Pelajaran dari Hotman Paris dan Kopi Murahnya

“Salam dari Kopi Johny!”

Itulah sapaan yang setia menyambut saya di pagi hari. Ya, setiap saya membuka Instagram di pagi hari, video pengacara kondang berlimang berlian, Hotman Paris Hutapea, selalu muncul di explore Instagram saya. Dan entah mengapa, video-videonya yang muncul itu selalu behasil mempersuasi saya untuk menontonnya. Sapaan “salam dari kopi Johny” tersebut Hotman lontarkan ketika ia sedang ngopi di sebuah kedai kopi di Kelapa Gading, Kopi Kwang Koan atau yang sering ia sebut dengan Kopi Johny – seturut empunya kedai yang bernama Johny.

Pria panas dari Paris ini meluangkan waktunya sebelum bekerja untuk ngopi di sana dan berbincang-bincang dengan pelanggan yang lain. Bahkan, Pak Johny mengatakan, tak jarang pengacara kondang ini sudah stand by dari hari masih gelap. Bukan, bukan untuk membantu Pak Johny menyiapkan  kedainya, tapi untuk ngopi.

Dalam video-videonya, ia kerap memberi kritik dengan gayanya yang ceplas-ceplos  terhadap hukum-hukum yang masih janggal, terutama pasal-pasal mengenai perceraian yang ternyata malah merugikan pihak perempuan.  Darinya, mata kita dibukakan bahwa hukum yang selama ini kita anggap sebagai armor kita malah bisa merugikan.

Ia bahkan tidak takut mengatakan Menteri Perempuan dan Anak tidak jelas kerjanya karena tidak bisa melindungi wanita dari para buaya darat – padahal doi sendiri pernah punya affair dengan Meriam Bellina. Kalau kita menonton video-videonya, selain urusan Lamborghini dan parade cewe-cewe genit, Hotman juga concern terhadap hak-hak wanita—sebuah paradoks yang ganjil sebetulnya. Ia juga beberapa kali menekankan pada pengacara muda untuk selalu taat pada perundang-undangan dalam membela klien. Reputasi dan integritas harus selalu dijaga.

Dari gaya berpakaiannya yang seperti kaum borjuis masa kini dengan suit sutra dan dasi ber-swarovski, mobil sport Italinya dan cincin-cincin berliannya yang menyilaukan mata – iya, memang tidak sekaya dan semewah Frederich Yunadi, akan tetapi siapa sangka ia mau meluangkan waktunya yang sangat terbatas untuk ngopi di kedai sekelas Kopi Johny dan berbincang-bincang dengan pelanggan yang lain. Bukan mau mengeneralisasi, namun sudah bisa ditebak kedai ini didominasi rakyat menengah kebawah. Hanya saja, semenjak ada pengacara ceplas-ceplos ini, orang menengah keatas pun jadi ikut ngopi disini.

Bang Hotman tak hanya nyangkruk unfaedah disana, namun memberi layanan konsultasi hukum gratis! Padahal, bila kita konsultasi di kantornya, alamak…. uang UKT saya selama satu dekade pun tidak cukup! Salut dan takjub! Pengacara yang namanya sudah di atas angin dan dengan fee ratusan juta mau membantu mereka yang kesulitan dalam  urusan hukum.

Namun seperti biasa, sehebat-hebatnya jaksa dan hakim menentukan kesalahan orang, netijen kita lebih hebat lagi. Disaat saya begitu mengagumi sosok  yang satu ini, netijenus keminteritis malah memberi komentar nyinyir yang berkedok masukan. Hotman dianggap suka memamerkan kekayaan dan tidak konsekuen  dengan kampanye memberantas buaya darat karena dalam videonya ia beberapa kali bersender manjyah di pundak cewek muda nan seksih. Geram, Bang Hotman beberapa kali menyemprot spesies netijen ini dengan video “salam kopi Johny” nya dan menantang mereka untuk menunjukkan achievement mereka.

Ckckckck…. rupanya spesies netijen yang seperti ini memang tidak memiliki kemampuan untuk melihat sisi positif orang. Kalau Bang Hotman mau pamerin Lamborghini-nya, masalah? Harusnya itu menjadi motivasi untuk kita! Bang Hotman beberapa kali mengunggah videonya yang sedang kerja di pagi-pagi buta untuk menunjukkan pada netijen rahasia di balik Lamborghini dan suit Tom Ford-nya, yaitu kerja keras! Ingat sodara, kerja, kerja, kerja!

Mungkin instagram menjadi distraksi yang begitu kuat bagi segelintir orang sehingga mengomentari hidup orang lain lebih nikmat dari pada memperbaiki hidup sendiri. Saran bagi peneliti dunia medis, mungkin bisa membuat antigen  bagi netijenus keminteritis untuk menghambat keganasannya.  Untuk Bang Hotman kesayanganku, ingatlah quote dari  Winston Churchill, “lek kon nyawati asu ambe watu siji-siji,yo gak nyampe-nyampe la’an”. Jalan terus, Bang! Ingatlah netijen fakir ilmu hukum seperti kami yang butuh edukasi (dan uang) dari Anda! Horas!