Peran Cawagub di “Film Debat” Jilid Satu 0 393

Semua warga negara yang baik pastilah kemarin menjadi saksi debat perdana Pilgub Jawa Timur di televisi nasional. Debat wilayah potensial negeri ini tentu sayang dilewatkan oleh para pencari porsi kepentingan, apalagi yang secara legal-formal ber-KTP Jawa Timur (kalau sudah jadi eKTP-nya sih). Durasi yang berharga di televisi-televisi besar Endonesah saja berhasil diluluhkan demi dua sejoli yang eyel-eyelan kemarin malam.

Yang terpenting, sebelum debat perdana ini dihelat, kita sudah mengetahui mereka berdua memang lawan seimbang yang penuh catatan historis. Tahun ini, hattrick sudah Khofifah bertemu Saifullah Yusuf di panggung pemilihan! Piala bergilir sudah mantap di tangan mereka!

Pengetahuan netijen tentang biografi sosok kedua pasangan sudah selesai. Termasuk untuk mengenal calon wakilnya yang unyu-unyu. Emil dengan Arumi-nya, dan Mbak Puti dengan nama kebesaran Bung Karno-nya (udah lah gak apa-apa, yang penting jadi kenal kan).

Dalam perdebatan kemarin, syukur kepada Allah Yang Mahakuasa, disediakan sesi bagi calon wakil gubernur untuk saling melawan. Ini demi memberi gambaran kepada kita-kita yang awam agar tahu sejauh apa si wakil bisa jadi pasangan yang baik ketika memimpin kelak.

Sejauh mata kita mampu mengamati, terdapat pembagian yang seimbang pada para wakil ini. Kapan ia harus bicara, kapan harus ngompori, kapan harus senyum, kapan harus ikut berdiri, kapan harus menunjukkan gesture tepuk tangan agar pasangannya semangat, semua sudah diatur dengan rapi di balik layar.

Akibatnya, sebagai sebuah karya film, tayangan debat kemarin potensial sekali untuk masuk box office atau menembus nominasi FFI Indonesia. Bagaimana tidak, kehadiran calon wakil-wakil ini memang begitu pas sebagai pemanis. (Penulis gak bilang ‘hanya jadi pemanis’ lho ya. Karena apalah arti karya kalau tiada pemanisnya, sama seperti teh tanpa gula dan aku tanpa kamu).

Maka, mari kita bahas satu per satu, siapa para calon wagub jika mereka adalah bagian dari film.

Yang pertama, Emil Elestianto Dardak (yang berikutnya kita panggil saja Mas Ganteng) ini hadir sebagai adegan-adegan flashback dalam film. Adegan ini tentu perlu, untuk memberi gambaran lebih komprehensif kepada penonton film, siapa background story dari si tokoh-tokoh utama. Gambar film dapat menunjukkan sosok tokoh utama yang sudah dewasa, kemudian terlihat si tokoh nampak memandangi jendela yang sedang hujan dan menunjukkan langit senja, dan sambil meminum kopi, si tokoh teringat masa kecilnya, kemudian gambar terlempar ke puluhan tahun lalu.

Nah, hal ini turut hadir di film debat perdana kemarin. Mas Ganteng secara konsisten menyebut siapa para lawan di masa lalu, “Gus Ipul ini kan wakil gubernur…” dan “Mbak Puti kan ada di komisi sepuluh DPR”. Hal ini perlu, agar poin penyerangan terhadap visi-misi dan kegagalan lawan di masa lalu dibawakan secara elegan dan cerdas ala lulusan doktoral negeri Jepang nun jauh di sana.

Tapi sayang oh sayang, si Mas Ganteng mulai naik pitam ketika dibalas menyematkan flashback pada karirnya. Bicara angka kemiskinan Kabupaten Trenggalek, si bupati darah muda ini tentu tiada terima. Cekcok lah ia dengan Mbak Puti. Lho kok? Iya, bukankah esensi debat adalah berusaha meng-goblok-kan lawan? Mas Ganteng seharusnya sadar dan lebih sabar. Untuk menunjukkan lawan kita goblok adalah dengan memberinya lebih banyak ruang untuk bicara, di mana kalimatnya akan mbulet dan muter-muter di pusaran yang sama, kemudian netijen kita yang super pandai ini akan menghujatnya sendiri.

Yang kedua adalah sosok Puti Guntur Soekarno yang hadir macam iklan yang tiba-tiba nongol di tengah-tengah film. Iya, misal ketika kita melihat adegan Ben, Jody, dan El sehabis bercengkeramah, eh tiba-tiba muncul truk bergambar merek Sekoci Api.

Ini sama seperti kemarin ketika kita sedang nikmat kita mendengar Gus Ipul memberi ulasan untuk menjawab pertanyaan panelis, kuasa mic dipindahtangankan ke Mbak Puti, dan tada, ia melanjutkan dengan “karena itu kami punya program Mas Metal, Seribu Dewi, Dik Dilan,…”. Iya, yang terakhir tadi itu menarik hati. Barangkali jika diberi durasi lebih panjang, harusnya Mbak Puti melanjutkan dengan tagline “jadi wakil gubernur itu berat, biar aku saja” (maaf ya Editor, guyonan Dilan harus dicantumkan di sini, buntu eh –ttd, Penulis).

Pasangan calon yang ini memang punya nama-nama program kerjanya yang cute dan kekinian bingits, jadi kumbang bagi kuping kembang-kembang milenial macem kita-kita ini. Segenap pendukung calon nomor dua harus bersyukur, berkat performa Mbak Puti kemarin, nama-nama cute program kerja berhasil dilontarkan. Toh film bisa lahir dan ada karena iklan, kan?

Yang pasti, kedua wakil ini berusaha menggaet hati para pemilih pemula. Kata millennial jadi habitus yang tekun disebutkan keduanya selama film berlangsung kemarin. Mas Ganteng dengan janji Millenial Job Center-nya, Mbak Puti dengan janjinya menebar koneksi internet di seluruh pelosok Jatim (kalau bisa ke rumah penulis juga ya, Mbak, please).

Seperti biasa, audiens diminta tenang oleh moderator selama perfilman berlangsung. Moderator tidak mengerti, bahwa yang minta ditenangkan adalah para milenial yang dicatut namanya berulang ini. Kedua pasangan calon tidak mengerti, kalau ingin menjadi idola di hati para millenials, paling tidak jawab masalah kejombloan mereka, atau jadi guru madingnya Dilan. Atau, keduanya memang harus sering-sering pasang ekspresi wajah dan gesture unik, agar tertangkap kamera paparazzi, yang tentu kelak menjadi ladang subur dan memajukan kesejahteraan para petani meme macem awak dhewe.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilema Maudy, Dilema Kita Semua 1 225

Harkat dan martabat hidup manusia berkebangsaan Indonesia adalah memiliki sifat peduli. Sifat peduli itu lambat laun berevolusi; kadarnya jadi terlalu banyak kini. Saking banyaknya, masih ada waktu yang tersedia bagi masyarakat negara ini untuk memikirkan perkara pelik orang lain, padahal masalah diri sendiri belum usai. Termasuk persoalan hidup si mbak kesayangan kita semua, Maudy Ayunda.

Jagat media sosial berhasil dibuat gempar gara-gara dua postingan cah ayu ini beberapa hari lalu, lantaran ia mengunggah kabar bahwa dirinya diterima di dua universitas kenamaan dunia, Harvard dan Stanford. Maudy lantas ditimpuk dilema. Untuk mempercantik CV-nya yang sudah bertuliskan lulusan Oxford, manakah yang harus dipilih?

Dilema itu tentu tak hanya melanda artis serba bisa ini. Se-Indonesia raya dibuatnya repot betul. Dilema ini kemudian merambah naik jadi trending topic di linimasa, dihiasi kegelisahan receh masyarakat kelas menengah. Oleh netijen Nusantara, dilema Maudy kemudian dibandingkan dengan dilema diri sendiri. Jadilah sejumlah lelucon gaya baru.

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Belajar buat UN vs SBM

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Indomi kuah soto vs Indomi kuah kari

Maudy: Harvard vs Stanford
Aku: Mau kerja revisi skripsi sekarang vs nonton oppa di drama korea

Fenomena ini jadi pengingat bahwa kita memang tidak pernah mampu melepas unsur subjektif pada persoalan orang lain. Padahal, kita bisa melihat dilema Maudy apa adanya saja, tanpa dikaitkan dengan persoalan pribadi. Padahal, kita bisa saja berhenti pada apresiasi murni dan tulus, tanpa merasa “apalah aku yang hanya butiran jasjus ini”.

Masyarakat kita memang terbiasa bersimpati. Kadang, sampai tidak sadar bahwa ada hal-hal yang sebetulnya gak terlalu penting untuk disimpatikan. Simpati seakan-akan menjadi pilihan terakhir selagi objek tidak bisa dibuat nyinyir. Karena Maudy tak punya celah untuk diolok, lantas cara lain dicari.

Adalah persoalan di sisi lain bahwa masyarakat kita juga tidak terbiasa memuji. Apalagi bersyukur dan mengakui kemampuan diri, sungguh masih jadi rancangan kurikulum hidup yang belum terwujud.

Kita hanya fokus melihat hasil yang diraih Maudy, tanpa pernah tahu bagaimana proses belajar dan kerja keras yang dilaluinya. Kita hanya tahu kesuksesan seorang Maudy, tanpa tahu derai air mata dan marah-marahnya ketika sakit atau kecewa di tengah jalan. Pada akhirnya, Maudy hanyalah manusia yang seperti kita.

Pun jika dilema kita hanya soal apakah mandi sekarang atau lima menit lagi, lantas mengapa? Jika dilema kita adalah tentang memilih doi yang sekarang atau mantan terindah, lantas mengapa? Memangnya dilema-dilema di dunia ini punya kasta dan tingkat prestisius?

Jangan-jangan, selagi kita mengagumi dan membandingkan diri dengan Mbak Maudy, tanpa sadar kita sedang membuang waktu untuk mengapresiasi dan memotivasi diri sendiri. Jangan-jangan, selagi mengamati jalur hidup orang lain, kita sedang membuang kesempatan untuk bertumbuh dan naik level di kehidupan sendiri. Bisa jadi, waktu yang kita habiskan untuk mikiri kampus pilihan Maudy, setara dengan waktu untuk mengerjakan revisi skripsi, wisuda, memulai usaha warkop kecil-kecilan, dan membangun rumah tangga yang sakinah.

Pada masanya, kita akan menghadapi dilema kita sendiri yang tidak kalah peliknya dengan punya Maudy. Jadi tidak perlu membandingkan. Karena jangan-jangan, sekali lagi, membandingkan adalah pintu dari iri hati tanda tak sampai.

We never step in their shoes. Tapi nek aku dadi de’e, yo jelas dilema seh.

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 206

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Editor Picks