Menteri Muhadjir dan Ujian UNBK Pengapes Bangsa 0 675

Muhadjir Effendy, menteri kesayangan handai-taulan SMA yang cimut-cimut ini sudah menyakiti hati jutaan jiwa. Mulai dari hati seluruh siswa SMA, wali murid, guru-guru, para kepsek, pokoknya bisa sampai jutaan jiwa. Korbannya dipastikan jauh lebih banyak ketimbang korban sakit hati Raisa-Hamish. Bodohnya, malpraktik ini dilakukan di tahun politk. Hadeuh….

Sebagai mantan anak SMA, saya merasakan betul duka mereka. Bagaimana tidak? Selama ini mereka sekolah dari pagi sampai sore – full day school ini juga gara-gara beliau – belajar dengan cara lower order thinking skill (LOTS) yang sudah diwariskan dari tahun ke tahun. Di kelas 3, mereka secara intensif mengulang pelajaran dari kelas 1 hingga kelas 3. Apalagi, kisi-kisi yang diberi kemendikbud mengenai soal UNBK tidak terlalu spesifik. Alhasil, para siswa harus belajar lebih banyak. Itu berat, lho!

Entah bagaimana, tetiba (kurang dari 15%) soal disulap menjadi higher order thinking skill (HOTS). Sak enake dewe! Bukan main, yang diganti jadi HOTS soal matematika pula! Wah… cari gara-gara, nih! Menurut jurnal karya FJ King, Ludwika Goodson, dan Faranak Rohani, yang berjudul “Higher Order Thinking Skills”, HOTS merupakan perpaduan empat hal, yaitu kemampuan berpikir kritis dan kreatif, kemampuan argumen, serta kemampuan mengambil keputusan. HOTS bukanlah sekadar model soal, tapi juga mencakup model pengajaran. Jadi, seharusnya apabila ingin mengubah gaya belajar siswa, ya jangan soal UN-nya. Tapi sejak kelas 10 baik siswa maupun guru sudah diajarkan sistem pendidikan seperti ini.

Pak, mbok yo dilihat dulu hasil UN yang soal matematikanya masih pake model LOTS aja rata-ratanya tidak sampai 7, lha kok tiba-tiba diubah tanpa pemberitahuan apalagi simulasi. Iyes, menurut keterangan para korban, soal UN-nya beda banget sama soal yang ada di tryout.

Pak Menteri sendiri memiliki alasan untuk meningkatkan peringkat Indonesia di kancah interneisyenel. Selama ini, peringkat Indonesia dalam Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) selalu masuk 10 besar dari 70 negara. Sori, maksudnya 10 terbawah.

Bagaimana mungkin memperbaiki pendidikan hanya dengan mengganti soal UN? Tanpa kisi-kisi dan tryout HOTS pula. Tentu keputusan ini keputusan yang kesusu bin fatal. Saya yakin, yang ada peringkat PISA kita semakin merosot dengan jebloknya nilai UN matematika anak-anak SMA yang super apes ini. KPAI sendiri menilai UNBK kali ini merupakan malpraktik.

Sakit hati para siswa, wali murid, dan guru tidak sampai di situ saja. Jawaban Pak Menteri juga membuat orang yang mendengar atau membaca semakin sebal, nomor 3 bikin tepok jidat! Pak Menteri bilang, “Tetapi jumlahnya kurang dari 15 persen. Jadi mestinya soal yang punya tingkat kesulitan ringan dan sedang jauh lebih banyak.” Ancen wenak nek nggambas tok.

Parahnya, Pak Menteri memberikan statemen yang menggemparkan, “UNBK ini menyesuaikan dengan standar internasional . Kita harus belajar stres dulu, kalau tidak stres nanti belajarnya kurang semangat.” Siapa yang tak emosi bila keluhan kita dibalas dengan becandaan yang tidak lucu ini?! Korban UNBK mana yang bisa menahan diri untuk tidak memisuhi kalimat terakhir Pak Menteri?

Muhadjir Effendy sudah mengecewakan 3,7 juta pemilih pemula – rata-rata umur anak kelas 3 SMA 17 tahun – yang sakit hati dengan sistem pendidikan era sekarang! Pak Muhadjir sudah pasti gagal nyapres!

Jokowi harus memberi sikap tegas dengan memberi sanksi ke Muhadjir Effendy. Sudah malpraktik, merasa benar, dan malah membuat kesulitan siswa jadi becandaan pula. Ignasius Jonan saja kena reshuffle gara-gara keputusan kesusunya dalam menangani kasus angkutan konvensional dan online. Apalagi malpraktik yang telah merugikan 3,7 juta siswa?! Atau setidaknya memberi statemen untuk menenangkan para siswa yang nasibnya seperti di ujung tanduk.

Memang UN bukan penentu kelulusan, tapi bagaimana usaha belajar 3 tahun mereka yang sia-sia? Bagaimana perasaan mereka menyimpan ijazah dengan nilai matematika djisamsoe? Jangan sampai 3,7 juta anak ini terlanjur ilfil dengan pemerintahan Jokowi dan berimbas pada penurunan elektabilitasnya. Saya yakin, kejadian ini akan menjadi amunisi kampanye negatif dari lawan Pak Dhe Jokowi. As we know, kampanye negatif sebetulnya lebih berbahaya dan ampuh dari kampanye hitam karena berdasarkan fakta dan data.

Saran penulis, Muhadjir Effendy harus memberi itikad baik membonuskan soal-soal HOTS untuk menyelamatkan nyawa 3,7 juta anak dan suara Pak Dhe. Hehehe….

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tak Ada Kejutan di Comeback Tonight Show 0 220

“Tonight’s mania??? Mantap!!”

Slogan begini sudah bisa ditemui lagi di layar kaca, ya? Bukannya kemarin sedih-sedihan setelah 7 tahun beracara dan malah berpamitan?

1 Juni kemarin acara Tonight Show di stasiun televisi yang mengklaim dirinya sebagai “masa kini” sudah bisa kembali dinikmati pemirsa. Memenuhi keinginan penonton garis kerasnya yang minta ditayangkan lagi barangkali menjadi salah satu alasan.

Sebelum wajah barunya yang sekarang, Tonight Show versi Indonesia – kita semua tahu kan, ada Tonight Show with Jimmy Fallon versi NBC – ini sudah berkali-kali ganti formasi. Sempat dibawakan oleh Arie Untung, juga diisi Aurellie sebagai co-host. Hingga akhirnya formasi yang empat orang sekarang ini – Vincent, Desta, Heti, Enzy – menjadi yang katanya paling difavoritkan penonton.

Perlu diakui memang, kemistri di antara mereka seakan nampak nyata di depan kamera. Kata netijen “ketawanya nular”. Tipikal host rame-an yang banyak melempar joke internal, namun mampu dipahami se-Indonesia raya.

Saat mengaku pamit 25 April lalu, mereka sebetulnya tidak benar-benar hilang dari peredaran dunia hiburan. Mereka membangun platform online, menghelat channel Youtube, yang belum ada kontennya saja sudah meraup 500 ribu lebih subscribers. Beda jauh kan sama kalian yang sudah tahunan juga subscribernya segitu-segitu aja. Thanks to nama besar dan popularitas.

Selama bulan puasa kemarin, mereka rajin menggelar live streaming dengan maksud menyapa para fans yang terkenal militan. Fans-nya bukanlah sebuah fandom biasa. Mereka bukan hanya yang setia menonton dan menunggu live Youtube, tapi bahkan telah berkumpul, saling bertemu, dan menggelar aksi penggalangan dana dalam rangka penanggulangan dampak pandemi.

Keempat figur publik ini sadar, bahwa televisi bukanlah satu-satunya yang bisa diandalkan di hari-hari ini. Bahwa semua saja harus mulai merayu pengguna dunia maya, memperkenalkan diri, membangun kerajaan bisnis di dalamnya.

