Paskah, Cuaca yang Serba Kebetulan dan Kejutannya 0 935

Karena Kalikata adalah media milik semua umat manusia, maka penulis pertama-tama ingin mengucapkan selamat Paskah bagi siapa saja yang merasa merayakan.

Adapun tulisan ini tidak bertujuan ndakik-ndakik menjadi oasis bagi pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepala pembaca sekalian seperti “tanggal merahnya Jumat tapi kok Paskahnya hari Minggu?” atau “kenapa Paskah identik dengan endhog-endhogan?”. Karena toh jawaban atas pertanyaan macam itu mudah ditemui selama netijen yang budiman tidak malas mencari bacaan kredibel di Mbah Gugel.

Karena sesungguhnya, perayaan umat Kristiani yang satu ini justru punya makna jauh lebih mendalam sebagai dasar kepercayaan mereka. Selain itu, Paskah sendiri sesungguhnya perayaan dan permenungan bagi siapa saja. Kecuali mereka yang anti mengucapkan selamat hari raya kepada orang kafir, sepertinya cukup berhenti membaca sampai paragraf ini (fans habibana rizieq plis bobo’ dulu).

Sebab, pada kesempatan ini penulis ingin berbagi poin-poin reflektif yang hendaknya mencambuk kita berdasarkan semangat peringatan Paskah. Tenang saja, refleksi ini sifatnya universal dan beritikad baik melibatkan apapun latar belakang pembaca.

Pertama, peringatan Paskah berhubungan erat dengan prakiraan cuaca. Penulis mendapati, setiap Jumat hari Wafatnya Isa Almasih, langit akan mendung dan menjatuhkan hujan sekitar pukul 12 siang sampai 3 sore. Selalu. Tiap tahun (tapi kalau salah tolong dimaklumi ya karena penulis juga bukan pawang hujan).

Konon, Yesus pada jam itu sedang tergantung di atas kayu salib dan langit bukit Golgota yang disebut ‘tengkorak’ itu memang mendung gelap. Pada cuaca semacam ini, kita perlu mensyukuri sebab perayaan Jumat Agung yang masih digenapi kawan-kawan kita umat Kristiani jadi dapat setting suasana yang mendukung. Bukankah berdoa jadi lebih khusuk? Para penganut yang meragukan Tuhan jadi mulai kembali percaya atas kuasaNya membuat langit jadi tunduk. Implikasinya, rumah ibadat yang kosong secara reguler itu terisi penuh kembali, paling tidak ketika hari raya tiba.

Bukankah kita harus mengucapkan terima kasih teramat sangat terhadap mendung dan hujan? Berkat mereka, umat yang mempertanyakan ‘tuhan’ paling tidak kembali macak religius lagi.

Kedua, refleksi peringatan Jumat Agung terletak pada kisah sengsara Isa Almasih. Pada ritus ibadat umat Katolik, kisah ini kembali dibacakan (bahkan dinyanyikan) mulai dari proses pengkhianatan murid Yesus yang menjualNya, penangkapan, penghakiman, hingga penyaliban. Semua dikisahkan secara terperinci, terutama bagaimana penghakiman atas Almasih yang tidak bersalah itu berlangsung. Dan umat Kristiani percaya bahwa pada masa itu, para ahli Taurat dan orang Farisi lah yang menghasut orang banyak agar menjatuhi Yesus hukuman mati.

Kisah yang diulang-ulang setiap tahun ini kiranya dapat membantu kaum milenial, mereka yang lahir ketika Reformasi sudah mapan, untuk pula memahami kira-kira sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Bahwa jiwa-jiwa yang tidak bersalah juga pernah dihilangkan tanpa proses pengadilan oleh otoritarianisme. Jangan-jangan, apa Mbah Harto berkaca pula dari kisah ini?

Bukankah kita harus mengucapkan terima kasih pada bapak-bapak pembaca kisah passio sengsara Yesus yang hingga serak suaranya, telah membuat kita sadar sejarah? Semua dimulai dari sadar, entah ada aksi atau tidak, atau ketika peribadatan justru ditinggal tidur oleh remaja imut-imut ini, itu urusan belakang. Semua bisa diatur, asal bapak senang.

Ketiga, perayaan Paskah hadir dengan berbagai macam kejutan. Lagi-lagi konon katanya, ketika hari ketiga sesudah disalibkan, Almasih tidak ditemui jasadnya di kubur. Para wanita-wanita yang pergi ke kubur kemudian terkejut-kejut, apalagi sosok putih berkilauan yang dikata malaikat itu mengabarkan “Ia telah bangkit dan mendahului kamu ke Galilea”.

Paskah ini memang perayaan yang didominasi warna-warni kejutan. Paus Fransiskus dalam website resmi Vatican News membuat pernyataan “God is God of surprises”. Menurut beliau, hanya melalui kejutan, Tuhan dapat hadir dan nuturi kita. Kejutan juga kental karena setiap tahunnya, para pekerja media menanti-nanti apa lagi yang akan diperbuat pemimpin umat Katolik nomor wahid sedunia ini ketika Paskah tiba.

Tahun ini, Paus Fransiskus kembali keluar ‘kandang’ membasuh kaki tahanan di Penjara Regina Coeli di Roma, Italia. Dari 12 tahanan yang dibasuh kakinya, dua di antaranya beragama Islam dan seorang lain beragama Budha. Ritual ini kembali berulang dari tahun lalu ketika Paus pun membasuh kaki para tahanan yang di antaranya terdapat perempuan dan para migran. Sebagaimana mestinya, peristiwa pembasuhan kaki di luar Vatikan dan yang biasanya hanya dilakukan bagi laki-laki dan umat Katolik saja, menjadi gebrakan dan kejutan, sebuah aktifitas yang sangat media genic.

Penulis jadi takut, kalau-kalau media kita tercinta hanya bisa jadi buntut pemimpin umat, memberitakan apa saja yang mereka ucapkan sebagai dogma dan keniscayaan, tanpa berusaha konfirmasi pada sejarah dan realita lapangan. Penulis makin takut lagi, jika pemimpin umat adalah satu-satunya rujukan dan representasi kelompok agama dan kepercayaan. Hiiiii!

Berhubung Paskah tahun ini juga jatuh pada 1 April yang diperingati arek-arek sebagai April Mop. Semoga kita gak digudho Tuhan terlalu parah, misalnya dengan menyembunyikan jodoh kita terlalu lama. Selain itu, penulis juga berdoa semoga pemimpin umat dan media kita juga tidak terlalu banyak mengerjai calon-calon kepala daerah yang akan melaju Juni mendatang. Sebab, biarlah April Mop kadaluarsa sejak 2 April, ojok diterus-terusno.

Sebelum pembaca mengira tulisan ini (dan lebih jauh situs ini) macam website abal-abal yang suka cocokologi, mari kita hentikan tulisan ini. Akhir kata, semoga perayaan hari raya yang diperingati tiap tahun tidak menjadikan kita terlampau bosan dan malas untuk memaknai dalam pribadi masing-masing.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 195

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 219

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks