Kita Sejatinya Sama-sama Ahli Gendam 0 1969

Oleh: Anya Junor*

Jika saya harus memberi highlight pada awal 2018, saya ingin mengenang chaos konyol yang sempat beredar di Surabaya, Malang, dan Yogyakarta. Cerita itu ialah perihal kegelisahan masyarakat (baca: mahasiswa) oleh aksi dari seorang gadis mungil yang katanya ahli pelet gendam. Harusnya, para pembaca yang mengaku millenials paham betul kasus ini.

Sebagai generasi yang puber karena internet, sudah seharusnya millenials selalu update berita terkini. Sebagai generasi yang tumbuh besar bersama Facebook, idealnya, ada berbagai macam teman dari berbagai macam tempat dengan berbagai macam informasi. Sebagai generasi yang vitamin-nya adalah media sosial, tidak heran lagi kalau millennials mesti haus beropini; merespon segala desas-desus di dunia nyata maupun maya.

Gadis cilik ahli gendam itu bukan orang pertama yang viral di media sosial. Kalau kita lihat ke belakang, bahkan sejak bertahun-tahun yang lalu, media sosial sudah digdaya menguasai gaya hidup kita. Silakan mengingat kembali video polisi yang lihai joget ala penyanyi di sinetron India. Dalam sekilat goyang chaya-chaya, nama Norman Kamaru mendadak akrab di telinga kita. Seragamnya ada di berbagai stasiun televisi. Wajahnya selalu ada di timeline media sosial. Ini keajaiban. Keluarganya pasti sudah tumpengan tujuh hari tujuh malam.

Namun keadaannya sedikit berbeda bagi si gadis gendam, yang baru-baru ini diketahui berinisial AAP (12). Foto candid-nya beredar di berbagai grup WA. Wajahnya ada di galeri HP ribuan orang—dalam bentuk meme. Tak ada yang tahu namanya, tapi banyak yang sok-sokan mendeskripsikan bagaimana cara berbicaranya dan bagaimana taktiknya dalam menghipnotis orang. Ini keajaiban. Lingkungan AAP yang awalnya biasa-biasa saja, karena 4 jepretan sederhana dari orang tidak dikenal, langsung berubah jadi penuh tatapan hujat dan bisik-bisik curiga.

Millennials, sebagai generasi yang ‘kritis’ dan kadang sok pintar dalam menghadapi situasi, memutuskan untuk berperan sebagai netizen yang maha benar. Dan dengan maha benarnya itulah mereka membuat posting berjudul, “HATI-HATI! Anak ini bisa gendam!” Dan dengan maha benarnya pula, yang lainnya membagikan post tersebut ke grup FB, WA, dan LINE-nya masing-masing. “Hati-hati,” kata mereka. Tak lupa juga disertakan embel-embel ‘sudah banyak korban’.

Kekhawatiran merupakan faktor pendorong yang cukup besar bagi netizen untuk membagikan sebuah postingan. Ini bukan fakta yang baru ditemukan. Sejak dulu, kriminalitas memang memiliki news value yang cukup tinggi di dunia jurnalistik. Dan seperti yang kita ketahui, di mata media manapun, “BAD news means GOOD news.” Segala yang dapat atau telah mengguncang hidup masyarakat akan diberitakan dengan senang hati. Konten penting itu relatif, tapi konten menarik itu penting. Contohnya, anak SD menghipnotis puluhan orang dewasa—mencuri dompet hingga motor mereka. Hal sekonyol itu punya peluang besar untuk jadi viral. Masa bodoh dengan kredibilitas sumber berita. Dalam kerangka berpikir mereka, “Info yang dibagikan pasti akan membantu orang lain. Benar atau salah urusan belakangan, yang penting semua friends sudah waspada. Yang penting ketok kritis. Banyak like banyak rejeki.”

Millennials diberi mukjizat oleh Tuhan Yang Maha Esa berupa koneksi internet yang stabil serta akal sehat untuk digunakan. Ada baiknya bersikap kritis terhadap segala sesuatu. Menganalisa problematika yang dihadapi, menjadi solutif terhadap suatu isu, dan tidak hanya asal cuit di Twitter tentang yang negatif dari ini dan itu.

Tampaknya sebagian besar netizen masih lupa untuk menjadi skeptis sebelum jadi kritis. Benar atau tidak? Akal sehat diciptakan untuk meragukan kebenaran yang dipercaya hati. Terkadang, emosi dapat membutakan pikiran. Itulah sebabnya, netizen membagikan postingan terlebih dahulu, baru mempertanyakan sumbernya. Keburu ada korban lagi, ya kan?

Tidak terpikirkan bagi kita, pembaca (baca: calon korban), bahwa sebenarnya gadis cilik itulah yang menjadi korban pada fenomena ini. Tahu apa kita tentang kehidupan AAP? Ingin jadi apa ia ketika sudah dewasa? Apa kabar UASBN-nya? Atau, jika kita mundur lagi, sebenarnya anak itu sekolah atau tidak?

Jika anda millennials sejati, bukalah situs pencarian dan baca sendiri pengakuan dari Noviana (36), ibu dari AAP. Ketakutannya untuk bertatap muka dengan orang-orang di luar rumah disebabkan oleh kecerobohan kita, pengguna media sosial. Permasalahannya sederhana—kita hanya lupa menyertakan kata ‘diduga’. Judul alternatif yang seharusnya tersebar di berbagai platform adalah, “Gadis Cilik Diduga Bisa Gendam.”

Apa yang kita lakukan setelah menemukan sudut pandang baru? Seperti biasa, sebagai netizen yang maha benar, kita wajib untuk menghujat netizen lainnya yang menjunjung tinggi kebodohan—kaum yang menolak untuk melihat kasus ini dari atas. Kemudian, kita akan membuat petisi berisi larangan berinternet bagi orang berpemikiran dangkal. Mungkin juga, kita akan larut dalam rasa bersalah, tapi menyembunyikan kelemahan di komentar 140 kata dengan nada sinis dan marah-marah.

Dengan segala sok ke-mahabenaran yang dilindungi UU kebebasan berpendapat, saya jadi makin bingung. Kita seperti dikondisikan untuk menghipnotis satu sama lain Sebenarnya, yang ahli gendam itu siapa sih?

 

*Meski belum berminat mengikuti audisi Kilau DMD Show, penulis adalah mahasiswa multitalenta, penyair dan penyiar. Mengidolakan batagor.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mengapa Pejabat Emoh dengan Media dan Memilih Channel Deddy Corbuzier 0 302

Pejabat atau pemerintah atau orang-orang penting seperti selebriti sekalipun, dari dulu takut dengan media. Sebab apapun pernyataan yang muncul dari mulut, tentu akan dikutip dan dijadikan judul berita, dari sudut beragam rupa, tergantung siapa wartawannya dan di media mana ia bekerja. Bahkan ketika si figur publik diam saja, bahasa tubuhnya tetap akan jadi berita, lengkap dengan kutipan narasumber ahli pembaca mimik wajah.

Tapi ada satu rahasia: sampai sekarang mereka-mereka ini masih takut dengan media.

Buktinya, mereka lebih mudah ditemui tampil di Youtube sekarang. Seorang teman wartawan dengar-dengar sempat sebel dengan seorang sosok penting. Katanya berhari-hari mengejarnya demi wawancara tak kunjung digubris. Begitu diundang Om Deddy Corbuzier untuk “wan tu tri klos de dor”, langsung mau ngomong panjang lebar dengan durasi 1 jam.

Pembaca tahu kan, channel Om Deddy itu memang ajaib. Di kursi potkesnya, segala macam menteri mulai dari yang kemudian digotong KPK, sampai Lord Luhut, sudah pernah duduk dan bercengkeramah di sana. Bahkan terakhir, sejumlah media mainstream sampai mengutip omongan Luhut dari Youtube Om Deddy, soal cara penanganan corona di Indonesia.

Beberapa orang yang dulu kita temui tenar sekali di layar kaca, sekarang bahkan membangun kanal Youtube sendiri. Buanyak contohnya. Saya rasa pembaca bahkan salah satu subscribernya. Mulai Raffi Ahmad sampai Bambang Soesatyo Ketua MPR RI, kini bikin channel sendiri.

Setidaknya, penulis membaca fenomena ini sebagai berikut:

Pertama, karena mereka-mereka ini tahu siapa target yang disasarnya. Kaum milenial sampai generasi Z dan Alpha. Mereka yang sudah mulai, bahkan sama sekali, meninggalkan media mainstream. Mereka yang menghabiskan hari-hari berselancar di media sosial. Mereka-mereka ini, terlebih para pejabat publik, berusaha meraih perhatian mereka dengan turut aktif bermedsos. Tentu untuk membangun citra baik.

Sebut saja Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta yang selalu jadi tempat menumpahkan sumpah serapah penyebab banjir, macet, dan episentrum covid-nya ibu kota. Baru kali ini saya lihat Anies marah-marah (loh kok niru-niru mantan walikotaku seh) pada pemimpin perusahaan non-esensial yang masih buka di kala PPKM Darurat mengharuskan 100 persen WFH.

Aksi itu bukan terekam di layar kaca berita loh ya, tapi di story Instargram-nya. Hal ini terjadi di tengah iritnya humas pemprov membagi agenda harian sidak-sidak gubernur pada awak media.

Belum lagi Khofifah Indar Parawansa, bunda-ne arek-arek, yang baru saja mengunggah foto tak biasa di akun Instagramnya. Bukan program kerja, melainkan tangkapan layar balas-balasan komennya dengan seorang netijen pemuda patah hati. Pendekatan yang sama juga sudah lama dilakukan Ganjar Pranowo, Gubernur Jateng, dan terlebih Ridwan Kamil, Gubernur Jabar.

Mereka paham betul bagaimana bahasa yang harus digunakan pada para muda, dan topik apa saja yang menarik dibahas. Eh ralat, mungkin merekanya gak paham, setidaknya tim jubir, tim staf khusus ahli komunikasi, atau tim kampanye 2024-nya yang paham strategi memenangkan hati rakjat.

Hal kedua, ya tetap bermuara pada kesimpulan pejabat takut dengan media. Podcast para youtuber bisa menjadi pelarian yang paling tepat. Sebab hanya di medsos-lah, pejabat-pejabat ini bisa dengan bebas ngobrol soal musik favorit, hobi, bahkan love story. Hanya di sana, mereka bisa libur sejenak dari pertanyaan-pertanyaan memuakkan wartawan media mainstream yang tak pernah lelah “menyudutkan” (baca: mengkritisi).

Tapi gak apa-apa. Saya rasa, media mainstream tak perlu ikut-ikutan gaya youtuber agar disukai masyarakat atau membuat pejabat mau diwawancarai. Media cukup menjadi dirinya sendiri. Sebab apapun dalam kue kehidupan di dunya ini punya potongan dan porsinya masing-masing.

Media idealnya memang pilar keempat demokrasi dengan segala kekakuan prinsip, struktur, dan etika profesinya. Sementara medsos harus tetap ada pada pondasinya untuk membuat masyarakat kita berproses.

Masyarakat kita bisa tetap kok memilih media mainstream sebagai jujugan utama, landasan teori dan mewacanakan diskursus, yang kemudian bisa direalisasikan dalam tukar pendapat di medsos yang tak ada ambang batasnya, kecuali UU ITE.

Tapi, hal yang barusan saya bicarakan di atas itu kayaknya ya hanya harapan kita saja. Hari-hari ini, pembaca semua tahu, media mainstream dan media sosial sudah dikapitalisasi, jika tak terlalu kasar kita menyebutnya dimonopoli, oleh mereka yang berduit dan berkuasa saja, tak mampu membuat kita bebas mencerna dan berbagi wawasan.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Indonesia Harus Mencetak Lebih Banyak Duta 0 328

Judul tulisan ini bukan sekadar bercanda. Kalimat dalam judul saya tuliskan karena kenyataannya, pada titik ini, Indonesia sudah banyak sekali merekrut duta baru.

Sebut saja dua duta masker dari Bekasi dan Surabaya. Mereka bukan datang dari kalangan orang-orang yang punya wawasan mendalam soal pandemi COVID-19, ataupun influencer yang suka mempromosikan protokol kesehatan.

Alkisah seorang pemuda masjid di Bekasi yang memantik adu mulut karena seorang jamaah pakai masker saat salat. Menurut kepercayaannya, dalam Al-Qur’an tak ada ajaran untuk pakai masker saat menjalankan ibadah.

Sementara itu, dari Surabaya, seorang pemuda di suatu mall dengan bangga memamerkan dirinya yang tak pakai masker, dan justru berteriak mengolok-olok pengunjung lain yang taat prokes.

Pembaca sudah tahu kan, apa kelanjutan kisah dari dua orang itu? Keduanya malah dinobatkan jadi duta masker. Hal inilah yang membuat sebagian dari masyarakat naik pitam.