Jika dulu “waktu” adalah musuh paling kuat di dunia, kini ia disubstitusi oleh “netijen”. Sebab netijen lah yang punya kemerdekaan menentukan jenis tayangan apa yang hendak ditonton, kapan dan di mana akan menyaksikannya. Konsekuensinya tentu pula menentukan nasib hajat hidup pekerja dunia hiburan.

Hal ini pun sudah disadari perusahaan media televisi. Pemilihan jam tayang di pukul 7 malam alias prime time, mengadu domba penonton sinetron dan acara dengan penonton bayaran di channel sebelah, bukan tanpa alasan. Mereka sadar betul, segmentasi penonton mereka adalah masyarakat urban penggemar on demand, TV kabel atau Youtube.

Tenang. Mereka tahu betul strategi apa yang harus diambil dalam perang ini. Bintang tamu dipilih dengan seksama.  Nassar saat tayangan edisi lebaran dan Rina Nose di pembukaan Juni. Merekalah yang punya daya tarik, yang mampu menggoda penonton untuk mengambil remot TV, yang membuat penonton mengganti channel demi seorang idola.

Selamat datang Iis Dahlia, Soimah, Raffi Ahmad, Ruben Onsu, dan Vicky Prasetyo! Bukan tidak mungkin kan, mereka adalah alternatif bintang tamu selanjutnya?

Dalam peperangan ini, musuh program-program televisi adalah mereka yang jatuh dalam dunia streaming dan anti-FTA (free to air). Sesungguhnya segala ragam games atau pertaruhan menggelar gimmick akan sia-sia belaka di hadapan kuasa netijen.

Musuh media mainstream kini adalah media online, sang adikuasa yang tak masuk hitungan rating and share Nielsen. Pilihannya ada dua: adaptasi atau mati.

Pada akhirnya, Tonight Show adalah satu lagi catatan tentang media kita yang berdilema antara bisnis dan idealis. Tidak ada yang baru bukan? Tak ada yang mengejutkan.

Bagaimana Seharusnya Kita Tanggapi Pelantikan Menteri 0 296

Kita semua setuju 2 hal ini sebagai persoalan utama bangsa:
1. Mau keluar dari grup Whatsapp, tapi sungkan, akhirnya di-mute aja
2. Pilpres-pilpresan nan sangat melelahkan

Bagaimana tidak? Proses dari penentuan capres-cawapres, kampanye, pemilu, sampai finalisasi kabinet memakan waktu lebih dari 1 tahun, terlama sepanjang sejarah. Pemilu periode ini memang yang terbesar korbannya, yang harus dicatat dalam sejarah.

Pun harus dicatat pula bahwa kali ini, baik eksekutif maupun legislatif pilihan kalean semuah, diisi orang-orang dari partai sama di pucuk pimpinannya. Kecuali MPR, yang yaaah… ketuanya juga dari kubu koalisi.

Beli 01, gratis 02. Begitu katanya arek-arek di social media. Prabowo, capres 2 periode berturut-turut yang sangat macho dan mantap jadi oposisi selama ini, kini “ciut”, memilih “bertahan hidup”, naik satu “gerbong (MRT)” yang sama dengan lawannya, Jokowi, di Kabinet Indonesia Maju.

Keputusan petinggi Gerindra tersebut, yang jelas menyuratkan sikap politik partai ini, menghasilkan reaksi dari rakyat. Ada yang kecewa berat, ada pula yang kecewa sangat berat.

Yang kecewa-kecewa itu kebanyakan mengimpikan Prabowo, pahlawan junjungannya itu, tetap jadi oposisi saja. Tentu tetap dengan semangat mempertahankan check and balances agar tetap berjalan di pemerintahan. Eh, tapi ujung-ujungnya si doi luluh juga, merapat ke sisi istana.

