Paskah, Cuaca yang Serba Kebetulan dan Kejutannya

Karena Kalikata adalah media milik semua umat manusia, maka penulis pertama-tama ingin mengucapkan selamat Paskah bagi siapa saja yang merasa merayakan.

Adapun tulisan ini tidak bertujuan ndakik-ndakik menjadi oasis bagi pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi kepala pembaca sekalian seperti “tanggal merahnya Jumat tapi kok Paskahnya hari Minggu?” atau “kenapa Paskah identik dengan endhog-endhogan?”. Karena toh jawaban atas pertanyaan macam itu mudah ditemui selama netijen yang budiman tidak malas mencari bacaan kredibel di Mbah Gugel.

Karena sesungguhnya, perayaan umat Kristiani yang satu ini justru punya makna jauh lebih mendalam sebagai dasar kepercayaan mereka. Selain itu, Paskah sendiri sesungguhnya perayaan dan permenungan bagi siapa saja. Kecuali mereka yang anti mengucapkan selamat hari raya kepada orang kafir, sepertinya cukup berhenti membaca sampai paragraf ini (fans habibana rizieq plis bobo’ dulu).

Sebab, pada kesempatan ini penulis ingin berbagi poin-poin reflektif yang hendaknya mencambuk kita berdasarkan semangat peringatan Paskah. Tenang saja, refleksi ini sifatnya universal dan beritikad baik melibatkan apapun latar belakang pembaca.

Pertama, peringatan Paskah berhubungan erat dengan prakiraan cuaca. Penulis mendapati, setiap Jumat hari Wafatnya Isa Almasih, langit akan mendung dan menjatuhkan hujan sekitar pukul 12 siang sampai 3 sore. Selalu. Tiap tahun (tapi kalau salah tolong dimaklumi ya karena penulis juga bukan pawang hujan).

Konon, Yesus pada jam itu sedang tergantung di atas kayu salib dan langit bukit Golgota yang disebut ‘tengkorak’ itu memang mendung gelap. Pada cuaca semacam ini, kita perlu mensyukuri sebab perayaan Jumat Agung yang masih digenapi kawan-kawan kita umat Kristiani jadi dapat setting suasana yang mendukung. Bukankah berdoa jadi lebih khusuk? Para penganut yang meragukan Tuhan jadi mulai kembali percaya atas kuasaNya membuat langit jadi tunduk. Implikasinya, rumah ibadat yang kosong secara reguler itu terisi penuh kembali, paling tidak ketika hari raya tiba.

Bukankah kita harus mengucapkan terima kasih teramat sangat terhadap mendung dan hujan? Berkat mereka, umat yang mempertanyakan ‘tuhan’ paling tidak kembali macak religius lagi.

Kedua, refleksi peringatan Jumat Agung terletak pada kisah sengsara Isa Almasih. Pada ritus ibadat umat Katolik, kisah ini kembali dibacakan (bahkan dinyanyikan) mulai dari proses pengkhianatan murid Yesus yang menjualNya, penangkapan, penghakiman, hingga penyaliban. Semua dikisahkan secara terperinci, terutama bagaimana penghakiman atas Almasih yang tidak bersalah itu berlangsung. Dan umat Kristiani percaya bahwa pada masa itu, para ahli Taurat dan orang Farisi lah yang menghasut orang banyak agar menjatuhi Yesus hukuman mati.

Kisah yang diulang-ulang setiap tahun ini kiranya dapat membantu kaum milenial, mereka yang lahir ketika Reformasi sudah mapan, untuk pula memahami kira-kira sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia. Bahwa jiwa-jiwa yang tidak bersalah juga pernah dihilangkan tanpa proses pengadilan oleh otoritarianisme. Jangan-jangan, apa Mbah Harto berkaca pula dari kisah ini?

Bukankah kita harus mengucapkan terima kasih pada bapak-bapak pembaca kisah passio sengsara Yesus yang hingga serak suaranya, telah membuat kita sadar sejarah? Semua dimulai dari sadar, entah ada aksi atau tidak, atau ketika peribadatan justru ditinggal tidur oleh remaja imut-imut ini, itu urusan belakang. Semua bisa diatur, asal bapak senang.

Ketiga, perayaan Paskah hadir dengan berbagai macam kejutanLagi-lagi konon katanya, ketika hari ketiga sesudah disalibkan, Almasih tidak ditemui jasadnya di kubur. Para wanita-wanita yang pergi ke kubur kemudian terkejut-kejut, apalagi sosok putih berkilauan yang dikata malaikat itu mengabarkan “Ia telah bangkit dan mendahului kamu ke Galilea”.

Paskah ini memang perayaan yang didominasi warna-warni kejutan. Paus Fransiskus dalam website resmi Vatican News membuat pernyataan “God is God of surprises”. Menurut beliau, hanya melalui kejutan, Tuhan dapat hadir dan nuturi kita. Kejutan juga kental karena setiap tahunnya, para pekerja media menanti-nanti apa lagi yang akan diperbuat pemimpin umat Katolik nomor wahid sedunia ini ketika Paskah tiba.

Tahun ini, Paus Fransiskus kembali keluar ‘kandang’ membasuh kaki tahanan di Penjara Regina Coeli di Roma, Italia. Dari 12 tahanan yang dibasuh kakinya, dua di antaranya beragama Islam dan seorang lain beragama Budha. Ritual ini kembali berulang dari tahun lalu ketika Paus pun membasuh kaki para tahanan yang di antaranya terdapat perempuan dan para migran. Sebagaimana mestinya, peristiwa pembasuhan kaki di luar Vatikan dan yang biasanya hanya dilakukan bagi laki-laki dan umat Katolik saja, menjadi gebrakan dan kejutan, sebuah aktifitas yang sangat media genic.

Penulis jadi takut, kalau-kalau media kita tercinta hanya bisa jadi buntut pemimpin umat, memberitakan apa saja yang mereka ucapkan sebagai dogma dan keniscayaan, tanpa berusaha konfirmasi pada sejarah dan realita lapangan. Penulis makin takut lagi, jika pemimpin umat adalah satu-satunya rujukan dan representasi kelompok agama dan kepercayaan. Hiiiii!

Berhubung Paskah tahun ini juga jatuh pada 1 April yang diperingati arek-arek sebagai April Mop. Semoga kita gak digudho Tuhan terlalu parah, misalnya dengan menyembunyikan jodoh kita terlalu lama. Selain itu, penulis juga berdoa semoga pemimpin umat dan media kita juga tidak terlalu banyak mengerjai calon-calon kepala daerah yang akan melaju Juni mendatang. Sebab, biarlah April Mop kadaluarsa sejak 2 April, ojok diterus-terusno.

Sebelum pembaca mengira tulisan ini (dan lebih jauh situs ini) macam website abal-abal yang suka cocokologi, mari kita hentikan tulisan ini. Akhir kata, semoga perayaan hari raya yang diperingati tiap tahun tidak menjadikan kita terlampau bosan dan malas untuk memaknai dalam pribadi masing-masing.