Pledoi untuk Bunda Ratna Sarumpaet beserta Mobilnya 0 1143

Ratna Sarumpaet, salah seorang pentolan dalam panggung teater dan seni di Indonesia, baru saja ditimpa musibah. Mobil kesayangannya yang leha-leha diparkir di bahu jalan sedang apes: diderek tanpa ba-bi-bu oleh Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Setelah tercekat dan sedikit adu argumen (sebelas-duabelas dengan ngomel-lah kira-kira), Bunda Ratna yang kepalang trengginas marahnya, mencabut smartphone dan menelepon Gubernur Anies. Setelah beberapa kali tak diangkat, Bunda tak patah semangat, dan ia teruskan mengontak staf Anies. Alhasil, kabar baik akhirnya datang juga: mobil yang sempat diderek itu akhirnya dikembalikan ke pangkuan Bunda Ratna. Hepi ending!

Tapi tentu saja bagi sebagian besar netijen ini mengecewakan. Selain bahwa Bunda Ratna adalah bunda dari Atiqah Hasiholan yang kurang ajar mempesona lesung pipitnya, beliau juga dikenal luas sebagai aktifis kemanusiaan, juga salah satu penggalang gerakan reformasi menjelang Mbah Harto tumbang. Eeeh, lha kok malah minta bantuan kekuasaan dari atas untuk sekedar membebaskan mobil dari tahanan Dishub—sebuah ciri yang malah khas zaman Mbah Harto.

Tapi kan netijen tabiatnya memang begono. Pembaca yang budiman jangan sekalipun meniru netijen-netijen kemarin sore itu, sebab Bunda Ratna ini tak perlu diuji lagi untuk urusan komitmennya pada demokrasi dan perjuangan nilai-nilai humanisme. Justru hubungan langsung ke pusat kekuasaan adalah cara beliau untuk menjamin demokrasi dari dalam. Jika terjadi penyimpangan di bawah, kita dapat sewaktu-waktu membetulkan dari atas. Harus ada yang bisa berjaga seperti Buffon di gawang-gawang kekuasaan, yang sigap menangkap sedikit saja pelanggaran aparat atas warganya. Dan Bunda Ratna adalah tokohnya.

Netijen yang nyinyir mbok ya ngaca. SIM-mu tembakan di calo Colombo wae kok sok hebat bilang penindakan hukum. Knalpotmu brong, spionmu bejat, nyetirmu urakan sambil mbalesi chat yayangmu aja kok semangat sekali menceramahi orang. Apalagi yang ente ceramahi ini Ratna Sarumpaet. Jangan menggarami lautan atau ngajari ikan mujair renang. Anda sedang berhadapan dengan pejuang demokrasi!

Entah kenapa penulis selalu darah tinggi gemas tiap ada orang baik-baik unyu dinyinyiri secara tidak pas begini. Sudahlah. Lagipula tak ada yang bisa memverifikasi apakah muntab-nya Bunda Ratna adalah sejati atau sekedar akting watak. Siapa yang tahu andai ini semua adalah skenario manis untuk menguji kita agar menggunakan pikiran dengan lebih jernih dalam memetik hikmah: bahwa seorang individu warga Negara harus sanggup melawan demi hak-haknya, musti punya hubungan baik dengan siapapun hingga pucuk kekuasaan. Bukankah ini moral story yang manis sekali?

Jika ternyata mobil bunda Ratna menyalahi peraturan, ya harus ada sosialisasi yang jelas peraturan itu. Enak saja Negara main sita sambil berasumsi semua warganya sudah tahu aturan. Jadi semua pelanggaran di muka bumi ini harus direlakan andai kita-kita belum tahu aturannya. Tak masalah. Semua senang semua aman kan?

Netijen mbokya peka. Jangan ente pelihara itu kecamuk nyinyir yang makin menyubur, bukan hanya nyinyir yang dialamatkan pada Bunda Ratna, tetapi juga yang dikirim kepada Oom Anies. Sedikit-sedikit salah gubernur. Kita harus proporsional juga, Gubernur hanya mengurusi hal-hal besar dan penting macam Alexis. Jangan dikerdilkan dengan urusan parkir. Itu urusan terlalu mini untuk level Gubernur.

Mari pembaca menggunakan akal sehat. Kita yang orang-orang biasa dan amat kecil dalam panggung besar kekuasaan adalah pihak yang paling tak berdaya. Maka, tak ada jalan lain kecuali belajar melawan—sebagaimana secara sempurna dicontohkan oleh Bunda Ratna. Meski panggung kekuasaan bukan panggung teater, Ratna Sarumpaet memberi pelajaran bagi kita bagaimana mengkadali dan mencoreng-moreng stabilitas kekuasaan. Betapa Negara bisa memelihara kroni-kroninya dan takluk di hadapan mereka. Betapa naifnya sebuah peraturan yang susah-payah didesain, tetapi dengan mudah diabaikan, bahkan dibatalkan. Betapa Negara sudah demikian menua hingga tak kuat menyangga martabatnya. Betapa kita semua disuguhi tontonan teatrikal yang menarik.

Eniwei, contoh tentang Buffon tadi agak meleset. Lha kemarin dibobol CR7 (Cak Dodo) dua kali sambil melongo.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ajakan Ustadz Abdul Somad Beli Kapal Selam Adalah Inovasi Cemerlang 0 153

Akhir April lalu Ustadz Abdul Somad melalui akun Instagram-nya (@ustadzabdulsomad_official) mengumumkan ajakan kepada umat untuk membantu negara membeli kapal selam baru dalam sebuah gerakan yang bertajuk “Patungan Rakyat Indonesia Membeli Kapal Selam”.

Gerakan ini bukan respons seremonial atau berita bombastis semata. Melalui gerakan ini, UAS benar-benar secara serius ingin turut mendukung TNI, mengingat betapa berat tugas yang mereka pikul. “Mari kita seluruh rakyat Indonesia, bahu-membahu mengulurkan tangan dan sumbangsih membangun kekuatan armada laut kita agar kembali berjaya,” kata UAS dalam postingannya.

Rasa-rasanya, lama kita tidak mendengar gerakan terbuka yang progresif dilakukan oleh tokoh Islam nasional. Maka sudah sepatutnya apa yang dilakukan UAS mendapatkan dukungan yang maksimal.

Namun tentu saja, eman kalau andaikata gerakan tersebut hanya berhenti sebatas membeli kapal selam saja. Dengan memanfaatkan pengaruhnya, UAS mestinya bisa melakukan lebih daripada itu.

Jika boleh memberi saran, banyak hal yang insyaAllah juga dapat diatasi bila UAS syukur-syukur mau melanjutkan gerakannya sampai ke pengadaan-pengadaan fasilitas negara lainnya. Kita mulai dari yang terdekat, membantu negara mengembangkan formula untuk menangkis serangan virus Covid-19.

Dari apa yang dilakukan UAS, bisa kita asumsikan bahwa Indonesia dihuni oleh mayoritas masyarakat borjuis, dengan kemungkinan besar orang miskin di Indonesia sudah masuk kategori minoritas sejak proklamasi. Artinya, bukan menjadi soal berat bagi masyarakat bila dimintai urunan membeli vaksin paling top di dunia, misalnya.

Selanjutnya, mumpung bulan Ramadhan, yang insyaAllah segala amalan kita dapat membawa berkah, maka perlu rasanya UAS membantu saudara-saudara dari agama minoritas untuk membangun rumah ibadah.

Dari banyak catatan sejarah, agama minoritas selalu kesulitan mendapatkan dukungan membangun fasilitas ibadah. Hal inilah yang kemudian memancing banyak sekali konflik SARA. Bahkan tidak jarang yang berakhir dengan peperangan fisik antara kelompok beragama, alhasil beban aparat yang senantiasa bertugas menangani konflik pun bertambah.

Nah, bayangkan, bila saja kelompok-kelompok agama minoritas mendapatkan dukungan berupa pembangunan fasilitas ibadah, maka kecil kemungkinan konflik SARA akan terjadi. Sebab, keadilan untuk beragama sudah diberikan. Dampak-dampak seperti peperangan yang dapat merepotkan tugas aparat pun bisa diatasi.

Sekarang kita masuk ke ranah pendidikan. Tak perlu riset berkepanjangan untuk mengetahui betapa kurangnya kualitas pendidikan di negara kita dikarenakan berbagai faktor. Yang biasanya paling sering disebut adalah fasilitas belajar-mengajar.

Pastinya UAS sudah mengetahui betapa agama mengharuskan kita untuk menuntut ilmu sebagai bekal di dunia dan akhirat. Mengajak masyarakat agar mau ikut urunan demi pendidikan yang berkualitas sama halnya seperti ibadah. Baik UAS dan negara, insyaAllah akan mendapatkan barokah bila melakukan jihad yang satu ini.

Kalau pun sekarang kegiatan sekolah di-online-kan, ya urunannya perlu menyesuaikan dengan itu. Contoh, belikan semua pelajar Indonesia yang membutuhkan sambungan internet atau handphone canggih supaya tidak ketinggalan pelajaran karena alasan keterbatasan fasilitas.

Terakhir – ya, meskipun masih banyak lagi – kita mungkin wajib tepuk tangan karena gerakan yang dilakukan UAS ini dimulai dengan strategi yang sangat visioner. Siapa yang mengira, lumbung bantuan dari hasil urunan ini akan berpusat di salah satu masjid yang terletak di Yogyakarta, daerah dengan gaji buruh terendah berdasarkan UMP se-Indonesia.

Mengingat masyarakat Indonesia mayoritas borjuis, pastinya gerakan urunan ini akan menghasilkan total uang yang banyak pula. Minimal lebih dari harga dua kapal selam yang katanya bisa sampai menyentuh angka – bila dirupiahkan – 16 triliun .

Kelebihan hasil urunan inilah yang – lagi-lagi – pastinya sudah dipikirkan UAS untuk dibagikan juga pada minoritas buruh-buruh di Jogja yang perekonomiannya terdampak pandemi. Sudah visioner, progresif, merakyat pula. UAS emang panutanque.

Kebetulan di masa pandemi ini, uang saya makin melimpah, walaupun pelanggan kafe sepi dan berbagai agenda proyek batal. InsyaAllah saya akan mendukung UAS apapun bentuk ajakan sosialnya.

Kalau nanti gerakan urunan ini beres di Indonesia, dan UAS berencana melakukan gerakan serupa sampai ke negara lain seperti Malaysia atau Afghanistan, maka saya akan tetap berada dalam sikap dan barisan yang sama. Barisan cemerlang dengan penawaran yang amat visioner.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Asmara Putra Presiden dan Kita yang Suka Kepo 0 290

Kaesang selingkuh??!!

Ini sih bukan cuma bahan omongan netijen di media sosial, tapi juga persoalan kita semua!

Persoalan ini menempati posisi teratas trending topic di linimasa media sosial. Bermula dari unggahan akun gosip junjungan kita semua, Lambe Turah, dan dikonfirmasi oleh beberapa postingan feed dan story akun melia_lau yang merupakan ibunda dari Felicia, pacarnya Mas Kaesang.

Pendek cerita, Kaesang dinyatakan menghilang tanpa kabar alias ghosting, lalu ketahuan jalan dengan perempuan lain. Naasnya, perempuan lain itu pegawainya sendiri. Bilang WOW gak nih?

Oh, betapa runyamnya persoalan ini bagi bangsa dan negara. Mendadak kita semua mengurusi persoalan asmara putra presiden. Setelah ini, wartawan infotainment yang brutal itu akan menyerbu istana, menghujani Jokowi dengan pertanyaaan personal seputar anak bungsunya.

Untuk sementara, istana hanya akan sibuk menjawabi persoalan ini, dan melupakan penanganan corona, atau urusan Moeldoko dan Demokrat.

Tapi, menurut hemat penulis, setidaknya ada sejumlah poin andai-andai yang bisa diserap dari peristiwa ini.

 

Kalau saja selingkuhnya di tempat yang tepat

Kata teman-teman saya sih, tempat terbaik di ibukota untuk selingkuh adalah Kuningan City. Konon, mal ini selalu sepi walau akhir pekan. Pun di dalamnya disewa oleh tenant ternama dengan harga diskon semua. Niscaya selingkuh aman dan hemat jika mbaké minta dibelikan baju baru.

Atau di Blok M misalnya. Pusat belanja yang hampir sekarat. Di mana penjualnya hanya fokus melariskan dagangan, tak peduli siapa yang sedang kencan, entah beneran pasangan atau simpanan.

Kalau di Surabaya, Anda bisa mengajak mbaké ke DTC. Bisa sekalian blusukan pelaku UMKM yang sesungguhnya. Siapa tahu mau studi banding.

Sayangnya, Mas Kaesang, kita ini memang hidup di zaman edan. Pacaran dengan pacar orang kurang afdol rasanya jika belum diposting ke media sosial, entah untuk apa tujuannya. Mungkin, untuk menunjukkan eksistensi dan mendapat pengakuan khalayak.

 

Kalau saja Kaesang bukan anak pleciden

Pasti kisah drama asmara ini akan biasa-biasa saja. Kaesang juga hanyalah mas-mas biasa usia 20-an yang suka main mobel lejen dan papji. Tapi status sebagai anak orang nomor satu di Indonesia ini menjadikan beban moral berat harus ditanggungnya.

Padahal, semua hubungan tentu punya masalah dan bisa saja menemui akhirnya. Semua dari kita pasti pernah mengalami ghosting, baik jadi korban atau pelakunya. Kaesang pun manusia adanya, yang bisa mengalami hal-hal tersebut. Bukan karena anak presiden, terus Kaesang jadi manusia paling sempurna dan idaman.

Kita semua ini kan pernah berdosa, cuma belum ketahuan boroknya aja. Tapi ya beginilah tabiat kita menjadi manusia. Menghakimi, menghujat, seakan-akan kita orang paling benar di dunia.

 

Kalau saja semua ini hanya prank

Siapa tahu kan, Kaesang butuh ide konten baru di akun Youtube-nya. Siapa tahu semua drama ini memang disiapkan untuk melamar Felicia di Desember 2021, seperti yang dijanjikannya pada keluarga.

Atta dan Aurel saja habis putus tiba-tiba mengumumkan pernikahan. Siapa tahu kan, yang satu ini juga bernasib demikian.

 

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks