Lucinta Luna dan Kegatelan Virtual Kita 0 1245

Nasib Lucinta Luna di pengadilan dunia maya oleh para netijen paling intimidatif sekaligus beringas, masih berlanjut juga. Ia dituduh transgender, dan netijen kita—seperti biasa—adalah tipikal spesies paling tekun dalam urusan mengumpulkan bukti. Kalau pembaca yang budiman mencari query google dengan kata kunci “Lucinta Luna transgender”, maka akan berhamburan judul-judul semacam: “Terungkap Fakta Baru, Lucinta Luna Jajakan Diri di Situs Transgender”, atau “6 Bukti Lucinta Luna Transgender”, atau lagi “9 Transformasi Lucinta Luna”, dan seterusnya kalau pembaca merelakan diri untuk menyia-nyiakan waktu dengan mencari berita-berita nggathuli itu.

Semakin Lucinta membantah setengah mati kabar itu, entah bagaimana semakin pula bertambah obsesi orang untuk membuktikan sebaliknya. Sedangkah ini gejala “kegatelan virtual”? Sedangkah ini pertanda Indonesia 2030 bubar?

Coba sodara-sodara pikirken dan renungken, mengapa kita punya energi sebesar itu untuk membuktikan sesuatu yang hampir-hampir tak punya hubungan sama sekali dengan kita. Praenmu iki sopo kok ya masih ngotot menyumpah-serapahi orang yang blas gak hapal dapuranmu? Sudah itu masih ditempeli bejibun nukilan kitab suci: kebiadaban transgender, operasi kelamin yang tak mensyukuri nikmat Tuhan, atau kutukan dan ancaman dosa bagi yang mengabaikan perintah agama. Antum musti tahu juga lho, ngurusi privasi dan rahasia atau aib orang itu dosa juga.

Memang diperlukan sebuah pemikiran serius dan riset yang detil, mengapa meruap sebuah dorongan hewani untuk terus menggunjing dan menyerang di dunia maya. Apakah ini sebuah gejala yang demikian khas secara virtual, atau ini menandakan sesuatu yang lain lagi yang lebih bersifat inheren, melekat dan tersembunyi dalam tiap-tiap individu. Atau ini adalah kecenderungan yang memang diidap oleh orang-orang Indonesia yang memang memiliki pengalaman terlalu minim dalam berurusan dengan media literacy? Atau pertanyaan yang monumental: apa ini ciri Indonesia bubar di 2030?

Kita harus memberi anjuran untuk diri sendiri, disimpan saja dalam hati, bahwa jika pada dunia nyata anda diikat oleh nilai-nilai yang anda imani, demikian pula di dunia virtual. Sekalipun sampeyan bisa menyaru menjadi siapa saja, termasuk dadi asu, itu tak membatalkan sama sekali bahwa anda adalah manungsa . Dan yang anda gunjing, hakimi, hina, dan tuduh, adalah manungsa juga.

 Kadang-kadang penasaran juga, ini orang-orang apa sudah terlalu cerdas untuk mengerti dan sadar gender? Jangan-jangan urusan gender dan hak-hak gender referensinya cuma mentok di habibana Rizieq Shihab (bajigur, antum lama bangets minggatnya—ttd Firza), sehingga pandangan yang kabur diperparah dengan obsesi omong jorok dan maha benar.

Sudahlah sodara handai-taulan sekalian, urusan hidup kita ini masih banyak sekali. Anda yang bermasalah tak perlu menghibur diri dengan mencari orang lain yang jauh lebih bermasalah—sekedar untuk meyakinkan bahwa anda tak lebih runyam dari dia.

Pada akhirnya kita hanya bisa pulang pada definisi azali masing-masing: bahwa kita sama-sama manusia.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Parade Isu Seksi Jelang Peringatan G30S 0 145

Helloh gess, September telah tiba. Ini bulannya hura-hura tentang trauma. Pasti kamu sudah hapal: sebentar lagi kita akan menyimak debat seolah-olah tentang peristiwa 1965. Tapi sedihnya, tulisan ini bukan ke sana.

Kita akan mencoba merunut isu-isu apa yang hadir, coba dihadirkan, atau dipaksa dihadirkan, menjelang peringatan G30S. Isu-isu yang, yaaa, sesuai tradisi, akan memanas dan sering setiap tahunnya merepotkan rejim. Berikut isunya:

  • Perpindahan Ibukota
  • Livi Zheng
  • Djarum yang disetop audisinya oleh KPAI
  • Jokowi main sama putunya
  • Iuran BPJS naik
  • Esemka diresmikan

Apalagi gess?

Ohya, ini penting karena beberapa sebab. Pertama, mengamati isu-isu “tak penting” justru menjadi sangat penting hari ini untuk melihat bagaimana strategi kekuasaan memainkan lalu-lintas diskusi dan menginterupsi tiap isu. Kalau ente jeli, akan tampak bagaimana pengendalian atas persepsi kita dimainkan dan dikonsentrasikan pada hal-hal tertentu, agar hal-hal lain dapat diminimalkan dampaknya.

Tentu saja arahnya dapat ditebak: mendebat Livi Zheng jauh lebih aman ketimbang ente didatangi Kivlan Zen untuk membeberkan rencana kebangkitan PKI. Atau bicara memindah ibukota lebih asyik daripada memperdebatkan jumlah korban sebetulnya pada genosida 65 duluuu sekali.

Kedua, dari isu-isu tersebut, kesemuanya saksess menjadi tren perbincangan. Esemka, BPJS, dan Ibukota berkaitan langsung dengan agenda pemerintah. Perpindahan ibukota yang terparah, terlalu kentara digunakan sebagai “umpan peluru”, seolah-olah ide ini dilempar untuk dihabisi. BPJS dan Esemka sebelas dua belas, memancing sekaligus mengepung orang dengan kontroversi agar terus-menerus diperdebatkan.

Jadi, mari nanti kita tengok menjelang tumbangnya waktu dan mendekatnya tanggal 30, barang sampah apa saja yang akan dihamburkan oleh media kita.

Tapi toh dibawa santai saja! Kadang-kadang terlalu serius juga tak baik bagi kesehatan jiwa.

 

Annabelle Rukhiyat

Selain menekuni permakelaran tanah, penulis juga magang sebagai penjaga ponten.

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 189

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Editor Picks