Dari mana logika para pembuat kebijakan dan yang mengangkat mereka menjadi duta berasal? Bagaimana bisa, seorang pelanggar malah diangkat menjadi duta yang harusnya menjadi contoh bagi orang lain? Begitu paling tidak yang juga dikatakan Om Deddy Corbuzier di salah satu potkes “close the door”-nya.

Eits, tapi cara ini tak sepenuhnya salah, loh! Dalam ilmu psikologi, ada yang namanya reward atau penghargaan, dan punishment atau hukuman. Penelitian menyebut, memberi penghargaan lebih efektif daripada menjatuhi hukuman. Gak percaya? Sini saya jelaskan.

Menurut ilmu neuroscience untuk menjelaskan reward, seseorang akan berusaha keras dan melakukan suatu aksi. Ada sinyal di otak yang dipantik oleh neuron dopaminergik di bagian otak tengah yang bergerak ke motor cortex, dan memengaruhi aksi atau perilaku kita.

Mangkanya waktu kecil, kita diiming-imingi orang tua akan dibelikan es krim kalau nilai matematika bagus. Kita lalu berusaha keras untuk belajar siang-malam, mengerjakan soal ujian dengan sungguh-sungguh, agar meraih penghargaan yang telah dijanjikan orang tua.

Sebaliknya, punishment membuat seseorang berusaha untuk menghindari bahaya dengan cara tidak melakukan suatu aksi. Sinyal di otak yang terjadi hampir sama ketika kita memproses reward. Bedanya, punishment membuat sebuah efek “freeze” di otak, sehingga kita tidak jadi melakukan suatu tindakan.

Misalnya, kita diperingati orang tua untuk tidak suka memanjat pagar agar tidak jatuh. Karena kita tahu jika jatuh menyebabkan sakit, berdarah, dan luka, maka kita tak jadi melakukannya.

Nah, dari kedua reaksi otak dan aksi yang ditimbulkannya, peneliti tersebut menyebut otak lebih mudah menerima informasi positif ketimbang negatif. Artinya, ya manusia normal akan lebih mengejar reward dan menjalankan aksi, ketimbang menghindari aksi untuk tidak mendapat punsihment.

Sudah banyak contohnya kata ilmuan. Misalnya orang akan lebih mudah untuk dimotivasi berolahraga dan makan makanan sehat dengan sejumlah reward kecil berupa hadiah, daripada diingatkan tentang bahaya obesitas dan penyakit. Selain itu, masih buanyak contoh penelitian tentang persoalan ini.

Paling mudah lihat ke diri sendiri saja. Kita lebih suka diberi pujian (reward) oleh bos saat kerjaan kita baik. Kita jadi ingin terus-terusan kerja maksimal agar dipuji lagi. Sebaliknya, kita jadi bekerja makin males-malesan dan setengah hati, ketika terus-terusan diberi punishment oleh atasan. (hehe maaf curhat pengalaman pribadi)

Hal yang sama sebenarnya berlaku pada si duta masker, atau duta-duta lain termasuk Duta Sheila on 7. (sorry iki dicoret wae soale guyonane garing koyok bapack-bapack komplek)

Memberi jabatan sebagai duta sama saja dengan memberi penghargaan baru. Sekaligus justru menjadi tanggung jawab. Sebab, setelah menjadi duta, seseorang akan sadar bahwa dirinya menjadi panutan atau tolok ukur masyarakat.

Seperti pemuda di Bekasi yang bernama Nawir itu. Ia kini mengambil hikmah dari ribut-ribut soal masker dan salat itu. Kini ia jadi aktivis mengingatkan jamaah agar memakai masker sebelum memasuki area masjid. Bahkan ia membagi-bagikan secara gratis masker dan hand sanitizer.

Jika dibina baik-baik, pemuda-pemuda pengikut konspirasi elit global yang tak percaya COVID-19 bisa berubah 180 derajat, justru menjadi pelaku protokol kesehatan yang paling taat.

Jangan-jangan, Indonesia harus mulai memikirkan kembali mengapa rakyatnya sulit sekali memakai masker dan menjaga jarak. Seluruh sanksi sosial dan denda para pelanggar prokes mungkin tak cukup efektif. Justru sebaliknya, sediakan saja dana untuk mengangkat duta-duta baru. Selamat mencoba!

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Editor Picks