Pelajaran dari Hotman Paris dan Kopi Murahnya 0 465

Oleh: Michelle Florencia*

“Salam dari Kopi Johny!”

Itulah sapaan yang setia menyambut saya di pagi hari. Ya, setiap saya membuka Instagram di pagi hari, video pengacara kondang berlimang berlian, Hotman Paris Hutapea, selalu muncul di explore Instagram saya. Dan entah mengapa, video-videonya yang muncul itu selalu behasil mempersuasi saya untuk menontonnya. Sapaan “salam dari kopi Johny” tersebut Hotman lontarkan ketika ia sedang ngopi di sebuah kedai kopi di Kelapa Gading, Kopi Kwang Koan atau yang sering ia sebut dengan Kopi Johny – seturut empunya kedai yang bernama Johny.

Pria panas dari Paris ini meluangkan waktunya sebelum bekerja untuk ngopi di sana dan berbincang-bincang dengan pelanggan yang lain. Bahkan, Pak Johny mengatakan, tak jarang pengacara kondang ini sudah stand by dari hari masih gelap. Bukan, bukan untuk membantu Pak Johny menyiapkan  kedainya, tapi untuk ngopi.

Dalam video-videonya, ia kerap memberi kritik dengan gayanya yang ceplas-ceplos  terhadap hukum-hukum yang masih janggal, terutama pasal-pasal mengenai perceraian yang ternyata malah merugikan pihak perempuan.  Darinya, mata kita dibukakan bahwa hukum yang selama ini kita anggap sebagai armor kita malah bisa merugikan.

Ia bahkan tidak takut mengatakan Menteri Perempuan dan Anak tidak jelas kerjanya karena tidak bisa melindungi wanita dari para buaya darat – padahal doi sendiri pernah punya affair dengan Meriam Bellina. Kalau kita menonton video-videonya, selain urusan Lamborghini dan parade cewe-cewe genit, Hotman juga concern terhadap hak-hak wanita—sebuah paradoks yang ganjil sebetulnya. Ia juga beberapa kali menekankan pada pengacara muda untuk selalu taat pada perundang-undangan dalam membela klien. Reputasi dan integritas harus selalu dijaga.

Dari gaya berpakaiannya yang seperti kaum borjuis masa kini dengan suit sutra dan dasi ber-swarovski, mobil sport Italinya dan cincin-cincin berliannya yang menyilaukan mata – iya, memang tidak sekaya dan semewah Frederich Yunadi, akan tetapi siapa sangka ia mau meluangkan waktunya yang sangat terbatas untuk ngopi di kedai sekelas Kopi Johny dan berbincang-bincang dengan pelanggan yang lain. Bukan mau mengeneralisasi, namun sudah bisa ditebak kedai ini didominasi rakyat menengah kebawah. Hanya saja, semenjak ada pengacara ceplas-ceplos ini, orang menengah keatas pun jadi ikut ngopi disini.

Bang Hotman tak hanya nyangkruk unfaedah disana, namun memberi layanan konsultasi hukum gratis! Padahal, bila kita konsultasi di kantornya, alamak…. uang UKT saya selama satu dekade pun tidak cukup! Salut dan takjub! Pengacara yang namanya sudah di atas angin dan dengan fee ratusan juta mau membantu mereka yang kesulitan dalam  urusan hukum.

Namun seperti biasa, sehebat-hebatnya jaksa dan hakim menentukan kesalahan orang, netijen kita lebih hebat lagi. Disaat saya begitu mengagumi sosok  yang satu ini, netijenus keminteritis malah memberi komentar nyinyir yang berkedok masukan. Hotman dianggap suka memamerkan kekayaan dan tidak konsekuen  dengan kampanye memberantas buaya darat karena dalam videonya ia beberapa kali bersender manjyah di pundak cewek muda nan seksih. Geram, Bang Hotman beberapa kali menyemprot spesies netijen ini dengan video “salam kopi Johny” nya dan menantang mereka untuk menunjukkan achievement mereka.

Ckckckck…. rupanya spesies netijen yang seperti ini memang tidak memiliki kemampuan untuk melihat sisi positif orang. Kalau Bang Hotman mau pamerin Lamborghini-nya, masalah? Harusnya itu menjadi motivasi untuk kita! Bang Hotman beberapa kali mengunggah videonya yang sedang kerja di pagi-pagi buta untuk menunjukkan pada netijen rahasia di balik Lamborghini dan suit Tom Ford-nya, yaitu kerja keras! Ingat sodara, kerja, kerja, kerja!

Mungkin instagram menjadi distraksi yang begitu kuat bagi segelintir orang sehingga mengomentari hidup orang lain lebih nikmat dari pada memperbaiki hidup sendiri. Saran bagi peneliti dunia medis, mungkin bisa membuat antigen  bagi netijenus keminteritis untuk menghambat keganasannya.  Untuk Bang Hotman kesayanganku, ingatlah quote dari  Winston Churchill, “lek kon nyawati asu ambe watu siji-siji,yo gak nyampe-nyampe la’an”. Jalan terus, Bang! Ingatlah netijen fakir ilmu hukum seperti kami yang butuh edukasi (dan uang) dari Anda! Horas!

*Tumbuh dan besar di Lombok, penulis sekaligus mahasiswi ini merantau ke Surabaya. “Mencari tambatan hati dan memenuhi selera travelling”, katanya.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Hidup Pembagi Brosur 0 340

Petugas pembagi brosur di pinggir jalan barangkali lelah menghadapi warga seperti saya. Jika sudah di atas kendaraan, apalagi nyetir sendiri, bagai iklan sedot WC di tiang-tiang listrik, mas-mbak pembagi brosur iklan di pinggir jalan hanyalah angin lalu bagi saya.

Sembari mangkel, saya kerap mengutuki mereka. Secara sepihak menjatuhi vonis atas mereka sebagai penyebab kecelakaan di jalan – bayangkan saja mas’e kalau menyodorkan brosur bisa brutal sampai ke depan muka unyu saya, padahal motor sedang digeber kencang.

Belum lagi ditambah fakta bahwa kita – sebagai sasaran empuk brosur jalanan – harus menerima dua sampai empat lembar sekaligus. Tujuannya agak mulia: agar brosur di tangan mas’e cepat habis dan bisa segera pulang membawa rupiah atas hasil kerjanya. Tapi yang ada di benak saya: lha ini saya disuruh ikut bagi-bagi brosur sekalian apa gimana?

Entah dengan briefing model seperti apa, pasti jauh dari nalar dan kesadaran mas-mbak’e, iklan cetak macam brosur – mulai dari jasa les-lesan, tukang kunci, pembesar alat vital, sampai promosi café baru yang menjunjung tinggi nilai ‘gak enak gak apa-apa, yang penting mahal’ – telah dihitung dengan rumus marketing secara seksama dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Sebagaimana brosur sebagai bagian dari advertising yang pengertiannya berbayar untuk ruang dan waktu yang telah digunakan. Artinya, brosur di jalanan itu tidak main-main. Tentu membutuhkan hitung-hitungan njelimet untuk menyesuaikan berapa lembar brosur yang hendak dicetak dengan jangkauan target market yang disasar. Ini semua juga ada hubungannya dengan pemilihan media kertas cetak, di mana ia dibagikan, dan citra produk seperti apa yang hendak diraih si pembuat iklan.

Dengan ini, praktik membagikan brosur sampai ndobel-ndobel tentu tidak bijak, tidak sesuai dengan hitung-hitungan marketing.

Tapi di luar omelan betapa muaknya kita tentang perilaku pembagian brosur ini, mbok ya kita ini juga sadar, betapa masam tantangan yang dihadapi para pembagi brosur ini.

Pertama, seperti cerita penulis di pembuka tulisan, pembagi brosur adalah pekerjaan menantang maut. Jika Dewi Fortuna tidak sedang memihak pada mas-mbak’e, minimal tangan ketenggor motor ndablek seperti saya yang tetap melaju kencang mengabaikan niat baik mereka.

Kedua, sudah bertaruh nyawa, imbalannya tak seberapa pula. Untuk setiap lembar brosur yang dibagikan, kira-kira tangan dan keringat mereka dijatah dua ratus perak. Jika dalam sehari para penyedia jasa penyebar brosur ini paling tidak membawa 200 lembar brosur, kira-kira 40 ribu rupiah di tangan, menafkahi hari itu.

Ah, tapi di era banjir informasi ini, para freelancer ini seharusnya tak perlu khawatir. Ada berbagai biro yang mampu menampung mas-mbak’e. Di kota besar seperti Surabaya misalnya, lowongan jasa sebar brosur menjamur di mana-mana, ketik saja di Google (barangkali pembaca sedang krisis ekonomi dan mau menggunakan tips ini).

Ketiga, di zaman yang serba digital ini, siapa sih yang masih mau membaca iklan cetak? Iklan online yang tiba-tiba muncul di gawai dan mengganggu aktivitas scrolling saja kita abaikan, apalagi brosur jalanan yang cara ngasihnya saja minim etika.

Kita mesti paham betul, bahwa selain dibayar dengan uang, mas-mbak’e sebenarnya juga butuh senyuman dari kita yang menerima brosur darinya. Apalagi di bulan nan suci ini, senyummu mbok ya jangan dihemat.

Paling tidak, mari kita sambut uluran brosurnya dengan hati bersih! Berikan senyum simpul saja, jangan lupa katakan terima kasih. Dua tiga langkah dari tempat mas-mbak’e membagikan tadi, baca dengan sungguh apa isi brosurnya. Tunjukkan betul ekspresi bahagia seakan informasi yang ada dalam brosur begitu penting menyangkut hajat hidup dan masa depan Anda. Pastikan terlebih dahulu bahwa aksi Anda ini masih dalam jangkauan mata pembagi brosur. Lakukan ini, paling tidak sebelum Anda membuangnya di tempat sampah (atau di sembarang tempat).

Anti Ramos dan Aksi Damai Bela Mo Salah 0 271

Sergio Ramos ncen asu kok.

Kami yang di sini sungguh tak terima padamu Mos. Dirimu adalah biang kerok dari menclek-nya bahu Mohamed Salah—pemain pujaan kami-kami yang telah dimabuk dahaga juara dari klub kebanggaan Liverpool.

Syahdan, Liverpool sudah telanjur kalah. Karius telanjur depresi. Dan Iqbaal telanjur memerankan Minke. Mos, tanggung jawab kamoh!

Tak ada jalan lain kecuali menggelar demonstrasi besar-besaran, aksi simpatik untuk Mohamed Salah sekaligus aksi protes di depan Kedutaan Spanyol. Ramos, bagaimanapun musti tahu betapa ini perkara super serius. Ramos harus tahu bahwa kita di sini mulai terlatih dalam mengumpulkan massa dalam demonstrasi, tak peduli dibayar nasi bungkus atau nasi kotakan. Jagad persepakbolaan internasional harus paham bahwa ada kekuatan super di sini, yang meski di bulan suci ini, tetap bisa istiqomah dalam berdemonstrasi.

Jangan lagi bertanya ihwal apa motivasi besar yang mendorong kita-kita bergerak seperti aktifis reformasi (atau aktifis gerakan 212, sebelas dua belas-lah). Kesamaan Salah dan kami sudah jelas: kami dipertautkan oleh agama suci yang harus dibela tandas sampai ke tulang, eh, bahu!

Ramos yang kafir itu harus tahu bahwa agama adalah soal hidup yang sangat prinsipil. Menyakiti satu muslim berarti menyakiti kami secara keseluruhan. Maka ribuan manusia sakit hati akan turun ke jalan. Tenang saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami hanya akan menghadirkan diri kami untuk menyampaikan uneg-uneg, beban berat, dan kegelisahan yang tak tertanggung lagi.

Mungkin memang ada dari kami yang kalah judi, turu pasar bantalan gobis. Tapi poinnya bukan itu. Esensi gerakan sakral ini adalah bahwa atas nama agama, tidak boleh ada yang tersakiti dan terkhianati. Mo Salah tak boleh ditinggalkan sendirian. Ia harus didampingi dan sebagai sesama muslim, menjadi mutlak bagi kita untuk saling bergandengan tangan.

Kami juga akan menggalang kekuatan lebih luas lagi, pada kawan-kawan seiman, tak peduli kalah judi atau tidak. Tunggu saja ente Mos!

 

Editor Picks