Menteri Muhadjir dan Ujian UNBK Pengapes Bangsa 0 501

Muhadjir Effendy, menteri kesayangan handai-taulan SMA yang cimut-cimut ini sudah menyakiti hati jutaan jiwa. Mulai dari hati seluruh siswa SMA, wali murid, guru-guru, para kepsek, pokoknya bisa sampai jutaan jiwa. Korbannya dipastikan jauh lebih banyak ketimbang korban sakit hati Raisa-Hamish. Bodohnya, malpraktik ini dilakukan di tahun politk. Hadeuh….

Sebagai mantan anak SMA, saya merasakan betul duka mereka. Bagaimana tidak? Selama ini mereka sekolah dari pagi sampai sore – full day school ini juga gara-gara beliau – belajar dengan cara lower order thinking skill (LOTS) yang sudah diwariskan dari tahun ke tahun. Di kelas 3, mereka secara intensif mengulang pelajaran dari kelas 1 hingga kelas 3. Apalagi, kisi-kisi yang diberi kemendikbud mengenai soal UNBK tidak terlalu spesifik. Alhasil, para siswa harus belajar lebih banyak. Itu berat, lho!

Entah bagaimana, tetiba (kurang dari 15%) soal disulap menjadi higher order thinking skill (HOTS). Sak enake dewe! Bukan main, yang diganti jadi HOTS soal matematika pula! Wah… cari gara-gara, nih! Menurut jurnal karya FJ King, Ludwika Goodson, dan Faranak Rohani, yang berjudul “Higher Order Thinking Skills”, HOTS merupakan perpaduan empat hal, yaitu kemampuan berpikir kritis dan kreatif, kemampuan argumen, serta kemampuan mengambil keputusan. HOTS bukanlah sekadar model soal, tapi juga mencakup model pengajaran. Jadi, seharusnya apabila ingin mengubah gaya belajar siswa, ya jangan soal UN-nya. Tapi sejak kelas 10 baik siswa maupun guru sudah diajarkan sistem pendidikan seperti ini.

Pak, mbok yo dilihat dulu hasil UN yang soal matematikanya masih pake model LOTS aja rata-ratanya tidak sampai 7, lha kok tiba-tiba diubah tanpa pemberitahuan apalagi simulasi. Iyes, menurut keterangan para korban, soal UN-nya beda banget sama soal yang ada di tryout.

Pak Menteri sendiri memiliki alasan untuk meningkatkan peringkat Indonesia di kancah interneisyenel. Selama ini, peringkat Indonesia dalam Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA) selalu masuk 10 besar dari 70 negara. Sori, maksudnya 10 terbawah.

Bagaimana mungkin memperbaiki pendidikan hanya dengan mengganti soal UN? Tanpa kisi-kisi dan tryout HOTS pula. Tentu keputusan ini keputusan yang kesusu bin fatal. Saya yakin, yang ada peringkat PISA kita semakin merosot dengan jebloknya nilai UN matematika anak-anak SMA yang super apes ini. KPAI sendiri menilai UNBK kali ini merupakan malpraktik.

Sakit hati para siswa, wali murid, dan guru tidak sampai di situ saja. Jawaban Pak Menteri juga membuat orang yang mendengar atau membaca semakin sebal, nomor 3 bikin tepok jidat! Pak Menteri bilang, “Tetapi jumlahnya kurang dari 15 persen. Jadi mestinya soal yang punya tingkat kesulitan ringan dan sedang jauh lebih banyak.” Ancen wenak nek nggambas tok.

Parahnya, Pak Menteri memberikan statemen yang menggemparkan, “UNBK ini menyesuaikan dengan standar internasional . Kita harus belajar stres dulu, kalau tidak stres nanti belajarnya kurang semangat.” Siapa yang tak emosi bila keluhan kita dibalas dengan becandaan yang tidak lucu ini?! Korban UNBK mana yang bisa menahan diri untuk tidak memisuhi kalimat terakhir Pak Menteri?

