Quo Vadis Mahasiswa Ilmu Komunikasi 0 1145

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

*Tulisan ini sesungguhnya refleksi penulisnya sendiri, yang tak kunjung mendapat pandangan yang jelas atas masa depannya. Silahkan dibaca dan dikasihani!

Adalah jelas bahwa mahasiswa jurusan Ilmu komunikasi yang paling “fleksibel” dibandingkan mahasiswa jurusan lain: seperti kecoa, bisa ditaruh ke sembarang tempat. Dari pegawai Bank sampai seniman mampu dilakukan oleh mahasiswa cetusan Ilmu komunikasi.

Sampai sini dulu. Jangan berlebihan, nanti jurusan sebelah belingsatan.

Seperti pertanyaan yang sering menimpa mahasiswa pemula pada umumnya, sebagai upaya memperkokoh kepercayaan diri atas identitas baru yang tersematkan pada dirinya: mengapa tertarik masuk jurusan tersebut?

Terkhusus mahasiswa Ilmu komunikasi, mohon, renungkan kembali. Dengan segenap kesadaran ketika anda-anda menjadikan jurusan ini sebagai langkah yang mengawali kondisi hidup kalian di masa depan.

Sudah?

Apa bayangan yang muncul dalam pikiran kalian? Untaian syukur atas duduknya kalian di kursi perkuliahan sebagai pembaca buku berjudul, “Pengantar Ilmu Komunikasi, Deddy Mulyana” atau limpahan kekecewaan karena sulitnya menyesuaikan gaya hidup dalam lingkungan mahasiswa Ilmu komunikasi yang sudah terstereotip hedon dan serba foya-foya? Atau jangan-jangan lebih jauh daripada itu; apakah anda tidak membayangkan apapun? Jika demikian, selamat! Tingkat pesimisme anda dalam jurusan ini telah mencapai radikal.

Di dalam jurusan ini, mahasiswa terbagi menjadi dua kubu besar. Pertama adalah mahasiswa dengan peminatan media, kedua adalah mereka yang senantiasa berdandan rapi dengan harapan bisa membuat nyaman lawan bicara (komunikan), yakni kubu korporat/hubungan masyarakat. Kubu humas membutuhkan penampilan paripurna sebagai pendukung proses pertukaran pesan. Ini disebabkan karena mereka bertugas di hadapan publik. Konsekuensinya mereka pun perlu membuat publik betah saat proses pertukaran pesan berlangsung. Dan, salah satu strateginya dengan berpenampilan menarik.

Sedangkan kubu media tak perlu memprioritaskan penampilan. Mereka berkandang di balik layar. Tidak ada yang memerhatikan keberadaan mereka. Mereka hanya berupa susunan nama yang muncul di akhir acara. Namun percaya atau tidak, kubu media memiliki peran penting untuk menjalankan suatu agenda khusus, mereka memproduksi pesan, membingkainya, dan meletakkannya menjadi formasi diskursus tertentu sebelum diedarkan ke penonton nah, ini, contoh bahasa anak-anak media.

Jika menggunakan nalar ekonomi, pemegang kendali atas jalannya sebuah agenda pastinya bergaji tinggi. Mungkin hal itu hanya berlaku di beberapa industri media saja. Jangan berharap pada media-media lokal yang bahkan untuk penyiarannya pun masih menyewa alat produksi dan perangkat-perangkat lain seperti kamera. Dengan keadaan seperti tidak berimbang ini, besar kemungkinan gaji akan berjumlah kecil, atau tertunda dalam tenggat waktu yang panjang.

Selanjutnya, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang berbangga diri menampilkan rupa mereka di hadapan banyak orang sebagai calon Pembawa acara televisi, Penyiar Radio, Master of Ceremonies, dan Humas dari perusahaan-perusahaan besar. Ketahuilah, menyampaikan pesan itu tidak semudah membacakan paragraf kesatu dari bab pertama buku pengantar Ilmu Komunikasi yang berbunyi,“Apa pentingnya mempelajari Ilmu Komunikasi?” lalu beberapa mahasiswa baru coba menjawabnya dengan penuh optimisme, serta ambisi atas cita-cita yang mereka bayangkan dapat segera diraih setelah lulus. Dan, mayoritas memilih diam, tidak menjawab apa-apa selain bertepuk tangan. Tenang, pertanyaan itu memang tidak ada jawabannya.

Saat ini mahasiswa lulusan Ilmu Komunikasi malah lebih banyak menjadi pekerja kreatif. Ada yang bertransformasi menjadi personil band (mantan penggemar hermeneutik), pelukis (mantan penggemar semiotik), makelar (mantan penggemar dosen proyektor). Terakhir, ada yang menjadi pengangguran (mantan aktivis). Salah seorang teman, lulusan Ilmu Komunikasi bahkan sampai membuka konter hp. Coba, bayangkan seberapa jauh dia terpelanting dari ranah keilmuannya.

Di Indonesia, puluhan universitas telah membuka jurusan Ilmu komunikasi dan berjuta-juta mahasiswa sedang meminatinya. Mari, kembali kita renungkan, berapa banyak nantinya jumlah manusia bergelar jurusan S.Ikom akan bersaing di lapangan pekerjaan. Berapa jumlah dari mereka yang pada akhirnya melakukan hal-hal trivia. Ada pun mereka yang menjadi pemenang dalam dunia kehidupan (Lebenswelt) penuh hiruk ini, telah meniadakan ilmu yang didapatkan selama perkuliahan dan berakhir sebatas syarat kelulusan belaka. Tidak mengandung tanggung jawab sosial yang berarti.

Memang, tidak ada yang memungkiri jika berkomunikasi, utamanya menyampaikan pesan, adalah pekerjaan penting sekaligus tidak mudah. Hermes, dewa Pengetahuan asal Yunani bertugas setiap harinya untuk menyampaikan pesan kepada manusia yang datangnya dari para dewa-dewa Olympus. Para Nabi dalam agama pun demikian, membawa nilai-nilai perdamaian menggunakan kemampuan retorika yang sempurna beserta pedoman hidup yang tidak bisa dipahami dalam waktu sebentar. Socrates, berkeliling Athena karena ingin mengetahui kisah hidup orang-orang sekitarnya, dan berupaya menemukan kebenaran universal.

Namun tahukah Anda, hakikat yang kerap kali terabaikan dalam proses komunikasi, bagian yang membuat kisah-kisah besar di atas mendunia, serta problem yang hingga saat ini menyebabkan Ilmu Komunikasi itu perlu, bahkan yang membuat ribuan alumnus kecewa sebab harapan atas kehidupan yang diidam-idamkan sirna begitu saja. Adalah sesungguhnya yang paling penting dari sekadar menyampaikan pesan, ialah mendengarkan pesan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagi Mereka, Antirasisme Tak Lebih dari Sekadar Konten 0 157

George Floyd, pria berkulit hitam yang meninggal karena lehernya ditindih kaki petugas pulisi berkulit putih Minneapolis, AS menimbulkan gelombang protes. Bahkan ribuan warga AS teramasuk selebritis sudah bodo amat dengan korona dan ‘stay at home.

Mereka turun ke jalan untuk memprotes diskriminasi terhadap warga berkulit hitam dan menuntut  pemerintah agar pelaku pembunuhan segera diadili. Di media sosial juga ramai postingan penuh empati yang dibungkus amarah warga net mengenai kasus yang tak kunjung menemukan titik cerah itu.

Louis Vuitton sebagai merek legendaris pun terkena bola api amarah netizen karena marketing masif tas terbarunya ‘Pont 9’. Merek asal Paris ini membayar sejumlah artis dan fashion influencer di seluruh dunia untuk promosi di Instagram.

Namun, tak ada postingan yang menunjukkan empati mereka terhadap isu rasisme yang sedang panas itu. Alhasil, merek high-end ini pun dikecam netizen dan pesohor seperti Emily Ratajkowski karena dinilai tak peka dengan isu sosial. Tak hanya dikecam, pada 31 Mei lalu, butik Louis Vuitton di Oregon dijarah oleh massa.

Tak mau menjadi sasaran amukan massa, merek-merek lain akhirnya memposting foto prihatin terhadap kasus ini dan menyuarakan antirasisme. Diawali dari Versace, lalu dilanjut oleh Dior, Alexander McQueen, dan merek-merek beken lainnya.

Dari observasi kecil-kecilan saya, hingga saat ini, hanya Louis Vuitton yang masih bersih dari postingan antirasisme. Ya sudah, terserah dia.

