Menteri Muhadjir dan Ujian UNBK Pengapes Bangsa 0 999

Muhadjir Effendy, menteri kesayangan handai-taulan SMA yang cimut-cimut ini sudah menyakiti hati jutaan jiwa. Mulai dari hati seluruh siswa SMA, wali murid, guru-guru, para kepsek, pokoknya bisa sampai jutaan jiwa. Korbannya dipastikan jauh lebih banyak ketimbang korban sakit hati Raisa-Hamish. Bodohnya, malpraktik ini dilakukan di tahun politk. Hadeuh….

Sebagai mantan anak SMA, saya merasakan betul duka mereka. Bagaimana tidak? Selama ini mereka sekolah dari pagi sampai sore – full day school ini juga gara-gara beliau – belajar dengan cara lower order thinking skill (LOTS) yang sudah diwariskan dari tahun ke tahun. Di kelas 3, mereka secara intensif mengulang pelajaran dari kelas 1 hingga kelas 3. Apalagi, kisi-kisi yang diberi kemendikbud mengenai soal UNBK tidak terlalu spesifik. Alhasil, para siswa harus belajar lebih banyak. Itu berat, lho!

Entah bagaimana, tetiba (kurang dari 15%) soal disulap menjadi higher order thinking skill (HOTS). Sak enake dewe! Bukan main, yang diganti jadi HOTS soal matematika pula! Wah… cari gara-gara, nih! Menurut jurnal karya FJ King, Ludwika Goodson, dan Faranak Rohani, yang berjudul “Higher Order Thinking Skills”, HOTS merupakan perpaduan empat hal, yaitu kemampuan berpikir kritis dan kreatif, kemampuan argumen, serta kemampuan mengambil keputusan. HOTS bukanlah sekadar model soal, tapi juga mencakup model pengajaran. Jadi, seharusnya apabila ingin mengubah gaya belajar siswa, ya jangan soal UN-nya. Tapi sejak kelas 10 baik siswa maupun guru sudah diajarkan sistem pendidikan seperti ini.

Pak, mbok yo dilihat dulu hasil UN yang soal matematikanya masih pake model LOTS aja rata-ratanya tidak sampai 7, lha kok tiba-tiba diubah tanpa pemberitahuan apalagi simulasi. Iyes, menurut keterangan para korban, soal UN-nya beda banget sama soal yang ada di tryout.

Pak Menteri sendiri memiliki alasan untuk meningkatkan peringkat Indonesia di kancah interneisyenel. Selama ini, peringkat Indonesia dalam Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) selalu masuk 10 besar dari 70 negara. Sori, maksudnya 10 terbawah.

Bagaimana mungkin memperbaiki pendidikan hanya dengan mengganti soal UN? Tanpa kisi-kisi dan tryout HOTS pula. Tentu keputusan ini keputusan yang kesusu bin fatal. Saya yakin, yang ada peringkat PISA kita semakin merosot dengan jebloknya nilai UN matematika anak-anak SMA yang super apes ini. KPAI sendiri menilai UNBK kali ini merupakan malpraktik.

Sakit hati para siswa, wali murid, dan guru tidak sampai di situ saja. Jawaban Pak Menteri juga membuat orang yang mendengar atau membaca semakin sebal, nomor 3 bikin tepok jidat! Pak Menteri bilang, “Tetapi jumlahnya kurang dari 15 persen. Jadi mestinya soal yang punya tingkat kesulitan ringan dan sedang jauh lebih banyak.” Ancen wenak nek nggambas tok.

Parahnya, Pak Menteri memberikan statemen yang menggemparkan, “UNBK ini menyesuaikan dengan standar internasional . Kita harus belajar stres dulu, kalau tidak stres nanti belajarnya kurang semangat.” Siapa yang tak emosi bila keluhan kita dibalas dengan becandaan yang tidak lucu ini?! Korban UNBK mana yang bisa menahan diri untuk tidak memisuhi kalimat terakhir Pak Menteri?

Muhadjir Effendy sudah mengecewakan 3,7 juta pemilih pemula – rata-rata umur anak kelas 3 SMA 17 tahun – yang sakit hati dengan sistem pendidikan era sekarang! Pak Muhadjir sudah pasti gagal nyapres!

Jokowi harus memberi sikap tegas dengan memberi sanksi ke Muhadjir Effendy. Sudah malpraktik, merasa benar, dan malah membuat kesulitan siswa jadi becandaan pula. Ignasius Jonan saja kena reshuffle gara-gara keputusan kesusunya dalam menangani kasus angkutan konvensional dan online. Apalagi malpraktik yang telah merugikan 3,7 juta siswa?! Atau setidaknya memberi statemen untuk menenangkan para siswa yang nasibnya seperti di ujung tanduk.

