Kampanye Macho dari Oom Prabowo 0 814

Sambil dipanggul orang-orang sangar berbaret merah, Prabowo Subianto, kandidat presiden kita semua 2019 nanti, diarak bertelanjang dada dalam sebuah acara pendeklarasian calon presiden. Ia kepal-kepalkan tinjunya, diiringi lagu daerah berjudul Sajojo. Suasana ramai dan ingar-bingar, dan para simpatisan yang mengelilinginya larut dimabuk euphoria. Dalam video pendek yang viral inilah, kita bisa menangkap satu pesan yang amat pasti: bahwa Oom Prabowo memang macho bingits. Apa yang salah? Tak ada sama sekali yang keliru kok.

Segalanya memang amat maskulin. Pembaca musti tahu bahwa Sajojo adalah lagu daerah Papua yang bercerita tentang perempuan cantik dari desa yang sangat dipuja para lelaki di kampungnya. Apakah gerombolan pria tegap dipimpin kumendan Prabowo menyimbolkan laki-laki penakluk hati perempuan cantik itu, tak ada yang tahu. Kepal tinju Prabowo adalah pertanda bahwa siapapun akan diterabas demi memperjuangkan kembang desa itu, tak ada juga yang tahu. Tapi adegan ini soswit sekali bukan?

Sehari pasca video beredar, fungsionaris Gerindra menyamakan telanjang dada Prabowo dengan Vladimir Putin, yang ototnya masih menggumpal cukup baik di usianya yang sudah estewe. Yaa, meski perumpamaan Prabowo-Putin agak mbeleset, tapi paling tidak semangat keduanya dalam bertelanjang dada bolehlah disamakan. Tak perlu musti sama persis ototnya, melorot dikit-dikit dimaafkanlah. Tak apa-apa dan tak merugikan siapa-siapa. Siapa yang mau protes dibedil saja.

Tapi ini sungguh membuktikan, betapa maskulinitas belakangan menjadi tema penting dalam politik kita. Setelah Jokowi dengan musik metal dan motor gede Chopper (asli orisinal dan bukan bermesin Honda Astrea), kumendan Prabowo seolah membalasnya dengan sesuatu yang jauh lebih purba tapi bertaji dalam membuktikan maskulinitas—selain tumpangan kuda Portugalnya yang termasyur: kemacho-an dadanya.

Mungkin bagi beberapa pembaca adegan ini membuat masygul. Karena barangkali kita juga agak khawatir jika masing-masing mereka sedang membuktikan apa yang bukan dirinya.  Memaksakan memakai sepatu yang bukan ukurannya. Tapi toh itu tidak bisa dilarang juga dan tidak dapat dituding pencitraan. Euforia copot klambi Prabowo mungkin sama belaka dengan yang Ronaldo lakukan usai merobek jala Juventus lewat penalti yang menyesakkan nafas itu. Semuanya dilarutkan oleh euphoria dan suasana yang demikian membius.

Kita disuguhkan duel mano a mano antara dua pria yang sedang membuktikan mana yang paling sejati. Ini bukan parodi koboi semacam film-film bergenre Western, tapi ini riil politik kita. Agak sulit memercayai bahwa kita tiba pada masa dimana macho adalah salah satu resep penting dalam pentas pemilu.

Tak apa-apa. Ini menguntungkan kita juga kan. Kita jadi punya perbendaharaan adegan betapa kayanya perpolitikan kita. Siapa yang bilang bahwa Indonesia membosankan? Calonnya itu-itu saja? Gaya kampanyenya monoton? Semua dapat dibantah mudah dengan memperhatikan dua tokoh kita yang mewakili dua kekuatan politik berseberangan. Demikian atraktif meski kadang demikian bising.

Ssssttt, siapa tahu sekarang Jokowi juga sedang sibuk menenggak rutin L-Men demi menambah massa ototnya. Dan siapa tahu juga kuda Portugal Prabowo sedang dimodif transplantasi mesin, demi mengungguli Chopper.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Parade Isu Seksi Jelang Peringatan G30S 0 67

Helloh gess, September telah tiba. Ini bulannya hura-hura tentang trauma. Pasti kamu sudah hapal: sebentar lagi kita akan menyimak debat seolah-olah tentang peristiwa 1965. Tapi sedihnya, tulisan ini bukan ke sana.

Kita akan mencoba merunut isu-isu apa yang hadir, coba dihadirkan, atau dipaksa dihadirkan, menjelang peringatan G30S. Isu-isu yang, yaaa, sesuai tradisi, akan memanas dan sering setiap tahunnya merepotkan rejim. Berikut isunya:

  • Perpindahan Ibukota
  • Livi Zheng
  • Djarum yang disetop audisinya oleh KPAI
  • Jokowi main sama putunya
  • Iuran BPJS naik
  • Esemka diresmikan

Apalagi gess?

Ohya, ini penting karena beberapa sebab. Pertama, mengamati isu-isu “tak penting” justru menjadi sangat penting hari ini untuk melihat bagaimana strategi kekuasaan memainkan lalu-lintas diskusi dan menginterupsi tiap isu. Kalau ente jeli, akan tampak bagaimana pengendalian atas persepsi kita dimainkan dan dikonsentrasikan pada hal-hal tertentu, agar hal-hal lain dapat diminimalkan dampaknya.

Tentu saja arahnya dapat ditebak: mendebat Livi Zheng jauh lebih aman ketimbang ente didatangi Kivlan Zen untuk membeberkan rencana kebangkitan PKI. Atau bicara memindah ibukota lebih asyik daripada memperdebatkan jumlah korban sebetulnya pada genosida 65 duluuu sekali.

Kedua, dari isu-isu tersebut, kesemuanya saksess menjadi tren perbincangan. Esemka, BPJS, dan Ibukota berkaitan langsung dengan agenda pemerintah. Perpindahan ibukota yang terparah, terlalu kentara digunakan sebagai “umpan peluru”, seolah-olah ide ini dilempar untuk dihabisi. BPJS dan Esemka sebelas dua belas, memancing sekaligus mengepung orang dengan kontroversi agar terus-menerus diperdebatkan.

Jadi, mari nanti kita tengok menjelang tumbangnya waktu dan mendekatnya tanggal 30, barang sampah apa saja yang akan dihamburkan oleh media kita.

Tapi toh dibawa santai saja! Kadang-kadang terlalu serius juga tak baik bagi kesehatan jiwa.

 

Annabelle Rukhiyat

Selain menekuni permakelaran tanah, penulis juga magang sebagai penjaga ponten.

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 100

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Editor Picks