Peran Cawagub di “Film Debat” Jilid Satu 0 628

Semua warga negara yang baik pastilah kemarin menjadi saksi debat perdana Pilgub Jawa Timur di televisi nasional. Debat wilayah potensial negeri ini tentu sayang dilewatkan oleh para pencari porsi kepentingan, apalagi yang secara legal-formal ber-KTP Jawa Timur (kalau sudah jadi eKTP-nya sih). Durasi yang berharga di televisi-televisi besar Endonesah saja berhasil diluluhkan demi dua sejoli yang eyel-eyelan kemarin malam.

Yang terpenting, sebelum debat perdana ini dihelat, kita sudah mengetahui mereka berdua memang lawan seimbang yang penuh catatan historis. Tahun ini, hattrick sudah Khofifah bertemu Saifullah Yusuf di panggung pemilihan! Piala bergilir sudah mantap di tangan mereka!

Pengetahuan netijen tentang biografi sosok kedua pasangan sudah selesai. Termasuk untuk mengenal calon wakilnya yang unyu-unyu. Emil dengan Arumi-nya, dan Mbak Puti dengan nama kebesaran Bung Karno-nya (udah lah gak apa-apa, yang penting jadi kenal kan).

Dalam perdebatan kemarin, syukur kepada Allah Yang Mahakuasa, disediakan sesi bagi calon wakil gubernur untuk saling melawan. Ini demi memberi gambaran kepada kita-kita yang awam agar tahu sejauh apa si wakil bisa jadi pasangan yang baik ketika memimpin kelak.

Sejauh mata kita mampu mengamati, terdapat pembagian yang seimbang pada para wakil ini. Kapan ia harus bicara, kapan harus ngompori, kapan harus senyum, kapan harus ikut berdiri, kapan harus menunjukkan gesture tepuk tangan agar pasangannya semangat, semua sudah diatur dengan rapi di balik layar.

Akibatnya, sebagai sebuah karya film, tayangan debat kemarin potensial sekali untuk masuk box office atau menembus nominasi FFI Indonesia. Bagaimana tidak, kehadiran calon wakil-wakil ini memang begitu pas sebagai pemanis. (Penulis gak bilang ‘hanya jadi pemanis’ lho ya. Karena apalah arti karya kalau tiada pemanisnya, sama seperti teh tanpa gula dan aku tanpa kamu).

Maka, mari kita bahas satu per satu, siapa para calon wagub jika mereka adalah bagian dari film.

Yang pertama, Emil Elestianto Dardak (yang berikutnya kita panggil saja Mas Ganteng) ini hadir sebagai adegan-adegan flashback dalam film. Adegan ini tentu perlu, untuk memberi gambaran lebih komprehensif kepada penonton film, siapa background story dari si tokoh-tokoh utama. Gambar film dapat menunjukkan sosok tokoh utama yang sudah dewasa, kemudian terlihat si tokoh nampak memandangi jendela yang sedang hujan dan menunjukkan langit senja, dan sambil meminum kopi, si tokoh teringat masa kecilnya, kemudian gambar terlempar ke puluhan tahun lalu.

Nah, hal ini turut hadir di film debat perdana kemarin. Mas Ganteng secara konsisten menyebut siapa para lawan di masa lalu, “Gus Ipul ini kan wakil gubernur…” dan “Mbak Puti kan ada di komisi sepuluh DPR”. Hal ini perlu, agar poin penyerangan terhadap visi-misi dan kegagalan lawan di masa lalu dibawakan secara elegan dan cerdas ala lulusan doktoral negeri Jepang nun jauh di sana.

Tapi sayang oh sayang, si Mas Ganteng mulai naik pitam ketika dibalas menyematkan flashback pada karirnya. Bicara angka kemiskinan Kabupaten Trenggalek, si bupati darah muda ini tentu tiada terima. Cekcok lah ia dengan Mbak Puti. Lho kok? Iya, bukankah esensi debat adalah berusaha meng-goblok-kan lawan? Mas Ganteng seharusnya sadar dan lebih sabar. Untuk menunjukkan lawan kita goblok adalah dengan memberinya lebih banyak ruang untuk bicara, di mana kalimatnya akan mbulet dan muter-muter di pusaran yang sama, kemudian netijen kita yang super pandai ini akan menghujatnya sendiri.

Yang kedua adalah sosok Puti Guntur Soekarno yang hadir macam iklan yang tiba-tiba nongol di tengah-tengah film. Iya, misal ketika kita melihat adegan Ben, Jody, dan El sehabis bercengkeramah, eh tiba-tiba muncul truk bergambar merek Sekoci Api.

Ini sama seperti kemarin ketika kita sedang nikmat kita mendengar Gus Ipul memberi ulasan untuk menjawab pertanyaan panelis, kuasa mic dipindahtangankan ke Mbak Puti, dan tada, ia melanjutkan dengan “karena itu kami punya program Mas Metal, Seribu Dewi, Dik Dilan,…”. Iya, yang terakhir tadi itu menarik hati. Barangkali jika diberi durasi lebih panjang, harusnya Mbak Puti melanjutkan dengan tagline “jadi wakil gubernur itu berat, biar aku saja” (maaf ya Editor, guyonan Dilan harus dicantumkan di sini, buntu eh –ttd, Penulis).

Pasangan calon yang ini memang punya nama-nama program kerjanya yang cute dan kekinian bingits, jadi kumbang bagi kuping kembang-kembang milenial macem kita-kita ini. Segenap pendukung calon nomor dua harus bersyukur, berkat performa Mbak Puti kemarin, nama-nama cute program kerja berhasil dilontarkan. Toh film bisa lahir dan ada karena iklan, kan?

Yang pasti, kedua wakil ini berusaha menggaet hati para pemilih pemula. Kata millennial jadi habitus yang tekun disebutkan keduanya selama film berlangsung kemarin. Mas Ganteng dengan janji Millenial Job Center-nya, Mbak Puti dengan janjinya menebar koneksi internet di seluruh pelosok Jatim (kalau bisa ke rumah penulis juga ya, Mbak, please).

Seperti biasa, audiens diminta tenang oleh moderator selama perfilman berlangsung. Moderator tidak mengerti, bahwa yang minta ditenangkan adalah para milenial yang dicatut namanya berulang ini. Kedua pasangan calon tidak mengerti, kalau ingin menjadi idola di hati para millenials, paling tidak jawab masalah kejombloan mereka, atau jadi guru madingnya Dilan. Atau, keduanya memang harus sering-sering pasang ekspresi wajah dan gesture unik, agar tertangkap kamera paparazzi, yang tentu kelak menjadi ladang subur dan memajukan kesejahteraan para petani meme macem awak dhewe.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

“Gak Sengaja”, Hukum Indonesia, dan Pelakor di Drama Koriyah 0 139

Mau ngumpulin orang-orang yang kecewa dengan hukuman satu tahun para terdakwa penyiram air keras Novel Baswedan, sambil memperingatkan bahwa tulisan ini mengandung sedikit sepoiler drama.

(Penulis masih nggak tahu apa faedah ngumpulin orang-orang secara virtual begini. Nggak tahu lagi ada Corona apa?!)

Beberapa hari lalu, jaksa penuntut umum mengajukan hukuman kurungan 12 bulan bagi Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis. Mereka disebut melakukan penganiayaan berat dengan menyiram cairan asam sulfat kepada penyidik senior KPK, Novel Baswedan, sepulang sholat subuh 3 tahun silam. Kita tentu tidak bisa lupa, bahwa kejadian itu menyebabkan Novel kehilangan sebagian indra penglihatannya.

Dari pengajuan hukuman jaksa itu, banyak warga negeri ini yang meradang. Caci maki terhadap hukum Indonesia diajukan melalui laman media sosial, satu-satunya media yang dapat digunakan untuk nyampah aktualisasi diri. Kita semua lantas kecewa dengan sistem hukum Indonesia yang sudah sejak lama memihak pada sang empunya jabatan dan materi.

Tak lupa kita bernostalgia, mengenang betapa heroiknya KPK sebagai lembaga antirasuah, penghapus noda korupsi membandel negeri ini. Kita bersimpatik sungguh pada Novel, seorang yang bahkan ketemu apalagi nraktir semangkuk bakso buat kita aja gak pernah.

