Pelajaran dari Hotman Paris dan Kopi Murahnya 0 1238

“Salam dari Kopi Johny!”

Itulah sapaan yang setia menyambut saya di pagi hari. Ya, setiap saya membuka Instagram di pagi hari, video pengacara kondang berlimang berlian, Hotman Paris Hutapea, selalu muncul di explore Instagram saya. Dan entah mengapa, video-videonya yang muncul itu selalu behasil mempersuasi saya untuk menontonnya. Sapaan “salam dari kopi Johny” tersebut Hotman lontarkan ketika ia sedang ngopi di sebuah kedai kopi di Kelapa Gading, Kopi Kwang Koan atau yang sering ia sebut dengan Kopi Johny – seturut empunya kedai yang bernama Johny.

Pria panas dari Paris ini meluangkan waktunya sebelum bekerja untuk ngopi di sana dan berbincang-bincang dengan pelanggan yang lain. Bahkan, Pak Johny mengatakan, tak jarang pengacara kondang ini sudah stand by dari hari masih gelap. Bukan, bukan untuk membantu Pak Johny menyiapkan  kedainya, tapi untuk ngopi.

Dalam video-videonya, ia kerap memberi kritik dengan gayanya yang ceplas-ceplos  terhadap hukum-hukum yang masih janggal, terutama pasal-pasal mengenai perceraian yang ternyata malah merugikan pihak perempuan.  Darinya, mata kita dibukakan bahwa hukum yang selama ini kita anggap sebagai armor kita malah bisa merugikan.

Ia bahkan tidak takut mengatakan Menteri Perempuan dan Anak tidak jelas kerjanya karena tidak bisa melindungi wanita dari para buaya darat – padahal doi sendiri pernah punya affair dengan Meriam Bellina. Kalau kita menonton video-videonya, selain urusan Lamborghini dan parade cewe-cewe genit, Hotman juga concern terhadap hak-hak wanita—sebuah paradoks yang ganjil sebetulnya. Ia juga beberapa kali menekankan pada pengacara muda untuk selalu taat pada perundang-undangan dalam membela klien. Reputasi dan integritas harus selalu dijaga.

Dari gaya berpakaiannya yang seperti kaum borjuis masa kini dengan suit sutra dan dasi ber-swarovski, mobil sport Italinya dan cincin-cincin berliannya yang menyilaukan mata – iya, memang tidak sekaya dan semewah Frederich Yunadi, akan tetapi siapa sangka ia mau meluangkan waktunya yang sangat terbatas untuk ngopi di kedai sekelas Kopi Johny dan berbincang-bincang dengan pelanggan yang lain. Bukan mau mengeneralisasi, namun sudah bisa ditebak kedai ini didominasi rakyat menengah kebawah. Hanya saja, semenjak ada pengacara ceplas-ceplos ini, orang menengah keatas pun jadi ikut ngopi disini.

Bang Hotman tak hanya nyangkruk unfaedah disana, namun memberi layanan konsultasi hukum gratis! Padahal, bila kita konsultasi di kantornya, alamak…. uang UKT saya selama satu dekade pun tidak cukup! Salut dan takjub! Pengacara yang namanya sudah di atas angin dan dengan fee ratusan juta mau membantu mereka yang kesulitan dalam  urusan hukum.

Namun seperti biasa, sehebat-hebatnya jaksa dan hakim menentukan kesalahan orang, netijen kita lebih hebat lagi. Disaat saya begitu mengagumi sosok  yang satu ini, netijenus keminteritis malah memberi komentar nyinyir yang berkedok masukan. Hotman dianggap suka memamerkan kekayaan dan tidak konsekuen  dengan kampanye memberantas buaya darat karena dalam videonya ia beberapa kali bersender manjyah di pundak cewek muda nan seksih. Geram, Bang Hotman beberapa kali menyemprot spesies netijen ini dengan video “salam kopi Johny” nya dan menantang mereka untuk menunjukkan achievement mereka.

Ckckckck…. rupanya spesies netijen yang seperti ini memang tidak memiliki kemampuan untuk melihat sisi positif orang. Kalau Bang Hotman mau pamerin Lamborghini-nya, masalah? Harusnya itu menjadi motivasi untuk kita! Bang Hotman beberapa kali mengunggah videonya yang sedang kerja di pagi-pagi buta untuk menunjukkan pada netijen rahasia di balik Lamborghini dan suit Tom Ford-nya, yaitu kerja keras! Ingat sodara, kerja, kerja, kerja!

Mungkin instagram menjadi distraksi yang begitu kuat bagi segelintir orang sehingga mengomentari hidup orang lain lebih nikmat dari pada memperbaiki hidup sendiri. Saran bagi peneliti dunia medis, mungkin bisa membuat antigen  bagi netijenus keminteritis untuk menghambat keganasannya.  Untuk Bang Hotman kesayanganku, ingatlah quote dari  Winston Churchill, “lek kon nyawati asu ambe watu siji-siji,yo gak nyampe-nyampe la’an”. Jalan terus, Bang! Ingatlah netijen fakir ilmu hukum seperti kami yang butuh edukasi (dan uang) dari Anda! Horas!

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Panduan Nyinyir Berhadiah ala Fahri Hamzah 0 247

Pertama-tama, saya ingin memberi selamat kepada Fahri Hamzah atas prestasi yang ditorehkan  baru-baru ini (13/8). Politikus Partai Gelora ini baru saja menerima tanda kehormatan Bintang Mahaputera Naraya 2020 dari Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) . Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, bahkan politikus – yang kini menjadi komisaris Pertamina –  yang tegas melawan korupsi seperti Basuki Tjahaja Purnama pun belum pernah mendapat award super bergengsi ini.

Penghargaan ini sendiri diberikan kepada Fahri Hamzah lantaran keaktivannya dalam “mengkritik” pemerintahan Jokowi. Menurut Fahri, penghargaan yang ia terima dapat dijadikan pelajaran bagi semua orang dalam pemerintahan supaya menghormati kritik. Selain itu, ia menilai bahwa penghargaan ini merupakan bukti bahwa pemerintah tetap menghargai kritik.

Tumben lihat Fahri Hamzah memuji pemerintah? Iya, saya juga baru kali ini baca komentar positif tentang pemerintah dari Fahri Hamzah.

Selama ini, anggota DPR RI yang satu ini dikenal sebagai politikus yang nyinyir, doyan mengkritik apapun yang dilakukan pemerintah. Bahkan, warga net menjulukinya sebagai Lord Fahri karena hanya dialah yang serba benar di negeri +62 ini.

Akan tetapi, pandangan warga net tersebut berbeda di mata Jokowi. Bagi Jokowi, ke-nyinyir-an Lord Fahri merupakan kekritisan yang sangat dibutuhkan pemerintah. Setiap butir dari kesewotan yang dilontarkan Lord Fahri bisa menjadi feedback negatif dan juga input bagi kebijakan-kebijakannya.

Berita Lord Fahri yang meraih penghargaan ini tak pelak menjadi trending di media sosial. Banyak yang kaget kenapa teman “duet” nyinyir Fadli Zon ini bisa mendapat penghargaan dari Jokowi. Banyak yang berasumsi ini adalah akal-akalan rezim pemerintah untuk membuat Fahri Hamzah “sungkan” mengkritiknya.

Dilansir dari Tempo.co, ia menampik dugaan netizen tersebut. Ia mengatakan bahwa dengan dipilihnya ia sebagai penerima penghargaan tidak akan menghentikannya menjadi nyinyir kritis. Ia menambahkan bahwa ia akan terus mengkritik karena presidennya menghargai kritik.

Seharusnya kita dapat melihat hal ini dalam sisi positif. Award yang diraih Lord Fahri ini membukakan mata kita bahwa nyinyir tak selamanya buruk. Tahu tempe kah kamu? Untuk menjalankan sistem agar tetap on the track, sistem tersebut butuh sekali feedback negatif. Maka dari itu, pemerintah (baca: Jokowi) memberi penghargaan sebagai ucapan terima kasih karena membantu sistem pemerintahannya tidak keluar jalur.

Setelah tahu nyinyir rupanya tidak selalu negatif, apakah kita juga boleh nyinyir juga seperti Lord Fahri?

Tentu boleh, tapi coba tanyakan dulu dirimu. Apakah Pembaca yang budiman ini konglomerat penyumbang pajak terbanyak? Petinggi Partai? Anggota DPR? Atau punya pengaruh terhadap kelanggengan kekuasaan rezim pemerintah?

Kalau status Anda tidak memenuhi yang saya sebut di atas, mohon maaf Anda belum bisa “nyinyir yang baik” seperti Lord Fahri. Sekadar mengingatkan, kalau tidak punya posisi atau pengaruh, masih ada UU ITE serta pasal penghinaan presiden yang mengawasi jari dan bibir nyinyir Anda. Hehehe…

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Bagaimana Kita dan Media Membungkus Gilang 0 569

Cerita murung bermula dari cuitan akun Twitter @m_fikris yang menceritakan kronologi bagaimana seorang laki-laki muda, dari suatu kampus kondang di Surabaya, melakukan pelecehan seksual secara verbal melalui pesan elektronik. Kisah pahit itu dijuduli dengan judul bombastis, macam portal berita onlen: “Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset dari Mahasiswa PTN di SBY”. Lantas, satu negara ini sejenak melupakan corona, berpindah gandrung pada ‘Gilang’, nama yang disebut-sebut menjadi pelaku pelecehan.

Cerita bertopik seks semacam ini, pembaca tahu, dengan cepat sambung-menyambung, berbalas, dan dibagikan secara meluas di linimasa. Tak hanya ramai di media sosial, yang bahkan sempat menduduki tingkatan teratas trending topic, ia ramai menjadi buah bibir tetangga, hingga agenda pemberitaan media massa.

Selain soal menumbuhkan kewaspadaan bersama, tapi lalu mengapa media, dan juga kita, sangat berambisi pada cerita-cerita semacam ini? Ada beberapa hal yang penulis ajukan di sini.

Pertama, media kita memang mudah sekali terangsang mengangkat berita-berita berbau seks. Apalagi ada anomali yang baru, fetish atau dorongan seksual dalam konteks kasus Gilang ini unik: napsu melihat orang yang dibungkus seperti pocong dengan kain jarik. Sayangnya, pembawaan berita berputar-putar pada fenomena, bahkan mengungkap sejarah Gilang yang sudah sering melakukan tindakan asusila.

Tapi, kemalasan media membuatnya lupa memberi pendalaman perspektif psikologis atasnya. Apakah benar memang fetish? Atau justru gangguan kejiwaan lainnya yang tak berhubungan dengan seksualitas?

Ah, jangan heran, media kita kan memang dari dulu begitu. Sejak zaman Orde Baru, kita sudah di-ninabobo-kan dengan berita konflik pertumpahan darah dan SEKS, supaya pemerintah tidak perlu repot-repot menjawabi pemberitaan yang mengkritisi kinerjanya.

Kedua, kita sepakat – jika memang ini adalah kasus pelecehan seksual – selalu bak gunung es. Korban-korban Gilang lainnya, yang telah menjadi target operasi bertahun-tahun silam, baru terungkap semuanya, ketika ada satu orang yang berani bicara. Kita memang patut berterima kasih (jika memang baik budi niatnya) pada si pembuat thread pada mulanya.

Demikian pula dengan kasus pelecehan seksual yang sudah-sudah. Entah itu pedofilia, pelecehan dalam keluarga, bahkan dalam konteks pria-wanita, selalu membuat sang korban tak berani bicara. Sebaliknya, korban lebih banyak dirundung, dituduh menggoda dengan pakaian terbuka.

Karena memang, belum ada hukum di negeri ini yang mampu melindungi korban pelecehan seksual. Kalaupun ada kasus yang terungkap ke permukaan dan diproses hukum, ia haruslah viral terlebih dahulu di media sosial (dengan mempermalukan korban 2 kali lipat), agar bisa ditindak pakai ‘Sang Maha-benar’ UU ITE, yang tak pernah benar-benar menggasak betapa brengseknya tindakan pelecehan itu sendiri. Benar apa kata sjw-sjw feminis: RUU PKS harus segera disahkan!

Ketiga, persoalan Gilang ini tak bisa hanya dilihat soal orientasi seksual yang melenceng. Kita sepakat bahwa hal tersebut adalah kemerdekaan hak setiap orang. Yang jadi persoalan, cara Gilang – jika, sekali lagi, memang benar fetish – dalam mengajak si korban memuaskan birahinya.

Gilang menggunakan kata-kata yang manipulatif, membohongi anak-anak yang lebih muda darinya agar mau membantunya mengerjakan ‘tugas kuliah’. Ia juga mendekati orang-orang yang tak ia kenal sebelumnya, dengan bahasa perkenalan yang cenderung superior, dominan, sekaligus minim etika. Unggah-ungguh berkenalan, ngobrol, dan meminta tolong pada orang yang baru dikenal seharusnya milik kita semua, terlepas dari apapun pilihan jalan hidup dan orientasi seksualnya.

Keempat, pendapat netijen yang bermunculan akhir-akhir ini justru bernada mengolok karena menganggap Gilang pantas mendapatkannya. Ejekan itu berkedok guyonan, bahkan nama-nama besar seperti Babe Cabita – yang kemudian banyak dihujat netijen juga – ikut-ikutan menertawakan tindakan Gilang. Selain itu, kamu dan saya, mulut kita semua sudah sibuk ngrasani bersama teman-teman tentang betapa tak warasnya Gilang.

Kita tidak sadar, bahwa diri sendiri ini juga sami mawon: menjauhi dan mencibir entah korban entah pelaku, entah juga orang-orang macam Gilang; tapi lupa bersimpati, mendekati, mencari akar masalah, dan menyelesaikannya bersama-sama. Memang benar, gotong-royong yang diajarkan founding fathers kita hanya tinggal klise sekarang (lihat tulisan: ‘Menghidupkan Kembali Klise Kesadaran Kolektif’).

Pada akhirnya, soal bungkus-membungkus ini memang bukan milik Gilang dan rektorat kampusnya yang sibuk memberi pernyataan sikap semata. Ini juga masalah kita semua, yang sudah lama dibungkus rasa egois dan gengsi, menutup mata dan telinga pada persoalan sosial di sekitar kita.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Editor Picks