Quo Vadis Mahasiswa Ilmu Komunikasi 0 1301

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

*Tulisan ini sesungguhnya refleksi penulisnya sendiri, yang tak kunjung mendapat pandangan yang jelas atas masa depannya. Silahkan dibaca dan dikasihani!

Adalah jelas bahwa mahasiswa jurusan Ilmu komunikasi yang paling “fleksibel” dibandingkan mahasiswa jurusan lain: seperti kecoa, bisa ditaruh ke sembarang tempat. Dari pegawai Bank sampai seniman mampu dilakukan oleh mahasiswa cetusan Ilmu komunikasi.

Sampai sini dulu. Jangan berlebihan, nanti jurusan sebelah belingsatan.

Seperti pertanyaan yang sering menimpa mahasiswa pemula pada umumnya, sebagai upaya memperkokoh kepercayaan diri atas identitas baru yang tersematkan pada dirinya: mengapa tertarik masuk jurusan tersebut?

Terkhusus mahasiswa Ilmu komunikasi, mohon, renungkan kembali. Dengan segenap kesadaran ketika anda-anda menjadikan jurusan ini sebagai langkah yang mengawali kondisi hidup kalian di masa depan.

Sudah?

Apa bayangan yang muncul dalam pikiran kalian? Untaian syukur atas duduknya kalian di kursi perkuliahan sebagai pembaca buku berjudul, “Pengantar Ilmu Komunikasi, Deddy Mulyana” atau limpahan kekecewaan karena sulitnya menyesuaikan gaya hidup dalam lingkungan mahasiswa Ilmu komunikasi yang sudah terstereotip hedon dan serba foya-foya? Atau jangan-jangan lebih jauh daripada itu; apakah anda tidak membayangkan apapun? Jika demikian, selamat! Tingkat pesimisme anda dalam jurusan ini telah mencapai radikal.

Di dalam jurusan ini, mahasiswa terbagi menjadi dua kubu besar. Pertama adalah mahasiswa dengan peminatan media, kedua adalah mereka yang senantiasa berdandan rapi dengan harapan bisa membuat nyaman lawan bicara (komunikan), yakni kubu korporat/hubungan masyarakat. Kubu humas membutuhkan penampilan paripurna sebagai pendukung proses pertukaran pesan. Ini disebabkan karena mereka bertugas di hadapan publik. Konsekuensinya mereka pun perlu membuat publik betah saat proses pertukaran pesan berlangsung. Dan, salah satu strateginya dengan berpenampilan menarik.

Sedangkan kubu media tak perlu memprioritaskan penampilan. Mereka berkandang di balik layar. Tidak ada yang memerhatikan keberadaan mereka. Mereka hanya berupa susunan nama yang muncul di akhir acara. Namun percaya atau tidak, kubu media memiliki peran penting untuk menjalankan suatu agenda khusus, mereka memproduksi pesan, membingkainya, dan meletakkannya menjadi formasi diskursus tertentu sebelum diedarkan ke penonton nah, ini, contoh bahasa anak-anak media.

Jika menggunakan nalar ekonomi, pemegang kendali atas jalannya sebuah agenda pastinya bergaji tinggi. Mungkin hal itu hanya berlaku di beberapa industri media saja. Jangan berharap pada media-media lokal yang bahkan untuk penyiarannya pun masih menyewa alat produksi dan perangkat-perangkat lain seperti kamera. Dengan keadaan seperti tidak berimbang ini, besar kemungkinan gaji akan berjumlah kecil, atau tertunda dalam tenggat waktu yang panjang.

Selanjutnya, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang berbangga diri menampilkan rupa mereka di hadapan banyak orang sebagai calon Pembawa acara televisi, Penyiar Radio, Master of Ceremonies, dan Humas dari perusahaan-perusahaan besar. Ketahuilah, menyampaikan pesan itu tidak semudah membacakan paragraf kesatu dari bab pertama buku pengantar Ilmu Komunikasi yang berbunyi,“Apa pentingnya mempelajari Ilmu Komunikasi?” lalu beberapa mahasiswa baru coba menjawabnya dengan penuh optimisme, serta ambisi atas cita-cita yang mereka bayangkan dapat segera diraih setelah lulus. Dan, mayoritas memilih diam, tidak menjawab apa-apa selain bertepuk tangan. Tenang, pertanyaan itu memang tidak ada jawabannya.