Pernyataan “ketidaksengajaan” yang muncul di persidangan dan akhirnya diduga kuat meringankan tuntutan hukum terdakwa itu, dijadikan konten oleh yang mengaku influencer. Betapa kata “gak sengaja” kini ramai dijual, menduduki trending topic. Kita menertawai kata tersebut. Hukum negara ini kita anggap jenaka.

Peristiwa ini memang menjadi pertanda bahwa masyarakat kita, walau nampak di taraf hanya peduli bikin TikTok dan challenge-challenge sembarang kalir di medsos, rupanya juga menaruh perhatian pada persoalan hukum dan politik negeri. Tentu ini kemajuan di satu sisi.

Kemudahan informasi dan akses yang diberikan teknologi membuat kita bisa membaca, menelaah, dan menganalisa kronologi perjalanan kasus Novel. Semua mendadak menjadi pengamat politik dan sarjana hukum jalur Twitter dengan diktat hukumonline.com.

Kita merasa menjadi makhluk paling suci jika ada yang mengusik kehidupan serdadu utama pemberantas korupsi. Kita merasa menjadi kaum yang paling berhak menentukan bahwa 1 tahun saja tak cukup. Kita ingin terdakwa dan otak di balik rencana jahat ini hidup menderita, berharap hakim memvonis hukuman seumur hidup.

Sama seperti kelakuan kita pada tokoh fiksi Yeo Da Kyung, karakter pelakor di drama Korea terlaris tahun ini: The World of Married. Penonton Indonesia ingin sang pelakor hidup menderita atas segala dosa yang diperbuat. Segenap mereka tidak terima melihat ending cerita Da Kyung yang tetap baik-baik saja, hidup dalam gelimang harta.

Kalau bisa, tak hanya meneror akun Instagram sang aktris, netijen gemas ingin menyurati sutradara, agar dibuatkan satu saja scene memuat adegan penyiraman air keras pada sang pelakor. Mungkin dengan berakhirnya wajah Da Kyung yang rusak, baru penonton bisa benar-benar puas (lha kok jadi kayak plot sinetron Endonesah?!).

Yang penonton lupa, Yeo Da Kyung, seorang gadis usia 20-an yang hamil di luar nikah dengan suami orang, telah menghabiskan masa mudanya, tak sempat mengejar cita-citanya, hanya karena nuruti mangan cinta dan janji manis bojone wong liyo.

Dari drama ini, kita lupa belajar tentang kehidupan. Hanya terfokus untuk belajar mengawasi suami ketika keluar rumah agar ia tak selingkuh. Kita lupa belajar bahwa apapun keputusan yang kita buat, telah menemui konsekuensinya masing-masing. Tak ada yang paling berhak menilai apakah ganjaran perbuatan sudah cukup memberatkan atau tidak.

Demikianlah kacamata kita yang sempit. Gak sengaja menertawai kebodohan orang lain, tanpa sadar bahwa perlakuan kita pun tak jauh lebih baik. Kita sengaja memilih satu-dua fakta kesalahan orang lain. Tapi juga sengaja mengabaikan nilai-nilai yang sebaiknya kita petik dan pelajari, agar kesalahan yang sama tak terulang pada hidup kita.

Lha wong menilai drama yang fiktif saja kita sengaja memilih poin yang hanya mau kita dengar, apalagi dalam kehidupan nyata. Hehe.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Surabaya Zona Hitam dan Warga yang Mencintai ‘Amuk’ Pemimpinnya 0 292

Kota yang kondang sebagai neraka kedua karena suhu panasnya ini (neraka pertama adalah chat yang tak berbalas dan webinar yang sepi pemirsa), makin mendidih beberapa hari terakhir.

Tak lama setelah ricuh amuk walikota Tri Rismaharini menggelegak di media, Surabaya langsung telungkup sebagai salah satu wilayah dengan pengidap Covid-19 tergawat di Indonesia. Status warnanya di website resmi negara bahkan sudah berganti menjadi hitam. Sebuah status yang demikian gelap dan mencerminkan tingkat bahaya di level akut.