Memang UN bukan penentu kelulusan, tapi bagaimana usaha belajar 3 tahun mereka yang sia-sia? Bagaimana perasaan mereka menyimpan ijazah dengan nilai matematika djisamsoe? Jangan sampai 3,7 juta anak ini terlanjur ilfil dengan pemerintahan Jokowi dan berimbas pada penurunan elektabilitasnya. Saya yakin, kejadian ini akan menjadi amunisi kampanye negatif dari lawan Pak Dhe Jokowi. As we know, kampanye negatif sebetulnya lebih berbahaya dan ampuh dari kampanye hitam karena berdasarkan fakta dan data.

Saran penulis, Muhadjir Effendy harus memberi itikad baik membonuskan soal-soal HOTS untuk menyelamatkan nyawa 3,7 juta anak dan suara Pak Dhe. Hehehe….

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dukun Abal-abal dan Fitnah pada Genderuwo Nakal 0 144

Oleh: Yogi Dwi Pradana*

 

Nasib tragis dialami seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Aisyah. Ia menjadi sebuah korban percobaan dukun abal-abal di Desa Bejen, Kecamatan Bejen, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Aisyah meninggal dunia setelah disuruh memakan cabai dan bunga mahoni oleh dukun abal-abal tersebut, serta ia diminta menenggelamkan kepala di dalam air untuk mengetahui apakah benar Aisyah ini keturunan genderuwo atau bukan.

Kisah ini tragis, tapi juga aneh. Sebab, setahu saya dari cerita rakjat, genderuwo tidak seiseng itu untuk merasuki anak kecil dan membuatnya jadi nakal. Salah satunya adalah Mbah Wagini dari Alas Purwo. Ia diyakini sebagai seorang keturunan genderuwo dengan seluruh badannya ditumbuhi bulu lebat.

Walaupun terlihat menakutkan, Mbah Wagini di alam gaib adalah makhluk yang dipuja. Begitu kata Eyang Ratih, pengasuhnya sejak kecil. Dan dia tidak nakal ya, ingat. Gak semua genderuwo seperti kata dukun abal-abal itu.

Poin lain yang mengherankan bagi saya dari peristiwa ini adalah, motivasi sang orang tua membawa Aisyah ke dukun. Tentu, setelah bertahun-tahun mengasuhnya, mereka sampai pada titik lelah, sehingga tak sanggup lagi mengatasi kenakalan si anak dengan kekuatannya sendiri.

Padahal, bukankah 7 tahun adalah usia normal anak bersikap aktif dan banyak tingkah misalnya, jika demikian yang dikategorikan nakal oleh kebanyakan orang. Di usia ini, anak sudah siap masuk ke jenjang sekolah dasar dan siap beradaptasi dengan hal-hal yang baru ia temui. Justru peranan orang tua dalam mendidik anak di usia ini sangat penting.

Menurut saya yang belum punya anak ini, masih ada banyak jalan yang bisa ditempuh untuk mendidik anak nakal usia 7 tahun. Misalnya, mengedepankan komunikasi dengan anak. Aktif berbincang untuk mengetahui apa yang dipikirkan dan diinginkan si anak. Selanjutnya, ajak anak untuk terbiasa mengatasi masalah secara bersama-sama. Orang tua tugasnya kan membimbing, bukan cuma ngasih makan.

Beberapa poin yang saya sebut tadi, ujungnya adalah agar orang tua bisa mengenali sisi emosi anak. Kalau orang tua kesusahan, “anak nakal” seharusnya bisa diatasi oleh ahlinya. Konsultasi ke psikolog misalnya.

Anak yang nakal seharusnya mendapat edukasi dari orang tua, bukan malah dibawa ke dukun untuk dirukiyah. Kan kita semua tahu, sudah banyak kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi ketika menyelesaikan masalah dengan dukun.

Salah satu kisah soal ini datang Nanang (bukan nama sebenarnya) dari Tasikmalaya, Jawa Barat yang mengaku sebagai dukun. Alih-alih mengobati pasien, Nanang meminta pasien-pasien yang datang padanya untuk melayani hasrat seksualnya.

Eits, tapi tidak semua dukun itu abal-abal dan nol keahlian ya. Nyuwun pangapunten Mbah Dukun! Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk melarang pembaca datang ke dukun (semua kembali ke kepercayaan masing-masing).

Tapi dari pengalaman ini kita belajar, untuk mengatasi persoalan dengan hati dan wawasan yang luas. Jika sudah mentok dengan usaha sendiri, baiknya memang datang ke pakar dengan ilmu yang pasti-pasti aja.

 

*)Seorang mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di organisasi Susastra KMSI UNY, bergiat di komunitas sastra Lampu Tidurmu, dan menjadi penulis artikel di UNY Community.

*) Ilustrasi oleh Brigitha Aidha Jannah

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 144

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks