Quo Vadis Mahasiswa Ilmu Komunikasi 0 727

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

*Ilustrasi: Abduh Rafif Taufani (@yth.rafif)

 

*Tulisan ini sesungguhnya refleksi penulisnya sendiri, yang tak kunjung mendapat pandangan yang jelas atas masa depannya. Silahkan dibaca dan dikasihani!

Adalah jelas bahwa mahasiswa jurusan Ilmu komunikasi yang paling “fleksibel” dibandingkan mahasiswa jurusan lain: seperti kecoa, bisa ditaruh ke sembarang tempat. Dari pegawai Bank sampai seniman mampu dilakukan oleh mahasiswa cetusan Ilmu komunikasi.

Sampai sini dulu. Jangan berlebihan, nanti jurusan sebelah belingsatan.

Seperti pertanyaan yang sering menimpa mahasiswa pemula pada umumnya, sebagai upaya memperkokoh kepercayaan diri atas identitas baru yang tersematkan pada dirinya: mengapa tertarik masuk jurusan tersebut?

Terkhusus mahasiswa Ilmu komunikasi, mohon, renungkan kembali. Dengan segenap kesadaran ketika anda-anda menjadikan jurusan ini sebagai langkah yang mengawali kondisi hidup kalian di masa depan.

Sudah?

Apa bayangan yang muncul dalam pikiran kalian? Untaian syukur atas duduknya kalian di kursi perkuliahan sebagai pembaca buku berjudul, “Pengantar Ilmu Komunikasi, Deddy Mulyana” atau limpahan kekecewaan karena sulitnya menyesuaikan gaya hidup dalam lingkungan mahasiswa Ilmu komunikasi yang sudah terstereotip hedon dan serba foya-foya? Atau jangan-jangan lebih jauh daripada itu; apakah anda tidak membayangkan apapun? Jika demikian, selamat! Tingkat pesimisme anda dalam jurusan ini telah mencapai radikal.

Di dalam jurusan ini, mahasiswa terbagi menjadi dua kubu besar. Pertama adalah mahasiswa dengan peminatan media, kedua adalah mereka yang senantiasa berdandan rapi dengan harapan bisa membuat nyaman lawan bicara (komunikan), yakni kubu korporat/hubungan masyarakat. Kubu humas membutuhkan penampilan paripurna sebagai pendukung proses pertukaran pesan. Ini disebabkan karena mereka bertugas di hadapan publik. Konsekuensinya mereka pun perlu membuat publik betah saat proses pertukaran pesan berlangsung. Dan, salah satu strateginya dengan berpenampilan menarik.

Sedangkan kubu media tak perlu memprioritaskan penampilan. Mereka berkandang di balik layar. Tidak ada yang memerhatikan keberadaan mereka. Mereka hanya berupa susunan nama yang muncul di akhir acara. Namun percaya atau tidak, kubu media memiliki peran penting untuk menjalankan suatu agenda khusus, mereka memproduksi pesan, membingkainya, dan meletakkannya menjadi formasi diskursus tertentu sebelum diedarkan ke penonton nah, ini, contoh bahasa anak-anak media.

Jika menggunakan nalar ekonomi, pemegang kendali atas jalannya sebuah agenda pastinya bergaji tinggi. Mungkin hal itu hanya berlaku di beberapa industri media saja. Jangan berharap pada media-media lokal yang bahkan untuk penyiarannya pun masih menyewa alat produksi dan perangkat-perangkat lain seperti kamera. Dengan keadaan seperti tidak berimbang ini, besar kemungkinan gaji akan berjumlah kecil, atau tertunda dalam tenggat waktu yang panjang.

Selanjutnya, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang berbangga diri menampilkan rupa mereka di hadapan banyak orang sebagai calon Pembawa acara televisi, Penyiar Radio, Master of Ceremonies, dan Humas dari perusahaan-perusahaan besar. Ketahuilah, menyampaikan pesan itu tidak semudah membacakan paragraf kesatu dari bab pertama buku pengantar Ilmu Komunikasi yang berbunyi,“Apa pentingnya mempelajari Ilmu Komunikasi?” lalu beberapa mahasiswa baru coba menjawabnya dengan penuh optimisme, serta ambisi atas cita-cita yang mereka bayangkan dapat segera diraih setelah lulus. Dan, mayoritas memilih diam, tidak menjawab apa-apa selain bertepuk tangan. Tenang, pertanyaan itu memang tidak ada jawabannya.

