Kita Sejatinya Sama-sama Ahli Gendam 0 1275

Oleh: Anya Junor*

Jika saya harus memberi highlight pada awal 2018, saya ingin mengenang chaos konyol yang sempat beredar di Surabaya, Malang, dan Yogyakarta. Cerita itu ialah perihal kegelisahan masyarakat (baca: mahasiswa) oleh aksi dari seorang gadis mungil yang katanya ahli pelet gendam. Harusnya, para pembaca yang mengaku millenials paham betul kasus ini.

Sebagai generasi yang puber karena internet, sudah seharusnya millenials selalu update berita terkini. Sebagai generasi yang tumbuh besar bersama Facebook, idealnya, ada berbagai macam teman dari berbagai macam tempat dengan berbagai macam informasi. Sebagai generasi yang vitamin-nya adalah media sosial, tidak heran lagi kalau millennials mesti haus beropini; merespon segala desas-desus di dunia nyata maupun maya.

Gadis cilik ahli gendam itu bukan orang pertama yang viral di media sosial. Kalau kita lihat ke belakang, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu, media sosial sudah digdaya menguasai gaya hidup kita. Silakan mengingat kembali video polisi yang lihai joget ala penyanyi di sinetron India. Dalam sekilat goyang chaya-chaya, nama Norman Kamaru mendadak akrab di telinga kita. Seragamnya ada di berbagai stasiun televisi. Wajahnya selalu ada di timeline media sosial. Ini keajaiban. Keluarganya pasti sudah tumpengan tujuh hari tujuh malam.

Namun keadaannya sedikit berbeda bagi si gadis gendam, yang baru-baru ini diketahui berinisial AAP (12). Foto candid-nya beredar di berbagai grup WA. Wajahnya ada di galeri HP ribuan orang—dalam bentuk meme. Tak ada yang tahu namanya, tapi banyak yang sok-sokan mendeskripsikan bagaimana cara berbicaranya dan bagaimana taktiknya dalam menghipnotis orang. Ini keajaiban. Lingkungan AAP yang awalnya biasa-biasa saja, karena 4 jepretan sederhana dari orang tidak dikenal, langsung berubah jadi penuh tatapan hujat dan bisik-bisik curiga.

Millennials, sebagai generasi yang ‘kritis’ dan kadang sok pintar dalam menghadapi situasi, memutuskan untuk berperan sebagai netizen yang maha benar. Dan dengan maha benarnya itulah mereka membuat posting berjudul, “HATI-HATI! Anak ini bisa gendam!” Dan dengan maha benarnya pula, yang lainnya membagikan post tersebut ke grup FB, WA, dan LINE-nya masing-masing. “Hati-hati,” kata mereka. Tak lupa juga disertakan embel-embel ‘sudah banyak korban’.

Kekhawatiran merupakan faktor pendorong yang cukup besar bagi netizen untuk membagikan sebuah postingan. Ini bukan fakta yang baru ditemukan. Sejak dulu, kriminalitas memang memiliki news value yang cukup tinggi di dunia jurnalistik. Dan seperti yang kita ketahui, di mata media manapun, “BAD news means GOOD news.” Segala yang dapat atau telah mengguncang hidup masyarakat akan diberitakan dengan senang hati. Konten penting itu relatif, tapi konten menarik itu penting. Contohnya, anak SD menghipnotis puluhan orang dewasa—mencuri dompet hingga motor mereka. Hal sekonyol itu punya peluang besar untuk jadi viral. Masa bodoh dengan kredibilitas sumber berita. Dalam kerangka berpikir mereka, “Info yang dibagikan pasti akan membantu orang lain. Benar atau salah urusan belakangan, yang penting semua friends sudah waspada. Yang penting ketok kritis. Banyak like banyak rejeki.”

Millennials diberi mukjizat oleh Tuhan Yang Maha Esa berupa koneksi internet yang stabil serta akal sehat untuk digunakan. Ada baiknya bersikap kritis terhadap segala sesuatu. Menganalisa problematika yang dihadapi, menjadi solutif terhadap suatu isu, dan tidak hanya asal cuit di Twitter tentang yang negatif dari ini dan itu.

Tampaknya sebagian besar netizen masih lupa untuk menjadi skeptis sebelum jadi kritis. Benar atau tidak? Akal sehat diciptakan untuk meragukan kebenaran yang dipercaya hati. Terkadang, emosi dapat membutakan pikiran. Itulah sebabnya, netizen membagikan postingan terlebih dahulu, baru mempertanyakan sumbernya. Keburu ada korban lagi, ya kan?

Tidak terpikirkan bagi kita, pembaca (baca: calon korban), bahwa sebenarnya gadis cilik itulah yang menjadi korban pada fenomena ini. Tahu apa kita tentang kehidupan AAP? Ingin jadi apa ia ketika sudah dewasa? Apa kabar UASBN-nya? Atau, jika kita mundur lagi, sebenarnya anak itu sekolah atau tidak?

Jika anda millennials sejati, bukalah situs pencarian dan baca sendiri pengakuan dari Noviana (36), ibu dari AAP. Ketakutannya untuk bertatap muka dengan orang-orang di luar rumah disebabkan oleh kecerobohan kita, pengguna media sosial. Permasalahannya sederhana—kita hanya lupa menyertakan kata ‘diduga’. Judul alternatif yang seharusnya tersebar di berbagai platform adalah, “Gadis Cilik Diduga Bisa Gendam.”

Apa yang kita lakukan setelah menemukan sudut pandang baru? Seperti biasa, sebagai netizen yang maha benar, kita wajib untuk menghujat netizen lainnya yang menjunjung tinggi kebodohan—kaum yang menolak untuk melihat kasus ini dari atas. Kemudian, kita akan membuat petisi berisi larangan berinternet bagi orang berpemikiran dangkal. Mungkin juga, kita akan larut dalam rasa bersalah, tapi menyembunyikan kelemahan di komentar 140 kata dengan nada sinis dan marah-marah.

Dengan segala sok ke-mahabenaran yang dilindungi UU kebebasan berpendapat, saya jadi makin bingung. Kita seperti dikondisikan untuk menghipnotis satu sama lain Sebenarnya, yang ahli gendam itu siapa sih?

 

*Meski belum berminat mengikuti audisi Kilau DMD Show, penulis adalah mahasiswa multitalenta, penyair dan penyiar. Mengidolakan batagor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kegundahan Sederhana yang Disebabkan Kartu Nama 1 181

Jika Mas Robbyan Abel sudah bercerita tentang pergulatan mahasiswa tingkat akhir yang nggak tahan kudu mentas, kali ini izinkan hamba bercerita tentang satu tahap di atasnya: pengalaman kerja.

Beberapa waktu yang lalu, saya adalah job seeker, melamar sana-sini dan dipanggil untuk wawancara di perusahaan impian. Di tiap wawancara itu, saya tentu bertemu dengan pelamar lainnya. Di situ, terjadi perkenalan dan perbincangan basa-basi, khas warga Endonesah. Tujuannya jelas, siapa tahu jadi teman kantor saat kami sama-sama diterima. Kalaupun salah satu dari kami tidak beruntung, paling tidak sudah memperluas relasi.

Dalam perkenalan singkat itu, supaya tetap berkawan hingga kemudian hari, saya biasanya yang lebih duluan meminta kontak. Bukan nomor handphone, apalagi alamat rumah.

Saya tanyakan nama akun Instagram-nya.

Pada sebuah tes wawancara kerja, saya bertemu seorang pelamar lain yang ketika saya tanyai akun Instagram-nya, mengaku tidak punya. Saya lantas kaget. Hari gini, gak main Instagram? Padahal, menurut survei awur-awuran versi penulis, anak milenial macam kita ini paling suka menggunakan media sosial Instagram.

Perlu bukti? Kini kebutuhan hidup anak-anak muda adalah mencari tempat nongkrong dan liburan yang Instagram-able. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan istilah itu. Sama seperti munculnya sebutan selebgram, jabatan yang patut diberikan pada mereka yang punya eksposur tinggi di jagad aplikasi berlogo kamera warna pelangi ini. Lantas berikutnya, jumlah followers, like, dan comment kemudian jadi komoditas dan kebutuhan hidup, selain uang tentunya (yang lagi-lagi untuk beli minum di tempat nongkrong yang Instagram-able).