Anda musti serius melihat data-data begini, dan itulah yang kita lakukan.

Orang menyerbu semua kanal media sosial, mengekspresikan betapa kesalnya pada situasi pandemi, dan tentu saja juga betapa terpesonanya pada walikotanya yang membela warganya. Risma meraih popularitasnya sebagai orang yang bukan saja gemar mengamuk apa saja yang tak beres, melainkan juga turun tangan langsung (dalam pengertian harfiah) pada apa-apa saja yang lain yang juga belum beres.

Resep yang terakhir ini sering disebut dalam bahasa ‘blusukan’, atau ‘sidak’, atau yang lebih praktis dan terdengar musykil: ‘Risma menyapu jalanan’, ‘Bu Walikota berkantor di pinggir jalan’, ‘Risma menangis bersujud syukur’, dan sejenisnya.

Anda tak perlu berpikir kritis: bukankah turun langsungnya pemimpin memperlihatkan disfungsi para anak bawahannya? Karena pertanyaan itu bisa dijawab dengan pertanyaan juga: bukankah pemimpin tetap harus tahu langsung ihwal realitas apa yang terjadi di luar sana?

Meskipun para kelompok nyinyir juga tak kehabisan amunisi: ‘…tapi mengapa semua amuk harus disiapkan dulu di depan kamera…’. Begitulah kelompok nyinyir. Betapa gemar mereka mencari kesalahan.

Pemimpin harus didukung saja, bukan dicari kelemahannya. Mari bersatu mengabarkan yang positif-positif saja agar, sesuai imbauan JRX, ‘imun kita naek’.

Tapi ada juga satu hal yang menggelitik. Warga Surabaya, seperti juga manusia lain yang berdomisili di kota-kota besar, rajin bertukar laporan dan mengutuki betapa masih rendahnya ketidaksadaran warga. Jalan-jalan besar mungkin tampak sepi, tapi gang-gang kampung penuh bukan main. Betapa pasar masih ramai, pusat belanja diserbu, dan warung-warung diburu pembeli.

Tak terlalu sulit menduga ke mana arah laporan ini: kitalah, warga itu, yang rendah empatinya, apatis, dan tak mau diatur. Kita adalah subjek yang paling apes karena sudah goblok kok ya masih ngeyel mengadu nyawa tanpa ajian atau doa-doa tarikat.

Dan bersamaan dengan itu, negara menghilang dari wacana. Anda hanya akan mengingat jejaknya lewat amukan-amukan dan bantuan-bantuan temporer.

Orang lupa bahwa warga di jalanan sana sudah berbulan-bulan dipaksa oleh kampanye elitis #dirumahaja. Lupa bahwa #dirumahaja tak bisa menyelesaikan urusan tunggakan utang dan makan sehari-hari kelompok miskin.

Anda tak bisa mengandalkan ‘auman singa’ seperti pesilat tangguh di film Kungfu Hustle, tanpa juga secara sigap dan menyeluruh menanggung derita hidup orang-orang yang sudah terlalu sering kalah itu. Pernah dengar penghasilan tukang sol sepatu keliling? Setega apa kita menasihatinya untuk #dirumahaja tanpa bicara tentang masa depannya?

Amukan pemimpin adalah penting pada satu sisi. Kita tak perlu bicara tentang tuluskah atau pencitraankah. Tapi orang-orang miskin lebih perlu sebuah visi, yang dapat memandu ke mana hidupnya dibawa.

“Tapi kan negara sudah membantu? Sudah ada bantuan sosial juga toh? Cukup tidaknya ya harus diatur sendiri. Mereka kan sudah mandiri, sudah dewasa, ndak perlu diberi tau lagi lah agar bertanggungjawab pada hidupnya”

Itu kata kita-kita, sambil duduk nyaman di ruang yang dingin dan sofa yang empuk, sepulang kerja dari kantor dengan ‘protokol kesehatan’, dan setengah jam lagi menunggu jadwal TikTok harian.

 

*) Ilustrasi oleh: Celine Anjanette

Editor Picks