Saya mengira masalah sudah beres. Ternyata, kasus Louis Vuitton hanyalah appetizer dari masalah empati dan antirasisme yang ada di dunia yang fana ini. Seperti yang tertulis di lirik lagu penyanyi indie terpopuler se-Indonesia, Kekeyi, “ucapanmu manis di bibir saja”, pun juga dengan kampanye antirasisme dari selebgram dan merek-merek kedagingan ini. Rupanya, postingan mereka sebatas wacana yang tidak dipraktikkan di dunia nyata.

Celine, merek asal Perancis ini memposting foto bahwa ia mengecam segala bentuk diskriminasi. Ia juga menuliskan di kepsyen “#BLACKLIVESMATTER” sebagai cherry on top.

Postingan ini diprotes oleh seorang fashion stylist, Jason Bolden. Hal ini dikarenakan Heidi Slimane, sang creative director, enggan mendandani seebritis berkulit hitam, kecuali stylist mereka berkulit putih.

Merek di bawah naungan LVMH ini selalu – semenjak kursi creative director diduduki oleh Heidi Slimane – memiliki jumlah model berkulit hitam di setiap shownya. Pada koleksi musim gugur 2020 misalnya, hanya ada 10 model berkulit hitam dari 111 model (9 persen). Sosok model berkulit hitam sangat jarang ditemui di feed Instagramnya.

Selanjutnya, ada kasus dari L’oréal . Merek mek-ap ini mengunggah foto di Instagram dan twit di Twitter yang intinya melawan segala bentuk diskriminasi warna kulit. Munroe Bergdorf, seorang model berkulit hitam, sontak memberikan tanggapan sinis kepada L’oréal. Rupanya, iapernah didapuk sebagai modelnya pada 2017. Sayangnya, ia dipecat usai menyuarakan protes terhadap white supremacy di Facebook.

Zimmermann, merek pakaian bergaya bohemian ini masuk ke dalam daftar pihak-pihak yang cari aman usai kasus Louis Vuitton. Sama dengan kasus-kasus di atas, merek asal Sydney ini mengatakan bahwa intinya ia berkomitmen untuk melawan praktik-praktik diskriminasi.

Namun, mereka-mereka yang pernah bekerja dan magang di sana angkat bicara. Mereka mengatakan bahwa pekerja kulit hitam kerap kali mendapat diskriminasi dan sering dipojokkan. Tak hanya itu, Zimmermann juga menerapkan beauty standard perempuan berkulit putih Eropa.

Lalu Kris Schitzel, selebgram Rusia yang berfoto di tengah pendemo sambil membawa tulisan “BLACK LIVES MATTER”.  Ia menerima hujatan usai video behind the scene “pemotretan” untuk foto tersebut beredar. Terlihat ia menata pose sedemikian rupa sambil membenarkan gaunnya.

Memang tak seniat video Brojabro dengan sayap Victoria’s Secret-nya saat aksi unjuk rasa mahasiswa di Surabaya silam, namun video tersebut sudah dapat membuat kita menyimpulkan bahwa ternyata gerakan yang ia lakukan tak lebih dari kebutuhan produksi konten di medsos.

Last but not least, kasus yang menyeret perempuan paling berpengaruh di dunia fashion saat ini, Anna Wintour. Vogue AS, majalah ternama yang dikepalai oleh Wintour ini di media sosialnya aktif  menyuarakan Black Lives Matter. Namun, pada Rabu (10/6) lalu, wanita yang mendapat julukan “Nuclear Wintour” ini meminta maaf atas minimnya kesempatan bekerja bagi orang berkulit hitam di kantornya.

Pernyataan tersebut membuat beberapa mantan pekerja berkulit hitam di Vogue angkat bicara di Twitter. Mereka mengungkapkan perlakuan tidak menyenangkan dari Wintour dan pekerja lain. Mulai dari di-bully, hingga gaji yang lebih sedikit harus mereka telan selama bekerja di majalah yang dijuluki fashion bible tersebut.

Miris sekali ya, ketika empati kita sangat dibutuhkan di masa ini, ternyata hanya dijadikan konten guna menaikkan citra mereka, biar seakan-akan peduli dengan isu rasisme. Tuntutan netijen yang begitu besar untuk menampilkan konten empati, malah membuat sejumlah pihak menganggapnya sebagai formalitas belaka.

 

*) Ilustrasi oleh: Tiara Sakti Ramadhani

Menggambar dari Ngagel. Pemanah dan penggemar BTS profesional. Bisa dihubungi melalui akun Instagram @tiarasr.art.