Akibat kenalan baru saya ini tadi nggak punya Instagram, pilihan terakhir bagi saya adalah bertanya media sosial lain apa yang dia mainkan. Ternyata ia punya Twitter, syukurlah. Walau tentu meninggalkan pertanyaan dalam benak, bagaimana kawan saya ini bisa survive di antara teman se-gengnya ketika yang lain sedang ngumpul dan update story di Instagram, sementara dia nggak?

Cerita lain, setelah sebulan bekerja, saya bertemu banyak narasumber yang usianya beragam. Pengalaman lain lagi saya alami. Saat berkenalan dan meminta nomor HP narasumber, mereka menyodorkan barang yang tentu sama sekali asing bagi arek-arek lahiran tahun 2010-an ke atas: kartu nama.

Peristiwa ini membuat saya canggung. Sudah menyiapkan HP, membuat kontak baru di buku telepon HP, bersiap mengetikkan nomor si narasumber, eh dia nyodorin kartu nama. Bahkan, saking lumrahnya barang ini di era hidup si narasumber, mereka bertanya balik apa saya ada kartu nama yang bisa dipertukarkan. Entah harus malu atau bangga, mengaku di hadapan narasumber kalau saya anak milenial: generasi yang sudah tidak punya atau bahkan tidak tahu apa urgensi membuat kartu nama pribadi.

Tapi, saya bukan generasi yang sama sekali nggak kenal kartu nama. Sependek ingatan, saya pernah saling bertukar kartu nama dengan teman-teman di bangku SD. Kala itu, kami suka membuat kartu nama dengan warna dan gambar kartun favorit. Kartu nama di zaman itu jadi sebuah artefak penanda prestis, sangat ikonik, butuh dipamerkan dan dipertukarkan, layaknya kertas binder.

Lambat laun, kartu nama bagi anak seusia saya mulai ditinggalkan. Lantas, peristiwa kartu nama dengan narasumber itu membuat saya bertanya-tanya dalam sukma: apakah memang sudah sejauh itu ketimpangan zaman milenial dengan generasi yang lahir sebelumnya? Kalau saya yang hampir 23 tahun ini saja sudah merasa ada gap gara-gara kartu nama, ndaniyo anake Raditya Dika karo Raisa?

Pertanyaan selanjutnya, salahkah bila kami tak punya kartu nama, dan punya cara berbeda dalam berkenalan dan berkorespondensi? Toh, perkenalan via dunia digital tidak mengurangi substansi dan etika.

Selain jadi komoditas pasar dan target kampanye politik, nasib milenial memang senantiasa jadi kambing hitam atas tuduhan-tuduhan “anak zaman sekarang mana ngerti…”atau “let’s confuse kids nowadays”.

Oalah Gusti, salah ta aku lahire saiki?

Foto: Deedee86 (Pixabay)

(Masih) Perlunya Demonstrasi di Saat Demokrasi Dikebiri 0 135

Oleh: Nabiilah Ulinnuha*

Tulisan ini dibuat teruntuk kalian yang hampir menyerah pada Indonesia, menolak percaya pada pemerintah, dan berharap bisa mengurus pindah kewarganegaraan dengan mudah.

Bukan lagi fenomena baru bahwa hadirnya media sosial memindahkan kanal informasi. Di zaman sekarang, mahasiswa dan pelajar tak perlu menyisihkan uang jajan buat beli koran atau bawa tape kemana-mana agar tak ketinggalan berita baru. Bermodalkan smartphone di genggaman tangan, dua media konvensional itu tentu bukan tandingan.

Bangun tidur, ritualnya adalah buka feed Instagram dan Twitter untuk cek kabar terbaru. Yang lebih nggenah, mungkin membuka kanal berita online gratisan, atau yang harga langganannya masih lebih murah dari paket data. Apa-apa serba mudah, kan? Berkat mbah gugel, kita tak perlu lagi kepo berita pagi ini dengan bertanya kesana-kemari. Tinggal buka layar ponsel saja, dan buka Kalikata ketik di mesin pencarian, voila!Tercerahkan”-lah kita.

