#JusticeForAsifa dan Menguapnya Nurani 0 312

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Homo homini lupus. Dunia sedang menawarkan peristiwa manusia memangsa sesama, yang kini disajikan dalam sebuah paket lengkap berisi kekejian, ketidakadilan, dan ketumpulan akal dan nurani dalam sekali gigit.

Bentuk materialisasi makna secara nyata konkret, terliar, dan kelewat biadab “paket lengkap” itu sedang terjadi di India. Dengan penuh simpati dan kemarahan pada ketidakadilan, inilah simbol perlawanan pada ketidakadilan, Asifa Bano

 

Mengulang Kisah Dua Ribu Tahun Lalu

“Siapa yang sebaiknya dibebaskan, Yesus atau Barnabas?”, tanya Pilatus di depan ribuan penduduk Yerusalem.

Mereka sontak memalingkan pandangan dari Yesus, mencemoohnya, lantas dengan mantap memilih membebaskan Barnabas. Seorang pembunuh, pemerkosa, dan pencuri yang tak sedikitpun tampak menyesali secuilpun kejahatannya.

Setelahnya, siapapun sudah tahu akhir kisah ini. Jadilah hari itu, ketidakadilan terbesar dalam sejarah manusia terjadi. Kuasa kehakiman dikalahkan desakan dan amukan massa. Seorang pendosa didukung dan dibebaskan atas dasar aklamasi warga, alih-alih rasionalitas. Tak lupa, orang tak bersalah yang harus mati dan menanggung segala penderitaan sampai ajalnya.

Pada dunia sekarang, dalam kasus Asifa, ia bukan dilahirkan sebagai juruselamat. Bukan. Asifa hadir ke dunia dengan “tujuan” lain. Nama Asifa kini dikenang, bersama dengan kebiadaban (dan entah kata lain apalagi yang lebih mantap dan penuh) yang diperbuat padanya di kuil Hindu di Kathua, tempatnya disekap, diperkosa, dan dicekik hingga tewas. Asifa lantas diangkat menjadi simbol antitesis terhadap penyakit ketidakadilan dan kemerosotan moral yang menjangkiti dan menggerogoti manusia begitu parahnya, sampai hilang nurani dan akal.

 

Asifa Bano dan yang Terjadi Padanya

Singkatnya, Asifa diculik dan disekap di sebuah kuil Hindu berjarak hanya beberapa kilo dari rumahnya. Terhitung ada delapan orang yang terlibat. Paling menyesakkan, tercatat empat orang polisi menjadi pelaku. Ditambah seorang pensiunan birokrat, Sanji Ram, yang terkenal anti-Muslim. Di kuil itu, mereka secara bergantian menggilir Asifa, memperkosa gadis 8 tahun yang tak sadarkan diri karena dibius.

Selama empat hari kebejatan itu berlangsung, Asifa dicekik hingga tidak lagi bernafas. Untuk memastikan is benar telah mati, kepalanya dipukul dengan batu dua kali. Sudah yakin, gerombolan sampah masyarakat itu membuang mayat Asifa di tengah hutan. Tergeletak begitu saja, hingga pada hari kelima setelah menghilang, Asifa baru ditemukan keluarganya. Kukunya biru dan sekujur tubuhnya kaku. Matanya setengah terpejam, menjadi tanda ia berusaha melawan dan menambah kekuatan pesan pada ketidakadilan yang Asifa bawa hingga sampai ajalnya tiba.

Tragisnya, Asifa tidak bisa dimakamkan di tanah tempat ia dibesarkan. Penduduk sekitar menolak kehadirannya yang bahkan tinggal tubuh tanpa nyawa. Kebacut!

 

Ketidakpercayaan Pada Birokrat dan Sesat Pikir Massa

Kasus Asifa membuka tabir kebusukan kepolisian India. Ada tiga perilaku bajingan (maaf editor, kata ini akan sering muncul. Dimaafkan kok kak :)—ttd editor) yang hadir dalam kasus ini, yakni; menerima suap, pembunuhan, dan pemerkosaan. Antitesis dari segala yang seharusnya dilakukan polisi, yang seharusnya menjadi garda depan melawan kejahatan.

Seorang polisi yang ikut terseret namanya sebagai pelaku, menerima suap USD 6.000 untuk menutupi kasus ini sampai ke media. Tiga polisi lain patuh menjalankan skema pembunuhan dan pemerkosaan atas arahan Sanji Ram, seorang pensiunan birokrat lokal Kathua yang mendalangi kasus ini. Sanji terkenal menaruh sentimen negatif pada komunitas nomaden Bakarwal. Terhitung ada 8 orang pelaku dalam kasus ini. Semuanya beragama Hindu. Motifnya, mengancam dan meneror komunitas Bakarwal untuk secepatnya minggat dari Kathua, takut Bakarwal menetap dan mengklaim tanah yang mereka yakini milik mereka.

Miris dan mengenaskan, penulis hanya bisa misuh dan marah ketika membaca berita soal Asifa. Bentuk paling nyata dukunganku pun hanya membagi cerita lewat instastory soal kasus ini, agar teman-teman tahu ada kasus sing kebacut dan asu banget sedang terjadi. Sisanya, aku terus merenung dan mendorong batinku untuk menuliskannya di Kalikata.

Sungguh, dunia rasanya begitu suram dan menakutkan, mengetahui bahwa di belahan lain dunia ini, ada aparat yang senyata-nyatanya tidak lagi berniat melindungi rakyat. Malahan, mereka dengan sadar dan sengaja menjelma kriminal, peran yang persis sama sekali keterbalikan dari fungsinya sebagai aparat! Mereka sendiri menjadi penjahat yang seharusnya mereka tangkap. Mereka memborgol tangan mereka sendiri dan memenjarakan diri mereka dalam bui yang mereka jaga.

Kebusukan dan kebejatan tidak berhenti di situ. Bahkan bereskalasi hingga tidak masuk akal, anarkis, dan menodai nurani paling sakral manusia (entah apa mereka masih punya nurani atau tidak, yang jelas sudah tidak punya akal). Setelah kasus ini dibawa ke persidangan, timbul aksi massa dari kalangan jaksa beragama Hindu yang menuntut pembebasan pelaku. Ya, Anda tidak sedang salah baca. MENUNTUT PEMBEBASAN PELAKU!

Karena semua pelakunya Hindu sementara perangkat penyidiknya Muslim, timbul ketidakpercayaan di kalangan mayoritas Hindu, terutama para jaksa yang berdemo itu. Mereka percaya ada persengkongkolan jahat di belakang proses peradilan para pelaku. Lantas, seakan dunia ini masih bisa bobrok dan bajingan lagi, dua menteri India turun ke jalan, mendukung aksi yang menuntut pembebasan pelaku! Lagi-lagi, Anda tidak sedang salah baca! DUA MENTERI TURUN KE JALAN! Huh! Dunia apa sih yang sedang kita hadapi saat ini? Sampai menteri turun ke jalan dan mendukung kebejatan?

 

Lalu Apa?

Setelah marah-marah dengan keadaan, penulis merenungi apa yang terjadi. Jelasnya dan yang paling terasa, pesimisme penulis pada dunia bertambah. Kita hidup di dunia yang sebagian (karena tidak baik mengeneralisasi apalagi memberi stereotipe) aparatnya sadar dan tanpa paksaan, mempraktekkan kejahatan, satu-satunya hal yang secara alamiah harus mereka  basmi.

Kemudian, soal kepemilikan tanah. Topik ini perlu disadari sebagai soal yang tenyata, biang kebangsatan bahkan selama ribuan tahun. Berkaca dari kasus Palestina dan Israel, penyerobotan lahan untuk kelapa sawit di Kalimantan, dan lain-lain yang serupa. Kesemua soal itu merujuk pada klaim-klaim penuh kepentingan dan selalu memakan korban. Dalam tiap kesempatan, mempertahankan tanah begitu pentingnya hingga mengalahkan rasa kemanusiaan.

Tidak ada solusi yang bisa ditawarkan penulis selain anjuran mendengarkan nurani. Lalu, beri kesempatan hukum menjalankan tugasnya, mengadili kejahatan dan menyata-tegakkan keadilan di atas bumi. Jika tak adil juga, teruskan melawan. Meminjam kredo SanggarBambu, tetap hidup hingga hayat anggota terakhir. Sampai musnah tak bersisa satu orang pun yang tidak nyaman pada ketidakadilan, sampai waktu itu pula perjuangan menuntut keadilan dikobarkan.

Soal Asifa, semoga dari kejauhan ia bisa melihat dunia yang sedang dibentuk setelah kematiannya. Betapa gelombang massa yang mendukung keadilan ditegakkan untuknya datang dari seluruh penjuru dunia, pun dari sekalian pembaca.