Saat ini mahasiswa lulusan Ilmu Komunikasi malah lebih banyak menjadi pekerja kreatif. Ada yang bertransformasi menjadi personil band (mantan penggemar hermeneutik), pelukis (mantan penggemar semiotik), makelar (mantan penggemar dosen proyektor). Terakhir, ada yang menjadi pengangguran (mantan aktivis). Salah seorang teman, lulusan Ilmu Komunikasi bahkan sampai membuka konter hp. Coba, bayangkan seberapa jauh dia terpelanting dari ranah keilmuannya.

Di Indonesia, puluhan universitas telah membuka jurusan Ilmu komunikasi dan berjuta-juta mahasiswa sedang meminatinya. Mari, kembali kita renungkan, berapa banyak nantinya jumlah manusia bergelar jurusan S.Ikom akan bersaing di lapangan pekerjaan. Berapa jumlah dari mereka yang pada akhirnya melakukan hal-hal trivia. Ada pun mereka yang menjadi pemenang dalam dunia kehidupan (Lebenswelt) penuh hiruk ini, telah meniadakan ilmu yang didapatkan selama perkuliahan dan berakhir sebatas syarat kelulusan belaka. Tidak mengandung tanggung jawab sosial yang berarti.

Memang, tidak ada yang memungkiri jika berkomunikasi, utamanya menyampaikan pesan, adalah pekerjaan penting sekaligus tidak mudah. Hermes, dewa Pengetahuan asal Yunani bertugas setiap harinya untuk menyampaikan pesan kepada manusia yang datangnya dari para dewa-dewa Olympus. Para Nabi dalam agama pun demikian, membawa nilai-nilai perdamaian menggunakan kemampuan retorika yang sempurna beserta pedoman hidup yang tidak bisa dipahami dalam waktu sebentar. Socrates, berkeliling Athena karena ingin mengetahui kisah hidup orang-orang sekitarnya, dan berupaya menemukan kebenaran universal.

Namun tahukah Anda, hakikat yang kerap kali terabaikan dalam proses komunikasi, bagian yang membuat kisah-kisah besar di atas mendunia, serta problem yang hingga saat ini menyebabkan Ilmu Komunikasi itu perlu, bahkan yang membuat ribuan alumnus kecewa sebab harapan atas kehidupan yang diidam-idamkan sirna begitu saja. Adalah sesungguhnya yang paling penting dari sekadar menyampaikan pesan, ialah mendengarkan pesan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Aku dan Kalian yang Dimabuk Parade Giveaway 0 154

Halaman fesbuk hamba—sebuah platform yang kini konon ditinggalkan muda-mudi milenial dan banyak diisi oleh generasi bangkotan—dihujani oleh pengumuman giveaway dari salah satu selebriti ibu kota, di sebuah tengah siang bolong.

“Syaratnya mudah!! Kamu tinggal share ini dan spam di komentar. Duit dikirim hari ini juga!!”

Bagaimana? Menggiurkan bukan pengumuman semacam itu?

Selain uang tunai, jenis hadiahnya bejibun sekaligus beragam. Untuk cabe-cabean yang berselera dan kepingin bergaya, ada Ipun keluaran terbaru. Kepada om-om yang doyan nongkrong, bahkan tersedia iming-iming hadiah mobil. Emak-emak yang bermata nyalang juga kebagian giveaway skinker dan kosmetik. Kelak, mungkin akan terpikir juga hadiah macam apa yang lebih megah menggiurkan dari sekedar mobil atau kosmetik.

Dan undangan pengumuman giveaway semacam ini bukan hanya datang dari satu seleb, tetapi banyak sekali dan terus merentang: mulai artis sinetron—yang kini banyak dan turut membagi akting dan lawaknya di Youtube—hingga pesohor dunia maya dengan followers atau subscribers berjuta-juta.

Di sana tetiba berhamburan semangat altruistik yang menular. Internet mendadak melahirkan banyak sekali sinterklas. Orang berlomba-lomba dalam hal baik, seperti melaksanakan pertobatan massal untuk berzakat dan berkurban, hanya saja dalam rupa materi nir-beras dan non-kambing.

Tapi apa yang keliru? Tak ada kenyinyiran pada hal baik semacam ini kan? Siapa tak suka Santa?

Itulah pokok soalnya. Bagi orang-orang yang hidup sehari-harinya pahit, digencet kejaran hutang, isi dompetnya dikuras habis lantaran korona, parade giveaway itu adalah anugerah surgawi. Hanya dengan syarat ringan (‘anda harus follow akun a, b, c…anda musti spam komen a, b, c), maka orang-orang seperti saya tentu saja akan rela hati. Berapa sih isi pulsa yang habis sekedar untuk memenuhi syarat-syarat giveaway dibandingkan hadiah mobil mulus menggiurkan?

Tentu saja ikhtiar baik seperti itu harus disambut. Tukang-tukang becak itu harus mem-follow akun-akun antah berantah demi menjemput giveaway idaman. Buruh cuci juga musti diingatkan terus untuk sekedar berkorban waktu agar dapat berpartisipasi memenangkan hadiah yang mampu mengangkat derajatnya. Pedagang kolas dan odong-odong pasti bahagia karena hanya dari spam sana sini, ia dapat membawa pulang Iphone gres. Asyik dan sederhana bukan? Itulah yang dipikirkan para seleb. Dan itu mulia.

Maka, ketika mulai berhamburan kritik, nyinyir, bahkan investigasi yang menyatakan bahwa banyak giveaway adalah palsu, manipulasi, dan bualan belaka, tentu saja kita pantas patah hati. Kok ya orang-orang nyinyir itu tidak bersabar dan mencoba melihat lebih luas, betapa banyak benefit yang dihasilkan dari aktifitas parade giveaway. Jangan-jangan tukang nyinyir itu adalah pejuang yang kalah undian dalam giveaway? Atau iri dengki lantaran tak cukup modal sebagai penyelenggara giveaway?? Bisa jadi lho!

Toh ndak ada yang dirugikan kok. Orang-orang miskin yang gaptek itu juga tidak rugi apa-apa. Mereka paling-paling rugi berapa rupiah pulsa untuk beli paketan internet dan berapa menit waktu. Mereka turut menjudikan nasibnya dalam undian giveaway karena, seperti tertulis tadi, dihimpit ekonomi.

Ini adalah masa dan tempat di mana orang lebih bergantung pada giveaway artis ketimbang bantuan negara. Bisa bayangkan orang lebih mengandalkan seleb daripada menggantungkan nasib ke negara? Hebat kan?

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Kami Para Fresh Graduate Ingin Jadi Seperti Giring dan Trump 0 177

Beberapa minggu lalu di sore yang cerah nan indah, saya menyusuri jalanan Kota Mataram. Namun, alangkah terkejutnya saya saat melihat baliho besar di Cakranegara dengan wajah Giring eks vokalis “Nidji” terpampang nyata di situ. Yang membuat saya terkejut adalah, baliho tersebut merupakan promosi untuk nyapres melalui partainya, PSI.

Pencalonan pelantun tembang “Hapus Aku” sebagai calon presiden RI mengundang perdebatan di dunia maya, terutama Twitter. Banyak dari netijen yang mempertanyakan keputusan Giring. Mereka berpendapat bahwa Giring terlalu terburu-buru mencalonkan diri sebagai presiden. Pasalnya, ia belum memiliki pengalaman yang cukup dalam kepemimpinan. Harusnya, ia memulai dulu dengan mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota dulu.

Mungkin saja, keputusan ketua partai PSI – ketua sementara menggantikan Grace Natalie – ini terinspirasi dari pencalonan diri Donald Trump pada 2016 silam. Setelah berkali-kali nyapres, akhirnya pria berambut lucu ini menjadi presiden Amerika Serikat.

Awalnya, banyak yang meragukan Trump akan menang karena ia tidak memiliki jenjang karir dan pengalaman di politik yang cukup memadai. Ia tidak pernah menjadi walikota ataupun menteri seperti lawannya, Hilary Clinton. Bahkan menjadi camat apalagi kadespun belum pernah. But he tried it anyway dan boom! Ia menang telak!

Saya heran mengapa PSI dan Partai Republik begitu yakin mengusung calon yang minim pengalamannya. Meski saya sepakat dengan suara netijen, namun saya iri dengan Giring Ganesha dan Donald Trump yang bisa dibilang bejo.

Pasalnya, perusahaan saja tidak percaya dengan kemampuan para lulusan baru. Seperti yang kita tahu, hampir semua lowongan pekerjaan menuliskan syarat yang bikin geleng-geleng. Memang di awal syarat sepertinya sangat welcome dengan fresh graduate. Tapi di poin berikutnya tertulis “minimal pengalaman 1 tahun di bidang yang sama”.

Hah? Fresh graduate tapi minimal kerja 1 tahun di bidang sama? Iki piye karepe?!

Bahkan, hal ini tidak hanya menimpa para lulusan baru. Kini, banyak perusahaan yang memberikan syarat serupa bagi mahasiswa yang ingin magang. Bayangkan, magang saja perlu pengalaman!

Sekarang perusahaan tak seramah dulu yang mau menerima pekerja dari berbagai jurusan. Perusahaan mengharuskan pelamar posisi tertentu harus dari jurusan yang related. Nah, yang saya heran, apa para employer ini lupa kalau saat kuliah kita juga diajari bekerja? Bukankah tugas-tugas yang diberikan dosen-dosen tercinta kami ini memang untuk mempersiapkan diri kita untuk duduk di profesi tersebut? Lha kok sek njaluk pengalaman sak tahun maneh? Bukannya kita melamar ini ya juga untuk mencari pengalaman?

Mbok kiro kuliah iku akeh nganggure ta sampe njaluk kabeh mahasiswa wes iso kerjo pas kuliah? Belum lagi di kampus kita juga dituntut untuk aktif berorganisasi namun tetap memiliki IPK yang bagus. Pun kita berkuliah bukan cuma untuk kerja kan?! Sungguh kasihan nasib generasi muda ini.

Dan sayangnya, fenomena yang sedang dialami kami-kami ini tak pernah diperhatikan pemerintah. Banyak dari bapak-ibu yang ada di kursi pemerintahan ini mengira banyaknya pengangguran itu karena lapangan pekerjaan yang kurang banyak. Ya memang tidak salah, tapi ada masalah lain, yaitu syarat kerja yang menyayat hati ini.

Fenomena ini pun tak hanya dialami kita-kita rakyat negara +62, tapi di seluruh dunia. 9gag dalam memenya dan aktor Tom Hanks dalam twitnya juga pernah menyindir sistem kerja seperti ini. Siapapun yang memulai sistem ini, dosamu sangat besar! Ups…

Yah kalau gini sih, gak heran kalau anak zaman sekarang banyak yang ingin jadi influencer saja. Udah gak repot bikin CV dan gak harus berpengalaman juga. Modal followers banyak, muka cakep – tenang, yang ini bisa dibantu filter –  dan bikin review makanan “sumpah guys, gak ngerti lagi ini enak banget, kalian wajib coba” udah bisa dinobatkan jadi influencer.

 

*) Ilustrasi oleh: Brigitha Aidha Jannah

Hobi fotografi, menggambar, dan fangirling band koriyah. Galeri karya bisa diintip melalui akun Instagram @50shadecolor.

Editor Picks