Muhadjir Effendy sudah mengecewakan 3,7 juta pemilih pemula – rata-rata umur anak kelas 3 SMA 17 tahun – yang sakit hati dengan sistem pendidikan era sekarang! Pak Muhadjir sudah pasti gagal nyapres!

Jokowi harus memberi sikap tegas dengan memberi sanksi ke Muhadjir Effendy. Sudah malpraktik, merasa benar, dan malah membuat kesulitan siswa jadi becandaan pula. Ignasius Jonan saja kena reshuffle gara-gara keputusan kesusunya dalam menangani kasus angkutan konvensional dan online. Apalagi malpraktik yang telah merugikan 3,7 juta siswa?! Atau setidaknya memberi statemen untuk menenangkan para siswa yang nasibnya seperti di ujung tanduk.

Memang UN bukan penentu kelulusan, tapi bagaimana usaha belajar 3 tahun mereka yang sia-sia? Bagaimana perasaan mereka menyimpan ijazah dengan nilai matematika djisamsoe? Jangan sampai 3,7 juta anak ini terlanjur ilfil dengan pemerintahan Jokowi dan berimbas pada penurunan elektabilitasnya. Saya yakin, kejadian ini akan menjadi amunisi kampanye negatif dari lawan Pak Dhe Jokowi. As we know, kampanye negatif sebetulnya lebih berbahaya dan ampuh dari kampanye hitam karena berdasarkan fakta dan data.

Saran penulis, Muhadjir Effendy harus memberi itikad baik membonuskan soal-soal HOTS untuk menyelamatkan nyawa 3,7 juta anak dan suara Pak Dhe. Hehehe….

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Polemik Hubungan Asmara KPK 1 103

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memasuki usia 17 tahun. Sebuah batas usia yang sesuatu kalau buat manusia. Ketika seluruh organ reproduksi sudah memasuki masa subur. Ketika seseorang sudah tidak perlu sembunyi-sembunyi membeli minuman keras dan rokok di supermarket. Ketika seseorang juga sudah sah mengendarai kendaraan menembus jalanan.

Di samping itu, usia dewasa menjadikan seseorang juga dianggap bisa menentukan arah hidup sendiri. Seseorang sudah dipercaya memiliki kesadaran penuh bahwa seluruh tindak-tanduknya memiliki risiko tersendiri.

Tapi tidak dengan KPK. Justru, di tengah kesuksesannya yang makin hari makin dipercaya rakyat, ia malah dikuliti dan dilemahkan atas dasar wacana revisi Undang-undang KPK. Yang diberi dewan pengawas lah, yang dibatasi penyadapannya lah. Ada saja caranya agar DPR ke depan tidak banyak yang kena OTT lagi.

Pembahasan revisi UU ini sengaja dimunculkan bersandingan dengan agenda pemilihan calon pimpinan baru, menggantikan jabatan Agus Rahardjo dan kawan-kawan. Sejumlah nama kemudian disepakati 13 September lalu sebagai pucuk pimpinan tertinggi KPK, setelah melalui formalitas fit and proper test.

Rentetan musibah yang menimpa lembaga independen pembasmi rasuah ini begitu panjang. Sungguh dukacita mendalam bagi mereka para pegiat anti-korupsi garis keras.

Entah layak disandingkan ataupun tidak, penulis hendak menguatkan hati pembaca sekalian. Bahwa penderitaan KPK sama-sama bertubi-tubinya dengan penderitaan atas nama cinta milik qlean semua!

Berikut ini daftarnya:

Kadaluarsa kepercayaan

Wacana pembentukan dewan pengawas bagi KPK menuai kritik sana-sini. Tapi, dalih penjagaan KPK agar sesuai fungsi utamanya selalu diusahakan anggota dewan. Bahkan, hampir seluruh capim mempertegas dukungannya terhadap kehadiran dewan pengawas. Jika lembaga pers yang independen pula saja punya dewan pers, seharusnya KPK juga punya, begitu tukas mereka.

Padahal, menurut Lembaga Survei Indonesia, KPK adalah lembaga teratas yang mendapat kepercayaan publik. Polisi, pengadilan, apalagi partai politik dan DPR jauh tertinggal di bawah. Mulai dari 2016-2018, tingkat kepuasan rakyat akan kinerja KPK dalam memberantas korupsi sangat tinggi, di angka 70%.

Jika rakyat sudah percaya, mulut dan tangan KPK mana lagi yang kau dustakan? Kenapa masih butuh dewan pengawas seakan-akan ke depan KPK akan melanggar hakikatnya?

Sama seperti kamu-kamu semua, yang sudah sangat percaya dengan sang pacar. Jika mas/mbak pacar dipercaya setia denganmu seorang, kan gak mungkin to kamu repot-repot stalking, pasang penyadap, atau bahkan menyewa mata-mata untuk mengawasinya?

Eh tapi, kepercayaan pada manusia itu kan sifatnya dinamis ya? Yang di awal pacaran setia, bisa saja besok lusa selingkuh loh! Hehe.

Ndablek

Sudah sekian juta orang menasehatimu untuk tidak memacari doi. Mereka bilang, reputasi doi  buruk dan akan membahayakan masa depanmu kalau masih terus dipaksakan. Tapi kamu tetap ndablek, tetap membuka hati dan mengobral kasih sayang.

Seperti itu mungkin sikap DPR ketika memutuskan untuk memenangkan Firli Bahuri secara mutlak: 56 suara, meninggalkan 9 calon lainnya. Padahal, hari kemarinnya, petinggi KPK sudah mengultimatum bahwa polisi mantan Deputi Penindakan KPK itu sudah melakukan pelanggaran etik berat.

Eh tapi, kan doi berprestasi banget! Melalangbuana jadi kapolres, kapolda, ajudan presiden, dan kenal sejumlah kepala daerah pula! Deretan CV-nya yang luar biasa itulah yang membuat kita harus sayang! Memberi kesempatan kedua, berharap ia akan berubah menjadi lebih baik. Yang penting dijalani dulu aja, ya!

Ngambek

Masih berhubungan dengan poin kedua, Saut Situmorang menyatakan mundur dari pimpinan KPK terhitung 16 September ini. Ia menyesal dengan keputusan para petinggi Senayan yang malah memenangkan Firli. Wes dikandani, sek ndablek ae!

Saut Situmorang adalah kita-kita yang sudah lelah memperjuangkan segalanya demi doi. Memang, menyerah adalah cara terbaik untuk mengistirahatkan diri sendiri. Situ mau ngapain, terserah!

Dari sekian daftar yang telah dirinci di atas, adakah pembaca yang hendak tambahkan?

Korupsi, KPK, dan pemerintah punya hubungan asmara yang memang serba rumit. Seperti kisah cintamu yang gak tahu kapan berlabuhnya, demikian pula dengan polemik korupsi di negeri +62 ini.

Surat Terbuka untuk Livi Zheng 0 340

Nama Livi Zheng kini ramai “dibakar” di media. Banyak yang mencemooh Livi di tengah perjuangannya berkarya. Sebagai insan pecinta film, saya hendak mengajukan pembelaan terhadap yang bersangkutan.

Perlu diingat oleh warga alam semesta dari mana Livi menuntut ilmu. Tidak main-main, S1 ia tempuh di Washington dan S2 secara khusus mengambil jurusan Cinematic Arts di Southern California. Ia sudah memulai karir di dunia perfilman sejak usia belia, 25 tahun! Ya, di saat kamu-kamu semua di usia yang sama, kehidupan dan pekerjaannya masih gitu-gitu aja.

Di usia ke-30, ia sudah berhasil menelorkan dua karya yang katanya dia sendiri hebat luar biasa, Brush with Danger dan Bali: Beats of Paradise. Jelas ini prestasi yang perlu diakui.

Memangnya ada berapa anak bangsa yang bisa sekolah di luar negeri, di kampus yang bergengsi pula? Berapa banyak sih sutradara Indonesia yang betulan niat belajar film sampai ke negeri tetangga? Apalagi, tempat Livi mencari ilmu, Amerika Serikat, merupakan pusat perfilman dunia!

Berapa banyak juga sutradara yang sudah berdomisili di luar negeri, masih mau kembali ke Indonesia dan menggarap film dengan tema yang mengangkat kekayaan budaya bangsa? Bicara karya, berapa banyak juga sih sutradara Indonesia yang filmnya bisa tembus ke layar lebar Ameriki? Livi lah salah satunya yang bisa. Fakta tersebut harus kauterima, wahai Netijen!

Berbagai media kini berlomba-lomba mengorek latar belakang Livi Zheng. Bahkan sampai bisa mengurutkan silsilah keluarga berikut gurita bisnisnya. Detektif betul kerjaan jurnalis ini.

Namun, jika memang demikian adanya, bahwa Livi dilahirkan di keluarga beruntung yang bermodal besar, lantas kenapa? Ia punya ketertarikan di film, memanfaatkan kekayaan keluarga untuk membuat dan mempromosikan sendiri filmnya. Apa yang salah dari hal itu? Salahkah jadi horang kayah?

Pun bagaimana taipan Gunawan Witjaksono dan Lilik Juliati, orang tua Livi, menyokongnya soal gurita relasi. Hal ini dikritik tajam oleh media dan teman sutradara Indonesia lainnya.

Sekali lagi, saya merenung, apa yang salah dari punya relasi banyak? Orang top-top di Indonesia pula, mulai dari wakil presiden Jusuf Kalla, lord segala menteri Luhut Binsar Panjaitan, hingga Kapolri Tito Karnavian. Bukankah bagus berkawan baik dengan pemangku jabatan di negeri ini? Bukankah ini menandakan kelihaian Livi sekeluarga membangun relasi?

Jika seorang Livi Zheng berhasil meminta pejabat tinggi negara mempromosikan filmnya, berarti ia tidak cuma asal bisa berkarya dan hanya tahu dapur persyutingan, tapi juga cara mempromosikan karyanya sendiri. Gimana karya bisa berhasil jika tidak dipromosikan? Gak usah sok idealis lah kamu!

Tipe manusia itu berbeda-beda. Orang yang berkarya dan membiarkan karyanya sendiri yang berbicara, tidak mutlak lebih baik daripada orang yang koar-koar supaya karyanya dikenal orang. Asal Joko Anwar tahu, memanfaatkan profil diri dan relasi adalah strategi cerdas Livi Zheng membuat karyanya dikenal orang.

Pun di sebuah acara talkshow salah satu televisi nasional, alih-alih ingin menjernihkan perspektif masyarakat yang sudah terlanjur teracuni imej jelek Livi, malah ia semakin disudutkan. Tetapi, mau tidak mau Livi harus menaati formatan duduk dan arah talkshow yang bertujuan menghakiminya.

Bayangkan! Satu orang Livi, dihakimi 6 orang sutradara, produser, jurnalis, dan kritikus film. Kasihan, tahu! Mbok nek meh debat siji-siji, ojok tawuran!

Apa gak cukup kalian semua merendahkan martabat Livi Zheng sebagai sineas muda berbakat di media sosial? Gimana Indonesia mau maju, kalau setiap anak bangsa yang berkarya direndahkan begini, bukannya didukung?

Pokoknya untuk Kak Livi Zheng, kudu semangat terus! Film-film yang mengangkat budaya Indonesia darimu akan selalu kutunggu! (sembari menebak-nebak pejabat siapa lagi yang testimoninya akan diikutsertakan)

 

Editor Picks