Panduan Ghibah untuk Zumi Zola 0 373

Oleh: Michelle Florencia*

“Resmi Ditahan, Inilah Deretan Artis Cantik yang Pernah Dekat Dengan Zumi Zola”.

Begitulah judul sebuah artikel di suatu portal berita online ketika saya mengetik “Zumi Zola ditahan” di gugel. Tidak, saya tidak akan berkomentar mengenai EYD-nya yang salah, tapi isi artikel itu sendiri yang begitu menggelitik saya. Artikel cap opo iki?!

Sesuai judulnya, artikel ini membahas wanita-wanita yang pernah dekat dengan mantan Bupati Jambi ini. Dan ternyata, yang artis cuma satu. Hmmm… kenek bojok, su!

Berita ini dirilis sehari setelah penangkapan mantan Bupati yang kalo senyum bisa bikin cewek-cewek semaput, yaitu pada hari Selasa (10/02). Ya, Zumi Zola memang menjadi hot potato! Mungkin, Sang Jurnalis berpikir apapun yang mengandung “Zumi Zola” akan menjadi berita yang “menarik” bagi kalangan, khususnya ibu-ibu tukang rumpi – bodohnya, saya juga meng-klik berita ecek-ecek ini. Selain itu, mungkin fakta-fakta yang didapatkan portal berita online ini mengenai penahanan mantan tunangan Ayu Dewi ini tampak terbatas. Otomatis, pemberitaan mengenai penangkapan Zumi Zola juga terbatas.

Tapi, karena nama Zumi Zola merupakan news value yang harus dimaksimalkan penggunaannya dan fakta tentang penangkapannya terbatas, dibuatlah artikel yang nyeleneh dari kasus yang sedang umub ini. Wes, opo ae pokok’e onok jenenge Zumi Zola!

Poin pertama yang ingin saya kritisi ialah artikel yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus yang terjadi, penahanan Zumi Zola oleh KPK. Dimana korelasi deretan wanita yang pernah atau sedang menghiasi hidup Zumi Zola dengan kasus suapnya?!

Yang kedua, berita seperti ini mengaburkan permasalahan utama yang terjadi. Ghibahan mengenai mantan-mantan Zumi Zola ini mendistraksi publik yang awalnya membahas penahanan menjadi barisan para mantan. Membahas masa lalu kelam para tokoh – apalagi tentang mantan dan affair – memang selalu lebih menarik.

Yang ketiga, sama sekali tidak ada faedahnya masyarakat tahu tentang mantan-mantannya Zumi Zola. Parahnya, nama saya tidak dicantumkan. Buatlah berita yang memiliki news value dan penting bagi orang untuk tahu. Seumpama tidak ada hubungannya dengan kasus penangkapan Zumi Zola, setidaknya mengedukasi. Mungkin perjuangan Zumi Zola menjadi pejabat kek, prestasi Zumi Zola semasih menjabat kek, apa kek…. Jadikan tulisan Anda bermanfaat bagi orang lain. Tulisan Anda memiliki pengaruh yang besar lho bagi orang lain. Jangan membuat orang terbiasa berghibah tentang masalah pribadi orang.

Yang terakhir, judul click-bait. Ya, saya tahu betapa pentingnya jumlah klik bagi berita online. Tapi, mbok yo ojok mbojok, Rek. Mosok judul ambe artikel iso sueje. Katanya deretan para artis, tapi ternyata yang artis hanya satu, Ayu Dewi. Boleh banget kok menulis judul semenarik mungkin, tapi harus punya korelasi dengan artikelnya. Eniwei, artikel ini bukan satu-satunya artikel jahiliah yang bermunculan di tengah-tengah kasus yang menimpa tersangka suap enam miliar yang bening ini. Masih banyak artikel aneh-aneh seperti, “Pakai Rompi Oranye, Zumi Zola Masih Ganteng”, “Mantan Aktor Zumi Zola Ditahan KPK, Beginilah Potret Kebersamaannya Bersama Istri”, dan sebagainya. Mungkin mereka yang menyebut diri mereka sebagai jurnalis tapi masih membuat berita semacam ini harus kembali ke semester dua dan mengambil mata kuliah Dasar-dasar Jurnalistik bersama Rendy Pahrun Wadipalapa (Note dari editor: bagian terakhir ini tidak diedit, selain karena alasan kebenaran absolut, juga lantaran pembelaan kemanusiaan atas pentingnya edukasi).

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. “Mencari tambatan hati dan memenuhi selera travelling”, katanya.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks