Kampanye Macho dari Oom Prabowo 0 785

Sambil dipanggul orang-orang sangar berbaret merah, Prabowo Subianto, kandidat presiden kita semua 2019 nanti, diarak bertelanjang dada dalam sebuah acara pendeklarasian calon presiden. Ia kepal-kepalkan tinjunya, diiringi lagu daerah berjudul Sajojo. Suasana ramai dan ingar-bingar, dan para simpatisan yang mengelilinginya larut dimabuk euphoria. Dalam video pendek yang viral inilah, kita bisa menangkap satu pesan yang amat pasti: bahwa Oom Prabowo memang macho bingits. Apa yang salah? Tak ada sama sekali yang keliru kok.

Segalanya memang amat maskulin. Pembaca musti tahu bahwa Sajojo adalah lagu daerah Papua yang bercerita tentang perempuan cantik dari desa yang sangat dipuja para lelaki di kampungnya. Apakah gerombolan pria tegap dipimpin kumendan Prabowo menyimbolkan laki-laki penakluk hati perempuan cantik itu, tak ada yang tahu. Kepal tinju Prabowo adalah pertanda bahwa siapapun akan diterabas demi memperjuangkan kembang desa itu, tak ada juga yang tahu. Tapi adegan ini soswit sekali bukan?

Sehari pasca video beredar, fungsionaris Gerindra menyamakan telanjang dada Prabowo dengan Vladimir Putin, yang ototnya masih menggumpal cukup baik di usianya yang sudah estewe. Yaa, meski perumpamaan Prabowo-Putin agak mbeleset, tapi paling tidak semangat keduanya dalam bertelanjang dada bolehlah disamakan. Tak perlu musti sama persis ototnya, melorot dikit-dikit dimaafkanlah. Tak apa-apa dan tak merugikan siapa-siapa. Siapa yang mau protes dibedil saja.

Tapi ini sungguh membuktikan, betapa maskulinitas belakangan menjadi tema penting dalam politik kita. Setelah Jokowi dengan musik metal dan motor gede Chopper (asli orisinal dan bukan bermesin Honda Astrea), kumendan Prabowo seolah membalasnya dengan sesuatu yang jauh lebih purba tapi bertaji dalam membuktikan maskulinitas—selain tumpangan kuda Portugalnya yang termasyur: kemacho-an dadanya.

Mungkin bagi beberapa pembaca adegan ini membuat masygul. Karena barangkali kita juga agak khawatir jika masing-masing mereka sedang membuktikan apa yang bukan dirinya.  Memaksakan memakai sepatu yang bukan ukurannya. Tapi toh itu tidak bisa dilarang juga dan tidak dapat dituding pencitraan. Euforia copot klambi Prabowo mungkin sama belaka dengan yang Ronaldo lakukan usai merobek jala Juventus lewat penalti yang menyesakkan nafas itu. Semuanya dilarutkan oleh euphoria dan suasana yang demikian membius.

Kita disuguhkan duel mano a mano antara dua pria yang sedang membuktikan mana yang paling sejati. Ini bukan parodi koboi semacam film-film bergenre Western, tapi ini riil politik kita. Agak sulit memercayai bahwa kita tiba pada masa dimana macho adalah salah satu resep penting dalam pentas pemilu.

Tak apa-apa. Ini menguntungkan kita juga kan. Kita jadi punya perbendaharaan adegan betapa kayanya perpolitikan kita. Siapa yang bilang bahwa Indonesia membosankan? Calonnya itu-itu saja? Gaya kampanyenya monoton? Semua dapat dibantah mudah dengan memperhatikan dua tokoh kita yang mewakili dua kekuatan politik berseberangan. Demikian atraktif meski kadang demikian bising.

Ssssttt, siapa tahu sekarang Jokowi juga sedang sibuk menenggak rutin L-Men demi menambah massa ototnya. Dan siapa tahu juga kuda Portugal Prabowo sedang dimodif transplantasi mesin, demi mengungguli Chopper.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Surat Terbuka untuk Kamuh yang Anti Incess Syahrini 0 325

Sebagai tim pembela Syahrini yang fanatik, akhirnya saya toh harus angkat bicara. Saya tak punya kalimat pembuka yang paling kuat selain manifesto ini: kamuh-kamuh yang dibeking Luna Maya itu sudah melakukan penistaan kelas berat kepada Princess kami!

Bagaimana mungkin cinta Princess diatur-atur? Bukankah Aa Reino Barack sudah memberi komitmennya kepada Incess kami dan bukan Luna Maya[k]?

Sini, kuberitahu pelajaran berharga dan prinsip nomor satu: manusia tak punya kekuatan barang sedikitpun untuk menyetir cinta sesamanya. Tak pernah ada agama yang berani memasang badan untuk sebuah keyakinan atas Tuhan yang melepaskan diri dari tanggung jawab atas perasaan dan hati umatnya. Bahkan Habibana Rizieq saja, di masa belio masih sehat dan bebas (ehem), tak pernah menggugat soal ini.

Oh ya, lupa, tapi ini dengan asumsi bahwa ikatan Syahrini-Reino sungguh karena cinta loh yaa. Dan tentu saja saya harus yakin bahwa cinta mereka sungguhlah ada dan bukan sekadar rupiah belaka. BUKAN SEKADAR.

Sudahlah, mending situ kembali ke habitat nggak mutu dan ekosistem receh yang sudah situ hidupi bertahun-tahun. Dari orang-orang macam ini, yang hidupnya Senin-Kemis itu, apa kapasitasnya mengomentari—apalagi menista—junjungan kami Fatimah Syahrini Jaelani yang termasyhur? Hidupnya berantakan kok berani-berani menakar kadar cinta idola? Apakah mereka tak pernah menghayati lagu “Sesuatuuuuu” yang sungguh populer di kalangan [k]anak muda itu?

Telah terpampang nyata dalam khatulistiwa perasaan seluruh umat Indonesia bahwa Incess adalah salah seorang yang amat berpengaruh. Dan pengaruh itu merentang sampai pada bagaimana kita menyibukkan diri dalam menolak atau membelanya. Merepotkan diri dalam nyinyir dan puja-puji. Seperti surat terbuka ini…

(Surat ini dibuka dengan gairah menyala tapi ditutup dengan loyo… Sudahlah, namanya juga hidup: antara pesona dan derita kadang beda tipis bingit).

 

Salam hangat,

dari pemuja Syahrini di suatu sore yang murungnya mewakili hati Luna Maya. (Bingung yo ben.)

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 299

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Editor Picks