Kita Sejatinya Sama-sama Ahli Gendam 0 1499

Oleh: Anya Junor*

Jika saya harus memberi highlight pada awal 2018, saya ingin mengenang chaos konyol yang sempat beredar di Surabaya, Malang, dan Yogyakarta. Cerita itu ialah perihal kegelisahan masyarakat (baca: mahasiswa) oleh aksi dari seorang gadis mungil yang katanya ahli pelet gendam. Harusnya, para pembaca yang mengaku millenials paham betul kasus ini.

Sebagai generasi yang puber karena internet, sudah seharusnya millenials selalu update berita terkini. Sebagai generasi yang tumbuh besar bersama Facebook, idealnya, ada berbagai macam teman dari berbagai macam tempat dengan berbagai macam informasi. Sebagai generasi yang vitamin-nya adalah media sosial, tidak heran lagi kalau millennials mesti haus beropini; merespon segala desas-desus di dunia nyata maupun maya.

Gadis cilik ahli gendam itu bukan orang pertama yang viral di media sosial. Kalau kita lihat ke belakang, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu, media sosial sudah digdaya menguasai gaya hidup kita. Silakan mengingat kembali video polisi yang lihai joget ala penyanyi di sinetron India. Dalam sekilat goyang chaya-chaya, nama Norman Kamaru mendadak akrab di telinga kita. Seragamnya ada di berbagai stasiun televisi. Wajahnya selalu ada di timeline media sosial. Ini keajaiban. Keluarganya pasti sudah tumpengan tujuh hari tujuh malam.

Namun keadaannya sedikit berbeda bagi si gadis gendam, yang baru-baru ini diketahui berinisial AAP (12). Foto candid-nya beredar di berbagai grup WA. Wajahnya ada di galeri HP ribuan orang—dalam bentuk meme. Tak ada yang tahu namanya, tapi banyak yang sok-sokan mendeskripsikan bagaimana cara berbicaranya dan bagaimana taktiknya dalam menghipnotis orang. Ini keajaiban. Lingkungan AAP yang awalnya biasa-biasa saja, karena 4 jepretan sederhana dari orang tidak dikenal, langsung berubah jadi penuh tatapan hujat dan bisik-bisik curiga.

Millennials, sebagai generasi yang ‘kritis’ dan kadang sok pintar dalam menghadapi situasi, memutuskan untuk berperan sebagai netizen yang maha benar. Dan dengan maha benarnya itulah mereka membuat posting berjudul, “HATI-HATI! Anak ini bisa gendam!” Dan dengan maha benarnya pula, yang lainnya membagikan post tersebut ke grup FB, WA, dan LINE-nya masing-masing. “Hati-hati,” kata mereka. Tak lupa juga disertakan embel-embel ‘sudah banyak korban’.

Kekhawatiran merupakan faktor pendorong yang cukup besar bagi netizen untuk membagikan sebuah postingan. Ini bukan fakta yang baru ditemukan. Sejak dulu, kriminalitas memang memiliki news value yang cukup tinggi di dunia jurnalistik. Dan seperti yang kita ketahui, di mata media manapun, “BAD news means GOOD news.” Segala yang dapat atau telah mengguncang hidup masyarakat akan diberitakan dengan senang hati. Konten penting itu relatif, tapi konten menarik itu penting. Contohnya, anak SD menghipnotis puluhan orang dewasa—mencuri dompet hingga motor mereka. Hal sekonyol itu punya peluang besar untuk jadi viral. Masa bodoh dengan kredibilitas sumber berita. Dalam kerangka berpikir mereka, “Info yang dibagikan pasti akan membantu orang lain. Benar atau salah urusan belakangan, yang penting semua friends sudah waspada. Yang penting ketok kritis. Banyak like banyak rejeki.”

Millennials diberi mukjizat oleh Tuhan Yang Maha Esa berupa koneksi internet yang stabil serta akal sehat untuk digunakan. Ada baiknya bersikap kritis terhadap segala sesuatu. Menganalisa problematika yang dihadapi, menjadi solutif terhadap suatu isu, dan tidak hanya asal cuit di Twitter tentang yang negatif dari ini dan itu.

Tampaknya sebagian besar netizen masih lupa untuk menjadi skeptis sebelum jadi kritis. Benar atau tidak? Akal sehat diciptakan untuk meragukan kebenaran yang dipercaya hati. Terkadang, emosi dapat membutakan pikiran. Itulah sebabnya, netizen membagikan postingan terlebih dahulu, baru mempertanyakan sumbernya. Keburu ada korban lagi, ya kan?

Tidak terpikirkan bagi kita, pembaca (baca: calon korban), bahwa sebenarnya gadis cilik itulah yang menjadi korban pada fenomena ini. Tahu apa kita tentang kehidupan AAP? Ingin jadi apa ia ketika sudah dewasa? Apa kabar UASBN-nya? Atau, jika kita mundur lagi, sebenarnya anak itu sekolah atau tidak?

Jika anda millennials sejati, bukalah situs pencarian dan baca sendiri pengakuan dari Noviana (36), ibu dari AAP. Ketakutannya untuk bertatap muka dengan orang-orang di luar rumah disebabkan oleh kecerobohan kita, pengguna media sosial. Permasalahannya sederhana—kita hanya lupa menyertakan kata ‘diduga’. Judul alternatif yang seharusnya tersebar di berbagai platform adalah, “Gadis Cilik Diduga Bisa Gendam.”

Apa yang kita lakukan setelah menemukan sudut pandang baru? Seperti biasa, sebagai netizen yang maha benar, kita wajib untuk menghujat netizen lainnya yang menjunjung tinggi kebodohan—kaum yang menolak untuk melihat kasus ini dari atas. Kemudian, kita akan membuat petisi berisi larangan berinternet bagi orang berpemikiran dangkal. Mungkin juga, kita akan larut dalam rasa bersalah, tapi menyembunyikan kelemahan di komentar 140 kata dengan nada sinis dan marah-marah.

Dengan segala sok ke-mahabenaran yang dilindungi UU kebebasan berpendapat, saya jadi makin bingung. Kita seperti dikondisikan untuk menghipnotis satu sama lain Sebenarnya, yang ahli gendam itu siapa sih?

 

*Meski belum berminat mengikuti audisi Kilau DMD Show, penulis adalah mahasiswa multitalenta, penyair dan penyiar. Mengidolakan batagor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Huru-Hara Anti-masker di Negeri Pak Trump 0 87

Oleh: Deanita Nurkhalisa*

 

Kisah datang dari Amerika Serikat (AS), negeri nun jauh dengan jumlah penderita terkonfirmasi Covid-19 terbanyak di level global mencapai titik tertinggi 3,4 juta kasus, 67 ribu kasus baru dan total kematian sebanyak 136 ribu jiwa. Ketika tak kunjung tampak terobosan signifikan dalam penanganan kasus, pada saat yang sama muncul pula sikap meremehkan yang datang dari berbagai kelompok, dari awam hingga figur berpengaruh. Anjuran dan nasihat kesehatan dimentahkan oleh gerakan anti-masker.

Gerakan anti-masker (anti-mask) menuai perhatian semenjak persyaratan lockdown perlahan diangkat dan fasilitas umum kembali dibuka dengan ketentuan wajib seperti pengenaan masker. Mereka menentang keras pendapat ilmiah, seperti dari Central for Disease Control and Prevention (CDC) yang meyakinkan publik bahwa penggunaan masker mengurangi risiko penularan. Tindakan ini sejalan dengan istilah keren ‘flatten the curve’, merebahkan kurva jumlah penderita dengan menginstruksikan penggunaan masker atau sarana pencegahan lain demi menekan laju Covid-19.

Kerumunan anti-masker mencuri perhatian atas apa yang mereka lakukan di pusat-pusat perbelanjaan, provokasi demonstrasi, maupun menyuarakan aspirasi lewat pertemuan dewan kota. Bentuk protes terhadap mandat penggunaan masker juga ditunjukkan melalui ejekan penggunaan masker berbentuk jaring (mesh mask) yang tentunya tidak melindungi wajah dari partikel berbahaya. Di Roseville, Sacramento, seorang warga mengencingi lantai toko Verizon Store karena menolak diusir meninggalkan toko akibat tidak mengenakan masker.

Di kesempatan tertentu, sekelompok anti-maskers meneriakkan kalimat ‘I can’t breathe’ (‘aku ra isa ambegan’) yang sebelumnya menjadi slogan solidaritas gerakan Black Lives Matter, mengutip kalimat terakhir George Floyd sebelum ia menjadi korban rasisme yang dilakukan aparat kepolisian di AS. Ironisnya, kalimat tersebut diinisiasi oleh anggota dewan kota Scottsdale, Arizona, pada aksi protes pengenaan masker akhir bulan lalu. Fakta-fakta itu menunjukkan egoisme, ketidakpekaan, dan minimnya empati dalam kelompok protes tersebut.

Klaim utama kelompok antimasker adalah bahwa kewajiban penggunaan masker oleh pemerintah ‘merenggut hak asasi dan kebebasan atas tubuh’ atau ‘perbudakan, penundukan, dan penaklukan’ oleh negara atas warga.

Beberapa pernyataan ini mengherankan karena beberapa alasan.

Adanya pandemi global memerlukan pencegahan yang dalam jangka panjang dapat memberikan hasil efektif, apabila dilakukan dengan benar dan secara massal untuk mencegah penularan. Tujuan untuk kebaikan bersama tersebut yang menjadi dasar pemerintah menggalakkan penggunaan masker. Tidak ada yang dapat menjamin seseorang akan dapat terinfeksi atau bahkan menginfeksi orang lain. Namun, tindakan pencegahan dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

Masker bukanlah simbol atas penaklukan, apalagi menempatkan penggunanya sebagai ‘budak’, melainkan hanyalah sebuah alat penghalau partikel berbahaya di udara agar tubuh manusia tidak terinfeksi. Tidak ada anggapan implisit rasis atau misoginis yang ditemukan dari pengenaan masker. Pun bukanlah wujud dari agenda politis pihak oposisi untuk tujuan tertentu.

Tindakan pencegahan di masa pandemi ini tidak seharusnya menjadi isu politis maupun konspiratif yang dapat memecah opini. Dibutuhkan solidaritas, empati dan kebesaran hati untuk bergerak saling melindungi demi berakhirnya pandemi. Hal tersebut juga harus diiringi oleh informasi yang sesuai dan data yang cukup serta kemampuan berdialog secara efektif berdasarkan fakta yang ada. Bukan didasari sentimen apapun seperti pandangan politik, sehingga perdebatan mengenai pengenaan masker setidaknya dapat dilakukan secara substantif dan tidak sewenang-wenang.

Begitu juga dengan figur pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan ke masyarakat. Sudah seharusnya mereka menyediakan edukasi, jaminan dan kepastian yang dibutuhkan oleh masyarakat agar negara tetap utuh dalam menghadapi krisis pandemi global.

 

*)Mahasiswi yang senang puisi, kucing, dan antariksa. Terbuka atas masukan atau cuma basa-basi lewat akun Instagram @ohitsjustdenit.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Tips Buat Para Penganggur di Masa Pandemi 1 177

Oleh: Putu Gadis Arvia Puspa*

Karena tulisan ini terbit sehari setelah hari kemerdekaan, maka penulis hendak mengucapkan: dirgahayu Indonesiaku yang ke tujuh puluh lima! 17 Agustus-an tahun ini terasa sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Indonesia dan dunia sedang menghadapi perang pandemi Covid-19.

Atmosfer orang ketika batuk akan berubah. Perlahan akan timbul rasa cemas kemudian diantisipasi penyebaran virusnya oleh masyarakat dengan mundur beberapa langkah, lengkap dengan masker yang sudah menempel di wajah.

Dari segi ekonomi, tentu ada yang kehilangan pekerjaan. Dari segi hubungan kedekatan, bisa juga kehilangan pasangannya. Yang paling tragis adalah sampai kehilangan orang tua dan keluarga tercinta. Semuanya membekaskan luka dan duka.

Tahun 2020 ini benar-benar menguji kesabaran, kewaspadaan dan kemampuan adaptif kita sebagai mahluk hidup untuk tetap berjuang walau rasanya hidup ini bagai kiamat. Masalah itu akan selalu ada, sehingga menjadi tantangan untuk diri sendiri dan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaannya.

Sama juga seperti artikel ini yang sengaja ditulis H-1 hari kemerdekaan Indonesia biar kerasa vibes-nya kayak lagi mempersiapkan proklamasi di Renglasdengklok bareng Bung Karno. Ihiy. Yaaaa anggap saja ini seperti proklamasi versi saya. Secara ini tulisan pertama saya kalo jadi terbit di Kalikata (red: jadi terbit kok, tapi butuh waktu buat ngeditnya aja, hehe).

Pintu kamar saya tutup rapat. Pertanda saatnya beraksi mencari inspirasi dan pengalaman baru di internet. Saking lamanya di rumah, saya biasanya jadi terlalu dalam menjelajah internet, akhirnya jadi lupa waktu, lupa makan, tapi tetap mandi kok.

Gilak! Rasanya tuh kayak bener-bener pusing sih. Mata kabur, punggung pegal, kaki keram. Tapi, diri ini tetap asyik seharian baca-baca artikel, main gartic bareng teman, typing test, dan nonton TikTok. Pengen sih nonton Netflix, tapi gak punya duit buat langganan. Yaudah, manfaatkan apa yang bisa ditonton saja dulu, di mana lagi kalau bukan di Youtubeee. Karena Youtube Youtube Youtube lebih dari Tv boom! Ea.

Kangen sebenarnya sama lambe-lambe di tongkrongan yang bilang “Udah tau belom, kalo si itu… bla bla bla bla“, nggosip. Tidak ada yang bisa mengalahkan asyiknya bisa bersosialisasi sekaligus diskusi. Kurang lebih sama lah ya kayak Chaerul Saleh dan kawan-kawan yang ngumpul buat diskusi politik di masa itu.

Tapi situasi sekarang kan susah ya kalo mau diskusi seaysik itu. Harus chat dulu, nunggu di-read, share link, saling debat pake paragraph panjang-panjang. Itupun cepet-cepetan ngetik ya kan. Belom lagi urusan sinyal. Story tellingnya kurang dapet gitu loh. Ekspresi dan nada suara teman kita itu ga bisa lagi untuk menendang gejolak emosi jiwa kompetitif dari kaum yang suka keributan ini.

Ada sih alternatif misalnya pake Zoom, Google Meet, dan platform video call lainnya buat ngatasin masalah tadi. Tapi tetep aja rasanya gak afdol gitu kalo ga ketemu langsung. Huhhh..

Ngomongin internet, kasus kan lagi banyak nih yang viralnya bukan main di medsos. Apalagi momentumnya sekarang orang lagi di rumah aja, jadi tingkat fokusnya dalam menyimak berita terkini lebih tinggi, ya walaupun belum tentu tajam.

Ketidakseriusan sejak awal pemerintah dalam menghadapi pandemi akhirnya makin merusak dan membakar emosi dari harapan rakyat. Transparansi selalu dituntut guna mengetahui kenyataan, namun ditahan dengan niat agar tidak menghawatirkan rakyat.

Baru-baru ini, juga ada kabar seorang aktivis pegiat HAM diminta mengembalikan beasiswa senilai 773 juta dari LPDP. Netijen pun berasumsi, hal ini diduga kuat sebagai upaya terbaru untuk menekan Veronica Koman berhenti melakukan advokasi HAM Papua.

Kasus lain lagi, berbagai kekerasan seksual yang mulai terkuak. Ini semua berkat pengakuan para korban yang akhirnya berani speak up di media sosial.

Ada pula kenyataan bahwa politik dinasti yang kian ramai mengisi pilkada Indonesia. Pun, tragedi kecurangan pada seleksi masuk perguruan tinggi negeri hingga sekolah kedinasan. Di sisi lain, dampak buruk akibat Covid-19 di hampir semua sektor secara global, semakin mengancam dan menghantui negara kita untuk resesi ekonomi.

Tidak cukup sampai di situ, saya pun sempat menengok Twitter, yang juga baru-baru ini menjadi tempat ajang demo online oleh mahasiswa Unair dalam menyuarakan isi hati. Isu ini juga jadi trending di media sosial: soal tuntutan penurunan UKT.

Di balik semua masalah yang memaksa otak kita untuk berpikir sok kritis, tentu ada juga banyak hal trending yang bisa membuat kita tetap terhibur, terinspirasi, sampai speechless. Misalnya lalu lintas TikTok yang kini makin populer, karena dianggap lebih seru. Aplikasi yang satu ini bikin auto menggerakan saraf manusia untuk joget ala TikTok (bahkan sudah dianggap cabang tarian). Terkadang, kontennya juga dinilai bermanfaat karena informatif.

Makin banyak orang-orang kreatif yang memamerkan karyanya di tengah pandemic ini. Misalnya Lathi challenge yang hypenya super dimana-mana. Mulai dari jadi backsound time lapse orang gambar animasi baju adat Indonesia lewat ipad, sampai backsound make up oleh Jharnabhagwani. Kalo di Twitter abang Fiersa Besari, terakhir Lathi dipake buat senam sama ibu ibu.

Untungnya, di hari kesekian menghabiskan waktu di rumah, tentu saja saya melakukan berbagai aktivitas yang sudah saya sebutkan tadi. Berbeda dengan video Youtube Sobat Miskin Official dengan konten “2 jam gak ngapa-ngapain” (dan saya pun kena prank nonton videonya sampai habis), yang bikin saya mikir “kok ada-ada aja ya ide orang di tengah pandemi ini”.

Sebagai pengamat Youtube, saya mau sedikit berpesan pada para pembaca. Menghabiskan waktu di rumah aja memang membosankan, tapi ada banyak hal yang bisa dilakukan kok. Kreativitas kita yang tanpa batas masih bisa ditampung dengan konten audio visual, dan dipublikasikan di Youtube atau media sosial lainnya. Tapi, memang harus serba hati-hati dengan derasnya informasi, karena bisa bikin pusing sendiri.

Yang terpenting, jangan sampai gara gara stock anime atau film atau drama korea habis, kalian malah mengisi waktu luang dengan membuat prank aneh-aneh atau video cringe “ara ara”. Mending review film ae lah! Kalo gak, mukbang atau ASMR. Atau nonton Youtube Got Talentnya SkinnyIndonesian24, juga bisa jadi pilihan.

 

*) Penonton setia Youtube, drama korea, kartun, dan anime, tapi ga terlalu. Tujuan utama dalam hidup adalah untuk mencapai moksa. Mata sipit belum tentu Cina, siapa tahu Bali.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks