Paskah, Cuaca yang Serba Kebetulan dan Kejutannya 0 142

Karena Kalikata adalah media milik semua umat manusia, maka penulis pertama-tama ingin mengucapkan selamat Paskah bagi siapa saja yang merasa merayakan.

Adapun tulisan ini tidak bertujuan ndakik-ndakik menjadi oasis bagi pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepala pembaca sekalian seperti “tanggal merahnya Jumat tapi kok Paskahnya hari Minggu?” atau “kenapa Paskah identik dengan endhog-endhogan?”. Karena toh jawaban atas pertanyaan macam itu mudah ditemui selama netijen yang budiman tidak malas mencari bacaan kredibel di Mbah Gugel.

Karena sesungguhnya, perayaan umat Kristiani yang satu ini justru punya makna jauh lebih mendalam sebagai dasar kepercayaan mereka. Selain itu, Paskah sendiri sesungguhnya perayaan dan permenungan bagi siapa saja. Kecuali mereka yang anti mengucapkan selamat hari raya kepada orang kafir, sepertinya cukup berhenti membaca sampai paragraf ini (fans habibana rizieq plis bobo’ dulu).

Sebab, pada kesempatan ini penulis ingin berbagi poin-poin reflektif yang hendaknya mencambuk kita berdasarkan semangat peringatan Paskah. Tenang saja, refleksi ini sifatnya universal dan beritikad baik melibatkan apapun latar belakang pembaca.

Pertama, peringatan Paskah berhubungan erat dengan prakiraan cuaca. Penulis mendapati, setiap Jumat hari Wafatnya Isa Almasih, langit akan mendung dan menjatuhkan hujan sekitar pukul 12 siang sampai 3 sore. Selalu. Tiap tahun (tapi kalau salah tolong dimaklumi ya karena penulis juga bukan pawang hujan).

Konon, Yesus pada jam itu sedang tergantung di atas kayu salib dan langit bukit Golgota yang disebut ‘tengkorak’ itu memang mendung gelap. Pada cuaca semacam ini, kita perlu mensyukuri sebab perayaan Jumat Agung yang masih digenapi kawan-kawan kita umat Kristiani jadi dapat setting suasana yang mendukung. Bukankah berdoa jadi lebih khusuk? Para penganut yang meragukan Tuhan jadi mulai kembali percaya atas kuasaNya membuat langit jadi tunduk. Implikasinya, rumah ibadat yang kosong secara reguler itu terisi penuh kembali, paling tidak ketika hari raya tiba.

Bukankah kita harus mengucapkan terima kasih teramat sangat terhadap mendung dan hujan? Berkat mereka, umat yang mempertanyakan ‘tuhan’ paling tidak kembali macak religius lagi.

Kedua, refleksi peringatan Jumat Agung terletak pada kisah sengsara Isa Almasih. Pada ritus ibadat umat Katolik, kisah ini kembali dibacakan (bahkan dinyanyikan) mulai dari proses pengkhianatan murid Yesus yang menjualNya, penangkapan, penghakiman, hingga penyaliban. Semua dikisahkan secara terperinci, terutama bagaimana penghakiman atas Almasih yang tidak bersalah itu berlangsung. Dan umat Kristiani percaya bahwa pada masa itu, para ahli Taurat dan orang Farisi lah yang menghasut orang banyak agar menjatuhi Yesus hukuman mati.

Kisah yang diulang-ulang setiap tahun ini kiranya dapat membantu kaum milenial, mereka yang lahir ketika Reformasi sudah mapan, untuk pula memahami kira-kira sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Bahwa jiwa-jiwa yang tidak bersalah juga pernah dihilangkan tanpa proses pengadilan oleh otoritarianisme. Jangan-jangan, apa Mbah Harto berkaca pula dari kisah ini?

Bukankah kita harus mengucapkan terima kasih pada bapak-bapak pembaca kisah passio sengsara Yesus yang hingga serak suaranya, telah membuat kita sadar sejarah? Semua dimulai dari sadar, entah ada aksi atau tidak, atau ketika peribadatan justru ditinggal tidur oleh remaja imut-imut ini, itu urusan belakang. Semua bisa diatur, asal bapak senang.

Ketiga, perayaan Paskah hadir dengan berbagai macam kejutan. Lagi-lagi konon katanya, ketika hari ketiga sesudah disalibkan, Almasih tidak ditemui jasadnya di kubur. Para wanita-wanita yang pergi ke kubur kemudian terkejut-kejut, apalagi sosok putih berkilauan yang dikata malaikat itu mengabarkan “Ia telah bangkit dan mendahului kamu ke Galilea”.

Paskah ini memang perayaan yang didominasi warna-warni kejutan. Paus Fransiskus dalam website resmi Vatican News membuat pernyataan “God is God of surprises”. Menurut beliau, hanya melalui kejutan, Tuhan dapat hadir dan nuturi kita. Kejutan juga kental karena setiap tahunnya, para pekerja media menanti-nanti apa lagi yang akan diperbuat pemimpin umat Katolik nomor wahid sedunia ini ketika Paskah tiba.

Tahun ini, Paus Fransiskus kembali keluar ‘kandang’ membasuh kaki tahanan di Penjara Regina Coeli di Roma, Italia. Dari 12 tahanan yang dibasuh kakinya, dua di antaranya beragama Islam dan seorang lain beragama Budha. Ritual ini kembali berulang dari tahun lalu ketika Paus pun membasuh kaki para tahanan yang di antaranya terdapat perempuan dan para migran. Sebagaimana mestinya, peristiwa pembasuhan kaki di luar Vatikan dan yang biasanya hanya dilakukan bagi laki-laki dan umat Katolik saja, menjadi gebrakan dan kejutan, sebuah aktifitas yang sangat media genic.

Penulis jadi takut, kalau-kalau media kita tercinta hanya bisa jadi buntut pemimpin umat, memberitakan apa saja yang mereka ucapkan sebagai dogma dan keniscayaan, tanpa berusaha konfirmasi pada sejarah dan realita lapangan. Penulis makin takut lagi, jika pemimpin umat adalah satu-satunya rujukan dan representasi kelompok agama dan kepercayaan. Hiiiii!

Berhubung Paskah tahun ini juga jatuh pada 1 April yang diperingati arek-arek sebagai April Mop. Semoga kita gak digudho Tuhan terlalu parah, misalnya dengan menyembunyikan jodoh kita terlalu lama. Selain itu, penulis juga berdoa semoga pemimpin umat dan media kita juga tidak terlalu banyak mengerjai calon-calon kepala daerah yang akan melaju Juni mendatang. Sebab, biarlah April Mop kadaluarsa sejak 2 April, ojok diterus-terusno.

Sebelum pembaca mengira tulisan ini (dan lebih jauh situs ini) macam website abal-abal yang suka cocokologi, mari kita hentikan tulisan ini. Akhir kata, semoga perayaan hari raya yang diperingati tiap tahun tidak menjadikan kita terlampau bosan dan malas untuk memaknai dalam pribadi masing-masing.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dosa Besar dan Keleletan Pertamina 0 260

Oleh: Jesslyn Giovanni*

Sesuai judul, penulis ingin secara terangan-terangan menghujat dan mempersalahkan PT. Pertamina. Bagaimana tidak? Kebocoran pipa di Teluk Balikpapan ini membuat penulis bertanya serius pada PT. Pertamina, “kowe iki becus opo ora toh?”

Sabtu lalu, tajuk utama surat kabar langganan saya mengejutkan sekaligus menyulut emosi. Mulut sudah kebelet mencaci maki dan hati rasanya sakit sekali.

Katanya, ada minyak tumpah di Teluk Balikpapan. Foto tumpahannya, nauudzubilah min zalik!

Isi pemberitaan itu menuding kapal bermuatan batu bara asal Cina, MV Ever Judger membuang limbah minyak bahan bakarnya secara ilegal ke Teluk Balikpapan. Limbah Marine Fuel Oil (MFO) itu kemudian menyebabkan kebakaran hebat di laut. Menurut keterangan saksi mata, terjadi ledakan besar disertai kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi di lokasi. Lima nelayan setempat tewas dilahap api yang tak bisa dikendalikan. Disini, saya sudah habis memaki-maki si Ever Judger ini. Wani-wani ne nyampah nang lautku?  Tenggelamno ae!