Soal tindak kejahatan atas dasar dikotomi agama, semoga tidak terjadi di Indonesia. Sejak Ahok, isu agama dan ras selalu menjadi bumbu politik yang tak lupa ditaburkan dalam tiap kesempatan menyerang lawan politik. Berbeda latar belakang kesukuan, ras, dan agama adalah takdir yang tidak bisa diubah, dikompromi, apalagi ditawar pada semesta. Perbedaan adalah keniscayaan, tetapi bagaimana kita menghargai dan menjunjung perbedaan itu dengan segenap akal dan nurani adalah yang utama. Percuma saja beragama kalau pada sesama manusia tidak punya rasa kemanusiaan. “Agamaku adalah kemanusiaan”, begitu kata seorang kenalan yang begitu melekat di ingatan.

Akhir kata, semoga pembaca Kalikata yang baik mampu bersimpati pada Asifa dan apa yang terjadi padanya. Lebih jauh, penulis berharap pembaca berkaca dan belajar dari kasus Asifa dan ikut memantau perkembangan kasus kemanusiaan ini. Karena walaupun kita disekat agama, ras, dan segala batas-batas budaya dan jarak, bukankah kita tetap satu dalam kemanusiaan?

Semoga akal dan nurani yang hilang itu segera ditemukan!

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Berminat pada isu-isu keperempuanan dan gender.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terorisme dan Mabuk Konspirasi 0 353

Riuh bom di kota Surabaya (dan beberapa jam setelahnya, merembet ke Sidoarjo) mengagetkan siapapun, termasuk Kalikata. Tak pernah hadir dalam bayangan kami sebuah keganasan ideologis yang mewujud ke dalam kekerasan teror, yang secara ganjil dilakukan satu keluarga, bisa mengguncang Surabaya–sebuah kota yang diklaim relatif aman.Tapi cukup mengherankan juga bagaimana publik bisa demikian terbelah: antara yang bersimpati, juga yang antipati.

Terorisme sebagai magnet peristiwa telah membuat netijen-netijen hebat itu memuntahkan prediksi-prediksi: bahwa ini semua ada pengalihan isu, bahwa segalanya settingan, dan bahwa ini kesengajaan intelijen dalam membiarkan teror terjadi. Hebat bukan prediksi-prediksi itu?

Ditopang keleluasaan teknologi komunikasi yang terbuka bagi semua orang, maka lalu lintas prediksi tidak saja meruap banyak, melainkan juga liar. Apa yang menonjol dari itu semua adalah perlombaan prediksi atas suasana konspiratif yang melingkungi terorisme. Di media sosial internet, perlombaan ini makin terang dengan narasi konspirasi yang berbeda-beda. Prinsip utama narasi itu satu: bahwa terorisme tidak lebih rekaan dan manipulasi Negara yang sama sekali nisbi, palsu, dan penuh tipu daya. Bahwa korban dengan kondisi hancur dan tergeletak di jalan adalah buah dari settingan.

Karena kebanyakan nonton Avengers (yang spoiler-nya saja ditakuti melebihi ketakutan kepada spoiler Tuhan tentang neraka), sedangkah kita dimabuk teori-teori konspirasi?

 

Saat kepungan teknologi komunikasi telah diterima sebagai nasib, kita barangkali harus mulai terbiasa dengan semangat menggebu dari tiap orang untuk bercerita. Tapi prediksi atas konspirasi teror itu juga menunjukkan betapa kita tak punya modal sama sekali kecuali bondo cangkem. Tanpa memperdulikan akal sehat, lewat teknologi komunikasi, terorisme diciutkan dari kompleksitasnya sekaligus disederhanakan dengan kedunguan prediksi sok hebat.

Ada beberapa hal yang dapat ditarik sebagai soal lebih jauh. Pertama, di sisi lain mabuk teori konspirasi ini adalah pertanda paling jelas dari ketaktersediaan informasi yang relevan dan sepadan guna menjelaskan apa dan bagaimana peristiwa terorisme itu terjadi. Media televisi yang tampak bekerja keras lewat siaran-siaran live, terbukti kedodoran dalam hal kelengkapan informasi dan hanya mementingkan aspek visual. Lebih-lebih, sedikit sekali publikasi atau keterangan resmi dari pemerintah yang dapat diandalkan, sehingga memperlihatkan kelemahan dokumentasi Negara dan kecakapan komunikasi dalam situasi yang membutuhkan kecepatan pesan.

Kedua, publik secara psikis menuntut keterlibatan dalam memikirkan dan menganalisis sebuah peristiwa. Kecerewetan mereka membutuhkan pelarian untuk digubris. Netijen-netijen itu sebetulnya juga orang biasa saja, hanya berkelebihan dalam soal semangat.

Ketiga, bahwa ini menjadi pertanda betapa rentannya kita menjelang hajatan-hajatan penting: momen politik (pilkada 2018 dan pilpres 2019). Keterampilan intelijen mustinya bisa lebih baik dalam mengantisipasi.

Keempat, rupanya harus dicamkan betul-betul, bahwa dalam masyarakat kita sungguh hidup orang-orang dengan pikiran yang ganjil, yang hanya dihidupi oleh dan dari fanatisme. Orang macam begini tidak memedulikan lagi diskusi dan akal sehat, karena di depan matanya segalanya dapat menjadi demikian hitam dan putih.

 

Kewaspadaan bersama adalah kabar baik yang mengimbangi seliweran narasi-narasi konspirasi. Publik menyadari bahwa ia punya sumber daya informasi yang ditempatkan sebagai suplai utama untuk mengatasi kondisi nir-data. Bahaya terorisme, dan juga isu-isu kekerasan lainnya, direspons secara sadar dan serentak sebagai masalah bersama.

Kolektifitas ini dapat dihitung dengan kekompakan gerakan viral media sosial kita atas isu terorisme Surabaya yang mampu membetot perhatian dan simpati dunia internasional. Muncul himbauan untuk tidak menyebar foto-foto korban peristiwa teror di tiga gereja. Sebelumnya, foto-foto ini disebar dengan brutal–sesuatu yang justru diingini oleh teroris itu sendiri dalam mengondisikan situasi mencekam secara visual. Beberapa kelompok masyarakat juga menggelar aksi simpatik untuk mendesak negara turun tangan dan mengecam.

Meski lalu lintas isu konspirasi masih muncul di sana-sini, tetapi bentuk kreatif dari kebersamaan virtual ini harus dipuji bukan hanya sebagai bukti dari partisipasi Indonesia dalam gerakan anti-terorisme, tetapi juga sebagai pengukuhan atas keterlibatan kreatif-simpatik yang terus-terang dan mandiri, tanpa lagi harus mengandalkan Negara sebagai jembatan. Kemandirian ini poin penting yang harus diterima sebagai bagian vital pemulihan kesadaran bersama sebagai bangsa atas ancaman-ancaman yang muncul.

Lagipula, kita tak selalu perlu nuansa sentimentil dan sedramatis konspirasi guna menumbuhkan simpati.

Turut berduka untuk para korban. Semoga damai dan guyub berlimpah di Surabaya.

Lagu Mahasiswa: Buruh Tani, Demokrasi, dan Dinamika Semangat Zaman 0 783

Oleh: Aria Mahatamtama*

Sebelumnya, tulisan ini berusaha merefleksikan semangat zaman tentang isu buruh, masyarakat miskin, dan mahasiswa. Mengingat bulan Mei adalah bulan yang diawali dengan semangat revolusi, iya revolusi buruh, dengan merebut alat produksi, dan menyetarakan tiap lapisan masyarakat. Aliansi mahasiswa kerap berdekatan dengan isu-isu wong cilik (buruh, dan masyarakat yang mengalami penggusuran secara paksa dan masih banyak lagi) karena itu semangat ini harus dikaji secara serius. Mengapa kajian ini harus dilakukan?

Hal mendasar yang menjadi keresahan penulis adalah “Lagu Mahasiswa: Buruh Tani”. Lagu tersebut kerap dinyanyikan oleh mahasiswa, akan tetapi, celakanya semangat zaman yang ada melalui lirik-lirik tersebut yang harus dikaji lebih dalam, kalau perlu diadakan diskusi yang membedah secara serius dampak dari lirik tersebut untuk dikontekstualisasikan dengan semangat zaman masa kini. Sebelum itu, kata “semangat zaman” ini diartikan dengan zaman yang didalamnya memuat pergejolakan pendidikan/pengetahuan, sosial, ekonomi, politik dan budaya yang sedang terjadi. Fokus penulis hanya sampai pada dua baris lirik (lihat gambar).

Sekarang bila diperbolehkan, penulis mengajak pembaca untuk memproyeksikan lagu ini bila dinyanyikan mahasiswa dalam aksi, tetapi anda (pembaca) menjadi pendengar nyanyian tersebut dengan semangat zaman masa kini. Nanti akan terlihat perbedaan semangat zaman yang terjadi.

Pada lirik awal “Buruh tani, Mahasiswa, Rakyat Miskin kota” akan terlihat jelas bahwa anda akan melihat mereka (yang terlibat aksi dan sedang bernyanyi) memberikan gambaran identitas diri mereka. Hanya memberikan gambaran dalam lirik yang dituangkan menjadi nyanyian, bukan diri mereka seutuhnya! Tetapi hanya gambaran. Lalu dilanjutkan “bersatu padu rebut demokrasi”, pada lirik ini akan terlihat ideologi rezim yang berkembang pada semangat zaman lagu ini tercipta, dengan sistem yang otoriter. Otomatis perlakuan yang paling radikal adalah meruntuhkan otoritarian dengan merebut hak-hak kebebasan individu dalam pola demokrasi. Lirik ketiga dan keempat pada baris pertama mengikuti pola lirik pertama dan kedua.