Walau begitu, Prabowo dan kawan-kawan Gerindra-nya berjanji untuk tetap kritis walau mendukung pemerintahan. Sungguh sebuah semangat dan prinsip yang patriotik. Walau kita tak tahu, apa dan bagaimana definisi serta batasan “sikap kritis” itu.

Tak hanya Prabowo, sejumlah deretan menteri yang diumumkan 3 hari sesudah pelantikan Jokowi-Ma’ruf ini, membuat netijen kaget… dan nyinyir.

Nadiem Makarim, yang tak punya bekgron tersertifikasi di bidang pendidikan dan kebudayaan itu, justru jadi Mendikbud. Zainudin Amali, yang suka jalan pagi dan berenang itu, ditunjuk jadi Menpora. Bu Susi, putri laut kebanggaan rakjat itu, tak melaju lagi dan alih-alih kursinya diisi Edhy Prabowo, waketum Gerindra.

Hal paling memuakkan bagi saya bukanlah soal masih banyak deretan nama lain yang mengejutkan. Tapi, karena kita semua merasa tiba-tiba paling mahir menganalisa wawasan dan kapabilitas bapak-ibu menteri ini. Kita tiba-tiba menjadi paling ahli di antara yang ahli.

Seluruh warga dunia maya kini merasa punya kekuatan untuk mengemukakan pendapatnya. Nge-twit, bikin status, bikin video klarifikasi, membuat daftar nama ideal yang seharusnya dipilih Jokowi. Tak peduli itu masih bursa calon, atau bahkan setelah pelantikan sekalipun.

Kenapa kok yang ini gak dipertahankan dan malah didepak? Padahal bagus banget loh kerjanya.”

“Kenapa Jokowi tetep milih si ini sih?

Ocehan-ocehan kayak begini bahkan tak hanya muncul di linimasa media sosial, atau bertengger di grup Whatsapp yang kita sungkan buat keluarnya.

Masih mending kalau argumen yang disampaikan didasari analisis track record dan tantangan bidang yang bersangkutan dalam kondisi terkini. Lah wong kadang penilaiannya sangat subjektif. Bahkan terkesam memendam dendam kesumat pada sebagian orang yang sempat dikenal secara personal.

Seberapa jauh sih kalian kenal mereka dan pemetaan kursi menteri? Seberapa jauh pengamatan kalian pada latar belakang situasi kondisi, persoalan, dan tantangan bidang-bidang kementerian?

Mereka yang hari ini telah dilantik telah menunjukkan performa terbaiknya. Entah berhasil berprestasi di periode sebelumnya, hingga dipinang jadi menteri lagi. Entah karena telah bertekun dalam bidang profesinya. Atau karena pandai memanfaatkan resources dan lobi-lobian politik.

Satu-satunya cara untuk bisa menilai menteri sesungguhnya hanya dari hasil karyanya nanti. Pun reshuffle-reshuffle-an tak bisa jadi ukuran. Siapa yang pernah tahu kalau reshuffle bukan semata-mata karena “kemandulan” produktivitas menteri? Bisa jadi kan karena konsensus dan sikut-menyikut koalisi-oposisi parpol?

Lantas apa yang bisa kita lakukan sebagai bangsa? Apakah diam saja dan tak boleh proaktif mengawal pemerintah?

Demokratis boleh, sok tahu jangan. Ati-ati aja. Negara mana sih yang suka rakyatnya terlalu pinter? Apa-apa yang ‘terlalu’ itu gak baik bagi kesehatan.

Pada akhirnya, hidup bernegara ini memang harus dihadapi dengan santuy. Jangan terlalu banyak mikiri! Apa gak capek 1 tahun belakangan ini ngurusi Jokowi terooooos?

Mari kita senderkan punggung, nonton sertijab menteri-menteri ini dari layar kaca! Sembari menikmati buah salak yang dikupas Nia Ramadhani.

 

Foto: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia (setneg.go.id)

Editor Picks