Saat ini mahasiswa lulusan Ilmu Komunikasi malah lebih banyak menjadi pekerja kreatif. Ada yang bertransformasi menjadi personil band (mantan penggemar hermeneutik), pelukis (mantan penggemar semiotik), makelar (mantan penggemar dosen proyektor). Terakhir, ada yang menjadi pengangguran (mantan aktivis). Salah seorang teman, lulusan Ilmu Komunikasi bahkan sampai membuka konter hp. Coba, bayangkan seberapa jauh dia terpelanting dari ranah keilmuannya.

Di Indonesia, puluhan universitas telah membuka jurusan Ilmu komunikasi dan berjuta-juta mahasiswa sedang meminatinya. Mari, kembali kita renungkan, berapa banyak nantinya jumlah manusia bergelar jurusan S.Ikom akan bersaing di lapangan pekerjaan. Berapa jumlah dari mereka yang pada akhirnya melakukan hal-hal trivia. Ada pun mereka yang menjadi pemenang dalam dunia kehidupan (Lebenswelt) penuh hiruk ini, telah meniadakan ilmu yang didapatkan selama perkuliahan dan berakhir sebatas syarat kelulusan belaka. Tidak mengandung tanggung jawab sosial yang berarti.

Memang, tidak ada yang memungkiri jika berkomunikasi, utamanya menyampaikan pesan, adalah pekerjaan penting sekaligus tidak mudah. Hermes, dewa Pengetahuan asal Yunani bertugas setiap harinya untuk menyampaikan pesan kepada manusia yang datangnya dari para dewa-dewa Olympus. Para Nabi dalam agama pun demikian, membawa nilai-nilai perdamaian menggunakan kemampuan retorika yang sempurna beserta pedoman hidup yang tidak bisa dipahami dalam waktu sebentar. Socrates, berkeliling Athena karena ingin mengetahui kisah hidup orang-orang sekitarnya, dan berupaya menemukan kebenaran universal.

Namun tahukah Anda, hakikat yang kerap kali terabaikan dalam proses komunikasi, bagian yang membuat kisah-kisah besar di atas mendunia, serta problem yang hingga saat ini menyebabkan Ilmu Komunikasi itu perlu, bahkan yang membuat ribuan alumnus kecewa sebab harapan atas kehidupan yang diidam-idamkan sirna begitu saja. Adalah sesungguhnya yang paling penting dari sekadar menyampaikan pesan, ialah mendengarkan pesan.

Previous ArticleNext Article

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bocoran Soal KPU dalam Kesahihan Tata Hukum Debaters 0 137

Di era ini, banyak muncul pekerjaan baru seperti supir ojek online hingga influencer media sosial. Namun, tak sedikit pula pekerjaan lawas yang masih bertahan. Kita patut bersyukur masih bisa menemui loper koran dan teller bank, dua pekerjaan yang kayaknya terancam punah kalau kita terus-terusan semakin menghamba pada virtual.

Selain itu, ditengarai calo penyedia kunci jawaban soal ujian juga masih terus lestari. Selama ujian masih ada, eksistensi mereka tetap abadi!

Namun, juru pembocor soal ini gak laku di Debat Pilpres 17 Januari 2019 besok. Lah wong KPU sudah membocorkan pertanyaan debat pada masing-masing pasangan calon. Kerja panelis merumuskan pertanyaan sudah di ujung deadline. Semuanya demi Jokowi-Amin dan Prabowo-Sandi supaya bisa memelajari contekannya sambil latihan ngomong di depan cermin sebelum bertemu Ira Koesno dan Imam Priyono di panggung “panas” nanti.

Keputusan KPU ini lantas menuai pro-kontra. Mulai dari drama antar tim pemenangan yang menjemukan, hingga netizen yang selalu hobi sekadar mengingatkan. Simpulnya, KPU dinilai tidak bijak.  Peserta debat jadi tidak benar-benar teruji. Segala dalih KPU ngalor-ngidul yang katanya ingin ‘mengedepankan konten debat, bukan show’ dimentahkan sudah. ‘Ra mashok blas!

Sesungguhnya, kebijakan KPU ini lahir karena fenomena lebih melekatnya di benak kita ketokohan paslon ketimbang visi-misinya. Kita lebih tahu “Game of Thrones-nya Jokowi dan Prabowo ikut natalan ketimbang program kerja yang ditawarkan keduanya. Miris!

Namun, di luar itu, masyarakat kita memang naturnya punya tingkat kepedulian yang tinggi. Saking tingginya, segala macam benda baik yang hidup maupun mati jadi sasaran omelan. Jadi, tidak perlu heran jika bocoran soal KPU ini pun jadi bahan nyinyir. Lah wong warna celana dalam mbak-mbak ayu saja habis dimakan kok.

Padahal memberikan kisi-kisi soal pada peserta debat sangatlah lumrah. Dalam tata hukum debaters, sebut saja dalam dapur Asian Parliamentary, ada dua macam mosi debat yaitu prepared motion dan impromptu motion.

Prepared motion adalah mosi atau topik debat yang diberitahukan jauh sebelum perdebatan dilangsungkan. Kalau dalam lomba, biasanya separah-parahnya akan diberikan dua atau tiga hari sebelum. Jadi peserta dimungkinkan untuk riset dari berbagai literatur, fisik maupun internet.

Sedangkan impromptu motion maksudnya adalah topik debat spontan, diberikan beberapa menit sebelum memulai debat. Iya, udah macem pacar yang ngasih surprise birthday present, bikin deg-degan isinya. Kita tidak pernah tahu akan dapat topik debat yang seperti apa, walaupun tidak terlepas dari lingkup tema. Walau begitu, akan tetap ada waktu case building bagi peserta, alias mempersiapkan kerangka dan strategi bicara.

Wah berarti lebih gampang yang prepared motion dong ya daripada impromptu? Lah rumangsamu!

Keduanya punya level tantangan yang berbeda. Prepared motion tentu menuntut ketepatan data dan kedalaman analisa. Karena sudah diberi waktu yang lebih untuk mempersiapkan, nek pancet debate ora cetha yo nemen! Demikian pula impromptu motion memang menggoda seluas apa wawasan yang dimiliki peserta debat, serta kepandaian menyusun logika dan taktik “perang” dalam sempitnya waktu.

Kalau dalam debat, tipe mosi manakah yang paling sering dipakai? Jawabannya adalah dua-duanya. Seimbang. Sama seperti Tuhan ketika menjawab doamu, kadang dikabulkan, kadang bodo amat, hehe. Nah, jika penerapan dua tipe mosi ini berlaku di lomba-lomba debat anak sekolahan, memangnya nggak boleh KPU melakukan hal serupa? Makanya, kita ini jadi netizen jangan kayak doi kalau lagi marah, nggak mau denger penjelasan dulu.

Seperti biasa, debat terbuka capres-cawapres akan terbagi menjadi beberapa termin mulai dari visi-misi, menjawab pertanyaan panelis, debat antar paslon, hingga closing statement. Nah yang disodorkan adalah pertanyaan panelis sejumlah lima buah. Sedangkan pada sistem di hari H nanti, pasangan calon akan mengambil undian dan hanya mendapatkan salah satu pertanyaan. Mau nggak mau mereka harus mempersiapkan jawaban terbaik dari kelimanya, karena nggak tahu bakal dapat pertanyaan yang mana. Jadi, walaupun prepared motion juga gak segampang itu Fergusso!

Toh masih ada pula sesi saling bertanya antar paslon. Nah, ini termasuk tipe pertanyaan impromptu. Mosok ya mereka janjian pertanyaan dulu kalau sudah begitu.

Mbok jangan suudzon dulu! Jangan-jangan personil KPU tipenya humoris, suka ngasih prank. Dikasih kisi-kisi lima, taunya yang keluar soal nomor enam, yaaahh kena deh! Persis seperti kamu yang dulu merasa diplokothoi sama kisi-kisi soal UNAS.

Intinya, janganlah kita ini suka menyalahkan, apalagi menyalahkan KPU. Sakno lho, mumet ndas’e! Persoalan kardus suara pun sudah kamu jadikan bahan olok, sekarang ditambah lagi. Jahat memang kalian, hiks. 🙁

Pokoknya, apapun kata netizen, kami segenap debaters siap pasang badan untuk membela KPU! Dengan ini, kami telah menyatakan, sistem debat KPU ini sudah sesuai dengan tata hukum debaters yang berlaku.

Menulis Kondisi Penulis dan Membaca Kondisi Pembaca 0 277

Banyak penulis—kita sebut saja begitu—terpangkas semangat menulisnya akibat kesulitan membagi porsi antara kapan harus bekerja untuk yang abadi dan kapan harus bekerja untuk yang fana. Menulis dalam definisi puitisnya, adalah bekerja untuk keabadian (selebihnya akan kita temukan sendiri). Jenis-jenis penulis pun tidak sedikit. Penulis puisi, penulis cerpen, penulis berita, penulis maya, penulis skripsi, penulis miskin, penulis kaya, dan sebagainya.

Dalam diskusi di forum-forum literasi, sering disebutkan bahwa minat membaca buku semakin menurun, sejak minat membaca visual dianggap lebih dominan. Anggapan yang tidak hanya mematahkan semangat para penulis dalam proses produktifnya ini, juga mematahkan semangat penerbit buku dalam mencari tulisan-tulisan yang berkualitas.

Gejolak di atas memang pernah terasa nyata ketika toko-toko buku ternama memamerkan buku-buku yang berasal dari penulis dengan kualitas karya yang kurang serius. Contoh kasus, seorang penulis dituntut oleh penerbitnya agar menghasilkan minimal dua buku dalam waktu singkat. Padahal hal ini bisa berdampak pada tenaga penulis tersebut saat melakukan proses kreatif dan berdampak pula pada tulisan yang dihasilkannya. Atau penulis yang melahirkan buku dengan tema-tema ala kadarnya, semata-mata untuk memuaskan selera pasar hiburan.

Akan tetapi, tidak lama ini, dunia literasi kita menemukan angin segar. Dengan munculannya penerbit-penerbit independen yang berdiri di luar arus pasar hiburan mainstream. Tidak sedikit dari mereka memasarkan produknya hanya melalui internet atau media sosial. Keberadaan mereka membuka ruang yang lebih lebar bagi para penulis baru dengan tema yang kemungkinan lebih inovatif. Artinya, selain memberi ruang yang lebih lebar bagi para penulis, penerbit independen juga berpotensi memberi kesempatan bagi buku-buku marxis kiri yang mana peredarannya diawasi oleh negara ormas. Hehehe…

Namun, dilemanya adalah: bolehkah kita menyebut gerakan kiri atau ide-ide progresif yang dimanifestasikan ke dalam sebuah karya literasi sebagai bentuk komodifikasi. Ketika banyak buku bernuansa kiri mempunyai harga yang fantastis. Harga-harga yang bahkan sulit dijangkau oleh pelaku revolusioner itu sendiri. Tidak hanya melalui buku, kaos, topi, tas kecil, dan berbagai jenis atribut lainnya, mengandung semacam upaya pembentukan identitas yang berlebihan. Sedang di sisi lain, banyak rakjat kecil dengan terpaksa mengenakan kaos pemberian partai demi keberlangsungan hidup mereka yang mulai kehilangan esensi.

Fenomena ini kemudian direspon oleh media-media alternatif yang menyebar di internet. Media yang menghadirkan tulisan-tulisan dengan biaya cetak dan ongkos akses Rp 0 bagi siapa saja. Termasuk media alternatif yang sedang anda baca sekarang ini.

Media yang coba menjadi jawaban lain atas, ketidaksembarangan orang dapat berkarya, karya dapat diterbitkan, dan harga dapat dibayar. Dengan demikian, kita pun tidak boleh menyalahkan keadaan ketika masyarakat lebih tertarik mengkonsumsi media online ketimbang media cetak.

Sekarang, penulis dan pembaca perlu saling memberi pengertian satu sama lain. Bahwa, visi kedua pekerjaan ini bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup atau memenuhi gaya hidup. Kedua pekerjaan ini adalah usaha merawat kesadaran yang perlahan mulai tergerus oleh hal-hal trivial yang sedang mendominasi isi pikiran kita. Pertanyaan selanjutnya: kesadaran seperti apa yang perlu kita bela sebagai penulis atau pembaca? Tentu saja adalah kesadaran bahwa di dunia ini kita hidup bukan untuk diri sendiri.

Jadi ini salahnya siapa? Salahnya remaja yang memperlakukan Marxis sebagai budaya populer, bukan budaya kritis.

Editor Picks