Nah, pada lirik baris kedua akan terlihat sedikit kekacauan “hari-hari esok adalah milik kita”, jika ditilik secara serius “milik kita” ini hanya terjadi, tetapi besok-besok, bukan sekarang! Jadi sekarang masih usaha, belum memiliki, akan–memiliki itu besok-besok lho. Dan “terciptanya masyarakat sejahtera” otomatis pengartian lirik ini bila mengacu pada perihal “milik kita” akan nampak jelas bahwa “masyarakat sejahtera”  ini akan didapat setelah menjadi “milik kita”  yang terjadi pada hari-hari esok. Lalu lirik ketiga pada baris kedua “terbentuknya tatanan masyarakat” ini harus dilihat jika berkaitan pada masyarakat, maka makna “tatanan” ini berbicara mengenai struktur, yaitu struktur masyarakat. Jika berbicara struktur masyarakat, otomatis terdapat dinamika atau pergejolakan yang terjadi di masyarakat dimana terdapat si kaya dan si miskin. Maka–singkatnya tatanan yang dimuat di lirik tersebut malah melanggengkan otonomi kelas borjuis yang memang dia adalah si kaya. Lirik keempat pada baris kedua memperlihatkan keajegan bahwa “Indonesia baru tanpa Orba” syarat tersebut memberikan identitas baru bagi Indonesia. Yaitu perebutan demokrasi, dengan meninggalkan “Orde Baru”.

Akan tetapi pertanyaan nyaadalah ketika demokrasi dan hak-hak kebebasan sudah didapat, lalu apakah demokrasi tidak memiliki sifat tirani; atau gampangnya, apakah demokrasi itu bebas atau tidak? Ini yang harus dikaji lebih dalam. Sebelumnya penulis sudah mengijinkan anda (pembaca) untuk boleh tidak lagi memproyeksikan menjadi pendengar nyanyian aksi tersebut, tetapi berpikir ulang untuk mengoptimalkan semangat zaman masa kini. Yaitu dengan memikirkan ulang, apakah demokrasi itu bebas atau tetap kejam akan tetapi bentuk kekejamannya lebih halus sehalus pipi doi kalau dicubit.

Kebebasan berpendapat selalu terdengar cukup memuaskan bagi kita dalam pola masyarakat demokrasi dewasa ini, tetapi jika kebebasan berpendapat ini hadir, otomatis kebebasan mendengar pun juga masuk dalam sistem demokrasi, lebih-lebih kebebasan mengonsumsi juga menjadi acuan juga dong. Lah kok boleh banyak mengonsumsi… ya iya kan Indonesia sebagai negara Dunia Ketiga dalam pola kapitalisme global bergerak dalam pola demokrasi. Maka dari itu kenapa kita selalu resah dengan jalanan Ahmad Yani yang macet karena kepadatan kendaraan atau tulisan mengenai hipster lokal bahkan tulisan tandingannya. Ya karena pola demokrasi yang bebas ini, membolehkan banyak pemilik modal melakukan ekspansinya untuk meraup banyak keuntungan yang akhirnya kalian-kalian dan pembaca ini loh boleh banyak beraspirasi untuk mengonsumsi. Ya tho? Diem-diem wae, ngopi brow.

Inilah yang menjadi titik tekan, penulis tidak menyalahkan kehadiran lagu tersebut, sama sekali tidak menyalahkan. Penulis memiliki letak asumsi yang optimis (cie) bahwa subjek, atau masyarakat dengan semangat zaman masa kini harus lebih sadar, buruh dan budaya pop tentang musik dangdut dan kepentingan panggung politik praktis harus dipisahkan. Kalau perlu buruh harus disadarkan dulu! Karena yang menjadi gejolak era kontemporer adalah relung-relung ideologi yang menggerakan kita secara halus, relung-relung ideologi itu bekerja tanpa disadari, yang memusat pada pola kapitalisme.

Ilmu itu harus diberikan sebanyak-banyaknya agar kesadaran untuk perubahan dapat terjadi.

*Hormat penulis, yang sedang menunggu film produksinya sendiri rilis dan berdoa agar petani di Aceh tidak dibakar ladangnya secara cuma-cuma.

Editor Picks