. Ini tentu jelas beda dengan forum keluarga besar yang sekadar membahas liburan mau ke mana karena kemanapun opsinya asal ada waktu dan uang ya gas wae.

Kondisi ini bertolakbelakang dengan topik insekyur yang lagi rame banget dibahas. Lihat kiri kanan beda tujuan, beda strategi, bahkan beda hasil, langsung insekyur. Tambah insekyur lagi kalau merasa berjuangnya sama-sama, tapi hasilnya kok beda.

Bahkan tragisnya, jangankan berembug soal persatuan seperti Boedi Oetomo, kita-kita yang hobinya insekyur biasanya otomatis menjauhi lingkaran pertemanan. Peer pressure, istilahnya.

Daripada terus terbebani dengan kemajuan dia, mungkin baiknya memang buat circle sendiri aja,” ini jadi opsi terakhir para makhluk yang terjangkit insekyur.

Coba deh perhatikan dengan seksama, betulkah kita jadi tampak tidak terbiasa dengan perbedaan? Padahal kita bilangnya percaya banget kalo perbedaan itu indah pol no debat membuat kita kaya dan semakin kuat.

Semoga tulisan ini bisa jadi selingan refleksi kita selain posting ucapan selamat hari kebangkitan nasional dari organisasi kita masing-masing, mumpung momennya tepat.

 

*) Mahasiswi rantau Yogyakarta asal Bekasi. Baru-baru ini hobi memperhatikan hal-hal kecil sejak pandemi. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @novirenetania.

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Tipikal Influencer +62 yang Bikin Emosi 0 115

Apakah hanya saya saja di sini yang sudah sulit percaya ulasan influencer Indonesia? Sudah bukan sekali dua kali saya kemakan omongan influencer Indonesia. Sumpah jujur, guys, beneran gak bohong, aku udah kapok cari rekomendasi dari influencer negeri +62.

Entah kenapa influencer Indonesia suka melebih-lebihkan fakta kalau mengulas suatu produk. Apa yang dikatakan mereka rupanya tak sesuai fakta dan kenyataan yang ada.

Belakangan ini saya tertarik mempelajari parfum-parfuman di internet. Lalu, saya mencari ulasan tentang eau de parfum yang agak terjangkau lewat video seorang youtuber. Bisa dibilang youtuber ini masih micro influencer. Menurut jurnal yang saya baca, micro influencer merupakan opinion leader yang baik untuk mempengaruhi keputusan pembelian. Apalagi, dalam mengulas produk tersebut, youtuber ini tidak dibayar, melainkan membeli dengan uangnya sendiri. Jadi, saya rasa, lambenya masih kredibel lah.

Saat ia mengulas sebuah parfum, tertariklah saya untuk membeli parfum tersebut. Youtuber tersebut dapat mendeskripsikan aroma dari notes parfum tersebut dengan cukup baik dan meyakinkan.

“Hmm yang ini ada vanilla-vanillanya. Lama-lama wanginya enak, soft, elegant gitu, katanya sambil mencium pergelangan tangannya yang sudah disemprot parfum.

Sebagai pecinta vanilla, gourmand, dan oriental notes, saya tertarik untuk membeli parfum tersebut seketika. Apalagi katanya wangi vanillanya kuat. Tanpa pikir panjang akhirnya saya membeli parfum yang katanya bau vanilla banget itu.

Setelah saya beli dan semprot ke tangan saya, saya endus-endus baunya, hmm…. Ini kan bau Adi Jasa (rumah duka terbesar di Surabaya). Dari top notes hingga base notes-nya membentuk aroma bunga sedap malam yang mulai kecoklatan alias sudah tidak segar. Alhasil, bau badan saya mirip karangan bunga ucapan duka cita yang sudah tiga hari bertengger di rumah duka. Bahkan meski sudah tersisa base notes, masih tidak tercium aroma vanilla sama sekali.

Ini bukan yang pertama. Sebelumnya ada youtuber yang mengulas eau de parfum lokal dengan berkata, “sungguan ini enak banget, wanginya mirip permen tapi yang mewah gitu, guys. Kalian pasti suka.” Setelah saya cium, baunya sangat identik dengan aroma permen Alpenlibe rasa susu dan stroberi. Ya sudah, mungkin Mbak Youtuber tersebut merasa permen yang ada di Indomaret ini sangat mewah.

Selanjutnya, saya pernah membeli masker wajah karena kena “racun” selebgram. Saya tertarik setelah melihat wajahnya jadi lebih cerah dan bersih.

Tuh, lihat muka aku jadi bersih banget, OMG!” Katanya sambil mendekatkan wajahnya ke kamera.

Setelah saya coba, memang wajah saya langsung seputih Song Hye Kyo. Namun, bukan karena sel-sel kulit mati yang terangkat, melainkan sisa-sisa masker clay tersebut tidak bisa hilang dari muka saya meski sudah dibilas berkali-kali.

Tapi setidaknya, saya masih mengapresiasi influencer yang menjerumuskan saya tadi. Setidaknya, ia bisa mendeskripsikan barang tersebut dengan “baik”.

Lain halnya dengan influencer G yang mendeskripsikan parfum seperti ini “kalau yang ini baunya kayak bau cewek-cewek kaya yang baru keluar dari toko baju mewah, ngerti kan, ya, lo maksud gue?” Ya gimana kita bisa ngerti kalau Anda menjelaskan seperti ini, Maemunah?!

Dari sini saya menarik kesimpulan bahwa banyak dari influencer Indonesia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup sebagai influencer dalam bidang tersebut. Padahal dalam kelas public speaking, mempresentasikan topik di luar kemampuan kita adalah BIG NO. Akibatnya ya begini ini, jadi misleading dan menyesatkan audiens.

Selain kesal dengan ulasan yang tak sesuai fakta, saya juga heran kenapa gaya mengulas para influencer ini sama. Dengan mata mendelik, nada naik, dan penekanan di semua kata, seakan berusaha keras membuat audiens tertarik. Ditambah template, “ih beneran, guys ini enak banget,” “gak bohong kalian harus coba,” “sumpah gak bohong, kalian pasti suka“, dan semacamnya.

Joe Navarro, seorang ahli body language asal America Serikat mengatakan bahwa orang yang tidak jujur akan berusaha “keras” untuk membuat Anda percaya. Usaha seperti apa? Bisa dalam bentuk ekspresi yang berlebihan, mengulang kata, dan menambahkan bumbu penyedap pada kalimat.

Contohnya influencer kuliner yang bilang enak aja harus pake “sumpah sumpah, enak banget gak bohong, serius gue mau mati,” sambil melotot dan dengan penekatan di setiap huruf. Harusnya dijelaskan yang bikin enak apa, rasanya seperti apa, bumbunya apa saja. Kalau memang enak beneran, masa tidak bisa mendeskripsikan? Apalagi sudah menyandang title sebagai influencer yang harusnya punya pengetahuan lebih tentang kuliner dari orang awam.

Mungkin secuil ilmu dari Navarro ini bisa jadi guideline kita untuk memilah mana ulasan yang valid dan tidak dengan melihat cara influencer tersebut berbicara.

Selain itu, sebisa mungkin jangan hanya mengandalkan satu influencer, apalagi kalau influencer tersebut bekerja sama dalam paid partnership, endorsement, apalagi kalau sudah didapuk jadi brand ambassador. Biasanya ulasan sudah tidak objektif lagi.

Carilah video ulasan sebanyak-banyaknya dari influencer berbeda! Kalau bisa, influencer yang memang memiliki pengetahuan mumpuni dalam bidang tersebut.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks