Paskah, Cuaca yang Serba Kebetulan dan Kejutannya 0 844

Karena Kalikata adalah media milik semua umat manusia, maka penulis pertama-tama ingin mengucapkan selamat Paskah bagi siapa saja yang merasa merayakan.

Adapun tulisan ini tidak bertujuan ndakik-ndakik menjadi oasis bagi pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepala pembaca sekalian seperti “tanggal merahnya Jumat tapi kok Paskahnya hari Minggu?” atau “kenapa Paskah identik dengan endhog-endhogan?”. Karena toh jawaban atas pertanyaan macam itu mudah ditemui selama netijen yang budiman tidak malas mencari bacaan kredibel di Mbah Gugel.

Karena sesungguhnya, perayaan umat Kristiani yang satu ini justru punya makna jauh lebih mendalam sebagai dasar kepercayaan mereka. Selain itu, Paskah sendiri sesungguhnya perayaan dan permenungan bagi siapa saja. Kecuali mereka yang anti mengucapkan selamat hari raya kepada orang kafir, sepertinya cukup berhenti membaca sampai paragraf ini (fans habibana rizieq plis bobo’ dulu).

Sebab, pada kesempatan ini penulis ingin berbagi poin-poin reflektif yang hendaknya mencambuk kita berdasarkan semangat peringatan Paskah. Tenang saja, refleksi ini sifatnya universal dan beritikad baik melibatkan apapun latar belakang pembaca.

Pertama, peringatan Paskah berhubungan erat dengan prakiraan cuaca. Penulis mendapati, setiap Jumat hari Wafatnya Isa Almasih, langit akan mendung dan menjatuhkan hujan sekitar pukul 12 siang sampai 3 sore. Selalu. Tiap tahun (tapi kalau salah tolong dimaklumi ya karena penulis juga bukan pawang hujan).

Konon, Yesus pada jam itu sedang tergantung di atas kayu salib dan langit bukit Golgota yang disebut ‘tengkorak’ itu memang mendung gelap. Pada cuaca semacam ini, kita perlu mensyukuri sebab perayaan Jumat Agung yang masih digenapi kawan-kawan kita umat Kristiani jadi dapat setting suasana yang mendukung. Bukankah berdoa jadi lebih khusuk? Para penganut yang meragukan Tuhan jadi mulai kembali percaya atas kuasaNya membuat langit jadi tunduk. Implikasinya, rumah ibadat yang kosong secara reguler itu terisi penuh kembali, paling tidak ketika hari raya tiba.

Bukankah kita harus mengucapkan terima kasih teramat sangat terhadap mendung dan hujan? Berkat mereka, umat yang mempertanyakan ‘tuhan’ paling tidak kembali macak religius lagi.

Kedua, refleksi peringatan Jumat Agung terletak pada kisah sengsara Isa Almasih. Pada ritus ibadat umat Katolik, kisah ini kembali dibacakan (bahkan dinyanyikan) mulai dari proses pengkhianatan murid Yesus yang menjualNya, penangkapan, penghakiman, hingga penyaliban. Semua dikisahkan secara terperinci, terutama bagaimana penghakiman atas Almasih yang tidak bersalah itu berlangsung. Dan umat Kristiani percaya bahwa pada masa itu, para ahli Taurat dan orang Farisi lah yang menghasut orang banyak agar menjatuhi Yesus hukuman mati.

Kisah yang diulang-ulang setiap tahun ini kiranya dapat membantu kaum milenial, mereka yang lahir ketika Reformasi sudah mapan, untuk pula memahami kira-kira sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Bahwa jiwa-jiwa yang tidak bersalah juga pernah dihilangkan tanpa proses pengadilan oleh otoritarianisme. Jangan-jangan, apa Mbah Harto berkaca pula dari kisah ini?

Bukankah kita harus mengucapkan terima kasih pada bapak-bapak pembaca kisah passio sengsara Yesus yang hingga serak suaranya, telah membuat kita sadar sejarah? Semua dimulai dari sadar, entah ada aksi atau tidak, atau ketika peribadatan justru ditinggal tidur oleh remaja imut-imut ini, itu urusan belakang. Semua bisa diatur, asal bapak senang.

Ketiga, perayaan Paskah hadir dengan berbagai macam kejutan. Lagi-lagi konon katanya, ketika hari ketiga sesudah disalibkan, Almasih tidak ditemui jasadnya di kubur. Para wanita-wanita yang pergi ke kubur kemudian terkejut-kejut, apalagi sosok putih berkilauan yang dikata malaikat itu mengabarkan “Ia telah bangkit dan mendahului kamu ke Galilea”.

Paskah ini memang perayaan yang didominasi warna-warni kejutan. Paus Fransiskus dalam website resmi Vatican News membuat pernyataan “God is God of surprises”. Menurut beliau, hanya melalui kejutan, Tuhan dapat hadir dan nuturi kita. Kejutan juga kental karena setiap tahunnya, para pekerja media menanti-nanti apa lagi yang akan diperbuat pemimpin umat Katolik nomor wahid sedunia ini ketika Paskah tiba.

Tahun ini, Paus Fransiskus kembali keluar ‘kandang’ membasuh kaki tahanan di Penjara Regina Coeli di Roma, Italia. Dari 12 tahanan yang dibasuh kakinya, dua di antaranya beragama Islam dan seorang lain beragama Budha. Ritual ini kembali berulang dari tahun lalu ketika Paus pun membasuh kaki para tahanan yang di antaranya terdapat perempuan dan para migran. Sebagaimana mestinya, peristiwa pembasuhan kaki di luar Vatikan dan yang biasanya hanya dilakukan bagi laki-laki dan umat Katolik saja, menjadi gebrakan dan kejutan, sebuah aktifitas yang sangat media genic.

Penulis jadi takut, kalau-kalau media kita tercinta hanya bisa jadi buntut pemimpin umat, memberitakan apa saja yang mereka ucapkan sebagai dogma dan keniscayaan, tanpa berusaha konfirmasi pada sejarah dan realita lapangan. Penulis makin takut lagi, jika pemimpin umat adalah satu-satunya rujukan dan representasi kelompok agama dan kepercayaan. Hiiiii!

Berhubung Paskah tahun ini juga jatuh pada 1 April yang diperingati arek-arek sebagai April Mop. Semoga kita gak digudho Tuhan terlalu parah, misalnya dengan menyembunyikan jodoh kita terlalu lama. Selain itu, penulis juga berdoa semoga pemimpin umat dan media kita juga tidak terlalu banyak mengerjai calon-calon kepala daerah yang akan melaju Juni mendatang. Sebab, biarlah April Mop kadaluarsa sejak 2 April, ojok diterus-terusno.

Sebelum pembaca mengira tulisan ini (dan lebih jauh situs ini) macam website abal-abal yang suka cocokologi, mari kita hentikan tulisan ini. Akhir kata, semoga perayaan hari raya yang diperingati tiap tahun tidak menjadikan kita terlampau bosan dan malas untuk memaknai dalam pribadi masing-masing.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Huru-Hara Anti-masker di Negeri Pak Trump 0 87

Oleh: Deanita Nurkhalisa*

 

Kisah datang dari Amerika Serikat (AS), negeri nun jauh dengan jumlah penderita terkonfirmasi Covid-19 terbanyak di level global mencapai titik tertinggi 3,4 juta kasus, 67 ribu kasus baru dan total kematian sebanyak 136 ribu jiwa. Ketika tak kunjung tampak terobosan signifikan dalam penanganan kasus, pada saat yang sama muncul pula sikap meremehkan yang datang dari berbagai kelompok, dari awam hingga figur berpengaruh. Anjuran dan nasihat kesehatan dimentahkan oleh gerakan anti-masker.

Gerakan anti-masker (anti-mask) menuai perhatian semenjak persyaratan lockdown perlahan diangkat dan fasilitas umum kembali dibuka dengan ketentuan wajib seperti pengenaan masker. Mereka menentang keras pendapat ilmiah, seperti dari Central for Disease Control and Prevention (CDC) yang meyakinkan publik bahwa penggunaan masker mengurangi risiko penularan. Tindakan ini sejalan dengan istilah keren ‘flatten the curve’, merebahkan kurva jumlah penderita dengan menginstruksikan penggunaan masker atau sarana pencegahan lain demi menekan laju Covid-19.

Kerumunan anti-masker mencuri perhatian atas apa yang mereka lakukan di pusat-pusat perbelanjaan, provokasi demonstrasi, maupun menyuarakan aspirasi lewat pertemuan dewan kota. Bentuk protes terhadap mandat penggunaan masker juga ditunjukkan melalui ejekan penggunaan masker berbentuk jaring (mesh mask) yang tentunya tidak melindungi wajah dari partikel berbahaya. Di Roseville, Sacramento, seorang warga mengencingi lantai toko Verizon Store karena menolak diusir meninggalkan toko akibat tidak mengenakan masker.

Di kesempatan tertentu, sekelompok anti-maskers meneriakkan kalimat ‘I can’t breathe’ (‘aku ra isa ambegan’) yang sebelumnya menjadi slogan solidaritas gerakan Black Lives Matter, mengutip kalimat terakhir George Floyd sebelum ia menjadi korban rasisme yang dilakukan aparat kepolisian di AS. Ironisnya, kalimat tersebut diinisiasi oleh anggota dewan kota Scottsdale, Arizona, pada aksi protes pengenaan masker akhir bulan lalu. Fakta-fakta itu menunjukkan egoisme, ketidakpekaan, dan minimnya empati dalam kelompok protes tersebut.

Klaim utama kelompok antimasker adalah bahwa kewajiban penggunaan masker oleh pemerintah ‘merenggut hak asasi dan kebebasan atas tubuh’ atau ‘perbudakan, penundukan, dan penaklukan’ oleh negara atas warga.

Beberapa pernyataan ini mengherankan karena beberapa alasan.

Adanya pandemi global memerlukan pencegahan yang dalam jangka panjang dapat memberikan hasil efektif, apabila dilakukan dengan benar dan secara massal untuk mencegah penularan. Tujuan untuk kebaikan bersama tersebut yang menjadi dasar pemerintah menggalakkan penggunaan masker. Tidak ada yang dapat menjamin seseorang akan dapat terinfeksi atau bahkan menginfeksi orang lain. Namun, tindakan pencegahan dapat membantu menurunkan risiko tersebut.

Masker bukanlah simbol atas penaklukan, apalagi menempatkan penggunanya sebagai ‘budak’, melainkan hanyalah sebuah alat penghalau partikel berbahaya di udara agar tubuh manusia tidak terinfeksi. Tidak ada anggapan implisit rasis atau misoginis yang ditemukan dari pengenaan masker. Pun bukanlah wujud dari agenda politis pihak oposisi untuk tujuan tertentu.

Tindakan pencegahan di masa pandemi ini tidak seharusnya menjadi isu politis maupun konspiratif yang dapat memecah opini. Dibutuhkan solidaritas, empati dan kebesaran hati untuk bergerak saling melindungi demi berakhirnya pandemi. Hal tersebut juga harus diiringi oleh informasi yang sesuai dan data yang cukup serta kemampuan berdialog secara efektif berdasarkan fakta yang ada. Bukan didasari sentimen apapun seperti pandangan politik, sehingga perdebatan mengenai pengenaan masker setidaknya dapat dilakukan secara substantif dan tidak sewenang-wenang.

Begitu juga dengan figur pemerintah yang memiliki pengaruh signifikan ke masyarakat. Sudah seharusnya mereka menyediakan edukasi, jaminan dan kepastian yang dibutuhkan oleh masyarakat agar negara tetap utuh dalam menghadapi krisis pandemi global.

 

*)Mahasiswi yang senang puisi, kucing, dan antariksa. Terbuka atas masukan atau cuma basa-basi lewat akun Instagram @ohitsjustdenit.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Tips Buat Para Penganggur di Masa Pandemi 1 177

Oleh: Putu Gadis Arvia Puspa*

Karena tulisan ini terbit sehari setelah hari kemerdekaan, maka penulis hendak mengucapkan: dirgahayu Indonesiaku yang ke tujuh puluh lima! 17 Agustus-an tahun ini terasa sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Indonesia dan dunia sedang menghadapi perang pandemi Covid-19.

Atmosfer orang ketika batuk akan berubah. Perlahan akan timbul rasa cemas kemudian diantisipasi penyebaran virusnya oleh masyarakat dengan mundur beberapa langkah, lengkap dengan masker yang sudah menempel di wajah.

Dari segi ekonomi, tentu ada yang kehilangan pekerjaan. Dari segi hubungan kedekatan, bisa juga kehilangan pasangannya. Yang paling tragis adalah sampai kehilangan orang tua dan keluarga tercinta. Semuanya membekaskan luka dan duka.

Tahun 2020 ini benar-benar menguji kesabaran, kewaspadaan dan kemampuan adaptif kita sebagai mahluk hidup untuk tetap berjuang walau rasanya hidup ini bagai kiamat. Masalah itu akan selalu ada, sehingga menjadi tantangan untuk diri sendiri dan bangsa dalam memperjuangkan kemerdekaannya.

Sama juga seperti artikel ini yang sengaja ditulis H-1 hari kemerdekaan Indonesia biar kerasa vibes-nya kayak lagi mempersiapkan proklamasi di Renglasdengklok bareng Bung Karno. Ihiy. Yaaaa anggap saja ini seperti proklamasi versi saya. Secara ini tulisan pertama saya kalo jadi terbit di Kalikata (red: jadi terbit kok, tapi butuh waktu buat ngeditnya aja, hehe).

Pintu kamar saya tutup rapat. Pertanda saatnya beraksi mencari inspirasi dan pengalaman baru di internet. Saking lamanya di rumah, saya biasanya jadi terlalu dalam menjelajah internet, akhirnya jadi lupa waktu, lupa makan, tapi tetap mandi kok.

Gilak! Rasanya tuh kayak bener-bener pusing sih. Mata kabur, punggung pegal, kaki keram. Tapi, diri ini tetap asyik seharian baca-baca artikel, main gartic bareng teman, typing test, dan nonton TikTok. Pengen sih nonton Netflix, tapi gak punya duit buat langganan. Yaudah, manfaatkan apa yang bisa ditonton saja dulu, di mana lagi kalau bukan di Youtubeee. Karena Youtube Youtube Youtube lebih dari Tv boom! Ea.

Kangen sebenarnya sama lambe-lambe di tongkrongan yang bilang “Udah tau belom, kalo si itu… bla bla bla bla“, nggosip. Tidak ada yang bisa mengalahkan asyiknya bisa bersosialisasi sekaligus diskusi. Kurang lebih sama lah ya kayak Chaerul Saleh dan kawan-kawan yang ngumpul buat diskusi politik di masa itu.

Tapi situasi sekarang kan susah ya kalo mau diskusi seaysik itu. Harus chat dulu, nunggu di-read, share link, saling debat pake paragraph panjang-panjang. Itupun cepet-cepetan ngetik ya kan. Belom lagi urusan sinyal. Story tellingnya kurang dapet gitu loh. Ekspresi dan nada suara teman kita itu ga bisa lagi untuk menendang gejolak emosi jiwa kompetitif dari kaum yang suka keributan ini.

Ada sih alternatif misalnya pake Zoom, Google Meet, dan platform video call lainnya buat ngatasin masalah tadi. Tapi tetep aja rasanya gak afdol gitu kalo ga ketemu langsung. Huhhh..

Ngomongin internet, kasus kan lagi banyak nih yang viralnya bukan main di medsos. Apalagi momentumnya sekarang orang lagi di rumah aja, jadi tingkat fokusnya dalam menyimak berita terkini lebih tinggi, ya walaupun belum tentu tajam.

Ketidakseriusan sejak awal pemerintah dalam menghadapi pandemi akhirnya makin merusak dan membakar emosi dari harapan rakyat. Transparansi selalu dituntut guna mengetahui kenyataan, namun ditahan dengan niat agar tidak menghawatirkan rakyat.

Baru-baru ini, juga ada kabar seorang aktivis pegiat HAM diminta mengembalikan beasiswa senilai 773 juta dari LPDP. Netijen pun berasumsi, hal ini diduga kuat sebagai upaya terbaru untuk menekan Veronica Koman berhenti melakukan advokasi HAM Papua.

Kasus lain lagi, berbagai kekerasan seksual yang mulai terkuak. Ini semua berkat pengakuan para korban yang akhirnya berani speak up di media sosial.

Ada pula kenyataan bahwa politik dinasti yang kian ramai mengisi pilkada Indonesia. Pun, tragedi kecurangan pada seleksi masuk perguruan tinggi negeri hingga sekolah kedinasan. Di sisi lain, dampak buruk akibat Covid-19 di hampir semua sektor secara global, semakin mengancam dan menghantui negara kita untuk resesi ekonomi.

Tidak cukup sampai di situ, saya pun sempat menengok Twitter, yang juga baru-baru ini menjadi tempat ajang demo online oleh mahasiswa Unair dalam menyuarakan isi hati. Isu ini juga jadi trending di media sosial: soal tuntutan penurunan UKT.

Di balik semua masalah yang memaksa otak kita untuk berpikir sok kritis, tentu ada juga banyak hal trending yang bisa membuat kita tetap terhibur, terinspirasi, sampai speechless. Misalnya lalu lintas TikTok yang kini makin populer, karena dianggap lebih seru. Aplikasi yang satu ini bikin auto menggerakan saraf manusia untuk joget ala TikTok (bahkan sudah dianggap cabang tarian). Terkadang, kontennya juga dinilai bermanfaat karena informatif.

Makin banyak orang-orang kreatif yang memamerkan karyanya di tengah pandemic ini. Misalnya Lathi challenge yang hypenya super dimana-mana. Mulai dari jadi backsound time lapse orang gambar animasi baju adat Indonesia lewat ipad, sampai backsound make up oleh Jharnabhagwani. Kalo di Twitter abang Fiersa Besari, terakhir Lathi dipake buat senam sama ibu ibu.

Untungnya, di hari kesekian menghabiskan waktu di rumah, tentu saja saya melakukan berbagai aktivitas yang sudah saya sebutkan tadi. Berbeda dengan video Youtube Sobat Miskin Official dengan konten “2 jam gak ngapa-ngapain” (dan saya pun kena prank nonton videonya sampai habis), yang bikin saya mikir “kok ada-ada aja ya ide orang di tengah pandemi ini”.

Sebagai pengamat Youtube, saya mau sedikit berpesan pada para pembaca. Menghabiskan waktu di rumah aja memang membosankan, tapi ada banyak hal yang bisa dilakukan kok. Kreativitas kita yang tanpa batas masih bisa ditampung dengan konten audio visual, dan dipublikasikan di Youtube atau media sosial lainnya. Tapi, memang harus serba hati-hati dengan derasnya informasi, karena bisa bikin pusing sendiri.

Yang terpenting, jangan sampai gara gara stock anime atau film atau drama korea habis, kalian malah mengisi waktu luang dengan membuat prank aneh-aneh atau video cringe “ara ara”. Mending review film ae lah! Kalo gak, mukbang atau ASMR. Atau nonton Youtube Got Talentnya SkinnyIndonesian24, juga bisa jadi pilihan.

 

*) Penonton setia Youtube, drama korea, kartun, dan anime, tapi ga terlalu. Tujuan utama dalam hidup adalah untuk mencapai moksa. Mata sipit belum tentu Cina, siapa tahu Bali.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette (@petiteanette)

Editor Picks