Sama hal dengan informasi yang berpindah kanal utamanya, demokrasi pun mulai muncul dalam ruang baru bernama ‘media sosial’. Melalui ratusan tweets viral yang mengeluhkan keadaan, tergambar wajah sebuah kebebasan. Mulai dari kondisi terbaru yang terjadi di gedung KPK hingga gerakan tak setuju pada RUU PKS. Belum lagi situasi genting pada Kebakaran Hutan Liar, serta ketidakadilan bagi masyarakat di timur Indonesia.

Beragam postingan di Instagram tentang kondisi Indonesia terkini seolah saling tak mau kalah. Sebab siapapun bisa berbagi informasi. Demokrasi tumpah ruah di ruang-ruang tanpa sekat.

Masyarakat mulai menyukai hal-hal mudah. Demokrasi tak selalu harus turun ke jalanan. Mahasiswa zaman sekarang lebih suka memilih jalur lebih damai lewat diplomasi, atau menulis pada kolom opini. Yang lebih mudah lagi, tentunya menulis tweet dan membagikan foto kondisi terbaru lewat Instagram.

Rasa-rasanya masyarakat sudah seharusnya mulai bosan dengan pola ini. Sudah berteriak pada berbagai platform media, tapi kok rasanya wakil rakyat seolah bisu dan tuli?

Seharusnya apresiasi tinggi patut diberikan pada ratusan mahasiswa yang mengerumuni gedung pemerintah untuk menagih janji. Di saat-saat genting ini, dan di tengah gempuran alternatif cara “menyuarakan” tuntutan, mereka jadi pahlawan garda terdepan yang berjuang bagi demokrasi dengan langkah-langkah tradisional namun efektif bikin pemerintah rodhok panik.

Mari kita buka kenangan setahun lalu, saat Ketua BEM UI berikan Jokowi kartu kuning. Pembicaraan tentang pro dan kontra sempat bergulir di media sosial. Begitu banyak yang ngedumel. Memalukan, katanya. Mahasiswa kok tidak paham etika. Para netizen yang mahabenar, tidakkah kalian sadar, dulu dan kini, masih juga suka mencaci habis mahasiswa saat turun ke jalanan? Bikin macet, kata kalian. Terlalu anarkis dan mengganggu stabilitas Negara, kata kalian juga.

Barangkali, kita harus mengingat kembali pesan founding fathers bangsa ini. Bung Karno pernah menggaungkan “jasmerah”: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Nampaknya pesan ini sungguh selalu relevan pada setiap zaman.

Kali ini penulis mengajak untuk mengingat kembali peristiwa 1998. Tanpa pengorbanan mahasiswa, Orde Baru tak akan mungkin digulingkan. Mereka, para aktivis, termasuk mahasiswa yang tumpah ruah ke jalanan, rela hilang tanpa dikenang namanya. Aksi mereka yang heroik adalah bukti bahwa masyarakat Indonesia masih berani berjuang walau tak memiliki senjata di tangan. Dan rupanya bentuk aksi ini masih turun dari zaman ke zaman.

Persetan dengan kemacetan dan keamanan! Hari ini, kebebasan dikebiri habis-habisan. Tikus-tikus berdasi di gedung parlemen negara melanggengkan kekuasaannya terang-terangan. Berbagai diskusi sudah menemui jalan buntu. Apakah kemudian gaungan emosi dari gawaimu itu benar dapat merubah nasib bangsa ini?

Mereka yang sekarang sedang berjuang di jalanan nyaris belum mendapat titik terang. Jangankan memberi solusi dan menenangkan massa, menemui mereka pun pemerintah masih enggan. Justru di hari-hari inilah, demokrasi butuh lebih banyak lagi demonstrasi. Sudah selayaknya kita belajar dari sejarah, bahwa yang menang adalah yang tak pernah berhenti berjuang. Sebab pemimpin kita saat ini sungguh masa bodo bila sejatinya telah berubah jiwa jadi pecundang. Asal kekuasaan masih mereka pegang, sepertinya tak ada yang mereka takuti.

 

*Penulis adalah mahasiswa yang suka kopi, sajak, tapi kurang lengkap bila tak ditemani ‘kamu’ yang sekarang hilang. Berzodiak Gemini, oleh sebab itu orangnya ruwet.

Foto: Wanti Anugrah

Editor Picks