Disebutkan pula bahwa kapal MV Ever Judger, yang disangkakan sebagai pelaku, juga ikut-ikutan terbakar. Buritan kapal bagian kiri digilas api, juga sekocinya. Awak kapal dan muatannya bahkan menjerit minta diselamatkan.

Lah katanya mereka yang membuang, kok malah ikutan kebakar? Ganjil? Sangat ganjil.

Makian saya perlahan hilang, seiring akal mengatakan saya sudah salah tuduh. Mohon maaf Ever Judger, saya sudah suudzon berat padamu!

Kemudian disini, aktor amatir kita yang sangat payah mulai tampil bermain.

Sebagai pemilik kilang minyak yang lokasinya berdekatan dengan tumpahan, hari itu juga PT. Pertamina memberi tanggapan. Tanggapan penuh kezaliman.

Mereka menegaskan dengan gagah berani dan percaya diri pada awak media, jelas-jelas yang tumpah itu MFO. Sedangkan, PT Pertamina di Teluk Balikpapan hanya, sekali lagi, hanya memproduksi crude oil atau minyak mentah macam solar atau avtur.

Tolong pikir-pikir lagi lah ya kalau mau menyalahkan Pertamina. Begitulah kira-kira makna klarifikasi itu, bagi mereka yang mampu menangkapnya.

Ever Judger masih tersangka. sedang Pertamina cuci tangan.

Dua hari setelahnya, dengan malu-malu(in), PT Pertamina menjilat kembali ludah yang sudah diinjak dan diesek-esek dengan sepatunya sendiri. Mereka mengaku, minyak yang mengapung di perairan Teluk Balikpapan adalah kesalahan mereka.

Entah bagaimana divisi PR PT. Pertamina ini. Mungkin dulu tidak ambil mata kuliah Dasar-Dasar Public Relations, atau lalai, atau tertekan atasan.

Hasilnya, setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut dengan metode penyelaman dasar laut, didapati temuan mengejutkan sekaligus menampar Pertamina tepat di mukanya (kalau masih punya muka).

Pipa milik PT. Pertamina ditemukan terputus lalu terseret sejauh 100 meter dari asalnya.

Gila! Mau mengelak apa lagi?

Sudah mencla-mencle begitu, mereka pun lamban sekali menangani minyak yang kadung kemana-mana ini. Sampai seminggu sejak minyak mengapung dan mencemari laut, Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) mengeluhkan keleletan Pertamina. Tim yang dikirim Pertamina untuk membantu tindakan pembersihan dan pemulihan bekerja sangat lamban. Pada banyak aspek,  BPBD merasa Pertamina banyak menutup-nutupi perkara ini.

Ini BUMN apa yang bisa-bisanya mencla-mencle memberi pernyataan resmi, lalu berani-beraninya tidak cekatan menangani masalah yang jelas-jelas tanggung jawab dan kesalahannya? Nilai merah untuk Pertamina!

Coba Pembaca bayangkan, tumpahan minyak ini sudah hampir menyentuh Pulau Sulawesi sedangkan Balikpapan itu di Kalimantan! Hal itu disampaikan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Republik Indonesia (LAPAN RI). Lebih jelasnya, tumpahan minyak ini sudah merembes ke Selat Makassar.

Ekosistem laut jelas tercemar berat. Entah berapa barel minyak yang terbuang begitu saja di perairan Teluk Balikpapan. Biota laut pun banyak yang mati dan terancam keberlangsungan hidupnya. Seekor pesut bahkan ususnya sampai terburai, lalu mati dan hanyut ke pantai. Padahal populasi pesut di perairan itu hanya sekitar 60 ekor. Miris! Semoga saja tidak jadi punah karena ulah PT. Pertamina ini.

Lalu, Pembaca tolong bayangkan pohon bakau. Itu, daunnya yang berjarak 1,5 meter dari akarnya menghitam tersebab minyak. Warga dekat teluk pun sudah mulai kena penyakit saluran pernafasan karena bau crude oil yang menyengat dan berbahaya. Keluhan kesehatan lain pastinya makin banyak di sana. Nelayan pun jadi tidak bisa melaut. Lalu lintas perdagangan bahkan lumpuh. Kapal dilarang sama sekali lewat karena minyak yang tumpah mudah sekali terbakar. Bahkan Ever Judger yang sempat difitnah dan dikambinghitamkan pun harus tertahan di sana.

Ini masalah serius! Sangat, sangat serius! Aduh Pertamina, tulung poo seng nggena..

Menurut saya, Pertamina telah melakukan kejahatan lingkungan luar biasa, yang dampaknya tidak main-main. Butuh sanksi tegas dan bentuk pertanggungjawaban konkret yang mampu memperbaiki kerusakan dan pencemaran pada ekosistem Teluk Balikpapan.

Pemerintah pusat harus tegas dan berani memberi sanksi tegas pada BUMN-nya ini. Jangan sampai hanya berdiam diri saja, karena seminggu ini kasus berjalan tanpa ada tanggapan sedikitpun dari Istana. (Padahal katanya di laut kita kuat? Giliran laut tercemar, diam saja. Huh.)

Memalukan bila sampai kasus ini sengaja diabaikan apalagi dilupakan. Karena memang disadari topik lingkungan mesti kalah pamor dengan isu politik ibukota atau penistaan agama. Namun,. ayolah, ini masalah yang jelas amat besar.

Kenapa juga lebih banyak netijen mempermasalahan Sukmawati, cacing makarel, dan Lucinta Luna ketimbang Teluk Balikpapan?  Duh, bikin jengkel saja!

Semoga pembaca Kalikata yang budiman tidak masuk golongan netijen macam itu. Wallahualam.

*Selain pencerewet sosial, penulis adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Macan karaoke dan penyuka eskrim.

Haruskah Berbelasungkawa untuk Uber? 0 197

Jika nasib hubunganmu dengan arek’e terasa tidak pasti, antara kawin lari tanpa restu orang tua atau putus sekarang kemudian bunuh diri, tenang saja. Nasib Anda sama gamangnya dengan para calon mantan pengemudi Uber.

Sejak diakuisisi oleh Grab per 26 Maret lalu, tiada keputusan terang bagi para pengemudi perusahaan transportasi asal Amerika itu akan otomatis diboyong. Tiada kepastian apakah setelah 8 April besok, mereka akan ganti perilaku, yang awalnya memberi penumpang dengan helm oranye, kemudian jadi helm ijo royo-royo.

Satu hal yang jelas dalam kasus ini adalah angka persentase pembagian saham, dan hitung-hitungan ahli ekonomi tentang berapa keuntungan yang berhasil direngkuh saingannya lord Nadiem Makarim itu. Sisanya, apalagi bagi nasib pengemudinya serta sanak-keluarganya tentu saja buram.

Hari ini, penulis mencoba melalui masa megap-megap bersama Uber dengan bolak-balik memecah jalanan Surabaya yang super padat itu tiga kali (edyan, wes koyok ngombe obat ae).

Benarlah kata orang jika manusia cenderung bertobat ketika mendekati ajal, demikian pula dengan para driver ini. Ketiganya manis – ucapan dan pelayanannya tentu saja – tidak peduli yang roda dua ataupun setir bunder. Semoga tiga driver yang menghantar penulis kali ini bisa jadi sampel yang representatif. Untuk melindungi keamanan bangsa dan negara, identitas driver akan disamarkan, karena toh penulis juga lupa namanya apalagi wajahnya hehe (lali jenenge eling rasane).

Jika biasanya pengemudi ini bertanya lokasi penjemputan dan tujuan dengan sewot tapi minta bintang lima, kini mereka berbeda. Hari ini, ketika hidup mereka tinggal hitungan jam, mereka berusaha jadi teman ngobrol yang asik. Jika penumpang diam, mereka mulai gelisah, posisi duduknya diubah ke kiri dan kanan, badannya condong ke depan, balik lagi ke belakang, berusaha merawat obrolan agar tetap langgeng, persis gebetanmu ketika pdkt.

Mbak kuliah di mana?”

“Kampus x”

“Jauh ya Mbak kalau ke kampus”

“Iya”

“Biasanya naik Uber juga?”

“Iya”

“Besok udah gak bisa lagi, Mbak. Mbak bisanya naik helikopter atau odong-odong”

Mereka sudah tiada mampu ngomel lagi jika kita dapat promo besar-besaran dan tetap minta kita bayar sesuai tarif asli, karena ya buat apa. Mereka juga tiada mengejar lagi prestasi bintang lima atau tambahan komentar seperti ‘good service’ atau ‘good conversation’, karena ya pada akhirnya hanya tinggal kenangan. Penulis menyarankan, jika para driver itu punya predikat expert sebagai penampung keluh kesah penumpang, pernyataan pada aplikasinya harap di-screenshoot, dicetak, dilaminating, dan dipigurakan.

Eits, tapi ini berlaku hanya bagi driverdriver jujur yang tiada pernah kepikiran untuk mendua atau berselingkuh. Kalau Uber, ya Uber thok. Pembaca kan pasti tahu, bahwa penumpang yang Anda temui di jalan pakai helmnya hijau tapi ternyata pesan pakai aplikasi sebelah adalah hal lumrah. Mereka mengaku, bahwa ikut satu aplikasi saja tidak dapat memberi laba signifikan untuk mengganti uang bensin, uang servis kendaraan yang MILIK PRIBADI itu, dan sedikit penghargaan karena panas-panasan dan macet di jalan.

Para pengemudi ini lantas curhat pada penulis. Mereka hanya diSARANkan berpindah ke aplikasi Grab. Selain itu, pendapat lain muncul seperti ‘Baru saja nyemplung 6 bulan, eh Uber sudah tinggal kenangan’. Pendapat yang terakhir ini memang sedih, sama seperti kamu yang ditinggal doi ketika lagi sayang-sayangnya.

Menyoal Uber dan kawan-kawannya memang tidak pernah mencapai garis akhir di belantara Indonesia. Tiada lagi kecocokan konsep driver sebagai mitra dengan keadaan di lapangan. Apalagi jika ditarik kepada konsep relasi kuasa buruh-majikan, proletar-borjuis ala-ala Marx dan sekte-sektenya. Jika memungkinkan, mereka bisa saja bangkit dari kubur untuk mengkaji ulang polemik transportasi online yang ruwet ini.

Belum usai perkara SPM dan regulasi transportasi beserta tetek-bengeknya, sudah muncul kegaduhan baru lainnya. Dan semua muaranya adalah teriak protes keparnoan netijen Indonesia pada pengangguran.

Tapi tidak apa, fenomena ini akan membuat para pekerja media tetap bisa berkarya. Lah wong ada saja persekutuan driver yang berdemo, macam safari dari satu kota ke kota lainnya, muatan berita jadi tetap variatif dan lestari sebagai kolom permanen kalau-kalau tidak ada politisi yang bikin ulah yang bisa diberitakan.

Namun, bagi pengguna loyal macam penulis ini, hilangnya Uber dari gawai kita merupakan suatu peristiwa yang menguras emosi kesedihan. Padahal, rasanya seperti baru kemarin menggunakan aplikasi Uber untuk pertama kalinya, merasakan canggungnya, bolak-balik melihat indikator posisi driver yang akan menjemput kita sambil deg-deg-an macam dijemput pacar. Fitur Uber Eats saja belum sempat kita cicipi nikmatnya, eh keburu dipek Grab. Mereka ini gak mikir apa, bahwa sebagian pelanggan kan bisa jadi sensi atau phobia warna hijau, bisa jadi mengingatkan mereka pada simbol institusi atau kenangan tertentu yang menyakitkan.

Tapi, yang pasti, kepada umat sekalian, para driver ini menyampaikan kata-kata terakhirnya. Bersiaplah beralih ke aplikasi yang lain! Mbok ya, kalau bisa, berpindah hati ke yang produk lokal Indonesia saja. Biar mahal dikit tak apa, yang penting gak banyak promonya, hehe.

Editor Picks