Renungan Seonggok Pemuja Online Shop 0 74

Sudah hampir 3 bulan kita dihajar kampanye urban yang telah menjadi gaya hidup: #dirumahaja. Walau sebentar kita tak perlu merasa terkurung lagi, tatanan kehidupan yang baru hampir terbentuk dari babak hidup kemarin.

Semua aktivitas lantas dilakukan dari tempat ternyaman, entah sofa atau bahkan tempat tidur, termasuk belanja online.

Mau ke supermarket sebenarnya bisa sih. Toh supermarket dan pasar adalah salah satu ragam bisnis yang senantiasa terkecualikan dengan boleh tetap bernapas, demi mengisi logistik masyarakat.

Tapi sebagian dari kita yang tidak termakan teori konspirasi JRX percaya virus corona ada, menjadi was-was dan meminimalisir kegiatan keluar rumah, sekalipun sekadar untuk berbelanja.  Sebisa mungkin di rumah, menghindari kerumunan, memenuhi bujukan anjuran pemerintah. Beraktivitas di luar rumah menjadi suatu kegiatan yang bahkan mulai terasa asing.

Kita patut bersyukur, bahwa sebelum corona memutuskan untuk mengusik kehidupan kita, teknologi market place sudah berkembang sedemikian rupa. Peluangnya bahkan makin merambah di situasi seperti sekarang ini.

Semua-semua saja dibeli online. Mulai dari susu hingga pisau dapur, dari sayur-mayur hingga cairan pewangi pakaian, kaos kaki impor Cina atau HP hasil pasar gelap, semua dimungkinkan hanya dengan sentuhan jari di gawai.

Bahkan kata teman-teman saya, selama menikmati PSBB di rumah, membuka aplikasi online shop sudah jadi habitus baru yang tak terhindarkan. Ajaibnya, online shop kini berkembang fungsinya, sampai-sampai ikut jadi pereda kebosanan. Ia menjadi obat mujarab atas panas nan jenuhnya hati atau menghindarkan diri dari potensi termakan hoax di grup WhatsApp keluarga.

Namun, ada akibat fatal yang tak kuasa kita taklukkan. Kita tak bisa hanya sekadar “cuci mata” di aplikasi belanja online. Kita susah untuk menolak check out habis keranjang belanja virtual tanpa ampun. Kalau sudah begini, online shop berubah wajah. Justru ialah musuh bebuyutan dompet tipismu.

Pun online shop menghantar kita pada berbagai belahan dan jurang pengalaman. Kadang membeli barang yang mungkin gak terlalu berdayaguna, hanya karena promo dan kode voucher, yang setelah dibeli dan dibayar malah menyesal. Persis kayak habis putus, lalu pengen balikan karena mantan tiba-tiba jadi lebih cakep setelah putus.

Tren online shop sudah merasuk sejak beberapa tahun ke belakang, tapi popularitasnya melonjak dan bahkan menjadi adikuasa yang padanya kita makin menghamba.

Ia hanyalah substitusi emol-emol dan café dengan menu-menu dengan bahasa enggresan ndakik-ndakik. Menggeser rejeki dari mbak-mbak SPG dan mas-mas barista, ke para kurir dan mamang-mamang packaging paket. Merekalah yang memastikan belanjaan kita sampai persis di depan pintu rumah.

Online shop adalah pemain pengganti, dari perasaan tak sabar menunggu antrian kasir di toko, ke perasaan dag-dig-dug tak sabar menunggu teriakan “paket” di depan gerbang rumah.

Begitu pula dengan penggunaan e-wallet dan m-banking yang tersedia di platform e-commerce, yang membuat jasa penukar uang pinggiran jalan gigit jari, teknisi IT start-up digital pesta pora, serta mahasiswa informatika kini jadi kandidat calon mantu idaman, menggantikan dokter yang semakin gak bisa ketemu keluarganya di masa sekarang.

Mungkin ini yang dinamakan “new normal”, sebuah istilah yang sudah sangat lacur penggunaannya dalam konversesyen tiap harinya. Kebaruan yang dianggap normal. Namun juga kenormalan lama yang dibuatkan bentuk barunya. Kebiasaan baru rakjat untuk berbelanja, dan segala lika-liku di baliknya, jadi salah satu bab tak terelakkan di dalamnya.

Editor Picks