Kita Sejatinya Sama-sama Ahli Gendam 0 1388

Oleh: Anya Junor*

Jika saya harus memberi highlight pada awal 2018, saya ingin mengenang chaos konyol yang sempat beredar di Surabaya, Malang, dan Yogyakarta. Cerita itu ialah perihal kegelisahan masyarakat (baca: mahasiswa) oleh aksi dari seorang gadis mungil yang katanya ahli pelet gendam. Harusnya, para pembaca yang mengaku millenials paham betul kasus ini.

Sebagai generasi yang puber karena internet, sudah seharusnya millenials selalu update berita terkini. Sebagai generasi yang tumbuh besar bersama Facebook, idealnya, ada berbagai macam teman dari berbagai macam tempat dengan berbagai macam informasi. Sebagai generasi yang vitamin-nya adalah media sosial, tidak heran lagi kalau millennials mesti haus beropini; merespon segala desas-desus di dunia nyata maupun maya.

Gadis cilik ahli gendam itu bukan orang pertama yang viral di media sosial. Kalau kita lihat ke belakang, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu, media sosial sudah digdaya menguasai gaya hidup kita. Silakan mengingat kembali video polisi yang lihai joget ala penyanyi di sinetron India. Dalam sekilat goyang chaya-chaya, nama Norman Kamaru mendadak akrab di telinga kita. Seragamnya ada di berbagai stasiun televisi. Wajahnya selalu ada di timeline media sosial. Ini keajaiban. Keluarganya pasti sudah tumpengan tujuh hari tujuh malam.

Namun keadaannya sedikit berbeda bagi si gadis gendam, yang baru-baru ini diketahui berinisial AAP (12). Foto candid-nya beredar di berbagai grup WA. Wajahnya ada di galeri HP ribuan orang—dalam bentuk meme. Tak ada yang tahu namanya, tapi banyak yang sok-sokan mendeskripsikan bagaimana cara berbicaranya dan bagaimana taktiknya dalam menghipnotis orang. Ini keajaiban. Lingkungan AAP yang awalnya biasa-biasa saja, karena 4 jepretan sederhana dari orang tidak dikenal, langsung berubah jadi penuh tatapan hujat dan bisik-bisik curiga.

Millennials, sebagai generasi yang ‘kritis’ dan kadang sok pintar dalam menghadapi situasi, memutuskan untuk berperan sebagai netizen yang maha benar. Dan dengan maha benarnya itulah mereka membuat posting berjudul, “HATI-HATI! Anak ini bisa gendam!” Dan dengan maha benarnya pula, yang lainnya membagikan post tersebut ke grup FB, WA, dan LINE-nya masing-masing. “Hati-hati,” kata mereka. Tak lupa juga disertakan embel-embel ‘sudah banyak korban’.

Kekhawatiran merupakan faktor pendorong yang cukup besar bagi netizen untuk membagikan sebuah postingan. Ini bukan fakta yang baru ditemukan. Sejak dulu, kriminalitas memang memiliki news value yang cukup tinggi di dunia jurnalistik. Dan seperti yang kita ketahui, di mata media manapun, “BAD news means GOOD news.” Segala yang dapat atau telah mengguncang hidup masyarakat akan diberitakan dengan senang hati. Konten penting itu relatif, tapi konten menarik itu penting. Contohnya, anak SD menghipnotis puluhan orang dewasa—mencuri dompet hingga motor mereka. Hal sekonyol itu punya peluang besar untuk jadi viral. Masa bodoh dengan kredibilitas sumber berita. Dalam kerangka berpikir mereka, “Info yang dibagikan pasti akan membantu orang lain. Benar atau salah urusan belakangan, yang penting semua friends sudah waspada. Yang penting ketok kritis. Banyak like banyak rejeki.”

Millennials diberi mukjizat oleh Tuhan Yang Maha Esa berupa koneksi internet yang stabil serta akal sehat untuk digunakan. Ada baiknya bersikap kritis terhadap segala sesuatu. Menganalisa problematika yang dihadapi, menjadi solutif terhadap suatu isu, dan tidak hanya asal cuit di Twitter tentang yang negatif dari ini dan itu.

Tampaknya sebagian besar netizen masih lupa untuk menjadi skeptis sebelum jadi kritis. Benar atau tidak? Akal sehat diciptakan untuk meragukan kebenaran yang dipercaya hati. Terkadang, emosi dapat membutakan pikiran. Itulah sebabnya, netizen membagikan postingan terlebih dahulu, baru mempertanyakan sumbernya. Keburu ada korban lagi, ya kan?

Tidak terpikirkan bagi kita, pembaca (baca: calon korban), bahwa sebenarnya gadis cilik itulah yang menjadi korban pada fenomena ini. Tahu apa kita tentang kehidupan AAP? Ingin jadi apa ia ketika sudah dewasa? Apa kabar UASBN-nya? Atau, jika kita mundur lagi, sebenarnya anak itu sekolah atau tidak?

Jika anda millennials sejati, bukalah situs pencarian dan baca sendiri pengakuan dari Noviana (36), ibu dari AAP. Ketakutannya untuk bertatap muka dengan orang-orang di luar rumah disebabkan oleh kecerobohan kita, pengguna media sosial. Permasalahannya sederhana—kita hanya lupa menyertakan kata ‘diduga’. Judul alternatif yang seharusnya tersebar di berbagai platform adalah, “Gadis Cilik Diduga Bisa Gendam.”

Apa yang kita lakukan setelah menemukan sudut pandang baru? Seperti biasa, sebagai netizen yang maha benar, kita wajib untuk menghujat netizen lainnya yang menjunjung tinggi kebodohan—kaum yang menolak untuk melihat kasus ini dari atas. Kemudian, kita akan membuat petisi berisi larangan berinternet bagi orang berpemikiran dangkal. Mungkin juga, kita akan larut dalam rasa bersalah, tapi menyembunyikan kelemahan di komentar 140 kata dengan nada sinis dan marah-marah.

Dengan segala sok ke-mahabenaran yang dilindungi UU kebebasan berpendapat, saya jadi makin bingung. Kita seperti dikondisikan untuk menghipnotis satu sama lain Sebenarnya, yang ahli gendam itu siapa sih?

 

*Meski belum berminat mengikuti audisi Kilau DMD Show, penulis adalah mahasiswa multitalenta, penyair dan penyiar. Mengidolakan batagor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 157

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 73

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks